KUMPULAN HADITS KEUTAMAAN BERKUMPUL DALAM HALAQOH MAJLIS DZIKIR
----
Di Tulis Oleh Kang Fakhry
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
----
-----
DAFTAR ISI :
- PENDAHULUAN
- KUMPULAN HADITS KEUTAMAAN BERKUMPUL DALAM HALAQAH MAJLIS DZIKIR
- FIQIH HADITS
- IBNU MAS’UD SENANTIASA BERDZIKIR DALAM HALAQAH MAJLIS-NYA
- SEMUA ATSAR IBNU MAS’UD YANG DIKLAIM MELARANG DZIKIR BERSAMA ADALAH DHO’IF.
- PERTAMA : RIWAYAT AD-DARIMI :
- KEDUA : RIWAYAT ABDUR ROZZAQ DAN ATH-THOBRONI:
- KETIGA : RIWAYAT IMAM AHMAD DAN ABU NU’AIM AL-ASHFAHANI:
- KEEMPAT : RIWAYAT IBNU WADHDHOOH :
- KELIMA : RIWAYAT ABDUR ROZZAQ :
- KESIMPULAN STATUS SANAD ATSAR IBNU MAS’UD
- PERNYATAAN PARA PAKAR HADITS TENTANG DHO’IFNYA ATSAR IBNU MAS’UD INI
- APAKAH DAPAT PAHALA, JIKA TIDAK TAHU BAHWA ITU BID’AH?
- FAIDAH
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
===***===
PENDAHULUAN:
Berkumpul dalam halaqah majlis dzikir adalah sesuatu yang
disyariatkan dan tidak ada keraguan di dalamnya. Bahkan, sebagian besar ayat
Al-Qur'an yang memerintahkan untuk berdzikir datang dengan bentuk kata jamak,
seperti firman Allah Ta'ala:
﴿فَاذْكُرُونِي
أَذْكُرْكُمْ﴾
"Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingat
kalian." (QS. Al-Baqarah: 152).
Demikian pula firman-Nya:
﴿فَاذْكُرُوا
اللهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ﴾
"Maka berdzikirlah kepada Allah di Masy'aril Haram
dan berdzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepada
kalian." (QS. Al-Baqarah: 198).
Begitu juga firman Allah Ta'ala:
﴿وَاصْبِرْ
نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ
يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ﴾
"Dan bersabarlah engkau bersama orang-orang yang
menyeru Rabb mereka pada pagi dan petang hari dengan mengharap wajah-Nya, dan
janganlah kedua matamu berpaling dari mereka." (QS. Al-Kahfi: 28).
Serta firman-Nya:
﴿وَالذَّاكِرِينَ
اللهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا
عَظِيمًا﴾
"Dan laki-laki yang banyak berdzikir kepada Allah
serta perempuan yang banyak berdzikir, Allah telah menyediakan bagi mereka
ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al-Ahzab: 35).
Dan firman-Nya lagi:
﴿يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً
وَأَصِيلًا﴾
"Wahai orang-orang yang beriman! Berdzikirlah kepada
Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada
waktu pagi dan petang." (QS. Al-Ahzab: 41–42).
Demikian pula ayat-ayat mulia lainnya yang menunjukkan
disyariatkannya berkumpul untuk berdzikir kepada Allah Ta'ala dan berdoa
kepada-Nya.
Hal ini juga ditegaskan oleh hadits-hadits Nabi ﷺ yang sangat banyak.
===***===
KUMPULAN HADITS KEUTAMAAN
KUMPUL BERSAMA
DALAM HALAQAH MAJLIS
DZIKIR
HADITS KE SATU
Dari Al-Agharr Abu Muslim, beliau berkata:
أَشْهَدُ عَلَى أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ
أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: «لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ
اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ،
وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ»
"Aku bersaksi atas Abu Hurairah dan Abu Sa'id
Al-Khudri radhiyallahu 'anhuma, bahwa keduanya bersaksi atas Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda:
'Tidaklah suatu kaum duduk untuk berdzikir kepada Allah
'Azza wa Jalla, melainkan para malaikat mengelilingi mereka, rahmat meliputi
mereka, ketenangan turun kepada mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan
para makhluk yang berada di sisi-Nya.'”
(HR. Muslim no. 39 –(2700).
===
HADITS KE DUA:
Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, beliau
berkata:
خَرَجَ مُعَاوِيَةُ عَلَى حَلْقَةٍ فِي الْمَسْجِدِ، فَقَالَ:
مَا أَجْلَسَكُمْ؟ قَالُوا: جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ.
قَالَ: آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ؟ قَالُوا: وَاللهِ
مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ.
قَالَ: أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ،
وَمَا كَانَ أَحَدٌ بِمَنْزِلَتِي مِنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ أَقَلَّ عَنْهُ حَدِيثًا مِنِّي،
وَإِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَقَالَ: «مَا أَجْلَسَكُمْ؟»
قَالُوا: جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ،
وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا.
قَالَ: «آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ؟» قَالُوا: وَاللهِ
مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ.
قَالَ: «أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ،
وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي، أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي
بِكُمُ الْمَلَائِكَةَ»
Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu keluar menemui sebuah halaqah
di masjid, lalu beliau bertanya: "Apa yang membuat kalian duduk
berkumpul?"
Mereka menjawab: "Kami duduk untuk berdzikir kepada
Allah."
Mu'awiyah bertanya, "Demi Allah, apakah hanya itu
yang membuat kalian duduk berkumpul?"
Mereka menjawab, "Demi Allah, tidak ada yang membuat
kami duduk berkumpul selain itu."
Mu'awiyah berkata, "Sesungguhnya aku meminta kalian
bersumpah bukan karena mencurigai kalian. Dan tidak ada seorang pun yang
kedudukannya di sisi Rasulullah ﷺ lebih sedikit meriwayatkan hadits daripada
aku. Namun, Rasulullah ﷺ pernah keluar menemui sebuah halaqah para sahabatnya, lalu
beliau bertanya:
'Apa yang membuat kalian
duduk berkumpul?'
Mereka menjawab: 'Kami duduk untuk berdzikir kepada Allah
dan memuji-Nya atas nikmat hidayah Islam yang telah Dia berikan kepada kami serta
karunia-Nya kepada kami.'
Beliau ﷺ bertanya: 'Demi Allah, apakah hanya itu yang membuat kalian duduk
berkumpul?'
Mereka menjawab: 'Demi Allah, tidak ada yang membuat kami
duduk berkumpul selain itu.'
Beliau ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya aku meminta kalian bersumpah bukan karena
mencurigai kalian, akan tetapi Jibril telah datang kepadaku lalu mengabarkan
bahwa Allah 'Azza wa Jalla membanggakan kalian di hadapan para malaikat.'"
[HR. Muslim no. 40 –(2701)]
===
HADITS KE TIGA
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَا
مِنْ قَوْمٍ اجْتَمَعُوا يَذْكُرُونَ الله لا يُرِيدُونَ بِذَلِكَ إِلا وَجْهَهُ
إِلا نَادَاهُمْ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ قُومُوا مَغْفُورًا لَكُمْ قَدْ
بُدِّلَتْ سيئاتكم حَسَنَاتٍ»
"Tidaklah suatu kaum berkumpul untuk berdzikir kepada
Allah dengan tujuan semata-mata mengharap wajah-Nya, melainkan ada penyeru dari
langit yang berseru: 'Berdirilah kalian, karena kalian telah diampuni. Sungguh,
dosa-dosa kalian telah diganti dengan kebaikan-kebaikan.'"
[ Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad
(19/437 no. 12453), Al-Bazzar (no. 3061 dalam Kasyf Al-Astar), Abu Ya'la (no.
4141), Ath-Thabrani dalam Al-Mu'jam Al-Awsath (no. 1579), dan Ibnu 'Adi dalam
Al-Kamil (6/2409), melalui jalur Maimun bin 'Ajlan, dari Maimun bin Siyah,
dengan sanad ini.
Syu'aib Al-Arna'uth dan para pentahqiq Musnad Imam Ahmad
(19/437 no. 12453) berkata:
صَحِيحٌ لِغَيْرِهِ، وَهَذَا إِسْنَادٌ حَسَنٌ مِنْ أَجْلِ مَيْمُونٍ
الْمَرْئِيِّ - وَهُوَ ابْنُ مُوسَى -، وَمَيْمُونِ بْنِ سِيَاهٍ، وَهُمَا صَدُوقَانِ.
"Hadits ini shahih karena dikuatkan oleh riwayat lain
(shahih li ghairihi). Sanad ini hasan karena adanya Maimun Al-Mar'i—yaitu
Maimun bin Musa—dan Maimun bin Siyah. Keduanya adalah perawi yang berstatus
shaduq."
===
HADITS KE EMPAT
Al-Bazzar dalam Al-Musnad (13/116 no. 6494) dan Abu Nu'aim
Al-Ashbahani dalam Hilyatul Auliya' (6/268) meriwayatkan melalui jalur Zaidah
bin Abi Ar-Raqqad, dari Ziyad An-Numairi, dari Anas radhiyallahu 'anhu, bahwa
Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ لِلَّهِ سَيَّارَةً مِنَ الْمَلَائِكَةِ
يَطْلُبُونَ حِلَقَ الذِّكْرِ فَإِذَا أَتَوْا عَلَيْهِمْ حَفُّوا بِهِمْ ثُمَّ
يَبْعَثُونَ رَائِدَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ إِلَى رَبِّ الْعِزَّةِ فَيَقُولُونَ: يَا
رَبَّنَا أَتَيْنَا عَلَى عَبَّادٍ مِنَ الصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادَكَ يُعَظِّمُونَ
آلَاءَكَ، وَيَتْلُونَ كِتَابِكَ، وَيُصَلُّونَ عَلَى نَبِيِّكَ، وَيَسْأَلُونَكَ لِآخِرَتِهِمْ
وَدُنْيَاهُمْ، فَيَقُولُ رَبُّنَا تَعَالَى: غَشُّوهُمْ رَحْمَتِي هُمُ الْقَوْمُ
لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ».
"Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang
berkeliling mencari halaqah-halaqah majlis dzikir. Apabila mereka mendatangi
suatu halaqah majlis dzikir, maka mereka mengelilingi orang-orang yang hadir di
dalamnya. Kemudian mereka mengutus salah seorang utusan mereka naik ke langit
menghadap Rabb Yang Mahamulia.
Lalu mereka berkata, 'Wahai Rabb kami, kami telah
mendatangi sekelompok hamba-Mu yang saleh. Mereka mengagungkan
nikmat-nikmat-Mu, membaca Kitab-Mu, bershalawat kepada Nabi-Mu, serta memohon
kepada-Mu kebaikan untuk akhirat dan dunia mereka.'
Lalu Rabb kami Yang Mahatinggi berfirman, 'Limpahkanlah
rahmat-Ku kepada mereka. Mereka adalah suatu kaum yang orang yang duduk bersama
mereka tidak akan menjadi celaka.'"
STATUS HADITS:
Ibnu Hajar al-Haitsami berkata dalam Majma’ az-Zawa’id
10/77 no. 16769:
رَوَاهُ الْبَزَّارُ مِنْ طَرِيقِ زَائِدَةَ بْنِ أَبِي الرُّقَادِ،
عَنْ زِيَادٍ النُّمَيْرِيِّ، وَكِلَاهُمَا وُثِّقَ عَلَى ضَعْفِهِ، فَعَادَ هَذَا
إِسْنَادُهُ حَسَنٌ
“Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bazzar melalui jalur
Zaidah bin Abi Ar-Raqqad, dari Ziyad An-Numairi. Keduanya telah dinilai tsiqah
meskipun terdapat kelemahan pada diri mereka. Oleh karena itu, sanad hadits ini
berstatus hasan”.
Majdi Hilali dalam Haththim Shonamaka hal. 95 berkata:
رَوَاهُ الْبَزَّارُ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ
“Diriwayatkan oleh
Al-Bazzar dengan sanad yang hasan”.
Sementara al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani berkata dalam
Nata’ij al-Afkaar 1/20:
رَوَاهُ الْبَزَّارُ، وَقَالَ: تَفَرَّدَ بِهِ زَائِدَةُ،
وَلَمْ يَكُنْ بِهِ بَأْسٌ، وَإِنَّمَا نَكْتُبُ مِنْ حَدِيثِهِ مَا لَمْ نَجِدْهُ
عِنْدَ غَيْرِهِ. انْتَهَى.
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bazzar. Beliau berkata:
"Hadits ini hanya diriwayatkan secara menyendiri oleh Zaidah. Tidak ada
masalah padanya. Kami hanya mencatat hadits-hadits yang diriwayatkannya apabila
kami tidak menemukannya dari perawi selainnya." (Selesai).
Dan Syeikh Abdul Qadir Al-Arna'uth berkata dalam tahqiqnya
terhadap kitab Al-Adzkar karya An-Nawawi (hlm. 9):
«أَقُولُ:
وَهُوَ حَدِيثٌ حَسَنٌ بِطُرُقِهِ وَشَوَاهِدِهِ، وَلِذَلِكَ حَسَّنَهُ التِّرْمِذِيُّ
وَغَيْرُهُ».
"Aku berkata: Hadits ini hasan dengan seluruh jalur
periwayatan dan syawahid (riwayat-riwayat penguat)-nya. Oleh karena itu,
At-Tirmidzi dan ulama lainnya menilainya sebagai hadits hasan."
====
HADITS KE LIMA
Dari Anas bin Malik
radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِذَا
مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الجَنَّةِ فَارْتَعُوا» قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الجَنَّةِ؟
قَالَ: «حِلَقُ الذِّكْرِ»
"Apabila kalian melewati
taman-taman surga, maka singgahlah dan nikmatilah."
Para sahabat bertanya,
"Apakah yang dimaksud dengan taman-taman surga itu?"
Beliau ﷺ menjawab, "Halaqah-halaqah majlis dzikir."
[Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad no. 12523
dan At-Tirmidzi no. 3510, ath-Thabarani dalam ad-Du’a no. 1890 dan Abu Nu’aim
al-Ashfahani dalam al-Hilyah 6/354.
Hadits ini juga diriwayatkan
oleh Abu Ya'la (no. 3432), Ibnu 'Adi (6/2147), dan Al-Baihaqi dalam Syu'abul
Iman (no. 529) melalui jalur Abu Ubaidah Al-Haddad, dari Muhammad bin Tsabit,
dengan sanad tersebut.
At-Tirmidzi berkata:
هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الوَجْهِ مِنْ حَدِيثِ
ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ
"Hadits ini hasan gharib
melalui jalur ini, dari hadits Tsabit, dari Anas."
Hadits ini juga dinilai hasan
oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi no. 3510.
Al-Haitsami berkata dalam
Kasyful Astar (4/5 no. 3063):
"قَالَ
الْبَزَّارُ: وَزَائِدَةُ بْنُ أَبِي الرَّقَّادِ بَاهِلِيٌّ، بَصْرِيٌّ، لَيْسَ بِهِ
بَأْسٌ، حَدَّثَ عَنْهُ جَمَاعَةٌ مِنْ أَهْلِ الْبَصْرَةِ، وَإِنَّمَا كَتَبْنَا مِنْ
حَدِيثِهِ، مَا لَمْ نَجِدْهُ، عِنْدَ غَيْرِهِ".
"Al-Bazzar berkata:
'Zaidah bin Abi Ar-Raqqad adalah seorang Bahili dari Bashrah. Tidak ada masalah
pada dirinya. Sejumlah ulama Bashrah meriwayatkan hadits darinya. Kami hanya
mencatat hadits-hadits yang diriwayatkannya apabila kami tidak menemukannya
dari perawi selainnya.'"
Di riwayatkan pula oleh Abu Thohir as-Salafi al-Ashbahani
dalam al-Masyikhoh al-Baghdadiyah ke 12 (hal. 46 no. 63) dari Anas bin Malik
radhiyallahu ‘anhu dengan lafadz:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ، قَالَ: «إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ
الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا» .
قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ؟ قَالَ:
«مَجَالِسُ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَحِلَقُ الْقُرْآنِ»
Bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila kalian melewati
taman-taman surga, maka singgahlah dan nikmatilah."
Lalu ada yang bertanya, "Wahai Rasulullah ﷺ, apakah yang dimaksud dengan taman-taman surga?"
Beliau ﷺ menjawab: "Yaitu majlis-majlis dzikir kepada Allah 'Azza
wa Jalla dan halaqah-halaqah Al-Qur'an." [Selesai]
===
HADITS KE ENAM
Dari Ya'la bin Syaddad, ia berkata:
حَدَّثَنِي أَبِي شَدَّادُ بْنُ أَوْسٍ، وَعُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَاضِرٌ يُصَدِّقُهُ، قَالَ: كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ:
«هَلْ فِيكُمْ غَرِيبٌ؟» يَعْنِي أَهْلَ الْكِتَابِ، فَقُلْنَا: لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ،
فَأَمَرَ بِغَلْقِ الْبَابِ، وَقَالَ: «ارْفَعُوا أَيْدِيَكُمْ وَقُولُوا: لَا إِلَهَ
إِلَّا اللَّهُ»، فَرَفَعْنَا أَيْدِيَنَا سَاعَةً، ثُمَّ وَضَعَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
يَدَهُ، ثُمَّ قَالَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ، اللَّهُمَّ إِنَّكَ بَعَثْتَنِي بِهَذِهِ
الْكَلِمَةِ، وَأَمَرْتَنِي بِهَا، وَوَعَدْتَنِي عَلَيْهَا الْجَنَّةَ، وَإِنَّكَ
لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ»، ثُمَّ قَالَ: «أَبْشِرُوا، فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ
قَدْ غَفَرَ لَكُمْ».
"Ayahku, Syaddad bin Aus, menceritakan kepadaku,
sementara Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu 'anhu hadir membenarkannya. Ia
berkata:
Kami pernah berada di sisi Nabi ﷺ, lalu beliau bersabda: 'Apakah di
antara kalian ada orang asing?'
[Maksud beliau adalah orang dari kalangan Ahli Kitab].
Kami menjawab, 'Tidak ada, wahai Rasulullah.'
Lalu beliau ﷺ memerintahkan agar pintu ditutup, kemudian
bersabda: 'Angkatlah tangan kalian dan ucapkan: "Laa ilaaha
illallah."'
Maka kami mengangkat tangan-tangan kami beberapa saat.
Setelah itu Rasulullah ﷺ menurunkan tangannya, kemudian bersabda:
'Alhamdulillah. Ya Allah,
sesungguhnya Engkau telah mengutusku dengan kalimat ini, Engkau memerintahkanku
untuk menyampaikannya, dan Engkau telah menjanjikan surga kepadaku karenanya.
Sungguh, Engkau tidak akan menyelisihi janji-Mu.'
Kemudian beliau ﷺ bersabda: 'Bergembiralah kalian, karena
sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla telah mengampuni kalian.'"
TAKHRIJ HADITS:
Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad no.
17121, Al-Bazzar (Az-Zawa'id no. 10), Ad-Daulabi dalam Al-Kuna (1/93), dan
Al-Hakim (1/501), melalui beberapa jalur dari Isma'il bin 'Ayyasy dengan sanad
tersebut.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam
Al-Mu'jam Al-Kabir (no. 7163) dan Musnad Asy-Syamiyyin (no. 1104) melalui jalur
Abdul Malik bin Muhammad Ash-Shan'ani, dari Rasyid bin Dawud, dengan sanad
tersebut.
Al-Mundziri berkata dalam At-Targhib wat Tarhib (2/415 no.
11):
«رَوَاهُ
أَحْمَدُ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ، وَالطَّبَرَانِيُّ وَغَيْرُهُمَا».
"Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad
hasan, demikian pula oleh Ath-Thabrani dan selainnya."
Al-Haitsami berkata dalam Majma' Az-Zawa'id (1/19 no. 23):
«رَوَاهُ
أَحْمَدُ وَالطَّبَرَانِيُّ وَالْبَزَّارُ، وَرِجَالُهُ مُوَثَّقُونَ».
"Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, Ath-Thabrani,
dan Al-Bazzar. Para perawinya adalah perawi-perawi yang dinilai tsiqah."
Pada tempat lain dalam Majma' Az-Zawa'id (10/81 no.
16798), Al-Haitsami berkata:
«رَوَاهُ
أَحْمَدُ، وَفِيهِ رَاشِدُ بْنُ دَاوُدَ، وَقَدْ وَثَّقَهُ غَيْرُ وَاحِدٍ، وَفِيهِ
ضَعْفٌ، وَبَقِيَّةُ رِجَالِهِ ثِقَاتٌ».
"Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad. Di dalam
sanadnya terdapat Rasyid bin Dawud. Ia telah dinilai tsiqah oleh lebih dari
satu ulama, meskipun padanya terdapat sedikit kelemahan. Adapun perawi-perawi
lainnya adalah tsiqah."
Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak berkata dalam
Syarh Kalimat Al-Ikhlash karya Ibnu Rajab (hlm. 139):
«وَإِسْنَادُهُ
جَيِّدٌ».
"Sanad hadits ini
jayyid (baik)."
Sedangkan Al-Albani dalam At-Targhib wat Tarhib (no. 924)
menilai hadits ini sebagai dhaif.
As-Sindi berkata:
قَوْلُهُ: «هَلْ فِيكُمْ غَرِيبٌ؟» فِيهِ تَجْرِيدُ مَجَالِسِ
الذِّكْرِ عَمَّا لَا يَلِيقُ إِهْلَالُهُ، وَحِفْظُهَا عَنْ طُرُوقِهِ، وَرَفْعُ الْيَدِ
عِنْدَ الذِّكْرِ؛ لِأَنَّ الذِّكْرَ فِي مَعْنَى السُّؤَالِ
"Sabda beliau, 'Apakah di antara kalian ada orang
asing?' mengandung faedah bahwa majlis-majlis dzikir hendaknya dibersihkan dari
segala sesuatu yang tidak pantas hadir di dalamnya, dijaga dari hal-hal yang
mengganggunya, serta menunjukkan disyariatkannya mengangkat tangan ketika
berdzikir, karena dzikir memiliki makna yang serupa dengan doa
(permohonan)." (Hasyiyah Musnad Imam Ahmad, 28/349).
===
HADITS KE TUJUH
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata:
مَرَّ النَّبِيُّ ﷺ بِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَوَاحَةَ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ وَهُوَ يُذَكِّرُ أَصْحَابَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «أَمَا إِنَّكُمُ
الْمَلَأُ الَّذِينَ أَمَرَنِي اللَّهُ أَنْ أَصْبِرَ نَفْسِي مَعَكُمْ»، ثُمَّ تَلَا
هَذِهِ الْآيَةَ:
﴿وَاصْبِرْ
نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ
وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا
تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ
فُرُطًا﴾ [الكهف: ٢٨].
ثُمَّ قَالَ: «أَمَا إِنَّهُ مَا جَلَسَ عِدَّتُكُمْ إِلَّا جَلَسَ
مَعَهُمْ عِدَّتُهُمْ مِنَ الْمَلَائِكَةِ، إِنْ سَبَّحُوا اللَّهَ سَبَّحُوهُ، وَإِنْ
حَمِدُوا اللَّهَ حَمِدُوهُ، وَإِنْ كَبَّرُوا اللَّهَ كَبَّرُوهُ، ثُمَّ يَصْعَدُونَ
إِلَى الرَّبِّ وَهُوَ أَعْلَمُ مِنْهُمْ، فَيَقُولُونَ: يَا رَبَّنَا، عِبَادُكَ سَبَّحُوكَ
فَسَبَّحْنَا، وَكَبَّرُوكَ فَكَبَّرْنَا، وَحَمِدُوكَ فَحَمِدْنَا، فَيَقُولُ رَبُّنَا:
يَا مَلَائِكَتِي، أُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ. فَيَقُولُونَ: فِيهِمْ
فُلَانٌ وَفُلَانٌ الْخَطَّاءُ. فَيَقُولُ: هُمُ الْقَوْمُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ».
Suatu ketika Nabi ﷺ melewati Abdullah bin Rawahah radhiyallahu
'anhu yang sedang memberikan nasihat dan mengingatkan para sahabatnya. Maka
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya kalian adalah kelompok yang Allah
perintahkan kepadaku agar aku bersabar bersama kalian."
Kemudian beliau membaca firman Allah Ta'ala:
"Dan bersabarlah engkau
bersama orang-orang yang menyeru Rabb mereka pada pagi dan petang hari dengan
mengharap wajah-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena
menginginkan perhiasan kehidupan dunia. Dan janganlah engkau mengikuti orang
yang telah Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami, yang mengikuti hawa
nafsunya, dan keadaannya telah melampaui batas." (QS. Al-Kahfi: 28).
Kemudian beliau ﷺ bersabda: "Ketahuilah, tidaklah
sejumlah orang dari kalian duduk dalam suatu majlis, melainkan sejumlah
malaikat yang sebanding dengan mereka ikut duduk bersama mereka. Apabila mereka
bertasbih kepada Allah, para malaikat pun ikut bertasbih. Apabila mereka memuji
Allah, para malaikat pun ikut memuji-Nya. Apabila mereka bertakbir kepada
Allah, para malaikat pun ikut bertakbir. Setelah itu para malaikat naik
menghadap Rabb mereka, padahal Dia lebih mengetahui keadaan mereka daripada
para malaikat.
Lalu Allah berfirman, 'Wahai para malaikat-Ku, apa yang
dilakukan hamba-hamba-Ku?'
Mereka menjawab, 'Wahai Rabb kami, hamba-hamba-Mu
bertasbih kepada-Mu, maka kami pun ikut bertasbih. Mereka bertakbir kepada-Mu,
maka kami pun ikut bertakbir. Mereka memuji-Mu, maka kami pun ikut memuji-Mu.'
Lalu Rabb kami berfirman, 'Wahai para malaikat-Ku, Aku
persaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka.'
Para malaikat berkata, 'Di antara mereka ada si fulan dan
si fulan yang banyak berbuat kesalahan.'
Allah berfirman, 'Mereka adalah suatu kaum yang orang
yang duduk bersama mereka tidak akan menjadi celaka.'"
STATUS HADITS:
Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu'jam
Ash-Shaghir (2/27 no. 1074).
Al-Haitsami berkata dalam Majma' Az-Zawa'id (10/76 no.
16766):
"رَوَاهُ
الطَّبَرَانِيُّ فِي الصَّغِيرِ، وَفِيهِ مُحَمَّدُ بْنُ حَمَّادٍ الْكُوفِيُّ، وَهُوَ
ضَعِيفٌ".
"Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam
Al-Mu'jam Ash-Shaghir. Di dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Hammad Al-Kufi,
dan ia adalah seorang perawi yang dhaif."
Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang saling menguatkan
yang menunjukkan disyariatkannya berkumpul untuk berdzikir.
FIQIH HADITS
Dalam hadits-hadits di atas, Rasulullah ﷺ tidak membatasi cara berdzikirnya.
Al-Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar
hal. 9 berkata :
اِعْلَمْ أَنَّهُ كَمَا يُسْتَحَبُّ الذِّكْرُ يُسْتَحَبُّ
الْجُلُوسُ فِي حِلَقِ أَهْلِهِ، وَقَدْ تَظَاهَرَتِ الْأَدِلَّةُ عَلَى ذَلِكَ
“Ketahuilah bahwa sebagaimana dianjurkan untuk berdzikir,
dianjurkan pula untuk duduk dalam majlis-majlis orang yang berdzikir.
Dalil-dalil tentang hal ini sangat banyak dan saling menguatkan”.
Syeikh DR. Ali Jum’ah berkata:
عَلَى ذَلِكَ: فَإِنَّ الْقَوْلَ بِأَنَّ هَذَا اللَّوْنَ مِنَ
الذِّكْرِ بِدْعَةٌ هُوَ فِي نَفْسِهِ بِدْعَةٌ مَذْمُومَةٌ؛ إِذْ مِنَ الْبِدْعَةِ
تَضْيِيقُ مَا وَسَّعَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ ﷺ، فَإِنَّ الْأَمْرَ الْمُطْلَقَ بِذِكْرِ
اللَّهِ يَتَنَاوَلُ الذِّكْرَ الْجَمَاعِيَّ، وَإِذَا شَرَعَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ
وَتَعَالَى أَمْرًا عَلَى جِهَةِ الْإِطْلَاقِ، وَكَانَ يَحْتَمِلُ فِي فِعْلِهِ وَكَيْفِيَّةِ
إِيقَاعِهِ أَكْثَرَ مِنْ وَجْهٍ، فَإِنَّهُ يُؤْخَذُ عَلَى إِطْلَاقِهِ وَسَعَتِهِ،
وَلَا يَصِحُّ تَقْيِيدُهُ بِوَجْهٍ دُونَ وَجْهٍ إِلَّا بِدَلِيلٍ، عَلَى أَنَّ الذِّكْرَ
فِي الْجَمْعِ أَرْجَى لِلْقَبُولِ، وَأَيْقَظُ لِلْقَلْبِ، وَأَجْمَعُ لِلْهِمَّةِ،
وَأَدْعَى لِلتَّضَرُّعِ وَالذِّلَّةِ بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ تَعَالَى؛ وَقَدْ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «يَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ». رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ، وَحَسَّنَهُ
مِنْ رِوَايَةِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا. وَمِمَّا سَبَقَ يُعْلَمُ
الْجَوَابُ عَنِ السُّؤَالِ.
Berdasarkan hal itu, maka anggapan bahwa bentuk dzikir
seperti ini adalah bid'ah , justru anggapan tersebut merupakan bid'ah yang
tercela. Sebab, termasuk perbuatan bid'ah adalah mempersempit sesuatu yang
telah Allah dan Rasul-Nya ﷺ luaskan. Perintah untuk berdzikir kepada Allah yang datang
secara mutlak mencakup pula dzikir yang dilakukan secara berjamaah.
Apabila Allah Subhanahu wa Ta'ala mensyariatkan suatu
amalan dengan lafaz yang bersifat umum dan mutlak, sementara cara pelaksanaannya
memungkinkan dilakukan dalam lebih dari satu bentuk, maka amalan tersebut harus
dipahami sesuai keumuman dan keluasan maknanya. Tidak dibenarkan membatasinya
hanya pada satu cara tertentu tanpa adanya dalil.
Di samping itu, dzikir yang dilakukan secara berjamaah
lebih diharapkan untuk dikabulkan, lebih membangunkan hati, lebih menghimpun
semangat, serta lebih mendorong tumbuhnya ketundukan dan kerendahan hati di
hadapan Allah Ta'ala.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«يَدُ
الله مَعَ الْجَمَاعَةِ»
"Tangan (pertolongan) Allah bersama jamaah."
Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan beliau
menilainya hasan, dari riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma”. Selesai [Baca
: artikel “Hukmul dzikril jama'i wal adillah 'ala masyru'iyyatihi” Karya Syeikh
Ali Jum’ah (Dar al-Ifta al-Mashriyyah no. Fatwa 7354)]
Wallahu a’lam
IBNU MAS’UD SENANTIASA BERDZIKIR DALAM HALAQAH MAJLIS-NYA
Imam as-Suyuthi rahimahullah ta’ala berkata dalam kitab
*al-Hawi lil-Fatawi* (1/379):
"فَإِنْ
قُلْتَ: فَقَدْ نُقِلَ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّهُ رَأَى قَوْمًا
يُهَلِّلُونَ بِرَفْعِ الصَّوْتِ فِي الْمَسْجِدِ، فَقَالَ: مَا أَرَاكُمْ إِلَّا
مُبْتَدِعِينَ حَتَّى أَخْرَجَهُمْ مِنَ الْمَسْجِدِ.
قُلْتُ: هَذَا الْأَثَرُ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ يَحْتَاجُ إِلَى
بَيَانِ سَنَدِهِ وَمَنْ أَخْرَجَهُ مِنَ الْأَئِمَّةِ الْحُفَّاظِ فِي
كُتُبِهِمْ، وَعَلَى تَقْدِيرِ ثُبُوتِهِ فَهُوَ مُعَارَضٌ بِالْأَحَادِيثِ
الْكَثِيرَةِ الثَّابِتَةِ الْمُتَقَدِّمَةِ، وَهِيَ مُقَدَّمَةٌ عَلَيْهِ عِنْدَ
التَّعَارُضِ، ثُمَّ رَأَيْتُ مَا يَقْتَضِي إِنْكَارَ ذَلِكَ عَنْ ابْنِ
مَسْعُودٍ، قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ فِي كِتَابِ الزُّهْدِ:
ثَنَا حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ، ثَنَا الْمَسْعُودِيُّ، عَنْ
عَامِرِ بْنِ شَقِيقٍ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ: «هَؤُلَاءِ الَّذِينَ
يَزْعُمُونَ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ كَانَ يَنْهَى عَنِ الذِّكْرِ، مَا جَالَسْتُ
عَبْدَ اللَّهِ مَجْلِسًا قَطُّ إِلَّا ذَكَرَ اللَّهَ فِيهِ»".
Jika engkau berkata: telah dinukil dari Ibnu Mas’ud bahwa
beliau melihat suatu kaum yang bertahlil dengan mengeraskan suara di masjid,
lalu beliau berkata: “Aku tidak melihat kalian kecuali sebagai orang-orang yang
berbuat bid’ah,” hingga beliau mengeluarkan mereka dari masjid.
Aku jawab: atsar dari Ibnu Mas’ud ini perlu diteliti
sanadnya dan siapa saja dari kalangan para imam hafidzh yang meriwayatkannya
dalam kitab-kitab mereka.
Dan seandainya pun atsar itu shohih, maka ia bertentangan
dengan banyak hadits shohih yang telah disebutkan sebelumnya, dan hadis-hadis
tersebut harus didahulukan atasnya ketika terjadi pertentangan. Kemudian aku
melihat riwayat yang menunjukkan pengingkaran terhadap penisbatan atsar
tersebut kepada Ibnu Mas’ud.
Imam Ahmad bin Hanbal berkata dalam kitab *az-Zuhd*: telah
menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami
al-Mas’udi, dari Amir bin Syaqiq, dari Abu Wa’il, ia berkata:
“Orang-orang yang mengklaim bahwa
Abdullah bin Mas’ud melarang dzikir bersama itu tidak benar. Aku tidak pernah
duduk bersama Abdullah dalam suatu majlis pun kecuali di dalamnya ada dzikir
kepada Allah.” [Selesai]
Disebutkan pula oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami berkata
dalam *al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra* (1/177).
Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya 3/221 no. 5409 dan oleh
ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir 9/125 no. 8630 dengan sanadnya dari Abu
al-Bakhtari, ia berkata:
"رَأَى
ابْنُ مَسْعُودٍ حَلْقَتَيْنِ فِي مَسْجِدِ الْكُوفَةِ فَقَامَ مِنْهُمَا فَقَالَ:
«أَيَّتُكُمَا كَانَتْ قَبْلَ صَاحِبَتِهَا؟»
قَالَتْ إِحْدَاهُمَا: نَحْنُ، فَقَالَ لِلْأُخْرَى: «قُومَا
إِلَيْهَا» فَجَعَلَهُمْ وَاحِدَةً".
“Ibnu Mas’ud melihat dua halaqah
di Masjid Kufah, lalu ia berdiri di hadapan keduanya dan berkata: “Yang manakah
di antara kalian berdua yang lebih dahulu ada sebelum yang lain?”
Salah satunya berkata: “Kami”.
Maka ia berkata kepada yang lain: “Berdirilah dan
bergabunglah dengan mereka”, lalu ia menjadikan keduanya satu halaqah.
[SELESAI]
Atsar ini di nilai shahih oleh al-Albani dalam
ash-Shahihah 5/11-12 no. 2005.
Dari Al-Aghar Abu Muslim, ia berkata:
أَشْهَدُ عَلَى أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ
أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: «لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ
يَذْكُرُونَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ،
وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَذَكَرَهُمُ
اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ»
Aku bersaksi atas Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri
bahwa keduanya bersaksi atas Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:
“Tidaklah suatu kaum duduk untuk berdzikir kepada Allah
Azza wa Jalla melainkan para malaikat mengelilingi mereka, rahmat meliputi
mereka, ketenangan diturunkan kepada mereka, dan Allah menyebut mereka di
hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.”
(HR. Muslim no. 2700 dan at-Tirmidzi no. 3587)
Dalam hadits di atas, Rasulullah ﷺ tidak membatasi cara berdzikirnya.
===***===
SEMUA ATSAR IBNU MAS’UD
YANG
DIKLAIM MELARANG DZIKIR BERSAMA ADALAH DHO’IF
****
PERTAMA : RIWAYAT AD-DARIMI :
Imam Abdullah bin Abdurrahman ad-Darimi rahimahullah
ta'ala berkata dalam Sunan-nya (210):
Telah mengabarkan kepada kami al-Hakam bin al-Mubarak,
telah mengabarkan kepada kami Amr bin Yahya bin Amr bin Salamah, ia berkata:
aku mendengar ayahku bercerita dari ayahnya, ia berkata:
"
كُنَّا نَجْلِسُ عَلَى بَابِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
، قَبْلَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ ، فَإِذَا خَرَجَ ، مَشَيْنَا مَعَهُ إِلَى
الْمَسْجِدِ ، فَجَاءَنَا أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
فَقَالَ: أَخَرَجَ إِلَيْكُمْ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ ؟
قُلْنَا: لَا، بَعْدُ ، فَجَلَسَ مَعَنَا حَتَّى خَرَجَ ،
فَلَمَّا خَرَجَ، قُمْنَا إِلَيْهِ جَمِيعًا،
فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ،
إِنِّي رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ آنِفًا أَمْرًا أَنْكَرْتُهُ وَلَمْ أَرَ -
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ - إِلَّا خَيْرًا.
قَالَ: فَمَا هُوَ؟
فَقَالَ: إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ ، قَالَ: رَأَيْتُ فِي
الْمَسْجِدِ قَوْمًا حِلَقًا جُلُوسًا يَنْتَظِرُونَ الصَّلَاةَ فِي كُلِّ
حَلْقَةٍ رَجُلٌ، وَفِي أَيْدِيهِمْ حصًا، فَيَقُولُ: كَبِّرُوا مِائَةً ،
فَيُكَبِّرُونَ مِائَةً، فَيَقُولُ: هَلِّلُوا مِائَةً، فَيُهَلِّلُونَ مِائَةً ،
وَيَقُولُ: سَبِّحُوا مِائَةً، فَيُسَبِّحُونَ مِائَةً.
قَالَ: فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ ؟.
قَالَ: مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئًا انْتِظَارَ رَأْيِكَ أَوِ
انْتظارَ أَمْرِكَ.
قَالَ : " أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا
سَيِّئَاتِهِمْ ، وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ".
ثُمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلْقَةً مِنْ
تِلْكَ الْحِلَقِ، فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ، فَقَالَ: " مَا هَذَا الَّذِي
أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ؟"
قَالُوا: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حصًا نَعُدُّ بِهِ
التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ.
قَالَ: " فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ ، فَأَنَا ضَامِنٌ
أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ ، وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ،
مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ ﷺ مُتَوَافِرُونَ ،
وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ، وَالَّذِي نَفْسِي
بِيَدِهِ، إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ﷺ أوْ
مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ"،
قَالُوا: وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، مَا
أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ.
قَالَ: " وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ
يُصِيبَهُ ، إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ حَدَّثَنَا أَنَّ قَوْمًا يَقْرَءُونَ
الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ ، وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِي لَعَلَّ
أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ ".
ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ ، فَقَالَ عَمْرُو بْنُ سَلَمَةَ:
رَأَيْنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الْحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوْمَ النَّهْرَوَانِ مَعَ
الْخَوَارِجِ " .
“Kami biasa duduk di depan pintu Abdullah bin Mas'ud
radhiyallahu 'anhu sebelum sholat Subuh. Apabila beliau keluar, kami berjalan
bersama beliau menuju masjid.
Lalu datanglah kepada kami Abu Musa al-Asy'ari
radhiyallahu 'anhu, ia berkata: ‘apakah Abu Abdurrahman sudah keluar menemui
kalian?’.
Kami menjawab: ‘belum’.
Maka ia pun duduk bersama kami hingga Abdullah bin Mas'ud
keluar. Ketika beliau keluar, kami semua berdiri menuju beliau.
Abu Musa berkata kepadanya: ‘wahai Abu Abdurrahman,
sesungguhnya aku baru saja melihat di masjid suatu perkara yang aku ingkari,
namun demi Allah aku tidak berpendapat kecuali itu adalah kebaikan’.
Ia berkata: ‘Apakah itu?’.
Abu Musa berkata: ‘Jika engkau masih hidup, engkau akan
melihatnya. Aku melihat di masjid sekelompok orang duduk berhalaqah menunggu
sholat. Pada setiap halaqah ada seorang lelaki, dan di tangan mereka ada
kerikil. Ia berkata: bertakbirlah seratus kali, maka mereka bertakbir seratus
kali. Ia berkata: bertahlillah seratus kali, maka mereka bertahlil seratus
kali. Ia berkata: bertasbihlah seratus kali, maka mereka bertasbih seratus
kali’.
Abdullah bin Mas'ud berkata: ‘Lalu apa yang engkau katakan
kepada mereka?’.
Ia menjawab: ‘Aku tidak mengatakan apa-apa kepada mereka,
menunggu pendapatmu atau menunggu perintahmu’.
Ia berkata: ‘Tidakkah engkau perintahkan mereka untuk
menghitung dosa-dosa mereka, dan engkau menjamin kepada mereka bahwa tidak akan
hilang sedikit pun dari kebaikan-kebaikan mereka’.
Kemudian Ibnu Mas’ud berjalan dan kami pun berjalan
bersamanya hingga beliau mendatangi salah satu halaqah tersebut. Beliau berdiri
di hadapan mereka lalu berkata: ‘Apakah ini yang aku lihat kalian lakukan?’.
Mereka menjawab: ‘Wahai Abu Abdurrahman, ini adalah
kerikil yang kami gunakan untuk menghitung takbir, tahlil, dan tasbih’.
Ia berkata: ‘Hitunglah dosa-dosa kalian, karena aku
menjamin bahwa tidak akan hilang sedikit pun dari kebaikan-kebaikan kalian. Celakalah
kalian wahai umat Muhammad, betapa cepatnya kebinasaan kalian. Para sahabat
Nabi kalian ﷺ masih banyak, pakaian beliau belum usang, dan bejana-bejana
beliau belum pecah. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian
berada di atas suatu ajaran yang lebih mendapat petunjuk daripada ajaran
Muhammad ﷺ, atau kalian sedang membuka pintu kesesatan’.
Mereka berkata: ‘Demi Allah wahai Abu Abdurrahman, kami
tidak menghendaki kecuali kebaikan’.
Ia berkata: ‘Betapa banyak orang yang menghendaki kebaikan
namun tidak mendapatkannya. Sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah menceritakan kepada kami bahwa akan ada suatu kaum yang
membaca Al-Qur’an namun tidak melampaui tenggorokan mereka. Demi Allah, aku
tidak tahu, boleh jadi kebanyakan mereka adalah dari kalian’.
Kemudian beliau berpaling dari mereka.
Amru bin Salamah berkata: ‘Kami melihat kebanyakan dari
halaqah-halaqah tersebut memerangi kami pada hari Nahrawan bersama kaum
Khawarij’.
Demikian pula diriwayatkan oleh Bahsyal dalam Tarikh
Wasith halaman 198 melalui jalur Amru bin Yahya bin Amru bin Salamah
al-Hamdani. Ia berkata: telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata: telah
menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata:
" كُنَّا جُلُوسًا عَلَى بَابِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
مَسْعُودٍ ....".
kami duduk di depan pintu Abdullah bin Mas'ud, lalu ia
menyebutkan kisah tersebut.
STATUS SANAD ATSAR :
Dalam Majallah al-Jami’ah al-Islamiyah- al-Madinah
al-Munawwarah 33/32 di katakan:
فَهٰذِهِ الْمَقُولَةُ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ إِنْ لَمْ
يَصِحَّ سَنَدُهَا فَمَعْنَاهَا صَحِيحٌ
“Maka perkataan yang dinisbatkan kepada Ibnu Mas‘ud ini,
meskipun sanadnya tidak shohih, namun maknanya shahih”.
Penulis katakan:
Telah ada perbedaan pendapat tentang keshahihan sanad
atsar Ibnu Mas’ud ini :
Pendapat pertama :
Sanad hadits ini tidak shohih, karena dalam sanadnya
terdapat dua perawi yang dipermasalahkan:
Perawi pertama: al-Hakam bin Mubarak.
Al-Dzahabi berkata:
«الحُكْمُ
بْنُ الْمُبَارَكِ التِّ الْخَاشِيِّ الْبَلْخِيِّ، عَنْ مَالِكٍ، وَمُحَمَّدِ
بْنِ رَاشِدٍ الْمَكْحُولِيِّ، وَعَنْهُ أَبُو مُحَمَّدٍ الدَّارِمِيُّ
وَجَمَاعَةٌ. وَثَّقَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَابْنُ مَنْدَةَ. وَأَمَّا ابْنُ عَدِيٍّ
فَإِنَّهُ لَوَّحَ فِي تَرْجَمَةِ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْوَهْبِيِّ
بِأَنَّهُ مِمَّنْ يَسْرِقُ الْحَدِيثَ، لَكِنْ مَا أَفْرَدَ لَهُ فِي الْكَامِلِ
تَرْجَمَةً. وَهُوَ صَدُوقٌ»
“Al-Hakam bin Al-Mubarak Al-Khasi Al-Balkhi meriwayatkan
dari Malik dan Muhammad bin Rasyid Al-Mak-huli, dan darinya meriwayatkan Abu
Muhammad Al-Darimi dan sekelompok ulama.
Ia dinilai tsiqah oleh Ibnu Hibban dan Ibnu Mandah.
Adapun Ibnu ‘Adi, ia memberi isyarat dalam biografi Ahmad
bin ‘Abdurrahman Al-Wahbi bahwa ia termasuk orang yang mencuri hadis,
namun ia tidak menyebutkan biografi tersendiri baginya dalam kitab Al-Kamil.
Dan ia adalah seorang yang shaduq.” [Baca : Mizan Al-I‘tidal fi Naqd
Al-Rijal (2/345)].
Muhammad al-Amin berkata:
قُلْتُ سَرِقَةُ الْحَدِيثِ يَعْنِي أَنَّ الرَّاوِيَ
يَبْلُغُهُ حَدِيثٌ يَرْوِيهِ بَعْضُهُمْ فَيَسْرِقُهُ مِنْهُ وَيُرَكِّبُ
عَلَيْهِ إِسْنَادًا مِنْ أَسَانِيدِهِ، ثُمَّ يَرْفَعُهُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ.
وَهِيَ تُهْمَةٌ مَعْنَاهَا الِاتِّهَامُ بِالْكَذِبِ وَوَضْعِ الْحَدِيثِ. أَيْ
إِنَّهَا تُهْمَةٌ فِي غَايَةِ الْخُطُورَةِ.
Aku berkata: Yang dimaksud dengan “mencuri hadis” adalah
bahwa seorang perawi mendengar sebuah hadits yang diriwayatkan oleh orang lain,
lalu ia mengambil hadits tersebut darinya dan menyusunnya dengan salah satu
sanad miliknya, kemudian ia marfu‘kan kepada Nabi ﷺ. Tuduhan ini bermakna tuduhan berdusta dan
membuat-buat hadis. Artinya, ini adalah tuduhan yang sangat berbahaya. [Dikutip
dari: Arsyif Multaqa Ahl al-Hadits (al-Maktabah asy-Syamilah al-Haditsah)
44/18]
Perawi kedua : Amr bin Yahya bin Amr, dan ia telah
dilemahkan oleh Ibnu Ma’in, Ibnu Kharasy, dan Ibnu ‘Adi.
Ibnu ‘Adiy berkata:
عَمْرُو بْنُ يَحْيَى بْنِ عَمْرِو بْنِ سَلَمَةَ،
حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عِصْمَةَ، ثَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي يَحْيَى، قَالَ:
سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ مَعِينٍ يَقُولُ: عَمْرُو بْنُ يَحْيَى بْنِ سَلَمَةَ
لَيْسَ بِشَيْءٍ. حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَلِيٍّ، ثَنَا اللَّيْثُ بْنُ
عَبْدَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ مَعِينٍ يَقُولُ: عَمْرُو بْنُ يَحْيَى
بْنِ سَلَمَةَ سَمِعْتُ مِنْهُ لَمْ يَكُنْ يُرْضِي. وَعَمْرُو هَذَا لَيْسَ لَهُ
كَثِيرُ رِوَايَةٍ، وَلَمْ يَحْضُرْنِي لَهُ شَيْءٌ فَأَذْكُرَهُ.
“Amr bin Yahya bin Amr bin Salamah. Telah menceritakan
kepada kami Ibnu Abi ‘Ishmah, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abi
Yahya, ia berkata: aku mendengar Yahya bin Ma‘in berkata: Amr bin Yahya bin
Salamah tidak bernilai sama sekali.
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Ali, telah
menceritakan kepada kami al-Laits bin ‘Abdah, ia berkata: aku mendengar Yahya
bin Ma‘in berkata: Amr bin Yahya bin Salamah, aku pernah mendengar darinya: ia
tidak menerimanya.
Amr ini tidak memiliki banyak riwayat, dan tidak ada
sesuatu pun darinya yang terlintas di benakku sehingga aku dapat
menyebutkannya.” [Al-Kamil fi Du‘afa ar-Rijal (5/122)].
Imam adz-Dzahabi berkata dalam 3
kitabnya
“Mizan al-I‘tidal” (3/293), “al-Mughni Fii adh-Dhu’afaa” (2/491 no. 4729) dan
“Diiwan adh-Dhu’afaa” (hal. 307 no. 3229):
"عَمْرُو
بْنُ يَحْيَى بْنِ عَمْرُو بْنِ سَلَمَةَ، قَالَ يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ: لَيْسَ
حَدِيثُهُ بِشَيْءٍ، قَدْ رَأَيْتُهُ، وَذَكَرَهُ ابْنُ عَدِيٍّ مُخْتَصَرًا.
اِنْتَهَى، وَقَالَ ابْنُ خِرَاشٍ: لَيْسَ بِمَرْضِيٍّ. وَقَالَ ابْنُ عَدِيٍّ:
لَيْسَ لَهُ كَبِيرُ شَيْءٍ وَلَمْ يَحْضُرْنِي لَهُ شَيْءٌ". اهـ
Amr bin Yahya bin Amr bin Salamah. Yahya bin Ma’in
berkata: “Haditsnya tidak bernilai apa pun, aku pernah melihatnya.” Ibnu ‘Adi
juga menyebutkannya secara ringkas. Selesai. Ibnu Kharasy berkata: “Ia tidak
dapat diterima.”
Ibnu ‘Adi berkata: “Ia tidak memiliki sesuatu yang
berarti, dan tidak terlintas bagiku satu pun hadits darinya.”
Taqiyuddin al-Muqraizi dalam Mukhtashor al-Kamil Fii
adh-Dhu’afaa hal. 541 no. 1287 berkata :
عَمْرُو بْنُ يَحْيَى بْنِ عَمْرُو بْنِ سَلَمَةَ. قَالَ
ابْنُ مَعِينٍ: لَيْسَ بِشَيْءٍ. وَمَرَّةً قَالَ: سَمِعْتُ مِنْهُ، لَمْ يَكُنْ
بِمَرْضِيٍّ.
Amr bin Yahya bin Amr bin Salamah. Ibnu Ma’in berkata: “Ia
tidak bernilai apa pun.” Dan pada kesempatan lain ia berkata: “Aku pernah
mendengar darinya, namun ia tidak dapat diterima.”
Ibnu al-Jauzi rahimahullah berkata dalam kitab ad-Dhu‘afa’
wal-Matrukin (2/233 no. 2601):
"عَمْرُو بْنُ يَحْيَى بْنِ عَمْرُو بْنِ سَلَمَةَ،
قَالَ يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ: لَيْسَ حَدِيثُهُ بِشَيْءٍ، وَقَالَ مَرَّةً: لَمْ
يَكُنْ بِمَرْضِيٍّ". اهـ
Amr bin Yahya bin Amr bin Salamah. Yahya bin Ma’in
berkata: “Haditsnya tidak bernilai apa pun,” dan pada kesempatan lain ia
berkata: “Ia tidak dapat diterima.”
Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Lisan al-Mizan 6/232 no. 5852
berkata :
عَمْرُو بْنُ يَحْيَى بْنِ عَمْرُو بْنِ سَلَمَةَ.
قَالَ يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ: لَيْسَ حَدِيثُهُ بِشَيْءٍ،
قَدْ رَأَيْتُهُ.
وَقَالَ ابْنُ خِرَاشٍ: لَيْسَ بِمَرْضِيٍّ.
وَقَالَ ابْنُ عَدِيٍّ: لَيْسَ لَهُ كَبِيرُ رِوَايَةٍ،
وَلَمْ يَحْضُرْنِي لَهُ شَيْءٌ.
Amr bin Yahya bin Amr bin Salamah.
Yahya bin Ma’in berkata: “Haditsnya tidak bernilai apa
pun, aku pernah melihatnya.”
Ibnu Kharasy berkata: “Ia tidak dapat diterima.”
Ibnu ‘Adi berkata: “Ia tidak memiliki riwayat yang
berarti, dan tidak terlintas bagiku satu pun riwayat darinya.” [Selesai]
Telah keliru orang yang mengiranya sebagai Umar bin Yahya.
[Lihat: kitab Itmam al-Ihtimam bi Musnad Abi
Muhammad bin Bahram (ad-Darimi), risalah “al-Hiththoh bi Rijal ad-Darimi
Khoorij al-Kutub as-Sittah” halaman 687].
Dan adapun ayahnya, yaitu Yahya bin ‘Amr
bin Salamah, maka Ibnu Abi Hatim berkata:
يَحْيَى بْنُ عَمْرُو بْنِ سَلَمَةَ الْهَمْدَانِيُّ،
وَيُقَالُ الْكِنْدِيُّ، رَوَى عَنْ أَبِيهِ، وَرَوَى عَنْهُ شُعْبَةُ
وَالثَّوْرِيُّ وَالْمَسْعُودِيُّ وَقَيْسُ بْنُ الرَّبِيعِ وَابْنُهُ عَمْرُو
بْنُ يَحْيَى، سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ ذَلِكَ.
“Yahya bin Amr bin Salamah al-Hamdani, dan ada yang
mengatakan al-Kindi. Ia meriwayatkan dari ayahnya. Yang meriwayatkan darinya
antara lain Syu‘bah, ats-Tsauri, al-Mas‘udi, Qais bin ar-Rabi‘, dan putranya
Amr bin Yahya. Aku mendengar ayahku mengatakan hal tersebut”. [Lihat : al-Jarh
wa at-Ta'dil 9/176].
Sementara kakeknya, yaitu
Amr bin Salamah, dinilai tsiqah pula oleh Ibnu Sa'd dan Ibnu Hibban. [Lihat
Tahdzib at-Tahdzib 8/38].
Dan sebagaimana yang telah diebutkan diatas, bahwa dia
dinilai tsiqah oleh al-'Ijli dalam ats-Tsiqat hal. 364 no. 1263 dan Ibnu Hajar
dalam at-Taqrib 2/71.
Kesimpulan pendapat pertama, mereka mengatakan:
فَابْنُ عَدِيٍّ يَنْقُلُ مِنْ سَنَدَيْنِ مُخْتَلِفَيْنِ
تَضْعِيفَ ابْنِ حِبَّانَ لَهُ، وَكَذَلِكَ ابْنُ حَجَرٍ الْعَسْقَلَانِيُّ
يَنْقُلُ تَضْعِيفَ ابْنِ خِرَاشٍ لَهُ. فَلَا شَكَّ فِي ضَعْفِ سَنَدِ هَذَا
الْحَدِيثِ
“Maka Ibnu ‘Adi menukil penilaian pelemahan terhadapnya
dari Ibnu Hibban melalui dua sanad yang berbeda, dan demikian pula Ibnu Hajar
al-‘Asqalani menukil penilaian pelemahan terhadapnya dari Ibnu Kharasy. Dengan
demikian, tidak ada keraguan bahwa sanad hadits ini lemah”.
[Dikutip dari: Arsyif Multaqa Ahl al-Hadits
(al-Maktabah asy-Syamilah al-Haditsah) 44/18]
Pendapat ke dua :
Atsar ini telah dinilai shahih dengan sanad ini oleh
Syaikh al-Albani rahimahullah ta'ala dalam ash-Shahihah 5/12 no. 2005.
Alasannya : karena Amr bin Yahya bin Amr bin Salamah
dinilai tsiqah oleh Ibnu Ma'in, sebagaimana disebutkan dalam al-Jarh wa
at-Ta'dil 6/269.
Text perkataan Ibnu Abi Hatim:
عَنْ يَحْيَى بْنِ مَعِينٍ أَنَّهُ قَالَ: عَمْرُو بْنُ
يَحْيَى بْنِ سَلَمَةَ ثِقَةٌ
“Dari Yahya bin Ma’in bahwa ia berkata: Amr bin Yahya bin
Salamah adalah tsiqah”.
Disini saya sebagai penulis, bingung, apakah yang
dimaksud perkataan Ibnu Ma’in yang dikutip Ibnu Hatim ini adalah Amr bin Yahya
bin ‘Amr (cucu) atau Amr bin Salamah (kakeknya)?
Ada 3 faktor yang membuat saya
bingung tentang kutipan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Ma’in ini:
Faktor Pertama: lafadz nya
membingungkan.
Faktor Kedua : semua ulama pakar
hadits selain Ibnu Abi Hatim, mereka telah mengutip dari Ibnu Ma’in pernyataan
sebaliknya tentang Amr bin Yahya, yakni mendho’ifkannya.
Faktor Ketiga: yang di tautsiq oleh
para ulama hadits itu adalah kakeknya, yaitu Amr bin salamah. Diantaranya
adalah oleh al-Ijly dalam ats-Tsiqoot hal. 364 no. 1263, dia berkata :
عَمْرُو بْنُ سَلَمَةَ: «كُوفِيٌّ»، تَابِعِيٌّ، ثِقَةٌ
“Amru bin Salamah: berasal dari Kufah,
seorang tabi'in, terpercaya”.
Begitu pula oleh Ibnu Hajar dalam at-Taqrib 2/71:
عَمْرُو بْنُ سَلَمَةَ بْنِ الْحَارِثِ الْهَمْدَانِيُّ
الْكُوفِيُّ: ثِقَةٌ مِنَ الثَّالِثَةِ
“Amr bin Salamah bin al-Harits al-Hamdani al-Kufi:
terpercaya, termasuk generasi ketiga”.
Adapun cucunya, yaitu Amr bin Yahya bin ‘Amr bin Salamah,
maka sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, tidak ada yang
mentautsiqnya.
====
SEKILAS FIQIH ATSAR INI:
Jika seandainya atsar Ibnu Mas’ud ini shahih, Muhammad
al-Amin berkata:
"وَلَا
أَدْرِي كَيْفَ حُشِرَ هَذَا الْحَدِيثُ (بَلْ هُوَ أَثَرٌ مَوْقُوفٌ) فِي صِنْفِ
أَدِلَّةِ عَدَمِ جَوَازِ الذِّكْرِ الْجَمَاعِيِّ، إِذْ لَا عَلَاقَةَ لَهُ
بِمَوْضُوعِنَا. فَإِنْكَارُ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ لَمْ يَكُنْ عَنْ
ذِكْرِهِمْ لِرَبِّهِمْ وَلَا أَدْرِي كَيْفَ اعْتَقَدُوا ذَلِكَ، إِنَّمَا
أَنْكَرَ عَدَّهُمْ لِحَسَنَاتِهِمْ لِأَنَّهُ خَافَ أَنْ يَغْتَرُّوا بِعَمَلِهِمْ.
اُنْظُرْ قَوْلَهُ: «أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ
وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ».
وَكَذَلِكَ قَوْلُهُ: «فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا
ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ». بَلْ هَذَا الْحَدِيثُ هُوَ
حُجَّةٌ عَلَيْهِمْ لِأَنَّ أَبَا مُوسَى لَمْ يُنْكِرْ عَلَيْهِمُ الذِّكْرَ
الْجَمَاعِيَّ إِنَّمَا مُجَرَّدَ عَدِّهِ.
وَهَذَا طَبْعًا لَوْ صَحَّ سَنَدُ الْحَدِيثِ، فَمَا
بَالُكَ لَوْ عَلِمْتَ أَنَّ الْحَدِيثَ ضَعِيفٌ أَصْلًا؟".
“Saya tidak tahu bagaimana hadits ini (bahkan sebenarnya
ia adalah atsar mauquf) dimasukkan ke dalam kategori dalil yang menyatakan
tidak bolehnya dzikir berjamaah, padahal sama sekali tidak ada kaitannya dengan
pembahasan kita.
Penolakan Abu Musa al-Asy’ari dalam atsar ini bukanlah
terhadap dzikir mereka kepada Rabb mereka, dan saya tidak tahu bagaimana mereka
bisa beranggapan demikian. Yang beliau ingkari hanyalah perhitungan mereka
terhadap kebaikan-kebaikan mereka, karena beliau khawatir mereka akan tertipu
oleh amal mereka sendiri.
Perhatikan ucapannya: “Mengapa tidak kalian perintahkan
mereka untuk menghitung dosa-dosa mereka, dan aku menjamin bahwa tidak akan
hilang sedikit pun dari kebaikan-kebaikan mereka.”
Demikian pula ucapannya:
“Hitunglah dosa-dosa kalian,
karena aku menjamin tidak akan hilang sedikit pun dari kebaikan-kebaikan
kalian.”
Bahkan hadits ini justru menjadi hujah atas mereka, karena
Abu Musa tidak mengingkari dzikir berjamaah, melainkan hanya mengingkari
perhitungan (amal) tersebut saja.
Dan itu pun tentu jika sanad hadits ini shohih. Lalu
bagaimana jika diketahui bahwa hadits ini pada asalnya memang lemah?”. [Kutipan
Selesai]
[Sumber: Arsip Multaqa Ahl al-Hadits (al-Maktabah
asy-Syamilah al-Haditsah) 44/18 dan seterusnya].
KEDUA : RIWAYAT ABDUR ROZZAQ DAN ATH-THOBRONI:
Atsar ini diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam
Mushannaf-nya 3/221 no. 5409 dan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir
9/125 no. 8630 .
Ath-Thabrani berkata: telah menceritakan
kepada kami Ishaq bin Ibrahim ad-Dabari, dari Abdurrazzaq, dari Ja‘far bin
Sulaiman, ia berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Atho’ bin as-Sa’ib, aku
tidak mengetahuinya kecuali dari Abu al-Bakhtari, ia berkata:
بَلَغَ عَبْدَ اللهِ بْنَ مَسْعُودٍ أَنَّ قَوْمًا، يَقْعُدُونَ
مِنَ الْمَغْرِبِ إِلَى الْعِشَاءِ يُسَبِّحُونَ يَقُولُونَ: "قُولُوا
كَذَا وَقُولُوا كَذَا". قَالَ عَبْدُ اللهِ: «إِنْ قَعَدُوا فَآذِنُونِي».
فَلَمَّا جَلَسُوا أَتَوْهُ فَانْطَلَقَ فَدَخَلَ مَعَهُمْ
فَجَلَسَ وَعَلَيْهِ بُرْنُسٌ، فَأَخَذُوا فِي تَسْبِيحِهِمْ فَحَسَرَ عَبْدُ
اللهِ عَنْ رَأْسِهِ الْبُرْنُسَ، وَقَالَ: «أَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْعُودٍ» ،
فَسَكَتَ الْقَوْمُ،
فَقَالَ: «لَقَدْ جِئْتُمْ بِبِدْعَةٍ ظَلْمَاءَ، أَوْ
لَقَدْ فَضَلْتُمْ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ ﷺ عِلْمًا» ،
فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ: مَا جِئْنَا بِبِدْعَةٍ
ظَلْمَاءَ، وَلَا فَضَلْنَا أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ ﷺ عِلْمًا.
فَقَالَ عَمْرُو بْنُ عُتْبَةَ بْنِ فَرْقَدٍ:
"أَسْتَغْفِرُ اللهَ يَا ابْنَ مَسْعُودٍ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ".
فَأَمَرَهُمْ أَنْ يَتَفَرَّقُوا.
قَالَ: وَرَأَى ابْنُ مَسْعُودٍ حَلْقَتَيْنِ فِي مَسْجِدِ
الْكُوفَةِ فَقَامَ مِنْهُمَا فَقَالَ: «أَيَّتُكُمَا كَانَتْ قَبْلَ
صَاحِبَتِهَا؟»
قَالَتْ إِحْدَاهُمَا: نَحْنُ، فَقَالَ لِلْأُخْرَى: «قُومَا
إِلَيْهَا» فَجَعَلَهُمْ وَاحِدَةً
“Sampai kepada Abdullah bin Mas‘ud kabar bahwa ada
sekelompok orang yang duduk dari setelah magrib hingga isya sambil bertasbih,
mereka berkata: “Ucapkan ini dan ucapkan itu!”.
Abdullah berkata: “Jika mereka telah duduk, maka
beritahukanlah kepadaku!”.
Ketika mereka telah duduk, mereka pun mendatanginya. Maka
ia berangkat lalu masuk bersama mereka dan duduk di tengah-tengah mereka,
sementara ia mengenakan burnus.
Mereka mulai dengan tasbih mereka, lalu Abdullah membuka
penutup kepalanya dan berkata: “Aku adalah Abdullah bin Mas‘ud”.
Maka kaum itu pun terdiam. Ia berkata: “Sungguh kalian
telah datang dengan suatu bid‘ah yang gelap gulita, atau sungguh kalian telah
melampaui para sahabat Muhammad ﷺ dalam hal ilmu”.
Maka seorang lelaki dari Bani Tamim berkata: “Kami tidak
datang dengan bid‘ah yang gelap dan kami tidak melampaui para sahabat Muhammad ﷺ dalam hal ilmu”.
Lalu ‘Amr bin ‘Utbah bin Farqad berkata: “Aku memohon
ampun kepada Allah, wahai Ibnu Mas‘ud, dan aku bertobat kepada-Nya”.
Maka ia memerintahkan mereka agar berpisah.
Ia berkata: Ibnu Mas‘ud juga melihat dua halaqah di Masjid
Kufah, lalu ia berdiri di hadapan keduanya dan berkata:
“Yang manakah di antara kalian berdua yang lebih dahulu
ada sebelum yang lain?”
Salah satunya berkata: “Kami”.
Maka ia berkata kepada yang lain: “Berdirilah dan
bergabunglah dengan mereka, lalu ia menjadikan keduanya satu halaqah”.
STATUS SANAD ATSAR:
Sanadnya lemah :
Al-Haitsami berkata dalam al-Majma' 1/181:
"رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْكَبِيرِ، وَفِيهِ
مُجَالِدُ بْنُ سَعِيدٍ، وَثَّقَهُ النَّسَائِيُّ، وَضَعَّفَهُ الْبُخَارِيُّ
وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَيَحْيَى".
“Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam
al-Kabir, dan di dalamnya terdapat Mujalid bin Sa'id. Ia dinilai tsiqah oleh
an-Nasa'i, namun dilemahkan oleh al-Bukhari, Ahmad bin Hanbal, dan Yahya”.
Dan apabila kita meneliti sanad atsar ini, kita dapati
beberapa hal berikut ini:
Pertama:
Bahwa Ishaq bin Ibrahim ad-Dabari, meskipun ia dinilai “صَدُوْقٌ”, namun dia mendengar hadits dari Abdurrazzaq terjadi setelah
Abdurrazzaq mengalami ikhtilath (ambu radul hafalannya).
Lagi pula Imam Abdurrazzaq wafat ketika usia ad-Dabari
masih 6 atau 7 tahun, dia benar-benar masih bocil.
Jika demikian, maka yang benar kira-kira kapan dia bisa
mendengar hadits darinya? Jika bukan pada dua tahun terakhir dari kehidupan
Abdurrazzaq.
Al-‘Allamah Ibrahim bin Musa al-Abnasi berkata dalam
asy-Syadza al-Fayyah min ‘Ulum Ibnu ash-Shalah (2/747):
"قُلْتُ
وَقَدْ وَجَدْتُ فِيمَا رُوِيَ عَنِ الطَّبْرَانِيِّ عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ
إِبْرَاهِيمَ الدَّبَرِيِّ عَنْ عَبْدِ الرَّزَّاقِ أَحَادِيثَ اسْتَنْكَرْتُهَا
جِدًّا، فَأَحَلْتُ أَمْرَهَا عَلَى ذَلِكَ، فَإِنَّ سَمَاعَ الدَّبَرِيِّ مِنْهُ
مُتَأَخِّرٌ جِدًّا، قَالَ إِبْرَاهِيمُ الحَرْبِيُّ مَاتَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ
وَلِلدَّبَرِيِّ سِتُّ سِنِينَ أَوْ سَبْعُ سِنِينٍ". اهـ
“Aku berkata: aku telah mendapati dalam riwayat-riwayat
yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani dari Ishaq bin Ibrahim ad-Dabari dari
Abdurrazzaq beberapa hadits yang sangat aku ingkari, maka aku mengembalikan
perkaranya kepada hal ini, karena ad-Dabari mendengar hadits darinya sangat
terlambat. Ibrahim al-Harbi berkata: Abdurrazzaq wafat ketika ad-Dabari berusia
6 atau 7 tahun”. [Selesai].
Al-‘Allamah al-Muhaddits as-Sakhawi berkata dalam Fathul
Mughits (3/377):
"وَقَالَ
شَيْخُنَا - ابْنُ حَجَرٍ العَسْقَلَانِيُّ -: الْمَنَاكِيرُ الْوَاقِعَةُ فِي
حَدِيثِ الدَّبَرِيِّ إِنَّمَا سَبَبُهَا أَنَّهُ سَمِعَ مِنْ عَبْدِ الرَّزَّاقِ
بَعْدَ اخْتِلَاطِهِ، فَمَا يُوجَدُ مِنْ حَدِيثِ الدَّبَرِيِّ عَنْ عَبْدِ
الرَّزَّاقِ فِي مُصَنَّفَاتِ عَبْدِ الرَّزَّاقِ فَلَا يُلْحَقُ الدَّبَرِيُّ
مِنْهُ تَبِعَةً، إِلَّا إِنْ صُحُفٌ وَحَرْفٌ". اهـ
“Dan guru kami, Ibnu Hajar al-‘Asqalani, berkata:
kemungkaran-kemungkaran yang terdapat dalam hadits ad-Dabari sebabnya adalah
karena ia mendengar dari Abdurrazzaq setelah Abdurrazzaq mengalami ikhtilath.
Adapun hadis-hadis ad-Dabari dari Abdurrazzaq yang terdapat dalam mushannaf
Abdurrazzaq, maka ad-Dabari tidak menanggung kesalahan darinya, kecuali jika ia
melakukan tashif atau tahrif”. (Selesai).
Barangkali sebagian ulama yang menshohihkan riwayat
ad-Dabari dari Abdurrazzaq beralasan bahwa ad-Dabari meriwayatkan dari
kitab-kitab Abdurrazzaq, bukan langsung dari hafalannya.
Kedua:
Bahwa Ja‘far bin Sulaiman adh-Dhob‘i mendengar dari ‘Atha’
bin as-Sa’ib setelah terjadi ikhtilath (campur aduk hafalan-nya), sebagaimana
ditegaskan oleh Imam adz-Dzahabi dalam al-Kawakib an-Nayirat (halaman 61):
حَكَمُوا بِتَوْثِيقِهِ - أَيْ عَطَاءٍ - وَصَلاَحِهِ
وَبِاخْتِلَاطِهِ، اخْتَلَطَ فِي آخِرِ عُمْرِهِ قَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ:
ثِقَةٌ رَجُلٌ صَالِحٌ مَنْ سَمِعَ مِنْهُ قَدِيمًا فَسَمَاعُهُ صَحِيحٌ وَمَنْ
سَمِعَ مِنْهُ حَدِيثًا فَسَمَاعُهُ لَيْسَ بِشَيْءٍ... وَمِمَّنْ سَمِعَ مِنْهُ -
أَيْ مِنْ عَطَاءٍ - أَيْضًا بِآخِرَةٍ مِنَ البَصْرَيْنِ جَعْفَرُ بْنُ
سُلَيْمَانَ الضَّبْعِيُّ. اهـ
Para ulama menetapkan ketsiqahan ‘Atha’, kesalihannya, dan
juga ikhtilathnya. Ia mengalami ikhtilath di akhir umurnya. Ahmad bin Hanbal berkata:
ia seorang yang tsiqah dan saleh. Siapa yang mendengar darinya pada masa awal,
maka pendengarannya shohih.
Adapun siapa yang mendengar darinya pada masa akhir, maka
pendengarannya tidak bernilai apa-apa. Termasuk yang mendengar darinya pada
masa akhir dari kalangan Bashrah adalah Ja‘far bin Sulaiman ad-Dab‘i. [Selesai].
Ketiga:
Bahwa dalam riwayat ‘Atha’ bin as-Sa’ib dari Abu
al-Bukhtari terdapat kelemahan. Adz-Dzahabi berkata dalam al-Kawakib an-Nayirat
(halaman 61):
"وَقَالَ
إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَلِيَّةَ: قَالَ لِي شُعْبَةُ: مَا حَدَّثَكَ عَطَاءٌ عَنْ
رِجَالِهِ زَاذَانَ وَمَيْسَرَةَ وَأَبِي البَخْتَرِيِّ فَلَا تَكْتُبْهُ، وَمَا
حَدَّثَكَ عَنْ رَجُلٍ بِعَيْنِهِ فَاكْتُبْهُ". اهـ
“Isma‘il bin ‘Ulayyah berkata: Syu‘bah berkata kepadaku:
apa saja yang diriwayatkan ‘Atha’ kepadamu dari para perawinya seperti Zadzan,
Maysarah, dan Abu al-Bukhtari, maka jangan engkau tulis. Adapun apa yang ia
riwayatkan kepadamu dari seorang perawi tertentu secara jelas, maka tulislah”.
[Selesai].
Dengan demikian, sanad ini tidak mungkin dinilai shohih.
***
KETIGA : RIWAYAT IMAM AHMAD DAN ABU NU’AIM AL-ASHFAHANI:
Hadits ini diriwayatkan pula oleh al-Imam Ahmad dalam
az-Zuhud hal. 289 no. 2081 dan Abu Nu’aim al-Ashfahani dalam Hilyatul Awliyaa
4/380.
Abu Nu’aim al-Ashfahani berkata : Telah menceritakan
kepada kami Abu Bakr bin Malik, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin
Ahmad, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Ibrahim, telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail.
Dan telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Ahmad,
telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdul Aziz, telah menceritakan kepada
kami Abu Nu‘aim, telah menceritakan kepada kami Abdussalam bin Harb.
Keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Atha
bin as-Sa’ib, dari Abu al-Bakhtari, ia berkata:
أَخْبَرَ رَجُلٌ عَبْدَ اللهِ بْنَ مَسْعُودٍ أَنَّ قَوْمًا
يَجْلِسُونَ فِي الْمَسْجِدِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ، فِيهِمْ رَجُلٌ يَقُولُ:
كَبِّرُوا اللهَ كَذَا وَكَذَا، سَبِّحُوا اللهَ كَذَا وَكَذَا، وَاحْمَدُوا اللهَ
كَذَا وَكَذَا.
قَالَ عَبْدُ اللهِ: «فَيَقُولُونَ». قَالَ: نَعَمْ.
قَالَ: «فَإِذَا رَأَيْتَهُمْ فَعَلُوا ذَلِكَ فَأْتِنِي
فَأَخْبِرْنِي بِمَجْلِسِهِمْ»، فَأَتَاهُمْ وَعَلَيْهِ بُرْنُسٌ لَهُ فَجَلَسَ،
فَلَمَّا سَمِعَ مَا يَقُولُونَ قَامَ، وَكَانَ رَجُلًا حَدِيدًا،
فَقَالَ: «أَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْعُودٍ، وَاللهِ
الَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ لَقَدْ جِئْتُمْ بِبِدْعَةٍ ظُلْمًا، أَوْ لَقَدْ
فَضَلْتُمْ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ ﷺ عِلْمًا».
فَقَالَ مِعْضَدٌ: وَاللهِ مَا جِئْنَا بِبِدْعَةٍ ظُلْمًا،
وَلَا فَضَلْنَا أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ عِلْمًا. فَقَالَ عَمْرُو بْنُ عُتْبَةَ: يَا
أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، نَسْتَغْفِرُ اللهَ.
قَالَ: «عَلَيْكُمْ بِالطَّرِيقِ فَالْزَمُوهُ، فَوَاللهِ
لَئِنْ فَعَلْتُمْ لَقَدْ سَبَقْتُمْ سَبْقًا بَعِيدًا، وَلَئِنْ أَخَذْتُمْ
يَمِينًا وَشِمَالًا لَتَضِلُّنَّ ضَلَالًا بَعِيدًا»
seseorang mengabarkan kepada Abdullah bin Mas‘ud bahwa ada
sekelompok orang yang duduk di masjid setelah salat Magrib. Di antara mereka
ada seorang yang berkata: “Bertakbirlah kepada Allah sekian dan sekian,
bertasbihlah kepada Allah sekian dan sekian, dan bertahmidlah kepada Allah
sekian dan sekian.”
Abdullah berkata: “Apakah mereka mengucapkannya?”
Ia menjawab: “Ya.”
Abdullah berkata: “Jika engkau melihat mereka melakukan
hal itu, datanglah kepadaku dan beritahukan kepadaku tempat duduk mereka.”
Lalu Abdullah mendatangi mereka dengan mengenakan burdus
dan duduk bersama mereka. Ketika ia mendengar apa yang mereka ucapkan, ia pun
berdiri. Ia adalah seorang yang tegas. Ia berkata: “Aku adalah Abdullah bin
Mas‘ud. Demi Allah yang tidak ada sesembahan selain Dia, sungguh kalian telah
mendatangkan suatu bid‘ah yang zalim, atau sungguh kalian telah mengungguli
para sahabat Muhammad ﷺ dalam hal ilmu.”
Maka Mi‘dhad berkata: “Demi Allah, kami tidak datang
membawa bid‘ah yang zalim dan kami tidak mengungguli para sahabat Muhammad ﷺ dalam hal ilmu.”
Lalu Amru bin Utbah berkata: “Wahai Abu Abdurrahman, kami
memohon ampun kepada Allah.”
Abdullah berkata: “Hendaklah kalian tetap berada di jalan
yang benar dan berpegang teguhlah padanya. Demi Allah, jika kalian melakukannya,
sungguh kalian akan mendahului dengan keunggulan yang jauh. Dan jika kalian
mengambil jalan ke kanan dan ke kiri, niscaya kalian akan tersesat dengan
kesesatan yang jauh.”
Abu Nu’aim berkata setelahnya:
"رَوَاهُ
زَائِدَةُ وَجَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ عَطَاءٍ، وَرَوَاهُ قَيْسُ بْنُ أَبِي
حَازِمٍ، وَأَبُو الزَّعْرَاءِ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ". انتهى .
“Atsar ini diriwayatkan oleh Zaidah dan Ja’far bin
Sulaiman dari Atha, dan diriwayatkan pula oleh Qais bin Abi Hazim dan Abu
az-Za’ra’ dari Abdullah bin Mas’ud”. [Selesai].
STATUS SANAD ATSAR:
Pertama :
Di dalam sanad terdapat Abdu Salam bin Harb. Ibnu Sa’ad
dalam ath-Thabaqat al-Kubra 6/360 no. 2692 berkata :
عَبْدُ السَّلَامِ بْنُ حَرْبٍ الْمُلَائِيُّ. وَيُكْنَى
أَبَا بَكْرٍ. تُوُفِّيَ بِالْكُوفَةِ سَنَةَ سَبْعٍ وَثَمَانِينَ وَمِائَةٍ فِي
خِلَافَةِ هَارُونَ. وَكَانَ بِهِ ضَعْفٌ فِي الْحَدِيثِ. وَكَانَ عَسِرًا.
“Abdus Salam bin Harb al-Mula’i. Kunyah-nya Abu Bakar. Ia
wafat di Kufah pada tahun 187 H, pada masa kekhalifahan Harun. Ia memiliki
kelemahan dalam periwayatan hadis, dan ia dikenal bersikap sulit”.
Namun ada yang mengatakan :
عَبْدُ السَّلَامِ بْنُ حَرْبِ بْنِ سَلَمَةَ النَّهْدِيُّ
الْمُلَائِيُّ الْكُوفِيُّ ثِقَةٌ حَافِظٌ، إِلَّا أَنَّهُ لَهُ مَنَاكِيرُ.
“Abdussalam bin Harb bin Salamah an-Nahdi al-Mula’i
al-Kufi adalah seorang perawi yang tsiqah dan hafidzh. Namun, ia memiliki
sejumlah riwayat hadits yang munkar”. (Muslim 88, al-Jarh 6/46, at-Taqrib
1/505)
Kedua :
Bahwa dalam riwayat ‘Atha’ bin as-Sa’ib dari Abu
al-Bukhtari terdapat kelemahan. Atha bin as-Sa’ib mengalami ikhtilath
(kekacauan hafalan) pada akhir hidupnya. Karena itu, hadis-hadisnya dari para
perawi generasi awal seperti Abu al-Bakhtari dinilai lemah, sedangkan
riwayatnya dari para perawi generasi belakangan dinilai lebih kuat.
Adz-Dzahabi berkata dalam al-Kawakib an-Nayirat (halaman
61):
وَقَالَ إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَلِيَّةَ: قَالَ لِي شُعْبَةُ:
مَا حَدَّثَكَ عَطَاءٌ عَنْ رِجَالِهِ زَاذَانَ وَمَيْسَرَةَ وَأَبِي
البَخْتَرِيِّ فَلَا تَكْتُبْهُ، وَمَا حَدَّثَكَ عَنْ رَجُلٍ بِعَيْنِهِ
فَاكْتُبْهُ. اهـ
“Isma‘il bin ‘Ulayyah berkata: Syu‘bah berkata kepadaku:
apa saja yang diriwayatkan ‘Atha’ kepadamu dari para perawinya seperti Zadzan,
Maysarah, dan Abu al-Bukhtari, maka jangan engkau tulis. Adapun apa yang ia
riwayatkan kepadamu dari seorang perawi tertentu secara jelas, maka tulislah”.
[Selesai].
****
KEEMPAT : RIWAYAT IBNU WADHDHOOH :
-----
Riwayat Ibnu Wadhdhoh ke
1 :
Adapun yang diriwayatkan oleh Ibnu Waddah al-Qurtubi dalam
*al-Bida‘ wa al-Nahy ‘anha* (hal. 21), beliau berkata: Aku meriwayatkan dari
Asad dari Jarir bin Hazim dari al-Salt bin Bahram, ia berkata:
مَرَّ ابْنُ مَسْعُودٍ بِامْرَأَةٍ مَعَهَا تَسْبِيحٌ تُسَبِّحُ
بِهِ ، فَقَطَعَهُ وَأَلْقَاهُ ، ثُمَّ مَرَّ بِرَجُلٍ يُسَبِّحُ بِحَصًا ،
فَضَرَبَهُ بِرِجْلِهِ ثُمَّ قَالَ: «لَقَدْ سُبِقْتُمْ ، رَكِبْتُمْ بِدْعَةً
ظُلْمًا ، أَوْ لَقَدْ غَلَبْتُمْ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ ﷺ عِلْمًا»
“Ibnu Mas‘ud melewati seorang wanita yang membawa tasbih
untuk berdzikir, lalu beliau memotongnya lalu melemparnya.
Kemudian ia melewati seorang laki-laki yang berdzikir
dengan kerikil, lalu beliau menendangnya dengan kakinya.
Kemudian ia berkata: ‘Sungguh kalian telah mendahului
(melakukan) suatu bid‘ah secara dzalim, atau kalian telah mengungguli para
sahabat Nabi Muhammad ﷺ dalam ilmu.’”
STATUS SANAD ATSAR:
Sanad ini lemah; karena adanya
keterputusan antara ash-Sholt bin Bahram dan Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu.
Ibnu Mas‘ud wafat di Madinah pada tahun 32 H, sebagaimana diperkirakan oleh
Ibnu Hajar rahimahullah dalam *al-Ishobah*, sedangkan ash-Sholt bin Bahram
termasuk tabi’ut tabi‘in dan tidak mungkin memiliki riwayat dari sahabat
generasi setelah Nabi ﷺ, apalagi dari Abdullah bin Mas‘ud yang wafat pada masa
kekhalifahan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu.
Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani menegaskan bahwa ash-Sholt
termasuk tabi’ut tabi‘in sebagaimana disebut dalam *Tahdzib* (4/432).
Ibnu Waddah juga meriwayatkannya melalui Aban bin Abi
‘Ayash, yang diketahui pendusta.
Ibnu Abi Hatim dalam *al-Jarh wa al-Ta‘dil* (1/134)
berkata:
قَالَ شُعْبَةُ: لِأَنْ أَرْتَكِبَ سَبْعِينَ كَبِيرَةً
أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُحَدِّثَ عَنْ أَبَانِ بْنِ أَبِي عِيَاشٍ. اهـ
Syu‘bah berkata: “Lebih baik bagiku melakukan tujuh puluh
dosa besar daripada meriwayatkan dari Aban bin Abi ‘Ayash.”
Imam an-Nasa’i dalam *al-Du‘afa’ wa al-Matrukin* (hlm. 14)
berkata:
أَبَانُ بْنُ أَبِي عِيَاشٍ مَتْرُوكُ الحَدِيثِ وَهُوَ
أَبَانُ بْنُ فِيرُوزَ أَبُو إِسْمَاعِيلَ. اهـ
“Aban bin Abi ‘Ayash ditinggalkan riwayatnya, ia adalah
Aban bin Fayruz Abu Isma‘il.”
=====
Riwayat Ibnu Wadhdhoh ke
2 :
Ibnu Waddah juga meriwayatkannya dalam *al-Bida‘ wa
al-Nahy ‘anha* (hlm. 38 no. 16), ia berkata: “Aku meriwayatkan dari ‘Abdullah
bin Rajaa‘ dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar, dari Yasar Abu al-Hakam:
أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ حُدِّثَ أَنَّ أُنَاسًا
بِالْكُوفَةِ يُسَبِّحُونَ بِالْحَصَا فِي الْمَسْجِدِ ، فَأَتَاهُمْ ، وَقَدْ
كَوَّمَ كُلُّ رَجُلٍ مِنْهُمْ بَيْنَ يَدَيْهِ كَوْمَةَ حَصًا ، قَالَ: فَلَمْ
يَزَلْ يَحْصِبُهُمْ بِالْحَصَا حَتَّى أَخْرَجَهُمْ مِنَ الْمَسْجِدِ ،
وَيَقُولُ: «لَقَدْ أَحْدَثْتُمْ بِدْعَةً ظُلْمًا ، أَوْ قَدْ فَضَلْتُمْ
أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ ﷺ عِلْمًا»
Bahwa Abdullah bin Mas’ud diceritakan kepadanya bahwa ada
sekelompok orang di Kufah yang bertasbih menggunakan kerikil di masjid. Maka ia
mendatangi mereka, sedangkan setiap orang dari mereka telah menumpuk kerikil di
depannya. Ia pun terus melemparkan kerikil kepada mereka sampai mengusir mereka
dari masjid, seraya berkata:
“Sesungguhnya kalian telah membuat bid’ah secara zalim,
atau kalian telah mengungguli para sahabat Muhammad ﷺ dalam ilmu.”
STATUS SANAD :
Sanad ini juga lemah; karena terputus antara
Sayyar Abu al-Hakam dan Abdullah bin Mas‘ud. Sayyar termasuk tabi’ut tabi‘in
sebagaimana dijelaskan oleh hafidzh Ibnu Hajar dalam *Tahdzib* (4/291).
====
Riwayat Ibnu Wadhdhoh ke
3 :
Ibnu Waddah juga meriwayatkannya dalam *al-Bida‘ wa
al-Nahy ‘anha* (hlm. 39 no. 17)
Ia berkata : Telah menceritakan kepada saya Ibrahim bin
Muhammad, dari Harmalah, dari Ibn Wahb, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku
Ibn Sam’an, ia berkata:
بَلَغَنَا عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّهُ رَأَى
أُنَاسًا يُسَبِّحُونَ بِالْحَصَا ، فَقَالَ: «عَلَى اللَّهِ تُحْصُونَ ، لَقَدْ
سَبَقْتُمْ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ عِلْمًا ، أَوْ لَقَدْ أَحْدَثْتُمْ بِدْعَةً
ظُلْمًا»
Kami diberitakan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa ia melihat
sekelompok orang yang bertasbih menggunakan kerikil, lalu ia berkata:
“Kepada Allah kalian menghitungnya (menghitung amal
kalian), sesungguhnya kalian telah mendahului para sahabat Muhammad dalam ilmu,
atau sesungguhnya kalian telah menciptakan bid’ah secara zalim.”
STATUS SANAD:
Sanad ini batil; karena dalam sanadnya
terdapat Abdullah bin Ziyad bin Samaan yang pendusta.
Ibnu Abi Hatim dalam *al-Jarh wa al-Ta‘dil* (5/60)
berkata:
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ قَالَ: سَأَلْتُ
مَالِكًا عَنْ بْنِ سَمْعَانَ فَقَالَ كَذَّابٌ... قَالَ يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ:
حَدَّثَنَا الْحَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْأَعْوَرُ عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ يَعْنِي
عَبْدَ الْوَاحِدِ بْنَ وَاصِلٍ قَالَ: كَانَ عِنْدَهُ بْنُ سَمْعَانَ وَمُحَمَّدُ
بْنُ إِسْحَاقٍ فَقَالَ بْنُ سَمْعَانَ: حَدَّثَنِي مُجَاهِدٌ. فَقَالَ بْنُ
إِسْحَاقٍ: كَذَبَ وَاللَّهُ، أَنَا أَكْبَرُ مِنْهُ، وَمَا رَأَيْتُ
“Dari ‘Abdurrahman bin al-Qasim, ia berkata: Aku bertanya
kepada Malik tentang Ibnu Samaan, ia berkata: “Ia pendusta.” Yahya bin Ma’in
berkata: “Al-Hajjaj bin Muhammad al-A‘war meriwayatkan dari Abu ‘Ubaidah,
maksudnya ‘Abd al-Wahid bin Wasil, ia berkata: ‘Di hadapannya ada Ibnu Samaan
dan Muhammad bin Ishaq.’ Ibnu Samaan berkata: ‘Mujahid meriwayatkan kepadaku.’
Ibnu Ishaq berkata: ‘Dusta, demi Allah, aku lebih tua darinya dan aku belum
pernah melihatnya…’” [Selesai]
Dan lihat: Mizān
al-I‘tidāl Jilid 2/423, dan lihat: al-Majrūḥīn karya Ibn Hibban Jilid 2/15.
Ibn Sam‘ān adalah: (madq) ‘Abdullāh bin Ziyād bin Sulaymān bin Sam‘ān al-Makhzūmī, Abu ‘Abdurrahmān al-Madani, mawla Umm Salamah, ditinggalkan (matrūk). Ia dituduh oleh Abu Dawud dan dicap berdusta.
Ibnu Abi Hatim berkata dalam al-Jarh wa al-Ta‘dil Jilid
5/62:
أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ يَقُولُ: أَظُنُّ ابْنَ سَمْعَانَ
كَانَ يَضَعُ لِلنَّاسِ، يَعْنِي الْحَدِيثَ.
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبِي
يَقُولُ: ابْنُ سَمْعَانَ ضَعِيفُ الْحَدِيثِ، سَبِيلُهُ سَبِيلُ التَّرْكِ. قَالَ
أَبُو مُحَمَّدٍ: امْتَنَعَ أَبُو زُرْعَةَ مِنْ أَنْ يَقْرَأَ عَلَيْنَا حَدِيثَ
ابْنِ سَمْعَانَ، وَقَالَ: هُوَ لَا شَيْءَ.
Ahmad bin Shalih berkata: Aku menduga Ibnu Sam’an biasa
membuat-buatkan untuk orang-orang, maksudnya hadits palsu.
Abdurrahman berkata: Aku mendengar ayahku berkata, “Ibnu
Sam’an lemah dalam hadis, cara menyikapinya adalah sebagaimana menyikapi orang
yang ditinggalkan.”
Abu Muhammad berkata: Abu Zur‘ah enggan membacakan kepada
kami hadits Ibnu Sam’an dan berkata, “Ia tidak ada nilainya.”
Dan lihat: Tahdzīb
al-Tahdzīb Jilid 5/220–221.
====
Riwayat Ibnu Wadhdhoh ke
4 :
Ibnu Waddah dalam al-Bida’ hal. 39 no. 18 berkata : Telah
meriwayatkan kepada kami Muhammad bin Sa‘id, ia berkata: telah meriwayatkan
kepada kami Asad bin Musa, dari Yahya bin ‘Isa, dari al-A‘masy, dari sebagian
kawan-nya, ia berkata:
"مَرَّ
عَبْدُ اللَّهِ بِرَجُلٍ يَقُصُّ فِي الْمَسْجِدِ عَلَى أَصْحَابِهِ،
وَهُوَ يَقُولُ: سَبِّحُوا عَشْرًا، وَهَلِّلُوا عَشْرًا، فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ:
إِنَّكُمْ لَأَهْدَى مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ ﷺ أَوْ أَضَلُّ، بَلْ هَذِهِ، بَلْ
هَذِهِ، يَعْنِي: أَضَلُّ".
“Abdullah melewati seorang lelaki yang
sedang bercerita di masjid kepada para sahabatnya, sementara ia berkata:
“Bertasbihlah sepuluh kali dan bertahlillah sepuluh kali.” Maka Abdullah
berkata: “Sungguh kalian ini lebih mendapat petunjuk daripada para sahabat
Muhammad ﷺ ataukah lebih sesat.” Lalu ia berkata: “Bahkan ini, bahkan
ini,” maksudnya: lebih sesat”.
STATUS SANAD :
Sanadnya lemah sekali; karena di dalam
sanadnya terdapat dua ilat:
[1] Perawi yang tidak disebutkan namanya, yaitu salah
seorang kawannya al-A’masy.
[2] Yahya bin Isa, dia shoduq dan sering salah dalam
periwayatan.
Pentahqiq al-I’tishom karya asy-Syathibi 2/339 (Cet. Dar
Ibnu al-Jauzi) menjelaskan:
وَشَيْخُ الْأَعْمَشِ لَمْ يُسَمَّ، وَيَحْيَى بْنُ عِيسَى
صَدُوقٌ يُخْطِئُ، كَمَا فِي «التَّقْرِيبِ» (٧٦٦٩)
“Syeikhnya al-A‘masy tidak disebutkan namanya, dan Yahya
bin ‘Isa adalah seorang yang shoduuq tetapi sering melakukan kesalahan,
sebagaimana disebutkan dalam kitab “at-Taqrib” nomor 7669”.
====
Riwayat Ibnu Wadhdhoh ke
5.
Ibnu Wadhdhoh dalam al-Bida’ wa an-Nahyi ‘anha hal. 40 no.
22 berkata:
Telah menceritakan kepada kami Musa bin Mu‘awiyah, dari
Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari Salamah bin Kuhail, dari Abu Az-Zar‘a,
ia berkata:
"جَاءَ
الْمُسَيِّبُ بْنُ نُجَيْدٍ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ فَقَالَ: إِنِّي تَرَكْتُ
فِي الْمَسْجِدِ رِجَالًا يَقُولُونَ: سَبِّحُوا ثَلَاثَمِائَةٍ وَسِتِّينَ، فَقَالَ:
قُمْ يَا عَلْقَمَةُ وَاشْغَلْ عَنِّي أَبْصَارَ الْقَوْمِ، فَجَاءَ فَقَامَ
عَلَيْهِمْ فَسَمِعَهُمْ يَقُولُونَ فَقَالَ: «إِنَّكُمْ لَتُمْسِكُونَ
بِأَذْنَابِ ضَلَالٍ، أَوْ إِنَّكُمْ لَأَهْدَى مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ ﷺ ، أَوْ
نَحْوَ هَذَا»
Al-Musayyib bin Nujayd datang kepada Abdullah (bin
Mas’ud), lalu berkata: “Sesungguhnya aku meninggalkan di masjid beberapa orang
yang berkata: ‘Bertasbihlah tiga ratus enam puluh kali.’”
Maka ia berkata: “Berdirilah wahai Alqamah dan alihkan
pandangan orang-orang itu dariku.”
Lalu ia datang dan berdiri di hadapan mereka, kemudian
mendengar apa yang mereka ucapkan, lalu ia berkata: “Sungguh kalian benar-benar
berpegang pada ujung-ujung kesesatan, atau sungguh kalian lebih mendapat
petunjuk daripada para sahabat Muhammad ﷺ, atau semisal ucapan ini.”
STATUS SANAD :
Al-Baihaqi dalam al-Ba’tsu wa an-Nusyuur hal. 357 berkata
:
أَبُو الزَّعْرَاءُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ هَانِئٍ
الْكُوفِيُّ، عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ. قَالَ الْبُخَارِيُّ: وَلَا يُتَابَعُ فِي
حَدِيثِهِ
Abu Za’raa’ adalah Abdullah bin Hani al-Kufi, meriwayatkan
dari Ibnu Mas’ud. Al-Bukhari berkata, “Ia tidak ada mutaba’ah (penguat) dalam
hadisnya.” (Lihat: at-Tarikh al-Kabir 5/221).
Al-Aini dalam Syarah Sunan Abu Daud 6/403 di bawah hadits
no. 1769 berkata:
أَبُو الزَّعْرَاءِ: عَبْدُ اللَّهِ بْنُ هَانِي الْكُوفِيُّ
الْكِنْدِيُّ. سَمِعَ: عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ. رَوَى عَنْهُ: سَلَمَةُ
بْنُ كُهَيْلٍ. قَالَ الْبُخَارِيُّ: وَلَا يُتَابَعُ فِي حَدِيثِهِ. وَقَالَ
النَّسَائِيُّ وَعَلِيُّ بْنُ الْمَدِينِيِّ: لَا نَعْلَمُ أَحَدًا رَوَى عَنْهُ
إِلَّا سَلَمَةَ بْنَ كُهَيْلٍ. وَقَالَ ابْنُ عَدِيٍّ: وَالَّذِي قَالَ
النَّسَائِيُّ كَمَا قَالَ، وَيَرْوِي سَلَمَةُ بْنُ كُهَيْلٍ عَنْ أَبِي
الزَّعْرَاءِ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ إِنْ كَانَ قَدْ سَمِعَ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ
بْنِ مَسْعُودٍ، وَيَرْوِي عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ عَنْ أَبِيهِ، وَغَيْرِهِمْ.
Abu Az-Za‘rā, dia adalah Abdullah bin
Hāni al-Kūfi al-Kindi.
Ia mendengar dari Abdullah bin Mas‘ud. Yang meriwayatkan
darinya adalah Salamah bin Kuhail.
Al-Bukhari berkata: hadisnya tidak memiliki mutābi‘.
An-Nasā’i dan ‘Ali bin al-Madini
berkata: kami tidak mengetahui seorang pun yang meriwayatkan darinya selain
Salamah bin Kuhail.
Ibnu ‘Adi berkata: apa yang dikatakan an-Nasā’i adalah sebagaimana adanya, dan Salamah bin Kuhail meriwayatkan
dari Abu Az-Za‘rā’, dari Ibnu Mas’ud jika
memang ia mendengar dari Abdullah bin Mas‘ud, dan juga meriwayatkan dari Abu
al-Ahwash, dari ayahnya, serta dari selain mereka”.
****
KELIMA : RIWAYAT ABDUR ROZZAQ :
Di antaranya adalah riwayat yang dibawakan oleh
Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya 3/222 dari Ma’mar, dari Atha bin as-Saib. Ia
berkata:
سَمِعَ ابْنَ مَسْعُودٍ، بِقَوْمٍ يَخْرُجُونَ إِلَى الْبَرِّيَّةِ
مَعَهُمْ قَاصٌّ يَقُولُ: سَبِّحُوا، ثُمَّ قَالَ: «أَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ
مَسْعُودٍ، وَلَقَدْ فَضَلْتُمْ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ ﷺ عِلْمَا، أَوْ لَقَدْ
جِئْتُمْ بِبِدْعَةٍ ظَلْمَاءَ، وَإِنْ تَكُونُوا قَدْ أَخَذْتُمْ
بِطَرِيقَتِهِمْ، فَقَدْ سَبَقُوا سَبْقًا بَعِيدًا، وَإِنْ تَكُونُوا
خَالَفْتُمُوهُمْ فَقَدْ ضَلَلْتُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا، عَلَى مَا تُعَدِّدُونَ
أَمْرَ اللَّهِ؟»
Ibnu Mas’ud mendengar tentang suatu kaum yang keluar ke
padang pasir bersama seorang penceramah yang berkata: “bertasbihlah!”.
Kemudian ia berkata:
“Aku adalah Abdullah bin Mas’ud. Sungguh kalian telah
mengungguli para sahabat Muhammad ﷺ dalam ilmu, atau sungguh kalian telah
datang dengan bid’ah yang gelap gulita.
Jika kalian telah mengambil jalan mereka (para sahabat),
maka sungguh mereka telah mendahului dengan jarak yang sangat jauh. Namun jika
kalian menyelisihi mereka, maka sungguh kalian telah tersesat dengan kesesatan
yang sangat jauh. Atas dasar apa kalian menghitung perintah Allah?”.
STATUS SANAD :
Sanadnya terputus.
Karena Atha bin as-Sa’ib ats-Tsaqafi(wafat 136 H, dia
adalah seorang tabi‘in dan ahli hadits Kufah dari kalangan maula Bani Tsaqif.
Sementara Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu wafat
pada tahun 32 H.
KESIMPULAN STATUS SANAD ATSAR IBNU MAS’UD
Secara umum, atsar ini dengan seluruh redaksi yang ada di
dalamnya sama sekali tidak mungkin dipertentangkan dengan hadis-hadis shohih
yang tetap dan marfu’ kepada Nabi ﷺ yang menunjukkan dianjurkannya dzikir
berjamaah, karena beberapa alasan:
Pertama: atsar dari Abdullah bin Mas’ud
radhiyallahu ‘anhu tersebut diperselisihkan antara shahih dan tidaknya.
Namun dalam Majallah al-Jami’ah al-Islamiyah- al-Madinah
al-Munawwarah 33/32 di katakan:
فَهٰذِهِ الْمَقُولَةُ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ إِنْ لَمْ
يَصِحَّ سَنَدُهَا فَمَعْنَاهَا صَحِيحٌ
“Maka perkataan yang dinisbatkan kepada Ibnu Mas‘ud ini,
meskipun sanadnya tidak shohih, namun maknanya shahih”.
Kedua: andaikata dianggap shohih, maka
atsar sahabat tetap tidak dapat menandingi hadis-hadis Nabi ﷺ. Bahkan hadis-hadis itu pasti didahulukan ketika terjadi
pertentangan, karena atsar tersebut hanyalah perbuatan seorang sahabat dan
bukan hujah. Hujah yang sebenarnya hanyalah Al-Qur’an dan Sunnah.
Ketiga: atsar itu dipahami bahwa
orang-orang tersebut mengeraskan suara dengan sangat berlebihan, sehingga
larangan diarahkan kepada mereka.
Keempat: hanya saja mereka benar-benar
mengganggu orang-orang yang berada di masjid ketika mereka berdzikir dengan
suara nyaring yang berlebihan.
Kelima: telah diriwayatkan dari Ibnu
Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dalam atsar yang sama yang diriwayatkan oleh
ath-Thabrani, bahwa beliau memerintahkan halaqah yang datang belakangan untuk
bergabung dengan halaqah yang lebih dahulu. Seandainya duduk berhalaqah untuk
berzikir itu bid’ah, tentu Abdullah bin Mas’ud tidak akan meridhai satu halaqah
pun, apalagi lebih dari satu.
Dimana dalam riwayat Abdur Rozzaq dan Ath-Thobroni di
sebutkan:
قَالَ: وَرَأَى ابْنُ مَسْعُودٍ حَلْقَتَيْنِ فِي مَسْجِدِ
الْكُوفَةِ فَقَامَ مِنْهُمَا فَقَالَ: «أَيَّتُكُمَا كَانَتْ قَبْلَ
صَاحِبَتِهَا؟»
قَالَتْ إِحْدَاهُمَا: نَحْنُ، فَقَالَ لِلْأُخْرَى: «قُومَا
إِلَيْهَا» فَجَعَلَهُمْ وَاحِدَةً
Ia berkata: Ibnu Mas‘ud juga melihat
dua halaqah di Masjid Kufah, lalu ia berdiri di hadapan keduanya dan berkata:
“Yang manakah di antara kalian berdua yang lebih dahulu
ada sebelum yang lain?”
Salah satunya berkata: “Kami”.
Maka ia berkata kepada yang lain: “Berdirilah dan bergabunglah
dengan mereka, lalu ia menjadikan keduanya satu halaqah”. [SELESAI]
Keenam: hal itu dinafikan dari Ibnu
Mas’ud oleh tabi’i Abu Wa’il. Ia berkata bahwa orang-orang yang mengklaim
Abdullah melarang dzikir itu tidak benar, karena ia tidak pernah duduk bersama
Abdullah dalam suatu majlis pun kecuali di dalamnya ada dzikir kepada Allah.
PERNYATAAN PARA PAKAR HADITS
TENTANG DHO’IFNYA ATSAR
IBNU MAS’UD INI
Berikut ini, wahai pembaca yang mulia, beberapa pernyataan
para ulama tentang atsar ini:
Imam as-Suyuthi rahimahullah ta’ala berkata dalam kitab
*al-Hawi lil-Fatawi* (1/379):
فَإِنْ قُلْتَ، فَقَدْ نُقِلَ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّهُ
رَأَى قَوْمًا يُهَلِّلُونَ بِرَفْعِ الصَّوْتِ فِي الْمَسْجِدِ، فَقَالَ: مَا
أَرَاكُمْ إِلَّا مُبْتَدِعِينَ حَتَّى أَخْرَجَهُمْ مِنَ الْمَسْجِدِ. قُلْتُ:
هَذَا الْأَثَرُ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ يَحْتَاجُ إِلَى بَيَانِ سَنَدِهِ وَمَنْ
أَخْرَجَهُ مِنَ الْأَئِمَّةِ الْحُفَّاظِ فِي كُتُبِهِمْ، وَعَلَى تَقْدِيرِ
ثُبُوتِهِ فَهُوَ مُعَارَضٌ بِالْأَحَادِيثِ الْكَثِيرَةِ الثَّابِتَةِ الْمُتَقَدِّمَةِ،
وَهِيَ مُقَدَّمَةٌ عَلَيْهِ عِنْدَ التَّعَارُضِ، ثُمَّ رَأَيْتُ مَا يَقْتَضِي
إِنْكَارَ ذَلِكَ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ
فِي كِتَابِ الزُّهْدِ: ثَنَا حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ، ثَنَا الْمَسْعُودِيُّ،
عَنْ عَامِرِ بْنِ شَقِيقٍ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ
يَزْعُمُونَ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ كَانَ يَنْهَى عَنِ الذِّكْرِ، مَا جَالَسْتُ
عَبْدَ اللَّهِ مَجْلِسًا قَطُّ إِلَّا ذَكَرَ اللَّهَ فِيهِ.
Jika engkau berkata: telah dinukil dari Ibnu Mas’ud bahwa
beliau melihat suatu kaum yang bertahlil dengan mengeraskan suara di masjid,
lalu beliau berkata: “Aku tidak melihat kalian kecuali sebagai orang-orang yang
berbuat bid’ah,” hingga beliau mengeluarkan mereka dari masjid.
Aku jawab: atsar dari Ibnu Mas’ud ini perlu diteliti
sanadnya dan siapa saja dari kalangan para imam hafidzh yang meriwayatkannya
dalam kitab-kitab mereka.
Dan seandainya pun atsar itu shohih, maka ia bertentangan
dengan banyak hadits shohih yang telah disebutkan sebelumnya, dan hadis-hadis
tersebut harus didahulukan atasnya ketika terjadi pertentangan. Kemudian aku
melihat riwayat yang menunjukkan pengingkaran terhadap penisbatan atsar
tersebut kepada Ibnu Mas’ud.
Imam Ahmad bin Hanbal berkata dalam kitab *az-Zuhd*: telah
menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami
al-Mas’udi, dari Amir bin Syaqiq, dari Abu Wa’il, ia berkata: “Orang-orang yang
mengklaim bahwa Abdullah bin Mas’ud melarang dzikir itu tidak benar. Aku tidak
pernah duduk bersama Abdullah dalam suatu majlis pun kecuali di dalamnya ada
dzikir kepada Allah.”
Imam Ibnu Hajar al-Haitami berkata dalam *al-Fatawa
al-Fiqhiyyah al-Kubra* (1/177):
وَأَمَّا مَا نُقِلَ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّهُ رَأَى
قَوْمًا يُهَلِّلُونَ بِرَفْعِ الصَّوْتِ فِي الْمَسْجِدِ، فَقَالَ: مَا أَرَاكُمْ
إِلَّا مُبْتَدِعِينَ حَتَّى أَخْرَجَهُمْ مِنَ الْمَسْجِدِ، فَلَمْ يَصِحَّ
عَنْهُ بَلْ لَمْ يَرِدْ؛ وَمِنْ ثَمَّ أَخْرَجَ أَحْمَدُ عَنْ أَبِي وَائِلٍ
قَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ كَانَ يَنْهَى عَنِ
الذِّكْرِ؛ مَا جَالَسْتُ عَبْدَ اللَّهِ مَجْلِسًا قَطُّ إِلَّا ذَكَرَ اللَّهَ
فِيهِ، وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ. اِنْتَهَى.
“Adapun apa yang dinukil dari Ibnu Mas’ud bahwa beliau
melihat suatu kaum yang bertahlil dengan mengeraskan suara di masjid lalu
berkata: “Aku tidak melihat kalian kecuali sebagai orang-orang yang berbuat
bid’ah,” hingga beliau mengeluarkan mereka dari masjid, maka hal itu tidak shohih
dinisbatkan kepadanya, bahkan tidak tetap. Oleh karena itu, Imam Ahmad meriwayatkan
dari Abu Wa’il yang berkata: “Orang-orang yang mengklaim bahwa Abdullah bin
Mas’ud melarang dzikir itu tidak benar. Aku tidak pernah duduk bersama Abdullah
dalam suatu majlis pun kecuali di dalamnya ada dzikir kepada Allah.” Dan Allah
Subhanahu wa Ta’ala lebih mengetahui kebenaran yang sebenarnya”. [Selesai].
Dan imam ahli hadits al-Manawi berkata dalam Faid al-Qadir
(1/457):
وَأَمَّا مَا نُقِلَ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ مِنْ أَنَّهُ
رَأَى قَوْمًا يُهَلِّلُونَ بِرَفْعِ الصَّوْتِ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ: مَا
أَرَاكُمْ إِلَّا مُبْتَدِعِينَ، وَأَمَرَ بِإِخْرَاجِهِمْ، فَغَيْرُ ثَابِتٍ.
وَبِفَرْضِ ثُبُوتِهِ يُعَارِضُهُ مَا فِي كِتَابِ الزُّهْدِ لِأَحْمَدَ، عَنْ
شَقِيقِ بْنِ أَبِي وَائِلٍ، قَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّ عَبْدَ
اللَّهِ كَانَ يَنْهَى عَنِ الذِّكْرِ، مَا جَالَسْتُهُ مَجْلِسًا قَطُّ إِلَّا
ذَكَرَ اللَّهَ فِيهِ. اهـ
Adapun riwayat yang dinukil dari Ibnu Mas’ud bahwa beliau
melihat sekelompok orang bertahlil dengan suara keras di masjid lalu berkata,
“Aku tidak melihat kalian kecuali sebagai orang-orang yang berbuat bid’ah,”
kemudian memerintahkan agar mereka dikeluarkan, maka riwayat itu tidak tsabit
(tidak shohih). Dan andaikata pun dianggap shohih, ia bertentangan dengan
riwayat yang ada dalam Kitab az-Zuhd karya Ahmad dari Syaqiq bin Abi Wa’il yang
berkata: “Orang-orang yang mengklaim bahwa Abdullah pernah melarang zikir, aku
tidak pernah duduk bersama Abdullah dalam satu majlis pun kecuali ia selalu
berzikir kepada Allah di dalamnya.” Selesai.
Dan al-‘Allamah al-Alusi rahimahullah berkata dalam Ruh
al-Ma‘ani (6/163):
وَمَا ذُكِرَ فِي الْوَاقِعَاتِ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ مِنْ
أَنَّهُ رَأَى قَوْمًا يُهَلِّلُونَ بِرَفْعِ الصَّوْتِ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ:
مَا أَرَاكُمْ إِلَّا مُبْتَدِعِينَ حَتَّى أَخْرَجَهُمْ مِنَ الْمَسْجِدِ، لَا
يَصِحُّ عِنْدَ الْحُفَّاظِ مِنَ الْأَئِمَّةِ الْمُحَدِّثِينَ، وَعَلَى فَرْضِ
صِحَّتِهِ هُوَ مُعَارِضٌ بِمَا يَدُلُّ عَلَى ثُبُوتِ الْجَهْرِ مِنْهُ رَضِيَ
اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ، مِمَّا رَوَاهُ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ الْحُفَّاظِ، أَوْ
مَحْمُولٌ عَلَى الْجَهْرِ الْبَالِغِ. انْتَهَى
Apa yang disebutkan dalam sebagian riwayat tentang Ibnu
Mas’ud bahwa beliau melihat sekelompok orang bertahlil dengan suara keras di
masjid lalu berkata, “Aku tidak melihat kalian kecuali sebagai orang-orang
yang berbuat bid’ah,” hingga beliau mengeluarkan mereka dari masjid, maka
hal itu tidak shohih menurut para imam ahli hadits dari kalangan para hafidz.
Dan seandainya pun dianggap shohih, maka ia bertentangan
dengan riwayat-riwayat yang menunjukkan adanya dzikir dengan suara keras dari beliau
radhiyallahu ta’ala ‘anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh lebih dari satu orang
dari kalangan para hafidz, atau dipahami bahwa yang dilarang adalah suara yang
terlalu keras”. [Selesai].
APAKAH DAPAT PAHALA, JIKA TIDAK TAHU BAHWA ITU BID’AH?
Apakah seseorang diberi pahala apabila ia bermaksud
melakukan kebaikan, namun tidak mengetahui bahwa perbuatan itu termasuk bid‘ah?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitab
al-Iqtidho’ (hlm. 290), ketika menjelaskan makna pembahasan sebelumnya:
لَا رَيْبَ أَنَّ مَنْ فَعَلَهَا مُتَأَوِّلًا مُجْتَهِدًا
أَوْ مُقَلِّدًا كَانَ لَهُ أَجْرٌ عَلَى حُسْنِ قَصْدِهِ وَعَلَى عَمَلِهِ؛ مِنْ
حَيْثُ مَا فِيهِ مِنَ الْمَشْرُوعِ، وَكَانَ مَا فِيهِ مِنَ الْمُبْتَدَعِ
مَغْفُورًا لَهُ إِذَا كَانَ فِي اجْتِهَادِهِ أَوْ تَقْلِيدِهِ مِنَ
الْمَعْذُورِينَ؛ اهـ
“Tidak diragukan bahwa orang yang melakukannya dengan
takwil, karena ijtihad, atau karena taqlid, maka ia memperoleh pahala atas niat
baiknya dan atas amalnya dari sisi yang disyariatkan. Adapun bagian yang
mengandung bid‘ah, maka hal itu diampuni baginya apabila dalam ijtihad atau
taqlidnya ia termasuk orang yang mendapat uzur”. [SELESAI]
Di antaranya adalah:
A] Perkataan Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas‘ud
radhiyallahu ‘anhuma, serta para tabi‘in al-Hasan al-Bashri dan Sa‘id bin
Jubair rahimahumallah: Telah diriwayatkan dari mereka ucapan:
«لَا
يَنْفَعُ قَوْلٌ إِلَّا بِعَمَلٍ، وَلَا عَمَلٌ إِلَّا بِقَوْلٍ، وَلَا قَوْلٌ
وَعَمَلٌ إِلَّا بِنِيَّةٍ، وَلَا نِيَّةٌ إِلَّا بِمُوَافَقَةِ السُّنَّةِ»
“Tidak bermanfaat suatu ucapan kecuali dengan amal, tidak
bermanfaat amal kecuali dengan ucapan, tidak bermanfaat ucapan dan amal kecuali
dengan niat, dan tidak bermanfaat niat kecuali dengan kesesuaian dengan
sunnah”. [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam al-Ibanah 2/803 (1089)].
Bagian yang menjadi penekanan adalah kalimat terakhir,
yang secara tegas menafikan manfaat niat kecuali apabila disertai dengan
kesesuaian dengan sunnah, yaitu:
«..وَلَا
نِيَّةٌ إِلَّا بِمُوَافَقَةِ السُّنَّةِ».
“dan tidak bermanfaat
niat kecuali dengan kesesuaian dengan sunnah”.
Ibnu Baththah meriwayatkan dalam al-Ibanah 2/803 (1090),
dan al-Lalikai dalam Syarh Ushul I‘tiqad Ahlis Sunnah 1/63 (18), dari al-Hasan
yang berkata:
«الْإِيمَانُ
قَوْلٌ، وَلَا قَوْلَ إِلَّا بِعَمَلٍ، وَلَا قَوْلَ وَعَمَلَ إِلَّا بِنِيَّةٍ،
وَلَا قَوْلَ وَعَمَلَ وَنِيَّةَ إِلَّا بِسُنَّةٍ».
“Iman adalah ucapan, tidak ada ucapan kecuali dengan amal,
tidak ada ucapan dan amal kecuali dengan niat, dan tidak ada ucapan, amal, dan
niat kecuali dengan sunnah”.
Al-Lalikai meriwayatkan dalam as-Sunnah 1/64 (20) dari
Sa‘id bin Jubair, ia berkata:
«لَا
يُقْبَلُ قَوْلٌ إِلَّا بِعَمَلٍ، وَلَا يُقْبَلُ عَمَلٌ إِلَّا بِقَوْلٍ، وَلَا
يُقْبَلُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ إِلَّا بِنِيَّةٍ، وَلَا يُقْبَلُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ
وَنِيَّةٌ إِلَّا بِنِيَّةٍ مُوَافِقَةٍ لِلسُّنَّةِ».
“Tidak diterima suatu ucapan kecuali dengan amal, tidak
diterima amal kecuali dengan ucapan, tidak diterima ucapan dan amal kecuali
dengan niat, dan tidak diterima ucapan, amal, dan niat kecuali dengan niat yang
sesuai dengan sunnah”.
***
FAIDAH:
Di kutip dari al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubro 1/177 karya
Abul Abbas, Ibnu Hajar al-Haitami :
(وَسُئِلَ)
- رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - عَمَّا لَفْظُهُ: صَحَّتْ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ
بِأَنَّهُ ﷺ «شَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ» ، وَجَاءَ فِي حَدِيثٍ مُسْنَدٍ
وَمَرَاسِيلَ النَّهْيُ عَنْهُ، فَمَا التَّوْفِيقُ بَيْنَهُمَا وَمَا حُكْمُ
كَرَاهَتِهِ؟
(فَأَجَابَ)
بِقَوْلِهِ: الَّذِي دَلَّ عَلَيْهِ كَلَامُ أَئِمَّتِنَا حَمْلُ كَرَاهَتِهِ
عَلَى مَا إذَا كَانَ بِالْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ، وَكَذَا إنْ كَانَ قَاصِدًا
الْمَسْجِدَ لِلصَّلَاةِ مُتَطَهِّرًا، كَمَا بَحَثَهُ بَعْضُهُمْ مُسْتَدِلًّا
بِخَبَرِ أَبِي دَاوُد:
«إذَا
تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ ثُمَّ خَرَجَ عَامِدًا إلَى
الْمَسْجِدِ فَلَا يُشَبِّكَنَّ بِيَدِهِ فَإِنَّهُ فِي صَلَاةٍ أَوْ كَانَ
مُصَلِّيًا» .
وَحِكْمَةُ الْكَرَاهَةِ حِينَئِذٍ أَنَّهُ عَبَثٌ لَا
يَلِيقُ بِكُلٍّ مِنْ هَذَيْنِ، مَعَ أَنَّهُ يُوجِبُ النَّوْمَ الْمُوجِبَ
لِلْحَدَثِ، وَمَعَ أَنَّ صُورَتَهُ تُشْبِهُ صُورَةَ الِاخْتِلَافِ، وَقَدْ قَالَ
ﷺ لِلْمُسْلِمِينَ:
«وَلَا
تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ» وَحَمْلُ إبَاحَتِهِ عَلَى مَا عَدَا
ذَلِكَ وَاَلَّذِي عَلَيْهِ الْأَكْثَرُ تَخْصِيصُ النَّهْيِ بِالصَّلَاةِ لَا
غَيْرُ.
وَصَحَّ عَنْ ابْنِ عُمَرَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا -:
«رَأَيْت النَّبِيَّ ﷺ بِفِنَاءِ الْكَعْبَةِ مُحْتَبِيًا بِيَدَيْهِ هَكَذَا.»
زَادَ الْبَيْهَقِيّ: «وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ.»
PERTANYAAN:
Beliau ditanya tentang suatu persoalan, yang bunyinya:
“Telah shohih banyak hadis yang menyebutkan bahwa Nabi ﷺ menyela-nyelakan jari-jarinya. Namun terdapat pula hadis musnad
dan hadis-hadis mursal yang melarang hal tersebut. Lalu bagaimana cara
mengompromikan keduanya, dan bagaimana hukum kemakruhannya?”
JAWABAN :
Beliau menjawab dengan perkataannya:
“Yang ditunjukkan oleh keterangan para imam kami adalah
bahwa kemakruhan menyela-nyelakan jari-jari itu dibawa pada kondisi apabila
seseorang berada di masjid sedang menunggu salat, demikian pula apabila ia
sedang menuju masjid untuk salat dalam keadaan telah bersuci. Sebagaimana hal
ini dibahas oleh sebagian ulama dengan berdalil pada hadis Abu Dawud:
‘Apabila salah seorang dari
kalian berwudu lalu menyempurnakan wudunya, kemudian keluar dengan sengaja
menuju masjid, maka janganlah ia menyela-nyelakan jari-jarinya, karena
sesungguhnya ia berada dalam keadaan salat, atau ia sedang melaksanakan salat.’
Adapun hikmah kemakruhan dalam keadaan tersebut adalah
karena perbuatan itu termasuk perbuatan sia-sia yang tidak pantas bagi kedua
keadaan tersebut. Selain itu, perbuatan tersebut dapat menyebabkan rasa kantuk
yang berpotensi menimbulkan hadas. Juga karena bentuknya menyerupai gambaran
perpecahan, padahal Nabi ﷺ telah bersabda kepada kaum muslimin:
‘Janganlah kalian berselisih,
karena akan menyebabkan hati kalian berselisih.’
Adapun kebolehannya dibawa pada selain kondisi tersebut.
Dan pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama adalah bahwa larangan itu
dikhususkan pada keadaan salat saja, tidak selainnya.
Dan telah shohih dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia
berkata:
‘Aku melihat Nabi ﷺ di pelataran Ka’bah dalam keadaan duduk dengan bertopang pada
kedua tangannya seperti ini.’
Al-Baihaqi menambahkan:
‘Dan beliau menyela-nyelakan
jari-jarinya.’ [SELESAI]
0 Komentar