Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

PENJELASAN SYEIKH AL-ALBANI: “ALLAH ﷻ TIADA TEMPAT BAGINYA”

 PENJELASAN SYEIKH AL-ALBANI TENTANG: “ALLAH TIADA TEMPAT BAGINYA”

---

Syeikh al-Albani berkata:

«اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ لَهُ مَكَانٌ»

 “Allah tiada tempat baginya”

====

Di Susun Oleh Fakhri

KAJIAN NIDA AL-ISLAM

 ----

====

DAFTAR ISI:

  • PENDAHULUAN
  • PEMBAHASAN PERTAMA: PENJELASAN TENTANG HADITS JARIYAH: “DI MANAKAH ALLAH?”
  • PEMBAHASAN KE DUA: PENJELASAN TENTANG MAKNA KATA “DI LANGIT”

 ****

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

===***===

PENDAHULUAN

Di pendahuluan ini, saya kutip terlebih dahulu beberapa point perkataan Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani yang terdapat dalam dua pembahasan dalam artikel ini:

[1]

Syeikh al-Albani berkata :

«اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ لَهُ مَكَانٌ»

“Allah tiada tempat baginya”.

[2]

Dan beliau juga berkata:

«إِنَّ اللهَ مُنَزَّهٌ عَنِ الْمَكَانِ بِاتِّفَاقِ جَمِيعِ عُلَمَاءِ الْإِسْلَامِ»

“Sesungguhnya Allah Mahasuci dari keterikatan dengan tempat.

Ini adalah berdasarkan kesepakatan seluruh ulama Islam”.

[3]

Dan beliau juga berkata:

«كَانَ اللهُ وَلَا مَكَانَ لَهُ؛ لِأَنَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ عَنِ الْعَالَمِينَ. هَذِهِ الْحَقِيقَةُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهَا».

“Allah telah ada, dan tiada tempat bagi-Nya, karena Dia Mahakaya dan tidak membutuhkan seluruh alam.

Hakikat ini telah disepakati oleh para ulama”.

[4]

Dan beliau juga berkata:

«قُلْنَا: ﴿اللهُ فِي السَّمَاءِ﴾، وَجَبَ تَفْسِيرُ السَّمَاءِ بِالْعُلُوِّ الْمُطْلَقِ، فَكُلُّ مَا عَلَاكَ فَهُوَ سَمَاءٌ.

أَيْ: اللهُ فَوْقَ الْمَخْلُوقَاتِ كُلِّهَا حَيْثُ لَا مَكَانَ».

“Apabila kita mengatakan, ‘Allah di langit’, maka langit wajib dimaknai sebagai ketinggian yang mutlak. Sebab, segala sesuatu yang berada di atasmu disebut langit.

Artinya, Allah berada di atas seluruh makhluk, dimana saja, tanpa dibatasi tempat”.

===***===

PEMBAHASAN PERTAMA:
PENJELASAN TENTANG HADITS JARIYAH: “DI MANAKAH ALLAH?”

 Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani pernah mendapatkan pertanyaan mengenai hadits al-jāriyah (hadits budak perempuan), khususnya berkaitan dengan sabda Nabi yang berbunyi: «أَيْنَ اللَّهُ؟» (Di manakah Allah?).

Penanya ingin mengetahui apakah lafaz «أَيْنَ» (di mana) dalam hadits tersebut dipahami sebagai pertanyaan tentang tempat bagi Allah Ta'ala ataukah sebagai pertanyaan yang berkaitan dengan kedudukan dan keagungan-Nya?.

Berikut ini kutipan text tanya jawab dengan Syeikh al-Albani:

تَوْجِيهُ حَدِيثِ الْجَارِيَةِ: «أَيْنَ اللهُ؟»

‌‌السُّؤَالُ :

حَدِيثُ الْجَارِيَةِ: «أَيْنَ اللهُ؟» قَالَتْ: «فِي السَّمَاءِ». هَلْ هُوَ جَوَابٌ عَنْ فَرْضِيَّةِ مَكَانٍ أَوْ فَرْضِيَّةِ مَكَانَةٍ؟

‌‌الْجَوَابُ:

لَيْسَ هَذَا وَلَا هَذَا، أَيْ: إِنَّ الْجَوَابَ لَيْسَ عَنْ سُؤَالِ مَكَانَةٍ، وَلَا عَنْ مَكَانٍ.

أَمَّا أَنَّهُ لَيْسَ سُؤَالًا عَنِ الْمَكَانَةِ؛ فَلِأَنَّ مَكَانَةَ اللهِ الْمَعْنَوِيَّةَ مَعْرُوفَةٌ لَدَى كُلِّ الْمُسْلِمِينَ، بَلْ حَتَّى الْكَافِرِينَ.

وَأَمَّا أَنَّهُ لَيْسَ سُؤَالًا عَنِ الْمَكَانِ، فَذَلِكَ؛ لِأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ لَهُ مَكَانٌ.

وَفِي الْوَاقِعِ أَنَا أَشْعُرُ أَنَّ هَذَا السُّؤَالَ مِنْ أَخٍ مُسْلِمٍ يُعْتَبَرُ مُحَاضَرَةً، وَالسَّبَبُ أَنَّكُمْ لَا تَسْمَعُونَ هَذِهِ الْمُحَاضَرَاتِ، وَإِنَّمَا تَسْمَعُونَ مُحَاضَرَاتٍ فِي السِّيَاسَةِ وَالِاقْتِصَادِ، لِدَرَجَةٍ أَنَّ كَثِيرًا مِنْكُمْ مَلَّ مِنْ تَكْرَارِهَا، أَمَّا مُحَاضَرَاتٌ فِي صَمِيمِ التَّوْحِيدِ، كَالْمُحَاضَرَةِ الَّتِي سَتَسْمَعُونَهَا الْآنَ، مَعَ أَنِّي مُضْطَرٌّ إِلَى أَنْ أَخْتَصِرَ فِي الْكَلَامِ؛ لِأَنَّهُ حَانَ وَقْتُ الِانْصِرَافِ، لَكِنْ لَا بُدَّ مِمَّا لَا بُدَّ مِنْهُ.

فَهَذَا السُّؤَالُ يَحْتَاجُ إِلَى مُحَاضَرَةٍ، لَكِنْ نَقُولُ: إِنَّ اللهَ مُنَزَّهٌ عَنِ الْمَكَانِ بِاتِّفَاقِ جَمِيعِ عُلَمَاءِ الْإِسْلَامِ.

لِمَاذَا؟ لِأَنَّ اللهَ كَانَ وَلَا شَيْءَ مَعَهُ، وَهَذَا مَعْرُوفٌ فِي الْحَدِيثِ الَّذِي فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ: «كَانَ اللهُ وَلَا شَيْءَ مَعَهُ».

وَلَا شَكَّ أَنَّ الْمَكَانَ هُوَ شَيْءٌ، أَيْ: هُوَ شَيْءٌ وُجِدَ بَعْدَ أَنْ لَمْ يَكُنْ.

وَإِذَا قَالَ الرَّسُولُ ﷺ: «كَانَ اللهُ وَلَا شَيْءَ مَعَهُ»، مَعْنَاهُ: كَانَ وَلَا مَكَانَ لَهُ؛ لِأَنَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ عَنِ الْعَالَمِينَ.

هَذِهِ الْحَقِيقَةُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهَا.

دُرُوسُ الشَّيْخِ الْأَلْبَانِيِّ، ٣/٣.

PENJELASAN TENTANG HADITS JARIYAH: “DI MANAKAH ALLAH?”

Pertanyaan:

Dalam hadits jariyah disebutkan: “Di manakah Allah?” Ia menjawab, “Di langit.”

Apakah jawaban ini merupakan jawaban atas anggapan tentang tempat, ataukah tentang kedudukan?

Jawaban:

Bukan ini dan bukan pula itu. Maksudnya, jawaban tersebut bukanlah jawaban atas pertanyaan mengenai kedudukan, dan juga bukan mengenai tempat.

Adapun bukan pertanyaan tentang kedudukan, karena kedudukan Allah yang bersifat maknawi sudah diketahui oleh seluruh kaum Muslimin, bahkan juga oleh orang-orang kafir.

Sedangkan bukan pula pertanyaan tentang tempat, karena Allah tidak ada tempat baginya.

Sebenarnya saya merasa bahwa pertanyaan dari seorang saudara Muslim ini layak dijadikan sebuah materi kajian. Sebabnya adalah karena kalian tidak mendengarkan kajian-kajian semacam ini. Yang sering kalian dengarkan hanyalah kajian tentang politik dan ekonomi, sampai-sampai banyak di antara kalian merasa bosan karena sering diulang-ulang. Adapun kajian yang membahas inti akidah tauhid, seperti kajian yang akan kalian dengarkan sekarang ini, hampir tidak pernah kalian dengarkan.

Meskipun saya terpaksa harus meringkas pembahasan karena waktu untuk mengakhiri majelis telah tiba, tetap saja hal ini harus dijelaskan. Pertanyaan ini sebenarnya membutuhkan satu kajian tersendiri.

Namun secara ringkas kami katakan:

إِنَّ اللهَ مُنَزَّهٌ عَنِ الْمَكَانِ بِاتِّفَاقِ جَمِيعِ عُلَمَاءِ الْإِسْلَامِ

Sesungguhnya Allah Mahasuci dari keterikatan dengan tempat, ini berdasarkan kesepakatan seluruh ulama Islam.”

Mengapa demikian?

Karena Allah telah ada, sementara belum ada sesuatu pun bersama-Nya. Hal ini disebutkan dalam hadits yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhari dari Imran bin Hushain:

«كَانَ اللهُ وَلَا شَيْءَ مَعَهُ»

“Allah telah ada, dan belum ada sesuatu pun bersama-Nya.”

Tidak diragukan lagi bahwa tempat adalah sesuatu (makhluk), yakni sesuatu yang baru ada setelah sebelumnya tidak ada.

Apabila Rasulullah bersabda, “Allah telah ada, dan belum ada sesuatu pun bersama-Nya,” maka maknanya adalah Allah telah ada ketika belum ada tempat bagi-Nya, karena Dialah Yang Mahakaya dan tidak membutuhkan seluruh alam.

Inilah hakikat yang telah disepakati.

[Sumber: Durūs asy-Syaikh Al-Albānī, 3/3 – al-Maktabah asy-Syamilah]

Berdasarkan penjelasan Syaikh Nashiruddin al-Albani, dapat dipahami bahwa Allah Ta‘ala Mahasuci dari bertempat. Kesimpulan ini didasarkan pada dua landasan utama:

[1]. Allah Ta‘ala telah ada sebelum adanya seluruh makhluk. Pada saat itu tidak ada sesuatu pun yang menyertai-Nya, baik berupa tempat, ruang, arah, maupun seluruh entitas yang tergolong makhluk.

[2]. Tempat merupakan sesuatu yang bersifat makhluk (baru tercipta), yakni keberadaannya didahului oleh ketiadaan dan baru terwujud setelah Allah Ta‘ala menciptakannya. Dengan demikian, tempat tidak bersifat azali, melainkan bergantung sepenuhnya kepada kehendak Allah sebagai Penciptanya.

Oleh karena itu, berdasarkan kedua landasan tersebut, Syaikh Nashiruddin al-Albani berpendapat bahwa Allah Ta‘ala tidak bertempat. Sebab, tempat merupakan ciptaan yang baru diwujudkan setelah Allah menciptakannya, sedangkan Allah Ta‘ala telah ada sebelum adanya seluruh makhluk tanpa membutuhkan tempat sebagai tempat bersemayam atau keberadaan-Nya.

Dan Syaikh Nashiruddin Al Albani dalam Syarah wa Ta’liq al-Aqidah ath-Thohawiyah hal. 44 mengatakan:

اَلْمُشَبِّهَةُ إِنَّمَا زَلُّوا لِغُلُوِّهِمْ فِي إِثْبَاتِ الصِّفَاتِ، وَتَشْبِيهِ الْخَالِقِ بِالْمَخْلُوقِ، سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. وَالْحَقُّ بَيْنَ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ: إِثْبَاتٌ بِدُونِ تَشْبِيهٍ، وَتَنْزِيهٌ بِدُونِ تَعْطِيلٍ. وَمَا أَحْسَنَ مَا قِيلَ: «اَلْمُعَطِّلُ يَعْبُدُ عَدَمًا، وَالْمُجَسِّمُ يَعْبُدُ صَنَمًا».

Kaum Musyabbihah sesungguhnya tergelincir karena sikap berlebihan mereka dalam menetapkan sifat-sifat Allah, hingga mereka menyerupakan Sang Pencipta dengan makhluk-Nya. Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari segala penyerupaan.

Kebenaran berada di antara dua kelompok tersebut, yaitu menetapkan sifat-sifat Allah tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk, dan menyucikan Allah tanpa meniadakan sifat-sifat-Nya.

Dan Syeikh al-Albani juga berkata:

وَمَا أَحْسَنَ مَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللَّهُ، وَلَعَلَّهُ نَقَلَهُ عَنْ شَيْخِهِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ: «اَلْمُعَطِّلُ يَعْبُدُ عَدَمًا، وَالْمُجَسِّمُ يَعْبُدُ صَنَمًا». وَهَذِهِ حَقِيقَةٌ لَا يَسْتَطِيعُ أَحَدٌ أَنْ يُنْكِرَهَا.

Betapa indahnya ungkapan yang disampaikan oleh Ibnu al-Qayyim rahimahullah. Barangkali beliau menukilkannya dari gurunya, yaitu Ibnu Taimiyah:

"Kaum Mu‘aththilah menyembah ketiadaan, sedangkan kaum Mujassimah menyembah berhala."

Ini adalah suatu kenyataan yang tidak dapat diingkari oleh siapa pun. [Lihat: Mawsu’ah al-Albani Fii al-‘Aqidah 1/196]

===***===

PEMBAHASAN KE DUA:
PENJELASAN TENTANG MAKNA KATA “DI LANGIT”

Syaikh Al-Albani berkata:

مَعْنَى «فِي السَّمَاءِ»

إِذًا: مَا الْمَعْنَى الصَّحِيحُ لِلَفْظَةِ «فِي السَّمَاءِ»؟

السَّمَاءُ لَهَا مَعَانٍ فِي اللُّغَةِ، لَا نَتَفَلْسَفُ كَثِيرًا بِذِكْرِهَا، لَكِنْ مِنْ هَذِهِ الْمَعَانِي: السَّمَاءُ الدُّنْيَا الْأُولَى، وَالثَّانِيَةُ، وَإِلَى آخِرِهِ.

وَمِنْ هَذِهِ الْمَعَانِي: الْعُلُوُّ الْمُطْلَقُ، فَكُلُّ مَا عَلَاكَ فَهُوَ سَمَاءٌ.

فَالسَّمَاءُ الْأُولَى وَالثَّانِيَةُ هَذِهِ أَجْرَامٌ مَخْلُوقَةٌ، فَإِذَا قُلْنَا: «اللهُ فِي السَّمَاءِ»، مَعْنَاهُ حَصَرْنَاهُ فِي مَكَانٍ، وَقَدْ قُلْنَا: إِنَّهُ مُنَزَّهٌ عَنِ الْمَكَانِ.

إِذًا: كَيْفَ نَفْهَمُ؟

الْجَوَابُ مِنَ النَّاحِيَةِ الْعِلْمِيَّةِ: «فِي» فِي اللُّغَةِ ظَرْفِيَّةٌ، فَإِذَا أَبْقَيْنَاهَا عَلَى بَابِهَا، وَقُلْنَا: «اللهُ فِي السَّمَاءِ»، وَجَبَ تَفْسِيرُ السَّمَاءِ بِالْعُلُوِّ الْمُطْلَقِ، أَيْ: اللهُ فَوْقَ الْمَخْلُوقَاتِ كُلِّهَا حَيْثُ لَا مَكَانَ.

بِهَذِهِ الطَّرِيقَةِ آمَنَّا بِمَا وَصَفَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ نَفْسَهُ، بِدُونِ تَشْبِيهٍ وَبِدُونِ تَعْطِيلٍ.

فَإِنَّ التَّشْبِيهَ أَنْ أَقُولَ: كَمَا أَنَا فِي هَذَا الْمَكَانِ، وَحَاشَاهُ!

وَالتَّعْطِيلَ أَنْ نَقُولَ، كَمَا تَقُولُ الْمُعَطِّلَةُ: «اللهُ لَيْسَ فِي السَّمَاءِ».

وَإِذَا كَانَ رَبُّكَ يَقُولُ: ﴿أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ﴾ [الْمُلْكِ: ١٦]، وَأَنْتَ تَقُولُ: «لَيْسَ فِي السَّمَاءِ»، فَهَذَا هُوَ الْكُفْرُ.

Makna “di langit” ﴿فِي السَّمَاءِ﴾:

Lalu, apakah makna yang benar dari lafaz ﴿فِي السَّمَاءِ﴾ / (di langit)?

Kata ﴿السَّمَاءِ﴾ (langit) memiliki beberapa makna dalam bahasa Arab. Tidak perlu kita terlalu berpanjang-panjang menjelaskan semuanya.

Di antara maknanya adalah langit dunia (langit pertama), langit kedua, dan seterusnya.

Di antara maknanya juga adalah ketinggian yang mutlak. Setiap sesuatu yang berada di atasmu disebut sebagai ﴿السَّمَاءِ﴾ / (langit).

Adapun langit pertama, langit kedua, dan seterusnya adalah makhluk-makhluk ciptaan Allah.

Jika kita mengatakan, “Allah berada di langit,” lalu memaknainya sebagai berada di dalam salah satu langit tersebut, berarti kita telah membatasi Allah pada suatu tempat.

Padahal kita telah mengatakan :

إِنَّهُ مُنَزَّهٌ عَنِ الْمَكَانِ

Sesungguhnya Allah Mahasuci dari keterikatan dengan tempat.

Lalu bagaimana memahaminya?

Jawabannya, dari sisi bahasa, huruf “فِي berarti menunjukkan keterangan tempat (zharfiyyah). Jika kita mempertahankannya sesuai asal penggunaannya dan mengatakan “Allah berada di langit”, maka kata “langit” harus ditafsirkan dengan makna “ketinggian yang mutlak”, yaitu bahwa Allah berada di atas seluruh makhluk, di tempat yang tidak dapat disifati sebagai tempat bagi makhluk.

Dengan cara inilah kita beriman kepada sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk (tasybih) dan tanpa menolak atau meniadakan sifat-Nya (ta‘thil).

Sebab tasybih adalah apabila aku mengatakan, “Sebagaimana aku berada di tempat ini,” padahal Allah Mahasuci dari hal itu. Sedangkan ta‘thil adalah apabila kita mengatakan sebagaimana ucapan golongan Mu‘aththilah, “Allah tidak berada di langit.” Padahal Rabbmu berfirman:

﴿أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ﴾

“Apakah kamu merasa aman terhadap (Allah) yang di langit?” (QS. Al-Mulk: 16)

Sementara engkau mengatakan, “Dia tidak berada di langit.” Inilah yang merupakan kekufuran.

[Sumber: Durūs li asy-Syaikh Al-Albānī, 3/6].

Dalam Matan al-Aqidah ath-Thohawiyah hal. 45 no. 38, Imam Abu Ja'far Ath-Thohawi berkata:

وَتَعَالَى عَنِ الْحُدُودِ وَالْغَايَاتِ وَالْأَرْكَانِ وَالْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِ، لَا تَحْوِيهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ.

"Mahatinggi Allah dari segala batas, tujuan-tujuan akhir, pilar-pilar utama, anggota tubuh, dan perngkat-perangkat. Allah tidak diliputi oleh enam arah, sebagaimana seluruh makhluk yang diciptakan."

Catatan istilah-istilah diatas:

[*] الْحُدُودِ: batas-batas.

[*] الْغَايَاتِ: tujuan-tujuan akhir.

[*] الْأَرْكَانِ: pilar-pilar utama, bagian-bagian pokok atau unsur-unsur penyusun.

[*] الْأَعْضَاءِ: anggota-anggota tubuh.

[*] الْأَدَوَاتِ: alat-alat atau instrumen.

[*] الْجِهَاتُ السِّتُّ: enam arah, yaitu atas, bawah, kanan, kiri, depan, dan belakang.

[*] الْمُبْتَدَعَاتِ: makhluk-makhluk yang diciptakan (segala sesuatu yang diadakan setelah sebelumnya tidak ada).

Lalu Syaikh Nashiruddin Al Albani dalam Syarah dan Ta’liq nya hal. 45 menjelaskan ungkapan Imam Abu Ja'far Attahawiy tentang Allah tidak diliputi oleh arah yang enam:

(٦) قُلْتُ: مُرَادُ الْمُؤَلِّفِ رَحِمَهُ اللَّهُ بِهَذِهِ الْفِقْرَةِ الرَّدُّ عَلَى طَائِفَتَيْنِ:

الْأُولَى: الْمُجَسِّمَةُ وَالْمُشَبِّهَةُ الَّذِينَ يَصِفُونَ اللَّهَ بِأَنَّ لَهُ جِسْمًا وَجُثَّةً وَأَعْضَاءً وَغَيْرَ ذَلِكَ، تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يَقُولُونَ عُلُوًّا كَبِيرًا.

وَالْأُخْرَى: الْمُعَطِّلَةُ الَّذِينَ يَنْفُونَ عُلُوَّهُ تَعَالَى عَلَى خَلْقِهِ، وَأَنَّهُ بَائِنٌ مِنْ خَلْقِهِ. بَلْ يُصَرِّحُ بَعْضُهُمْ بِأَنَّهُ مَوْجُودٌ بِذَاتِهِ فِي كُلِّ الْوُجُودِ، وَهَذَا مَعْنَاهُ حُلُولُ اللَّهِ فِي مَخْلُوقَاتِهِ، وَأَنَّهُ مُحَاطٌ بِالْجِهَاتِ السِّتِّ الْمَخْلُوقَةِ، وَلَيْسَ فَوْقَهَا، فَنَفَى الْمُؤَلِّفُ ذَلِكَ بِهَذَا الْكَلَامِ. وَلَكِنْ قَدْ يَسْتَغِلُّ ذَلِكَ بَعْضُ الْمُبْتَدِعَةِ وَيَتَأَوَّلُونَهُ بِمَا قَدْ يُؤَدِّي إِلَى التَّعْطِيلِ.

(6) Aku (Syaikh al-Albani) berkata:

Maksud penulis (Imam ath-Thahawi) rahimahullah dengan paragraf ini adalah membantah dua golongan:

Golongan pertama: adalah kaum Mujassimah dan Musyabbihah, yaitu mereka yang menyifati Allah bahwa Dia memiliki jasad, tubuh, anggota badan, dan sifat-sifat semisalnya. Mahatinggi Allah dari apa yang mereka katakan dengan setinggi-tingginya.

Golongan kedua: adalah kaum Mu‘aththilah, yaitu mereka yang mengingkari ketinggian Allah di atas makhluk-Nya dan mengingkari bahwa Allah terpisah dari makhluk-Nya. Bahkan sebagian dari mereka secara terang-terangan menyatakan bahwa Allah hadir dengan Dzat-Nya di seluruh wujud. Konsekuensi dari keyakinan ini adalah anggapan bahwa Allah menyatu atau bertempat di dalam makhluk-makhluk-Nya, serta bahwa Dia dilingkupi oleh enam arah yang merupakan makhluk, dan bukan berada di atasnya. Oleh karena itu, penulis menafikan keyakinan tersebut melalui pernyataan ini.

Akan tetapi, sebagian ahli bid‘ah terkadang memanfaatkan pernyataan tersebut lalu menakwilkannya dengan penafsiran yang dapat mengantarkan kepada paham ta‘thil (peniadaan sifat-sifat Allah). [Selesai]

Kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut:

[1]. Penjelasan Syaikh Al-Albani dalam pembahasan ini menunjukkan bahwa beliau menetapkan prinsip “tanziih” yang sejalan dengan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, yaitu bahwa Allah Ta'ala ada tanpa membutuhkan atau menempati suatu tempat.

[2]. Berdasarkan penjelasan Syaikh Al-Albani, keyakinan yang menetapkan bahwa Allah Ta'ala berjisim merupakan bentuk penyimpangan akidah.

Menurut beliau, pemahaman semacam ini hakikatnya mengarah kepada penyembahan terhadap sesuatu yang dibayangkan sebagai benda atau tubuh, bukan kepada Allah Ta'ala Yang Mahasuci dari sifat-sifat makhluk. Oleh karena itu, apabila seluruh nash Al-Qur'an dan hadits dipahami dengan landasan tajsim, maka pemahaman yang dihasilkan tetap tidak sesuai dengan akidah Islam yang benar.

[3]. Uraian Syaikh Al-Albani menunjukkan bahwa beliau memahami konsep jisim beserta konsekuensi teologisnya.

Atas dasar itu, beliau menafsirkan pernyataan Al-Imam Abu Ja'far Ath-Thahawi, "Allah tidak diliputi oleh enam arah sebagaimana seluruh makhluk," sebagai bantahan terhadap paham mujassimah dan musyabbihah yang menetapkan sifat-sifat jasmani bagi Allah Ta'ala.

[4]. Pernyataan Syaikh Al-Albani dalam pembahasan ini menunjukkan adanya perbedaan dengan sebagian pandangan yang dinisbatkan kepada sejumlah tokoh tertentu dalam persoalan sifat-sifat Allah, khususnya terkait pembahasan arah, tempat, dan tajsim. Perbedaan tersebut tampak dari cara masing-masing memahami dan menjelaskan nash-nash sifat.

 

Posting Komentar

0 Komentar