Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

PENJELASAN SYEIKH AL-ALBANI: “ALLAH ﷻ TIADA TEMPAT BAGINYA”

 PENJELASAN SYEIKH AL-ALBANI TENTANG: 

“ALLAH TIADA TEMPAT BAGINYA”

---

Syeikh al-Albani berkata:

«اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ لَهُ مَكَانٌ»

 “Allah tiada tempat baginya”

====

Di Susun Oleh Fakhri

KAJIAN NIDA AL-ISLAM

 ----

====

DAFTAR ISI:

  • PENDAHULUAN
  • PEMBAHASAN PERTAMA: PENJELASAN TENTANG HADITS JARIYAH: “DI MANAKAH ALLAH?”
  • PEMBAHASAN KE DUA: PENJELASAN TENTANG MAKNA KATA “DI LANGIT”
  • PENGGABUNGAN FIRMAN "ALLAH DI ATAS ARASY" DAN FIRMAN "ALLAH DI ATAS SELURUH MAKHLUKNYA".
  • TAFSIR TENTANG RUANG DAN TEMPAT BAGI ALLAH, MENURUT SYEIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH

 ****

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

===***===

PENDAHULUAN

Di pendahuluan ini, saya kutip terlebih dahulu beberapa point perkataan Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani yang terdapat dalam dua pembahasan dalam artikel ini:

[1]

Syeikh al-Albani berkata :

«اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ لَهُ مَكَانٌ»

“Allah tiada tempat baginya”.

[2]

Dan beliau juga berkata:

«إِنَّ اللهَ مُنَزَّهٌ عَنِ الْمَكَانِ بِاتِّفَاقِ جَمِيعِ عُلَمَاءِ الْإِسْلَامِ»

“Sesungguhnya Allah Mahasuci dari keterikatan dengan tempat.

Ini adalah berdasarkan kesepakatan seluruh ulama Islam”.

[3]

Dan beliau juga berkata:

«كَانَ اللهُ وَلَا مَكَانَ لَهُ؛ لِأَنَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ عَنِ الْعَالَمِينَ. هَذِهِ الْحَقِيقَةُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهَا».

“Allah telah ada, dan tiada tempat bagi-Nya, karena Dia Mahakaya dan tidak membutuhkan seluruh alam.

Hakikat ini telah disepakati oleh para ulama”.

[4]

Dan beliau juga berkata:

«قُلْنَا: ﴿اللهُ فِي السَّمَاءِ﴾، وَجَبَ تَفْسِيرُ السَّمَاءِ بِالْعُلُوِّ الْمُطْلَقِ، فَكُلُّ مَا عَلَاكَ فَهُوَ سَمَاءٌ.

أَيْ: اللهُ فَوْقَ الْمَخْلُوقَاتِ كُلِّهَا حَيْثُ لَا مَكَانَ».

“Apabila kita mengatakan, ‘Allah di langit’, maka langit wajib dimaknai sebagai ketinggian yang mutlak. Sebab, segala sesuatu yang berada di atasmu disebut langit.

Artinya, Allah berada di atas seluruh makhluk, dimana saja, tanpa dibatasi tempat”.

===***===

PEMBAHASAN PERTAMA:
PENJELASAN TENTANG HADITS JARIYAH: “DI MANAKAH ALLAH?”

 Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani pernah mendapatkan pertanyaan mengenai hadits al-jāriyah (hadits budak perempuan), khususnya berkaitan dengan sabda Nabi yang berbunyi: «أَيْنَ اللَّهُ؟» (Di manakah Allah?).

Penanya ingin mengetahui apakah lafaz «أَيْنَ» (di mana) dalam hadits tersebut dipahami sebagai pertanyaan tentang tempat bagi Allah Ta'ala ataukah sebagai pertanyaan yang berkaitan dengan kedudukan dan keagungan-Nya?.

Berikut ini kutipan text tanya jawab dengan Syeikh al-Albani:

تَوْجِيهُ حَدِيثِ الْجَارِيَةِ: «أَيْنَ اللهُ؟»

‌‌السُّؤَالُ :

حَدِيثُ الْجَارِيَةِ: «أَيْنَ اللهُ؟» قَالَتْ: «فِي السَّمَاءِ». هَلْ هُوَ جَوَابٌ عَنْ فَرْضِيَّةِ مَكَانٍ أَوْ فَرْضِيَّةِ مَكَانَةٍ؟

‌‌الْجَوَابُ:

لَيْسَ هَذَا وَلَا هَذَا، أَيْ: إِنَّ الْجَوَابَ لَيْسَ عَنْ سُؤَالِ مَكَانَةٍ، وَلَا عَنْ مَكَانٍ.

أَمَّا أَنَّهُ لَيْسَ سُؤَالًا عَنِ الْمَكَانَةِ؛ فَلِأَنَّ مَكَانَةَ اللهِ الْمَعْنَوِيَّةَ مَعْرُوفَةٌ لَدَى كُلِّ الْمُسْلِمِينَ، بَلْ حَتَّى الْكَافِرِينَ.

وَأَمَّا أَنَّهُ لَيْسَ سُؤَالًا عَنِ الْمَكَانِ، فَذَلِكَ؛ لِأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ لَهُ مَكَانٌ.

وَفِي الْوَاقِعِ أَنَا أَشْعُرُ أَنَّ هَذَا السُّؤَالَ مِنْ أَخٍ مُسْلِمٍ يُعْتَبَرُ مُحَاضَرَةً، وَالسَّبَبُ أَنَّكُمْ لَا تَسْمَعُونَ هَذِهِ الْمُحَاضَرَاتِ، وَإِنَّمَا تَسْمَعُونَ مُحَاضَرَاتٍ فِي السِّيَاسَةِ وَالِاقْتِصَادِ، لِدَرَجَةٍ أَنَّ كَثِيرًا مِنْكُمْ مَلَّ مِنْ تَكْرَارِهَا، أَمَّا مُحَاضَرَاتٌ فِي صَمِيمِ التَّوْحِيدِ، كَالْمُحَاضَرَةِ الَّتِي سَتَسْمَعُونَهَا الْآنَ، مَعَ أَنِّي مُضْطَرٌّ إِلَى أَنْ أَخْتَصِرَ فِي الْكَلَامِ؛ لِأَنَّهُ حَانَ وَقْتُ الِانْصِرَافِ، لَكِنْ لَا بُدَّ مِمَّا لَا بُدَّ مِنْهُ.

فَهَذَا السُّؤَالُ يَحْتَاجُ إِلَى مُحَاضَرَةٍ، لَكِنْ نَقُولُ: إِنَّ اللهَ مُنَزَّهٌ عَنِ الْمَكَانِ بِاتِّفَاقِ جَمِيعِ عُلَمَاءِ الْإِسْلَامِ.

لِمَاذَا؟ لِأَنَّ اللهَ كَانَ وَلَا شَيْءَ مَعَهُ، وَهَذَا مَعْرُوفٌ فِي الْحَدِيثِ الَّذِي فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ: «كَانَ اللهُ وَلَا شَيْءَ مَعَهُ».

وَلَا شَكَّ أَنَّ الْمَكَانَ هُوَ شَيْءٌ، أَيْ: هُوَ شَيْءٌ وُجِدَ بَعْدَ أَنْ لَمْ يَكُنْ.

وَإِذَا قَالَ الرَّسُولُ ﷺ: «كَانَ اللهُ وَلَا شَيْءَ مَعَهُ»، مَعْنَاهُ: كَانَ وَلَا مَكَانَ لَهُ؛ لِأَنَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ عَنِ الْعَالَمِينَ.

هَذِهِ الْحَقِيقَةُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهَا.

دُرُوسُ الشَّيْخِ الْأَلْبَانِيِّ، ٣/٣.

PENJELASAN TENTANG HADITS JARIYAH: “DI MANAKAH ALLAH?”

Pertanyaan:

Dalam hadits jariyah disebutkan: “Di manakah Allah?” Ia menjawab, “Di langit.”

Apakah jawaban ini merupakan jawaban atas anggapan tentang tempat, ataukah tentang kedudukan?

Jawaban:

Bukan ini dan bukan pula itu. Maksudnya, jawaban tersebut bukanlah jawaban atas pertanyaan mengenai kedudukan, dan juga bukan mengenai tempat.

Adapun bukan pertanyaan tentang kedudukan, karena kedudukan Allah yang bersifat maknawi sudah diketahui oleh seluruh kaum Muslimin, bahkan juga oleh orang-orang kafir.

Sedangkan bukan pula pertanyaan tentang tempat, karena Allah tidak ada tempat baginya.

Sebenarnya saya merasa bahwa pertanyaan dari seorang saudara Muslim ini layak dijadikan sebuah materi kajian. Sebabnya adalah karena kalian tidak mendengarkan kajian-kajian semacam ini. Yang sering kalian dengarkan hanyalah kajian tentang politik dan ekonomi, sampai-sampai banyak di antara kalian merasa bosan karena sering diulang-ulang. Adapun kajian yang membahas inti akidah tauhid, seperti kajian yang akan kalian dengarkan sekarang ini, hampir tidak pernah kalian dengarkan.

Meskipun saya terpaksa harus meringkas pembahasan karena waktu untuk mengakhiri majelis telah tiba, tetap saja hal ini harus dijelaskan. Pertanyaan ini sebenarnya membutuhkan satu kajian tersendiri.

Namun secara ringkas kami katakan:

إِنَّ اللهَ مُنَزَّهٌ عَنِ الْمَكَانِ بِاتِّفَاقِ جَمِيعِ عُلَمَاءِ الْإِسْلَامِ

Sesungguhnya Allah Mahasuci dari keterikatan dengan tempat, ini berdasarkan kesepakatan seluruh ulama Islam.”

Mengapa demikian?

Karena Allah telah ada, sementara belum ada sesuatu pun bersama-Nya. Hal ini disebutkan dalam hadits yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhari dari Imran bin Hushain:

«كَانَ اللهُ وَلَا شَيْءَ مَعَهُ»

“Allah telah ada, dan belum ada sesuatu pun bersama-Nya.”

Tidak diragukan lagi bahwa tempat adalah sesuatu (makhluk), yakni sesuatu yang baru ada setelah sebelumnya tidak ada.

Apabila Rasulullah bersabda, “Allah telah ada, dan belum ada sesuatu pun bersama-Nya,” maka maknanya adalah Allah telah ada ketika belum ada tempat bagi-Nya, karena Dialah Yang Mahakaya dan tidak membutuhkan seluruh alam.

Inilah hakikat yang telah disepakati.

[Sumber: Durūs asy-Syaikh Al-Albānī, 3/3 – al-Maktabah asy-Syamilah]

Berdasarkan penjelasan Syaikh Nashiruddin al-Albani, dapat dipahami bahwa Allah Ta‘ala Mahasuci dari bertempat.

Kesimpulan ini didasarkan pada dua landasan utama:

[1]. Allah Ta‘ala telah ada sebelum adanya seluruh makhluk. Pada saat itu tidak ada sesuatu pun yang menyertai-Nya, baik berupa tempat, ruang, arah, maupun seluruh entitas yang tergolong makhluk.

[2]. Tempat merupakan sesuatu yang bersifat makhluk (baru tercipta), yakni keberadaannya didahului oleh ketiadaan dan baru terwujud setelah Allah Ta‘ala menciptakannya. Dengan demikian, tempat tidak bersifat azali, melainkan bergantung sepenuhnya kepada kehendak Allah sebagai Penciptanya.

Oleh karena itu, berdasarkan kedua landasan tersebut, Syaikh Nashiruddin al-Albani berpendapat bahwa Allah Ta‘ala tidak bertempat. Sebab, tempat merupakan ciptaan yang baru diwujudkan setelah Allah menciptakannya, sedangkan Allah Ta‘ala telah ada sebelum adanya seluruh makhluk tanpa membutuhkan tempat sebagai tempat bersemayam atau keberadaan-Nya.

Dan Syaikh Nashiruddin Al Albani dalam Syarah wa Ta’liq al-Aqidah ath-Thohawiyah hal. 44 mengatakan:

اَلْمُشَبِّهَةُ إِنَّمَا زَلُّوا لِغُلُوِّهِمْ فِي إِثْبَاتِ الصِّفَاتِ، وَتَشْبِيهِ الْخَالِقِ بِالْمَخْلُوقِ، سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. وَالْحَقُّ بَيْنَ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ: إِثْبَاتٌ بِدُونِ تَشْبِيهٍ، وَتَنْزِيهٌ بِدُونِ تَعْطِيلٍ. وَمَا أَحْسَنَ مَا قِيلَ: «اَلْمُعَطِّلُ يَعْبُدُ عَدَمًا، وَالْمُجَسِّمُ يَعْبُدُ صَنَمًا».

Kaum Musyabbihah sesungguhnya tergelincir karena sikap berlebihan mereka dalam menetapkan sifat-sifat Allah, hingga mereka menyerupakan Sang Pencipta dengan makhluk-Nya. Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari segala penyerupaan.

Kebenaran berada di antara dua kelompok tersebut, yaitu menetapkan sifat-sifat Allah tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk, dan menyucikan Allah tanpa meniadakan sifat-sifat-Nya.

Dan Syeikh al-Albani juga berkata:

وَمَا أَحْسَنَ مَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللَّهُ، وَلَعَلَّهُ نَقَلَهُ عَنْ شَيْخِهِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ: «اَلْمُعَطِّلُ يَعْبُدُ عَدَمًا، وَالْمُجَسِّمُ يَعْبُدُ صَنَمًا». وَهَذِهِ حَقِيقَةٌ لَا يَسْتَطِيعُ أَحَدٌ أَنْ يُنْكِرَهَا.

Betapa indahnya ungkapan yang disampaikan oleh Ibnu al-Qayyim rahimahullah. Barangkali beliau menukilkannya dari gurunya, yaitu Ibnu Taimiyah:

"Kaum Mu‘aththilah menyembah ketiadaan, sedangkan kaum Mujassimah menyembah berhala."

Ini adalah suatu kenyataan yang tidak dapat diingkari oleh siapa pun. [Lihat: Mawsu’ah al-Albani Fii al-‘Aqidah 1/196]

===***===

PEMBAHASAN KE DUA:
PENJELASAN TENTANG MAKNA KATA “DI LANGIT”

Syaikh Al-Albani berkata:

مَعْنَى «فِي السَّمَاءِ»

إِذًا: مَا الْمَعْنَى الصَّحِيحُ لِلَفْظَةِ «فِي السَّمَاءِ»؟

السَّمَاءُ لَهَا مَعَانٍ فِي اللُّغَةِ، لَا نَتَفَلْسَفُ كَثِيرًا بِذِكْرِهَا، لَكِنْ مِنْ هَذِهِ الْمَعَانِي: السَّمَاءُ الدُّنْيَا الْأُولَى، وَالثَّانِيَةُ، وَإِلَى آخِرِهِ.

وَمِنْ هَذِهِ الْمَعَانِي: الْعُلُوُّ الْمُطْلَقُ، فَكُلُّ مَا عَلَاكَ فَهُوَ سَمَاءٌ.

فَالسَّمَاءُ الْأُولَى وَالثَّانِيَةُ هَذِهِ أَجْرَامٌ مَخْلُوقَةٌ، فَإِذَا قُلْنَا: «اللهُ فِي السَّمَاءِ»، مَعْنَاهُ حَصَرْنَاهُ فِي مَكَانٍ، وَقَدْ قُلْنَا: إِنَّهُ مُنَزَّهٌ عَنِ الْمَكَانِ.

إِذًا: كَيْفَ نَفْهَمُ؟

الْجَوَابُ مِنَ النَّاحِيَةِ الْعِلْمِيَّةِ: «فِي» فِي اللُّغَةِ ظَرْفِيَّةٌ، فَإِذَا أَبْقَيْنَاهَا عَلَى بَابِهَا، وَقُلْنَا: «اللهُ فِي السَّمَاءِ»، وَجَبَ تَفْسِيرُ السَّمَاءِ بِالْعُلُوِّ الْمُطْلَقِ، أَيْ: اللهُ فَوْقَ الْمَخْلُوقَاتِ كُلِّهَا حَيْثُ لَا مَكَانَ.

بِهَذِهِ الطَّرِيقَةِ آمَنَّا بِمَا وَصَفَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ نَفْسَهُ، بِدُونِ تَشْبِيهٍ وَبِدُونِ تَعْطِيلٍ.

فَإِنَّ التَّشْبِيهَ أَنْ أَقُولَ: كَمَا أَنَا فِي هَذَا الْمَكَانِ، وَحَاشَاهُ!

وَالتَّعْطِيلَ أَنْ نَقُولَ، كَمَا تَقُولُ الْمُعَطِّلَةُ: «اللهُ لَيْسَ فِي السَّمَاءِ».

وَإِذَا كَانَ رَبُّكَ يَقُولُ: ﴿أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ﴾ [الْمُلْكِ: ١٦]، وَأَنْتَ تَقُولُ: «لَيْسَ فِي السَّمَاءِ»، فَهَذَا هُوَ الْكُفْرُ.

Makna “di langit” ﴿فِي السَّمَاءِ﴾:

Lalu, apakah makna yang benar dari lafaz ﴿فِي السَّمَاءِ﴾ / (di langit)?

Kata ﴿السَّمَاءِ﴾ (langit) memiliki beberapa makna dalam bahasa Arab. Tidak perlu kita terlalu berpanjang-panjang menjelaskan semuanya.

Di antara maknanya adalah langit dunia (langit pertama), langit kedua, dan seterusnya.

Di antara maknanya juga adalah ketinggian yang mutlak. Setiap sesuatu yang berada di atasmu disebut sebagai ﴿السَّمَاءِ﴾ / (langit).

Adapun langit pertama, langit kedua, dan seterusnya adalah makhluk-makhluk ciptaan Allah.

Jika kita mengatakan, “Allah berada di langit,” lalu memaknainya sebagai berada di dalam salah satu langit tersebut, berarti kita telah membatasi Allah pada suatu tempat.

Padahal kita telah mengatakan :

إِنَّهُ مُنَزَّهٌ عَنِ الْمَكَانِ

Sesungguhnya Allah Mahasuci dari keterikatan dengan tempat.

Lalu bagaimana memahaminya?

Jawabannya, dari sisi bahasa, huruf “فِي berarti menunjukkan keterangan tempat (dzorfiyyah). Jika kita mempertahankannya sesuai asal penggunaannya dan mengatakan “Allah berada di langit”, maka kata “langit” harus ditafsirkan dengan makna “ketinggian yang mutlak”, yaitu bahwa Allah berada di atas seluruh makhluk, di tempat yang tidak dapat disifati sebagai tempat bagi makhluk.

Dengan cara inilah kita beriman kepada sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk (tasybih) dan tanpa menolak atau meniadakan sifat-Nya (ta‘thil).

Sebab tasybih adalah apabila aku mengatakan, “Sebagaimana aku berada di tempat ini,” padahal Allah Mahasuci dari hal itu. Sedangkan ta‘thil adalah apabila kita mengatakan sebagaimana ucapan golongan Mu‘aththilah, “Allah tidak berada di langit.” Padahal Rabbmu berfirman:

﴿أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ﴾

“Apakah kamu merasa aman terhadap (Allah) yang di langit?” (QS. Al-Mulk: 16)

Sementara engkau mengatakan, “Dia tidak berada di langit.” Inilah yang merupakan kekufuran.

[Sumber: Durūs li asy-Syaikh Al-Albānī, 3/6].

Dalam Matan al-Aqidah ath-Thohawiyah hal. 45 no. 38, Imam Abu Ja'far Ath-Thohawi berkata:

وَتَعَالَى عَنِ الْحُدُودِ وَالْغَايَاتِ وَالْأَرْكَانِ وَالْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِ، لَا تَحْوِيهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ.

"Mahatinggi Allah dari: batas-batas, tujuan-tujuan akhir, pilar-pilar utama, anggota tubuh, dan perangkat-perangkat. 

Allah tidak diliputi oleh enam arah, sebagaimana seluruh makhluk yang diciptakan."

Catatan istilah-istilah diatas:

[*] الْحُدُودِ: batas-batas.

[*] الْغَايَاتِ: tujuan-tujuan akhir.

[*] الْأَرْكَانِ: pilar-pilar utama, bagian-bagian pokok atau unsur-unsur penyusun.

[*] الْأَعْضَاءِ: anggota-anggota tubuh.

[*] الْأَدَوَاتِ: alat-alat atau instrumen.

[*] الْجِهَاتُ السِّتُّ: enam arah, yaitu atas, bawah, kanan, kiri, depan, dan belakang.

[*] الْمُبْتَدَعَاتِ: makhluk-makhluk yang diciptakan (segala sesuatu yang diadakan setelah sebelumnya tidak ada).

Lalu Syaikh Nashiruddin Al Albani dalam Syarah dan Ta’liq nya hal. 45 menjelaskan ungkapan Imam Abu Ja'far Aththohawi tentang Allah tidak diliputi oleh arah yang enam:

(٦) قُلْتُ: مُرَادُ الْمُؤَلِّفِ رَحِمَهُ اللَّهُ بِهَذِهِ الْفِقْرَةِ الرَّدُّ عَلَى طَائِفَتَيْنِ:

الْأُولَى: الْمُجَسِّمَةُ وَالْمُشَبِّهَةُ الَّذِينَ يَصِفُونَ اللَّهَ بِأَنَّ لَهُ جِسْمًا وَجُثَّةً وَأَعْضَاءً وَغَيْرَ ذَلِكَ، تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يَقُولُونَ عُلُوًّا كَبِيرًا.

وَالْأُخْرَى: الْمُعَطِّلَةُ الَّذِينَ يَنْفُونَ عُلُوَّهُ تَعَالَى عَلَى خَلْقِهِ، وَأَنَّهُ بَائِنٌ مِنْ خَلْقِهِ. بَلْ يُصَرِّحُ بَعْضُهُمْ بِأَنَّهُ مَوْجُودٌ بِذَاتِهِ فِي كُلِّ الْوُجُودِ، وَهَذَا مَعْنَاهُ حُلُولُ اللَّهِ فِي مَخْلُوقَاتِهِ، وَأَنَّهُ مُحَاطٌ بِالْجِهَاتِ السِّتِّ الْمَخْلُوقَةِ، وَلَيْسَ فَوْقَهَا، فَنَفَى الْمُؤَلِّفُ ذَلِكَ بِهَذَا الْكَلَامِ. وَلَكِنْ قَدْ يَسْتَغِلُّ ذَلِكَ بَعْضُ الْمُبْتَدِعَةِ وَيَتَأَوَّلُونَهُ بِمَا قَدْ يُؤَدِّي إِلَى التَّعْطِيلِ.

(6) Aku (Syaikh al-Albani) berkata:

Maksud penulis (Imam ath-Thahawi) rahimahullah dengan paragraf ini adalah membantah dua golongan:

Golongan pertama: adalah kaum Mujassimah dan Musyabbihah, yaitu mereka yang menyifati Allah bahwa Dia memiliki jasad, tubuh, anggota badan, dan sifat-sifat semisalnya. Mahatinggi Allah dari apa yang mereka katakan dengan setinggi-tingginya.

Golongan kedua: adalah kaum Mu‘aththilah, yaitu mereka yang mengingkari ketinggian Allah di atas makhluk-Nya dan mengingkari bahwa Allah terpisah dari makhluk-Nya. Bahkan sebagian dari mereka secara terang-terangan menyatakan bahwa Allah hadir dengan Dzat-Nya dalam setiap wujud (makhluk).

Konsekuensi dari keyakinan ini adalah anggapan bahwa Allah menyatu atau bertempat di dalam makhluk-makhluk-Nya, serta bahwa Dia dilingkupi oleh enam arah yang merupakan makhluk, dan bukan berada di atasnya. Oleh karena itu, penulis menafikan keyakinan tersebut melalui pernyataan ini.

Akan tetapi, sebagian ahli bid‘ah terkadang memanfaatkan pernyataan tersebut lalu menakwilkannya dengan penafsiran yang dapat mengantarkan kepada paham ta‘thil (peniadaan sifat-sifat Allah). [Selesai]

Kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut:

[1]. Penjelasan Syaikh Al-Albani dalam pembahasan ini menunjukkan bahwa beliau menetapkan prinsip “tanziih” yang sejalan dengan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, yaitu bahwa Allah Ta'ala ada tanpa membutuhkan atau menempati suatu tempat.

[2]. Berdasarkan penjelasan Syaikh Al-Albani, keyakinan yang menetapkan bahwa Allah Ta'ala berjisim merupakan bentuk penyimpangan akidah.

Menurut beliau, pemahaman semacam ini hakikatnya mengarah kepada penyembahan terhadap sesuatu yang dibayangkan sebagai benda atau tubuh, bukan kepada Allah Ta'ala Yang Mahasuci dari sifat-sifat makhluk. Oleh karena itu, apabila seluruh nash Al-Qur'an dan hadits dipahami dengan landasan tajsim, maka pemahaman yang dihasilkan tetap tidak sesuai dengan akidah Islam yang benar.

[3]. Uraian Syaikh Al-Albani menunjukkan bahwa beliau memahami konsep jisim beserta konsekuensi teologisnya.

Atas dasar itu, beliau menafsirkan pernyataan Al-Imam Abu Ja'far Ath-Thahawi, "Allah tidak diliputi oleh enam arah sebagaimana seluruh makhluk," sebagai bantahan terhadap paham mujassimah dan musyabbihah yang menetapkan sifat-sifat jasmani bagi Allah Ta'ala.

[4]. Pernyataan Syaikh Al-Albani dalam pembahasan ini menunjukkan adanya perbedaan dengan sebagian pandangan yang dinisbatkan kepada sejumlah tokoh tertentu dalam persoalan sifat-sifat Allah, khususnya terkait pembahasan arah, tempat, dan tajsim. Perbedaan tersebut tampak dari cara masing-masing memahami dan menjelaskan nash-nash sifat.

[5] Bumi yang kita tempati adalah salah satu planet yang beredar di langit pula. 

Jika seandainya di planet Mars ada penghuninya, maka mereka juga akan berkata: "Planet Bumi itu tinggi diatas langit". 

====

PENGGABUNGAN FIRMAN : "ALLAH DI ATAS ARASY" 
DAN FIRMAN: "ALLAH DI ATAS SELURUH MAKHLUKNYA". 

Adapun tentang Allah di atas Arasya, maka Syeikh al-Albani dalam Bawwaabah Showtiyyaat, berkata:

فَاللَّهُ - تَبَارَكَ وَتَعَالَى - حِينَمَا وَصَفَ نَفْسَهُ بِـ: ﴿الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى﴾، فَنَحْنُ نَقُولُ: ﴿الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى﴾، هَذَا تَعْبِيرُنَا، وَنُفَسِّرُ «اسْتَوَى» بِمَعْنَى «اسْتَعْلَى»؛ لِأَنَّهُ هُوَ التَّفْسِيرُ اللُّغَوِيُّ الْمَعْرُوفُ أَوَّلًا، ثُمَّ هُوَ الْمَنْقُولُ عَنِ السَّلَفِ ثَانِيًا.

كَذَلِكَ لَفْظَةُ: إِنَّ اللَّهَ - عَزَّ وَجَلَّ - فَوْقَ الْعَالَمِ، فَوْقَ الْمَخْلُوقَاتِ؛ أَيْضًا هَذَا وَرَدَ فِي الْقُرْآنِ، فِي مِثْلِ قَوْلِهِ - تَبَارَكَ وَتَعَالَى -: *﴿يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ﴾*؛ فَلَا نَقُولُ: لِلَّهِ جِهَةُ الْفَوْقِيَّةِ؛ لِأَنَّ هَذِهِ الْجِهَةَ أَوَّلًا لَمْ تَرِدْ، 

وَلَا نَقُولُ - فَهْمًا مِنَّا وَاسْتِلْزَامًا مِنْ آيَةِ: *﴿الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى﴾* - إِنَّ اللَّهَ لَهُ مَكَانٌ، وَأَيْنَمَا كَانَ فَهُوَ عَلَى الْعَرْشِ، لَا نَقُولُ لَا هَذَا وَلَا هَذَا.

Allah ketika menyifati diri-Nya dengan firman-Nya: “Ar-Rahman bersemayam di atas ‘Arsy.” maka kita pun mengatakan: “Ar-Rahman bersemayam di atas ‘Arsy.”

Itulah ungkapan yang kita gunakan. Dan kita menafsirkan kata “istawā” dengan makna “ista‘lā (tinggi/berada di atas)”, karena itulah penafsiran bahasa Arab yang telah dikenal, pertama; kemudian itulah pula penafsiran yang dinukil dari para salaf, kedua.

Demikian pula ungkapan bahwa Allah berada di atas alam semesta, di atas seluruh makhluk. Hal ini juga terdapat dalam Al-Qur'an, seperti firman Allah :

﴿يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ﴾

“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berada di atas mereka.”

Karena itu, kita tidak boleh menetapkan bagi Allah “arah atas (لِلَّهِ جِهَةُ الْفَوْقِيَّةِ)”, sebab istilah “arah” tersebut pada asalnya tidak pernah disebutkan dalam nash.

Dan kita juga tidak boleh mengatakan -sebagai konsekuensi dari pemahaman kita terhadap firman Allah, *Ar-Rahman tinggi di atas ‘Arsy”*- bahwa Allah memiliki tempat, sehingga di mana pun tempat itu, Dia berada di atas ‘Arsy.

Kita tidak mengatakan yang ini dan tidak pula yang itu”. (Selesai)

Berarti menurut beliau tidak ada bedanya antara ungkapan "Allah di atas Arasy" dengan ungkapan "Allah di atas kita" atau "Allah diatas mereka". Yakni; sama-sama boleh diucapkan dan dibenarkan, selama tidak bermaksud untuk menetapkan arah dan tempat. Wallahu a'lam.

Allah SWT berfirman:

﴿وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ﴾

Dan Dia yang Maha Kuasa, diatas hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui”. [QS. Al-Anam: 18]

Sumber:

[بَوَّابَةُ تُرَاثِ الْإِمَامِ الْأَلْبَانِي/ صَوْتِيَّاتُ وَتَفْرِيغَاتُ الْإِمَامِ الْأَلْبَانِي/ نَوَادِرُ بَوَّابَةِ تُرَاثِ الْإِمَامِ الْأَلْبَانِي/ هَلْ يُوصَفُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ فِي جِهَةٍ أَوْ فِي مَكَانٍ؟]

===***===

TAFSIR TENTANG RUANG DAN TEMPAT BAGI ALLAH
MENURUT SYEIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH

DR. Walid Abu Milhah dalam (X@wabumelha) berkata:

(تَفْسِيرُ الْمَكَانِ وَالزَّمَانِ عِنْدَ ابْنِ تَيْمِيَّةَ):

رُبَّمَا كَانَ الْاِنْطِبَاعُ السَّائِدُ لَدَى الْأَغْلَبِيَّةِ أَنَّ شَيْخَ الْإِسْلَامِ ابْنَ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى فَقِيهٌ وَمُحَدِّثٌ وَمُجْتَهِدٌ فِي مَسَائِلِ الْفِقْهِ وَالْعَقِيدَةِ لَا يُشَقُّ لَهُ غُبَارٌ، وَلَكِنَّهُ كَانَ أَعْظَمَ فَيْلَسُوفٍ - إِنْ جَازَ لَنَا هَذَا الْوَصْفُ - عَرَفَتْهُ الْأُمَّةُ الْإِسْلَامِيَّةُ.

يَرَى ابْنُ تَيْمِيَّةَ أَنَّ الزَّمَانَ لَيْسَ جَوْهَرًا قَائِمًا بِنَفْسِهِ، بَلْ هُوَ تَابِعٌ لِلْحَرَكَةِ وَالتَّغَيُّرِ، وَهُوَ مِقْيَاسُهُمَا، فَلَا يُتَصَوَّرُ وُجُودُ زَمَانٍ دُونَ حَرَكَةٍ، وَلَا حَرَكَةَ دُونَ زَمَانٍ.

وَيُقَرِّرُ أَنَّ الزَّمَانَ مَخْلُوقٌ مُرْتَبِطٌ بِالْمَخْلُوقَاتِ، وَأَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى خَالِقُ الزَّمَانِ وَغَيْرُ دَاخِلٍ فِيهِ، فَهُوَ قَبْلَ كُلِّ شَيْءٍ.

وَقَدْ قَالَ فِي «الْفَتَاوَى الْكُبْرَى»:

«فَاللَّهُ تَعَالَى لَمْ يَزَلْ مُتَكَلِّمًا فَعَّالًا، وَلَمْ يَزَلِ الْخَلْقُ مَعَهُ مَخْلُوقًا بَعْدَ مَخْلُوقٍ، وَالزَّمَانُ تَابِعٌ لِلْحَرَكَةِ، فَكُلُّ مَا كَانَ حَادِثًا فَزَمَانُهُ حَادِثٌ، وَأَمَّا اللَّهُ سُبْحَانَهُ فَلَا يَجْرِي عَلَيْهِ زَمَانٌ وَلَا مَكَانٌ».

وَمِنْ هُنَا يَتَّضِحُ أَنَّ الزَّمَانَ عِنْدَ ابْنِ تَيْمِيَّةَ لَيْسَ وُجُودًا مُطْلَقًا أَوْ أَزَلِيًّا، بَلْ هُوَ مَخْلُوقٌ يَبْدَأُ بِبَدْءِ الْخَلْقِ، وَيَنْتَهِي بِانْتِهَاءِ الْمَخْلُوقَاتِ، وَهُوَ تَعْبِيرٌ عَنِ التَّغَيُّرِ الْمُسْتَمِرِّ فِي الْعَالَمِ.

ثَانِيًا: الْمَكَانُ عِنْدَ ابْنِ تَيْمِيَّةَ:

أَمَّا الْمَكَانُ، فَيَعُدُّهُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ صِفَةً نِسْبِيَّةً لَا جَوْهَرًا مُسْتَقِلًّا، فَلَا يُتَصَوَّرُ إِلَّا بِنِسْبَةِ شَيْءٍ إِلَى شَيْءٍ، فَهُوَ ظَرْفُ وُجُودِ الْمَخْلُوقَاتِ.

وَيَرْفُضُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ الْقَوْلَ بِأَنَّ الْمَكَانَ أَوِ الْجِهَةَ لَا وُجُودَ لَهُمَا، لِأَنَّ النُّصُوصَ الشَّرْعِيَّةَ وَالْعَقْلَ الْفِطْرِيَّ يَدُلَّانِ عَلَى أَنَّ اللَّهَ فَوْقَ خَلْقِهِ، مُسْتَوٍ عَلَى عَرْشِهِ، بَائِنٌ عَنْ مَخْلُوقَاتِهِ، دُونَ أَنْ يَعْنِيَ ذَلِكَ أَنَّهُ مَحْصُورٌ فِي مَكَانٍ.

وَقَدْ قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي «دَرْءِ تَعَارُضِ الْعَقْلِ وَالنَّقْلِ»:

«إِنَّ لَفْظَ الْمَكَانِ لَا يُطْلَقُ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ إِلَّا عَلَى وَجْهِ الْإِجْمَالِ، لَا بِمَعْنَى أَنَّ الْمَخْلُوقَاتِ تُحِيطُ بِهِ، بَلْ هُوَ سُبْحَانَهُ فَوْقَ كُلِّ شَيْءٍ، مُسْتَوٍ عَلَى عَرْشِهِ، لَا يَحْوِيهِ مَكَانٌ وَلَا يَحُدُّهُ زَمَانٌ».

ثَالِثًا: مُقَارَنَةٌ بَيْنَ ابْنِ تَيْمِيَّةَ وَالْفَلَاسِفَةِ الْإِسْلَامِيِّينَ:

لَقَدْ خَالَفَ ابْنُ تَيْمِيَّةَ الْفَلَاسِفَةَ الْإِسْلَامِيِّينَ كَابْنِ سِينَا وَالْفَارَابِيِّ فِي رُؤْيَتِهِمْ لِلزَّمَانِ وَالْمَكَانِ.

فَقَدْ كَانَ ابْنُ سِينَا يَرَى أَنَّ الزَّمَانَ مِقْدَارُ الْحَرَكَةِ، وَلَكِنَّهُ أَزَلِيٌّ، لِأَنَّ الْعَالَمَ عِنْدَهُ أَزَلِيٌّ صَادِرٌ عَنْ وَاجِبِ الْوُجُودِ صُدُورًا ضَرُورِيًّا.

وَكَذَلِكَ الْمَكَانُ عِنْدَهُ لَيْسَ حَادِثًا، بَلْ مُلَازِمٌ لِوُجُودِ الْأَجْسَامِ مُنْذُ الْأَزَلِ.

أَمَّا ابْنُ تَيْمِيَّةَ فَيَرَى أَنَّ هَذَا الْقَوْلَ يُؤَدِّي إِلَى الْقَوْلِ بِقِدَمِ الْعَالَمِ، وَهُوَ بَاطِلٌ شَرْعًا وَعَقْلًا.

فَفِي حِينِ جَعَلَ الْفَلَاسِفَةُ الزَّمَانَ وَالْمَكَانَ مَظَاهِرَ دَائِمَةً لِوُجُودِ الْعَالَمِ الْأَزَلِيِّ، جَعَلَ ابْنُ تَيْمِيَّةَ الزَّمَانَ وَالْمَكَانَ مَخْلُوقَيْنِ تَابِعَيْنِ لِإِرَادَةِ اللَّهِ وَفِعْلِهِ الْمُسْتَمِرِّ.

كَمَا رَفَضَ الْقَوْلَ بِأَنَّ اللَّهَ لَا يَفْعَلُ فِي الْأَزَلِ، أَوْ أَنَّهُ بَدَأَ الْفِعْلَ بَعْدَ سُكُونٍ، إِذْ يَرَى أَنَّ اللَّهَ لَمْ يَزَلْ فَاعِلًا مُتَكَلِّمًا، وَفِعْلُهُ مُتَجَدِّدٌ بِحَسَبِ إِرَادَتِهِ.

رَابِعًا: التَّوَازُنُ بَيْنَ الْعَقْلِ وَالنَّقْلِ:

يَمْتَازُ تَصَوُّرُ ابْنِ تَيْمِيَّةَ بِالْجَمْعِ بَيْنَ الدَّلِيلِ الْعَقْلِيِّ وَالنَّصِّ الشَّرْعِيِّ.

فَهُوَ يَرْفُضُ التَّعْطِيلَ الْعَقْلِيَّ لِلْفَلَاسِفَةِ، كَمَا يَرْفُضُ التَّشْبِيهَ الْحِسِّيَّ لِلْمُجَسِّمَةِ.

فَالزَّمَانُ وَالْمَكَانُ عِنْدَهُ مَخْلُوقَانِ يَدُلُّ وُجُودُهُمَا عَلَى الْخَالِقِ، وَهُمَا دَلِيلٌ عَلَى حُدُوثِ الْعَالَمِ.

وَبِذَلِكَ يُوَظِّفُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ الْمَفْهُومَيْنِ تَوْظِيفًا عَقَدِيًّا لِخِدْمَةِ إِثْبَاتِ صِفَاتِ اللَّهِ وَقُدْرَتِهِ.

وَالْخُلَاصَةُ فِي عَقِيدَةِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي الزَّمَانِ وَالْمَكَانِ أَنَّ:

الزَّمَانَ: مَخْلُوقٌ مُرْتَبِطٌ بِالْحَرَكَةِ وَالتَّغَيُّرِ، لَا ذَاتٌ مُسْتَقِلَّةٌ.

وَالْمَكَانُ: ظَرْفٌ نِسْبِيٌّ لِوُجُودِ الْمَخْلُوقَاتِ، لَا يَحُدُّ الْخَالِقَ.

وَأَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى خَالِقُ الزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، لَا يَجْرِي عَلَيْهِ زَمَانٌ، وَلَا يَحْوِيهِ مَكَانٌ، وَهُوَ دَائِمُ الْفِعْلِ وَالْقُدْرَةِ.

وَبِهَذَا قَدَّمَ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَصَوُّرًا تَوْحِيدِيًّا مُتَمَاسِكًا يَخْتَلِفُ عَنِ الْمِيتَافِيزِيقَا الْفَلْسَفِيَّةِ، وَيَجْمَعُ بَيْنَ النَّقْلِ الصَّحِيحِ وَالْعَقْلِ الصَّرِيحِ.

(TAFSIR TENTANG RUANG DAN WAKTU MENURUT IBNU TAIMIYAH)

Barangkali kesan yang umum di kalangan kebanyakan orang adalah bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah hanyalah seorang ahli fikih, ahli hadits, dan mujtahid dalam persoalan fikih serta akidah yang tidak tertandingi. Akan tetapi, beliau juga merupakan seorang pemikir yang sangat besar—jika penyebutan ini dapat dibenarkan—yang pernah dikenal oleh umat Islam.

Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa waktu bukanlah suatu substansi yang berdiri sendiri, melainkan mengikuti gerak dan perubahan, serta menjadi ukuran bagi keduanya. Oleh karena itu, tidak dapat dibayangkan adanya waktu tanpa gerak, dan tidak pula gerak tanpa waktu.

Beliau menegaskan bahwa waktu adalah makhluk yang berkaitan dengan makhluk-makhluk lainnya, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Pencipta waktu dan tidak berada di dalam lingkup waktu. Allah telah ada sebelum segala sesuatu.

Beliau berkata dalam Al-Fatawa Al-Kubra:

«فَاللَّهُ تَعَالَى لَمْ يَزَلْ مُتَكَلِّمًا فَعَّالًا، وَلَمْ يَزَلِ الْخَلْقُ مَعَهُ مَخْلُوقًا بَعْدَ مَخْلُوقٍ، وَالزَّمَانُ تَابِعٌ لِلْحَرَكَةِ، فَكُلُّ مَا كَانَ حَادِثًا فَزَمَانُهُ حَادِثٌ، وَأَمَّا اللَّهُ سُبْحَانَهُ فَلَا يَجْرِي عَلَيْهِ زَمَانٌ وَلَا مَكَانٌ».

"Allah Ta'ala senantiasa berbicara dan senantiasa berbuat. Makhluk terus-menerus diciptakan satu demi satu. Waktu mengikuti gerak; maka segala sesuatu yang bersifat baru (hadits) memiliki waktu yang baru pula. Adapun Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka waktu dan tempat tidak berlaku bagi-Nya." [Lihat pula: Dar'u Ta'arudh Al-'Aql wan-Naql 9/152].

Dari sini tampak jelas bahwa menurut Ibnu Taimiyah, waktu bukanlah sesuatu yang mutlak atau azali, melainkan makhluk yang dimulai dengan dimulainya penciptaan dan berakhir dengan berakhirnya seluruh makhluk. Waktu merupakan ungkapan dari perubahan yang terus berlangsung di alam semesta.

Kedua: Tempat Menurut Ibnu Taimiyah:

Adapun tempat, maka Ibnu Taimiyah menganggapnya sebagai sifat yang bersifat relatif, bukan substansi yang berdiri sendiri. Tempat tidak dapat dipahami kecuali sebagai hubungan antara sesuatu dengan sesuatu yang lain. Tempat merupakan wadah keberadaan makhluk.

Ibnu Taimiyah menolak pendapat yang mengatakan bahwa tempat atau arah sama sekali tidak memiliki keberadaan, karena nash-nash syariat dan akal yang masih lurus menunjukkan bahwa Allah berada di atas seluruh makhluk-Nya, beristiwa di atas 'Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya, tanpa berarti bahwa Dia dibatasi oleh suatu tempat.

Beliau berkata dalam Dar'u Ta'arudh Al-'Aql wan-Naql:

«إِنَّ لَفْظَ الْمَكَانِ لَا يُطْلَقُ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ إِلَّا عَلَى وَجْهِ الْإِجْمَالِ، لَا بِمَعْنَى أَنَّ الْمَخْلُوقَاتِ تُحِيطُ بِهِ، بَلْ هُوَ سُبْحَانَهُ فَوْقَ كُلِّ شَيْءٍ، مُسْتَوٍ عَلَى عَرْشِهِ، لَا يَحْوِيهِ مَكَانٌ وَلَا يَحُدُّهُ زَمَانٌ».

"Istilah 'tempat' tidak boleh disandarkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala kecuali secara global, bukan dalam arti bahwa makhluk meliputi-Nya. Akan tetapi, Dia berada di atas segala sesuatu, beristiwa di atas 'Arsy-Nya. Tidak ada tempat yang meliputi-Nya dan tidak ada waktu yang membatasi-Nya."

Ketiga: Perbandingan Antara Ibnu Taimiyah dan Para Filsuf Islam

Ibnu Taimiyah berbeda pendapat dengan para filsuf Islam seperti Ibnu Sina dan Al-Farabi dalam memandang konsep waktu dan tempat.

Ibnu Sina berpendapat bahwa waktu merupakan ukuran gerak, namun bersifat azali, karena menurutnya alam juga azali sebagai sesuatu yang memancar secara niscaya dari Wajibul Wujud.

Demikian pula tempat menurut Ibnu Sina bukanlah sesuatu yang baru, melainkan telah menyertai keberadaan benda-benda sejak azali.

Adapun Ibnu Taimiyah memandang bahwa pendapat tersebut akan mengantarkan kepada keyakinan bahwa alam bersifat qadim (tidak bermula), padahal hal itu batil menurut syariat maupun akal.

Jika para filsuf menjadikan waktu dan tempat sebagai manifestasi yang terus-menerus menyertai keberadaan alam yang azali, maka Ibnu Taimiyah menjadikan waktu dan tempat sebagai makhluk yang tunduk kepada kehendak Allah dan perbuatan-Nya yang senantiasa berlangsung.

Beliau juga menolak anggapan bahwa Allah tidak berbuat pada masa azali atau bahwa Allah baru mulai berbuat setelah sebelumnya tidak berbuat. Menurut beliau, Allah senantiasa berbuat dan berbicara, sedangkan perbuatan-Nya terus berlangsung sesuai dengan kehendak-Nya.

Keempat: Keseimbangan Antara Akal dan Wahyu

Konsep Ibnu Taimiyah memiliki keistimewaan karena memadukan dalil akal dan nash syariat.

Beliau menolak penolakan terhadap sifat-sifat Allah sebagaimana dilakukan sebagian filsuf, sekaligus menolak penyerupaan Allah dengan makhluk sebagaimana dilakukan kaum mujassimah.

Menurut beliau, waktu dan tempat adalah makhluk yang keberadaannya menunjukkan adanya Sang Pencipta, serta menjadi bukti bahwa alam semesta ini bersifat baru (hadits).

Dengan demikian, Ibnu Taimiyah memanfaatkan konsep waktu dan tempat sebagai landasan akidah untuk menetapkan sifat-sifat Allah dan menunjukkan kesempurnaan kekuasaan-Nya.

Kesimpulan akidah Ibnu Taimiyah rahimahullah mengenai waktu dan tempat adalah sebagai berikut:

• Waktu adalah makhluk yang berkaitan dengan gerak dan perubahan, bukan suatu hakikat yang berdiri sendiri.

• Tempat merupakan wadah yang bersifat relatif bagi keberadaan makhluk, dan sama sekali tidak membatasi Sang Pencipta.

• Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Pencipta waktu dan tempat. Waktu tidak berlaku bagi-Nya, tempat tidak meliputi-Nya, dan Dia senantiasa berbuat serta Mahakuasa.

Dengan demikian, Ibnu Taimiyah rahimahullah menghadirkan suatu konsep tauhid yang utuh dan kokoh, yang berbeda dengan metafisika para filsuf, serta memadukan antara dalil wahyu yang sahih dan akal yang sehat. [Kutipan dari (X@wabumelha) Selesai]

[DR. Walid Abu Milhah adalah: Konsultan Obesitas, pemegang Fellowship Kanada dalam bidang Obesitas dan Penyakit Berat Badan, pendiri Perhimpunan Obesitas Arab Saudi, pendiri bersama Perhimpunan Kedokteran Mikrobioma Arab Saudi, serta penulis kolom opini di surat kabar Al-Wathan Arab Saudi].

Penulis Katakan:

Saya sudah telusuri dua perkataan syeikhul Islam Ibnu Taimiyah yang di kutip oleh DR. Walid Abu Milhah di (X@wabumelha) diatas.

Kesimpulannya, saya tidak menemukan bahwa redaksi yang dikutip tersebut merupakan lafadz asli dari Ibnu Taimiyah dalam kitabnya “Majmu’ al-Fatawa” dan kitab “Dar'u Ta'arudh Al-'Aql wan-Naql”.  

Yang saya temukan justru adalah beberapa nash asli Ibnu Taimiyah yang panjang dan luas. Mungkin nash-nash yang dikutip oleh DR. Walid di atas adalah ringkasannya.

Berikut ini text aslinya yang saya temukan :

Pertama:

Dalam kitab “Majmu’ al-Fatawa” 5/262, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

أَمَّا مَنْ اعْتَقَدَ الْجِهَةَ؛ فَإِنْ كَانَ يَعْتَقِدُ أَنَّ اللَّهَ فِي دَاخِلِ الْمَخْلُوقَاتِ، تَحْوِيهِ الْمَصْنُوعَاتُ، وَتَحْصُرُهُ السَّمَاوَاتُ، وَيَكُونُ بَعْضُ الْمَخْلُوقَاتِ فَوْقَهُ وَبَعْضُهَا تَحْتَهُ، فَهَذَا مُبْتَدِعٌ ضَالٌّ.

وَكَذَلِكَ إِنْ كَانَ يَعْتَقِدُ أَنَّ اللَّهَ يَفْتَقِرُ إِلَى شَيْءٍ يَحْمِلُهُ - إِلَى الْعَرْشِ أَوْ غَيْرِهِ - فَهُوَ أَيْضًا مُبْتَدِعٌ ضَالٌّ.

وَكَذَلِكَ إِنْ جَعَلَ صِفَاتِ اللَّهِ مِثْلَ صِفَاتِ الْمَخْلُوقِينَ، فَيَقُولُ: اسْتِوَاءُ اللَّهِ كَاسْتِوَاءِ الْمَخْلُوقِ، أَوْ نُزُولُهُ كَنُزُولِ الْمَخْلُوقِ، وَنَحْوُ ذَلِكَ، فَهَذَا مُبْتَدِعٌ ضَالٌّ؛ فَإِنَّ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ، مَعَ الْعَقْلِ، دَلَّتْ عَلَى أَنَّ اللَّهَ لَا تُمَاثِلُهُ الْمَخْلُوقَاتُ فِي شَيْءٍ مِنَ الْأَشْيَاءِ، وَدَلَّتْ عَلَى أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْ كُلِّ شَيْءٍ، وَدَلَّتْ عَلَى أَنَّ اللَّهَ مُبَايِنٌ لِلْمَخْلُوقَاتِ، عَالٍ عَلَيْهَا.

وَإِنْ كَانَ يَعْتَقِدُ أَنَّ الْخَالِقَ تَعَالَى بَائِنٌ عَنِ الْمَخْلُوقَاتِ، وَأَنَّهُ فَوْقَ سَمَاوَاتِهِ عَلَى عَرْشِهِ، بَائِنٌ مِنْ مَخْلُوقَاتِهِ، لَيْسَ فِي مَخْلُوقَاتِهِ شَيْءٌ مِنْ ذَاتِهِ، وَلَا فِي ذَاتِهِ شَيْءٌ مِنْ مَخْلُوقَاتِهِ، وَأَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَرْشِ وَعَنْ كُلِّ مَا سِوَاهُ، لَا يَفْتَقِرُ إِلَى شَيْءٍ مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ؛ بَلْ هُوَ، مَعَ اسْتِوَائِهِ عَلَى عَرْشِهِ، يَحْمِلُ الْعَرْشَ وَحَمَلَةَ الْعَرْشِ بِقُدْرَتِهِ، وَلَا يُمَثَّلُ اسْتِوَاءُ اللَّهِ بِاسْتِوَاءِ الْمَخْلُوقِينَ؛ بَلْ يُثْبِتُ اللَّهُ مَا أَثْبَتَهُ لِنَفْسِهِ مِنَ الْأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ، وَيُنْفَى عَنْهُ مُمَاثَلَةُ الْمَخْلُوقَاتِ، وَيُعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ؛ لَا فِي ذَاتِهِ، وَلَا فِي صِفَاتِهِ، وَلَا أَفْعَالِهِ.

فَهَذَا مُصِيبٌ فِي اعْتِقَادِهِ، مُوَافِقٌ لِسَلَفِ الْأُمَّةِ وَأَئِمَّتِهَا؛ فَإِنَّ مَذْهَبَهُمْ أَنَّهُمْ يَصِفُونَ اللَّهَ بِمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ، وَبِمَا وَصَفَهُ بِهِ رَسُولُهُ ﷺ، مِنْ غَيْرِ تَحْرِيفٍ وَلَا تَعْطِيلٍ، وَمِنْ غَيْرِ تَكْيِيفٍ وَلَا تَمْثِيلٍ.

Adapun orang yang meyakini adanya arah bagi Allah, maka jika ia meyakini bahwa Allah berada di dalam makhluk, diliputi oleh ciptaan, dibatasi oleh langit-langit, sehingga sebagian makhluk berada di atas-Nya dan sebagian lainnya berada di bawah-Nya, maka orang seperti ini adalah ahli bid'ah yang sesat.

Demikian pula jika ia meyakini bahwa Allah membutuhkan sesuatu yang menopang-Nya, baik Arsy maupun selainnya, maka ia juga merupakan ahli bid'ah yang sesat.

Demikian pula apabila ia menjadikan sifat-sifat Allah sama dengan sifat-sifat makhluk, sehingga ia mengatakan bahwa istiwa Allah seperti istiwanya makhluk, atau turunnya Allah seperti turunnya makhluk, dan semisalnya, maka ia adalah ahli bid'ah yang sesat.

Sebab Al-Qur'an, As-Sunnah, dan akal yang sehat telah menunjukkan bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk sedikit pun dalam segala hal. Semuanya juga menunjukkan bahwa Allah Mahakaya, tidak membutuhkan apa pun, serta menunjukkan bahwa Allah terpisah dari seluruh makhluk-Nya dan Mahatinggi di atas mereka.

Adapun jika seseorang meyakini bahwa Allah Ta'ala terpisah dari makhluk-Nya, berada di atas seluruh langit-Nya, di atas Arsy-Nya, terpisah dari ciptaan-Nya; tidak ada sedikit pun dari Dzat-Nya yang berada dalam makhluk-Nya, dan tidak ada sedikit pun dari makhluk-Nya yang berada dalam Dzat-Nya; serta meyakini bahwa Allah Mahakaya dari Arsy maupun dari seluruh selain-Nya, tidak membutuhkan sesuatu pun dari makhluk-Nya, bahkan dengan istiwa-Nya di atas Arsy, Allah justru memikul Arsy dan para malaikat pemikul Arsy dengan kekuasaan-Nya; serta tidak menyerupakan istiwa Allah dengan istiwanya makhluk, bahkan menetapkan bagi Allah seluruh nama dan sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya sendiri, serta menafikan segala bentuk keserupaan dengan makhluk; dan meyakini bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah, baik dalam Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, maupun perbuatan-perbuatan-Nya,

maka orang seperti inilah yang benar akidahnya dan sesuai dengan keyakinan para Salaf umat ini serta para imam mereka. Sebab manhaj mereka adalah menetapkan bagi Allah apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya sendiri dan apa yang ditetapkan oleh Rasul-Nya , tanpa melakukan tahrif (mengubah makna), tanpa ta'thil (meniadakan sifat), tanpa takyif (menentukan hakikat atau kaifiyatnya), dan tanpa tamtsil (menyerupakan-Nya dengan makhluk). [Selesai]

Kedua:

Dan dalam kitab “Dar'u Ta'arudh Al-'Aql wan-Naql” 7/15-17 (cet. tahqiq Muhammad Rasyad Salim), Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

وَأَمَّا لَفْظُ (الْمُتَحَيِّزِ)، فَمِنْهُمْ مَنْ يَنْفِيهِ، وَأَكْثَرُهُمْ لَا يُطْلِقُهُ وَلَا يَنْفِيهِ، لِأَنَّ هَذِهِ أَلْفَاظٌ مُجْمَلَةٌ تَحْتَمِلُ حَقًّا وَبَاطِلًا.

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ، فَيُقَالُ: قَوْلُ الْقَائِلِ: (إِنَّ اللَّهَ فِي جِهَةٍ أَوْ حَيِّزٍ أَوْ مَكَانٍ)، إِنْ أَرَادَ بِهِ شَيْئًا مَوْجُودًا غَيْرَ اللَّهِ، فَذَلِكَ مِنْ جُمْلَةِ مَخْلُوقَاتِهِ وَمَصْنُوعَاتِهِ. فَإِذَا قَالُوا: إِنَّ اللَّهَ فَوْقَ سَمَاوَاتِهِ عَلَى عَرْشِهِ، بَائِنٌ مِنْ خَلْقِهِ، امْتَنَعَ أَنْ يَكُونَ مَحْصُورًا أَوْ مُحَاطًا بِشَيْءٍ مَوْجُودٍ غَيْرِهِ، سَوَاءٌ سُمِّيَ مَكَانًا أَوْ جِهَةً أَوْ حَيِّزًا أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ. وَيَمْتَنِعُ أَيْضًا أَنْ يَكُونَ مُحْتَاجًا إِلَى شَيْءٍ مِنْ مَخْلُوقَاتِهِ: لَا عَرْشٍ وَلَا غَيْرِهِ، بَلْ هُوَ بِقُدْرَتِهِ الْحَامِلُ لِلْعَرْشِ وَلِحَمَلَتِهِ، فَإِنَّ الْبَائِنَ عَنِ الْمَخْلُوقَاتِ الْعَالِيَ عَلَيْهَا يَمْتَنِعُ أَنْ يَكُونَ فِي جَوْفِ شَيْءٍ مِنْهَا.

إِذَا قِيلَ: إِنَّهُ فِي السَّمَاءِ، كَانَ الْمَعْنَى: إِنَّهُ فِي الْعُلُوِّ، وَهُوَ مَعَ ذَلِكَ فَوْقَ كُلِّ شَيْءٍ، لَيْسَ فِي جَوْفِ السَّمَاوَاتِ، فَإِنَّ السَّمَاءَ هِيَ الْعُلُوُّ، وَكُلُّ مَا عَلَا فَهُوَ سَمَاءٌ.

يُقَالُ: سَمَا، يَسْمُو، سُمُوًّا، أَيْ: عَلَا، يَعْلُو، عُلُوًّا.

وَهَذَا اللَّفْظُ يَعُمُّ كُلَّ مَا يَعْلُو، لَمْ يُخَصَّ بَعْضُ أَنْوَاعِهِ بِسَبَبِ الْقَرِينَةِ.

فَإِذَا قِيلَ: ﴿فَلْيَمْدُدْ بِسَبَبٍ إِلَى السَّمَاءِ﴾، فَقَدْ يُرَادُ بِهِ السَّقْفُ. وَإِذَا قِيلَ: نَزَلَ الْمَطَرُ مِنَ السَّمَاءِ، كَانَ نُزُولُهُ مِنَ السَّحَابِ. وَإِذَا قِيلَ: الْعَرْشُ فِي السَّمَاءِ، فَالْمُرَادُ بِهِ مَا فَوْقَ الْأَفْلَاكِ.

وَإِذَا قِيلَ: اللَّهُ فِي السَّمَاءِ، فَالْمُرَادُ بِالسَّمَاءِ مَا فَوْقَ الْمَخْلُوقَاتِ كُلِّهَا، أَوْ يُرَادُ: أَنَّهُ فَوْقَ السَّمَاءِ وَعَلَيْهَا. فَأَمَّا أَنْ يَكُونَ فِي جَوْفِ السَّمَاوَاتِ، فَلَيْسَ هَذَا قَوْلَ أَهْلِ الْإِثْبَاتِ، أَهْلِ الْعِلْمِ وَالسُّنَّةِ، وَمَنْ قَالَ بِذَلِكَ فَهُوَ جَاهِلٌ، كَمَنْ يَقُولُ: إِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ وَيَبْقَى الْعَرْشُ فَوْقَهُ، أَوْ يَقُولُ: إِنَّهُ يَحْصُرُهُ شَيْءٌ مِنْ مَخْلُوقَاتِهِ، فَهَؤُلَاءِ ضُلَّالٌ، كَمَا أَنَّ أَهْلَ النَّفْيِ ضُلَّالٌ.

وَإِنْ أَرَادَ بِمُسَمَّى الْجِهَةِ وَالْحَيِّزِ وَالْمَكَانِ أَمْرًا مَعْدُومًا، فَالْمَعْدُومُ لَيْسَ شَيْئًا. فَإِذَا سَمَّى الْمُسَمَّى مَا فَوْقَ الْمَخْلُوقَاتِ كُلِّهَا حَيِّزًا وَجِهَةً وَمَكَانًا، كَانَ الْمَعْنَى: أَنَّ اللَّهَ وَحْدَهُ هُنَاكَ، لَيْسَ هُنَاكَ غَيْرُهُ مِنَ الْمَوْجُودَاتِ: لَا جِهَةَ، وَلَا حَيِّزَ، وَلَا مَكَانَ، بَلْ هُوَ فَوْقَ كُلِّ مَوْجُودٍ مِنَ الْأَحْيَازِ وَالْجِهَاتِ وَالْأَمْكِنَةِ وَغَيْرِهَا، سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

Adapun istilah "mutahayyiz" (menempati ruang), maka di antara para ulama ada yang menolaknya, dan kebanyakan mereka tidak menetapkannya dan tidak pula menafikannya. Hal itu karena istilah-istilah semacam ini merupakan lafaz mujmal (bersifat umum) yang mengandung kemungkinan makna yang benar maupun yang batil.

Apabila demikian, maka dikatakan: perkataan seseorang, "Sesungguhnya Allah berada pada suatu arah, ruang, atau tempat", apabila yang dimaksud dengan arah, ruang, atau tempat itu adalah sesuatu yang benar-benar ada selain Allah, maka hal itu termasuk makhluk dan ciptaan Allah.

Apabila Ahlus Sunnah mengatakan bahwa Allah berada di atas langit-langit-Nya, di atas Arsy-Nya, serta terpisah dari makhluk-Nya, maka mustahil Allah terkurung atau dilingkupi oleh sesuatu yang benar-benar ada selain diri-Nya, baik sesuatu itu dinamakan tempat, arah, ruang, atau dengan istilah lainnya.

Demikian pula mustahil Allah membutuhkan sesuatu pun dari makhluk-Nya, baik Arsy maupun selainnya. Bahkan dengan kekuasaan-Nya, Allah-lah yang memikul Arsy dan para malaikat pemikul Arsy. Sebab Dzat yang terpisah dari makhluk dan Mahatinggi di atas mereka mustahil berada di dalam sesuatu dari makhluk tersebut.

Apabila dikatakan bahwa Allah berada "di langit", maka maksudnya adalah Allah berada di ketinggian. Meski demikian, Dia tetap berada di atas segala sesuatu dan bukan berada di dalam rongga langit-langit. Sebab kata "as-samā'" berarti ketinggian, dan setiap sesuatu yang tinggi disebut samā'.

Dalam bahasa Arab dikatakan:

سَمَا يَسْمُو سُمُوًّا

yang artinya: "meninggi, naik ke atas."

Lafaz "samā'" mencakup segala sesuatu yang berada di atas, dan tidak dikhususkan kepada salah satu jenisnya kecuali dengan adanya qarinah (petunjuk konteks).

Karena itu, apabila Allah berfirman:

﴿فَلْيَمْدُدْ بِسَبَبٍ إِلَى السَّمَاءِ﴾

Maka yang dimaksud dengan "langit" bisa saja adalah atap.

Apabila dikatakan, "Hujan turun dari langit", maka yang dimaksud adalah turun dari awan.

Apabila dikatakan, "Arsy berada di langit", maka maksudnya adalah berada di atas seluruh falak (langit-langit).

Demikian pula apabila dikatakan, "Allah berada di langit", maka yang dimaksud dengan langit adalah segala sesuatu yang berada di atas seluruh makhluk. Atau maksudnya adalah Allah berada di atas langit dan di atasnya.

Adapun anggapan bahwa Allah berada di dalam rongga langit-langit, maka ini bukanlah keyakinan Ahlul Itsbat, yaitu para ulama Ahlus Sunnah. Barang siapa berpendapat demikian, maka ia adalah orang yang jahil, sebagaimana orang yang mengatakan bahwa Allah turun sedangkan Arsy tetap berada di atas-Nya, atau mengatakan bahwa Allah dilingkupi oleh sesuatu dari makhluk-Nya. Mereka adalah orang-orang yang sesat, sebagaimana kelompok yang menafikan sifat-sifat Allah juga merupakan orang-orang yang sesat.

Adapun apabila yang dimaksud dengan istilah arah, ruang, dan tempat adalah sesuatu yang tidak ada (ma'dum), maka sesuatu yang tidak ada bukanlah sesuatu yang hakiki.

Karena itu, apabila seseorang menamai sesuatu yang berada di atas seluruh makhluk sebagai ruang, arah, atau tempat, maka maknanya adalah bahwa hanya Allah semata yang berada di sana; tidak ada sesuatu pun selain-Nya dari makhluk yang benar-benar ada. Tidak ada arah, ruang, maupun tempat yang benar-benar ada bersama-Nya. Bahkan Allah berada di atas seluruh yang ada, baik ruang, arah, tempat, maupun selainnya. Mahasuci dan Mahatinggi Allah.

Ketiga :

Dan dalam “Majmu’ al-Fatawa” (16/100–101), beliau berkata:

وَالسَّلَفُ وَالْأَئِمَّةُ وَسَائِرُ عُلَمَاءِ السُّنَّةِ، إِذَا قَالُوا: «إِنَّهُ فَوْقَ الْعَرْشِ، وَإِنَّهُ فِي السَّمَاءِ فَوْقَ كُلِّ شَيْءٍ»، لَا يَقُولُونَ: إِنَّ هُنَاكَ شَيْئًا يَحْوِيهِ، أَوْ يَحْصُرُهُ، أَوْ يَكُونُ مَحَلًّا لَهُ، أَوْ ظَرْفًا وَوِعَاءً، سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْ ذَلِكَ. بَلْ هُوَ فَوْقَ كُلِّ شَيْءٍ، وَهُوَ مُسْتَغْنٍ عَنْ كُلِّ شَيْءٍ، وَكُلُّ شَيْءٍ مُفْتَقِرٌ إِلَيْهِ. وَهُوَ عَالٍ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، وَهُوَ الْحَامِلُ لِلْعَرْشِ وَلِحَمَلَةِ الْعَرْشِ بِقُوَّتِهِ وَقُدْرَتِهِ. وَكُلُّ مَخْلُوقٍ مُفْتَقِرٌ إِلَيْهِ، وَهُوَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَرْشِ وَعَنْ كُلِّ مَخْلُوقٍ.

وَمَا فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِنْ قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ﴾ وَنَحْوِ ذَلِكَ، قَدْ يَفْهَمُ مِنْهُ بَعْضُهُمْ أَنَّ «السَّمَاءَ» هِيَ نَفْسُ الْمَخْلُوقِ الْعَالِي: الْعَرْشُ فَمَا دُونَهُ. فَيَقُولُونَ: قَوْلُهُ: ﴿فِي السَّمَاءِ﴾ بِمَعْنَى: «عَلَى السَّمَاءِ»، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ النَّخْلِ﴾ أَيْ: «عَلَى جُذُوعِ النَّخْلِ»، وَكَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ﴾ أَيْ: «عَلَى الْأَرْضِ».

وَلَا حَاجَةَ إِلَى هَذَا، بَلْ «السَّمَاءُ» اسْمُ جِنْسٍ لِلْعَالِي، لَا يَخُصُّ شَيْئًا. فَقَوْلُهُ: ﴿فِي السَّمَاءِ﴾ أَيْ: «فِي الْعُلُوِّ دُونَ السُّفْلِ». وَهُوَ الْعَلِيُّ الْأَعْلَى، فَلَهُ أَعْلَى الْعُلُوِّ، وَهُوَ مَا فَوْقَ الْعَرْشِ، وَلَيْسَ هُنَاكَ غَيْرُهُ الْعَلِيُّ الْأَعْلَى، سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

Para ulama Salaf, para imam, dan seluruh ulama Ahlus Sunnah, apabila mereka mengatakan, “Sesungguhnya Allah berada di atas Arsy, dan Dia di langit di atas segala sesuatu,” mereka tidaklah bermaksud bahwa di sana ada sesuatu yang meliputi-Nya, membatasi-Nya, menjadi tempat bagi-Nya, atau menjadi wadah dan ruang yang menampung-Nya. Mahasuci Allah dari anggapan seperti itu.

Sebaliknya, Allah berada di atas segala sesuatu. Dia tidak membutuhkan apa pun, sedangkan segala sesuatu membutuhkan-Nya. Dia Mahatinggi di atas seluruh makhluk. Dialah yang menopang Arsy dan para malaikat pemikul Arsy dengan kekuatan dan kekuasaan-Nya. Seluruh makhluk membutuhkan-Nya, sedangkan Dia Mahakaya, tidak membutuhkan Arsy maupun seluruh makhluk.

Adapun firman Allah dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah seperti:

﴿أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ﴾

"Apakah kalian merasa aman terhadap (Allah) yang di langit?" (QS. Al-Mulk: 16)

dan ayat-ayat semisalnya, sebagian orang memahaminya bahwa yang dimaksud dengan "langit" adalah makhluk yang tinggi itu sendiri, yaitu Arsy dan apa yang berada di bawahnya. Karena itu mereka mengatakan bahwa makna firman Allah:

﴿فِي السَّمَاءِ﴾

adalah "di atas langit", sebagaimana firman Allah:

﴿وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ النَّخْلِ﴾

"Dan sungguh aku akan menyalib kalian di batang-batang pohon kurma." (QS. Thaha: 71)

yakni maksudnya: "di atas batang-batang pohon kurma".

Demikian pula firman Allah:

﴿فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ﴾

"Maka berjalanlah kalian di bumi." (QS. Ali 'Imran: 137)

yakni maksudnya: "di atas bumi".

Namun sebenarnya tidak perlu menafsirkan demikian. Sebab kata "langit" (السَّمَاءُ) adalah isim jins (kata umum) yang berarti segala sesuatu yang tinggi, tidak terbatas pada sesuatu yang tertentu.

Dengan demikian, makna firman Allah:

﴿فِي السَّمَاءِ﴾

adalah: "di tempat yang tinggi, bukan di bawah."

Allah adalah Al-'Aliyy (Yang Mahatinggi) lagi Al-A'la (Yang Paling Tinggi). Maka bagi-Nya ketinggian yang paling tinggi, yaitu di atas Arsy. Dan tidak ada di atas sana selain Dia, Al-'Aliyy Al-A'la. Mahasuci dan Mahatinggi Allah. [KUTIPAN SELESAI]

Penulis Katakan:

Adapun frasa:

لَا يَحُدُّهُ زَمَانٌ

saya tidak menemukannya sebagai lafadz Ibnu Taimiyah yang digabungkan dengan pembahasan "المَكَانُ" pada tempat tersebut. Yang banyak ditemukan adalah penjelasan ulama kontemporer yang merangkum akidah Ahlus Sunnah dengan ungkapan:

لَا يَحُدُّهُ زَمَانٌ وَلَا مَكَانٌ

Maka itu bukan sebagai kutipan literal dari Ibnu Taimiyah.

===***===


Posting Komentar

0 Komentar