Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

APAKAH MINUMAN KERAS ITU SUCI ATAU NAJIS? MANA YANG PALING KUAT DALIL-NYA?

 APAKAH MINUMAN KERAS ITU SUCI ATAU NAJIS? 

MANA YANG PALING KUAT DALIL-NYA?

----

Di Tulis Oleh Fakhry

KAJIAN NIDA AL-ISLAM

 ---

----

DAFTAR ISI:

  • MAKNA NAJIS
  • MAKNA SUCI (THOHAROH)
  • CARA MENGHILANGKAN NAJIS
  • MINUMAN KERAS (KHAMR) ADALAH HARAM
  • APAKAH KHAMR ITU SUCI ATAU NAJIS?
  • PERBEDAAN PENDAPAT PARA ULAMA TENTANG SUCI atau NAJIS-NYA KHAMR (MINUMAN KERAS).
  • PENDAPAT PERTAMA: KHAMR ADALAH SUCI:
  • DALIL PENDAPAT PERTAMA: BAHWA KHAMR ITU SUCI:
  • PENDAPAT KEDUA: KHAMR ADALAH NAJIS
  • DALIL PENDAPAT KEDUA: BAHWA KHAMR ADALAH NAJIS
  • TARJIH (PENDAPAT YANG LEBIH KUAT DALAM PERBEDAAN PENDAPAT INI):
  • HUKUM CUKA YANG DIPRODUKSI DARI KHAMR (MINUMAN KERAS)
  • APAKAH BOLEH MENGGUNAKAN KHAMR SELAIN UNTUK MINUM?

 **** 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

===***===

MAKNA NAJIS

Najis secara bahasa :

«الْقَذَارَةُ وَالْخُبْثُ، وَهِيَ حِسِّيَّةٌ وَمَعْنَوِيَّةٌ»

“Berarti kotoran dan sesuatu yang buruk. 

Najis terbagi menjadi dua: najis secara fisik (indrawi) dan najis secara maknawi”.

Najis secara fisik atau indrawi (الْحِسِّيَّةُ) adalah:

«مَا تَعَافُهُ الطِّبَاعُ السَّلِيمَةُ لِنَتَنِهِ كَالْبَوْلِ وَالْعَذِرَةِ».

sesuatu yang secara tabiat tidak disukai oleh manusia yang sehat karena baunya yang busuk, seperti air kencing dan kotoran.

Adapun najis secara maknawi (الْمَعْنَوِيَّةُ) adalah:

«مَا يُعْلَمُ خُبْثُهُ وَقُبْحُهُ بِالشَّرْعِ أَوِ الْعَقْلِ»

sesuatu yang keburukan dan kejelekannya diketahui berdasarkan syariat atau akal.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ﴾

“Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis.” [At-Taubah: 28]

****

MAKNA THOHAROH (SUCI)

Adapun suci (الطَّهَارَةُ) berarti:

«النَّظَافَةُ وَالتَّنَزُّهُ عَنِ الْأَقْذَارِ»

“Kebersihan dan menjauhkan diri dari berbagai kotoran”.

Adapun yang dimaksud dengan thaharah dalam syariat adalah menghilangkan najis dan kotoran yang lebih ringan darinya, seperti kotoran pada gigi; termasuk pula wudu, mandi, dan pengganti keduanya, yaitu tayamum.

Dalam wudu, mandi, dan tayamum terdapat unsur ibadah. Oleh karena itu, mayoritas imam fikih mensyaratkan niat dalam ketiga perkara tersebut. Mereka tidak mensyaratkan niat untuk menghilangkan najis, meskipun menghilangkan najis juga merupakan sesuatu yang dituntut oleh syariat.

Secara keseluruhan, berbagai keterangan dalam Al-Qur’an dan Sunnah mengenai menghilangkan najis menunjukkan bahwa tujuan syariat adalah agar seorang Muslim menjaga kebersihan semampunya, baik pada tubuh, pakaian, maupun masjid. Semua itu dapat dipahami secara rasional dan tidak mengandung unsur ibadah semata.

Satu-satunya perkara yang oleh sebagian ulama dianggap semata-mata sebagai bentuk ibadah adalah mencuci bejana yang dijilat oleh anjing sebanyak tujuh kali, salah satunya dengan tanah, berdasarkan hadits yang menerangkan hal tersebut. Dalam salah satu riwayat disebutkan:

«وَعَفِّرُوهُ الثَّامِنَةَ بِالتُّرَابِ»

“Dan bersihkanlah untuk kedelapan kalinya dengan tanah.”

Mazhab Hanafi tidak mengambil hadits tersebut sebagai dasar hukum. Adapun Imam asy-Syafi‘i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa sebabnya adalah kenajisan anjing atau air liurnya. Sebagian ulama menjadikannya sebagai bentuk ibadah semata.

Sebagian kalangan sufi bahkan beranggapan bahwa sebabnya adalah karena sisa air minum anjing dapat menyebabkan kerasnya hati.

Para dokter kemudian menemukan sesuatu yang dapat menjadi sebab yang mendukung hal tersebut, yaitu bahwa air liur anjing dapat menjadi penyebab seseorang terinfeksi cacing pita atau cacing soliter. [Lihat: al-Manar karya Muhammad Rasyid Ridho 23/658]

---

CARA MENGHILANGKAN NAJIS

Para ulama berbeda pendapat mengenai menghilangkan najis: apakah hukumnya wajib atau sunnah? Mereka juga berbeda dalam metode ijtihad mengenai cara menyucikan najis. Apakah yang dimaksud dengan penyucian adalah menghilangkan zat najis beserta sifat-sifatnya berupa warna, rasa, dan bau, ataukah cukup dengan menghilangkan pengaruhnya dan bentuk kotorannya yang dianggap menjijikkan?

Sebagian ulama yang mengambil pendapat pertama—terutama dari kalangan Syafi‘iyah—bersikap sangat berlebihan. Di antara hasil ijtihad mereka terdapat beberapa ketentuan yang sulit dipahami hikmahnya dan mengandung kesulitan serta beban yang berat. Hal tersebut menjadi sebab banyak orang mengalami waswas.

Di antaranya adalah ketentuan yang menyerupai cara para dokter melakukan penyucian terhadap tubuh, luka, dan berbagai benda, seperti persyaratan bahwa air yang sedikit—yaitu air yang kurang dari dua qullah—harus dituangkan ke atas najis, bukan najis yang dituangkan atau dimasukkan ke dalam air tersebut. Hal ini tidak mudah dilakukan kecuali oleh orang-orang tertentu yang memiliki kemampuan khusus.

Padahal, berbagai keterangan dalam Sunnah yang sahih, seperti istinja dengan menggunakan batu, tata cara menyucikan pakaian dari darah haid dan mani, serta menyucikan sandal dengan menggosokkannya ke tanah, dan hal-hal semisalnya, menunjukkan bahwa yang wajib adalah menghilangkan bentuk dan pengaruh najis tersebut. Adapun menghilangkan seluruh sifatnya secara sempurna merupakan bentuk kesempurnaan dalam penyucian.

Para ulama juga berbeda pendapat mengenai apakah kesucian tubuh, pakaian, dan tempat merupakan syarat sahnya shalat atau tidak. [Lihat: al-Manar karya Muhammad Rasyid Ridho 23/658]

PENDAPAT PARA ULAMA TENTANG CARA MENGHILANGKAN NAJIS

Para ulama memiliki berbagai pendapat mengenai cara menghilangkan najis dan bagaimana najis itu menjadi hilang. Jika seluruh pendapat mereka dikumpulkan, meskipun terdapat perbedaan di antara para penganutnya, maka dapat disimpulkan sebagaimana yang telah kami katakan pada pembahasan kelima, yaitu bahwa hal tersebut merupakan maksud yang ditunjukkan oleh nash-nash syariat.

Tujuan syariat dalam masalah bersuci adalah agar seorang Muslim berada dalam keadaan bersih, sehingga orang yang memiliki tabiat sehat tidak merasa jijik terhadapnya. Tidak disyaratkan bahwa pada tubuh atau pakaiannya sama sekali tidak boleh terdapat sedikit pun zat najis yang masih dapat terlihat oleh pandangan normal.

Hal ini dapat diketahui dari berbagai hadits mengenai menyucikan sandal yang terkena najis dengan menggosokkannya ke tanah, menggosok mani, mengeriknya, menghilangkannya dengan menggunakan idzkhir, dan berbagai cara lainnya.

Di antara benda yang dapat digunakan untuk menyucikan najis adalah penyamakan kulit. Demikian pula perubahan khamar menjadi cuka menurut ulama yang berpendapat bahwa khamar itu najis, serta menghilangkan zat najis dari benda-benda yang permukaannya licin dan keras.

Para ulama Hanafiyah berpendapat bahwa apabila tanah terkena najis, tanah tersebut menjadi suci dengan mengeringnya najis, baik pengeringan itu disebabkan oleh sinar matahari, udara, maupun api. Padahal, pengeringan tidak menghilangkan dari materi najis kecuali bagian yang menguap, sementara baunya mungkin masih tetap ada.

Mereka berdalil dengan keadaan Masjid Nabawi, bahwa dahulu anjing-anjing masuk ke dalamnya dan buang air kecil di sana, namun mereka tidak melakukan penyucian terhadapnya.

Tujuan penyebutan pendapat ini adalah untuk menjelaskan dasar pemikiran para ulama fikih tersebut, yang pendapat-pendapatnya diikuti oleh jutaan kaum Muslimin, dalam rangka menunjukkan kemudahan yang diberikan oleh syariat Islam. [Lihat: al-Manar karya Muhammad Rasyid Ridho 23/658]

PENJELASAN HADITS ORANG BADUI KENCING DI MASJID

Sebaiknya di sini kita menyebutkan hadits tentang seorang Arab Badui yang buang air kecil di masjid, yang dijadikan bantahan oleh mayoritas ulama terhadap pendapat mereka, meskipun pembahasan ini bukan untuk menentukan pendapat yang lebih kuat dalam masalah-masalah tersebut.

Diriwayatkan oleh al-Jama‘ah (yaitu Ahmad, al-Bukhari dan Muslim, serta para penyusun kitab Sunan) dari Abu Hurairah dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma:

أَنَّ أَعْرَابِيًّا بَالَ فِي الْمَسْجِدِ، فَقَالَ الصَّحَابَةُ لَهُ: مَهْ مَهْ -وَهِيَ كَلِمَةُ زَجْرٍ- فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «لَا تُزْرِمُوهُ، -أَيْ لَا تَقْطَعُوا عَلَيْهِ بَوْلَهُ- دَعُوهُ»، فَتَرَكُوهُ حَتَّى بَالَ

Bahwa seorang Arab Badui buang air kecil di masjid. Para sahabat berkata kepadanya, “Mah! Mah!” Ini adalah ungkapan untuk menghardik atau melarang.

Maka Rasulullah bersabda: ”Janganlah kalian memutus buang air kecilnya. Biarkanlah dia.”

Mereka pun membiarkannya hingga ia selesai buang air kecil. Ini adalah redaksi riwayat Anas.

Adapun Abu Hurairah berkata:

فَقَامَ إِلَيْهِ النَّاسُ لِيَقَعُوا بِهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «دَعُوهُ وَأَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ»

Orang-orang segera menghampirinya untuk memukulinya, maka Nabi bersabda:

Biarkanlah dia, dan siramlah air kencingnya dengan satu timba atau seember air. Sesungguhnya kalian diutus untuk memberikan kemudahan dan tidak diutus untuk memberikan kesulitan.”

Adapun kelanjutan riwayat Anas, ia berkata: Kemudian Rasulullah bersabda:

ثُمَّ قَالَ ﷺ: «إِنَّ هَذِهِ الْمَسَاجِدَ لَا تَصْلُحُ لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْبَوْلِ، وَلَا الْقَذَرِ، إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالصَّلَاةِ، وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ»،

قَالَ: ثُمَّ أَمَرَ رَجُلًا مِنَ الْقَوْمِ، فَجَاءَ بِدَلْوٍ مِنْ مَاءٍ، فَشَنَّهُ عَلَيْهِ.

Sesungguhnya masjid-masjid ini tidak layak untuk sesuatu pun dari air kencing dan kotoran semacam ini. Sesungguhnya masjid hanyalah untuk berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, shalat, dan membaca Al-Qur’an.”

Anas berkata: Kemudian beliau memerintahkan seseorang dari kaum tersebut. Orang itu datang membawa seember air, lalu menuangkannya ke tempat air kencing tersebut. [Hadits Selesai]

Makna “As-Sajal” dan “adz-dzanub”, dengan fathah pada huruf pertama keduanya, berarti timba yang besar dan penuh. Ibnu as-Sikkit berkata mengenai kata yang kedua bahwa isinya hampir penuh. Kedua istilah tersebut tidak digunakan untuk menyebut timba yang kosong.

Di antara sesuatu yang menurut mazhab Hanafi dapat menyucikan najis adalah api dan berubahnya hakikat suatu benda.

Contohnya adalah minyak yang najis yang digunakan dalam pembuatan sabun.

Pendapat mereka dalam masalah ini sangat kuat dan menunjukkan pemahaman mereka terhadap fikih syariat serta hakikat thaharah yang diperintahkan kepada manusia.

Hakikat thoharah tersebut adalah kebersihan dan menjauhkan diri dari kotoran, bukan memberikan kesulitan atau membebani manusia dengan sesuatu yang tidak dapat dipahami sebagai bentuk ibadah semata.

Pendapat ini tidak memerlukan dalil khusus secara tekstual.

Di antara hal yang menunjukkan hal tersebut adalah ijma’ umat bahwa niat tidak wajib dan tidak disyaratkan dalam menghilangkan najis.

Mereka juga dapat berdalil dengan hadits Abu ad-Darda’ mengenai al-murri «الْمُرِّي» , yaitu makanan yang dibuat dari khamr, ikan, dan garam, kemudian diletakkan di bawah sinar matahari. Abu ad-Darda’ dan sejumlah sahabat lainnya memakannya, sebagaimana akan disebutkan nanti. Kami menggunakan hadits tersebut sebagai dalil atas kesucian khamr.

Namun, mereka mengatakan:

لَوْ جُعِلَ الْخَمْرُ فِي مَرَقَةٍ لَا تُؤْكَلُ لِتَنَجُّسِهَا بِهَا، وَلَا حَدَّ مَا لَمْ يُسْكِرْ مِنْهُ (أَيْ الْآكِلَ) لِأَنَّهُ أَصَابَهُ الطَّبْخُ، وَيُكْرَهُ أَكْلُ خُبْزِ عَجِينٍ عَجَنَهُ بِالْخَمْرِ لِقِيَامِ أَجْزَاءِ الْخَمْرِ فِيهِ

Jika khamr dimasukkan ke dalam kuah, maka kuah tersebut tidak boleh dimakan karena menjadi najis akibat tercampur dengannya.

Adapun seseorang tidak dikenai hukuman had selama ia tidak sampai mabuk karena memakannya, sebab khamr tersebut telah terkena proses pemasakan. Mereka juga memakruhkan memakan roti yang adonannya dibuat dengan khamr karena masih terdapat bagian-bagian khamr di dalamnya. (Dikutip dari kitab Al-Hidayah).

[Lihat: al-Manar karya Muhammad Rasyid Ridho 23/658]

===***===

MINUMAN KERAS (KHAMR) ADALAH HARAM

Telah ditegaskan bahwa keharaman khamar berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan ijma‘ kaum Muslimin.

Adapun dalil dari Al-Qur’an, Allah swt berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya khamar, judi, berhala, dan azlam adalah rijs (perbuatan keji) termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung.” [Al-Ma’idah: 90]

Adapun dalil dari Sunnah, terdapat banyak hadits yang menerangkan keharaman khamar, laknat terhadap orang yang meminumnya, serta hukuman yang ditetapkan atasnya.

Di antaranya sabda Nabi :

«كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ، وَإِنَّ عَلَى اللَّهِ عَهْدًا لِمَنْ يَشْرَبُ الْمُسْكِرَ أَنْ يَسْقِيَهُ مِنْ طِينَةِ الْخَبَالِ». قَالُوا: وَمَا طِينَةُ الْخَبَالِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «عَرَقُ أَهْلِ النَّارِ، أَوْ عُصَارَةُ أَهْلِ النَّارِ».

“Setiap yang memabukkan adalah haram. Sesungguhnya Allah telah menetapkan janji bagi orang yang meminum minuman yang memabukkan, bahwa Dia akan memberinya minum dari ṭīnatul-khabāl.”

Para sahabat bertanya, “Apakah ṭīnatul-khabāl itu, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab: “Keringat penduduk neraka, atau perasan penduduk neraka.” (HR. Muslim)

Kaum Muslimin juga telah bersepakat atas keharaman khamar.

Para ulama telah memasukkan keharaman khamar sebagai perkara yang diketahui secara pasti dalam agama. Oleh karena itu, siapa saja yang menghalalkannya, maka ia telah kafir, kecuali jika ia baru masuk Islam atau tumbuh dan besar di negeri yang bukan negeri kaum Muslimin.

 **===***===**

APAKAH KHAMR ITU SUCI ATAU NAJIS?

===***=== 

PERBEDAAN PENDAPAT PARA ULAMA
TENTANG SUCI atau NAJIS-NYA KHAMR (MINUMAN KERAS)

Al-‘Allamah Ibnu Rusyd berkata dalam kitab Bidayatul Mujtahid 1/83:

«وَأَمَّا أَنْوَاعُ النَّجَاسَاتِ فَإِنَّ الْعُلَمَاءَ اتَّفَقُوا مِنْ أَعْيَانِهَا عَلَى أَرْبَعَةٍ: عَلَى مَيْتَةِ الْحَيَوَانِ ذِي الدَّمِ، الَّذِي لَيْسَ بِمَائِيٍّ، وَعَلَى لَحْمِ الْخِنْزِيرِ بِأَيِّ سَبَبٍ اتَّفَقَ أَنْ تَذْهَبَ حَيَاتُهُ، وَعَلَى الدَّمِ نَفْسِهِ مِنَ الْحَيَوَانِ الَّذِي لَيْسَ بِمَائِيٍّ، انْفَصَلَ مِنَ الْحَيِّ أَوِ الْمَيِّتِ، إِذَا كَانَ مَسْفُوحًا، أَعْنِي كَثِيرًا، وَعَلَى بَوْلِ ابْنِ آدَمَ، وَرَجِيعِهِ، وَأَكْثَرُهُمْ عَلَى نَجَاسَةِ الْخَمْرِ، وَفِي ذَلِكَ خِلَافٌ عَنْ بَعْضِ الْمُحَدِّثِينَ». اهـ.

“Adapun jenis-jenis najis, para ulama bersepakat mengenai empat benda najis, yaitu:

1. Bangkai hewan yang memiliki darah dan bukan hewan air.

2. Daging babi, apa pun sebab yang menyebabkan hewan tersebut mati.

3. Darah itu sendiri dari hewan yang bukan hewan air, baik darah tersebut keluar dari hewan yang masih hidup maupun dari hewan yang telah mati, apabila darah itu merupakan darah yang mengalir, maksudnya dalam jumlah yang banyak.

4. Air kencing dan kotoran manusia.

Mayoritas ulama juga berpendapat bahwa khamar adalah najis. Namun, dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat dari sebagian ahli hadits.”

Demikian perkataan Ibnu Rusyd.

Pada pembahasan selanjutnya, kami akan menyebutkan sejumlah ulama yang secara tegas berpendapat bahwa khamar itu suci.

Para ulama berbeda pendapat mengenai apakah khamr itu najis atau tidak, menjadi dua pendapat:

****

PENDAPAT PERTAMA: KHAMR ADALAH SUCI

Khamr adalah suci (tidak najis). Pendapat ini dikemukakan oleh Rabi'ah bin Abi Abdurrahman, al-Laits bin Sa'd, al-Muzani, dan Dawud az-Zahiri.

Pendapat ini juga dipilih oleh ash-Shan'ani, asy-Syaukani, al-Albani, Ibnu Utsaimin, Muhammad Rasyid Ridho, Syeikh Yusuf al-Qorodhowi, Syeikh Abu Amr Dibyan ad-Dibyan dan lainnya

Al-Imam Al-Qurthubi berkata:

«وَخَالَفَهُمْ فِي ذَلِكَ رَبِيعَةُ، وَاللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ، وَالْمُزَنِيُّ صَاحِبُ الشَّافِعِيِّ، وَبَعْضُ الْمُتَأَخِّرِينَ مِنَ الْبَغْدَادِيِّينَ وَالْقَرَوِيِّينَ، فَرَأَوْا أَنَّهَا طَاهِرَةٌ، وَأَنَّ الْمُحَرَّمَ إِنَّمَا هُوَ شُرْبُهَا»

"Rabi'ah, al-Laits bin Sa'd, al-Muzani, murid Imam asy-Syafi'i, serta sebagian ulama belakangan dari Baghdad dan Qairawan menyelisihi mereka dalam masalah ini. Mereka berpendapat bahwa khamr itu suci dan yang diharamkan hanyalah meminumnya." (Tafsir al-Qurthubi, 6/288)

Al-Imam An-Nawawi berkata:

«الْخَمْرُ نَجِسَةٌ عِنْدَنَا، وَعِنْدَ مَالِكٍ، وَأَبِي حَنِيفَةَ، وَأَحْمَدَ، وَسَائِرِ الْعُلَمَاءِ، إِلَّا مَا حَكَاهُ الْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ وَغَيْرُهُ عَنْ رَبِيعَةَ شَيْخِ مَالِكٍ، وَدَاوُدَ: أَنَّهُمَا قَالَا: هِيَ طَاهِرَةٌ».

"Khamr adalah najis menurut kami, juga menurut Malik, Abu Hanifah, Ahmad, dan seluruh ulama. Kecuali pendapat yang dinukil oleh al-Qadhi Abu ath-Thayyib dan ulama lainnya dari Rabi'ah, guru Imam Malik, dan Dawud, bahwa keduanya berpendapat khamr itu suci." (Al-Majmu', 2/563)

Ash-Shan'ani berkata:

«فَإِذَا عَرَفْتَ هَذَا، فَتَحْرِيمُ الْحُمُرِ وَالْخَمْرِ الَّذِي دَلَّتْ عَلَيْهِ النُّصُوصُ، لَا يَلْزَمُ مِنْهُ نَجَاسَتُهُمَا، بَلْ لَا بُدَّ مِنْ دَلِيلٍ آخَرَ عَلَيْهِ، وَإِلَّا بَقِيَتَا عَلَى الْأَصْلِ الْمُتَّفَقِ عَلَيْهِ مِنَ الطَّهَارَةِ، فَمَنِ ادَّعَى خِلَافَهُ، فَالدَّلِيلُ عَلَيْهِ».

"Jika kamu telah mengetahui hal ini, maka pengharaman keledai dan khamr yang ditunjukkan oleh dalil-dalil tidaklah mengharuskan keduanya najis. Bahkan harus ada dalil lain yang menunjukkan kenajisannya. Jika tidak ada, maka keduanya tetap berada pada hukum asal yang telah disepakati, yaitu kesucian. Barang siapa mengklaim adanya hukum yang berbeda, maka dialah yang harus mendatangkan dalil." (Subul as-Salam, 1/36)

Asy-Syaukani berkata:

«لَيْسَ فِي نَجَاسَةِ الْمُسْكِرِ دَلِيلٌ يَصْلُحُ لِلتَّمَسُّكِ بِهِ».

"Tidak terdapat dalil mengenai najisnya sesuatu yang memabukkan yang layak dijadikan sebagai pegangan." (As-Sail al-Jarrar, hlm. 25)

Ibnu Utsaimin berkata:

«الْخَمْرُ لَيْسَتْ بِنَجِسَةٍ، وَلَوْ كَانَتْ عَلَى صِفَتِهَا خَمْرًا».

"Khamr tidaklah najis, meskipun masih dalam bentuk khamr." (Asy-Syarh al-Mumti', 1/27)

Syeikh Al-Albani berkata:

«وَغَيْرُ هَؤُلَاءِ كَثِيرُونَ مِنَ الْمُتَأَخِّرِينَ مِنَ الْبَغْدَادِيِّينَ وَالْقَرَوِيِّينَ رَأَوْا جَمِيعًا أَنَّ الْخَمْرَ طَاهِرَةٌ، وَأَنَّ الْمُحَرَّمَ إِنَّمَا هُوَ شُرْبُهَا، كَمَا فِي «تَفْسِيرِ الْقُرْطُبِيِّ» (6/88)، وَهُوَ الرَّاجِحُ، وَلِلْأَصْلِ الْمُشَارِ إِلَيْهِ آنِفًا [وَهُوَ أَنَّ الْأَصْلَ الطَّهَارَةُ، فَلَا يَنْقُلُ عَنْهَا إِلَّا نَاقِلٌ صَحِيحٌ لَمْ يُعَارِضْهُ مَا يُسَاوِيهِ أَوْ يُقَدَّمُ عَلَيْهِ]، وَعَدَمِ الدَّلِيلِ الْمُعَارِضِ».

"Selain mereka, masih banyak ulama belakangan dari Baghdad dan Qairawan yang semuanya berpendapat bahwa khamr itu suci dan yang diharamkan hanyalah meminumnya, sebagaimana disebutkan dalam Tafsir al-Qurthubi, 6/88. Pendapat inilah yang lebih kuat, berdasarkan hukum asal yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu bahwa hukum asal segala sesuatu adalah suci. Tidak boleh memindahkannya dari hukum asal tersebut kecuali dengan dalil yang sahih yang tidak bertentangan dengan dalil lain yang sederajat atau lebih kuat, sementara tidak terdapat dalil yang menyelisihinya."

(Tamam al-Minnah, hlm. 54)

Dan Syekh al-Albani juga berkata:

فَأَيُّ مَاءٍ وَقَعَتْ فِيهِ نَجَاسَةٌ، سَوَاءٌ كَانَتْ هَذِهِ النَّجَاسَةُ بَوْلًا أَوْ غَائِطًا أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ أَيَّ شَيْءٍ، فَإِذَا تَغَيَّرَ أَحَدُ أَوْصَافِ الْمَاءِ الثَّلَاثَةِ بِسَبَبِ هَذِهِ النَّجَاسَةِ الطَّارِئَةِ، فَقَدْ خَرَجَ الْمَاءُ عَنْ كَوْنِهِ مَاءً طَهُورًا، فَلَا يَجُوزُ حِينَئِذٍ شُرْبُهُ، إِلَّا إِذَا دَخَلَ فِي دَائِرَةِ الطَّاهِرِ دُونَ الْمُطَهِّرِ، وَهَذَا أَيْضًا لَهُ تَفْصِيلٌ آخَرُ، الْمُهِمُّ أَنَّهُ لَا يَلْزَمُ مِنْ وُقُوعِ النَّجَاسَةِ فِي مَادَّةٍ سَائِلَةٍ أَنْ تُصْبِحَ هَذِهِ الْمَادَّةُ السَّائِلَةُ نَجِسَةً مُحَرَّمَةً.

وَعَلَى ذَلِكَ، فَإِذَا كَانَ هُنَاكَ مَاءٌ طَاهِرٌ مُطَهِّرٌ، وَوَقَعَتْ فِيهِ قَلِيلٌ أَوْ كَثِيرٌ مِنَ الْخَمْرِ، وَالْخَمْرُ مُحَرَّمَةٌ بِنَصِّ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَإِجْمَاعِ الْأُمَّةِ، مَعَ خِلَافٍ فِي بَعْضِ الْخُمُورِ شَكْلِيٌّ لَا يَضُرُّ الْآنَ فِي مَوْضُوعِنَا.

فَإِذَا وَقَعَتِ الْخَمْرَةُ فِي الْمَاءِ، هَلْ صَارَ هَذَا الْمَاءُ مُحَرَّمًا شُرْبُهُ؟ وَلَا أَقُولُ: هَلْ صَارَ نَجِسًا؛ لِأَنَّ أَصَحَّ قَوْلَيِ الْعُلَمَاءِ أَنَّ كَوْنَ الشَّيْءِ مُحَرَّمًا لَا يَسْتَلْزِمُ أَنْ يَكُونَ نَجِسًا، وَعَلَى الْعَكْسِ مِنْ ذَلِكَ: كُلُّ نَجِسٍ مُحَرَّمٌ، وَلَيْسَ كُلُّ مُحَرَّمٍ نَجِسًا. فَالْخَمْرُ مُحَرَّمَةٌ لَا شَكَّ وَلَا رَيْبَ، كَالْفِضَّةِ وَالذَّهَبِ، فَمَنْ كَانَ فِي جَيْبِهِ شَيْءٌ مِنْ هَذِهِ الْمُحَرَّمَاتِ بِطَرِيقَةٍ أَوْ بِأُخْرَى، فَلَا يَعْنِي ذَلِكَ أَنَّهُ إِذَا صَلَّى وَالْحَالَةُ هَذِهِ أَنَّ صَلَاتَهُ بَاطِلَةٌ؛ لِأَنَّهُ لَمْ يَحْمِلِ النَّجَاسَةَ، لِأَنَّ الْمُحَرَّمَ لَا يَسْتَلْزِمُ أَنْ يَكُونَ نَجِسًا، فَالْخَمْرُ مُحَرَّمٌ، وَلَكِنَّهُ لَيْسَ نَجِسًا.

فَإِذَا وَقَعَ شَيْءٌ مِنَ الْخَمْرِ، بَلْ كَمَا قُلْنَا آنِفًا بِالنِّسْبَةِ لِلْكُحُولِ، وَهُوَ أُمُّ الْخَمْرِ، فَلَا يَلْزَمُ مِنْ ذَلِكَ أَنْ يَكُونَ هَذَا السَّائِلُ قَدْ تَنَجَّسَ، وَإِنَّمَا قَدْ يَصِيرُ مُحَرَّمًا إِذَا صَارَ خَمْرًا، أَيْ إِذَا غَلَبَ الْخَمْرُ أَوِ الْكُحُولُ عَلَى السَّائِلِ، فَجَعَلَهُ خَمْرًا، حِينَئِذٍ لَا يَجُوزُ شُرْبُهُ.

فَهَذِهِ الْمَشْرُوبَاتُ الَّتِي جَاءَ السُّؤَالُ عَنْهَا كَالْبِيبْسِي وَنَحْوِهَا، إِنْ كَانَ فِيهَا شَيْءٌ مِنَ الْكُحُولِ، فَلَا يَجْعَلُهُ مُسْكِرًا، وَبِالتَّالِي لَا يَجْعَلُهُ نَجِسًا، فَيَجُوزُ شُرْبُهُ، وَلَكِنْ لَا يَجُوزُ صُنْعُهُ.

أَرْجُو الِانْتِبَاهَ لِهَذِهِ الْخُلَاصَةِ: لَا يَجُوزُ شُرْبُهُ إِنْ كَانَ فِيهِ شَيْءٌ مِنَ الْمَادَّةِ الَّتِي حَوَّلَتِ الشَّرَابَ إِلَى خَمْرٍ، وَلَكِنْ عَفْوًا، صُنْعُهُ لَا يَجُوزُ صُنْعُهُ بِسَبَبِ صَبِّ الْمُحَرَّمِ فِيهِ، لَكِنْ يَجُوزُ شُرْبُهُ إِنْ لَمْ يَتَحَوَّلْ إِلَى خَمْرٍ. هَذِهِ الْخُلَاصَةُ يَجِبُ أَنْ نُفَرِّقَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ مَا يُقَابِلُهَا.

“Air apa pun yang terkena najis, baik najis tersebut berupa air kencing, kotoran, darah yang mengalir, atau benda najis lainnya, apabila salah satu dari tiga sifat air berubah disebabkan oleh najis yang masuk tersebut, maka air itu tidak lagi berstatus sebagai air yang suci dan menyucikan. Dengan demikian, air tersebut tidak boleh diminum, kecuali jika masuk dalam kategori air yang suci tetapi tidak menyucikan. Hal ini pun masih memiliki rincian lain. Yang penting untuk dipahami, masuknya najis ke dalam suatu zat cair tidak mesti menjadikan zat cair tersebut najis dan haram.

Berdasarkan hal itu, apabila terdapat air yang suci dan menyucikan, kemudian ke dalamnya jatuh sedikit atau banyak khamar, sedangkan khamar diharamkan berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan ijma’ umat, meskipun terdapat perbedaan pendapat pada sebagian jenis khamar yang secara hakikat perbedaan tersebut tidak berpengaruh terhadap pembahasan kita ini.

Apabila khamar jatuh ke dalam air, apakah air tersebut menjadi haram diminum?

Saya tidak mengatakan apakah air itu menjadi najis, karena pendapat yang paling benar di antara pendapat para ulama adalah bahwa sesuatu yang haram tidak mesti najis. Sebaliknya, setiap yang najis adalah haram, tetapi tidak setiap yang haram itu najis.

Khamar jelas dan tidak diragukan lagi keharamannya, demikian pula perak dan emas dalam keadaan tertentu. Apabila seseorang membawa sesuatu dari benda-benda yang diharamkan tersebut di dalam sakunya dengan cara apa pun, bukan berarti apabila ia salat dalam keadaan demikian salatnya menjadi batal karena ia membawa najis. Ia tidak membawa benda najis, sebab sesuatu yang haram tidak mesti merupakan benda najis. Khamar adalah haram, tetapi bukan berarti ia najis.

Apabila sebagian khamar masuk ke dalam suatu cairan, demikian pula sebagaimana telah kita jelaskan sebelumnya mengenai alkohol yang merupakan bahan utama khamar, tidak mesti cairan tersebut menjadi najis. Namun, cairan itu bisa menjadi haram apabila berubah menjadi khamar, yaitu apabila khamar atau alkohol tersebut mendominasi cairan sehingga menjadikannya khamar. Pada saat itulah cairan tersebut tidak boleh diminum.

Adapun minuman yang ditanyakan, seperti Pepsi dan semisalnya, apabila di dalamnya terdapat sedikit alkohol, hal itu tidak menjadikannya memabukkan dan dengan demikian tidak menjadikannya najis. Oleh karena itu, minuman tersebut boleh diminum, tetapi tidak boleh dibuat dengan cara memasukkan bahan yang diharamkan ke dalamnya.

Perhatikan kesimpulan ini dengan baik: tidak boleh meminumnya apabila terdapat suatu bahan yang mengubah minuman tersebut menjadi khamar. Namun, maaf, membuatnya tetap tidak diperbolehkan karena memasukkan bahan yang haram ke dalamnya. Adapun meminumnya diperbolehkan selama minuman tersebut tidak berubah menjadi khamar.

Kesimpulan ini harus kita bedakan dengan persoalan yang berlawanan dengannya.”

[ Lihat: Jāmi‘ at-Turāṡ, karya Syekh al-Albani dalam bidang fikih, 17/346. ]

====

DALIL PENDAPAT PERTAMA BAHWA KHAMR ITU SUCI

 -----

DALIL PERTAMA:
DARI HADITS NABAWI

HADITS KE [1].

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

«كُنْتُ سَاقِيَ الْقَوْمِ فِي مَنْزِلِ أَبِي طَلْحَةَ، وَكَانَ خَمْرُهُمْ يَوْمَئِذٍ الْفَضِيخَ، فَأَمَرَ رَسُولُ اللهِ ﷺ مُنَادِيًا يُنَادِي: أَلَا إِنَّ الْخَمْرَ قَدْ حُرِّمَتْ.

قَالَ: فَقَالَ لِي أَبُو طَلْحَةَ: اخْرُجْ فَأَهْرِقْهَا.

فَخَرَجْتُ فَهَرَقْتُهَا، فَجَرَتْ فِي سِكَكِ الْمَدِينَةِ».

“Aku adalah orang yang bertugas menuangkan minuman untuk suatu kaum di rumah Abu Thalhah. Pada waktu itu, khamr mereka adalah al-fadhikh. Kemudian Rasulullah memerintahkan seorang penyeru untuk menyerukan: ‘Ketahuilah, sesungguhnya khamr telah diharamkan.’ Anas berkata: Abu Thalhah berkata kepadaku, ‘Keluarlah dan tumpahkanlah khamr itu.’ Maka aku pun keluar dan menumpahkannya, hingga khamr tersebut mengalir di jalan-jalan kota Madinah.”

[HR. Al-Bukhari (2464), dan lafaz ini miliknya; Muslim (1980)]

Sisi pendalilan:

Jalan-jalan kaum muslimin tidak boleh dijadikan tempat untuk menumpahkan benda najis. Oleh karena itu, seseorang diharamkan buang air kecil di jalan atau menuangkan benda najis ke jalan.

Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara jalan yang luas maupun yang sempit. Sebagaimana disebutkan dalam hadits:

«اتَّقُوا اللَّعَّانَيْنِ». قَالُوا: وَمَا اللَّعَّانَانِ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ النَّاسِ، أَوْ فِي ظِلِّهِمْ».

“Jauhilah dua perkara yang menyebabkan laknat.”

Para sahabat bertanya, “Apakah dua perkara yang menyebabkan laknat itu, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Orang yang buang hajat di jalan yang dilalui manusia atau di tempat mereka berteduh.”

[HR. Muslim (269). Lihat juga Tafsir al-Qurthubi, 6/288; Asy-Syarh al-Mumti' karya Ibnu Utsaimin, 1/430]

HADITS KE [2].

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

«أَنَّ رَجُلًا أَهْدَى لِرَسُولِ اللهِ ﷺ رَاوِيَةَ خَمْرٍ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ: هَلْ عَلِمْتَ أَنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَهَا؟ قَالَ: لَا. فَسَارَّ إِنْسَانًا، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ: بِمَ سَارَرْتَهُ؟ فَقَالَ: أَمَرْتُهُ بِبَيْعِهَا. فَقَالَ: «إِنَّ الَّذِي حَرَّمَ شُرْبَهَا حَرَّمَ بَيْعَهَا». قَالَ: فَفَتَحَ الْمَزَادَةَ حَتَّى ذَهَبَ مَا فِيهَا».

“Seorang laki-laki menghadiahkan kepada Rasulullah sebuah wadah berisi khamr. Rasulullah bertanya kepadanya, ‘Apakah engkau telah mengetahui bahwa Allah telah mengharamkannya?’ Ia menjawab, ‘Belum.’ Kemudian seseorang berbicara secara diam-diam kepadanya. Rasulullah bertanya, ‘Apa yang engkau bisikkan kepadanya?’ Ia menjawab, ‘Aku menyuruhnya menjual khamr itu.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Zat yang mengharamkan meminumnya juga mengharamkan menjualnya.’ Ibnu Abbas berkata: Kemudian orang tersebut membuka wadah khamr itu hingga seluruh isinya tumpah.” [HR. Muslim (1579)]

Sisi pendalilan:

Peristiwa tersebut terjadi di hadapan Nabi , tetapi beliau tidak memerintahkannya untuk mencuci wadah tersebut. Hal itu terjadi setelah khamr diharamkan, tanpa diragukan lagi.

[Lihat Asy-Syarh al-Mumti' karya Ibnu Utsaimin, 1/431]

---- 

DALIL KEDUA:
KETIKA KHAMR DI HARAMKAN, TIDAK ADA PERINTAH UNTUK CUCI WADAH

Sebelum khamar diharamkan, kaum Muslimin biasa menyimpannya di dalam wadah-wadah mereka, dan terkadang khamar tersebut mengenai sebagian tubuh atau pakaian mereka. Ketika turun ayat yang mengharamkannya dan mereka kemudian menumpahkannya, tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa seorang pun dari mereka mencuci bagian tubuh, pakaian, ataupun wadah mereka yang terkena khamar tersebut.

Seandainya khamr itu najis, tentu mereka akan diperintahkan untuk mencucinya, sebagaimana mereka diperintahkan untuk mencuci wadah-wadah yang digunakan untuk daging keledai jinak ketika daging tersebut diharamkan dalam Perang Khaibar.

[Lihat: Asy-Syarh al-Mumti' karya Ibnu Utsaimin, 1/430 dan Mawsu’ah Ahkam ath-Thoharoh karya ad-Dibyan 13/414]

---

DALIL KETIGA:
HUKUM HARAM ITU BELUM TENTU NAJIS

Najis merupakan suatu hukum syariat yang membutuhkan dalil syariat. Tidak terdapat nash dalam syariat yang menunjukkan bahwa khamar secara zat merupakan najis secara indrawi. Hukum asal segala sesuatu adalah suci. Khamar juga pada asalnya suci sebelum diharamkan, maka demikian pula setelah diharamkan. Sebab, pengharaman semata tidak serta-merta menunjukkan kenajisan.

Bukankah racun juga demikian? Racun haram untuk dikonsumsi, tetapi tidak berarti ia najis. Khamar sendiri dibuat dari bahan-bahan yang suci, seperti anggur dan yang semisalnya. Proses bahan tersebut mengalami fermentasi, menjadi lebih kuat, dan mendidih tidaklah mengharuskan kenajisannya. Sebab, daging juga dapat membusuk dan mengalami perubahan bau, tetapi tidak dengan sendirinya dikatakan sebagai benda najis.

[Lihat Al-Majmu' karya An-Nawawi, 3/563]

----

DALIL KEEMPAT:
HUKUM ASAL SEGALA BENDA ADALAH SUCI

Hukum asal benda-benda adalah suci. Tidak boleh menetapkan kenajisannya kecuali berdasarkan dalil. [Lihat Subul as-Salam karya Ash-Shan'ani, 1/36]

----

DALIL KE LIMA:
ATSAR PARA SAHABAT TENTANG PRODUKSI MAKANAN DAN MINUMAN
YANG MENGANDUNG KHAMR TAPI TIDAK MEMABUKKAN

Muhammad Rasyid ridho dalam al-Manar 23/568 menjelaskan:

وثَبَتَ أَكْلُ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ لِلْمَرِيِّ الْمَصْنُوعِ مِنَ الْخَمْرِ وَالسَّمَكِ، فَفِي كِتَابِ الصَّيْدِ مِنْ صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ أَنَّ أَبَا الدَّرْدَاءِ قَالَ فِي الْمَرِيِّ: «ذَبَحَ الْخَمْرَ النِّينَانُ وَالشَّمْسُ»، وَالْمَرِيُّ مِنَ التَّوَابِلِ الْمُثِيرَةِ لِشَهْوَةِ الطَّعَامِ، وَهُوَ بِضَمِّ الْمِيمِ وَسُكُونِ الرَّاءِ، وَضُبِطَ فِي النِّهَايَةِ تَبَعًا لِلصِّحَاحِ بِتَشْدِيدِ الرَّاءِ نِسْبَةً إِلَى الْمُرِّ، وَهُوَ الطَّعْمُ الْمَعْرُوفُ، وَالنِّينَانُ جَمْعُ نُونٍ، وَهُوَ الْحُوتُ، وَإِسْنَادُ ذَبْحِ الْخَمْرِ إِلَى السَّمَكِ وَالشَّمْسِ مَجَازِيٌّ، مَعْنَاهُ: أَنَّهُمَا ذَهَبَا بِطَعْمِ الْخَمْرِ وَإِسْكَارِهَا، كَمَا كَانُوا يُعَبِّرُونَ عَنْ تَأْثِيرِ مَزْجِهَا بِالْمَاءِ إِذَا كَثُرَ بِالْقَتْلِ، كَمَا قَالَ حَسَّانُ:

إِنَّ الَّتِي عَاطَيْتَنِي فَشَرِبْتُهَا ... قَتَلَتْ قَتَلْتَ فَهَاتِهَا لَمْ تُقْتَلِ

Telah diriwayatkan bahwa para sahabat radhiyallahu ‘anhum memakan Al-Mariy yang dibuat dari khamr dan ikan. Dalam Kitab ash-Shoyd dari Shahih al-Bukhari disebutkan:

أَنَّ أَبَا الدَّرْدَاءِ قَالَ فِي الْمَرِيِّ: «ذَبَحَ الْخَمْرَ النِّينَانُ وَالشَّمْسُ»

Bahwa Abu ad-Darda’ berkata mengenai Al-Mariy: “ Ikan-ikan dan matahari telah ‘menyembelih’ khamr.”

Al-Mariy adalah salah satu jenis bumbu yang dapat membangkitkan selera makan. Kata tersebut dibaca dengan dhammah pada huruf mim dan sukun pada huruf ra. Dalam kitab An-Nihayah, mengikuti penjelasan dalam Ash-Shihah, kata tersebut ditulis dengan tasydid pada huruf ra sebagai nisbah kepada kata al-murr, yaitu rasa yang sudah dikenal, yakni rasa pahit.

Adapun an-ninan adalah bentuk jamak dari nun, yang berarti ikan.

Penyandaran tindakan “menyembelih” khamr kepada ikan dan matahari merupakan ungkapan majazi. Maksudnya adalah bahwa ikan dan matahari telah menghilangkan rasa khamr dan sifat memabukkannya.

Mereka juga biasa menggunakan ungkapan “membunuh” untuk menggambarkan pengaruh pencampuran khamr dengan air apabila air yang dicampurkan cukup banyak.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Hassan bin Tsabit:

“Sesungguhnya minuman yang engkau berikan kepadaku lalu aku meminumnya, telah ‘membunuh’. Engkau telah membunuhnya, maka berikanlah kepadaku minuman itu; ia tidak membunuh.”

Lalu Muhammad Rasyid ridho dalam al-Manar 23/568 melanjutkan penjelasannya:

قَالَ الْحَافِظُ فِي «الْفَتْحِ»: وَهَذَا الْأَثَرُ سَقَطَ مِنْ رِوَايَةِ النَّسَفِيِّ، وَقَدْ وَصَلَهُ إِبْرَاهِيمُ الْحَرْبِيُّ فِي «غَرِيبِ الْحَدِيثِ» لَهُ، مِنْ طَرِيقِ أَبِي الزَّاهِرِيَّةِ، عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ، عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ، فَذَكَرَهُ سَوَاءً.

قَالَ الْحَرْبِيُّ: هَذَا «مَرِيٌّ» يُعْمَلُ بِالشَّامِ، يُؤْخَذُ الْخَمْرُ، فَيُجْعَلُ فِيهِ الْمِلْحُ وَالسَّمَكُ، وَيُوضَعُ فِي الشَّمْسِ، فَيَتَغَيَّرُ عَنْ طَعْمِ الْخَمْرِ،

وَذَكَرَ الْحَافِظُ طُرُقًا أُخْرَى لَهُ، عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ لِلطَّحَاوِيِّ وَعَبْدِ الرَّزَّاقِ، ثُمَّ قَالَ: وَرَوَيْنَاهُ فِي جُزْءِ إِسْحَاقَ بْنِ الْفَيْضِ مِنْ طَرِيقِ عَطَاءِ الْخُرَاسَانِيِّ، قَالَ: سُئِلَ أَبُو الدَّرْدَاءِ عَنْ أَكْلِ الْمَرِيِّ، فَقَالَ: ذَبَحَتِ الشَّمْسُ سُكْرَ الْخَمْرِ، فَنَحْنُ نَأْكُلُ لَا نَرَى بِهِ بَأْسًا.

قَالَ أَبُو مُوسَى: عَبَّرَ عَنْ قُوَّةِ الْمِلْحِ وَالشَّمْسِ، وَغَلَبَتِهَا عَلَى الْخَمْرِ وَإِزَالَتِهَا طَعْمَهَا وَرَائِحَتَهَا بِالذَّبْحِ، إِلَخْ.

ثُمَّ قَالَ: قَالَ: وَكَانَ أَهْلُ الرِّيفِ مِنَ الشَّامِ يَعْجِنُونَ الْمَرِيَّ بِالْخَمْرِ، وَرُبَّمَا يَجْعَلُونَ فِيهِ أَيْضًا السَّمَكَ الَّذِي يُرَبَّى بِالْمِلْحِ، وَالْإِبْزَارَ مِمَّا يُسَمُّونَهُ الصَّحْنَاءَ، وَالْقَصْدُ مِنَ الْمَرِيِّ هَضْمُ الطَّعَامِ، فَيُضِيفُونَ إِلَيْهِ كُلَّ ثَقِيفٍ أَوْ حَرِّيفٍ؛ لِيَزِيدَ فِي جَلَاءِ الْمَعِدَةِ، وَاسْتِدْعَاءِ الطَّعَامِ بِحَرَافَتِهِ، وَكَانَ أَبُو الدَّرْدَاءِ وَجَمَاعَةٌ مِنَ الصَّحَابَةِ يَأْكُلُونَ هَذَا الْمَرِيَّ الْمَعْمُولَ بِالْخَمْرِ، اهـ الْمُرَادُ مِمَّا أَوْرَدَهُ الْحَافِظُ، وَمِمَّا ذَكَرَهُ عَنْ بَعْضِهِمْ تَعْلِيلُ الْحِلِّ بِتَخَلُّلِ الْخَمْرِ، وَلَا يَصِحُّ إِلَّا عَلَى التَّشْبِيهِ، وَإِلَّا فَإِنَّ الْخَلَّ مَائِعٌ لَا طَعَامٌ.

هَذَا الْأَثَرُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ أُولَئِكَ الصَّحَابَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ كَانُوا يَعْتَقِدُونَ طَهَارَةَ الْخَمْرِ، وَلَوْ كَانَتْ نَجِسَةً لَتَنَجَّسَ السَّمَكُ وَالْمِلْحُ وَالْإِنَاءُ بِهَا قَبْلَ أَنْ تَذْبَحَهَا الشَّمْسُ، وَمَتَى تَنَجَّسَ السَّمَكُ تَعَذَّرَ تَطْهِيرُهُ عِنْدَ جَمَاهِيرِ الْفُقَهَاءِ، إِلَّا مَنْ يَقُولُ: إِنَّ اسْتِحَالَةَ الْعَيْنِ، وَزَوَالَ نَتَنِ النَّجَاسَةِ مُطَهِّرٌ، وَهَذَا الْقَوْلُ يَقْتَضِي حِلَّ جَمِيعِ الْأَدْهَانِ وَالْأَدْوِيَةِ الَّتِي تَدْخُلُهَا نَجَاسَةٌ إِذَا زَالَ نَتَنُهَا، بِحَيْثُ لَا يُعَدُّ ذَلِكَ الشَّيْءُ قَذِرًا لُغَةً، وَلَا عُرْفًا.

وَهَذَا هُوَ مُدْرَكُ الْحَنَفِيَّةِ، وَهُوَ مُدْرَكٌ صَحِيحٌ، وَلَكِنْ خَرَجُوا عَنْهُ فِي بَعْضِ الْمَسَائِلِ، وَمِنَ الْعَجِيبِ أَنَّ إِخْوَانَنَا عُلَمَاءَ الْهِنْدِ الَّذِينَ شَدَّدُوا فِي وَاقِعَةِ الْفَتْوَى مِنْ فُقَهَاءِ الْحَنَفِيَّةِ فِيمَا يَظْهَرُ، وَلَكِنَّهُمْ لَمَّا اجْتَهَدُوا فِي الْمَسْأَلَةِ كَانَ اجْتِهَادُهُمْ بَعِيدًا عَنْ مُدْرَكِ الْمَذْهَبِ الَّذِي تَفَقَّهُوا فِيهِ، وَمِثْلُ هَذَا كَثِيرٌ.

Al-Hafidz berkata dalam Al-Fath:

“Riwayat ini tidak tercantum dalam riwayat an-Nasafi. Namun, Ibrahim al-Harbi menyambungkannya dalam kitabnya Gharibul Hadits melalui jalur Abu az-Zahiriyah, dari Jubair bin Nufair, dari Abu ad-Darda’, lalu ia menyebutkan riwayat tersebut dengan redaksi yang sama.

Al-Harbi berkata: ‘Ini adalah mariy yang dibuat di wilayah Syam. Khamr diambil, kemudian dimasukkan ke dalamnya garam dan ikan, lalu diletakkan di bawah sinar matahari. Dengan demikian, rasanya berubah dari rasa khamr.’

Al-Hafidz kemudian menyebutkan beberapa jalur lain dari Abu ad-Darda’, di antaranya melalui ath-Thahawi dan ‘Abdurrazzaq. Kemudian ia berkata:

‘Kami juga meriwayatkannya dalam Juz Ishaq bin al-Faidh melalui jalur ‘Atha’ al-Khurasani. Ia berkata: Abu ad-Darda’ ditanya mengenai memakan murri. Ia menjawab: “Matahari telah membunuh kadar kemabukan khamr. Oleh karena itu, kami memakannya dan tidak menganggapnya sebagai suatu masalah.”’

Abu Musa berkata: ‘Ia menggunakan istilah “membunuh” untuk menggambarkan kekuatan garam dan matahari serta pengaruh keduanya terhadap khamr, yaitu menghilangkan rasa dan aromanya, dan seterusnya.’”

Kemudian al-Hafidz berkata:

“Penduduk pedesaan di Syam biasa membuat mariy dengan mencampurkan khamr ke dalam adonannya. Terkadang mereka juga memasukkan ikan yang diawetkan dengan garam ke dalamnya, serta berbagai rempah-rempah yang mereka sebut ash-shahna’. Tujuan pembuatan mariy adalah membantu mencerna makanan. Oleh karena itu, mereka menambahkan berbagai bahan yang kuat atau pedas agar lebih efektif membersihkan lambung dan membangkitkan selera makan dengan rasa pedasnya.

Abu ad-Darda’ dan sejumlah sahabat biasa memakan mariy yang dibuat dengan khamr ini.”

Demikianlah maksud dari apa yang dinukil oleh al-Hafidz.

Adapun apa yang disebutkan oleh sebagian ulama bahwa kebolehan tersebut disebabkan oleh berubahnya khamr menjadi cuka, maka hal itu tidak tepat kecuali jika dipahami sebagai perumpamaan. Sebab, cuka adalah benda cair, bukan makanan.

Riwayat ini menunjukkan bahwa para sahabat tersebut radhiyallahu ‘anhum berkeyakinan bahwa khamr adalah suci. Seandainya khamr itu najis, tentu ikan, garam, dan wadah yang digunakan akan menjadi najis karena terkena khamr sebelum khamr tersebut “dibunuh” oleh sinar matahari.

Apabila ikan telah menjadi najis, maka menurut mayoritas fuqaha akan sulit untuk menyucikannya, kecuali menurut pendapat ulama yang mengatakan bahwa berubahnya hakikat suatu benda dan hilangnya bau busuk najis merupakan sesuatu yang dapat menyucikannya.

Pendapat ini mengharuskan bolehnya seluruh minyak dan obat-obatan yang mengandung najis apabila bau najisnya telah hilang, sehingga benda tersebut tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang kotor, baik menurut bahasa maupun menurut kebiasaan masyarakat.

Inilah dasar pemikiran mazhab Hanafi. Dan dasar pemikiran tersebut benar. Namun, mereka menyimpang dari prinsip tersebut dalam beberapa masalah.

Yang mengherankan adalah bahwa saudara-saudara kita, para ulama India, yang dalam kasus fatwa ini tampaknya berasal dari kalangan fuqaha Hanafi, ketika mereka melakukan ijtihad dalam masalah tersebut, hasil ijtihad mereka justru jauh dari dasar pemikiran mazhab yang mereka pelajari dan ikuti.

Hal semacam ini banyak terjadi.”

----

DALIL KE ENAM
KHAMR TIDAK NAJIS SECARA FISIK atau INDRAWI

Sesungguhnya khamr tidak tergolong benda yang najis secara indrawi.

Muhammad Rasyid ridho dalam al-Manar 23/568 menjelaskan:

الْخَمْرُ طَاهِرَةٌ حِسًّا وَشَرْعًا:

أَمَّا كَوْنُ الْخَمْرِ طَاهِرَةً غَيْرَ نَجِسَةٍ نَجَاسَةً حِسِّيَّةً، فَهُوَ أَمْرٌ حِسِّيٌّ لَا يُمْكِنُ الْمِرَاءُ فِيهِ، وَأَمَّا كَوْنُهَا طَاهِرَةً شَرْعًا مِنَ الْجِهَةِ الْحِسِّيَّةِ -وَإِنْ كَانَتْ أُمَّ الْخَبَائِثِ وَالرِّجْسَ الْمَعْنَوِيَّ- فَلِأَنَّ الْأَصْلَ فِي الْأَشْيَاءِ الطَّهَارَةُ، وَلَيْسَ فِي الشَّرْعِ مَا يُخَالِفُ الْحِسَّ.

وَمَا وَرَدَ فِي الشَّرْعِ مِنَ الْحَثِّ عَلَى الطَّهَارَةِ وَالنَّظَافَةِ الْحِسِّيَّةِ فَلَا يُفْهَمُ مِنْهُ إِلَّا التَّنَزُّهُ عَنِ الْأَقْذَارِ، كَمَا وَرَدَ فِي حَدِيثِ تَطْهِيرِ الْمَسْجِدِ مِنْ بَوْلِ الْأَعْرَابِيِّ، وَإِزَالَةِ مَا أَصَابَ الْبَدَنَ أَوِ الثَّوْبَ أَوِ الْمَكَانَ بِإِذْهَابِ عَيْنِهِ، أَوْ إِذْهَابِ قَذَارَتِهِ، بِحَيْثُ لَا تَنْفِرُ الطِّبَاعُ السَّلِيمَةُ مِمَّا أَصَابَهُ.

وَإِنَّمَا كَانَ يَصِحُّ إِلْحَاقُ الشَّرْعِ الْخَمْرَ بِالنَّجَاسَاتِ الْحِسِّيَّةِ لِوُرُودِ الْأَمْرِ الصَّرِيحِ بِغَسْلِ مَا أَصَابَهُ شَيْءٌ مِنَ الْخَمْرِ، وَلَمْ يَرِدْ، وَقَدْ كَانُوا يَشْرَبُونَهَا إِلَى آخِرِ مُدَّةِ النَّبِيِّ ﷺ؛ إِذْ لَمْ تُحَرَّمْ قَطْعِيًّا إِلَّا فِي سُورَةِ الْمَائِدَةِ، وَهِيَ مِنْ آخِرِ مَا نَزَلَ مِنَ الْقُرْآنِ.

وَلَا شَكَّ فِي أَنَّ الشَّارِبِينَ لَهَا لَا يُسَلِّمُونَ مِنْ إِصَابَةِ أَيْدِيهِمْ وَثِيَابِهِمْ بِشَيْءٍ مِنْهَا، وَلَوْ كَانَتْ مِنَ النَّجَاسَاتِ وَالْأَقْذَارِ فِي الْوَاقِعِ وَنَفْسِ الْأَمْرِ، أَوْ فِي حُكْمِ اللهِ تَعَالَى، لَأَمَرُوا بِالتَّنَزُّهِ عَنْهَا قَبْلَ تَحْرِيمِهَا.

وَكَانَ يَكُونُ ذَلِكَ مِنَ الْمُنَفِّرَاتِ عَنْهَا، الْمُمَهِّدَاتِ لِتَخْفِيفِ وَقْعِ تَحْرِيمِهَا عَلَى نُفُوسِهِمْ، كَالَّذِي ذَكَرَهُ الْمُفَسِّرُونَ مِنَ التَّنْفِيرِ عَنْهَا بِآيَتَيِ الْبَقَرَةِ وَالنِّسَاءِ، وَلَمَا أَخَّرَ بَيَانَ نَجَاسَتِهَا إِلَى وَقْتِ نُزُولِ الْقَطْعِ بِتَحْرِيمِهَا.

وَلَا يُقَالُ: إِنَّهَا إِنَّمَا صَارَتْ نَجِسَةً بِالتَّحْرِيمِ؛ لِأَنَّ الْكَلَامَ فِي النَّجَاسَةِ الْحِسِّيَّةِ، وَهَذَا لَا يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الْحُكْمِ، فَهِيَ مَا زَالَتْ كَمَا كَانَتْ قَبْلَ التَّحْرِيمِ، وَرُبَّمَا طَيَّبَهَا النَّاسُ بَعْدَ ذَلِكَ، فَكَانَتْ أَبْعَدَ عَنِ الْقَذَارَةِ مِمَّا كَانَتْ، وَسَيَأْتِي مَا يُؤَيِّدُ هَذَا.

KHAMR ADALAH SUCI SECARA INDRAWI DAN MENURUT SYARIAT

Adapun mengenai status khamr sebagai benda yang suci dan tidak najis secara indrawi, hal tersebut merupakan persoalan yang dapat diketahui melalui pengamatan indrawi dan pada dasarnya tidak dapat diperselisihkan. Adapun mengenai kesuciannya menurut syariat dalam pengertian tidak adanya kenajisan secara indrawi—meskipun khamr merupakan induk segala keburukan dan termasuk dalam kategori rijs secara maknawi—maka hal itu didasarkan pada kaidah bahwa hukum asal segala sesuatu adalah suci. Tidak terdapat ketentuan syariat yang bertentangan dengan kenyataan yang dapat ditangkap oleh indra.

Adapun berbagai keterangan syariat yang menganjurkan kebersihan dan kesucian secara fisik, maka maksudnya adalah menjauhkan diri dari segala bentuk kotoran dan najis. Hal ini sebagaimana ditunjukkan dalam hadits tentang penyucian masjid dari air kencing seorang Arab Badui, serta perintah menghilangkan sesuatu yang mengenai tubuh, pakaian, atau tempat dengan cara menghilangkan benda itu sendiri atau menghilangkan sifat kotornya, sehingga sesuatu yang mengenainya tidak lagi menimbulkan rasa jijik pada tabiat manusia yang sehat.

Khamr baru dapat dikategorikan sebagai najis secara indrawi menurut syariat apabila terdapat perintah yang tegas untuk mencuci sesuatu yang terkena khamr. Namun, perintah semacam itu tidak ditemukan. Padahal, masyarakat pada masa Nabi masih mengonsumsi khamr hingga periode akhir kehidupan beliau. Khamr baru diharamkan secara definitif melalui Surah al-Ma’idah, yang termasuk di antara surah-surah terakhir yang diturunkan kepada Nabi .

Tidak diragukan bahwa orang-orang yang mengonsumsi khamr tidak mungkin terhindar dari terkenanya tangan dan pakaian mereka oleh khamr. Seandainya khamr memang termasuk benda najis dan kotor secara hakiki, baik menurut kenyataan maupun menurut ketetapan hukum Allah Ta’ala, tentu mereka telah diperintahkan untuk menjauhi dan membersihkannya sebelum pengharaman khamr ditetapkan.

Perintah semacam itu tentu akan menjadi salah satu sarana untuk menimbulkan rasa enggan terhadap khamr sekaligus mempersiapkan jiwa mereka agar lebih mudah menerima pengharamannya. Hal tersebut serupa dengan tahapan yang disebutkan oleh para mufasir mengenai upaya menimbulkan sikap enggan terhadap khamr melalui dua ayat dalam Surah al-Baqarah dan Surah an-Nisa’. Oleh karena itu, tidak semestinya penjelasan mengenai kenajisan khamr ditangguhkan hingga saat turunnya ketetapan yang secara tegas mengharamkannya.

Tidak dapat pula dikatakan bahwa khamr menjadi najis semata-mata karena telah diharamkan. Sebab, pembahasan ini berkaitan dengan kenajisan secara indrawi, sedangkan kenajisan dalam pengertian tersebut tidak berubah hanya karena adanya perubahan hukum. Dengan demikian, khamr tetap berada dalam keadaan sebagaimana sebelum pengharamannya. Bahkan, setelah itu manusia mungkin saja telah mengolah atau memperlakukannya sedemikian rupa sehingga secara fisik ia menjadi lebih jauh dari sifat kotor dibandingkan sebelumnya”. (Selesai)

----

DALIL KE TUJUH:
NAJIS SAJA BISA HILANG OLEH API, APALAGI KHOMR

Muhammad Rasyid Ridho dalam al-Manar 23/658 berkata:

وَمِنَ الْمُطَهِّرَاتِ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ النَّارُ وَانْقِلَابُ الْعَيْنِ كَالزَّيْتِ النَّجِسِ الَّذِي يَدْخُلُ فِي عَمَلِ الصَّابُونِ، وَمَذْهَبُهُمْ فِيهِ قَوِيٌّ جِدًّا يَدُلُّ عَلَى فِقْهِ الشَّرْعِ وَفَهْمِ كُنْهِ الطَّهَارَةِ الَّتِي طُولِبَ النَّاسُ بِهَا، وَهِيَ النَّظَافَةُ وَالتَّنَزُّهُ عَنِ الْأَقْذَارِ، لَا الْإِعْنَاتُ وَتَكْلِيفُ مَا لَا يُعْقَلُ تَعَبُّدًا مَحْضًا، فَهَذَا الْمَذْهَبُ لَا يَحْتَاجُ إِلَى دَلِيلٍ مِنَ النَّصِّ بِعَيْنِهِ، وَمِمَّا يَدُلُّ عَلَيْهِ إِجْمَاعُ الْأُمَّةِ عَلَى عَدَمِ وُجُوبِ النِّيَّةِ وَلَا اشْتِرَاطِهَا فِي إِزَالَةِ النَّجَاسَةِ، وَلَهُمْ أَنْ يَسْتَدِلُّوا عَلَيْهِ بِحَدِيثِ أَبِي الدَّرْدَاءِ فِي «الْمُرِّي» الَّذِي يُصْنَعُ مِنَ الْخَمْرِ، وَالسَّمَكِ، وَالْمِلْحِ، وَيُوضَعُ فِي الشَّمْسِ، وَقَدْ أَكَلَهُ أَبُو الدَّرْدَاءِ وَغَيْرُهُ مِنَ الصَّحَابَةِ كَمَا سَيَأْتِي، وَنَحْنُ نَسْتَدِلُّ بِهِ عَلَى طَهَارَةِ الْخَمْرِ، وَلَكِنَّهُمْ قَالُوا: لَوْ جُعِلَ الْخَمْرُ فِي مَرَقَةٍ لَا تُؤْكَلُ لِتَنَجُّسِهَا بِهَا، وَلَا حَدَّ مَا لَمْ يُسْكِرْ مِنْهُ (أَيْ الْآكِلَ) لِأَنَّهُ أَصَابَهُ الطَّبْخُ، وَيُكْرَهُ أَكْلُ خُبْزِ عَجِينٍ عَجَنَهُ بِالْخَمْرِ لِقِيَامِ أَجْزَاءِ الْخَمْرِ فِيهِ (اهـ. مِنَ الْهِدَايَةِ).

Di antara sesuatu yang menurut mazhab Hanafi dapat menyucikan najis adalah api dan berubahnya hakikat suatu benda. Contohnya adalah minyak yang najis yang digunakan dalam pembuatan sabun. Pendapat mereka dalam masalah ini sangat kuat dan menunjukkan pemahaman mereka terhadap fikih syariat serta hakikat thaharah yang diperintahkan kepada manusia. Hakikat thaharah tersebut adalah kebersihan dan menjauhkan diri dari kotoran, bukan memberikan kesulitan atau membebani manusia dengan sesuatu yang tidak dapat dipahami sebagai bentuk ibadah semata.

Pendapat ini tidak memerlukan dalil khusus secara tekstual. Di antara hal yang menunjukkan hal tersebut adalah ijma’ umat bahwa niat tidak wajib dan tidak disyaratkan dalam menghilangkan najis.

Mereka juga dapat berdalil dengan hadits Abu ad-Darda’ mengenai al-murri, yaitu makanan yang dibuat dari khamr, ikan, dan garam, kemudian diletakkan di bawah sinar matahari. Abu ad-Darda’ dan sejumlah sahabat lainnya memakannya, sebagaimana akan disebutkan nanti. Kami menggunakan hadits tersebut sebagai dalil atas kesucian khamr.

Namun, mereka mengatakan: Jika khamr dimasukkan ke dalam kuah, maka kuah tersebut tidak boleh dimakan karena menjadi najis akibat tercampur dengannya. Adapun seseorang tidak dikenai hukuman had selama ia tidak sampai mabuk karena memakannya, sebab khamr tersebut telah terkena proses pemasakan. Mereka juga memakruhkan memakan roti yang adonannya dibuat dengan khamr karena masih terdapat bagian-bagian khamr di dalamnya. (Dikutip dari kitab Al-Hidayah).

---

DALIL KE DELAPAN:
AGAMA INI MUDAH, MAKA JANGAN DIPERSULIT

Ayat-ayat yang tegas dan hadits-hadits yang sahih lagi jelas telah menerangkan bahwa agama ini adalah agama yang mudah dan tidak mengandung kesulitan.

Di antaranya firman Allah Ta‘ala:

﴿مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى إِلا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَى تَنْزِيلا مِمَّنْ خَلَقَ الأرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلا﴾

“Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah; melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), diturunkan dari (Allah) yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.” [Thaahaa: 2-4]

Dan Allah Ta‘ala berfirman:

﴿يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ﴾

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” [Al-Baqarah: 185]

Allah juga berfirman dalam ayat yang paling komprehensif mengenai masalah bersuci, setelah memerintahkan wudu, mandi, dan tayamum:

﴿مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ﴾

“Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak menyucikan kamu.” [Al-Ma’idah: 6]

Dan Allah Ta‘ala juga berfirman:

﴿وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَعْنَتَكُمْ﴾

“Dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menyusahkan kamu.” [Al-Baqarah: 220]

Maksudnya, tetapi Allah tidak menghendaki untuk menyusahkan kita. Yang dimaksud dengan menyusahkan adalah menempatkan kita dalam perkara yang mengandung kesulitan.

Hadits-hadits yang menerangkan makna ini telah dikenal dan banyak terdapat dalam kitab-kitab Shahih dan Sunan. Oleh karena itu, agama ini disebut sebagai (الْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ), yaitu agama yang lurus dan penuh kemudahan.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu 'anha: Rosulullah bersabda:

«‌إِنَّ ‌اللهَ ‌لَمْ ‌يَبْعَثْنِي ‌مُعَنِّتًا، ‌وَلَا ‌مُتَعَنِّتًا، وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا»

“Sesungguhnya Allah Swt. tidak mengutusku untuk mempersulit atau memperberat, melainkan sebagai seorang pengajar yang memudahkan.” (HR. Muslim no. 1478,.)

Dan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha: Rasulullah bersabda pada hari itu:

«لَتَعْلَمُ يَهُودُ أَنَّ فِي دِينِنَا فُسْحَةً، إِنِّي أُرْسِلْتُ بِحَنِيفِيَّةٍ سَمْحَةٍ».

“Orang-orang Yahudi pasti akan mengetahui bahwa dalam agama kita terdapat kelapangan. Sesungguhnya aku diutus dengan agama yang lurus dan mudah.”

Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad no. 24855. Para peneliti Al-Musnad berkata, 41/349:

حَدِيثٌ قَوِيٌّ، وَهَذَا سَنَدٌ حَسَنٌ، عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي الزِّنَادِ حَسَنُ الْحَدِيثِ. وَبَقِيَّةُ رِجَالِهِ ثِقَاتٌ رِجَالُ الصَّحِيحِ. سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ: هُوَ الطَّيَالِسِيُّ.

“Hadits ini kuat, dan sanadnya hasan. Abdurrahman bin Abi az-Zinad adalah perawi yang haditsnya hasan. Adapun para perawi lainnya adalah tsiqah dan termasuk para perawi yang digunakan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Sulaiman bin Dawud adalah ath-Thayalisi.”

Dan dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu: Rasulullah bersabda:

«إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ بِالْيَهُودِيَّةِ وَلَا بِالنَّصْرَانِيَّةِ، وَلَكِنِّي بُعِثْتُ ‌بِالْحَنِيفِيَّةِ ‌السَّمْحَةِ»

“Sesungguhnya aku tidak diutus dengan ajaran Yahudi dan tidak pula dengan ajaran Nasrani. Akan tetapi, aku diutus dengan agama yang lurus dan mudah.”

[HR. Ahmad no. 22291, ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir no. 7868 dan al-Khothib al-Baghdadi dalam al-Faqiih wa al-Mutafaqqih 2/204]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah bersabda:

«إِنَّ هَذَا الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا، وَأَبْشِرُوا، وَيَسِّرُوا، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ، وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ».

“Sesungguhnya agama ini adalah mudah. Tidaklah seseorang mempersulit agama melainkan agama itu akan mengalahkannya. Maka berusahalah untuk berlaku lurus dan benar, mendekati kesempurnaan, bergembiralah, mudahkanlah, dan manfaatkanlah waktu pagi, sore, serta sebagian waktu malam untuk beramal.”

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 39), An-Nasa’i (no. 5034), dan Ibnu Hibban (no. 351), dan lafaz tersebut adalah riwayat mereka].

Dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah bersabda:

«أَلَا هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ، أَلَا هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ، أَلَا هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ».

“Ketahuilah, binasalah orang-orang yang ekstrim (berlebih-lebihan dalam beragama), ketahuilah, binasalah orang-orang yang ekstrim, ketahuilah, binasalah orang-orang yang ekstrim.”

[Diriwayatkan oleh Muslim (2670), dengan sedikit perbedaan lafaz].

Dari Abu Musa al-Asy’ari bahwa Rasulullah bersabda:

«‌يَسِّرَا ‌وَلَا ‌تُعَسِّرَا، ‌وَبَشِّرَا ‌وَلَا ‌تُنَفِّرَا، ‌وَتَطَاوَعَا ‌وَلَا ‌تَخْتَلِفَا»

“Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari, serta saling membantu dan jangan berselisih.”

[HR. Bukhori no. 3038 dan Muslim no. 1733].

Dan dari Ibnu Abbas rdhiayallahu ‘anhuma bahwa Rosulullah bersabda :

«إنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ»

"Sesungguhnya Allah menyukai keringanan-keringanannya diambil sebagaimana Dia membenci kemaksiatannya didatangi/dikerjakan"

[Diriwayatkan oleh al-Bazzar, sebagaimana disebutkan dalam kitab Kasyf al-Astar karya al-Haitsami (990), ath-Thabrani (11/323, no. 11880), dan Abu Nu‘aim dalam kitab Hilyah al-Auliya (6/276). Dishahihkan Ibnu Hibban dalam Shahihnya no. 354 dan al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 1060]

Di antara perkara yang secara pasti diketahui dalam kehidupan manusia adalah bahwa sebagian orang mampu menanggung beban-beban syariat dengan mudah, sedangkan orang lain tidak mampu menanggungnya kecuali dengan kesulitan. Ada di antara mereka yang secara tabiat cenderung berlebih-lebihan dalam agama atau berpegang teguh pada hukum-hukum yang lebih berat. Ada pula yang bersikap moderat dan pertengahan. Ada yang merasa berat apabila melakukan sesuatu yang melebihi pelaksanaan kewajiban dan meninggalkan perkara yang haram, bahkan ada pula yang kurang dalam melaksanakan hal tersebut.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ﴾

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami. Maka di antara mereka ada yang menzalimi dirinya sendiri, ada yang pertengahan, dan ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah.” [Fathir: 32]

Karena kenyataan yang telah tetap dalam sunnatullah dan tabiat manusia ini, termasuk hikmah agama adalah adanya ketentuan dalam Al-Qur’an dan Sunnah yang maknanya tegas dan pasti, atau kuat dan jelas, seperti perkara yang telah disepakati atau diamalkan oleh mayoritas ulama salaf. Di samping itu, terdapat pula ketentuan yang maknanya tidak begitu jelas.

Dengan demikian, orang-orang yang memiliki tekad kuat dari kalangan ash-shiddiqin al-muqarrabin—mereka yang disebut sebagai “orang-orang yang lebih dahulu berbuat kebaikan” dalam ayat tersebut—dapat mengambil ketentuan yang tidak mungkin dibebankan kepada al-abrar, yaitu orang-orang yang bersikap pertengahan, apalagi kepada orang-orang yang menzalimi diri mereka sendiri.

Adapun pengharaman secara umum yang ditujukan kepada seluruh individu umat adalah pengharaman yang dalilnya bersifat qath‘i, yaitu tidak memberikan ruang untuk takwil dan ijtihad. Adapun perkara yang bersifat ijtihadi, setiap orang mengamalkan apa yang dicapai oleh hasil ijtihadnya. Umat secara keseluruhan tidak boleh dipaksa untuk mengikuti dugaan atau hasil ijtihad seorang mujtahid.

Para ulama fikih mengatakan bahwa perkara pertama yang wajib dilakukan oleh imam kaum Muslimin yang tertinggi dan khalifah Rasul mereka adalah:

«حِفْظُ الدِّينِ عَلَى أُصُولِهِ الْمُسْتَقِرَّةِ، وَمَا أَجْمَعَ عَلَيْهِ سَلَفُ الْأُمَّةِ»

“Menjaga agama berdasarkan prinsip-prinsipnya yang telah mapan dan berdasarkan perkara-perkara yang telah disepakati oleh generasi salaf umat.” (Al-Ahkam as-Sulthaniyyah karya al-Mawardi hal. 40).

Seandainya tidak demikian, setiap khalifah akan membatalkan hasil ijtihad khalifah lainnya dalam persoalan ilmu, kemudian memaksa umat untuk mengikuti pendapatnya dan mengikuti mazhab imamnya.

Di antara bukti atau dalil yang berkaitan dengan pembahasan kita dalam masalah ini adalah bahwa ayat dalam Surah Al-Baqarah mengenai khamar menunjukkan keharamannya dengan dalalah yang kuat, tetapi belum bersifat qath‘i. Sebab, Allah berfirman mengenai khamar dan judi:

﴿إِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا﴾

Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.” [Al-Baqarah: 219]

Artinya, kerusakan yang ditimbulkan oleh keduanya lebih besar daripada manfaatnya. Para ulama fikih menetapkan bahwa mencegah kerusakan didahulukan daripada mengambil kemaslahatan yang seimbang. Lalu bagaimana jika kerusakannya memang lebih dominan?

Meskipun demikian, Umar radhiyallahu ‘anhu tidak menganggap ayat tersebut sebagai penjelasan yang tuntas mengenai hukum khamar. Beliau terus berdoa agar Allah Ta‘ala menurunkan “penjelasan yang tuntas” mengenai khamar.

Namun, sebagian sahabat meninggalkan minum khamar setelah ayat tersebut turun, sedangkan tidak semua sahabat meninggalkannya. Bahkan, Nabi tidak memerintahkan mereka untuk meninggalkannya dan menumpahkan khamar yang masih mereka miliki hingga turun ayat dalam Surah Al-Ma’idah yang secara tegas memerintahkan:

﴿فَاجْتَنِبُوهُ﴾

Maka jauhilah ia.” [Al-Ma’idah: 90]

hingga firman-Nya:

﴿فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ﴾

Maka tidakkah kamu mau berhenti?” [Al-Ma’idah: 91]

Ketika ayat tersebut dibacakan kepada Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

«انْتَهَيْنَا، انْتَهَيْنَا»

Kami telah berhenti, kami telah berhenti.”

****

PENDAPAT KEDUA: KHAMR ADALAH NAJIS.

Khamr adalah najis secara zat (najis ‘aini).

Pendapat ini merupakan pendapat yang disepakati oleh empat mazhab fikih: Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah. Bahkan, dinukil adanya ijma’ mengenai hal tersebut.

SUMBER-SUMBER:

[1] Sumber dari mazhab Hanafiyah:

«Al-Bahr ar-Ra’iq» karya Ibnu Nujaim (8/247). Lihat juga: «Bada’i ash-Shana’i» karya Al-Kasani (1/66).

[2] Sumber dari mazhab Malikiyah:

«Mawahib al-Jalil» karya Al-Haththab (1/126). Lihat juga: «Syarh Mukhtashar Khalil» karya Al-Kharasyi (1/84).

[3] Sumber dari mazhab Syafi’iyah:

«Al-Majmu’» karya An-Nawawi (2/563), dan «Tuhfah al-Muhtaj» karya Ibnu Hajar Al-Haitami (1/303).

[4] Sumber dari mazhab Hanabilah:

«Al-Furu’» karya Ibnu Muflih (1/327), «Al-Inshaf» karya Al-Mardawi (1/229). Lihat juga: «Al-Mughni» karya Ibnu Qudamah (9/171).

====

DALIL PENDAPAT KEDUA BAHWA KHAMR ITU NAJIS

-----

PERTAMA: 
DARI AL-QUR’AN

Firman Allah Ta’ala:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya khamr, perjudian, berhala, dan azlam adalah rijsun (perbuatan keji) termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian beruntung.” [QS. Al-Ma’idah: 90]

Sisi pendalilan:

Firman Allah Ta’ala, ﴿رِجْسٌ﴾ menunjukkan bahwa khamr adalah najis. Sebab, kata “rijs” dalam bahasa Arab berarti kenajisan. [Lihat Tafsir Al-Qurthubi, 6/289]

Tidak menjadi masalah bahwa khamr disebut bersamaan dengan perjudian, berhala, dan azlam, padahal ketiga benda tersebut pada hakikatnya suci. Sebab, tiga perkara tersebut telah dikecualikan berdasarkan ijmak. Dengan demikian, khamr tetap berada pada makna yang ditunjukkan oleh susunan kalimat tersebut. [Lihat Al-Majmu’ karya An-Nawawi, 2/564]

----

BANTAHAN:

Makna ﴿رِجْسٌ﴾ di sini bukan najis, melainkan sifat perbuatan syeitan, yakni perbuatan haram dan dosa.

Kata ﴿رِجْسٌ﴾ di sini disifati dengan firman-Nya ﴿مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ﴾ yakni; “termasuk perbuatan setan”. Dengan demikian, yang dimaksud adalah rijs secara perbuatan, yaitu secara maknawi, bukan rijs secara fisik atau indrawi.

Oleh karena itu, Imam al-Qurthubi berkata:

«﴿مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ﴾: أَيْ بِحَمْلِهِ وَتَزْيِينِهِ».

“’Termasuk perbuatan setan’ maksudnya adalah karena setan mendorong dan menghiasi perbuatan tersebut”. [Lihat : Mawsu’ah Ahkam ath-Thoharah karya ad-Dibyan 13/403]

Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan melalui jalur Abdullah bin Shalih, ia berkata:

قَالَ: حَدَّثَنِي مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَوْلُهُ: ﴿رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ﴾، يَقُولُ: سَخَطٌ.

Mu‘awiyah bin Shalih telah menceritakan kepadaku, dari Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu Abbas mengenai firman Allah: (suatu perbuatan keji yang termasuk perbuatan setan). Ibnu Abbas berkata: “Maksudnya adalah kemurkaan.” [Tafsir ath-Thabari (7/32)]

[Sanad riwayat ini lemah. Ali bin Abi Thalhah, al-Hafidz Ibnu Hajar berkata tentangnya dalam at-Taqrib (hal. 402 no. 4754): “Ia meriwayatkan secara mursal dari Ibnu Abbas dan tidak pernah bertemu dengannya.”

Adapun Abdullah bin Shalih, ia banyak melakukan kesalahan dalam periwayatan. Lihat: Mawsu’ah Ahkam ath-Thoharoh karya Abu Amr Dibyan ad-Dibyan 13/414-415]

Oleh karena itu, Imam an-Nawawi—yang termasuk ulama yang berpendapat bahwa khamr itu najis—tidak memandang ayat tersebut sebagai nash yang secara tegas menunjukkan kenajisan khamr. Beliau rahimahullah berkata:

«وَلَا يَظْهَرُ مِنَ الْآيَةِ دَلَالَةٌ ظَاهِرَةٌ؛ لِأَنَّ الرِّجْسَ عِنْدَ أَهْلِ اللُّغَةِ الْقَذَرُ، وَلَا يَلْزَمُ مِنْ ذَلِكَ النَّجَاسَةُ، وَكَذَا الْأَمْرُ بِالِاجْتِنَابِ لَا يَلْزَمُ مِنْهُ النَّجَاسَةُ».

“Tidak tampak dari ayat tersebut adanya petunjuk yang jelas, karena ar-rijs menurut para ahli bahasa berarti kotoran, dan hal itu tidak serta-merta menunjukkan kenajisan. Demikian pula perintah untuk menjauhinya tidak serta-merta menunjukkan kenajisan.” [Al-Majmu’, 2/582]

Dan sebagaimana pula dalam sabda Nabi tentang keledai jinak itu «رِجْسٌ», yakni sifat dari perbuatan syeitan. Sementara keledai itu sendiri tidak najis.

Dan dari Anas bin Malik dia berkata:

“لَمَّا فَتَحَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ خَيْبَرَ، أَصَبْنَا حُمُرًا خَارِجًا مِنَ ٱلْقَرْيَةِ، فَطَبَخْنَا مِنْهَا، فَنَادَى مُنَادِي رَسُولِ اللَّهِ ﷺ: أَلَا إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يَنْهَيَانِكُمْ عَنْهَا؛ فَإِنَّهَا رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ ٱلشَّيْطَانِ".

"Ketika Rasulullah menaklukkan Khaibar, kami menangkap keledai di luar kampung lalu kami memasaknya. Tiba-tiba datang pesuruh Rasulullah berseru:

'Perhatian! Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya melarang kalian semua memasak daging keledai, karena daging keledai itu RiJS «رِجْسٌ», sesungguhnya itu termasuk perbuatan setan.' [HR. Bukhori no. 2991 dan Muslim no. 1940, 3593].

Dari Ibnu Abi Aufaa radliallahu 'anhu berkata;

«أَصَابَتْنَا مَجَاعَةٌ لَيَالِيَ خَيْبَرَ، فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ خَيْبَرَ وَقَعْنَا فِي الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ فَانْتَحَرْنَاهَا، فَلَمَّا غَلَتْ بِهَا الْقُدُورُ نَادَى مُنَادِي رَسُولِ اللَّهِ ﷺ: أَنْ أَكْفِئُوا الْقُدُورَ ـ وَرُبَّمَا قَالَ ـ وَلَا تَأْكُلُوا مِنْ لُحُومِ الْحُمُرِ شَيْئًا».

"Kami mengalami kelaparan pada beberapa malam saat perang Khaibar. Dan ketika hari penaklukan Khaibar, kami dapatkan keledai-keledai jinak piaraan penduduk, maka kami menyembelihnya. Ketika periuk-periuk sudah mendidih, penyeru Rasulullah mengumandangkan seruan;

"Tumpahkanlah periuk-periuk itu dan janganlah kalian memakan daging-daging keledai sedikitpun". [HR. Bukhori no. 2922]

Hadits Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ نَهَى يَوْمَ خَيْبَرَ عَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ وَأَذِنَ فِي لُحُومِ الْخَيْلِ

“Ketika perang Khaibar, Rasulullah melarang makan daging keledai jinak dan membolehkan memakan daging kuda.” (HR. Bukhari no. 4219 dan Muslim no. 1941)

Ibnu Quddamah berkata:

وَقَوْلُهُ ﷺ: «إِنَّهَا رِجْسٌ». أَرَادَ أَنَّهَا مُحَرَّمَةٌ.

Adapun sabda Rasulullah : Sesungguhnya itu najis,” maksudnya adalah bahwa itu diharamkan. [al-Mughni 1/44]

Dan Ibnu Qudamah berkata dalam kitab *Al-Mughni* 1/44:

وَقَدْ رَوَى جَابِرٌ فِي حَدِيثٍ آخَرَ: «أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ سُئِلَ: أَنَتَوَضَّأُ بِمَا أَفْضَلَتِ الْحُمُرُ؟ قَالَ: نَعَمْ».

Jabir meriwayatkan dalam hadis lain: “Sesungguhnya Nabi ditanya: ‘Apakah kita boleh berwudu dengan sisa air minum keledai?’ Beliau menjawab: ‘Ya.’”

Kemudian Ibnu Quddamah berkata:

وَالصَّحِيحُ عِنْدِي طَهَارَةُ الْبَغْلِ وَالْحِمَارِ؛ لِأَنَّهُ ﷺ كَانَ يَرْكَبُهُمَا، وَيُرْكَبَانِ فِي زَمَنِهِ وَفِي عَصْرِ الصَّحَابَةِ، فَلَوْ كَانَا نَجِسَيْنِ لَبَيَّنَهُ، وَلِأَنَّهُ مِمَّا لَا يُمْكِنُ التَّحَرُّزُ عَنْهُمَا لِمُقْتَنِيهِمَا، فَأَشْبَهَا السِّنَّوْرَ، وَقَوْلُهُ ﷺ: «إِنَّهَا رِجْسٌ». أَرَادَ أَنَّهَا مُحَرَّمَةٌ.

Pendapat yang benar menurutku adalah bahwa bagal dan keledai itu suci, karena Rasulullah menunggangi keduanya, dan keduanya juga ditunggangi sebagai kendaraan pada masa beliau dan di masa para sahabat. Kalau memang najis, tentu beliau akan menjelaskannya. Dan karena sulit menghindari keduanya bagi pemiliknya, maka keduanya menyerupai kucing. Adapun sabda Rasulullah : “Sesungguhnya itu najis,” maksudnya adalah bahwa itu diharamkan.

[Ini juga dikutip darinya oleh Ahmad Al-Manqur dalam kitabnya *Al-Fawaakih Al-‘Adidah* 1/56].

Dan jika seandainya kata “rijs ” di sini dimakani Najis, maka yang di maksud adalah najis maknawi, bukan fisik atau indrawi. Kenapa? Karena Allah swt menyandingkan khamr dengan perjudian, berhala-berhala, dan azlam (anak panah yang digunakan untuk mengundi). Jika benda-benda tersebut tidak termasuk najis secara fisik atau indrawi, maka demikian pula halnya dengan khamr.

Seandainya kata “rijs” (رِجْس) secara tegas menunjukkan kenajisan fisik, niscaya benda-benda tersebut juga akan dihukumi najis secara fisik.

Dikarenakan kata tersebut tidak menunjukkan kenajisan benda-benda itu secara fisik, maka kata tersebut juga tidak menunjukkan kenajisan khamr secara fisik.

MAKNA KATA RIJS [الرِّجْسُ]

Kata “rijs” jamaknya adalah الأَرْجَاسُ. Adapun maknanya adalah sbb:

1- Perbuatan buruk [عَمَلٌ قَبِيْحٌ].

2- Kotoran, kotor [قَذرٌ، وَسِخٌ].

3- sesuatu yang kotor [شَيْءٌ قَذْرٌ].

4- Hukuman [عِقَابٌ].

5- Haram [حَرَامٌ].

6- Laknat [لَعْنَةٌ].

7- Kafir [كُفْرٌ].

8- Siksaan [عَذابٌ].

9- Bisikan setan [وَسْوَسَةُ الشَّيْطَانِ]

10- Gerakan ringan. [حَرَكَةُ الخَفِيْفَةِ]

11- Kemarahan [غَضَبٌ].

[Lihat Mu'jam al-Wasiith dan معجم اللغة العربية المعاصرة]

SEMUA YANG HARAM DAN DI LARANG ADALAH RIJS «رِجْسٌ»

“Kata ﴿رِجْسٌ﴾ dalam perkataan syariat, pada umumnya digunakan untuk menunjukkan kenajisan maknawi.”

Allah SWT berfirman:

﴿اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ﴾

Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan KEJI «رِجْسٌ» dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung. [QS. al-Maidah: 90]

Dan Allah SWT berfirman:

﴿وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ اَنْ تُؤْمِنَ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يَعْقِلُوْنَ﴾

Dan tidak seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah, dan Allah menimpakan ADZAB «رِجْسٌ» kepada orang yang tidak mengerti. [QS. Yunus: 100]

Dan Allah SWT berfirman:

﴿فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْاَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوْا قَوْلَ الزُّوْرِ﴾

Maka jauhilah olehmu (penyembahan) berhala-berhala yang KOTOR [Najis = لرِّجْسَ] itu dan jauhilah perkataan dusta. [QS. al-Hajj: 30]

Dan Allah SWT berfirman:

﴿يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْمُشْرِكُوْنَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هٰذَا﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya orang-orang musyrik itu NAJIS (kotor jiwa), karena itu janganlah mereka mendekati Masjidilharam setelah tahun ini". [QS. At-Taubah: 28]

----

PENJELASAN MAKNA “RIJS” OLEH MUHAMMAD RASYID RIDHO

Dalam al-Manar 23/658, Muhammad Rasyid Ridho berkata:

وَأَمَّا الِاسْتِدْلَالُ عَلَى نَجَاسَتِهَا بِالْكِتَابِ الْعَزِيزِ، فَهُوَ مَحْصُورٌ فِي تَسْمِيَتِهَا رِجْسًا فِي آيَةِ الْمَائِدَةِ، وَهُوَ مَرْدُودٌ مِنْ وُجُوهٍ:

أَحَدُهَا: أَنَّ الرِّجْسَ فِي اللُّغَةِ هُوَ الْخَبِيثُ الْقَذِرُ حِسًّا أَوْ مَعْنًى، فَالْحِسِّيُّ مَا تُدْرَكُ قَذَارَتُهُ بِالْحِسِّ، وَنُفُورِ الطِّبَاعِ السَّلِيمَةِ، وَيَتَنَزَّهُ عَنْهُ النَّاسُ كَالْبَوْلِ وَالْعَذِرَةِ، وَالْمَعْنَوِيُّ مَا تُدْرَكُ قَذَارَتُهُ بِالْعَقْلِ أَوِ الشَّرْعِ أَوْ بِهِمَا مَعًا كَالْكُفْرِ وَالنِّفَاقِ، قَالَ الرَّاغِبُ بَعْدَ مَا ذَكَرَ مَا هُوَ بِمَعْنَى هَذَا: «وَالرِّجْسُ مِنْ جِهَةِ الشَّرْعِ الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ» اهـ.

وَأَقُولُ: إِنَّ الرِّجْسَ قَدْ ذُكِرَ فِي الْقُرْآنِ فِي تِسْعِ آيَاتٍ، لَا يَحْتَمِلُ إِرَادَةَ النَّجَاسَةِ الْحِسِّيَّةِ مِنْهَا إِلَّا فِي وَاحِدَةٍ فَقَطْ، وَهِيَ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿قُلْ لَا أَجِدُ فِيمَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ﴾ [الْأَنْعَامِ: 145]، وَالرَّاجِحُ أَنَّ الضَّمِيرَ فِي قَوْلِهِ: «فَإِنَّهُ» رَاجِعٌ إِلَى الثَّلَاثَةِ بِتَأْوِيلِ مَا ذُكِرَ، كَمَا بَيَّنَّاهُ فِي تَفْسِيرِ الْآيَةِ مُؤَيَّدًا بِالشَّوَاهِدِ مِنَ التَّنْزِيلِ وَمِنْ كَلَامِ الْعَرَبِ.

أَمَّا الْأَوَّلَانِ، فَاسْتِقْذَارُ الطِّبَاعِ لَهُمَا مَعْرُوفٌ، وَأَمَّا الثَّالِثُ، فَمَعْنَى كَوْنِهِ رِجْسًا أَنَّهُ مُلَازِمٌ لِلْأَقْذَارِ، كَثِيرُ التَّغَذِّي مِنْهَا، وَإِنَّكَ لَتَجِدُ ذِكْرَ إِزَالَةِ الرِّجْسِ عَنْ أَهْلِ الْبَيْتِ النَّبَوِيِّ، قَدْ قُرِنَ بِأَنَّ الْمُرَادَ بِهِ تَطْهِيرُهُمْ، وَأُكِّدَ ذَلِكَ بِالْمَصْدَرِ، وَلَمْ يَقُلْ أَحَدٌ مِنَ الْمُفَسِّرِينَ أَنَّ الْمُرَادَ بِالرِّجْسِ فِي الْآيَةِ النَّجَاسَةُ الْحِسِّيَّةُ، وَبِالتَّطْهِيرِ إِزَالَتُهَا.

عَلَى أَنَّ بَعْضَ الْعُلَمَاءِ قَالُوا: إِنَّ تَأْكِيدَ الْفِعْلِ بِالْمَصْدَرِ يُخْرِجُهُ عَنْ كَوْنِهِ مَجَازًا، وَيُحَتِّمُ كَوْنَهُ حَقِيقَةً، وَهَذِهِ الْآيَةُ حُجَّةٌ عَلَيْهِمْ، إِلَّا أَنْ يَقُولُوا: إِنَّ التَّطْهِيرَ حَقِيقَةٌ فِي إِزَالَةِ الْأَقْذَارِ الْحِسِّيَّةِ وَالْمَعْنَوِيَّةِ، وَالتَّنَزُّهِ عَنْ كُلٍّ مِنْهُمَا، أَوْ أَنَّ الرِّجْسَ حَقِيقَةٌ فِي الْخُبْثِ الْمَعْنَوِيِّ؛ لِأَنَّهُ هُوَ الْأَكْثَرُ فِي اسْتِعْمَالِ الْقُرْآنِ وَغَيْرِهِ.

Adapun berdalil dengan Al-Qur’an untuk menyatakan bahwa khamr itu najis, maka dalil tersebut terbatas pada penyebutan khamr sebagai “rijs” dalam ayat Surah al-Ma’idah.

Dalil ini dapat dibantah dari beberapa sisi.

Pertama:

Secara bahasa, rijs berarti sesuatu yang buruk dan kotor, baik secara indrawi maupun maknawi. Kotor secara indrawi adalah sesuatu yang dapat diketahui kekotorannya melalui pancaindra dan dijauhi oleh tabiat yang sehat, seperti air kencing dan kotoran. Adapun kotor secara maknawi adalah sesuatu yang diketahui keburukannya melalui akal, syariat, atau keduanya, seperti kekufuran dan kemunafikan.

Ar-Raghib al-Ashfahani, setelah menyebutkan pengertian yang semakna dengan hal ini, berkata:

“Rijs menurut syariat adalah khamr dan perjudian.”

Saya katakan: Kata rijs disebutkan dalam Al-Qur’an pada sembilan ayat. Dari sembilan ayat tersebut, hanya satu ayat yang memungkinkan maksudnya adalah najis secara indrawi, yaitu firman Allah Ta‘ala:

“Katakanlah, ‘Aku tidak mendapati dalam apa yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali jika makanan itu bangkai, darah yang mengalir, atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu adalah rijs (kotor).’” (QS. Al-An‘am: 145).

Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa kata ganti dalam firman-Nya, “فَإِنَّهُ (karena sesungguhnya itu), kembali kepada ketiga perkara tersebut, dengan menakwilkan kata yang telah disebutkan sebelumnya. Hal ini telah kami jelaskan dalam tafsir ayat tersebut dengan diperkuat oleh berbagai bukti dari Al-Qur’an dan perkataan orang-orang Arab.

Adapun dua perkara pertama, yaitu bangkai dan darah yang mengalir, telah diketahui bahwa tabiat manusia yang sehat memang merasa jijik terhadap keduanya.

Sedangkan perkara ketiga, yaitu daging babi, makna disebut sebagai rijs adalah karena babi selalu berkaitan dengan berbagai kotoran dan banyak memakan makanan yang kotor.

Anda juga akan mendapati bahwa ketika Al-Qur’an menyebutkan penghilangan rijs dari Ahlul Bait Nabi , hal itu disertai dengan penyebutan bahwa yang dimaksud adalah menyucikan mereka. Bahkan, makna tersebut ditegaskan dengan bentuk mashdar (kata benda verbal).

Tidak seorang pun dari para ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan rijs dalam ayat tersebut adalah najis secara indrawi dan bahwa tathhir (penyucian) berarti menghilangkan najis tersebut.

Selain itu, sebagian ulama mengatakan bahwa penegasan suatu kata kerja dengan mashdar menjadikannya keluar dari makna majazi dan mengharuskan makna hakiki. Ayat ini merupakan hujah yang membantah pendapat mereka, kecuali jika mereka mengatakan bahwa tathhir secara hakiki mencakup penghilangan kotoran yang bersifat indrawi maupun maknawi serta penyucian dari keduanya.

Atau mereka mengatakan bahwa rijs secara hakiki bermakna keburukan yang bersifat maknawi, karena makna inilah yang lebih banyak digunakan dalam Al-Qur’an dan selainnya”.

Lalu Muhammad Rasyid Ridho melanjutkan penjelasannya:

ثَانِيهَا: أَنَّ لَفْظَ الرِّجْسِ فِيهَا خَبَرٌ عَنِ الْخَمْرِ، وَالْمَيْسِرِ، وَالْأَنْصَابِ، وَالْأَزْلَامِ، كَمَا قَالَ جُمْهُورُ الْمُفَسِّرِينَ، وَلَا شَيْءَ مِنْ ذَلِكَ بِقَذَرٍ فِي الْحِسِّ، وَلَا نُفُورِ الطَّبْعِ، فَتَعَيَّنَ أَنْ يَكُونَ كُلُّهُ مِنَ الرِّجْسِ الْمَعْنَوِيِّ، وَجَعْلُهُ خَبَرًا عَنِ الْخَمْرِ، وَخَبَرُ مَا عُطِفَ عَلَيْهَا مَحْذُوفًا تَكَلُّفٌ مُخَالِفٌ لِلْمُتَبَادَرِ مِنَ الْعِبَارَةِ لُغَةً، وَإِنَّمَا جِيءَ بِهِ لِتَأْيِيدِ الْقَوْلِ بِنَجَاسَتِهَا، وَإِلَّا فَالْأَصْلُ فِي خَبَرِ الْمُبْتَدَإِ وَمَا عُطِفَ عَلَيْهِ أَنْ يَكُونَ خَبَرًا عَنْهَا جَمِيعًا، وَلَوْ كَانَ خَبَرًا عَنِ الْخَمْرِ لَقَالَ: فَاجْتَنِبُوهَا؛ لِأَنَّ الْخَمْرَ مُؤَنَّثَةُ اللَّفْظِ، قَالَ الْأَصْمَعِيُّ: وَلَا يَجُوزُ تَذْكِيرُهَا، فَإِنْ قِيلَ: جَوَّزَهُ غَيْرُهُ، قُلْنَا: هُوَ الْفَصِيحُ الَّذِي لَا خِلَافَ فِيهِ، وَلُغَةُ الْقُرْآنِ أَفْصَحُ اللُّغَاتِ، وَيُؤَيِّدُ كَوْنَ الْأَنْصَابِ وَالْأَزْلَامِ رِجْسًا قَوْلُهُ تَعَالَى فِي آيَةٍ أُخْرَى: ﴿فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ﴾ [الْحَجِّ: 30].

ثَالِثُهَا: وَوَصْفُ الرِّجْسِ بِأَنَّهُ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ، ثُمَّ بَيَانُ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ خَاصَّةً بِأَنَّهُ إِيقَاعُ الْعَدَاوَةِ، وَالْبَغْضَاءِ بَيْنَ السُّكَارَى، وَالْمُقَامِرِينَ، وَصَدُّهُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ، وَلَوْ لَمْ يَكُنْ قَوْلُهُ: ﴿رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ﴾ [الْمَائِدَةِ: 90] رَاجِعًا إِلَى الْخَمْرِ، وَالْمَيْسِرِ، وَالْأَنْصَابِ، وَالْأَزْلَامِ جَمِيعًا، لَمَا صَرَّحَ بِذِكْرِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ فِي هَذَا الْبَيَانِ.

رَابِعُهَا: أَنَّ الصَّحَابَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَرَاقُوا كُلَّ مَا كَانَ عِنْدَهُمْ مِنَ الْخَمْرِ عِنْدَ نُزُولِ هَذِهِ الْآيَةِ، حَتَّى كَانَتْ تَجْرِي فِي شَوَارِعِ الْمَدِينَةِ، وَلَوْ كَانَتِ الْخَمْرُ نَجِسًا حِسِّيًّا يَجِبُ تَطْهِيرُ مَا تُصِيبُهُ بِمَنْطُوقِ الْآيَةِ، لَتَوَفَّرَتِ الدَّوَاعِي عَلَى نَقْلِ عِنَايَتِهِمْ بِتَطْهِيرِ أَوَانِيهِمْ، وَمَا أَصَابَ أَبْدَانَهُمْ وَثِيَابَهُمْ مِنْهَا عِنْدَ إِرَاقَتِهَا، فَإِنَّهُ مِنَ الضَّرُورِيَّاتِ، وَلَمْ يَرِدْ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ كَمَا تَقَدَّمَ.

Kedua:

Lafaz “rijs” dalam ayat tersebut merupakan khabar (predikat) bagi khamr, maysir (perjudian), ansab (berhala-berhala yang dijadikan tempat persembahan), dan azlam (anak panah untuk menentukan nasib), sebagaimana dikatakan oleh mayoritas ahli tafsir.

Tidak satu pun dari perkara-perkara tersebut merupakan sesuatu yang secara indrawi dianggap kotor atau dijauhi oleh tabiat manusia. Oleh karena itu, sudah semestinya semuanya termasuk dalam kategori rijs yang bersifat maknawi.

Menjadikan kata “rijs” sebagai khabar hanya untuk khamr, sementara khabar untuk perkara-perkara yang di-‘athaf-kan kepadanya dianggap dihilangkan, merupakan bentuk takalluf (pemaksaan penafsiran) yang bertentangan dengan makna yang langsung dipahami dari ungkapan tersebut secara bahasa. Penafsiran seperti itu hanya dikemukakan untuk menguatkan pendapat bahwa khamr adalah najis.

Jika tidak demikian, maka hukum asal dalam khabar bagi mubtada’ dan perkara-perkara yang di-‘athaf-kan kepadanya adalah bahwa khabar tersebut berlaku untuk semuanya.

Selain itu, seandainya khabar tersebut hanya berlaku untuk khamr, tentu Allah berfirman, “فَاجْتَنِبُوهَا (maka jauhilah ia), karena kata الْخَمْرُ (khamr) secara lafaz adalah mu’annats (kata benda feminin).

Al-Ashma‘i berkata: “Tidak boleh memperlakukannya sebagai mudzakkar (maskulin).”

Jika dikatakan bahwa sebagian ulama lainnya membolehkan penggunaan bentuk mudzakkar untuknya, kami jawab: bentuk yang kami sebutkan adalah bentuk bahasa Arab yang fasih dan tidak diperselisihkan. Sedangkan bahasa Al-Qur’an adalah bahasa yang paling fasih.

Bahwa ansab dan azlam juga termasuk rijs diperkuat oleh firman Allah Ta‘ala dalam ayat lain:

“Maka jauhilah rijs dari berhala-berhala.” (QS. Al-Hajj: 30).

Ketiga:

Rijs tersebut disifati sebagai “min ‘amalisy-syaithan” (termasuk perbuatan setan). Kemudian Allah menjelaskan secara khusus perbuatan setan dalam khamr dan maysir, yaitu menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara orang-orang yang mabuk dan para penjudi, serta menghalangi mereka dari mengingat Allah dan dari melaksanakan shalat.

Seandainya firman Allah:

﴿رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ﴾

“Rijs, termasuk perbuatan setan.” (QS. Al-Ma’idah: 90)

tidak kembali kepada khamr, maysir, ansab, dan azlam secara keseluruhan, tentu Allah tidak akan menyebutkan khamr dan maysir secara khusus ketika menjelaskan perbuatan setan tersebut.

Keempat:

Para sahabat radhiyallahu ‘anhum menumpahkan seluruh khamr yang mereka miliki ketika ayat ini turun, sampai-sampai khamr tersebut mengalir di jalan-jalan kota Madinah.

Seandainya khamr merupakan najis secara indrawi yang wajib disucikan apabila mengenainya, berdasarkan makna lahiriah ayat tersebut, tentu terdapat alasan yang kuat untuk menukil perhatian mereka dalam menyucikan wadah-wadah mereka serta bagian tubuh dan pakaian mereka yang terkena khamr ketika mereka menumpahkannya. Hal semacam itu merupakan perkara yang sangat mungkin terjadi dan seharusnya diketahui. Namun, tidak ada satu pun riwayat mengenai hal tersebut, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

----

DALIL KEDUA: 
DARI SUNNAH

Dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

«قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا بِأَرْضِ قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ، أَفَنَأْكُلُ فِي آنِيَتِهِمْ؟ قَالَ: لَا تَأْكُلُوا فِيهَا إِلَّا أَنْ لَا تَجِدُوا غَيْرَهَا، فَاغْسِلُوهَا وَكُلُوا فِيهَا».

“Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami berada di negeri suatu kaum yang merupakan Ahli Kitab. Apakah kami boleh makan menggunakan wadah-wadah mereka?’ Beliau menjawab, ‘Janganlah kalian makan menggunakan wadah-wadah tersebut, kecuali jika kalian tidak mendapatkan wadah selainnya. Jika demikian, cucilah wadah-wadah tersebut, kemudian makanlah dengan menggunakannya.’”

[HR. Al-Bukhari (5478) dan Muslim (1930)]

Dalam lafadz riwayat lain:

Dari Abu Qilabah, bahwa Abu Tsa’labah al-Khusyani berkata:

أَنَّ أَبَا ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيَّ، قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي بِأَرْضٍ أَهْلُهَا أَهْلُ الْكِتَابِ يَأْكُلُونَ لَحْمَ الْخِنْزِيرِ ‌وَيَشْرَبُونَ ‌الْخَمْرَ، ‌فَكَيْفَ ‌بِآنِيَتِهِمْ ‌وَقُدُورِهِمْ؟ فَقَالَ: «دَعُوهَا مَا وَجَدْتُمْ مِنْهَا بُدًّا، فَإِذَا لَمْ تَجِدُوا مِنْهَا بُدًّا فَارْحَضُوهَا بِالْمَاءِ» أَوْ قَالَ: «اغْسِلُوهَا، ثُمَّ اطْبُخُوا فِيهَا وَكُلُوا» قَالَ: وَأَحْسَبُهُ قَالَ: «وَاشْرَبُوا»

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku berada di suatu negeri yang penduduknya adalah Ahli Kitab. Mereka memakan daging babi dan meminum khamr. Bagaimana dengan bejana-bejana dan periuk-periuk mereka?”

Beliau menjawab: “Biarkanlah bejana-bejana itu selama kalian masih dapat menemukan yang lain. Namun, jika kalian tidak menemukan yang lain, maka cucilah dengan air.”

Atau beliau bersabda: “Basuhlah bejana-bejana tersebut, kemudian masaklah makanan di dalamnya dan makanlah.”

Perawi berkata: “Aku kira beliau juga bersabda: ‘Dan minumlah.’”

[HR. Abu Daud ath-Thoyalisi dalam al-Musnad 2/353 no. 1107.

Namun sanadnya terputus karena Abu Qilabah tidak mendengar langsung dari Abu Tsa’labah. Para ulama berbeda pendapat mengenai tambahan penyebutan daging babi dan minum khamr.

Hadits ini terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim sebagaimana disebutkan diatas, tetapi di dalam riwayat keduanya tidak terdapat tambahan tentang minum khamr dan makan daging babi.]

Sisi pendalilan:

Pada dasarnya, kaum musyrik menggunakan bejana-bejana mereka untuk memasak daging babi dan menggunakan wadah-wadah mereka untuk meminum khamr. Oleh karena itu, wadah-wadah tersebut tidak boleh digunakan kecuali setelah dicuci dan dibersihkan.

[Lihat Ma‘alim as-Sunan karya Al-Khaththabi, 4/257]

BANTAHAN:

Yang benar tujuan dari perintah mencuci wadah bekas khamr itu adalah untuk menghilangkan sisa-sisa khamr yang menempel, agar tidak tercampur dengan air lalu terminum. Dan itu haram dikonsumsi bukan najis.

Seandainya sebabnya adalah kenajisan, niscaya beliau memerintahkan agar bejana-bejana tersebut segera dicuci. Sebab, larangan menggunakan bejana-bejana itu ketika masih ada bejana lain bersifat mutlak, baik kita yakin bahwa bejana tersebut suci maupun tidak. Adapun hukum asal dari suatu larangan adalah menunjukkan keharaman.

Namun, ketika Allah swt berfirman:

﴿وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ﴾

“Dan makanan orang-orang yang diberi Kitab itu halal bagimu.” (QS. Al-Ma’idah: 5)

Dan telah diketahui bahwa makanan mereka dibuat dengan tangan mereka dan menggunakan bejana-bejana mereka. Nabi juga pernah memakan makanan Ahli Kitab sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits yang shahih. Hal ini menunjukkan bahwa mencuci bejana tersebut merupakan bentuk kehati-hatian dan anjuran (istihbab).

Kemudian, seandainya kita menerima pendapat bahwa mencuci bejana-bejana tersebut hukumnya wajib, maka mencuci bejana dari bekas khamr tidak menunjukkan bahwa khamr itu najis. Akan tetapi, hal itu disebabkan karena khamr dan daging babi haram untuk dikonsumsi. Karena dikhawatirkan seseorang terjatuh ke dalam sesuatu yang haram, maka diperintahkan untuk mencuci bejana-bejana tersebut dari bekas keduanya.

Muhammad Rasyid Ridho dalam al-Manar 23/568 menjelaskan:

وَأَمَّا الِاسْتِدْلَالُ عَلَى نَجَاسَتِهَا بِالسُّنَّةِ، فَقَدْ أَعْجَزَ الْمُدَّعِينَ لِذَلِكَ رِوَايَةَ خَبَرٍ صَحِيحٍ صَرِيحٍ فِي ذَلِكَ، وَإِنَّمَا اسْتَدَلَّ بَعْضُهُمْ بِحَدِيثِ أَبِي ثَعْلَبَةَ عِنْدَ أَحْمَدَ، وَأَبِي دَاوُدَ؛ إِذْ قَالَ لِلنَّبِيِّ ﷺ: إِنَّ أَرْضَنَا أَرْضُ أَهْلِ كِتَابٍ، وَإِنَّهُمْ يَأْكُلُونَ لَحْمَ الْخِنْزِيرِ، وَيَشْرَبُونَ الْخَمْرَ، فَكَيْفَ نَصْنَعُ بِآنِيَتِهِمْ وَقُدُورِهِمْ؟ قَالَ: «إِنْ لَمْ تَجِدُوا غَيْرَهَا فَارْحَضُوهَا بِالْمَاءِ، وَاطْبُخُوا فِيهَا، وَاشْرَبُوا».

وَهَذِهِ وَاقِعَةُ حَالٍ ذُكِرَتْ فِي الصَّحِيحَيْنِ بِدُونِ ذِكْرِ الْخِنْزِيرِ وَالْخَمْرِ فِيهَا، وَغَسْلُهَا مِنِ احْتِمَالِ طَبْخِ الْخِنْزِيرِ وَشُرْبِ الْخَمْرِ فِيهَا ضَرْبٌ مِنَ النَّظَافَةِ، لَا يَتَعَيَّنُ أَنْ يَكُونَ سَبَبُهُ نَجَاسَةَ مَا كَانَ فِيهَا وَهُوَ مَجْهُولٌ، وَالْأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءِ الطَّهَارَةُ.

وَأَبُو ثَعْلَبَةَ هَذَا هُوَ الْخُشَنِيُّ، أَسْلَمَ عَامَ خَيْبَرَ أَوْ قَبْلَهُ، وَسَأَلَ النَّبِيَّ ﷺ عَنْ آنِيَةِ أَهْلِ الْكِتَابِ، وَعَنِ الصَّيْدِ مَا يَحِلُّ مِنْهُ؟ وَذَلِكَ قَبْلَ نُزُولِ آيَةِ حِلِّ طَعَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ ﷺ بِمَا ذُكِرَ مِنْ غَسْلِ آنِيَتِهِمْ، مُبَالَغَةً فِي النَّظَافَةِ الَّتِي كَانَ يَمِيلُ إِلَيْهَا، وَالتَّبَاعُدِ عَنِ الْأُنْسِ بِهِمْ قَبْلَ تَمَكُّنِ الْإِسْلَامِ.

وَإِلَّا فَهُوَ مُعَارَضٌ بِالْأَحَادِيثِ الْكَثِيرَةِ، وَالرِّوَايَاتِ عَنِ الصَّحَابَةِ فِي أَكْلِ طَعَامِهِمْ فِي آنِيَتِهِمْ، وَجُبْنِهِمْ، وَالتَّوَضُّؤِ وَالشُّرْبِ مِنْ آنِيَتِهِمْ أَيْضًا، وَلَا سِيَّمَا فِي أَيَّامِ فَتْحِ بِلَادِهِمْ.

وَلَوْ كَانَ الصَّحَابَةُ وَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنَ السَّلَفِ يَتَوَقَّوْنَ آنِيَتَهُمْ، فَلَا يَأْكُلُونَ، وَلَا يَشْرَبُونَ فِيهَا إِلَّا بَعْدَ غَسْلِهَا، لَتَوَاتَرَ ذَلِكَ عَنْهُمْ، بَلْ ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ تَوَضَّأَ مِنْ مَزَادَةِ مُشْرِكَةٍ، وَتَوَضَّأَ عُمَرُ مِنْ جَرَّةٍ نَصْرَانِيَّةٍ، وَالتَّغْلِيظُ فِي مُعَامَلَةِ الْمُشْرِكِينَ أَشَدُّ مِنْهُ فِي مُعَامَلَةِ أَهْلِ الْكِتَابِ.

Adapun berdalil dengan Sunnah untuk menyatakan bahwa khamr adalah najis, maka orang-orang yang mengklaim demikian tidak mampu mendatangkan satu riwayat yang shahih dan tegas mengenai hal tersebut.

Sebagian mereka hanya berdalil dengan hadits Abu Tsa‘labah yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud. Ia berkata kepada Nabi :

Sesungguhnya negeri kami adalah negeri Ahli Kitab. Mereka memakan daging babi dan meminum khamr. Bagaimana yang harus kami lakukan terhadap bejana-bejana dan periuk-periuk mereka?”

Beliau menjawab:

Jika kalian tidak mendapatkan selainnya, maka cucilah dengan air, masaklah makanan di dalamnya, dan minumlah darinya.”

Peristiwa ini merupakan suatu kejadian khusus yang disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim tanpa menyebutkan daging babi dan khamr di dalamnya.

Adapun mencuci bejana-bejana tersebut karena ada kemungkinan sebelumnya digunakan untuk memasak daging babi atau meminum khamr, maka itu merupakan bagian dari kebersihan. Tidak mesti bahwa sebab pencucian tersebut adalah karena najisnya sesuatu yang pernah berada di dalam bejana itu, karena tidak diketahui secara pasti apa yang menjadi sebabnya. Sedangkan hukum asal segala sesuatu adalah suci.

Abu Tsa‘labah yang dimaksud di sini adalah al-Khusyani. Ia masuk Islam pada tahun terjadinya Perang Khaibar atau sebelumnya. Ia bertanya kepada Nabi mengenai bejana-bejana milik Ahli Kitab dan mengenai hewan buruan, yaitu apa saja yang halal darinya.

Pertanyaan tersebut terjadi sebelum turunnya ayat yang membolehkan makanan Ahli Kitab. Maka Nabi memerintahkannya sebagaimana disebutkan di atas, yaitu mencuci bejana-bejana mereka. Hal itu merupakan bentuk penekanan dalam menjaga kebersihan, sekaligus karena beliau cenderung untuk menjauhi pergaulan yang terlalu dekat dengan mereka sebelum Islam benar-benar kokoh.

Jika tidak demikian, hadits tersebut akan bertentangan dengan banyak hadits dan riwayat dari para sahabat mengenai kebolehan memakan makanan Ahli Kitab dari bejana mereka, memakan keju buatan mereka, serta berwudhu dan minum menggunakan bejana-bejana mereka. Terlebih lagi pada masa pembukaan negeri-negeri mereka.

Seandainya para sahabat dan generasi salaf setelah mereka benar-benar menghindari bejana-bejana milik Ahli Kitab, sehingga mereka tidak makan dan minum darinya kecuali setelah mencucinya, tentu hal tersebut akan diriwayatkan secara mutawatir dari mereka.

Bahkan, telah ditetapkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim bahwa Nabi pernah berwudhu dari wadah air milik seorang wanita musyrik, dan Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berwudhu dari sebuah kendi milik seorang wanita Nasrani.

Padahal, sikap berhati-hati dalam berinteraksi dengan kaum musyrik lebih ditekankan daripada dalam berinteraksi dengan Ahli Kitab”.

Lalu Muhammad Rasyid Ridho melanjutkan penjelesannya dengan berkata:

وثَبَتَ أَكْلُ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ لِلْمَرِيِّ الْمَصْنُوعِ مِنَ الْخَمْرِ وَالسَّمَكِ، فَفِي كِتَابِ الصَّيْدِ مِنْ صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ أَنَّ أَبَا الدَّرْدَاءِ قَالَ فِي الْمَرِيِّ: «ذَبَحَ الْخَمْرَ النِّينَانُ وَالشَّمْسُ»،

وَالْمَرِيُّ مِنَ التَّوَابِلِ الْمُثِيرَةِ لِشَهْوَةِ الطَّعَامِ، وَهُوَ بِضَمِّ الْمِيمِ وَسُكُونِ الرَّاءِ، وَضُبِطَ فِي النِّهَايَةِ تَبَعًا لِلصِّحَاحِ بِتَشْدِيدِ الرَّاءِ نِسْبَةً إِلَى الْمُرِّ، وَهُوَ الطَّعْمُ الْمَعْرُوفُ،

وَالنِّينَانُ جَمْعُ نُونٍ، وَهُوَ الْحُوتُ،

وَإِسْنَادُ ذَبْحِ الْخَمْرِ إِلَى السَّمَكِ وَالشَّمْسِ مَجَازِيٌّ، مَعْنَاهُ: أَنَّهُمَا ذَهَبَا بِطَعْمِ الْخَمْرِ وَإِسْكَارِهَا، كَمَا كَانُوا يُعَبِّرُونَ عَنْ تَأْثِيرِ مَزْجِهَا بِالْمَاءِ إِذَا كَثُرَ بِالْقَتْلِ، كَمَا قَالَ حَسَّانُ:

إِنَّ الَّتِي عَاطَيْتَنِي فَشَرِبْتُهَا ... قَتَلَتْ قَتَلْتَ فَهَاتِهَا لَمْ تُقْتَلِ

Telah diriwayatkan bahwa para sahabat radhiyallahu ‘anhum memakan Al-Mariy yang dibuat dari khamr dan ikan. Dalam Kitab ash-Shaid dari Shahih al-Bukhari, Abu ad-Darda’ berkata mengenai Al-Mariy:

“ Ikan-ikan dan matahari telah ‘menyembelih’ khamr.”

Al-Mariy adalah salah satu jenis bumbu yang dapat membangkitkan selera makan. Kata tersebut dibaca dengan dhammah pada huruf mim dan sukun pada huruf ra. Dalam kitab An-Nihayah, mengikuti penjelasan dalam Ash-Shihah, kata tersebut ditulis dengan tasydid pada huruf ra sebagai nisbah kepada kata al-murr, yaitu rasa yang sudah dikenal, yakni rasa pahit.

Adapun an-ninan adalah bentuk jamak dari nun, yang berarti ikan.

Penyandaran tindakan “menyembelih” khamr kepada ikan dan matahari merupakan ungkapan majazi. Maksudnya adalah bahwa ikan dan matahari telah menghilangkan rasa khamr dan sifat memabukkannya.

Mereka juga biasa menggunakan ungkapan “membunuh” untuk menggambarkan pengaruh pencampuran khamr dengan air apabila air yang dicampurkan cukup banyak.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Hassan bin Tsabit:

“Sesungguhnya minuman yang engkau berikan kepadaku lalu aku meminumnya, telah ‘membunuh’. Engkau telah membunuhnya, maka berikanlah kepadaku minuman itu; ia tidak membunuh.”

----

DALIL KE TIGA: PERINTAH MENUMPAHKAN KHAMR

Sesungguhnya nash-nash syariat telah mengharamkan berbagai bentuk pemanfaatan khamar. Syariat memerintahkan agar khamar ditumpahkan, melarang penggunaannya sebagai obat, mengharamkan penjualannya, serta melarang upaya mengubahnya menjadi cuka. Semua ketentuan tersebut didasarkan pada nash-nash yang sahih dan tegas. 

Seandainya khamar secara zat merupakan benda yang suci dan tidak najis, maka tentu penggunaannya sebagai obat atau untuk berbagai bentuk kemanfaatan lainnya akan diperbolehkan. Oleh karena itu, semua ketentuan tersebut dijadikan sebagai dalil atas kenajisan khamar.

Berikut ini adalah nash-nash syariat yang menegaskan hukum-hukum tersebut.

Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari melalui jalur Yazid bin Abi Habib, dari ‘Atha’ bin Abi Rabah, dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhuma:

أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ عَامَ الْفَتْحِ وَهُوَ بِمَكَّةَ: «إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَالْأَصْنَامِ». فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ شُحُومَ الْمَيْتَةِ، فَإِنَّهَا يُطْلَى بِهَا السُّفُنُ، وَيُدْهَنُ بِهَا الْجُلُودُ، وَيَسْتَصْبِحُ بِهَا النَّاسُ؟ فَقَالَ: «لَا، هُوَ حَرَامٌ». ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عِنْدَ ذَلِكَ: «قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ، إِنَّ اللَّهَ لَمَّا حَرَّمَ شُحُومَهَا جَمَلُوهُ، ثُمَّ بَاعُوهُ، فَأَكَلُوا ثَمَنَهُ».

Bahwa ia mendengar Rasulullah bersabda pada tahun Fathu Makkah ketika beliau berada di Makkah:

“Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli khamar, bangkai, babi, dan berhala.”

Kemudian ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan lemak bangkai? Lemak tersebut digunakan untuk melumuri kapal, meminyaki kulit, dan digunakan oleh manusia sebagai bahan penerangan?”

Beliau menjawab, “Tidak, itu haram.”

Kemudian Rasulullah bersabda pada saat itu, “Semoga Allah membinasakan orang-orang Yahudi. Sesungguhnya ketika Allah mengharamkan lemak bangkai atas mereka, mereka mencairkannya, kemudian menjualnya, lalu mereka memakan hasil penjualannya.”

[Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 2236 dan Muslim no. 2960].

Di antaranya pula adalah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur Zaid bin Aslam, dari ‘Abdurrahman bin Wa‘lah, seorang penduduk Mesir:

أَنَّهُ سَأَلَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ عَمَّا يُعْصَرُ مِنَ الْعِنَبِ؟ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: إِنَّ رَجُلًا أَهْدَى لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ رَاوِيَةَ خَمْرٍ؟ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «هَلْ عَلِمْتَ أَنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَهَا؟» قَالَ: لَا، فَسَارَّ إِنْسَانًا، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «بِمَ سَارَرْتَهُ؟» فَقَالَ: أَمَرْتُهُ بِبَيْعِهَا. فَقَالَ: «إِنَّ الَّذِي حَرَّمَ شُرْبَهَا حَرَّمَ بَيْعَهَا». قَالَ: فَفَتَحَ الْمُزَادَةَ حَتَّى ذَهَبَ مَا فِيهَا.

Bahwa ia bertanya kepada ‘Abdullah bin ‘Abbas mengenai sesuatu yang diperas dari buah anggur. Ibnu ‘Abbas berkata:

“Sesungguhnya seorang laki-laki pernah menghadiahkan kepada Rasulullah sebuah wadah berisi khamar. Rasulullah bertanya kepadanya, ‘Apakah engkau mengetahui bahwa Allah telah mengharamkannya?’ Ia menjawab, ‘Tidak.’ Kemudian seseorang membisikkan sesuatu kepadanya. Rasulullah bertanya, ‘Apa yang engkau bisikkan kepadanya?’ Ia menjawab, ‘Aku menyuruhnya menjual khamar itu.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Zat yang mengharamkan meminumnya juga mengharamkan menjualnya.’ Kemudian ia membuka wadah tersebut hingga seluruh isinya tumpah.”

[Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim no. 1579].

Di antaranya pula adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari melalui jalur Tsabit, dari Anas radhiyallahu ‘anhu:

كُنْتُ سَاقِيَ الْقَوْمِ فِي مَنْزِلِ أَبِي طَلْحَةَ، وَكَانَ خَمْرُهُمْ يَوْمَئِذٍ الْفَضِيخَ، فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مُنَادِيًا يُنَادِي: «أَلَا إِنَّ الْخَمْرَ قَدْ حُرِّمَتْ». قَالَ: فَقَالَ لِي أَبُو طَلْحَةَ: اخْرُجْ فَأَهْرِقْهَا، فَخَرَجْتُ فَهَرَقْتُهَا، فَجَرَتْ فِي سِكَكِ الْمَدِينَةِ.

“Aku biasa melayani minuman kaum tersebut di rumah Abu Thalhah. Pada waktu itu, khamar mereka adalah al-fadhiikh. Kemudian Rasulullah memerintahkan seseorang untuk menyerukan: ‘Ketahuilah, sesungguhnya khamar telah diharamkan.’ Anas berkata, ‘Abu Thalhah berkata kepadaku, “Keluarlah dan tumpahkanlah khamar itu.” Aku pun keluar dan menumpahkannya, hingga khamar tersebut mengalir di jalan-jalan Madinah.’”

[Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 2464 dan Muslim no. 3662].

Di antaranya pula adalah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur Syu‘bah, dari Simak bin Harb, dari ‘Alqamah bin Wa’il, dari ayahnya, Wa’il al-Hadhrami:

أَنَّ طَارِقَ بْنَ سُوَيْدٍ الْجُعْفِيَّ سَأَلَ النَّبِيَّ ﷺ عَنِ الْخَمْرِ؟ فَنَهَاهُ أَوْ كَرِهَ أَنْ يَصْنَعَهَا، فَقَالَ: إِنَّمَا أَصْنَعُهَا لِلدَّوَاءِ. فَقَالَ: «إِنَّهُ لَيْسَ بِدَوَاءٍ وَلَكِنَّهُ دَاءٌ».

“Bahwa Thariq bin Suwaid al-Ju‘fi bertanya kepada Nabi tentang khamar. Beliau melarangnya atau memakruhkan pembuatan khamar. Ia berkata, ‘Sesungguhnya aku membuatnya untuk obat.’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya khamar bukanlah obat, tetapi penyakit.’”

[Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim no. 3670].

Di antaranya pula adalah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur ‘Abdurrahman, dari Sufyan, dari as-Suddi, dari Yahya bin ‘Abbad, dari Anas:

أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ سُئِلَ عَنِ الْخَمْرِ تُتَّخَذُ خَلًّا؟ فَقَالَ: «لَا».

Bahwa Nabi ditanya tentang khamar yang hendak dijadikan cuka. Beliau menjawab, ‘Tidak.’”

[Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim no. 1983].

---

BANTAHAN ATAS PEMAHAMAN DALIL TERSEBUT

Larangan menjual khamar tidaklah mengharuskan bahwa khamar itu najis. Sebab, pengharaman jual beli khamar disebutkan bersamaan dengan pengharaman jual beli berhala, sedangkan berhala tidaklah najis. Larangan menjual khamar juga dijelaskan sebabnya dalam hadits, yaitu:

«إِنَّ اللَّهَ إِذَا حَرَّمَ شَيْئًا حَرَّمَ ثَمَنَهُ»

“Sesungguhnya apabila Allah mengharamkan sesuatu, Dia mengharamkan pula hasil penjualannya.”

Nabi tidak mengatakan:

«إِنَّ اللَّهَ إِذَا حَرَّمَ شَيْئًا اقْتَضَى نَجَاسَتَهُ»

“Sesungguhnya apabila Allah mengharamkan sesuatu, maka hal itu menunjukkan bahwa benda tersebut najis.”

Demikian pula, berbagai bentuk pemanfaatan khamar yang diharamkan bukanlah karena kenajisannya. Sebab, terdapat benda-benda yang najis, tetapi tidak semua bentuk pemanfaatannya diharamkan.

Hal ini dapat dilihat dari hadits ketika ditanyakan kepada Nabi mengenai lemak bangkai:

«أَرَأَيْتَ شُحُومَ الْمَيْتَةِ، فَإِنَّهُ يُطْلَى بِهَا السُّفُنُ، وَيُدْهَنُ بِهَا الْجُلُودُ، وَيَسْتَصْبِحُ بِهَا النَّاسُ؟» قَالَ: «لَا، هُوَ حَرَامٌ»

“Bagaimana dengan lemak bangkai? Lemak tersebut digunakan untuk melumuri kapal, meminyaki kulit, dan digunakan manusia sebagai bahan penerangan?” Beliau menjawab, “Tidak, itu haram.”

Maksudnya adalah haram diperjualbelikan.

Dengan demikian, kebolehan memanfaatkan lemak bangkai tidak berarti bahwa jual belinya juga dibolehkan. Seandainya kenajisan merupakan alasan yang secara otomatis menunjukkan keharaman seluruh bentuk pemanfaatan, tentu penggunaan lemak bangkai sebagai bahan penerangan, untuk melumuri kapal, meminyaki kulit, dan berbagai bentuk pemanfaatan lainnya tidak akan dibolehkan.

Demikian pula, anjing merupakan hewan yang najis, tetapi dibolehkan memanfaatkannya untuk berburu, menjaga keamanan, dan keperluan lainnya.

---

DALIL KE EMPAT : 
IJMA’ PARA ULAMA

Berikut ini sumber-sumber yang menyebutkan ijmak:

Ibnu Rusyd berkata:

«وَالنَّجَاسَاتُ عَلَى ضَرْبَيْنِ: ضَرْبٍ اتَّفَقَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى تَحْرِيمِ بَيْعِهَا، وَهِيَ الْخَمْرُ، وَأَنَّهَا نَجِسَةٌ، إِلَّا خِلَافًا شَاذًّا فِي الْخَمْرِ، أَعْنِي: فِي كَوْنِهَا نَجِسَةً».

“Benda-benda najis terbagi menjadi dua macam. Salah satunya adalah benda yang disepakati oleh kaum muslimin tentang keharaman menjualnya, yaitu khamr, dan bahwa khamr itu najis. Hanya saja terdapat pendapat yang menyelisihi secara ganjil mengenai khamr—yakni mengenai apakah khamr itu najis.” «Bidayah al-Mujtahid» (3/145).

Al-Imam An-Nawawi berkata:

«وَنَقَلَ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ الْإِجْمَاعَ عَلَى نَجَاسَتِهَا».

“Syekh Abu Hamid menukil adanya ijma’ bahwa khamr adalah najis.” «Al-Majmu’» (2/563).

Al-‘Aini berkata:

«قَدِ انْعَقَدَ الْإِجْمَاعُ عَلَى نَجَاسَتِهَا، وَدَاوُدُ لَا يُعْتَبَرُ خِلَافُهُ فِي الْإِجْمَاعِ».

“Telah terjadi ijma’ mengenai kenajisannya, dan pendapat Dawud tidak dianggap sebagai pendapat yang dapat membatalkan ijmak.” «Al-Binayah» (1/447).

Ibrahim bin Muflih berkata:

«الْخَمْرُ يَخْمُرُ الْعَقْلَ، أَيْ: يُغَطِّيهِ وَيَسْتُرُهُ، وَهِيَ نَجِسَةٌ إِجْمَاعًا».

“Khamr disebut khamr karena menutupi akal, yakni menutup dan menyelubunginya. Khamr adalah najis berdasarkan ijmak.” «Al-Mubdi’» (1/195).

BANTAHAN TERHADAP KLAIM IJMA’:

Muhammad Rasyid Ridho dalam al-Manar 23/658 membantahnya dengan mengatakan:

وَهِيَ دَعْوَى مَمْنُوعَةٌ، فَقَدْ نَقَلَ الْعُلَمَاءُ الْخِلَافَ بَيْنَ فُقَهَاءِ السَّلَفِ فِي نَجَاسَتِهَا، كَمَا رَأَيْتَ فِي عِبَارَةِ ابْنِ رُشْدٍ فِي «بِدَايَةِ الْمُجْتَهِدِ»، وَمِمَّنْ قَالَ بِطَهَارَتِهَا مِنْهُمْ فَقِيهُ الْمَدِينَةِ الْإِمَامُ رَبِيعَةُ شَيْخُ الْإِمَامِ مَالِكٍ، كَمَا فِي «شَرْحِ الْمُهَذَّبِ» لِلنَّوَوِيِّ وَغَيْرِهِ، وَفِي كِتَابِ «رَفْعِ الْإِلْبَاسِ فِي وَهْمِ الْوَسْوَاسِ» لِأَحْمَدَ بْنِ الْعِمَادِ الْفَقِيهِ الشَّافِعِيِّ مَا نَصُّهُ:

«وَمِنْهُ الْخَمْرُ، وَهِيَ نَجِسَةٌ خِلَافًا لِرَبِيعَةَ شَيْخِ الْإِمَامِ مَالِكٍ، وَدَاوُدَ (إِمَامِ الظَّاهِرِيَّةِ)، فَإِنَّهُمَا قَالَا بِطَهَارَتِهَا كَالسُّمِّ الَّذِي هُوَ نَبَاتٌ، وَالْحَشِيشِ الْمُسْكِرِ، وَحَكَى الْغَزَالِيُّ وَجْهًا فِي الْمُحْتَرَمَةِ، وَوَجْهًا فِي أَنَّ بَاطِنَ حَبَّاتِ الْعِنَبِ الْمُسْتَحِيلَةِ خَمْرًا طَاهِرٌ، وَحَكَى الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ رَحِمَهُ اللهُ فِي شَرْحِ الْمُوَطَّإِ طَهَارَةَ الْمُحْتَرَمَةِ، وَالْمُحْتَرَمَةُ هِيَ الَّتِي اعْتُصِرَتْ بِقَصْدِ أَنْ تُتَّخَذَ خَلًّا».

ثُمَّ ذَكَرَ الْقَوْلَ بِأَنَّ مَا اعْتَصَرَهُ أَهْلُ الْكِتَابِ -مِنَ الْمُحْتَرَمَةِ، أَيْ بِنَاءً عَلَى عَدَمِ تَكْلِيفِهِمْ بِفُرُوعِ الشَّرِيعَةِ- فَجَمِيعُ خُمُورِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَوْ غَيْرِ الْمُسْلِمِينَ طَاهِرَةٌ عَلَى الْوَجْهِ، وَيُفْهَمُ مِنْهُ أَنَّ الْقَوْلَ بِنَجَاسَتِهَا تَغْلِيظٌ عَلَى الْمُسْلِمِينَ؛ لِأَجْلِ الْمُبَالَغَةِ فِي اجْتِنَابِهَا، بِالتَّبَاعُدِ عَنْ أَسْبَابِهَا، وَلَكِنْ هَذَا لَا يَصِحُّ أَنْ يُجْعَلَ دَلِيلًا شَرْعِيًّا عَلَى النَّجَاسَةِ الْحِسِّيَّةِ، وَمَا يَتَرَتَّبُ عَلَيْهَا مِنَ الْأَحْكَامِ الْكَثِيرَةِ الَّتِي تُنْسَبُ إِلَى دِينِ اللهِ، وَتُجْعَلُ مِمَّا خَاطَبَ النَّاسَ بِتَحْرِيمِهِ عَلَيْهِمْ.

klaim tersebut tidak dapat diterima, karena para ulama telah menukil adanya perbedaan pendapat di antara para fuqaha salaf mengenai kenajisan khamr, sebagaimana telah Anda lihat dalam pernyataan Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid.

Di antara ulama yang berpendapat bahwa khamr itu suci adalah seorang faqih Madinah, yaitu Imam Rabi‘ah, guru Imam Malik, sebagaimana disebutkan dalam Syarhul Muhadzdzab karya an-Nawawi dan kitab-kitab lainnya.

Dalam kitab Raf‘ul-Ilbas fi Wahmil-Waswas karya Ahmad bin al-‘Imad, seorang faqih dari mazhab Syafi‘i, disebutkan:

“Di antaranya adalah khamr. Khamr itu najis, berbeda dengan pendapat Rabi‘ah, guru Imam Malik, dan Dawud (imam mazhab Zhahiri). Keduanya berpendapat bahwa khamr itu suci, sebagaimana racun yang berasal dari tumbuhan dan ganja yang memabukkan. Al-Ghazali juga menukil satu pendapat mengenai khamr yang diperas dengan tujuan untuk dimuliakan, dan satu pendapat mengenai bagian dalam buah anggur yang berubah menjadi khamr, bahwa bagian tersebut tetap suci. Syaikh Taqiyuddin rahimahullah juga menukil dalam Syarhul Muwaththa’ bahwa khamr yang diperas dengan tujuan untuk dimuliakan adalah suci. Yang dimaksud dengan khamr yang diperas untuk dimuliakan adalah khamr yang dibuat dengan tujuan agar nantinya dijadikan cuka.”

Kemudian ia menyebutkan pendapat bahwa sesuatu yang diperas oleh Ahli Kitab—termasuk jenis yang diperas dengan tujuan untuk dimuliakan, berdasarkan pendapat bahwa mereka tidak dibebani dengan cabang-cabang syariat—maka seluruh khamr milik Ahli Kitab atau orang-orang non-Muslim pada dasarnya dianggap suci.

Dari sini dapat dipahami bahwa pendapat yang menyatakan khamr sebagai najis merupakan bentuk pengetatan terhadap kaum Muslimin, dengan tujuan agar mereka lebih bersungguh-sungguh dalam menjauhinya, yaitu dengan menjauh dari segala sebab yang mengantarkan kepadanya.

Namun, hal tersebut tidak benar jika dijadikan sebagai dalil syariat bahwa khamr secara fisik adalah najis, beserta berbagai hukum yang kemudian dibangun di atasnya. Sebab, berbagai hukum tersebut dinisbatkan kepada agama Allah dan dianggap sebagai bagian dari ketentuan yang Allah tujukan kepada manusia dengan mewajibkan mereka untuk menghindarinya”.

Lalu Muhammad Rasyid Ridho melanjutkan perkataannya:

وَمِمَّنْ قَالَ بِطَهَارَةِ الْخَمْرِ مِنْ فُقَهَاءِ الْحَدِيثِ الْمُتَأَخِّرِينَ الْإِمَامُ الشَّوْكَانِيُّ فِي «السَّيْلِ الْجَرَّارِ» وَغَيْرِهِ، وَالسَّيِّدُ حَسَنُ صِدِّيقٍ خَانٌ فِي «الرَّوْضَةِ النَّدِيَّةِ».

“Di antara ulama fikih hadits dari kalangan generasi belakangan yang berpendapat bahwa khamr adalah suci adalah Imam asy-Syaukani dalam kitab as-Sail al-Jarrar dan karya-karyanya yang lain, serta Sayyid Hasan Shiddiq Khan dalam kitab ar-Raudhah an-Nadiyyah”.

===***===

AT-TARJIH
(PENDAPAT YANG LEBIH KUAT DALAM PERBEDAAN PENDAPAT INI)

Setelah menelaah dalil-dalil dari kedua pihak, saya memandang bahwa pendapat yang menyatakan khamar itu suci lebih kuat, baik ditinjau dari aspek atsar maupun dari aspek penalaran. Adapun pendapat yang menyatakan khamar itu najis, meskipun merupakan pendapat mayoritas ulama, hal tersebut belum cukup untuk menetapkan hukum kenajisannya.

Para ulama yang berpendapat bahwa khamar itu suci cukup menjawab dalil-dalil yang digunakan oleh pihak yang menyatakan kenajisannya. Sebab, hukum asal benda-benda adalah suci. Orang yang berpendapat bahwa suatu benda secara zat adalah suci tidak dituntut untuk mendatangkan dalil khusus yang menunjukkan kesuciannya. Cukup baginya dalil negatif, yaitu tidak adanya dalil yang menunjukkan kenajisannya. Adapun yang dituntut darinya adalah memberikan jawaban terhadap dalil-dalil pihak yang menyatakan kenajisan, dan hal itu telah mereka lakukan.

Terlebih lagi, para ulama yang menyatakan kesucian khamar memiliki dalil positif yang menunjukkan kesuciannya. Selain itu, bahan dasar pembentukan khamar pada asalnya merupakan bahan-bahan yang suci. Lalu, bagaimana mungkin bahan tersebut menjadi najis, padahal ia tidak dimakan dan tidak diminum? Yang terjadi hanyalah perubahan sifat atau proses perubahan pada bahan tersebut, dan perubahan semacam ini tidak mengharuskan benda tersebut menjadi najis. Wallahu a’lam.

[Lihat: Mawsu’ah Ahkam ath-Thoharoh karya Abu Amr Dibyan ad-Dibyan 13/414-415]

===***====

HUKUM CUKA YANG DIPRODUKSI DARI KHAMR (MINUMAN KERAS)

Apabila khamar berubah menjadi cuka dengan sendirinya tanpa melalui proses pengolahan, maka tidak ada perbedaan pendapat mengenai kebolehan menggunakan cuka yang berasal dari khamar tersebut.

Demikian pula apabila khamar berubah menjadi cuka dengan cara memindahkannya dari tempat yang terkena sinar matahari ke tempat yang teduh, atau sebaliknya, menurut mayoritas ulama fikih.

Telah diriwayatkan bahwa Nabi pernah memakan cuka, memujinya dan menyanjungnya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim (2052) dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma:

«أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ سَأَلَ أَهْلَهُ الْأُدُمَ، فَقَالُوا: مَا عِنْدَنَا إِلَّا خَلٌّ، فَدَعَا بِهِ، فَجَعَلَ يَأْكُلُ بِهِ، وَيَقُولُ: نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ، نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ».

Bahwa Nabi meminta lauk kepada keluarganya. Mereka menjawab, “Kami tidak memiliki apa-apa selain cuka.” Beliau kemudian meminta cuka tersebut, lalu menyantap makanan dengannya seraya bersabda, “Sebaik-baik lauk adalah cuka. Sebaik-baik lauk adalah cuka.”

Adapun apabila khamar diolah hingga berubah menjadi cuka, misalnya dengan memasukkan cuka, bawang merah, atau garam ke dalamnya, atau dengan menyalakan api di dekatnya dengan tujuan mengubahnya menjadi cuka, maka ada dua pendapat:

Pendapat Pertama: proses pengolahan semacam ini hukumnya haram.

Ini merupakan pendapat mazhab Syafi‘iyah dan Hanabilah, serta salah satu riwayat dari Imam Malik.

Pendapat kedua : mengubah khamar menjadi cuka secara mutlak diperbolehkan, dan cuka tersebut halal untuk diminum dan dimakan

Ini adalah pendapat ulama Hanafiyah dan pendapat yang lebih kuat dalam mazhab Malikiyah.

Pendapat ini berdasarkan sabda Nabi , ‘Sebaik-baik lauk adalah cuka,’ secara mutlak, tanpa membedakan antara cuka yang terbentuk dengan sendirinya dan cuka yang dihasilkan melalui proses pengolahan.

Selain itu, proses pengubahan khamar menjadi cuka menghilangkan sifat yang menyebabkan kerusakan dan menghasilkan sifat yang menjadikannya layak digunakan. Sebab, di dalamnya terdapat kemaslahatan untuk pengobatan, makanan, dan berbagai kemaslahatan lainnya. Apabila sifat yang menyebabkan keharaman telah hilang, maka cuka tersebut menjadi halal, sebagaimana ketika khamar berubah menjadi cuka dengan sendirinya.

Selain itu, proses pengubahan tersebut merupakan bentuk perbaikan, sehingga diperbolehkan berdasarkan qiyas terhadap kebolehan menyamak kulit.” [Al-Mawsu‘ah al-Fiqhiyyah (19/260)].

Lihat pula: Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (4/2629).

---

KEPUTUSAN SIDANG KEEMPAT
Dublin – Irlandia

18–22 Rajab 1420 H, bertepatan dengan 27–31 Oktober 1999 M

KEPUTUSAN NOMOR 12 (7/4)

حُكْمُ الْخَلِّ الْمَصْنُوعِ مِنَ الْخَمْرِ

قَرَّرَ الْمَجْلِسُ أَنَّ الْخَمْرَ إِذَا تَخَلَّلَتْ – أَيْ تَحَوَّلَتْ إِلَى خَلٍّ – بِنَفْسِهَا فَهِيَ حَلَالٌ وَطَاهِرَةٌ بِالْإِجْمَاعِ، وَإِذَا كَانَتْ تَخَلَّلَتْ بِمُعَالَجَةٍ وَعَمَلٍ مُتَعَمَّدٍ، كَوَضْعِ مِلْحٍ أَوْ خُبْزٍ أَوْ بَصَلٍ أَوْ خَلٍّ أَوْ مَادَّةٍ كِيمِيَائِيَّةٍ مُعَيَّنَةٍ، فَقَدِ اخْتَلَفَ فِيهَا الْفُقَهَاءُ، فَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ: تَطْهُرُ وَيَحِلُّ الِانْتِفَاعُ بِهَا، لِانْقِلَابِ عَيْنِهَا وَزَوَالِ الْوَصْفِ الْمُفْسِدِ فِيهَا، وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ: لَا تَطْهُرُ، وَلَا يَحِلُّ الِانْتِفَاعُ بِهَا؛ لِأَنَّا أُمِرْنَا بِاجْتِنَابِهَا، وَفِي التَّحْلِيلِ اقْتِرَابٌ مِنْهَا، فَلَا يَجُوزُ.

وَبَعْدَ أَنْ اسْتَعْرَضَ الْمَجْلِسُ أَدِلَّةَ الْفَرِيقَيْنِ خَلَصَ إِلَى تَرْجِيحِ الْمَذْهَبِ الْأَوَّلِ، وَهُوَ طَهَارَةُ الْخَلِّ وَحِلُّ الِانْتِفَاعِ بِهِ، وَذَلِكَ لِأَنَّ التَّخْلِيلَ – مِثْلَ التَّخَلُّلِ – يُزِيلُ الْوَصْفَ الْمُفْسِدَ، وَهُوَ الْإِسْكَارُ، وَيُثْبِتُ وَصْفَ الصَّلَاحِيَّةِ؛ لِأَنَّ فِيهِ مَصْلَحَةَ التَّغَذِّي وَالتَّدَاوِي وَغَيْرِهِمَا؛ وَلِأَنَّ عِلَّةَ التَّحْرِيمِ هِيَ الْإِسْكَارُ، وَقَدْ زَالَتْ، وَالْحُكْمُ يَدُورُ مَعَ عِلَّتِهِ وُجُودًا وَعَدَمًا، تَأَكَّدَ هَذَا بِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: «نِعْمَ الْإِدَامُ الْخَلُّ» مِنْ غَيْرِ تَفْرِيقٍ بَيْنَ خَلٍّ وَآخَرَ، وَلَا طَلَبَ مِنَّا الْبَحْثُ عَنْ كَيْفِيَّةِ تَخَلُّلِهِ.

وَمَا رُوِيَ بِخِلَافِ ذَلِكَ مِمَّا يَدُلُّ عَلَى الْمَنْعِ مِنْ تَخْلِيلِهَا فَإِنَّمَا هُوَ مِنْ بَابِ الرَّدْعِ وَالتَّشْدِيدِ عَلَيْهِمْ فِي أَوَّلِ الْأَمْرِ، حَتَّى لَا يَتَهَاوَنُوا فِيهَا بِحَالٍ.

HUKUM CUKA YANG DIBUAT DARI KHAMR

Majelis memutuskan bahwa apabila khamr berubah menjadi cuka dengan sendirinya, yaitu berubah menjadi cuka tanpa melalui proses atau perlakuan tertentu, maka cuka tersebut halal dan suci berdasarkan ijma‘.

Adapun apabila khamr berubah menjadi cuka melalui suatu proses atau tindakan yang disengaja, seperti dengan menambahkan garam, roti, bawang, cuka, atau bahan kimia tertentu, maka para ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya.

Sebagian ulama berpendapat bahwa khamr tersebut menjadi suci dan boleh dimanfaatkan, karena zatnya telah berubah dan sifat yang menyebabkan kerusakan, yaitu memabukkan, telah hilang.

Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa khamr tersebut tidak menjadi suci dan tidak boleh dimanfaatkan. Alasannya, kita diperintahkan untuk menjauhi khamr, sedangkan mengolahnya menjadi cuka berarti mendekatinya. Oleh karena itu, hal tersebut tidak diperbolehkan.

Setelah mengkaji dalil-dalil dari kedua kelompok tersebut, Majelis menetapkan pendapat pertama sebagai pendapat yang lebih kuat, yaitu bahwa cuka tersebut suci dan boleh dimanfaatkan. Hal ini karena proses pengubahan khamr menjadi cuka, sebagaimana perubahan khamr menjadi cuka secara alami, menghilangkan sifat yang menyebabkan kerusakan, yaitu sifat memabukkan, dan menetapkan sifat yang menjadikannya layak untuk dimanfaatkan. Di dalamnya terdapat kemaslahatan untuk makanan, pengobatan, dan berbagai manfaat lainnya.

Selain itu, sebab (‘illah) dari keharaman khamr adalah sifat memabukkannya, sedangkan sifat tersebut telah hilang. Suatu hukum berputar bersama ‘illah-nya, ada atau tidak adanya ‘illah tersebut.

Hal ini semakin ditegaskan oleh sabda Nabi :

«نِعْمَ الْإِدَامُ الْخَلُّ»

“Cuka adalah sebaik-baik lauk.”

[Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2051), at-Tirmidzi (no. 1840), dan Ibnu Majah (no. 3316), dari hadits ‘Aisyah. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim (no. 2052), Abu Dawud (no. 3821), at-Tirmidzi (no. 1842), an-Nasa’i (no. 3796), dan Ibnu Majah (no. 3317), dari hadits Jabir bin Abdullah.]

Hadits tersebut disebutkan secara mutlak, tanpa membedakan antara satu jenis cuka dengan cuka lainnya, dan kita tidak diperintahkan untuk meneliti bagaimana cuka tersebut terbentuk atau bagaimana proses perubahan khamr menjadi cuka.

Adapun riwayat-riwayat yang menunjukkan larangan mengubah khamr menjadi cuka, maka hal tersebut dipahami sebagai bentuk pencegahan dan penegasan hukum yang keras pada masa awal, agar mereka tidak meremehkan persoalan khamr dalam keadaan apa pun. [Selesai]

---

FATWA SYEIKH YUSUF AL-QORODHOWI

Syaikh Yusuf al-Qaradawi dalam risalahnya yang berjudul:

«حُكْمُ الْخَلِّ الْمَصْنُوعِ مِنَ الْخَمْرِ»

“Hukum Cuka yang Dibuat dari Khamr”

Beliau berkata:

وَالَّذِي يَتَرَجَّحُ عِنْدِي: أَنَّ الْخَمْرَ إِذَا صَارَتْ «خَلًّا» طَهُرَتْ وَحَلَّتْ، لِأَنَّهَا اسْتَحَالَتْ مِنْ عَيْنٍ إِلَى أُخْرَى، تَغَيَّرَتْ صِفَاتُهَا، فَيَجِبُ أَنْ يَتَغَيَّرَ حُكْمُهَا، كَمَا نَقُولُ فِي كُلِّ النَّجَاسَاتِ الْمُسْتَحِيلَةِ، سَوَاءٌ اسْتَحَالَتْ بِنَفْسِهَا أَمْ بِفِعْلِ فَاعِلٍ.

وَالْخَمْرُ نَفْسُهَا كَانَتْ عَيْنًا حَلَالًا مِنَ الْعِنَبِ وَغَيْرِهِ، فَلَمَّا اسْتَحَالَتْ إِلَى مَادَّةٍ مُسْكِرَةٍ حَرُمَتْ، فَإِذَا تَغَيَّرَتْ وَزَالَ وَصْفُ الْإِسْكَارِ، زَالَتِ الْحُرْمَةُ، وَعَادَتْ إِلَى الْحُكْمِ الْأَصْلِيِّ.

عَلَى أَنَّ مِنَ الْمُسْتَبْعَدِ أَنْ يُغَيِّرَ الْقَوْمُ الْخَمْرَ إِلَى خَلٍّ عَامِدِينَ، إِذِ الْخَمْرُ عِنْدَهُمْ أَهَمُّ وَأَغْلَى ثَمَنًا مِنَ الْخَلِّ، فَلَا يُتَصَوَّرُ أَنْ يُحَوِّلُوهَا إِلَى خَلٍّ لِيَخْسَرُوا فِيهَا، وَهُمْ يَرْكُضُونَ وَرَاءَ الْكَسْبِ الْمَادِّيِّ.

وَمَنْطِقُ الْحَنَفِيَّةِ وَمَنْ وَافَقَهُمْ قَوِيٌّ؛ لِأَنَّ التَّخْلِيلَ ـ مِثْلَ التَّخَلُّلِ ـ يُزِيلُ الْوَصْفَ الْمُفْسِدَ، وَهُوَ الْإِسْكَارُ، وَيُثْبِتُ وَصْفَ الصَّلَاحِيَّةِ؛ لِأَنَّ فِيهِ مَصْلَحَةَ التَّغَذِّي وَالتَّدَاوِي وَغَيْرِهِمَا، وَلِأَنَّ عِلَّةَ التَّنْجِيسِ وَالتَّحْرِيمِ هِيَ الْإِسْكَارُ، وَقَدْ زَالَتْ، وَالْحُكْمُ يَدُورُ مَعَ عِلَّتِهِ وُجُودًا وَعَدَمًا.

قَالَ الْإِمَامُ الطَّحَاوِيُّ فِي «شَرْحِ مُشْكِلِ الْآثَارِ» مُؤَيِّدًا مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ الْحَنَفِيَّةُ: لِأَنَّا رَأَيْنَا الْعَصِيرَ الْحَلَالَ إِذَا صَارَ خَمْرًا بِعِلَاجٍ مِنْ غَيْرِهِ أَنَّ ذَلِكَ سَوَاءٌ، وَأَنَّهَا حَرَامٌ لِلْعِلَّةِ الَّتِي حَدَثَتْ فِيهَا، وَلَمْ تَفْتَرِقْ فِي ذَلِكَ مَا كَانَ مِنْ ذَاتِهَا، وَلَا مَا كَانَ فِعْلُ أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ بِهَا. وَكَانَ مِثْلُ ذَلِكَ إِذَا كَانَتْ خَمْرًا، ثُمَّ انْقَلَبَتْ خَلًّا أَنْ يَسْتَوِيَ ذَلِكَ فِيهَا، وَأَنْ يَكُونَ انْقِلَابُهَا بِذَاتِهَا، وَانْقِلَابُهَا بِفِعْلِ أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ بِهَا بِمَعْنًى وَاحِدٍ، وَيَكُونَ حُدُوثُ صِفَةِ الْخَلِّ فِيهَا يُوجِبُ لَهَا حُكْمَ الْخَلِّ، فَيَعُودَ إِلَى حِلِّهِ، وَيَزُولَ عَنْ حُكْمِ الْخَمْرِ الَّتِي عَلَيْهِ فِي حُرْمَتِهِ، وَمِثْلُ ذَلِكَ أَيْضًا دِبَاغُ الْمَيْتَةِ أَنَّهُ يَسْتَوِي عِلَاجُهَا وَهِيَ حَرَامٌ حَتَّى تَعُودَ حَلَالًا، كَمَا تَعُودُ حَلَالًا لَوْ تُرِكَتْ حَتَّى تَجِفَّ فِي الشَّمْسِ وَتَسْفِيَ عَلَيْهَا الرِّيَاحُ، فَيَكُونُ ذَلِكَ سَبَبًا لِذَهَابِ وَضَرِ الْمَيْتَةِ عَنْهَا، وَإِعَادَةً لَهَا حُكْمَ الْأَهَبِ الَّتِي مِنَ الْمُذَكَّى مِنْ أَجْنَاسِهَا. [شَرْحُ مُشْكِلِ الْآثَارِ (3345)]

وَلِأَنَّ التَّخْلِيلَ إِصْلَاحٌ، فَجَازَ قِيَاسًا عَلَى دَبْغِ الْجِلْدِ النَّجِسِ، فَقَدْ صَحَّ فِي الْحَدِيثِ: «إِذَا دُبِغَ الْإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ». [رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي الْحَيْضِ (366)، وَأَبُو دَاوُدَ فِي اللِّبَاسِ (4123)، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ.]

يُؤَكِّدُ هَذَا قَوْلُهُ ﷺ: «نِعْمَ الْإِدَامُ الْخَلُّ». [رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي الْأَشْرِبَةِ (2052)، وَأَحْمَدُ (14225)، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ].

قَوْلُهُ ﷺ «نِعْمَ الْإِدَامُ الْخَلُّ» مُطْلَقًا، مِنْ غَيْرِ تَفْرِيقٍ بَيْنَ خَلٍّ وَآخَرَ، وَلَا طَلَبَ مِنَّا الْبَحْثَ عَنْ أَصْلِهِ مَاذَا كَانَ.

وَقَدْ رَوَى أَبُو عُبَيْدٍ عَنْ عَلِيٍّ: أَنَّهُ اصْطَبَغَ ـ أَيْ ائْتَدَمَ ـ بِخَلِّ الْخَمْرِ. وَعَنْ ابْنِ عَوْنٍ: أَنَّ ابْنَ سِيرِينَ كَانَ لَا يُسَمِّيهِ ـ خَلَّ الْخَمْرِ ـ وَيُسَمِّيهِ ـ خَلَّ الْعِنَبِ ـ وَكَانَ يَأْكُلُهُ. [رَوَاهُ الْقَاسِمُ بْنُ سَلَامٍ فِي الْأَمْوَالِ صـ 138، 139].

وَفِي عَصْرِنَا عِنْدَمَا يُشْتَرَى الْخَلُّ، يُعْرَضُ عَلَى الْمَعَامِلِ الْعِلْمِيَّةِ وَمُخْتَبَرَاتِ التَّحْلِيلِ، وَهِيَ تَبْحَثُ فِي الْمَادَّةِ الْمَوْجُودَةِ، وَتُصْدِرُ حُكْمَهَا بِنَاءً عَلَى الْعَنَاصِرِ الْمُكَوِّنَةِ لَهَا، وَلَا تَنْظُرُ إِلَى أَصْلِهَا أَيَّ شَيْءٍ كَانَ.

“Menurut pendapat yang lebih kuat menurut saya, apabila khamr berubah menjadi ‘cuka’, maka ia menjadi suci dan halal. Sebab, khamr tersebut telah mengalami perubahan dari satu zat menjadi zat yang lain dan sifat-sifatnya pun telah berubah. Oleh karena itu, hukumnya juga harus berubah, sebagaimana yang kami katakan mengenai seluruh benda najis yang telah mengalami perubahan zat (istihalah), baik perubahan itu terjadi dengan sendirinya maupun melalui tindakan seseorang.

Khamr itu sendiri pada asalnya merupakan zat yang halal, yang berasal dari anggur dan selainnya. Ketika ia berubah menjadi zat yang memabukkan, ia menjadi haram. Apabila kemudian berubah dan sifat memabukkannya hilang, maka keharamannya pun hilang dan ia kembali kepada hukum asalnya.

Selain itu, sangat kecil kemungkinan suatu kaum sengaja mengubah khamr menjadi cuka, karena bagi mereka khamr lebih penting dan lebih mahal daripada cuka. Maka tidak masuk akal mereka mengubahnya menjadi cuka hanya untuk mengalami kerugian, sementara mereka mengejar keuntungan materi.

Logika mazhab Hanafi dan orang-orang yang sependapat dengan mereka sangat kuat. Sebab, proses pembuatan cuka (takhliil), sebagaimana perubahan menjadi cuka secara alami (takhallul), menghilangkan sifat yang merusak, yaitu sifat memabukkan, dan menetapkan sifat yang menjadikannya layak digunakan. Sebab, di dalamnya terdapat manfaat untuk makanan, pengobatan, dan sebagainya. Selain itu, ‘illat kenajisan dan keharaman adalah sifat memabukkan, sedangkan sifat tersebut telah hilang. Hukum berputar bersama ‘illat-nya, ada atau tidak adanya ‘illat tersebut.

Imam ath-Thahawi berkata dalam kitab “Syarh Musykil al-Atsar”, sebagai penguat pendapat yang diambil oleh mazhab Hanafi:

‘Karena kami melihat bahwa air perasan yang halal, apabila berubah menjadi khamr melalui suatu proses yang dilakukan terhadapnya, maka hukumnya sama. Ia menjadi haram karena ‘illat yang muncul padanya. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara perubahan yang terjadi karena zat itu sendiri maupun karena tindakan seseorang terhadapnya. Demikian pula apabila ia telah menjadi khamr kemudian berubah menjadi cuka, maka hukumnya sama, baik perubahan itu terjadi dengan sendirinya maupun melalui tindakan seseorang terhadapnya. Keduanya memiliki makna yang sama. Munculnya sifat cuka padanya menyebabkan ia memperoleh hukum cuka, sehingga kembali menjadi halal dan terlepas dari hukum khamr yang sebelumnya melekat padanya berupa keharaman.

Demikian pula penyamakan kulit bangkai. Perlakuan terhadapnya ketika masih haram hingga menjadi halal hukumnya sama dengan apabila kulit tersebut dibiarkan hingga kering terkena sinar matahari dan diterpa angin. Hal itu menjadi sebab hilangnya kotoran bangkai darinya dan mengembalikannya kepada hukum kulit hewan yang disembelih secara syar‘i dari jenisnya.’ [Syarh Musykil al-Atsar (3345)]

Karena proses pembuatan cuka merupakan suatu bentuk perbaikan, maka hal itu dapat dianalogikan dengan penyamakan kulit yang najis. Telah sah dalam hadits:

‘Apabila kulit telah disamak, maka sungguh ia telah menjadi suci.’ [Diriwayatkan oleh Muslim dalam al-Haidh (366) dan Abu Dawud dalam al-Libas (4123), dari Ibnu Abbas.]

Hal ini semakin ditegaskan oleh sabda beliau :

‘Sebaik-baik lauk adalah cuka.’ [Diriwayatkan oleh Muslim dalam al-Asyribah (2052) dan Ahmad (14225), dari Jabir bin Abdullah.]

Sabda beliau , ‘Sebaik-baik lauk adalah cuka’, bersifat umum, tanpa membedakan antara satu jenis cuka dengan cuka lainnya, dan tanpa memerintahkan kita untuk meneliti asal-usul cuka tersebut, sebelumnya berasal dari apa.

Abu Ubaid meriwayatkan dari Ali bahwa beliau menggunakan cuka khamr sebagai lauk, yakni menjadikannya sebagai pelengkap makanan. Dari Ibnu Aun diriwayatkan bahwa Ibnu Sirin tidak menyebutnya sebagai ‘cuka khamr’, tetapi menyebutnya ‘cuka anggur’, dan beliau memakannya. [Diriwayatkan oleh al-Qasim bin Sallam dalam al-Amwal, hlm. 138–139].

Pada zaman kita, ketika seseorang membeli cuka, cuka tersebut diperiksa di lembaga-lembaga ilmiah dan laboratorium analisis. Mereka meneliti zat yang ada di dalamnya dan menetapkan penilaian berdasarkan unsur-unsur penyusunnya, bukan berdasarkan asal-usulnya, apa pun asalnya.

Dan Al-Qaradawi juga berkata:

وَلَا يُوجَدُ دَلِيلٌ صَحِيحٌ صَرِيحٌ عَلَى نَجَاسَةِ الْخَمْرِ. قَالَ الْإِمَامُ الشَّوْكَانِيُّ فِي «السَّيْلِ الْجَرَّارِ»: لَيْسَ فِي نَجَاسَةِ الْمُسْكِرِ دَلِيلٌ يَصْلُحُ لِلتَّمَسُّكِ بِهِ. وَعَضَدَ ذَلِكَ بِالْأَدِلَّةِ. [السَّيْلُ الْجَرَّارُ (1/25 ـ 27)، نَشْرُ دَارِ ابْنِ حَزْمٍ، ط 1].

‘Tidak terdapat dalil yang sahih dan tegas mengenai kenajisan khamr. Imam asy-Syaukani berkata dalam “as-Sail al-Jarrar”: “Tidak ada dalil mengenai kenajisan minuman yang memabukkan yang layak dijadikan pegangan.” Beliau kemudian menguatkan pendapat tersebut dengan berbagai dalil.’ [as-Sail al-Jarrar (1/25–27), diterbitkan oleh Dar Ibnu Hazm, cet. 1].

===***====

APAKAH BOLEH MENGGUNAKAN KHAMR SELAIN UNTUK MINUM?

Sebagian ulama muta’akhirin berpendapat bahwa yang diharamkan dari khamr hanyalah meminumnya, sedangkan penggunaan selain untuk minum tidaklah haram.

Disebutkan dalam “Ensiklopedia Fikih” (5/25):

«ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ إِلَى تَحْرِيمِ الِانْتِفَاعِ بِالْخَمْرِ لِلْمُدَاوَاةِ، وَغَيْرِهَا مِنْ أَوْجُهِ الِانْتِفَاعِ، كَاسْتِخْدَامِهَا فِي دُهْنٍ، أَوْ طَعَامٍ، أَوْ بَلْ طِينٍ». انْتَهَى.

“Mayoritas ulama fikih berpendapat bahwa haram memanfaatkan khamr untuk pengobatan dan bentuk-bentuk pemanfaatan lainnya, seperti menggunakannya sebagai minyak, makanan, atau untuk melapisi tanah.” Selesai.

Syekh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi berkata:

«لَا يَخْفَى عَلَى مُنْصِفٍ أَنَّ التَّضَمُّخَ بِالطِّيبِ الْمَذْكُورِ، وَالتَّلَذُّذَ بِرِيحِهِ، وَاسْتِطَابَتَهُ وَاسْتِحْسَانَهُ، مَعَ أَنَّهُ مُسْكِرٌ، وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ يُصَرِّحُ فِي كِتَابِهِ بِأَنَّ الْخَمْرَ رِجْسٌ، فِيهِ مَا فِيهِ، فَلَيْسَ لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَتَطَيَّبَ بِمَا يَسْمَعُ رَبَّهُ يَقُولُ فِيهِ إِنَّهُ (رِجْسٌ) كَمَا هُوَ وَاضِحٌ». انْتَهَى

“Tidaklah samar bagi orang yang objektif bahwa menggunakan wewangian yang disebutkan tersebut, menikmati aromanya, menganggapnya baik dan menyukainya, padahal ia merupakan sesuatu yang memabukkan, sementara Allah SWT telah menjelaskan dalam Kitab-Nya bahwa khamr adalah najis, merupakan sesuatu yang mengandung masalah. Maka, seorang muslim tidak boleh menggunakan wewangian dari sesuatu yang ia mendengar Rabb-nya menyatakan bahwa sesuatu tersebut adalah ‘najis’, sebagaimana telah jelas.” Selesai, dari “Adhwa’ Al-Bayan” (2/129).

ATSAR ‘AISYAH RADHIYALLAHU ‘ANHA:

Abdurrazzaq meriwayatkan dalam “Al-Mushannaf” (9/249), Kitab Al-Asyribah, Bab “Wanita Menyisir Rambut dengan Khamr”, melalui riwayat Ma‘mar dari Az-Zuhri, ia berkata:

«كَانَتْ عَائِشَةُ تَنْهَى أَنْ تَمْتَشِطَ الْمَرْأَةُ بِالْمُسْكِرِ».

“Dahulu Aisyah melarang seorang wanita menyisir rambutnya dengan sesuatu yang memabukkan.”

Dan dalam “Mushannaf Ibnu Abi Syaibah” (5/98 no. 24075) di riwayatkan:

أَنَّ عَائِشَةَ: «سُئِلَتْ عَنِ الْمَرْأَةِ تَمْتَشِطُ بِالْعَسَلَةِ فِيهَا الْخَمْرُ، ‌فَنَهَتْ ‌عَنْ ‌ذَلِكَ ‌أَشَدَّ ‌النَّهْيِ»

“Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah ditanya seorang wanita yang menyisir rambutnya dengan ‘asalāh yang mengandung khamr?”, Maka beliau melarangnya dengan larangan yang sangat keras. Selesai,

Sanad riwayat ini adalah hadits mursal.

ATSAR ABDULLAH BIN UMAR RADHIYALLAHU ‘ANHUMA:

Dari Nafi’, ia berkata:

«أَنَّ ابْنَ عُمَرَ بَلَغَهُ أَنَّ نِسَاءً يَمْتَشِطْنَ بِالْخَمْرِ، فَقَالَ: أَلْقَى اللَّهُ فِي رُؤُوسِهِنَّ الْحَاصَّةَ». انْتَهَى

“Telah sampai berita kepada Ibnu Umar bahwa ada sejumlah wanita yang menyisir rambut mereka dengan khamr. Maka ia berkata, ‘Semoga Allah menimpakan kepada kepala mereka penyakit al-hāshshah.’” Selesai, dari “Mushannaf Ibnu Abi Syaibah” (8/7).

Kosa Kata:

وَالْحَاصَّةُ: دَاءٌ يَتَنَاثَرُ مِنْهُ الشَّعَرُ

Al-hāshshah adalah penyakit yang menyebabkan rambut berguguran, sebagaimana disebutkan dalam “Al-Qamus Al-Muhith”, hlm. 793.

Atau:

«وَالْحَاصَّةُ: هِيَ الْعِلَّةُ الَّتِي تَحُصُّ الشَّعَرَ وَتُذْهِبُهُ»

Al-hāshshah adalah suatu penyakit yang menyebabkan rambut rontok dan menghilangkannya, sebagaimana disebutkan dalam kitab An-Nihayah, 1/396.

ATSAR HUDZAIFAH RADHIYALLAHU ‘ANHU:

Dari Hudzaifah, ia berkata:

«تَمْتَشِطُ بِالْخَمْرِ؟! لَا طَيَّبَهَا اللَّهُ». انْتَهَى

“Seorang wanita menyisir rambutnya dengan khamr?! Semoga Allah tidak memberinya kebaikan.” Selesai, dari “Mushannaf Ibnu Abi Syaibah” (8/7).

ATSAR PARA TABI’IN:

Dari Ma‘mar, ia berkata:

سُئِلَ عِكْرِمَةُ: أَتَمْتَشِطُ الْمَرْأَةُ بِالْمُسْكِرِ؟ قَالَ: «لَا تَمْتَشِطْ بِمَعْصِيَةِ اللَّهِ».

‘Ikrimah ditanya: “Apakah seorang wanita boleh menyisir rambutnya dengan menggunakan minuman yang memabukkan?”

Ia menjawab: “Janganlah ia menyisir rambutnya dengan sesuatu yang merupakan kemaksiatan kepada Allah.”

Jabir bin Zaid (wafat 93 H) pernah ditanya:

«دُرْدِيِّ الْخَمْرِ، هَلْ يَصْلُحُ أَنْ يُتَدَلَّكَ بِهِ فِي الْحَمَّامِ، أَوْ يُتَدَاوَى بِشَيْءٍ مِنْهُ فِي جِرَاحَةٍ، أَوْ سِوَاهَا؟»

قَالَ: «هُوَ رِجْسٌ، وَأَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى بِاجْتِنَابِهِ».

“Bagaimana hukum endapan khamr? Apakah boleh digunakan untuk menggosok tubuh ketika mandi di pemandian umum, atau digunakan sebagai obat untuk luka atau keperluan lainnya?”

Ia menjawab: “Itu adalah najis, dan Allah Ta’ala telah memerintahkan untuk menjauhinya.” Selesai, dari “Mushannaf Ibnu Abi Syaibah” (1/145).

Kosa Kata:

دُرْدِيُّ الزَّيْتِ وَغَيْرِهِ: مَا يَبْقَى فِي أَسْفَلِهِ.

Durdī minyak dan selainnya adalah sesuatu yang tersisa di bagian bawahnya setelah mengendap, sebagaimana disebutkan dalam “Mukhtar Ash-Shihah”, hlm. 218.

ATSAR ‘ATHO :

Dan Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ibnu Juraij, ia berkata:

قُلْتُ لِعَطَاءٍ: أَتَمْتَشِطُ الْمَرْأَةُ بِالْمُسْكِرِ؟ قَالَ: لَا، وَقَالَ: عَبْدُ الْكَرِيمِ: لَا، وَقَالَ عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ: «لَا تَمْتَشِطُ الْمَرْأَةُ بِالْخَمْرِ».

Aku bertanya kepada ‘Atha’: “Apakah seorang wanita boleh menyisir rambutnya dengan menggunakan minuman yang memabukkan?” Ia menjawab: “Tidak.”

‘Abdul Karim juga berkata: “Tidak.”

Dan ‘Amr bin Dinar berkata: “Janganlah seorang wanita menyisir rambutnya dengan khamr.”

 

Posting Komentar

0 Komentar