HADITS ANCAMAN BAGI ORANG YANG BERAMBISI
INGIN DISEBUT ALIM ULAMA ATAU QORI
KELAK AKAN DI SERET DAN DILEMPARKAN KE NERAKA
----
Di
Tulis Oleh Fakhry
KAJIAN
NIDA AL-ISLAM
DAFTAR ISI:
- PENDAHULUAN.
- HADITS ANCAMAN BAGI ORANG YANG BERAMBISI INGIN DISEBUT ULAMA KARENA ILMUNYA ATAU QORI KARENA QIRO’ATNYA, KELAK AKAN DILEMPARKAN KE NEREKA.
- SYARAH HADITS DAN PENJELASANNYA DARI PARA ULAMA AHLI HADITS
- FAKTOR UTAMA ANCAMAN TERSEBUT ADALAH RIYA DAN CINTA POPULARITAS
- RIYA DAN CINTA POPULARITAS DALAM IBADAH TERMASUK DOSA BESAR DAN CIRI KHAS ORANG MUNAFIK.
- LARANGAN MENGEJAR POPULARITAS DENGAN IBADAHNYA DAN ILMU AGAMANYA:
- LARANGAN SEORANG ULAMA BERAMBISI MENGUASAI MIMBAR-MIMBAR CERAMAH:
- LARANGAN SESEORANG DENGAN AGAMANYA INGIN DIAGUNGKAN DAN DIMULIAKAN
- SOMBONG, UJUB DAN MERASA SUCI ADALAH DOSA PERTAMA IBLIS :
- LARANGAN MENGHARAPKAN PEMBERIAN MANUSIA DENGAN ILMU AGAMANYA DAN IBADAHNYA
- SIAPAKAH ULAMA YANG MIRIP ANJING TERENGAH-ENGAH SAMBIL MENJULURKAN LIDAH?
- SIAPAKAH ULAMA YANG LEBIH BAHAYA DARI PADA DUA SRIGALA KELAPARAN?:
- KONDISI ULAMA OMDO, KELAK KETIKA BERADA DALAM API NERAKA
- MENYAMPAIKAN AYAT-AYAT AL-QUR’AN DAN ILMU AGAMA ADALAH IBADAH DAN KEWAJIBAN:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
===***===
PENDAHULUAN
Gelar istimewa bagi seseorang
yang melakukan amal shaleh, misalnya sbb :
1] Seperti gelar ulama, da’i
dan faqih bagi orang yang berilmu yang aktif berdakwah dan beramar ma’ruf
nahyi munkar.
2] Atau seperti gelar qori
bagi orang yang mahir membaca al-Qur’an, bersuara merdu dan aktif mengajar
al-Qur’an.
3] Begitu juga gelar hafidz
bagi orang yang hafal al-Qur’an.
Hukum Asal Gelar Ulama, Qori,
Hafidz, orang pinter dan yang semisalnya insya Allah mubah dan tidak dilarang selama
tidak ada unsur ria dan kesombongan, serta pelakunya tidak ada niat dan ambisi ingin
berbeda, dia tidak merasa exslusif dan istimewa dengan gelar dan panggilan
tersbut. Juga dengan gelar tersebut, dia tidak bermaksud untuk menunjukkan
bahwa dirinya adalah orang yang ber-ilmu tingggi, sangat mulia dan langka.
Adapun jika sebaliknya, maka itu jelas sangat dilarang.
===***===
HADITS
ANCAMAN BAGI ORANG YANG BERAMBISI
INGIN DISEBUT ULAMA KARENA ILMUNYA
ATAU QORI KARENA QIRO’ATNYA
KELAK AKAN DISERET LALU DILEMPARKAN KE NEREKA
Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
«ورَجُلٌ تَعَلَّمَ العِلْمَ، وعَلَّمَهُ
وقَرَأَ القُرْآنَ، فَأُتِيَ به فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَها، قالَ: فَما
عَمِلْتَ فيها؟ قالَ: تَعَلَّمْتُ العِلْمَ، وعَلَّمْتُهُ وقَرَأْتُ فِيكَ
القُرْآنَ، قالَ: كَذَبْتَ، ولَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ العِلْمَ لِيُقالَ: عالِمٌ،
وقَرَأْتَ القُرْآنَ لِيُقالَ: هو قارِئٌ، فقَدْ قيلَ، ثُمَّ أُمِرَ
به فَسُحِبَ علَى وجْهِهِ حتَّى أُلْقِيَ في النَّارِ».
Dan [kelak pada hari Kiamat] didatangkan pula
seseorang yang BELAJAR ILMU AGAMA dan MENGAJARKAN-NYA, serta MEMBACA AL-QUR'AN.
Lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan [didunia hasil dari gelar dan amalannya
itu] sehingga ia mengetahuinya dengan jelas.
Allah bertanya kepadanya: 'Apa yang telah kamu
amalkan dengannya? '
Dia menjawab: 'Saya telah belajar ilmu dan
mengajarkannya, saya juga membaca Al Qur'an demi untuk Engkau.'
Allah berfirman: 'Kamu dusta, akan tetapi kamu
belajar ilmu dan mengajarkannya agar di sebut 'ALIM [yakni: orang
berilmu / ulama / Ustadz / Kyai] serta membaca Al Qur'an agar disebut QORI [yakni:
orang yang rajin baca al-Qur'an, ahli qiro’at atau hafidz]. Dan kini kamu telah
mendapatkan sebutan itu".
Kemudian diperintahkan agar ia diseret dengan
wajahnya, lalu dilemparkan ke dalam api neraka.” [HR. Muslim
no. 1905].
Lafadz
Hadits lengkapnya:
Dari Sulaiman bin Yasar, ia berkata:
Orang-orang telah bubar meninggalkan Abu Hurairah.
Lalu Natil, salah seorang dari penduduk Syam, berkata kepadanya, “Wahai Syekh,
sampaikanlah kepada kami sebuah hadits yang pernah engkau dengar dari
Rasulullah ﷺ.”
Abu Hurairah menjawab, “Ya, aku pernah mendengar
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ
عَلَيْهِ:
رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ
فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ،
قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ
أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ.
وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ، وَعَلَّمَهُ، وَقَرَأَ
الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ
فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ، وَعَلَّمْتُهُ، وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ،
قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ
الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى
وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ.
وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ، وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ
الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ
فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ
فِيهَا لَكَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ
قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ، ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ».
“Sesungguhnya orang yang pertama kali diputuskan
perkaranya pada hari Kiamat adalah:
[1] Seseorang yang gugur sebagai
syahid. Ia didatangkan, lalu Allah memperlihatkan kepadanya berbagai nikmat
yang telah Dia berikan kepadanya, dan ia pun mengakuinya. Allah bertanya, ‘Apa
yang telah engkau lakukan dengan nikmat-nikmat tersebut?’
Ia menjawab, ‘Aku berperang di jalan-Mu hingga aku
gugur sebagai syahid.’
Allah berfirman, ‘Engkau berdusta. Akan tetapi,
engkau berperang agar dikatakan: “Ia adalah seorang pemberani.” Dan memang
telah dikatakan demikian.’
Kemudian diperintahkan agar ia diseret dengan
wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.
[2] Kemudian ada seseorang yang
mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur’an. Ia didatangkan,
lalu Allah memperlihatkan kepadanya berbagai nikmat yang telah Dia berikan
kepadanya, dan ia pun mengakuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang telah engkau
lakukan dengan nikmat-nikmat tersebut?’
Ia menjawab, ‘Aku mempelajari ilmu, mengajarkannya,
dan membaca Al-Qur’an karena-Mu.’
Allah berfirman, ‘Engkau berdusta. Akan tetapi,
engkau mempelajari ilmu agar dikatakan: “Ia adalah seorang alim ulama.”
Dan engkau membaca Al-Qur’an agar dikatakan: “Ia adalah seorang qari.”
Dan memang telah dikatakan demikian.’
Kemudian diperintahkan agar ia diseret dengan
wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.
[3] Kemudian ada seseorang yang
Allah lapangkan rezekinya dan Dia memberinya berbagai macam harta. Ia
didatangkan, lalu Allah memperlihatkan kepadanya berbagai nikmat yang telah Dia
berikan kepadanya, dan ia pun mengakuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang telah
engkau lakukan dengan nikmat-nikmat tersebut?’
Ia menjawab, ‘Aku tidak meninggalkan satu pun jalan
yang Engkau sukai untuk digunakan dalam berinfak, kecuali aku menginfakkan
hartaku di jalan tersebut karena-Mu.’
Allah berfirman, ‘Engkau berdusta. Akan tetapi,
engkau melakukan semua itu agar dikatakan: “Ia adalah seorang dermawan.”
Dan memang telah dikatakan demikian.’
Kemudian diperintahkan agar ia diseret dengan
wajahnya, lalu dilemparkan ke dalam neraka.”
[HR. Muslim no. 152- (1905).
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam
al-Musnad no. 8277, an-Nasa’i dalam kitab “al-Mujtaba” (6/23–24), dan dalam
“as-Sunan al-Kubra” (No. 8083), serta al-Baihaqi (9/168) melalui beberapa jalur
periwayatan, dari Ibnu Juraij, dengan sanad tersebut.
Hadits ini juga diriwayatkan dengan redaksi yang
lebih panjang daripada yang disebutkan di sini oleh Abdullah bin al-Mubarak
dalam “az-Zuhd” (No. 469).
Dari jalur periwayatannya, al-Bukhari meriwayatkannya
dalam “Khalq Af‘al al-‘Ibad” (No. 335), at-Tirmidzi (No. 2382), an-Nasa’i dalam
bab ar-Riqaq dari “as-Sunan al-Kubra”, sebagaimana disebutkan dalam “Tuhfat
al-Asyraf” (10/111), ath-Thabari dalam “Tafsir”-nya (12/13), Ibnu Khuzaimah
(No. 2482), Ibnu Hibban (No. 408), al-Hakim (1/418–419), Abu Nu’aim dalam
“Hilyatul Auliya” (5/169), al-Baghawi (No. 4143) melalui Haywah bin Syuraih,
dan Abu Nu’aim dalam “Hilyatul Auliya” melalui jalur al-Laits bin Sa’ad.
Keduanya meriwayatkan dari al-Walid bin Abi al-Walid, dari ‘Uqbah bin Muslim,
dari Syafi, dari Abu Hurairah.
At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan gharib.”
Al-Hakim juga menshahihkannya dan adz-Dzahabi menyetujuinya.
Riwayat al-Bukhari merupakan versi ringkas].
SYARAH HADITS DAN PENJELASANNYA DARI PARA ULAMA AHLI HADITS
Berikut ini syarah hadits diatas dan penjelesannya
dari para ulama pakar hadits:
Muhammad as-Saffarini
al-Hanbali berkata dalam kitab Al-Buhur az-Zakhirah (2/796–797):
«فَدَلَّ هَذَا الْحَدِيثُ الشَّرِيفُ أَنَّ أَوَّلَ
مَنْ يُحَاسَبُ هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةُ أَشْخَاصٌ؛ لِأَنَّهُمْ مُرَاءُونَ، وَلَا شَكَّ
أَنَّ الرِّيَاءَ مَذْمُومٌ، وَصَاحِبُهُ مِنْ أَبْوَابِ الْخَيْرِ مَحْرُومٌ».
“Hadits yang mulia ini
menunjukkan bahwa orang-orang yang pertama kali dihisab adalah tiga orang
tersebut, karena mereka melakukan riya. Tidak diragukan lagi bahwa riya
merupakan sesuatu yang tercela dan pelakunya terhalang dari berbagai pintu
kebaikan.”
Al-Hafizh
Ibnu Rajab berkata dalam kitabnya Syarh al-Arba’in an-Nawawiyyah:
«لَمَّا بَلَغَ مُعَاوِيَةَ هَذَا الْحَدِيثُ
بَكَى حَتَّى غُشِيَ عَلَيْهِ، فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ: صَدَقَ اللهُ وَرَسُولُهُ ﷺ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ
إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَئِكَ الَّذِينَ
لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ﴾ [هُودٍ: 15، 16]». انْتَهَى
“Ketika hadits ini sampai
kepada Mu’awiyah, ia menangis hingga pingsan. Setelah sadar, ia berkata, ‘Allah
dan Rasul-Nya telah berkata benar.’ Allah Ta’ala berfirman:
‘Barang siapa menghendaki
kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan
pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan
dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak memperoleh sesuatu pun di
akhirat kecuali neraka.’” [Hud:
15–16] (Selesai. Lihat : Jami‘ al-‘Ulum, 1/77).
Ibnu Hubairah, Abu
al-Muzhaffar, berkata dalam kitabnya Al-Ifshah ‘an Ma‘ani ash-Shihah (8/36):
«فِي هَذَا الْحَدِيثِ مِنَ الْفِقْهِ أَنَّ هَؤُلَاءِ
الثَّلَاثَةَ فِيمَا أَرَى: لَمْ تَكُنْ أَفْعَالُهُمْ إِلَّا لِيُقَالَ عَنْهُمْ.
فَأَمَّا لَوْ كَانَتْ أَفْعَالُهُمْ لِأَجْلِ اللهِ تَعَالَى؛ ثُمَّ أَعْقَبَ ذَلِكَ
أَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ وَعَالِمٌ وَجَوَادٌ فَسَرَّهُمْ ذَلِكَ لَمْ تَكُنْ إِيثَارُهُمْ
لِهَذَا الْمَدْحِ مِمَّا يَحُلُّ عُقْدَةَ عَزْمِهِمُ الْأَوَّلِ، وَلَمْ يَكُنْ هَذَا
التَّوْبِيخُ مُتَنَاوِلًا لَهُمْ؛ لِأَنَّهُ إِذَا تَعَلَّمَ الْعَالِمُ الْعِلْمَ
لِلَّهِ، ثُمَّ سَرَّهُ أَنْ يُقَالَ إِنَّهُ عَالِمٌ لَمْ يَتَنَاوَلْهُ هَذَا الذَّمُّ،
وَكَذَلِكَ الْمُنْفِقُ وَالْمُجَاهِدُ إِذَا قِيلَ بَعْدَ خُلُوصِ نِيَّتِهِمَا جَوَادٌ
وَجَرِيءٌ لَمْ يَضُرَّهُمَا إِذَا لَمْ يَكُنْ مَبْنَى قَصْدِهِمَا لِذَلِكَ.
وَالَّذِي أَرَى لِكُلِّ مُجَاهِدٍ وَمُعَلِّمٍ لِلْخَيْرِ
وَمُنْفِقٍ فِي سَبِيلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَجْتَهِدَ فِي إِخْفَاءِ ذَلِكَ
لِيَسْلَمَ، أَوْ فِي إِظْهَارِهِ لِيُقْتَدَى بِهِ؛ فَإِنْ عَرَضَ لَهُ فِي إِحْدَى
الطَّرِيقَيْنِ عَارِضُ نَزْغٍ مِنَ الشَّيْطَانِ أَتْبَعَهُ بِالِاسْتِغْفَارِ وَالْإِنَابَةِ،
وَاللهُ الْمُوَفِّقُ لِكُلِّ مُؤْمِنٍ.
وَالدَّلِيلُ عَلَى مَا ذَهَبْنَا إِلَيْهِ مِنْ مَعْنَى
هَذَا الْحَدِيثِ الدُّعَاءُ فِي نُطْقِ الْحَدِيثِ: «وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ لِيُقَالَ»،
فَأَتَى بِاللَّامِ الْمُسْتَغْرِقَةِ لِلْجَزَاءِ عَنِ الْفِعْلِ، وَهُوَ قَوْلُهُ:
«وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ»، وَهَذَا لَا يَدْخُلُ فِيهِ مَنْ فَعَلَ شَيْئًا
لِلَّهِ فَقِيلَ فِيهِ؛ فَسَرَّهُ أَنْ قِيلَ.
وَيَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ فِي فِعْلِهِ إِرَادَةُ
اللهِ سُبْحَانَهُ بِشَيْءٍ مَا وَلَا مُخَالَطَةٌ بِحَالٍ؛ لِأَنَّ اللَّامَ قَدْ
أَخْبَرَ بِهَا عَمَّا احْتَوَتْ إِرَادَتُهُ عَلَيْهِ فِي فِعْلِهِ، وَلَمْ يَكُنْ
فِي ذَلِكَ شَيْءٌ لِلَّهِ، فَلِذَلِكَ مَا كَانَ جَزَاؤُهُ الْحَقُّ أَنَّهُ لَمْ
يَكُنْ لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ؛ لِأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ فِي عَمَلِهِ شَيْءٌ
لَهَا».
“Dalam hadits ini terdapat
pelajaran fikih bahwa, menurut pandanganku, tiga orang tersebut tidak
melakukan amalan-amalan itu kecuali agar dikatakan tentang mereka demikian.
Adapun apabila amalan mereka dilakukan karena Allah Ta’ala, kemudian setelah
itu mereka merasa senang ketika dikatakan sebagai orang pemberani, orang alim,
dan orang dermawan, maka rasa senang terhadap pujian tersebut tidak membatalkan
ketulusan niat awal mereka dan teguran dalam hadits ini tidak berlaku bagi mereka.
Sebab, apabila seorang alim
mempelajari ilmu karena Allah, kemudian ia merasa senang ketika dikatakan bahwa
dirinya adalah seorang alim, maka celaan ini tidak berlaku kepadanya. Demikian
pula orang yang berinfak dan orang yang berjihad; apabila setelah niat mereka
benar-benar ikhlas kemudian mereka disebut sebagai orang dermawan atau
pemberani, hal itu tidak membahayakan mereka selama tujuan awal mereka bukanlah
untuk memperoleh pujian tersebut.
Menurut pendapatku, setiap orang yang berjihad, mengajarkan
kebaikan, dan berinfak di jalan Allah Azza wa Jalla hendaknya berusaha menyembunyikan amal
tersebut agar selamat, atau menampakkannya agar dapat menjadi teladan bagi
orang lain. Jika dalam salah satu dari dua keadaan tersebut muncul gangguan
berupa bisikan setan, hendaknya ia segera mengiringinya dengan istighfar dan
kembali kepada Allah. Allah-lah yang memberikan taufik kepada setiap orang
mukmin.
Dalil yang mendukung
pemahaman kami terhadap hadits ini adalah
lafaz yang disebutkan dalam hadits: ‘Tetapi engkau mempelajari ilmu agar
dikatakan...’ Demikian pula: ‘Tetapi engkau melakukannya agar
dikatakan...’ Dalam lafaz tersebut terdapat huruf lam yang menunjukkan
tujuan atau maksud dari perbuatan. Makna ini tidak mencakup orang yang
melakukan suatu amal karena Allah, kemudian setelah itu ia dipuji atau disebut
dengan sifat tertentu. Dalam kasus seperti itu, pujian tersebut hanyalah
sesuatu yang terjadi setelah amal dilakukan.
Hal ini juga menunjukkan
bahwa sejak awal tidak terdapat sedikit pun keinginan untuk mencari
keridaan Allah dalam perbuatan mereka dan tidak ada campuran niat tersebut
dengan tujuan lain. Sebab, huruf lam dalam hadits menunjukkan tujuan yang
terkandung dalam kehendak mereka ketika melakukan perbuatan tersebut, sedangkan
tidak terdapat tujuan untuk Allah di dalamnya. Oleh karena itu, balasan yang
mereka terima adalah bahwa mereka tidak memperoleh bagian di akhirat, karena
tidak terdapat sedikit pun dari amal mereka yang ditujukan untuk akhirat.” [Selesai]
Imam Bukhari telah meriwayatkan [No. 1372, Kitab
ar-Raqā’iq,
Bab ar-Riyā’
wa as-Sum‘ah] dan selainnya dari Jundub bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, ia
berkata: Nabi ﷺ
bersabda:
«مَنْ سَمَّعَ؛ سَمَّعَ اللهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي؛
يُرَائِي اللهُ بِهِ».
“Barang siapa melakukan suatu amal agar didengar
dan diketahui oleh orang lain, niscaya Allah akan memperdengarkan dan
menampakkan aibnya. Dan barang siapa melakukan suatu amal karena riya, niscaya
Allah akan menampakkan riya dan keburukannya.”
Abu Hurairah juga meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: «أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ
عَنِ الشِّرْكِ، فَمَنْ عَمِلَ عَمَلًا وَأَشْرَكَ فِيهِ غَيْرِي، فَأَنَا مِنْهُ بَرِيءٌ».
Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman: “Aku adalah Zat
Yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa melakukan suatu amal dan ia
mempersekutukan selain-Ku di dalamnya, maka Aku berlepas diri darinya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dalam
Shahih-nya, No. 2985.
Dalam redaksi lain disebutkan:
«قَالَ اللهُ جَلَّ ذِكْرُهُ مَنْ قَائِلٍ: أَنَا
خَيْرُ الشُّرَكَاءِ، فَمَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ غَيْرِي، فَهُوَ لِلَّذِي
أَشْرَكَهُ، وَأَنَا بَرِيءٌ مِنْهُ».
“Allah Jalla Dzikruhu berfirman: ‘Aku adalah
sebaik-baik sekutu. Barang siapa melakukan suatu amal dan ia mempersekutukan
selain-Ku di dalamnya, maka amal itu adalah untuk pihak yang ia jadikan sekutu
tersebut, dan Aku berlepas diri darinya.’” Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad
dalam al-Musnad, 13/377 (No. 7999), dan sanadnya shahih. Ibnu Khuzaimah juga
menshahihkannya, 2/(938).
Al-Mundziri berkata dalam at-Targhīb
wa at-Tarhīb, 1/62:
«لَا ثَوَابَ لِلْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَإِنْ
جَلَّتْ مَعَ الرِّيَاءِ».
“Tidak ada pahala bagi amal-amal saleh, betapapun
besar dan agungnya, apabila disertai riya.”
Ia juga berkata dalam 1/116:
«التَّرْهِيبُ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ لِغَيْرِ
اللهِ تَعَالَى رِيَاءً».
“Peringatan keras terhadap mencari ilmu bukan
karena Allah Ta’ala, tetapi karena riya.”
Abu al-‘Abbas al-Qurthubi berkata dalam al-Mufhim,
3/746:
«إِنَّ الْإِخْلَاصَ فِي الطَّاعَاتِ وَاجِبٌ،
وَأَنَّ الرِّيَاءَ يُفْسِدُهَا».
“Sesungguhnya ikhlas dalam melakukan ketaatan
adalah wajib, dan riya dapat merusaknya.”
Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah berkata dalam ad-Dā’ wa ad-Dawā’ (al-Jawāb
al-Kāfī), hlm. 34:
«وَسَمِعْتُ شَيْخَ الْإِسْلَامِ ابْنَ تَيْمِيَةَ
يَقُولُ: كَمَا أَنَّ خَيْرَ النَّاسِ الْأَنْبِيَاءُ، فَشَرُّ النَّاسِ مَنْ تَشَبَّهَ
بِهِمْ يُوهِمُ أَنَّهُ مِنْهُمْ وَلَيْسَ مِنْهُمْ، فَخَيْرُ النَّاسِ بَعْدَهُمُ
الْعُلَمَاءُ، وَالشُّهَدَاءُ، وَالصِّدِّيقُونَ، وَالْمُخْلِصُونَ، وَشَرُّ النَّاسِ
مَنْ تَشَبَّهَ بِهِمْ يُوهِمُ أَنَّهُ مِنْهُمْ وَلَيْسَ مِنْهُمْ».
“Aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
Sebagaimana sebaik-baik manusia adalah para nabi, maka seburuk-buruk manusia
adalah orang yang menyerupai mereka dan memberikan kesan bahwa dirinya termasuk
golongan mereka, padahal bukan. Setelah para nabi, sebaik-baik manusia adalah
para ulama, para syuhada, para shiddiqin, dan orang-orang yang ikhlas.
Sedangkan seburuk-buruk manusia adalah orang yang menyerupai mereka dan
memberikan kesan bahwa dirinya termasuk golongan mereka, padahal bukan.”
Syamsuddin Abu al-‘Aun as-Saffarini berkata dalam
Ghidzā’
al-Albāb, 2/519:
«فَلَا بُدَّ مِنْ تَصْحِيحِ النِّيَّةِ فِي طَلَبِ
الْعِلْمِ. فَقَدْ نَقَلَ مُهَنَّا صَاحِبُ الْإِمَامِ أَحْمَدَ، أَنَّهُ قَالَ يَعْنِي
الْإِمَامَ: طَلَبُ الْعِلْمِ أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ لِمَنْ صَحَّتْ نِيَّتُهُ. قِيلَ:
فَأَيُّ شَيْءٍ تَصْحِيحُ النِّيَّةِ؟ قَالَ: يَنْوِي أَنْ يَتَوَاضَعَ فِيهِ وَيَنْفِيَ
عَنْهُ الْجَهْلَ».
“Maka niat dalam menuntut ilmu harus diperbaiki.
Muhanna, salah seorang sahabat Imam Ahmad, meriwayatkan bahwa Imam Ahmad
berkata: ‘Menuntut ilmu adalah amal yang paling utama bagi orang yang benar
niatnya.’ Ditanyakan kepadanya: ‘Bagaimana cara membenarkan niat?’ Ia menjawab:
‘Hendaknya ia berniat untuk bersikap tawadhu’ dengan ilmu tersebut dan
menghilangkan kebodohan dari dirinya.’”
Al-Qadhi Abu Bakar bin al-‘Arabi al-Ma‘afiri
al-Isybili al-Maliki, yang wafat pada tahun 543 H, berkata dalam kitabnya Qānūn
at-Ta’wīl, hlm. 671:
«وَمِمَّا يُعِينُكَ عَلَى صِحَّةِ الْإِخْلَاصِ
وَتَجْرِيدِ النِّيَّةِ مِنَ الشَّوَائِبِ لِغَيْرِ اللهِ: الصِّدْقُ؛ فَإِنَّكَ إِنْ
قَرَّرْتَ السُّؤَالَ عَنْ عِلْمِكَ فِي دُنْيَاكَ وَآخِرَتِكَ، وَافْتَقَرْتَ أَنْ
تُخْبِرَ عَنْ بَاطِنِ نِيَّتِكَ بِخِلَافِ مَا هِيَ عَلَيْهِ، مُقِتَّ نَفْسَكَ كَمَا
تَقَدَّمَ فِي الْحَدِيثِ آنِفًا».
“Di antara hal yang dapat membantumu untuk mewujudkan
keikhlasan dan memurnikan niat dari berbagai noda selain karena Allah adalah
kejujuran. Jika engkau benar-benar mempertimbangkan pertanyaan tentang ilmumu
di dunia dan akhirat, lalu engkau merasa perlu menjelaskan hakikat niat batinmu
yang sebenarnya, niscaya engkau akan mencela dirimu sendiri sebagaimana telah
disebutkan dalam hadits sebelumnya.”
Dan Ibnu al-‘Arabi berkata dalam as-Sirāj,
69/b:
«حَقِيقَةُ الصِّدْقِ هُوَ الثُّبُوتُ فِي جَمِيعِ
الْأَعْمَالِ وَالْأَحْوَالِ عَلَى قَدَمِ الْحَقِّ، وَالِاسْتِمْرَارُ فِي جَمِيعِ
الْأَحْوَالِ عَلَى حُكْمِ الشَّرْعِ، وَذَلِكَ فِي ثَلَاثَةِ وُجُوهٍ: صِدْقٌ فِي
الْقَلْبِ، وَصِدْقٌ فِي الْقَوْلِ، وَصِدْقٌ فِي الْفِعْلِ. فَأَمَّا صِدْقُ الْقَلْبِ
فَهُوَ بِالنِّيَّةِ الْخَالِصَةِ، وَأَمَّا الصِّدْقُ فِي اللِّسَانِ فَهُوَ أَلَّا
يَكُونَ خَبَرُهُ بِخِلَافِ عَمَلِهِ فِي الْمَاضِي، وَأَمَّا فِي الْمُسْتَقْبَلِ
فَيَدْخُلُ فِي قِسْمِ الْوَفَاءِ بِالْمَوْعِدِ … وَأَمَّا الصِّدْقُ فِي الْأَعْمَالِ
فَهُوَ أَنْ يَكُونَ وَفْقَ الِاعْتِقَادِ وَالْقَوْلِ».
“Hakikat kejujuran adalah teguh dalam seluruh amal
dan keadaan di atas kebenaran, serta senantiasa berada dalam seluruh keadaan
sesuai dengan hukum syariat. Hal itu terwujud dalam tiga bentuk: kejujuran
hati, kejujuran ucapan, dan kejujuran perbuatan.
“Adapun kejujuran hati adalah dengan niat yang
ikhlas. Kejujuran lisan adalah bahwa berita atau perkataannya tidak
bertentangan dengan amalnya pada masa lalu. Adapun pada masa yang akan datang,
hal itu termasuk dalam memenuhi janji. Adapun kejujuran dalam amal adalah bahwa
amal tersebut sesuai dengan keyakinan dan ucapan.”
Lihat juga at-Ta‘rifāt
karya al-Jurjani, hlm. 69.
Rosulullah
ﷺ tidak suka gelar dan sebutan
exlusive yang mengandung pujian pada dirinya:
Rosulullah ﷺ pribadi yang tidak suka sanjungan dan pujian, maka beliau ﷺ menolak ketika ada sebagian
para sahabat yang menyebut dirinya dengan sebutan atau gelar yang mengandung
pujian, pengagungan dan keekslusifan dirinya.
Sebagaimana yang diriwayatkan dari Anas bin Malik
-radhiyallahu ‘anhu-:
“أنَّ نَاسًا قَالُوْا: يَا رَسُولُ اللَّه
يَا خَيْرَنَا وَابْنَ خَيْرِنَا وَيَا سَيِّدَنَا وَابْنَ سَيِّدِنَا ، فَقَالَ
رَسُولُ اللَّه ﷺ:
«يا أيّها النّاسُ قُولُوا بِقولِكُمْ ولا
يَسْتَهْوِيَنّكُمْ الشّيْطَانُ ، أنا محمدٌ عَبْد الله وَرَسُولُه ، ما أحِبّ أنْ
تَرْفَعُوني فَوْقَ مَنْزِلَتِي التي أنزلني الله عَزّ وَجَلّ».
Bahwa orang-orang berkata kepada Nabi ﷺ: Ya Rosulullah, wahai pilihan
kami dan putra seorang pilihan kami, wahai sayyiduna (tuan kami) dan putra
sayyiduna (putra tuan kami)!.
Maka Rosulullah ﷺ bersabda: " Wahai para manusia, jagalah perkataan
kalian itu, jangan sampai syeitan menggelincirkan kalian, aku adalah hamba
Allah dan Rasul-Nya, aku tidak suka kalian mengangkatku diatas kedudukanku yang
telah Allah Azza wa Jalla tetapkan untukku”.
(HR. Ahmad no. 12573, 13621, 13596, Nasai dalam
kitab Amalul Yaum wal Laylah no. 248, 249 dan Ibnu Hibban no. 6240. Hadits ini
Shahih.
===***===
FAKTOR UTAMA ANCAMAN TERSEBUT ADALAH RIYA DAN CINTA POPULARITAS
Sebagaimana yang Anda
lihat, amalan-amalan tersebut termasuk ibadah-ibadah sunnah. Namun demikian,
orang yang melakukannya tetap dimintai pertanggungjawaban karena di dalamnya
terdapat riya. Bahkan terdapat larangan yang tegas terhadap riya dan sum‘ah itu
sendiri.
Sabda beliau ﷺ: “ia diseret dengan wajahnya, lalu
dilemparkan ke dalam api neraka”, ini menunjukkan ancaman keras dan
tegas bagi orang sengaja berkeinginan dipanggil dengan panggilan Ulama atau
Kyai, atau Qori atau Hafidz atau yang semisalnya, suatu sebutan atau gelar yang
menunjukkan dirinya seorang berilmu tinggi, merasa dirinya sangat berbeda,
sangat exslusif dan istimewa, sangat mulia dan langka.
Al-Imam Al-Ghozali berkata:
الْمَعْنَى طَلَبُ الْمَنْزِلَةِ فِي
قُلُوبِ النَّاسِ بِأَنْ يُرِيَهُمْ الْخِصَالَ الْمَحْمُودَةَ، وَالْمُرَائِي هُوَ
الْعَامِلُ.
“Maknanya adalah mencari kedudukan di hati
manusia dengan menunjukkan sifat-sifat terpuji, sedangkan orang yang riya
adalah yang melakukannya”.
[Dikutip dari Fathul Bari oleh Ibnu Hajar
11/336 dan Nadhrotun Na’im 11/5605].
Penyakit cinta popularitas (riya) dengan agamanya
ini akan terus berkembang. Jika dia sudah berhasil menjadi terkenal dan menjadi
publik figur; kadang dalam dirinya timbul rasa ujub dan istimewa, lalu dia
ingin selalu di istimewakan dan dimuliakan dengan ilmu agamanya. Kadang berkeinginan
Istimewa pula dalam penampilan dan berpakaian.
Sebagian dari mereka ada pula yang dengan sengaja menshare
ceramahnya, biografinya dan amal shalehnya di MedSos, YouTube dan
FaceBook dengan tujuan murni untuk berburu Suscriber, tanda
jempol dan pujian manusia.
Dalam hal ini ada sebuah hadits diriwayatkan dari
Ka’ab bin Malik -radhiyallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ
الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ
النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ"
“Barangsiapa yang menuntut ilmu yang dengannya
bertujuan untuk menunjukkan kepada para ulama bahwa dirinya lah yang paling
berilmu atau bertujuan untuk mendebat orang-orang bodoh atau agar
dengan ilmunya tersebut wajah-wajah para manusia tertuju pada dirinya (yakni:
supaya terkenal dan menjadi pusat perhatian publik); maka Allah akan
memasukannya ke dalam api neraka.”
(HR. Tirmidzi No. 2654, Al-‘Uqaily dalam
“Adh-Dhu‘afaa’ al-Kabiir” 1/103 dan Ibnu Hibban dalam “Al-Majruuhiin”. Syaikh
Al-Albani mengatakan dalam Shahih at-Tirmidzi No. 2654 bahwa hadits ini hasan.
Lihat penjelasan hadits ini dalam Tuhfah Al-Ahwadzi 7: 456)
Dan Ibnu Rajab berkata:
وَمِنْ أَعْظَمِ خِصَالِ النِّفَاقِ الْعَمَلِيِّ،
أَنْ يَعْمَلَ الْإِنْسَانُ عَمَلًا وَيُظْهِرُ أَنَّهُ قَصَدَ بِهِ الْخَيْرَ، وَإِنَّمَا
عَمَلُهُ لِيَتَوَصَّلَ بِهِ إِلَى غَرَضٍ لَهُ سَيِّئٌ فَيَتِمُّ لَهُ ذَلِكَ وَيَتَوَصَّلُ
بِهَذِهِ الْخُدِيعَةِ إِلَى غَرَضٍ وَيَفْرَحُ بِمَكْرِهِ وَخِدَاعِهِ وَحَمْدِ النَّاسِ
لَهُ عَلَى مَا أَظْهَرَهُ وَيَتَوَصَّلُ بِهِ إِلَى غَرَضِهِ السَّيِّئِ الَّذِي أَبْطَنَهُ.
“Salah satu sifat munafik dalam amal
perbuatan yang paling besar adalah ketika seseorang melakukan suatu amal dan
menampakkan seolah-olah ia berniat untuk kebaikan, padahal sesungguhnya amal
itu ia lakukan untuk mencapai tujuan yang buruk, sehingga tujuannya tercapai.
Dengan tipuan ini ia mencapai maksudnya,
bergembira dengan tipu muslihat dan penipuannya, dipuji manusia atas apa yang
ditampakkannya, dan melalui itu ia mencapai tujuan buruk yang ia sembunyikan”.
[Dikutip dari Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (378) dan
Nadhrotun Naim 11/5605].
****
RIYA
DAN CINTA POPULARITAS DALAM IBADAH
TERMASUK
DOSA BESAR DAN CIRI KHAS ORANG MUNAFIK
Dua imam, Adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar, telah
sepakat tentang “riya dalam ibadah itu termasuk dosa besar” serta
menyebutkan dalil-dalilnya dalam kedua kitab mereka. [Lihat: Al-Kabair karya
Adz-Dzahabi (143-146) dan Az-Zawajir karya Ibnu Hajar (49-64)].
Al-Imam adz-Dzahabi
dalam al-Kabair hal. 144-145 berkata :
وَقِيلَ: "إِنَّ الْمُرَائِيَ
يُنَادَى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَرْبَعَةِ أَسْمَاءٍ: يَا مُرَائِي، يَا غَادِرُ،
يَا فَاجِرُ، يَا خَاسِرُ. اِذْهَبْ فَخُذْ أَجْرَكَ مِمَّنْ عَمِلْتَ لَهُ، فَلَا
أَجْرَ لَكَ عِنْدَنَا".
Diceritakan : bahwa orang yang berbuat riya kelak akan
dipanggil pada hari Kiamat dengan empat gelar:
“Wahai tukang riya (tukang pamer ibadah),
wahai pengkhianat,
wahai pendurhaka,
wahai orang yang
merugi!
Pergilah
dan ambillah pahala-mu dari
orang yang dahulu engkau pamerkan amalanmu kepadanya. Engkau tidak
memiliki balasan apa pun di sisi Kami.” [Kutipan selesai]
Begitu pula, Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, dia memasukkan riya sebagai
salah satu dosa besar dalam kitab Al-Kaba’ir (kitab
kumpulan dosa besar), hlm. 7.
Ia berkata:
وَلِلتِّرْمِذِيِّ فِيهِ: «أَنَّ مُعَاوِيَةَ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ لَمَّا سَمِعَهُ بَكَى وَتَلَا قَوْلَهُ تَعَالَى: ﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ
الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا﴾ الْآيَةَ».
“At-Tirmidzi meriwayatkan
bahwa ketika Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu mendengar hadits tersebut, ia
menangis kemudian membaca firman Allah Ta’ala:
‘Barang siapa menghendaki
kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan
pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna.’”
Allah SWT berfirman tentang sifat utama
orang-orang munafiq dalam beribadah :
﴿إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ
وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ
النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا﴾
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu
Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk
shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di
hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”.
[QS. An-Nisa: 142]
Tempat mereka di neraka yang paling dasar
karena mereka tidak mau mensyukuri nikmat hidayah iman dan Islam dengan
beribadah murni karena Allah, termasuk beribadah baca al-Qur’an serta
mengajarkannya kepada orang lain. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah
SWT:
﴿إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ
مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا. إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا
وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ
ۖ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا﴾
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu
(ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu
sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”.
Kecuali orang-orang yang bertaubat dan
mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas
(mengerjakan) agama mereka hanya karena Allah semata. Maka mereka itu adalah
bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada
orang-orang yang beriman pahala yang besar. [QS. An-Nisa: 145-146]
Dalam surat lain, Allah SWT berfirman :
﴿فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ. الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ. الَّذِينَ هُمْ
يُرَاءُونَ. وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ﴾
“ Maka celakalah orang-orang yang shalat,
yaitu mereka yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya, dan enggan
menolong dengan bantuan yang kecil”. [QS. Al-Maun: 4-7]
Dan firman Allah SWT :
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا
صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا
يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ
تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ
مِّمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ﴾
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti
(perasaan si penerima), seperti orang yang meng-infaq-kan hartanya karena
riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian.
Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin
yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah
dia bersih (tidak berdebu).
Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa
yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang
kafir. [QS. Baqarah: 264]
Dan firman Allah SWT :
﴿لَا
تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا
لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ وَلَهُمْ عَذَابٌ
أَلِيمٌ﴾
“Jangan kalian mengira
bahwa orang-orang yang bergembira dengan apa yang mereka lakukan dan suka
dipuji atas apa yang tidak mereka kerjakan itu terbebas dari azab. Mereka
akan mendapatkan azab yang pedih”. [QS. Ali Imran : 188]
Al-Imam adz-Dzahabi
dalam al-Kabair hal. 144-145 berkata :
”Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ
سَمَّعَ سَمَّعَ اللهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللهُ بِهِ»
“Barang
siapa ingin didengar (riya dalam ucapan), Allah akan memperdengarkan (aib)-nya.
Dan barang siapa pamer (riya dalam amalan), Allah akan menampakkan (aib)-nya.”
Al-Khathabi
berkata:
مَعْنَاهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا
عَلَى غَيْرِ إِخْلَاصٍ، إِنَّمَا يُرِيدُ أَنْ يَرَاهُ النَّاسُ وَيَسْمَعُوهُ، جُوزِيَ
عَلَى ذَلِكَ بِأَنْ يُشْهَرَهُ وَيَفْضَحَهُ، فَيَبْدُو عَلَيْهِ مَا كَانَ يُبْطِنُهُ
وَيَسُرُّهُ مِنْ ذَلِكَ، وَاللهُ أَعْلَمُ
“Maknanya,
siapa pun yang melakukan suatu amalan tanpa ikhlas, hanya ingin dilihat dan
didengar manusia, maka ia akan dibalas dengan Allah menampakkan dan
mempermalukan dirinya, sehingga terlihat apa yang dahulu ia sembunyikan.
Wallaahu a’lam”.
Beliau
ﷺ juga
bersabda:
«الْيَسِيرُ
مِنَ الرِّيَاءِ شِرْكٌ»
“Riya walau sedikit adalah
kesyirikan.”
Dan
beliau ﷺ bersabda:
«أَخْوَفُ
مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكَ الْأَصْغَرَ»
“Perkara
yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Lalu ada yang bertanya: “Apa itu,
wahai Rasulullah?”
Beliau
ﷺ menjawab:
«الرِّيَاءُ.
يَقُولُ اللهُ تَعَالَى يَوْمَ يُجَازِي الْعِبَادَ بِأَعْمَالِهِمْ: "اِذْهَبُوا
إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَهُمْ بِأَعْمَالِكُمْ، فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ
عِنْدَهُمْ جَزَاءً"»
“Riya.
Kelak Allah akan berfirman pada hari ketika
Dia memberi balasan kepada para hamba sesuai amalan mereka: Pergilah kalian
kepada orang-orang yang dahulu kalian pamerkan amalan kalian kepada mereka.
Lihatlah, apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?”
Dan
dikatakan tentang firman Allah Ta’ala:
﴿وَبَدَا لَهُمْ مِنَ
اللهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ﴾
“Dan
tampak bagi mereka dari Allah apa yang tidak mereka sangka.”
Disebutkan tentang ayat ini :
كَانُوا عَمِلُوا أَعْمَالًا
كَانُوا يَرَوْنَهَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَاتٍ، بَدَتْ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
سَيِّئَاتٍ.
bahwa
mereka dahulu melakukan amalan yang mereka kira sebagai kebaikan di dunia,
namun pada hari Kiamat ternyata itu menjadi keburukan.
Sebagian
ulama salaf, ketika membaca ayat ini, berkata:
وَيْلٌ لِأَهْلِ الرِّيَاءِ.
“Celakalah para pelaku
riya.”
Al-Hasan
berkata:
الْمُرَائِي يُرِيدُ أَنْ
يَغْلِبَ قَدَرَ اللهِ فِيهِ، هُوَ رَجُلُ سُوءٍ يُرِيدُ أَنْ يَقُولَ النَّاسُ هُوَ
صَالِحٌ، فَكَيْفَ يَقُولُونَ وَقَدْ حَلَّ مِنْ رَبِّهِ مَحَلَّ الْأَرْدِيَاءِ؟
فَلَابُدَّ مِنْ قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ أَنْ تَعْرِفَهُ.
“Orang
yang berbuat riya ingin mengalahkan takdir Allah pada dirinya. Ia adalah orang
buruk yang ingin orang-orang mengatakan dirinya baik, padahal ia berada di sisi
Allah pada kedudukan orang-orang yang hina. Mustahil hati kaum mukminin tidak
mengenalinya.”
Qatadah
berkata:
إِذَا
رَاءَى العَبْدُ يَقُولُ اللهُ: انْظُرُوا إِلَى عَبْدِي كَيْفَ يَسْتَهْزِئُ بِي.
“Ketika
seorang hamba berbuat riya, Allah berfirman: Lihatlah hamba-Ku ini, bagaimana
ia memperolok Aku.”
Diriwayatkan
: Bahwa Umar
bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu melihat seorang lelaki menunduk-nundukkan lehernya (seolah-olah khusyuk), lalu beliau
berkata:
«يَا
صَاحِبَ الرَّقَبَةِ، ارْفَعْ رَقَبَتَكَ، لَيْسَ الخُشُوعُ فِي الرِّقَابِ، إِنَّمَا
الخُشُوعُ فِي القُلُوبِ»
“Wahai
pemilik leher itu, angkatlah lehermu! Kekhusyukan itu bukan di leher, tetapi di
hati.”
Dikatakan
pula bahwa Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu melewati seseorang di masjid
yang sedang sujud sambil menangis dan berdoa. Abu Umamah berkata kepadanya:
«أَنْتَ
أَنْتَ، لَوْ كَانَ هَذَا فِي بَيْتِكَ»
“Engkau… engkau. Kalau ini
engkau lakukan di rumahmu (lebih baik).”
Muhammad
bin Al-Mubarak Ash-Shuri berkata:
أَظْهِرِ السَّمْتَ بِاللَّيْلِ،
فَإِنَّهُ أَشْرَفُ مِنْ إِظْهَارِهِ بِالنَّهَارِ، لِأَنَّ السَّمْتَ بِالنَّهَارِ
لِلْمَخْلُوقِينَ، وَالسَّمْتَ بِاللَّيْلِ لِرَبِّ العَالَمِينَ.
“Tampakkanlah
ketenangan dan ibadahmu di malam hari, karena itu lebih mulia daripada
menampakkannya di siang hari. Sebab ketenangan di siang hari ditujukan kepada
manusia, sedangkan ketenangan di malam hari untuk Tuhan semesta alam.”
Ali
bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:
«لِلْمُرَائِي
ثَلَاثُ عَلَامَاتٍ: يَكْسَلُ إِذَا كَانَ وَحْدَهُ، وَيَنْشَطُ إِذَا كَانَ فِي النَّاسِ،
وَيَزِيدُ فِي العَمَلِ إِذَا أُثْنِيَ عَلَيْهِ، وَيَنْقُصُ إِذَا ذُمَّ بِهِ».
“Pelaku
riya memiliki tiga tanda: malas ketika sendirian, bersemangat ketika di tengah
manusia, menambah amalan ketika dipuji, dan mengurangi amalan ketika dicela.”
Al-Fudhayl
bin ‘Iyadh rahimahullah berkata:
تَرْكُ العَمَلِ لِأَجْلِ
النَّاسِ رِيَاءٌ، وَالعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ، وَالإِخْلَاصُ أَنْ يَعَافِيَكَ
اللهُ مِنْهُمَا.
“Meninggalkan
amalan karena manusia adalah riya, dan beramal karena manusia adalah syirik.
Keikhlasan adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.”
Maka
kita memohon kepada Allah pertolongan dan keikhlasan dalam seluruh amal,
ucapan, gerakan, dan diam kita. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Maha Mulia. [Kutipan dari adz-Dzaahabi
selesai]
===***===
LARANGAN MENGEJAR POPULARITAS DENGAN IBADAHNYA DAN ILMU AGAMANYA:
Kadang ada segelintir dari para dai atau muballigh
atau ulama yang hobi mengejar syuhroh [kemasyhuran], ketenaran dan popularitas,
dia terus berjuang agar dirinya manjadi kondang, berkibar namanya dan menjadi
pusat perhatian publik alias viral. Dai yang demikin itu biasanya terjangkit
penyakit ambisi untuk ditokohkan, diidolakan, dimuliakan, dikultuskan dan
diagungkan.
Dalam hal ini Nabi ﷺ telah mengancamnya dengan Api Neraka, sebagaimana di sebutkan
dalam hadits-hadits berikut ini:
Dari Ka’ab bin Malik -radhiyallahu ‘anhu-
bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ
الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ
النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ"
“Barangsiapa yang menuntut ilmu yang dengannya
bertujuan untuk menunjukkan kepada para ulama bahwa dirinya lah yang paling
berilmu atau bertujuan untuk mendebat orang-orang bodoh atau agar
dengan ilmunya tersebut wajah-wajah para manusia tertuju pada dirinya (yakni:
supaya terkenal dan menjadi pusat perhatian hati manusia) ; maka Allah akan
memasukannya ke dalam api neraka.”
(HR. Tirmidzi No. 2654, Al-‘Uqaily dalam
“Adh-Dhu‘afaa’ al-Kabiir” 1/103 dan Ibnu Hibban dalam “Al-Majruuhiin”. Syaikh
Al-Albani mengatakan dalam Shahih at-Tirmidzi No. 2654 bahwa hadits ini hasan.
Lihat penjelasan hadits ini dalam Tuhfah Al-Ahwadzi 7: 456)
Kalau dalam hadits disebutkan masalah ilmu, maka
yang dimaksud adalah ilmu syar’i. Itulah maksud dari pujian dan sanjungan
ditujukan pada ilmu syar’i. Sebagaimana pujian ini ditujukan pada ahli ilmu
sebagai pewaris para nabi,
وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi.” (HR.
Abu Daud, no. 3641. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Pewaris nabi tentu saja adalah pewaris ilmu diin
atau ilmu agama. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata:
“Ilmu itu dimaksudkan untuk banyak hal. Namun kalau
menurut ulama Islam, yang dimaksud dengan ilmu adalah ilmu syar’i. Itulah yang
dimaksudkan dalam kitab Allah dan sunnah Rasulullah ﷺ. Ketika disebut ilmu, maka yang dimaksud adalah ilmu syar’i.”
(Majmu’ Fatawa Ibnu Baaz, 2: 302)
Dan dari Hudzaifah bin al-Yamaan, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
لا تَعَلَّمُوا العِلْمَ لِتَبَاهَوْا بِهِ
العُلَمَاءَ أَوْ لِتُمَارِوَا بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ لِتَصْرِفُوَا وُجُوهَ
النَّاسِ إِلَيْكُمْ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَهُوَ فِي النَّارِ
“Janganlah kalian belajar ilmu agama untuk
berbangga diri di hadapan para ulama, atau denagn ilmunya itu untuk mendebat
orang-orang yang bodoh, dan jangan pula bertujuan agar wajah-wajah
manusia tertuju pada diri kalian. Karena barangsiapa yang melakukan
demikian, maka neraka lebih pantas baginya.”
(HR. Ibnu Majah dan di hasankan oleh syeikh
al-Albaani dalam Shahih Ibnu Maajah no. 210)
Dan dari Ibnu Umar -radhiyallahu ‘anhu- bahwa Nabi ﷺ bersabda:
“مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُبَاهِيَ بِهِ
الْعُلَمَاءَ، وَيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ، أَوْ لِيَصْرِفَ وُجُوْهَ النَّاسِ
إِلَيْهِ، فَهُوَ فِي النَّارِ”.
“Barangsiapa menuntut ilmu agar bisa
membanggakannya di depan para ulama, mendebat orang-orang bodoh, dan
memalingkan wajah manusia agar tertuju pada dirinya, maka dia di neraka.”
[HR. Ibnu Majah no. 253. Dishahihkan
al-Albaani dalam shahih al-Jaami' no. 6158 dam Shahih at-Targhiib 1/47]
Dari Mu’awiyah -radhiyallahu ‘anhu- bahwa
Rasulullah ﷺ bersabda:
“مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهُّ
فِي الدِّينِ... وَإِيَّاكُمْ وَالتَّمَادُحَ، فَإِنَّهُ الذَّبْحُ "
“Siapa saja orangnya, yang Allah menghendaki
kebaikan pada dirinya, maka Allah akan menganugerahkan fiqih [pemahaman] dalam
agama.... Dan jauhilah oleh kalian saling memuji karena hal itu akan menyembelihmu”.
[HR. Ibnu Majah (3743), Ahmad (16460), Ibnu
Abi Syaibah (9/5-6), dan ath-Thabrani (19/815-817)." (Dishahihkan oleh
Syu'aib al-Arna'uth dalam Takhrij al-Musnad 28/52 dan oleh Albani dalam Shahih
Al Jami’: 2674)]
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah – ﷺ – bersabda:
«بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ
يُشَارَ إِلَيْهِ بِالْأَصَابِعِ فِي دِينٍ، أَوْ دُنْيَا إِلَّا مَنْ عَصَمَ
اللَّهُ».
"Cukuplah sebagai keburukan bagi seseorang
jika ia ditunjuk dengan jari-jari tangan [ditokohkan dan diidolakan] dalam
urusan agama atau dunia, kecuali orang yang dilindungi oleh Allah."
Al-Haitsami dalam al-Majma' 10/296 no. 18131
berkata:
“رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ ،
وَفِيهِ عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ حُصَيْنٍ، وَهُوَ ضَعِيفٌ".
“Diriwayatkan oleh At-Tabarani dalam Al-Awsath.
Dalam riwayat ini terdapat Abdul Aziz bin Husain, dan ia lemah".
Dari Imran bin Husain, ia berkata: Rasulullah – ﷺ – bersabda:
«كَفَى بِالْمَرْءِ مِنَ الْإِثْمِ أَنْ
يُشَارَ إِلَيْهِ بِالْأَصَابِعِ". قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنْ كَانَ
خَيْرًا؟ قَالَ: "وَإِنْ كَانَ خَيْرًا فَهُو شَرٌّ لَهُ إِلَّا مَنْ رَحِمَ
اللَّهُ، وَإِنْ كَانَ شَرًّا فَهُوَ شَرٌّ لَهُ"».
"Cukuplah sebagai dosa bagi seseorang jika ia
ditunjuk dengan jari-jari tangan [ditokohkan]."
Seseorang bertanya, "Wahai Rasulullah,
bagaimana jika dia adalah seorang yang baik?"
Beliau menjawab: "Jika dia adalah seorang yang
baik, maka itu adalah keburukan baginya kecuali jika Allah merahmatinya. Jika
dia adalah seorang yang jahat, maka itu adalah keburukan baginya."
Al-Haitsami dalam al-Majma' 10/297 no. 18132
berkata:
رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ، وَفِيهِ: كَثِيرُ بْنُ
مَرْوَانَ، وَهُوَ ضَعِيفٌ
“Diriwayatkan oleh At-Tabarani, dan dalam riwayat
ini terdapat Kaitsir bin Marwan, dan ia lemah".
Ibrahim bin Adham (W. 162 H) berkata:
“مَا صَدَقَ اللَّهُ عَبْدًا أَحَبَّ
الشَّهْرَةَ”.
“Alloh tidak mempercayai seorang hamba yang
mencintai ketenaran”. (Al ‘Uzlah wal Infiraad: 126)
Ibrahim An-Nakho’i (W. 96 H) dan Hasan Al-Bashri
(W. 110 H) berkata:
“كَفَى فِتْنَةً لِلْمَرْءِ أَنْ يُشَارَ
إِلَيْهِ بِالْأَصَابِعِ فِي الدِّينِ أَوِ الدُّنْيَا إِلَّا مَنْ عَصَمَهُ
اللَّهُ.
Cukuplah fitnah bagi seseorang ketika ia ditunjuk
dengan jari-jari [terkenal] dalam urusan agama atau dunia, kecuali bagi orang
yang dilindungi oleh Allah."(Az Zuhd / karya Ibnu Sirriy: 2/442)
Demikian juga perkataan Muhairiz dalam Tarikh
Damaskus (33/18).
Bisyer bin al-Haarits (W. 71 H) berkata:
«مَا اتَّقَى اللَّهُ مَنْ أَحَبَّ
الشُّهْرَةَ»
“Seorang hamba yang cinta popularitas, tidaklah
bertaqwa kepada Allah”. [Hilyatul Awliyaa 8/346]
Mencari ketenaran adalah tercela dalam kondisi
apapun, seorang mukmin itu sebagai orang tunduk patuh dan tawadhu’ tidak
menyukai ditunjuk dengan jemari.
Hammaad bin Yazid (wafat 179 H) berkata:
رَجَعْنَا مِنْ جَنَازَةٍ فَدَخَلْنَا عَلَى عَطَاءِ
السُّلَيْمِيِّ فَلَمَّا رَآنَا كَأَنَّهُ خَافَ أَنْ يَدْخُلَهُ شَيْءٌ أَيْ
لِكَثْرَتِنَا، فَقَالَ: اللَّهُمَّ لَا تَمْقُتْنَا - أَوِ اللَّهُمَّ لَا
تَمْقُتْنِي - ثُمَّ قَالَ: سَمِعْتُ جَعْفَرَ بْنَ زَيْدِ الْعَبْدِيِّ يَقُولُ:
مَرَّ رَجُلٌ فَجَلَسَ فَأُثْنُوا عَلَيْهِ خَيْرًا فَلَمَّا جَاوَزَهُمْ قَامَ
وَقَالَ: اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَؤُلَاءِ لَا يَعْرِفُونِي فَأَنْتَ تَعْرِفُنِي
"Kami pulang dari mengurusi jenazah lalu kami
bertamu masuk ke dalam rumah 'Atho' Assulaimi. Tatkala dia melihat kami
seakan-akan dia ketakutan, yaitu (karena) banyaknya manusia yang menemui dia
[karena mengagumi keshalihannya dan keilmuannya]. Maka dia pun berdoa: 'ya
Allah, jangan Engkau siksa kami .... ya Allah jangan Engkau siksa kami. (Karena
Rasa Ujub).
Kemudian dia [Hammad] berkata: 'Aku mendengar
Ja’far bin Yazid berkata: "ada seseorang lewat, lalu dia duduk menemuinya.
Orang itu pun memuji-muji dia dengan pujian yang baik. Tatkala orang tersebut
berlalu, dia pun berdiri dan berdoa: "ya Allah .... sekiranya saja mereka
tidak mengenalku, maka Engkau lebih mengenalku". [Hilyatul Awliya 6/224]
****
HUKUM ASAL MENCARI SYUHROH [KETENARAN] ADALAH PERBUATAN TERCELA
Syeikh Muhammad Sholeh al-Munajjid berkata:
طَلَب الشّهرة مَذْمُوم بِكُلّ حال، وَالْمُؤْمِن
مُخْبِتٌ مَتَوَاضِعٌ، لَا يُحِبّ أَنْ يُشَارَ إِلَيْهِ بِالْأَصَابِع، وَمِنْ
أَعْظَم مَا يُفْسِد عَلَى الْمَرْء سَعْيهُ إِلَى رَبّهُ: حُبّهُ لِلشّهْرَة،
وَالشّرَف فِي النَّاسِ، وَالرِّئَاسَة عَلَيْهِم.
وَهَذِهِ الْمَحَبّة لِلشّرَف وَالشّهْرَة هِيَ مِنْ
الْأَمْرَاض الْخَفِيّة فِي النُّفُوس، وَمَهْلِكَات الْقَلْب الَّتِي لَا يَكَاد
يَتَفَطّن إِلَيْهَا الْعَبْد إِلَّا بَعْد أَنْ تَمُضّي بِهِ شَوْطًا بَعِيدًا،
يَشُقّ عَلَيْهِ اسْتِدْرَاكهُ، وَإِصْلَاح مَا أَفْسَدْتهُ مِنْهُ.
وَمِنْ أَعْظَم آفَاتِ حُبّ الشّهْرَة وَالشّرَف،
وَالتّطَلُّع إِلَيْهَا، أَنْ تَطْلُبَ نَفْسَهُ مَدْح النَّاس لَهُ، بِالْحَقّ
أَوْ بِالْبَاطِل.
Mencari syuhroh [ketenaran/ kemasyhuran] adalah
perbuatan tercela dalam kondisi apapun. Seorang mukmin itu semestinya adalah
orang yang senantiasa tunduk patuh, tawadhu' dan tidak suka ditunjuk oleh
jemari-jemari manusia [yakni: ditokohkan atau diidolakan].
Di antara sarana terbesar yang akan merusak jiwa
seseorang untuk sampai kepada Rabbnya adalah: menyukai syuhroh [ketenaran],
merasa dirinya paling mulia di hadapan manusia dan berambisi ditokohkan.
Mencintai kemuliaan dan syuhroh [ketenaran]
merupakan penyakit yang tersembunyi di dalam jiwa, menghancurkan hati yang
hampir saja tidak menyadarinya kecuali setelah masuk begitu mendalam, sulit
dideteksi dan kerusakannya pun sulit diperbaiki.
Di antara bencana terbesar bagi seseorang adalah
mencintai syuhroh [ketenaran], kemuliaan dan berusaha mengejarnya. Jiwanya
ingin agar semua orang memujinya baik dalam kebenaran maupun kebatilan. [ISLAMQA
No. 177655 Tanggal Tayang: 12-10-2016].
Dari Abu Bakrah, Nufai' bin al-Harits -radhiyallahu
‘anhu-, dia berkata;
أَثْنَى رَجُلٌ علَى رَجُلٍ عِنْدَ النَّبيِّ ﷺ،
فَقالَ: ويْلَكَ! قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ، قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ،
مِرَارًا، ثُمَّ قالَ: مَن كانَ مِنكُم مَادِحًا أخَاهُ لا مَحَالَةَ، فَلْيَقُلْ:
أحْسِبُ فُلَانًا، واللَّهُ حَسِيبُهُ، ولَا أُزَكِّي علَى اللَّهِ أحَدًا،
أحْسِبُهُ كَذَا وكَذَا، إنْ كانَ يَعْلَمُ ذلكَ منه.
Ada seseorang menyanjung orang lain di hadapan Nabi
ﷺ maka Beliau berkata:
"Celaka kamu, kamu telah memenggal
leher sahabatmu, kamu telah mememggal leher sahabatmu".
Kalimat ini diucapkan oleh Beliau berulang kali,
kemudian Beliau bersabda:
"Siapa diantara kalian yang ingin memuji
saudaranya tidak pada tempatnya hendaklah ia mengucapkan; Aku mengira si fulan,
demi Allah aku menduga dia, dan aku tidak menganggap suci seorangpun di hadapan
Allah, aku mengira dia begini begini, sekalipun dia mengetahui tentang diri
saudaranya itu". [HR. Bukhori no. 2662 dan Muslim no. 3000].
Al Manawi –rahimahullah- berkata:
المدحُ يورِثُ العَجَبَ وَالكِبْرَ وَهُوَ مَهْلِكٌ
كَالذَّبْحِ فَلِذَلِكَ شُبِّهَ بِهِ، قَالَ الْغَزَالِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ:
فَمَنْ صَنَعَ بِكَ مَعْرُوفًا فَإِنْ كَانَ مِمَّنْ يُحِبُّ الشُّكْرَ
وَالثَّنَاءَ فَلَا تُمَدِّحْهُ؛ لِأَنَّ قَضَاءَ حَقِّهِ أَنْ لَا تُقَرِّهِ
عَلَى الظُّلْمِ وَطَلَبَهُ لِلشُّكْرِ ظُلْمٌ، وَإِلَّا فَأَظْهَرْ شُكْرَهُ
لِيَزْدَادَ رَغْبَةً فِي الْخَيْرِ.
“Pujian itu mewarisi rasa takjub pada diri sendiri
dan sombong . Dan akan membinasakannya seperti penyembelihan, oleh karenanya
diserupakan dengannya.
Imam Al Ghozali –rahimahullah- berkata: “Barang siapa yang telah berbuat baik kepadamu, jika dia termasuk yang
menyukai ucapan terima kasih dan pujian maka janganlah kamu memujinya; karena
yang menjadi haknya adalah jangan menyetujui kedzaliman, sementara
permintaannya ucapan terima kasih dan pujian adalah kedzaliman, atau kalau
tidak maka berilah ucapan terima kasih untuk menambahnya mencintai kebaikan”.
(Faidhul Qadir: 3/167)
Al-Fudhail bin ‘Iyadh (W. 187 H) –rahimahullah-
berkata:
"إِنْ قَدِرْتَ أَنْ لَا تُعْرَفَ
فَافْعَلْ، وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا تُعْرَفَ؟ وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يُثْنَى
عَلَيْكَ؟ وَمَا عَلَيْكَ أَنْ تَكُونَ مُذْمَّمًا عِنْدَ النَّاسِ إِذَا كُنْتَ
مَحْمُودًا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ؟"
“Jika anda mampu untuk tidak terkenal maka
lakukanlah! Kenapa kamu harus tidak terkenal? Kenapa kamu harus tidak dipuji
orang?. Karena kamu tidak akan tercela di hadapan manusia jika kamu terpuji di
sisi Alloh –‘Azza wa Jalla-”. (At Tawadhu’ wa Al Khumul oleh Abu Bakr Al
Qurasyi: 43)
Al-Imam al-Baihaqi berkata:
"فَكُلُّ شَيْءٍ صَيَّرَ صَاحِبَهُ
شُهْرَةً فَحَقُّهُ أَنْ يُجْتَنَبَ”.
“Segala sesuatu yang mengantarkan pelakunya pada
Syuhroh (ketenaran), maka hak dia adalah dijauhi”. [Lihat: Fathul Bari 10/310
dan 'Aunul Ma'buud 11/131].
===***====
LARANGAN SEORANG ULAMA BERAMBISI MENGUASAI MIMBAR-MIMBAR CERAMAH:
Entah karena faktor ambisi syuhroh dan ketenaran
atau karean ingin berebut masa dan suara atau karena keserakahan ingin mengeruk
pundi-pundi amplop; maka ada sebagian para ulama yang sangat bersemangat ingin
menguasai majlis-majlis ta'lim dan memonopoli mimbar-mimbar ceramah sebanyak
mungkin. Bahkan ada yang untuk berebut masa dan suara untuk kepentingan keserakahan dirinya.
Nabi ﷺ telah memperingatkan akan hal ini, sebagaimana dalam sabdanya:
Dari Jabir bin ‘Abdillah رَضِيَ اللَّهُ عَنْه, ia berkata, Nabi ﷺ bersabda,
“لاَ تَعَلَّمُوا
الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ وَلاَ لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ
وَلاَ تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ”.
“Janganlah
kalian belajar ilmu agama untuk berbangga diri di hadapan para ulama, untuk mendebat
orang-orang yang bodoh, dan jangan pula bertujuan dengan ilmunya itu agar
orang-orang memilih dia untuk mengisi di MAJLIS-MAJLISNYA. Karena barangsiapa
yang melakukan demikian, maka neraka lebih pantas baginya, neraka lebih pantas
baginya.”
(HR. Ibnu
Majah no. 254. Al-Mundziri dalam kitabnya الترغيب والترهيب (1/92): “ Sanadnya Shahih
atau Hasan atau yang mendekati keduanya”. Dan Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa
hadits ini shahih
ATSAR
IBNU MAS'UD -radhiyallahu ‘anhu-:
Dari Ibnu Mas'ud -radhiyallahu ‘anhu-, dia berkata:
"كَيْفَ بِكُمْ إِذَا لَبِسَتْكُمْ
فِتْنَةٌ، يَرْبُو فِيْهَا الصَّغِيْرُ، وَيَهْرَمُ فِيْهَا الْكَبِيْرُ،
وَتُتَّخَذُ سُنَّةً، فَإِنْ غُيِّرَتْ يَوْمًا قِيْلَ: هٰذَا مُنْكَرٌ!.
قيلَ؛ يَا أَبَا عَبْد الرَّحْمن وَمَتَى ذَلَكَ؟
قَالَ إِذَا كَثُرَتْ جُهَّالُكُمْ وَقَلَّتْ
عُلَمَاؤُكُمْ وَكَثُرَتْ خُطَباؤُكُمْ، وَقَلَّتْ فُقَهَاؤُكُمْ وَكَثُرَتْ
أُمَرَاؤُكُمْ وَقَلَّتْ أُمَنَاؤُكُمْ وَتُفُقِّهَ لغَيْر الدِّينِ، وَالْتُمسَتْ
الدُّنْيَا بعَمَل الآخرَةِ"
“Bagaimana dengan kalian jika diliputi oleh
fitnah, di mana anak kecil tumbuh besar di dalamnya dan orang tua menjalani
masa tua di dalamnya. Dan fitnah itu telah dijadikan sebagai sunnah, jika suatu
saat ia diubah, ada yang bilang, 'Ini adalah mungkar.'
Ada yang bertanya: " Wahai Abu Abdurrahman,
'Kapan itu?"
Beliau menjawab:
إِذَا كَثُرَتْ جُهَّالُكُمْ وَقَلَّتْ عُلَمَاؤُكُمْ
وَكَثُرَتْ خُطَباؤُكُمْ، وَقَلَّتْ فُقَهَاؤُكُمْ وَكَثُرَتْ أُمَرَاؤُكُمْ
وَقَلَّتْ أُمَنَاؤُكُمْ وَتُفُقِّهَ لغَيْر الدِّينِ، وَالْتُمسَتْ الدُّنْيَا
بعَمَل الآخرَةِ"
1] Ketika jumlah orang bodoh di
antara kalian bertambah dan jumlah ulama berkurang.
2]
Ketika jumlah para penceramah [yang tidak mendalam ilmu agamanya]
meningkat dan jumlah fuqaha [ulama yang mendalam ilmu agamanya]
berkurang.
3] Ketika jumlah pemimpin [yang
tidak amanah] bertambah dan jumlah orang yang dapat dipercaya berkurang.
4] Dan ketika ilmu fikih [ilmu
agama yang mendalam] dipelajari bukan untuk tujuan agama. Dan dunia dicari
dengan berkedok amalan akhirat' ”.
Diriwayatkan oleh Abdur Razzaq dalam
al-Mushannaf no. 20742, Ma'mar dalam "Jami'" (20742) dari
riwayat Abdul Razzaq, Ad-Darimi 1/64 (cetakan Dar Al-Fikr), Al-Hakim 4/514, dan
Abu Nuaim dalam "Al-Hilyah".
Dan Al-Hakim tidak memberikan komentar apa pun.
Al-Dhahabi berkata dalam kitab "Takhliṣ":
"Dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim."
Qodhi 'Alaudin Ibnu Al-Lahhaam [Al-Ba'li yang
terkenal dengan penulis kitab al-Iktiyaraat wal Qawaa’id] - semoga Allah
merahmatinya – berkata :
ذُكِرَ لَنَا مَرَّةَ الشَّيْخُ [ابنُ رَجَب]
مَسْأَلَةً فَأَطْنَبَ فِيهَا، فَعَجِبْتُ مِنْ ذَلِكَ، وَمِنْ إِتْقَانِهِ لَهَا،
فَوَقَعْتُ بَعْدَ ذَلِكَ فِي مَحْضَرٍ مِنْ أَرْبَابِ الْمَذَاهِبِ، وَغَيْرِهِمْ
فَلَمْ يَتَكَلَّمْ فِيهَا الْكَلِمَةَ الْوَاحِدَةَ! فَلَمَّا قَامَ قُلْتُ لَهُ:
أَلَيْسَ قَدْ تَكَلَّمْتَ فِيهَا بِذَلِكَ الْكَلَامِ؟! قَالَ: إِنَّمَا
أَتَكَلَّمُ بِمَا أَرْجُو ثَوَابَهُ، وَقَدْ خِفْتُ مِنَ الْكَلَامِ فِي هَذَا
الْمَجْلِسِ، أَوْ مَا هَذَا مَعْنَاهُ.
"Suatu ketika disebutkan kepada kami tentang
kepiawaian ilmu Ibnu Rajab, bahwa pernah ditanyakan kepadanya suatu masalah
maka dia bisa menjelaskannya panjang lebar, maka aku pun merasa takjub dengan
hal itu ; karena penguasaan beliau terhadapnya.
Kemudian, saya menghadiri majlis yang dihadiri oleh
para ahli mazhab dan yang lainnya, namun beliau [Ibnu Rajab] tidak berbicara
sepatah katapun tentangnya! Setelah majlis itu selesai, saya berkata padanya:
"Bukankah Anda sudah pernah berbicara tentang masalah itu?" Dia
menjawab: "Aku hanya berbicara dengan apa yang aku harapkan pahalanya, dan
aku khawatir [ujub] untuk berbicara dalam majlis ini”, atau kata-kata yang
semakna dengan itu." (Dzail Ibnu Rajab 'ala Tabaqat al-Hanabilah: Hal. 39)
===***===
LARANGAN SESEORANG DENGAN AGAMANYA INGIN DIAGUNGKAN DAN DIMULIAKAN
Ketika seorang da’i dengan agamanya dan ilmunya
sudah menggapai semua yang tersebut diatas, maka setelah itu ada sebagian para
dai yang sangat bernafsu untuk disambut dengan penuh pengagungan dan
penghormatan pada dirinya. Ini adalah merupakan pertanda adanya kesombongan dan
kecongkakan yang paling busuk pada diri-nya.
Al Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata
:
وَأَشْرَ الْكِبْرَ الَّذِي فِيهِ مَنْ يَتَكَبَّرُ
عَلَى الْعِبَادِ بِعِلْمِهِ وَيَتَعَاظَمُ فِي نَفْسِهِ بِفَضِيلَتِهِ فَإِنْ
هَذَا لَمْ يَنْفَعْهُ عِلْمُهُ فَإِنَّ مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِلْآخِرَةِ كَسَرَهُ
عِلْمُهُ وَخَشِعَ قَلْبُهُ وَاسْتَكَانَتْ نَفْسُهُ وَكَانَ عَلَى نَفْسِهِ
بِالْمِرْصَادِ فَلَا يَفْتَرُ عَنْهَا بَلْ يُحَاسِبُهَا كُلَّ وَقْتٍ
وَيَتَفَقَّدُهَا فَإِنْ غَفَلَ عَنْهَا جُمِحَتْ عَنِ الطَّرِيقِ الْمُسْتَقِيمِ
وَأَهْلَكَتْهُ وَمَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِلْفَخْرِ وَالرِّيَاسَةِ وَبَطَرَ عَلَى
الْمُسْلِمِينَ وَتَحَامَقَ عَلَيْهِمْ وَازْدَرَاءَهُمْ فَهَذَا مِنْ أَكْبَرِ
الْكِبْرِ وَلَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ
مِنْ كِبْرٍ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ.
“Kesombongan yang paling buruk adalah orang
yang menyombongkan diri di hadapan manusia dengan ilmunya, merasa dirinya besar
dengan kemuliaan yang dia miliki. Maka yang demikian itu menunjukkan bahwa
ilmunya tidak bermanfaat bagi dirinya.
Karena ciri orang yang menuntut ilmu demi untuk
akhirat; maka ilmunya itu akan mendobrak hatinya menjadi khusyuk serta membuat
jiwanya menjadi tenang. Dan dia akan senantiasa mengawasi dirinya dan tidak
pernah bosan untuk terus mengontrolnya dan memperhatikannya, bahkan setiap saat
dia selalu introspeksi diri dan meluruskannya. Apabila dia lalai dari hal itu,
maka ini menunjukkan bahwa dia telah menyimpang dari jalan yang lurus dan itu
akan membinasakan dirinya.
Dan barangsiapa yang menuntut ilmu untuk
membanggakan diri dan meraih kedudukan, serta memandang remeh kaum muslimin
yang lainnya, menganggap bodoh dan merendahkan mereka, maka hal ini merupakan
KESOMBONGAN yang PALING BESAR.
Tidak akan bisa masuk surga orang yang di dalam
hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sebesar dzarrah (biji
Sawi). Laa haula wa laa quwwata illaa billah.” (Al Kabaa’ir karya
adz-Dzahabi hal. 78).
Dan yang pernah terjadi, ada sebagian dai salafi
yang protes ketika dijemput untuk ngisi ceramah dengan mobil avanza. Padahal
Avanza jauh lebih nyaman dari pada kendaraan onta yang biasa dikendarai oleh
Nabi ﷺ dan pada para ulama salaf
dahulu.
Ini adalah penyakit gila hormat. Dan ini merupakan
penyakit yang tersembunyi di dalam jiwa seseorang, menghancurkan hatinya yang hampir
saja dia tidak menyadarinya kecuali setelah masuk begitu mendalam, sulit
dideteksi dan kerusakannya pun sulit diperbaiki.
"Dari Ibnu Muhairiz, dia berkata:
صَحِبْتُ فُضَالَةَ بْنَ عُبَيْدٍ – رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ – صَاحِبَ رَسُولِ اللَّهِ – ﷺ – فَقُلْتُ: أَوْصِنِي رَحِمَكَ اللَّهُ،
قَالَ: أَحْفَظْ عَنِّي ثَلَاثَ خِصَالٍ، يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهِنَّ؛ إِنِ
اسْتَطَعْتَ أَنْ تَعْرِفَ وَلَا تُعْرَفَ فَافْعَلْ، وَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَسْمَعَ
وَلَا تَتَكَلَّمَ فَافْعَلْ، وَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَجْلِسَ وَلَا
يُجْلَسَ إِلَيْكَ فَافْعَلْ”.
Aku pernah bersama dengan Fudalah bin 'Ubaid –
semoga Allah meridainya – yang merupakan sahabat Rasulullah ﷺ. Aku berkata: 'Berilah aku
nasihat, semoga Allah merahmatimu.'
Dia menjawab: 'Ingatlah tiga hal dariku yang akan
memberikan manfaat kepadamu jika engkau melakukannya:
1]- Jika engkau bisa mengenal
seseorang tanpa membuatmu terkenal, maka lakukanlah!.
2]- Jika engkau bisa mendengarkan
tanpa berbicara, maka lakukanlah itu.
3]- Jika engkau bisa duduk sendiri tanpa
disiapkan orang duduk disampingmu sebagai bentuk penghormatan, maka lakukanlah
itu.' [Baca : Hilyatul Awliyaa 5/141]."
Al-Haitsami dalam al-Majma' 10/297 no. 18133
berkata:
رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ، وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ
“Di riwayatkan ath-Thabarani, dan para perawinya
tsiqoot [dipercaya]".
Ibrahim At-Taimi (wafat 92 H) - seorang muhaddits
tsiqot - berkata :
مَنْ جَلَسَ مَجْلِسًا لِيَجْلِسَ إِلَيْهِ فَلَا
تَجْلِسُوا إِلَيْهِ.
"Barangsiapa yang duduk di majelis agar
orang-orang duduk kepadanya maka janganlah kalian duduk kepadanya". [Baca
: Hilaytul Awliyaa 4/225].
Rosulullah ﷺ tidak suka jika ada seseorang berdiri hanya karena untuk
menghormati diri-nya:
Imam Bukhory dalam kitab Adabul Mufrod meriwayatkan
dari Anas bin Malik -radhiyallahu ‘anhu-, dia berkata:
“لَمْ يَكُنْ شَخْص أَحَبّ إِلَيْهِمْ
رُؤْيَةً مِنْ رَسُول اللَّه ﷺ ، وَكَانُوا إِذَا رَأَوْهُ لَمْ يَقُومُوا لَهُ ،
لِمَا يَعْلَمُونَ مِنْ كَرَاهِيَته لِذَلِكَ "
Tidak ada sosok manusia yang lebih di cintai oleh
para sahabat untuk dilihatnya selain terhadap Rosulullah, dan mereka para
sahabat jika melihat beliau datang, mereka tidak berdiri menyambutnya, karena
mereka tahu jika beliau membencinya untuk diperlakukan seperti itu.
(Sanadnya sahih sesuai syarat Imam Muslim.
Dan diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dan Turmudzi, dan Abu Isa Turmudzi
berkata: Hadits Hasan Sahih Ghorib. Lihat Tahdzib Sunan Abu Daud 2/482).
Dari Jabir -radhiyallahu ‘anhu-: Bahwasannya ketika
para sahabat shalat di belakang Nabi ﷺ dalam kondisi berdiri, sementara Rosulullah ﷺ duduk (karena saat itu beliau
sedang sakit keras menjelang wafatnya), maka beliau memberi isyarat agar mereka
juga duduk, maka merekapun duduk. Setelah beliau salam beliau bersabda:
« إِنْ كِدْتُمْ آنِفًا لَتَفْعَلُونَ فِعْلَ
فَارِسَ وَالرُّومِ يَقُومُونَ عَلَى مُلُوكِهِمْ وَهُمْ قُعُودٌ فَلَا تَفْعَلُوا
»
“Sungguh barusan hampir saja kalian melakukan
perbuatan orang-orang Persia dan Romawi, mereka berdiri terhadap raja-rajanya
sementara para rajanya duduk, maka janganlah kalian lakukan itu”. [HR. Muslim no. 1-(413)]
Dari Abu Mijlaz, dia berkata: Suatu ketika Khalifah
Muawiyah keluar, maka Abdullah bin Zubair dan Ibnu Sofwan berdiri ketika
melihatnya, lalu Mu'awiyah berkata: Kalian berdua duduklah, aku telah mendengar
Rosulullah ﷺ bersabda:
« مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَتَمَثَّل لَهُ
الرِّجَال قِيَامًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَده مِنْ النَّار »
“Barang siapa yang merasa bangga atau senang
jika ada orang-orang berdiri untuk menyambutnya maka tempatilah tempat duduknya
dari api neraka".
(HR. Ahmad 4/91, Bukhori di Adabul Mufrod
no. 977 dan Turmudzi no. 2755, dia berkata: Hadits Hasan).
Syeikh Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berkata:
كَثِيرًا مَا يُخَالِطُ النُّفُوسَ مِنْ الشَّهَوَاتِ
الْخَفِيَّةِ مَا يُفْسِدُ عَلَيْهَا تَحْقِيقَ مَحَبَّتِهَا لِلَّهِ
وَعُبُودِيَّتِهَا لَهُ وَإِخْلَاصِ دِينِهَا لَهُ كَمَا قَالَ شَدَّادُ بْنُ
أَوْسٍ: يَا بَقَايَا الْعَرَبِ إنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الرِّيَاءُ
وَالشَّهْوَةُ الْخَفِيَّةُ ، قِيلَ لِأَبِي دَاوُد السجستاني: وَمَا الشَّهْوَةُ
الْخَفِيَّةُ ؟ قَالَ: حُبُّ الرِّئَاسَةِ "
“Banyak syahwat tersembunyi yang bercampur dengan
jiwa, akan tetapi dengan merealisasikan cinta kepada Alloh, beribadah
kepada-Nya, ikhlas dalam beragama tidak akan mampu merusaknya, seperti halnya
perkataan Syaddad bin Aus:
“Wahai sisa-sisa orang Arab, sesungguhnya
yang paling aku takutkan kepada kalian adalah riya’ dan syahwat yang
tersembunyi”.
Ditanyakan kepada Abu Daud As Sajastani: “Apa yang
dimaksud dengan syahwat yang tersembunyi?”. Dia berkata: “Cinta menjadi tokoh
[pemimpin]”. (Majmu’ Fatawa: 10/214-215)
Abu Nu’aim al-Ashbahani meriwayatkan dengan sanad
nya dari seorang pria, dia berkata :
أَتَيْنَا عَلَى ابْنِ بَكَّارٍ، فَقُلْنَا لَهُ:
حُذَيْفَةُ الْمَرْعَشِيُّ يَقْرَؤُ عَلَيْكَ السَّلَامَ، قَالَ: وَعَلَيْهِ،
إِنِّي لَأَعْرِفُهُ بِأَكْلِ الْحَلَالِ مِنْذُ ثَلَاثِينَ سَنَةً، وَلَئِنْ
أَلْقَى الشَّيْطَانُ عَيْنًا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَلْقَاهُ، قُلْتُ لَهُ فِي
ذَلِكَ، قَالَ: إِنِّي أَخَافُ أَنْ أَتَصَنَّعَ لَهُ، فَأَتَزَيَّنُ لِغَيْرِ
اللَّهِ، فَأَسْقُطَ مِنْ عَيْنِ اللَّهِ.
Kami mendatangi Ibnu Bakkaar, lalu kami berkata
padanya: "Hudzaifah al-Mar’asyi menyampaikan salam kepadamu!"
Dia menjawab : 'Wa'alaihis salaam, Sesungguhnya aku
benar-benar mengenal-nya, di makan dari yang halal sejak 30 tahun. Sungguh
seandainya aku bertemu setan di depan mata lebih aku cintai daripada aku
bertemu dia atau dia bertemu aku'.
Aku bertanya: 'Mengapa demikian?'
Dia menjawab: "aku takut untuk berbuat sesuatu
semata-mata karena dia, lalu aku membagus -baguskan diri dihadapannya karena
untuk selain Allah. Sehingga kedudukanku jatuh di sisi Allah". [Hilyatul
Awliyaa 4/204].
ROSULULLAH ﷺ ADALAH SOSOK YANG TIDAK SUKA DI PUJI DAN
DI AGUNG-AGUNGKAN:
Rosulullah ﷺ pribadi yang tidak suka sanjungan dan pujian, bahkan beliau
melarang umatnya memuji-memuji dan mengagung-agungkan dirinya .
Di riwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallau
‘anhu :
" أنَّ نَاسًا قَالُوْا
: يَارَسُولُ اللَّه يَاخَيْرَنَا وَابْن َخَيْرِنَا وَيَا سَيِّدَنَا وَابْنَ سَيِّدِنَا
، فَقَالَ رَسُولُ اللَّه ﷺ : «ياأيّها النّاسُ قُولُوا بِقولِكُمْ ولا يَسْتَهْوِيَنّكُم
ْالشّيْطَانُ ، أنا محمدٌ
عَبْد الله وَرَسُولُه ، ما أحِبّ أنْ تَرْفَعُوني فَوْقَ مَنْزِلَتِي التي أنزلني
الله عَزّ وَجَلّ »
Bahwa orang-orang berkata kepada Nabi ﷺ : Ya
Rosulullah , wahai pilihan kami dan putra seorang pilihan kami , wahai
sayyiduna (tuan kami) dan putra sayyiduna (putra tuan kami)!.
Maka Rosulullah ﷺ bersabda : " Wahai para manusia , jagalah perkataan kalian
itu , jangan sampai syeitan menggelincirkan kalian , aku adalah hamba Allah dan
Rasul-Nya , aku tidak suka kalian mengangkatku diatas kedudukanku yang telah
Allah Azza wa Jalla tetapkan untukku ".
( HR. Ahmad no. 12573 , 13621 , 13596 , Nasai
dalam kitab Amalul Yaum wal Laylah no. 248 , 249 dan Ibnu Hibban no. 6240 .
Hadits ini di sahihkan oleh Ibnu Hibban , Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 5L179 ,
syueib Al-Arnauth dll ).
RASULULLAH ﷺ MELARANG MEMUJI SESEORANG DENGAN REDAKSI YANG MEMASTIKAN.
Dalam hadits Abu Bakroh di ceritakan : ada
seseorang memuji-muji seseorang lainnya di sisi Rosulullah ﷺ , maka
beliau berkata padanya :
«وَيْلَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ، قَطَعْتَ
عُنُقَ صَاحِبِكَ» مِرَارًا ، ثُمَّ قَالَ : «مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَادِحًا أَخَاهُ
، لاَمَحَالَةَ، فَلْيَقُلْ أَحْسِبُ فُلاَنًا وَاللهُ حَسِيبُهُ وَلاَ أُزَكِّي عَلَى
اللهِ أَحَدًا أَحْسِبُهُ كَذَا وَكَذَا، إِنْ كَانَ يَعْلَمُ ذلِكَ مِنْه».
“Celakalah kamu, kamu telah memotong leher
sahabatmu , kamu telah memotong leher sahabatmu !”. (beliau mengatakannya
berulang-berulang)
Kemudian beliau berkata : " Jika ada di
antara kalian mau memuji saudaranya yang tidak boleh tidak , maka katakanlah : Aku
kira si Fulan , dan hanya Allah lah yang membuat perkiraan atau perhitungan
terhadap segala sesuatu , dan kepada Allah aku tidak berhak menyatakan bahwa
seseorang itu bersih dan terpuji , ( akan tetapi ) aku kira seseorang itu
begitu dan begitu , meskipun dia tahu persis orang itu seperti yang dia kira
". ( HR. Bukhory no. 2662, 6061 dan Muslim no. 3000 ).
Dan Imam Ahmad (16460) telah meriwayatkan dari
Mu’awiyah –radhiyallahu ‘anhu- bahwa dia berkata: “Saya telah mendengar
Rasulullah ﷺ
bersabda:
«إِيَّاكُمْ وَالتَّمَادُحَ فَإِنَّهُ
الذَّبْحُ»
“Jauhilah oleh kalian saling memuji karena hal
itu akan menyembelihmu”. (Dishahihkan oleh Albani dalam Shahih Al Jami’: 2674)
Al Manawi –rahimahullah- berkata:
المدحُ يورِثُ العَجَبَ وَالكِبْرَ
وَهُوَ مَهْلِكٌ كَالذَّبْحِ فَلِذَلِكَ شُبِّهَ بِهِ، قَالَ الْغَزَالِيُّ
رَحِمَهُ اللَّهُ: فَمَنْ صَنَعَ بِكَ مَعْرُوفًا فَإِنْ كَانَ مِمَّنْ يُحِبُّ
الشُّكْرَ وَالثَّنَاءَ فَلَا تُمَدِّحْهُ؛ لِأَنَّ قَضَاءَ حَقِّهِ أَنْ لَا
تُقَرِّهِ عَلَى الظُّلْمِ وَطَلَبَهُ لِلشُّكْرِ ظُلْمٌ، وَإِلَّا فَأَظْهَرْ
شُكْرَهُ لِيَزْدَادَ رَغْبَةً فِي الْخَيْرِ.
“Pujian itu mewarisi takjub dan sombong dan
akan membinasakan seperti sembelihan, oleh karenanya diserupakan dengannya.
Al Ghozali –rahimahullah- berkata: “Barang
siapa yang telah berbuat baik kepadamu, jika dia termasuk yang menyukai ucapan
terima kasih dan pujian maka janganlah kamu memujinya; karena yang menjadi
haknya janganlah menyetujui kedzaliman, dia meminta ucapan terima kasih dan
pujian adalah kedzaliman, atau kalau tidak maka berilah ucapan terima kasih
untuk menambahnya mencintai kebaikan”. (Faidhul Qadir: 3/167)
****
SOMBONG, UJUB DAN MERASA SUCI ADALAH DOSA PERTAMA IBLIS :
Sebagian para ulama salaf menjelaskan bahwa dosa
pertama kali yang muncul kepada Allah adalah kesombongan. Allah Ta’ala berfirman,
﴿وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ
اسْجُدُوا لأَدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ
الكَافِرِينَ﴾
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para
malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali
Iblis; ia enggan dan takabur (sombong) dan ia termasuk golongan
orang-orang yang kafir“ (QS. Al Baqarah:34)
Tentang ayat ini Qotaadah berkata :
“Iblis hasud terhadap Adam ‘alaihis
salaam atas kemuliaan yang telah Allah berikan kepada nya. Iblis berkata :
“Saya diciptakan dari api sementara Adam diciptakan dari tanah”. Kesombongan
inilah dosa yang pertama kali terjadi. Iblis merasa sombong dengan tidak
mau bersujud kepada Adam ‘alaihis salaam” (Tafsir Ibnu Katsir 1/114)
Dan Allah Ta’ala berfirman :
﴿إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ﴾
“Sesungguhnya Dia tidak menyukai
orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23)
Haritsah bin Wahb Al Khuzai’i berkata bahwa ia
mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
«أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ
قَالُوا بَلَى قَالَ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ»
“Maukah
kalian aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua
adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur
(sombong).“ (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853).
Termasuk kesomongan dan kecongkakan seseorang
adalah memastikan dirinya sebagai orang shaleh dan ahli surga. Sementara Allah
SWT berfirman :
﴿فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ
أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ﴾
“Maka janganlah kalian mengatakan bahwa diri
kalian suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (
QS. An-Najm : 32 )
Rasulullah ﷺ bersabda,
«لاَ تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمُ اللَّهُ،
أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّ مِنْكُمْ !»
“Janganlah kamu menganggap dirimu telah
suci, Allah Ta’ala-lah yang lebih tahu siapa saja sesungguhnya orang yang baik
atau suci di antara kamu”. (HR. Muslim no. 2142).
Seseorang tidak boleh memastikan siapapun
sebagai ahli surga ; karena, ini masuk dalam ranah ghaib, yang hanya Allah SWT
saja yang mengetahuinya, kecuali jika ada keterangan wahyu dari Allah yang
diturunkan pada Rasul-Nya.
Contohnya : 1] adanya nash hadits yang
menetapkan 10 sahabat yang dipastikan masuk syurga, Abu Bakar, Umar, Utsman,
Ali, Zubair ... dst . 2] Pasukan Badar. 3] Para Syuhada Uhud .
Jika tidak ada nash dan dalil maka siapapun
tidak boleh memastikan sesorang sebagai ahli syurga, akan tetapi cukup
berhusnudz dzon (berprasangka baik) dan berharap sebagai ahli syurga.
Maka barang siapa mengklaim bahwa si fulan
ahli syurga tanpa dalil, maka dia telah melangkahi Allah dan Rasul-Nya. Dan itu
di larang .
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا
بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ﴾
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [QS. Hujurat: 1]
Dan tidak boleh pula ngalap berkah atau
bertabarruk pada seseorang atau suatu benda, kecuali jika syarat-syaratnya
terpenuhi . Ada tiga syarat :
Syarat pertama :
ada keterangan dari Allah dan Rasulnya bahwa orang tersebut atau benda tersebut
diberkahi oleh Allah SWT.
Syarat kedua : ada
izin atau perintah dari Allah dan Rasul-Nya untuk ngalap berkah dan bertabrruk
dengan-nya .
Syarat ketiga :
berkeyakinan bahwa hakikat keberkahan itu dari Allah SWT semata.
Contohnya tabarruk dan ngalap berkah yang
disyariatkan adalah bertabarruk dengan fisik Nabi ﷺ dan juga bertabarruk dengan air zamzam.
Namun Nabi ﷺ tidak pernah mengizinkan ngalap berkah dengan para sahabatnya
dan sanak keluarganya . Lalu bagaimana dengan air ludah para kyai dan ustdaz ?
Begitu pula Nabi ﷺ tidak pernah mengizinkan ngalap berkah dengan bebatuan tanah
haram Makkah, padahal al-Qur’an menyatakan bahwa Tanah Haram Makkah itu di
berkahi .
﴿إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ
لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ﴾
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun
untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang
diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. [QS. Al Imran: 96]
====***====
LARANGAN MENGHARAPKAN PEMBERIAN MANUSIA DENGAN ILMU AGAMANYA DAN IBADAHNYA
Sebagaimana yang telah disebutkan diatas bahwa penyakit
cinta popularitas (riya) dengan agamanya ini akan terus berkembang. Jika dia
sudah berhasil menjadi terkenal dan menjadi publik figur; kadang dalam dirinya
timbul rasa ujub dan istimewa, lalu dia ingin selalu di istimewakan dan
dimuliakan dengan ilmu agamanya.
Bahkan ada yang lebih busuk lagi, diantara mereka
ada yang makan minumnya dari hasil pamer dan mempertontonkan ilmu agamanya dan
tampilan keshalihannya.
Dia berusaha mempengaruhi orang-orang bahwa dirinya
adalah orang shaleh dan berlimu yang bisa mendatangkan keberkahan dengan pasti
bagi siapa saja yang memberinya amplop sambil mencium tangannya, apalagi jika dengan
menelan air ludahnya.
Dalam hal ini Allah swt berfirman Surat Yasin:
﴿قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا
الْمُرْسَلِينَ اتَّبِعُوا مَن لاَّ يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُم مُّهْتَدُونَ﴾.
Ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan
itu. Ikutilah orang yang tiada minta upah [imbalan] kepad kalian ; dan mereka
adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Yasin, 20-21).
Asy-Syeikh Muhammad al-Amiin Asy-Syinqithi dalam
kitabnya “ أَضْوَاءُ البَيَانِ “ ketika menafsiri surat Hud: 29, berkata:
"قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَيَا
قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالًا إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ﴾ ذَكَرَ
تَعَالَى فِي هَذِهِ الْآيَةِ الْكَرِيمَةِ عَنْ نَبِيِّهِ نُوحٍ عَلَيْهِ وَعَلَى
نَبِيِّنَا الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّهُ أَخْبَرَ قَوْمَهُ أَنَّهُ لَا
يَسْأَلُهُمْ مَالًا فِي مُقَابَلَةِ مَا جَاءَهُمْ بِهِ مِنَ الْوَحْيِ
وَالْهُدَى، بَلْ يَبْذُلُ لَهُمْ ذَلِكَ الْخَيْرَ الْعَظِيمَ مُجَانًا مِنْ
غَيْرِ أَخْذِ أَجْرَةٍ فِي مُقَابَلَتِهِ، وَبَيَّنَ فِي آيَاتٍ كَثِيرَةٍ: أَنَّ
ذَلِكَ هُوَ شَأْنُ الرُّسُلِ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ."
Firman Allah Ta’aalaa: Dan (dia berkata): “Hai
kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku.
Upahku hanyalah dari Allah”.
Allah Yang Maha Kuasa menyebutkan dalam ayat mulia
ini tentang Nabinya Nuh ‘alaihis salam, bahwa dia memberi tahu kaumnya bahwa
dia tidak meminta harta kepada mereka sebagai imbalan atas apa yang telah dia
sampaikan kepada mereka dari wahyu dan hidayah. Sebaliknya, kebaikan yang agung
itu disampaikan kepada mereka secara Cuma-Cuma tanpa memungut bayaran sebagai
imbalannya. Dan Allah menjelaskan dalam banyak ayat: bahwa Itu adalah berlaku
pada semua dakwah para Rasul ['alaihimus salaam]
Seperti yang Allah firmankan
dalam Surat “Saba” tentang Nabi kita ﷺ:
﴿قُلْ مَا سَأَلْتُكُم مِّنْ
أَجْرٍ فَهُوَ لَكُمْ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ﴾
Katakanlah:
"Upah apapun yang aku minta kepada kalian, maka itu untuk kalian. Upahku
hanyalah dari Allah” (QS. Saba: 47).
Kemudian
Asy-Syeikh Muhammad al-Amiin Asy-Sying-qithi menyebutkan ayat-ayat seperti yang
di atas, lalu berkata:
وَيُؤْخَذُ
مِنْ هَذِهِ الْآيَاتِ الْكَرِيمَةِ: أَنَّ الْوَاجِبَ عَلَى أَتْبَاعِ الرُّسُلِ
مِنَ الْعُلَمَاءِ وَغَيْرِهِمْ أَنْ يَبْذُلُوا مَا عِنْدَهُمْ مِنَ الْعِلْمِ
مُجَانًا مِنْ غَيْرِ أَخْذِ عَوْضٍ عَلَى ذَلِكَ، وَأَنَّهُ لَا يَنْبَغِي أَخْذُ
الْأُجْرَةِ عَلَى تَعْلِيمِ كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى وَلَا عَلَى تَعْلِيمِ
الْعَقَائِدِ وَالْحَلَالِ وَالْحَرَامِ". انتهى.
Diambil
dari ayat-ayat luhur ini: Tugas para pengikut Rasul dari kalangan ulama dan
lain-lain adalah memberikan ilmunya secara Cuma-Cuma tanpa memungut bayaran
untuk itu, dan tidak lah layak mengambil upah atas pengajaran Kitab Allah
Ta'aala, begitu juga atas mengajar ilmu tentang aqidah dan hukum tentang halal
dan haram”. (Selesai perkataan Asy-Syinqiti).
Allah juga berfirman di ayat lain,
﴿وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي
ثَمَنًا قَلِيلًا﴾
“Janganlah kalian menjual ayat-ayat-Ku dengan harga
yang sdikit”. (QS. Al-Maidah: 44)
Dan ayat yang semakna dengan ini ada banyak dalam
al-Quran.
Yang dimaksud dengan “tsamanan qalilaa…” (harga
yang sedikit) atau harga yang murah adalah dunia seisinya.
Ibnu Abi ad-Dunya dalam az-Zuhud hal. 235 no. 561
meriwayatkan dengan sanadnya dari Harun bin Yazid, dia berkata:
سُئِلَ الْحَسَنُ عَنْ قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿ثَمَنًا
قَلِيلًا﴾
[البقرة: 41] مَا الثَّمَنُ الْقَلِيلُ؟ قَالَ: «الدُّنْيَا بِحَذَافِيرِهَا»
Bahwa Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang makna
firman Allah: “tsamanan qalilaa…” (harga yang sedikit). Lalu beliau mengatakan:
“At-Tsaman al-Qalil (harga murah) adalah: dunia berikut semua
isinya.”
Ibnu Katsir dalam Tafsirnya berkata:
«عَنْ أَبِي الْعَالِيَةِ فِي قَوْلِهِ
تَعَالَى: ﴿وَلا
تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلا﴾
يَقُولُ: لَا تَأْخُذُوا عَلَيْهِ أَجْرًا. قَالَ: وَهُوَ مَكْتُوبٌ عِنْدَهُمْ
فِي الْكِتَابِ الْأَوَّلِ: يَا ابْنَ آدَمَ عَلِّم مَجَّانا كَمَا عُلِّمت
مَجَّانا.
وَقِيلَ: مَعْنَاهُ لَا تَعْتَاضُوا عَنِ الْبَيَانِ
وَالْإِيضَاحِ وَنَشْرِ الْعِلْمِ النَّافِعِ فِي النَّاسِ بِالْكِتْمَانِ
وَاللَّبْسِ لِتَسْتَمِرُّوا عَلَى رِيَاسَتِكُمْ فِي الدُّنْيَا الْقَلِيلَةِ
الْحَقِيرَةِ الزَّائِلَةِ عَنْ قَرِيبٍ».
"Dari Abu Al-'Aliyah tentang
firman-Nya Allah: '{dan janganlah kalian menjual ayat-ayat-Ku dengan harga yang
rendah,}' (QS. Al-Baqarah: 41). Dia mengatakan: 'Artinya adalah Janganlah
kalian mengambil upah atasnya.'
Lalu dia berkata: 'Dan itu telah tertulis disisi
mereka [Ahlul Kitab] dalam kitab yang pertama [Taurat]: 'Wahai anak
Adam, ajarkanlah ilmu agama secara gratis sebagaimana kamu diajari secara
gratis.'
Dan dikatakan pula maknanya adalah: jangan kalian
menukar al-Bayan [keterangan], al-Iidhooh [penjelasan], dan penyeberan ilmu
yang bermanfaat kepada orang banyak dengan sembunyi-sembunyi dan terselubung,
agar kalian tetap menduduki posisi kepemimpinan kalian dalam dunia yang fana
dan sementara ini." (Tafsir Ibnu Katsir, 1/244).
Dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- bahwa
Rasulullah ﷺ bersabada:
«مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى
بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا
مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي
رِيحَهَا»
“Barang siapa menuntut ilmu yang seharusnya untuk
mencari wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala ; tetapi dia tidak mempelajari ilmu itu
kecuali untuk mendapatkan harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan
bau surga pada hari kiamat kelak.
(HR. Abu Daud No. 3664, Ibnu Majah No. 252
dan Imam Ahmad No. 8457). Hadits ini dishahihkan oleh Imam an-Nawawi, Syaikh
bin Baz dan Syaikh al-Albani. Lihat: “Riyaadh ash-Shaalihiin” [No. 139 &
1620] dan “Shahiih at-Targhiib” No. 105)..
Dan Turmudzy meriwayatkanya dari Ibnu Umar Nabi ﷺ bersabda:
«مَن تعلَّمَ عِلمًا لغَيرِ اللهِ، أو أرادَ
به غَيرَ اللهِ، فلْيَتبوَّأْ مَقعَدَه من النَّارِ».
“Barang siapa yang menuntut Ilmu karena selain
Allah, maka dia telah menyiapkan tempat duduk untuk dirinya dari api Neraka”.
(HR. At-Tumudzi no. 2655 dan an-Nasaa’i dlm
“السنن الكبرى” no.
5910 dalam hadits yang panjang).
Al-Mizzy berkata dlam kitabnya “Tahdzib al-Kamal”:
“ Di dalam sanadnya terdapat Muhammad din ‘Abbaad al-Hannaa’i, telah berkata
Abu Hatim: dia itu shoduuq”.
Tentu, berikut saya ubah seluruh huruf Arab menjadi
huruf Latin/Indonesia:
Al-Mubaarokfuuri dalam kitabnya “Tuhfatul Ahwadzi”
7/68: “Sanadnya terputus.”
Hadits ini didhaifkan oleh Syaikh al-Albani dalam
“Dha’iif at-Tirmidzi” No. 2655, “As-Silsilah adh-Dha’iifah” No. 5017, “Dha’iif
at-Targhiib” No. 85, dan “Dha’iif al-Jaami’” No. 1768 dan 5530.
Orang durhaka adalah orang yang makan dan minumnya
dari hasil al-Qur'an :
Dari Abu Sa’id Al-Khudri, dia mengatakan: bahwa
ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
«يكون خَلْفٌ من بعد السِّتِّينَ سنةً
أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا ثم
يكون خَلْفٌ يقرؤونَ القرآنَ لا يعْدو تراقيهم
ويقرأ القرآنَ ثلاثٌ مؤمنٌ ومنافقٌ وفاجرٌ».
قال بَشِيْر: قُلْتُ للوَلِيْد: مَا هَؤلَاء
الثَّلاثةُ؟ قَالَ: «المُؤْمِن مُؤْمِنٌ بِه، والمُنافِقُ كَافِرٌ به،
والفَاجِرُ يَأكُلُ بِهِ»
Kelak akan ada generasi pengganti sesudah enam
puluh tahun, mereka menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan
hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.
Kemudian akan muncul pula pengganti lainnya yang
pandai membaca Al-Quran, tetapi tidak sampai meresap ke dalam hati mereka.
Saat itu yang membaca Al-Quran ada tiga macam
orang, yaitu orang Mukmin, orang munafiq, dan orang durhaka.
Basyir mengatakan bahwa ia bertanya kepada Al-Walid
tentang pengertian dari ketiga macam orang tersebut : "Siapa sajakah
mereka itu?"
Maka Al-Walid menjawab :
"Orang Mukmin adalah orang yang beriman kepada Al-Quran ,
orang Munafiq adalah orang yang ingkar terhadap Al-Quran ,
sedangkan orang yang DURHAKA adalah orang yang mencari makan (nafkah) dengan
Al-Quran."
[HR. Ahmad no. 11340].
Derajat Hadits :
Ibnu Katsir dalam kitab البداية والنهاية (6/233)
berkata :
إِسْنَادُهُ جَيِّدٌ قَوِيٌّ عَلَى شَرْطِ السُّنَنِ
"Sanad nya bagus dan kuat sesuai syarat
kitab-kitab as-Sunan".
Dan Syeikh al-Albaani dalam السِّلْسِلَةُ الصَّحِيحَةُ (1/520)
berkata :
"رِجَالُهُ ثِقَاتٌ غَيْرُ الوَلِيدِ،
فَحَدِيثُهُ يَحْتَمِلُ التَّحْسِينِ وَهُوَ عَلَى كُلِّ حَالٍ شَاهِدٌ
صَالِحٌ".
"Para perawinya tsiqoot [dipercaya] selain
al-Wallid, maka haditsnya bisa dibawa ke derajat Hasan , dan haditst tsb
bagaimana pun juga layak dan baik sebagai syahid ".
Dari Habashi bin Junadah
As-Salluuli bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«إِنِّيْ لَأُعِطِيْ الرَّجُلَ
الْعَطِيَّةَ فَيَنْطَلِقُ بِهَا تَحْتَ إِبْطِهِ وَمَا هِيَ إِلاَّ النَّارُ». فَقَالَ
لَهُ عُمَرُ: وَلِمَ تُعْطِيْ يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا هُوَ نَارٌ؟ فَقَالَ: «أَبىَ
اللهُ لِيْ الْبُخْلَ، وَأَبَوا إِلاَّ مَسْأَلَتِيْ»
“Sesungguhnya aku benar-benar akan
memberi seseorang suatu pemberian, lalu dia beranjak pergi dengan membawa
pemberian itu dibawah ketiaknya, padahal tidaklah pemberian itu melainkan api
Neraka.”
Maka Umar berkata kepada beliau:
‘Lantas mengapa Anda memberinya wahai Rasulullah, padahal ia adalah api?’
Maka beliau bersabda: ‘Allah tidak
menyukai kebakhilan untukku, namun mereka tetap membangkang kecuali meminta
kepadaku.”
[HR. Ahmad (11139, 11017), Ibnu
Hibban (3414), Abu Ya’la (1328)]. Di Shahihkan Ibnu Hibbaan dan al-Albaani
dalam Shahiih at-Targhiib wa at-Tarhiib (815, 844), lihat al-Jaami’ as-Shahiih
li as-Sunan wa al-Masaanid, 6/179]
****
SIAPAKAH ULAMA YANG MIRIP ANJING TERENGAH-ENGAH SAMBIL MENJULURKAN LIDAH?
Allah SWT berfirman:
﴿وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ
آيَاتِنَا فَانسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ
(175) وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ
وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ
يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ ... (176)﴾
“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang
yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi
Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti
oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang
sesat.
Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami
tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada
dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya
seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya, dan jika
kamu membiarkannya dia tetap mengulurkan lidahnya (juga)”. [QS. Al-A'raf, ayat 176]
Al-Imam Fakhrur Razi dalam tafsirnya Mafatiih
al-Ghoib 15/405-406 ketika mentafsiri firman Allah swt :
وَاعْلَمْ أَنَّ هَذَا التَّمْثِيلَ
مَا وَقَعَ بِجَمِيعِ الْكِلَابِ، وَإِنَّمَا وَقَعَ بِالْكَلْبِ اللَّاهِثِ. وَأَخَسُّ
الْحَيَوَانَاتِ هُوَ الْكَلْبُ، وَأَخَسُّ الْكِلَابِ هُوَ الْكَلْبُ اللَّاهِثُ.
فَمَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْعِلْمَ وَالدِّينَ، فَمَالَ إِلَى الدُّنْيَا، وَأَخْلَدَ
إِلَى الْأَرْضِ، كَانَ مُشَبَّهًا بِأَخَسِّ الْحَيَوَانَاتِ، وَهُوَ الْكَلْبُ اللَّاهِثُ.
وَفِي تَقْرِيرِ هَذَا التَّمْثِيلِ وُجُوهٌ:
الْأَوَّلُ:
أَنَّ كُلَّ شَيْءٍ يَلْهَثُ فَإِنَّمَا
يَلْهَثُ مِنْ إِعْيَاءٍ أَوْ عَطَشٍ، إِلَّا الْكَلْبَ اللَّاهِثَ، فَإِنَّهُ يَلْهَثُ
فِي حَالِ الْإِعْيَاءِ، وَفِي حَالِ الرَّاحَةِ، وَفِي حَالِ الْعَطَشِ، وَفِي حَالِ
الرِّيِّ. فَكَانَ ذَلِكَ عَادَةً مِنْهُ وَطَبِيعَةً، وَهُوَ مُوَاظِبٌ عَلَيْهِ كَعَادَتِهِ
الْأَصْلِيَّةِ وَطَبِيعَتِهِ الْخَسِيسَةِ، لَا لِأَجْلِ حَاجَةٍ وَلَا ضَرُورَةٍ.
فَكَذَلِكَ مَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْعِلْمَ
وَالدِّينَ، أَغْنَاهُ عَنِ التَّعَرُّضِ لِأَوْسَاخِ أَمْوَالِ النَّاسِ، ثُمَّ إِنَّهُ
يَمِيلُ إِلَى طَلَبِ الدُّنْيَا، وَيُلْقِي نَفْسَهُ فِيهَا، كَانَتْ حَالُهُ كَحَالِ
ذَلِكَ اللَّاهِثِ، حَيْثُ وَاظَبَ عَلَى الْعَمَلِ الْخَسِيسِ وَالْفِعْلِ الْقَبِيحِ،
لِمُجَرَّدِ نَفْسِهِ الْخَبِيثَةِ وَطَبِيعَتِهِ الْخَسِيسَةِ، لَا لِأَجْلِ الْحَاجَةِ
وَالضَّرُورَةِ.
وَالثَّانِي:
أَنَّ الرَّجُلَ الْعَالِمَ إِذَا تَوَسَّلَ
بِعِلْمِهِ إِلَى طَلَبِ الدُّنْيَا، فَإِنَّمَا يَكُونُ ذَلِكَ لِأَجْلِ أَنَّهُ يُورِدُ
عَلَيْهِمْ أَنْوَاعَ عُلُومِهِ، وَيُظْهِرُ عِنْدَهُمْ فَضَائِلَ نَفْسِهِ وَمَنَاقِبَهَا.
وَلَا شَكَّ أَنَّهُ عِنْدَ ذِكْرِ تِلْكَ الْكَلِمَاتِ، وَتَقْرِيرِ تِلْكَ الْعِبَارَاتِ،
يُدْلِعُ لِسَانَهُ وَيُخْرِجُهُ، لِأَجْلِ مَا تَمَكَّنَ فِي قَلْبِهِ مِنْ حَرَارَةِ
الْحِرْصِ، وَشِدَّةِ الْعَطَشِ إِلَى الْفَوْزِ بِالدُّنْيَا.
فَكَانَتْ حَالَتُهُ شَبِيهَةً بِحَالَةِ
ذَلِكَ الْكَلْبِ الَّذِي أَخْرَجَ لِسَانَهُ أَبَدًا مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ وَلَا ضَرُورَةٍ،
بَلْ بِمُجَرَّدِ الطَّبِيعَةِ الْخَسِيسَةِ.
وَالثَّالِثُ:
أَنَّ الْكَلْبَ اللَّاهِثَ لَا يَزَالُ
لَهْثُهُ الْبَتَّةَ، فَكَذَلِكَ الْإِنْسَانُ الْحَرِيصُ لَا يَزَالُ حِرْصُهُ الْبَتَّةَ.
أَمَّا قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿إِنْ تَحْمِلْ
عَلَيْهِ يَلْهَثْ﴾، فَالْمَعْنَى أَنَّ هَذَا الْكَلْبَ إِنْ شُدَّ عَلَيْهِ وَهُيِّجَ
لَهَثَ، وَإِنْ تُرِكَ أَيْضًا لَهَثَ؛ لِأَجْلِ أَنَّ ذَلِكَ الْفِعْلَ الْقَبِيحَ
طَبِيعَةٌ أَصْلِيَّةٌ لَهُ.
فَكَذَلِكَ هَذَا الْحَرِيصُ الضَّالُّ،
إِنْ وَعَظْتَهُ فَهُوَ ضَالٌّ، وَإِنْ لَمْ تَعِظْهُ فَهُوَ ضَالٌّ؛ لِأَجْلِ أَنَّ
ذَلِكَ الضَّلَالَ وَالْخَسَارَةَ عَادَةٌ أَصْلِيَّةٌ وَطَبِيعَةٌ ذَاتِيَّةٌ لَهُ.
Ketahuilah
bahwa perumpamaan ini tidak ditujukan kepada semua anjing, melainkan hanya
kepada anjing yang terengah-engah. Hewan yang paling hina adalah anjing, dan
anjing yang paling hina adalah anjing yang selalu terengah-engah.
Maka siapa
saja yang telah Allah karuniakan ilmu dan agama, kemudian ia
lebih memilih dunia dan cenderung kepadanya, niscaya ia diserupakan dengan
makhluk yang paling hina, yaitu anjing yang terengah-engah.
Penjelasan
tentang perumpamaan ini dapat ditinjau dari beberapa sisi:
Pertama:
Setiap
makhluk yang terengah-engah biasanya melakukannya karena kelelahan atau
kehausan. Akan tetapi, anjing yang terengah-engah tetap terengah-engah baik
ketika lelah maupun ketika beristirahat, baik ketika haus maupun ketika
kenyang. Hal itu telah menjadi kebiasaan dan tabiatnya. Ia terus-menerus
melakukannya sebagai sifat asal dan tabiatnya yang rendah, bukan karena adanya
kebutuhan atau keadaan darurat.
Demikian
pula orang yang telah Allah karuniakan ilmu dan agama. Sesungguhnya Allah telah
mencukupkannya sehingga ia tidak perlu mengotori dirinya dengan mengejar harta
manusia. Namun, ia justru condong mencari dunia dan menjerumuskan dirinya ke
dalamnya. Keadaannya pun menjadi seperti anjing yang terengah-engah tersebut,
karena ia terus-menerus melakukan pekerjaan yang hina dan perbuatan yang buruk
semata-mata karena jiwanya yang rusak dan tabiatnya yang rendah, bukan karena kebutuhan
atau keterpaksaan.
Kedua:
Seorang
yang berilmu (agama) apabila menjadikan ilmunya sebagai sarana
untuk memperoleh dunia, maka hal itu dilakukan dengan cara memamerkan
berbagai macam ilmunya kepada manusia, serta menampakkan keutamaan dan
kelebihan dirinya di hadapan mereka. Tidak diragukan lagi, ketika ia
mengucapkan kata-kata itu dan menyampaikan penjelasan-penjelasan tersebut, ia
menjulurkan lisannya, karena di dalam hatinya telah tertanam panasnya ketamakan
dan dahaga yang sangat besar untuk meraih dunia.
Keadaannya
pun menyerupai keadaan anjing yang selalu menjulurkan lidahnya tanpa
adanya kebutuhan atau keadaan darurat, melainkan semata-mata karena tabiatnya
yang rendah.
Ketiga:
Anjing yang
terengah-engah tidak pernah berhenti dari keadaan itu. Demikian pula manusia
yang rakus, ketamakannya tidak pernah berhenti.
Adapun
firman Allah Ta'ala:
﴿إِنْ تَحْمِلْ
عَلَيْهِ يَلْهَثْ﴾
"Jika
engkau menghalaunya, ia menjulurkan lidahnya."
Maksudnya
adalah bahwa anjing tersebut, jika diusir dan dibangkitkan kemarahannya, ia
akan terengah-engah. Namun jika dibiarkan pun, ia tetap terengah-engah. Sebab,
perilaku buruk itu merupakan tabiat aslinya.
Demikian
pula orang yang rakus dan sesat ini. Jika engkau menasihatinya, ia tetap sesat.
Dan jika engkau tidak menasihatinya, ia pun tetap sesat. Hal itu karena
kesesatan dan kerugian telah menjadi kebiasaan yang mengakar serta tabiat yang
melekat pada dirinya”. [Kutipan selesai]
Dan Firman Allah Swt.:
﴿وَأَنْفُسَهُمْ
كَانُوا يَظْلِمُونَ﴾
“Dan kepada diri mereka sendirilah mereka
berbuat zalim”. (Al-A'raf: 177)
Maksudnya:
Allah tidak menganiaya mereka, tetapi mereka
sendirilah yang menganiaya dirinya sendiri karena berpaling dari mengikuti
jalan hidayah dan taat kepada Tuhan, lalu cenderung kepada keduniawian yang
fana dan mengejar kelezatan serta kemauan hawa nafsu.
[Lihat pula : Tafsir Ibnu Katsir 3/462]
****
SIAPAKAH ULAMA YANG LEBIH BAHAYA DARI PADA DUA SRIGALA KELAPARAN?:
Di antara sarana terbesar yang akan merusak
seseorang untuk sampai kepada Rabbnya adalah: seseorang dengan agamanya sengaja
bertujuan untuk mengeruk keuntungan duniawi dan menggapai kemuliaan di dunia.
Orang seperti ini lebih buruk dan lebih merusak
dari pada dua ekor serigala kelaparan yang dilepas dikawanan kambing.
Sebagaimana di sebutkan dalam hadits Ka’ab bin Malik bahwa: “Rasulullah –ﷺ- bersabda:
«مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ
أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ
وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ»
‘Dua ekor serigala yang lapar kemudian dilepas
kepada kawanan kambing, tidak lebih besar kerusakan yang dibuatnya dibandingkan
dengan kerusakan agama seseorang akibat ketamakannya terhadap harta dan ambisi
kehormatan dengannya’.
[HR. Ahmad no. 15794, Tirmidzi (2376),
Nasaa'i dalam al-Kubra no. 11796, Ibnu Abi Syaibah no. 34380 dan ad-Daarimi no.
2772. Abu Isa Turmudzi berkata: " Hadits Hasan Shahih".
(Dishahihkan oleh Syu'aib al-Arna'uth dalam Takhrij
al-Musnad no. 15794 dan al-Albani dalam Shahih Al Jami’: 5620)
Syeikh Islam –rahimahullah- berkata:
“فَبَيَّنَ ﷺ أَنَّ الْحِرْصَ عَلَى الْمَالِ
وَالشَّرَفِ فِي فَسَادِ الدِّينِ لَا يَنْقُصُ عَنْ فَسَادِ الذِّئْبَيْنِ
الْجَائِعَيْنِ لِزَرِيبَةِ الْغَنَمِ وَذَلِكَ بَيِّنٌ ؛ فَإِنَّ الدِّينَ
السَّلِيمَ لَا يَكُونُ فِيهِ هَذَا الْحِرْصُ وَذَلِكَ أَنَّ الْقَلْبَ إذَا ذَاقَ
حَلَاوَةَ عُبُودِيَّتِهِ لِلَّهِ وَمَحَبَّتِهِ لَهُ لَمْ يَكُنْ شَيْءٌ أَحَبَّ
إلَيْهِ مِنْ ذَلِكَ حَتَّى يُقَدِّمَهُ عَلَيْهِ وَبِذَلِكَ يُصْرَفُ عَنْ أَهْلِ
الْإِخْلَاصِ لِلَّهِ السُّوءُ وَالْفَحْشَاءُ ".
“Maka Rasulullah ﷺ telah menjelaskan bahwa ketamakan mengejar harta dan kemuliaan
dalam kerusakan agamanya, tidak kurang dari kerusakan dua srigala yang sedang
lapar masuk ke kandang kambing, hal itu begitu nyata; sungguh selamatnya agama
tidak memerlukan kerakusan duniawi tersebut; karena jika hati sudah merasakan
manisnya beribadah dan cinta kepada Alloh, maka tidak ada lagi sesuatu yang
lebih ia cintai yang mengalahkan ibadahnya, oleh karena itu bagi mereka yang
ikhlas akan dipalingkan dari keburukan dan kekejian”. (Majmu’ Fatawa: 10/215)
***
KONDISI ULAMA OMDO, KELAK KETIKA BERADA DALAM API NERAKA
Dari Usamah bin Zaid -radhiyallahu ‘anhu- bahwa
Rasulullah ﷺ bersabda:
«يُجَاءُ بالرَّجُلِ يَومَ
القِيَامَةِ فيُلْقَى في النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أقْتَابُهُ في النَّارِ،
فَيَدُورُ كما يَدُورُ الحِمَارُ برَحَاهُ، فَيَجْتَمِعُ أهْلُ النَّارِ عليه
فيَقولونَ: أيْ فُلَانُ، ما شَأْنُكَ؟ أليسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بالمَعروفِ
وتَنْهَانَا عَنِ المُنْكَرِ؟! قالَ: كُنْتُ آمُرُكُمْ بالمَعروفِ ولَا آتِيهِ،
وأَنْهَاكُمْ عَنِ المُنْكَرِ وآتِيهِ».
Pada hari qiyamat akan dihadirkan seseorang yang
kemudian dia dilempar ke dalam neraka, isi perutnya keluar dan terburai hingga
dia berputar-putar bagaikan seekor keledai yang berputar-putar menarik mesin
gilingnya.
Maka penduduk neraka berkumpul mengelilinginya
seraya berkata; "Wahai fulan, apa yang terjadi denganmu?. Bukankah kamu
dahulu orang yang memerintahkan kami berbuat ma'ruf dan melarang kami berbuat
munkar?".
Orang itu berkata; "Aku memang memerintahkan
kalian agar berbuat ma'ruf tapi aku sendiri tidak melaksanakannya dan melarang
kalian berbuat munkar, namun malah aku mengerjakannya". [HR. Bukhori No.
3267 dan Muslim no. 2989].
Dari Jundub bin Abdullah al-Azdi, sahabat Nabi ﷺ, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَثَلُ الْعَالِمِ الَّذِي
يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ ويَنْسَى نَفْسَهُ كَمَثَلِ السِّرَاجِ يُضِيءُ
لِلنَّاسِ ويَحْرِقُ نَفْسَهُ»
"Perumpamaan seorang alim (ahli ilmu) yang
mengajarkan kebaikan kepada orang lain dan melupakan dirinya sendiri, seperti
perumpamaan lampu yang menerangi orang lain dan membakar dirinya sendiri."
(HR. At-Tabarani dalam "Al-Mu'jam
Al-Kabir" 2/165-166, dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam "Shahih
At-Targhib wa At-Tarhib" 1/164).
MENYAMPAIKAN AYAT-AYAT AL-QUR’AN DAN ILMU AGAMA ADALAH IBADAH DAN KEWAJIBAN:
Berikut ini sebagian kecil
dalil-dalil tentang perintah menyampaikan dan mengajarkan ayat-ayat al-Qur’an
dan ilmu agama:
DALIL
KE 1: Allah SWT berfirman :
﴿يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ
إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ ۖ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ﴾
Hai Rasul, sampaikanlah apa yang
diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang
diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. [QS. Maidah:
67]
DALIL
KE 2 : Allah SWT berfirman :
﴿إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا
مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ
ۙ أُولَٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ﴾
Sesungguhnya orang-orang yang
menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang
jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab,
mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat
melaknati, [QS. Baqarah: 159]
DALIL KE 3: Dari
'Abdullah bin 'Amru bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً وَحَدِّثُوا
عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا
فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ»
"Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan
ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra'il dan itu tidak apa
(tidak berdosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka
bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka".
HR. Bukhari (hadis nomor 3202), Abu Dawud, Hadis
Nomor 3177; al-Tirmidzi, Hadis Nomor 2593; dan Imam Ahmad, Hadis Nomor 6198.
DALIL
KE 4 : Dari ‘Abdullah bin ‘Amr: Bahwasannya Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
«مَنْ كَتَمَ عِلْمًا أَلْجَمَهُ اللَّهُ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ بِلَجَامٍ مِنْ نَارٍ»
“Barangsiapa yang menyembunyikan ilmu, niscaya
Allah akan mengikatnya dengan tali kekang dari api neraka di hari kiamat kelak”
[Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbaan no. 96, Al-Haakim 1/102, dan Al-Khathiib dalam
Taariikh Baghdaad 5/38-39; hasan].
DALIL
KE 5: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Telah bersabda Rasulullah ﷺ :
«مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ
اللَّهُ بِلَجَامٍ مِنْ نَارٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ».
“Barangsiapa yang ditanya tentang satu ilmu lalu
menyembunyikannya, niscaya Allah akan mengikatnya dengan tali kekang dari api
neraka di hari kiamat kelak”
[Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 3658, At-Tirmidziy
no. 2649, Ath-Thayalisiy no. 2534, Ibnu Abi Syaibah 9/55, Ahmad 2/263 & 305
& 344 & 353 & 499 & 508, Ibnu Maajah no. 261, Ibnu Hibbaan no.
95, Al-Haakim 1/101, Al-Baghawiy no. 140, dan yang lainnya; shahih].
0 Komentar