Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

HADITS : "KEWAJIBAN NEGARA MELUNASI HUTANG MAYIT TAK MAMPU SERTA MENAFKAHI KELUARGA-NYA".

HADITS : 
TENTANG KEWAJIBAN NEGARA 
MELUNASI HUTANG MAYIT TAK MAMPU 
SERTA MENAFKAHI KELUARGA-NYA 
YANG DIKHAWATIRKAN AKAN TERLANTAR

----

Rasulullah bersabda:

«مَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ وَعَلَيَّ»

"Barang siapa meninggalkan utang atau beban nafkah keluarga, maka hal itu menjadi tanggunganku dan kewajibanku." [HR. Bukhori & Muslim]

----

Di Tulis oleh Fakhri

KAJIAN NIDA AL-ISLAM

---

----

DAFTAR ISI:

  • TANGGUNG JAWAB NEGARA TERHADAP HUTANG MAYIT YANG TAK MAMPU BAYAR SERTA NAFKAH KELUARGA-NYA YANG DIKHAWATIRKAN AKAN TERLANTAR
  • DALIL KEWAJIBAN PEMERINTAH MELUNASI HUTANG MAYIT TAK MAMPU SERTA MENAFKAHI ANAKNYA
  • PERBEDAAN PENDAPAT PARA ULAMA TENTANG KEWAJIBAN NEGARA DALAM HAL INI
  • KUTIPAN SYARAH HADITS DARI PARA ULAMA FIQIH DAN HADITS

 ***

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

===***===

TANGGUNG JAWAB NEGARA 
TERHADAP HUTANG MAYIT YANG TAK MAMPU BAYAR
SERTA NAFKAH KELUARGA-NYA 
YANG DIKHAWATIRKAN AKAN TERLANTAR

Dalam hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah bersabda:

«إِنَّ أَفْضَلَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، ‌وَشَرَّ ‌الْأُمُورِ ‌مُحْدَثَاتُهَا، ‌وَكُلَّ ‌بِدْعَةٍ ‌ضَلَالَةٌ، وَمَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ، وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضِيَاعًا فَإِلَيَّ وَعَلَيَّ»

"Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama), setiap bid'ah adalah kesesatan.

Barang siapa meninggalkan harta, maka harta itu menjadi milik ahli warisnya. Dan barang siapa meninggalkan utang atau tanggungan terhadap orang-orang yang menjadi tanggungannya, maka hal itu menjadi tanggunganku dan menjadi kewajibanku." [Hadits shahih]

Dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menjelaskan:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ، كَانَ يُؤْتَى بِالرَّجُلِ الْمَيِّتِ عَلَيْهِ الدَّيْنُ، فَيَسْأَلُ: «هَلْ تَرَكَ لِدَيْنِهِ مِنْ قَضَاءٍ؟» فَإِنْ حُدِّثَ أَنَّهُ تَرَكَ وَفَاءً، صَلَّى عَلَيْهِ، وَإِلَّا، قَالَ: «صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ»، فَلَمَّا فَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ الْفُتُوحَ، قَالَ: «أَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ، فَمَنْ تُوُفِّيَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ فَعَلَيَّ قَضَاؤُهُ، وَمَنْ تَرَكَ مَالًا فَهُوَ لِوَرَثَتِهِ»

Bahwa Rasulullah apabila didatangkan kepada beliau seorang yang telah meninggal dunia dan masih mempunyai utang, beliau bertanya,

Apakah ia meninggalkan harta yang cukup untuk melunasi utangnya?"

Jika diberitahukan bahwa ia meninggalkan harta yang cukup untuk melunasi utangnya, maka beliau mensholatkannya. Namun jika tidak, maka beliau bersabda,

"Sholatkanlah sahabat kalian."

Namun setelah Allah memberikan berbagai kemenangan dan berbagai penaklukan negeri-negeri untuk beliau, maka beliau bersabda:

"Aku lebih berhak terhadap kaum mukminin daripada diri mereka sendiri.

Maka barang siapa dari kaum mukminin meninggal dunia dan meninggalkan utang, akulah yang berkewajiban melunasinya.

Dan barang siapa meninggalkan harta, maka harta itu menjadi milik ahli warisnya

(HR. Bukhori dan Muslim)."

Dan masih banyak sekali hadits-hadits tentang masalah ini, sebagaimana akan saya sebutkan sebagiannya dalam pembahasan dalil dalam artikel ini. 

----

Pendapat para ulama mengenai hadits ini menunjukkan bahwa kesediaan Nabi untuk melunasi utang orang yang meninggal dunia dalam keadaan tidak mampu merupakan landasan syariat bagi kewajiban melunasi utang orang-orang yang tidak mampu melalui Baitul Mal kaum muslimin (kas negara).

Dengan demikian, waliul amri (imam atau penguasa) berkewajiban pula melunasi utang orang yang meninggal dunia apabila ia tidak meninggalkan harta yang cukup untuk membayarnya.

---

ASAL-USUL BAITUL MAL

Para ulama menjadikan hadits-hadits di atas ini sebagai dalil yang tegas bahwa pelunasan utang orang-orang yang tidak mampu, serta penjaminan terhadap orang yang meninggalkan tanggungan (keluarga yang tidak memiliki penanggung nafkah), merupakan tanggung jawab keuangan yang berada di pundak negara dan diambil dari anggaran Baitul Mal.

---

KEWAJIBAN PENGUASA UNTUK MELUNASI UTANG

Para pensyarah hadits, seperti Ibnu Baththal dan Al-Qurthubi, menjelaskan bahwa sabda Nabi , "Maka menjadi tanggunganku dan menjadi urusanku (فَعَلَيَّ وَإِلَيَّ)," bermakna bahwa penguasa atau imam wajib, baik secara syariat maupun sebagai keputusan pemerintahan, membebaskan tanggungan utang orang yang meninggal dalam keadaan tidak mampu dengan menggunakan dana fai' atau zakat, yaitu dari pos untuk golongan gharimin (orang-orang yang berutang).

Abu Al-Abbas Al-Qurthubi rahimahullah (wafat 656 H) berkata:

قَالَ الْقَاضِي: وَهَذَا مِمَّا يَلْزَمُ الْأَئِمَّةَ مِنَ الْفَرْضِ فِي مَالِ اللَّهِ تَعَالَى لِلذُّرِّيَّةِ، وَأَهْلِ الْحَاجَةِ، وَالْقِيَامِ بِهِمْ، وَقَضَاءِ دُيُونِ مُحْتَاجِيهِمْ. (انْتَهَى).

Al-Qadhi berkata: "Hal ini termasuk kewajiban yang harus ditunaikan oleh PARA PEMIMPIN, yaitu menggunakan harta milik Allah (Baitul Mal) untuk memenuhi kebutuhan anak-anak keturunan yang ditinggalkan, orang-orang yang membutuhkan, mengurus mereka, serta melunasi utang orang-orang yang membutuhkan di antara mereka." [Selesai]. (Lihat: Al-Mufhim, 2/510).

NASAKH DAN PERKEMBANGAN HUKUM

Para ulama menjelaskan bahwa pada awalnya Nabi enggan mensholati jenazah orang yang masih memiliki utang sebagai bentuk peringatan dan pencegahan agar kaum muslimin tidak meremehkan urusan utang. Namun, setelah wilayah Islam meluas dan kaum muslimin memiliki Baitul Mal, pelunasan utang tersebut menjadi kewajiban yang dibebankan kepada pemerintahan kaum muslimin secara umum.

Ibnu Baththal berkata dalam Syarh Shahih Al-Bukhari (6/426-427):

وَحَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ فِيهِ: تَكَفَّلَ النَّبِيُّ ﷺ بِدُيُونِ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِهِ مُعْدِمًا، وَتَحَمَّلَ كُلَّ دَيْنِهِمْ وَضَيَاعَ عِيَالِهِمْ، وَقَدْ جَاءَ هَذَا الْحَدِيثُ بِهَذَا اللَّفْظِ: «وَمَنْ تَرَكَ كَلًّا أَوْ ضَيَاعًا فَعَلَيَّ».

قَالَ: وَهَذَا الْحَدِيثُ نَاسِخٌ لِتَرْكِهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ الصَّلَاةَ عَلَى مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ.

وَقَوْلُهُ: «فَعَلَيَّ قَضَاؤُهُ» يَعْنِي: مِمَّا يُفِيءُ اللَّهُ عَلَيْهِ مِنَ الْمَغَانِمِ وَالصَّدَقَاتِ الَّتِي أَمَرَ اللَّهُ بِقَسْمِهَا عَلَى الْغَارِمِينَ وَالْفُقَرَاءِ، وَجَعَلَ لِلذُّرِّيَّةِ نَصِيبًا فِي الْفَيْءِ، وَقُضِيَ مِنْهُ دَيْنُ الْمُسْلِمِ.

وَهَكَذَا يَلْزَمُ السُّلْطَانَ أَنْ يَفْعَلَهُ لِمَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ، فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْهُ وَقَعَ الْقِصَاصُ مِنْهُ فِي الْآخِرَةِ، وَلَمْ يُحْبَسِ الْغَرِيمُ عَنِ الْجَنَّةِ بِدَيْنٍ لَهُ مِثْلُهُ فِي بَيْتِ الْمَالِ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ الدَّيْنُ الَّذِي عَلَيْهِ أَكْثَرَ مِمَّا لَهُ فِي بَيْتِ الْمَالِ، وَلَمْ تَفِ بِذَلِكَ حَسَنَاتُهُ.

وَمَعْلُومٌ أَنَّ حَقَّ الْمُسْلِمِ فِي بَيْتِ الْمَالِ، وَإِنْ لَمْ يَتَعَيَّنْ عِنْدَهُ مَالٌ مِنْ مَالِهِ، يَعْلَمُهُ الَّذِي أَحْصَى كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا، وَمُحَالٌ أَنْ يُحْبَسَ عَنِ الْجَنَّةِ مَنْ لَهُ مِنَ الْحَسَنَاتِ عِنْدَ مَنْ ظَلَمَهُ، وَلَا يَقْدِرُ عَلَى الِانْتِصَافِ مِنْهُ فِي الدُّنْيَا، مِمَّا يَفِي بِدَيْنِهِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu terdapat keterangan bahwa Nabi menanggung utang orang-orang dari umat beliau yang meninggal dunia dalam keadaan tidak mampu, serta memikul seluruh utang mereka dan menjamin kebutuhan keluarga yang mereka tinggalkan. Hadits ini juga diriwayatkan dengan lafaz:

"Barang siapa meninggalkan beban tanggungan atau keluarga yang membutuhkan pemeliharaan, maka itu menjadi tanggunganku."

Beliau berkata: Hadits ini menasakh (menghapus hukum sebelumnya), yaitu sikap Nabi yang dahulu tidak menyalatkan orang yang meninggal dunia dalam keadaan masih memiliki utang. Adapun sabda beliau, "Maka akulah yang melunasinya," maksudnya adalah pelunasan tersebut dilakukan dari harta fai' yang Allah anugerahkan kepada beliau, yaitu harta rampasan tanpa peperangan dan juga dari dana sedekah (zakat) yang Allah perintahkan agar dibagikan kepada orang-orang yang berutang (gharimin) dan fakir miskin. Allah juga menetapkan bagian bagi anak-anak yang ditinggalkan dalam harta fai', dan dari harta itulah utang seorang muslim dilunasi.

Demikian pula, penguasa wajib melakukan hal yang sama terhadap orang yang meninggal dunia dalam keadaan masih memiliki utang. Jika ia tidak melaksanakannya, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban (qishash) pada hari Kiamat. Orang yang berutang tidak akan tertahan masuk surga karena utangnya selama terdapat harta yang menjadi haknya di Baitul Mal yang mencukupi untuk melunasi utang tersebut. Kecuali apabila utangnya lebih besar daripada haknya yang ada di Baitul Mal dan amal-amal baiknya tidak cukup untuk menutupinya.

Sudah diketahui bahwa seorang muslim memiliki hak atas Baitul Mal, meskipun tidak ada harta tertentu yang telah ditetapkan untuknya. Allah, yang menghitung segala sesuatu dengan teliti, mengetahui hak tersebut. Mustahil seseorang tertahan dari surga, padahal ia memiliki hak yang dapat diambil dari orang yang telah menzaliminya, sementara di dunia ia tidak mampu memperolehnya, padahal hak itu cukup untuk melunasi utangnya.  Wallahu a’lam”.

Imam Asy-Syafi'i rahimahullah berkata:

«يَنْبَغِي لِلْإِمَامِ أَنْ يُحْصِيَ جَمِيعَ مَنْ فِي الْبُلْدَانِ مِنَ الْمُقَاتِلَةِ، وَهُمْ مَنْ قَدِ احْتَلَمَ وَاسْتَكْمَلَ خَمْسَ عَشْرَةَ سَنَةً مِنَ الرِّجَالِ، وَيُحْصِيَ الذُّرِّيَّةَ، وَهُمْ مَنْ دُونَ الْمُحْتَلِمِ، وَدُونَ الْبَالِغِ خَمْسَ عَشْرَةَ سَنَةً، وَالنِّسَاءَ: صَغِيرَتَهُنَّ وَكَبِيرَتَهُنَّ، وَيَعْرِفَ قَدْرَ نَفَقَاتِهِمْ، وَمَا يَحْتَاجُونَ إِلَيْهِ فِي مَؤُونَاتِهِمْ بِقَدْرِ مَعَاشِ مِثْلِهِمْ فِي بُلْدَانِهِمْ،

ثُمَّ يُعْطِيَ الْمُقَاتِلَةَ فِي كُلِّ عَامٍ عَطَاءَهُمْ، وَالذُّرِّيَّةَ وَالنِّسَاءَ مَا يَكْفِيهِمْ لِسَنَتِهِمْ فِي كِسْوَتِهِمْ وَنَفَقَاتِهِمْ، طَعَامًا أَوْ قِيمَتَهُ دَرَاهِمَ أَوْ دَنَانِيرَ، وَيُعْطِي الْمَنْفُوسَ شَيْئًا، ثُمَّ يُزَادُ كُلَّمَا كَبِرَ عَلَى قَدْرِ مَؤُونَتِهِ،

وَهَذَا مُسْتَوٍ: أَنَّهُمْ يُعْطَوْنَ الْكِفَايَةَ، وَيَخْتَلِفُ فِي مَبْلَغِ الْعَطَاءِ بِاخْتِلَافِ أَسْعَارِ الْبُلْدَانِ وَحَالِ النَّاسِ فِيهَا، فَإِنَّ الْمَؤُونَةَ فِي بَعْضِ الْبُلْدَانِ أَثْقَلُ مِنْهَا فِي بَعْضٍ».

"Hendaknya seorang imam (pemimpin) mendata seluruh orang yang berada di berbagai negeri dari kalangan pasukan, yaitu laki-laki yang telah balig atau telah mencapai usia lima belas tahun. Ia juga mendata anak-anak, yaitu mereka yang belum baligh dan belum mencapai usia lima belas tahun, serta seluruh perempuan, baik yang masih kecil maupun yang sudah dewasa. Kemudian ia mengetahui besarnya kebutuhan nafkah mereka dan apa yang mereka perlukan untuk biaya hidup mereka sesuai dengan standar kehidupan orang-orang yang semisal mereka di negeri masing-masing.

Selanjutnya, setiap tahun ia memberikan tunjangan kepada para pasukan. Adapun anak-anak dan para perempuan, maka diberikan kepada mereka apa yang mencukupi kebutuhan mereka selama satu tahun, baik berupa pakaian maupun nafkah, berupa bahan makanan atau nilainya dalam bentuk dirham atau dinar. Bayi yang baru lahir juga diberi bagian tertentu, kemudian jumlahnya ditambah seiring bertambahnya usia sesuai dengan kebutuhan nafkahnya.

Prinsipnya, mereka semua diberikan kecukupan. Adapun besarnya pemberian berbeda-beda sesuai dengan perbedaan harga-harga di setiap negeri dan keadaan penduduknya. Sebab, biaya hidup di sebagian negeri lebih tinggi daripada di negeri yang lain."

Lihat: Al-Umm (4/162, cet. Dar Al-Fikr) atau (5/343–344, cet. Dar Al-Wafa').

Allah SWT berfirman:

﴿--وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: "Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabatnya, orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nur: 22)

===***===

DALIL KEWAJIBAN PEMERINTAH
MELUNASI HUTANG MAYIT TAK MAMPU BAYAR 
SERTA MENAFKAHI KELUARGA-NYA

Dalilnya adalah hadits-hadits berikut ini:

****

PERTAMA: 
HADITS JABIR RADHIYALLAHU ‘ANHU

---

KE [1]

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

خُطْبَةُ رَسُولِ اللهِ ﷺ يَوْمَ الْجُمُعَةِ: يَحْمَدُ اللهَ، وَيُثْنِي عَلَيْهِ، ثُمَّ يَقُولُ عَلَى إِثْرِ ذَلِكَ، وَقَدْ عَلَا صَوْتُهُ، وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ، وَاحْمَرَّتْ وَجْنَتَاهُ، كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ، يَقُولُ: «صَبَّحَكُمْ أَوْ مَسَّاكُمْ»،

ثُمَّ يَقُولُ: «بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ» ، وَأَشَارَ بِأُصْبُعَيْهِ الْوُسْطَى وَالَّتِي تَلِي الْإِبْهَامَ،

ثُمَّ يَقُولُ: «إِنَّ أَفْضَلَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، ‌وَشَرَّ ‌الْأُمُورِ ‌مُحْدَثَاتُهَا، ‌وَكُلَّ ‌بِدْعَةٍ ‌ضَلَالَةٌ، وَمَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ، وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضِيَاعًا فَإِلَيَّ وَعَلَيَّ»

Khutbah Rasulullah pada hari Jumat dimulai dengan memuji Allah dan menyanjung-Nya. Setelah itu beliau berbicara dengan suara yang tinggi, kemarahannya tampak memuncak, dan kedua pipinya memerah, seakan-akan beliau adalah seorang pemberi peringatan akan datangnya pasukan musuh yang berkata: "Musuh akan menyerang kalian pada pagi hari!" atau, "Musuh akan menyerang kalian pada sore hari!"

Kemudian beliau bersabda: "Aku diutus, sedangkan hari Kiamat itu seperti dua jari ini."

Lalu beliau memberi isyarat dengan jari tengah dan jari telunjuk. Selanjutnya beliau bersabda:

"Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama), setiap bid'ah adalah kesesatan.

Barang siapa meninggalkan harta, maka harta itu menjadi milik ahli warisnya. Dan barang siapa meninggalkan utang atau tanggungan terhadap orang-orang yang menjadi tanggungannya, maka hal itu menjadi tanggunganku dan menjadi kewajibanku."

[Diriwayatkan oleh Al-Mundziri dalam Al-Ausath fi As-Sunan al-Ijma' wa al-Ikhtilaf (4/61 no. 1798), serta Al-Baihaqi dalam Ma'rifah as-Sunan wa al-Atsar (4/368 no. 6493) dan As-Sunan al-Kubra (6/341 no. 5864), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq (51/227 no. 6050)

Ibnu al-Atsir dalam asy-Syaafii 2/203 berkata: هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ (Ini adalah hadits shahih).

---

KE [2]

Dan diriwayatkan pula oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya no. 43 (867), dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma, dengan lafaz sebagai berikut:

أَنَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ، وَعَلَا صَوْتُهُ، وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ، حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ: «صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ»،

وَيَقُولُ: «بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ»، وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ، وَالْوُسْطَى،

وَيَقُولُ: «أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»

ثُمَّ يَقُولُ: «أَنَا أَوْلَى بِكُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ، مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ، وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ وَعَلَيَّ»

Rasulullah apabila berkhutbah, kedua mata beliau memerah, suara beliau meninggi, dan kemarahan beliau sangat tampak, hingga seakan-akan beliau adalah seorang pemberi peringatan terhadap datangnya pasukan musuh yang berkata:

“Musuh akan menyerang kalian pada pagi atau petang hari.”

Beliau juga bersabda: Aku diutus bersama hari kiamat seperti dua jari ini.” Lalu beliau merapatkan antara jari telunjuk dan jari tengahnya.

Beliau juga bersabda:

“Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.

Kemudian beliau bersabda:

“Aku lebih berhak terhadap setiap mukmin daripada dirinya sendiri. Barang siapa meninggalkan harta, maka itu untuk keluarganya. Dan barang siapa meninggalkan utang atau tanggungan keluarga yang terlantar, maka itu menjadi urusanku dan tanggunganku.”

[HR. Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya no. 867]

---

KE [3]

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

«أَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِن أَنْفُسِهِمْ، مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ، وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ وَعَلَيَّ»

"Aku lebih berhak terhadap kaum mukminin daripada diri mereka sendiri. Barang siapa meninggalkan harta, maka harta itu menjadi milik ahli warisnya. Dan barang siapa meninggalkan utang atau tanggungan (keluarga yang tidak memiliki penanggung nafkah), maka hal itu menjadi tanggunganku dan kewajibanku."

[Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim no. 867, Abu Dawud no. 2954, Ibnu Majah no. 45, no. 2407 dan no. 2416, serta An-Nasa'i no. 1578, melalui jalur Ja'far bin Muhammad dengan sanad yang sama].

Hadits ini juga terdapat dalam Musnad Ahmad no. 14334 dan Shahih Ibnu Hibban no. 10 dan no. 3062.

---

KE [4]

Dari Jabir radhiyallahu 'anhu dengan lafaz sebagai berikut:

خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، فَحَمِدَ اللَّهَ، وَأَثْنَى عَلَيْهِ بِمَا هُوَ لَهُ أَهْلٌ، ثُمَّ قَالَ:

«أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَإِنَّ أَفْضَلَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ».

ثُمَّ يَرْفَعُ صَوْتَهُ، وَتَحْمَرُّ وَجْنَتَاهُ، وَيَشْتَدُّ غَضَبُهُ إِذَا ذَكَرَ السَّاعَةَ، كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ.

قَالَ: ثُمَّ يَقُولُ: «أَتَتْكُمُ السَّاعَةُ، بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ هَكَذَا» ـ وَأَشَارَ بِأُصْبُعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى ـ «صَبَّحَتْكُمُ السَّاعَةُ وَمَسَّتْكُمْ، مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ، وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ وَعَلَيَّ».

وَالضَّيَاعُ: يَعْنِي وَلَدَهُ الْمَسَاكِينَ.

"Rasulullah berkhutbah kepada kami. Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya dengan pujian yang layak bagi-Nya, kemudian bersabda:

'Amma ba'du. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama), dan setiap bid'ah adalah kesesatan.'

Kemudian beliau meninggikan suaranya, kedua pipinya memerah, dan kemarahannya tampak memuncak ketika menyebutkan tentang hari Kiamat, seakan-akan beliau adalah seorang pemberi peringatan akan datangnya pasukan musuh.

Lalu beliau bersabda: 'Hari Kiamat telah dekat kepada kalian. Aku diutus bersama hari Kiamat seperti ini.'

Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.

Kemudian beliau bersabda: 'Hari Kiamat akan datang kepada kalian pada pagi atau petang hari. Barang siapa meninggalkan harta, maka harta itu menjadi milik keluarganya. Dan barang siapa meninggalkan utang atau orang-orang yang menjadi tanggungannya, maka urusan mereka menjadi tanggunganku dan kewajibanku.'"

Yang dimaksud dengan "الضَّيَاعُ" adalah anak-anaknya yang miskin.

[Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad (22/237 no. 14334),]

Syu'aib Al-Arna'uth berkata:

حَدِيثٌ صَحِيحٌ، وَهَذَا إِسْنَادٌ حَسَنٌ مِنْ أَجْلِ مُصْعَبِ بْنِ سَلَّامٍ، وَقَدْ تُوبِعَ.

"Hadits ini shahih. Sanad ini hasan karena adanya Mush'ab bin Salam, namun ia memiliki mutaba'ah (penguat dari jalur lain)."

[Hadits ini juga diriwayatkan, baik secara panjang maupun ringkas, oleh Ibnu Sa'd dalam Ath-Thabaqat (1/376–377), Ad-Darimi (no. 206), Muslim (no. 867 hadis no. 43 dan 44), Ibnu Majah (no. 45), Ibnu Al-Jarud (no. 297 dan 298), Abu Ya'la (no. 2111), Abu 'Awanah dalam pembahasan Salat Jumat sebagaimana dinukil dalam Al-Ithaf (3/329), Ibnu Hibban (no. 10), Ar-Ramahurmuzi dalam Al-Amtsal (no. 8), serta Al-Baihaqi (3/206–207, 207, 213, dan 214), melalui beberapa jalur dari Ja'far bin Muhammad dengan sanad ini].

Dan diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad no. 14984, dari Jabir radhiyallahu 'anhu dengan lafaz yang sama.

Syu'aib Al-Arna'uth berkata dalam tahqiq Al-Musnad (23/234):

إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ، رِجَالُهُ ثِقَاتٌ رِجَالُ الشَّيْخَيْنِ، غَيْرُ جَعْفَرٍ ـ وَهُوَ ابْنُ مُحَمَّدٍ الصَّادِقُ ـ فَقَدْ رَوَى لَهُ الْبُخَارِيُّ فِي «الْأَدَبِ»، وَاحْتَجَّ بِهِ مُسْلِمٌ. وَوَكِيعٌ: هُوَ ابْنُ الْجَرَّاحِ، وَسُفْيَانُ: هُوَ ابْنُ سَعِيدٍ الثَّوْرِيُّ، وَأَبُو جَعْفَرٍ: هُوَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ الْبَاقِرُ.

"Sanadnya shahih sesuai dengan syarat Imam Muslim. Seluruh perawinya adalah perawi tsiqah yang digunakan oleh Al-Bukhari dan Muslim, kecuali Ja'far—yaitu Ja'far bin Muhammad Ash-Shadiq. Al-Bukhari meriwayatkan hadits darinya dalam Al-Adab Al-Mufrad, sedangkan Imam Muslim menjadikannya sebagai hujjah dalam Shahih-nya. Waki' adalah Waki' bin Al-Jarrah, Sufyan adalah Sufyan Ats-Tsauri, dan Abu Ja'far adalah Muhammad bin Ali Al-Baqir." [Selesai]

---

KE [5]

Di riwayatkan pula oleh Al-Mukhallish (wafat tahun 393 H) dalam Sab'atu Majalis min Amali Abi Thahir Al-Mukhallish, hlm. 69 no. 39:

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Abi Syaibah Al-Bazzaz secara imla' di Masjid Jami' pada bulan Dzulqa'dah tahun 314 H. Telah menceritakan kepada kami Abu Ja'far Ahmad bin Mas'adah Al-Bazzaz. Telah menceritakan kepada kami Abu Dhamrah, dari Ja'far bin Muhammad, dari ayahnya, dari Jabir bin Abdullah:

أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا خَطَبَ، حَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ، ثُمَّ قَالَ:

«أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَإِنَّ أَفْضَلَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ».

ثُمَّ يَرْفَعُ صَوْتَهُ، وَتَحْمَرُّ وَجْنَتَاهُ، وَيَشْتَدُّ غَضَبُهُ إِذَا ذَكَرَ السَّاعَةَ، كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ.

ثُمَّ يَقُولُ: «صَبَّحَتْكُمْ أَوْ مَسَّتْكُمْ».

ثُمَّ يَقُولُ: «بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ».

وَيُفَرِّقُ أَوْ يَقْرِنُ بَيْنَ أُصْبُعَيْهِ الْوُسْطَى وَالَّتِي تَلِي الْإِبْهَامَ.

ثُمَّ يَقُولُ: «صَبَّحَتْكُمُ السَّاعَةُ أَوْ مَسَّتْكُمْ، مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ، وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ وَعَلَيَّ».

bahwa Nabi apabila berkhutbah, beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya dengan pujian yang layak bagi-Nya, kemudian bersabda:

"Amma ba'du. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitab Allah 'Azza wa Jalla. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad . Seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama), dan setiap bid'ah adalah kesesatan."

Kemudian beliau meninggikan suaranya, kedua pipinya memerah, dan kemarahannya memuncak ketika menyebutkan hari Kiamat, seakan-akan beliau adalah seorang pemberi peringatan akan datangnya pasukan musuh.

Lalu beliau bersabda: "Musuh akan menyerang kalian pada pagi hari atau pada sore hari."

Kemudian beliau bersabda: "Aku diutus bersama hari Kiamat seperti dua jari ini."

Beliau merenggangkan atau merapatkan jari tengah dan jari telunjuknya, kemudian bersabda:

"Hari Kiamat akan datang kepada kalian pada pagi atau sore hari. Barang siapa meninggalkan harta, maka harta itu menjadi milik keluarganya. Dan barang siapa meninggalkan utang atau orang-orang yang menjadi tanggungannya, maka urusan mereka menjadi tanggunganku dan kewajibanku." [al-Hadits]

Demikian pula beliau meriwayatkannya dalam Al-Mukhallishiyyat (2/301 no. 1578).

---

KE [6]

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Nabi bersabda,

«لَوْ قَدْ جَاءَ مَالُ الْبَحْرَيْنِ، لَقَدْ أَعْطَيْتُكَ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا».

فَلَمْ يَجِئْ مَالُ الْبَحْرَيْنِ حَتَّى قُبِضَ النَّبِيُّ ﷺ، فَلَمَّا جَاءَ مَالُ الْبَحْرَيْنِ، أَمَرَ أَبُو بَكْرٍ فَنَادَى:

«مَنْ كَانَ لَهُ عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ عِدَةٌ أَوْ دَيْنٌ، فَلْيَأْتِنَا».

فَأَتَيْتُهُ، فَقُلْتُ: إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ لِي: كَذَا وَكَذَا.

فَحَثَا لِي حَثْيَةً، فَعَدَدْتُهَا، فَإِذَا هِيَ خَمْسُ مِائَةٍ، وَقَالَ: «خُذْ مِثْلَيْهَا».

"Seandainya harta Bahrain telah datang, sungguh aku akan memberikan kepadamu sebanyak ini, ini, dan ini."

Namun harta Bahrain belum datang hingga Nabi wafat. Ketika harta Bahrain telah datang, Abu Bakar memerintahkan agar diumumkan:

"Barang siapa mempunyai janji atau piutang yang menjadi tanggungan Nabi , hendaklah ia datang kepada kami."

Lalu aku datang kepadanya dan berkata: "Sesungguhnya Nabi pernah berkata kepadaku begini dan begini."

Maka Abu Bakar mengambilkan untukku satu genggam harta. Aku menghitungnya, ternyata jumlahnya lima ratus. Kemudian ia berkata: "Ambillah dua kali lipatnya lagi."

[Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 2297 dan Muslim no. 2314 (60)].

***

KEDUA: 
HADITS ABU HURAIRAH RADHIYALLAHU 'ANHU:

---

KE [1]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ، كَانَ يُؤْتَى بِالرَّجُلِ الْمَيِّتِ عَلَيْهِ الدَّيْنُ، فَيَسْأَلُ: «هَلْ تَرَكَ لِدَيْنِهِ مِنْ قَضَاءٍ؟» فَإِنْ حُدِّثَ أَنَّهُ تَرَكَ وَفَاءً، صَلَّى عَلَيْهِ، وَإِلَّا، قَالَ: «صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ»، فَلَمَّا فَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ الْفُتُوحَ، قَالَ: «أَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ، فَمَنْ تُوُفِّيَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ فَعَلَيَّ قَضَاؤُهُ، وَمَنْ تَرَكَ مَالًا فَهُوَ لِوَرَثَتِهِ»

Bahwa Rasulullah apabila didatangkan kepada beliau seorang yang telah meninggal dunia dan masih mempunyai utang, beliau bertanya,

Apakah ia meninggalkan harta yang cukup untuk melunasi utangnya?"

Jika diberitahukan bahwa ia meninggalkan harta yang cukup untuk melunasi utangnya, maka beliau menyalatkannya. Namun jika tidak, beliau bersabda,

"Sholatkanlah sahabat kalian."

Kemudian setelah Allah memberikan berbagai kemenangan dan penaklukan banyak negeri kepada beliau, maka beliau bersabda,

"Aku lebih berhak terhadap orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri. Maka barang siapa meninggal dunia dalam keadaan masih mempunyai utang, maka akulah yang akan melunasinya. Dan barang siapa meninggalkan harta, maka harta itu menjadi milik para ahli warisnya."

Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 2298 dan Muslim no. 14 (1619).

---

KE [2]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

«مَا مِنْ مُؤْمِنٍ إِلَّا وَأَنَا أَوْلَى بِهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. اقْرَؤُوا إِنْ شِئْتُمْ: ﴿النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ﴾ [الأحزاب: 6].

فَأَيُّمَا مُؤْمِنٍ مَاتَ وَتَرَكَ مَالًا، فَلْيَرِثْهُ عَصَبَتُهُ مَنْ كَانُوا. وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا، فَلْيَأْتِنِي، فَأَنَا مَوْلَاهُ».

"Tidaklah ada seorang mukmin melainkan aku lebih berhak atas dirinya di dunia dan di akhirat. Bacalah jika kalian menghendaki:

“Nabi itu lebih berhak terhadap orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri” (QS. Al-Ahzab: 6).

Maka siapa saja di antara orang-orang mukmin yang meninggal dunia dan meninggalkan harta, hendaklah harta itu diwarisi oleh para ahli waris 'ashabahnya, siapa pun mereka. Dan siapa saja yang meninggalkan utang atau tanggungan keluarga, hendaklah ia datang kepadaku, karena akulah walinya." [Diriwayatkan oleh al-Bukhori no. 2399]

----

KE [3]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , beliau bersabda,

«وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، إِنْ عَلَى الْأَرْضِ مِنْ مُؤْمِنٍ إِلَّا أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِهِ، فَأَيُّكُمْ مَا تَرَكَ دَيْنًا، أَوْ ضَيَاعًا فَأَنَا مَوْلَاهُ، وَأَيُّكُمْ تَرَكَ مَالًا، فَإِلَى الْعَصَبَةِ مَنْ كَانَ»

“Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak ada seorang mukmin pun di muka bumi ini melainkan aku adalah orang yang paling berhak terhadapnya. Maka siapa saja di antara kalian yang meninggalkan utang atau tanggungan keluarga, maka akulah walinya. Dan siapa saja yang meninggalkan harta, maka harta itu menjadi milik para ahli waris ‘ashabahnya, siapa pun mereka.”

Diriwayatkan oleh Muslim no. 15 (1619).

---

KE [4]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah , beliau menyebutkan beberapa hadits, di antaranya beliau bersabda,

«أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِالْمُؤْمِنِينَ فِي كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَأَيُّكُمْ مَا تَرَكَ دَيْنًا، أَوْ ضَيْعَةً، فَادْعُونِي فَأَنَا وَلِيُّهُ، وَأَيُّكُمْ مَا تَرَكَ مَالًا، فَلْيُؤْثَرْ بِمَالِهِ عَصَبَتُهُ مَنْ كَانَ»

“Aku adalah orang yang paling berhak terhadap orang-orang mukmin menurut Kitab Allah Azza wa Jalla. Maka siapa saja di antara kalian yang meninggalkan utang atau tanggungan keluarga, panggillah aku, karena akulah walinya. Dan siapa saja yang meninggalkan harta, hendaklah harta itu diberikan kepada para ahli waris ‘ashabahnya, siapa pun mereka.”

Diriwayatkan oleh Muslim no. 16 (1619).

---

KE [5]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

«مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِوَرَثَتِهِ، وَمَنْ تَرَكَ كَلًّا فَإِلَيْنَا»

"Barang siapa meninggalkan harta, maka harta itu menjadi milik para ahli warisnya. Dan barang siapa meninggalkan beban tanggungan, maka menjadi tanggungan kami."

[Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 2298, 2399, 4781, 5371, 6731, dan 6745; Muslim 17- no. 1619; Ibnu Majah no. 2415; At-Tirmidzi no. 2219; serta An-Nasa'i no. 1963 melalui berbagai jalur dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu].

Hadits ini juga terdapat dalam Musnad Ahmad no. 7861 dan 9875, serta Shahih Ibnu Hibban no. 3063, 4854, dan 5054.

Makna «كَلًّا»:

وَقَوْلُهُ: «كَلًّا». هُوَ بِفَتْحِ أَوَّلِهِ، أَصْلُهُ: الثِّقْلُ، وَالْمُرَادُ بِهِ هُنَا: الْعِيَالُ.

Sabda beliau : (كَلًّا) dibaca dengan fathah pada huruf kaf. Makna asal kata tersebut adalah "beban". Yang dimaksud dalam hadits ini adalah keluarga atau orang-orang yang menjadi tanggungan nafkah.

****

KETIGA: 
HADITS AL-MIQDAM BIN MA’DIIKARIB RADHIYALLAHU 'ANHU:

---

KE [1]

Dari Al-Miqdam bin Ma'dikarib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

«مَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيْعَةً فَإِلَيَّ، وَمَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِوَارِثِهِ، وَأَنَا وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ، أَفُكُّ عَانَهُ وَأَرِثُ مَالَهُ، وَالْخَالُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ، يَفُكُّ عَانَهُ وَيَرِثُ مَالَهُ».

"Barang siapa meninggalkan utang atau tanggungan (keluarga yang tidak memiliki penanggung nafkah), maka itu menjadi tanggunganku. Barang siapa meninggalkan harta, maka harta itu menjadi milik ahli warisnya.

Aku adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali; aku membebaskannya dari tanggungannya dan mewarisi hartanya. Dan paman dari pihak ibu adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali; ia membebaskannya dari tanggungannya dan mewarisi hartanya."

[Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad no. 17199, an-Nasa'i dalam As-Sunan al-Kubra no. 6419 dan 64354, ath-Thahawi dalam Syarh Musykil al-Atsar no. 2750 dan 2751, serta dalam Syarh Ma'ani al-Atsar (4/398) melalui beberapa jalur dari Mu'awiyah bin Shalih, dengan sanad ini.

Para peneliti (muhaqqiq) Al-Musnad (28/432) berkata:

"Hadits ini berderajat jayyid (baik). Seluruh perawinya adalah tsiqah (terpercaya), hanya saja Mu'awiyah bin Shalih …".

---

KE [2]

Dari Al-Miqdam Al-Kindi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

«مَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيْعَةً فَإِلَيَّ، وَمَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِوَارِثِهِ ، وَأَنَا مَوْلَى مَنْ لَا مَوْلَى لَهُ، ‌أَرِثُ ‌مَالَهُ، ‌وَأَفُكُّ ‌عَانَهُ، وَالْخَالُ مَوْلَى مَنْ لَا مَوْلَى لَهُ، يَرِثُ مَالَهُ وَيَفُكُّ عَانَهُ».

"Aku adalah maula (pelindung) bagi orang yang tidak memiliki maula. Aku mewarisi hartanya dan membebaskannya dari tanggungannya. Dan paman dari pihak ibu adalah maula bagi orang yang tidak memiliki maula; ia mewarisi hartanya dan membebaskannya dari tanggungannya."

[Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad no. 17204, Abu Dawud no. 2900, an-Nasa'i dalam As-Sunan al-Kubra no. 6355, Ibnu Majah no. 2634, Ibnul Jarud dalam Al-Muntaqa no. 965, ath-Thahawi dalam Syarh Musykil al-Atsar no. 2748, ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam al-Kabir (20/no. 626), ad-Daraquthni (4/85–86), al-Hakim (4/344), al-Baihaqi dalam As-Sunan al-Kubra (6/214), dan al-Baghawi dalam Syarh as-Sunnah no. 2229, melalui beberapa jalur dari Hammad bin Zaid dengan sanad ini].

Al-Hakim berkata: "Hadits ini sahih sesuai syarat al-Bukhari dan Muslim."

Namun, adz-Dzahabi mengoreksinya dengan mengatakan: "Ali (yakni Ali bin Abi Thalhah), Ahmad berkata tentangnya: 'Ia memiliki beberapa riwayat yang mungkar.' Al-Bukhari juga tidak meriwayatkan hadits darinya."

Para pentahqiq Al-Musnad 28/435 berkata:

"Demikian pula Budail, tidak ada yang meriwayatkan hadits darinya selain Muslim. Adapun Rasyid bin Sa'd, al-Bukhari hanya meriwayatkan haditsnya dalam Al-Adab al-Mufrad, sedangkan para penulis kitab Sunan juga meriwayatkannya. Sementara Abu Amir al-Hauzani tidak diriwayatkan oleh al-Bukhari maupun Muslim; haditsnya hanya diriwayatkan oleh Abu Dawud, an-Nasa'i, dan Ibnu Majah."

---

KE [3]

Dari Al-Miqdam radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah , beliau bersabda:

«مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ، وَمَنْ تَرَكَ كَلًّا فَإِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ». وَرُبَّمَا قَالَ: «فَإِلَيْنَا». قَالَ: «وَأَنَا عُصْبَةُ مَنْ لَا عُصْبَةَ لَهُ، أَرِثُهُ وَأَعْقِلُ عَنْهُ، وَالْخَالُ عُصْبَةُ مَنْ لَا عُصْبَةَ لَهُ، يَعْقِلُ عَنْهُ وَيَرِثُهُ».

"Barang siapa meninggalkan harta, maka harta itu menjadi milik keluarganya. Dan barang siapa meninggalkan tanggungan, maka menjadi tanggungan Allah dan Rasul-Nya."

Kadang-kadang beliau bersabda: "...maka menjadi tanggungan kami."

Beliau juga bersabda: "Dan aku adalah 'ushbah (kerabat yang berhak mewarisi) bagi orang yang tidak memiliki 'ushbah. Aku mewarisi hartanya dan menanggung diyatnya. Sedangkan paman dari pihak ibu adalah 'ashabah bagi orang yang tidak memiliki 'ashabah; ia menanggung diyatnya dan mewarisi hartanya."

[Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad no. 17175, Sa'id bin Manshur dalam As-Sunan no. 172, Ibnu Abi Syaibah (11/264), Abu Dawud no. 2899, an-Nasa'i dalam As-Sunan al-Kubra no. 6356, Ibnu Majah no. 2738, ath-Thahawi dalam Syarh Ma'ani al-Atsar (4/397–398) dan Syarh Musykil al-Atsar no. 2749, ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam al-Kabir (20/no. 625), serta al-Baihaqi dalam As-Sunan al-Kubra (6/214), melalui beberapa jalur dari Syu'bah dengan sanad tersebut.

Abu Zur'ah menilai hadits ini hasan, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Abi Hatim dalam Al-'Ilal (2/50).

Ibnu Hibban mensahihkannya dalam Shahih Ibnu Hibban no. 6035.

Para peneliti (muhaqqiq) Al-Musnad (28/414) berkata: "Sanadnya berderajat jayyid (baik)."

****

KEEMPAT:
HADITS RASYID BIN SA’AD RAHIMAHULLAH

Dari Rasyid bin Sa’d, bahwa Rasulullah bersabda:

«أَنَا وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ، أَرِثُهُ وَأَفُكُّ عَنْهُ، وَالْخَالُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ، يَرِثُهُ وَيَفُكُّ عَنْهُ».

“Aku adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali. Aku mewarisinya dan membebaskannya dari tanggungannya. Dan paman dari pihak ibu adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali; ia mewarisinya dan membebaskannya dari tanggungannya.”

[Diriwayatkan oleh an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra no. 6323 dan Ibnu 'Asakir dalam Tarikh Dimasyq (64/186)]

Imam as-Suyuthi dalam Jami’ al-Ahadits 7/40 no. 5755 berkata: “Diriwayatkan oleh Ibnu 'Asakir dari Rasyid bin Sa'd secara mursal."

 ***

KOSA KATA:

As-Sindi berkata dalam Hasyiyah Sunan Ibnu Majah (2/77 no. 2416):

قَوْلُهُ: «أَوْ ضَيَاعًا» هُوَ بِالْفَتْحِ، مَصْدَرُ ضَاعَ إِذَا هَلَكَ، يُطْلَقُ عَلَى الْعِيَالِ تَسْمِيَةً لِلْفَاعِلِ بِالْمَصْدَرِ؛ لِأَنَّهَا إِذَا لَمْ تُتَعَهَّدْ ضَاعَتْ. وَقَدْ يُرْوَى بِكَسْرِ ضَادٍ: جَمْعُ ضَائِعٍ، كَجِيَاعٍ جَمْعُ جَائِعٍ. وَقِيلَ: الضَّيَاعُ اسْمُ مَا هُوَ فِي مَعْرِضِ أَنْ يَضِيعَ إِنْ لَمْ يُتَعَهَّدْ، كَالذُّرِّيَّةِ الصِّغَارِ وَالزَّمْنَى. «فَإِلَيَّ» أَيْ: أَمْرُهُ. «وَعَلَيَّ» أَيْ: قَضَاءُ دَيْنِهِ وَمُؤْنَةُ صِغَارِهِ.

Sabda beliau (أَوْ ضَيَاعًا);  yaitu dengan harakat fathah pada huruf dhad. Kata tersebut merupakan mashdar dari kata ضَاعَ, yang berarti binasa atau terlantar.

Kata ini digunakan untuk menunjukkan makna "anak-anak dan keluarga yang menjadi tanggungan", yaitu dengan menamai pelaku menggunakan bentuk mashdar, karena mereka akan menjadi terlantar apabila tidak dipelihara.

Ada pula riwayat yang membacanya dengan kasrah pada huruf dhad (ضِيَاعًا), yang merupakan bentuk jamak dari kata ضَائِع (orang yang terlantar), sebagaimana kata جِيَاع adalah bentuk jamak dari جَائِع (orang yang lapar).

Ada juga yang berpendapat bahwa (الضَّيَاع) adalah nama bagi sesuatu yang berpotensi menjadi terlantar apabila tidak dipelihara, seperti anak-anak kecil dan orang-orang yang lemah atau cacat.

Sabda beliau : (فَإِلَيَّ) maksudnya, urusannya menjadi tanggung jawabku.

Sedangkan sabda beliau : (وَعَلَيَّ) maksudnya, aku berkewajiban melunasi utangnya dan menanggung biaya hidup anak-anaknya yang masih kecil. [Selesai]

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

هَذَا تَفْسِيرٌ لِقَوْلِهِ: «أَنَا أَوْلَى بِكُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ». قَالَ أَهْلُ اللُّغَةِ: «الضَّيَاعُ» - بِفَتْحِ الضَّادِ - الْعِيَالُ. قَالَ ابْنُ قُتَيْبَةَ: أَصْلُهُ مَصْدَرُ ضَاعَ يَضِيعُ ضَيَاعًا، وَالْمُرَادُ مَنْ تَرَكَ أَطْفَالًا وَعِيَالًا ذَوِي ضَيَاعٍ، فَأَوْقَعَ الْمَصْدَرَ مَوْضِعَ الِاسْمِ. انْتَهَى.

"Ini merupakan penjelasan terhadap sabda Nabi : 'Aku lebih berhak atas setiap orang mukmin daripada dirinya sendiri.'

Para ahli bahasa berkata: «الضَّيَاعُ» (dengan fathah pada huruf dhod) berarti anak-anak dan keluarga yang menjadi tanggungan.

Ibnu Qutaibah berkata: Asalnya adalah mashdar dari kata ضَاعَ يَضِيعُ ضَيَاعًا. Yang dimaksud adalah orang yang meninggalkan anak-anak kecil dan keluarga yang menjadi tanggungannya. Maka bentuk mashdar digunakan sebagai pengganti isim (kata benda)." [Selesai].

(Dinukil dalam Al-Bahr Al-Muhith Ats-Tsajjaj, 17/265).

Al-Qurthubi berkata:

الضَّيَاعُ: الْعِيَالُ، قَالَهُ النَّضْرُ بْنُ شُمَيْلٍ. وَقَالَ ابْنُ قُتَيْبَةَ: هُوَ مَصْدَرُ ضَاعَ يَضِيعُ ضَيَاعًا، وَمِثْلُهُ: مَضَى يَمْضِي مَضَاءً، وَقَضَى يَقْضِي قَضَاءً. أَرَادَ مَنْ تَرَكَ عِيَالًا أَوْ أَطْفَالًا، فَجَاءَ بِالْمَصْدَرِ مَوْضِعَ الِاسْمِ، كَمَا تَقُولُ: تَرَكَ فَقْرًا، أَيْ: فُقَرَاءَ.

وَالضِّيَاعُ - بِالْكَسْرِ - جَمْعُ ضَائِعٍ، مِثْلُ جَائِعٍ وَجِيَاعٍ. وَضَيْعَةُ الرَّجُلِ أَيْضًا مَا يَكُونُ مِنْهُ مَعَاشُهُ، مِنْ صِنَاعَةٍ أَوْ غَلَّةٍ، قَالَهُ الْأَزْهَرِيُّ. وَقَالَ شَمِرٌ: وَيَدْخُلُ فِيهِ التِّجَارَةُ وَالْحِرْفَةُ. يُقَالُ: مَا ضَيْعَتُكَ؟ فَتَقُولُ: كَذَا. انْتَهَى.

Kata «الضَّيَاعُ» berarti keluarga yang menjadi tanggungan. Demikian dikatakan oleh An-Nadhr bin Syumail.

Ibnu Qutaibah berkata: Kata tersebut merupakan mashdar dari ضَاعَ يَضِيعُ ضَيَاعًا, sebagaimana kata مَضَاء berasal dari مَضَى يَمْضِي, dan قَضَاء berasal dari قَضَى يَقْضِي.

Maksudnya ialah orang yang meninggalkan keluarga atau anak-anak kecil. Oleh karena itu digunakan bentuk mashdar sebagai pengganti isim, sebagaimana ungkapan: 'Ia meninggalkan kefakiran', maksudnya ialah 'orang-orang fakir'.

Adapun الضِّيَاع (dengan kasrah pada huruf dhad) merupakan bentuk jamak dari ضَائِع (orang yang terlantar), sebagaimana جِيَاع adalah bentuk jamak dari جَائِع (orang yang lapar).

Sedangkan ضَيْعَة seseorang juga berarti sumber penghidupannya, baik berupa pekerjaan, hasil pertanian, maupun penghasilan lainnya. Demikian disebutkan oleh Al-Azhari.

Syamir berkata: Termasuk dalam pengertian itu adalah perdagangan dan profesi. Oleh karena itu dikatakan: 'Apa mata pencaharianmu?' Lalu dijawab: 'Begini dan begini.'" [Selesai].

(Al-Mufhim, 2/509).

===***===

PERBEDAAN PENDAPAT PARA ULAMA
TENTANG KEWAJIBAN NEGARA DALAM HAL INI

Abul Hasan as-Sindi dalam Hasyiyah Ibnu Majah 3/191 menjelaskan:

وَاخْتُلِفَ هَلْ هُوَ مِنَ الْخَصَائِصِ فَقِيلَ نَعَمْ وَقِيلَ لَا بَلْ ‌يَلْزَمُ ‌الْإِمَامُ ‌أَنْ ‌يَقْضِيَ ‌مِنْ ‌بَيْتِ ‌الْمَالِ ‌دَيْنَ ‌مَنْ ‌مَاتَ ‌وَعَلِيهِ ‌دين اذا لم يُخَالف وَفَاءً وَكَانَ فِي بَيْتِ الْمَالِ سَعَةٌ

"Para ulama berbeda pendapat apakah hal tersebut merupakan kekhususan Nabi . Ada yang mengatakan: 'Ya, itu merupakan kekhususan beliau .'

Ada pula yang mengatakan: 'Tidak. Bahkan imam (pemimpin kaum muslimin) berkewajiban melunasi dari Baitul Mal utang orang yang meninggal dunia, apabila ia meninggal dalam keadaan masih memiliki utang dan tidak meninggalkan harta yang cukup untuk melunasinya, serta Baitul Mal memiliki dana yang mencukupi.'"

Imam An-Nawawi berkata:

قَالَ أَصْحَابُنَا: وَكَانَ النَّبِيُّ ﷺ لَا يُصَلِّي عَلَى مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ، لَمْ يَخْلُفْ بِهِ وَفَاءً؛ لِئَلَّا يَتَسَاهَلَ النَّاسُ فِي الِاسْتِدَانَةِ، وَيُهْمِلُوا الْوَفَاءَ، فَزَجَرَهُمْ عَنْ ذَلِكَ بِتَرْكِ الصَّلَاةِ عَلَيْهِمْ، فَلَمَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَى الْمُسْلِمِينَ مَبَادِئَ الْفُتُوحِ قَالَ ﷺ: «مَنْ تَرَكَ دَيْنًا فَعَلَيَّ»، أَيْ: قَضَاؤُهُ، فَكَانَ يَقْضِيهِ.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا: هَلْ كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَجِبُ عَلَيْهِ قَضَاءُ ذَلِكَ الدَّيْنِ، أَمْ كَانَ يَقْضِيهِ تَكَرُّمًا؟ وَالْأَصَحُّ عِنْدَهُمْ أَنَّهُ كَانَ وَاجِبًا عَلَيْهِ ﷺ.

وَاخْتَلَفُوا: هَلْ هَذِهِ مِنَ الْخَصَائِصِ أَمْ لَا؟ فَقَالَ بَعْضُهُمْ: هُوَ مِنْ خَصَائِصِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَقِيلَ: لَا، بَلْ يَلْزَمُ الْإِمَامَ أَنْ يَقْضِيَ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ دَيْنَ مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ إِذَا لَمْ يَخْلُفْ وَفَاءً، وَكَانَ فِي بَيْتِ الْمَالِ سَعَةٌ، وَلَمْ يَكُنْ هُنَاكَ أَهَمُّ مِنْهُ.

"Para ulama dari mazhab kami (Syafi'iyyah) berkata: Dahulu Nabi tidak menyalatkan orang yang meninggal dunia dalam keadaan memiliki utang yang tidak ditinggalkannya harta untuk melunasinya. Hal itu dilakukan agar manusia tidak meremehkan urusan berutang dan tidak lalai dalam melunasinya. Beliau memberikan efek jera kepada mereka dengan tidak menyalatkan jenazah tersebut.

Kemudian, ketika Allah memberikan kepada kaum muslimin permulaan berbagai penaklukan, Nabi bersabda: 'Barang siapa meninggalkan utang, maka akulah yang bertanggung jawab melunasinya,' yakni akulah yang akan melunasi utangnya. Maka beliau pun benar-benar melunasinya.

Para ulama dari mazhab kami berbeda pendapat, apakah Nabi wajib melunasi utang tersebut ataukah beliau melakukannya semata-mata sebagai bentuk kemurahan hati. Pendapat yang paling sahih menurut mereka adalah bahwa hal itu memang wajib atas beliau .

Mereka juga berbeda pendapat apakah ketentuan ini termasuk kekhususan Nabi atau tidak. Sebagian mengatakan bahwa hal itu merupakan kekhususan Rasulullah . Pendapat lain menyatakan bahwa bukan demikian, bahkan seorang imam (pemimpin kaum muslimin) juga berkewajiban melunasi utang orang yang meninggal dunia dari Baitul Mal apabila ia tidak meninggalkan harta yang cukup untuk melunasi utangnya, selama di Baitul Mal terdapat kecukupan dana dan tidak ada kebutuhan lain yang lebih didahulukan."

[Selesai perkataan An-Nawawi]. (Lihat: Syarh Shahih Muslim, 6/155).

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

«وَاخْتُلِفَ هَلْ كَانَ ذَلِكَ مِنْ خَصَائِصِهِ ﷺ أَوْ يَجِبُ عَلَى الْإِمَامِ بَعْدَهُ؟ فَقَالَ بَعْضُ الشَّافِعِيَّةِ: هُوَ مِنْ خَصَائِصِهِ، وَقَالَ آخَرُونَ: بَلْ يَلْزَمُ الْإِمَامَ ذَلِكَ إِذَا كَانَ فِي بَيْتِ الْمَالِ سَعَةٌ»

"Para ulama berbeda pendapat, apakah hal itu merupakan kekhususan Nabi ataukah menjadi kewajiban bagi imam (penguasa) setelah beliau. Sebagian ulama Syafi'iyyah berpendapat bahwa hal itu merupakan kekhususan beliau . Sementara ulama yang lain berpendapat bahwa hal itu wajib atas imam apabila Baitul Mal memiliki kecukupan dana."

[Ibnu Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bārī, 4/547 (cet. Dār al-Ma'rifah)]

Lihat pula: Dzakuratul ‘Uqbaa karya al-Itsyubi 17/213 dan al-Bahrul Muhith ats-Tsajjaaj 17/266].

===***===

KUTIPAN SYARAH HADITS DARI PARA ULAMA FIQIH DAN HADITS

**** 

PERTAMA: 
ABU AL-ABBAS AL-QURTHUBI

Abu Al-Abbas Al-Qurthubi rahimahullah (wafat 656 H) berkata:

قَوْلُهُ: «أَنَا أَوْلَى بِكُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ»، أَيْ: أَقْرَبُ لَهُ مِنْ نَفْسِهِ، أَوْ أَحَقُّ بِهِ مِنْهَا، ثُمَّ فَسَّرَ وَجْهَهُ بِقَوْلِهِ: «مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ، وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا، أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ، وَعَلَيَّ».

وَبَيَانُهُ أَنَّهُ إِذَا تَرَكَ دَيْنًا، أَوْ ضَيَاعًا، وَلَمْ يَقْدِرْ عَلَى أَنْ يُخَلِّصَ نَفْسَهُ مِنْهُ؛ إِذْ لَمْ يَتْرُكْ شَيْئًا يَسُدُّ بِهِ ذَلِكَ، ثُمَّ يُخَلِّصُهُ النَّبِيُّ ﷺ بِقِيَامِهِ بِهِ عَنْهُ، أَوْ سَدِّ ضَيْعَتِهِ، كَانَ أَوْلَى بِهِ مِنْ نَفْسِهِ؛ إِذْ قَدْ فَعَلَ مَعَهُ مَا لَمْ يَفْعَلْ هُوَ بِنَفْسِهِ. وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ.

وَأَمَّا رِوَايَةُ مَنْ رَوَاهُ: «أَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ» فِي «غَيْرِ صَحِيحِ مُسْلِمٍ»، فَيُحْتَمَلُ أَنْ يُحْمَلَ عَلَى ذَلِكَ، وَيَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ مَعْنَاهُ: أَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ بَعْضِهِمْ لِبَعْضٍ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ﴾ [النِّسَاءِ: ٦٦]، أَيْ: لِيَقْتُلْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا، فِي أَشْهَرِ أَقْوَالِ الْمُفَسِّرِينَ.

"Sabda Nabi :

'Aku lebih berhak terhadap setiap orang mukmin daripada dirinya sendiri,'

Maksudnya ialah aku lebih dekat kepadanya daripada dirinya sendiri, atau lebih berhak atas dirinya daripada dirinya sendiri.

Kemudian beliau menjelaskan maksudnya dengan sabdanya:

'Barang siapa meninggalkan harta, maka harta itu untuk keluarganya (ahli warisnya). Dan barang siapa meninggalkan utang atau tanggungan keluarga, maka menjadi tanggunganku dan menjadi urusanku.'

Penjelasannya adalah bahwa apabila seseorang meninggalkan utang atau tanggungan keluarga, sementara ia tidak mampu membebaskan dirinya dari beban tersebut karena tidak meninggalkan harta yang dapat digunakan untuk melunasinya, lalu Nabi membebaskannya dengan melunasi utangnya atau mencukupi kebutuhan tanggungan yang ditinggalkannya, maka Nabi benar-benar lebih berhak atas dirinya daripada dirinya sendiri. Sebab, beliau telah melakukan sesuatu untuknya yang bahkan ia sendiri tidak mampu melakukannya bagi dirinya. Wallahu a'lam.

Adapun riwayat yang berbunyi, 'Aku lebih berhak terhadap orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri,' yang terdapat di luar Shahih Muslim, maka kemungkinan maknanya sama seperti penjelasan di atas. Bisa juga bermakna bahwa aku lebih berhak terhadap orang-orang mukmin daripada hak sebagian mereka atas sebagian yang lain, sebagaimana firman Allah Ta'ala:

﴿أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ﴾

'...hendaklah kalian membunuh diri kalian...' (QS. An-Nisa': 66),

yakni sebagian kalian membunuh sebagian yang lain, sebagaimana pendapat yang paling masyhur di kalangan para ahli tafsir. [Baca: al-Mufhim 2/508-509]

Beliau (al-Qurthubi ) berkata lagi:

وَهَذَا الْكَلَامُ إِنَّمَا قَالَهُ النَّبِيُّ ﷺ حِينَ رَفَعَ مَا كَانَ قَرَّرَ مِنِ امْتِنَاعِهِ مِنَ الصَّلَاةِ عَلَى مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ لَمْ يَتْرُكْ لَهُ وَفَاءً، كَمَا قَالَهُ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُؤْتَى بِالْمَيِّتِ عَلَيْهِ الدَّيْنُ، فَيَسْأَلُ: «هَلْ تَرَكَ لِدَيْنِهِ وَفَاءً؟» فَإِنْ قِيلَ: إِنَّهُ تَرَكَ وَفَاءً، صَلَّى عَلَيْهِ، وَإِنْ قَالُوا: لَا، قَالَ: «صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ». قَالَ: فَلَمَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْفُتُوحَ قَالَ: «أَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ، مَنْ تُوُفِّيَ فَتَرَكَ دَيْنًا، فَعَلَيَّ، وَمَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِوَرَثَتِهِ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

قَالَ الْقَاضِي: وَهَذَا مِمَّا يَلْزَمُ الْأَئِمَّةَ مِنَ الْفَرْضِ فِي مَالِ اللَّهِ تَعَالَى لِلذُّرِّيَّةِ، وَأَهْلِ الْحَاجَةِ، وَالْقِيَامِ بِهِمْ، وَقَضَاءِ دُيُونِ مُحْتَاجِيهِمْ. (انْتَهَى).

Sabda ini diucapkan oleh Nabi setelah beliau mencabut ketetapan yang sebelumnya beliau berlakukan, yaitu tidak menyalatkan orang yang meninggal dunia dalam keadaan masih memiliki utang yang tidak ditinggalkannya harta untuk melunasinya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:

'Dahulu Nabi didatangkan jenazah seseorang yang masih memiliki utang. Beliau bertanya, "Apakah ia meninggalkan harta untuk melunasi utangnya?" Jika dijawab bahwa ia meninggalkan harta yang cukup, beliau menyalatkannya. Namun jika dijawab tidak, beliau bersabda, "Salatkanlah sahabat kalian."

Kemudian ketika Allah menganugerahkan kepada beliau berbagai penaklukan, beliau bersabda, "Aku lebih berhak terhadap orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri. Barang siapa meninggal dunia lalu meninggalkan utang, maka akulah yang bertanggung jawab melunasinya. Dan barang siapa meninggalkan harta, maka harta itu untuk para ahli warisnya."' (Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Al-Qadhi berkata:

"Hal ini termasuk kewajiban yang harus ditunaikan oleh PARA PEMIMPIN, yaitu menggunakan harta milik Allah (Baitul Mal) untuk memenuhi kebutuhan anak-anak keturunan yang ditinggalkan, orang-orang yang membutuhkan, mengurus mereka, serta melunasi utang orang-orang yang membutuhkan di antara mereka." [Selesai]. (Lihat: Al-Mufhim, 2/510).

***

KEDUA : 
IBNU QUTAIBAH

Ibnu Qutaibah Ad-Dainuri (wafat 276 H) berkata dalam Ta'wîl Mukhtalif Al-Hadits, hlm. 273 no. 42:

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ:

قَالُوا: رُوِّيتُمْ "أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ، كَانَ لَا يُصَلِّي عَلَى الْمَدِينِ، إِذَا لَمَّ يَتْرُكْ وَفَاءً لدينِهِ".

ثُمَّ رُوِّيتُمْ أَنَّهُ قَالَ: "مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ، وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا فَعَلَيَّ".

وَفِي حَدِيثٍ آخَرَ "مَنْ تَرَكَ كَلًّا فَإِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ".

يَعْنِي: عِيَالًا فُقَرَاءَ، وَأَطْفَالًا لَا كَافِلَ لَهُمْ.

فَكَيْفَ يَتْرُكُ الصَّلَاةَ، عَلَى مَنْ أَلْزَمَ نَفْسَهُ قَضَاءَ الدَّيْنِ عَنْهُ، وَالْقِيَامَ بِأَمْرِ وَلَدِهِ وَعِيَالِهِ بَعْدَهُ؟ وَهَذَا تَنَاقُضٌ.

قَالَ أَبُو مُحَمَّدٍ:

وَنَحْنُ نَقُولُ: إِنَّهُ لَيْسَ فِي هَذَا -بِحَمْدِ اللَّهِ تَعَالَى- تَنَاقُضٌ، لِأَنَّ تَرْكَهُ الصَّلَاةَ عَلَى الْمَدِينِ، إِذَا لَمْ يَتْرُكْ وَفَاءً بِدَيْنِهِ، كَانَ ذَلِكَ فِي صَدْرِ الْإِسْلَامِ، قَبْلَ أَنْ يُفْتَحَ عَلَيْهِ الْفُتُوحُ، وَيَأْتِيَهِ الْمَالُ.

وَأَرَادَ أَنْ لَا يَسْتَخِفَّ النَّاسُ بِالدّينِ، وَلَا يَأْخُذُوا مَالا يَقْدِرُونَ عَلَى قَضَائِهِ.

فَلَمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ، وَفَتَحَ لَهُ الْفُتُوحَ، وَأَتَتْهُ الْأَمْوَالُ، جَعَلَ لِلْفُقَرَاءِ وَالذُّرِّيَّةِ نَصِيبًا فِي الْفَيْءِ، وَقضى مِنْهُ دين الْمُسلم

قَالُوا: حديثان مُتَنَاقِضَانِ

‌‌Tentang Orang yang Meninggal Dunia dalam Keadaan Masih Memiliki Utang

Mereka berkata:

"Kalian meriwayatkan bahwa Nabi tidak mau menyalatkan orang yang meninggal dunia dalam keadaan memiliki utang apabila ia tidak meninggalkan harta yang cukup untuk melunasi utangnya."

Kemudian kalian juga meriwayatkan bahwa beliau bersabda:

"مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ، وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا فَعَلَيَّ"

"Barang siapa meninggalkan harta, maka harta itu menjadi milik keluarganya. Dan barang siapa meninggalkan utang, maka menjadi tanggunganku."

Dalam hadits lain disebutkan:

"مَنْ تَرَكَ كَلًّا فَإِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ"

"Barang siapa meninggalkan beban tanggungan, maka menjadi tanggungan Allah dan Rasul-Nya."

Yang dimaksud adalah keluarga yang miskin dan anak-anak yang tidak memiliki orang yang menanggung mereka.

Lalu mereka berkata : Bagaimana mungkin beliau tidak menyalatkan orang yang beliau sendiri telah berkomitmen untuk melunasi utangnya serta mengurus anak-anak dan keluarganya setelah ia meninggal? Bukankah ini merupakan suatu kontradiksi?

Abu Muhammad (Ibnu Qutaibah) berkata:

Kami menjawab: bahwa, alhamdulillah, tidak ada kontradiksi dalam masalah ini. Sebab, sikap Nabi yang tidak menyalatkan orang yang meninggal dalam keadaan memiliki utang dan tidak meninggalkan harta untuk melunasinya terjadi pada masa-masa awal Islam, sebelum berbagai penaklukan terjadi dan sebelum harta rampasan serta pemasukan negara datang kepada beliau.

Beliau menghendaki agar manusia tidak meremehkan persoalan utang dan tidak mengambil harta yang mereka tidak mampu melunasinya.

Ketika Allah Azza wa Jalla telah melimpahkan harta fai' kepada beliau, memberikan berbagai kemenangan dan penaklukan, serta datang kepadanya berbagai kekayaan, beliau pun menetapkan bagian dari harta fai' tersebut untuk orang-orang fakir dan anak-anak yang ditinggalkan, serta dari harta itu pula beliau melunasi utang kaum muslimin.

Mereka berkata: "Dua hadits tersebut saling bertentangan." [Kutipan Selesai]

***

KETIGA : 
IBNU BATHTHAL.

Ibnu Baththal berkata dalam Syarh Shahih Al-Bukhari (8/346):

أَجْمَعَتِ الْأُمَّةُ أَنَّ مَنْ تَرَكَ مَالًا فَهُوَ لِوَرَثَتِهِ، وَاخْتَلَفُوا فِي مَعْنَى قَوْلِهِ ﷺ: «مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ فَعَلَيَّ قَضَاؤُهُ».

قَالَ الْمُهَلَّبُ: هَذَا إِنَّمَا هُوَ عَلَى الْوَعْدِ مِنَ النَّبِيِّ ﷺ، لِمَا كَانَ وَعَدَهُ اللَّهُ بِهِ مِنَ الْفُتُوحَاتِ، مِنْ مُلْكِ كِسْرَى وَقَيْصَرَ، وَلَيْسَ عَلَى الضَّمَانِ وَالْحَمَالَةِ، بِدَلِيلِ تَأَخُّرِهِ عَنِ الصَّلَاةِ عَلَى مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ، حَتَّى ضَمِنَهُ مَنْ حَضَرَهُ.

وَقَالَ غَيْرُهُ: هَذَا الْحَدِيثُ نَاسِخٌ لِتَرْكِهِ الصَّلَاةَ عَلَى مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ، وَقَوْلُهُ: «فَعَلَيَّ قَضَاؤُهُ» عَلَى الضَّمَانِ اللَّازِمِ، وَقَدْ تَقَدَّمَ هَذَا الْمَعْنَى فِي كِتَابِ الْكَفَالَةِ.

"Umat Islam telah ber-ijma’ (sepakat dengan suara bulat) bahwa siapa saja yang meninggalkan harta, maka harta tersebut menjadi milik para ahli warisnya. Adapun mengenai makna sabda Nabi , 'Barang siapa meninggal dunia dalam keadaan memiliki utang, maka aku yang akan melunasinya,' para ulama berbeda pendapat.

Al-Muhallab berkata: Hal itu hanyalah berupa janji dari Nabi berdasarkan apa yang telah Allah janjikan kepada beliau berupa berbagai penaklukan atas kerajaan Kisra dan Kaisar. Jadi, sabda tersebut bukanlah dalam makna jaminan (dhoman) atau penanggungan (hamalah). Buktinya, pada awalnya beliau tidak mau menyalatkan orang yang meninggal dalam keadaan memiliki utang sampai ada seseorang yang bersedia menanggung utangnya.

Ulama lainnya berpendapat bahwa hadits ini menghapus (menasakh) sikap beliau yang sebelumnya tidak menyalatkan orang yang meninggal dalam keadaan berutang.

Sabda beliau, 'Maka aku yang akan melunasinya,' dipahami sebagai bentuk jaminan yang mengikat dan wajib dilaksanakan. Penjelasan mengenai makna ini telah dijelaskan sebelumnya dalam Kitab Al-Kafalah."

Dan Ibnu Baththal berkata pula dalam Syarh Shahih Al-Bukhari (6/426-427):

(٥) - بَابُ مَنْ تَكَفَّلَ عَنْ مَيِّتٍ دَيْنًا، فَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَرْجِعَ، وَبِهِ قَالَ الْحَسَنُ.

[٧] - فِيهِ: حَدِيثُ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ لِيُصَلِّيَ عَلَيْهَا، فَقَالَ: «هَلْ عَلَيْهِ مِنْ دَيْنٍ؟». قَالُوا: نَعَمْ. قَالَ: «صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ». فَقَالَ أَبُو قَتَادَةَ: عَلَيَّ دَيْنُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَصَلَّى عَلَيْهِ.

[٨] - وَفِيهِ: حَدِيثُ جَابِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «لَوْ قَدْ جَاءَ مَالُ الْبَحْرَيْنِ، قَدْ أَعْطَيْتُكَ هَكَذَا وَهَكَذَا». فَلَمْ يَجِئْ مَالُ الْبَحْرَيْنِ حَتَّى قُبِضَ النَّبِيُّ ﷺ. فَلَمَّا جَاءَ مَالُ الْبَحْرَيْنِ، أَمَرَ أَبُو بَكْرٍ، فَنَادَى: مَنْ كَانَ لَهُ عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ عِدَةٌ أَوْ دَيْنٌ، فَلْيَأْتِنَا. فَأَتَيْتُهُ، فَقُلْتُ: إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ لِي كَذَا. فَحَثَا لِي حَثْيَةً، فَعَدَدْتُهَا، فَإِذَا هِيَ خَمْسُمِائَةٍ، وَقَالَ: «خُذْ مِثْلَيْهَا».

[٩] - وَفِيهِ: حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يُؤْتَى بِالرَّجُلِ الْمُتَوَفَّى عَلَيْهِ الدَّيْنُ، فَيَسْأَلُ: «هَلْ تَرَكَ لِدَيْنِهِ وَفَاءً؟». فَإِنْ حُدِّثَ أَنَّهُ تَرَكَ لِدَيْنِهِ وَفَاءً، صَلَّى عَلَيْهِ. فَلَمَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْفُتُوحَ، قَالَ: «أَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ، فَمَنْ تُوُفِّيَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فَتَرَكَ دَيْنًا، فَعَلَيَّ قَضَاؤُهُ، وَمَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِوَرَثَتِهِ».

Bab Tentang Orang yang Menanggung Utang Orang yang Telah Meninggal Dunia, Maka Ia Tidak Berhak Menarik Kembali Tanggungan Tersebut

Al-Hasan al-Bashri berpendapat demikian.

[1] Di dalam bab ini terdapat hadits Salamah bin al-Akwa' radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi didatangkan seorang jenazah untuk beliau salatkan.

Beliau bertanya: "Apakah ia mempunyai utang?" Mereka menjawab, "Ya."

Maka beliau bersabda: "Salatkanlah sahabat kalian ini."

Lalu Abu Qatadah berkata: "Wahai Rasulullah, utangnya menjadi tanggunganku."

Maka Nabi pun menyalatkannya.

[2] Di dalamnya juga terdapat hadits Jabir radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

"Seandainya harta dari Bahrain telah datang, niscaya aku akan memberikan kepadamu sebanyak ini dan ini."

Namun harta dari Bahrain belum datang hingga Nabi wafat. Ketika harta Bahrain tiba, Abu Bakar memerintahkan agar diumumkan:

"Barang siapa mempunyai janji atau piutang yang menjadi tanggungan Nabi , hendaklah ia datang kepada kami."

Aku pun datang kepadanya dan berkata: "Sesungguhnya Nabi pernah berkata kepadaku begini."

Maka Abu Bakar memberikan kepadaku satu genggam harta. Aku menghitungnya, ternyata jumlahnya lima ratus.

Kemudian ia berkata: "Ambillah dua kali lipatnya lagi."

[3]. Di dalamnya juga terdapat hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi apabila didatangkan seorang yang telah meninggal dunia dalam keadaan mempunyai utang, beliau bertanya:

"Apakah ia meninggalkan harta yang cukup untuk melunasi utangnya?"

Apabila diberitahukan bahwa ia meninggalkan harta yang cukup untuk melunasi utangnya, beliau menyalatkannya. Namun setelah Allah memberikan kemenangan-kemenangan dan berbagai penaklukan kepada beliau, beliau bersabda:

"Aku lebih berhak terhadap kaum mukminin daripada diri mereka sendiri. Maka barang siapa dari kaum mukminin meninggal dunia dan meninggalkan utang, akulah yang berkewajiban melunasinya. Dan barang siapa meninggalkan harta, maka harta itu menjadi milik ahli warisnya."

***

KEEMPAT : 
IMAM AS-SUYUTHI

Imam As-Suyuthi berkata dalam kitab Al-Khasha'ish Al-Kubra (2/400):

بَابُ اخْتِصَاصِهِ ﷺ بِوُجُوبِ قَضَاءِ دَيْنِ مَنْ مَاتَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ مُعْسِرًا

أَخْرَجَ ابْنُ مَاجَهْ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ، وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَعَلَيَّ وَإِلَيَّ».

وَأَخْرَجَ الشَّيْخَانِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يُؤْتَى بِالرَّجُلِ الْمُتَوَفَّى عَلَيْهِ الدَّيْنُ، فَيَسْأَلُ: هَلْ تَرَكَ لِدَيْنِهِ مِنْ قَضَاءٍ؟ فَإِنْ حُدِّثَ أَنَّهُ تَرَكَ وَفَاءً صَلَّى عَلَيْهِ، وَإِلَّا قَالَ لِلْمُسْلِمِينَ: «صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ». فَلَمَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْفُتُوحَ، قَامَ فَقَالَ: «أَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ، فَمَنْ تُوُفِّيَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فَتَرَكَ دَيْنًا فَعَلَيَّ قَضَاؤُهُ، وَمَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِوَرَثَتِهِ».

Bab tentang Kekhususan Nabi berupa Kewajiban Melunasi Utang Orang Muslim yang Meninggal dalam Keadaan Tidak Mampu

Ibnu Majah meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah bersabda:

"Barang siapa meninggalkan harta, maka harta itu untuk keluarganya (ahli warisnya). Dan barang siapa meninggalkan utang atau tanggungan keluarga yang tidak mampu, maka menjadi tanggunganku dan menjadi urusanku."

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa apabila didatangkan kepada Rasulullah seorang yang telah meninggal dunia dan masih memiliki utang, beliau bertanya, "Apakah ia meninggalkan harta yang dapat digunakan untuk melunasi utangnya?"

Jika diberitahukan bahwa ia meninggalkan harta yang cukup untuk melunasi utangnya, beliau menyalatkan jenazahnya. Namun, jika tidak, beliau bersabda kepada kaum muslimin, "Salatkanlah sahabat kalian."

Kemudian, setelah Allah menganugerahkan kepada beliau berbagai kemenangan dan penaklukan, beliau berdiri lalu bersabda:

"Aku lebih berhak terhadap kaum mukminin daripada diri mereka sendiri. Maka siapa saja dari kaum mukminin yang meninggal dunia dan meninggalkan utang, akulah yang berkewajiban melunasinya. Dan siapa saja yang meninggalkan harta, maka harta itu menjadi milik para ahli warisnya." [Selesai]

****

KELIMA : 
AL-QODHI AL-ISYBIILY

Al-Qadhi Al-Isybili Al-Maliki (wafat 543 H) berkata dalam kitab Al-Masalik fi Syarh Muwaththa' Malik (5/87):

قَالَ بَعْضُ عُلَمَائِنَا: مَعْنَى ذَلِكَ أَنَّ حُقُوقَ الْآدَمِيِّينَ لَا تُكَفِّرُهَا الْحَسَنَاتُ، وَهَذَا وَجْهٌ مُحْتَمَلٌ، وَقَدْ كَانَ ﷺ فِي أَوَّلِ الْإِسْلَامِ يَمْتَنِعُ مِنَ الصَّلَاةِ عَلَى مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ لَمْ يَتْرُكْ لَهُ قَضَاءً، وَظَاهِرُ ذَلِكَ أَنَّهُ إِنَّمَا قَالَ ذَلِكَ لِئَلَّا يُسْرِعَ النَّاسُ إِلَى أَكْلِ أَمْوَالِ النَّاسِ بِغَيْرِ حَاجَةٍ، وَلَا رِفْقٍ فِي إِنْفَاقٍ، ثُمَّ يَمُوتُ مَنْ مَاتَ مِنْهُمْ وَلَا يَتْرُكُ قَضَاءً، فَيَذْهَبُ بِأَمْوَالِ النَّاسِ.

ثُمَّ إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ لَمَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ بِالْمَالِ قَالَ: «أَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ، مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِوَرَثَتِهِ، وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضِيَاعًا فَعَلَيَّ وَإِلَيَّ».

Sebagian ulama kami berkata:

"Makna hadits tersebut adalah bahwa hak-hak sesama manusia tidak dapat dihapus oleh amal-amal kebaikan. Ini merupakan salah satu penafsiran yang memungkinkan.

Pada awal Islam, Nabi tidak bersedia menshalatkan orang yang meninggal dunia dalam keadaan masih memiliki utang yang tidak ditinggalkannya harta untuk melunasinya. Lahiriah sikap beliau menunjukkan bahwa beliau melakukan hal itu agar manusia tidak tergesa-gesa memakan harta orang lain tanpa kebutuhan yang mendesak dan tanpa sikap bijaksana dalam membelanjakannya, kemudian salah seorang dari mereka meninggal dunia tanpa meninggalkan harta untuk melunasi utangnya, sehingga harta orang lain pun hilang.

Kemudian, ketika Allah melimpahkan harta kepada Nabi melalui berbagai penaklukan, beliau bersabda:

'Aku lebih berhak terhadap orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri. Barang siapa meninggalkan harta, maka harta itu untuk para ahli warisnya. Dan barang siapa meninggalkan utang atau tanggungan keluarga, maka menjadi tanggunganku dan menjadi urusanku.'

(HR. Al-Bukhari no. 2298 dan 2399, serta Muslim no. 1619 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dengan perbedaan lafaz).

****

KEENAM: 
ABDUL AZIZ AR-RAJIHI

Abdul Aziz Ar-Rajihi berkata dalam Syarh Sunan Ibnu Majah (3/3):

وَقَالَ فِي نِهَايَةِ الْحَدِيثِ: «وَكَانَ يَقُولُ: مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ، وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضِيَاعًا فَعَلَيَّ وَإِلَيَّ».

وَقَدْ كَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي أَوَّلِ الْهِجْرَةِ يُصَلِّي عَلَى مَنْ عَلَيْهِ دَيْنٌ، ثُمَّ قُدِّمَ إِلَيْهِ رَجُلٌ لِيُصَلِّيَ عَلَيْهِ، فَقَالَ: «هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ؟» قَالُوا: نَعَمْ، عَلَيْهِ دِينَارَانِ، فَتَأَخَّرَ وَقَالَ: «صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ».

فَقَالَ هَذَا لِلْأَحْيَاءِ حَتَّى لَا يَتَسَاهَلُوا فِي الدَّيْنِ.

فَقَامَ رَجُلٌ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، عَلَيَّ الدِّينَارَانِ - أَيْ: أَنَا أَضْمَنُهُمَا -، فَقَالَ: «بَرِئَ الْغَرِيمُ؟» قَالَ: نَعَمْ، فَقَامَ وَصَلَّى عَلَيْهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ.

ثُمَّ لَمَّا كَانَ مِنَ الْغَدِ قَالَ: «مَا فَعَلَ الدِّينَارَانِ؟» قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا مَاتَ إِلَّا بِالْأَمْسِ - يَعْنِي: مَا مَضَى عَلَيْهِ إِلَّا يَوْمٌ -، فَسَكَتَ النَّبِيُّ ﷺ.

ثُمَّ لَقِيَهُ مِنَ الْغَدِ، فَقَالَ: «مَا فَعَلَ الدِّينَارَانِ؟» قَالَ: قَضَيْتُهُمَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَقَالَ: «الْآنَ بَرَدَتْ عَلَيْهِ جِلْدَتُهُ».

وَكَانَ هَذَا فِي أَوَّلِ الْأَمْرِ وَأَوَّلِ الْإِسْلَامِ، ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ لَمَّا وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ صَارَ يَقْضِي الدَّيْنَ مِنْ عِنْدِهِ.

وَلِهَذَا يُسْتَحَبُّ لِوُلَاةِ الْأُمُورِ قَضَاءُ الدَّيْنِ عَنِ الْمَيِّتِ إِذَا كَانَ فِي بَيْتِ الْمَالِ سَعَةٌ، وَكَانَ الْمَيِّتُ لَيْسَ لَهُ مَالٌ.

وَلِهَذَا قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضِيَاعًا - يَعْنِي: أَوْلَادًا صِغَارًا - فَعَلَيَّ»، يَعْنِي: عَلَى بَيْتِ الْمَالِ.

فَبَيْتُ الْمَالِ يَقُومُ بِكَفَالَةِ الْأَيْتَامِ وَالصِّغَارِ وَالْعَجَزَةِ، وَيُنْفِقُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ، وَكَذَلِكَ الدَّيْنُ يُقْضَى عَنِ الْمَيِّتِ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ إِذَا كَانَ فِيهِ سَعَةٌ.

قَالَ: «وَمَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِوَرَثَتِهِ».

وَمَنْ لَمْ يَتْرُكْ مَالًا، وَإِنَّمَا تَرَكَ دَيْنًا، أَوْ تَرَكَ ضِيَاعًا وَأَوْلَادًا صِغَارًا، فَعَلَيَّ وَإِلَيَّ، أَيْ: فَعَلَى بَيْتِ الْمَالِ، يَقُومُ بِحَاجَاتِهِمْ وَكَفَالَتِهِمْ.

وَقَوْلُهُ: «فَعَلَيَّ وَإِلَيَّ»، أَيْ: عَلَيَّ قَضَاءُ الدَّيْنِ، وَإِلَيَّ ضِيَاعُهُمْ بِكَفَالَتِهِمْ.

Pada akhir hadits disebutkan:

"Barang siapa meninggalkan harta, maka harta itu untuk keluarganya (ahli warisnya). Dan barang siapa meninggalkan utang atau tanggungan keluarga, maka menjadi tanggunganku dan menjadi urusanku."

Pada awal masa hijrah, Rasulullah masih menyalatkan jenazah yang memiliki utang. Kemudian suatu ketika didatangkan kepada beliau seorang jenazah untuk disalatkan. Beliau bertanya, "Apakah ia memiliki utang?"

Mereka menjawab, "Ya, ia memiliki utang dua dinar."

Maka beliau mundur seraya bersabda, "Salatkanlah sahabat kalian."

Beliau melakukan hal itu sebagai pelajaran bagi orang-orang yang masih hidup agar mereka tidak meremehkan urusan utang.

Lalu berdirilah seorang laki-laki dan berkata, "Wahai Rasulullah, dua dinar itu menjadi tanggunganku," yakni, "Aku menjaminnya."

Maka beliau bersabda, "Apakah tanggungan orang yang berutang itu telah bebas?"

Orang itu menjawab, "Ya." Maka Rasulullah pun maju dan menyalatkan jenazah tersebut.

Keesokan harinya beliau bertanya, "Bagaimana dengan dua dinar itu?"

Orang tersebut menjawab, "Wahai Rasulullah, ia baru meninggal kemarin," maksudnya baru berlalu satu hari, sehingga belum sempat melunasinya. Maka Nabi diam.

Kemudian beliau bertemu lagi dengannya pada hari berikutnya dan bertanya, "Bagaimana dengan dua dinar itu?"

Orang itu menjawab, "Aku telah melunasinya, wahai Rasulullah."

Maka beliau bersabda, "Sekarang kulitnya telah menjadi sejuk."

Peristiwa ini terjadi pada awal Islam. Setelah itu, ketika Allah melapangkan rezeki bagi beliau, beliau mulai melunasi utang orang-orang yang meninggal dari harta yang beliau miliki.

Oleh karena itu, disunnahkan bagi para penguasa untuk melunasi utang orang yang meninggal apabila di Baitul Mal terdapat kecukupan harta, sedangkan orang yang meninggal itu tidak memiliki harta. Karena itulah Nabi bersabda:

"Barang siapa meninggalkan utang atau tanggungan keluarga," yakni anak-anak yang masih kecil, "maka itu menjadi tanggunganku."

Maksudnya, menjadi tanggungan Baitul Mal. Baitul Mal bertugas menjamin kehidupan anak-anak yatim, anak-anak kecil, orang-orang yang lemah, dan menafkahi mereka dari kas negara. Demikian pula utang orang yang meninggal dilunasi dari Baitul Mal apabila di dalamnya terdapat kecukupan harta.

Beliau bersabda:

“Dan barang siapa meninggalkan harta, maka harta itu menjadi milik para ahli warisnya.”

Adapun orang yang tidak meninggalkan harta, tetapi meninggalkan utang atau meninggalkan tanggungan berupa anak-anak yang masih kecil, maka hal itu menjadi tanggunganku dan menjadi urusanku, yakni menjadi tanggungan Baitul Mal yang memenuhi kebutuhan dan menjamin kehidupan mereka.

Adapun sabda beliau, “maka menjadi tanggunganku dan menjadi urusanku”, maksudnya ialah:

“Tanggunganku adalah melunasi utangnya, sedangkan urusanku adalah mengurus tanggungan keluarganya dengan menjamin kehidupan mereka.” [Kutipan Selesai]

Posting Komentar

0 Komentar