Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Dalam SYIRIK ULUHIYAH terkandung SYIRIK RUBUBIYAH. Lalu BENARKAH KAUM MUSYRIK Jahiliyah BERTAUHID RUBUBIYAH?

Dalam SYIRIK ULUHIYAH terkandung SYIRIK RUBUBIYAH. 

Lalu BENARKAH KAUM MUSYRIK Jahiliyah BERTAUHID RUBUBIYAH dengan sempurna?

==

Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi, Ibnu Taimiyah, Syeikh Bin Baz, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamad al-'Abbad al-Badr dan Syeikh ‘Alwi bin Abdul Qodir as-Saqoof sepakat mengatakan:

«تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ مُسْتَلْزِمٌ لِتَوْحِيدِ الْأُلُوهِيَّةِ. وَتَوْحِيدُ الْأُلُوهِيَّةِ مُتَضَمِّنٌ لِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ»

«Tauhid rububiyah mengharuskan adanya tauhid uluhiyah. Dan tauhid uluhiyah mengandung tauhid rububiyah»

==== 

Di Tulis Oleh Kang Fakhri

KAJIAN NIDA AL-ISLAM

 ---

----

DAFTAR ISI:

  • PENDAHULUAN:
  • DEFINISI TAUHID TAUHID ULUHIYAH DAN RUBIBIYAH
  • PERTAMA: DEFINISI TAUHID ULUHIYAH
  • KEDUA : DEFINISI TAUHID RUBIBIYAH
  • TERMASUK TAUHID RUBUBIYAH ADALAH BERKEYAKINAN BAHWA HANYA ALLAH SWT YANG TAHU PERKARA GHAIB
  • DALAM TAUHID ULUHIYAH TERKANDUNG TAUHID RUBUBIYAH
  • SYIRIK ULUHIYAH TIDAK TERPISAHKAN DARI SYIRIK RUBUBIYAH
  • PENJELASAN TENTANG SYIRIK ULUHIYAH
  • PENJELASAN TENTANG TAUHID RUBUBIYAH
  • RINCIAN PEMBAHASAN TERKAIT SYIRIK RUBUBIYAH DI MASA JAHILIYAH
  • PEMBAHASAN PERTAMA: KEYAKINAN ADANYA RUBUBIYAH PADA BERHALA YANG MEREKA SEMBAH
  • MACAM-MACAM BENTUK SYIRIK RUBUBIYAH DI MASA JAHILIYAH
  • PEMBAHASAN KE DUA: MENETAPKAN STATUS NASAB BERHALA-BERHALA SEBAGAI ANAK-ANAK TUHAN.
  • PEMBAHASAN KETIGA: MENGEMAS SYIRIK RUBUBIYAH DENGAN ISTILAH TAQORRUB DAN SYAFAAT.
  • KE [1]: MENGEMASNYA DENGAN ISTILAH TAQORRUB
  • KE [2]: MENGEMASNYA DENGAN ISTILAH SYAFA’AT
  • PENJELASAN SYEIKH AL-ALBANI TENTANG TAQORRUB & SYAFA’AT
  • APAKAH BENAR KAUM MUSYRIKIN JAHILIYAH MENTAUHIDKAN ALLAH DALAM RUBUBIYAH
  • PENDAPAT PERTAMA: Kaum musyrikan jahiliyah mentauhidkan Allah dalam rububiyah.
  • PENDAPAT KEDUA: Kaum musyrikan jahiliyah menyekutukan Allah dalam rububiyah.
  • DALIL BAHWA KAUM MUSYRIKIN JAHILIYAH MENYEKUTUKAN ALLAH DALAM RUBUBIYAH:
  • AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG MACAM-MACAM MANUSIA DALAM MENETAPKAN RUBUBIYAH ILAHIYAH
  • CONTOH BERHALA-BERHALA JAHILIYAH YANG DIYAKINI MEMILIKI KEMAMPUAN RUBUBIYAH ILAHIYAH.
  • KATA RABB KADANG DIGUNAKAN PULA UNTUK KATA ILAH, DAN SEBALIKNYA.

 ===

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

===***===

PENDAHULUAN:

Tauhid adalah keyakinan (اعْتِقَادٌ) dan amal (عَمَلٌ). Artinya, Tauhid itu garis besarnya terdiri dari: [1] Tauhid rububiyah = tauhid ilmi-i’tiqadi. [2] Tauhid uluhiyah (ibadah) = tauhid ‘amali.

Tauhid rububiyah, yaitu meyakini bahwa Allah satu-satunya Pencipta, Pengatur, dan yang berkuasa mengatur seluruh alam semesta yakni makhluknya.

Tauhid uluhiyah, yaitu meyakini bahwa hanya Allah yang berhak disembah.

Tauhid adalah keyakinan yang dibuktikan oleh praktek dan amal, yaitu amal yang menegaskan dan membuktikan kekeyakinannya. Tauhid adalah pengakuan bahwa hanya Allah Ta’ala yang memiliki kesempurnaan rububiyah dan uluhiyah secara mutlak.

Tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah (keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak disembah) memiliki satu makna yang sama-sama mengantarkan kepada hal tersebut, yaitu pengakuan bahwa hanya Allah Ta’ala yang memiliki kesempurnaan secara mutlak. Sebab, tauhid rububiyah mencakup keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak disembah, yaitu tauhid uluhiyah. Demikian pula, keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak disembah (tauhid uluhiyah) mencakup keyakinan terhadap tauhid rububiyah.

Kaum musyrikin Arab jahiliyah terbagi menjadi dua golongan:

Pertama: Para penyembah benda-benda langit (أَصْحَابُ الْهَيَاكِلِ), yaitu para penyembah bintang, karena mereka meyakini ketuhanan bintang-bintang.

Kedua: Para penyembah objek-objek tertentu (أَصْحَابُ الْأَشْخَاصِ), yaitu para penyembah berhala, karena mereka menyebutnya sebagai rabb-rabb sebagai tandingan bagi rabb-rabb langit.

CONTOH SINGKAT KAITAN SYIRIK RUBUBIYAH DAN SYIRIK ULUHIYAH:

Untuk lebih mudah difahami dan mudah dicerna, maka dalam muqoddimah ini saya akan memberikan beberapa contoh singkat, simpel dan sederhana terkait sebagian bentuk-bentuk syirik rububiyah dan kaitannya dengan syirik uluhiyah:

Contoh ke [1] Syirik rububiyah dan uluhiyah terkait dengan aqidah dan keyakinan:

Syirik rububiyah: contohnya, ada sesorang berkeyakinan bahwa cincin batu aqiq ini pembawa keberuntungan dan penolak kesialan. Maka dia telah jatuh dalam syirik rububiyah.

Syirik uluhiyah: contohnya, seseorang memakai cincin batu aqiq karena berkeyakinan dengan memakainya itu bisa mendatangkan keberuntungan dan mengusir kesialan. Maka dia telah jatuh dalam syirik uluhiyah.

Namun jika seseorang memakai cincin batu Aqiq tanpa adanya keyakinan rububiyah apa pun, melainkan karena suka akan keindahannya, maka hukumnya mubah dan tidak jatuh pada syirik uluhiyah.

Dalilnya banyak sekali. Sebagai contoh di sini adalah:

Hadits Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu, diceritakan: 

أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أَبْصَرَ عَلَى عَضُدِ رَجُلٍ حَلْقَةً – أُرَاهُ قَالَ: مِنْ صُفْرٍ – فَقَالَ: «وَيْحَكَ مَا هَذِهِ؟»

قَالَ: مِنَ الْوَاهِنَةِ. قَالَ: «أَمَا إِنَّهَا لَا تَزِيدُكَ إِلَّا وَهْنًا، انْبِذْهَا عَنْكَ، فَإِنَّكَ لَوْ مُتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا».

Bahwa Nabi ﷺ melihat sebuah gelang pada lengan seorang laki-laki—perawi berkata, “Saya kira beliau mengatakan: terbuat dari besi kuningan”—kemudian beliau bersabda, «Celakalah engkau, apa ini?»

Laki-laki itu menjawab, “Untuk penangkal al-wahinah (penyakit yang membuatnya menjadi lemah).”

Beliau ﷺ bersabda, «Ketahuilah, gelang itu tidak menambahmu kecuali kelemahan. Buanglah dari dirimu. Jika engkau meninggal sementara gelang itu masih melekat padamu, niscaya engkau tidak akan pernah beruntung selamanya.»

Dalam lafaz Ibnu Hibban dan ath-Thabrani disebutkan:

«فَإِنَّكَ إِنْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ وُكِلْتَ إِلَيْهَا».

«Sesungguhnya jika engkau meninggal sementara gelang itu masih melekat padamu, niscaya engkau akan diserahkan urusan akhiratnya kepada gelang yang kamu tawakal kepadanya.»

Contoh lain: Batu Hajar Aswad.

Begitu pula halnya dengan Batu Hajar Aswad. Oleh sebab itu Umar bin Khoththob radhiyallahu ‘anhu ketika hendak menciumnya, dia berkata:

«أَمَ وَاللَّهِ لَقَدْ عَلِمْتُ أَنَّكَ حَجَرٌ، وأَنَّك لا تَضُرُّ وَلا تَنْفَع، وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ»

“ Demi Allah, sungguh aku tahu bahwa kamu adalah batu , dan sesungguhnya kamu tidak bisa mendatangkan mudhorot dan tidak bisa mendatangkan manfaat , kalau seandainya aku tidak melihat Rosulullah ﷺ menciummu maka akupun tidak sudi menciummu“.

[HR. Muslim no. 1270 dan Abdurrozzaq no. 9034].

Oleh sebab itu, sujudnya 11 saudara Nabi Yusuf , ayahnya dan ibunya kepada Nabi Yusuf ‘alaihis salam, itu tidak dikatakan syirik dan kekufuran; karena tidak didasari keyakinan adanya rububiyah padanya.

Dan begitu juga sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam ‘alaihis salam.

Namun dikatakan syirik, sujud kepada dewa Matahari, dewi Bulan dan juga dewi Bintang. Sebagaimana ditegaskan dalam ayat berikut ini:

﴿لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ﴾

“Janganlah kalian sujud kepada matahari maupun bulan, tapi sujudlah kalian kepada Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah!”. [QS. Fussilat: 37]

Oleh sebab itu Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syeikh al-Albani menegaskan: bahwa bertaqorrub dalam do’a dengan mayit bukan termasuk perbuatan syririk, jika hanya sebatas sebagai sebab agar do’anya kepada Allah dikabulkan, selama tidak ada keyakinan bahwa si mayit tersebut memiliki sifat rububiyah kemampuan mengabulkan do’a.

Syeikh al-Albani berkata:

لَكِنْ يَقُولُ أَنَّا أَعْتَقِدُ أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ نَقُولَ اغْفِرْ لِي بِجَاهِ مُحَمَّدٍ، أَسْأَلُكَ بِمُحَمَّدٍ أَنْ تَغْفِرَ لِي، أَيُّشَ وَجْهُ الاِسْتِدْلَالِ عَلَى هَذَا بِأَنَّهُ مُشْرِكٌ لِأَنَّ اللَّهَ يَقُولُ عَلَى لِسَانِ الْمُشْرِكِينَ ﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى﴾ وَهُوَ لَا يَعْبُدُهُمْ.

Akan tetapi, seseorang boleh mengatakan:

“Saya berkeyakinan bahwa sesungguhnya kami diperbolehkan mengatakan: “Ya Allah, ampunilah kami dengan Jaah [kedudukan] Muhammad”, “Saya memohon kepada-Mu dengan Muhammad agar Engkau mengampuni saya.”

Mana sisi pendalilan yang menunjukkan bahwa ini musyrik ? Tidak ada; karena Allah berfirman tentang lisan orang-orang musyrik:

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. [QS. Az-Zumar : 3]

Sementara dia [yang bertawassul dengan Nabi ﷺ dan lainnya] sama sekali tidak menyembah mereka”. (Selesai) [Baca: Silsilatul Hudaa wan Nuur no. 287].

Dan Syeikhul Islam Ibnu Taimiah ketika selesai menyebutkan perbedaan pendapat dalam masalah taqorrub dan tawassul dengan mayit hanya sebagai sebagai sebab, dia berkata:

وَلَمْ يَقُلْ أَحَدٌ : إنَّ مَنْ قَالَ بِالْقَوْلِ الْأَوَّلِ فَقَدْ كَفَرَ وَلَا وَجْهَ لِتَكْفِيرِهِ فَإِنَّ هَذِهِ مَسْأَلَةٌ خَفِيَّةٌ لَيْسَتْ أَدِلَّتُهَا جَلِيَّةً ظَاهِرَةً وَالْكُفْرُ إنَّمَا يَكُونُ بِإِنْكَارِ مَا عُلِمَ مِنْ الدِّينِ ضَرُورَةً أَوْ بِإِنْكَارِ الْأَحْكَامِ الْمُتَوَاتِرَةِ وَالْمُجْمَعِ عَلَيْهَا وَنَحْوِ ذَلِكَ . وَاخْتِلَافُ النَّاسِ فِيمَا يُشْرَعُ مِنْ الدُّعَاءِ وَمَا لَا يُشْرَعُ كَاخْتِلَافِهِمْ هَلْ تُشْرَعُ الصَّلَاةُ عَلَيْهِ عِنْدَ الذَّبْحِ ؛ وَلَيْسَ هُوَ مِنْ مَسَائِلِ السَّبِّ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ .

“Tak seorang pun yang mengatakan: barangsiapa mengambil pendapat pertama (boleh tawassul dengan mayit sebagi sebab) ia dianggap telah kafir, maka itu tak ada alasan untuk mengkafirkannya, karena masalah ini adalah masalah yang samar-samar, dalil-dalilnya tidak jelas dan terang. Kekufuran hanyalah bagi orang yang mengingkari perkara-perkara yang sudah maklum (diketahui) secara darurat merupakan bagian dari agama secara pasti atau mengingkari hukum yang sudah mutawatir dan disepakati (ijma’) atau semisal itu.

Dan perbedaan manusia tentang cara berdoa yang di syariatkan dan yang tidak di syariatkan, sama seperti perbedaan mereka tentang hukum membaca sholawat kepada Nabi ﷺ ketika menyembelih binatang sembelihan. Dan itu bukan termasuk dalam permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan mencaci maki salah seorang dari kaum muslimin“.

(Baca: Majmu’ Fatawa 1/106 dan Syarah Bab Tauhid al-Uluhiyah Min Fatawa Ibnu Taimiyah 11/10. Bagitu pula yang dikatakan Abu ats-Tsanaa al-Alusi dalam Ghoyatul Amaani 2/351, sama dengan Ibnu Taimiyah)

Dari pernyataan Syeikh Ibnu Taimiyah di atas, jelaslah bahwa ucapan sebagian orang  yang mengkafirkan sesama muslim karena permasalahan semacam ini tidaklah dapat dibenarkan.

Namun demikian, Ibnu Taimiyah juga dengan tegas melarang tawassul dan taqorrub dengan mayit jika disertai keyakinan bahwa si mayit tersebut memiliki kemampuan sebagian rububiyah ilahiyah. Beliau berkata:

"فَمَنْ جَعَلَ الْمَلَائِكَةَ وَالْأَنْبِيَاءَ وَسَائِطَ؛ يَدْعُوهُمْ، وَيَتَوَكَّلُ عَلَيْهِمْ، وَيَسْأَلُهُمْ جَلْبَ الْمَنَافِعِ وَدَفْعَ الضَّارِّ، مِثْلًا أَنْ يَسْأَلَهُمْ غُفْرَانَ الذَّنْبِ، وَهُدًى الْقُلُوبِ وَتَفْرِيجَ الْكُرُوبِ وَسَدَّ الْفَوَاقِتِ: فَهُوَ كَافِرٌ بِإِجْمَاعِ الْمُسْلِمِينَ"

“Barangsiapa menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai perantara; ia berdoa kepada mereka, bertawakkal kepada mereka, dan memohon kepada mereka untuk mendatangkan manfaat dan menghindarkan mudharat—seperti memohon kepada mereka untuk meminta ampunan dosa, petunjuk hati, menghilangkan kesusahan, dan menutup kesempitan—maka dia adalah kafir menurut Ijma’ [kesepakatan] umat Islam”. [Baca: “Majmu’ al-Fatawa” (1/124)].

Ijma’ [kesepakatan] ini telah dikutip oleh lebih dari satu ulama yang mengakui hal ini.

Silahkan baca kitab “Al-Furuu’” oleh Ibnu Muflih (6/165), “Al-Inshāf” (10/327), “Kashf al-Qināʿ” (6/169), dan “Maṭholib Ūlī an-Nuḥā” (6/279).

Contoh ke [2]: Syirik rububiyah dan uluhiyah terkait dengan penetapan hukum syar’i:

Syirik rububiyah: Seseorang berkayakinan bahwa Syeikh Fulan atau Pendeta Fulan memiliki hak rububiyah untuk menetapkan syari’at atau hukum sya’ri. Contohnya: mengharamkan yang Allah halalkan atau menghalalkan yang Allah haramkan.

Adapun Syirik uluhiyahnya: jika seseorang mengamalkan apa yang diharamkan oleh syeikh atau pendeta tersebut, dengan niat sebagai bentuk kepatuhan dan ketaatan kepadanya.

Dalilnya banyak. Diantara dalilnya adalah:

Hadits Sahabat Adiy bin Hatim radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

أَتَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ وَفِي عُنُقِي صَلِيبٌ مِنْ ذَهَبٍ، فَقَالَ: «يَا عَدِيُّ اطْرَحْ هَذَا الْوَثَنَ مِنْ عُنُقِكَ!»، فَطَرَحْتُهُ فَانْتَهَيْتُ إِلَيْهِ وَهُوَ يَقْرَأُ سُورَةَ بَرَاءَةَ فَقَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ:

﴿اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللهِ﴾ [التوبة: 31] حَتَّى فَرَغَ مِنْهَا.

فَقُلْتُ: ‌إنَّا ‌لَسْنَا ‌نَعْبُدُهُمْ، فَقَالَ: «أَلَيْسَ يُحَرِّمُونَ مَا أَحَلَّ اللهُ فَتُحَرِّمُونُهُ، ويُحِلُّونَ مَا حَرَّمَ اللهُ فَتَسْتَحِلُّونَهُ؟» قُلْتُ: بَلَى، قَالَ: «فَتِلْكَ عِبَادَتُهُمْ»

Aku datang menemui Nabi ﷺ, sementara di leherku terdapat salib yang terbuat dari emas. Beliau bersabda, “Wahai ‘Adiy, lepaskanlah berhala ini dari lehermu!”

Maka aku pun melepaskannya.

Kemudian aku mendekati beliau ketika beliau ﷺ sedang membaca Surah Bara’ah (At-Taubah). Beliau ﷺ membaca ayat ini hingga selesai:

﴿اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ﴾

‘Mereka menjadikan para pendeta dan rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah.” (QS. At-Taubah: 31).

Lalu aku berkata, “Sesungguhnya kami tidak pernah menyembah mereka.”

Beliau ﷺ bersabda, “Bukankah mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, lalu kalian pun mengharamkannya, dan mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah, lalu kalian pun menganggapnya halal?”

Aku menjawab, “Benar.” Lalu beliau ﷺ bersabda, “Itulah bentuk penyembahan kalian kepada mereka.”

[HR. Bukhori dalam Tarikh al-Kabiir 7/106 no. 471, at-Tirmidzi no. 3095 dan ath-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabiir 17/92 no. 218].

Di hukumi hasan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Haqiqotul Islam wal Iman no. 111, oleh Syeikh Al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzy. Dan dihukumi hasan shahih oleh Ibnu Abdil Barr dalam al-Istii’ab 3/1054.

Contoh ke [3]: Syirik rububiyah dan uluhiyah terkait pengetahuan perkara ghaib.

Syirik rububiyah: Seseorang percaya bahwa Habib Fulan, atau Kiyai Fulan atau Paranormal Fulan bisa menyingkap tabir ghaib.

Syirik uluhiyah: Seseorang mendatangi mereka, dengan tujuan untuk konsultasi masalah ghaib disertai dengan keyakinan bahwa mereka bisa menyingkap tabir ghaib.

Dalilnya sangat banyak, diantaranya:

Firman Allah SWT:

﴿ وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ ﴾.

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz). (QS. Al-An’am: 59).

Dan firman-Nya:

﴿ قُلْ لا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلا مَا يُوحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الأعْمَى وَالْبَصِيرُ أَفَلا تَتَفَكَّرُونَ ﴾.

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku tidak mengatakan kepada kalian, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang gaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepada kalian bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?” Maka apakah kamu tidak memikirkan (nya)? “. (QS. Al-An’am: 50)

Dari Abu Hurairah dan al-Hasan, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

«مَنْ أَتَى كَاهِنًا، أَوْ عَرَّافًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ».

“Barang siapa mendatangi dukun atau peramal, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ.”

[Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad, 15/331, no. 9536. Sanadnya Hasan]

Contoh-contoh diatas adalah termasuk dari bentuk-bentuk syirik rububiyah dan uluhiyah di masa jahiliyah. Dan masih ada banyak lagi bentuk-bentuk lainnya, sebagaimana yang akan saya uraikan di artikel ini insya Allah.

===***===

DEFINISI TAUHID TAUHID ULUHIYAH DAN RUBIBIYAH

****

PERTAMA: DEFINISI TAUHID ULUHIYAH

Adapun kata uluhiyah (الْأُلُوهِيَّة), itu bermakna ibadah.

Kata ini digunakan dalam bentuk ulūhah (أُلُوهَةٌ) dan ilāhah (إِلَاهَةٌ). Para ahli bahasa mengatakan:

هُوَ التَّعَبُّدُ وَالتَّنَسُّكُ، وَالتَّأْلِيهُ هُوَ التَّعْبِيدُ

“Bahwa ta’alluh berarti beribadah dan beribadah dengan penuh ketekunan, sedangkan ta’līh berarti menjadikan sesuatu sebagai objek ibadah.

Mereka juga mengatakan:

إِلَاهٌ عَلَى وَزْنِ فِعَالٍ هُوَ بِمَعْنَى مَفْعُولٍ، أَيْ: مَأْلُوهٌ بِمَعْنَى مَعْبُودٍ، سَوَاءٌ كَانَ مَعْبُودًا بِحَقٍّ أَمْ بِبَاطِلٍ، فَالْإِلَهُ هُوَ الْمَعْبُودُ.

“ilaah dengan pola fi‘aal bermakna maf‘ūl, yaitu ma’lūh yang berarti sesuatu yang disembah, baik yang disembah secara benar maupun secara batil. Jadi, ilāh adalah sesuatu yang disembah. [Lihat: Lisān al-‘Arab dan al-Qāmūs al-Muhīth].

Dari sini menjadi jelas bahwa uluhiyah bermakna ibadah, bukan bermakna “keadaan sebagai Tuhan (الْكَوْنُ إِلَهًا)”. Penggunaan kata uluhiyah dengan makna tersebut dalam perkataan banyak ulama merupakan kekeliruan bahasa.

Adapun kata yang tepat digunakan untuk makna tersebut adalah ilahiyah «الْإِلَهِيَّةِ», yaitu mashdar ja‘li (جَعْلِيٌّ) dari kata ilah (الْإِلَهُ). Inilah yang digunakan oleh para ulama yang memiliki ketelitian dalam masalah ini.

Dengan demikian, makna “la ilaha illallah” adalah:

لَا مَعْبُودَ بِحَقٍّ إِلَّا اللهُ

“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah”.

Maksudnya, tidak ada yang memiliki sifat-sifat yang menjadikannya berhak untuk disembah selain Allah. Sifat-sifat tersebut disebut sebagai

(خَوَاصُّ الْإِلَهِيَّةِ)

“Kekhususan-kekhususan ketuhanan”.

Yakni :

خَلْقُ الْعَالَمِ وَتَدْبِيرُهُ وَتَرْبِيَتُهُ، أَيْ تَبْلِيغُهُ إِلَى الْكَمَالِ شَيْئًا فَشَيْئًا، وَالْغِنَى الْمُطْلَقُ عَنْ غَيْرِهِ، وَافْتِقَارُ مَا سِوَاهُ إِلَيْهِ، وَتَفَرُّدُهُ بِحَقِّ التَّشْرِيعِ

“Menciptakan alam semesta, mengaturnya, memeliharanya—yakni mengantarkannya menuju kesempurnaan secara bertahap—tidak membutuhkan secara mutlak kepada selain-Nya, sementara seluruh selain-Nya membutuhkan-Nya, serta menjadi satu-satunya pihak yang memiliki hak menetapkan syariat”.

Dari sifat-sifat tersebut bercabang dan dibangunlah hak Allah untuk mendapatkan ibadah.

Dari penjelasan ini menjadi jelas bahwa tauhid ilahiyah, yaitu mengesakan Allah Ta’ala dalam ibadah, merupakan konsekuensi dari tauhid rububiyah, dibangun di atasnya, dan senantiasa menyertainya.

****

KEDUA : DEFINISI TAUHID RUBIBIYAH

Rububiyah (الرُّبُوبِيَّةُ) adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan sifat-sifat yang dimiliki oleh Rabb, Sang Pencipta, Yang Mahatinggi dan Mahamulia.

Yaitu:

الصِّفَاتُ الَّتِي يَقْتَضِيهَا كَوْنُهُ تَعَالَى رَبًّا.

Sifat-sifat yang dituntut oleh kedudukan-Nya sebagai Rabb.

Adapun makna kata Rabb (الرَّبُّ) adalah sbb:

فِي الْأَصْلِ مَصْدَرُ رَبَّ يَرُبُّ، يُقَالُ: رَبَّ فُلَانٌ الْوَلَدَ أَوِ الصَّبِيَّ أَوِ الْمَهْرَ يَرُبُّهُ رَبًّا، كَمَا يُقَالُ: رَبَّاهُ يُرَبِّيهِ تَرْبِيَةً، وَالتَّرْبِيَةُ –كَمَا يَقُولُونَ– تَبْلِيغُ الشَّيْءِ إِلَى الْكَمَالِ شَيْئًا فَشَيْئًا.

ثُمَّ نُقِلَتْ كَلِمَةُ الرَّبِّ مِنْ مَعْنَى الْمَصْدَرِ إِلَى مَعْنَى الْمُرَبِّي، ثُمَّ تُوُسِّعَ فِي مَعْنَاهَا فَأُطْلِقَتْ عَلَى السَّيِّدُ وَالْأَمِيرُ، وَمَالِكُ الشَّيْءِ، وَالْمُنْعِمُ، إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْمَعَانِي الْقَرِيبَةِ لِأَصْلِ مَعْنَاهُ.

Pada asalnya merupakan mashdar dari kata rabba-yarubbu.

Dikatakan: seseorang memelihara anak, anak kecil, atau anak kuda, dengan bentuk rabba, yarubbu, rabban. Sebagaimana dikatakan pula: rabbāhu yurabbīhi tarbiyatan. Adapun tarbiyah, sebagaimana yang mereka jelaskan, adalah mengantarkan sesuatu menuju kesempurnaan secara bertahap.

Kemudian kata Rabb dialihkan dari makna mashdar kepada makna الْمُرَبِّي (yang menata, mengatur, memelihara, mengendalikan atau yang mendidik). Setelah itu, maknanya diperluas sehingga digunakan untuk makna السَّيِّدُ (tuan), الْأَمِيرُ (penguasa), مَالِكُ الشَّيْءِ (pemilik sesuatu), الْمُنْعِمُ (pemberi nikmat), dan makna-makna lainnya yang masih dekat dengan makna asalnya”.

Karena tarbiyah (pengaturan, penataan dan pemeliharaan) yang sebenarnya (التَّرْبِيَةُ الْحَقِيقِيَّةُ) terhadap seluruh makhluk dilakukan dengan menciptakan mereka sejak awal, memberikan kepada mereka sarana untuk tetap hidup, menjaga mereka, dan mengembangkan mereka, maka hal itu merupakan salah satu sifat Rabb Yang Mahatinggi dan Mahamulia. Dengan demikian, Dia adalah Rabb seluruh alam dan Rabb segala sesuatu.

Jadi, rububiyah adalah:

هِيَ الْوَصْفُ الْجَامِعُ لِكُلِّ صِفَاتِ اللهِ ذَاتِ الْعَلَاقَةِ وَالْأَثَرِ فِي مَخْلُوقَاتِهِ، وَاسْمُ الرَّبِّ هُوَ الِاسْمُ الدَّالُّ عَلَى كُلِّ هَذِهِ الصِّفَاتِ

“Sifat yang mencakup seluruh sifat Allah yang memiliki hubungan dan pengaruh terhadap makhluk-Nya. Adapun nama Rabb merupakan nama yang menunjukkan seluruh sifat tersebut.

Makna Tauhid Rububiyah:

«تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ: هُوَ إِفْرَادُ اللهِ بِأَفْعَالِهِ»

“Tauhid Rububiyah adalah: mengesakan Allah dalam perbuatan-perbuatan-Nya.”

Perkataan nya, “Tauhid”:

أَنْ يَعْتَقِدَ الْعَبْدُ أَنَّ اللهَ خَالِقٌ، وَرَازِقٌ، وَمُدَبِّرٌ، وَسَيِّدُ كُلِّ شَيْءٍ.

Tauhid adalah mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam penciptaan, pengaturan, kepemilikan, kekuasaan, serta mengesakan-Nya dalam ibadah dan nama-nama serta sifat-sifat-Nya.

Perkataan beliau, “Rububiyah”: Rububiyah merupakan salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kata ini diambil dari nama ar-Rabb. Dalam bahasa Arab, ar-Rabb memiliki beberapa makna, di antaranya pemilik, penguasa yang ditaati, dan pihak yang memperbaiki atau mengurus. [Lihat: Lisān al-‘Arab, materi “رَبَبَ]

Makna tauhid rububiyah adalah seorang hamba meyakini bahwa Allah adalah Pencipta, Pemberi rezeki, Pengatur, dan Penguasa segala sesuatu.

Dr. Khalid bin Mahmud bin Abdul Aziz al-Juhani dalam makalahnya “مَعْنَى تَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ”:

 قَوْلُهُ: «هُوَ إِفْرَادُ اللهِ بِأَفْعَالِهِ»: هَذَا تَعْرِيفُ تَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ فِي الشَّرْعِ.

وَأَفْعَالُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كَثِيرَةٌ، مِنْهَا: الْخَلْقُ، وَالرِّزْقُ، وَالسِّيَادَةُ، وَالْإِنْعَامُ، وَالتَّصْوِيرُ، وَالْعَطَاءُ وَالْمَنْعُ، وَالنَّفْعُ وَالضُّرُّ، وَالْإِحْيَاءُ وَالْإِمَاتَةُ، وَالتَّدْبِيرُ الْمُحْكَمُ، وَالْقَضَاءُ وَالْقَدَرُ، وَغَيْرُ ذَلِكَ مِنْ أَفْعَالِهِ الَّتِي لَا شَرِيكَ لَهُ فِيهَا، وَلِهَذَا فَإِنَّ الْوَاجِبَ عَلَى الْعَبْدِ أَنْ يُؤْمِنَ بِذَلِكَ كُلِّهِ.

Perkataan nya, “Ia adalah mengesakan Allah dalam perbuatan-perbuatan-Nya”: Ini merupakan definisi tauhid rububiyah menurut syariat.

Perbuatan-perbuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat banyak, di antaranya:

Menciptakan, memberi rezeki, menguasai, memberikan nikmat, membentuk rupa, memberi dan menahan, memberikan manfaat dan menimpakan mudarat, menghidupkan dan mematikan, mengatur segala sesuatu dengan penuh hikmah, menetapkan qadha dan qadar, serta berbagai perbuatan-Nya lainnya yang tidak memiliki sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu, seorang hamba wajib mengimani seluruh hal tersebut”. [Selesai]

Tauhid rububiyah dimaksudkan sebagai mengesakan Allah SWT dalam segala perbuatan-Nya, di antaranya: menciptakan, memberi rezeki, memiliki kerajaan, mengatur, memberi, menahan, menimpakan kemudaratan, memberikan manfaat, merendahkan, meninggikan, memuliakan, menghinakan, menghidupkan, mematikan, dan selain itu.

Ibnu Taimiyah berkata:

«الرَّبُّ سُبْحَانَهُ هُوَ الْمَالِكُ، الْمُدَبِّرُ، الْمُعْطِي، الْمَانِعُ، الضَّارُّ، النَّافِعُ، الْخَافِضُ، الرَّافِعُ، الْمُعِزُّ، الْمُذِلُّ».

“Rabb SWT adalah Pemilik, Pengatur, Pemberi, Pencegah, Pemberi kemudaratan, Pemberi manfaat, Yang merendahkan, Yang meninggikan, Yang memuliakan, dan Yang menghinakan.”

Ibnu Qayyim berkata:

«وَالرَّبُّ هُوَ السَّيِّدُ، وَالْمَالِكُ، وَالْمُنْعِمُ، وَالْمُرَبِّي، وَالْمُصْلِحُ، وَاللهُ تَعَالَى هُوَ الرَّبُّ بِهَذِهِ الِاعْتِبَارَاتِ كُلِّهَا».

“Rabb adalah tuan, pemilik, pemberi nikmat, pendidik, dan pembimbing kepada kemaslahatan. Allah Ta’ala adalah Rabb berdasarkan seluruh pengertian tersebut.”

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata:

«تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ هُوَ إِفْرَادُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِالْخَلْقِ، وَالْمُلْكِ، وَالتَّدْبِيرِ».

“Tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah SWT dalam penciptaan, kepemilikan, dan pengaturan.”

DALIL TAUHID RUBUBIYAH

Di antara dalil tentang tauhid rububiyah adalah firman Allah Ta’ala:

﴿ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ﴾

“Yang menguasai hari pembalasan.” [Al-Fatihah: 4]

Firman Allah Ta’ala:

﴿ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ ﴾

“Itulah Allah, Rabb kalian. Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, Pencipta segala sesuatu. Maka sembahlah Dia. Dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.” [Al-An‘am: 102]

Firman Allah Ta’ala:

﴿ قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ ﴾

“Katakanlah, ‘Siapakah yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi? Atau siapakah yang berkuasa atas pendengaran dan penglihatan? Siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup? Dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Mereka akan menjawab, ‘Allah.’ Maka katakanlah, ‘Mengapa kalian tidak bertakwa?’” [Yunus: 31]

Dari Abdullah bin asy-Syikhkhir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda,

«السَّيِّدُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى»

“Penguasa adalah Allah Tabaraka wa Ta’ala.”

[Shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (4806), an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra (10003), dan Ahmad (16307). Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani.]

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Pada suatu hari aku berada di belakang Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda:

«يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ، احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ، وَجَفَّتْ الصُّحُفُ»

“Wahai anak muda, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk menimpakan suatu mudarat kepadamu, mereka tidak akan dapat menimpakan mudarat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering.”

[Shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (2516), dan beliau berkata: “Hasan shahih”; Ahmad (2669), dan dishahihkan oleh Ahmad Syakir dan al-Albani.]

[1] Firman Allah SWT:

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ﴾

“Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu.” [Al-Baqarah: 21]

[2] Firman Allah SWT:

﴿وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آلِهَةً إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَنُ بِضُرٍّ لَا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلَا يُنْقِذُونِ إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ إِنِّي آمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ﴾

“Dan mengapa aku tidak menyembah Tuhan yang telah menciptakanku, dan hanya kepada-Nya kamu akan dikembalikan? Apakah aku akan mengambil sesembahan-sesembahan selain-Nya? Jika Yang Maha Pengasih menghendaki bencana terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak berguna sedikit pun bagiku dan mereka tidak dapat menyelamatkanku. Sesungguhnya jika demikian, aku benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu, maka dengarkanlah aku.” [Yasin: 22–25]

[3] Firman Allah SWT:

﴿رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا﴾

“Tuhan langit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya. Maka sembahlah Dia dan bersabarlah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya?” [Maryam: 65]

[4] Firman Allah SWT:

﴿وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللهِ آلِهَةً لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا﴾

“Dan mereka mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah yang tidak dapat menciptakan sesuatu apa pun, bahkan mereka sendiri diciptakan. Mereka tidak mampu menguasai mudhorat maupun manfaat bagi diri mereka sendiri, tidak pula menguasai kematian, kehidupan, ataupun kebangkitan.” [Al-Furqan: 3]

[5] Firman Allah SWT:

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ﴾

“Wahai manusia, ingatlah nikmat Allah kepada kalian. Adakah pencipta selain Allah yang memberikan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi? Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Maka bagaimana kalian dapat dipalingkan?” [Fathir: 3]

[6] Firman Allah SWT:

﴿أَلَّا يَسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي يُخْرِجُ الْخَبْءَ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ﴾

“agar mereka tidak bersujud kepada Allah yang mengeluarkan apa yang tersembunyi di langit dan di bumi.” [An-Naml: 25]

[7] Firman Allah SWT:

﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ﴾

“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan manusia, Raja manusia, sesembahan manusia.’” [An-Nas: 1–3]

Penjelasan dalam surah ini disampaikan dengan susunan yang rasional dan logis. Penetapan rububiyah Allah bagi manusia secara rasional dan logis mengharuskan penetapan bahwa Dia adalah Pemilik mereka; mereka adalah hamba-hamba-Nya dan Dia adalah Raja yang berkuasa atas mereka.

Dari kedua hal tersebut, secara rasional dan logis, mengharuskan penetapan uluhiyah Allah oleh mereka. Karena tidak ada Rabb bagi mereka selain Dia, maka tidak ada sesembahan bagi mereka selain Dia.

Kesimpulannya:

Telah tertanam dalam akal manusia bahwa siapa yang terbukti memiliki rububiyah, maka dia berhak untuk disembah. Sebaliknya, siapa yang tidak memiliki rububiyah, maka dia tidak berhak untuk disembah. Dengan demikian, penetapan rububiyah dan hak untuk disembah merupakan dua hal yang saling berkaitan, baik dalam syariat yang Allah tetapkan maupun dalam akal manusia.

Berdasarkan keyakinan adanya sekutu dalam rububiyah, kaum musyrik membangun keyakinan bahwa pihak-pihak yang mereka anggap sebagai Rabb selain Allah Ta’ala berhak untuk disembah. Ketika dasar ini runtuh dari dalam diri mereka, maka runtuh pula apa yang dibangun di atasnya, yaitu anggapan bahwa selain Allah berhak untuk disembah.

Seorang musyrik tidak akan mengakui bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah sampai dia mengakui bahwa hanya Dia Azza wa Jalla yang memiliki rububiyah.

Selama masih terdapat dalam dirinya keyakinan bahwa selain Dia memiliki rububiyah, keyakinan tersebut akan melahirkan anggapan bahwa pihak selain Allah itu berhak untuk disembah.

Oleh karena itu, bagi orang-orang yang memiliki pemahaman yang mendalam, sudah jelas bahwa tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah merupakan dua hal yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, baik dalam keyakinan maupun dalam kenyataan. Membagi tauhid menjadi tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah dengan anggapan bahwa keduanya terpisah dan tidak memiliki keterkaitan merupakan kesalahan yang jelas. Sebab, siapa yang mengakui bahwa tidak ada Rabb selain Allah, berarti dia mengakui bahwa tidak ada yang berhak disembah selain-Nya. Sebaliknya, siapa yang mengakui bahwa tidak ada yang berhak disembah selain-Nya, berarti dia mengakui bahwa tidak ada Rabb selain Dia. Inilah makna “la ilaha illallah” dalam hati seluruh kaum Muslimin.

Oleh karena itu, kita melihat Al-Qur’an dalam banyak tempat mencukupkan penyebutan salah satu dari keduanya sebagai petunjuk bagi yang lainnya.

Al-Qur’an juga menetapkan konsekuensi yang muncul dari tidak adanya salah satu dari keduanya sebagai dalil atas tidak adanya yang lain, sehingga dengan cara tersebut dapat dibuktikan keberadaannya.

Perhatikan firman Allah Ta’ala:

﴿لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللهُ لَفَسَدَتَا﴾.

“Seandainya di langit dan di bumi ada sesembahan-sesembahan selain Allah, niscaya keduanya telah binasa.” [Al-Anbiya: 22]

Dan firman Allah Ta’ala:

﴿وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَهٍ إِذًا لَذَهَبَ كُلُّ إِلَهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ﴾.

“Tidak ada suatu sesembahan pun bersama-Nya. Jika demikian, setiap sesembahan akan membawa apa yang telah diciptakannya, dan sebagian dari mereka tentu akan mengalahkan sebagian yang lain.” [Al-Mu’minun: 91]

Dalam kedua ayat tersebut, Allah menjadikan konsekuensi dari banyaknya sesembahan berupa kerusakan langit dan bumi sebagai konsekuensi dari banyaknya Rabb, untuk membuktikan bahwa Rabb itu tidak berbilang dan bahwa Dia adalah satu-satunya Rabb.

Di antara buah keimanan kepada rububiyah Allah:

[•] Ridha terhadap apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi seorang hamba, karena ia mengetahui bahwa Allah-lah yang mengatur seluruh urusannya.

[•] Tidak berkeluh kesah ketika tertimpa musibah dan ketika kehilangan sebagian kenikmatan dunia yang fana, karena Allah telah menetapkan segala sesuatu dan mengaturnya dengan pengaturan yang sempurna.

[•] Beriman kepada tauhid rububiyah menjadikan hati tenteram, aman, dan mendapatkan petunjuk menuju kebenaran.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ﴾

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” [Ar-Ra‘d: 28]

Jenis tauhid ini—yakni mengesakan Allah Azza wa Jalla dalam rububiyah-Nya—telah menjadi fitrah yang Allah tanamkan pada manusia.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ﴾

“Dan sungguh, jika kamu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan mereka?’ Niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah.’” (az-Zukhruf: 87).

Allah Ta’ala juga berfirman:

﴿قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ﴾

“Katakanlah, ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang berkuasa atas pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, serta siapakah yang mengatur segala urusan?’ Mereka akan menjawab, ‘Allah.’” (Yunus: 31).

Maka, keimanan terhadap keberadaan Allah Azza wa Jalla dan rububiyah-Nya merupakan perkara yang tidak diragukan dan tidak diperselisihkan oleh orang-orang yang memiliki akal yang sehat dan fitrah yang lurus. Allah Ta’ala berfirman:

﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾

“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.” (al-Fatihah: 2).

Allah Ta’ala juga berfirman:

﴿هَذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ﴾

“Ini adalah ciptaan Allah. Maka perlihatkanlah kepadaku apa yang telah diciptakan oleh mereka yang selain Dia.” (Luqman: 11).

Allah Ta’ala juga berfirman:

﴿أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ * أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لَا يُوقِنُونَ * أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ﴾

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi? Sebenarnya mereka tidak meyakini. Ataukah mereka memiliki perbendaharaan Rabbmu atau merekalah yang berkuasa mengaturnya?” (ath-Thur: 35–37).

Adapun orang yang mengalami penyimpangan dan kemunduran hingga fitrah yang lurus tercabut dari hatinya, lalu mengingkari keberadaan dan rububiyah Allah Azza wa Jalla, maka ia perlu melakukan penelitian dan perenungan terhadap dirinya sendiri serta memperhatikan dalil-dalil kauniyah dan ayat-ayat Al-Qur’an. Ia akan menemukan banyak sekali dalil yang jelas dan bukti yang kuat mengenai keberadaan dan rububiyah Allah Azza wa Jalla.

Ibnu Taimiyah berkata:

«إِنَّ الْإِقْرَارَ وَالِاعْتِرَافَ بِالْخَالِقِ فِطْرِيٌّ ضَرُورِيٌّ فِي نُفُوسِ النَّاسِ، وَإِنْ كَانَ بَعْضُ النَّاسِ قَدْ يَحْصُلُ لَهُ مَا يُفْسِدُ فِطْرَتَهُ حَتَّى يَحْتَاجَ إِلَى نَظَرٍ تَحْصُلُ لَهُ بِهِ الْمَعْرِفَةُ».

“Pengakuan dan pengenalan terhadap Sang Pencipta merupakan sesuatu yang bersifat fitrah dan pasti dalam jiwa manusia. Namun, sebagian manusia dapat mengalami sesuatu yang merusak fitrahnya sehingga ia membutuhkan pemikiran dan perenungan yang dengannya ia memperoleh pengetahuan.” [Baca: Majmu’ al-Fatawa 16/328]

Dan Allah Ta’ala berfirman:

﴿مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ * يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ﴾

“Apa saja rahmat yang Allah anugerahkan kepada manusia, maka tidak ada yang dapat menahannya; dan apa saja yang Dia tahan, maka tidak ada yang dapat melepaskannya setelah itu. Dan Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana. Wahai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?” (Fathir: 2–3).

Allah Ta’ala juga berfirman:

﴿وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ﴾

“Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Dia menghendaki kebaikan bagimu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya.” (Yunus: 107).

Allah Ta’ala juga berfirman:

﴿قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ﴾

“Katakanlah, ‘Maka apakah kamu memperhatikan apa yang kamu seru selain Allah? Jika Allah menghendaki kemudaratan terhadapku, apakah mereka dapat menghilangkan kemudaratan-Nya, atau jika Dia menghendaki rahmat bagiku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?’ Katakanlah, ‘Cukuplah Allah bagiku. Hanya kepada-Nya orang-orang yang bertawakal bertawakal.’” (az-Zumar: 38).

===

TERMASUK TAUHID RUBUBIYAH ADALAH
BERKEYAKINAN BAHWA HANYA ALLAH SWT YANG TAHU GHAIB

Hafizh al-Hakami berkata:

(عِلْمُ الْغَيْبِ مِنْ صِفَاتِ الرُّبُوبِيَّةِ الَّتِي اسْتَأْثَرَ اللهُ تَعَالَى بِهَا دُونَ مَنْ سِوَاهُ، فَلَا سَمِيَّ لَهُ وَلَا مُضَاهِيَ وَلَا مُشَارِكَ).

“Ilmu tentang perkara gaib termasuk sifat-sifat rububiyah yang Allah Ta’ala khususkan bagi diri-Nya dan tidak diberikan kepada selain-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya, tidak ada yang menyamai-Nya, dan tidak ada yang menjadi sekutu bagi-Nya.”

Lihat: Ma’arij al-Qabul, 2/571.

Hanya milik Allah kunci-kunci semua perkara ghaib, Allah SWT berfirman:

﴿ وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ ﴾.

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz). (QS. Al-An’am: 59).

Hanya Allah SWT saja yang mengetahui perkara ghaib. Karena Dia adalah ‘Allaamul Ghuyuub (Yang Maha Mengetahui Perkara-Perkara Ghaib) dan Dia adalah pemilik dan penentu semua syariat atas segala umat hingga Hari Kiamat.

Akal manusia tidak akan mampu untuk menyingkap tabir ghaib, kecuali jika ada wahyu dari Allah. Termasuk Nabi Muhammad ﷺ, beliau juga tidak mengetahui perkara ghaib, bahkan Nabi ﷺ dilarang mengatakan bahwa dirinya mengakui hal-hal yang ghaib.

Allah SWT memerintahkan kepada Nabi-Nya Muhammad ﷺ untuk memberitahukan kepada umat manusia bahwa tidak ada seorangpun di bumi maupun di langit yang mengetahui ilmu ghaib kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan sesungguhnya orang yang mengaku mengetahui ilmu yang ghaib, maka ia telah mendustakan Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang khabar ini.

PERINTAH ALLAH KEPADA NABI ﷺ UNTUK MENYAMPAIKAN BAHWA:

“HANYA ALLAH SAJA YANG TAHU GHAIB”:

Banyak sekali dalilnya dalam al-Qur’an dan s-Sunnah, diantaranya adalah sbb :

PERTAMA : DALIL DARI AL-QUR’AN

DALIL KE 1: 

Allah SWT berfirman:

﴿ قُلْ لاَ يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ ﴾

“Katakanlah, ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Allah,’ dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.” (QS. An-Naml: 65)

DALIL KE 2:

Allah Azza wa Jallaa berfirman:

﴿ قُلْ لا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلا مَا يُوحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الأعْمَى وَالْبَصِيرُ أَفَلا تَتَفَكَّرُونَ ﴾.

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku tidak mengatakan kepada kalian, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang gaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepada kalian bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?” Maka apakah kamu tidak memikirkan (nya)? “. (QS. Al-An’am: 50)

DALIL KE 3:

Bagaimana jika seandainya Nabi Muhammad ﷺ mengetahui perkara ghaib ? Allah telah menyatakan dalam firman Nya:

﴿ قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ ﴾

Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku tidak berkuasa mendapatkan kemanfaatan untuk diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku telah memperbanyak kebajikan dan aku tidak akan pernah ditimpa keburukan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Al-A’raf: 188).

DALIL KE 4:

Dan Allah SWT berfirman:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا. إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا. لِيَعْلَمَ أَنْ قَدْ أَبْلَغُوا رِسَالَاتِ رَبِّهِمْ وَأَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَأَحْصَىٰ كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا

 (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.

Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.

Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu. [QS. Al-Jin: 26-28]

DALIL KE 5:

Dan Allah SWT berfirman:

قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِّنَ الرُّسُلِ وَمَآ اَدْرِيْ مَا يُفْعَلُ بِيْ وَلَا بِكُمْۗ اِنْ اَتَّبِعُ اِلَّا مَا يُوْحٰٓى اِلَيَّ وَمَآ اَنَا۠ اِلَّا نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ

Katakanlah (Muhammad), “Aku bukanlah Rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak tahu apa yang akan diperbuat terhadapku dan terhadapmu. Aku hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku hanyalah pemberi peringatan yang menjelaskan.” [QS. Al-Ahqoof: 9].

DALIL KE 6:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا ﴿26﴾ إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا ﴿27﴾

“(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhohi-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan belakangnya” [QS. Al-Jin: 26-27]

----

KEDUA : DALII DARI AS-SUNNAH

DALIL KE 1 :

Termasuk kedustaan adalah orang yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ bisa melihat Tuhan-nya saat beliau masih hidup [makrifat].

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

مَن حَدَّثَكَ أنَّ مُحَمَّدًا ﷺ رَأَى رَبَّهُ، فقَدْ كَذَبَ، وهو يقولُ: ﴿ لَا تُدْرِكُهُ الأبْصَارُ﴾ [الأنعام: 103]، ومَن حَدَّثَكَ أنَّه يَعْلَمُ الغَيْبَ، فقَدْ كَذَبَ، وهو يقولُ: لا يَعْلَمُ الغَيْبَ إلَّا اللَّهُ

Barangsiapa mengatakan kepadamu bahwa Muhammad ﷺ melihat Tuhannya, maka dia telah berdusta, karena Dia berfirman: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata”[Al-An’am: 103]

Dan barang siapa yang mengatakan kepadamu bahwa dia mengetahui yang ghaib, maka dia telah berdusta, karena Dia berfirman: Hanya Allah yang mengetahui yang ghaib.
[HR. Bukhori no. 7380]

Jika saja Rosulullah ﷺ tidak bisa melihat Tuhannya, apalagi manusia biasa. Bahkan Nabi Musa alaihis salam juga tidak bisa melihat Tuhan-Nya saat di dunia, padahal Nabi Musa telah memohon pada-Nya. Sebagaimana yang Allah SWT firmankan:

﴿وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَٰكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ﴾

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan-nya telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa:

“Ya Tuhanku, tampakkanlah (dirimu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau”.

Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah pada gunung itu, jika ia [gunung itu tidak bergeser] dan tetap berada pada tempatnya (seperti sediakala) ; maka kamu pasti dapat melihat-Ku”.

Tatkala Tuhannya menampakkan diri pada gunung itu, maka gunung itu dijadikannya hancur luluh dan Musa pun jatuh tersungkur pingsan.

Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman”. [QS. Al-A’raf: 143]

DALIL KE 2:

Dari Abdullah bin Umar, bahwa Rosulullah ﷺ bersabda:

‌مَفَاتِيحُ ‌الغَيْبِ ‌خَمْسٌ، ‌لَا ‌يَعْلَمُهَا ‌إِلَّا ‌اللَّهُ: ‌لَا ‌يَعْلَمُ ‌مَا ‌تَغِيضُ ‌الأَرْحَامُ ‌إِلَّا ‌اللَّهُ، ‌وَلَا ‌يَعْلَمُ ‌مَا ‌فِي ‌غَدٍ ‌إِلَّا ‌اللَّهُ، وَلَا يَعْلَمُ مَتَى يَأْتِي المَطَرُ أَحَدٌ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا يَعْلَمُ مَتَى تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا اللَّهُ "

“Kunci-kunci yang ghaib itu ada lima, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah:

[1] Tidak ada yang mengetahui apa yang dikandung dalam rahim kecuali Allah.

[2] Tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi besok hari kecuali Allah.

[3] Tidak seorangpun tahu kapan akan turun hujan kecuali Allah.

[4] Tidak satupun jiwa tahu di bumi mana ia akan meninggal kecuali Allah.

[5] Dan tidak seorangpun tahu kapan hari kiamat akan terjadi kecuali Allah.”

[HR. Bukhori no. 7379]

DALIL KE 3:

Dari Abu Hurairah bahwa Rosulullah ﷺ bersabda:

‌فِي ‌خَمْسٍ ‌لَا ‌يَعْلَمُهُنَّ ‌إِلَّا ‌اللهُ، ‌ثُمَّ ‌تَلَا ‌ﷺ: ﴿إِنَّ اللهِ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ﴾ [لقمان: 34]

“’Lima perkara yang hanya Allah yang mengetahuinya.’ Kemudian beliau ﷺ membaca firman Allah Ta’aalaa:

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim.

Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” [QS. Luqman (31): 34].
[HR. Bukhori no. 48 dan Muslim no. 9]

DALIL KE 4:

Rabi’ binti Mu’awwadz bin ‘Afra’ radhiyallahu ‘anha menceritakan,

دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ ﷺ غَدَاةَ بُنِيَ عَلَيَّ، فَجَلَسَ عَلَى فِرَاشِي كَمَجْلِسِكَ مِنِّي، وَجُوَيْرِيَاتٌ يَضْرِبْنَ بِالدُّفِّ، يَنْدُبْنَ مَنْ قُتِلَ مِنْ آبَائِهِنَّ يَوْمَ بَدْرٍ، حَتَّى قَالَتْ جَارِيَةٌ: وَفِينَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ. فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: لاَ تَقُولِي هَكَذَا وَقُولِي مَا كُنْتِ تَقُولِينَ

”Nabi ﷺ datang menemuiku pada pagi hari ketika aku menikah, lalu beliau duduk di atas tempat tidurku seperti kamu duduk di dekatku. Lalu gadis-gadis kecil kami memukul rebana dan mengenang kebaikan bapak-bapak kami yang gugur dalam perang Badar. Ketika salah seorang dari mereka mengatakan,

“Dan di tengah kita ada seorang Nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi besok “

Maka beliau bersabda: ’Tinggalkan (perkataan) itu, dan katakanlah apa yang telah engkau ucapkan sebelumnya.’”

(HR. Bukhari no. 4001, Abu Dawud no. 4922, dan Tirmidzi no. 1090)

DALIL KE 5 :

Rosulullah ﷺ ketika memvonis hukum diantara dua orang yang berseteru, beliau memvonis berdasarkan apa yang beliau dengar dan lihat langsung dengan panca inderanya, bukan berdasarkan yang ghaib.

Dari Ummu Salamah ra: Bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ وَإِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَيَّ، وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَنْ يَكُونَ أَلْحَنَ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ فَأَقْضِي عَلَى نَحْوِ مَا أَسْمَعُ. فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ مِنْ حَقِّ أَخِيهِ شَيْئًا فَلاَ يَأْخُذْهُ، فَإِنَّمَا أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنْ النَّارِ.

Saya hanyalah manusia biasa, dan kalian mengadukan sengketa kepadaku, bisa jadi sebagian diantara kalian lebih pandai berargumentasu daripada yang lainnya, maka aku akan memutuskan perkara ini berdasarkan apa yang aku dengar.

Maka barang siapa yang kuputuskan (menang) untuknya ternyata di atas hak saudaranya, maka janganlah ia mengambilnya, sebab itu seakan-akan aku memberikan untuknya potongan api neraka. [HR. Bukhori no. 6634]

DALIL KE 6 :

Larangan mengklaim sesorang Ahli Surga, meski dia adalah sahabat Nabi ﷺ.

Dari Ya’qub dari Ibnu Syihab dari Kharijah bin Zaid bin Tsabit dari Ummul ‘Ala’ Al Anshariyah -dia adalah salah seorang wanita dari mereka-. Ya’qub berkata:

أَخْبَرْتُهُ أَنَّهَا بَايَعَتْ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ. قَالَ عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ فِي السُّكْنَى. قَالَ يَعْقُوبُ: طَارَ لَهُمْ فِي السُّكْنَى حِينَ اقْتَرَعَتِ الْأَنْصَارُ عَلَى سُكْنَى الْمُهَاجِرِينَ.

قَالَتْ أُمُّ الْعَلَاءِ: فَاشْتَكَى عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ عِنْدَنَا، فَمَرَّضْنَاهُ، حَتَّى إِذَا تُوُفِّيَ أَدْرَجْنَاهُ فِي أَثْوَابِهِ، فَدَخَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، فَقُلْتُ: رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْكَ يَا أَبَا السَّائِبِ، شَهَادَتِي عَلَيْكَ، لَقَدْ أَكْرَمَكَ اللَّهُ.

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «وَمَا يُدْرِيكِ أَنَّ اللَّهَ أَكْرَمَهُ؟» قَالَتْ: فَقُلْتُ: لَا أَدْرِي، بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي.

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «أَمَّا هُوَ فَقَدْ جَاءَهُ الْيَقِينُ مِنْ رَبِّهِ، وَإِنِّي لَأَرْجُو الْخَيْرَ لَهُ، وَاللَّهِ مَا أَدْرِي، وَأَنَا رَسُولُ اللَّهِ، مَا يُفْعَلُ بِي». قَالَ يَعْقُوبُ: بِهِ.

قَالَتْ: وَاللَّهِ لَا أُزَكِّي أَحَدًا بَعْدَهُ أَبَدًا. فَأَحْزَنَنِي ذَلِكَ، فَنِمْتُ، فَأُرِيتُ لِعُثْمَانَ عَيْنًا تَجْرِي، فَجِئْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ، فَأَخْبَرْتُهُ ذَلِكَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «ذَاكَ عَمَلُهُ».

“Aku menceritakan kepadanya, bahwa wanita itu adalah orang yang pernah berbaiat kepada Rasulullah ﷺ.” Sedangkan ‘Utsman bin Madz’un menyebutkan: (bahwa hal itu berkaitan dengan) Sukna (tempat tinggal).”

Ya’qub berkata: “Panah undian itu mengarah kepada mereka ketika orang-orang Anshar melakukan undian tentang tempat tinggal orang-orang Muhajirin.”

Ummul ‘Ala’ berkata: “Selanjutnya Utsman bin Madz’un mengeluhkan sakitnya di sisi kami kemudian kami merawatnya sampai ketika dia meninggal kami menyelimutinya dengan bajunya, kemudian datanglah Rasulullah ﷺ kepada kami.

Dan akupun berkata: “Semoga Rahmat Allah senantiasa di curahkan kepadamu wahai Abu As Sa’ib. Aku bersaksi atas kamu. Sungguh, Allah telah memuliakanmu.”

Rasulullah ﷺ kemudian bersabda: “Dari mana kamu tahu bahwa Allah telah memuliakannya?”

Ummul ‘Ala` berkata: “Maka aku menjawab: “Bapak dan ibuku sebagai tebusanmu. Aku tidak tahu.”

Lantas Rasulullah ﷺ bersabda: “Kematian dari Rabbnya telah datang kepadanya, aku berharap dia mendapatkan kebaikan. Demi Allah, mekipun aku seorang Nabi, aku tidak tahu apa yang akan aku rasakan.”

Ya’qub berkata: “Karena ucapan itu, maka Ummu ‘Ala` itu pun berkata: “Demi Allah, aku tidak akan lagi memuji seseorang setelahnya, sehingga hal itu membuat aku sedih. Kemudian aku bermimpi dan diperlihatkan kepadaku bahwa ‘Utsman mendapatkan mata air yang mengalir, maka aku mendatangi Rasulullah ﷺ dan menceritakan hal itu kepadanya.

Beliau ﷺ lalu bersabda: “Itu adalah amalan Utsman.” [Selesai]

Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq dia berkata telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Kharijah bin Zaid dia berkata, Ummul ‘Ala’ Al Anshariyah pernah berkata:

لَمَّا قَدِمَ الْمُهَاجِرُونَ الْمَدِينَةَ اقْتَرَعَتْ الْأَنْصَارُ عَلَى سَكَنِهِمْ فَطَارَ لَنَا عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ فِي السُّكْنَى فَذَكَرَتْ الْحَدِيثَ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ مَا أَدْرِي وَأَنَا رَسُولُ اللَّهِ مَا يُفْعَلُ بِي وَلَا بِكُمْ

“Ketika orang-orang Muhajirin tiba di Madinah, maka orang-orang Anshar melakukan Qur’ah (undian) untuk menentukan tempat tinggal mereka, maka keluarlah pilihan untuk kami ‘Utsman bin Madz’un…kemudian dia menyebutkan lafadz hadits. Hanya saja dia menyebutkan lafadz:

“Meskipun aku adalah utusan Allh [Rasulullah], namun aku tidak tahu apa yang akan Allah lakukan terhadap aku dan juga terhadap kalian.”

[HR. Ahmad no. 26186 dan Bukhori no. 2687, 1243. Dan lafadz ini adalah milik Imam Ahmad]

===***===

DALAM TAUHID ULUHIYAH TERKANDUNG TAUHID RUBUBIYAH

Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi dalam Syarh al-‘Aqidah ath-Thahawiyah berkata:

«وَتَوْحِيدُ الْإِلَهِيَّةِ مُتَضَمِّنٌ لِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ دُونَ الْعَكْسِ».

“Tauhid uluhiyah mengandung tauhid rububiyah, tetapi tidak sebaliknya.” [Lihat: Syarah al-‘Aqidah ath-Thohawiyah 1/41, Tahqiq Syu’aib al-Arna’uth].

Dua macam tauhid saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Tidak cukup tauhid rububiyah tanpa tauhid uluhiyah. Demikian pula, tauhid uluhiyah tidak sah dan tidak dapat tegak tanpa tauhid rububiyah.

Oleh karena itu, adanya kekurangan dan penyimpangan pada salah satu jenis tauhid tersebut merupakan kekurangan pada tauhid secara keseluruhan. Keduanya memiliki hubungan yang saling berkaitan, saling mencakup, dan bersifat menyeluruh.

Tauhid rububiyah mengharuskan tauhid uluhiyah, dan tauhid uluhiyah mencakup tauhid rububiyah

Ada sebuah ungkapan yang digunakan oleh para ulama akidah untuk menjelaskan hubungan antara tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah. Ungkapan tersebut dimaksudkan untuk menjelaskan keterkaitan yang pertama dengan yang kedua. Mereka mengatakan:

«تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ مُسْتَلْزِمٌ لِتَوْحِيدِ الْأُلُوهِيَّةِ. وَتَوْحِيدُ الْأُلُوهِيَّةِ مُتَضَمِّنٌ لِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ»

««Tauhid rububiyah mengharuskan adanya tauhid uluhiyah. Dan tauhid uluhiyah mengandung tauhid rububiyah»

Maksudnya, barang siapa meyakini bahwa Allah Ta’ala satu-satunya dalam rububiyah-Nya, bahwa Dia adalah Dzat yang memulai penciptaan dan mengembalikannya, bahwa Dia menciptakan segala sesuatu dengan kekuasaan-Nya dan mengaturnya dengan kehendak-Nya, maka Dia berhak untuk diagungkan dan diesakan dalam ibadah, bukan selain-Nya dari sesembahan-sesembahan yang batil, yang tidak dapat memberikan mudarat maupun manfaat, tidak dapat menciptakan maupun memberikan rezeki, serta tidak dapat menghidupkan maupun mematikan.

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala: “Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang Mahahidup, Yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya”(al-Baqarah: 255), berkata:

«قَوْلُهُ: ﴿لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ﴾، فَإِنَّهُ يَقْتَضِي انْفِرَادَهُ بِالْأُلُوهِيَّةِ، وَذَلِكَ يَتَضَمَّنُ انْفِرَادَهُ بِالرُّبُوبِيَّةِ، وَأَنَّ مَا سِوَاهُ عَبْدٌ لَهُ، مُفْتَقِرٌ إِلَيْهِ، وَأَنَّهُ خَالِقُ مَا سِوَاهُ، وَمَعْبُودُهُ».

“Firman-Nya: “Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia.” Kalimat tersebut mengharuskan hanya Dia satu-satunya yang bersifat uluhiyah, dan hal tersebut mencakup bahwa Dia satu-satunya yang bersifat rububiyah, bahwa segala sesuatu selain-Nya adalah hamba-Nya yang membutuhkan-Nya, dan bahwa Dia adalah Pencipta segala sesuatu selain-Nya serta sesembahan mereka.” [Baca: ash-Shofadiyah karya Ibnu Taimiyah 2/64]

Syaikh Abdul Muhsin bin Hamad al-‘Abbad al-Badr berkata dalam Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, 3/18:

«فَالْخُلَاصَةُ: أَنَّ تَوْحِيدَ الرُّبُوبِيَّةِ مُسْتَلْزِمٌ لِتَوْحِيدِ الْإِلَهِيَّةِ، وَتَوْحِيدُ الْإِلَهِيَّةِ مُتَضَمِّنٌ لِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ، بِمَعْنَى أَنَّ مَنْ وُجِدَ عِنْدَهُ تَوْحِيدُ الْإِلَهِيَّةِ فَقَدْ وُجِدَ عِنْدَهُ تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ ضِمْنًا، فَلَا يُعْقَلُ أَنْ يَعْبُدَ اللهَ وَحْدَهُ وَيَجْحَدَ رُبُوبِيَّتَهُ».

«Kesimpulannya, tauhid rububiyah mengharuskan tauhid uluhiyah, sedangkan tauhid uluhiyah mencakup tauhid rububiyah. Artinya, siapa yang memiliki tauhid uluhiyah, maka secara implisit ia juga memiliki tauhid rububiyah. Tidak mungkin seseorang hanya menyembah Allah semata, tetapi mengingkari rububiyah-Nya.»

Syaikh Bin Baz berkata:

«تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ يَسْتَلْزِمُ تَوْحِيدَ الْأُلُوهِيَّةِ وَيَدُلُّ عَلَيْهِ وَيُوجِبُهُ، وَتَوْحِيدُ الْأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ يَسْتَلْزِمُهُ، لِأَنَّ مَنْ كَانَ هُوَ الْخَلَّاقَ الرَّزَّاقَ وَالْمَالِكَ لِكُلِّ شَيْءٍ، فَهُوَ الْمُسْتَحِقُّ لِجَمِيعِ الْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى وَالصِّفَاتِ الْعُلَى، وَهُوَ الْكَامِلُ فِي ذَاتِهِ وَأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ، لَا شَرِيكَ لَهُ، وَلَا شَبِيهَ لَهُ، وَلَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ».

“Tauhid rububiyah mengharuskan tauhid uluhiyah, menunjukkan kepadanya, dan mewajibkannya. Tauhid nama-nama dan sifat-sifat Allah juga mengharuskan tauhid rububiyah, karena siapa yang merupakan Pencipta segala sesuatu, Pemberi rezeki, dan Pemilik segala sesuatu, maka Dia berhak atas seluruh nama yang indah dan sifat yang luhur. Dia adalah Dzat yang sempurna pada zat, nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-Nya. Tidak ada sekutu bagi-Nya dan tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Penglihatan tidak dapat melihat-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Lihat: IslamQa 1/642 no. 134921]

Bergitu pula yang dijabarkan oleh ‘Alwi bin Abdul Qodir as-Saqoof dalam ad-Duror as-Saniyyah:

وَالْعَلَاقَةُ بَيْنَ هَذِهِ الْأَقْسَامِ الثَّلَاثَةِ لِلتَّوْحِيدِ عَلَاقَةُ تَلَازُمٍ وَتَضَمُّنٍ وَشُمُولٍ، فَهِيَ تُكَوِّنُ بِمَجْمُوعِهَا أَرْكَانَ التَّوْحِيدِ الْوَاجِبِ، وَلَا يَكْمُلُ التَّوْحِيدُ إِلَّا بِاجْتِمَاعِ أَقْسَامِهِ الثَّلَاثَةِ، وَلَا يُمْكِنُ الِاسْتِغْنَاءُ بِبَعْضِهَا عَنْ بَعْضٍ، فَالْخَلَلُ وَالِانْحِرَافُ فِي أَيِّ نَوْعٍ مِنْهَا هُوَ خَلَلٌ فِي التَّوْحِيدِ كُلِّهِ.

فَتَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ مُسْتَلْزِمٌ لِتَوْحِيدِ الْأُلُوهِيَّةِ.

وَتَوْحِيدُ الْأُلُوهِيَّةِ مُتَضَمِّنٌ لِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ.

وَتَوْحِيدُ الْأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ شَامِلٌ لِلنَّوْعَيْنِ مَعًا.

فَمَنْ أَقَرَّ بِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ، وَعَلِمَ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ هُوَ الرَّبُّ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ فِي رُبُوبِيَّتِهِ، لَزِمَهُ مِنْ ذَلِكَ الْإِقْرَارُ بِوُجُوبِ إِفْرَادِ اللهِ بِالْعِبَادَةِ وَحْدَهُ؛ لِأَنَّهُ لَا يَسْتَحِقُّ الْعِبَادَةَ إِلَّا مَنْ كَانَ رَبًّا خَالِقًا مَالِكًا مُدَبِّرًا، فَمَا دَامَ أَنَّ ذَلِكَ كُلَّهُ لِلَّهِ وَحْدَهُ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ هُوَ الْمَعْبُودَ وَحْدَهُ.

وَيَكْثُرُ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ سَوْقُ آيَاتِ الرُّبُوبِيَّةِ مَقْرُونَةً بِآيَاتِ الدَّعْوَةِ إِلَى تَوْحِيدِ الْأُلُوهِيَّةِ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ . الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ﴾ [الْبَقَرَةِ: 21].

وَأَمَّا تَوْحِيدُ الْأُلُوهِيَّةِ فَهُوَ مُتَضَمِّنٌ لِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ؛ لِأَنَّ مَنْ عَبَدَ اللهَ وَلَمْ يُشْرِكْ بِهِ شَيْئًا، يَسْتَلْزِمُ إِيمَانُهُ بِأَنَّ اللهَ هُوَ رَبُّهُ وَمَالِكُهُ الَّذِي لَا رَبَّ غَيْرُهُ.

وَأَمَّا تَوْحِيدُ الْأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ فَهُوَ شَامِلٌ لِلنَّوْعَيْنِ مَعًا؛ لِأَنَّهُ يَقُومُ عَلَى إِفْرَادِ اللهِ تَعَالَى بِكُلِّ مَا لَهُ مِنَ الْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى، وَالصِّفَاتِ الْعُلَا الَّتِي لَا تَنْبَغِي إِلَّا لَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَالَّتِي مِنْ جُمْلَتِهَا: الرَّبُّ، الْخَالِقُ، الرَّازِقُ، الْمَلِكُ، وَهَذَا هُوَ تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ، وَمِنْ جُمْلَتِهَا: اللهُ، الْغَفُورُ، الرَّحِيمُ، التَّوَّابُ، وَهَذَا هُوَ تَوْحِيدُ الْأُلُوهِيَّةِ.

“Hubungan antara ketiga macam tauhid ini adalah hubungan saling berkaitan, mencakup, dan mengandung satu sama lain. Ketiganya secara keseluruhan membentuk rukun tauhid yang wajib. Tauhid tidak akan sempurna kecuali dengan terkumpulnya ketiga macam tersebut. Tidak mungkin seseorang merasa cukup dengan sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain. Oleh karena itu, adanya kekurangan dan penyimpangan pada salah satu macam tauhid merupakan kekurangan pada tauhid secara keseluruhan.

Tauhid rububiyah mengharuskan adanya tauhid uluhiyah.

Tauhid uluhiyah mengandung tauhid rububiyah.

Adapun tauhid nama-nama dan sifat-sifat Allah mencakup kedua macam tauhid tersebut sekaligus.

Barang siapa mengakui tauhid rububiyah dan mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya Rabb, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam rububiyah-Nya, maka konsekuensi dari pengakuan tersebut adalah meyakini wajibnya mengesakan Allah semata dalam ibadah. Sebab, tidak ada yang berhak disembah kecuali Dia yang merupakan Rabb, Pencipta, Pemilik, dan Pengatur. Selama semua itu hanya milik Allah semata, maka wajib pula Dia menjadi satu-satunya yang disembah.

Dalam Al-Qur’an sering kali ayat-ayat tentang rububiyah disebutkan bersamaan dengan ayat-ayat yang menyeru kepada tauhid uluhiyah, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Wahai manusia, sembahlah Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai bangunan, serta menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Maka janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” [Al-Baqarah: 21].

Adapun tauhid uluhiyah mengandung tauhid rububiyah.

Sebab, barang siapa menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, maka keimanannya mengharuskan ia meyakini bahwa Allah adalah Rabb dan Pemiliknya, yang tidak ada Rabb selain-Nya.

Adapun tauhid nama-nama dan sifat-sifat Allah mencakup kedua macam tauhid sekaligus. Sebab, tauhid ini dibangun di atas pengesaan Allah Ta’ala dengan seluruh nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang luhur, yang hanya layak bagi-Nya Subhanahu wa Ta’ala.

Di antaranya adalah: Ar-Rabb, Al-Khaliq (Pencipta), Ar-Razzaq (Pemberi rezeki), dan Al-Malik (Raja/Pemilik). Ini merupakan tauhid rububiyah.

Di antaranya pula adalah: Allah, Al-Ghafur (Maha Pengampun), Ar-Rahim (Maha Penyayang), dan At-Tawwab (Maha Penerima tobat). Ini merupakan tauhid uluhiyah”.

Kesimpulannya: Tauhid uluhiyah termasuk dalam cakupan umum tauhid rububiyah.

==***==

SYIRIK ULUHIYAH TIDAK TERPISAHKAN DARI SYIRIK RUBUBIYAH:

Pertanyaan:

Orang-orang musyrik pada masa jahiliah dahulu mengakui rububiyah Allah Ta‘ala. Lalu, mengapa mereka menyembah selain-Nya bersama-Nya?

Jawabannya: karena mereka meyakini bahwa selain Allah Ta‘ala juga berhak untuk disembah bersama-Nya.

Pertanyaan:

Jika orang-orang musyrik ingin meninggalkan kesyirikan dan hanya menyembah Allah Ta‘ala, apakah mereka harus mengubah keyakinan mereka dan meyakini bahwa hanya Allah Ta‘ala yang berhak disembah?

Jawabannya:

Tentu mereka harus melakukan hal tersebut.

Sebagaimana tauhid rububiyah tidak akan sempurna tanpa keyakinan tersebut.

Sebab, dakwah Rasulullah ﷺ kepada kaumnya agar hanya menyembah Allah Ta‘ala bukan semata-mata seruan untuk melakukan suatu amalan, tetapi juga seruan kepada mereka agar meninggalkan keyakinan mereka yang rusak dan beriman kepada keyakinan yang benar.

Orang-orang musyrik pada masa jahiliah meyakini bahwa Allah Ta‘ala adalah Rabb mereka. Namun, mereka juga meyakini bahwa berhala-berhala berhak menjadi tempat meminta kebutuhan mereka.

Meminta berbagai kebutuhan hanya dilakukan kepada Rabb, karena Dialah yang memiliki dan berkuasa atasnya.

Maka, mereka telah memberikan sebagian dari rububiyah kepada berhala-berhala mereka.

Ini berarti bahwa orang-orang musyrik pada masa jahiliah telah melakukan kesyirikan dalam rububiyah, sebagaimana mereka melakukan kesyirikan dalam uluhiyah.

Tauhid uluhiyah adalah meyakini bahwa hanya Allah Ta‘ala yang berhak disembah.

Allah Ta‘ala adalah Dzat yang memiliki rububiyah secara sempurna. Karena itu, tauhid dalam uluhiyah tidak akan terwujud kecuali dengan sifat tersebut.

Oleh karena itu, tauhid uluhiyah mencakup tauhid rububiyah.

Demikian pula, tauhid rububiyah mencakup tauhid uluhiyah.

Tauhid itu satu, hanya memiliki dua sisi penamaan.

Ketika kita memperhatikan makna rububiyah di dalamnya, kita menyebutnya tauhid rububiyah.

Ketika kita memperhatikan makna uluhiyah di dalamnya, kita menyebutnya tauhid uluhiyah.

Diantara dalilnya yang menunjukkan bahwa syirik uluhiyah tidak terpisahkan dari syirik rububiyah adalah bahwa ketika Allah Ta’ala mengambil perjanjian dari keturunan Adam, Dia berfirman kepada mereka:

﴿أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ﴾

“Bukankah Aku Rabb kalian?”

Dia tidak berfirman:

﴿أَلَسْتُ بِإِلَهِكُمْ﴾

“Bukankah Aku sesembahan kalian?”

Dengan demikian, Dia mencukupkan dari mereka pengakuan terhadap tauhid rububiyah. Sudah diketahui bahwa barang siapa mengakui rububiyah Allah, berarti ia juga mengakui uluhiyah-Nya, karena Rabb bukanlah selain sesembahan, bahkan Rabb itu sendiri adalah sesembahan.

Demikian pula, terdapat dalam hadits bahwa dua malaikat bertanya kepada seorang hamba di dalam kuburnya. Keduanya bertanya:

«مَنْ رَبُّكَ؟»

“Siapa Rabbmu?”

dan tidak bertanya:

«مَنْ إِلَهُكَ؟»

“Siapa sesembahanmu?”

Hal ini menunjukkan bahwa tauhid rububiyah mencakup tauhid uluhiyah.

Sungguh sangat mengherankan dengan sikap seorang da’i yang mengklaim dirinya ahli tauhid yang maha sempurna, dia senantiasa berkata kepada sesama kaum muslimin yang tidak se manhaj dengannya:

أَنْتَ لَمْ تَعْرِفِ التَّوْحِيدَ، التَّوْحِيدُ نَوْعَانِ: تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ الَّذِي أَقَرَّتْ بِهِ الْمُشْرِكُونَ وَالْكُفَّارُ، وَتَوْحِيدُ الْأُلُوهِيَّةِ الَّذِي أَقَرَّتْ بِهِ الْحُنَفَاءُ، وَهَذَا هُوَ الَّذِي يُدْخِلُكَ فِي دِينِ الْإِسْلَامِ، وَأَمَّا تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ فَلَا

“Engkau belum mengenal tauhid. Tauhid ada dua macam: tauhid rububiyah yang diakui oleh kaum musyrik dan orang-orang kafir, serta tauhid uluhiyah yang diakui oleh kaum hunafa. Inilah yang memasukkanmu ke dalam agama Islam. Adapun tauhid rububiyah, tidak demikian.”

Sungguh mengherankan! Apakah orang kafir memiliki tauhid yang benar?

Sebab, seandainya tauhidnya benar, tentu tauhid tersebut akan mengeluarkannya dari neraka, karena tidak akan ada seorang yang bertauhid yang tetap berada di dalamnya, sebagaimana ditegaskan oleh berbagai hadits.

Wahai kaum Muslimin, apakah kalian pernah mendengar dalam hadits dan sirah bahwa Rasulullah ﷺ, ketika orang-orang Arab pedalaman datang kepada beliau untuk masuk Islam melalui beliau, menjelaskan kepada mereka secara terperinci tentang tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah?

Maka, betapa besar kedustaan dan kebohongan da’i tersebut terhadap Allah dan Rasul-Nya ini!

Sesungguhnya, barang siapa mengesakan Rabb, berarti ia telah mengesakan sesembahan. Dan barang siapa menyekutukan Rabb, berarti ia telah menyekutukan sesembahan. Kaum Muslimin tidak memiliki sesembahan selain Rabb.

Apabila mereka mengucapkan:

«لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ»، يَعْتَقِدُونَ أَنَّهُ هُوَ رَبُّهُمْ

“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah”, mereka meyakini bahwa Dia adalah Rabb mereka.

Dengan demikian, mereka menafikan uluhiyah dari selain-Nya, sebagaimana mereka juga menafikan rububiyah dari selain-Nya, serta menetapkan keesaan bagi-Nya dalam zat, sifat-sifat, dan perbuatan-Nya.

Ada sekelompok dari umat Islam yang menegaskan:

«إِنَّ الرُّسُلَ لَمْ يُبْعَثُوا إِلَّا لِتَوْحِيدِ الْأُلُوهِيَّةِ، وَهُوَ إِفْرَادُ اللهِ بِالْعِبَادَةِ، وَأَمَّا تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ، وَهُوَ اعْتِقَادُ أَنَّ اللهَ رَبُّ الْعَالَمِينَ الْمُتَصَرِّفُ فِي أُمُورِهِمْ، فَلَمْ يُخَالِفْ فِيهِ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، بِدَلِيلِ قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللهُ﴾». اهـ

“Sesungguhnya para rasul tidaklah diutus kecuali untuk mengajarkan tauhid uluhiyah, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah. Adapun tauhid rububiyah, yaitu meyakini bahwa Allah adalah Rabb semesta alam yang mengatur urusan mereka, maka tidak seorang pun dari kalangan kaum musyrik dan kaum Muslimin yang menyelisihinya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala: “Dan sungguh, jika engkau bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah.’” Selesai.

Perkataan mereka ini tertolak dan batil dalam klaim mereka yang menyamakan kaum musyrik dan kaum Muslimin dalam tauhid rububiyah.

Adapun pengakuan kaum musyrik bahwa Allah menciptakan langit dan bumi, maka itu hanyalah pengakuan dengan lisan mereka atau mereka menetapkan bagi Allah SWT sebagai Rabb pencipta alam semesta, namun tidak menafikan adanya keyakinan mereka bahwa berhala-berhala yang mereka sembah itu juga memiliki kemampuan rububiyah yang lebih rendah dari itu, seperti rububiyah mendatangkan keberuntungan dan menolak kesialan, atau menurunkan hujan dan menahannya (kemarau) atau membawa kejayaan dan kemenangan dalam peperangan atau lainnya.

Dalil lain yang menujukkan bahwa syirik uluhiyah tidak terpisah dari syirik rububiyah adalah firman Allah Ta’ala yang mengisahkan ucapan Yusuf ‘alaihissalam kepada kedua penghuni penjara ketika beliau menyeru keduanya kepada tauhid:

﴿أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ﴾

“Apakah rabb-rabb yang tersebar bermacam-macam itu lebih baik ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa?” [QS. Yusuf: 39]

Dengan demikian, Yusuf ‘alaihissalam menyeru mereka kepada mengesakan Rabb yang berhak disembah, yaitu Allah Ta’ala.

Adapun firman Allah Ta’ala:

﴿وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللهُ﴾

“Dan sungguh, jika engkau bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah.’”

﴿وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَرَأَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ ۚ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ ۖ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ﴾

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nya-lah bertawakkal orang-orang yang berserah diri. [QS. Az-Zumar: 38]

Maka mereka menetapkan sifat rububiyah yang Maha Besar bagi Allah, namun dalam waktu yang sama mereka juga menetapkan sebagian sifat rububiyah pada berhala-barhala mereka.   

Atau mereka mengucapkan dengan lisan mereka sesuatu yang tidak terdapat dalam hati mereka, sebagai jawaban karena tuntutan keadaan, dan mereka terpaksa mengucapkannya berdasarkan hujah-hujah yang pasti dan ayat-ayat yang jelas.

Bisa jadi mereka mengucapkan sesuatu yang hampir tidak menetap dalam hati mereka atau tidak sampai ke dalam jiwa mereka.

Buktinya, mereka mengiringi perkataan tersebut dengan sesuatu yang menunjukkan kedustaan mereka, yaitu bahwa mereka menisbatkan kemudaratan dan manfaat kepada selain-Nya.

Bukti lainnya adalah bahwa mereka benar-benar tidak mengenal Allah, bahkan mereka mendahulukan selain-Nya daripada-Nya, sampai dalam perkara-perkara kecil sekalipun.

Jika engkau mau, perhatikanlah ucapan mereka kepada Hud ‘alaihisshalatu wassalam:

﴿إِنْ نَقُولُ إِلَّا اعْتَرَاكَ بَعْضُ آلِهَتِنَا بِسُوءٍ﴾

“Kami tidak mengatakan apa-apa selain bahwa sebagian sesembahan kami telah menimpakan keburukan kepadamu.”

Lalu, bagaimana mungkin seseorang mengatakan:

(إِنَّهُمْ مُعْتَقِدُونَ أَنَّ الْأَصْنَامَ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ)

“Sesungguhnya mereka meyakini bahwa berhala-berhala tidak dapat memberikan kemudaratan dan manfaat,” dan seterusnya dari perkataannya?! [Baca: Juhud ‘Ulama al-Hanafiyyah karya Abu Abdillah Syamsuddin al-Afgaani 1/276]

Kemudian, perhatikan pula setelah itu ucapan kaum jahiliyah tentang sesaji dari hasil pertanian, perkebunan dan persembahan kurban dari hasil hewan ternak mereka:

﴿هَذَا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَائِنَا فَمَا كَانَ لِشُرَكَائِهِمْ فَلَا يَصِلُ إِلَى اللهِ وَمَا كَانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَى شُرَكَائِهِمْ﴾

“Ini untuk Allah, menurut anggapan mereka, dan ini untuk sekutu-sekutu kami. Adapun yang diperuntukkan bagi sekutu-sekutu mereka, maka tidak sampai kepada Allah, sedangkan yang diperuntukkan bagi Allah, maka sampai kepada sekutu-sekutu mereka.”

Mereka bahkan lebih mendahulukan sesaji untuk sekutu-sekutu mereka daripada untuk Allah Ta’ala dalam perkara yang paling kecil dan paling remeh.

Allah Ta’ala juga berfirman untuk menjelaskan keyakinan mereka terhadap berhala-berhala:

وَمَا نَرَى مَعَكُمْ مِنْ شُفَعَائِكُمُ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ أَنَّهُمْ فِيكُمْ شُرَكَاءُ﴾

“Dan Kami tidak melihat bersama kalian para pemberi syafaat kalian yang dahulu kalian anggap bahwa mereka adalah sekutu-sekutu bagi kalian.” Allah menyebutkan bahwa mereka meyakini sesembahan-sesembahan tersebut sebagai sekutu bagi mereka.

Di antara buktinya adalah perkataan Abu Sufyan pada hari Perang Uhud:

«أَعْلُ هُبَلْ»

«Maha Tinggi Engkau, wahai Hubal!»

Maka Nabi ﷺ menjawabnya dengan sabda beliau:

«قُولُوا: اللَّهُ أَعْلَى وَأَجَلُّ»

“Katakanlah: Allah Mahatinggi dan Mahamulia.” [HR. Bukhori no. 3039]

Perhatikanlah hal ini, kemudian katakan kepadaku: Apa yang engkau lihat dari tauhid yang dinisbatkan oleh salah seorang ulama kepada mereka, ketika ia mengatakan:

(إِنَّهُمْ مُعْتَقِدُونَ أَنَّ الْأَصْنَامَ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ)

“Sesungguhnya dalam hal tersebut mereka sama persis dengan kaum Muslimin, dan perbedaan mereka hanyalah dalam tauhid uluhiyah”? [Baca: Juhud ‘Ulama al-Hanafiyyah karya Abu Abdillah Syamsuddin al-Afgaani 1/276]

 ===***===

PENJELASAN TENTANG SYIRIK ULUHIYAH

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

«الشِّرْكُ فِي الْإِلَهِيَّةِ هُوَ: أَنْ يَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا، أَيْ: مِثْلًا فِي عِبَادَتِهِ أَوْ مَحَبَّتِهِ أَوْ خَوْفِهِ أَوْ رَجَائِهِ أَوْ إِنَابَتِهِ؛ فَهَذَا هُوَ الشِّرْكُ الَّذِي لَا يَغْفِرُهُ اللَّهُ إِلَّا بِالتَّوْبَةِ».

“Syirik dalam ilahiyah adalah menjadikan tandingan bagi Allah, yaitu sesuatu yang disamakan dengan-Nya dalam ibadah, kecintaan, rasa takut, harapan, atau kembali kepada-Nya dengan bertobat. Inilah syirik yang tidak akan diampuni Allah kecuali dengan bertobat.”

[Lihat: Majmu‘ al-Fatawa, jilid 1, hlm. 91].

Di antara jenis syirik akbar (syirik besar) adalah syirik dalam uluhiyah. Dengan syirik ini, tauhid uluhiyah atau tauhid ilahiyah menjadi rusak. Jenis tauhid ini dinamakan demikian karena dibangun di atas penghambaan diri kepada Allah, yaitu ibadah yang disertai kecintaan dan pengagungan.

Tauhid ini juga disebut tauhid ibadah, karena seorang hamba beribadah hanya kepada Allah semata, bukan kepada selain-Nya.

Selain itu, tauhid ini disebut pula tauhid al-qashd wa ath-thalab (tauhid tujuan dan permohonan/ “تَوْحِيدُ الْقَصْدِ وَالطَّلَبِ”), karena seorang hamba tidak menghendaki dan tidak menujukan tujuannya kecuali untuk mengharapkan wajah Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Oleh karena itu, ia beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan dan agama hanya bagi-Nya.

Secara umum, maksud dari jenis tauhid ini adalah mengesakan Allah Ta‘ala semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan siapa pun, dalam seluruh jenis ibadah, baik ibadah hati, perbuatan, maupun ucapan.

Barang siapa tidak memurnikan ibadahnya hanya kepada Allah, berarti ia tidak melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya sehingga amalnya tidak diterima. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِيَ غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ»

“Allah Tabaraka wa Ta‘ala berfirman, ‘Aku adalah Zat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa melakukan suatu amal yang di dalamnya ia mempersekutukan selain-Ku bersama-Ku, maka Aku akan meninggalkannya beserta kesyirikannya.’”

[Diriwayatkan oleh Muslim (2985)].

Sabda Nabi ﷺ dalam hadits Mu’adz radhiyallahu ‘anhu yang disepakati kesahihannya:

«حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ، وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا».

“Hak Allah atas para hamba adalah mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (2856) dan Muslim (30)]

Dan sabda beliau:

«مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللهِ نِدًّا، دَخَلَ النَّارَ».

“Barang siapa meninggal dunia dalam keadaan berdoa kepada selain Allah sebagai tandingan bagi-Nya, niscaya ia masuk neraka.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (4497) dari hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu]

[Lihat: Al-Jawab al-Kafi, hlm. 131; Madarij as-Salikin, jilid 1, hlm. 348, keduanya karya Ibnu Qayyim. Lihat juga: Tahdzir as-Sajid min Ittikhadz al-Qubur Masajid, karya al-Albani, hlm. 74; Majmu‘ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin, jilid 7, hlm. 286; dan asy-Syirk fi al-Qadim wa al-Hadits, karya Abu Bakr Zakariya, jilid 1, hlm. 147].

****

MACAM-MACAM SYIRIK DALAM ULUHIYAH

Syirik dalam uluhiyah terbagi menjadi tiga macam:

Macam Pertama: 
Meyakini Adanya Sekutu bagi Allah Ta‘ala dalam Uluhiyah

Barang siapa meyakini bahwa selain Allah Ta‘ala berhak disembah bersama Allah, atau berhak mendapatkan salah satu jenis ibadah, berarti dengan keyakinan tersebut ia telah terjerumus ke dalam syirik uluhiyah. Lihat: Tafsir al-Qurthubi, jilid 5, hlm. 181; Taisir al-‘Aziz al-Hamid, karya Sulaiman Alusy Syaikh, hlm. 27; dan Majmu‘ Mu’allafat as-Sa‘di, jilid 8, hlm. 176.

Macam Kedua:
Memalingkan Niat dan Tujuan
Sebagian Ibadah kepada Selain Allah Ta‘ala

Seluruh ibadah, baik yang berkaitan dengan hati, perbuatan, maupun ucapan, merupakan hak Allah Ta‘ala semata. Tidak boleh memalingkan ibadah tersebut kepada selain-Nya. Barang siapa memalingkan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah, berarti ia telah terjerumus ke dalam syirik akbar. Jenis ini memiliki banyak bentuk yang dapat dikelompokkan menjadi dua:

1. Syirik dalam doa permohonan (دُعَاءُ الْمَسْأَلَةِ).

2. Syirik dalam doa ibadah (دُعَاءُ الْعِبَادَةِ).

Pertama: Syirik dalam Doa Permohonan (دُعَاءُ الْمَسْأَلَةِ)

Doa permohonan merupakan salah satu jenis ibadah yang paling penting.

Maksudnya adalah seorang hamba memohon kepada Rabbnya agar mendatangkan sesuatu yang diinginkan atau menghilangkan sesuatu yang ditakutinya.

Contohnya adalah memohon pertolongan, perlindungan, bantuan dalam keadaan darurat, dan sebagainya. Doa permohonan wajib ditujukan hanya kepada Allah Ta‘ala.

Barang siapa berdoa kepada selain Allah, berarti ia telah terjerumus ke dalam syirik akbar.

Contohnya adalah meminta kepada makhluk sesuatu yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah, baik makhluk itu masih hidup maupun sudah meninggal, seorang nabi, wali, malaikat, jin, ataupun makhluk lainnya. Misalnya, meminta agar makhluk tersebut menyembuhkan orang yang sakit, memberikan kemenangan atas musuh, menghilangkan kesulitan, memberikan pertolongan dalam keadaan darurat, atau memberikan perlindungan, serta hal-hal lain yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah.

Semua itu termasuk syirik akbar yang mengeluarkan pelakunya dari agama Islam berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.

Kedua: Syirik dalam Doa Ibadah (دُعَاءُ الْعِبَادَةِ)

Doa ibadah adalah beribadah kepada Allah Ta‘ala dengan berbagai bentuk ibadah hati, ucapan, dan perbuatan, seperti cinta, rasa takut, harapan, shalat, puasa, penyembelihan kurban, membaca Al-Qur’an, dan ibadah lainnya.

Jenis ibadah ini disebut “doa” karena orang yang beribadah kepada Allah melaksanakan berbagai ibadah tersebut dengan mengharapkan pahala-Nya dan takut terhadap hukuman-Nya, meskipun tidak menggunakan ungkapan permohonan dan permintaan secara langsung.

Dalil bagi dua jenis syirik diatas:

Al-Qur’an yang mulia dan hadits-hadits banyak memuat seruan kepada tauhid, penjelasan tentang syirik, serta peringatan agar menjauhinya, seperti syirik dalam doa, syirik dalam ketaatan, dan syirik dalam kecintaan.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ﴾

“Janganlah engkau berdo’a kepada selain Allah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak pula mendatangkan mudarat kepadamu. Jika engkau melakukan hal itu, sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zalim.” (QS. Yunus: 106)

Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata dalam tafsirnya (15/219):

«فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ»، يَقُولُ: مِنَ الْمُشْرِكِينَ بِاللَّهِ، الظَّالِمِي أَنْفُسِهِمْ. انْتَهَى.

“Sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zalim,” yakni termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah dan menzalimi diri mereka sendiri. Selesai kutipan.

Allah Ta’ala juga berfirman:

﴿إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ﴾

“Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak akan mendengar seruanmu. Sekiranya mereka mendengar, mereka juga tidak akan dapat mengabulkan permintaanmu. Pada hari Kiamat, mereka akan mengingkari perbuatan syirikmu. Tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu seperti Yang Maha Mengetahui.” (QS. Fatir: 14)

Allah Ta’ala juga berfirman:

﴿وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ﴾

“Barang siapa menyembah tuhan yang lain bersama Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang hal itu, maka sesungguhnya perhitungannya hanya ada pada Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan beruntung.” (QS. Al-Mu’minun: 117)

Allah Ta’ala juga berfirman:

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ﴾

“Di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat kuat cintanya kepada Allah. Seandainya orang-orang yang zalim itu mengetahui, ketika mereka melihat azab, bahwa seluruh kekuatan itu milik Allah dan bahwa Allah sangat keras azab-Nya, niscaya mereka tidak akan melakukan hal tersebut.” (QS. Al-Baqarah: 165)

Allah Ta’ala berfirman:

﴿فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ﴾

“Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)

Muhammad bin Ka‘ab berkata mengenai firman Allah Ta’ala, “Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah (karena Tuhanmu),”

«إِنَّ نَاسًا كَانُوا يُصَلُّونَ لِغَيْرِ اللَّهِ، وَيَنْحَرُونَ لِغَيْرِ اللَّهِ، فَإِذَا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ -يَا مُحَمَّدُ- فَلَا تَكُنْ صَلَاتُكَ وَنَحْرُكَ إِلَّا لِي».

“Sesungguhnya dahulu ada orang-orang yang melaksanakan shalat untuk selain Allah dan menyembelih kurban untuk selain Allah. Maka, setelah Kami memberikan kepadamu Al-Kautsar, wahai Muhammad, hendaklah shalat dan kurbanmu hanya untuk-Ku.”

[Lihat: Tafsir Ibnu Jarir (24/695)].

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ»

“Allah melaknat orang yang menyembelih kurban untuk selain Allah.”

[HR. Muslim, no. 1978].

Asy-Syaukani berkata:

«قَوْلُهُ ﷺ: (لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ)، الْمُرَادُ بِهِ أَنْ يَذْبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ تَعَالَى؛ كَمَنْ ذَبَحَ لِلصَّنَمِ، أَوِ الصَّلِيبِ، أَوْ لِمُوسَى أَوْ لِعِيسَى عَلَيْهِمَا السَّلَامُ، أَوْ لِلْكَعْبَةِ، وَنَحْوِ ذَلِكَ، فَكُلُّ هَذَا حَرَامٌ، وَلَا تَحِلُّ هَذِهِ الذَّبِيحَةُ، سَوَاءٌ كَانَ الذَّابِحُ مُسْلِمًا أَوْ كَافِرًا، وَإِلَيْهِ ذَهَبَ الشَّافِعِيُّ وَأَصْحَابُهُ، فَإِنْ قَصَدَ مَعَ ذَلِكَ تَعْظِيمَ الْمَذْبُوحِ لَهُ غَيْرِ اللَّهِ تَعَالَى وَالْعِبَادَةَ لَهُ، كَانَ ذَلِكَ كُفْرًا، فَإِنْ كَانَ الذَّابِحُ مُسْلِمًا قَبْلَ ذَلِكَ صَارَ بِالذَّبْحِ مُرْتَدًّا».

“Sabda beliau ﷺ, ‘Allah melaknat orang yang menyembelih kurban untuk selain Allah,’ maksudnya adalah menyembelih untuk selain Allah Ta’ala, seperti orang yang menyembelih untuk berhala, salib, Musa, Isa ‘alaihimassalam, Ka’bah, dan semisalnya. Semua perbuatan ini haram, dan hewan sembelihan tersebut tidak halal, baik orang yang menyembelihnya seorang Muslim maupun orang kafir. Inilah pendapat yang dipegang oleh asy-Syafi‘I dan para pengikutnya.

Apabila orang yang menyembelih itu juga bermaksud mengagungkan sesuatu yang menjadi tujuan penyembelihan tersebut selain Allah Ta’ala dan beribadah kepadanya, maka perbuatan itu merupakan kekufuran. Jika sebelumnya orang yang menyembelih itu seorang Muslim, maka dengan penyembelihan tersebut ia menjadi murtad.”

[Lihat: Nailul Authar (8/158)].

Jenis Ketiga: Syirik Uluhiyah dalam Hukum Syar’I dan Ketaatan

Syeikh Asy-Syinqithi berkata:

«دَلَّ الْقُرْآنُ فِي آيَاتٍ كَثِيرَةٍ عَلَى أَنَّهُ لَا حُكْمَ لِغَيْرِ اللَّهِ، وَأَنَّ اتِّبَاعَ تَشْرِيعِ غَيْرِهِ كُفْرٌ بِهِ».

“Al-Qur’an dalam banyak ayat menunjukkan bahwa tidak ada hukum selain hukum Allah dan bahwa mengikuti hukum-hukum syar’I selain hukum-Nya merupakan kekufuran kepada-Nya.” [Lihat: Adhwa’ al-Bayan, jilid 7, hlm. 48].

===***===

PENJELASAN TENTANG SYIRIK RUBUBIYAH

Syirik dalam rububiyah adalah:

الِاعْتِقَادُ أَنَّ ثَمَّةَ مُتَصَرِّفًا مَعَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي الْكَوْنِ بِالْخَلْقِ وَالتَّدْبِيرِ، أَوِ الْإِحْيَاءِ أَوِ الْإِمَاتَةِ، أَوْ جَلْبِ الْخَيْرِ أَوْ دَفْعِ الشَّرِّ، أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ مَعَانِي الرُّبُوبِيَّةِ، أَوِ اعْتِقَادُ مُنَازِعٍ وَشَرِيكٍ لَهُ سُبْحَانَهُ فِي شَيْءٍ مِنْ مُقْتَضَيَاتِ أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ، كَعِلْمِ الْغَيْبِ، وَالْعَظَمَةِ، وَالْكِبْرِيَاءِ.. وَنَحْوُ ذَلِكَ،

“Meyakini bahwa ada pihak lain selain Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi yang turut mengatur alam semesta dalam hal penciptaan dan pengaturan, menghidupkan dan mematikan, mendatangkan kebaikan dan menolak keburukan, atau perkara lainnya yang termasuk makna rububiyah.

Termasuk pula meyakini adanya pihak yang menandingi dan menjadi sekutu bagi-Nya dalam salah satu konsekuensi nama-nama dan sifat-sifat-Nya, seperti mengetahui perkara gaib, memiliki keagungan, kesombongan, dan semisalnya.

[Lihat: *A’lām al-Sunnah al-Manshūrah* karya Ḥāfidẓ al-Ḥakamī (hal. 24)]

Kelak, orang-orang yang melakukan syirik rububiyah akan berkata kepada sesembahan-sesembahan mereka di dalam neraka Jahanam, sebagaimana dalam firman Allah SWT:

﴿تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ. إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ﴾

“Demi Allah, sesungguhnya dahulu kami benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata, ketika kami menyamakan kalian dengan Rabb seluruh alam.” (Asy-Syu‘ara: 97–98)

Mereka telah menyamakan sesembahan-sesembahan tersebut dengan Allah dalam hal rububiyah.

Abu Utsman an-Nahdi radhiyallahu ‘anhu, berkata:

«كُنَّا في الجَاهِلِيَّةِ نَعْبُدُ حَجَرَاً، فَسَمِعْنَا مُنَادِيَاً يُنَادِي: يَا أَهْلَ الرِّحَال؛ ‌إِنَّ ‌رَبَّكُمْ ‌قَدْ ‌هَلَكَ ‌فَالْتَمِسُواْ ‌رَبَّاً؛ فَخَرَجْنَا عَلَى كُلِّ صَعْبٍ وَذَلُول [أَيْ رَكِبْنَا جِمَالَنَا] فَبَيْنَا نحْنُ كَذَلِكَ إِذْ سَمِعْنَا مُنَادِيَاً يُنَادِي: إِنَّا قَدْ وَجَدْنَا رَبَّكُمْ أَوْ شِبْهَهُ؛ فَجِئْنَا فَإِذَا حَجَرٌ؛ فَنَحَرْنَا عَلَيْهِ الجُزُر»

“Pada masa jahiliah, kami menyembah sebuah batu. Kemudian kami mendengar seseorang yang menyeru: ‘Wahai para penghuni tempat persinggahan, sesungguhnya Rabb kalian telah binasa. Maka carilah Rabb yang lain.’

Lalu kami berangkat dengan menunggangi unta kami, baik yang sulit maupun yang jinak. Ketika kami dalam perjalanan demikian, tiba-tiba kami mendengar seseorang yang menyeru:

‘Sesungguhnya kami telah menemukan Rabb kalian atau yang serupa dengannya.’

Kami pun datang, ternyata itu adalah sebuah batu. Lalu kami menyembelih unta-unta di atasnya.”

Abu Umar, Umar bin Mahmud, berkata: “Sanadnya hasan.” [Lihat: tahqiq Ma’arij al-Qabul, 2/469, catatan kaki no. 2]

Riwayat diatas dengan jelas menunjukkan bahwa kaum musyrikan jahiliyah menetapkan sifat rububiyah pada sesembahan-seambahan mereka, selain Allah SWT.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Dar’u Ta’arudh al-‘Aql wa an-Naql:

«إِنَّ الرَّبَّ سُبْحَانَهُ هُوَ الْمَلِكُ الْمُدَبِّرُ، الْمُعْطِي الْمَانِعُ، الضَّارُّ النَّافِعُ، الْخَافِضُ الرَّافِعُ، الْمُعِزُّ الْمُذِلُّ.

فَمَنْ شَهِدَ أَنَّ الْمُعْطِيَ أَوِ الْمَانِعَ، أَوِ الضَّارَّ أَوِ النَّافِعَ، أَوِ الْمُعِزَّ أَوِ الْمُذِلَّ، غَيْرُهُ (غَيْرُ اللهِ)، فَقَدْ أَشْرَكَ بِرُبُوبِيَّتِهِ».

“Sesungguhnya Rabb SWT adalah Raja yang mengatur, Pemberi, Pencegah, Pemberi kemudaratan, Pemberi manfaat, Yang merendahkan, Yang meninggikan, Yang memuliakan, dan Yang menghinakan. Barang siapa meyakini bahwa pemberi atau pencegah, pemberi kemudaratan atau pemberi manfaat, atau yang memuliakan atau yang menghinakan adalah selain-Nya (selain Allah), maka sungguh ia telah berbuat syirik dalam rububiyah-Nya.” [Lihat: Majmu’ al-Fatawa, 1/92].

Dan Ibnu Taimiyah juga berkata:

(فَأَمَّا الْأَوَّلُ، الشِّرْكُ فِي الرُّبُوبِيَّةِ، فَهُوَ إِثْبَاتُ فَاعِلٍ مُسْتَقِلٍّ غَيْرِ اللهِ، كَمَنْ يَجْعَلُ الْحَيَوَانَ مُسْتَقِلًّا بِإِحْدَاثِ فِعْلِهِ، وَيَجْعَلُ الْكَوَاكِبَ أَوِ الْأَجْسَامَ الطَّبِيعِيَّةَ، أَوِ الْعُقُولَ أَوِ النُّفُوسَ، أَوِ الْمَلَائِكَةَ، أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ: مُسْتَقِلًّا بِشَيْءٍ مِنَ الْأَحْدَاثِ، فَهَؤُلَاءِ حَقِيقَةُ قَوْلِهِمْ: تَعْطِيلُ الْحَوَادِثِ عَنِ الْفَاعِلِ...).

“Adapun yang pertama, yaitu syirik dalam rububiyah, adalah menetapkan adanya pelaku yang independen selain Allah.

Contohnya adalah: Orang yang menganggap hewan secara independen dapat menciptakan suatu perbuatan, atau menganggap bintang-bintang, benda-benda alamiah, akal, jiwa, malaikat, atau selainnya sebagai sesuatu yang independen dalam melakukan sebagian peristiwa. Hakikat perkataan mereka adalah meniadakan keterkaitan berbagai peristiwa dengan pelaku yang mewujudkannya.”

[Lihat: Dar’u Ta’arudh al-‘Aql wa an-Naql, 7/390].

Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah ar-Rajihi dalam Kitab Duruusun Fii al-‘Aqidah 7/10 berkata:

وَمِنْ أَمْثِلَتِهِ: شِرْكُ الْمَجُوسِ الْقَائِلِينَ بِخَالِقَيْنِ وَإِلَهَيْنِ: النُّورِ وَالظُّلْمَةِ، وَإِسْنَادُ حَوَادِثِ الْخَيْرِ إِلَى النُّورِ، وَحَوَادِثِ الشَّرِّ إِلَى الظُّلْمَةِ.

وَمِنْ أَمْثِلَتِهِ أَيْضًا: الشِّرْكُ الْمُثَلَّثُ مِنَ النَّصَارَى الْقَائِلِينَ: الْآلِهَةُ ثَلَاثَةٌ: الْأَبُ وَالِابْنُ وَرُوحُ الْقُدُسِ.

وَمِنْ أَمْثِلَةِ هَذَا النَّوْعِ أَيْضًا: شِرْكُ الصَّابِئَةِ الَّذِينَ يَقُولُونَ: إِنَّ الْكَوَاكِبَ الْعُلْوِيَّاتِ مُدَبِّرَةٌ لِأَمْرِ هَذَا الْعَالَمِ.

وَمِنْ أَمْثِلَةِ هَذَا النَّوْعِ مِنَ الشِّرْكِ: شِرْكُ غُلَاةِ عُبَّادِ الْقُبُورِ الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّ أَرْوَاحَ الْأَوْلِيَاءِ تَتَصَرَّفُ فِي هَذَا الْكَوْنِ، وَأَنَّ رُوحَ الْمَيِّتِ تَخْرُجُ وَتَتَصَرَّفُ فِي هَذَا الْكَوْنِ فَتَجْلِبُ نَفْعًا، وَتَدْفَعُ ضُرًّا، وَتُجِيبُ مَنْ دَعَاهَا، وَتَحْمِي مَنْ لَاذَ بِحِمَاهَا وَاسْتَجَارَ بِهَا، فَهَذَا شِرْكٌ فِي الرُّبُوبِيَّةِ.

وَمِنْ أَمْثِلَتِهِ أَيْضًا: شِرْكُ مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَجْمِ كَذَا أَوْ نَوْءِ كَذَا، مُعْتَقِدًا أَنَّ لِلنَّجْمِ تَأْثِيرًا فِي إِنْزَالِ الْمَطَرِ، وَقَدْ يُقَالُ: إِنَّ هَذَا دَاخِلٌ فِي شِرْكِ الصَّابِئَةِ.

“Di antara contohnya (yakni; syirik rububiyah) adalah kesyirikan kaum Majusi yang meyakini adanya dua pencipta makhluk dan dua sesembahan, yaitu cahaya dan kegelapan. Mereka menisbatkan berbagai peristiwa kebaikan kepada cahaya dan berbagai peristiwa keburukan kepada kegelapan.

Di antara contohnya juga adalah kesyirikan kaum Nasrani yang menganut konsep trinitas, yaitu mereka mengatakan bahwa sesembahan itu ada tiga: Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Di antara contoh jenis kesyirikan ini juga adalah kesyirikan kaum Shabi’ah yang mengatakan bahwa benda-benda langit memiliki peran dalam mengatur urusan alam semesta ini.

Di antara contoh jenis kesyirikan ini adalah kesyirikan para ekstremis penyembah kuburan yang menganggap bahwa roh para wali dapat mengatur berbagai urusan di alam ini. Mereka menganggap bahwa roh orang yang telah meninggal keluar dan dapat melakukan berbagai hal di alam ini, sehingga mendatangkan manfaat, menolak mudarat, memenuhi permintaan orang yang menyerunya, serta melindungi orang yang berlindung di bawah perlindungannya dan meminta pertolongan kepadanya. Ini merupakan kesyirikan dalam rububiyah.

Di antara contohnya juga adalah kesyirikan orang yang mengatakan, “Kami diberi hujan karena bintang ini atau karena munculnya bintang ini,” dengan meyakini bahwa bintang tersebut memiliki pengaruh dalam menurunkan hujan. Ada pula yang mengatakan bahwa hal ini termasuk dalam kesyirikan kaum Shabi’ah”.

Al-Qadhi ‘Iyadh berkata:

«فَصْلٌ فِي بَيَانِ مَا هُوَ مِنَ الْمَقَالَاتِ كُفْرٌ، وَمَا يُتَوَقَّفُ أَوْ يُخْتَلَفُ فِيهِ، وَمَا لَيْسَ بِكُفْرٍ:

اعْلَمْ أَنَّ تَحْقِيقَ هَذَا الْفَصْلِ وَكَشْفَ اللَّبْسِ فِيهِ مَوْرِدُهُ الشَّرْعُ، وَلَا مَجَالَ لِلْعَقْلِ فِيهِ، وَالْفَصْلُ الْبَيِّنُ فِي هَذَا أَنَّ كُلَّ مَقَالَةٍ صَرَّحَتْ بِنَفْيِ الرُّبُوبِيَّةِ أَوِ الْوَحْدَانِيَّةِ، أَوْ عِبَادَةِ أَحَدٍ غَيْرِ اللَّهِ أَوْ مَعَ اللَّهِ؛ فَهِيَ كُفْرٌ، كَمَقَالَةِ الدَّهْرِيَّةِ وَسَائِرِ فِرَقِ أَصْحَابِ الِاثْنَيْنِ [هُمُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا إِلَهَيْنِ اثْنَيْنِ؛ كَالْمَانَوِيَّةِ الْقَائِلِينَ بِالنُّورِ وَالظُّلْمَةِ، وَالْمُرَادُ هُنَا مُطْلَقُ التَّعَدُّدِ] مِنَ الدِّيصَانِيَّةِ وَالْمَانَوِيَّةِ وَأَشْبَاهِهِمْ مِنَ الصَّابِئِينَ وَالنَّصَارَى وَالْمَجُوسِ، وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا بِعِبَادَةِ الْأَوْثَانِ، أَوِ الْمَلَائِكَةِ، أَوِ الشَّيَاطِينِ، أَوِ الشَّمْسِ أَوِ النُّجُومِ، أَوِ النَّارِ، أَوْ أَحَدٍ غَيْرِ اللَّهِ مِنْ مُشْرِكِي الْعَرَبِ، وَأَهْلِ الْهِنْدِ وَالصِّينِ وَالسُّودَانِ، وَغَيْرِهِمْ مِمَّنْ لَا يَرْجِعُ إِلَى كِتَابٍ».

“Pasal tentang penjelasan mengenai pendapat-pendapat yang merupakan kekufuran, pendapat-pendapat yang hukumnya ditangguhkan atau diperselisihkan, dan pendapat-pendapat yang bukan merupakan kekufuran.

Ketahuilah bahwa dasar untuk menetapkan pembahasan ini dan menghilangkan kesamaran di dalamnya adalah syariat, dan tidak ada ruang bagi akal untuk menetapkannya. Penjelasan yang tegas dalam masalah ini adalah bahwa setiap pendapat yang secara terang-terangan menafikan rububiyah atau keesaan Allah, atau menyembah selain Allah atau menyembah selain-Nya bersama Allah, maka pendapat tersebut merupakan kekufuran.

Di antaranya adalah pendapat kaum Dahriyyah dan berbagai kelompok penganut dua prinsip ketuhanan [yaitu mereka yang meyakini adanya dua tuhan, seperti kaum Manawiyyah yang meyakini adanya cahaya dan kegelapan; yang dimaksud di sini adalah segala bentuk keyakinan tentang adanya lebih dari satu tuhan], seperti kelompok Daisaniyyah, Manawiyyah, dan kelompok-kelompok yang serupa dengan mereka dari kalangan Shabi’ah, Nasrani, dan Majusi.

Demikian pula orang-orang yang melakukan kesyirikan dengan menyembah berhala, malaikat, setan, matahari, bintang-bintang, api, atau siapa pun selain Allah dari kalangan orang-orang musyrik Arab, penduduk India, Cina, Sudan, dan selain mereka yang tidak berpegang kepada suatu kitab.

[Lihat: Asy-Syifa (2/282)].

Singkatnya:

Setiap keyakinan, perkataan, atau perbuatan yang mengandung pengingkaran terhadap sifat-sifat rububiyah Allah Ta’ala atau sebagian darinya, atau mengklaim salah satu dari sifat-sifat tersebut terdapat pada selain Allah, merupakan kekufuran dan kemurtadan.

Di antaranya adalah mengklaim diri sebagai Tuhan, sebagaimana yang dikatakan Fir’aun:

﴿أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى﴾

“Akulah Tuhanmu yang paling tinggi.” [An-Nazi’at: 24].

Demikian pula mengklaim memiliki kekuasaan untuk mengatur alam semesta tanpa Allah Ta’ala. Orang yang membenarkan klaim semacam ini juga menjadi kafir.

Di antara contohnya juga adalah:

[*] Meyakini bahwa Allah Ta’ala memiliki sekutu dalam kekuasaan, penciptaan, pemberian rezeki, menghidupkan, mematikan, dan mengatur.

[*] Meyakini bahwa para wali memiliki kekuasaan untuk mengatur alam semesta bersama Allah Ta’ala.

[*] Meyakini adanya pengaruh dan kekuasaan selain Allah Ta’ala, seperti rasi-rasi bintang, bintang-bintang, peredarannya, dan posisinya, terhadap kehidupan manusia.

[*] Meyakini bahwa makhluk dapat memberikan rezeki kepada makhluk lain, mencegah rezeki darinya, atau dapat memberikan mudarat maupun manfaat tanpa Allah Ta’ala.

[*] Meyakini bahwa ada seseorang selain Allah Ta’ala yang mengetahui perkara gaib.

[*] Meyakini bahwa Allah Ta’ala menyatu dengan makhluk-Nya atau bersemayam dalam makhluk-Nya.

[*] Meyakini bahwa kesembuhan berasal dari dokter atau obat, bukan dari Allah, atau meyakini bahwa keberhasilan seorang hamba dalam kehidupannya berasal dari kecerdasan, usaha, dan kesungguhannya, bukan dari Allah.

[*] Meyakini bahwa makhluk memiliki hak untuk membuat dan menetapkan hukum syar’i, serta menerapkannya dalam urusan harta dan kehormatan manusia tanpa berhukum dengan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala.

[*] Dan berbagai keyakinan lainnya yang bertentangan dengan iman dan membatalkannya.

[Lihat: Al-Iman: Haqiqatuhu Khawarimuhu Nawaqiduhu ‘Inda Ahlis Sunnah, karya Abdullah al-Atsari, hlm. 169; Nawaqidh al-Iman al-I’tiqadiyyah wa Dhawabith at-Takfir ‘Inda as-Salaf, karya Muhammad al-Wuhaibi, 2/86.]

***** 

RINCIAN PEMBAHASAN TERKAIT SYIRIK RUBUBIYAH DI MASA JAHILIYAH

Kaum musyrikin jahiliyah meyakini bahwa berhala-berhala yang mereka sembah memiliki kemampuan untuk menjadi perantara antara manusia dan Allah Ta’ala, serta diyakini pula memiliki rububiyah dalam mendatangkan manfaat atau menolak mudharat bagi mereka melalui kedudukan tersebut.

Keyakinan ini dibangun di atas sejumlah kemasan, gagasan dan persepsi dalam pemikiran jahiliah, di antara persepsi penetapannya adalah sebagai berikut:

====

PEMBAHASAN PERTAMA:
KEYAKINAN ADANYA RUBUBIYAH PADA BERHALA YANG MEREKA SEMBAH

Secara umum kaum musyrikin arab jahliyah, Makkah dan sekitarnya mengakui bahwa pencipta alam semesta adalah Allah SWT, dan Dia lah yang memiliki sifat rububiyah ilahiyah yang maha besar, mutlak dan absolut, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

﴿وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللهُ﴾

“Dan sungguh, jika engkau bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah.’”

Begitu pula pengaturan umum alam semesta, itu di tangan Allah. Sebagaima dalam firman-Nya:

﴿قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ. سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ﴾

Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?”. Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” [QS. Muminun: 86]

Hanya saja, meskipun mereka mengakui bahwa pengaturan umum alam semesta berada di tangan Allah, akan tetapi mereka juga meyakini bahwa masing-masing berhala tersebut memiliki kekuasaan dan pengaruh, serta karakteristik rububiyah tertentu, diantaranya menolong mereka dalam peperangan, melindungi perdagangan mereka, menurunkan hujan, dan menghilangkan kesulitan. Misalnya berhala: Hubal, Al-Laata, Al-‘Uzza dan Manat.

Hal itu tampak jelas dalam kisah Perang Uhud ketika Abu Sufyan bin Harb meneriakkan ungkapan kemenangan mereka:

أُعْلُ ‌هُبَلْ، ‌أُعْلُ ‌هُبَلْ

“Agungkanlah Hubal, agungkanlah Hubal.”

Maka Nabi ﷺ bersabda:

«أَلَا تُجِيبُوا لَهُ»

“Tidakkah kalian menjawab seruannya?”

Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kami katakan?”

Beliau bersabda:

«قُولُوا: اللَّهُ أَعْلَى وَأَجَلُّ»

“Katakanlah: Allah Mahatinggi dan Mahamulia.”

Lalu Abu Sufyan berkata:

إِنَّ لَنَا العُزَّى وَلَا عُزَّى لَكُمْ

“Sesungguhnya kami memiliki Al-‘Uzza, sedangkan kalian tidak memiliki Al-‘Uzza.”

Maka Nabi ﷺ bersabda:

«أَلَا تُجِيبُوا لَهُ؟»

“Tidakkah kalian menjawab seruannya?”

Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kami katakan?”

Beliau bersabda:

«قُولُوا اللَّهُ مَوْلَانَا، وَلَا مَوْلَى لَكُمْ»

“Katakanlah: Allah adalah Pelindung kami, sedangkan kalian tidak memiliki pelindung.”

[HR. Bukhori no. 3039]

Abu Utsman an-Nahdi radhiyallahu ‘anhu, berkata:

«كُنَّا في الجَاهِلِيَّةِ نَعْبُدُ حَجَرَاً، فَسَمِعْنَا مُنَادِيَاً يُنَادِي: يَا أَهْلَ الرِّحَال؛ ‌إِنَّ ‌رَبَّكُمْ ‌قَدْ ‌هَلَكَ ‌فَالْتَمِسُواْ ‌رَبَّاً؛ فَخَرَجْنَا عَلَى كُلِّ صَعْبٍ وَذَلُول [أَيْ رَكِبْنَا جِمَالَنَا] فَبَيْنَا نحْنُ كَذَلِكَ إِذْ سَمِعْنَا مُنَادِيَاً يُنَادِي: إِنَّا قَدْ وَجَدْنَا رَبَّكُمْ أَوْ شِبْهَهُ؛ فَجِئْنَا فَإِذَا حَجَرٌ؛ فَنَحَرْنَا عَلَيْهِ الجُزُر»

“Pada masa jahiliah, kami menyembah sebuah batu. Kemudian kami mendengar seseorang yang menyeru: ‘Wahai para penghuni tempat persinggahan, sesungguhnya Rabb kalian telah binasa. Maka carilah Rabb yang lain.’

Lalu kami berangkat dengan menunggangi unta kami, baik yang sulit maupun yang jinak. Ketika kami dalam perjalanan demikian, tiba-tiba kami mendengar seseorang yang menyeru:

‘Sesungguhnya kami telah menemukan Rabb kalian atau yang serupa dengannya.’

Kami pun datang, ternyata itu adalah sebuah batu. Lalu kami menyembelih unta-unta di atasnya.”

Abu Umar, Umar bin Mahmud, berkata: “Sanadnya hasan”. [Lihat: tahqiq Ma’arij al-Qabul, 2/469, catatan kaki no. 2]

Hadits-hadits diatas dengan jelas menunjukkan bahwa kaum musyrikan jahiliyah menetapkan sifat rububiyah pada sesembahan-seambahan mereka, selain Allah SWT.

Bahkan pada sebagian bangsa dan suku lainnya terdapat agama-agama yang meyakini bahwa pencipta dan pengatur alam semesta itu lebih dari satu Tuhan.  Mereka adalah orang-orang yang meyakini bahwa sesembahan yang mereka sembah merupakan sekutu bagi Allah dalam mengatur alam dan mengendalikan segala sesuatu di dalamnya.

Mereka terdiri atas banyak golongan. Di antara mereka adalah penganut keyakinan dua tuhan dan penganut keyakinan tiga tuhan. Ada pula yang meyakini jumlah tuhan yang lebih banyak daripada itu.

Para penganut keyakinan syirik ini memiliki beberapa rabb yang mereka anggap sama-sama memiliki bagian dari rububiyah dan bagian dalam mengatur berbagai urusan alam semesata.

Mereka terkadang mewujudkan rabb-rabb tersebut dalam bentuk jasmani atau benda-benda material, atau meyakini bahwa rabb-rabb tersebut dapat menyatu dalam benda-benda material, atau menampakkan diri dalam bentuk manusia.

Contohnya: seperti dalam agama Hindu: Berhala Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa, yang dikenal sebagai Trimurti.

1]. Dewa Brahma (Sang Pencipta – Utpeti). Diyakini sebagai dewa pencipta alam semesta beserta segala isi dan kehidupan di dalamnya.

2]. Dewa Wisnu (Sang Pemelihara – Stiti). Dewa yang memelihara, menjaga, merawat, dan melindungi alam semesta serta menegakkan kebenaran (dharma) ketika dunia terancam oleh kebatilan (adharma).

3]. Dewa Siwa (Sang Pelebur/Pemusnah – Pralina). Dewa yang Melebur atau mempralina (mengembalikan ke unsur asal) alam semesta beserta isinya yang sudah tua atau rusak, untuk kemudian memberi jalan bagi penciptaan yang baru.

Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah ar-Rajihi dalam Kitab Duruusun Fii al-‘Aqidah 7/10 berkata:

وَمِنْ أَمْثِلَتِهِ: شِرْكُ الْمَجُوسِ الْقَائِلِينَ بِخَالِقَيْنِ وَإِلَهَيْنِ: النُّورِ وَالظُّلْمَةِ، وَإِسْنَادُ حَوَادِثِ الْخَيْرِ إِلَى النُّورِ، وَحَوَادِثِ الشَّرِّ إِلَى الظُّلْمَةِ.

وَمِنْ أَمْثِلَتِهِ أَيْضًا: الشِّرْكُ الْمُثَلَّثُ مِنَ النَّصَارَى الْقَائِلِينَ: الْآلِهَةُ ثَلَاثَةٌ: الْأَبُ وَالِابْنُ وَرُوحُ الْقُدُسِ.

وَمِنْ أَمْثِلَةِ هَذَا النَّوْعِ أَيْضًا: شِرْكُ الصَّابِئَةِ الَّذِينَ يَقُولُونَ: إِنَّ الْكَوَاكِبَ الْعُلْوِيَّاتِ مُدَبِّرَةٌ لِأَمْرِ هَذَا الْعَالَمِ.

وَمِنْ أَمْثِلَةِ هَذَا النَّوْعِ مِنَ الشِّرْكِ: شِرْكُ غُلَاةِ عُبَّادِ الْقُبُورِ الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّ أَرْوَاحَ الْأَوْلِيَاءِ تَتَصَرَّفُ فِي هَذَا الْكَوْنِ، وَأَنَّ رُوحَ الْمَيِّتِ تَخْرُجُ وَتَتَصَرَّفُ فِي هَذَا الْكَوْنِ فَتَجْلِبُ نَفْعًا، وَتَدْفَعُ ضُرًّا، وَتُجِيبُ مَنْ دَعَاهَا، وَتَحْمِي مَنْ لَاذَ بِحِمَاهَا وَاسْتَجَارَ بِهَا، فَهَذَا شِرْكٌ فِي الرُّبُوبِيَّةِ.

وَمِنْ أَمْثِلَتِهِ أَيْضًا: شِرْكُ مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَجْمِ كَذَا أَوْ نَوْءِ كَذَا، مُعْتَقِدًا أَنَّ لِلنَّجْمِ تَأْثِيرًا فِي إِنْزَالِ الْمَطَرِ، وَقَدْ يُقَالُ: إِنَّ هَذَا دَاخِلٌ فِي شِرْكِ الصَّابِئَةِ.

“Di antara contohnya (yakni; syirik rububiyah) adalah kesyirikan kaum Majusi yang meyakini adanya dua pencipta makhluk dan dua sesembahan, yaitu cahaya dan kegelapan. Mereka menisbatkan berbagai peristiwa kebaikan kepada cahaya dan berbagai peristiwa keburukan kepada kegelapan.

Di antara contohnya juga adalah kesyirikan kaum Nasrani yang menganut konsep trinitas, yaitu mereka mengatakan bahwa sesembahan itu ada tiga: Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Di antara contoh jenis kesyirikan ini juga adalah kesyirikan kaum Shabi’ah yang mengatakan bahwa benda-benda langit memiliki peran dalam mengatur urusan alam semesta ini.

Di antara contoh jenis kesyirikan ini adalah kesyirikan para ekstremis penyembah kuburan yang menganggap bahwa roh para wali dapat mengatur berbagai urusan di alam semesta ini. Mereka menganggap bahwa roh orang yang telah meninggal, bisa keluar, berkeliaran dan dapat melakukan berbagai hal di alam ini, sehingga mendatangkan manfaat, menolak mudarat, memenuhi permintaan orang yang menyerunya, serta melindungi orang yang berlindung di bawah perlindungannya dan meminta pertolongan kepadanya. Ini merupakan kesyirikan dalam rububiyah.

Di antara contohnya juga adalah kesyirikan orang yang mengatakan, “Kami diberi hujan karena bintang ini atau karena munculnya bintang ini,” dengan meyakini bahwa bintang tersebut memiliki pengaruh dalam menurunkan hujan. Ada pula yang mengatakan bahwa hal ini termasuk dalam kesyirikan kaum Shabi’ah”. [Selesai]

Sebagaimana yang telah di sebutkan di atas bahwa sebagian kaum musyrikin arab jahliyah mengakui bahwa penciptaan dan pengaturan umum alam semesta berada di tangan Allah, namun mereka meyakini pula bahwa masing-masing berhala tersebut memiliki kekuasaan, pengaruh, dan karakteristik rububiyah tertentu dalam mengatur sebagian urusan.

===

MACAM-MACAM BENTUK SYIRIK RUBUBIYAH DI MASA JAHILIYAH

Kaum musyrikin jahiliyah, mereka meyakini bahwa sesembahan-sesembahan mereka memiliki kemampuan rubububiya ilahiyah, diantaranya dapat memberikan manfaat dan mendatangkan mudhorat atau sebaliknya.

Yakni; sesembahan tersebut dapat mendatangkan berbagai kebaikan kepada mereka, menolak berbagai bencana dari mereka, dan menolong mereka menghadapi musuh-musuh mereka.

Mereka meyakini bahwa Allah Ta’ala telah memberikan kepada sesembahan-sesembahan tersebut sebagian rububiyah ilahiyah, sebagaimana halnya para raja memberikan kewenangan kepada para gubernur untuk mengurus wilayah-wilayah kecil.

Oleh sebab itu, mereka menyembah dan mempertuhankan sesembahan-sesembahan tersebut.

Allah Ta’ala telah menyebutkan hal ini dalam firman-Nya:

﴿وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللهِ آلِهَةً لَعَلَّهُمْ يُنْصَرُونَ لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَهُمْ وَهُمْ لَهُمْ جُنْدٌ مُحْضَرُونَ﴾

“Dan mereka mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan. Sesembahan-sesembahan itu tidak mampu menolong mereka, padahal mereka sendiri menjadi pasukan yang dihadirkan untuk sesembahan-sesembahan tersebut.” [Yasin: 74–75]

Dan firman-Nya:

﴿وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللهِ آلِهَةً لِيَكُونَ لَهُمْ عِزًّا كَلَّا سَيَكْفُرُونَ بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّا﴾

“Dan mereka mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah agar mereka menjadi sumber kemuliaan bagi mereka. Sekali-kali tidak! Kelak mereka akan mengingkari penyembahan mereka dan akan menjadi musuh bagi mereka.” [Maryam: 81–82]

Maksudnya, kaum musyrik mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah dan menyembahnya agar sesembahan tersebut membalas ibadah mereka dengan menjadikan pengaruh-pengaruh rububiyahnya sebagai pembawa kemuliaan dan kemenangan mereka atas musuh-musuh mereka.

Bentuk syirik rububiyah ini merupakan keyakinan yang dianut oleh mayoritas kaum musyrikin Arab pada masa jahiliah mereka.

Berikut ini bentuk-bentuk keyakinan jahiliyah yang menetapkan adanya sebagian sifat rububiyah ilahiyah pada sesembahan-sesembahan mereka:

===

BENTUK PERTAMA:
Keyakinan adanya rububiyah ilahiyah pada berhala yang mereka sembah

Termasuk di dalamnya adalah sbb:

[*] Meyakini adanya pencipta selain Allah: Seperti syirik kaum Majusi yang meyakini bahwa alam semesta terbagi menjadi dua tuhan: tuhan cahaya yang menciptakan kebaikan dan tuhan kegelapan yang menciptakan keburukan.

[*] Meyakini bahwa selain Allah memiliki kendali atas alam semesta: seperti meyakini bahwa tempat kramat, berhala, atau bintang memiliki kemampuan independen untuk menghidupkan, mematikan, mendatangkan manfaat, atau menolak mudharat.

Contoh-contohnya yang telah ada di masa jahiliyah adalah sbb:

----

[1] Keyakinan adanya Rububiyah Pada Dewa Hubal

(berhala dalam Ka’bah yang terbuat dari batu ‘Aqiq Merah).

Pemimpin para berhala: Hubal dipandang sebagai berhala yang paling agung dan paling penting bagi Quraisy di dalam Ka’bah. Kepadanya mereka meminta pertolongan dalam perkara-perkara besar.

Simbol kemenangan dan kesukuan: Hubal merupakan simbol politik dan kesukuan yang memiliki kedudukan penting.

----

[2] Keyakinan adanya Rububiyah Pada Dewi Al-Laata

(berhala Bani Tsaqif di Thaif):

Menurut keyakinan mereka, Al-Laata berkaitan dengan kebaikan, keberkahan, dan pemberian rizki termasuk makanan, berdasarkan riwayat yang masyhur bahwa pada asalnya ia adalah seorang laki-laki saleh yang “membuat sawiq” (mencampur makanan) untuk para jamaah haji.

---

[3] Keyakinan adanya Rububiyah pada Dewi Al-‘Uzza

(berhala Quraisy dan Kinanah di Nakhlah):

Mereka meyakini bahwa Al-‘Uzza memiliki sifat rububiyah kemuliaan, kekuatan, perlindungan, dan kemenangan dalam peperangan. Mereka juga memohon pertolongan kepadanya dan melakukan pengundian nasib dengan anak panah di sisinya.

---

[4] Keyakinan adanya Rububiyah Pada Dewi Manat

(berhala Aus dan Khazraj di Al-Musyalal):

Dalam keyakinan mereka, Manat berkaitan dengan kematian, takdir, dan rezeki. Mereka meyakini bahwa Manat memiliki kemampuan rububiyah untuk memutus ajal atau menentukan bagian keberuntungan seseorang.

---

‘Amr bin Jamuh masuk Islam setelah yakin berhala Manat tak berkemampuan rububiyah

Amr bin al-Jamuh radhiyallahu ‘anhu adalah salah seorang pemuka terkemuka Bani Salimah dan termasuk orang yang memiliki kedudukan terhormat di kalangan mereka. Ia pernah membuat sebuah berhala dari kayu di rumahnya yang diberi nama Manat, sebagaimana kebiasaan para pemuka pada masa itu. Ia menjadikannya sebagai sesembahan yang diagungkan, dihormati, dan disucikan.

Ketika para pemuda Bani Salimah masuk Islam, di antaranya Muadz bin Jabal dan putra Amr bin al-Jamuh sendiri, yaitu Muadz bin Amr bin al-Jamuh, bersama sejumlah pemuda lain yang telah masuk Islam dan menghadiri Baiat Aqabah, mereka mulai mendatangi berhala milik Amr itu pada malam hari. Mereka mengangkatnya, lalu melemparkannya ke salah satu lubang tempat pembuangan kotoran di perkampungan Bani Salimah. Di sana terdapat kotoran manusia, dan berhala itu diletakkan dalam keadaan terbalik dengan kepala di bawah.

Ketika pagi tiba, Amr berkata, “Celakalah kalian! Siapa yang berani mengganggu sesembahan kita tadi malam?”

Kemudian ia pergi mencari berhala tersebut. Setelah menemukannya, ia mencucinya, membersihkannya, dan memberinya wewangian.

Lalu ia berkata, “Demi Allah, seandainya aku mengetahui siapa yang melakukan hal ini terhadapmu, sungguh aku akan menghukumnya dengan keras.”

Ketika malam tiba dan Amr tertidur, mereka kembali mendatangi berhala itu dan melakukan hal yang sama. Pagi harinya, Amr mendapati berhala tersebut dalam keadaan yang sama, terkena kotoran dan berbagai hal yang menjijikkan. Ia pun mencucinya, membersihkannya, dan memberinya wewangian. Kemudian, ketika malam tiba, mereka kembali melakukan hal serupa.

Setelah mereka berulang kali melakukan hal itu, pada suatu hari Amr mengambil berhalanya dari tempat mereka melemparkannya. Ia mencucinya, membersihkannya, dan memberinya wewangian. Kemudian ia mengambil pedangnya dan menggantungkannya pada berhala tersebut.

Ia berkata:

"إِنِّي وَاللَّهِ مَا أَعْلَمُ مَنْ يَصْنَعُ بِكَ مَا تَرَى، فَإِنْ كَانَ فِيكَ خَيْرٌ فَامْتَنِعْ، فَهَذَا السَّيْفُ مَعَكَ".

“Demi Allah, aku tidak tahu siapa yang melakukan hal seperti yang engkau alami ini. Jika memang engkau memiliki kemampuan untuk berbuat baik, maka lindungilah dirimu. Pedang ini ada bersamamu.”

Ketika malam tiba dan Amr tertidur, mereka kembali mendatangi berhala itu. Mereka mengambil pedang yang tergantung di lehernya, lalu mengambil seekor anjing yang telah mati dan mengikatkannya pada berhala itu dengan seutas tali. Setelah itu, mereka melemparkan keduanya ke dalam salah satu sumur milik Bani Salimah yang terdapat kotoran manusia di dalamnya.

Ketika Amr bin al-Jamuh bangun, ia tidak menemukan berhalanya di tempat semula.

Amr pun keluar untuk mencarinya. Setelah menemukannya di dalam sumur itu, ia mendapati berhalanya dalam keadaan terbalik dan diikat bersama seekor anjing yang telah mati. Ketika melihat keadaan tersebut, ia menyadari kenyataan yang sebenarnya. Orang-orang dari kaumnya yang telah masuk Islam juga berbicara kepadanya. Akhirnya, dengan rahmat Allah, ia masuk Islam dan menjalani keislamannya dengan baik.

Ketika masuk Islam dan mengetahui apa yang telah Allah anugerahkan kepadanya, ia mengenang berhala tersebut dan menyadari kenyataan yang telah dilihatnya. Ia pun bersyukur kepada Allah Ta‘ala yang telah menyelamatkannya dari kebutaan dan kesesatan yang selama ini menjeratnya. Ia lalu mengucapkan syair:

وَاللَّهِ لَوْ كُنْتَ إِلَهًا لَمْ تَكُنْ … أَنْتَ وَكَلْبٌ وَسْطَ بِئْرٍ فِي قَرَنْ

Demi Allah, seandainya engkau benar-benar tuhan, Tentu engkau takkan bersama anjing di dasar sumur dalam keadaan terikat.

أُفٍّ لِمَلْقَاكَ إِلَهًا مُسْتَدَنٍّ … الْآنَ فَتَّشْنَاكَ عَنْ سُوءِ الْغَبَنْ

Sungguh menjijikkan jika engkau dijadikan tuhan, Kini kami telah mengetahui keburukan dan kerugian yang ada padamu.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ ذِي الْمِنَنِ … الْوَاهِبِ الرَّزَّاقِ دَيَّانِ الدَّيْنِ

Segala puji bagi Allah Yang Mahatinggi, Pemilik berbagai karunia, Yang Maha Pemberi, Maha Pemberi rezeki, dan Penguasa hari pembalasan.

هُوَ الَّذِي أَنْقَذَنِي مِنْ أَنْ … أَكُونَ فِي ظُلْمَةِ قَبْرٍ مُرْتَهَنٍ

Dialah yang telah menyelamatkanku dari keadaan Menjadi orang yang terbelenggu dalam kegelapan kubur.

بِأَحْمَدَ الْمَهْدِيِّ النَّبِيِّ الْمُرْتَهَنِ

Dengan perantaraan Ahmad, sang Nabi pemberi petunjuk, Nabi yang diutus membawa petunjuk.

[Referensi: as-Siirah an-Nabawiyah  2/71 karya Ibnu Hisyam (wafat 213 H), Asad al-Ghoobah karya Ibnu al-Atsir 4/194 no. 3891, Ighotsatul Lahfan karya Ibnu al-Qoyyim 2/969 dan ar-Raudh al-Unuf karya Abu al-Qosim as-Suhaily 4/133].

[5] Syirik rububiyah dengan cara mengagungkan berhala dan batu

Serta syirik rububiyah dalam kalimat Talbiyah Haji dan Umrah.

Abu al-Mundzir Hisyam al-Kalbi dalam “Kitab al-Ashnaam” hal. 5-6 berkata:

وَحَدَّثَنِي أَبِي وَغَيْرُهُ: «فَكَانَ الَّذِي حَمَلَهُمْ عَلَى عِبَادَةِ الْأَوْثَانِ وَالْحِجَارَةِ: أَنَّهُ كَانَ لَا يَظْعَنُ مِنْ مَكَّةَ ظَاعِنٌ إِلَّا احْتَمَلَ مَعَهُ حَجَرًا مِنْ حِجَارَةِ الْحَرَمِ، تَعْظِيمًا لِلْحَرَمِ، وَصَبَابَةً بِمَكَّةَ. فَحَيْثُمَا حَلُّوا وَضَعُوهُ وَطَافُوا بِهِ كَطَوَافِهِمْ بِالْبَيْتِ، حُبًّا لِلْبَيْتِ وَصَبَابَةً بِهِ، وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ يُعَظِّمُونَ الْبَيْتَ وَمَكَّةَ، وَيَحُجُّونَ وَيَعْتَمِرُونَ، عَلَى إِرْثِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ.

ثُمَّ عَبَدُوا مَا اسْتَحْسَنُوا وَنَسُوا مَا كَانُوا عَلَيْهِ، وَاسْتَبْدَلُوا بِدِينِ إِبْرَاهِيمَ غَيْرَهُ، فَعَبَدُوا الْأَوْثَانَ، وَصَارُوا إِلَى مَا كَانَتْ عَلَيْهِ الْأُمَمُ مِنْ قَبْلِهِمْ، وَاسْتَخْرَجُوا مَا كَانَ يَعْبُدُ قَوْمُ نُوحٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ مِنْهَا عَلَى إِرْثِ مَا بَقِيَ مِنْ ذِكْرِهَا فِيهِمْ، وَفِيهِمْ عَلَى ذَلِكَ بَقَايَا مِنْ عَهْدِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ، يَتَنَسَّكُونَ بِهَا مِنْ تَعْظِيمِ الْبَيْتِ وَالطَّوَافِ بِهِ، وَالْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ وَالْوُقُوفِ عَلَى عَرَفَةَ وَالْمُزْدَلِفَةِ، وَإِهْدَاءِ الْبُدْنِ، مَعَ إِدْخَالِهِمْ فِيهِ مَا لَيْسَ مِنْهُ.

وَكَانَتْ نِزَارٌ تَقُولُ فِي إِهْلَالِهَا:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ ∗∗∗ لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ

إِلَّا شَرِيكٌ هُوَ لَكَ ∗∗∗ تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ

وَيُوَحِّدُونَهُ بِالتَّلْبِيَةِ، وَيُدْخِلُونَ مَعَهُ آلِهَتَهُمْ، وَيَجْعَلُونَ مِلْكَهَا بِيَدِهِ. يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: ﴿وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ﴾ (يُوسُفَ: ١٠٦). أَيْ: مَا يُوَحِّدُونَنِي بِمَعْرِفَةِ حَقِّي إِلَّا جَعَلُوا مَعِي شَرِيكًا مِنْ خَلْقِي. وَكَانَ»

Ayahku dan orang lain menceritakan kepadaku:

Hal yang mendorong mereka (penduduk Makkah pada masa Jahiliyah) menyembah berhala dan batu adalah kebiasaan mereka membawa batu dari kawasan Tanah Haram setiap kali meninggalkan Makkah, sebagai bentuk pengagungan terhadap Tanah Haram dan karena kecintaan yang mendalam kepada Makkah. Di mana pun mereka singgah, batu itu diletakkan, lalu mereka mengelilinginya sebagaimana mereka mengelilingi Ka‘bah, karena kecintaan dan kerinduan mereka terhadap Baitullah.

Meskipun demikian, mereka tetap mengagungkan Ka‘bah dan Makkah, serta melaksanakan haji dan umrah berdasarkan warisan ajaran Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam. Kemudian mereka mulai menyembah apa yang mereka anggap baik, melupakan ajaran yang sebelumnya mereka pegang, dan mengganti agama Ibrahim dengan agama lain.

Mereka pun menyembah berhala dan mengikuti apa yang telah dilakukan oleh umat-umat sebelum mereka. Mereka menghidupkan kembali berhala-berhala yang dahulu disembah oleh kaum Nuh ‘alaihissalam, berdasarkan warisan ingatan tentang berhala-berhala tersebut yang masih tersisa di tengah mereka.

Meskipun demikian, masih terdapat sisa-sisa ajaran Ibrahim dan Ismail di tengah mereka. Mereka tetap menjalankan sejumlah ritual berdasarkan ajaran tersebut, seperti mengagungkan Ka‘bah, mengelilinginya, melaksanakan haji dan umrah, berwuquf di Arafah dan Muzdalifah, serta mempersembahkan unta kurban. Namun, mereka juga memasukkan ke dalam ritual tersebut hal-hal yang bukan bagian darinya.

Kabilah Nizar biasa mengucapkan talbiyah ketika memulai ihram mereka:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ ∗∗∗ لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ

إِلَّا شَرِيكٌ هُوَ لَكَ ∗∗∗ تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ

“Labbaika Allahumma labbaik,

labbaika la syarika laka.

Kecuali sekutu yang menjadi milik-Mu,

Engkau menguasainya dan apa yang dimilikinya.”

Mereka mengesakan Allah dalam talbiyah tersebut, tetapi pada saat yang sama mereka juga menyertakan sesembahan-sesembahan mereka bersama-Nya. Mereka menjadikan kepemilikan atas sesembahan-sesembahan itu berada di bawah kekuasaan Allah.

Allah Azza wa Jalla berfirman kepada Nabi-Nya ﷺ:

“Dan sebagian besar mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan-Nya.” [Yusuf: 106]

Maksudnya, mereka tidaklah mengesakan-Ku dengan mengakui hak-Ku, melainkan mereka menjadikan salah satu makhluk-Ku sebagai sekutu bagi-Ku.

Dan demikianlah keadaan mereka…”

[Disebutkan pula oleh al-Azroqi dalam Akhbar Makkah 1/116 dan Ibnu al-Qoyyim dalam Ighotsah al-Lahfaan 2/210]

===

BENTUK KEDUA:
Keyakinan adanya rububiyah ilahiyah pada Pohon Yang di Kramatkan

Diantara yang pohon Yang di kramatkan dan diyakini memiliki rububiyah ilahiyah sebagai pembawa keberuntungan, kemenangan dan penolak kesialan adalah sbb:

---

KE [1]: Pohon Kramat Dzatu Anwaath.

Dalam hadits Abu Waqid al-Laitsi radhiyallahu ‘anhu disebutkan:

أَنَّهُمْ خَرَجُوا عَنْ مَكَّةَ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ إِلَى حُنَيْنٍ، قَالَ: وَكَانَ لِلْكُفَّارِ سِدْرَةٌ يَعْكُفُونَ عِنْدَهَا وَيُعَلِّقُونَ بِهَا أَسْلِحَتَهُمْ يُقَالُ لَهَا: ذَاتُ أَنْوَاطٍ، قَالَ: فَمَرَرْنَا بِسِدْرَةٍ خَضْرَاءَ عَظِيمَةٍ، قَالَ: فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ! اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ؟! فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «قُلْتُمْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى: اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ». قَالَ: «إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ، إِنَّهَا السُّنَنُ، لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ سُنَّةً سُنَّةً».

“Bahwa mereka keluar dari Makkah bersama Rasulullah ﷺ menuju Hunain.

Ia (Abu Waqid al-Laitsi) berkata:

Kaum kafir memiliki sebuah pohon bidara yang mereka biasa menetap di sekitarnya dan menggantungkan senjata mereka padanya. Pohon itu disebut Dzat Anwath.

Ia (Abu Waqid al-Laitsi) berkata: Kami melewati sebuah pohon bidara yang hijau dan besar. Kami pun berkata, “Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzat Anwath!”

Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

«Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian telah mengatakan seperti yang dikatakan oleh kaum Musa, ‘Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan.’»

Beliau ﷺ bersabda:

«Sesungguhnya kalian adalah kaum yang tidak mengetahui. Sungguh, ini adalah jalan-jalan yang akan ditempuh. Kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, setapak demi setapak.»

Takhrij hadits:

Diriwayatkan oleh al-Bukhari secara mu‘allaq dalam “At-Tarikh al-Kabir”, 4/163; Ahmad dalam al-Musnad, 36/225, no. 21897; Muhammad bin Nashr al-Marwazi dalam “As-Sunnah” (40); dan ath-Thabari dalam “Tafsir”-nya, 9/45–46, melalui jalur Abu Shalih ‘Abdullah bin Shalih, dari al-Laits bin Sa‘d, dengan sanad ini. Riwayat al-Bukhari lebih ringkas dengan lafaz: “Sungguh, kalian akan mengikuti jalan-jalan orang-orang sebelum kalian.”

Para pentahqiq Musnad Ahmad, 36/225, berkata:

إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ. حَجَّاجٌ: هُوَ ابْنُ مُحَمَّدٍ الْمِصِّيصِيُّ الْأَعْوَرُ، وَابْنُ شِهَابٍ: اسْمُهُ مُحَمَّدُ بْنُ مُسْلِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الزُّهْرِيُّ.

“Sanadnya sahih sesuai dengan syarat al-Bukhari dan Muslim. Hajjaj adalah Ibnu Muhammad al-Mishshishi al-A‘war, sedangkan Ibnu Syihab adalah Muhammad bin Muslim bin ‘Ubaidillah bin ‘Abdullah az-Zuhri.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq sebagaimana terdapat dalam “Sirah Ibnu Hisyam”, 4/84–85; ath-Thayalisi (1346); al-Humaidi (848); Ibnu Abi Syaibah, 15/101; at-Tirmidzi (2180); Ibnu Abi ‘Ashim dalam “As-Sunnah” (76); Muhammad bin Nashr al-Marwazi dalam “As-Sunnah” (37); Abu Ya‘la (1441); ath-Thabari, 9/45; Ibnu Qani‘ dalam “Mu‘jam ash-Shahabah”, 1/172; Ibnu Hibban (6702); ath-Thabrani dalam “Al-Mu‘jam al-Kabir” (3292), (3293), dan (3294); al-Baihaqi dalam “Dala’il an-Nubuwwah”, 5/124–125 dan 125; serta al-Wahidi dalam “Al-Wasith”, 2/403–404, melalui beberapa jalur dari az-Zuhri, dengan sanad tersebut.

At-Tirmidzi berkata: “Hasan sahih.”

Lantas, apakah pohon Dzat Anwath yang dahulu diagungkan oleh kaum jahiliah itu merupakan sesuatu yang mereka jadikan perantara untuk meminta syafaat kepada Allah, ataukah mereka meyakini bahwa pohon tersebut dapat menolong mereka dan menjadikannya sebagai sesembahan bersama Allah?!

Syeikh Muhammad Sholeh al-Munajjid dalam IslamQa 1/867 no. 50147 berkata:

وَقَوْلُهُ: يُقَالُ لَهَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ، الْأَنْوَاطُ: جَمْعُ نَوْطٍ، وَهُوَ كُلُّ شَيْءٍ يُعَلَّقُ، وَذَاتُ الْأَنْوَاطِ هِيَ الشَّجَرَةُ الَّتِي يُعَلَّقُ عَلَيْهَا هَذِهِ الْمَعَالِيقُ. قَالَ ابْنُ الْأَثِيرِ فِي النِّهَايَةِ: هِيَ اسْمُ شَجَرَةٍ بِعَيْنِهَا كَانَتْ لِلْمُشْرِكِينَ، يَنُوطُونَ بِهَا سِلَاحَهُمْ، أَيْ يُعَلِّقُونَهُ بِهَا، وَيَعْكُفُونَ حَوْلَهَا، فَسَأَلُوهُ أَنْ يَجْعَلَ لَهُمْ مِثْلَهَا، فَنَهَاهُمْ عَنْ ذَلِكَ.

Perkataan nya, “Disebut Dzat Anwath”: Al-anwath adalah bentuk jamak dari nauth, yaitu segala sesuatu yang digantungkan. Adapun Dzat Anwath adalah pohon yang digunakan untuk menggantungkan benda-benda tersebut.

Ibnu al-Atsir berkata dalam An-Nihayah: “Dzat Anwath adalah nama sebuah pohon tertentu yang dimiliki oleh kaum musyrik. Mereka menggantungkan senjata perang mereka padanya, yakni mereka menempatkannya dengan cara menggantungkannya pada pohon tersebut, dan mereka beri’tikaf di sekelilingnya.

Kemudian mereka meminta kepada beliau ﷺ agar dibuatkan bagi mereka pohon yang serupa dengannya, lalu beliau melarang mereka dari perbuatan tersebut.”

---

KE [2]: Pohon Kramat Dewi al-Uzza

Al-Azraqi mengatakan, “Uzza adalah tiga buah pohon kurma yang berwarna coklat tua. Masing-masing ada syaithan yang disembah. Al-Uzza dahulu berada di Lembah daerah Syam. Disebut Kharaash. Di Iza’ul Ghamir dari kanan al-Mash’ad sampai Irak dari Mekah. Dan itu di atas Dzatu ‘Irq sampai al-Bustan (Bustan Ibnu Ma’mar). Sejauh 9 mil.

Cermati pula catatan kaki kitab “أَخْبَارُ مَكَّةَ” karya al-Azraqi: 1/126. Dan yang disebutkan oleh ‘Atiq Ghaits al-Biladiy dalam kitab “مُعْجَمُ الْمَعَالِمِ الْجُغْرَافِيَّةِ فِي السِّيرَةِ النَّبَوِيَّةِ” hal. 318.

Ibnu Jarir at-Thobary berkata : Uzza adalah pohon yang di sekelilingnya  terdapat bangunan dan di tutupi oleh kain kelambu , yaitu di daerah Nakhlah , sebuah lokasi antara Makkah dan Thaif , dulu masyarakat Qureish mengagungkannya .

Orang yang pertama kali menyeru untuk menyembahnya adalah Amr bin Rabi’ah dan al-Harits bin Ka’ab. Kemudian Amr mengatakan kepada orang-orang Quraisy, “Sesungguhnya Rabb kalian menjelma menjadi Latta pada musim panas karena dinginnya Thaif, dan menjelma menjadi Uzza di musim dingin karena panasnya Tihamah”. (Al-Azraqi : Akhbaru Makkah : 1/126 ).

Ibnu Mundzir berkata : “ Tidak ada sesuatu yang sangat di agungkan oleh masyarakat Qureisy Makkah dan masyarkat arab lainnya yang tinggal di Makkah seperti pengagungan mereka terhadap Al-Uzza , kemudian Al-Laata , kemudian Manah. Adapun Al-Uzza sangat di istimewakan sekali oleh masyarakat Qureisy daripada lainnya untuk di ziarahi dan dipersembahkan padanya hadiah sembelihan atau lainnya, mungkin karena lokasinya lebih dekat ke Makkah . Lain halnya dengan kabilah Tsaqif , mereka lebih mengistimewakan Al-Laata , karena kedekatannya . Begitu juga Manah lebih di istimewakan oleh Aus dan Khojroj masyarakat Madinah , karena lebih dekat ke Madinah. Namun demikian semuanya sama-sama dalam rangka mengagungkan serta mengkramatkan Al-Uzza “ . ( Lihat Al-Ashnam karya Ibnu Kalbi ¼ ).

Disebutkan dalam sebuah kisah yang panjang mengenai hal ini, dan riwayat ini diriwayatkan oleh al-Azraqi dari jalan al-Kalbi dari Abu Shaleh dari Ibnu Abbas. Sudah diketahui bahwa al-Azraqi merupakan orang yang paling lemah bila meriwayatkan dari Ibnu Abbas. Akan tetapi al-Azraqi sendiri meriwayatkan riwayat lain dari Ibnu Ishaq dengan riwayat yang hasan yang isinya, “Bahwa Amr bin Luhai menjadikan Uzza dari pohon kurma. (Al-Azraqi : Akhbaru Makkah : 1/126-127 )

Orang-orang arab ketika sudah selesai haji dan thawaf mereka tidak langsung bertahalul, sampai mendatangi Uzza. Mereka berthawaf mengelilinginya dan bertahalul di sisinya, serta berdiam diri ( I’TIKAF alias NYEPI ) selama sehari di sampingnya. Orang-orang Khuza’ah, Quraisy dan Bani Kinanah seluruhnya mengagungkan Uzza bersama Khuza’ah dan seluruh Mudhor”. (Al-Azraqi : Akhbaru Makkah : 1/126-127 ).

Abu Soleh berkata : “ Dulu orang-orang jahiliyah punya kebiasaan menggantungkan tali-tali kekang dan bulu-bulu ke atas pohon-pohon tersebut “. Yang demikian itu sama seperti yang di riwayatkan oleh ‘Abd bin Humeid dan Ibnu Jarir.

Imam Nasai dan Ibnu Mardaweh meriwayatkan dari Ibnu at-Thufeil , bahwa beliau berkata:

Ketika Rosulullah ﷺ menaklukkan Makkah , beliau mengutus Kholid bin Walid radhiyallahu ‘anhu ke daerah Nakhlah – sebuah tempat di mana Uzza berada – dan di sana terdapat tiga pohon besar yang berduri , oleh Kholid radhiyallahu ‘anhu ketiga pohon tersebut ditebangnya , dan dia hancurkan bangunan rumah yang menaunginya . Setelah itu dia kembali menghadap Rosulullah ﷺ serta mengkhabarkannya .

Maka Rosulullah ﷺ berkat : “Kembalilah, sesungguhnya kamu belum melakukan sesuatu!“.

Kholid pun kembali berangkat , maka ketika para kuncen melihat nya , mereka kabur sambil mengendap-endap ke gunung sembari memanggil-manggil : Ya Uzza ! Ya Uzza ! . Kemudian Kholid mendatangi Uzza , dan tiba-tiba nampak sesosok perempuan telanjang (syeitan) , rambutnya terjurai , kepalanya di penuhi debu , maka Kholid pun segera menebasnya dengan pedang , dengan demikian terbunuhlah , kemudian dia kembali menghadap Rosulullah ﷺ serta menceritaknnya , maka Rosulullah ﷺ berkata : “ Itulah Uzza”.  ( Lihat Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir 2/243 ).

===

BENTUK KETIGA:
Keyakinan adanya rububiyah ilahiyah pada Jin dan Syaithan sebagai penolong, penjaga dan pelindung

Termasuk perbuatan Syirik adalah meminta bantuan, pertolongan, penjagaan dan perlindungan kepada Jin dan Syaithan.

Syirik jenis ini memiliki beberapa nama, istilah dan kemasan. Diantaranya: Ilmu Kejadugan, kesaktian, Kedigjayaan, karomah, pelet, pengasihan, penglaris dan lainnya.

Allah SWT berfirman:

﴿وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُم مِّنَ الْإِنسِ ۖ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُم مِّنَ الْإِنسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا ۚ قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ﴾

Dan (ingatlah) hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman): “Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia”, lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami”. Allah berfirman: “Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)”. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. [QS. Al-An’am: 128]

Dan Allah berfirman:

﴿وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا﴾

“Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari kalangan jin, tetapi mereka (jin) semakin menambah kesesatan dan kesusahan kepada mereka.” [QS. Al-Jin: 6].

Abu Manshur al-Maturidi (wafat 333 H) menjelaskan dalam Tafsirnya (Ta’wiilaat Ahli as-Sunnah 4/257) dengan penjelasan sbb:

﴿يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ﴾.

هُوَ عَلَى الْإِضْمَارِ؛ كَأَنَّهُ قَالَ: يَوْمَ نَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا: أَيَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ، ثُمَّ نَقُولُ لِلْجِنِّ: ﴿يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْإِنْسِ﴾، كَقَوْلِهِ: ﴿مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللهِ زُلْفَى﴾ أَيْ: يَقُولُونَ: مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللهِ زُلْفَى؛ فَكَذَلِكَ هَذَا هُوَ عَلَى الْإِضْمَارِ.

وَقَوْلُهُ – عَزَّ وَجَلَّ -: ﴿قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْإِنْسِ﴾.

قَالَ أَهْلُ التَّأْوِيلِ فِي قَوْلِهِ: ﴿قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْإِنْسِ﴾ أَيْ: أَضْلَلْتُمْ كَثِيرًا مِنَ الْإِنْسِ، وَهُمْ قَدِ اسْتَكْثَرُوا مِنَ الْأَتْبَاعِ مِنَ الْإِنْسِ: فِي عِبَادَةِ غَيْرِ اللهِ، وَمُخَالَفَةِ أَمْرِ اللهِ وَتَوْحِيدِهِ، أَوْ: قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ عِبَادًا مِنَ الْإِنْسِ.

﴿وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الْإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ﴾.

اخْتُلِفَ فِيهِ: قَالَ بَعْضُهُمْ: تَعَاوَنَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ وَمُخَالَفَةِ أَمْرِهِ: هَؤُلَاءِ بِالدُّعَاءِ وَأُولَئِكَ بِالْإِجَابَةِ.

وَقَالَ قَائِلُونَ: رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ، أَيْ: انْتَفَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ بِأَنْوَاعِ الْمَنَافِعِ: مَا ذُكِرَ – فِي بَعْضِ الْقِصَّةِ – أَنَّ الرَّجُلَ مِنَ الْإِنْسِ إِذَا سَافَرَ فَأَدْرَكَهُ الْمَسَاءُ بِأَرْضِ الْقَفْرِ خَافَ؛ فَيَقُولُ: أَعُوذُ بِسَيِّدِ هَذَا الْوَادِي مِنْ سُفَهَاءِ قَوْمِهِ؛ فَيَأْمَنُ فِي ذَلِكَ بِالتَّعَوُّذِ إِلَى سَيِّدِهِمْ؛ فَذَلِكَ اسْتِمْتَاعُ الْإِنْسِ بِالْجِنِّ؛ فَذَلِكَ قَوْلُهُ: ﴿وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ﴾ الْآيَةَ.

وَأَمَّا اسْتِمْتَاعُ الْجِنِّ بِالْإِنْسِ فَهُوَ مَا يَزْدَادُ لَهُمْ الذِّكْرُ وَالشَّرَفُ فِي قَوْمِهِمْ، يَقُولُونَ: لَقَدْ سَوَّدَتْنَا الْإِنْسُ. وَيَحْتَمِلُ اسْتِمْتَاعُ الْجِنِّ بِالْإِنْسِ مَا ذُكِرَ – إِنْ ثَبَتَ – أَنَّهُ جَعَلَ طَعَامَهُمُ الْعِظَامَ الَّتِي يَسْتَعْمِلُهَا الْإِنْسَانُ، وَيَكُونُ ذَلِكَ غِذَاءَهُمْ، وَعَلَفَ دَوَابِّهِمْ أَرْوَاثَ دَوَابِّ الْإِنْسِ.

Firaman-Nya: “Wahai golongan jin.”

Ungkapan ini menggunakan bentuk penghilangan kata yang dipahami dari konteks (idhmar), seakan-akan ia berkata:

“Pada hari ketika Kami mengumpulkan mereka semuanya, dikatakan: Wahai golongan jin dan manusia.”

Kemudian Kami berkata kepada jin: “Wahai golongan jin, sungguh kalian telah banyak menyesatkan manusia.”

Hal ini seperti firman-Nya: “Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.” Maksudnya, mereka berkata: “Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.” Demikian pula ayat ini menggunakan bentuk penghilangan kata yang dipahami dari konteks.

Firman-Nya Azza wa Jalla: “Sungguh kalian telah banyak menyesatkan manusia.”

Para ahli tafsir menjelaskan firman-Nya: “Sungguh kalian telah banyak menyesatkan manusia,” maksudnya: “Kalian telah menyesatkan banyak manusia.”

Mereka telah memperoleh banyak pengikut dari kalangan manusia dalam menyembah selain Allah, menyelisihi perintah Allah, dan menyelisihi tauhid-Nya.

Atau maknanya: “Kalian telah memperoleh banyak manusia sebagai hamba.”

Firman-Nya: “Dan para pengikut mereka dari kalangan manusia berkata: ‘Wahai Rabb kami, sebagian kami telah mengambil manfaat dari sebagian yang lain.’”

Para ulama berbeda pendapat mengenai maknanya.

Sebagian mereka berkata: “Sebagian kami saling membantu dalam kemaksiatan kepada Allah dan menyelisihi perintah-Nya. Golongan ini (manusia) melakukannya dengan berdoa, sedangkan golongan itu (jin) dengan mengabulkan do’a tersebut.”

Sebagian ulama lainnya berkata: “Wahai Rabb kami, sebagian kami telah mengambil manfaat dari sebagian yang lain,” maksudnya: sebagian kami memperoleh manfaat dari sebagian yang lain dalam berbagai bentuk manfaat.

Disebutkan dalam sebagian kisah bahwa apabila seseorang dari kalangan manusia melakukan perjalanan, lalu malam tiba ketika ia berada di daerah tandus, ia merasa takut. Kemudian ia berkata: “Aku berlindung kepada pemimpin penguasa lembah ini dari orang-orang bodoh dari kaumnya.”

Dengan berlindung kepada pemimpin mereka itu, ia merasa aman. Inilah bentuk pemanfaatan manusia terhadap jin. Itulah makna firman-Nya:

“Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari kalangan jin,” dan seterusnya.

Adapun bentuk pemanfaatan jin terhadap manusia adalah bertambahnya penyebutan dan kemuliaan mereka di tengah kaumnya. Mereka berkata: “Sungguh, manusia telah menjadikan kami sebagai pemimpin.”

Ada pula kemungkinan bahwa bentuk pemanfaatan jin terhadap manusia adalah sebagaimana yang disebutkan—jika riwayat tersebut benar—bahwa makanan mereka adalah tulang-tulang yang digunakan manusia, dan tulang-tulang tersebut menjadi makanan mereka, sedangkan kotoran hewan milik manusia menjadi makanan ternak mereka”. [Selesai]

===

BENTUK KEEMPAT:
Keyakinan adanya rububiyah ilahiyah pada bintang dan Anwa’ sebagai penurun hujan.
Dan diyakini pula sebagai penyubur tanaman.

Mereka kaum jahiliyah dari kalangan Shabi’ah dan selain mereka: menetapkan sifat rububiyah pada bintang-bintang sebagai pengatur urusan alam semesta. Dan menetapkan pada bintang dan Anwa’ (Posisi Terbit atau Terbenamnya Bintang) tertentu dengan menisbatkan turunnya hujan kepada anwa’, yaitu posisi-posisi bintang tertentu. Dan meyakininya pula sebagai penyubur tanaman.

[Lihat: Al-Milal wa an-Nihal karya Asy-Syahrastani (2/107), Taysir al-‘Aziz al-Hamid karya Sulaiman Alusy-Syaikh (hlm. 26).]

Adapun kaum Majusi, maka mereka menisbatkan berbagai peristiwa kebaikan kepada cahaya dan berbagai peristiwa keburukan kepada kegelapan. [Lihat: Al-Milal wa an-Nihal karya Asy-Syahrastani (2/37), Al-Farq baina al-Firaq karya Al-Baghdadi (hlm. 316).]

Dalil yang menunjukkan hal tersebut:

[A]. Allah Ta’ala berfirman:

﴿ وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ ﴾

“Dan kalian menjadikan rezeki kalian (diyakini dari sesembahan kalian) dengan mendustakan (bahwa itu dari Allah)” (QS. Al-Waqi‘ah: 82)

Dalam sebauah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya, dari Ali ‘alaihissalam disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang firman Allah Ta’ala:

﴿وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ﴾ (الْوَاقِعَةِ: 82)، قَالَ: «شِرْكُكُمْ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا أَوْ كَذَا، بِنَجْمِ كَذَا وَكَذَا».

“Dan kalian menjadikan rezeki kalian (diyakini dari sesembahan kalian) dengan mendustakan (bahwa itu dari Allah)” (al-Waqi‘ah: 82)

Beliau ﷺ bersabda, «Kesyirikan kalian adalah dengan mengatakan, ‘Kami diberi hujan karena bintang ini atau itu, karena bintang tertentu.’»

Takhrij hadits:

(HR. Musnad Ahmad bin Hanbal, 2/97 no. 677).

Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bazzar (720) melalui jalur ‘Ubaidullah bin Musa, dari Israil, dengan sanad yang sama.

Al-Haitsami menyebutkannya dalam Majma‘ az-Zawa’id, 6/85, dan berkata:

رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْبَزَّارُ، وَرِجَالُ أَحْمَدَ ثِقَاتٌ.

“Diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Bazzar. Para perawi sanad Ahmad adalah tsiqah.”

Syaikh Syu‘aib al-Arna’uth dan para peneliti Musnad Ahmad berkata:

إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ، رِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيحِ غَيْرُ حَارِثَةَ بْنِ مُضَرِّبٍ، وَهُوَ ثِقَةٌ.

“Sanadnya sahih. Para perawinya adalah para perawi kitab-kitab Shahih, kecuali Haritsah bin Mudharib, dan ia adalah seorang yang tsiqah.”

Dan dari Sa‘id bin Jubair, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

أَنَّهُ كَانَ يَقْرَأُ: ﴿ وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ ﴾، ثُم قَالَ: «مَا مُطِرَ الناسُ لَيْلَةً قَط إِلا أَصْبَحَ بَعْضُ الناسِ مُشْرِكِينَ يَقُولُونَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا»، قَالَ: وَقَالَ «وَتَجْعَلُونَ شُكْرَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ»

Bahwa beliau membaca ayat: “Dan kamu menjadikan rezeki yang kamu terima (dari Allah) justru dengan mendustakan-Nya.”

Kemudian beliau berkata, “Tidaklah manusia mengalami hujan pada suatu malam, melainkan pada pagi harinya sebagian mereka menjadi orang-orang musyrik. Mereka berkata, ‘Kami diberi hujan karena anwa’ ini dan itu.’”

Beliau juga berkata, “Dan kamu menjadikan rasa syukurmu justru dengan mendustakan-Nya.”

(Sanadnya sahih. Diriwayatkan oleh ath-Thabari dalam Tafsir-nya, 10/652, no. 33650, cetakan Dar al-Hadits, Kairo.)

[B]. Dari Zaid bin Khalid al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

صَلَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ صَلَاةَ الصُّبْحِ بِالْحُدَيْبِيَةِ عَلَى إِثْرِ سَمَاءٍ كَانَتْ مِنَ اللَّيْلَةِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ، فَقَالَ: «هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟» قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: «أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي وَمُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ».

“Rasulullah ﷺ mengimami kami shalat Subuh di Hudaibiyah setelah turun hujan pada malam sebelumnya. Setelah selesai shalat, beliau menghadap kepada orang-orang, lalu bersabda, ‘Tahukah kalian apa yang difirmankan oleh Rabb kalian?’

Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’

Beliau bersabda, ‘Pagi ini, di antara hamba-hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada pula yang kafir. Adapun orang yang berkata, “Kami diberi hujan berkat karunia dan rahmat Allah,” maka ia beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang. Adapun orang yang berkata, “Kami diberi hujan karena anwa’ ini dan itu,” maka ia kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang.’”

[HR. Al-Bukhari (1038), Muslim (71), Abu Dawud (3906), dan an-Nasa’i (1525)]

Imam Ibnu Abdil Barr berkata:

«وَأَمَّا الْعَرَبُ، فَكَانَتْ تُضِيفُ الْمَطَرَ إِلَى النَّوْءِ، وَهَذَا عِنْدَهُمْ مَعْرُوفٌ مَشْهُورٌ فِي أَخْبَارِهِمْ وَأَشْعَارِهِمْ، فَلَمَّا جَاءَ الْإِسْلَامُ نَهَاهُمْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ ذَلِكَ، وَأَدَّبَهُمْ وَعَرَّفَهُمْ مَا يَقُولُونَ عِنْدَ نُزُولِ الْمَاءِ، وَذَلِكَ أَنْ يَقُولُوا: "مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ"، وَنَحْوَ هَذَا مِنَ الْإِيمَانِ وَالتَّسْلِيمِ لِمَا نَطَقَ بِهِ الْقُرْآنُ».

“Adapun bangsa Arab, mereka dahulu menisbatkan hujan kepada anwa’. Hal ini merupakan sesuatu yang dikenal dan masyhur di kalangan mereka, baik dalam kisah-kisah maupun syair-syair mereka. Ketika Islam datang, Rasulullah ﷺ melarang mereka melakukan hal tersebut, mengajari mereka adab, dan menjelaskan apa yang harus mereka ucapkan ketika hujan turun. Mereka hendaknya mengatakan, ‘Kami diberi hujan berkat karunia dan rahmat Allah,’ atau ucapan serupa yang mencerminkan keimanan dan ketundukan terhadap apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an.”

(At-Tamhid, Ibnu Abdil Barr, 6/409–410, cetakan Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon.)

===

BENTUK KELIMA:
Keyakinan adanya rububiyah ilahiyah pada para dukun dan paranormal

Diantara kesyirikan yang diyakini masyarakat jahiliyah adalah keyakinan adanya rububiyah ilahiyah pada para dukun dan para normal, bahwa mereka bisa mengungkap hal-hal ghaib dan yang semisalnya. Serta mereka mendatangi pada para dukun dan para normal tersebut.

Dalil yang menunjukkan hal tersebut:

Dalil ke [1]:

Dari Abu Hurairah dan al-Hasan, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

«مَنْ أَتَى كَاهِنًا، أَوْ عَرَّافًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ».

“Barang siapa mendatangi dukun atau peramal, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ.”

Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad, 15/331, no. 9536.

Para pentahqiq al-Musnad berkata:

حَدِيثٌ حَسَنٌ، رِجَالُهُ ثِقَاتٌ رِجَالُ الصَّحِيحِ، لَكِنْ خِلَاسٌ -وَهُوَ ابْنُ عَمْرٍو الْهَجَرِيُّ- لَمْ يَسْمَعْ مِنْ أَبِي هُرَيْرَةَ. وَعَوْفٌ: هُوَ ابْنُ أَبِي جَمِيلَةَ الْأَعْرَابِيُّ، وَالْحَسَنُ: هُوَ الْبَصْرِيُّ.

Hadits ini hasan. Para perawinya tsiqah dan termasuk para perawi kitab-kitab hadits shahih. Namun, Khilas—yaitu Ibnu Amr al-Hujri—tidak mendengar langsung dari Abu Hurairah. Sedangkan Auf adalah Ibnu Abi Jamilah al-A’rabi, dan al-Hasan adalah al-Bashri.

Al-Hakim juga meriwayatkannya, 1/8, dan berkata:

هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِهِمَا جَمِيعًا مِنْ حَدِيثِ ابْنِ سِيرِينَ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ.

“Hadits ini shahih berdasarkan syarat keduanya (Bukhori dan Muslim), dari jalur Ibnu Sirin, tetapi keduanya tidak meriwayatkannya.”

Dalil ke [2]:

Dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

«مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ ﷺ».

“Barang siapa mendatangi wanita yang sedang haid, atau menyetubuhi wanita melalui duburnya, atau mendatangi seorang dukun, maka sungguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan Allah kepada Muhammad ﷺ.”

Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam Tarikh al-Kabir 3/16 no. 87; Imam Ahmad, 2/476; Abu Dawud (3904); at-Tirmidzi (135); dan Ibnu Majah (639). Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih at-Tirmidzi (116).

At-Thabrani meriwayatkannya, 10/76 (10005), melalui jalur Ibrahim, dari Alqamah, dari Abdullah, dengan riwayat tersebut.

Dalil ke [3]:

Dari Hubairah bin Yariim, dari Abdullah Bin Mas’ud, ia berkata:

«مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ سَاحِرًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ ﷺ».

“Barang siapa mendatangi seorang dukun, tukang sihir, atau peramal, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad, Nabi ﷺ.”

Diriwayatkan oleh as-Sari bin Yahya dari guru-gurunya melalui jalur Sufyan ats-Tsauri, dalam Ahadits Sufyan ats-Tsauri sebagaimana terdapat dalam Jawami’ al-Kalim, hlm. 75, no. 74.

Ahmad juga meriwayatkannya dalam Al-Jami’ fi ‘Ulum al-Imam Ahmad, 3/150, no. 23; Ibnu al-Ja’d (425); al-Bazzar, 5/256 (1873); Abu Ya’la, 9/280 (5408); dan al-Baihaqi, 8/136, melalui jalur Abu Ishaq as-Sabi’i, dari Hubairah bin Yariim, dari Abdullah, dengan riwayat tersebut.

Al-Haitsami berkata dalam Al-Majma’, 5/118:

رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي «الْكَبِيرِ» وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ. اهـ.

“At-Thabrani meriwayatkannya dalam Al-Kabir dan para perawinya tsiqah.” Selesai.

Dalil ke [4]:

Dan Ma’mar bin Rasyid berkata dalam Al-Jami’, 11/210, no. 20349:

“Telah mengabarkan kepada kami Abdurrazzaq, dari Ma’mar, dari Qatadah, yang meriwayatkannya dari salah seorang di antara mereka, ia berkata:

«مَنْ أَتَى كَاهِنًا ‌فَصَدَّقَهُ ‌بِمَا ‌يَقُولُ ‌لَمْ ‌تُقْبَلْ ‌صَلَاتُهُ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً»

‘Barang siapa mendatangi seorang dukun lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam.’”

Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 10/217:

وَوَقَعَ عِنْدَ الطَّبَرَانِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ بِسَنَدٍ لَيِّنٍ مَرْفُوعًا بِلَفْظِ مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ بَرِئَ مِمَّا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَمَنْ أَتَاهُ غَيْرَ مُصَدِّقٍ لَهُ ‌لَمْ ‌تُقْبَلْ ‌صَلَاتُهُ ‌أَرْبَعِينَ يَوْمًا وَالْأَحَادِيثُ الْأُوَلُ مَعَ صِحَّتِهَا وَكَثْرَتِهَا أَوْلَى مِنْ هَذَا وَالْوَعِيدُ جَاءَ تَارَةً بِعَدَمِ قَبُولِ الصَّلَاةِ وَتَارَةً بِالتَّكْفِيرِ فَيُحْمَلُ عَلَى حَالَيْنِ مِنَ الْآتِي

Dalam riwayat at-Thabrani dari hadits Anas dengan sanad yang lemah, secara marfu‘ disebutkan dengan lafaz:

“Barang siapa mendatangi seorang dukun lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah berlepas diri dari apa yang diturunkan kepada Muhammad. Dan barang siapa mendatanginya tanpa membenarkannya, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari.”

Hadits-hadits yang pertama, dengan memperhatikan keshahihan dan banyaknya jalur periwayatannya, lebih kuat untuk didahulukan daripada riwayat ini.

Ancaman tersebut terkadang disebutkan dalam bentuk tidak diterimanya shalat dan terkadang dalam bentuk kekufuran. Oleh karena itu, ancaman tersebut dipahami berlaku pada dua keadaan orang yang mendatangi dukun. [Selesai]

Dalil ke [5]:

Dari Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami, ia berkata:

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أُمُورًا كُنَّا نَصْنَعُهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ: كُنَّا نَأْتِي الْكُهَّانَ. قَالَ: «فَلَا تَأْتُوا الْكُهَّانَ».

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, ada beberapa kebiasaan yang dahulu kami lakukan pada masa jahiliah. Di antaranya, kami mendatangi para dukun.”

Beliau bersabda, “Janganlah kalian mendatangi para dukun.”

(HR. Muslim (537))

Dalam riwayat lain, ia berkata:

«إِنِّي حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ، وَقَدْ جَاءَ اللَّهُ بِالْإِسْلَامِ، وَإِنَّ مِنَّا رِجَالًا يَأْتُونَ الْكُهَّانَ». قَالَ: «فَلَا تَأْتِهِمْ».

“Aku baru saja meninggalkan masa jahiliah, sedangkan Allah telah mendatangkan Islam. Di antara kami ada orang-orang yang mendatangi para dukun.”

Beliau bersabda, “Janganlah kalian mendatangi mereka.”

(HR. Muslim (537) dan Abu Dawud (390).)

Dalil ke [6]:

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ الْكُهَّانَ كَانُوا يُحَدِّثُونَنَا بِالشَّيْءِ فَنَجِدُهُ حَقًّا. قَالَ: «تِلْكَ الْكَلِمَةُ الْحَقُّ، يَخْطَفُهَا الْجِنِّيُّ، فَيَقْذِفُهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ، وَيَزِيدُ فِيهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ».

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, dahulu para dukun menyampaikan sesuatu kepada kami, lalu ternyata apa yang mereka sampaikan itu benar.”

Beliau bersabda, “Itu adalah kalimat yang benar, yang dicuri oleh jin, kemudian dibisikkan ke telinga walinya. Lalu mereka mencampurkannya dengan seratus kebohongan.”

 (HR. Al-Bukhari (3210) dan Muslim (2228).)

Dalam riwayat lain, Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

سَأَلَ أُنَاسٌ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَنِ الْكُهَّانِ، فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «لَيْسُوا بِشَيْءٍ». قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَإِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ أَحْيَانًا بِالشَّيْءِ يَكُونُ حَقًّا. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «تِلْكَ الْكَلِمَةُ مِنَ الْجِنِّ، يَخْطَفُهَا الْجِنِّيُّ، فَيَقُرُّهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ قَرَّ الدَّجَاجَةِ، فَيَخْلِطُونَ فِيهَا أَكْثَرَ مِنْ مِائَةِ كَذْبَةٍ».

“Beberapa orang bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang para dukun. Rasulullah ﷺ menjawab kepada mereka, ‘Mereka itu tidak memiliki apa-apa.’

Mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, terkadang mereka menyampaikan sesuatu yang ternyata benar.’

Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Itu adalah kalimat yang berasal dari jin. Jin mencurinya, lalu menyampaikannya ke telinga walinya dengan cepat, seperti suara kokok ayam. Kemudian mereka mencampurkannya dengan lebih dari seratus kebohongan.’”

(Lihat: Shahih Muslim (2228).)

Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa pada masa jahiliah, orang-orang Arab mendatangi para dukun. Hal ini termasuk syirik dalam rububiyah.

Hal tersebut berlaku apabila seseorang membenarkan perkataan para dukun dan meyakini bahwa mereka mengetahui perkara gaib. Namun, masalah ini memiliki perincian terkait perbuatan mana yang termasuk syirik atau bukan, mana yang termasuk syirik besar atau syirik kecil, serta kapan suatu hukum dapat ditetapkan terhadap individu tertentu. Sebab, pengkafiran secara mutlak tidak serta-merta mengharuskan pengkafiran terhadap individu tertentu.

Intinya, masalah ini memiliki berbagai perincian yang bukan merupakan tempat untuk membahasnya di sini.

===

BENTUK KEENAM
Keyakinan adanya rububiyah ilahiyah berdasarkan mitos, khurafat, tahayul dan mistik

Tathayyur berkaitan dengan pengetahuan perkara gaib, termasuk perkara rububiyah. Berikut ini uraian penjelasannya:

----

[1] TATHOYYUR

Mereka dahulu melakukan tathayyur/ التَّطَيُّرُ (menganggap sial sesuatu).

(Thiyarah/ الطِّيَرَةُ), dengan huruf tha’ berharakat kasrah dan ya’ berharakat fathah, terkadang ya’ disukunkan, artinya menganggap sesuatu sebagai pertanda sial.

(An-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar, Ibnu al-Atsir, hlm. 564, entri: (طير), cetakan Baitul Afkar ad-Dauliyyah).

Thiyarah (الطِّيَرَةُ) adalah menganggap sial sesuatu yang dilihat, didengar, atau diketahui.

[*] Menganggap sial sesuatu yang dilihat (التَّشَاؤُمُ بِالْمَرْئِيِّ), seperti menganggap sial kucing hitam, burung hantu, dan hal-hal semisalnya.

[*] Menganggap sial sesuatu yang didengar (التَّشَاؤُمُ بِالْمَسْمُوعِ), seperti menganggap sial suara burung gagak, suara burung hantu, dan hal-hal semisalnya.

[*] Menganggap sial sesuatu yang maklum (التَّشَاؤُمُ بِمَعْلُومٍ), seperti menganggap sial angka 13.

[*] Menganggap sial waktu tertentu (التَّشَاؤُمُ بِوَقْتٍ) atau hari tertentu atau bulan tertentu atau yang semisalnya

Contohnya keyakinan bahwa bulan Bala (Safar) adalah bulan yang membawa kesialan, sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang awam yang tidak berilmu pada zaman kita.

---

DALIL-DALILNYA:

Dalil ke 1:

Hadits Mu‘awiyah bin al-Hakam as-Sulami yang telah disebutkan sebelumnya:

Dari Mu‘awiyah bin al-Hakam as-Sulami, ia berkata:

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أُمُورًا كُنَّا نَصْنَعُهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، كُنَّا نَأْتِي الْكُهَّانَ. قَالَ: «فَلَا تَأْتُوا الْكُهَّانَ». قَالَ: قُلْتُ: كُنَّا نَتَطَيَّرُ. قَالَ: «ذَاكَ شَيْءٌ يَجِدُهُ أَحَدُكُمْ فِي نَفْسِهِ، فَلَا يَصُدَّنَّكُمْ».

“Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, ada beberapa perkara yang dahulu kami lakukan pada masa jahiliah. Kami biasa mendatangi para dukun.’ Beliau bersabda, ‘Janganlah kalian mendatangi para dukun.’ Ia berkata, ‘Aku bertanya, ‘Kami dahulu melakukan tathayyur.’ Beliau bersabda, ‘Itu adalah sesuatu yang dirasakan oleh salah seorang di antara kalian dalam dirinya. Namun, jangan sampai hal itu menghalangi kalian (dari melakukan sesuatu).’” (HR. Muslim, no. 537).

Dengan demikian, terbukti bahwa mereka dahulu melakukan tathayyur pada masa jahiliah. Nabi ﷺ telah menyebutnya sebagai kesyirikan.

Dalil ke 2:

Dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«الطِّيَرَةُ مِنَ الشِّرْكِ».

“Thiyarah termasuk kesyirikan.” (Shahih: HR. Ahmad, no. 3687; at-Tirmidzi, no. 1614).

Dalam riwayat lain disebutkan:

«الطِّيَرَةُ شِرْكٌ».

“Thiyarah adalah kesyirikan.”

(Shahih: HR. Abu Dawud, no. 3910; Ibnu Majah, no. 3538).

Dalil ke 3:

Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ﴾

“Mereka berkata, ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan dunia. Kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.’” (QS. Al-Jatsiyah: 24).

Imam ath-Thabari berkata:

«وَقَوْلُهُ: ﴿وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ﴾، يَقُولُ تَعَالَى ذِكْرُهُ مُخْبِرًا عَنْ هَؤُلَاءِ الْمُشْرِكِينَ أَنَّهُمْ قَالُوا: وَمَا يُهْلِكُنَا فَيُفْنِينَا إِلَّا مَرُّ اللَّيَالِي وَالْأَيَّامِ وَطُولُ الْعُمُرِ، إِنْكَارًا مِنْهُمْ أَنْ يَكُونَ لَهُمْ رَبٌّ يُفْنِيهِمْ وَيُهْلِكُهُمْ».

“Adapun firman-Nya, ‘Dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa,’ maksudnya, Allah Ta’ala mengabarkan tentang orang-orang musyrik tersebut bahwa mereka berkata, ‘Tidak ada yang membinasakan dan memusnahkan kita selain berlalunya malam dan siang serta panjangnya usia.’ Hal itu mereka katakan sebagai bentuk pengingkaran bahwa mereka memiliki Rabb yang memusnahkan dan membinasakan mereka.”

(Tafsir ath-Thabari, 10/127, cetakan Darul Hadits, Kairo).

Mereka dahulu menganggap bahwa berlalunya siang dan malam merupakan faktor yang menyebabkan binasanya jiwa. Mereka juga mengingkari adanya Malaikat Maut dan tugasnya mencabut nyawa dengan izin Allah. Mereka menisbatkan setiap peristiwa yang terjadi kepada masa dan waktu.

(Tafsir an-Nasafi, 3/304 ; Irsyadus Sari li Syarhi Shahih al-Bukhari, al-Qasthalani, 13/186, hadits no. 6181, cetakan Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon)

---

[2] JIMAT, JAMPI-JAMPI SYIRIK, PENGLARIS & PENGASIHAN

Termasuk syirik rububiyah adalah keyakinan adanya rububiyah ilahiyah pada makhluk yang dibangun diatas keyakinan khurafat, takhayul dan mistik.

Atau menetapkan sesuatu sebagai sebab padahal Allah tidak menjadikannya sebagai sebab.

Yakni; meyakini bahwa sesuatu merupakan sebab untuk mendatangkan kebaikan atau menolak bahaya, padahal tidak terbukti sebagai sebab secara kauniyah maupun syar‘iyah, juga tidak terbukti secara ilmiyah, logika dan medis.

Contohnya adalah meyakini bahwa jimat-jimat syirik atau sebab-sebab yang bersifat tahayul memiliki pengaruh dengan sendirinya.

Dalam hadits Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu, diceritakan:

أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ رَأَى رَجُلًا فِي يَدِهِ حَلْقَةٌ مِنْ صُفْرٍ، فَقَالَ: «مَا هَذَا؟»

فَقَالَ: مِنَ الْوَاهِنَةِ – يَعْنِي: عَلَّقْتُهَا مِنْ أَجْلِ الْوَاهِنَةِ –

قَالَ: «انْزِعْهَا، فَإِنَّهَا لَا تَزِيدُكَ إِلَّا وَهْنًا، فَإِنَّكَ لَوْ مُتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا».

Bahwa Nabi ﷺ melihat seorang laki-laki yang mengenakan gelang dari kuningan di tangannya. Beliau bertanya, «Apa ini?»

Laki-laki itu menjawab, “Ini untuk penyakit al-wahinah” -maksudnya, “Aku mengenakannya karena penyakit al-wahinah”-.

Beliau bersabda, «Lepaskanlah gelang itu, karena sesungguhnya ia tidak menambahmu kecuali kelemahan. Jika engkau meninggal sementara gelang itu masih melekat padamu, niscaya engkau tidak akan pernah beruntung selamanya.»

Diriwayatkan oleh Ahmad (20000) dengan sedikit perbedaan lafaz, Ibnu Majah (3531), Ibnu Hibban (6085), ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir, 18/391, dengan lafaz yang serupa, dan al-Hakim dalam Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain (7692) secara ringkas.

Al-Hakim berkata, “Sanadnya sahih.”

Syaikh Bin Baz berkata dalam Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, 1/383, “Sanadnya jayyid.”

Dalam riwayat lain disebutkan:

أَنَّ النَّبِيَّ أَبْصَرَ عَلَى عَضُدِ رَجُلٍ حَلْقَةً – أُرَاهُ قَالَ: مِنْ صُفْرٍ – فَقَالَ: «وَيْحَكَ مَا هَذِهِ؟»

قَالَ: مِنَ الْوَاهِنَةِ. قَالَ: «أَمَا إِنَّهَا لَا تَزِيدُكَ إِلَّا وَهْنًا، انْبِذْهَا عَنْكَ، فَإِنَّكَ لَوْ مُتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا».

Bahwa Nabi ﷺ melihat sebuah gelang pada lengan seorang laki-laki—perawi berkata, “Saya kira beliau mengatakan: terbuat dari kuningan”—kemudian beliau bersabda, «Celakalah engkau, apa ini?»

Laki-laki itu menjawab, “Untuk penangkal penyakit al-wahinah.” Beliau bersabda, «Ketahuilah, gelang itu tidak menambahmu kecuali kelemahan. Buanglah dari dirimu. Jika engkau meninggal sementara gelang itu masih melekat padamu, niscaya engkau tidak akan pernah beruntung selamanya.»

Dalam lafaz Ibnu Hibban dan ath-Thabrani disebutkan:

«فَإِنَّكَ إِنْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ وُكِلْتَ إِلَيْهَا».

«Sesungguhnya jika engkau meninggal sementara gelang itu masih melekat padamu, niscaya engkau akan diserahkan urusan akhiratnya kepada gelang yang kamu tawakal kepadanya.»

----

SYARAH HADITS:

Nabi ﷺ melihat seorang laki-laki yang mengenakan gelang dari tembaga kuning, lalu beliau bertanya kepadanya tentang alasan ia mengenakannya. Laki-laki itu menjawab, “Untuk melindungi saya dari rasa sakit,” karena ia mengira gelang tersebut dapat memberikan manfaat dalam hal itu. Maka beliau memerintahkannya untuk melepaskan gelang tersebut dan menjelaskan kepadanya bahwa gelang itu tidak dapat menyembuhkan penyakitnya. Bahkan, gelang tersebut justru membahayakan dan menambah penyakitnya, yaitu ketergantungan kepadanya selain kepada Allah. Lebih parah lagi, jika gelang tersebut terus dikenakannya hingga ia meninggal, ia akan terhalang dari keberuntungan di akhirat.

Ibnu al-Atsir dalam an-Nihayah 5/234 menjelaskan:

“Al-Wahinah adalah urat yang mengenai bagian bahu dan seluruh lengan, lalu seseorang melakukan ruqyah untuk mengobatinya.

Ada pula yang mengatakan bahwa al-wahinah adalah penyakit yang menyerang lengan atas. Terkadang seseorang menggantungkan sejenis manik-manik pada bagian tersebut yang disebut kharaz al-wahinah. Penyakit ini menyerang laki-laki, bukan perempuan.

Nabi ﷺ melarangnya karena laki-laki tersebut mengenakannya dengan keyakinan bahwa gelang itu dapat melindunginya dari rasa sakit. Dengan demikian, gelang tersebut memiliki kedudukan seperti jimat yang dilarang”. [Selesai]

Dari Isa bin Abdurrahman, ia berkata:

دَخَلْنَا عَلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ عُكَيْمٍ وَهُوَ مَرِيضٌ نَعُودُهُ، فَقِيلَ لَهُ: لَوْ تَعَلَّقْتَ شَيْئًا، فَقَالَ: أَتَعَلَّقُ شَيْئًا، وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ».

Kami masuk menemui Abdullah bin Ukaim yang sedang sakit untuk menjenguknya. Lalu dikatakan kepadanya, “Bagaimana kalau engkau mengenakan sesuatu sebagai penangkal?” Ia menjawab, “Apakah aku akan mengenakan sesuatu sebagai penangkal, sementara Rasulullah ﷺ telah bersabda, «Barang siapa mengenakan sesuatu sebagai penangkal, niscaya ia akan diserahkan kepadanya.»”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad no. 18781, Ibnu Abi Syaibah, 7/13, dan al-Baihaqi dalam As-Sunan, 9/351, melalui jalur Waki’, dengan sanad ini.

Para pentahqiq Musnad Imam Ahmad, 31/78, berkata:

حَسَنٌ لِغَيْرِهِ، وَهَذَا إِسْنَادٌ ضَعِيفٌ، عَبْدُ اللهِ بْنُ عُكَيْمٍ لَمْ يَسْمَعْ مِنَ النَّبِيِّ ﷺ، وَابْنُ أَبِي لَيْلَى: وَهُوَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ضَعِيفٌ سَيِّئُ الْحِفْظِ.

“Hadits Hasan lighoirihi (karena adanya penguat dari jalur lain). Sanad ini lemah. Abdullah bin Ukaim tidak mendengar langsung dari Nabi ﷺ. Adapun Ibnu Abi Laila, yaitu Muhammad bin Abdurrahman, adalah seorang perawi yang lemah dan buruk hafalannya.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (2072) dan al-Hakim, 4/216, melalui jalur Ubaidullah bin Musa. At-Tirmidzi juga meriwayatkannya setelah hadits (2072), Ibnu Qani’ 2/117 melalui jalur Yahya bin Sa’id, dan ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir, 22/(960), melalui jalur al-Muththalib bin Ziyad. Ketiganya meriwayatkannya dari Muhammad bin Abi Laila dengan sanad tersebut.

Hadits ini memiliki penguat dari hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i dalam Al-Mujtaba, 7/112, melalui jalur Abbad bin Maisarah al-Munqari, dari al-Hasan, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ عَقَدَ عُقْدَةً ثُمَّ نَفَثَ فِيهَا فَقَدْ سَحَرَ، وَمَنْ سَحَرَ فَقَدْ أَشْرَكَ، وَمَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ».

«Barang siapa membuat suatu ikatan, kemudian meniup padanya, maka ia telah melakukan sihir. Barang siapa melakukan sihir, maka ia telah berbuat syirik. Dan barang siapa mengenakan sesuatu sebagai penangkal, niscaya ia akan diserahkan kepadanya.»

Kami berkata: Abbad bin Maisarah adalah perawi yang lunak dalam periwayatan hadits, sedangkan al-Hasan tidak mendengar hadits dari Abu Hurairah.

Ada pula penguat ketiga dari hadits Uqbah bin Amir bahwa Nabi ﷺ bersabda:

«‌مَنْ ‌تَعَلَّقَ ‌تَمِيمَةً ‌فَلَا ‌أَتَمَّ ‌اللَّهُ ‌لَهُ، وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدَعَةً فَلَا وَدَعَ اللَّهُ لَهُ»

“Barang siapa menggantungkan jimat, semoga Allah tidak menyempurnakan urusannya. Dan barang siapa menggantungkan wada‘ah (sejenis benda yang dijadikan jimat), semoga Allah tidak memberikan ketenangan kepadanya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (no. 17404), Ibnu Abdil Hakam (hlm. 289), Abu Ya‘la (no. 1759), ad-Dulabi dalam Al-Kuna (2/115), Ibnu Hibban (no. 6086), ath-Thabarani dalam Al-Mu‘jam al-Kabir (17/820), Ibnu Adi dalam Al-Kamil (6/2460), al-Hakim (4/216 dan 417), al-Baihaqi (9/350), dan Ibnu Abdil Barr (17/162), melalui beberapa jalur dari Haywah bin Syuraih, dengan sanad tersebut.

Al-Hakim terlalu bermudah-mudahan dalam menilai hadits ini sahih.

Para peneliti Musnad Imam Ahmad menilai hadits ini hasan (28/623).

As-Sindi berkata:

«لَوْ تَعَلَّقْتَ شَيْئًا»، أَيْ: عَلَّقْتَ، فَهُوَ مِنَ التَّعَلُّقِ بِمَعْنَى التَّعْلِيقِ، أَيْ: لَوْ رَبَطْتَ شَيْئًا فِي الْعُنُقِ مِنَ التَّعَاوِيذِ وَالتَّمَائِمِ.

«وُكِلَ إِلَيْهِ» بِالتَّخْفِيفِ أَوِ التَّشْدِيدِ: كِنَايَةٌ عَنِ انْقِطَاعِ الْمَدَدِ الْإِلَهِيِّ.

Sabda beliau ﷺ: «Bagaimana kalau engkau mengenakan sesuatu sebagai penangkal», maksudnya adalah “engkau menggantungkan sesuatu”. Kata tersebut berasal dari makna ta’alluq yang berarti menggantungkan, yaitu seandainya engkau mengikatkan sesuatu pada leher berupa jimat dan tamimah.

«Diserahkan kepadanya», baik dibaca dengan tasydid maupun tanpa tasydid, merupakan ungkapan untuk menunjukkan terputusnya pertolongan dan bantuan ilahi.

Para pentahqiq Musnad Imam Ahmad, 31/78, berkata:

قِيلَ: الْحَدِيثُ مَحْمُولٌ عَلَى تَمَائِمِ الْجَاهِلِيَّةِ مِثْلَ الْخَرَزَاتِ وَأَظْفَارِ السِّبَاعِ وَعِظَامِهَا، وَأَمَّا مَا يَكُونُ بِالْقُرْآنِ وَالْأَسْمَاءِ الْإِلَهِيَّةِ، فَهُوَ خَارِجٌ عَنْ هَذَا الْحُكْمِ، بَلْ هُوَ جَائِزٌ لِحَدِيثِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو [السَّالِفِ بِرَقْمِ (6696)] أَنَّهُ كَانَ يُعَلِّقُ لِلصِّغَارِ بَعْضَ ذَلِكَ. وَقِيلَ: هَذَا إِذَا عَلَّقَ شَيْئًا مُعْتَقِدًا جَلْبَ نَفْعٍ أَوْ دَفْعَ ضَرَرٍ، أَمَّا لِلتَّبَرُّكِ فَيَجُوزُ.

وَقَالَ الْقَاضِي أَبُو بَكْرٍ بْنُ الْعَرَبِيِّ فِي شَرْحِ التِّرْمِذِيِّ: تَعْلِيقُ الْقُرْآنِ لَيْسَ مِنْ طَرِيقِ السُّنَّةِ، وَإِنَّمَا السُّنَّةُ فِيهِ الذِّكْرُ دُونَ التَّعْلِيقِ.

Ada yang mengatakan bahwa hadits ini berkaitan dengan tamimah pada masa jahiliah, seperti manik-manik, kuku binatang buas, dan tulang-tulangnya. Adapun sesuatu yang berupa ayat Al-Qur’an dan nama-nama ilahi, maka hal itu tidak termasuk dalam hukum ini, bahkan dibolehkan berdasarkan hadits Abdullah bin Amr [yang telah disebutkan sebelumnya pada no. (6696)], bahwa ia biasa menggantungkan sebagian benda tersebut pada anak-anak kecil.

Ada pula yang mengatakan bahwa larangan ini berlaku apabila seseorang menggantungkan sesuatu dengan keyakinan bahwa benda tersebut dapat mendatangkan manfaat atau menolak kemudaratan. Adapun jika menggantungkannya untuk mencari keberkahan, maka dibolehkan.

Al-Qadhi Abu Bakr bin al-Arabi berkata dalam Syarh at-Tirmidzi: “Menggantungkan Al-Qur’an bukanlah bagian dari tuntunan Sunnah. Yang sesuai dengan Sunnah dalam hal ini adalah membaca zikir, bukan menggantungkannya.”

Dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

«‌إِنَّ ‌الرُّقَى، ‌وَالتَّمَائِمَ، ‌وَالتِّوَلَةَ ‌شِرْكٌ»

‘Sesungguhnya ruqyah (jampi-jampi yang mengandung kesyirikan), jimat, dan tiwalah (pelet) merupakan perbuatan syirik.’”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (no. 3615), Abu Dawud (no. 3883), Abu Ya‘la (no. 5208), dan al-Baghawi (no. 3240), melalui jalur Abu Mu‘awiyah dengan sanad tersebut.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 3530) melalui jalur Abdullah bin Bisyr, dari al-A‘masy, dengan sanad tersebut.

Al-Hakim meriwayatkannya dalam al-Mustadrak (4/417–418). Dan Al-Hakim berkata, “Hadits ini memiliki sanad sahih sesuai dengan syarat al-Bukhari dan Muslim, tetapi keduanya tidak meriwayatkannya.” Adz-Dzahabi menyetujui penilaian tersebut.

-----

BENTUK KETUJUH
 Syirik Rububiyah karena Mengingkari adanya hari kebangkitan setelah kematian.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ﴾

“Orang-orang kafir mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, ‘Tidak demikian. Demi Tuhanku, kalian benar-benar akan dibangkitkan, kemudian kalian benar-benar akan diberitahu tentang apa yang telah kalian kerjakan. Yang demikian itu mudah bagi Allah.’” (QS. At-Taghabun: 7).

Pada dasarnya, pengingkaran terhadap kebangkitan setelah kematian merupakan keraguan terhadap kekuasaan Allah Ta’ala. Hal ini merupakan bentuk celaan terhadap rububiyah Allah.

---

BENTUK KEDELAPAN:
Memberi hak kepada selain Allah untuk menetapkan hukum syar’i

Mereka musyrikin jahiliyah memberikan hak kepada selain Allah untuk menetapkan syariat atau hukum syar’i – yang merupakan kekhususan Allah Ta’ala -. Contohnya : kepada para pendeta dan rahib.

Allah Ta’ala telah menyebutkan golongan ini dalam firman-Nya:

﴿اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللهِ﴾

“Mereka menjadikan para pendeta dan rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah.” [At-Taubah: 31]

Allah juga mengisyaratkan hal ini dalam firman-Nya:

﴿وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللهِ﴾

“Dan janganlah sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai rabb-rabb selain Allah.” [Ali ‘Imran: 64]

Golongan kaum musyrik ini memberikan kepada para pendeta dan rahib hak menetapkan syariat atau hukum syar’i, padahal hak tersebut merupakan salah satu sifat dan kekhususan rububiyah. Dengan demikian, mereka menjadikan para pendeta dan rahib tersebut sebagai rabb-rabb.

Kemudian mereka menaati para pendeta dan rahib dalam hukum-hukum yang mereka tetapkan. Dengan demikian, mereka telah menyembah dan mempertuhankan mereka, karena menaati dalam hal penetapan syariat merupakan salah satu bentuk ibadah.

----

LARANGAN MENJADIKAN MANUSIA SEBAGAI RABB [ Tuhan Pencipta Syariat ]

Orang yang menciptakan syariat atau tata cara ibadah; pada hakiktanya dia telah menjadikan dirinya sebagai Rabb (Tuhan pencipta syariat atau agama).

Dan orang yang beribadah kepada Allah SWT dengan tata cara ibadah hasil ciptaan manusia, maka pada hakikatnya dia telah menyembah manusia pencipta syariat tersebut, meskipun tujuannya untuk Allah dan mengahadap kepada-Nya. Dengan demikian dia telah melakukan perbuatan syirik rububiyyah atau syirik ketuhanan.

Dulu Iblis adalah hamba Allah yang paling dahsyat ibadahnya kepada Allah serta menghadap kepada-Nya. Ibadah Iblis membuat seluruh para malaikat terkagum-kagum, maka para malaikat pun mengangkatnya sebagai penghulu para malaikat.

Namun tata cara ibadah Iblis tidak berdasarkan petunjuk Allah . Iblis beribadah dan bersujud kepada Allah SWT tidak berdasarkan aturan perintah dari Allah dan tujuannya bukan sebagai bentuk kepatuhan terhadap perintah Allah SWT, melainkan untuk ria dan berbangga-banggaan terhadap para makhluk selain dirinya; oleh sebab itu ketika Allah SWT memerintahkannya bersujud kepada Adam, maka Iblis menolaknya dan membangkangnya, lalu dia pun dikutuk dan di usir dari syurga ; karena pada hakikatnya iblis itu tidak taat dan tidak patuh kepada Allah dan itu adalah bentuk kesombongan. Iblis tidak sadar bahwa semua makluk adalah ciptaan Allah SWT, apapun bentuk nya dan bahan-nya.

Jangan kan sujud kepada Adam, kepada Ka’bah pun jika itu benar perintah dari Allah ; maka wajib mematuhinya, karena pada hakikatnya menyembah kepada Allah Pencipta Syariat, dengan cara mematuhi perintah-Nya.

Simpelnya : Orang yang sujud menghadap Ka’bah karena perintah Allah dan beribadahnya sesuai dengan syariat Allah, maka dia adalah muslim ahli tauhid. Adapun jika sebaliknya – yaitu tatacara ibadahnya berdasarkan syariat ciptaan manusia – maka dia telah menyembah manusia pencipta syariat tersebut. Dan itu adalah Syirik Rububiyyah.   

Dengan tegas Allah Azza wa Jallaa menyatakan bahwa orang yang mengamalkan hukum halal dan haram serta beribadah kepada Allah dengan syariat ciptaan manusia dan bukan dari Allah dan Rasul-Nya maka hukum nya sama dengan menjadikan orang yang menciptakan syariat tsb sebagai Rabb-Rabb ( tuhan-tuhan selain Allah ).

Yang demikian itu adalah kebiasaan orang-orang Yahudi dan Nasrani dahulu dan sekarang, dalam firman-Nya Allah Azza wa Jallaa menjelaskan :

﴿اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ﴾

Artinya : “ Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan tuhan selain Allah , dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan “. ( QS. At-Taubah : 31 ) .

Dari Sahabat Adiy bin Hatim radhiyallahu ‘anhu , dia berkata :

Aku datang menemui Nabi Muhammad ﷺ dengan kalung salib emas di leherku. Rasulullah ﷺ berkata, “Wahai Adi, lepaskan berhala itu dari dirimu.” Aku mendengar beliau membaca ayat dari Surat At-Taubah:

﴿اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللهِ﴾

*”Mereka menjadikan para pendeta dan rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah.”* (QS. At-Taubah: 31).

Setelah mendengar ayat ini aku berkata : “Wahai Rosulullah mereka tidak menyembahnya?”, lalu Rosulullah ﷺ menjawab :

«بَلَى، إِنَّهُمْ أَحَلُّوا لَهُمُ الْحَرَامَ وَحَرَّمُوا عَلَيْهِمُ الْحَلَالَ، فَاتَّبَعُوهُمْ، فَذَلِكَ عِبَادَتُهُمْ إِيَّاهُمْ».

“Benar , sesungguhnya ketika mereka (para pendeta dan para rahib) telah menghalalkan untuk mereka yang haram, dan mengharamkan untuk mereka yang halal , kemudian mereka mengikutinya (mengamalkannya), maka yang demikian itu adalah bentuk penyembahan mereka kepada nya “ .

( HR. Ahmad dan Turmudzi no. 3095. Dihasankan oleh Syeikh Al-Albani ).

Dalam lafadz lain :

قَدِمَ عَدِيُّ بْنُ حَاتِمٍ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ وَهُوَ نَصْرَانِيٌّ فَسَمِعَهُ يَقْرَأُ هَذِهِ الْآيَةَ: اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ، قَالَ: فَقُلْتُ لَهُ: إِنَّا لَسْنَا نَعْبُدُهُمْ، قَالَ: أَلَيْسَ يُحَرِّمُونَ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فَتُحَرِّمُونَهُ، وَيُحِلُّونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فَتُحِلُّونَهُ، قَالَ: قُلْتُ: بَلَى، قَالَ: فَتِلْكَ عِبَادَتُهُمْ

Adiy bin Hatim datang menemui Nabi Muhammad ﷺ dalam keadaan masih beragama Nasrani. Ketika itu, beliau mendengar Rasulullah ﷺ membaca ayat berikut: *”Mereka menjadikan para pendeta dan rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, serta (juga) al-Masih putra Maryam. Padahal mereka hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia. Mahasuci Dia dari apa yang mereka persekutukan”* (QS. At-Taubah: 31).

Adiy berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Kami tidak menyembah mereka.” Rasulullah ﷺ kemudian bertanya, “Bukankah mereka mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah, lalu kalian mengharamkannya? Dan mereka menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, lalu kalian menghalalkannya?” Adi menjawab, “Benar.” Rasulullah ﷺ pun bersabda, “Itulah bentuk penyembahan kalian kepada mereka.”

[ Di hukumi hasan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Haqiqotul Islam wal Iman no. 111].

Lebih jelas lagi dalam firman Allah SWT seperti berikut ini :

﴿أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ ۚ وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ ۗ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾

Artinya : “ Apakah mereka mempunyai syarik-syarik [sekutu-sekutu] selain Allah yang membikin syariat untuk mereka sebagai bagian dari agama yang mana Allah tidak pernah mengidzinkan nya ? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang lalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih. (QS. Asy-Syuro : 21).

Ayat diatas dengan jelas dan gamblang bahwa orang-orang yang beragama dengan cara mengamalkan syariat ciptaan manusia, maka pada hakikatnya mereka telah menjadikan manusia pencita syariat tersebut sebagai rabb (tuhan pencipta dan pengatur syariat) selain Allah Azza wa Jallaa.

----

MANUSIA YANG PALING DZALIM ADALAH ORANG YANG BIKIN SYARIAT DENGAN MENGATAS NAMAKAN AGAMA ALLAH

Allah SWT berfirman :

﴿وَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا اَوْ كَذَّبَ بِاٰيٰتِهٖۗ اِنَّهٗ لَا يُفْلِحُ الظّٰلِمُوْنَ﴾

Dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang mengada-adakan suatu kebohongan terhadap Allah, atau yang mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak beruntung. [ QS. Al-An’am : 21 ] .

Dan Allah SWT berfirman :

﴿وَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا اَوْ قَالَ اُوْحِيَ اِلَيَّ وَلَمْ يُوْحَ اِلَيْهِ شَيْءٌ وَّمَنْ قَالَ سَاُنْزِلُ مِثْلَ مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ ۗوَلَوْ تَرٰٓى اِذِ الظّٰلِمُوْنَ فِيْ غَمَرٰتِ الْمَوْتِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ بَاسِطُوْٓا اَيْدِيْهِمْ ۚ اَخْرِجُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اَلْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُوْنِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ اٰيٰتِهٖ تَسْتَكْبِرُوْنَ﴾

Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah atau yang berkata, “Telah diwahyukan kepadaku,” padahal tidak diwahyukan sesuatu pun kepadanya, dan orang yang berkata, “Aku akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.”

(Alangkah ngerinya) sekiranya engkau melihat pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu.”

Pada hari ini kamu akan dibalas dengan azab yang sangat menghinakan, karena kamu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (QS. Al-An’am: 93)

 ****

PEMBAHASAN KE DUA:
MENETAPKAN STATUS NASAB BERHALA-BERHALA SEBAGAI ANAK-ANAK TUHAN.

Dalam keyakinan mereka berkembang anggapan bahwa berhala-berhala tersebut merupakan “anak-anak perempuan Allah/ dewi-dewi” (Mahasuci Allah dari apa yang mereka katakan, dengan kesucian yang sebesar-besarnya). Hal tersebut, menurut pandangan mereka, memberikan kepada berhala-berhala itu kedudukan spiritual dan pengaruh rububiyah dalam mengatur sebagian urusan alam semesta.

Dalam surat An-Najm Allah SWT menyebutkannya dalam firman-Nya :

﴿أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ . وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ . أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَىٰ . تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ . إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ﴾

“ Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza . dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? . Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? . Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. ( QS. An-Najm 19-23 )” .

Dalam ayat ini di sebutkan tiga nama sesembahan utama kaum musyrikin arab jahiliyah, yaitu: Al-Laata, Al-Uzza dan Manah.

Al-A’mash berkata: “ Mereka menamakannya Laata (اللَّاتَ), bentuk kata perempuan dari kalimat Ilaah (الإلَهُ), adapun Uzza (العُزَّى) dari ‘Aziz’ (العَزِيْزُ)“.

Ibnu Jarir berkata: “Nama-nama tersebut mereka ambil dari suku kata nama-nama Allah Ta’ala, maka mereka mengatakan Laata adalah nama perempuan dari Allah, maha suci Allah dari apa-apa yang mereka katakan. Begitu pula kata Uzza nama perempuan dari Aziz”.

Adapun Manat (مَنَاةُ) dari al-Mannan (المَنَّانُ).

Masing-masing dari 3 nama tersebut menunjukan sifat rububiyah ilahiyah pada masing-masing berhala.

Bentuk sesembahan tersebut pada masa itu adalah sbb:

Pertama : Dewi Laata , merepresentasikan batu tapakan dan kuburan orang shaleh.

Kedua Dewi Uzza merepresentasikan berhala berbentuk 3 Pohon.

Ketiga : Dewi Manah , merepresentasikan berhala yang berbentuk Patung.

Mereka kaum musyrikin jahiliyah, juga menisbatkan nasab para malaikat kepada Allah SWT sebagai anak-anak perempuan-Nya / dewi-dewi, sebagaimana dalam firman-Nya:

﴿إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ لَيُسَمُّونَ الْمَلَائِكَةَ تَسْمِيَةَ الْأُنثَىٰ. وَمَا لَهُم بِهِ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ ۖ وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا. فَأَعْرِضْ عَن مَّن تَوَلَّىٰ عَن ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan malaikat itu dengan nama perempuan.

Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.

Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi”. [QS. An-Najm: 27-29]

****

PEMBAHASAN KETIGA:
MENGEMAS SYIRIK RUBUBIYAH DENGAN ISTILAH TAQORRUB DAN SYAFAAT.
(Sarana atau wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT)

====

KE [1]: MENGEMASNYA DENGAN ISTILAH TAQORRUB

Kaum Jahiliyah mengemas syirik rububiyah dengan dalih wasilah (perantara) dan Taqorrub (untuk mendekatkan diri kepada Allah), padahal realitanya mereka benar-benar menuhankannya dan menyembahnya:

Mereka berdusta dengan mengatakan bahwa berhala-berhala tersebut merupakan perantara yang memiliki kedudukan dekat di sisi Allah.

Ini sebagaimana yang Allah firmankan:

﴿أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى﴾

Artinya : Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).

Dan orang-orang yang mengambil wali-wali (pelindung/ penolong) selain Allah (berkata):

“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (QS. Zumar: 3).

Dalam menafsiri firman Allah SWT: “Melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya” . Imam Malik, Qotadah dan Suday dari Zaid bin Aslam dan Ibnu Zaid berkata : 

((أي: لِيَشْفَعُوا لَنَا، وَيُقَرِّبُونَا عِنْدَهُ مَنْزِلَةً))

“Maksudnya adalah: dengan alasan agar wali-wali itu mensyafaati kami dan mendekatkan kedudukan kami di sisi Allah”. ( Tafsir Ibnu Katsir 7/85 ).

Allah SWT telah menegaskan bahwa mereka jelas-jelas telah menjadikan berhala-berhala yang mereka sembah itu sebagai penolong dan pelindung (wali) bagi mereka. Berarti mereka telah menetapkan sebagian sifat rububiyah ilahiyah pada berhala-berhala tersebut.

Bukankah Allah SWT berfirman?

﴿ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾

“Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan”.

Dan bukankah Allah berfirman:

﴿وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا﴾

“Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari kalangan jin, tetapi mereka (jin) semakin menambah kesesatan dan kesusahan kepada mereka.” [QS. Al-Jin: 6]

Oleh sebab itu Al-Imam ath-Thobari (wafat 310 H) dalam Tafsirnya 20/481 berkata:

قَوْلُ بَعْضِهِمْ لِبَعْضٍ: ﴿مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللهِ زُلْفَى﴾، خِدَاعًا مِنْ بَعْضِهِمْ لِبَعْضٍ وَغُرُورًا، وَإِنَّمَا تُزَلِّفُهُمْ آلِهَتُهُمْ مِنَ النَّارِ، وَتُقْصِيهِمْ مِنَ اللهِ وَرَحْمَتِهِ.

“Ucapan sebagian mereka kepada sebagian yang lain: “Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya,” sebagai tipu daya sebagian mereka terhadap sebagian yang lain dan sebagai bentuk pengelabuan (penyesatan). Padahal, sesembahan-sesembahan mereka justru mendekatkan mereka kepada neraka dan menjauhkan mereka dari Allah dan rahmat-Nya”.

Dan ath-Thobari juga mengatakan:

وَاتَّقُوا قَوْلَ الْكَذِبِ وَالْفِرْيَةِ عَلَى اللهِ بِقَوْلِكُمْ فِي الْآلِهَةِ: ﴿مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللهِ زُلْفَى﴾، وَقَوْلِكُمْ لِلْمَلَائِكَةِ: هِيَ بَنَاتُ اللهِ، وَنَحْوِ ذَلِكَ مِنَ الْقَوْلِ، فَإِنَّ ذَلِكَ كَذِبٌ وَزُورٌ وَشِرْكٌ بِاللهِ.

“Takutlah kalian terhadap perkataan bohong dan dusta kepada Allah tentang sesembahan-sesembahan itu dengan ucapan kalian: ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya’.

Dan juga ucapan kalian tentang para malaikat: ‘Mereka adalah putri-putri Allah (dewi-dewi),’ serta ucapan-ucapan semisalnya.

Sesungguhnya semua itu adalah kedustaan, kebatilan, dan kesyirikan kepada Allah.” [Selesai] [Tafsir ath-Thobari 18/618]

Abu Hayyan berkata:

«هُمْ عُبَّادُ الْأَصْنَامِ لِاتِّخَاذِهِمْ لَهَا أَرْبَابًا أَوْ لِتَقَرُّبِهِمْ بِهَا إِلَى اللهِ».

“Mereka adalah para penyembah berhala karena mereka menjadikan berhala-berhala itu sebagai rabb-rabb, atau karena mereka menjadikannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.” (Tafsir al-Bahr al-Muhith, 3: 116).

Dengan demikian, ia menyebutkan bahwa mereka benar-benar menjadikan berhala-berhala mereka sebagai rabb, di samping kemungkinan bahwa mereka juga menjadikannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla.

Abu Ishaq az-Zajaaj (wafat 311 H) dalam kitabnya “Ma’aani al-Qur’an” 3/246, dia berkata:

فَإِنْ قَالَ قَائِلٌ: فَالَّذِي أَنْكَرَ عَلَيْهِمْ هُوَ التَّوَسُّلُ بِغَيْرِ عِبَادَةِ اللهِ إِلَى اللهِ، لِأَنَّهُمْ قَالُوا: ﴿مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللهِ زُلْفَى﴾، فَالْفَرْقُ بَيْنَ الْمُتَوَسِّلِينَ إِلَى اللهِ بِمَحَبَّةِ أَنْبِيَائِهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَصَالِحِي عِبَادِهِ أَنَّهُمْ يَتَوَسَّلُونَ بِهِمْ مُوَحِّدِينَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ، لَا يَجْعَلُونَ لَهُ شَرِيكًا فِي الْعِبَادَةِ، وَالْكُفَّارُ يَتَوَسَّلُونَ بِعِبَادَةِ غَيْرِ اللهِ، فَجَعَلُوا الْكُفْرَ وَسِيلَتَهُمْ.

Jika ada yang berkata, “Maka yang diingkari dari mereka adalah bertawasul kepada Allah dengan ibadah kepada selain Allah, karena mereka berkata: ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.’

Perbedaan antara orang-orang yang bertawasul kepada Allah dengan mencintai para nabi-Nya, para malaikat-Nya, dan hamba-hamba-Nya yang saleh adalah bahwa mereka bertawasul dengan kecintaan kepada mereka seraya mentauhidkan Allah Azza wa Jalla dan tidak menjadikan bagi-Nya sekutu dalam ibadah. Adapun orang-orang kafir, mereka bertawasul dengan menyembah selain Allah. Dengan demikian, mereka menjadikan kekufuran sebagai sarana mereka”. [Selesai]

Kronologi awal gagasan istilah taqorrub:

Prof. DR. As-Sarjaani dalam “مَنْ أَدْخَلَ الْأَصْنَامَ فِي الْكَعْبَةِ” (Orang Yang Memasukkan Berhala dalam K’abah), dia berkata:

كَانَ عَمْرُو بْنُ لُحَيٍّ الْخُزَاعِيُّ رَئِيسَ خُزَاعَةَ، وَكَانَ مِنْ أَكْثَرِهِمْ مَالًا، وَيُقَالُ: إِنَّهُ فَقَأَ عَيْنَ عِشْرِينَ بَعِيرًا، أَيْ مَلَكَ عِشْرِينَ أَلْفَ بَعِيرٍ، لِأَنَّ الْعَرَبِيَّ كَانَ يَفْقَأُ عَيْنَ بَعِيرٍ وَاحِدٍ إِذَا مَلَكَ أَلْفًا، لِيَدْفَعَ عَنْهَا الْعَيْنَ وَالْحَسَدَ، أَتَى عَمْرُو بْنُ لُحَيٍّ بِصَنَمٍ مِنَ الشَّامِ اسْمُهُ هُبَلُ، فَوَضَعَهُ فِي الْكَعْبَةِ، وَأَمَرَ النَّاسَ أَنْ يَتَّخِذُوهُ وَاسِطَةً إِلَى اللهِ تَعَالَى: ﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى﴾ [الزُّمَرِ: 3].

كَانَ صَنَمُ هُبَلٍ أَوَّلَ صَنَمٍ لِلْمُشْرِكِينَ وَأَعْظَمَهُ وَأَقْدَسَهُ عِنْدَهُمْ، كَانَ مِنَ الْعَقِيقِ الْأَحْمَرِ عَلَى صُورَةِ إِنْسَانٍ، مَكْسُورَ الْيَدِ الْيُمْنَى، أَدْرَكَتْهُ قُرَيْشٌ كَذَلِكَ، فَجَعَلُوا لَهُ يَدًا مِنْ ذَهَبٍ.

“Amr bin Luhai al-Khuza’i adalah pemimpin Khuza’ah dan termasuk orang yang paling banyak hartanya di antara mereka. Dikatakan bahwa ia melubangi mata dua puluh ekor unta, maksudnya ia memiliki dua puluh ribu ekor unta. Sebab, orang Arab biasa melubangi mata seekor unta apabila telah memiliki seribu ekor unta, untuk mencegahnya dari pengaruh ‘ain dan kedengkian. Amr bin Luhai kemudian membawa sebuah berhala dari Syam yang bernama Hubal. Ia menempatkannya di Ka’bah dan memerintahkan manusia agar menjadikannya sebagai perantara kepada Allah Ta’ala:

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung (wali-wali) selain Dia berkata, ‘Kami tidak menyembah mereka kecuali agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’” [Az-Zumar: 3]

Berhala Hubal merupakan berhala pertama kaum musyrik, sekaligus berhala yang paling besar dan paling mereka muliakan. Berhala tersebut terbuat dari batu akik merah berbentuk manusia, dengan tangan kanan yang patah. Ketika Quraisy menemukannya dalam keadaan demikian, mereka membuatkan tangan dari emas untuknya”.

Ibnu Hisyam berkata:

حَدَّثَنِي بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ: أَنَّ عَمْرَو بْنَ لُحَيٍّ خَرَجَ مِنْ مَكَّةَ إِلَى الشَّامِ فِي بَعْضِ أُمُورِهِ، فَلَمَّا قَدِمَ مَآبَ مِنْ أَرْضِ الْبَلْقَاءِ، وَبِهَا يَوْمَئِذٍ الْعَمَالِيقُ – وَهُمْ وَلَدُ عِمْلَاقٍ. وَيُقَالُ: عَمْلِيقُ بْنُ لَاوَذَ بْنِ سَامِ بْنِ نُوحٍ – رَآهُمْ يَعْبُدُونَ الْأَصْنَامَ، فَقَالَ لَهُمْ: مَا هَذِهِ الْأَصْنَامُ الَّتِي أَرَاكُمْ تَعْبُدُونَ؟ قَالُوا لَهُ: هَذِهِ أَصْنَامٌ نَعْبُدُهَا، فَنَسْتَمْطِرُهَا فَتُمْطِرُنَا، وَنَسْتَنْصِرُهَا فَتَنْصُرُنَا، فَقَالَ لَهُمْ: أَفَلَا تُعْطُونَنِي مِنْهَا صَنَمًا، فَأَسِيرَ بِهِ إِلَى أَرْضِ الْعَرَبِ، فَيَعْبُدُوهُ؟ فَأَعْطَوْهُ صَنَمًا يُقَالُ لَهُ هُبَلُ، فَقَدِمَ بِهِ مَكَّةَ، فَنَصَبَهُ وَأَمَرَ النَّاسَ بِعِبَادَتِهِ وَتَعْظِيمِهِ.

Sebagian ahli ilmu menceritakan kepadaku bahwa Amr bin Luhai keluar dari Makkah menuju Syam untuk suatu keperluannya. Ketika ia tiba di Ma’ab, salah satu wilayah Al-Balqa, pada saat itu terdapat kaum ‘Amaliqah di sana—mereka adalah keturunan ‘Imlaq. Ada pula yang mengatakan bahwa ia adalah ‘Amliq bin Lawadz bin Sam bin Nuh—Amr melihat mereka menyembah berhala. Ia bertanya kepada mereka, “Berhala-berhala apakah yang kalian lihat kalian sembah ini?”

Mereka menjawab, “Ini adalah berhala-berhala yang kami sembah. Kami meminta hujan kepada mereka, lalu mereka menurunkan hujan kepada kami. Kami meminta pertolongan kepada mereka, lalu mereka memberikan pertolongan kepada kami.”

Ia berkata kepada mereka, “Tidakkah kalian memberikan kepadaku salah satu berhala itu agar aku membawanya ke negeri Arab dan mereka menyembahnya?”

Mereka kemudian memberinya sebuah berhala yang bernama Hubal. Amr membawanya ke Makkah, lalu menempatkannya dan memerintahkan manusia untuk menyembah serta mengagungkannya”.

[Baca: as-Sirah an-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam 1/77. Baca pula: Al-Mufashshal fi Tarikh al-‘Arab Qabl al-Islam (11/253)]

Dengan demikian, mereka kaum jahiliyah telah meyakini adanya sebagian sifat rububiyah ilahiyah pada berhala-berhala yang mereka sembah.

Oleh sebab itu Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syeikh al-Albani menegaskan: bahwa bertaqorrub dalam do’a dengan mayit bukan termasuk perbuatan syririk, jika hanya sebatas sebagai sebab agar do’anya kepada Allah dikabulkan, selama tidak ada keyakinan bahwa si mayit tersebut memiliki sifat rububiyah kemampuan mengabulkan do’a.

Syeikh al-Albani berkata:

لَكِنْ يَقُولُ أَنَّا أَعْتَقِدُ أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ نَقُولَ اغْفِرْ لِي بِجَاهِ مُحَمَّدٍ، أَسْأَلُكَ بِمُحَمَّدٍ أَنْ تَغْفِرَ لِي، أَيُّشَ وَجْهُ الاِسْتِدْلَالِ عَلَى هَذَا بِأَنَّهُ مُشْرِكٌ لِأَنَّ اللَّهَ يَقُولُ عَلَى لِسَانِ الْمُشْرِكِينَ ﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى﴾ وَهُوَ لَا يَعْبُدُهُمْ.

Akan tetapi, seseorang boleh mengatakan :

“Saya berkeyakinan bahwa sesungguhnya kami diperbolehkan mengatakan: “Ya Allah, ampunilah kami dengan Jaah [kedudukan] Muhammad”, “Saya memohon kepada-Mu dengan Muhammad agar Engkau mengampuni saya.”

Mana sisi pendalilan yang menunjukkan bahwa ini musyrik ? Tidak ada; karena Allah berfirman tentang lisan orang-orang musyrik :

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. [QS. Az-Zumar : 3 ]

Sementara dia [yang bertawassul dengan Nabi ﷺ dan lainnya] sama sekali tidak menyembah mereka”. (Selesai) [Silsilatul Hudaa wan Nuur no. 287].

Dan Syeikhul Islam Ibnu Taimiah ketika selesai menyebutkan perbedaan pendapat dalam masalah taqorrub dan tawassul dengan mayit hanya sebagai sebagai sebab, dia berkata :

وَلَمْ يَقُلْ أَحَدٌ : إنَّ مَنْ قَالَ بِالْقَوْلِ الْأَوَّلِ فَقَدْ كَفَرَ وَلَا وَجْهَ لِتَكْفِيرِهِ فَإِنَّ هَذِهِ مَسْأَلَةٌ خَفِيَّةٌ لَيْسَتْ أَدِلَّتُهَا جَلِيَّةً ظَاهِرَةً وَالْكُفْرُ إنَّمَا يَكُونُ بِإِنْكَارِ مَا عُلِمَ مِنْ الدِّينِ ضَرُورَةً أَوْ بِإِنْكَارِ الْأَحْكَامِ الْمُتَوَاتِرَةِ وَالْمُجْمَعِ عَلَيْهَا وَنَحْوِ ذَلِكَ . وَاخْتِلَافُ النَّاسِ فِيمَا يُشْرَعُ مِنْ الدُّعَاءِ وَمَا لَا يُشْرَعُ كَاخْتِلَافِهِمْ هَلْ تُشْرَعُ الصَّلَاةُ عَلَيْهِ عِنْدَ الذَّبْحِ ؛ وَلَيْسَ هُوَ مِنْ مَسَائِلِ السَّبِّ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ .

“Tak seorang pun yang mengatakan: barangsiapa mengambil pendapat pertama (boleh tawassul dengan mayit sebagi sebab) ia dianggap telah kafir, maka itu tak ada alasan untuk mengkafirkannya, karena masalah ini adalah masalah yang samar-samar, dalil-dalilnya tidak jelas dan terang. Kekufuran hanyalah bagi orang yang mengingkari perkara-perkara yang sudah maklum (diketahui) secara darurat merupakan bagian dari agama secara pasti atau mengingkari hukum yang sudah mutawatir dan disepakati (ijma’) atau semisal itu.

Dan perbedaan manusia tentang cara berdoa yang di syariatkan dan yang tidak di syariatkan, sama seperti perbedaan mereka tentang hukum membaca sholawat kepada Nabi ﷺ ketika menyembelih binatang sembelihan. Dan itu bukan termasuk dalam permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan mencaci maki salah seorang dari kaum muslimin . “ (Majmu’ Fatawa 1/106)

Dari pernyataan Syeikh Ibnu Taimiah di atas, jelaslah bahwa ucapan sebagian orang  yang mengkafirkan sesama muslim karena permasalahan semacam ini tidaklah dapat dibenarkan.

Namun demikian, Ibnu Taimiyah juga dengan tegas melarang tawassul dan taqorrub dengan mayit jika disertai keyakinan bahwa si mayit tersebut memiliki kemampuan sebagian rububiyah ilahiyah. Beliau berkata:

"فَمَنْ جَعَلَ الْمَلَائِكَةَ وَالْأَنْبِيَاءَ وَسَائِطَ؛ يَدْعُوهُمْ، وَيَتَوَكَّلُ عَلَيْهِمْ، وَيَسْأَلُهُمْ جَلْبَ الْمَنَافِعِ وَدَفْعَ الضَّارِّ، مِثْلًا أَنْ يَسْأَلَهُمْ غُفْرَانَ الذَّنْبِ، وَهُدًى الْقُلُوبِ وَتَفْرِيجَ الْكُرُوبِ وَسَدَّ الْفَوَاقِتِ: فَهُوَ كَافِرٌ بِإِجْمَاعِ الْمُسْلِمِينَ"

“Barangsiapa menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai perantara; ia berdoa kepada mereka, bertawakkal kepada mereka, dan memohon kepada mereka untuk mendatangkan manfaat dan menghindarkan mudharat—seperti memohon kepada mereka untuk meminta ampunan dosa, petunjuk hati, menghilangkan kesusahan, dan menutup kesempitan—maka dia adalah kafir menurut Ijma’ [kesepakatan] umat Islam.” [Baca : “Majmu’ al-Fatawa” (1/124)].

Ijma’ [kesepakatan] ini telah dikutip oleh lebih dari satu ulama yang mengakui hal ini. Silahkan baca kitab “Al-Furuu’” oleh Ibnu Muflih (6/165), “Al-Insāf” (10/327), “Kashf al-Qināʿ” (6/169), dan “Maṭholib Ūlī an-Nuḥā” (6/279).

Sementara Abu Abdillah al-Hakim at-Tirmidzi (wafat 320 H) dalam Nawadir al-Ushul 4/144-145 menjelaskan:

وَالْعِبَادُ إِنَّمَا يَرَوْنَ الْمَطَرَ وَالْحَرَّ وَالْبَرْدَ وَالرِّيَاحَ وَالْأَرْضَ وَالْمَاءَ وَالزَّرْعَ وَالْحَصَادَ وَالْأَيْدِيَ الَّتِي تَتَدَاوَلُهُ، وَرُبُوبِيَّتُهُ فِي جَمِيعِ الْأَشْيَاءِ قَائِمَةٌ، لَا يَكُونُ شَيْءٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ، وَلَا يَقُومُ إِلَّا بِهِ، وَلَا يَدُومُ إِلَّا بِهِ، فَقُلُوبُ الْآدَمِيِّينَ وَنُفُوسُهُمْ مُعَلَّقَةٌ بِالْأَسْبَابِ الَّتِي يَرَوْنَهَا، فَإِذَا احْتَاجُوا إِلَى شَيْءٍ طَلَبُوا ذَلِكَ الشَّيْءَ مِنْ مَظَانِّهِ الَّذِي هُنَاكَ عَايَنُوهُ، فَمَنَّ اللهُ عَلَى الْمُوَحِّدِينَ بِمَعْرِفَتِهِمْ أَنَّ الرَّبَّ وَاحِدٌ، وَالْوَلَهُ بِالْقُلُوبِ فِي الْحَوَائِجِ إِلَى الْوَاحِدِ الَّذِي اسْمُهُ اللهُ، الَّذِي خَرَجَتِ الْأَشْيَاءُ مِنْ ذَلِكَ الِاسْمِ.

وَلِذَلِكَ أُمِرُوا أَنْ يَبْدَؤُوا فِي كُلِّ أَمْرٍ بِقَوْلِ: بِسْمِ اللهِ، كَأَنَّهُ يَقُولُ: هَذَا الشَّيْءُ بِهَذَا الِاسْمِ خَرَجَ، وَمَنْ حُرِمَ الْمِنَّةَ بَقِيَ مَعَ الْأَسْبَابِ، قُلُوبُهُمْ مُعَلَّقَةٌ بِهَا، مَفْتُونَةٌ فِيهَا، فَاتَّخَذُوا دُونَهُ أَوْلِيَاءَ فَعَبَدُوهُ، ثُمَّ قَالُوا: ﴿مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللهِ زُلْفَى﴾، وَقَالَتِ الرُّسُلُ لَهُمْ: ﴿أَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا﴾، حَتَّى قَالَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ: ﴿أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ﴾، وَالْأُفِّ كَلِمَةٌ لِلشَّتْمِ وَالصَّنْعَةِ.

 Para hamba hanya melihat hujan, panas, dingin, angin, tanah, air, tanaman, hasil panen, dan tangan-tangan yang mengelolanya. Rububiyah-Nya tetap berlaku atas segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi kecuali dengan idzin-Nya, tidak ada sesuatu pun yang dapat berdiri kecuali dengan-Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang dapat bertahan kecuali dengan-Nya. Hati dan jiwa manusia bergantung pada sebab-sebab yang mereka lihat. Apabila mereka membutuhkan sesuatu, mereka mencarinya pada tempat-tempat yang menurut mereka menjadi sumbernya, yang mereka saksikan secara langsung. Maka Allah memberikan karunia kepada orang-orang yang bertauhid berupa pengetahuan bahwa Rabb itu satu, dan hati mereka bergantung dalam memenuhi berbagai kebutuhan kepada Dzat Yang Maha Esa, yang nama-Nya adalah Allah, yang segala sesuatu berasal dari-Nya.

Oleh karena itu, mereka diperintahkan untuk memulai setiap perkara dengan mengucapkan, “Bismillah (Dengan nama Allah),” seakan-akan dikatakan, “Sesuatu ini terwujud dengan nama ini.”

Adapun orang yang tidak mendapatkan karunia tersebut, ia tetap bergantung kepada sebab-sebab, hatinya terpaut kepadanya dan terfitnah olehnya. Mereka pun mengambil penolong-penolong selain Allah lalu menyembah mereka. Kemudian mereka berkata:

“Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.”

Para rasul berkata kepada mereka:

“Apakah kalian menyembah selain Allah sesuatu yang tidak mampu memberikan mudharat maupun manfaat kepada kalian?”

Hingga Ibrahim ‘alaihis salam berkata:

“Celakalah kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah.”

Kata “uff” merupakan ungkapan untuk mencela dan mencaci”. [Selesai]

====

KE [2]: MENGEMASNYA DENGAN ISTILAH SYAFA’AT

Hal ini sebagaimana dalam firman Allah SWT berikut ini:

﴿فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْمُجْرِمُونَ وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ﴾

“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sungguh, orang-orang yang berbuat dosa itu tidak akan beruntung.

Dan mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat mendatangkan mudhorat kepada mereka dan tidak pula memberi manfaat kepada mereka, dan mereka berkata, ‘Mereka itu adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah.’

Katakanlah, ‘Apakah kamu hendak memberitahukan kepada Allah sesuatu yang tidak diketahui-Nya di langit dan di bumi?’ Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” [QS. Yunus: 17–18]

Penjelasan:

Bentuk syirik rububiyah ini, kaum musyrikini berdusta mengklaim bahwa mereka tidak menyembah sesembahan mereka dengan tujuan agar sesembahan tersebut memberikan manfaat kepada mereka dalam urusan dunia atau agar tidak mendatangkan mudhorat kepada mereka. Akan tetapi, mereka menyembahnya karena meyakini bahwa sesembahan-sesembahan tersebut memiliki hak memberikan syafaat di sisi Allah tanpa idzin dari Allah, atau bahwa Allah telah memberikan kepada mereka kewenangan khusus tersebut, yaitu kewenangan dalam memberikan syafaat, dan bahwa mereka dapat menentukan syafaat sesuai dengan apa yang mereka kehendaki, bukan sesuai dengan apa yang Allah Ta’ala kehendaki.

Dan Allah Ta’ala telah mengisyaratkan makna ini dalam firman-Nya:

﴿أَمِ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللهِ شُفَعَاءَ قُلْ أَوَلَوْ كَانُوا لَا يَمْلِكُونَ شَيْئًا وَلَا يَعْقِلُونَ قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ﴾

“Ataukah mereka mengambil pemberi syafaat selain Allah? Katakanlah, ‘Apakah mereka tetap akan menjadi pemberi syafaat sekalipun mereka tidak memiliki sesuatu pun dan tidak mengerti?’ Katakanlah, ‘Pertolongan syafaat itu seluruhnya milik Allah. Milik-Nya kerajaan langit dan bumi, kemudian hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.’” [Az-Zumar: 43–44]

Allah Ta’ala membantah klaiman mereka ini dengan dua hal:

Pertama, mereka tidak memiliki sesuatu pun, baik syafaat maupun yang lainnya. Ini merupakan bantahan terhadap keyakinan mereka bahwa sesembahan-sesembahan tersebut memiliki hak memberikan syafaat di sisi Allah tanpa idzin dari Allah. Sebab, kepemilikan mengharuskan pemiliknya dapat menggunakan sesuatu yang dimilikinya tanpa idzin dari siapa pun.

Kedua, seluruh syafaat adalah milik Allah. Tidak ada seorang pun yang memberikan syafaat kecuali dengan idzin-Nya. Syafaat bukan satu-satunya hal yang menjadi milik Allah, bahkan milik-Nya kerajaan langit dan bumi, dan hanya kepada-Nya kalian dikembalikan. Kemudian Dia memberikan keputusan di antara kalian dan memberikan balasan kepada kalian sesuai dengan keyakinan dan amal perbuatan kalian.

Jadi, kaum musyrik dari kelompok ini meyakini bahwa sesembahan-sesembahan mereka memiliki hak atas syafaat dan dapat mengatur syafaat sesuai dengan apa yang mereka kehendaki, bukan sesuai dengan apa yang Allah kehendaki. Karena itu, kaum musyrik menyembah mereka untuk mencari belas kasih mereka dan memperoleh rahmat mereka agar mereka memberikan syafaat bagi kaum musyrik tersebut di sisi Allah.

Abu Manshur al-Maturidi (wafat 333 H) dalam Tafsirnya “Ta’wilat Ahli as-Sunnah” 7/65-66:

«قَوْلُهُ: ﴿أَمِ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ شُفَعَاءَ قُلْ أَوَلَوْ كَانُوا لَا يَمْلِكُونَ شَيْئًا وَلَا يَعْقِلُونَ﴾ أَخْبَرَ أَنَّهُمْ لَا يَمْلِكُونَ مَا يُطْعِمُونَ بِعِبَادَتِهِمْ إِيَّاهَا. أَوْ أَنْ يُذْكَرَ هَذَا؛ لِقَطْعِ مَا يَرْجُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ كَشْفِ ضَرٍّ عَنْهُمْ وَدَفْعِهِ، أَوْ جَرِّ نَفْعٍ إِلَيْهِمْ وَسَوْقِ خَيْرٍ، عَلَى مَا أَخْبَرَ أَنَّهُ لَا يَمْلِكُ ذَلِكَ أَحَدٌ سِوَاهُ».

Firman-Nya, “Ataukah mereka mengambil selain Allah sebagai pemberi syafaat? Katakanlah, ‘Apakah demikian juga meskipun mereka tidak memiliki sesuatu pun dan tidak pula berakal?’” Allah memberitahukan bahwa mereka tidak memiliki sesuatu yang dapat mereka berikan makan kepada orang-orang yang menyembah mereka.

Atau, penyebutan hal ini bertujuan untuk memutus harapan mereka kepada selain Allah dalam menghilangkan dan menolak mudharat dari mereka, atau mendatangkan manfaat kepada mereka dan memberikan kebaikan kepada mereka, sebagaimana Allah telah memberitahukan bahwa tidak ada seorang pun yang memiliki kemampuan atas hal tersebut selain Dia".

Jadi pada realitanya kaum jahiliyah bukan sebatas menjadikan berhala-berhala tersebut sebagai syafa’at di sisi Allah, melainkan juga menjadikannya sebagai rabb-rabb selain Allah yang diyakini pula memiliki sebagian rububiyah ilahiyah.

Perkataan kaum jahiliyah “”Mereka adalah syafa’at kami di sisi Allah””, adalah dusta dan tidak sesuai dengan realitanya, sebagaimana dikatakan oleh Abu Ishaq az-Zajaaj (wafat 311 H), Syekh al-Albani dan lainnya: 

Abu Ishaq az-Zajaaj (wafat 311 H) dalam Ma’aani al-Qur’an wa I’roobihi 3/11 menjelaskan makna ayat diatas:

«أَيْ أتَعَبَّدُونَ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُمَيِّزُ، وَتَزْعُمُونَ أَنَّهَا تَشْفَعُ عِنْدَ اللَّهِ، فَتُخْبِرُونَ بِالْكَذِبِ».

Yakni; “Apakah kalian menyembah sesuatu yang tidak dapat mendengar, melihat, dan membedakan, lalu mengklaim bahwa sesuatu itu dapat memberikan syafaat di sisi Allah? Dengan demikian, kalian telah menyampaikan kebohongan”.

Dan Syeikh al-Albaani berkata:

"هُوَ لَا يَقُولُ ﴿هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ﴾، هُوَ يَسْأَلُ وَيَتَوَسَّلُ، فَإِمَّا أَنَّهُ يَسْتَجِيبُ وَإِمَّا أَلَّا يَسْتَجِيبُ، فَهَذَا لَيْسَ كَقَوْلِ الْمُشْرِكِينَ الْجَازِمِينَ بِأَنَّ هَؤُلَاءِ الْآلِهَةِ الَّتِي لَا حَقِيقَةَ لَهَا أَنَّهُمْ شُفَعَاؤُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى".

Orang yang melakukan tawassul jenis ini (taqorrub dengan menyebut nama Nabi ﷺ atau dengan Jaah-nya) tidak mengatakan : “Mereka adalah syafa’at kami di sisi Allah.” Mereka hanya memohon dengan cara bertawassul dengannya. Lalu mungkin akan dikabulkan atau mungkin tidak dikabulkan. Maka ini berbeda dengan pernyataan mutlak orang-orang musyrik yang mengatakan bahwa para tuhan ini yang tidak ada realitanya ini adalah para pemberi syafaat bagi mereka di sisi Allah Tabaaraka wa Ta’aalaa”.

Dan Abdul Karim al-Qusyairi (wafat 458 H) dalam “Latha’if al-Isyarat” (2/85) berkata:

ذَمَّهُمْ عَلَى عِبَادَةِ مَا لَيْسَ مِنْهُ ضَرٌّ وَلَا نَفْعٌ.

فَدَلِيلُ الْخِطَابِ يَقْتَضِي أَنْ يَكُونَ الْمَعْبُودُ مِنْهُ الضُّرُّ وَالنَّفْعُ، وَمِنْ فَرْطِ غَبَاوَتِهِمْ أَنَّهُمْ انْتَظَرُوا فِي الْمَآلِ الشَّفَاعَةَ مِمَّنْ لَا يُوجَدُ مِنْهُ الضُّرُّ وَالنَّفْعُ فِي الْحَالِ. ثُمَّ أَخْبَرَ أَنَّهُمْ يُخْبِرُونَ عَمَّا لَيْسَ عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي قَالُوا مَعْلُومًا، وَلَوْ كَانَ كَمَا قَالُوا لَعَلِمُوا أَنَّهُ سُبْحَانَهُ لَا يَعْزُبُ عَنْ عِلْمِهِ مَعْلُومٌ.

وَمَعْنَى قَوْلِهِ: «لَا يَعْلَمُ»: خِلَافُهُ. وَمَنْ تَعَلَّقَ قَلْبُهُ بِالْمَخْلُوقِينَ فِي اسْتِدْفَاعِ الْمَضَارِّ وَاسْتِجْلَابِ الْمَسَارِّ فَكَالسَّالِكِ سَبِيلَ مَنْ عَبَدَ الْأَصْنَامَ؛ إِذِ الْمُنْشِئُ وَالْمُوجِدُ لِلشَّيْءِ مِنَ الْعَدَمِ هُوَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ.

“Allah mencela mereka karena menyembah sesuatu yang tidak dapat mendatangkan mudharat maupun manfaat.

Berdasarkan pemahaman kebalikan dari ayat tersebut, seharusnya sesuatu yang disembah itu dapat mendatangkan mudarat dan manfaat. Di antara bentuk kebodohan mereka yang sangat parah adalah bahwa mereka mengharapkan syafaat di akhirat dari sesuatu yang pada saat ini tidak dapat mendatangkan mudharat maupun manfaat.

Kemudian Allah mengabarkan bahwa mereka menyampaikan sesuatu yang tidak diketahui sebagaimana yang mereka katakan. Seandainya keadaan itu benar seperti yang mereka klaim, tentu mereka akan mengetahui bahwa tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Makna firman-Nya, ‘tidak diketahui-Nya’ adalah bahwa hal itu bertentangan dengan kenyataan.

Barang siapa hatinya bergantung kepada makhluk untuk menolak berbagai mudarat dan memperoleh berbagai kesenangan, maka ia seperti orang yang menempuh jalan orang-orang yang menyembah berhala. Sebab, Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah yang menciptakan dan mewujudkan segala sesuatu dari ketiadaan.”

Al-Imam Al-Baihaqi dalam “Dalā’il an-Nubuwwah”, hlm. 74, ketika menafsirkan ayat ini, dia berkata:

وَزَعَمُوا أَنَّ بَيْنَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَبَيْنَ الْجِنَّةِ نَسَبًا، وَأَنَّ لَهُ سُبْحَانَهُ مِنْهُمْ صَاحِبَةً، وَلَدَتْ لَهُ الْمَلَائِكَةَ! وَعَبَدُوا الْجِنَّ أَيْضًا... قَالَ الْكَلْبِيُّ فِي كِتَابِ الْأَصْنَامِ: «كَانَتْ بَنُو مُلَيْحٍ مِنْ خُزَاعَةَ يَعْبُدُونَ الْجِنَّ».

“Mereka mengklaim bahwa terdapat hubungan nasab antara Allah Subhanahu wa Ta’ala dan jin, serta bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki pasangan dari kalangan jin yang melahirkan para malaikat bagi-Nya! Mereka juga menyembah jin.

Al-Kalbi berkata dalam kitab Al-Ashnām, ‘Bani Mulaih dari suku Khuza‘ah dahulu menyembah jin.’”

----

PENJELASAN SYEIKH AL-ALBANI TENTANG TAQORRUB & SYAFA’AT

Syeikh al-Albaani, menjelaskan bahwa orang yang bertawassul dengan Nabi ﷺ setelah beliau wafat, baik dengan jaah-nya [pangkat, kedudukan dan kehormatan], maupun dengan dzat diri-nya. Maka menurut Syeikh al-Albani: kedua-duanya bukan perbuatan syirik dan bukan pula kekufurn, bahkan itu tidak boleh diingkari.

Begitu pula tentang syafa’at.

Inilah yang dinyatakan oleh syeikh al-Albani, sebagaimana disebutkan dalam Silsilatul Hudaa wan Nuur no. 287.

KUTIPAN TANYA JAWAB AL-ALBANI:

Berikut ini kutipan sebagian dari text tanya jawab dengan Syeikh al-Albani:

الكَلَامُ عَلَى دَعْوَةِ الشَّيْخِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِالوَهَّابِ وَاستِطْرَادٌ فِي مَسْأَلَةِ التَّوْسُلِ بِالنَّبِيِّ ﷺ وَبِجَاهِ النَّبِيِّ ﷺ.

كَلَامُ الشَّيْخِ الألْبَانِيِّ عَنْ حُكْمِ مَنْ يَتَوَسَّلُ بِالتَّوْسُلِ الْمُبْتَدَعِ هَلْ هَذَا كُفْرٌ أَوْ شِرْكٌ؟:

قَالَ الشَّيْخُ: مَا يَنْبَغِي أَنْ نَقُولَ رَأْسًا كُفْرًا أَوْ شِرْكًا، يَجِبُ أَنْ نَسْتَفْصِلَ الْقَوْلَ أَنَّ هَذَا الَّذِي يَتَوَسَّلُ مَاذَا يَعْنِي، مَاذَا يُرِيد؟ وَإِلَّا كَفَرْنَا وَشَرَّكَنَا إِمَامًا مِنْ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ أَلا وَهُوَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ الشَّوْكَانِيُّ لِأَنَّهُ يَقُولُ بِجَوَازِ التَّوْسُلِ، هَلْ تَعْرِفُ هَذَا؟

قَالَ السَّائِلُ: يَعْنِي بِالْجَاهِ، بِجَاهِ الرَّسُولِ؟

قَالَ الشَّيْخُ: بِالرَّسُولِ بَعْدَ مَوْتِهِ.

قَالَ السَّائِلُ: بِجَاهِ الرَّسُولِ أَمْ بِذَاتِهِ؟

قَالَ الشَّيْخُ: بِذَاتِهِ، لَكِنَّ أَنَا الْآنَ لَا أَسْتَحْضِرُ ...

قَالَ السَّائِلُ: الظَّاهِرُ بِجَاهِهِ، وَكَذَلِكَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ رَحِمَهُ بِجَوَازِ التَّوْسُلِ بِجَاهِ الرَّسُولِ ﷺ ...

قَالَ الشَّيْخُ: لَكِنَّ أَمَا تُشْعِرُ مَعِيَ أَنَّ الْوَقُوفَ عِنْدَ هَذِهِ الْأَلْفَاظِ جُمُودٌ؟ إِذَا تَوَسَّلَ بِالْجَاهِ يُخْتَلِفُ عَنِ التَّوَسُّلِ بِالذَّاتِ، فَالَّذِي يَتَوَسَّلُ بِالْجَاهِ لَا يُنْكِرُ عَلَيْهِ، وَالَّذِي يَتَوَسَّلُ بِالذَّاتِ يُنْكِرُ عَلَيْهِ؟

Terjemah nya :

Pernyataan tentang Dakwah Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Pendalaman dalam Masalah Tawassul dengan Nabi ﷺ dan dengan Pergantian Nabi ﷺ.

Pernyataan Syeikh Al-Albani tentang Hukum “Orang yang Bertawassul dengan Tawassul Bid’ah, Apakah Ini Kufur dan Syirik ?”:

Syekh al-Albaani berkata:

“Tidak seharusnya kita mengatakan langsung kufur atau syirik. Kita harus meminta penjelasan apa yang dimaksud oleh orang yang melakukan tawassul, apa yang ingin mereka sampaikan. Jika tidak, kita akan menganggap bahwa kita telah mengkafirkan dan menganggap musyrik seorang imam dari para imam kaum muslimin, seperti Muhammad bin Ali Asy-Syawkani, karena ia berpendapat tentang diperbolehkannya tawassul. Apakah Anda tahu ini?”

Penanya berkata: “Maksudnya dengan جَاه [pangkat, kedudukan dan kehormatan],  dengan Jaah Rasul ﷺ?”

Syekh menjawab: “Tawassul dengan Rasul setelah kematiannya?.”

Penanya berkata : “Dengan Jaah Rasul ﷺ atau dengan dzat-nya?”

Syekh menjawab : “Dengan wasilah dzat-nya, tetapi saat ini saya tidak ingat ...”

Penanya berkata: “Yang tampak adalah dengan Jaah-nya, begitu juga dengan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah yang membolehkan tawassul dengan Jaah Rasul ﷺ ...”

Syekh al-Albaani berkata:

لَكِنَّ أَمَا تُشْعِرُ مَعِيَ أَنَّ الْوَقُوفَ عِنْدَ هَذِهِ الْأَلْفَاظِ جُمُودٌ؟ إِذَا تَوَسَّلَ بِالْجَاهِ يُخْتَلِفُ عَنِ التَّوَسُّلِ بِالذَّاتِ، فَالَّذِي يَتَوَسَّلُ بِالْجَاهِ لَا يُنْكِرُ عَلَيْهِ، وَالَّذِي يَتَوَسَّلُ بِالذَّاتِ يُنْكِرُ عَلَيْهِ؟

“Namun, apakah Anda merasa bersamaku bahwa membicarakan lafadz-lafadz ini nampak kaku? Jika dia tawassul dengan [جَاه], mak itu berbeda dengan tawassul dengan dzat Rasul ﷺ.

Orang yang tawassul dengan Jaah [جَاه]; tidak boleh diingkari. Lalu apakah orang yang tawassul dengan dzat Rasul ﷺ harus diingkari???”.

LANJUT:

الشيخ: قُل لا، فإذا قَالَ وَاحِد مِثْلَ الشوكاني أَنَا أَقُولُ مِثْلَ حَتَّى مَا تَدَنَّدَنْ حَوْلَ الشوكاني، إذَا قَالَ وَاحِد مِثْلَ الشَّوكَاني " اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِمُحَمَّدٍ أَنْ تَغْفِرَ لِي " هَلْ ذَبَحَ لَهُ؟

السائل: لا لَمْ يَذْبَحْ.

الشيخ: إِلَى آخِرِهِ، هَلْ هَذَا مُشْرِكٌ؟

السائل: لا لَيْسَ بِمُشْرِكٍ.

الشيخ: هَلْ يَجُوزُ الاِسْتِدْلَالُ عَلَيْهِ بِالآيَةِ السَّابِقَةِ؟

السائل: لا.

الشيخ: هَذَا الَّذِي تَفْعَلُونَهُ، وَهُنَا يَكْمُنُ الْخَطَأُ فَيَجِبُ لِمَا تَبْحَثُونَ هَذِهِ الْبُحُوثِ الْخَطِيرَةِ الدَّقِيقَةِ تَفَرُّقُوا بَيْنَ مَنْ عَمَلَهُ كُلَّهُ شِرْكٌ فَيُقَالُ هَذَا تَوَسُّلٌ مِنْهُ مِنْ هَذَا النَّوْعِ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ يَنْدَفِعُ حَسَبَ الْعَقِيدَةِ وَالْأَفْكَارِ يَلِي هُوَ مُتَشَبِّعٌ بِهَا، فَإِذَا كَانَ إِنْسَانٌ زَيْدٌ مِنَ النَّاسِ مُتَشَبِّعٌ بِأَنَّهُ لَا يَذْبَحُ إِلَّا لِلَّهِ وَلَا يَنْذُرُ إِلَّا اللَّهَ، وَلَا يَطُوفُ إِلَّا بِبَيْتِ اللَّهِ، وَلَا يَدْعُو عِنْدَ الشَّدَائِدِ إِلَّا اللَّهَ... كُلَّ مَا شِئْتَ مِنَ السَّلْبِيَّاتِ لَا لَا لَا إِلَى آخِرِهِ مَا هُنَالِكَ، لَكِنْ يَقُولُ أَنَّا أَعْتَقِدُ أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ نَقُولَ اغْفِرْ لِي بِجَاهِ مُحَمَّدٍ، أَسْأَلُكَ بِمُحَمَّدٍ أَنْ تَغْفِرَ لِي، أَيُّشَ وَجْهُ الاِسْتِدْلَالِ عَلَى هَذَا بِأَنَّهُ مُشْرِكٌ لِأَنَّ اللَّهَ يَقُولُ عَلَى لِسَانِ الْمُشْرِكِينَ ﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى﴾ وَهُوَ لَا يَعْبُدُهُمْ؟.

السائل: الآيَةُ الثَّانِيَةُ؟

الشيخ: هَاتِهَا.

السائل: هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ...

الشيخ: هُوَ لَا يَقُولُ ﴿هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ﴾، هُوَ يَسْأَلُ وَيَتَوَسَّلُ، فَإِمَّا أَنَّهُ يَسْتَجِيبُ وَإِمَّا أَلَّا يَسْتَجِيبُ، فَهَذَا لَيْسَ كَقَوْلِ الْمُشْرِكِينَ الْجَازِمِينَ بِأَنَّ هَؤُلَاءِ الْآلِهَةِ الَّتِي لَا حَقِيقَةَ لَهَا أَنَّهُمْ شُفَعَاؤُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى.

الحلبي : دَقِيْقَةٌ جِدًّا هَذِه .

Terjemah nya :

Sheikh al-Albaani : Katakan tidak boleh!, jadi jika seseorang mengatakan seperti yang Syaukani katakan , maka saya akan mengatakan sama seperti itu sampai tidak ada lagi orang yang mempeributkan tentang Syaukani.

Jadi, jika seseorang mengucapkan seperti Syaukani, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan Muhammad agar Engkau mengampuni dosaku,” apakah dia itu sama dengan mempersembahkan sembelihan (berkurban) untuknya ?

Penanya: Tidak, dia tidak seperti mempersembahkan hewan sembelihan .

Sheikh al-Albani: Sampai akhir doa tersebut, apakah ini perbuatan syirik?

Penanya: Tidak, ini bukanlah perbuatan syirik.

Syeikh al-Albani: Apakah boleh menggunakan ayat sebelumnya sebagai dalil untuk tindakan ini? [Yakni ayat:

﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ﴾

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. [QS. Az-Zumar : 3 ].]

Penanya: Tidak.

Syeikh al-Albani: Ini yang kalian lakukan [tuduhkan], dan di sinilah terletak kesalahan.

Dalam penelitian hukum yang sarat bahaya dan perlu kecermatan yang kalian lakukan, maka harus dibedakan antara mereka yang melakukan perbuatan yang keseluruhannya adalah syirik, lalu dikatakan bahwa ini adalah tawassul dari macam ini, karena manusia itu akan terdorong melakukan hal itu berdasarkan keyakinan dan pemikiran yang dianutnya yang telah mendarah daging .

Jika seseorang seperti Zaid di antara orang-orang memiliki keyakinan yang mendarah daging bahwa menyembelih hewan itu hanya diperbolehkan untuk Allah, bersumpah hanya boleh demi Allah, berthawaf mengelilingi Ka’bah hanya boleh karena Allah, dan berdoa dalam kesulitan hanya boleh kepada Allah... Maka semua apa yang kamu ungkapkan tentang kenegatifan-kenegatifan , saya katakan : tidak, tidak, tidak, dan seterusnya .

Namun, seseorang boleh mengatakan :

" أَنَّا أَعْتَقِدُ أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ نَقُولَ اغْفِرْ لِي بِجَاهِ مُحَمَّدٍ، أَسْأَلُكَ بِمُحَمَّدٍ أَنْ تَغْفِرَ لِي، أَيُّشَ وَجْهُ الاِسْتِدْلَالِ عَلَى هَذَا بِأَنَّهُ مُشْرِكٌ لِأَنَّ اللَّهَ يَقُولُ عَلَى لِسَانِ الْمُشْرِكِينَ ﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى﴾. وَهُوَ لَا يَعْبُدُهُمْ؟".

“Saya berkeyakinan bahwa sesungguhnya kami diperbolehkan mengatakan :

“Ya Allah, ampunilah kami dengan Jaah [kedudukan] Muhammad”, “Saya memohon kepada-Mu dengan Muhammad agar Engkau mengampuni saya.”

Mana sisi pendalilan yang menunjukkan bahwa ini musyrik?

Tidak ada; karena Allah berfirman tentang lisan orang-orang musyrik :

﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ﴾

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. [QS. Az-Zumar : 3 ]

Sementara dia [yang bertawassul dengan Nabi ﷺ dan lainnya] sama sekali tidak menyembah mereka.

Penanya bertanya tentang ayat kedua. (Yakni:

﴿وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ﴾

“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. [QS. Yunus : 18])

Syeikh al-Albani meminta untuk membaca ayat tersebut.

Penanya mengatakan :

﴿هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ﴾

“Mereka adalah syafa’at kami di hadapan Allah...”

Syeikh al-Albaani berkata :

"هُوَ لَا يَقُولُ ﴿هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ﴾، هُوَ يَسْأَلُ وَيَتَوَسَّلُ، فَإِمَّا أَنَّهُ يَسْتَجِيبُ وَإِمَّا أَلَّا يَسْتَجِيبُ، فَهَذَا لَيْسَ كَقَوْلِ الْمُشْرِكِينَ الْجَازِمِينَ بِأَنَّ هَؤُلَاءِ الْآلِهَةِ الَّتِي لَا حَقِيقَةَ لَهَا أَنَّهُمْ شُفَعَاؤُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى".

Orang yang melakukan tawassul jenis ini tidak mengatakan : “Mereka adalah syafa’at kami di sisi Allah.” Mereka hanya memohon dengan cara bertawassul dengannya. Lalu mungkin akan dikabulkan atau mungkin tidak dikabulkan. Maka ini berbeda dengan pernyataan mutlak orang-orang musyrik yang mengatakan bahwa para tuhan ini yang tidak ada realitanya ini adalah para pemberi syafaat bagi mereka di sisi Allah Tabaaraka wa Ta’aalaa”.

Syeikh al-Halabi [salah satu jemaah yang hadir] berkata : “ Ini sangat teliti sekali .

---

KUTIPAN BERIKUTANYA (LONCAT)

الحَلْبِي: هُنَا يَقُولُ تَحْتَ عُنْوَانٍ "وَجْه التَوَسُّل بِالْأَنْبِيَاء وَالصَّالِحِيْنَ" قَوْلُهُ "وَيَتَوَسَّلُ إلَى اللَّه سُبْحَانَهُ بِأَنْبِيَائِهِ وَالصَّالِحِيْنَ" يَلِيْ يَقُوْلُ هَكَ ابْن الْجَزَرِي.

الشَيْخ: مَنْ الَّذِي يَقُوْلُ هَكَ؟

الحَلْبِي: ابْن الْجَزَرِي.

الشَيْخ: نُكَفِّرُهُ بَقَاْ؟ مَا يَجُوْزُ نُكَفِّرُهُ.

الحَلْبِي: "أَقُوْلُ وَمَنْ التَّوَسُّل بِالْأَنْبِيَاء مَا أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيّ بِحَدِيْثِ الْأَعْمَى، وَأَمَّا التَّوَسُّل بِالصَّالِحِيْنَ فَمِنْهُم مَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيْحِ أَنَّ الصَّحَابَة اسْتَسْقَوْا بِالْعَبَّاس رَضِيَ الله عَنْهُ عَمَّ رَسُوْلِ الله ﷺ،" لَكِنَّ شَيْخُنَا يَبْدُوَ وَاللَّهُ أَعْلَمُ لَهُ عِبَارَةٌ أَصْرَحُ فِي الدُّرِّ النَّضِيْدِ، هَذَا يَلِيْ قَائِمٌ فِيْ ذِهْنِي الدُّرِّ النَّضِيْدِ فِيْ إِخْلاَص كَلِمَةِ التَّوْحِيْدِ لَهُ عِبَارَةٌ أَصْرَحُ مَعَ أَنَّهُ يُشَدِّدُ النَّكِيْرَ فِيْهَا عَلَى الاسْتِغَاثَةِ لَكِنَّ تَكَلَّمَ فِيْهَا بِمِثْلِ هَذَا الكَلاَمِ بِأَبْسَط شُوَيَّة.

الشَيْخ: لَكِنْ يُنْكَرُ؟

الحَلْبِي: لاَ، لاَ يُنْكَرُ يَعْنِي قَصْدِي التَّفْرِيْقَ بَيْنَ الذَّاتِ وَالجَاهِ.

الشَيْخ: لاَ، خَلِيْنَا نَحْنُ مَعَ عَبْدِ الله يَا عَبْدَ الله، لِأَنَّهُ هُوَ عَمَّ يَقُوْلُ بِالتَّفْرِيْقِ هُنَا عَمَّ يَحْكِي بِالتَّوَسُّل بِالذَّاتِ، طَيِّبٌ فَالتَّوَسُّل بِالذَّاتِ هُوَ الَّذِي يَقُوْلُ بِجَوَازِهِ الشَّوْكَانِي هُنَا، تَبْعًا لِابْن الْجَزَرِي، يَقُوْلُ بِالتَّوَسُّل بِالذَّاتِ.

الحَلْبِي: صَحِيْحٌ.

الشَيْخ: هُمْ يُفَرِّقُوْنَ كَمَا سَمِعْتُ مِنْ صَاحِبِكُمْ آنِفًا بَيْنَ التَّوَسُّل بِالذَّاتِ وَبَيْنَ التَّوَسُّل بِالجَاهِ وَحَدِيْث الْأَعْمَى هُوَ أَقْرَبُ إِلَى دَلَالَتِهِ عَلَى التَّوَسُّل بِالذَّاتِ مِنَ التَّوَسُّل بِالجَاهِ، لِأَنَّهُ هُوَ التَّوَسُّل بِالجَاهِ مَشَّا مَذْكُوْرٌ إِطْلَاقًا فِي الْحَدِيْثِ لَا فِي السِّيَاقِ وَلَا فِي السَّبَاقِ، لِذَلِكَ قَالَ بِالتَّوَسُّل هُوَ وَابْن الْجَزَرِي وَغَيْرُهُ، فَالْآنَ يَسْتَدِلُّ هُوَ بِحَدِيْث الْأَعْمَى وَكَأَنَّهُ اسْتَدْرَكَ عَلَى نَفْسِهِ أَنَّهُ لَا لَيْسَ الاسْتِدْلَال بِحَدِيْث الْأَعْمَى وَإِنَّمَا بِحَدِيْث دُعَاء الْخُرُوْجِ إِلَى الْمَسْجِدِ يَلِيْ يَسْتَدِلُّ فِيْهِ الشَّيْخ مُحَمَّد بْن عَبْد الْوَهَّاب، وَبِهَذِهِ الْمُنَاسَبَةِ قَامَتْ زَوْبَعَةٌ ضِدَّنَا عَسَاهَا انْطَفَأَتْ حَوْلَ كَلِمَتِنَا حَوْلَ مُحَمَّد بْنِ عَبْد الْوَهَّاب، أَمْ وَلَا تَزَالُ قَائِمَةً؟

السَّائِل: لَا، انْظَفَتْ.

Terjemahnya:

Al-Halabi : Di sini, dia berkata dengan judul “Cara Bertawassul dengan Para Nabi dan Orang Shaleh”, perkataannya, “Dia bertawassul kepada Allah Yang Maha Suci dengan para Nabi-Nya dan orang-orang shaleh.” Orang yang mengatakan seperti ini adalah Ibnu al-Jazari.

Asy-Syaikh al-Albaani : Siapa yang mengatakan seperti ini?

Al-Halabi : Ibnu al-Jazari.

Asy-Syaikh al-Albani: Apakah kita mengkafirkannya sekarang? Tidak boleh mengkafirkannya.

Al-Halabi : “Saya katakan, dan salah satu bentuk tawassul dengan para Nabi adalah apa yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam hadits Al-A’ma [orang buta]. Adapun tawassul dengan orang-orang shalih, maka dari di antara mereka ada yang tercatat dalam hadits shahih bahwa para Sahabat memohon hujan kepada Allah dengan wasilah doa al-Abbas, paman Rasulullah ﷺ.”

Namun Syaikh kami, tampaknya -wallaahu a’lam- ada pernyataan yang lebih jelas dalam kitab “Ad-Durrun Nadliid”. Ini yang ada dalam pikiran saya, “Ad-Durrun Nadliid”, tentang pemurnian kalimat tauhid, memiliki pernyataan yang lebih jelas meskipun dia dengan tegas menolak istighotsah, namun dia berbicara tentang hal ini dengan kata-kata yang lebih sederhana sedikit.

Asy-Syaikh al-Albani: Tetapi , apakah ini harus diingkari?

Al-Halabi : Tidak, tidak diingkari . Maksud saya, perbedaan antara tawassul dengan Jaah [kedudukan]nya dan dzaat [diri] nya .

Asy-Syaikh al-Albani:

لاَ، خَلِيْنَا نَحْنُ مَعَ عَبْدِ الله يَا عَبْدَ الله، لِأَنَّهُ هُوَ عَمَّ يَقُوْلُ بِالتَّفْرِيْقِ هُنَا عَمَّ يَحْكِي بِالتَّوَسُّل بِالذَّاتِ، طَيِّبٌ فَالتَّوَسُّل بِالذَّاتِ هُوَ الَّذِي يَقُوْلُ بِجَوَازِهِ الشَّوْكَانِي هُنَا، تَبْعًا لِابْن الْجَزَرِي، يَقُوْلُ بِالتَّوَسُّل بِالذَّاتِ.

Tidak, biarkan kita bersama Abdullah, hai Abdullah. Karena dia adalah paman, yang mengatakan adanya perbedaan di sini, paman , dia menghikayatkan tentang tawassul dengan dzat-nya sendiri.

Baiklah, tawassul dengan zat-nya sendiri adalah apa yang perbolehkan oleh Asy-Syawkani di sini, mengikuti Ibnu al-Jazari, dia mengatakan tentang tawassul dengan zat-nya sendiri.

Al-Halabi : Benar.

Asy-Syaikh al-Albani:

هُمْ يُفَرِّقُوْنَ كَمَا سَمِعْتُ مِنْ صَاحِبِكُمْ آنِفًا بَيْنَ التَّوَسُّل بِالذَّاتِ وَبَيْنَ التَّوَسُّل بِالجَاهِ وَحَدِيْث الْأَعْمَى هُوَ أَقْرَبُ إِلَى دَلَالَتِهِ عَلَى التَّوَسُّل بِالذَّاتِ مِنَ التَّوَسُّل بِالجَاهِ، لِأَنَّهُ هُوَ التَّوَسُّل بِالجَاهِ مَشَّا مَذْكُوْرٌ إِطْلَاقًا فِي الْحَدِيْثِ لَا فِي السِّيَاقِ وَلَا فِي السَّبَاقِ، لِذَلِكَ قَالَ بِالتَّوَسُّل هُوَ وَابْن الْجَزَرِي وَغَيْرُهُ، فَالْآنَ يَسْتَدِلُّ هُوَ بِحَدِيْث الْأَعْمَى وَكَأَنَّهُ اسْتَدْرَكَ عَلَى نَفْسِهِ أَنَّهُ لَا لَيْسَ الاسْتِدْلَال بِحَدِيْث الْأَعْمَى وَإِنَّمَا بِحَدِيْث دُعَاء الْخُرُوْجِ إِلَى الْمَسْجِدِ يَلِيْ يَسْتَدِلُّ فِيْهِ الشَّيْخ مُحَمَّد بْن عَبْد الْوَهَّاب، وَبِهَذِهِ الْمُنَاسَبَةِ قَامَتْ زَوْبَعَةٌ ضِدَّنَا عَسَاهَا انْطَفَأَتْ حَوْلَ كَلِمَتِنَا حَوْلَ مُحَمَّد بْنِ عَبْد الْوَهَّاب، أَمْ وَلَا تَزَالُ قَائِمَةً؟

Mereka membedakan – seperti yang saya dengar dari teman kalian sebelumnya – antara tawassul dengan dzat Nabi ﷺ dan tawassul dengan jaah-nya [status/kedudukan], dan hadits Al-A’ma [orang buta] lebih dekat dalam implikasinya terhadap tawassul dengan dzat-nya Nabi sendiri daripada tawassul dengan jaahnya [status/kedudukan].

Karena tawassul dengan jaah [status/kedudukan] tidak disebutkan sama sekali dalam hadis, baik dalam konteks maupun urutan, karena itu dia dan Ibnu al-Jazari serta yang lainnya mengatakan dengan bertwassul. Sekarang, dia menggunakan hadits Al-A’ma (orang buta) sebagai dalil, seolah-olah dia menyadari pada dirinya sendiri bahwa itu bukan, yakni bukan hadits Al-A’ma yang dijadikan dalil, tetapi hadits doa keluar menuju masjid yang dijadikan dalil oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Dan dalam konteks ini, ada keributan menentang kami, mungkin ini akan mereda seputar perkataan kami tentang Muhammad bin Abdul Wahhab, atau apakah masih berlanjut?

Penanya : Tidak, sudah mereda. [Kutipan Tanya Jawab Selesai]

===***===

APAKAH BENAR KAUM MUSYRIKIN JAHILIYAH
MENTAUHIDKAN ALLAH DALAM RUBUBIYAH?

Ada dua pendapat:

Pertama: kaum musyrikan jahiliyah mentauhidkan Allah dalam rububiyah.

Kedua: kaum musyrikan jahiliyah menyekutukan Allah dalam rububiyah.

Berikut ini uraian masing-masing dari dua pendapat diatas:

**** 

PENDAPAT PERTAMA:
Kaum musyrikan jahiliyah mentauhidkan Allah dalam rububiyah.

Pendapat yang masyhur madzhab Salafi/Atsari kontemporer, para ulamanya, para da’inya dan para pelajar ilmu agama Islam dari kalangan Salafi kontemporer, mereka serempak mengatakan:

“Kaum musyrikin jahiliyah, mereka sepakat mentauhidkan Allah SWT dalam rububiyah.

Mereka menegaskan:

(كَانَ اعْتِقَادُ الْمُشْرِكِينَ فِي الرُّبُوبِيَّةِ صَحِيحًا).

“Keyakinan orang-orang musyrik tentang rububiyah sudah benar.”

Syeikh Kholid Mushlih, dalam kitabnya “Syarah Kasyfu asy-Syubhat karya Muhammad bin Abdul Wahab” 3/2, beliau menulis sebuah judul pembahasan sbb:

إِقْرَارُ الْمُشْرِكِينَ بِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ لَمْ يُدْخِلْهُمْ فِي الْإِسْلَامِ.

Pengakuan orang-orang musyrik terhadap tauhid rububiyah tidak memasukkan mereka ke dalam Islam”.

Lalu Syeikh Kholid mengutip perkataan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab:

فَإِذَا تَحَقَّقْتَ أَنَّهُمْ مُقِرُّونَ بِهَذَا، وَأَنَّهُ لَمْ يُدْخِلْهُمْ فِي التَّوْحِيدِ الَّذِي دَعَاهُمْ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَرَفْتَ أَنَّ التَّوْحِيدَ الَّذِي جَحَدُوهُ هُوَ تَوْحِيدُ الْعِبَادَةِ الَّذِي يُسَمِّيهِ الْمُشْرِكُونَ فِي زَمَانِنَا (الِاعْتِقَادَ).

Jika engkau telah memahami bahwa mereka mengakui hal tersebut, maka pengakuan itu tidak memasukkan mereka ke dalam tauhid yang Rasulullah ﷺ serukan kepada mereka, serta engkau mengetahui bahwa tauhid yang mereka ingkari adalah tauhid ibadah, yang oleh orang-orang musyrik pada zaman kita disebut sebagai “keyakinan”.

Lalu Syeikh Kholid Muslih mensyarahinya dengan mengatakan:

"هَذَا فِيهِ بَيَانٌ أَنَّ الْإِقْرَارَ بِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ لَا يَنْقُلُ الْإِنْسَانَ مِنَ الْكُفْرِ إِلَى الْإِيمَانِ، إِذْ إِنَّ الْإِقْرَارَ بِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ أَمْرٌ فَطَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَيْهِ الْخَلَائِقَ، فَكُلُّ الْخَلْقِ يُقِرُّونَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَالِكُ، وَأَنَّهُ هُوَ الْخَالِقُ، وَأَنَّهُ هُوَ الْمُدَبِّرُ، وَأَنَّهُ هُوَ الرَّزَّاقُ.....".

“Ini menjelaskan bahwa pengakuan terhadap tauhid rububiyah tidak memindahkan seseorang dari kekufuran kepada keimanan. Sebab, pengakuan terhadap tauhid rububiyah merupakan sesuatu yang Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah memfitrahkan seluruh makhluk atasnya. Maka, seluruh makhluk mengakui bahwa Allah adalah Pemilik, bahwa Dia adalah Pencipta, bahwa Dia adalah Pengatur, dan bahwa Dia adalah Pemberi rezeki, dan seterusnya”. [Baca: “Syarah Kasyfu asy-Syubhat karya Muhammad bin Abdul Wahab” 3/2]

Dan mereka dengan tegas menyatakan bahwa orang-orang musyrik Quraisy pada masa jahiliyah seperti Abu Jahal dan Abu Lahab, mereka mengakui tauhid rububiyah.

Diantara menegaskan hal tersebut adalah al-Allamah Muhammad Ahmad Basyamil, seorang ulama salafi kontemporer yang terkenal, dia berkata:

«تَوْحِيدُ أَبِي جَهْلٍ وَأَبِي لَهَبٍ: أَبُو جَهْلٍ وَأَبُو لَهَبٍ وَمَنْ عَلَى دِينِهِمْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ، كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَيُوَحِّدُونَهُ فِي الرُّبُوبِيَّةِ خَالِقًا وَرَازِقًا، مُحْيِيًا وَمُمِيتًا، ضَارًّا وَنَافِعًا، لَا يُشْرِكُونَ بِهِ فِي ذَلِكَ شَيْئًا».

“Tauhid Abu Jahal dan Abu Lahab: Abu Jahal, Abu Lahab, dan orang-orang musyrik yang mengikuti agama mereka, mereka beriman kepada Allah dan mengesakan-Nya dalam rububiyah; mereka meyakini-Nya sebagai Pencipta dan Pemberi rezeki, Yang menghidupkan dan mematikan, Yang memberikan mudarat dan manfaat. Mereka tidak menyekutukan-Nya dalam hal tersebut sedikit pun”.

[Lihat: kitabnya Kaifa Nafhamu at-Tauhid, hlm. 12 – Al-Maktabah Asy-Syamilah]

Bahkan beliau juga berkata:

«أَبُو جَهْلٍ وَأَبُو لَهَبٍ أَكْثَرُ تَوْحِيدًا لِلَّهِ وَأَخْلَصُ إِيمَانًا بِهِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ الَّذِينَ يَقُولُونَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ، وَيَتَوَسَّلُونَ بِالْأَوْلِيَاءِ وَالصَّالِحِينَ».

“Abu Jahal dan Abu Lahab lebih bertauhid kepada Allah dan lebih tulus keimanannya kepada-Nya daripada kaum Muslimin yang mengucapkan, “Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, Muhammad adalah Rasulullah,” namun mereka bertawassul dengan para wali dan orang-orang saleh”.

[Lihat kitab mereka: “Kaifa Nafhamu at-Tauhid” karya Muhammad Basyamil, hlm. 16, Riyadh, Arab Saudi].

Berarti menurut kelompok ini, umat Islam yang tersisa sekarang sangat sedikit sekali. Karena umat Islam selainnya telah kafir dan musyrik, bahkan lebih musyrik dari seluruh kaum musyrikin jahiliyah, termasuk Abu Jahal dan Abu Lahab.

Masya Allah! Para ulama salafi kontempore ini, benar-benar sangat luar biasa !!!.  

Dan Syeikh Faishal Nur dalam (مَوْقِعُ فَيْصَل نُوْر) setelah mengutip perkataan “Muhammad Basyamil” yang ke 2 di atas, dia memperkuatnya dengan penjelasan sbb:

إِذْ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ إِنَّ الْمُشْرِكِينَ يَعْتَرِفُونَ بِاللَّهِ، وَلَكِنْ ﴿وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ﴾. سُبْحَانَ اللَّهِ!

هَلْ يَعْنِي هُنَاكَ مُؤْمِنُونَ مُشْرِكُونَ؟

نَعَمْ، نَعَمْ، نَعَمْ. صَدَقَ اللَّهُ وَكَذَبَ الْبَشَرُ.

إِذًا كَيْفَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَهُمْ مُشْرِكُونَ؟

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّ الْمُشْرِكِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ، وَلَكِنْ مَا هُوَ إِيمَانُهُمْ بِاللَّهِ؟

إِيمَانُهُمْ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى هُوَ الْخَالِقُ الرَّازِقُ الْمُحْيِي الْمُمِيتُ مَالِكُ الْمُلْكِ. فَالْمُشْرِكُونَ عِنْدَهُمْ جُزْءٌ مِنَ التَّوْحِيدِ، وَهَذَا يُسَمَّى تَوْحِيدَ الرُّبُوبِيَّةِ، أَيْ أَنَّ اللَّهَ هُوَ الْخَالِقُ وَحْدَهُ، وَهُوَ الْمُتَصَرِّفُ فِي كُلِّ شَيْءٍ.

وَلَكِنَّهُمْ مَعَ ذَلِكَ أَشْرَكُوا بِاللَّهِ وَكَفَرُوا بِهِ فِي تَوْحِيدِ الْأُلُوهِيَّةِ، وَقَالُوا عَنْ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّهُ جَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا، كَمَا يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى مُخْبِرًا عَنْ ذَلِكَ فِي كِتَابِهِ: ﴿أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا﴾.

Sebab Allah Ta‘ala berfirman bahwa orang-orang musyrik mengakui Allah, tetapi “kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah kecuali dalam keadaan mempersekutukan-Nya.” Mahasuci Allah!

Apakah ini berarti ada orang-orang beriman yang musyrik?

Ya, ya, ya (betul). Karena Allah telah berkata benar, sedangkan manusia telah berdusta.

Lalu, bagaimana mereka beriman kepada-Nya sementara mereka musyrik?

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman bahwa orang-orang musyrik beriman kepada Allah. Namun, seperti apa keimanan mereka kepada Allah?

Keimanan mereka adalah bahwa Allah Ta‘ala adalah Pencipta, Pemberi rezeki, Yang menghidupkan, Yang mematikan, dan Pemilik kerajaan. Jadi, orang-orang musyrik memiliki sebagian dari tauhid. Ini disebut tauhid rububiyah, yaitu bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta dan Dia yang mengatur segala sesuatu.

Namun, meskipun demikian, mereka menyekutukan Allah dan kufur kepada-Nya dalam tauhid uluhiyah. Mereka mengatakan tentang Nabi kita Muhammad ﷺ bahwa beliau menjadikan sesembahan-sesembahan itu menjadi satu sesembahan, sebagaimana Allah Ta‘ala mengabarkan hal tersebut dalam firman-Nya, “Apakah dia menjadikan sesembahan-sesembahan itu sebagai satu sesembahan?”

----

DALIL MEREKA:

Mereka berdalil dengan sejumlah ayat dari Kitabullah, di antaranya adalah sbb:

Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ﴾

“Dan sungguh, jika engkau bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan mereka?” Niscaya mereka akan menjawab, “Allah.” Lalu, bagaimana mereka dapat dipalingkan dari kebenaran?”. [QS. Az-Zukhruf: 87].

Allah Ta’ala berfirman:

﴿قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ﴾

“Katakanlah, “Siapakah yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, serta siapakah yang mengatur segala urusan?” Mereka akan menjawab, “Allah.” Maka katakanlah, “Tidakkah kalian bertakwa?” [QS. Yunus: 31].

Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ﴾

“Dan sungguh, jika engkau bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Niscaya mereka akan menjawab, “Allah”.” [QS. Luqman: 25].

Dan Allah SWT berfirman:

﴿وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ﴾

“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)”. [QS. Yusuf: 106]

Dan firman Allah SWT berikut ini :

﴿وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا * يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلا غُرُورًا﴾

“ Barang siapa yang menjadikan setan menjadi  WALI (pelindung) selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.  Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.”. ( QS. An-Nisaa : 119-120).

Dan Firman Allah SWT :

﴿َالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ﴾.

“Dan orang-orang yang kafir, WALI-WALI nya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. ( QS. Al-Baqoroh : 257 )

Dan Firman Allah SWT :

﴿وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الإنْسِ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الإنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ﴾

Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya, (dan Allah berfirman): “Hai golongan jin (setan), sesungguhnya kamu telah banyak (menyesatkan) manusia”, lalu berkatalah wali-wali mereka dari golongan manusia: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami”. Allah berfirman: “Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)”. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. ( QS. Al-An’am : 128 ).

Mereka kaum musyrikin mencintai wali-wali tersebut sama seperti mencintai Allah , seperti yang dinyatakan dalam Al-Qur’an :

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ﴾

Artinya : “ Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat lalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa ( pada hari kiamat ), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya ( niscaya mereka menyesal ) “. ( QS. Al-Baqoroh : 165 ).

Mereka menjadikan ayat-ayat tersebut sebagai dalil bahwa:

«تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ كَانَ عِنْدَ الْمُشْرِكِينَ صَحِيحًا مُطْلَقًا، وَلَا خَلَلَ فِيهِ»

“Tauhid rububiyah yang dimiliki orang-orang musyrik itu sudah benar secara mutlak dan tidak terdapat kekeliruan sedikit pun di dalamnya...”.

====

PERHATIAN:

Terkait dengan klaim musyrik bertawassul dengan orang-orang sholeh, maka apa yang dikatakan Syeikh Basyamil dan lainnya diatas, berbeda dengan yang dikatakan Syeikh al-Albani dan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syeikh al-Albani menegaskan: bahwa bertaqorrub dalam do’a dengan mayit bukan termasuk perbuatan syririk, jika hanya sebatas sebagai sebab agar do’anya kepada Allah dikabulkan, selama tidak ada keyakinan bahwa si mayit tersebut memiliki sifat rububiyah kemampuan mengabulkan do’a.

Syeikh al-Albani berkata:

لَكِنْ يَقُولُ أَنَّا أَعْتَقِدُ أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ نَقُولَ اغْفِرْ لِي بِجَاهِ مُحَمَّدٍ، أَسْأَلُكَ بِمُحَمَّدٍ أَنْ تَغْفِرَ لِي، أَيُّشَ وَجْهُ الاِسْتِدْلَالِ عَلَى هَذَا بِأَنَّهُ مُشْرِكٌ لِأَنَّ اللَّهَ يَقُولُ عَلَى لِسَانِ الْمُشْرِكِينَ ﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى﴾ وَهُوَ لَا يَعْبُدُهُمْ.

Akan tetapi, seseorang boleh mengatakan :

“Saya berkeyakinan bahwa sesungguhnya kami diperbolehkan mengatakan: “Ya Allah, ampunilah kami dengan Jaah [kedudukan] Muhammad”, “Saya memohon kepada-Mu dengan Muhammad agar Engkau mengampuni saya.”

Mana sisi pendalilan yang menunjukkan bahwa ini musyrik ? Tidak ada; karena Allah berfirman tentang lisan orang-orang musyrik :

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. [QS. Az-Zumar : 3 ]

Sementara dia [yang bertawassul dengan Nabi ﷺ dan lainnya] sama sekali tidak menyembah mereka”. (Selesai) [Silsilatul Hudaa wan Nuur no. 287].

Dan Syeikhul Islam Ibnu Taimiah ketika selesai menyebutkan perbedaan pendapat dalam masalah taqorrub dan tawassul dengan mayit hanya sebagai sebagai sebab, dia berkata :

وَلَمْ يَقُلْ أَحَدٌ : إنَّ مَنْ قَالَ بِالْقَوْلِ الْأَوَّلِ فَقَدْ كَفَرَ وَلَا وَجْهَ لِتَكْفِيرِهِ فَإِنَّ هَذِهِ مَسْأَلَةٌ خَفِيَّةٌ لَيْسَتْ أَدِلَّتُهَا جَلِيَّةً ظَاهِرَةً وَالْكُفْرُ إنَّمَا يَكُونُ بِإِنْكَارِ مَا عُلِمَ مِنْ الدِّينِ ضَرُورَةً أَوْ بِإِنْكَارِ الْأَحْكَامِ الْمُتَوَاتِرَةِ وَالْمُجْمَعِ عَلَيْهَا وَنَحْوِ ذَلِكَ . وَاخْتِلَافُ النَّاسِ فِيمَا يُشْرَعُ مِنْ الدُّعَاءِ وَمَا لَا يُشْرَعُ كَاخْتِلَافِهِمْ هَلْ تُشْرَعُ الصَّلَاةُ عَلَيْهِ عِنْدَ الذَّبْحِ ؛ وَلَيْسَ هُوَ مِنْ مَسَائِلِ السَّبِّ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ .

“Tak seorang pun yang mengatakan: barangsiapa mengambil pendapat pertama (boleh tawassul dengan mayit sebagi sebab) ia dianggap telah kafir, maka itu tak ada alasan untuk mengkafirkannya, karena masalah ini adalah masalah yang samar-samar, dalil-dalilnya tidak jelas dan terang. Kekufuran hanyalah bagi orang yang mengingkari perkara-perkara yang sudah maklum (diketahui) secara darurat merupakan bagian dari agama secara pasti atau mengingkari hukum yang sudah mutawatir dan disepakati (ijma’) atau semisal itu.

Dan perbedaan manusia tentang cara berdoa yang di syariatkan dan yang tidak di syariatkan, sama seperti perbedaan mereka tentang hukum membaca sholawat kepada Nabi ﷺ ketika menyembelih binatang sembelihan. Dan itu bukan termasuk dalam permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan mencaci maki salah seorang dari kaum muslimin . “

(Baca: Majmu’ Fatawa 1/106 dan Syarah Bab Tauhid al-Uluhiyah Min Fatawa Ibnu Taimiyah 11/10. Bagitu pula yang dikatakan Abu ats-Tsanaa al-Alusi dalam Ghoyatul Amaani 2/351, sama dengan Ibnu Taimiyah)

Dari pernyataan Syeikh Ibnu Taimiyah di atas , jelaslah bahwa ucapan sebagian orang  yang mengkafirkan sesama muslim karena permasalahan semacam ini tidaklah dapat dibenarkan.

Namun demikian, Ibnu Taimiyah juga dengan tegas melarang tawassul dan taqorrub dengan mayit jika disertai keyakinan bahwa si mayit tersebut memiliki kemampuan sebagian rububiyah ilahiyah. Beliau berkata:

"فَمَنْ جَعَلَ الْمَلَائِكَةَ وَالْأَنْبِيَاءَ وَسَائِطَ؛ يَدْعُوهُمْ، وَيَتَوَكَّلُ عَلَيْهِمْ، وَيَسْأَلُهُمْ جَلْبَ الْمَنَافِعِ وَدَفْعَ الضَّارِّ، مِثْلًا أَنْ يَسْأَلَهُمْ غُفْرَانَ الذَّنْبِ، وَهُدًى الْقُلُوبِ وَتَفْرِيجَ الْكُرُوبِ وَسَدَّ الْفَوَاقِتِ: فَهُوَ كَافِرٌ بِإِجْمَاعِ الْمُسْلِمِينَ"

“Barangsiapa menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai perantara; ia berdoa kepada mereka, bertawakkal kepada mereka, dan memohon kepada mereka untuk mendatangkan manfaat dan menghindarkan mudharat—seperti memohon kepada mereka untuk meminta ampunan dosa, petunjuk hati, menghilangkan kesusahan, dan menutup kesempitan—maka dia adalah kafir menurut Ijma’ [kesepakatan] umat Islam”. [Baca: “Majmu’ al-Fatawa” (1/124)].

Ijma’ [kesepakatan] ini telah dikutip oleh lebih dari satu ulama yang mengakui hal ini.

Silahkan baca kitab “Al-Furuu’” oleh Ibnu Muflih (6/165), “Al-Inshāf” (10/327), “Kashf al-Qināʿ” (6/169), dan “Maṭholib Ūlī an-Nuḥā” (6/279).

----

TANGGAPAN PENDAPAT KEDUA TERHADAP PENDAPAT PERTAMA:

Terkait orang-orang musyrik menyembah berhala dengan anggapan bahwa berhala-berhala tersebut menjadi perantara antara mereka dan Allah Ta‘ala.

Sebagaimana tersebut diatas, kelompok pendapat pertama (kelompok Salafi Kontemporer) mengatakan bahwa ini merupakan kesyirikan dalam tauhid uluhiyah, bukan kesyirikan dalam tauhid rububiyah.

Kami katakan kepada mereka:

Bahwa ini juga merupakan kesyirikan dalam tauhid rububiyah.

Sebab, keyakinan orang-orang musyrik bahwa Allah Ta‘ala menerima ibadah yang ditujukan kepada selain-Nya merupakan keyakinan yang menafikan kemuliaan, kekuatan, dan hikmah dari Allah ‘Azza wa Jalla. Padahal, kekuatan, kemuliaan, dan hikmah merupakan bagian dari sifat-sifat rububiyah.

Lalu, bagaimana mungkin orang-orang musyrik dikatakan bertauhid dalam rububiyah sementara mereka memiliki keyakinan seperti ini?!

Bukankah termasuk tauhid rububiyah meyakini kesempurnaan Allah ‘Azza wa Jalla?

Kelompok Salafi Kontemporer mengakui bahwa tauhid rububiyah yang mereka nisbatkan kepada orang-orang musyrik pada masa jahiliah bukanlah tauhid yang sempurna, tetapi tauhid yang tidak sempurna.

Pertanyaannya adalah:

Apakah ketidak sempurnaan ini merupakan kekurangan dalam amal atau kekurangan dalam keyakinan?

Maksudnya, apakah keyakinan mereka sudah benar dan sempurna, sedangkan kekurangannya hanyalah karena mereka tidak mengamalkan apa yang mereka yakini?

Kita mengetahui bahwa orang-orang musyrik pada masa jahiliah meyakini bahwa selain Allah Ta‘ala juga berhak disembah bersama-Nya.

Oleh karena itu, kekurangan tersebut sebenarnya merupakan kekurangan dalam keyakinan.

Seandainya tauhid mereka kepada Allah Ta‘ala dalam rububiyah telah sempurna, niscaya mereka akan meyakini bahwa hanya Allah yang berhak disembah, karena Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan.

Meyakini bahwa hanya Allah Ta‘ala yang berhak disembah merupakan tauhid uluhiyah.

Oleh karena itu, tauhid rububiyah mencakup tauhid uluhiyah.

Bukan sebagaimana yang dikatakan oleh kelompok Salafi kontemporer bahwa tauhid rububiyah tidak mencakup tauhid uluhiyah.

Masih ada satu persoalan dalam tauhid uluhiyah.

Ada dua definisi tauhid uluhiyah menurut Kelompok Salafi Kontemporer:

Definisi pertama: tauhid uluhiyah adalah meyakini bahwa hanya Allah Ta‘ala yang berhak disembah.

Definisi kedua: tauhid uluhiyah adalah mengamalkan keyakinan tersebut, yaitu melakukan ibadah.

Definisi kedua berpindah dari keyakinan kepada pengamalan keyakinan. Mengamalkan keyakinan bukanlah keyakinan itu sendiri, tetapi menunjukkan kebenaran keyakinan tersebut.

Jadi menurut mereka: Rasulullah ﷺ mendapati kaumnya mengakui tauhid rububiyah Allah Ta‘ala, tetapi mereka menyembah selain-Nya bersama-Nya. Oleh karena itu, beliau menyeru mereka agar hanya menyembah Allah Ta‘ala.

Oleh sebab itu Kelompok Salafi Kontemporer mengatakan:

Rasulullah ﷺ menyeru kaumnya untuk menyembah Allah Ta‘ala sebagai bentuk pengamalan terhadap apa yang mereka yakini tentang rububiyah-Nya. Oleh karena itu, dakwah beliau kepada mereka hanyalah sebatas berkaitan dengan perkara amaliah, yaitu ibadah.

Pernyataan ini perlu diteliti dan ditinjau kembali:

Permasalahan ke 1: Orang-orang musyrik pada masa jahiliah mengakui rububiyah Allah Ta‘ala. Lalu, mengapa mereka menyembah selain-Nya bersama-Nya?

Jawabannya: karena mereka meyakini bahwa selain Allah Ta‘ala juga berhak disembah bersama-Nya.

Permasalahan ke 2: Jika orang-orang musyrik ingin meninggalkan kesyirikan dan hanya menyembah Allah Ta‘ala, apakah mereka harus mengubah keyakinan mereka dan meyakini bahwa hanya Allah Ta‘ala yang berhak disembah?

Jawabannya, tentu mereka harus melakukan hal tersebut.

Sebagaimana tauhid rububiyah juga tidak akan sempurna tanpa keyakinan tersebut.

Sebab, dakwah Rasulullah ﷺ kepada kaumnya agar hanya menyembah Allah Ta‘ala bukan semata-mata berkaitan dengan perkara amaliah. Akan tetapi, di dalamnya terdapat seruan kepada mereka agar meninggalkan keyakinan mereka yang rusak dan beriman kepada keyakinan yang benar.

Orang-orang musyrik pada masa jahiliah meyakini bahwa Allah Ta‘ala adalah Rabb mereka. Namun, mereka juga meyakini bahwa berhala-berhala berhak menjadi tempat meminta kebutuhan mereka.

Meminta berbagai kebutuhan hanya dilakukan kepada Rabb, karena Dialah yang memiliki dan menguasainya.

Maka, mereka telah memberikan bagian dari rububiyah kepada berhala-berhala mereka.

Hal ini berarti bahwa orang-orang musyrik pada masa jahiliah telah melakukan kesyirikan dalam rububiyah, sebagaimana mereka melakukan kesyirikan dalam uluhiyah.

****

PENDAPAT KEDUA:
Kaum musyrikan jahiliyah menyekutukan Allah dalam rububiyah.

Sejumlah para ulama dan para peneliti kontemporer (seperti Dr. Walid Syawisy dan lainnya) menyelisihi pendapat pertama diatas.

Mereka secara tegas menyatakan bahwa berhala-berhala kaum jahiliah dijadikan sebagai rabb-rabb yang diseru, dimintai pertolongan, dan digunakan untuk menentukan pilihan melalui undian dalam berbagai kesempatan; bukan hanya dijadikan sebagai perantara untuk meminta syafaat, sebagaimana yang diklaim oleh sebagian orang.

Mereka yang berpendapat demikian menjelaskan: Tauhid adalah keyakinan (اعْتِقَادٌ) dan amal (عَمَلٌ).

Artinya, Tauhid itu garis besarnya terdiri dari:

[1] Tauhid rububiyah = tauhid ilmi-i’tiqadi (تَوْحِيدٌ عِلْمِيٌّ اعْتِقَادِيٌّ).

Contoh Sederhana : sesorang berkeyakinan bahwa cincin batu aqiq ini pembawa keberuntungan dan penolak kesialan.

[2] Dan tauhid uluhiyah (ibadah) = tauhid ‘amali (تَوْحِيدٌ عَمَلِيٌّ).

Contoh Sederhana: Seseorang memakai cincin batu aqiq karena berkeyakinan dengan memakainya itu bisa mendatangkan keberuntungan dan mengusir kesialan.

----

Tauhid adalah keyakinan yang dibenarkan oleh amal, yaitu amal yang menegaskan kekeyakinannya. Tauhid adalah pengakuan bahwa hanya Allah Ta’ala yang memiliki kesempurnaan secara mutlak.

Tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah (keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak disembah) memiliki satu makna yang sama-sama mengantarkan kepada hal tersebut, yaitu pengakuan bahwa hanya Allah Ta’ala yang memiliki kesempurnaan secara mutlak. Sebab, tauhid rububiyah mencakup keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak disembah, yaitu tauhid uluhiyah. Demikian pula, keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak disembah (tauhid uluhiyah) mencakup keyakinan terhadap tauhid rububiyah.

Dengan demikian, kita memahami bahwa kaum musyrikin menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah dalam rububiyah-Nya.

Mereka meyakini bahwa sekutu-sekutu tersebut dapat mendekatkan manusia kepada Allah, memberikan manfaat kepada orang yang menyembah mereka, dan mendatangkan kemudharatan kepada orang yang membuat mereka murka.

Kaum musyrik memang mengakui bahwa Allah adalah Pencipta, Pengatur, dan Pemberi rezeki. Akan tetapi, mereka menganggap bahwa Allah membutuhkan sekutu-sekutu yang Dia sendiri ciptakan.

Mereka menuangkan keyakinan ini dalam talbiyah mereka ketika mereka mengucapkan:

«لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِلَّا شَرِيكًا هُوَ لَكَ، تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ»

“Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu, kecuali sekutu yang merupakan milik-Mu; Engkau memilikinya dan memiliki apa yang dimilikinya.”

Kemudian Islam datang untuk meluruskan keyakinan mereka dengan memberitahukan kepada mereka bahwa rububiyah Allah Ta’ala itu sempurna dan bahwa Dia tidak membutuhkan sekutu. Apa yang mereka jadikan sebagai sekutu bagi Allah berupa berhala-berhala hanyalah batu yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan maupun manfaat. Berhala-berhala itu tidak memiliki rububiyah sehingga dapat mendekatkan, memberikan syafaat, mendatangkan kemudaratan, ataupun memberikan manfaat.

Ketika mereka menerima bahwa rububiyah Allah itu sempurna, mereka mengetahui bahwa berhala-berhala tersebut tidak memiliki rububiyah. Karena itu, mereka merendahkannya dan meninggalkan penyembahan terhadapnya untuk beribadah hanya kepada Allah Ta’ala.

----

Abu Hayyan berkata:

«هُمْ عُبَّادُ الْأَصْنَامِ لِاتِّخَاذِهِمْ لَهَا أَرْبَابًا أَوْ لِتَقَرُّبِهِمْ بِهَا إِلَى اللهِ».

“Mereka adalah para penyembah berhala karena mereka menjadikan berhala-berhala itu sebagai rabb-rabb, atau karena mereka menjadikannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.” (Tafsir al-Bahr al-Muhith, 3: 116). Dengan demikian, ia menyebutkan bahwa mereka menjadikan berhala-berhala mereka sebagai rabb, di samping kemungkinan bahwa mereka juga menjadikannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla.

----

Ibnu al-Qayyim menjelaskan tentang adanya keyakinan rububiyah khusus pada masing-masing sesembahan di masa jahiliyah, beliau berkata:

«وَأَمَّا خَوَاصُّهُمْ: فَإِنَّهُمُ اتَّخَذُوهَا بِزَعْمِهِمْ عَلَى صُوَرِ الْكَوَاكِبِ الْمُؤَثِّرَةِ فِي الْعَالَمِ عِنْدَهُمْ، وَجَعَلُوا لَهَا بُيُوتًا، وَسَدَنَةً، وَحُجَّابًا، وَحَجًّا، وَقُرْبَانًا، وَلَمْ تَزَلْ هَذِهِ فِي الدُّنْيَا قَدِيمًا وَحَدِيثًا.

فَمِنْهَا: بَيْتٌ عَلَى رَأْسِ جَبَلٍ بِأَصْبَهَانَ، كَانَ بِهِ أَصْنَامٌ أَخْرَجَهَا بَعْضُ مُلُوكِ الْمَجُوسِ، وَجَعَلَهُ بَيْتَ نَارٍ.

وَمِنْهَا: بَيْتٌ ثَانٍ وَثَالِثٌ وَرَابِعٌ بِصَنْعَاءَ، بَنَاهُ بَعْضُ الْمُشْرِكِينَ عَلَى اسْمِ الزُّهَرَةِ، فَخَرَّبَهُ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ.

وَمِنْهَا: بَيْتٌ بَنَاهُ قَابُوسُ الْمَلِكُ عَلَى اسْمِ الشَّمْسِ بِمَدِينَةِ فَرْغَانَةَ، فَخَرَّبَهُ الْمُعْتَصِمُ.

وَأَشَدُّ الْأُمَمِ فِي هَذَا النَّوْعِ مِنَ الشِّرْكِ: الْهِنْدُ.

قَالَ يَحْيَى بْنُ بِشْرٍ: إِنَّ شَرِيعَةَ الْهِنْدِ وَضَعَهَا لَهُمْ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ: بَرَهْمَنْ، وَوَضَعَ لَهُمْ أَصْنَامًا، وَجَعَلَ أَعْظَمَ بُيُوتِهَا بَيْتًا بِمَدِينَةٍ مِنْ مَدَائِنِ السِّنْدِ، وَجَعَلَ فِيهِ صَنَمَهُمُ الْأَعْظَمَ، وَزَعَمَ أَنَّهُ بِصُورَةِ الْهَيُولَى الْأَكْبَرِ، وَفُتِحَتْ هَذِهِ الْمَدِينَةُ فِي أَيَّامِ الْحَجَّاجِ، وَاسْمُهَا الْمُلْتَانُ... وَأَصْلُ هَذَا الْمَذْهَبِ مِنْ مُشْرِكِي الصَّابِئَةِ، وَهُمْ قَوْمُ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، الَّذِينَ نَاظَرَهُمْ فِي بُطْلَانِ الشِّرْكِ، وَكَسَّرَ حُجَّتَهُمْ بِعِلْمِهِ، وَآلِهَتَهُمْ بِيَدِهِ؛ فَطَلَبُوا تَحْرِيقَهُ. وَهُوَ مَذْهَبٌ قَدِيمٌ فِي الْعَالَمِ، وَأَهْلُهُ طَوَائِفُ شَتَّى.

فَمِنْهُمْ عُبَّادُ الشَّمْسِ، زَعَمُوا أَنَّهَا مَلَكٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ، لَهَا نَفْسٌ وَعَقْلٌ، وَهِيَ أَصْلُ نُورِ الْقَمَرِ وَالْكَوَاكِبِ، وَتَكَوُّنُ الْمَوْجُودَاتِ السُّفْلِيَّةِ كُلِّهَا عِنْدَهُمْ مِنْهَا، وَهِيَ عِنْدَهُمْ مَلِكُ الْفَلَكِ؛ فَيَسْتَحِقُّ التَّعْظِيمَ وَالسُّجُودَ وَالدُّعَاءَ!

وَمِنْ شَرِيعَتِهِمْ فِي عِبَادَتِهَا: أَنَّهُمُ اتَّخَذُوا لَهَا صَنَمًا، بِيَدِهِ جَوْهَرٌ عَلَى لَوْنِ النَّارِ، وَلَهُ بَيْتٌ خَاصٌّ قَدْ بَنَوْهُ بِاسْمِهِ، وَجَعَلُوا لَهُ الْوُقُوفَ الْكَثِيرَةَ مِنَ الْقُرَى وَالضِّيَاعِ، وَلَهُ سَدَنَةٌ وَقُوَّامٌ وَحَجَبَةٌ، يَأْتُونَ الْبَيْتَ وَيُصَلُّونَ فِيهِ لَهَا ثَلَاثَ كَرَّاتٍ فِي الْيَوْمِ، وَيَأْتِيهِ أَصْحَابُ الْعَاهَاتِ، فَيَصُومُونَ لِذَلِكَ الصَّنَمِ وَيُصَلُّونَ، وَيَدْعُونَهُ وَيَسْتَسْقُونَ بِهِ، وَهُمْ إِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ سَجَدُوا كُلُّهُمْ لَهَا، وَإِذَا غَرَبَتْ، وَإِذَا تَوَسَّطَتِ الْفَلَكَ؛ وَلِهَذَا يُقَارِنُهَا الشَّيْطَانُ فِي هَذِهِ الْأَوْقَاتِ الثَّلَاثَةِ؛ لِتَقَعَ عِبَادَتُهُمْ وَسُجُودُهُمْ لَهُ؛ وَلِهَذَا نَهَى النَّبِيُّ ﷺ عَنْ تَحَرِّي الصَّلَاةِ فِي هَذِهِ الْأَوْقَاتِ؛ قَطْعًا لِمُشَابَهَةِ الْكُفَّارِ ظَاهِرًا، وَسَدًّا لِذَرِيعَةِ الشِّرْكِ وَعِبَادَةِ الْأَصْنَامِ.

وَطَائِفَةٌ أُخْرَى: اتَّخَذَتْ لِلْقَمَرِ صَنَمًا، وَزَعَمُوا أَنَّهُ يَسْتَحِقُّ التَّعْظِيمَ وَالْعِبَادَةَ، وَإِلَيْهِ تَدْبِيرُ هَذَا الْعَالَمِ السُّفْلِيِّ.

وَمِنْ شَرِيعَةِ عُبَّادِهِ: أَنَّهُمُ اتَّخَذُوا لَهُ صَنَمًا عَلَى شَكْلِ عِجْلٍ، وَيَجُرُّهُ أَرْبَعَةٌ، وَبِيَدِ الصَّنَمِ جَوْهَرَةٌ، وَيَعْبُدُونَهُ، وَيَسْجُدُونَ لَهُ، وَيَصُومُونَ لَهُ أَيَّامًا مَعْلُومَةً مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، ثُمَّ يَأْتُونَ إِلَيْهِ بِالطَّعَامِ وَالشَّرَابِ، وَالْفَرَحِ وَالسُّرُورِ، فَإِذَا فَرَغُوا مِنَ الْأَكْلِ أَخَذُوا فِي الرَّقْصِ وَالْغِنَاءِ وَأَصْوَاتِ الْمَعَازِفِ بَيْنَ يَدَيْهِ.

وَمِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ أَصْنَامًا اتَّخَذُوهَا عَلَى صُورَةِ الْكَوَاكِبِ وَرُوحَانِيَّتِهَا بِزَعْمِهِمْ، وَبَنَوْا لَهَا هَيَاكِلَ وَمُتَعَبَّدَاتٍ، لِكُلِّ كَوْكَبٍ مِنْهَا هَيْكَلٌ يَخُصُّهُ، وَصَنَمٌ يَخُصُّهُ، وَعِبَادَةٌ تَخُصُّهُ. وَمَتَى أَرَدْتَ الْوُقُوفَ عَلَى هَذَا فَانْظُرْ فِي كِتَابِ «السِّرُّ الْمَكْتُومُ فِي مُخَاطَبَةِ النُّجُومِ» الْمَنْسُوبِ إِلَى ابْنِ خَطِيبِ الرَّيِّ؛ تَعْرِفْ سِرَّ عِبَادَةِ الْأَصْنَامِ، وَكَيْفِيَّةَ تِلْكَ الْعِبَادَةِ وَشَرَائِطَهَا.

وَكُلُّ هَؤُلَاءِ مَرْجِعُهُمْ إِلَى عِبَادَةِ الْأَصْنَامِ؛ فَإِنَّهُمْ لَا تَسْتَمِرُّ لَهُمْ طَرِيقَةٌ إِلَّا بِشَخْصٍ خَاصٍّ عَلَى شَكْلٍ خَاصٍّ، يَنْظُرُونَ إِلَيْهِ، وَيَعْكُفُونَ عَلَيْهِ! وَمِنْ هَاهُنَا اتَّخَذَ أَصْحَابُ الرُّوحَانِيَّاتِ وَالْكَوَاكِبِ أَصْنَامًا زَعَمُوا أَنَّهَا عَلَى صُوَرِهَا. فَوَضْعُ الصَّنَمِ إِنَّمَا كَانَ فِي الْأَصْلِ عَلَى شَكْلِ مَعْبُودٍ غَائِبٍ، فَجَعَلُوا الصَّنَمَ عَلَى شَكْلِهِ وَهَيْئَتِهِ وَصُورَتِهِ؛ لِيَكُونَ نَائِبًا مَنَابَهُ، وَقَائِمًا مَقَامَهُ، وَإِلَّا فَمِنَ الْمَعْلُومِ أَنَّ عَاقِلًا لَا يَنْحِتُ خَشَبَةً أَوْ حَجَرًا بِيَدِهِ، ثُمَّ يَعْتَقِدُ أَنَّهُ إِلَهُهُ وَمَعْبُودُهُ.

وَمِنْ أَسْبَابِ عِبَادَتِهِ أَيْضًا: أَنَّ الشَّيَاطِينَ تَدْخُلُ فِيهَا، وَتُخَاطِبُهُمْ مِنْهَا، وَتُخْبِرُهُمْ بِبَعْضِ الْمُغَيَّبَاتِ، وَتَدُلُّهُمْ عَلَى بَعْضِ مَا يَخْفَى عَلَيْهِمْ، وَهُمْ لَا يُشَاهِدُونَ الشَّيَاطِينَ. فَجُهَلَاؤُهُمْ وَسَقَطُهُمْ يَظُنُّونَ أَنَّ الصَّنَمَ نَفْسَهُ هُوَ الْمُتَكَلِّمُ الْمُخَاطِبُ، وَعُقَلَاؤُهُمْ يَقُولُونَ: إِنَّ تِلْكَ رُوحَانِيَّاتُ الْأَصْنَامِ، وَبَعْضُهُمْ يَقُولُ: إِنَّهَا مَلَائِكَةٌ، وَبَعْضُهُمْ يَقُولُ: إِنَّهَا الْعُقُولُ الْمُجَرَّدَةُ، وَبَعْضُهُمْ يَقُولُ: هِيَ رُوحَانِيَّاتُ الْأَجْرَامِ الْعُلْوِيَّةِ، وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ لَا يَسْأَلُ عَمَّا عَهِدَ، بَلْ إِذَا سَمِعَ الْخِطَابَ مِنَ الصَّنَمِ، اتَّخَذَهُ إِلَهًا، وَلَا يَسْأَلُ عَمَّا وَرَاءَ ذَلِكَ! وَبِالْجُمْلَةِ فَأَكْثَرُ أَهْلِ الْأَرْضِ مَفْتُونُونَ بِعِبَادَةِ الْأَصْنَامِ وَالْأَوْثَانِ، وَلَمْ يَتَخَلَّصْ مِنْهَا إِلَّا الْحُنَفَاءُ أَتْبَاعُ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ».

“Adapun berhala-berhala yang mereka anggap memiliki kekhususan (dalam rububiyah), mereka membuatnya berdasarkan bentuk benda-benda langit yang menurut anggapan mereka berpengaruh terhadap alam semesta. Mereka membuatkan tempat-tempat khusus untuknya, para penjaga, para pengurus, ritual haji, dan persembahan. Praktik seperti ini telah berlangsung di dunia sejak dahulu hingga sekarang.

Di antaranya adalah sebuah tempat ibadah di atas sebuah gunung di Ashbahan. Di tempat tersebut terdapat berhala-berhala yang kemudian dikeluarkan oleh salah seorang raja Majusi dan dijadikannya sebagai tempat penyembahan api.

Di antaranya juga terdapat tempat ibadah kedua, ketiga, dan keempat di Shan‘a. Sebagian orang musyrik membangunnya atas nama Venus (az-Zuhrah), kemudian Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu menghancurkannya.

Di antaranya pula sebuah tempat ibadah yang dibangun oleh Raja Qabus atas nama matahari di kota Farghana, kemudian dihancurkan oleh al-Mu‘tasim.

Umat yang paling berlebihan dalam jenis kesyirikan ini adalah orang-orang India.

Yahya bin Bisyr berkata: ‘Syariat India dahulu dibuat untuk mereka oleh seseorang yang bernama Brahman. Ia membuatkan berhala-berhala untuk mereka dan menjadikan tempat ibadah terbesar bagi berhala-berhala tersebut di sebuah kota di wilayah Sind. Ia menempatkan berhala terbesar mereka di sana dan mengklaim bahwa berhala tersebut berbentuk al-Hayula al-Kubra. Kota tersebut ditaklukkan pada masa al-Hajjaj dan namanya adalah Multan.

Asal-usul keyakinan ini berasal dari kaum musyrik Shabi’ah. Mereka adalah kaum Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang beliau bantah mengenai kebatilan kesyirikan mereka. Beliau mematahkan hujah mereka dengan ilmunya dan menghancurkan tuhan-tuhan mereka dengan tangannya, sehingga mereka berusaha membakarnya. Ini merupakan keyakinan kuno yang telah ada di dunia, dan para penganutnya terbagi menjadi berbagai kelompok.

Di antara mereka adalah para penyembah matahari. Mereka menganggap matahari sebagai salah satu malaikat yang memiliki jiwa dan akal. Menurut mereka, matahari merupakan sumber cahaya bulan dan bintang-bintang, dan seluruh proses terbentuknya makhluk-makhluk di alam bawah berasal darinya. Menurut mereka, matahari adalah penguasa benda-benda langit, sehingga berhak diagungkan, disujudi, dan dijadikan tempat berdoa.

Di antara tata cara ibadah mereka kepada matahari adalah membuat sebuah berhala untuknya yang di tangannya terdapat permata berwarna seperti api. Mereka membuatkan tempat khusus untuknya dan memberinya banyak tanah pertanian dan perkampungan sebagai wakaf. Berhala tersebut memiliki para penjaga, pengurus, dan pelayan. Mereka mendatangi tempat tersebut dan melakukan salat di dalamnya untuk matahari tiga kali sehari.

Orang-orang yang memiliki berbagai penyakit dan cacat juga mendatanginya. Mereka berpuasa untuk berhala tersebut, melakukan salat, berdoa kepadanya, dan meminta hujan melaluinya. Ketika matahari terbit, mereka semua bersujud kepadanya, demikian pula ketika matahari terbenam dan ketika matahari berada di tengah langit. Oleh karena itu, setan menyertai matahari pada tiga waktu tersebut agar ibadah dan sujud mereka jatuh kepadanya. Karena itu pula Nabi ﷺ melarang mengkhususkan salat pada waktu-waktu tersebut, sebagai upaya memutus keserupaan secara lahiriah dengan orang-orang kafir dan menutup jalan menuju kesyirikan serta penyembahan berhala.

Kelompok lainnya menjadikan sebuah berhala untuk bulan. Mereka menganggap bulan berhak diagungkan dan disembah, dan bahwa pengaturan alam bawah berada di bawah kekuasaannya.

Di antara tata cara ibadah para penyembah bulan adalah membuat sebuah berhala berbentuk anak sapi yang ditarik oleh empat orang. Di tangan berhala tersebut terdapat sebuah permata. Mereka menyembah dan bersujud kepadanya serta berpuasa untuknya pada hari-hari tertentu setiap bulan. Kemudian mereka membawa makanan, minuman, kegembiraan, dan kesenangan kepadanya. Setelah selesai makan, mereka mulai menari, bernyanyi, dan memainkan alat-alat musik di hadapannya.

Di antara mereka juga ada yang menyembah berhala-berhala yang mereka buat menurut bentuk benda-benda langit dan ruh-ruh yang mereka anggap terkait dengannya. Mereka membangun bangunan-bangunan dan tempat-tempat ibadah untuknya. Setiap benda langit memiliki bangunan khusus, berhala khusus, dan tata cara ibadah khusus.

Jika engkau ingin mengetahui hal ini secara lebih mendalam, lihatlah kitab As-Sirr al-Maktum fi Mukhatabah an-Nujum yang dinisbatkan kepada Ibnu Khatib ar-Rayy. Dengan demikian, engkau akan mengetahui rahasia penyembahan berhala serta tata cara dan ketentuan ibadah tersebut.

Semua kelompok ini pada akhirnya kembali kepada penyembahan berhala. Sebab, metode mereka tidak dapat berlangsung kecuali dengan adanya suatu sosok tertentu dalam bentuk tertentu yang mereka lihat dan mereka tekuni penyembahannya. Dari sinilah para penganut keyakinan tentang ruh-ruh dan benda-benda langit membuat berhala-berhala yang mereka klaim menyerupai bentuknya.

Pada asalnya, pembuatan berhala dilakukan dalam bentuk sesembahan yang tidak terlihat. Mereka membuat berhala menyerupai bentuk, rupa, dan wujud sesembahan tersebut agar berhala itu menjadi pengganti dan representasi sesembahan yang tidak terlihat itu. Sebab, sudah diketahui bahwa orang yang berakal tidak mungkin memahat sepotong kayu atau batu dengan tangannya sendiri, kemudian meyakini bahwa kayu atau batu tersebut adalah tuhan dan sesembahannya.

Di antara sebab lain mereka menyembah berhala adalah bahwa setan-setan masuk ke dalam berhala tersebut, berbicara kepada mereka melalui berhala itu, memberitahukan sebagian perkara gaib kepada mereka, dan menunjukkan sebagian hal yang tidak mereka ketahui. Sementara itu, mereka tidak dapat melihat setan-setan tersebut.

Orang-orang bodoh dan rendah pemahamannya mengira bahwa berhala itu sendiri yang berbicara dan menyampaikan pesan kepada mereka. Adapun orang-orang yang dianggap berakal di antara mereka mengatakan bahwa yang berbicara itu adalah ruh-ruh berhala. Sebagian mereka mengatakan bahwa itu adalah para malaikat. Sebagian lainnya mengatakan bahwa itu adalah akal-akal yang terlepas dari materi. Sebagian lainnya mengatakan bahwa itu adalah ruh-ruh benda-benda langit.

Banyak di antara mereka yang tidak mempertanyakan apa yang telah mereka saksikan. Jika mereka mendengar suara atau pesan dari berhala, mereka langsung menjadikannya sebagai tuhan dan tidak mempertanyakan apa yang ada di baliknya.

Secara keseluruhan, mayoritas penduduk bumi telah terfitnah dengan penyembahan berhala dan patung-patung. Tidak ada yang terbebas darinya kecuali orang-orang yang hanif, yaitu para pengikut agama Ibrahim ‘alaihissalam.”

[Lihat: Ighatsah al-Lahfan (2/972)].

-----

Al-Alusi berkata:

«وَالتَّعَرُّضُ لِعُنْوَانِ الرُّبُوبِيَّةِ الْمُنْبِئَةِ عَنِ التَّرْبِيَةِ وَالتَّبْلِيغِ إِلَى الْكَمَالِ اللَّائِقِ شَيْئًا فَشَيْئًا... وَوَصْفُ الرَّبِّ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿الَّذِي خَلَقَ﴾... وَقِيلَ: لِتَأْكِيدِ عَدَمِ إِرَادَةِ غَيْرِهِ تَعَالَى مِنَ الرَّبِّ فَإِنَّ الْعَرَبَ كَانَتْ تُسَمِّي الْأَصْنَامَ أَرْبَابًا لَكِنَّهُمْ لَا يَنْسِبُونَ الْخَلْقَ إِلَيْهَا».

“Penyebutan sifat rububiyah yang menunjukkan pemeliharaan dan pengantaran menuju kesempurnaan yang layak, sedikit demi sedikit... dan penyifatan Rabb dengan firman-Nya Ta’ala: “Yang telah menciptakan”... Ada pula yang mengatakan bahwa hal itu untuk menegaskan bahwa yang dimaksud dengan Rabb adalah Dia semata, bukan selain-Nya. Sebab, orang-orang Arab dahulu menyebut berhala-berhala sebagai rabb-rabb, tetapi mereka tidak menisbatkan penciptaan kepada berhala-berhala tersebut.” (Tafsir al-Alusi, 30: 180).

Ini merupakan pernyataan yang jelas bahwa mereka menjadikan sesembahan-sesembahan mereka sebagai rabb, bukan sekadar sebagai pemberi syafaat.

-----

Al-Imam Asy-Syaukani berkata:

«﴿وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ﴾ يَعْنِي الْخَوْفَ مِنَ الْغَرَقِ، ﴿فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ﴾ مِنَ الْآلِهَةِ وَذَهَبَ عَنْ خَوَاطِرِكُمْ وَلَمْ يُوجَدْ لِإِغَاثَتِكُمْ مَا كُنْتُمْ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مِنْ صَنَمٍ، أَوْ جِنٍّ، أَوْ مَلَكٍ، أَوْ بَشَرٍ، ﴿إِلَّا إِيَّاهُ﴾ وَحْدَهُ فَإِنَّكُمْ تَعْتَقِدُونَ رَجَاءَكُمْ بِرَحْمَتِهِ وَإِغَاثَتِهِ، وَالِاسْتِغْنَاءُ مُنْقَطِعٌ، وَمَعْنَى الْآيَةِ: أَنَّ الْكُفَّارَ إِنَّمَا يَعْتَقِدُونَ فِي أَصْنَامِهِمْ وَسَائِرِ مَعْبُودَاتِهِمْ أَنَّهَا نَافِعَةٌ لَهُمْ فِي غَيْرِ هَذِهِ الْحَالَةِ، فَأَمَّا فِي هَذِهِ الْحَالَةِ فَإِنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ يَعْلَمُ بِالْفِطْرَةِ عِلْمًا لَا يَقْدِرُ عَلَى مُدَافَعَتِهِ أَنَّ الْأَصْنَامَ وَنَحْوَهَا لَا فِعْلَ لَهَا، ﴿فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ﴾ عَنِ الْإِخْلَاصِ لِلَّهِ وَتَوْحِيدِهِ وَرَجَعْتُمْ إِلَى دُعَاءِ أَصْنَامِكُمْ وَالِاسْتِغَاثَةِ بِهَا».

“”Apabila kamu ditimpa bahaya”, maksudnya adalah takut tenggelam.

“Di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru”, yaitu sesembahan-sesembahan; semuanya hilang dari benak kalian dan tidak ditemukan sesuatu yang dapat menolong kalian dari apa yang dahulu kalian seru selain Allah, baik berupa berhala, jin, malaikat, maupun manusia. “Kecuali lepada Dia”, semata-mata.

Sesungguhnya kalian meyakini harapan kalian kepada rahmat dan pertolongan-Nya, sedangkan ketergantungan kepada selain-Nya terputus.

Makna ayat tersebut adalah bahwa orang-orang kafir meyakini berhala-berhala dan berbagai sesembahan mereka dapat memberikan manfaat kepada mereka dalam keadaan selain keadaan ini. Adapun dalam keadaan seperti ini, setiap orang dari mereka secara fitrah mengetahui dengan pengetahuan yang tidak dapat ia tolak bahwa berhala-berhala dan yang semisalnya tidak memiliki perbuatan apa pun.

“Namun, ketika Dia telah menyelamatkan kamu sampai ke daratan, kamu berpaling”, yaitu dari mengikhlaskan ibadah kepada Allah dan mentauhidkan-Nya, lalu kalian kembali berdoa kepada berhala-berhala kalian dan meminta pertolongan kepada mereka.” (Fath al-Qadir: 1011).

Ia tidak mengatakan bahwa mereka meminta syafaat kepada berhala-berhala tersebut!

-----

Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa‘di berkata:

«أَنَّهُمْ إِذَا مَسَّهُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ، فَخَافُوا مِنَ الْهَلَاكِ، لِتَرَاكُمِ الْأَمْوَاجِ، ضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللهِ، فِي حَالِ الرَّخَاءِ مِنَ الْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ، فَكَأَنَّهُمْ لَمْ يَكُونُوا يَدْعُونَهُمْ فِي وَقْتٍ مِنَ الْأَوْقَاتِ لِعِلْمِهِمْ أَنَّهُمْ ضُعَفَاءُ، عَاجِزُونَ عَنْ كَشْفِ الضُّرِّ، وَصَرَخُوا بِدَعْوَةِ فَاطِرِ الْأَرْضِ وَالسَّمَاوَاتِ الَّذِي يَسْتَغِيثُ بِهِ فِي شَدَائِدِهَا جَمِيعُ الْمَخْلُوقَاتِ وَأَخْلَصُوا لَهُ الدُّعَاءَ وَالتَّضَرُّعَ فِي هَذِهِ الْحَالِ. فَلَمَّا كَشَفَ اللهُ عَنْهُمُ الضُّرَّ وَنَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ وَنَسُوا مَا كَانُوا يَدْعُونَ إِلَيْهِ مِنْ قَبْلُ أَشْرَكُوا بِهِ مَنْ لَا يَنْفَعُ وَلَا يَضُرُّ وَلَا يُعْطِي وَلَا يَمْنَعُ، وَأَعْرَضُوا عَنِ الْإِخْلَاصِ لِرَبِّهِمْ وَمَلِيكِهِمْ».

“Apabila mereka ditimpa bahaya di laut dan takut binasa karena gelombang yang bertumpuk-tumpuk, maka lenyaplah dari mereka apa yang dahulu mereka seru selain Allah, baik yang hidup maupun yang telah meninggal, ketika dalam keadaan lapang.

Seakan-akan mereka tidak pernah menyeru sesembahan-sesembahan tersebut pada waktu sebelumnya, karena mereka mengetahui bahwa sesembahan-sesembahan itu lemah dan tidak mampu menghilangkan bahaya.

Mereka pun menyeru dengan penuh ketakutan kepada Pencipta bumi dan langit, yang kepada-Nya seluruh makhluk memohon pertolongan dalam berbagai kesulitan.

Dalam keadaan tersebut mereka mengikhlaskan doa dan permohonan mereka hanya kepada-Nya. Namun, ketika Allah menghilangkan bahaya dari mereka, menyelamatkan mereka sampai ke daratan, dan mereka melupakan apa yang dahulu mereka seru, mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat maupun mudarat, tidak dapat memberi maupun menahan. Mereka berpaling dari mengikhlaskan ibadah kepada Rabb dan Penguasa mereka.” (Taisir al-Karim ar-Rahman, 1: 623).

Ia tidak mengatakan bahwa mereka meminta syafaat kepada sesembahan-sesembahan tersebut. Bahkan, ia mengatakan bahwa mereka berdoa kepada sesembahan-sesembahan itu dan meminta pertolongan kepada mereka!

-----

Al-‘Ashimi berkata:

«﴿ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ﴾ أَيْ اضْمَحَلَّ تَعَلُّقُكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ أَنْدَادِكُمْ وَمَعْبُودَاتِكُمْ سِوَاهُ وَبَطَلَ ذَلِكَ وَلَجَأْتُمْ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ...».

“”Niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia”, maksudnya, keterikatan kalian kepada sesuatu dari tandingan-tandingan dan sesembahan-sesembahan kalian selain Dia menjadi lenyap dan gugur, lalu kalian berlindung kepada-Nya, Mahasuci Dia...” (Malak at-Ta’wil, 2: 771).

-----

Abu Mu’adz al-Hadhrami al-Atsari berkata:

ثُمَّ هُنَا أَمْرٌ لَا بُدَّ مِنْ تَقْرِيرِهِ وَإِيضَاحِهِ، وَهُوَ أَنَّ قَوْلَ أَهْلِ الْعِلْمِ عَنِ الْمُشْرِكِينَ بِأَنَّهُمْ يَعْتَرِفُونَ بِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ، لَيْسَ الْمُرَادُ بِهِ أَنَّهُمْ اعْتَرَفُوا بِهَذَا الْقِسْمِ مِنَ التَّوْحِيدِ عَلَى التَّمَامِ وَالْكَمَالِ، فَمُشْرِكُو الْعَرَبِ مَعَ تَوْحِيدِهِمُ اللهَ وَإِقْرَارِهِمْ لَهُ سُبْحَانَهُ فِي أَصْلِ تَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ، إِلَّا أَنَّهُمْ كَانُوا وَاقِعِينَ فِي أَفْرَادٍ مِنَ الشِّرْكِ فِيهِ، فَهُمْ يُقِرُّونَ بِصِفَاتِ الرُّبُوبِيَّةِ مِنْ حَيْثُ الْجُمْلَةِ، لَكِنْ قَدْ يَقَعُونَ فِي بَعْضِ أَفْرَادِ هَذِهِ الصِّفَاتِ، فَمَثَلًا إِنْكَارُهُمْ لِلْبَعْثِ دَلِيلٌ عَلَى خَلَلٍ وَنَقْصٍ فِي إِثْبَاتِهِمْ لِصِفَةِ الْقُدْرَةِ الْمُطْلَقَةِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى التَّمَامِ وَالْكَمَالِ، فَهُمْ يُثْبِتُونَ أَصْلَ الْقُدْرَةِ لِلهِ تَعَالَى بِاعْتِقَادِهِمْ أَنَّ اللهَ الْخَالِقُ الرَّازِقُ الْمُدَبِّرُ الْمَالِكُ، وَيُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ، وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ، وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ، وَأَنَّهُ يُجِيبُ دَعْوَةَ الْمُضْطَرِّ إِذَا دَعَاهُ... وَكُلُّ ذَلِكَ يَسْتَلْزِمُ إِثْبَاتَ الْقُدْرَةِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ، لَكِنْ أَنْكَرُوا فَرْدًا مِنْ أَفْرَادِ الْقُدْرَةِ، وَهُوَ الْبَعْثُ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَلَا يَلْزَمُ ذَلِكَ إِنْكَارَهُمُ الْقُدْرَةَ فِي الْجُمْلَةِ.

فَالْخُلَاصَةُ أَنَّ الْمُشْرِكِينَ يُثْبِتُونَ أَصْلَ الصِّفَةِ، وَيَنْفُونَ فَرْعًا مِنْ فُرُوعِهَا كَالْبَعْثِ، وَلَا يَعْنِي ذَلِكَ إِنْكَارَهُمْ لِأَصْلِ الْقُدْرَةِ الْإِلَهِيَّةِ، وَإِنَّمَا يَجْعَلُونَ لِقُدْرَةِ اللهِ حَدًّا.

Ada satu hal yang perlu ditegaskan dan dijelaskan, yaitu bahwa pernyataan para ulama tentang kaum musyrik bahwa mereka mengakui tauhid rububiyah tidak berarti bahwa mereka mengakui bagian tauhid ini secara sempurna dan menyeluruh. Kaum musyrik Arab, meskipun mereka mengesakan Allah dan mengakui-Nya dalam prinsip tauhid rububiyah, tetapi mereka juga terjerumus dalam beberapa bentuk syirik dalam tauhid tersebut. Mereka mengakui sifat-sifat rububiyah secara umum, tetapi terkadang mereka terjerumus dalam beberapa bentuk penyimpangan terhadap sifat-sifat tersebut.

Sebagai contoh, pengingkaran mereka terhadap kebangkitan merupakan bukti adanya kekurangan dan penyimpangan dalam pengakuan mereka terhadap sifat kekuasaan Allah Azza wa Jalla yang mutlak secara sempurna dan menyeluruh.

Mereka mengakui prinsip kekuasaan Allah Ta’ala berdasarkan keyakinan mereka bahwa Allah adalah Pencipta, Pemberi rezeki, Pengatur, dan Pemilik; Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup; Dia menundukkan matahari dan bulan; dan Dia mengabulkan doa orang yang berada dalam kesulitan ketika ia berdoa kepada-Nya.

Semua itu mengharuskan adanya pengakuan terhadap kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Akan tetapi, mereka mengingkari salah satu bentuk kekuasaan-Nya, yaitu kebangkitan setelah kematian. Hal itu tidak berarti bahwa mereka mengingkari kekuasaan Allah secara keseluruhan.

Kesimpulannya: kaum musyrik mengakui prinsip suatu sifat, tetapi mengingkari salah satu cabang dari sifat tersebut, seperti kebangkitan. Hal itu tidak berarti bahwa mereka mengingkari prinsip kekuasaan ilahi, tetapi mereka membatasi kekuasaan Allah.

[Lihat: Forum Kullu as-Salafiyyin, di bawah pengawasan Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi, “Makna Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Rububiyah”.

Lihat juga: Al-Qaul as-Sadid fi ar-Radd ‘ala man Ankara Taqsim at-Tauhid, karya Abdul Razzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, hlm. 77]

====

DALIL BAHWA KAUM MUSYRIKIN JAHILIYAH MENYEKUTUKAN ALLAH DALAM RUBUBIYAH:

----

Dalil Pertama:

KE [1]: Dari Abu Utsman an-Nahdi radhiyallahu 'anhu, bahwa ia pernah berkata:

«كُنَّا في الجَاهِلِيَّةِ نَعْبُدُ حَجَرَاً، فَسَمِعْنَا مُنَادِيَاً يُنَادِي: يَا أَهْلَ الرِّحَال؛ ‌إِنَّ ‌رَبَّكُمْ ‌قَدْ ‌هَلَكَ ‌فَالْتَمِسُواْ ‌رَبَّاً؛ فَخَرَجْنَا عَلَى كُلِّ صَعْبٍ وَذَلُول [أَيْ رَكِبْنَا جِمَالَنَا] فَبَيْنَا نحْنُ كَذَلِكَ إِذْ سَمِعْنَا مُنَادِيَاً يُنَادِي: إِنَّا قَدْ وَجَدْنَا رَبَّكُمْ أَوْ شِبْهَهُ؛ فَجِئْنَا فَإِذَا حَجَرٌ؛ فَنَحَرْنَا عَلَيْهِ الجُزُر»

“Pada masa jahiliah, kami menyembah sebuah batu. Kemudian kami mendengar seseorang yang menyeru: ‘Wahai para penghuni tempat persinggahan, sesungguhnya Rabb kalian telah binasa. Maka carilah Rabb yang lain.’

Lalu kami berangkat dengan menunggangi unta kami, baik yang sulit maupun yang jinak. Ketika kami dalam perjalanan demikian, tiba-tiba kami mendengar seseorang yang menyeru:

‘Sesungguhnya kami telah menemukan Rabb kalian atau yang serupa dengannya.’

Kami pun datang, ternyata itu adalah sebuah batu. Lalu kami menyembelih unta-unta di atasnya.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 7/17, no. 33914. Melalui jalur beliau, riwayat ini juga diriwayatkan oleh al-Khatib dalam Tarikh-nya, 10/204, dan Ibnu al-Jauzi dalam Talbis Iblis, hlm. 56. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Sa'd dalam ath-Thabaqat, 7/97, dari Yazid bin Harun dengan sanad tersebut. Ad-Dainuri meriwayatkannya dalam Al-Mujalasah, no. 1009, dari Zaid bin Isma'il; Abu Nu'aim dalam Ma'rifat ash-Shahabah melalui jalur Ziyad bin Ayyub; dan Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya, 35/471, melalui jalur Muhammad bin Abdul Malik al-Wasithi. Ketiganya meriwayatkannya dari Yazid bin Harun dengan sanad tersebut.

Abu Umar, Umar bin Mahmud, berkata: “Sanadnya hasan.” [Lihat: tahqiq Ma'arij al-Qabul, 2/469, catatan kaki no. 2]

Fiqih hadits: Riwayat diatas dengan jelas menunjukkan bahwa kaum jahiliyah menetapkan sifat rububiyah pada sesembahan-seambahan mereka, selain Allah SWT

KE [2] Dari Abu Ubaid al-Qasim bin Sallam, bahwa ia berkata:

قَوْلُ الْعَرَبِ: «لَقَدْ ذَلَّ مَنْ بَالَتْ عَلَيْهِ الثَّعَالِبُ»؛ قِيلَ: هَذَا فِيمَا بَلَغَنَا أَنَّ رِجَالًا مِنَ الْعَرَبِ كَانُوا يَعْبُدُونَ صَنَمًا، فَنَظَرُوا يَوْمًا إِلَى ثَعْلَبٍ جَاءَ حَتَّى بَالَ عَلَيْهِ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ:

«أَرَبٌّ يَبُولُ الثُّعْلُبَانِ بِرَأْسِهِ ... لَقَدْ ذَلَّ مَنْ بَالَتْ عَلَيْهِ الثَّعَالِبُ»

“Perkataan orang Arab: ‘Sungguh hina orang yang menjadi sasaran kencing binatang-binatang rubah.’”

Ada yang mengatakan: bahwa kisah ini berdasarkan riwayat yang sampai kepada kami, bahwa dahulu ada sekelompok orang Arab yang menyembah sebuah berhala. Pada suatu hari, mereka melihat seekor rubah datang lalu kencing di atas berhala tersebut. Maka sebagian mereka berkata:

“Apakah ini Rabb (tuhan), sementara dua ekor rubah kencing di kepalanya?

Sungguh hina orang yang menjadi sasaran kencing binatang-binatang rubah.”

Lihat juga: Ad-Durr al-Farid wa Bait al-Qashid, karya al-Musta'shimi, 3/286, no. 2511; Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, karya al-Qurthubi, 1/137; dan At-Tahrir wa at-Tanwir, karya Ibnu Asyur, 1/67.

Al-Waqidi berkata:

«كَانَ أَنَسُ بْنُ عَبَّاسٍ وَفَدَ عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ الْمَدِينَةَ فِي بَنِي سُلَيْمٍ، وَفِيهِمْ قَيْسُ بْنُ نُشْبَةَ، فَسَمِعَ كَلَامَ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَرَجَعَ إِلَى بَنِي سُلَيْمٍ وَقَالَ: وَاللهِ لَقَدْ سَمِعْتُ تَرَاجِمَ الرُّومِ، وَهَمْهَمَةَ فَارِسَ، وَكَهَانَةَ الْكُهَّانِ، وَقَصَائِدَ الْعَرَبِ، فَمَا يُشْبِهُ كَلَامَ مُحَمَّدٍ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ، فَأَسْلِمُوا تَرْشُدُوا، فَأَسْلَمُوا، وَكَانَ لَهُمْ صَنَمٌ وَلَهُ سَادِنٌ يُقَالُ لَهُ: غَاوِي بْنُ عَبْدِ الْعُزَّى، فَدَخَلَ يَوْمًا عَلَى الصَّنَمِ فَرَأَى ثَعْلَبَيْنِ يَبُولَانِ عَلَيْهِ فَقَالَ:

«أَرَبٌّ يَبُولُ الثُّعْلَبَانِ بِرَأْسِهِ ... لَقَدْ ذَلَّ مَنْ بَالَتْ عَلَيْهِ الثَّعَالِبُ»

ثُمَّ شَدَّ عَلَى الصَّنَمِ فَكَسَرَهُ، وَجَاءَ رَسُولَ اللهِ ﷺ مُسْلِمًا، فَقَالَ لَهُ: «مَا اسْمُكَ؟» فَقَالَ: غَاوِي بْنُ عَبْدِ الْعُزَّى، فَقَالَ: «أَنْتَ رَاشِدُ بْنُ عَبْدِ رَبِّهِ»، وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ، وَأَقْطَعَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ رُهَاطًا وَفِيهَا عَيْنٌ يُقَالُ لَهَا: عَيْنُ الرَّسُولِ، وَعَقَدَ لَهُ لِوَاءً عَلَى قَوْمِهِ وَقَالَ: «خَيْرُ سُلَيْمٍ رَاشِدٌ»، وَكَانَ يَقْدُمُ سُلَيْمًا أَنَسُ بْنُ عَبَّاسٍ يَوْمَ الْفَتْحِ.

“Anas bin Abbas delegasi yang datang menghadap Rasulullah ﷺ di Madinah bersama Bani Sulaim, yang di antara mereka terdapat Qais bin Nasybah. Ia mendengar perkataan Rasulullah ﷺ, kemudian kembali kepada Bani Sulaim dan berkata:

‘Demi Allah, sungguh aku telah mendengar bahasa orang-orang Romawi, gumaman orang-orang Persia, mantra-mantra para dukun, dan syair-syair orang Arab. Namun, perkataan Muhammad sama sekali tidak menyerupai semua itu. Maka masuk Islamlah kalian, niscaya kalian akan mendapat petunjuk.’

Mereka pun masuk Islam.

Mereka memiliki sebuah berhala dan seorang penjaga yang disebut Gawi bin Abdul Uzza. Pada suatu hari ia masuk menemui berhala tersebut, lalu melihat dua ekor rubah sedang kencing di atasnya. Ia pun berkata:

“Apakah ini Rabb (Tuhan), sementara dua ekor rubah kencing di kepalanya? Sungguh hina orang yang menjadi sasaran kencing hewan-hewan rubah.”

Kemudian ia menyerang berhala itu dan menghancurkannya. Setelah itu, ia datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan telah masuk Islam.

Beliau ﷺ bertanya kepadanya, ‘Siapa namamu?’ Ia menjawab, ‘Gawi bin Abdul Uzza.’

Lalu beliau ﷺ bersabda, ‘Engkau adalah Rasyid bin Abdu Rabbihi.’ Islamnya pun menjadi baik.

Rasulullah ﷺ memberikan kepadanya wilayah Ruhath yang di dalamnya terdapat sebuah mata air yang disebut Mata Air Rasul. Beliau juga mengangkat sebuah panji untuknya atas kaumnya dan bersabda, ‘Rasyid adalah orang terbaik dari Bani Sulaim.’

Pada hari Fathu Makkah (penaklukan Makkah), Anas bin Abbas berada di barisan terdepan memimpin Bani Sulaim.

[Lihat: Mir'at az-Zaman fi Tarikh al-A'yan, karya Abu al-Muzhaffar Sibt Ibnu al-Jauzi, 4/71. Lihat juga: Tarikh ath-Thabari, 3/51–52; dan ath-Thabaqat, 1/265–266.]

FIQIH HADITS:

Riwayat diatas dengan jelas menunjukkan bahwa kaum jahiliyah menetapkan sifat rububiyah pada sesembahan-seambahan mereka, selain Allah SWT.

----

Dalil Ke Dua:

Allah SWT berfirman:

﴿أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ ۖ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِن دُونِهِ ۚ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ﴾

“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan mereka menakut-nakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah? Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya”. [QS. Az-Zumar: 36]

Dalam ayat diatas terdapat penjelasan bahwa kaum musyrikin jahiliyah menakut-nakuti Nabi ﷺ dengan berhala-berhala mereka yang diyakini memiliki kemampuan rububiyah mendatangkan mudhorot kepada beliau ﷺ.

Al-Imam al-Qurthuby dalam Tafsir nya 15/258 berkata:

قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ﴾، وَذَلِكَ أَنَّهُمْ خَوَّفُوا النَّبِيَّ ﷺ مَضَرَّةَ الْأَوْثَانِ، فَقَالُوا: أَتَسُبُّ آلِهَتَنَا؟ لَئِنْ لَمْ تَكُفَّ عَنْ ذِكْرِهَا لَتُخَبِّلَنَّكَ أَوْ تُصِيبَنَّكَ بِسُوءٍ.

وَقَالَ قَتَادَةُ: مَشَى خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ إِلَى الْعُزَّى لِيَكْسِرَهَا بِالْفَأْسِ، فَقَالَ لَهُ سَادِنُهَا: أُحَذِّرُكَهَا يَا خَالِدُ، فَإِنَّ لَهَا شِدَّةً لَا يَقُومُ لَهَا شَيْءٌ، فَعَمَدَ خَالِدٌ إِلَى الْعُزَّى فَهَشَّمَ أَنْفَهَا حَتَّى كَسَرَهَا بِالْفَأْسِ.

وَتَخْوِيفُهُمْ لِخَالِدٍ تَخْوِيفٌ لِلنَّبِيِّ ﷺ؛ لِأَنَّهُ الَّذِي وَجَّهَ خَالِدًا.

وَيَدْخُلُ فِي الْآيَةِ تَخْوِيفُهُمُ النَّبِيَّ ﷺ بِكَثْرَةِ جَمْعِهِمْ وَقُوَّتِهِمْ، كَمَا قَالَ: ﴿أَمْ يَقُولُونَ نَحْنُ جَمِيعٌ مُنْتَصِرٌ﴾ [الْقَمَرِ: ٤٤].

Firman-Nya: “Dan mereka menakut-nakutimu dengan sesembahan-sesembahan selain-Nya”.

Hal itu karena mereka menakut-nakuti Nabi ﷺ dengan bahaya yang ditimbulkan oleh berhala-berhala.

Mereka berkata: “Apakah engkau mencela tuhan-tuhan kami? Jika engkau tidak berhenti menyebut-nyebutnya, niscaya mereka akan membuatmu gila atau menimpakan keburukan kepadamu.”

Qatadah berkata, “Khalid bin al-Walid mendatangi al-‘Uzza untuk menghancurkannya dengan kapak. Penjaganya berkata kepadanya, ‘Aku memperingatkanmu agar tidak mendekatinya, wahai Khalid. Sesungguhnya ia memiliki kekuatan yang tidak akan mampu dihadapi oleh siapa pun.’

Lalu Khalid mendatangi al-‘Uzza dan menghancurkan hidungnya hingga ia memecahkannya dengan kapak.”

Ancaman mereka kepada Khalid merupakan ancaman kepada Nabi ﷺ, karena beliaulah yang mengutus Khalid.

Termasuk dalam ayat ini adalah tindakan mereka menakut-nakuti Nabi ﷺ dengan banyaknya jumlah dan kekuatan mereka, sebagaimana firman-Nya: “Ataukah mereka mengatakan, “Kami adalah kelompok yang bersatu dan pasti menang”” [Al-Qamar: 44].

Dan Al-Imam al-Qurthuby juga (15/257) berkata:

وَالْكِفَايَةُ شَرُّ الْأَصْنَامِ، فَإِنَّهُمْ كَانُوا يُخَوِّفُونَ الْمُؤْمِنِينَ بِالْأَصْنَامِ، حَتَّى قَالَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ: ﴿وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُمْ بِاللَّهِ﴾ [الْأَنْعَامِ: ٨١].

وَقَالَ الْجُرْجَانِيُّ: إِنَّ اللَّهَ كَافٍ عَبْدَهُ الْمُؤْمِنَ وَعَبْدَهُ الْكَافِرَ، هَذَا بِالثَّوَابِ، وَهَذَا بِالْعِقَابِ.

Dan kecukupan perlindungan dari Allah merupakan kebalikan dari perlindungan yang mereka nisbatkan kepada berhala-berhala. Mereka dahulu menakut-nakuti orang-orang beriman dengan berhala-berhala, hingga Ibrahim ‘alaihissalam berkata: “Bagaimana mungkin aku takut kepada apa yang kalian sekutukan, sedangkan kalian tidak takut bahwa kalian telah mempersekutukan Allah?” [QS. Al-An‘am: 81].

Al-Jurjani berkata, “Sesungguhnya Allah mencukupi hamba-Nya yang beriman dan hamba-Nya yang kafir. Yang ini dengan pahala, sedangkan yang itu dengan hukuman.”

Sementara al-Imam al-Baghowi dalam tafsirnya 1/120 menjelaskan dengan singkat:

﴿وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ﴾، وَذَلِكَ أَنَّهُمْ خَوَّفُوا النَّبِيَّ ﷺ مَعَرَّةَ الْأَوْثَانِ، وَقَالُوا: لَتَكُفَّنَّ عَنْ شَتْمِ آلِهَتِنَا، أَوْ لَيُصِيبَنَّكَ مِنْهُمْ خَبَلٌ أَوْ جُنُونٌ.

“Dan mereka menakut-nakutimu dengan sesembahan-sesembahan selain-Nya.” Hal itu karena mereka menakut-nakuti Nabi ﷺ dengan bahaya dan akibat buruk yang ditimbulkan oleh berhala-berhala. Mereka berkata, “Sungguh, engkau harus berhenti mencela tuhan-tuhan kami, jika tidak maka engkau akan tertimpa gangguan atau kegilaan dari mereka.”

---

Dalil Ke Tiga:

Seandainya kaum jahiliah tidak meyakini adanya rububiyah dan pengaruh pada berhala-berhala dan sesembahan mereka, niscaya Allah Ta'ala tidak akan berfirman tentang mereka:

﴿قُلْ أَغَيْرَ اللهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ﴾

"Katakanlah, 'Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, padahal Dia adalah Rabb segala sesuatu?'" (Al-An'am: 164).

Allah juga berfirman:

﴿قُلْ أَغَيْرَ اللهِ أَتَّخِذُ وَلِيًّا فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ يُطْعِمُ وَلَا يُطْعَمُ قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَسْلَمَ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ﴾

"Katakanlah, 'Apakah aku akan menjadikan pelindung selain Allah, padahal Dialah Pencipta langit dan bumi, dan Dia memberi makan serta tidak diberi makan?' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku diperintahkan agar menjadi orang yang pertama-tama berserah diri dan jangan sekali-kali kamu termasuk golongan orang-orang musyrik.'" (Al-An'am: 14).

Allah juga berfirman:

﴿قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَخَذَ اللهُ سَمْعَكُمْ وَأَبْصَارَكُمْ وَخَتَمَ عَلَى قُلُوبِكُمْ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللهِ يَأْتِيكُمْ بِهِ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ ثُمَّ هُمْ يَصْدِفُونَ﴾

"Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku, jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan kalian serta mengunci hati kalian, siapakah Tuhan selain Allah yang mampu mengembalikannya kepada kalian?' Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan ayat-ayat, tetapi kemudian mereka tetap berpaling." (Al-An'am: 46).

Demikianlah ayat-ayat yang mulia tersebut menyeru Nabi kita yang mulia ﷺ agar menghadapi kesyirikan dalam masalah rububiyah. Sebagaimana Allah Ta'ala juga menyebutkan perkataan Yusuf 'alaihis salam kepada orang-orang musyrik pada zamannya:

﴿أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ﴾

"Manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa?" (Yusuf: 39).

Hal ini menunjukkan bahwa kaum musyrik di berbagai tempat memiliki kerusakan dalam pemahaman tentang tauhid dalam seluruh macamnya. Oleh karena itu, Allah Ta'ala menyebutkan berbagai persoalan tersebut di dalam Al-Qur'an. Jika tidak demikian, penyebutan kisah-kisah tersebut tidak akan memberikan manfaat dan tidak memiliki kaitan dengan persoalan yang kita hadapi, padahal Allah Ta'ala berfirman:

﴿لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ﴾

"Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal." (Yusuf: 111).

Allah juga berfirman:

﴿وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ﴾

"Dan semua kisah rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, yaitu kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu. Di dalam surah ini telah datang kepadamu kebenaran, pelajaran, dan peringatan bagi orang-orang yang beriman." (Hud: 120).

Dengan demikian, Allah menjadikan kisah-kisah tersebut sebagai perumpamaan agar kaum jahiliah dari penduduk Makkah dan sekitarnya, serta seluruh manusia, mengambil pelajaran dan nasihat darinya.

Semua ini menunjukkan bahwa mereka melakukan kesyirikan dalam masalah rububiyah, demikian pula dalam uluhiyah, bukan hanya dalam masalah syafaat yang keliru dan mengandung kesyirikan. Allah Ta'ala menjelaskan keadaan mereka dengan firman-Nya:

﴿أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ﴾

"Tidakkah kamu mengetahui bahwa Allah memiliki kerajaan langit dan bumi? Dan tidak ada bagi kalian pelindung maupun penolong selain Allah." (Al-Baqarah: 107).

Allah Ta'ala juga berfirman:

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ﴾

"Dan di antara manusia ada orang-orang yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Seandainya orang-orang yang zalim itu mengetahui ketika mereka melihat azab, bahwa seluruh kekuatan itu milik Allah dan bahwa Allah sangat keras azab-Nya." (Al-Baqarah: 165).

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

﴿وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا أَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾

"Dan Dia tidak memerintahkan kalian untuk menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai Rabb. Apakah Dia akan memerintahkan kalian berbuat kekafiran setelah kalian menjadi orang-orang Muslim?" (Ali Imran: 80).

Allah juga berfirman:

﴿وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا﴾

"Barang siapa menjadikan setan sebagai pelindung selain Allah, sungguh, dia telah menderita kerugian yang nyata." (An-Nisa: 119).

Allah juga berfirman:

﴿أَلَا إِنَّ لِلَّهِ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَتَّبِعُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللهِ شُرَكَاءَ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ﴾

"Ingatlah, sesungguhnya milik Allah siapa saja yang ada di langit dan siapa saja yang ada di bumi. Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah tidak mengikuti sesuatu pun kecuali prasangka; mereka hanyalah mengada-adakan kebohongan." (Yunus: 66).

Allah juga berfirman:

﴿قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللهُ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ قُلِ اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ﴾

"Katakanlah, 'Siapakah Rabb langit dan bumi?' Katakanlah, 'Allah.' Katakanlah, 'Apakah kalian menjadikan pelindung-pelindung selain Dia, padahal mereka tidak memiliki manfaat dan mudarat bagi diri mereka sendiri?' Katakanlah, 'Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat? Atau apakah sama kegelapan dengan cahaya? Ataukah mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah yang menciptakan seperti ciptaan-Nya, sehingga ciptaan itu menjadi serupa bagi mereka?' Katakanlah, 'Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa.'" (Ar-Ra'd: 16).

Allah juga berfirman:

﴿وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا﴾

"Dan mereka mengambil tuhan-tuhan selain Dia, yang tidak dapat menciptakan sesuatu pun, bahkan mereka sendiri diciptakan; mereka tidak mampu memberikan mudarat dan manfaat bagi diri mereka sendiri, tidak pula menguasai kematian, kehidupan, maupun kebangkitan." (Al-Furqan: 3).

Allah juga berfirman:

﴿إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللهِ الرِّزْقَ﴾

"Sesungguhnya yang kalian sembah selain Allah hanyalah berhala-berhala, dan kalian membuat kebohongan. Sesungguhnya mereka yang kalian sembah selain Allah tidak mampu memberikan rezeki kepada kalian. Maka carilah rezeki di sisi Allah." (Al-Ankabut: 17).

Allah juga berfirman:

﴿قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللهِ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ﴾

"Katakanlah, 'Serulah mereka yang kalian anggap sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Mereka tidak memiliki kekuasaan seberat zarah pun di langit dan di bumi. Mereka tidak memiliki suatu bagian pun dalam keduanya, dan Dia tidak mempunyai seorang penolong pun dari mereka.'" (Saba: 22).

Syaikh Dhiyauddin Al-Muhtaram berkata dalam artikelnya: «تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ وَالشِّرْكُ فِي التَّوَسُّلِ» (Tauhid Rububiyah dan Kesyirikan dalam Tawassul).

فَكُلُّ هَذِهِ الْآيَاتِ الْكَرِيمَةِ يُبَيِّنُ اللهُ تَعَالَى فِيهَا اعْتِقَادَ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ وَالشِّرْكِ بِأَنَّ آلِهَتَهُمْ مُشَارِكَةٌ لِلَّهِ تَعَالَى فِي الرُّبُوبِيَّةِ وَالْمُلْكِ وَالرِّزْقِ وَالْفِعْلِ وَالْقُدْرَةِ وَالتَّصَرُّفِ وَالْوِلَايَةِ وَالنُّصْرَةِ وَالشَّفَاعَةِ، فَعَبَدُوهُمْ لِأَجْلِ ذَلِكَ وَدَعَوْهُمْ مِنْ دُونِ اللهِ، لِذَا رَدَّ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِمْ هَذِهِ الْعَقِيدَةَ، وَلَمْ يُنْكِرِ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِمْ فَقَطْ كَوْنَهُمْ يَتَّخِذُونَهُمْ شُفَعَاءَ أَوْ يَعْبُدُونَهُمْ. وَلِذَلِكَ تَحَدَّاهُمُ اللهُ تَعَالَى بِأَنَّ آلِهَتَهُمْ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ وَلَا تَسْتَجِيبُ لَهُمْ وَلَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ وَلَا ذَرَّةٍ وَلَا كَشْفَ الضُّرِّ، فَلَوْ لَمْ يَطْلُبُوا هَذِهِ الْأَشْيَاءِ مِنْهَا لَمَا كَانَ دَاعِيًا أَنْ يَرُدَّ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِمْ بِذَلِكَ!

“Seluruh ayat yang mulia ini menjelaskan bahwa kaum jahiliah dan kaum musyrik meyakini bahwa tuhan-tuhan mereka turut memiliki bagian bersama Allah Ta'ala dalam rububiyah, kerajaan, rezeki, perbuatan, kekuasaan, pengaturan, perwalian, pertolongan, dan syafaat. Oleh karena itu, mereka menyembah sesembahan-sesembahan tersebut karena hal-hal itu dan berdoa kepada mereka selain kepada Allah.

Karena itu, Allah Ta'ala membantah keyakinan mereka tersebut. Allah tidak hanya mengingkari mereka karena menjadikan sesembahan-sesembahan itu sebagai pemberi syafaat atau karena mereka menyembahnya. Allah juga menantang mereka dengan menjelaskan bahwa sesembahan-sesembahan mereka tidak mampu mendatangkan mudarat maupun manfaat, tidak mampu mengabulkan doa mereka, tidak memiliki kekuasaan sebesar qitmir maupun zarah, dan tidak mampu menghilangkan kemudaratan. Seandainya mereka tidak meminta hal-hal tersebut kepada sesembahan-sesembahan itu, tentu tidak ada alasan bagi Allah Ta'ala untuk membantah mereka dengan penjelasan tersebut”.

 ----

Dalil Ke Empat:

Terdapat banyak isyarat dalam hadits-hadits Nabi ﷺ mengenai kesyirikan kaum jahiliah dan keyakinan mereka terhadap sesembahan-sesembahan mereka, bahwa sesembahan tersebut dapat memberikan mudarat dan manfaat, serta bahwa mereka memohon pertolongan dan meminta kemenangan kepada sesembahan-sesembahan tersebut. Demikian pula keyakinan mereka yang menisbatkan turunnya hujan, tumbuhnya tanaman, dan perkara lainnya kepada sesembahan tersebut atau kepada bintang-bintang dan benda-benda langit.

Di antaranya:

[1] Hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya dan Muslim, dari Zaid bin Khalid al-Juhani, ia berkata:

صَلَّى لَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ صَلَاةَ الصُّبْحِ بِالْحُدَيْبِيَةِ عَلَى إِثْرِ سَمَاءٍ كَانَتْ مِنَ اللَّيْلَةِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ النَّبِيُّ ﷺ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ، فَقَالَ: «هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟» قَالُوا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ».

Rasulullah ﷺ mengimami kami shalat Subuh di Hudaibiyah setelah hujan turun pada malam harinya. Setelah Nabi ﷺ selesai dari shalat, beliau menghadap kepada orang-orang lalu bersabda, «Tahukah kalian apa yang difirmankan oleh Rabb kalian?» Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau bersabda, «Di antara hamba-hamba-Ku pagi ini ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Adapun orang yang mengatakan, ‘Kami diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah,’ maka dia beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang. Adapun orang yang mengatakan, ‘Kami diberi hujan karena bintang ini dan itu,’ maka dia kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang.» (Shahih al-Bukhari, 2: 23; Shahih Muslim, 1: 59).

[2] Hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya, dari Ali ‘alaihissalam, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda tentang firman Allah Ta'ala:

﴿وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ﴾ (الْوَاقِعَةِ: 82)، قَالَ: «شِرْكُكُمْ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا أَوْ كَذَا، بِنَجْمِ كَذَا وَكَذَا».

“Dan kalian menjadikan rezeki kalian (dari sesembahan mereka) dengan mendustakan (Allah)” (al-Waqi‘ah: 82)

Beliau ﷺ bersabda, «Kesyirikan kalian adalah dengan mengatakan, ‘Kami diberi hujan karena bintang ini atau itu, karena bintang tertentu.’»

(Musnad Ahmad bin Hanbal, 2/97 no. 677).

Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bazzar (720) melalui jalur ‘Ubaidullah bin Musa, dari Israil, dengan sanad yang sama.

Al-Haitsami menyebutkannya dalam Majma‘ az-Zawa’id, 6/85, dan berkata:

رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْبَزَّارُ، وَرِجَالُ أَحْمَدَ ثِقَاتٌ.

“Diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Bazzar. Para perawi sanad Ahmad adalah tsiqah.”

Syaikh Syu‘aib al-Arna’uth dan para peneliti Musnad Ahmad berkata:

إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ، رِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيحِ غَيْرُ حَارِثَةَ بْنِ مُضَرِّبٍ، وَهُوَ ثِقَةٌ.

“Sanadnya sahih. Para perawinya adalah para perawi kitab-kitab Shahih, kecuali Haritsah bin Mudharib, dan ia adalah seorang yang tsiqah.”

[3] Dan dari Zaid bin Khalid al-Juhani radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

صَلَّى لَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ صَلَاةَ الصُّبْحِ بِالْحُدَيْبِيَةِ عَلَى إِثْرِ سَمَاءٍ كَانَتْ مِنَ اللَّيْلَةِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ، فَقَالَ: «هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟» قَالُوا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي وَمُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ».

Rasulullah ﷺ mengimami kami shalat Subuh di Hudaibiyah setelah turun hujan pada malam harinya. Setelah selesai shalat, beliau menghadap kepada orang-orang lalu bersabda, «Tahukah kalian apa yang difirmankan oleh Rabb kalian?» Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui."

Beliau ﷺ bersabda: «Pada pagi hari ini, di antara hamba-hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Adapun orang yang mengatakan, ‘Kami diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah,’ maka dia beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang. Adapun orang yang mengatakan, ‘Kami diberi hujan karena bintang ini dan itu,’ maka dia kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang.»

Diriwayatkan oleh al-Bukhari (846) dan Muslim (71), dengan sedikit perbedaan redaksi.

[4] Hadits yang juga diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Sa‘id. Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَوْ أَمْسَكَ اللهُ الْقَطْرَ عَنِ النَّاسِ سَبْعَ سِنِينَ، ثُمَّ أَرْسَلَهُ لَأَصْبَحَتْ طَائِفَةٌ بِهِ كَافِرِينَ يَقُولُونَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ الْمِجْدَحِ!!»

«Seandainya Allah menahan hujan dari manusia selama tujuh tahun, kemudian menurunkannya, niscaya sekelompok manusia akan menjadi kafir karenanya. Mereka mengatakan, ‘Kami diberi hujan karena bintang al-Mijdah.’»

[Diriwayatkan oleh an-Nasa’i (1526) dan Ahmad (11042), dengan sedikit perbedaan redaksi. Di shahihkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya no. 6130]

Syaikh Syu‘aib al-Arna’uth dan para peneliti Musnad Ahmad, 17/95, berkata:

حَدِيثٌ حَسَنٌ، وَلِهَذَا سَنَدٌ رِجَالُهُ ثِقَاتٌ رِجَالُ الشَّيْخَيْنِ غَيْرُ عَتَّابِ بْنِ حُنَيْنٍ، فَقَدْ رَوَى عَنْهُ اثْنَانِ، وَذَكَرَهُ ابْنُ حِبَّانَ فِي «الثِّقَاتِ»، وَقَالَ الْحَافِظُ فِي «التَّقْرِيبِ»: مَقْبُولٌ. وَقَالَ سُفْيَانُ: لَا أَدْرِي مَنْ عَتَّابٌ، كَمَا ذَكَرَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ.

“Hadits ini hasan. Sanad ini para perawinya tsiqah dan merupakan para perawi al-Bukhari dan Muslim, kecuali ‘Attab bin Hunain. Ada dua orang yang meriwayatkan darinya. Ibnu Hibban menyebutkannya dalam kitab Ats-Tsiqat. Al-Hafizh berkata dalam At-Taqrib, ‘Ia maqbul.’ Sufyan berkata, ‘Saya tidak mengetahui siapa ‘Attab,’ sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ahmad.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam “Tafsir”-nya, 2/274; al-Humaidi (751); an-Nasa’i dalam “al-Mujtaba”, 3/165; ath-Thahawi dalam “Syarh Musykil al-Atsar” (5218); Ibnu Hibban (6130); dan al-Mizzi dalam “Tahdzib al-Kamal”, 19/290, melalui jalur Sufyan bin ‘Uyainah, dengan sanad yang sama.

[5] Hadits Mu‘awiyah al-Laitsi, ia berkata:

«يَكُونُ النَّاسُ مُجْدِبِينَ فَيُنْزِلُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَيْهِمْ رِزْقًا مِنْ رِزْقِهِ فَيُصْبِحُونَ مُشْرِكِينَ». فَقِيلَ لَهُ: وَكَيْفَ ذَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟! قَالَ: «يَقُولُونَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا».

Rasulullah ﷺ bersabda, «Manusia mengalami kekeringan, kemudian Allah Tabaraka wa Ta‘ala menurunkan kepada mereka rezeki dari rezeki-Nya, lalu pada pagi harinya mereka menjadi orang-orang musyrik.» Beliau ditanya, "Bagaimana hal itu bisa terjadi, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, «Mereka mengatakan, ‘Kami diberi hujan karena bintang ini dan itu.’»

[Diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad, 24/297 (15537), dan Musnad ath-Thayalisi, 178 (1262). Melalui jalur ‘Imran al-Qaththan, hadits ini juga diriwayatkan dalam al-Mu‘jam al-Kabir, 19/430 (1043). Para peneliti Musnad Ahmad menilai sanadnya hasan.]

[6] Hadits Abu Waqid al-Laitsi:

أَنَّهُمْ خَرَجُوا عَنْ مَكَّةَ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ إِلَى حُنَيْنٍ، قَالَ: وَكَانَ لِلْكُفَّارِ سِدْرَةٌ يَعْكُفُونَ عِنْدَهَا وَيُعَلِّقُونَ بِهَا أَسْلِحَتَهُمْ يُقَالُ لَهَا: ذَاتُ أَنْوَاطٍ، قَالَ: فَمَرَرْنَا بِسِدْرَةٍ خَضْرَاءَ عَظِيمَةٍ، قَالَ: فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ! اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ؟! فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «قُلْتُمْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى: اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ». قَالَ: «إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ، إِنَّهَا السُّنَنُ، لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ سُنَّةً سُنَّةً».

“Bahwa mereka keluar dari Makkah bersama Rasulullah ﷺ menuju Hunain.

Ia (Abu Waqid al-Laitsi) berkata:

Kaum kafir memiliki sebuah pohon bidara yang mereka biasa menetap di sekitarnya dan menggantungkan senjata mereka padanya. Pohon itu disebut Dzat Anwath.

Ia (Abu Waqid al-Laitsi) berkata: Kami melewati sebuah pohon bidara yang hijau dan besar. Kami pun berkata, "Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzat Anwath!"

Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

«Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian telah mengatakan seperti yang dikatakan oleh kaum Musa, ‘Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan.’»

Beliau ﷺ bersabda:

«Sesungguhnya kalian adalah kaum yang tidak mengetahui. Sungguh, ini adalah jalan-jalan yang akan ditempuh. Kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, setapak demi setapak.»

Diriwayatkan oleh al-Bukhari secara mu‘allaq dalam “At-Tarikh al-Kabir”, 4/163; Ahmad dalam al-Musnad, 36/225, no. 21897; Muhammad bin Nashr al-Marwazi dalam “As-Sunnah” (40); dan ath-Thabari dalam “Tafsir”-nya, 9/45–46, melalui jalur Abu Shalih ‘Abdullah bin Shalih, dari al-Laits bin Sa‘d, dengan sanad ini. Riwayat al-Bukhari lebih ringkas dengan lafaz: “Sungguh, kalian akan mengikuti jalan-jalan orang-orang sebelum kalian.”

Para pentahqiq Musnad Ahmad, 36/225, berkata:

إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ. حَجَّاجٌ: هُوَ ابْنُ مُحَمَّدٍ الْمِصِّيصِيُّ الْأَعْوَرُ، وَابْنُ شِهَابٍ: اسْمُهُ مُحَمَّدُ بْنُ مُسْلِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الزُّهْرِيُّ.

“Sanadnya sahih sesuai dengan syarat al-Bukhari dan Muslim. Hajjaj adalah Ibnu Muhammad al-Mishshishi al-A‘war, sedangkan Ibnu Syihab adalah Muhammad bin Muslim bin ‘Ubaidillah bin ‘Abdullah az-Zuhri.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq sebagaimana terdapat dalam “Sirah Ibnu Hisyam”, 4/84–85; ath-Thayalisi (1346); al-Humaidi (848); Ibnu Abi Syaibah, 15/101; at-Tirmidzi (2180); Ibnu Abi ‘Ashim dalam “As-Sunnah” (76); Muhammad bin Nashr al-Marwazi dalam “As-Sunnah” (37); Abu Ya‘la (1441); ath-Thabari, 9/45; Ibnu Qani‘ dalam “Mu‘jam ash-Shahabah”, 1/172; Ibnu Hibban (6702); ath-Thabrani dalam “Al-Mu‘jam al-Kabir” (3292), (3293), dan (3294); al-Baihaqi dalam “Dala’il an-Nubuwwah”, 5/124–125 dan 125; serta al-Wahidi dalam “Al-Wasith”, 2/403–404, melalui beberapa jalur dari az-Zuhri, dengan sanad tersebut.

At-Tirmidzi berkata: “Hasan sahih.”

Lantas, apakah pohon Dzat Anwath yang dahulu diagungkan oleh kaum jahiliah itu merupakan sesuatu yang mereka jadikan perantara untuk meminta syafaat kepada Allah, ataukah mereka meyakini bahwa pohon tersebut dapat menolong mereka dan menjadikannya sebagai sesembahan bersama Allah?!

Syeikh Muhammad Sholeh al-Munajjid dalam IslamQa 1/867 no. 50147 berkata:

وَقَوْلُهُ: يُقَالُ لَهَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ، الْأَنْوَاطُ: جَمْعُ نَوْطٍ، وَهُوَ كُلُّ شَيْءٍ يُعَلَّقُ، وَذَاتُ الْأَنْوَاطِ هِيَ الشَّجَرَةُ الَّتِي يُعَلَّقُ عَلَيْهَا هَذِهِ الْمَعَالِيقُ. قَالَ ابْنُ الْأَثِيرِ فِي النِّهَايَةِ: هِيَ اسْمُ شَجَرَةٍ بِعَيْنِهَا كَانَتْ لِلْمُشْرِكِينَ، يَنُوطُونَ بِهَا سِلَاحَهُمْ، أَيْ يُعَلِّقُونَهُ بِهَا، وَيَعْكُفُونَ حَوْلَهَا، فَسَأَلُوهُ أَنْ يَجْعَلَ لَهُمْ مِثْلَهَا، فَنَهَاهُمْ عَنْ ذَلِكَ.

Perkataan nya, “Disebut Dzat Anwath”: Al-anwath adalah bentuk jamak dari nauth, yaitu segala sesuatu yang digantungkan. Adapun Dzat Anwath adalah pohon yang digunakan untuk menggantungkan benda-benda tersebut.

Ibnu al-Atsir berkata dalam An-Nihayah: “Dzat Anwath adalah nama sebuah pohon tertentu yang dimiliki oleh kaum musyrik. Mereka menggantungkan senjata perang mereka padanya, yakni mereka menempatkannya dengan cara menggantungkannya pada pohon tersebut, dan mereka beri’tikaf di sekelilingnya.

Kemudian mereka meminta kepada beliau ﷺ agar dibuatkan bagi mereka pohon yang serupa dengannya, lalu beliau melarang mereka dari perbuatan tersebut.”

----

Dalil Kelima:

Adapun para ahli tafsir, mereka telah menjelaskan dalam penafsiran ayat-ayat yang menyebutkan kaum musyrik pada masa jahiliah, permohonan pertolongan mereka kepada Allah dan doa mereka ketika hampir tenggelam di laut serta ketika menghadapi berbagai bahaya di dalamnya, bahwa dalam kondisi tersebut mereka hanya berserah diri kepada Allah Ta'ala dan meninggalkan sesembahan-sesembahan mereka:

[*] Al-Imam Ath-Thabari berkata dalam tafsirnya:

«الْقَوْلُ فِي تَأْوِيلِ قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا﴾ (الْإِسْرَاءِ: 67)، يَقُولُ تَعَالَى ذِكْرُهُ: وَإِذَا نَالَتْكُمُ الشِّدَّةُ وَالْجَهْدُ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ، يَقُولُ: فَقَدْتُمْ مَنْ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللهِ مِنَ الْأَنْدَادِ وَالْآلِهَةِ، وَجَارَ عَنْ طَرِيقِكُمْ فَلَمْ يُغِثْكُمْ، وَلَمْ تَجِدُوا غَيْرَ اللهِ مُغِيثًا يُغِيثُكُمْ، فَلَمَّا دَعَوْتُمُوهُ وَأَغَاثَكُمْ، وَأَجَابَ دُعَاءَكُمْ وَنَجَّاكُمْ مِنْ هَوْلِ مَا كُنْتُمْ فِيهِ فِي الْبَحْرِ، أَعْرَضْتُمْ عَمَّا دَعَاكُمْ إِلَيْهِ رَبُّكُمْ مِنْ خَلْعِ الْأَنْدَادِ، وَالْبَرَاءَةِ مِنَ الْآلِهَةِ، وَإِفْرَادِهِ بِالْأُلُوهِيَّةِ كُفْرًا مِنْكُمْ بِنِعْمَتِهِ».

“Penjelasan/ ta’wil mengenai makna firman-Nya Ta'ala: "Apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Namun, ketika Dia telah menyelamatkan kamu sampai ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia memang sangat ingkar." (Al-Isra’: 67).

Allah Ta'ala berfirman: Apabila kalian ditimpa kesulitan dan kesengsaraan di laut, maka hilanglah siapa yang kalian seru.

Maksudnya, kalian kehilangan sesembahan-sesembahan dan tandingan-tandingan yang kalian seru selain Allah. Mereka menyimpang dari jalan kalian sehingga tidak menolong kalian, dan kalian tidak menemukan selain Allah sebagai penolong yang dapat menolong kalian.

Ketika kalian berdoa kepada-Nya, lalu Dia menolong kalian, mengabulkan doa kalian, dan menyelamatkan kalian dari kedahsyatan keadaan yang kalian alami di laut, kalian berpaling dari apa yang diperintahkan oleh Rabb kalian kepada kalian, yaitu meninggalkan segala tandingan, berlepas diri dari berbagai sesembahan, dan mengesakan-Nya dalam uluhiyah, sebagai bentuk pengingkaran kalian terhadap nikmat-Nya.” (Lihat: Jami‘ al-Bayan, 15: 154).

[*] Muhammad bin Sulaiman al-Asyqar berkata:

«قَالَ: ﴿وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ﴾، يَعْنِي خَوْفَ الْغَرَقِ، ﴿ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ﴾ مِنَ الْآلِهَةِ وَذَهَبَ عَنْ خَوَاطِرِكُمْ وَلَمْ يُوجَدْ لِإِغَاثَتِكُمْ مَا كُنْتُمْ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مِنْ صَنَمٍ، أَوْ جِنٍّ، أَوْ مَلَكٍ، أَوْ بَشَرٍ، ﴿إِلَّا إِيَّاهُ﴾ وَحْدَهُ فَإِنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ يَعْلَمُ بِالْفِطْرَةِ عِلْمًا لَا يَقْدِرُ عَلَى مُدَافَعَتِهِ أَنَّ الْأَصْنَامَ وَنَحْوَهَا لَا فِعْلَ لَهَا وَلَا تَنْفَعُهُ فِي تِلْكَ الْحَالِ، ﴿فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ﴾ عَنِ الْإِخْلَاصِ لِلَّهِ وَتَوْحِيدِهِ وَرَجَعْتُمْ إِلَى دُعَاءِ أَصْنَامِكُمْ وَالِاسْتِغَاثَةِ بِهَا».

“Firman-Nya: "Apabila kamu ditimpa bahaya di lautan", maksudnya adalah takut tenggelam. "Niscaya hilanglah siapa yang kamu seru", yaitu sesembahan-sesembahan yang kalian seru; semuanya hilang dari benak kalian dan tidak ditemukan sesuatu yang dapat menolong kalian dari apa yang dahulu kalian seru selain Allah, baik berupa berhala, jin, malaikat, maupun manusia.

"Kecuali Dia", semata-mata. Setiap orang dari mereka secara fitrah mengetahui dengan pengetahuan yang tidak dapat ia tolak bahwa berhala-berhala dan yang semisalnya tidak memiliki perbuatan apa pun dan tidak dapat memberikan manfaat kepadanya dalam keadaan tersebut.

"Namun, ketika Dia telah menyelamatkan kamu sampai ke daratan, kamu berpaling", yaitu dari mengikhlaskan ibadah kepada Allah dan mentauhidkan-Nya, lalu kalian kembali berdoa kepada berhala-berhala kalian dan meminta pertolongan kepada mereka.” (Lihat: Zubdat at-Tafsir: 373).

Ia tidak mengatakan bahwa mereka meminta syafaat kepada berhala-berhala tersebut!

---

LARANGAN MINTA BANTUAN KEPADA JIN

Allah SWT berfirman:

﴿ وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُم مِّنَ الْإِنسِ ۖ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُم مِّنَ الْإِنسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا ۚ قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ﴾

Dan (ingatlah) hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman): "Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia", lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami". Allah berfirman: "Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)". Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. [QS. Al-An’am: 128]

Abu Manshur al-Maturidi (wafat 333 H) menjelaskan dalam Tafsirnya (Ta’wiilaat Ahli as-Sunnah 4/257) dengan penjelasan sbb:

﴿يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ﴾.

هُوَ عَلَى الْإِضْمَارِ؛ كَأَنَّهُ قَالَ: يَوْمَ نَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا: أَيَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ، ثُمَّ نَقُولُ لِلْجِنِّ: ﴿يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْإِنْسِ﴾، كَقَوْلِهِ: ﴿مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللهِ زُلْفَى﴾ أَيْ: يَقُولُونَ: مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللهِ زُلْفَى؛ فَكَذَلِكَ هَذَا هُوَ عَلَى الْإِضْمَارِ.

وَقَوْلُهُ - عَزَّ وَجَلَّ -: ﴿قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْإِنْسِ﴾.

قَالَ أَهْلُ التَّأْوِيلِ فِي قَوْلِهِ: ﴿قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْإِنْسِ﴾ أَيْ: أَضْلَلْتُمْ كَثِيرًا مِنَ الْإِنْسِ، وَهُمْ قَدِ اسْتَكْثَرُوا مِنَ الْأَتْبَاعِ مِنَ الْإِنْسِ: فِي عِبَادَةِ غَيْرِ اللهِ، وَمُخَالَفَةِ أَمْرِ اللهِ وَتَوْحِيدِهِ، أَوْ: قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ عِبَادًا مِنَ الْإِنْسِ.

﴿وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الْإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ﴾.

اخْتُلِفَ فِيهِ: قَالَ بَعْضُهُمْ: تَعَاوَنَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ وَمُخَالَفَةِ أَمْرِهِ: هَؤُلَاءِ بِالدُّعَاءِ وَأُولَئِكَ بِالْإِجَابَةِ.

وَقَالَ قَائِلُونَ: رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ، أَيْ: انْتَفَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ بِأَنْوَاعِ الْمَنَافِعِ: مَا ذُكِرَ - فِي بَعْضِ الْقِصَّةِ - أَنَّ الرَّجُلَ مِنَ الْإِنْسِ إِذَا سَافَرَ فَأَدْرَكَهُ الْمَسَاءُ بِأَرْضِ الْقَفْرِ خَافَ؛ فَيَقُولُ: أَعُوذُ بِسَيِّدِ هَذَا الْوَادِي مِنْ سُفَهَاءِ قَوْمِهِ؛ فَيَأْمَنُ فِي ذَلِكَ بِالتَّعَوُّذِ إِلَى سَيِّدِهِمْ؛ فَذَلِكَ اسْتِمْتَاعُ الْإِنْسِ بِالْجِنِّ؛ فَذَلِكَ قَوْلُهُ: ﴿وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ﴾ الْآيَةَ.

وَأَمَّا اسْتِمْتَاعُ الْجِنِّ بِالْإِنْسِ فَهُوَ مَا يَزْدَادُ لَهُمْ الذِّكْرُ وَالشَّرَفُ فِي قَوْمِهِمْ، يَقُولُونَ: لَقَدْ سَوَّدَتْنَا الْإِنْسُ. وَيَحْتَمِلُ اسْتِمْتَاعُ الْجِنِّ بِالْإِنْسِ مَا ذُكِرَ - إِنْ ثَبَتَ - أَنَّهُ جَعَلَ طَعَامَهُمُ الْعِظَامَ الَّتِي يَسْتَعْمِلُهَا الْإِنْسَانُ، وَيَكُونُ ذَلِكَ غِذَاءَهُمْ، وَعَلَفَ دَوَابِّهِمْ أَرْوَاثَ دَوَابِّ الْإِنْسِ.

Firaman-Nya: "Wahai golongan jin."

Ungkapan ini menggunakan bentuk penghilangan kata yang dipahami dari konteks (idhmar), seakan-akan ia berkata:

"Pada hari ketika Kami mengumpulkan mereka semuanya, dikatakan: Wahai golongan jin dan manusia." Kemudian Kami berkata kepada jin: "Wahai golongan jin, sungguh kalian telah banyak menyesatkan manusia."

Hal ini seperti firman-Nya: "Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya." Maksudnya, mereka berkata: "Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya." Demikian pula ayat ini menggunakan bentuk penghilangan kata yang dipahami dari konteks.

Firman-Nya Azza wa Jalla: "Sungguh kalian telah banyak menyesatkan manusia."

Para ahli tafsir menjelaskan firman-Nya: "Sungguh kalian telah banyak menyesatkan manusia," maksudnya: "Kalian telah menyesatkan banyak manusia."

Mereka telah memperoleh banyak pengikut dari kalangan manusia dalam menyembah selain Allah, menyelisihi perintah Allah, dan menyelisihi tauhid-Nya.

Atau maknanya: "Kalian telah memperoleh banyak manusia sebagai hamba."

Firman-Nya: "Dan para pengikut mereka dari kalangan manusia berkata: ‘Wahai Rabb kami, sebagian kami telah mengambil manfaat dari sebagian yang lain.’"

Para ulama berbeda pendapat mengenai maknanya.

Sebagian mereka berkata: "Sebagian kami saling membantu dalam kemaksiatan kepada Allah dan menyelisihi perintah-Nya. Golongan ini (manusia) melakukannya dengan berdoa, sedangkan golongan itu (jin) dengan mengabulkan do’a tersebut."

Sebagian ulama lainnya berkata: "Wahai Rabb kami, sebagian kami telah mengambil manfaat dari sebagian yang lain," maksudnya: sebagian kami memperoleh manfaat dari sebagian yang lain dalam berbagai bentuk manfaat.

Disebutkan dalam sebagian kisah bahwa apabila seseorang dari kalangan manusia melakukan perjalanan, lalu malam tiba ketika ia berada di daerah tandus, ia merasa takut. Kemudian ia berkata: "Aku berlindung kepada pemimpin penguasa lembah ini dari orang-orang bodoh dari kaumnya."

Dengan berlindung kepada pemimpin mereka itu, ia merasa aman. Inilah bentuk pemanfaatan manusia terhadap jin. Itulah makna firman-Nya:

"Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari kalangan jin," dan seterusnya.

Adapun bentuk pemanfaatan jin terhadap manusia adalah bertambahnya penyebutan dan kemuliaan mereka di tengah kaumnya. Mereka berkata: "Sungguh, manusia telah menjadikan kami sebagai pemimpin."

Ada pula kemungkinan bahwa bentuk pemanfaatan jin terhadap manusia adalah sebagaimana yang disebutkan—jika riwayat tersebut benar—bahwa makanan mereka adalah tulang-tulang yang digunakan manusia, dan tulang-tulang tersebut menjadi makanan mereka, sedangkan kotoran hewan milik manusia menjadi makanan ternak mereka”. [Selesai]

 ===***===

AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG
MACAM-MACAM MANUSIA DALAM MENETAPKAN RUBUBIYAH ILAHIYAH

Ada dua golongan manusia yang menyembah Tuhan yang mereka yakini memiliki rububiyah:

Pertama: golongan yang mentauhidkan Allah dalam rububiyah.

Kedua: golongan yang menyekutukan Allah dalam rububiyah.

****

GOLONGAN PERTAMA:
ORANG-ORANG YANG MENTAUHIDKAN ALLAH DALAM RUBUBIYAH.

Golongan ini menyembah Allah dengan keyakinan penuh hanya Allah lah yang memiliki sifat rububiyah ketuhanan, rububiyah yang maha besar dan mutlak tanpa batas. Sebagaimana yang diyakini oleh ahli tauhid atau orang-orang yang mengesakan Allah Ta’ala.

CONTOH-CONTOHNYA:

Diantara mereka, contohnya adalah sbb:

Contoh ke [1]:

Sekelompok pengikut Nabi Isa ‘alaihis salam yang menolak penetapan doktrin TRINITAS dan  penetapan hari Natal 25 Desember,  yang ditetapkan oleh Kaisar Konstantinus dalam Konsili Nicea pada tahun 325 M.

Konsili tersebut di hadiri oleh 2.048 orang uskup. Orang-orang yang menetapkan ajaran tersebut berjumlah 318 orang uskup, sedangkan sekitar 1.700 uskup berbeda pendapat dengan mereka, meskipun para uskup tersebut sendiri tidak sepakat dalam satu aliran yang sama.

Kaisar Konstantinus berpihak kepada pendapat yang menuhankan Al-Masih meskipun mereka bukan kelompok mayoritas. Oleh karena itu Kaisar menyediakan sidang berikutnya, sidang khusus yang besar untuk 318 orang uskup tersebut.

Ini sebagaimana dijelaskan dengan panjang lebar oleh Muhammad Abu Zahrah dalam kitabnya “Muhadhorot an-Nashraniyyah” hal. 122 – 130.

Diantara perkataan Abu Zahrah adalah:

قَرَارَاتُهُ تُؤَيَّدُ بِرَهْبَةِ السُّلْطَانِ:

82- إِذَنْ قَرَّرَ الْمَجْمَعُ أُلُوهِيَّةَ الْمَسِيحِ، وَإِنَّهُ مِنْ جَوْهَرِ اللهِ، وَإِنَّهُ قَدِيمٌ بِقِدَمِهِ، وَإِنَّهُ لَا يَعْتَرِيهِ تَغْيِيرٌ وَلَا تَحَوُّلٌ، وَفُرِضَتْ تِلْكَ الْعَقِيدَةُ عَلَى الْمَسِيحِيِّينَ قَاطِبَةً مُؤَيَّدَةً سُلْطَانَ قُسْطَنْطِينِ، لَاعِنَةً كُلَّ مَنْ يَقُولُ غَيْرَ ذَلِكَ، وَالَّذِينَ فَرَضُوا هَذَا الْقَوْلَ 318 أُسْقُفًا، وَيُخَالِفُهُمْ فِي ذَلِكَ نَحْوُ سَبْعُمِائَةٍ وَأَلْفِ أُسْقُفٍ، وَإِنْ لَمْ يَكُونُوا مُتَّفِقِينَ فِيمَا بَيْنَهُمْ عَلَى نِحْلَةٍ وَاحِدَةٍ

Keputusan konsili didukung oleh tekanan kekuasaan:

“82. Dengan demikian, konsili tersebut menetapkan ketuhanan Al-Masih, bahwa ia berasal dari hakikat Allah, bahwa ia qadim sebagaimana keqadiman-Nya, serta bahwa ia tidak mengalami perubahan ataupun peralihan. Akidah tersebut kemudian diberlakukan kepada seluruh kaum Nasrani secara paksa dengan dukungan kekuasaan Konstantinus, disertai celaan dan laknat terhadap setiap orang yang berpendapat berbeda”. [Kutipan Selesai]

Mereka para uskup yang menolak keputusan tersebut diburu dan dibantai, maka sebagaian dari mereka ada yang melarikan diri dan bersembunyi, sambil menunggu diutusnya nabi akhir zaman, yaitu Nabi Muhammad ﷺ.

Kemungkinan kelompok ini lah yang diisyaratkan dalam firman Allah SWT sbb:

﴿ثُمَّ قَفَّيْنَا عَلَى آثَارِهِمْ بِرُسُلِنَا وَقَفَّيْنَا بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَآتَيْنَاهُ الْإِنْجِيلَ وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا فَآتَيْنَا الَّذِينَ آمَنُوا مِنْهُمْ أَجْرَهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ (27)﴾

"Dan Kami susulkan jejak mereka dengan rasul-rasul Kami.

Dan Kami susulkan pula Isa putra Maryam, serta Kami berikan kepadanya Injil. Dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa kasih sayang dan rahmat, serta kerahiban yang mereka ada-adakan. Kami tidak mewajibkannya kepada mereka, melainkan mereka melakukannya demi untuk mencari keridha’an Allah.

Akan tetapi, mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya.

Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahala mereka, dan banyak di antara mereka adalah orang-orang fasik." [QS. Al-Hadid: 27]

Ibnu Jarir ath-Thabari berkata dalam tafsirnya, 23/202:

﴿وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ﴾ يَعْنِي: الَّذِينَ اتَّبَعُوا عِيسَى عَلَى مِنْهَاجِهِ وَشَرِيعَتِهِ، ﴿رَأْفَةً﴾ وَهُوَ أَشَدُّ الرَّحْمَةِ، ﴿وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا﴾ يَقُولُ: أَحْدَثُوهَا، ﴿مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ﴾ يَقُولُ: مَا افْتَرَضْنَا تِلْكَ الرَّهْبَانِيَّةَ عَلَيْهِمْ، ﴿إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ﴾ يَقُولُ: لَكِنَّهُمْ ابْتَدَعُوهَا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ، ﴿فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا﴾.

Allah Ta'ala berfirman: "Dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya", yakni orang-orang yang mengikuti Isa sesuai dengan jalan dan syariatnya.

"Rasa kasih sayang", yaitu kasih sayang yang paling kuat.

"Dan rahmat serta kerahiban yang mereka ada-adakan." Maksudnya, mereka mengada-adakannya.

"Kami tidak mewajibkannya kepada mereka", maksudnya, Kami tidak mewajibkan kerahiban tersebut kepada mereka.

"Melainkan mereka melakukannya demi untuk mencari keridha’an Allah." Maksudnya, mereka mengada-adakan kerahiban tersebut dengan tujuan mencari keridaan Allah.

"Akan tetapi, mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya."

Abu al-Baqa al-‘Ukbari berkata dalam At-Tibyan fi I‘rab al-Qur’an, 2/1211:

وَالْمَعْنَى: فَرَضَ عَلَيْهِمْ لُزُومَ رَهْبَانِيَّةٍ ابْتَدَعُوهَا؛ وَلِهَذَا قَالَ تَعَالَى: ﴿مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ﴾.

“Maknanya adalah: Allah mewajibkan kepada mereka untuk menjalankan kehidupan kerahiban yang mereka ada-adakan. Oleh karena itu, Allah Ta'ala berfirman: ‘Kami tidak mewajibkannya kepada mereka, kecuali mereka lakukan demi untuk mencari keridha’an Allah.’”

Al-Qurthubi berkata dalam tafsirnya, 17/263:

وَذَلِكَ لِأَنَّهُمْ حَمَلُوا أَنْفُسَهُمْ عَلَى الْمَشَقَّاتِ فِي الِامْتِنَاعِ مِنَ الْمَطْعَمِ وَالْمَشْرَبِ وَالنِّكَاحِ وَالتَّعَلُّقِ بِالْكُهُوفِ وَالصَّوَامِعِ، وَذَلِكَ أَنَّ مُلُوكَهُمْ غَيَّرُوا وَبَدَّلُوا وَبَقِيَ نَفَرٌ قَلِيلٌ فَتَرَهَّبُوا وَتَبَتَّلُوا.

قَالَ الضَّحَّاكُ: إِنَّ مُلُوكًا بَعْدَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ ارْتَكَبُوا الْمَحَارِمَ ثَلَاثَمِائَةِ سَنَةٍ، فَأَنْكَرَهَا عَلَيْهِمْ مَنْ كَانَ بَقِيَ عَلَى مِنْهَاجِ عِيسَى فَقَتَلُوهُمْ، فَقَالَ قَوْمٌ بَقُوا بَعْدَهُمْ: نَحْنُ إِذَا نَهَيْنَاهُمْ قَتَلُونَا، فَلَيْسَ يَسَعُنَا الْمَقَامُ بَيْنَهُمْ، فَاعْتَزَلُوا النَّاسَ وَاتَّخَذُوا الصَّوَامِعَ.

وَقَالَ قَتَادَةُ: الرَّهْبَانِيَّةُ الَّتِي ابْتَدَعُوهَا رَفْضُ النِّسَاءِ وَاتِّخَاذُ الصَّوَامِعِ.

“Hal itu karena mereka membebani diri mereka dengan berbagai kesulitan, seperti menahan diri dari makanan, minuman, dan pernikahan, serta mengasingkan diri di gua-gua dan biara-biara. Hal tersebut terjadi karena para raja mereka telah mengubah dan mengganti ajaran agama, sehingga hanya tersisa sedikit orang yang kemudian menjalani kehidupan kerahiban dan mengasingkan diri untuk beribadah.

Adh-Dhahhak berkata: ‘Sesungguhnya para raja setelah Isa ‘alaihis salam melakukan berbagai perkara yang diharamkan selama tiga ratus tahun. Orang-orang yang masih mengikuti ajaran Isa mengingkari perbuatan mereka, lalu mereka dibunuh. Setelah itu, sekelompok orang yang masih bertahan berkata, “Jika kami melarang mereka, mereka akan membunuh kami. Karena itu, kami tidak mungkin tetap tinggal di tengah-tengah mereka.” Maka mereka mengasingkan diri dari manusia dan mendirikan biara-biara.’

Qatadah berkata: ‘Kerahiban yang mereka ada-adakan adalah meninggalkan wanita dan mendirikan biara-biara.’”

Contoh ke [2]:

Ahli Tauhid rububiyah dalam tragedi Ashabul Ukhdud di Yaman menjelang kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Dimana orang-orang beriman dan ahli tauhid dibakar hidup-hidup dalam parit.

Dan tragedi tersebut terkait pula dengan kejadian pasukan gajah yang dipimpin Abrahah yang hendak menghancurkan Ka’bah al-Musyarrafah.

Allah SWT berfirman:

﴿قُتِلَ أَصْحابُ الْأُخْدُودِ (4) النَّارِ ذاتِ الْوَقُودِ (5) إِذْ هُمْ عَلَيْها قُعُودٌ (6) وَهُمْ عَلى مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ (7) وَما نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَاّ أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (8) الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (9)﴾

“Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedangkan mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu”. [QS. Al-Buruuj: 4-9]

Ibnu Katsir dalam Tafsirnya ketika menafsiri surat al-Fiil, berkata:

فِي قِصَّةِ أَصْحَابِ الْأُخْدُودِ أَنَّ ذَا نُوَاسٍ، وَكَانَ آخِرَ مُلُوكِ حِمْيَرَ، وَكَانَ مُشْرِكًا، وَهُوَ الَّذِي قَتَلَ أَصْحَابَ الْأُخْدُودِ، وَكَانُوا نَصَارَى، وَكَانُوا قَرِيبًا مِنْ عِشْرِينَ أَلْفًا، فَلَمْ يُفْلِتْ مِنْهُمْ إِلَّا دَوْسُ ذُو ثَعْلَبَانِ، فَذَهَبَ فَاسْتَغَاثَ بِقَيْصَرَ مَلِكِ الشَّامِ، وَكَانَ نَصْرَانِيًّا، فَكَتَبَ لَهُ إِلَى النَّجَاشِيِّ مَلِكِ الْحَبَشَةِ لِكَوْنِهِ أَقْرَبَ إِلَيْهِمْ، فَبَعَثَ مَعَهُ أَمِيرَيْنِ: أَرِيَاطَ وَأَبْرَهَةَ بْنَ الصَّبَاحِ أَبَا يَكْسُومَ، فِي جَيْشٍ كَثِيفٍ، فَدَخَلُوا الْيَمَنَ، فَجَاسُوا خِلَالَ الدِّيَارِ، وَاسْتَلَبُوا الْمُلْكَ مِنْ حِمْيَرَ، وَهَلَكَ ذُو نُوَاسٍ غَرِيقًا فِي الْبَحْرِ.

“Dalam kisah Ashabul Ukhdud disebutkan bahwa Dzu Nuwas, yang merupakan raja terakhir Himyar, adalah seorang musyrik. Dialah yang membunuh Ashabul Ukhdud. Mereka adalah orang-orang Nasrani dan jumlah mereka hampir mencapai 20.000 orang. Tidak ada seorang pun yang selamat dari mereka kecuali Daus Dzu Tsa‘labaan.

Kemudian ia pergi meminta pertolongan kepada Kaisar, raja Syam, yang beragama Nasrani. Kaisar lalu menulis surat kepada Najasyi, raja Habasyah, karena letaknya lebih dekat dengan mereka. Najasyi kemudian mengutus dua panglima, yaitu Ariyath dan Abrahah bin ash-Shabah Abu Yaksum, bersama pasukan yang besar.

Mereka memasuki Yaman, menjelajahi berbagai penjuru negeri, lalu merebut kekuasaan dari Himyar. Adapun Dzu Nuwas akhirnya tewas tenggelam di laut”.

Dan Ibnu Katsir, dalam Tafsirnya ketika menafsiri surat al-Buruj ayat 4 -9 tentang ashabul ukhdud, menjelaskan dengan penejelasan yang sangat panjang. Singkatnya adalah sbb:

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Suhaib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ pernah menceritakan kisah ashabul ukhdud. Hadits ini sangat panjang. Di antaranya, Rasulullah ﷺ bersabda:

فَكَانَ الْغُلَامُ يُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَسَائِرَ الْأَدْوَاءِ وَيَشْفِيهِمْ، وَكَانَ لِلْمَلِكِ جَلِيسٌ فَعَمِيَ، فَسَمِعَ بِهِ، فَأَتَاهُ بِهَدَايَا كَثِيرَةٍ، فَقَالَ: اشْفِنِي، وَلَكَ مَا هَاهُنَا أَجْمَعُ، فَقَالَ: مَا أَنَا أَشْفِي أَحَدًا، إِنَّمَا يَشْفِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنْ آمَنْتَ بِهِ دَعَوْتُ اللَّهَ فَشَفَاكَ، فَآمَنَ، فَدَعَا اللَّهَ فَشَفَاهُ.

ثُمَّ أَتَى الْمَلِكَ فَجَلَسَ مِنْهُ نَحْوَ مَا كَانَ يَجْلِسُ، فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ: يَا فُلَانُ، مَنْ رَدَّ عَلَيْكَ بَصَرَكَ؟

فَقَالَ: رَبِّي، فَقَالَ: أَنَا؟ قَالَ: لَا، رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ، قَالَ: وَلَكَ رَبٌّ غَيْرِي؟ قَالَ: نَعَمْ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ.

Tersebutlah bahwa pemuda itu dapat menyembuhkan penyakit buta, penyakit supak, dan penyakit-penyakit lainnya yang sulit disembuhkan. Dan tersebutlah bahwa si raja mempunyai teman sekedudukan yang terkena penyakit kebutaan. Ketika teman raja itu mendengar perihal si pemuda yang dapat menyembuhkan segala penyakit. maka ia datang kepadanya dengan membawa banyak hadiah seraya berkata, "Sembuhkanlah aku dari penyakitku ini. maka aku akan memberimu segala sesuatu yang ada di sini." Si pemuda menjawab, "Aku bukanlah orang yang dapat menyembuhkan melainkan yang menyembuhkan hanyalah Allah Swt. Maka jika engkau mau beriman kepada-Nya. aku akan mendoakanmu kepada-Nya, dan Dia akan menyembuhkanmu."

Teman raja itu mau beriman, maka si pemuda berdoa kepada Allah, kemudian dengan serta merta teman raja itu sembuh saat itu juga. Lalu teman raja itu datang lagi kepada raja dan duduk bersamanya sebagaimana biasanya.

Si raja merasa kaget dan bertanya, "Hai Fulan, siapakah yang mengembalikan pandangan matamu menjadi seperti sedia kala?"

Teman raja menjawab, "Rabb-ku (Tuhanku)".

Si raja bertanya, "Apakah itu aku?"

Teman raja menjawab, "Bukan, Rabb-ku dan Rabb-mu adalah Allah."

Raja bertanya, "Apakah engkau mempunyai Rabb lain selain aku?"

Teman raja menjawab, "Iya, Rabb-ku dan Rabb-mu adalah Allah."

Akhir kisah:

«فَقَالَ النَّاسُ: آمَنَّا بِرَبِّ الْغُلَامِ. فَقِيلَ لِلْمَلِكِ: أَرَأَيْتَ مَا كُنْتَ تَحْذَرُ؟ فَقَدَ وَاللَّهِ نَزَلَ بِكَ قَدْ آمَنَ النَّاسُ كُلُّهُمْ، فَأَمَرَ بِأَفْوَاهِ السِّكَكِ، فَخُدَّتْ فِيهَا الْأَخَادِيدُ وَأُضْرِمَتْ فِيهَا النِّيرَانُ، وَقَالَ: مَنْ رَجَعَ عَنْ دِينِهِ فَدَعَوْهُ وَإِلَّا فَأَقْحِمُوهُ فِيهَا، قَالَ فَكَانُوا يَتَعَادَوْنَ فِيهَا وَيَتَدَافَعُونَ فَجَاءَتِ امْرَأَةٌ بِابْنٍ لَهَا تُرْضِعُهُ، فَكَأَنَّهَا تَقَاعَسَتْ أَنْ تَقَعَ فِي النَّارِ فَقَالَ الصَّبِيُّ: اصْبِرِي يَا أُمَّاهُ فَإِنَّكِ عَلَى الْحَقِّ» 

Maka semua orang yang hadir berkata, "Kami beriman kepada Allah, Rabb si pemuda ini."

Dan dikatakan kepada raja.”Sekarang engkau baru menyaksikan apa yang engkau sangat mengkhawatirkannya. Sesungguhnya, demi Allah, kamu telah dikalahkan karena semua orang telah beriman."

Raja sangat berang, lalu ia memerintahkan agar di tengah jalan dibuat galian parit yang cukup dalam dan dinyalakanlah api di dalam parit itu.

Lalu raja berkata, "Barang siapa yang mau meninggalkan agamanya, biarkanlah dia. Dan jika tidak ada, maka masukkanlah mereka semuanya ke dalam parit itu."

Tersebutlah bahwa mereka berlari-lari menuju ke parit itu dan saling berdesakan untuk paling dahulu masuk ke dalamnya.

Lalu datanglah seorang ibu yang membawa bayi laki-laki yang masih disusuinya, maka seakan-akan si ibu enggan untuk menjatuhkan dirinya ke dalam parit yang penuh dengan api itu. Maka bayi yang digendongnya itu berkata:

”Hai Ibu, bersabarlah karena sesungguhnya engkau berada di jalan yang benar."

Lalu Ibnu Katsir berkata:

«وَهَكَذَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي آخِرِ الصَّحِيحِ عَنْ هُدْبَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ بِهِ نَحْوَهُ»

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Muslim hadits no. 73 di akhir kitab sahihnya, dari Hudbah ibnu Khalid, dari Hammad ibnu Salamah dengan sanad dan lafaz yang semisal.

Contoh ke [3]:

Delegasi para pendeta dan para rahib nashrani Habasyah yang datang menghadap ke Rasulullah ﷺ di Madinah :

Allah SWT berfirman:

﴿لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا ۖ وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُم مَّوَدَّةً لِّلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ﴾

"Sungguh, engkau pasti akan mendapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.

Dan sungguh, engkau akan mendapati orang-orang yang paling dekat rasa kasih sayangnya kepada orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang Nasrani.'

Hal itu karena di antara mereka terdapat para pendeta dan para rahib, dan karena mereka tidak menyombongkan diri." [Al-Ma'idah: 82]

Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam Tafsirnya 4/149 berkata:

قَالَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ وَالسُّدِّيُّ وَغَيْرُهُمَا: نَزَلَتْ فِي وَفْدٍ بَعَثَهُمُ النَّجَاشِيُّ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ لِيَسْمَعُوا كَلَامَهُ وَيَرَوْا صِفَاتِهِ، فَلَمَّا رَأَوْهُ وَقَرَأَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنَ أَسْلَمُوا وَبَكَوْا وَخَشَعُوا، ثُمَّ رَجَعُوا إِلَى النَّجَاشِيِّ فَأَخْبَرُوهُ.

“Sa'id bin Jubair dan As-Suddi serta ulama lainnya berkata: Ayat tersebut turun berkenaan dengan rombongan yang diutus oleh Najasyi kepada Nabi ﷺ untuk mendengarkan ucapan beliau dan mengetahui sifat-sifat beliau. Ketika mereka bertemu dengan beliau dan beliau membacakan Al-Qur'an kepada mereka, mereka pun masuk Islam, menangis, dan tunduk khusyuk. Kemudian mereka kembali kepada Najasyi dan memberitahukan kepadanya tentang hal tersebut”.

Dan Ibnu Katsir juga berkata 3/151 :

فَقَوْلُهُ ذلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْباناً وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ تَضَمَّنَ وَصْفَهُمْ بِأَنَّ فِيهِمُ الْعِلْمَ وَالْعِبَادَةَ وَالتَّوَاضُعَ، ثُمَّ وَصَفَهُمْ بِالِانْقِيَادِ لِلْحَقِّ وَاتِّبَاعِهِ وَالْإِنْصَافِ، فَقَالَ وَإِذا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرى أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ أَيْ مِمَّا عِنْدَهُمْ مِنَ الْبِشَارَةِ بِبَعْثَةِ مُحَمَّدٍ ﷺ يَقُولُونَ رَبَّنا آمَنَّا فَاكْتُبْنا مَعَ الشَّاهِدِينَ أَيْ مَعَ مَنْ يَشْهَدُ بِصِحَّةِ هَذَا وَيُؤْمِنُ بِهِ

Firman-Nya, "Hal itu karena di antara mereka terdapat para pendeta dan para rahib, dan karena mereka tidak menyombongkan diri," mengandung penjelasan bahwa di antara mereka terdapat ilmu, ibadah, dan sikap tawadhu.

Kemudian Allah menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang tunduk kepada kebenaran, mengikutinya, dan bersikap adil.

Allah berfirman, "Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul, engkau akan melihat mata mereka bercucuran air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui," yakni disebabkan berita gembira yang telah mereka ketahui tentang diutusnya Muhammad ﷺ.

Mereka berkata, "Wahai Rabb kami, kami telah beriman. Maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi," yakni bersama orang-orang yang bersaksi atas kebenaran hal ini dan beriman kepadanya. [Selesai]

Contoh ke [4]:

Termasuk orang yang bertauhid rububiyah di masa jahilyah adalalah: Waroqoh bin Naufal, Salman al-Farisi, Pendeta Buhaira dan lainnya.

****

GOLONGAN KEDUA:
ORANG-ORANG YANG MENYEKUTUKAN ALLAH DALAM RUBUBIYAH.

Golongan yang menyekutukan Allah dalam rububiyah ilahiyah dengan meyakini pula bahwa sesembahan-sesembahan mereka juga memiliki sebagian sifat rububiyah ilahiyah, walau hanya terbatas dan sebagian kecil, yang semuanya itu pada hakikatnya bersumber dari Rabb Yang Mahabesar (yakni; Allah SWT).

Keyakinan yang kedua inilah yang dianut oleh mayoritas golongan orang-orang yang dahulu menyembah Allah, namun mereka juga menyembah sesembahan atau berbagai sesembahan selain Allah yang diyakini memiliki sebagian sifat rububiyah Allah.

Mereka hampir sepakat mengakui dan menetapkan sifat rububiyah maha besar bagi Allah, yakni Dialah sebagai satu-satunya pencipta langit, bumi dan alam semesta, namun mereka juga menetapkan cabang—cabang sifat rububiyah yang lebih rendah dan kecil, seperti bisa mendatangkan manfaat dan menolak mudhorat, melapangkan rizki dan sebaliknya, memberikan kesembuhan dan yang semisalnya.

Kecuali para penganut agama Hindu, Majusi, Yunani dan yang semisalnya, maka menurut ajaran mereka sifat rububiyah ilahiyah yang maha besar itu terbagi dalam bebeberapa tuhan-tuhan mereka.

Mayoritas mereka menyembah sesembahan-sesembahan tersebut berdasarkan keyakinan bahwa Allah Ta’ala telah menyerahkan kepada mereka kewenangan untuk mengatur sebagian perkara dan membiarkannya berada dalam kekuasaan mereka. Artinya, Allah Ta’ala telah memberikan kepada mereka rububiyah yang kecil dan terbatas, sehingga mereka dianggap berhak disembah dengan tujuan mendapatkan kasih sayang mereka serta menghindari kemarahan dan kemurkaan mereka. Karena mereka meyakini adanya rububiyah pada sesembahan-sesembahan tersebut, mereka pun meyakini adanya uluhiyah pada mereka.

Dalam al-Qur’an orang-orang yang menyembah Rabb selain Allah, baik satu Rabb maupun beberapa sesembahan, terbagi menjadi beberapa golongan:

====

BENTUK RUBUBIYAH KE 1:

Yaitu orang-orang yang Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya:

﴿فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْمُجْرِمُونَ وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ﴾

"Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sungguh, orang-orang yang berbuat dosa itu tidak akan beruntung.

Dan mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat mendatangkan mudhorat kepada mereka dan tidak pula memberi manfaat kepada mereka, dan mereka berkata, ‘Mereka itu adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah.’

Katakanlah, ‘Apakah kamu hendak memberitahukan kepada Allah sesuatu yang tidak diketahui-Nya di langit dan di bumi?’ Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan." [QS. Yunus: 17–18]

Penjelasan:

Bentuk syirik rububiyah ini, kaum musyrikini berdusta mengklaim bahwa mereka tidak menyembah sesembahan mereka dengan tujuan agar sesembahan tersebut memberikan manfaat kepada mereka dalam urusan dunia atau agar tidak mendatangkan mudhorat kepada mereka. Akan tetapi, mereka menyembahnya karena meyakini bahwa sesembahan-sesembahan tersebut memiliki hak memberikan syafaat di sisi Allah tanpa idzin dari Allah, atau bahwa Allah telah memberikan kepada mereka kewenangan khusus tersebut, yaitu kewenangan dalam memberikan syafaat, dan bahwa mereka dapat menentukan syafaat sesuai dengan apa yang mereka kehendaki, bukan sesuai dengan apa yang Allah Ta’ala kehendaki.

Allah Ta’ala telah mengisyaratkan makna ini dalam firman-Nya:

﴿أَمِ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللهِ شُفَعَاءَ قُلْ أَوَلَوْ كَانُوا لَا يَمْلِكُونَ شَيْئًا وَلَا يَعْقِلُونَ قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ﴾

"Ataukah mereka mengambil pemberi syafaat selain Allah? Katakanlah, ‘Apakah mereka tetap akan menjadi pemberi syafaat sekalipun mereka tidak memiliki sesuatu pun dan tidak mengerti?’ Katakanlah, ‘Pertolongan syafaat itu seluruhnya milik Allah. Milik-Nya kerajaan langit dan bumi, kemudian hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.’" [Az-Zumar: 43–44]

Allah Ta’ala membantah klaiman mereka ini dengan dua hal:

Pertama, mereka tidak memiliki sesuatu pun, baik syafaat maupun yang lainnya. Ini merupakan bantahan terhadap keyakinan mereka bahwa sesembahan-sesembahan tersebut memiliki hak memberikan syafaat di sisi Allah tanpa idzin dari Allah. Sebab, kepemilikan mengharuskan pemiliknya dapat menggunakan sesuatu yang dimilikinya tanpa idzin dari siapa pun.

Kedua, seluruh syafaat adalah milik Allah. Tidak ada seorang pun yang memberikan syafaat kecuali dengan idzin-Nya. Syafaat bukan satu-satunya hal yang menjadi milik Allah, bahkan milik-Nya kerajaan langit dan bumi, dan hanya kepada-Nya kalian dikembalikan. Kemudian Dia memberikan keputusan di antara kalian dan memberikan balasan kepada kalian sesuai dengan keyakinan dan amal perbuatan kalian.

Jadi, kaum musyrik dari kelompok ini meyakini bahwa sesembahan-sesembahan mereka memiliki hak atas syafaat dan dapat mengatur syafaat sesuai dengan apa yang mereka kehendaki, bukan sesuai dengan apa yang Allah kehendaki. Karena itu, kaum musyrik menyembah mereka untuk mencari belas kasih mereka dan memperoleh rahmat mereka agar mereka memberikan syafaat bagi kaum musyrik tersebut di sisi Allah.

===

BENTUK RUBUBIYAH KE 2:

Mereka adalah mereka yang meyakini bahwa sesembahan-sesembahan mereka dapat memberikan manfaat dan mendatangkan mudhorat, bahwa sesembahan tersebut dapat mendatangkan berbagai kebaikan kepada mereka, menolak berbagai bencana dari mereka, dan menolong mereka menghadapi musuh-musuh mereka. Mereka meyakini bahwa Allah Ta’ala telah memberikan kepada sesembahan-sesembahan tersebut rububiyah kecil, sebagaimana para raja memberikan kewenangan kepada para gubernur untuk mengurus wilayah-wilayah kecil.

Kelompok ini meyakini adanya rububiyah kecil tersebut pada sesembahan-sesembahan mereka. Karena itu, mereka menyembah dan mempertuhankan sesembahan-sesembahan tersebut.

Allah Ta’ala telah menyebutkan golongan ini dalam firman-Nya:

﴿وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللهِ آلِهَةً لَعَلَّهُمْ يُنْصَرُونَ لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَهُمْ وَهُمْ لَهُمْ جُنْدٌ مُحْضَرُونَ﴾

"Dan mereka mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan. Sesembahan-sesembahan itu tidak mampu menolong mereka, padahal mereka sendiri menjadi pasukan yang dihadirkan untuk sesembahan-sesembahan tersebut." [Yasin: 74–75]

Dan firman-Nya:

﴿وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللهِ آلِهَةً لِيَكُونَ لَهُمْ عِزًّا كَلَّا سَيَكْفُرُونَ بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّا﴾

"Dan mereka mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah agar mereka menjadi sumber kemuliaan bagi mereka. Sekali-kali tidak! Kelak mereka akan mengingkari penyembahan mereka dan akan menjadi musuh bagi mereka." [Maryam: 81–82]

Maksudnya, kaum musyrik mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah dan menyembahnya agar sesembahan tersebut membalas ibadah mereka dengan menjadikan pengaruh-pengaruh gaibnya sebagai sebab bagi kemuliaan dan kemenangan mereka atas musuh-musuh mereka.

Ketiga bentuk syirik rububiyah ini merupakan keyakinan yang dianut oleh mayoritas kaum musyrik Arab pada masa jahiliah mereka. Bisa jadi, mereka meyakini seluruh tiga makna tersebut pada sesembahan-sesembahan mereka, atau hanya dua di antaranya.

===

BENTUK RUBUBIYAH KE 3:

Mereka musyrikin jahiliyah memberikan hak kepada selain Allah untuk menetapkan syariat atau hukum syar’i - yang merupakan kekhususan Allah Ta’ala -. Contohnya : kepada para pendeta dan rahib.

Allah Ta’ala telah menyebutkan golongan ini dalam firman-Nya:

﴿اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللهِ﴾

"Mereka menjadikan para pendeta dan rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah." [At-Taubah: 31]

Allah juga mengisyaratkan hal ini dalam firman-Nya:

﴿وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللهِ﴾

"Dan janganlah sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai rabb-rabb selain Allah." [Ali ‘Imran: 64]

Golongan kaum musyrik ini memberikan kepada para pendeta dan rahib hak menetapkan syariat atau hukum syar’i, padahal hak tersebut merupakan salah satu sifat dan kekhususan rububiyah. Dengan demikian, mereka menjadikan para pendeta dan rahib tersebut sebagai rabb-rabb.

Kemudian mereka menaati para pendeta dan rahib dalam hukum-hukum yang mereka tetapkan. Dengan demikian, mereka telah menyembah dan mempertuhankan mereka, karena menaati dalam hal penetapan syariat merupakan salah satu bentuk ibadah.

===

BENTUK RUBUBIYAH KE 4:

Mereka adalah orang-orang yang meyakini bahwa sesembahan yang mereka sembah merupakan sekutu bagi Allah dalam mengatur alam dan mengendalikan segala sesuatu di dalamnya. Mereka terdiri atas banyak golongan.

Di antara mereka adalah penganut keyakinan dua tuhan dan penganut keyakinan tiga tuhan. Ada pula yang meyakini jumlah tuhan yang lebih banyak daripada itu.

Para penganut syirik ini memiliki beberapa rabb yang mereka anggap sama-sama memiliki bagian dalam rububiyah dan dalam mengatur berbagai urusan alam. Mereka terkadang mewujudkan rabb-rabb tersebut dalam bentuk jasmani atau benda-benda material, atau meyakini bahwa rabb-rabb tersebut dapat menyatu dalam benda-benda material, atau menampakkan diri dalam bentuk manusia.

Keempat golongan kaum musyrik tersebut adalah orang-orang yang menyembah sesembahan selain Allah berdasarkan keyakinan yang mereka anut.

Mereka mempertuhankan sesembahan-sesembahan tersebut berdasarkan keyakinan bahwa sesembahan itu memiliki rububiyah, baik berupa rububiyah kecil dan terbatas yang bersumber dari rububiyah Allah Ta’ala, sebagaimana keadaan empat golongan pertama—dan inilah keadaan mayoritas kaum musyrik Arab pada masa jahiliah—maupun berupa rububiyah yang sebenarnya dan besar, sebagaimana keadaan golongan kelima.

===

BENTUK RUBUBIYAH KE 5:

Mereka adalah orang-orang yang tidak meyakini adanya sesuatu pun dari makna rububiyah pada sesembahan mereka. Mereka tidak menyembah sesembahan tersebut berdasarkan keyakinan dan kepercayaan, tetapi menyembah dan mempertuhankannya berdasarkan kepentingan sosial, yaitu menjaga persatuan bangsa dan mencegah perpecahan di antara mereka.

Sesembahan-sesembahan yang mereka sembah dan sakralkan berfungsi sebagai simbol ikatan persatuan nasional yang menyatukan mereka dalam kasih sayang, mendorong mereka untuk saling bekerja sama dan saling menolong, serta melakukan segala sesuatu yang dituntut oleh persaudaraan di antara suatu kelompok yang memiliki kesatuan dan eksistensi bersama.

Hal inilah yang diungkapkan oleh Ibrahim ‘alaihissalam kepada kaumnya. Allah Ta’ala berfirman ketika menyebutkan beberapa cuplikan kisah Ibrahim dan kaumnya:

﴿وَقَالَ إِنَّمَا اتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِ اللهِ أَوْثَانًا مَوَدَّةً بَيْنَكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُ بَعْضُكُمْ بِبَعْضٍ وَيَلْعَنُ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَاصِرِينَ﴾

"Dan dia berkata, ‘Sesungguhnya kalian mengambil berhala-berhala selain Allah hanyalah untuk menciptakan kasih sayang di antara kalian dalam kehidupan dunia. Kemudian pada hari Kiamat sebagian kalian akan mengingkari sebagian yang lain, sebagian kalian akan melaknat sebagian yang lain, dan tempat kembali kalian adalah neraka, dan tidak ada seorang penolong pun bagi kalian.’" [Al-‘Ankabut: 25]

===

BENTUK RUBUBIYAH KE 6:

Orang-orang yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:

﴿أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللهِ زُلْفَى إِنَّ اللهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِيمَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ﴾

"Ingatlah, hanya milik Allah agama yang murni. Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia berkata, ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’ Sungguh, Allah akan memberi keputusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang pendusta dan sangat kufur." [Az-Zumar: 3]

Golongan kaum musyrik ini beriman kepada Allah Ta’ala. Mereka tidak meyakini bahwa sesembahan yang mereka sembah selain Allah memiliki andil bersama Allah, baik dalam penciptaan maupun dalam mengatur keadaan penduduk bumi, seperti rezeki, kesehatan, kehamilan, kelahiran, jenis kelamin janin, keselamatan janin, dan semisalnya.

Mereka hanya meyakini bahwa Allah Ta’ala telah menjadikan sesembahan-sesembahan tersebut sebagai perantara antara Dia dan hamba-hamba-Nya, dan bahwa seorang hamba tidak dapat mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala kecuali melalui perantara tersebut, serta melalui perantara itu mereka dapat mendekatkan diri kepada Allah.

====

PELAJARAN YANG BISA DIAMBIL DARI URAIAN DIATAS:

Dari klasifikasi kaum musyrik ini dan dari uraian sebelumnya mengenai berbagai nash Al-Qur’an—yang sebenarnya hanya sebagian kecil dari sekian banyak nash yang berkaitan dengan masalah ini—jelas bagi kita bahwa rububiyah merupakan dasar yang menjadi landasan uluhiyah.

Siapa yang memiliki rububiyah, maka menjadi haknya atas pihak-pihak yang berada di bawah pemeliharaan dan pengaturannya untuk mempertuhankannya.

Juga menjadi jelas bahwa kaum musyrik yang menyembah sesembahan selain Allah berdasarkan keyakinan dan kepercayaan, sesungguhnya mereka menyembah dan mempertuhankan sesembahan tersebut berdasarkan keyakinan mereka bahwa sesembahan itu memiliki rububiyah, baik rububiyah yang kecil dan terbatas maupun rububiyah yang asli dan mutlak.

Dari sini tampak kesalahan orang-orang yang berpendapat bahwa seluruh bangsa Arab pada masa jahiliah beriman kepada tauhid rububiyah bagi Allah Azza wa Jalla, tetapi mereka menyembah sesembahan-sesembahan lain bersama Allah, sehingga menjadikannya sebagai sekutu bagi Allah dalam uluhiyah-Nya, tanpa menjadikannya sebagai sekutu bagi Allah dalam rububiyah-Nya.

Hal itu karena nash-nash Al-Qur’an, termasuk yang telah kami kemukakan sebelumnya, menjelaskan bahwa mayoritas bangsa Arab menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah dalam sebagian sifat rububiyah-Nya, bukan dalam seluruhnya. Oleh karena itu, mereka meminta kepada sekutu-sekutu mereka rahmat, rezeki, pertolongan, dan berbagai kebutuhan duniawi lainnya.

Mereka menyembah sesembahan-sesembahan mereka dengan berharap agar sesembahan tersebut mewujudkan apa yang mereka harapkan melalui bantuan-bantuan gaib yang merupakan kekhususan Rabb Yang Maha Pencipta, yang di tangan-Nya seluruh kendali segala sesuatu dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Karena uluhiyah merupakan konsekuensi rasional yang langsung dari rububiyah, sedangkan rububiyah dalam seluruh wujud hanya milik Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya dalam hal tersebut, maka secara rasional dan secara pasti wajib bahwa uluhiyah hanya khusus bagi Allah semata dan tidak seorang pun boleh menjadi sekutu bagi-Nya dalam hal tersebut.

Berdasarkan hakikat inilah metode Al-Qur’an dalam meyakinkan manusia tentang tauhid uluhiyah bagi Allah semata, tanpa sekutu bagi-Nya, bertumpu pada mengingatkan orang-orang yang memiliki pemikiran tentang tauhid rububiyah bagi Allah Azza wa Jalla dan bahwa tidak ada sekutu bagi-Nya dalam rububiyah.

Al-Qur’an juga mengingatkan mereka tentang hakikat ini. Dalam sebagian nash, Al-Qur’an memulai kembali pemaparan dalil-dalil yang membuktikan bahwa rububiyah dalam seluruh wujud hanya milik Allah semata, tanpa sekutu bagi-Nya.

Dalam hal ini, Al-Qur’an memperhatikan kondisi orang-orang yang menjadi sasaran pembicaraan ketika nash tersebut diturunkan.

Di antara nash-nash Al-Qur’an tersebut adalah sebagai berikut:

[1] Firman Allah SWT:

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ﴾

"Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu." [Al-Baqarah: 21]

[2] Firman Allah SWT:

﴿وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آلِهَةً إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَنُ بِضُرٍّ لَا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلَا يُنْقِذُونِ إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ إِنِّي آمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ﴾

"Dan mengapa aku tidak menyembah Tuhan yang telah menciptakanku, dan hanya kepada-Nya kamu akan dikembalikan? Apakah aku akan mengambil sesembahan-sesembahan selain-Nya? Jika Yang Maha Pengasih menghendaki bencana terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak berguna sedikit pun bagiku dan mereka tidak dapat menyelamatkanku. Sesungguhnya jika demikian, aku benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu, maka dengarkanlah aku." [Yasin: 22–25]

[3] Firman Allah SWT:

﴿رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا﴾

"Tuhan langit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya. Maka sembahlah Dia dan bersabarlah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya?" [Maryam: 65]

[4] Firman Allah SWT:

﴿وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللهِ آلِهَةً لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا﴾

"Dan mereka mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah yang tidak dapat menciptakan sesuatu apa pun, bahkan mereka sendiri diciptakan. Mereka tidak mampu menguasai mudhorat maupun manfaat bagi diri mereka sendiri, tidak pula menguasai kematian, kehidupan, ataupun kebangkitan." [Al-Furqan: 3]

[5] Firman Allah SWT:

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ﴾

"Wahai manusia, ingatlah nikmat Allah kepada kalian. Adakah pencipta selain Allah yang memberikan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi? Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Maka bagaimana kalian dapat dipalingkan?" [Fathir: 3]

[6] Firman Allah SWT:

﴿أَلَّا يَسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي يُخْرِجُ الْخَبْءَ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ﴾

"agar mereka tidak bersujud kepada Allah yang mengeluarkan apa yang tersembunyi di langit dan di bumi." [An-Naml: 25]

[7] Firman Allah SWT:

﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ﴾

"Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan manusia, Raja manusia, sesembahan manusia.’" [An-Nas: 1–3]

Penjelasan dalam surah ini disampaikan dengan susunan yang rasional dan logis. Penetapan rububiyah Allah bagi manusia secara rasional dan logis mengharuskan penetapan bahwa Dia adalah Pemilik mereka; mereka adalah hamba-hamba-Nya dan Dia adalah Raja yang berkuasa atas mereka. Dari kedua hal tersebut, secara rasional dan logis, mengharuskan penetapan uluhiyah-Nya bagi mereka. Karena tidak ada Rabb bagi mereka selain Dia, maka tidak ada sesembahan bagi mereka selain Dia.

Kesimpulannya, telah tertanam dalam akal manusia bahwa siapa yang terbukti memiliki rububiyah, maka dia berhak untuk disembah. Sebaliknya, siapa yang tidak memiliki rububiyah, maka dia tidak berhak untuk disembah. Dengan demikian, penetapan rububiyah dan hak untuk disembah merupakan dua hal yang saling berkaitan, baik dalam syariat yang Allah tetapkan maupun dalam akal manusia.

Berdasarkan keyakinan adanya sekutu dalam rububiyah, kaum musyrik membangun keyakinan bahwa pihak-pihak yang mereka anggap sebagai Rabb selain Allah Ta’ala berhak untuk disembah. Ketika dasar ini runtuh dari dalam diri mereka, maka runtuh pula apa yang dibangun di atasnya, yaitu anggapan bahwa selain Allah berhak untuk disembah.

Seorang musyrik tidak akan mengakui bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah sampai dia mengakui bahwa hanya Dia Azza wa Jalla yang memiliki rububiyah. Selama masih terdapat dalam dirinya keyakinan bahwa selain Dia memiliki rububiyah, keyakinan tersebut akan melahirkan anggapan bahwa pihak selain Allah itu berhak untuk disembah.

Oleh karena itu, bagi orang-orang yang memiliki pemahaman yang mendalam, sudah jelas bahwa tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah merupakan dua hal yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, baik dalam keyakinan maupun dalam kenyataan.

Membagi tauhid menjadi tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah dengan anggapan bahwa keduanya terpisah dan tidak memiliki keterkaitan merupakan kesalahan yang jelas. Sebab, siapa yang mengakui bahwa tidak ada Rabb selain Allah, berarti dia mengakui bahwa tidak ada yang berhak disembah selain-Nya. Sebaliknya, siapa yang mengakui bahwa tidak ada yang berhak disembah selain-Nya, berarti dia mengakui bahwa tidak ada Rabb selain Dia. Inilah makna "la ilaha illallah" dalam hati seluruh kaum Muslimin.

Oleh karena itu, kita melihat Al-Qur’an dalam banyak tempat mencukupkan penyebutan salah satu dari keduanya sebagai petunjuk bagi yang lainnya.

Al-Qur’an juga menetapkan konsekuensi yang muncul dari tidak adanya salah satu dari keduanya sebagai dalil atas tidak adanya yang lain, sehingga dengan cara tersebut dapat dibuktikan keberadaannya.

Perhatikan firman Allah Ta’ala:

﴿لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللهُ لَفَسَدَتَا﴾.

"Seandainya di langit dan di bumi ada sesembahan-sesembahan selain Allah, niscaya keduanya telah binasa." [Al-Anbiya: 22]

Dan firman Allah Ta’ala:

﴿وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَهٍ إِذًا لَذَهَبَ كُلُّ إِلَهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ﴾.

"Tidak ada suatu sesembahan pun bersama-Nya. Jika demikian, setiap sesembahan akan membawa apa yang telah diciptakannya, dan sebagian dari mereka tentu akan mengalahkan sebagian yang lain." [Al-Mu’minun: 91]

Dalam kedua ayat tersebut, Allah menjadikan konsekuensi dari banyaknya sesembahan berupa kerusakan langit dan bumi sebagai konsekuensi dari banyaknya Rabb, untuk membuktikan bahwa Rabb itu tidak berbilang dan bahwa Dia adalah satu-satunya Rabb.

Selain itu, pembagian tauhid menjadi tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah mengandung beberapa kesalahan:

Pertama: membatasi rububiyah pada makna penciptaan (الْخَالِقِيَّة), padahal rububiyah mencakup seluruh kekhususan uluhiyah, yaitu sifat-sifat yang karena sifat-sifat tersebut Rabb berhak untuk disembah, seperti menciptakan alam, mengatur dan mengurusnya, mengendalikan segala urusannya, memiliki hak menetapkan syariat, serta tidak membutuhkan siapa pun selain-Nya secara mutlak.

Kedua: mengungkapkan makna “menjadi ilah (إِلَه)” dengan istilah uluhiyah (الْأُلُوهِيَّة). Padahal, uluhiyah berarti ibadah, sedangkan ungkapan yang tepat untuk makna “menjadi ilah” adalah ilahiyah (الْإِلَهِيَّةُ), bukan uluhiyah (الْأُلُوهِيَّة).

Ketiga: mengklaim bahwa tauhid rububiyah terpisah dari tauhid ilahiyah dan tidak selalu berkaitan dengannya. Menurut klaim tersebut, tauhid rububiyah dapat terwujud bersamaan dengan kesyirikan dalam uluhiyah. Padahal, telah kami jelaskan bahwa tauhid rububiyah selalu berkaitan dengannya.

Kesalahan keempat: kesimpulan yang dibangun oleh penggagas pembagian ini, yaitu bahwa kaum musyrik Arab pada masa jahiliah mereka telah mentauhidkan Allah Ta’ala dalam tauhid rububiyah, tetapi mereka tidak mentauhidkan-Nya dalam tauhid ilahiyah.

Kesalahan kelima, yang merupakan kesalahan paling buruk dan paling berbahaya, sekaligus merupakan tujuan yang hendak dicapai oleh penggagas pembagian tersebut, adalah penilaiannya terhadap banyak kaum Muslimin dengan penilaian yang sama seperti penilaiannya terhadap kaum musyrik Arab pada masa jahiliah mereka yang sangat bodoh. Penilaian ini dibangunnya berdasarkan pembagian tersebut.

Dengan demikian, tampak jelas kesalahan pembagian ini dan kesalahan-kesalahan yang dibangun oleh penggagasnya di atas pembagian tersebut.

Adapun pembagian tauhid yang benar adalah pembagian yang dikemukakan oleh Asy’ariyah, yaitu membagi tauhid menjadi tauhid dzat, tauhid sifat, dan tauhid perbuatan. Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi lebih mengetahui.

Adapun bagian ketiga dari pembagian tiga macam tersebut, yaitu “tauhid nama-nama dan sifat-sifat «تَوْحِيدُ الْأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ»”, yang dimaksudkan oleh penggagas pembagian adalah menetapkan bagi Allah nama-nama dan sifat-sifat yang telah Dia tetapkan bagi diri-Nya, tanpa mengabaikan satu pun dari apa yang telah Dia tetapkan bagi diri-Nya, yaitu dengan tidak menafikan dari Allah Ta’ala sebagian dari apa yang telah Dia tetapkan bagi diri-Nya.

Demikian pula, tidak menambahkan sesuatu kepadanya dengan menetapkan bagi Allah Ta’ala nama-nama dan sifat-sifat yang tidak terdapat dalil tentang penggunaannya bagi Allah Ta’ala dalam Al-Kitab dan As-Sunnah yang sahih. Inilah yang ditetapkan oleh penggagas pembagian tersebut dan dia menamakannya “tauhid nama-nama dan sifat-sifat «تَوْحِيدُ الْأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ»”.

Adapun perumusan masalah ini, maka perumusannya belum dilakukan secara cermat. Ketidakcermatan dalam merumuskan masalah tersebut telah menyebabkan penggagasnya terjerumus ke dalam kesalahan-kesalahan akidah yang besar.

Perumusan yang cermat adalah dengan mengatakan:

Wajib menetapkan bagi Allah Ta’ala nama-nama dan sifat-sifat yang terdapat dalam Al-Kitab dan As-Sunnah yang sahih, yang penggunaannya bagi Allah Ta’ala adalah dalam makna hakiki, bukan majas dan bukan pula kinayah.

Merumuskan masalah dengan cara seperti ini, kemudian menerapkannya pada nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah dengan penerapan yang benar, merupakan hal yang dapat menjaga orang yang mendalami masalah ini dari kesalahan dan menjauhkannya dari penyimpangan dalam nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala.

Adapun tidak merumuskan masalah dengan cermat, atau merumuskannya tetapi kemudian menerapkannya pada nash-nash dengan penerapan yang tidak benar, akan menjerumuskan orang tersebut ke dalam kesalahan-kesalahan akidah yang besar dan penyimpangan dalam nama-nama serta sifat-sifat Allah Ta’ala. Inilah yang telah menjerumuskan penggagas pembagian tiga macam tersebut.

===***====

CONTOH BERHALA-BERHALA JAHILIYAH YANG DIYAKINI 
MEMILIKI KEMAMPUAN RUBUBIYAH ILAHIYAH

****

CONTOH KE 1:
BERHALA HUBAL TERBUAT DARI BATU AQIQ MERAH
KARAKTERISTIK BERHALA HUBAL DAN KE-RUBUBIYAHAN-NYA.

Kaum musyrik Arab pada masa jahiliah dikenal sebagai penyembah berhala. Hubal merupakan berhala mereka yang paling besar dan paling tinggi kedudukannya di Makkah. Mereka menempatkannya di dalam Ka'bah yang mulia.

‘Amr bin Luhayy ke Syam, adalah orang yang membawa Hubal ke Mekkah. Dia melihat  di Syam suatu kaum yang menyembah berhala. Ia bertanya kepada mereka tentang berhala-berhala tersebut.

Mereka menjawab:

هَذِهِ أَرْبَابٌ اتَّخَذْنَاهَا عَلَى شَكْلِ الْهَيَاكِلِ الْعُلْوِيَّةِ، وَالْأَشْخَاصِ الْبَشَرِيَّةِ، نَسْتَنْصِرُ بِهَا فَنُنْصَرُ، وَنَسْتَسْقِي بِهَا فَنُسْقَى، وَنَسْتَشْفِي بِهَا فَنُشْفَى

“Ini adalah rabb-rabb yang kami buat dalam bentuk benda-benda langit dan dalam bentuk manusia. Kami senantias memohon pertolongan melalui mereka, lalu kami mendapatkan pertolongan; kami meminta hujan melalui mereka, lalu kami diberi hujan; dan kami meminta kesembuhan melalui mereka, lalu kami disembuhkan.”

Hal itu membuatnya kagum. Ia kemudian meminta kepada mereka salah satu berhala mereka, lalu mereka memberikan Hubal kepadanya.

Berhala ini memiliki karakteristik fisik, keyakinan, dan ritual tertentu dalam pandangan kaum musyrik Arab:

Karakteristik Fisik (Bentuk Berhala)

Bahan dan pembuatannya: Hubal dibuat dari batu akik merah.

Bentuk dan rupanya: Berhala tersebut dibuat dalam bentuk manusia.

Tangan yang patah: Berhala itu dibawa ke Makkah dalam keadaan tangan kanannya patah. Kemudian, Quraisy membuatkan tangan untuknya dari emas.

Karakteristik Akidah dan Ritual

Pemimpin para tuhan: Hubal dipandang sebagai tuhan yang paling agung dan paling penting bagi Quraisy di dalam Ka'bah. Kepadanya mereka meminta pertolongan dalam perkara-perkara besar.

Mengundi dengan azlam:

Di hadapan Hubal dilakukan pengundian menggunakan anak panah (azlam) untuk mengetahui hal-hal gaib atau menentukan keputusan-keputusan penting, seperti perjalanan, pernikahan, atau pembayaran diyat.

Hubal memiliki tujuh buah anak panah yang masing-masing bertuliskan pilihan-pilihan yang berbeda.

Mendekatkan diri dengan persembahan:

Kaum musyrik menyembelih hewan untuk Hubal serta memberikan nazar dan berbagai persembahan kepadanya sebagai bentuk pendekatan diri dan pengagungan.

Nilai Politik dan Pengaruh Moral

Simbol kemenangan dan kesukuan:

Hubal merupakan simbol politik dan kesukuan yang memiliki kedudukan penting. Hal itu tampak jelas dalam Perang Uhud ketika Abu Sufyan bin Harb meneriakkan ungkapan kemenangan mereka:

أُعْلُ ‌هُبَلْ، ‌أُعْلُ ‌هُبَلْ

"Agungkanlah Hubal, agungkanlah Hubal."

Maka Nabi ﷺ bersabda:

«أَلَا تُجِيبُوا لَهُ»

"Tidakkah kalian menjawab seruannya?"

Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, apa yang harus kami katakan?"

Beliau ﷺ bersabda:

«قُولُوا: اللَّهُ أَعْلَى وَأَجَلُّ»

"Katakanlah: Allah Mahatinggi dan Mahamulia."

[HR. Bukhori no. 3039]

Muhammad Ibrahim al-Fayyumi berkata:

«حَاوَلَ عَمْرُو بْنُ لُحَيٍّ أَنْ يَجْعَلَهُ إِلَهَ الْجَزِيرَةِ الْأَكْبَرَ، إِذْ بِمُقَارَنَةِ وَظَائِفِ هَذِهِ الْآلِهَةِ مَعَ مَا رُوِيَ عَنْ هُبَلٍ يَتَّضِحُ لَنَا أَنَّهُ كَانَ إِلَهَ الْخِصْبِ، وَالرِّزْقِ، وَمِنْ ثَمَّ إِلَهَ السَّعَادَةِ عِنْدَ الْعَرَبِ، وَرُبَّمَا أَيْضًا كَانَ إِلَهَ الْحَرْبِ، فَلَا يَرْحَلُ الرَّاحِلُ وَلَا يَثُوبُ الْآيِبُ الْمُغْتَرِبُ إِلَّا وَيَطُوفُ بِهِ، وَكَانَتْ عِنْدَهُ أَقْدَاحُ الْأَزْلَامِ وَلَا يَسْتَقْسِمُ بِهَا إِلَّا أَمَامَهُ، وَمَرَاسِمُ الْأَفْرَاحِ وَالْأَحْزَانِ عِنْدَهُ أَيْضًا.

وَيَقُولُ عَلِيُّ حَسَنٍ إِبْرَاهِيمُ: وَتُشِيرُ إِقَامَةُ هُبَلَ عَلَى الْبِئْرِ الْكَائِنِ فِي بَطْنِ الْكَعْبَةِ إِلَى أَنَّهُ كَانَ ذَا عَلَاقَةٍ بِالرِّزْقِ وَالْخِصْبِ فِي عَقِيدَةِ الْعَرَبِ.

وَيَقُولُ مُحَمَّدُ عَبْدُ الْمُعَيْنِ خَانُ: لَا أَتَرَدَّدُ أَنْ أَقُولَ: إِنَّ هُبَلَ كَانَ إِلَهَ الْخِصْبِ وَالرِّزْقِ وَمِنْ ثَمَّ إِلَهَ السَّعَادَةِ وَشِبْهَ رَبِّ الْأَرْبَابِ فِي عَقِيدَةِ الْعَرَبِ.

وَفِي الرِّوَايَاتِ مَا يُؤَكِّدُ عَدَمَ تَرَدُّدِ خَانٍ فِي أَنَّ هُبَلَ هُوَ الْإِلَهُ الَّذِي عَنَاهُ عَمْرُو بْنُ لُحَيٍّ حِينَمَا قَالَ: إِنَّ رَبَّكُمْ مُصَيِّفٌ بِاللَّاتِ؛ لِبَرْدِ الطَّائِفِ، وَيَشْتُو بِالْعُزَّى؛ لِحَرِّ تِهَامَةَ.

وَبِذَلِكَ يَكُونُ هُبَلٌ أَوْ بَعْلٌ رَبَّ الْأَرْبَابِ عِنْدَ الْعَرَبِ وَلَهُ جَمِيعُ السُّلُطَاتِ؛ وَأَهَمُّهَا: الْخِصْبُ وَالتِّجَارَةُ وَالرِّزْقُ، وَمِنَ (اللَّاتِ وَالْعُزَّى وَمَنَاةَ) وَهُمْ بَنَاتُهُ يَتَشَفَّعُ بِهِنَّ لَدَيْهِ تَكُونُ عَائِلَةٌ وَثَنِيَّةٌ مُقَدَّسَةٌ أَبْطَلَهَا اللهُ بِقَوْلِهِ: ﴿أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ * وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ * أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَىٰ * تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ * إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ﴾ (النَّجْمِ: 19 ـ 23)»

“Amr bin Luhay berusaha menjadikan Hubal sebagai tuhan terbesar di Jazirah Arab. Jika kita membandingkan fungsi berbagai tuhan tersebut dengan apa yang diriwayatkan tentang Hubal, menjadi jelas bagi kita bahwa Hubal adalah tuhan kesuburan dan rezeki, dan dengan demikian merupakan tuhan kebahagiaan menurut keyakinan bangsa Arab. Bisa jadi, ia juga merupakan tuhan perang. Orang yang hendak bepergian tidak berangkat, dan orang yang kembali dari perantauan tidak pulang, kecuali ia mengelilinginya. Di tempatnya terdapat wadah-wadah untuk azlam, dan mereka tidak melakukan pengundian dengan azlam tersebut kecuali di hadapannya. Berbagai upacara kegembiraan dan kesedihan juga dilaksanakan di tempatnya.

Ali Hasan Ibrahim berkata: “Ditempatkannya Hubal di atas sumur yang berada di dalam Ka’bah menunjukkan bahwa Hubal memiliki hubungan dengan rezeki dan kesuburan dalam keyakinan bangsa Arab.”

Muhammad Abdul Mu‘in Khan berkata: “Saya tidak ragu untuk mengatakan bahwa Hubal adalah tuhan kesuburan dan rezeki, dan dengan demikian merupakan tuhan kebahagiaan serta menyerupai Rabb dari segala rabb menurut keyakinan bangsa Arab.”

Dalam berbagai riwayat terdapat sesuatu yang menegaskan bahwa Khan tidak ragu bahwa Hubal adalah tuhan yang dimaksud oleh Amr bin Luhay ketika ia berkata:

“Sesungguhnya Rabb kalian menghabiskan musim panas di al-Laata karena kesejukan Thaif, dan menghabiskan musim dingin di al-‘Uzza karena panasnya Tihamah.”

Dengan demikian, Hubal atau Ba‘l merupakan Rabb dari segala rabb menurut bangsa Arab dan memiliki seluruh kekuasaan.

Yang terpenting di antaranya adalah kesuburan, perdagangan, dan rezeki. Adapun al-Laata, al-‘Uzza, dan Manat yang mereka anggap sebagai anak-anak perempuannya, lalu mereka meminta syafaat melalui mereka di hadapannya, maka terbentuklah sebuah keluarga berhala yang disucikan. Allah membatalkannya dengan firman-Nya:

"Maka apakah kamu telah memperhatikan Al-Laata dan al-‘Uzza, dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian? Apakah untuk kamu yang laki-laki dan bagi-Nya yang perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapakmu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk itu." (An-Najm: 19–23).” (Baca: Tarikh al-Fikr ad-Dini al-Jahili, 1/442).

Pendapat ini juga disebutkan oleh Ibnu al-‘Arabi dalam Ahkam al-Qur’an, 2/218; al-Alusi dalam Tafsir-nya, 7/197; Ibn Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, 2/237; Ibn Hisyam dalam as-Sirah, 1/51; al-Halabi dalam as-Sirah, 1/17; dan yang lainnya.

****

CONTOH KE 2:
BERHALA AL-LAATA, AL-UZAA DAN AL-MANAT

Ketika membahas karakteristik rububiyah dalam keyakinan kaum musyrik Arab terhadap tiga berhala terbesar, yaitu al-Laata, Al-‘Uzza, dan Manat, terlebih dahulu harus dibedakan antara dua hal:

HAL KE [1]: Pengakuan umum kaum musyrik bahwa Allah semata adalah Rabb, Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pengatur seluruh urusan/

HAL KE [2]: Serta penyimpangan dan tindakan melampaui batas mereka terhadap karakteristik rububiyah tersebut dengan menyekutukan berhala-berhala ini bersama Allah.

Kaum musyrik Arab tidak meyakini bahwa al-Laata, Al-‘Uzza, atau Manat secara mandiri menciptakan langit dan bumi. Akan tetapi, mereka menetapkan bagi berhala-berhala tersebut sebagian karakteristik rububiyah dan sifat-sifat ketuhanan sebagai pembenaran atas penyembahan mereka kepadanya. Karakteristik dan keyakinan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

----

PERTAMA:

Penamaan berhala-berhala tersebut yang berasal dari nama-nama Allah yang indah (penyimpangan dalam nama-nama Allah)

Di antara bentuk paling menonjol dari tindakan kaum musyrik melampaui batas terhadap karakteristik rububiyah adalah mengambil nama berhala-berhala tersebut dari nama-nama Allah yang berkaitan dengan sifat dan rububiyah-Nya, agar memberikan kesan bahwa berhala-berhala tersebut memiliki bagian dari makna nama-nama dan sifat-sifat yang maha tinggi itu:

Al-Laata: mereka mengambil namanya dari nama (Allah) atau (Al-Ilah).

Al-‘Uzza: mereka mengambil namanya dari nama Allah, yaitu (Al-‘Aziz).

Manat: mereka mengambil namanya dari nama Allah, yaitu (Al-Mannan), atau dari ungkapan (مَنَّ اللَّهُ الشَّيْء) apabila Dia telah menetapkannya, karena mereka meyakini bahwa berhala tersebut memiliki pengaruh terhadap kematian dan takdir.

----

KEDUA:

Keyakinan tentang hubungan sebagai anak dan kedekatan dengan Allah (kemalaikatan dan syafaat)

Kaum musyrik meyakini bahwa tiga sesembahan perempuan ini merupakan "anak-anak perempuan Allah" (Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari hal tersebut). Berdasarkan keyakinan ini, mereka menisbatkan kepada berhala-berhala tersebut sebagian karakteristik rububiyah, di antaranya:

Perantara yang memiliki kedudukan dekat:

Mereka memandang bahwa berhala-berhala tersebut memiliki kedudukan dan kedekatan khusus di sisi Allah yang memungkinkannya memberikan pengaruh terhadap keputusan ilahi.

Syafaat yang bersifat mandiri:

Mereka meyakini bahwa berhala-berhala tersebut memberikan syafaat bagi mereka di sisi Allah dalam urusan dunia berupa rezeki dan kemenangan, seolah-olah berhala-berhala tersebut memiliki sebagian kewenangan dalam pengaturan melalui perantaraan.

----

KETIGA:

Pengaturan terhadap sebagian urusan rububiyah tertentu (mendatangkan manfaat dan menolak mudarat secara relatif)

Meskipun kaum musyrik mengakui bahwa pengaturan umum alam semesta berada di tangan Allah, namun mereka meyakini pula bahwa masing-masing dari ketiga berhala tersebut memiliki kekuasaan, pengaruh, dan karakteristik rububiyah tertentu dalam mengatur sebagian urusan, sebagaimana yang diyakini dalam pandangan masyarakat jahiliah:

Al-Laata (berhala Bani Tsaqif di Thaif):

Menurut keyakinan mereka, Al-Laata berkaitan dengan kebaikan, keberkahan, dan pemberian rizki termasuk makanan, berdasarkan riwayat yang masyhur bahwa pada asalnya ia adalah seorang laki-laki saleh yang "membuat sawiq" (mencampur makanan) untuk para jamaah haji.

Al-‘Uzza (berhala Quraisy dan Kinanah di Nakhlah):

Mereka meyakini bahwa Al-‘Uzza memiliki sifat rububiyah kemuliaan, kekuatan, perlindungan, dan kemenangan dalam peperangan. Mereka juga memohon pertolongan kepadanya dan melakukan pengundian nasib dengan anak panah di sisinya.

Manat (berhala Aus dan Khazraj di Al-Musyalal):

Dalam keyakinan mereka, Manat berkaitan dengan kematian, takdir, dan rezeki. Mereka meyakini bahwa Manat memiliki kemampuan rububiyah untuk memutus ajal atau menentukan bagian keberuntungan seseorang.

------

Dan sebagaimana halnya berhala Hubal, maka berhala al-Laata dan al-Uzaa juga merupakan simbol politik dan kesukuan yang memiliki kedudukan penting. Hal itu tampak jelas dalam Perang Uhud ketika Abu Sufyan bin Harb meneriakkan ungkapan kemenangan mereka:

إِنَّ لَنَا العُزَّى وَلَا عُزَّى لَكُمْ

"Sesungguhnya kami memiliki Al-'Uzza, sedangkan kalian tidak memiliki Al-'Uzza."

Maka Nabi ﷺ bersabda:

«أَلَا تُجِيبُوا لَهُ؟»

"Tidakkah kalian menjawab seruannya?"

Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, apa yang harus kami katakan?"

Beliau bersabda:

«قُولُوا اللَّهُ مَوْلَانَا، وَلَا مَوْلَى لَكُمْ»

"Katakanlah: Allah adalah Pelindung kami, sedangkan kalian tidak memiliki pelindung."

[HR. Bukhori no. 3039]

Yang menjadi pelajaran dari hal ini adalah bahwa Al-‘Uzza merupakan sesembahan penduduk Makkah. Ketika Nabi ﷺ menaklukkan Makkah, beliau mengutus Khalid bin Al-Walid untuk menghancurkannya dan menebang pepohonan di sekitarnya. Kemudian Khalid kembali kepada Nabi ﷺ dan memberitahukan apa yang telah dilakukannya. Beliau bersabda, “Engkau belum melakukan apa-apa.”

Khalid radhiyallahu ‘anhu pun kembali untuk kedua kalinya. Ia mendapati para penjaga tempat tersebut berada di sana. Ketika mereka melihatnya, mereka melarikan diri menuju pegunungan. Kemudian Khalid datang dan mendapati seorang wanita dalam keadaan telanjang dengan rambut terurai. Ia lalu mengangkat pedangnya dan membunuh wanita tersebut. Setelah itu, ia kembali kepada Nabi ﷺ dan memberitahukan apa yang telah dilakukannya. Beliau bersabda, “Itulah Al-‘Uzza.”

Maka pada hakikatnya, kaum musyrik jahiliyah bukanlah menyembah berhala-berhala tersebut. Sesungguhnya mereka menyembah setan-setan. Setan-setan itulah yang menggoda dan mengajak mereka untuk menyembahnya. Setan-setan itu terkadang berbicara kepada mereka, tetapi mereka mengira bahwa berhala itulah yang berbicara, atau bahwa orang yang telah meninggal itulah yang berbicara.

----

‘Amr bin Jamuh masuk Islam setelah yakin berhala Manat tak berkemampuan rububiyah

Amr bin al-Jamuh radhiyallahu ‘anhu adalah salah seorang pemuka terkemuka Bani Salimah dan termasuk orang yang memiliki kedudukan terhormat di kalangan mereka. Ia pernah membuat sebuah berhala dari kayu di rumahnya yang diberi nama Manat, sebagaimana kebiasaan para pemuka pada masa itu. Ia menjadikannya sebagai sesembahan yang diagungkan, dihormati, dan disucikan.

Ketika para pemuda Bani Salimah masuk Islam, di antaranya Muadz bin Jabal dan putra Amr bin al-Jamuh sendiri, yaitu Muadz bin Amr bin al-Jamuh, bersama sejumlah pemuda lain yang telah masuk Islam dan menghadiri Baiat Aqabah, mereka mulai mendatangi berhala milik Amr itu pada malam hari. Mereka mengangkatnya, lalu melemparkannya ke salah satu lubang tempat pembuangan kotoran di perkampungan Bani Salimah. Di sana terdapat kotoran manusia, dan berhala itu diletakkan dalam keadaan terbalik dengan kepala di bawah.

Ketika pagi tiba, Amr berkata, “Celakalah kalian! Siapa yang berani mengganggu sesembahan kita tadi malam?”

Kemudian ia pergi mencari berhala tersebut. Setelah menemukannya, ia mencucinya, membersihkannya, dan memberinya wewangian.

Lalu ia berkata, “Demi Allah, seandainya aku mengetahui siapa yang melakukan hal ini terhadapmu, sungguh aku akan menghukumnya dengan keras.”

Ketika malam tiba dan Amr tertidur, mereka kembali mendatangi berhala itu dan melakukan hal yang sama. Pagi harinya, Amr mendapati berhala tersebut dalam keadaan yang sama, terkena kotoran dan berbagai hal yang menjijikkan. Ia pun mencucinya, membersihkannya, dan memberinya wewangian. Kemudian, ketika malam tiba, mereka kembali melakukan hal serupa.

Setelah mereka berulang kali melakukan hal itu, pada suatu hari Amr mengambil berhalanya dari tempat mereka melemparkannya. Ia mencucinya, membersihkannya, dan memberinya wewangian. Kemudian ia mengambil pedangnya dan menggantungkannya pada berhala tersebut.

Ia berkata:

"إِنِّي وَاللَّهِ مَا أَعْلَمُ مَنْ يَصْنَعُ بِكَ مَا تَرَى، فَإِنْ كَانَ فِيكَ خَيْرٌ فَامْتَنِعْ، فَهَذَا السَّيْفُ مَعَكَ".

“Demi Allah, aku tidak tahu siapa yang melakukan hal seperti yang engkau alami ini. Jika memang engkau memiliki kemampuan untuk berbuat baik, maka lindungilah dirimu. Pedang ini ada bersamamu.”

Ketika malam tiba dan Amr tertidur, mereka kembali mendatangi berhala itu. Mereka mengambil pedang yang tergantung di lehernya, lalu mengambil seekor anjing yang telah mati dan mengikatkannya pada berhala itu dengan seutas tali. Setelah itu, mereka melemparkan keduanya ke dalam salah satu sumur milik Bani Salimah yang terdapat kotoran manusia di dalamnya.

Ketika Amr bin al-Jamuh bangun, ia tidak menemukan berhalanya di tempat semula.

Amr pun keluar untuk mencarinya. Setelah menemukannya di dalam sumur itu, ia mendapati berhalanya dalam keadaan terbalik dan diikat bersama seekor anjing yang telah mati. Ketika melihat keadaan tersebut, ia menyadari kenyataan yang sebenarnya. Orang-orang dari kaumnya yang telah masuk Islam juga berbicara kepadanya. Akhirnya, dengan rahmat Allah, ia masuk Islam dan menjalani keislamannya dengan baik.

Ketika masuk Islam dan mengetahui apa yang telah Allah anugerahkan kepadanya, ia mengenang berhala tersebut dan menyadari kenyataan yang telah dilihatnya. Ia pun bersyukur kepada Allah Ta‘ala yang telah menyelamatkannya dari kebutaan dan kesesatan yang selama ini menjeratnya. Ia lalu mengucapkan syair:

وَاللَّهِ لَوْ كُنْتَ إِلَهًا لَمْ تَكُنْ … أَنْتَ وَكَلْبٌ وَسْطَ بِئْرٍ فِي قَرَنْ

Demi Allah, seandainya engkau benar-benar tuhan, Tentu engkau takkan bersama anjing di dasar sumur dalam keadaan terikat.

أُفٍّ لِمَلْقَاكَ إِلَهًا مُسْتَدَنٍّ … الْآنَ فَتَّشْنَاكَ عَنْ سُوءِ الْغَبَنْ

Sungguh menjijikkan jika engkau dijadikan tuhan, Kini kami telah mengetahui keburukan dan kerugian yang ada padamu.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ ذِي الْمِنَنِ … الْوَاهِبِ الرَّزَّاقِ دَيَّانِ الدَّيْنِ

Segala puji bagi Allah Yang Mahatinggi, Pemilik berbagai karunia, Yang Maha Pemberi, Maha Pemberi rezeki, dan Penguasa hari pembalasan.

هُوَ الَّذِي أَنْقَذَنِي مِنْ أَنْ … أَكُونَ فِي ظُلْمَةِ قَبْرٍ مُرْتَهَنٍ

Dialah yang telah menyelamatkanku dari keadaan Menjadi orang yang terbelenggu dalam kegelapan kubur.

بِأَحْمَدَ الْمَهْدِيِّ النَّبِيِّ الْمُرْتَهَنِ

Dengan perantaraan Ahmad, sang Nabi pemberi petunjuk, Nabi yang diutus membawa petunjuk.

[Referensi: as-Siirah an-Nabawiyah  2/71 karya Ibnu Hisyam (wafat 213 H), Asad al-Ghoobah karya Ibnu al-Atsir 4/194 no. 3891, Ighotsatul Lahfan karya Ibnu al-Qoyyim 2/969 dan ar-Raudh al-Unuf karya Abu al-Qosim as-Suhaily 4/133].

------

KEEMPAT:

Bentuk-bentuk pengagungan yang menyerupai pengagungan terhadap Ka'bah

Kaum musyrik memberikan kepada berhala-berhala tersebut bentuk-bentuk pengagungan yang tidak layak kecuali bagi Allah dan Baitullah yang suci.

Mereka membangun tempat-tempat khusus untuk berhala-berhala tersebut yang diagungkan sebagaimana Ka'bah, dan menetapkan bagi berhala-berhala itu sbb:

[*] Para penjaga dan pengurus.

[*] Persembahan kurban, sembelihan, dan nazar di sisinya untuk memperoleh manfaat dan menolak mudarat.

[*] Tawaf mengelilinginya dan bertalbiah dari tempat tersebut.

Hal inilah yang diingkari oleh Al-Qur'an terhadap mereka dalam Surah An-Najm melalui firman Allah Ta'ala:

﴿أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ . وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ . أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنثَىٰ . تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ . إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ﴾

“Apakah kalian memperhatikan Al-Laata dan Al-‘Uzza, serta Manat yang ketiga yang lainnya? Apakah bagi kalian anak laki-laki, sedangkan bagi-Nya anak perempuan? Yang demikian itu sungguh merupakan pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kalian dan nenek moyang kalian ada-adakan; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk itu."

Ayat tersebut menjelaskan bahwa berhala-berhala itu hanyalah batu dan nama-nama yang sama sekali tidak memiliki karakteristik rububiyah ataupun kemampuan untuk mendatangkan manfaat dan menolak mudarat.

Kesimpulannya:

Setiap keyakinan, perkataan, atau perbuatan yang mengandung pengingkaran terhadap sifat-sifat rububiyah Allah Ta'ala atau sebagian darinya, atau mengklaim salah satu dari sifat-sifat tersebut terdapat pada selain Allah, merupakan kekufuran dan kemurtadan.

Di antaranya adalah mengklaim diri sebagai Tuhan, sebagaimana yang dikatakan Fir'aun:

﴿أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى﴾

"Akulah Tuhanmu yang paling tinggi." [An-Nazi'at: 24].

Demikian pula mengklaim memiliki kekuasaan untuk mengatur alam semesta tanpa Allah Ta'ala. Orang yang membenarkan klaim semacam ini juga menjadi kafir.

==== 

PENJELASAN LEBIH LUAS BERHALA AL-LAATA

Al-Laata adalah berhala yang disembah oleh Bani Tsaqif.

Disebutkan bahwa Al-Laata berupa sebuah batu yang di atasnya duduk seorang laki-laki yang pada masa dahulu menjual samin dan susu kepada para jamaah haji. Ada pula yang mengatakan bahwa Al-Laata adalah seorang laki-laki yang mengolah sawiq untuk para jamaah haji di atas sebuah batu yang dikenal dengan nama Batu Al-Laata.

Al-Laata adalah seorang laki-laki dari Bani Tsaqif. Ketika ia meninggal, Amr bin Luhayy berkata kepada mereka:

لَمْ يَمُتْ، وَلَكِنْ دَخَلَ فِي الصَّخْرَةِ

"Ia tidak meninggal, tetapi masuk ke dalam batu tersebut."

Sebagian orang berpendapat bahwa Al-Laata adalah sesembahan perempuan (sebagaimana terlihat dari namanya) dan bahwa ia merupakan dewi langit yang disembah oleh bangsa-bangsa Syam akibat perpindahan bangsa Arab Nabath, yang membawa sesembahan-sesembahan mereka ke tempat-tempat yang mereka tinggali.

Namun, al-Bukhari meriwayatkan tentang Al-Laata dalam Shahih-nya:

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, mengenai firman Allah Ta'ala ﴿اللَّاتَ وَالْعُزَّى﴾, ia berkata:

كَانَ اللَّاتُ رَجُلًا يَلُتُّ سَوِيقَ الْحَاجِّ. اهـ

"Al-Laata adalah seorang laki-laki yang mengolah sawiq untuk para jamaah haji." [HR. Bukhori no. 4859]

Artinya, ia mengolah adonan makanan untuk para jamaah haji. Kata tersebut merupakan kata Arab yang digunakan oleh masyarakat pedalaman. Sawiq adalah adonan, sedangkan mengolah sawiq berarti mencampurkannya dengan samin dan menguleninya. Tampaknya Al-Laata adalah seorang laki-laki yang senantiasa berbuat baik, mengolah adonan untuk para jamaah haji dan memberi mereka makanan sebagai bentuk penghormatan kepada mereka. Ketika ia meninggal, mereka mengagungkannya dan menetap di sekitar kuburnya, kemudian menjadikannya sebagai sesembahan. Disebutkan pula bahwa nama laki-laki tersebut adalah Sirmah bin Ghanam.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas:

«كَانَ يَلُتُّ السَّوِيقَ عَلَى الْحَجَرِ، فَلَا يَشْرَبُ مِنْهُ أَحَدٌ إِلَّا سَمِنَ فَعَبَدُوهُ»

"Ia mengolah sawiq di atas batu. Tidak seorang pun meminumnya kecuali menjadi gemuk. Maka mereka menyembahnya." [Lihat: Fathul Bari 8/612 dan Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 27/357]

Sa'id bin Manshur dan al-Fakihi meriwayatkan dari Mujahid:

«كَانَ اللَّاتُ رَجُلًا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ لَهُ غَنَمٌ، فَكَانَ يَسْلُو مِنْ رِسْلِهَا، وَيَأْخُذُ مِنْ زَبِيبِ الطَّائِفِ وَالْأَقِطِ، فَيَجْعَلُ مِنْهُ حَيْسًا، وَيُطْعِمُ مَنْ يَمُرُّ مِنَ النَّاسِ، فَلَمَّا مَاتَ عَبَدُوهُ وَقَالُوا: هُوَ اللَّاتُ. وَكَانَ يَقْرَأُ اللَّاتَّ مُشَدَّدَةً».

"Al-Laata adalah seorang laki-laki pada masa jahiliah. Ia memiliki kambing. Ia memerah susunya, mengambil kismis dari Thaif dan aqith, lalu membuat hais dari bahan-bahan tersebut. Ia memberikan makanan kepada orang-orang yang lewat. Ketika ia meninggal, mereka menyembahnya dan berkata, 'Dialah Al-Laata.' Ia membacanya dengan mentasydidkan huruf ta, yaitu Al-Laatta." [Lihat: Fathul Bari 8/612 dan Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 27/357]

Penampilan dan Keyakinan

Al-Laata dikenal oleh sebagian besar bangsa yang mendiami wilayah utara Jazirah Arab. Penyembahan terhadapnya kemudian berpindah kepada orang-orang Arab di Makkah melalui perdagangan Elaf Quraisy ﴿رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ﴾ (perjalanan musim dingin dan musim panas) yang dilakukan oleh para pedagang Makkah.

Penyembahan terhadapnya muncul lebih belakangan dibandingkan penyembahan terhadap dewi Manat.

[•] Di Hijaz:

Di kalangan bangsa Arab, Al-Laata berbentuk sebuah batu putih berbentuk persegi yang memiliki ukiran. Ada yang mengatakan bahwa batu tersebut merupakan meteorit yang jatuh ke bumi atau batu vulkanik.

Al-Laata dikaitkan dengan langit, matahari, dan musim panas. Bangsa Arab mengatakan bahwa Al-Laata dan Al-Uzza adalah putri-putri Allah (dewi-dewi), serta bahwa Allah beristirahat pada musim panas di Al-Laata karena udara Thaif yang sejuk dan menjalani musim dingin bersama Al-Uzza karena panasnya Tihamah.

• Di kalangan bangsa Nabath:

Mereka menyebutnya "Al-Lata «اللَّتَ»", sebagaimana disebutkan dalam prasasti-prasasti Nabath yang ditemukan di Tadmur, Salakhad, dan Al-Hijr.

Ia dianggap sebagai dewi rumah.

Disebutkan bahwa putra Ratu Az-Zabba dari suaminya, Udzainah, bernama Wahb Al-Lat. Mereka diduga melambangkannya dengan bintang Venus.

• Di kalangan bangsa Asyur: Ketika penyembahan terhadap Al-Laata masuk ke wilayah Suriah, mereka mengaitkannya dengan dewa Hadad, dewa penurun hujan.

Ritual-Ritual Penyembahan

Al-Laata memiliki sebuah bangunan yang didirikan di Thaif yang didatangi oleh orang-orang Arab. Penduduk Thaif menjadikan bangunan tersebut sebagai tandingan bagi Ka'bah dan menyebutnya Bait ar-Rabbah (Rumah Rabb Perempuan /Sang Dewi).

Bangunan itu memiliki kiswah dan para penjaga.

Pengelolaan tempat tersebut berada di tangan keluarga Abu al-'Ash bin Abi Yasar bin Malik dan Bani 'Attab bin Malik. Keduanya merupakan keluarga kaya dari Bani Tsaqif. Al-Laata juga memiliki sebuah lembah yang mereka sebut Haram ar-Rabbah (Rabb Perempuan).

Pepohonannya tidak boleh ditebang, binatangnya tidak boleh diburu, dan siapa saja yang memasukinya akan mendapatkan keamanan. Bangsa Arab mengagungkan Al-Laata dan berusaha mendekatkan diri kepadanya. Orang-orang Tsaqif, apabila pulang dari perjalanan, pergi menuju Al-Laata untuk menyampaikan rasa syukur kepadanya.

Di bawah batu Al-Laata terdapat sebuah lubang yang digunakan untuk menyimpan kurban, hadiah, dan harta yang dipersembahkan kepadanya. Bangsa Arab menyebut setiap lubang yang digunakan untuk meletakkan hadiah dan kurban dengan istilah "ghabghab «الْغَبْغَبَ»".

Hadiah-hadiah tersebut berupa perhiasan, pakaian, dan barang-barang berharga lainnya.

Cara mempersembahkannya adalah dengan menggantungkan benda-benda yang dapat mereka gantungkan pada batu tersebut, sedangkan sisanya diberikan kepada para penjaga.

Benda yang paling banyak digantungkan adalah kalung dan pedang. Hal ini merupakan kebiasaan bangsa Arab secara umum terhadap seluruh sesembahan mereka, bukan ritual khusus untuk Al-Laata.

Mereka juga bersumpah dengan menyebut nama Al-Laata dan sering kali menyandingkannya dengan Al-Uzza ketika bersumpah, dengan mengatakan:

"Demi Al-Laata dan Al-Uzza,"

Atau sebagaimana dalam syair Aus bin Hajar:

"Demi Al-Laata dan Al-Uzza serta orang-orang yang mengikuti agama keduanya."

Dalam peperangan, pasukan membawa Al-Laata di dalam sebuah kubah dan mendirikan tempat untuknya di perkemahan. Hal itu dilakukan untuk mendorong para pejuang agar tetap bertahan dan menumbuhkan keberanian dalam diri mereka.

Quraisy juga membawa Al-Laata dan Al-Uzza dalam Perang Uhud.

Tempat yang dahulu digunakan untuk menyembah Al-Laata kini berada di dalam sebuah masjid. Berhala Al-Laata dahulu berdiri di lokasi menara sebelah kiri Masjid Thaif.

Mereka juga menyembahnya di tempat-tempat lain, seperti di Nakhlah dekat Pasar Ukaz, dan mereka juga menyembahnya di dekat Ka'bah.

Al-Laata memiliki tempat-tempat pemujaan lainnya di Hijaz maupun di luar Hijaz. Ia juga memiliki sebuah kuil yang terletak di kawasan barat Kota Tadmur, yang keberadaannya di sana diperkirakan berasal dari abad kedua Masehi.

Penyembahan terhadap Al-Laata masih ada hingga sekarang dalam komunitas keagamaan pribumi Siberia yang disebut "Lingkaran Para Pengabdi Dewi Al-Lat" «دَائِرَةُ الْمُخَلِّصِينَ لِلْإِلَهَةِ اللَّاتِ».

Setelah Islam Datang

Ketika Nabi Muhammad ﷺ datang membawa dakwah tauhid, beliau menyeru agar penyembahan terhadap berhala ditinggalkan hingga beliau wafat. Para pengikut Muhammad turut membantu menyebarkan dakwah tersebut. Hal ini sebagaimana terlihat dalam dialog antara Thalhah dan Abu Bakar. Thalhah mengajak Abu Bakar untuk menyembah Al-Laata dan Al-Uzza.

Abu Bakar bertanya kepadanya:

«وَمَنْ هُنَّ؟»

"Siapakah mereka?"

Thalhah menjawab:

إنَّهُنَّ «بَنَاتُ اللهِ»

Bahwa keduanya adalah "putri-putri Allah".

Kemudian Abu Bakar bertanya:

«وَمَنْ أُمُّهُنَّ؟»

"Lalu siapa ibu mereka?"

Thalhah dan para sahabatnya tidak dapat memberikan jawaban. Setelah itu, Thalhah menyatakan masuk Islam.

Al-Qur'an mengkritik keyakinan tersebut dengan firman Allah Ta'ala:

﴿أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ (١٩) وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ (٢٠) أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَىٰ﴾

"Maka apakah kalian memperhatikan Al-Laata dan Al-Uzza, dan Manat yang ketiga, yang lainnya? Apakah untuk kalian anak laki-laki, sedangkan untuk-Nya anak perempuan?" (QS. An-Najm: 19–21).

Al-Qur'an menganggap pembagian ini tidak adil, karena Quraisy memberikan anak laki-laki untuk diri mereka sendiri, sedangkan mereka menisbatkan anak-anak perempuan kepada Allah.

Rasulullah ﷺ menyeru kepada peng-esaan dan pengagungan Allah serta meninggalkan sesembahan-sesembahan selain-Nya, sebagaimana terlihat dalam firman Allah Ta'ala:

﴿وَلَا تَجْعَلُوا مَعَ اللهِ إِلَهًا آخَرَ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ﴾.

"Janganlah kalian menjadikan sesembahan lain bersama Allah. Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata dari-Nya kepada kalian." (Adz-Dzariyat: 51)

Orang-orang Quraisy yang tidak memeluk Islam menolak tindakan mengesampingkan sesembahan-sesembahan mereka. Mereka menjauhi dan menentang Muhammad dalam dakwahnya. Nabi Muhammad membacakan Al-Qur'an kepada Quraisy.

Beliau ﷺ membaca:

﴿أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ، وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ﴾

"Maka apakah kalian memperhatikan Al-Laata dan Al-Uzza, dan Manat yang ketiga, yang lainnya?"

Hingga firman Allah Ta'ala di akhir surah:

﴿فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا﴾

"Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah Dia."

Nabi ﷺ kemudian bersujud dan orang-orang Quraisy juga ikut bersujud sebagai bentuk pengagungan kepada Allah.

Ketika berita tersebut tersebar di kalangan bangsa Arab dan sebagian orang mengklaim bahwa Quraisy telah meninggalkan agama nenek moyang mereka dan mengikuti Muhammad, orang-orang Quraisy mengingkari hal tersebut. Mereka kemudian mengatakan bahwa mereka bersujud karena mendengar penyebutan sesembahan-sesembahan mereka.

Al-Laata juga disebutkan setelah kekalahan penduduk Thaif dalam Perang Hunain, ketika salah seorang perempuan Muslim menyebutnya dalam sebuah syair:

«قَدْ غَلَبَتْ خَيْلُ اللهِ خَيْلَ اللَّاتِ وَاللهُ أَحَقُّ بِالثَّبَاتِ»

"Pasukan Allah telah mengalahkan pasukan Al-Laata, dan Allah lebih berhak untuk menjadi tempat keteguhan."

Ketika Rasulullah ﷺ menaklukkan Makkah, beliau mengutus Al-Mughirah bin Syu'bah dan Abu Sufyan ke tempat Al-Laata di Thaif. Ketika mereka tiba, Al-Mughirah bin Syu'bah hendak meminta Abu Sufyan untuk maju terlebih dahulu, tetapi Abu Sufyan menolaknya seraya berkata:

«ادْخُلْ أَنْتَ عَلَى قَوْمِكَ»

"Masuklah engkau kepada kaummu sendiri."

Abu Sufyan kemudian tetap tinggal bersama hartanya di Dzu al-Hadm. Ketika Al-Mughirah bin Syu'bah masuk, ia menaiki tempat Al-Laata dan menghancurkannya dengan beliung.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abu Sufyan tidak tinggal di Dzu al-Hadm, tetapi masuk bersama Al-Mughirah dan menyaksikan penghancuran Al-Laata. Ia melihat Al-Mughirah menghancurkannya dengan beliung seraya berkata:

«وَاهَا لَكِ! آَهَا لَكِ!»

"Ah, sungguh sayang engkau! Ah, sungguh sayang engkau!"

Kaum Al-Mughirah, yaitu Bani Mu'attib, berdiri melindunginya karena khawatir ia akan dilempari atau mengalami sesuatu sebagaimana yang dialami Urwah. Rumah Al-Laata kemudian dibakar dan batu-batunya dirobohkan. Orang-orang menyaksikan dengan ketakutan karena khawatir sesembahan mereka akan membalas. Para perempuan keluar dengan kepala terbuka sambil menangisinya dan melantunkan syair:

أَلَا ابْكِينَ دُفَّاعَ *** أَسْلَمَهَا الرُّضَّاعُ.

لَمْ يُحْسِنُوا الْمِصَاعَ.

"Ketahuilah, tangisilah Duffa'!

Yang telah ditinggalkan oleh orang-orang yang menyusui.

Mereka tidak pandai dalam peperangan."

Setelah penghancuran selesai dan tidak terjadi sesuatu apa pun, Al-Mughirah mengambil harta, perhiasan emas, dan perhiasan lainnya, lalu menyerahkannya kepada Abu Sufyan.

Mengenai penghancuran dan pembakaran rumah Al-Laata tersebut, Syaddad bin 'Aridh Al-Jusyami berkata sambil melarang Bani Tsaqif kembali kepada Al-Laata dan marah demi membelanya:

لَا تَنْصُرُوا اللَّاتَ إِنَّ اللهَ يُهْلِكُهَا وَكَيْفَ نَصْرُكُمُ مَنْ لَيْسَ يَنْتَصِرُ؟

إِنَّ الَّتِي حُرِّقَتْ بِالنَّارِ وَاشْتَعَلَتْ وَلَمْ يُقَاتَلْ لَدَى أَحْجَارِهَا هَدَرُ.

"Janganlah kalian menolong Al-Laata, karena sesungguhnya Allah akan membinasakannya. Bagaimana mungkin kalian menolong sesuatu yang tidak mampu menolong dirinya sendiri?

Sesungguhnya sesuatu yang dibakar dengan api hingga menyala, sementara tidak ada seorang pun yang berperang untuk membela batu-batunya, telah menjadi sia-sia."

Nabi ﷺ juga telah mengabarkan bahwa penyembahan terhadap Al-Laata dan Al-Uzza akan kembali dilakukan. Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya:

«لَا يَذْهَبُ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ حَتَّى تُعْبَدَ اللَّاتُ وَالْعُزَّى». فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ! إِنْ كُنْتُ لَأَظُنُّ حِينَ أَنْزَلَ اللهُ: ﴿هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ﴾ [٩ / التَّوْبَةِ / ٣٣] وَ[٦١ / الصَّفِّ / ٩] أَنَّ ذَلِكَ تَامًّا، قَالَ: «إِنَّهُ سَيَكُونُ مِنْ ذَلِكَ مَا شَاءَ اللهُ. ثُمَّ يَبْعَثُ اللهُ رِيحًا طَيِّبَةً. فَتُوَفِّي كُلَّ مَنْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ. فَيَبْقَى مَنْ لَا خَيْرَ فِيهِ. فَيَرْجِعُونَ إِلَى دِينِ آبَائِهِمْ».

"Malam dan siang tidak akan berlalu hingga Al-Laata dan Al-Uzza kembali disembah."

Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, ketika Allah menurunkan firman-Nya:

'Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk memenangkannya atas seluruh agama, meskipun orang-orang musyrik tidak menyukainya' (At-Taubah: 33 dan Ash-Shaff: 9).

Aku mengira bahwa hal tersebut telah sempurna."

Beliau ﷺ bersabda:

"Akan terjadi dari hal tersebut apa yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengirimkan angin yang baik. Lalu angin itu mewafatkan setiap orang yang di dalam hatinya terdapat keimanan meskipun seberat biji sawi. Setelah itu, yang tersisa hanyalah orang-orang yang tidak memiliki kebaikan. Mereka pun kembali kepada agama nenek moyang mereka."

===***===

KATA RABB KADANG DIGUNAKAN PULA UNTUK KATA ILAH, DAN SEBALIKNYA.

Allah SWT berfirman:

﴿وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ﴾

Dan (ingatlah), ketika Rabb kalian (Tuhan kalian) mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Rabb kalian (Tuhan kalian)?"

Mereka menjawab: "Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi".

(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", [Araf: 172]

Dari al-Bara’ bin ‘Azib, ia berkata:

قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ، وَذَكَرَ قَبْضَ رُوحِ الْمُؤْمِنِ، فَقَالَ: «يَأْتِيهِ آتٍ، يَعْنِي فِي قَبْرِهِ، فَيَقُولُ: مَنْ رَبُّكَ؟ وَمَا دِينُكَ؟ وَمَنْ نَبِيُّكَ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللهُ، وَدِينِيَ الْإِسْلَامُ، وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ ﷺ». قَالَ: «فَيَنْتَهِرُهُ، فَيَقُولُ: مَا رَبُّكَ؟ وَمَا دِينُكَ؟ وَهِيَ آخِرُ فِتْنَةٍ تُعْرَضُ عَلَى الْمُؤْمِنِ، فَذَلِكَ حَيْثُ يَقُولُ اللهُ: ﴿يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ﴾ [إِبْرَاهِيمَ: 27]، فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللهُ، وَدِينِيَ الْإِسْلَامُ، وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ، فَيُقَالُ لَهُ: صَدَقْتَ».

Rasulullah ﷺ menyebutkan tentang pencabutan ruh seorang mukmin, lalu beliau bersabda: «Seorang yang datang akan mendatanginya, yaitu di dalam kuburnya, lalu berkata: “Siapa Rabbmu? Apa agamamu? Dan siapa nabimu?” Ia menjawab: “Rabbku adalah Allah, agamaku adalah Islam, dan nabiku adalah Muhammad ﷺ.”»

Beliau bersabda: «Lalu orang itu membentaknya dan berkata: “Siapa Rabbmu? Dan apa agamamu?” Pertanyaan tersebut merupakan fitnah terakhir yang dihadapkan kepada seorang mukmin. Inilah yang dimaksud dalam firman Allah: "Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat." [Ibrahim: 27] Lalu ia menjawab: “Rabbku adalah Allah, agamaku adalah Islam, dan nabiku adalah Muhammad.” Kemudian dikatakan kepadanya: “Engkau benar.”»

Diriwayatkan oleh al-Bukhari (1369), Muslim (2871), at-Tirmidzi (3120), an-Nasa’i (2057), Ibnu Majah (4269), dan Ahmad (18575) secara ringkas, serta Abu Dawud (4753) secara panjang.

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ».

«Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan shalat, serta menunaikan zakat. Apabila mereka telah melakukan hal tersebut, maka mereka telah menjaga darah dan harta mereka dariku, kecuali dengan hak Islam. Adapun perhitungan mereka menjadi urusan Allah.»

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya, no. 25, dan Muslim dalam Shahih-nya, no. 22.

Dan juga dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، ثُمَّ حُرِّمَتْ عَلَيَّ دِمَاؤُهُمْ وَأَمْوَالُهُمْ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ».

«Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat. Kemudian darah dan harta mereka menjadi terjaga dariku, sedangkan perhitungan mereka menjadi urusan Allah.»

Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (2248). Al-Albani berkata:

إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ، رِجَالُهُ ثِقَاتٌ.

“Sanadnya shahih, para perawinya tsiqah.”

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhuma, ia berkata:

بَعَثَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ إِلَى الْحُرَقَةِ مِنْ جُهَيْنَةَ، فَصَبَّحْنَا الْقَوْمَ فَهَزَمْنَاهُمْ، وَلَحِقْتُ أَنَا وَرَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ رَجُلًا مِنْهُمْ، فَلَمَّا غَشِينَاهُ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، فَكَفَّ عَنْهُ الْأَنْصَارِيُّ، وَطَعَنْتُهُ بِرُمْحِي حَتَّى قَتَلْتُهُ، قَالَ: فَلَمَّا قَدِمْنَا بَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ ﷺ، فَقَالَ لِي: «يَا أُسَامَةُ، أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ؟!» قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّمَا كَانَ مُتَعَوِّذًا، قَالَ: فَقَالَ: «أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ؟!» قَالَ: فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ الْيَوْمِ.

Rasulullah ﷺ mengutus kami menuju al-Huraqah dari Juhainah. Kami menyerang mereka pada pagi hari dan berhasil mengalahkan mereka. Aku dan seorang laki-laki dari kalangan Anshar mengejar seorang laki-laki dari mereka. Ketika kami telah mendekatinya, ia mengucapkan, "Laa ilaaha illallah." Orang Anshar tersebut menahan diri untuk tidak membunuhnya, sedangkan aku menusuknya dengan tombakku hingga aku membunuhnya.

Usamah berkata: Ketika kami telah kembali, berita tersebut sampai kepada Nabi ﷺ. Beliau berkata kepadaku, «Wahai Usamah, apakah engkau membunuhnya setelah dia mengucapkan, "Laa ilaaha illallah"?»

Aku menjawab, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia mengucapkannya hanya untuk melindungi dirinya." Beliau kembali bersabda, «Apakah engkau membunuhnya setelah dia mengucapkan, "Laa ilaaha illallah"?»

Usamah berkata: Beliau terus mengulang-ulang pertanyaan tersebut kepadaku hingga aku berharap seandainya aku belum masuk Islam sebelum hari itu.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari (4269) dan Muslim (96).

Dalil-dalil diatas merupakan pernyataan yang jelas bahwa kata rabb di gunakan untuk kata ilaah, dan sebaliknya.

Oleh sebab itu, Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi, Ibnu Taimiyah, Syeikh Bin Baz, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamad al-'Abbad al-Badr dan Syeikh ‘Alwi bin Abdul Qodir as-Saqoof sepakat mengatakan:

«تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ مُسْتَلْزِمٌ لِتَوْحِيدِ الْأُلُوهِيَّةِ. وَتَوْحِيدُ الْأُلُوهِيَّةِ مُتَضَمِّنٌ لِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ»

«Tauhid rububiyah mengharuskan adanya tauhid uluhiyah. Dan tauhid uluhiyah mengandung tauhid rububiyah»

 

 

 


Posting Komentar

0 Komentar