Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

SEJARAH SINGKAT AWAL PENULISAN HADITS DAN SEBAB MUNCULNYA ILMU JARH WA TA'DIL

 SEKILAS SEJARAH PENULISAN HADITS DAN AWAL SEBAB MUNCULNYA HADITS PALSU

----

Di Tulis Oleh Abu Haitsam Fakhry

Pada Tahun 2001 M

----


=

Bismillah

===***===

PENDAHULUAN

Hadist atau sunnah Nabi ﷺ adalah sesuatu yang di sandarkan kepada Nabi ﷺ baik ucapan, perbuatan, ketetapan, sifat fisik, akhlak maupun biografi/ perjalanan hidup beliau, sebelum di utus atau sesudahnya.

Hadist adalah wahyu Ilahi, maka ia seperti Al-Qur'an al-Karim dari sisi kedua-duanya adalah wahyu Ilahi. Adapun perbedaannya adalah: Al-Quran adalah wahyu Ilahi baik kalimatnya maupun kandungannya. Sementara hadist hanya kandungannya saja wahyu Ilahi, sedangkan kalimatnya bukan wahyu.

Dengan demikian hadist atau sunnah harus kita ikuti dan amalkan, ia adalah hujjah dan sebagai dasar pijakan hukum karena ia adalah sumber asli setelah Al-Qur'an untuk menentukan hukum-hukum syari'ah/ agama. Banyak sekali nash-nash Al-Quran yang mengharuskan umat manusia agar mengikuti sunnah-sunnah Nabi ﷺ, bahkan telah menjadi Ijma/ kesepakatan umat islam tanpa ada perbedaan pendapat akan hal tersebut .

===***===

PENGUMPULAN DAN PENYUSUNAN HADIST-HADIST NABI ﷺ .

Pada zaman Rosulullah ﷺ belum ada penulisan dan penyusunan hadist-hadistnya, dan Rosulullah ﷺ sendiri tidak mengangkat para penulis untuk mencatat segala informasi yang datang dari beliau, kecuali penulisan Al-Qur'an, maka untuk Al-Quran beliau telah menyiapkan sejumlah penulis ayat-ayat yang di wahyukan padanya. Seperti halnya Rosulullah ﷺ tidak memerintahkan untuk menulis hadist-hadist tersebut, bahkan beliau pada awalnya sempat melarang penulisan hadist, namun kemudian membolehkannya bagi siapa saja yang berkehendak menulis hadist yang dia ingini.

Diantara mereka yang sempat menulis sebagian hadist-hadist Nabi tersebut adalah sahabat Abdullah bin 'Amr bin 'Ash, seperti yang di riwayatkan Imam Ahmad  dalam kitabnya al-Musnad dari beliau, berkata:

"Dulu aku menulis apa saja yang saya dengar dari Rosulullah ﷺ, karena aku ingin menghafalkannya, hingga orang-orang Qureisy melarangku, dan mereka berkata: "Sungguh kamu telah menulis segala sesuatu yang kamu dengar dari Rosulullah ﷺ, sementara Beliau adalah manusia, beliau berbicara kadang sedang marah dan kadang sedang ridlo", maka aku pun berhenti menulisnya, kemudian aku ceritakan hal tersebut kepada Rosulullah ﷺ, maka beliau ﷺ menjawab:

"Tulis lah, demi Dzat yang jiwa ku ada di tangan Nya, tidak sekali-kali (ucapan) keluar dari ku kecuali benar". (Selesai)

Meski belum ada penulisan dan penyusunan hadist-hadist di masa kenabian, namun hadist-hadist tersebut tersimpan dan terjaga di dada-dada para sahabat yang mulia, masing-masing dari mereka menghafal sebagian sabda-sabda Nabi ﷺ, mereka saling berbagi ilmu dan informasi, mereka yang luput hadir di saat Rosulullah ﷺ menyampaikan sebagian ilmu, maka sahabat yang hadir mengajarkan nya kepada yang lain yang tidak hadir, dan mereka menyampaikan kepada yang lain apa-apa yang telah di dengar dan di lihat dari Nabi ﷺ. Dengan demikian hadist-hadist tersebut tidak ada yang hilang.

Tidak adanya penulisan dan penyusunan hadist-hadist tersebut berlangsung hingga pada masa Khulfaur Rosyidin Abu Bakar, Umar bin Khottob, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhum. Umat Islam pada saat itu mendapatkan hadist-hadist dengan cara dari lisan ke lisan dan mendengar dari yang lain. Di ceritakan pula bahwa Umar bin Khoththob berkehendak untuk mencatatnya namun tidak terlaksanakan.

Dan pada zaman Kholifah Umar bin Abdul Aziz al-Umawi (61H - 101H), telah di mulai usaha untuk mengumpulkan hadist-hadist Nabi ﷺ. Maka beliau menulis surat perintah kepada Qodli nya di Madinah al-Munawwaroh yang bernama Abu Bakar Muhammad bin 'Amr bin Hazem, yang bunyinya:

"Perhatikan lah jika di ketemukan hadist Rosulullah ﷺ atau Sunnah, maka catatlah!, sesungguhnya aku khawatir akan terkikis nya ilmu dan hilangnya para ulama"

Namun sebelum keinginan Umar bin Abdul Aziz di laksanakan, beliau keburu wafat.

Di masa dinasti khilafah Abbasiyah, para ulama mulai mengumpulkan dan menyusun hadist-hadist Nabi ﷺ, namun penyusunannya tersebut campur aduk dengan kata-kata para sahabat dan fatwa-fatwanya.

Ulama-ulama yang menyusun seperti ini adalah:

1] Sufyan al-Tsaury ( 91H – 161 H ) di Kufah

2] Al-Laits bin Saad (94H – 175 H ) di Mesir.

3] Dan Malik bin Anas (93H – 179H) di Madinah.

Akan tetapi karya-karya mereka tersebut yang sampai kepada kita hanya sedikit sekali.

Barang kali yang paling lengkap sampai kepada kita adalah kitab Al-Muwatho karya Imam Malik, yang di dalam nya terdapat hadist-hadist Nabi ﷺ, fatwa-fatwa para sahabat dan hukum-hukum peradilannya, bahkan di temukan di dalam nya kata-kata para tabi'in dan pendapat-pendapat nya yang mereka tarjih / tetap kan ketika terjadi ada perbedaan pendapat.

Di akhir abad ke II Hijriyah, arah gerak para ulama dalam pengumpulan hadist terfokus pada penelitian dan proses pemilahan antara hadist Nabi ﷺ dan lainnya. Dalam hal ini mereka menempuh teori penyusunan dengan sistem MASANID, artinya: pengelompokan hadist-hadist yang di riwayatkan oleh masing-masing sahabat dalam satu bab, meski kandungannya berbeda-beda tidak dalam satu topik pembahasan.

Kemudian lahirlah teori baru dalam penyusunan hadist, yaitu penyusunan yang di sesuaikan dengan urutan bab-bab Fiqh. Teori ini mempermudah kerja bagi para ahli Fiqh; karena terhampar di hadapannya dalam satu bab semua hadist yang erat hubungannya dengan pembahasan Fiqh yang mereka teliti dan mereka inginkan. Kitab-kitab yang di susun sesuai teori tersebut adalah:

1]- Sahih Bukhori karya Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhori (194H-256H)

2]- Sahih Muslim karya Muslim bin Hajjaaj bin Muslim (206 H – 261H)

3]- Sunan Abu Daud karya Sulaiman bin al-Asy’ats al-Azdy as-Sajastaany (102H – 275 H)

4]- Dan lain lain.

===***===

LAHIRNYA ILMU JARH WA TA'DIL

(Ilmu studi kritis terhadap orang-orang yang terlibat dalam rangkaian periwayatan hadist)

Para ulama hadist telah melakukan kagiatan luar biasa yang membawa berkah bagi umat Islam dan terpeliharanya syariat ini dari pemalsuan dan pendustaan, karena mereka telah menciptakan sebuah karya keilmuan yang di kenal dengan ilmu JARH WA TA'DIL atau ILMU RIJAL. 

Ilmu ini tidak ada duanya, hanya di miliki umat Islam, dan tidak ada tandingannya serta tidak di ketemukan pada umat-umat lainnya. Ilmu ini bertujuan untuk mengungkap tentang sepak terjang para perowi hadist dan membongkar kebenaran atas kebohongan dan sebagai tolak ukur antara riwayat yang ngawur dan tidak, yang benar-benar terpercaya dan yang tercoreng dengan berbagai macam sifat yang tidak layak untuk di terima riwayatnya.

Ada pun yang melatar belakangi lahir ilmu yang agung ini, yaitu di sebabkan banyaknya musuh-musuh Islam yang berkeinginan sekali untuk melakukan tipu daya terhadap Islam dan keberhasilan dalam target utamanya dan memperkeruh makna-makna Islam dengan cara menciptakan berita-berita palsu yang di sandarkan kepada Nabi ﷺ serta menyusun para perawi hadist palsu untuk menimbulkan keraguan terhadap seluruh perowi dan memporak porandakan kepercayaan terhadap keabsahan hadist-hadist Nabi ﷺ yang pada gilirannya mereka umat Islam akan berpaling darinya.

Rekayasa keji yang mereka lakukan telah menggugah para pakar hadist, maka sekelompok dari mereka bangkit untuk menguak dan membongkar makar tersebut, mereka ciptakan Ilmu JARH WA TA'DIL yang dengan nya bisa di bedakan antara yang palsu dengan yang benar.

Ilmu ini berfungsi untuk menulusuri biografi para perowi secara rinci dan luas, bahkan extra teliti dalam hal yang berkaitan dengan kecenderungan kepribadian mereka, sifat-sifat nya, prilakunya, masa pertumbuhannya dan aqidah nya.

Para ulama tersebut telah menyumbangkan tenaga dan karya yang luar biasa sekali, mereka telah bersusah payah dengan banyak melakukan perjalanan jauh beribu-ribu mil untuk melakukan survei, observasi dan interview untuk mengumpulkan biodata perowi. Mereka pelajari sepak terjangnya, perjalanan hidupnya,  karakternya dan lain lain.

Para ulama JARH WA TA'DIL dalam risetnya terhadap para perawi, mereka betul-betul ikhlas dan obyektif, bebas dari hawa nafsu dan kepentingan pribadi. Mereka tidak terpengaruh oleh ikatan persahabatan, perkerabatan atau fanatik daerah dan madzhab; karena di mata mereka hadist-hadist Nabi ﷺ lebih tinggi kedudukannya dan lebih berharga dari segalanya .

Mereka tidak pernah memperdulikan resiko yang akan menimpanya dalam penelitian karakter perowi hadist nabi ﷺ, yang terpenting bagi dirinya sampai kepada tujuan hakiki dan memastikan akan sifat-sifat perowi tersebut dan mengetahui sejauh mana tingkat keterpercayaan dan kevalidannya dalam hafalan, pemeliharaan dsb.

Jika pakar peneliti rowi tersebut selesai mempelajari karakter rowi tersebut dan sampai kepada tujuan nya, maka beliau memberi tanda bagi perowi tersebut dalam catatannya. Maka dia tulis dalam bukunya, contohnya:

1] Si fulan Tsiqoh (dipercaya).

2] Si fulan ‘adil (bijak).

3] atau si fulan layyin (lembut/ agak lemah).

4] si fulan la ba'sa bihi (oke-oke saja hadist nya).

5] atau "si fulan kadzab (pendusta)".

6] atau si fulan buruk hafalannya

7] atau si fulan sekarang lemah hafalannya setelah lanjut usia .

Penelitian yang betul-betul obyektif, extra teliti dan hati-hati yang bersih dari hawa nafsu dan di sertai rasa taqwa takut dan ikhlas karena Allah SWT, di dukung dengan kemauan yang keras untuk menyelamatkan hadist-hadist sohih dari berbagai macam kotoran, maka dengan pertolongan Allah SWT mereka mampu membedakan hadist sohih dari hadist dusta dan palsu, serta mereka mampu menjegal makar musuh-musuh Islam yang sangat berkeinginan merobohkan nya dengan cara memporak porandakan Sunnah atau hadist, serta memasuk kan keraguan di dalamnya dan memalingkan umat Islam dari nya.

Sesungguhnya ilmu ini (ilmu JARH WA TA'DIL) akan terus menjadi ilmu yang bermanfaat, di butuhkan oleh umat Islam di sepanjang masa, terutama di zaman kita sekarang, di saat para oriantalis dan sebagian umat islam yang sudah teracuni oleh pemikiran mereka berlomba-lomba untuk berusaha melakukan berbagai macam penyerangan terhadap hadist-hadist Nabi ﷺ dan para perowi hadist, termasuk terhadap para sahabat Nabi ﷺ, mereka melontarkan bebagai macam bentuk keraguan terhadapnya dengan strategi yang halus, lembut, terselubung, namun beracun ganas, mereka menampakakn dirinya seolah-olah cendikiawan andal yang obyektif.

Oleh sebab itu sudah menjadi keharusan bagi setiap muslim untuk menghadang gerakan orientalis-orientalis tersebut yang sengaja mereka ingin menanamkan rasa keraguan bagi para pengikut sunnah Nabi ﷺ serta para periawayatnya. Kita hadang mereka dengan kembali merujuk kitab-kitab karya ulama JARH WA TA'DIL agar kita semakin tahu hakikat sebenarnya tentang masing-masing para periwayat Sunnah, di sana di jelaskan dengan gamblang mana perowi yang jujur dipercaya dan mana yang pembohong lagi tidak dipercaya.

Yang demikian itu tidak di ketemukan dalam buku-buku karya orientalis-orientalis tersebut yang sebenarnya mereka sangat mendustakan kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad ﷺ.

Kita hanya bisa menemukan kebenaran di dalam kitab-kitab karya para pengikut Sunnah, dan mereka yang telah berkhidmat untuk menjaga sunnah-sunnah tersebut serta mengimaninya, yaitu ulama-ulama pakar hadist terutama pakar JARH WA TA'DIL seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Bukhori, Imam Muslim, Yahya bin Ma'in, Ali Al-Madiny, Abu Zur'ah, Ibnu Abi Hatim ar-Razy, Adz-Dzahaby, Ibnu Hajar al-Asqolany dan lain lain. 

===***===

GERAKAN PEMALSUAN HADIST-HADIST NABI ﷺ, BAHAYANYA DAN DAMPAKNYA:

Hadist palsu adalah hadist yang dibikin-bikin, dan para ulama hadist menganggapnya sebagai hadist-hadist dho'if yang terburuk.

Adapun orang-orang pembikin hadist palsu adalah mereka yang sengaja melakukan kebohongon, bukan karena salah hafalan, dan bukan karena mereka meriwayatkan dari para pendusta.

Pemalsuan hadist belum pernah terjadi pada zaman Nabi ﷺ. Dan tidak diragukan lagi akan kokohnya ikatan para sahabat dengan Islam, dan apa-apa yang telah mereka persembahkan dengan berbagai macam pengorbanan yang luar biasa, baik dengan jiwanya, hartanya dan anak-anak nya, betul-betul ikhlas, bersih, jujur dan bijak.

Sahabat Barra bin 'Azib radhiyallahu ‘anhu berkata:

"Tidak semua hadist Rosulullah ﷺ yang kami sampaikan kepada kalian, kami dapatkan langsung dengan mendengar dari beliau ﷺ, tapi sebagian kami mendengarkannya langsung darinya dan sebagian lain kami dapatkan lewat sahabat-sahabat kami yang menyampaikannya kepada kami, dan sesama kami tidak ada yang berbohong". (Lihat: Al-Kamil karya Ibnu 'Adey 1/50B).

Suatu ketika Anas radhiyallahu ‘anhu menyebutkan sebuah hadist, maka tiba-tiba seseorang bertanya padanya: Apakah kamu mendengarnya dari Rosulullah ﷺ?

Beliau menjawab: Ya atau telah menceritkannya pada ku seseorang yang tidak pernah berbohong, demi Allah kami tidak pernah berbohong, bahkan kami tidak tahu, bohong itu apa?

Dan Anas radhiyallahu ‘anhu selalu marah jika di tanya tentang hadist, apakah dia mendengarnya dari Nabi ﷺ, dan beliau menjawab: "Dulu sesama kami (para sahabat) tidak ada yang saling berbohong".

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: "Kami dulu selalu menceritakan hadist-hadist dari Rosulullah ﷺ saat tidak ada kebohongan, maka ketika orang-orang di timpa kerumitan dan kerendahan mental, kami meninggalkan penyampaian hadist dari nya ﷺ ".

Begitu pula tidak di ketemukan data yang menunjukan terjadinya pemalsuan hadist pada masa kholifah Abu Bakar dan Umar bin Khottob. Sudah barang tentu dengan banyak nya para sahabat besar dan persatuan umat yang kokoh di masa yang masih dini telah membendung timbulnya gerakan pemalsuan hadist. Padahal dengan adanya gejolak gerakan murtad saat itu cukup mendukung dan memfasilitasi untuk timbulnya pemalsuan hadist, namun tidak ada sumber yang sampai kepada kita yang menunjukan timbulnya gerakan pemalsuan hadist saat itu.

===***===

PENGARUH PERSETERUAN POLITIK TERHADAP GERAKAN PEMALSUAN HADIST:

Pada awal abad petama di pertengahan akhir kekhalifahan Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu (47 SH – 35 H) telah terjadi perpecahan, keretakan dan memanasnya suhu politik yang cukup parah, dikarenakan dendam sebagian kelompok yang berkobar terhadap khalifah Utsman yang telah menyulut fitnah dan mengantarkan terbunuhnya beliau radhiyallahu ‘anhu, yang paling memprihatinkan adalah dampak negatif dari kejadian tersebut pada umat Islam yang terus berkesinambungan, yang telah melahirkan kebencian, kedengkian, dendam kusumat dan telah memperkeruh kejernihan hati dan cara berpikir kebanyakan dari mereka, namun meskipun demikian adanya di masa kholifah Ustman masih hidup  belum di temukan tanda-tanda yang menunjukan adanya gerakan pemalsuan hadist.

Adapun yang di riwayatkan sahabat Abu Tsur al-Fahmy dengan mengatakan:

((Aku datang kepada Utsman, maka Ibnu Udais (orang yang ikut terlibat dalam pembunuhan Ustman) naik mimbar dan berpidato:

"Ketahuilah sesungguhnya Abdullah bin Masud mengatakan padaku bahwa dia mendengar Rosulullah ﷺ bersabda:

‘Ketahulaih sesungguhnya Ustman itu lebih sesat dari budak perempuan diatas suaminya‘.

Maka aku sampaikan hadist tersebut kepada Utsman, maka beliau berkata: Bohong, demi Allah Ibnu Udais tidak mendengar dari Ibnu Masud dan sama sekali Ibnu Masud tidak mendengarnya dari Rosulullah ﷺ )).

Riwayat ini tidak sahih dari sisi sanad, karena terputus, yaitu melalui jalur Ibnu Lahi'ah, dia seorang yang fanatik berat terhadap Syiah, dan dia paling gemar meriwayatkan hal-hal yang negatif tentang kholifah Usman yang sesuai dengan hawa nafsu Ibnu Lahi'ah, dan dia tidak diterima riwayatnya oleh kalangan ahli hadist .

Dengan demikian jelas lah berkembangnya hadist palsu itu terjadi setelah terjadinya perpecahan politik  yang terjadi sesama umat Islam seperti perang Jamal (perang antara pasukan Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu dengan pasukan 'Aisyah radhiyallahu ‘anhu), perang Shiffin (antara pasukan Ali radhiyallahu ‘anhu dan Muawiyah radhiyallahu ‘anhu) dan perang Nahrawan (perang dengan Khawarij).

Kejadian-kejadian ini adalah penyebab utama lahirnya golongan-golongan politik seperti Syiah dan Khawarij. Ketika mereka tidak mampu memutarbalikkan serta mempermainkan ayat-ayat Al-Quran karena Al-Qur'an ini terpelihara dalam hafalan dan telah selesai penulisannya dalam mushaf sebelum terjadi perpecahan politik , maka mereka sudah pasti mengalihkan sasarannya pada selainnya yaitu dengan mempermainkan hadist–hadist Nabi ﷺ dengan menciptakan hadist–hadist sebagai pijakan untuk melegimitasi keinginan dan tujuan mereka. 

Dan itu sangat memungkinkan, karena saat itu pendataan dan pengumpulan hadist-hadits dalam satu tulisan yang di terima atau di sahkan umat Islam belum di mulai. Bahkan masih diperdebatkan di kalangan para ulama sendiri tentang boleh tidaknya penulisan hadist-hadist tersebut, sebagian mereka berpendapat tidak boleh menulisnya, tapi hanya boleh di hafalkan, dan di ajarkan dengan hafalan pula. Dan sebagian lain berpendapat boleh menulis nya.

Di akhir masa khilafah Khulafaur Rosyidin hadist-hadist yang tertulis hanya sedikit di banding dengan yang belum di tulis , maka hal ini adalah celah yang betul-betul di manfaatkan oleh para pengikut hawa nafsu untuk mensukseskan tujuan masing-masing mereka.

Dengan lahirnya banyak golongan dan aliran, membuat semakin subur tumbuhnya hadist-hadist palsu. Terutama di abad kedua dan ketiga telah di ketemukan sangat banyaknya nama-nama para pemalsu hadist yang nama-namanya memadati kitab-kitab yang khusus untuk mendata meraka dan biografinya.

Sungguh benar-benar terjadi, seperti aliran Syiah telah menciptakan banyak hadist-hadist yang berkaitan dengan keutamaan Ali bin Abi Tholib, dan sebaliknya menciptakan hadist-hadist palsu yang merendahkan martabat dan menghina lawan-lawannya terutama terhadap sahabat Mu'awiyan bin Abi Sofyan. Pihak lawan-lawan Syiah pun tidak tinggal diam ketika para imam mereka di rendahkan, maka mereka menciptakan hadist palsu tentang keutamaam mereka, seperti keutamaan Abu Bakar, Umar, Utsman dan Mu'awiyah radhiyallahu ‘anhum sebagai bantahan terhadap Syiah.

Ketika terjadi banyaknya orang-orang yang melecehkan para sahabat, maka sebagian mereka yang mencintai para sahabat segera menciptakan hadist-hadist yang berkenaan dengan keutaman dan kemuliaan masing-masing sahabat.

Hadist-hadist tersebut lahir akibat dampak negatif dari pertarungan ideologi dan politik antar sesama kelompok dan aliran. Kebanyakan dari hadist-hadist tersebut di ciptakan pada  abad ke dua dan ke tiga Hijriyah, akan tetapi subtansinya atau kandungannya berhubungan dengan kejadian-kejadian pertengahan awal dari abad pertama Hijriyah . Faktor pendorong utamanya adalah adanya perdebatan-perdebatan sengit antar aliran dan golongan yang terus berkecamuk , yang membuat sebagian mereka berlindung pada hujjah atau hadist-hadist palsu yang mereka ciptakan sebagai dalil atas kebenaran ucapannya.

Masalah Khilafah/ tampuk kepimpinan adalah topik utama dan paling hangat dalam hadist-hadist palsu tersebut. Umpamanya Syiah dan lawan-lawanya mereka menciptakan hadist-hadist palsu untuk kepentingan Bani Abbas, dan sebagian untuk menimbulkan rasa putus asa di hati kelompok Alawiyin agar mereka tidak menuntut khilafah.

Sebagian ulama Syiah telah memperbanyak hadist-hadist palsu, oleh karena itu sebagian ulama Sunnah telah memperingatkannya agar waspada, seperti Imam Abu Hanifah, Abdullah bin Mubarrok, Imam Malik, Syarik bin Abdullah, Yazid bin Harun dan Imam Syafi'i.

Wilayah Iraq, terutama Kufah dikenal sebagai ladang subur tumbuhnya hadist-hadist palsu  dan sebagai pusat penyebaran. Yang demikian itu di sebabkan beban berat yang di tanggung Kufah di dalam menghadapi perang melawan Syam, setelah Kufah di jadikan ibu kota oleh Ali bin Abi Tholib, yang akhirnya terus menerus berkepanjangan sebagai wilayah oposisi terhadap pemerintahan keturunan Umawi. Maka jenis hadist-hadist palsunya di sesuaikan dengan unsur-unsur yang mendukung kepentingan mereka untuk bisa mencapai tampuk kekuasaan.

Di suasana kehidupan bermasayarakat yang di penuhi dengan kedengkian dalam berpolitik, telah mendorong pertumbuhan hadist-hadist palsu untuk mendukung pandangan oposisi mereka dan merendahkan martabat kelompok umawi serta menjatuhkannya, seperti yang pernah di lakukan Mukhtar Al-Tsaqofy, dia berkata kepada seseorang dari kalangan Anshor:

"Bikinkan untuk ku hadist palsu dari Nabi ﷺ bahwa aku akan menjadi kholifah sesudahnya, dan aku akan menjadi penerus dalam memperjuangkan revolusi anak cucunya , dan ini untukmu uang sepuluh ribu dirham, pakaian , kendaraan dan pelayan!.

Dan orang Ansor tersebut menolak untuk membuat hadist palsu atas nama Nabi ﷺ, tapi dia mau membuat hadist palsu atas nama salah seorang sahabat dengan upah yang lebih rendah .

Dan sungguh di ketemukan sebagian para dukun dan tukang tenung sebagai lahan yang subur dalam lingkungan maju kedepan bertindak sebagai penceramah dalam kajian-kajian ilmiah, seperti yang di ceritakan Ashim bin Ahwal ( wafat 142 H ):

“Bahwa dia menghadiri majlis ilmu yang penceramahnya orang ajam , bicara bahasa arab nya tidak karuan, namun demikian dia di akui sebagai Syeikh dan banyak manusia yang hadir di pengajiannya, dan mereka mendengarkan nya sangat khusyu, seolah-olah di atas kepala mereka di hinggapi burung, maksudnya tidak bergeming“.

Dengan sebab adanya orang-orang bodoh yang tampil sebagai nara sumber dan penceramah,  maka merebaklah pelecehan terhadap hukum-hukum agama, sebagai bukti kekerdilan dan tipisnya sifat waro' (kehati-hatian) yang ada pada diri mereka, dan timbulnya keberanian terhadap syariat dan hukum-hukumnya, serta berusaha lepas dari aturan-aturanya .

Suatu ketika Ibnu Abbas di sodorkan kepadanya sebuah kitab yang terdapat di dalamnya vonis-vonis hukum pengadilan, maka beliau hapus, kecuali sedikit saja ukuran satu hasta.

Dan Al-A'mash (wafat 148 H) bercerita: sesungguhnya dia melihat seorang syeikh asal Kufah, merubah vonis-vonis hukum peradilan Ali bin Abi Tholib yang berkaitan dengan hukum talak tiga, dan dia bertujuan agar semua orang mengikutinya.

Dengan membanjirnya pembuatan hadist-hadist palsu di wilayah Kufah, telah mengantarkannya menjadi wilayah yang memiliki citra yang sangat buruk tentang masyarakat Irak sebagai pusat yang sangat penting seperti pusat-pusat keilmuan dan periwayatan hadist, maka semakin jatuh dan terpuruk reputasi orang-orang Irak dalam hal keilmuan, reputasi jelek tersebut dengan cepat menyebar keseluruh pelosok dunia Islam dalam usia yang sangat  dini.

Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata:

"Wahai masyarakat Irak! Masyarakat Syam lebih baik dari pada kalian, karena telah pergi banyak sahabat-sahabat Rosulullah ﷺ ke penduduk Syam, kemudian aku temukan mereka meriwayat kan hadist-hadist yang kami kenal. Sementara telah pergi sahabat-sahabat Nabi ﷺ ke Irak dalam jumlah sedikit, kemudian aku temukan kalian meriwayatkan hadist-hadist, sebagian darinya kami mengenalnya dan sebagian yang lain kami tidak mengenalnya".

Dan segolongan penduduk Irak telah mendatangi sahabat Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu di Mekah, mereka meminta beliau untuk mengajarkan kepadanya hadist-hadist Nabi ﷺ, maka beliau berkata kepada mereka:  "Sesungguhnya dari masyarakat Irak terdapat kaum berbuat kebohongan, mendustakan dan melecehkan".

Imam Az-Zuhry berkata: "Jika kamu mendengar hadist dari orang Irak, maka tolak lah, dan tolaklah!".

Dan akibat perbuatan masyarakat Irak yang suka membikin hadist-hadist palsu, maka pemerintah Damaskus menjatuhkan hukuman pengisoliran dan pemboikotan Ilmiah terhadap masyarakat Irak, dengan melarang penggunaan fatwa-fatwa para ulama Irak, baik fatwa-fatwa tersebut berkaiatan dengan vonis hukum peradilan maupun yang berkaitan dengan hukum-hukum kontemporer atau lainnya . Bahkan di perintahkan untuk berpegang kepada fatwa-fatwa para ulama Syam dan Madinah saja.

Imam Awza'i berkata: "Telah ada para khalifah di Syam jika menemukan masalah baru, mereka menanyakan hukumnya kepada ulama-ulama Syam dan Madinah, sementara hadist-hadist para ulama Irak tidak bisa tembus keluar dari tembok rumah-rumahnya, dan para ulama Syam telah menuduh masyarakat Irak adalah khawarij". Maksudnya keluar dari sunnah atau keluar dari penguasa atau mereka adalah kelompok pembangkang“.

Menurut hemat kami, isolasi ilmiah tersebut terlalu berlebihan, dan bukankah sebetulnya penguasa bani umayah juga harus ikut bertanggung jawab atas buruknya reputasi ilmiah penduduk Irak, bahkan barangkali disebabkan teledor nya penguasa yang tidak memberi perhatian dan adanya larangan penggunaan fatwa mereka dalam hukum-hukum kontemporer telah menyebakan hilangnya kepercayaan ilmiah kepada mereka, yang membuat mereka lari menuju dunia politik.

Kehilangan kepercayaan terhadap riwayat hadist-hadist Irak terus berlangsung, bahkan para ulama terkemuka terang-terangan merasa tidak membutuhkan hadist-hadist Irak, seperti yang di sampaikan Abdullah bin Mubarrak (wafat 180 H): "Tidak sekali-kali aku masuk ke Wilayah Syam, kecuali karena aku tidak butuh hadist masayarakat Kufah".

Dan dilakukan pula Imam Malik bin Anas ahli fiqih Madinah, beliau tidak pernah meriwayatkan hadist dari masyarakat Kufah, selain Abdullah bin Idris yang sama-sama satu pemikiran, dan beliau pernah berkata: "Seperti halnya para pendahulu kita tidak mau meriwayatakannya dari para pendahulu mereka, maka begitu pula generasi kami sesudahnya tidak mau pula meriwayatkan dari generasi mereka sesudahnya".

Dan Imam Malik seperti halnya ulama-ulama lain di berbagai wilayah sama-sama melarang untuk meriwayatkan hadist-hadist yang sumbernya dari Irak, sehingga beliau berpandangan bahwa kedudukan hadist-hadist penduduk Irak sama dengan hadist-hadist Ahli Kitab (Yahudi dan Kristen), maksudnya tidak mempercayainya dan tidak mendustakannya.

Dan di ceritakan pula oleh Abdurrahman bin Mahdi dari Malik: bahwa hadist-hadist apa saja yang di dapatkan di Madinah dalam waktu 40 hari, akan tetapi hadist-hadist tersebut bisa didapatkannya di Irak dalam waktu sehari, maka jawaban Imam Malik:

"Dari mana kami bisa menemukan tempat pembikinannya yang ada pada kalian? Kerja semalam suntuk, untuk disebarkan di siang hari”.

Begitulah Imam malik menyatakan banyaknya pemalsuan hadit-hadist yang menyebar pada orang-orang Irak, sementara di Madinah sangat ketat dan selektif dalam menerima hadist dan para perawinya, tidak ada yang bisa lolos kecuali sedikit saja.

Kejelian dan keselektifan dalam hadist itulah yang mengangkat bendera Madinah sehingga mendapat kepercayaan para ulama di seluruh pelosok dunia Islam, dan itulah yang menjadikan pemerintah di Damaskus berpegang teguh terhadap fatwa-fatwa ulama Madinah, serta menanyakan kepada mereka setiap kali menemukan masalah-masalah baru yang belum ada hukumnya.

Kebalikannya dengan Irak, banyaknya hadist palsu yang menyebar di sana telah merusak citra dan nama baiknya, dan ini tidak hanya di kenal di masyarakat Madinah saja bahkan juga di seluruh kota-kota Islam lainnya.

Seperti yang diungkapkan Sufyan bin Uyainah Imam Ahli Makkah, beliau berkata:

"Barang siapa yang menghendaki sesuatu yang tidak jelas kebenaran dan kebatilannya, maka datanglah ke Ahli Irak".

Maksudnya adalah campur aduknya antara yang sahih dengan yang maudlu' (palsu) hingga pada tingkat yang sangat rumit untuk membedakannya bagi para penuntut Ilmu, akan tetapi lain halnya dengan para pakar hadist mereka dengan cantik mampu memilah-malah hadist, maka mereka dengan mudah bisa mengambil hadist-hadist sahih dari kubangan hadist-hadist palsu dengan cerdik dan cakap.

Memang benar adanya , bahwa penyebaran hadist-hadist palsu di Irak sangat luas cakupannya dan yang sedemikian itu tidak di temui di wilayah lain . Suhu politik di sana sangat besar pengaruhnya dalam hal yang berkaitan dengan pemalsuan hadist-hadist tersebut, dan itu di sebabkan adanya banyak kejadian yang menimbulkan trauma yang amat dalam, yang mengganggu proses pembentukan masyarakat yang islami, yaitu dengan terpecahnya umat Islam pasca perang Siffin secara garis besar menjadi 3 kelompok: Jumhur, Khawarij dan Syiah.

Dan di atas bumi Irak telah terjadi banyak kejadian berdarah dan pemberontakan-pemberontakan yang berkobar yang terus menerus sepanjang tampuk kekuasaan di pegang oleh bani Umayyah.  Maka tidak di ragukan lagi, faktor pendorong lahirnya pemalsuan sangat kuat sekali demi kepentingan suasana politik, di tambah lagi faktor-faktor lain yang tidak ada kaitannya dengan politik tersebut .

Namun demikian, apakah sama sekali tidak ada sedikitpun kepercayaan terhadap Ilmu yang ada di Irak? Apakah benar-benar para ulama tidak membutuhkan ilmu yang ada di Irak, padahal Irak itu termasuk sentral dari sentral-sentral keilmuan di dunia Islam? Apakah karena adanya hadist-hadist palsu yang bertebaran di Irak cukup sebagai alasan untuk pengucilan Ilmiah Irak dan sama sekali tidak boleh memanfaatkannya?

Padahal sebenarnya Kuffah itu wilayah yang banyak di datangi para sahabat dengan jumlah yang besar; karena telah tinggal di Irak 300 sahabat Ahlu Syajaroh dan 70 pasukan Badar, seperti: Abdullah bin Masud salah seorang sahabat terkemuka ahli Fiqh dan Hadits. Dan Hasan Basry sendiri sebagai ulama Basrah jika di tanya tentang ulama Basrah dan ulama Kuffah maka beliau memulai dengan ulama Kuffah.

Bisa jadi pelurusan kiprah Irak di dalam periwayatan hadist serta posisinya dimulai dari sebuah ungkapan seorang ahli hadist Ali bin al-Madiny:

"Sumber hadist orang-orang yang dipercaya terdapat pada enam orang: dua orang di Basrah, dua orang di Kuffah dan dua orang di Hijaz. adapun dua orang dari Basrah adalah Qotadah dan Yahya bin Katsir, dan adapun dua orang dari Kufah adalah Abu Ishaq dan Al-A'mash. dan adapun dua orang di Hijaz adalah Zuhri dan 'Amr bin Dinar. 

Kemudian hadist mereka di turunkan kepada dua belas orang, diantara mereka ada yang di Basrah yaitu Said bin Abi Arubah, Syu'bah bin Hajjaj, Ma'mar bin Rosyid, Hammad bin Salamah, Jarir bin Hazim dan Hisyam al-Dastiwai, dan ada yang di Kufah yaitu Ats-Tsaury, Ibnu Uyainah dan Israil. Dan ada yang di Madinah yaitu Ibnu Juraij , Muhammad bin Ishaq dan Malik . 

Dan hadist-hadist mereka semua di turunkan kepada Yahya bin Main. 

Mereka-mereka ini adalah ulama-ulama besar yang berperan penting di dalam memilah-milah hadist dan membedakan antara yang sahih dan yang palsu, dan oleh sebab mereka, Irak mampu di pertahankan sebagai pusat keilmuan yang masih di perhitungkan" .

Ibnu Taymiah berkata setelah menyebutkan kebohongan ahli Kufah: "Namun demikian sesungguh nya telah ada di Kufah dan lainnya banyak ulama-ulama besar yang di percaya  (Tsiqot)".

===***===

KELOMPOK PARA PEMERAN HADIST PALSU :

1.      Khawarij.

2.      Perseteruan ahli kalam / ahli filsafat.

3.      Zindik / kebatinan.

4.      Tukang bikin kisah.

5.      Orang-orang saleh yang bodoh.

6.      Fanatisme daerah , suku dan Imam.

7.      Kepentingan khusus.

Posting Komentar

0 Komentar