DHOIFNYA SANAD HADITS KISAH ROMBONGAN NASRANI NAJRAN SHOLAT DI MASJID NABI ﷺ
-----
Di Tulis Oleh Abu Haitsam Fakhry
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
----
BISMILLAH
===***===
Tentang Keabsahan Riwayat Hadits Rombongan Nasrani Najran Sholat di Masjid Nabi ﷺ
Riwayat tentang salat rombongan Nasrani Najran di Masjid Nabi ﷺ tidak sah dari segi sanad dan tidak dapat dijadikan dalil dalam
masalah fikih.
Segala puji bagi Allah.
PEMBAHASAN PERTAMA:
Tinjauan Keabsahan Riwayat tentang Salat
Rombongan Nasrani Najran
Riwayat tentang salat rombongan Nasrani Najran di Masjid Nabi ﷺ adalah riwayat yang lemah. Sanadnya tidak sah dan tidak dapat
dijadikan dalil.
Riwayat tersebut diriwayatkan melalui tiga jalur, dan semuanya tidak
sahih.
Jalur pertama:
Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dalam As-Sirah (1/574). Melalui jalur
periwayatannya, riwayat ini juga dikeluarkan oleh Ibnu Jarir ath-Thabari dalam
Tafsir-nya (2/171) dan ats-Tsa‘labi dalam tafsirnya Al-Kasyf wa al-Bayan (3/6),
dari Muhammad bin Ja‘far bin az-Zubair. Ia berkata:
«لَمَّا قَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ، فَدَخَلُوا عَلَيْهِ مَسْجِدَهُ حِينَ صَلَّى
الْعَصْرَ، عَلَيْهِمْ ثِيَابُ الْحِبَرَاتِ، جُبَبٌ وَأَرْدِيَةٌ، فِي جَمَالِ رِجَالِ
بَنِي الْحَارِثِ بْنِ كَعْبٍ. قَالَ: يَقُولُ بَعْضُ مَنْ رَآهُمْ مِنْ أَصْحَابِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَئِذٍ: مَا رَأَيْنَا وَفْدًا مِثْلَهُمْ،
وَقَدْ حَانَتْ صَلَاتُهُمْ، فَقَامُوا فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلُّونَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
دَعُوهُمْ، فَصَلَّوْا إِلَى الْمَشْرِقِ».
“Ketika mereka tiba di Madinah untuk menemui Rasulullah ﷺ, mereka masuk ke masjid beliau setelah beliau selesai
melaksanakan salat Asar. Mereka mengenakan pakaian bergaris dari Yaman, berupa
jubah dan selendang. Penampilan mereka sangat mengagumkan, seperti para lelaki
dari Bani al-Harits bin Ka‘b.
Ia berkata: Sebagian sahabat Nabi ﷺ yang melihat mereka pada
hari itu mengatakan, ‘Kami belum pernah melihat rombongan seperti mereka.’
Ketika waktu salat mereka tiba, mereka berdiri di Masjid Rasulullah ﷺ untuk melaksanakan salat.
Rasulullah ﷺ pun bersabda, ‘Biarkanlah
mereka’.
Lalu mereka salat menghadap ke arah timur.”
STATUS SANAD:
Riwayat ini terputus dan termasuk mu‘dhal, karena Muhammad bin Ja‘far
bin az-Zubair bin al-‘Awwam berasal dari generasi tabi‘ut tabi‘in. Oleh karena
itu, riwayatnya langsung dari Nabi ﷺ termasuk riwayat mu‘dhal.
Jalur kedua:
Diriwayatkan oleh Ats-Tsa‘labi dalam tafsirnya, Al-Kasyf wa al-Bayan
(3/6), melalui jalur Muhammad bin Marwan as-Suddi, dari al-Kalbi, dengan
riwayat tersebut.
Sanadnya rusak. Di dalamnya terdapat Muhammad bin Marwan as-Suddi
ash-Shaghir, seorang perawi yang ditinggalkan riwayatnya (matruk) dan dituduh
berdusta.
Al-Bukhari berkata tentangnya dalam Adh-Dhu‘afa’ ash-Shaghir (340):
«سَكَتُوا عَنْهُ لَا يُكْتَبُ حَدِيثُهُ أَلْبَتَّةَ».
اهـ
“Para ulama tidak mau berbicara tentangnya. Haditsnya sama sekali tidak boleh ditulis.” Selesai kutipan.
An-Nasa’i berkata dalam Adh-Dhu‘afa’ wa al-Matrukun (538):
«مَتْرُوكُ الْحَدِيثِ». اهـ
“Haditsnya ditinggalkan (matruk).” Selesai kutipan.
Abu Hatim berkata, sebagaimana tercantum dalam Al-Jarh wa at-Ta‘dil
(8/86):
«ذَاهِبُ الْحَدِيثِ مَتْرُوكُ الْحَدِيثِ لَا
يُكْتَبُ حَدِيثُهُ الْبَتَّةَ». اهـ
“Riwayat haditsnya telah hilang. Haditsnya ditinggalkan dan sama sekali
tidak boleh ditulis.” Selesai kutipan.
Ibnu Hibban berkata dalam Al-Majruhin (2/286):
«كَانَ مِمَّنْ يَرْوِي الْمَوْضُوعَاتِ عَنِ
الْأَثْبَاتِ، لَا يَحِلُّ كِتَابَةُ حَدِيثِهِ إِلَّا عَلَى جِهَةِ الِاعْتِبَارِ،
وَلَا الِاحْتِجَاجُ بِهِ بِحَالٍ مِنَ الْأَحْوَالِ». اهـ.
“Ia termasuk orang yang meriwayatkan hadits-hadits palsu dari para
perawi yang terpercaya. Haditsnya tidak boleh ditulis kecuali sekadar untuk
bahan pertimbangan, dan tidak boleh dijadikan hujah dalam keadaan apa pun.”
Selesai kutipan.
Jalur ketiga:
Diriwayatkan oleh Ats-Tsa‘labi dalam tafsirnya, Al-Kasyf wa al-Bayan
(3/6), melalui jalur ‘Abdullah bin Abi Ja‘far ar-Razi, dari ayahnya, dari
ar-Rabi‘ bin Anas, dengan riwayat tersebut.
Riwayat ini sanadnya terputus dan lemah.
Di dalam sanadnya terdapat ar-Rabi‘ bin Anas, seorang perawi yang jujur
(shaduq) dari generasi tabi‘in. Oleh karena itu, haditsnya berstatus mursal.
Kemudian, riwayat tersebut disampaikan darinya oleh Abu Ja‘far ar-Razi,
sedangkan periwayatannya dari ar-Rabi‘ bin Anas lemah dan mengalami banyak kelabilan
(idhthirab).
Ibnu Hibban berkata dalam Ats-Tsiqat (4/228), ketika menyebutkan
biografi ar-Rabi‘ bin Anas:
«وَالنَّاسُ يَتَّقُونَ حَدِيثَهُ مَا كَانَ مِنْ
رِوَايَةِ أَبِي جَعْفَرٍ عَنْهُ؛ لِأَنَّ فِيهَا اضْطِرَابًا كَثِيرًا».
“Orang-orang menghindari haditsnya yang diriwayatkan melalui Abu Ja‘far
darinya, karena dalam riwayat tersebut terdapat banyak keguncangan.”
****
PEMBAHASAN KEDUA:
Riwayat Semacam Ini Tidak Sah Dijadikan Dalil
tentang Bolehnya Memberi Kesempatan kepada Non-Muslim untuk Melaksanakan Ritual
Keagamaan di Masjid-Masjid Kaum Muslimin
Riwayat semacam itu tidak sah dijadikan dalil tentang bolehnya memberi
kesempatan kepada non-Muslim untuk melaksanakan ritual-ritual kekufuran mereka,
termasuk salat secara pasti, di masjid-masjid kita. Sebab, tidak boleh
membiarkan mereka melakukan kesyirikan di rumah-rumah Allah.
Allah berfirman:
﴿وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا
مَعَ اللَّهِ أَحَدًا﴾
"Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah. Maka janganlah kamu menyembah siapa pun di samping Allah". (Al-Jin: 18).
Al-Qurthubi berkata dalam Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an (19/22):
«قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ
أَحَدًا﴾ هَذَا تَوْبِيخٌ لِلْمُشْرِكِينَ فِي دُعَائِهِمْ مَعَ اللَّهِ غَيْرَهُ فِي
الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ. وَقَالَ مُجَاهِدٌ: كَانَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى إِذَا
دَخَلُوا كَنَائِسَهُمْ وَبِيَعَهُمْ أَشْرَكُوا بِاللَّهِ، فَأَمَرَ اللَّهُ نَبِيَّهُ
وَالْمُؤْمِنِينَ أَنْ يُخْلِصُوا لِلَّهِ الدَّعْوَةَ إِذَا دَخَلُوا الْمَسَاجِدَ
كُلَّهَا. يَقُولُ: فَلَا تُشْرِكُوا فِيهَا صَنَمًا وَغَيْرَهُ مِمَّا يُعْبَدُ.
وَقِيلَ: الْمَعْنَى: أَفْرِدُوا الْمَسَاجِدَ
لِذِكْرِ اللَّهِ، وَلَا تَتَّخِذُوهَا هُزُوًا وَمَتْجَرًا وَمَجْلِسًا، وَلَا طُرُقًا،
وَلَا تَجْعَلُوا لِغَيْرِ اللَّهِ فِيهَا نَصِيبًا». انْتَهَى.
“Firman Allah Ta‘ala, ‘Maka janganlah kamu menyembah siapa pun di
samping Allah.’ Ayat ini merupakan teguran kepada orang-orang musyrik karena
mereka berdoa kepada selain Allah bersama-Nya di Masjidil Haram.
Mujahid berkata, ‘Dahulu, orang-orang Yahudi dan Nasrani apabila
memasuki sinagoge dan gereja mereka, mereka mempersekutukan Allah. Maka Allah
memerintahkan Nabi-Nya dan orang-orang beriman agar memurnikan doa hanya kepada
Allah ketika memasuki seluruh masjid. Maksudnya, janganlah kalian
mempersekutukan berhala atau sesuatu selain-Nya yang disembah di dalam
masjid-masjid tersebut.’
Ada pula yang mengatakan bahwa maknanya adalah: khususkanlah masjid-masjid
untuk mengingat Allah. Janganlah kalian menjadikannya sebagai tempat
olok-olokan, tempat perdagangan, tempat berkumpul, ataupun jalan lintasan.
Jangan pula kalian memberikan bagian di dalamnya kepada selain Allah.” Selesai.
Ibnu Rajab berkata dalam Fath al-Bari (3/243):
«فَكَمَا أَنَّهُمْ لَا يُمَكَّنُونَ مِنْ فِعْلِ
عِبَادَاتِهِمْ فِي الْمَسَاجِدِ، فَكَذَا لَا يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِينَ أَنْ يُصَلُّوا
صَلَوَاتِهِمْ فِي مَعَابِدِ الْكُفَّارِ الَّتِي هِيَ مَوْضِعُ كُفْرِهِمْ.
فَإِنْ قِيلَ: فَقَدْ رُوِيَ مَا يَدُلُّ
عَلَى جَوَازِ إِقْرَارِهِمْ عَلَى أَنْ يُصَلُّوا صَلَوَاتِهِمْ فِي مَسَاجِدِ الْمُسْلِمِينَ،
وَإِذَا جَازَ الْإِقْرَارُ عَلَى ذَلِكَ، جَازَ لِلْمُسْلِمِينَ أَنْ يُصَلُّوا فِي
بِيَعِهِمْ وَكَنَائِسِهِمْ بِطَرِيقِ الْأَوْلَى.
فَرَوَى ابْنُ إِسْحَاقَ، قَالَ: حَدَّثَنِي
مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرِ بْنِ الزُّبَيْرِ، قَالَ: قَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ - يَعْنِي: وَفْدَ نَجْرَانَ -، فَدَخَلُوا
عَلَيْهِ مَسْجِدَهُ حِينَ صَلَّى الْعَصْرَ، عَلَيْهِمْ ثِيَابُ الْحِبَرَاتِ: جُنُبٌ
وَأَرْدِيَةٌ، قَالَ: يَقُولُ بَعْضُ مَنْ رَآهُمْ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا رَأَيْنَا بَعْدَهُمْ وَفْدًا مِثْلَهُمْ،
وَقَدْ حَانَتْ صَلَاتُهُمْ، فَقَامُوا فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلُّونَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
دَعُوهُمْ، فَصَلَّوْا إِلَى الْمَشْرِقِ.
قِيلَ: هَذَا مُنْقَطِعٌ ضَعِيفٌ، لَا
يُحْتَجُّ بِمِثْلِهِ.
وَلَوْ صَحَّ، فَإِنَّهُ يُحْمَلُ عَلَى
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَأَلَّفَهُمْ بِذَلِكَ فِي ذَلِكَ
الْوَقْتِ اسْتِجْلَابًا لِقُلُوبِهِمْ، وَخَشْيَةً لِنُفُورِهِمْ عَنِ الْإِسْلَامِ،
وَلَمَّا زَالَتِ الْحَاجَةُ إِلَى مِثْلِ ذَلِكَ، لَمْ يَجُزِ الْإِقْرَارُ عَلَى
مِثْلِهِ...
وَلِهَذَا شَرَطَ عَلَيْهِمْ عُمَرُ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ عِنْدَ عَقْدِ الذِّمَّةِ إِخْفَاءَ دِينِهِمْ، وَمِنْ جُمْلَتِهِ أَلَّا
يَرْفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ فِي الصَّلَاةِ، وَلَا الْقِرَاءَةَ فِي صَلَاتِهِمْ فِيمَا
يَحْضُرُهُ الْمُسْلِمُونَ». اهـ.
“Sebagaimana mereka tidak diberi kesempatan untuk melaksanakan ibadah
mereka di masjid-masjid, demikian pula kaum Muslimin tidak sepantasnya
melaksanakan salat mereka di tempat-tempat ibadah orang-orang kafir yang
merupakan tempat pelaksanaan kekufuran mereka.
Jika dikatakan: Telah diriwayatkan sesuatu yang menunjukkan bolehnya
membiarkan mereka melaksanakan salat mereka di masjid-masjid kaum Muslimin.
Jika hal itu boleh dibiarkan, tentu kaum Muslimin lebih layak diperbolehkan melaksanakan
salat di sinagoge dan gereja mereka.
Ibnu Ishaq meriwayatkan, ia berkata, ‘Muhammad bin Ja‘far bin az-Zubair
telah menceritakan kepadaku, ia berkata:
Ketika mereka tiba di Madinah untuk menemui Rasulullah ﷺ -yang dimaksud adalah delegasi Najran- mereka masuk ke masjid beliau
setelah beliau selesai melaksanakan salat Asar. Mereka mengenakan pakaian
bergaris dari Yaman, berupa jubah dan selendang.
Ia berkata: Sebagian sahabat Rasulullah ﷺ yang melihat mereka
mengatakan, “Kami belum pernah melihat rombongan seperti mereka.” Ketika waktu
salat mereka tiba, mereka berdiri di Masjid Rasulullah ﷺ untuk melaksanakan salat.
Rasulullah ﷺ pun bersabda, “Biarkanlah mereka.” Lalu mereka salat menghadap
ke arah timur.’
Dikatakan: Riwayat ini terputus dan lemah. Riwayat semacam ini tidak
dapat dijadikan hujah.
Kalaupun riwayat tersebut sahih, maka hal itu dipahami sebagai tindakan
Nabi ﷺ untuk mengambil hati mereka pada saat itu, demi menarik simpati
mereka dan karena khawatir mereka akan menjauh dari Islam. Ketika kebutuhan
terhadap tindakan semacam itu telah berakhir, tidak boleh lagi membiarkan hal
serupa terjadi.
Karena itulah, ketika menetapkan perjanjian dzimmah, Umar radhiyallahu
‘anhu mensyaratkan agar mereka menyembunyikan agama mereka. Di antara
ketentuannya adalah mereka tidak boleh mengeraskan suara ketika salat dan tidak
boleh mengeraskan bacaan dalam salat mereka ketika kaum Muslimin hadir.”
Selesai kutipan.
Adapun masuknya orang musyrik ke masjid selain Masjidil Haram, maka
masalah ini memiliki perincian dan terdapat perbedaan pendapat di antara para
ulama. Jika ia masuk untuk suatu kepentingan yang dibenarkan syariat dengan
izin seorang Muslim, maka hal itu diperbolehkan.
Hal ini berbeda dengan memberikan kesempatan kepadanya untuk
melaksanakan ritual-ritual kekufurannya di rumah Allah. Perbuatan semacam ini
jelas tidak diperbolehkan.
Ibnu Qudamah berkata dalam Al-Kafi (4/176):
«وَلَيْسَ لَهُمْ دُخُولُ مَسَاجِدِ الْحِلِّ
بِغَيْرِ إِذْنِ مُسْلِمٍ، فَإِنْ دَخَلَ عُزِّرَ. لِمَا رَوَتْ أُمُّ غُرَابٍ قَالَتْ:
رَأَيْتُ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ، وَبَصُرَ بِمَجُوسِيٍّ،
فَنَزَلَ فَضَرَبَهُ، وَأَخْرَجَهُ مِنْ أَبْوَابِ كِنْدَةَ.
فَإِنْ أَذِنَ لَهُ مُسْلِمٌ فِي الدُّخُولِ:
جَازَ فِي الصَّحِيحِ مِنَ الْمَذْهَبِ؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَدِمَ عَلَيْهِ وَفْدُ الطَّائِفِ، فَأَنْزَلَهُمُ الْمَسْجِدَ قَبْلَ إِسْلَامِهِمْ.
وَعَنْهُ: لَا يَجُوزُ؛ لِمَا رَوَى عِيَاضٌ
الْأَشْعَرِيُّ: أَنَّ أَبَا مُوسَى قَدِمَ عَلَى عُمَرَ وَمَعَهُ نَصْرَانِيٌّ، فَأَعْجَبَ
عُمَرَ خَطُّهُ وَقَالَ: قُلْ لِكَاتِبِكَ هَذَا يَقْرَأُ عَلَيْنَا كِتَابَهُ. قَالَ:
إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْمَسْجِدَ. قَالَ: لِمَ؟ أَجُنُبٌ هُوَ؟ قَالَ: هُوَ نَصْرَانِيٌّ.
فَانْتَهَرَهُ عُمَرُ.
وَلِأَنَّ الْجُنُبَ يُمْنَعُ الْمَسْجِدَ؛
فَالْمُشْرِكُ أَوْلَى». انْتَهَى.
“Mereka tidak boleh memasuki masjid-masjid di luar Tanah Haram tanpa
izin seorang Muslim. Jika mereka masuk tanpa izin, mereka harus diberi hukuman
ta’zir. Hal ini berdasarkan riwayat Ummu Ghuraab, ia berkata:
‘Aku melihat Ali radhiyallahu ‘anhu berada di atas mimbar. Kemudian,
beliau melihat seorang Majusi. Beliau pun turun, memukulnya, lalu mengusirnya
melalui pintu-pintu Kinda.’
Jika seorang Muslim mengizinkannya masuk, maka hal itu diperbolehkan
menurut pendapat yang sahih dalam mazhab Hanbali. Sebab, delegasi Thaif pernah
datang menemui Nabi ﷺ, lalu beliau menempatkan
mereka di masjid sebelum mereka masuk Islam.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa hal itu tidak diperbolehkan.
Dasarnya adalah riwayat ‘Iyadh al-Asy‘ari bahwa Abu Musa pernah datang menemui
Umar dengan membawa seorang Nasrani. Umar kagum dengan tulisan orang tersebut,
lalu berkata, ‘Suruhlah juru tulismu ini membacakan suratnya kepada kami.’
Abu Musa berkata, ‘Sesungguhnya ia tidak boleh masuk masjid.’
Umar bertanya, ‘Mengapa? Apakah ia sedang junub?’
Abu Musa menjawab, ‘Ia seorang Nasrani.’
Umar pun membentaknya.
Alasannya, orang yang junub saja dilarang memasuki masjid, maka orang
musyrik lebih pantas lagi dilarang.” Selesai kutipan.
***
KESIMPULAN-NYA:
Riwayat ini tidak sah dari segi sanad dan tidak dapat dijadikan hujah
dalam masalah fikih.
Wallahu a’lam.

0 Komentar