MUKJIZAT
AL-QURAN : "UNSUR BESI DALAM BUMI BERASAL DARI LUAR ANGKASA (LANGIT) SAAT PROSES
PENCIPTAAN-NYA" [Surat al-Hadiid: 25]
Di
Tulis Abu Haitsam Fakhry
KAJIAN
NIDA AL-ISALM
----
DAFTAR ISI:
- PENDAHULUAN:
- PEMBAHASAN PERTAMA: PENJELASAN SINGKAT TENTANG TURUNNYA BESI DARI LUAR ANGKASA MENURUT FAKTA ILMIYAH :
- PEMBAHASAN KEDUA : PENJELASAN LEBIH RINCI TENTANG TURUNNYA BESI PERTAMA DARI LANGIT & JAWABAN TERHADAP KRITIKAN PARA PENENTANG NYA :
- PERTAMA : PARA ILMUWAN MENGKONFIRMASI BAHWA BESI DARI LANGIT :
- KEDUA : MAKNA “الإنْزَالُ” DALAM AYAT SURAT AL-HADIID ADALAH “TURUN” HAKIKI , BUKAN
BERMAKNA “PENCIPTAAN”.
- KRITIKAN PENENTANG DAN JAWABAN-NYA
- KETIGA : SISI MUKJIZAT ILMIYAH :
****
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ،
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ:
===***===
PENDAHULUAN :
Mukjizat Al-Qur’an yang mulia tampak dalam surat
Al-Hadid (surat Besi) ayat : 25. Ungkapan ayat tersebut sangat dengan fakta
ilmiah dan historisnya. Ilmu pengetahuan ruang angkasa telah membuktikan bahwa
besi tidak terbentuk di dalam bumi, melainkan turun ke bumi dari luar angkasa
melalui meteorit setelah ledakan bintang-bintang, di samping sifat-sifatnya
yang unik.
Dalam hal ini Allah SWT berfirman dalam
al-Qur’an surat Besi (الْحَدِيدُ) :
﴿وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ
بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ
وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ ۚ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ﴾
“Kami telah menurunkan besi yang padanya
terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka
mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong
(agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya
Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. (QS. Al-Hadiid : 25 ).
Dalam hadits Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu
‘anhu , Rosulullah ﷺ bersabda :
«إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ أَرْبَعَ بَرَكَاتٍ مِنَ
السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ، فَأَنْزَلَ الْحَدِيدَ وَالنَّارَ وَالْمَاءَ وَالْمِلْحَ».
“Sesungguhnya Allah telah menurunkan 4
keberkahan dari langit ke bumi: besi, api, air, dan garam.”
Hadits ini banyak bertebaran di kitab-kitab
tafsir, antara lain; dalam kitab «مَعَالِمُ
التَّنْزِيلِ» (8/41) karya al-Baghawi (w. 516 H), «غَرَائِبُ الْقُرْآنِ وَرَغَائِبُ الْفُرْقَانِ» (7/128) karya an-Naisaburi (w. 728 H), dan «الْبَحْرُ الْمُحِيطُ» (10/230) karya Muhammad ibn Yusuf ibn Hayyan Atsir ad-Din
al-Andalusi (w. 745 H).
Ibnu al-Qayyim dalam «زَادُ
الْمَعَادِ» (4/362) berkata:
«وَالْمَوْقُوفُ أَشْبَهُ»
Yakni:
lebih tepatnya hadits mauquf.
Syaikh al-Albani dalam «السِّلْسِلَةُ الضَّعِيفَةُ وَالْمَوْضُوعَةُ» no. 3053 berkata:
مَوْضُوعٌ. رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ عَنْ
سَيْفِ بْنِ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَالِكٍ التَّيْمِيُّ،
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ خَلِيفَةَ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ مَرْفُوعًا.
قُلْتُ: وَهَذَا مَوْضُوعٌ، آفَتُهُ سَيْفُ
بْنُ مُحَمَّدٍ، وَهُوَ ابْنُ أُخْتِ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ. قَالَ الذَّهَبِيُّ فِي
«الضُّعَفَاءُ وَالْمَتْرُوكِيْن»: قَالَ أَحْمَدُ وَغَيْرُهُ: كَذَّابٌ. وَقَالَ الْحَافِظُ:
كَذَّبُوهُ.
وَرَوَى الطَّبَرَانِيُّ فِي «الْكَبِيرِ»
وَفِي «الْأَوْسَطِ» بَعْضَهُ عَنْ أُمِّ هَانِئٍ، قَالَتْ: دَخَلَ النَّبِيُّ ﷺ فَقَالَ:
«مَا لِي لَا أَرَى عِنْدَكِ مِنَ الْبَرَكَاتِ شَيْئًا؟». فَقُلْتُ: وَأَيَّ بَرَكَاتٍ
تُرِيدُ؟ قَالَ: «إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ بَرَكَاتٍ ثَلَاثًا: الشَّاةَ، وَالنَّخْلَةَ،
وَالنَّارَ».
وَقَالَ الْهَيْثَمِيُّ (ج 4 ص 66):
«وَفِيهِ النَّضْرُ بْنُ حُمَيْدٍ وَهُوَ مَتْرُوكٌ».
PALSU. Ad-Dailami meriwayatkannya dari Saif
bin Muhammad : telah memberi tahu kami Abdul Rahman bin Malik Al-Taymi dari
Abdullah bin Khalifa dari Ibnu Umar, dengan sanad marfu’ kepada Nabi ﷺ .
Saya katakan : Ini
adalah Palsu . Hamanya atau penyakitnya adalah Saif bin Muhammad, yang
merupakan keponakan dari saudara perempuan Sufyan Al-Tsauri.
Adz-Dzahabi berkata dlm “الضُّعَفَاءُ وَالْمَتْرُوكِيْن” : Ahmad dan yang lainnya berkata: Pembohong
Al-Hafiz berkata: Mereka telah menganggapnya
pembohong . Dan Al-Tabarani meriwayatkan dalam (Al-Kabir) dan (Al-Awsath)
sebagian dari Ummu Hani, yang berkata : Nabi ﷺ masuk dan bersabda :
«مَا لِي لَا أَرَى عِنْدَكِ مِنَ الْبَرَكَاتِ
شَيْئًا؟». فَقُلْتُ: وَأَيَّ بَرَكَاتٍ تُرِيدُ؟ قَالَ: «إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ بَرَكَاتٍ
ثَلَاثًا: الشَّاةَ، وَالنَّخْلَةَ، وَالنَّارَ».
Mengapa saya tidak melihat Anda memiliki
keberkahan? Maka saya berkata : berkat apa yang Anda inginkan? Beliau ﷺ
bersabda : “ Allah telah menurunkan tiga berkah: kambing, pohon kurma , dan
api”.
Al-Haitsami berkata (4/66): Dan di dalamnya
ada Al-Nadr bin Humaid, dan dia itu orang yang ditinggalkan / «مَتْرُوكٌ».
(Selesai).
Hadits ini disebutkan pula oleh al-Imam
as-Sayuthi dalam «الْجَامِعُ الصَّغِيرُ», dan dihukumi PALSU oleh Syaikh al-Albani dalam Dho'if
al-Jami' no. 869 dan 1568.
Para ahli tafsir banyak yang menafsirkan ayat
di dalah surat Al Hadit dan hadits Rasulullah di atas tadi dengan mengatakan
bahwasanya turunnya besi itu, bukan turun secara hakiki/ benar-benar. Akan
tetapi artinya turun secara majazi/ mempunyai arti lain, yaitu menciptakan
besi.
Syeikh Abdul Majiid Al-Zindaani menyatakan :
وَلَيْسَ مَعْنَى هَذَا أَنَّ الْمُفَسِّرِينَ
كُلَّهُمْ فَسَّرُوا الإنْزَالُ بِالخَلْق، وَلَكِنْ مِنْهُمْ مَنْ فَسَّرَ اللَّفْظَ
عَلَى ظَاهِرِهِ، فَنَحْنُ إِذَا بَحَثْنَا أَقْوَالَ الْمُفَسِّرِينَ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ،
نَجِدُهُمْ مُنْقَسِمِينَ إِلَى فَرِيقَيْنِ؛
الْأَوَّلُ: فَسَّرَ اللَّفْظَ عَلَى
ظَاهِرِهِ، فَقَالَ: ﴿وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ﴾ [الْحَدِيدِ: ٢٥]، بِمَعْنَى: أَنَّ
اللَّهَ أَنْزَلَ الْحَدِيدَ مِنَ السَّمَاءِ كَمَا أَنْزَلَ آدَمَ مِنَ السَّمَاءِ،
وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ عَبَّاسٍ وَعِكْرِمَةَ، وَإِلَيْهِ ذَهَبَ الطَّبَرِيُّ وَالْقُرْطُبِيُّ
وَالْوَاحِدِيُّ.
وَالثَّانِي: اضْطُرَّ إِلَى تَأْوِيلِ
اللَّفْظِ عَنْ ظَاهِرِهِ؛ لِاسْتِبْعَادِ إِمْكَانِيَّةِ تَصَوُّرِ نُزُولِ الْحَدِيدِ
إِلَى الْأَرْضِ مِنَ السَّمَاءِ، وَكَمَا يُشَاهِدُونَ فِي أَزْمِنَتِهِمْ وَبِيئَاتِهِمْ
مِنِ اسْتِخْرَاجِ الْحَدِيدِ مِنْ بَاطِنِ الْأَرْضِ، فَقَالَ: ﴿وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ﴾
[الْحَدِيدِ: ٢٥]، بِمَعْنَى: أَنْشَأْنَاهُ وَجَعَلْنَاهُ، وَهُوَ قَوْلُ الْحَسَنِ،
وَإِلَيْهِ ذَهَبَ ابْنُ كَثِيرٍ وَالثَّعَالِبِيُّ وَالشَّوْكَانِيُّ وَكَثِيرٌ مِنَ
الْمُفَسِّرِينَ.
Ini tidak berarti bahwa semua ahli tafsir
menafsirkan kata “الإنْزَالُ” dengan makan penciptaan, melainkan ada sebagian dari mereka
yang menafsirkan kata tsb dengan makna yang sebenarnya.
Jika kita meneliti perkataan para ahli tafsir
tentang masalah ini, kita menemukan mereka terbagi menjadi dua kelompok :
Yang pertama : Menafsirkan kata pada
makna sebenarnya , Allah SWT berfirman :
﴿وَأَنْزَلْنَا
الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ﴾
“Dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat
kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia”. (QS. Al-Hadiid : 25 ).
Artinya : Allah menurunkan besi dari langit ,
seperti halnya Allah menurunkan Adam dari surga . Ini adalah pendapat Ibnu
Abbas dan ‘Ikrimah, dan ini adalah madzhab Imam at-Thobari, al-Qurthuubi dan
al-Waahidi.
Yang kedua :
Terpaksa / darurat untuk menafsirkan lafadz “الإنْزَالُ” bukan makna dzohirnya, untuk menjauhkan kemungkinan menggambarkan
turunnya besi ke bumi dari surga, dan seperti halnya mereka menyaksikan sendiri
pada masa mereka dan di lingkungannya adanya mengeluarkan (ekstraksi) besi dari
dalam bumi , maka Allah SWT berfirman :
﴿وَأَنْزَلْنَا
الْحَدِيدَ﴾
“Dan
Kami turunkan besi”. (QS. Al-Hadiid : 25 ).
Artinya : Kami telah menciptakan dan
menjadikan, adalah pendapat al-Hasan, dan ini adalah Madzhab Ibnu Kastsir,
al-Tsa'labi, al-Shaukaani, dan banyak dari kalangan para ahli tafsir.
[ Referensi : “وَأَنْزَلْنَا
الْحَدِيدَ” (QS. Al- Hadid: 25), oleh Abdul
Majiid Al-Zindaani, penelitian yang dipublikasikan di website : الْهَيْئَةُ الْعَالَمِيَّةُ
لِلْإِعْجَازِ الْعِلْمِيِّ فِي الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ www.nooran.org
PEMBAHASAN
PERTAMA : PENJELASAN SINGKATTENTANG
TURUNNYA BESI DARI LANGIT (LUAR ANGKASA) MENURUT FAKTA ILMIYAH :
Dalam dekade modern ini (abad ke-20), para
ilmuwan Astronomi dan Fisika Astronomi telah mempelajari kandungan kimia (yang
dikenal dalam tabel periodik) di alam semesta . Mereka menemukan bahwa unsur
yang paling dominan adalah gas hidrogen (unsur tertipis dengan susunan paling
sederhana) yang menyusun lebih dari 74% materi perspektif alam semesta.
Kemudian setelah dia adalah gas helium (elemen
kedua dari tabel periodik) yang membentuk 24% dari materi perspektif alam
semesta. Kemudian sisanya yang kurang dari 2% adalah sejumlah unsur yang
jumlahnya lebih dari 100 unsur (dikenal manusia saat ini adalah 105 unsur) dari
perspektif materi alam semesta.
Semua data ini menghasilkan konklusi logis
yang dapat diterima bahwasanya seluruh unsur-unsur yang kita ketahui tadi telah
menciptakan sejumlah gumpalan-gumpalan angin kencang di dalam bintang-bintang
di dalam bintang-bintang yang diakibatkan gas Hidrogen dengan intensitas pada
dirinya dan menyebabkan biji atom di dalamnya bersatu padu satu sama lain
dengan proses yang disebut dengan proses fusi nuklir. Kemudian dengan proses
tadi akan meluncurkan energi besar yang dari bintang-bintang tersebut.
Semua data ini mengarah pada kesimpulan logis
yang dapat diterima bahwa semua unsur yang kita ketahui sebelumnya telah
menciptakan sejumlah gumpalan angin kencang di bintang-bintang yang disebabkan
oleh gas hidrogen dengan intensitas pada dirinya sendiri dan menyebabkan benih
atom di dalamnya bersatu satu sama lain melalui proses yang dikenal sebagai
fusi nuklir. Kemudian dengan proses ini akan meluncurkan energi yang besar dari
bintang-bintang.
Seperti yang diketahui, bahan bakar di
matahari adalah gas hidrogen, yang biji atomnya bergabung satu sama lain untuk
membuat biji atom helium. Kemudian inti matahari yang panasnya sekitar 15 juta
derajat akan memancarkan energi yang sangat besar, sedangkan permukaannya
mencapai 6000 derajat, dan lidah api matahari yang disebabkan oleh inti
matahari mencapai 1 juta derajat. Efek dari proses fusi nuklir pada jantung
matahari tidak selalu menghasilkan unsur berat, apalagi menghasilkan unsur
besi. Proses fusi di matahari ini hanya menghasilkan helium dan sejumlah unsur
lainnya (unsur yang termasuk dalam tabel periodik) dalam persentase yang sangat
kecil.
Sekarang, muncul pertanyaan: “Dari manakah
asal besi dalam jumlah besar di bumi yang merupakan sepertiga dari massa bumi
(6 x 1018 x 35,9% = 2,154 x 1018 ton besi))?
Studi astronomi yang ekstensif telah
membuktikan bahwa bintang melewati banyak fase dalam sejarah hidupnya. Mulai
dari lahir, remaja, dewasa, tua, mulai berguguran, memudar, mati, terbelah,
lalu menyatu dengan asap langit. Di antara fase-fase ini, bintang menyala
dengan nyala api yang sangat panas yang disebut “amukan yang hebat / ‘the great
raging’'.
Tingkat panas di inti bintang mencapai sekitar
belasan hingga ratusan triliun derajat. Inti dari amukan besar / the great
raging ini adalah satu-satunya tempat
yang diketahui di mana fusi nuklir terjadi dan benar-benar mengubah inti
bintang menjadi besi. Dengan transformasi menjadi besi secara sempurna melalui
hasil energi bintang-bintang, maka besi tersebut pecah dan berserakan di
seluruh hamparan langit. Oleh karena itu besi mencapai beberapa benda langit
termasuk bumi, karena meteorit-meteorit besi turun mendarat di bumi saat ini.
Semua fakta ini mengarah pada persepsi yang
benar bahwa bumi ketika dipisahkan dari matahari (awan kosmik yang akhirnya
menggumpal menjadi matahari) tidak berubah menjadi apapun kecuali hanya setumpuk
abu, dan tidak ada unsur yang lebih tinggi kecuali aluminium dan silikon.
Kemudian bumi dihujani berbagai meteorit besi,
batu, dan campuran kedua material tersebut yang akhirnya membuatnya lebih padat
dari sebelumnya (saat masih berupa tumpukan abu). Setelah itu, semua tumpukan
besi, batu, dan tumpukan abu meleleh dengan panas yang stabil di tengahnya.
Pada akhirnya bumi dibagi menjadi 7 bagian,
yaitu:
Inti padat di dalam (90% besi, 9% nikel, Dan
beberapa elemen-elemen ringan seperti sebagai : belerang, fosfor, dan karbon
hingga 1%.)
Inti cair luar (terdiri dari berbagai bahan
kimia),
Lapisan ketiga adalah selendang bumi (scarves
of the earth) yang semakin berkurang karena Zat besi dari dalam yang terus
memancar keluar (terbagi menjadi 3 bagian), lapisan paling bawah lapisan batuan
bumi,
Dan yang terakhir adalah lapisan paling atas
dari bebatuan ke permukaan bumi (unsur besi hanya 6,5%).
Dengan semua fakta tersebut telah terbukti
bahwa semua besi yang ada di bumi benar-benar pada awalnya diturunkan dari
langit, dan telah ditegaskan apa yang ada dalam Al-Qur'an dan hadits Nabi
Muhammad ﷺ.
Subhanallah, Maha Suci Allah...
Jika bukan karena besi bumi sebabnya , tidak
akan ada medan magnet yang menahan lapisan gas dan cairan ini, juga tidak akan
ada kehidupan di permukaannya. Jika saja besi tidak turun dari langit ke bumi,
maka tidak ada yang bisa hidup. Karena zat besi merupakan bagian penting dari
hemoglobin dalam darah manusia, hewan, maupun tumbuhan.
“In the end, everyone was surprised when the above facts were written in
the Quran and confirmed by the Prophet 1400 years ago. This is proof that the
Messenger of Allah is truly the messenger of Allah who never lies and can be
trusted in all his words”.
Artinya : Pada akhirnya, semua orang merasa
kagum ketika fakta-fakta di atas telah termaktub dalam Al-Qur'an dan didukung
oleh Sabda Nabi ﷺ 1400 tahun yang lalu. Ini adalah bukti bahwa Rasulullah ﷺ adalah
benar-benar utusan Allah yang tidak pernah berbohong dan lagi dapat dipercaya
dalam segala perkataannya.
===***===
PEMBAHASAN
KEDUA : PENJELASAN LEBIH RINCI TENTANG TURUNNYA BESI PERTAMA DARI LANGIT & JAWABAN
TERHADAP KRITIKAN PARA PENENTANG NYA :
PERTAMA
:
PARA ILMUWAN MENGKONFIRMASI BAHWA BESI DARI LANGIT :
===
1) FAKTA ILMIYAH :
Dalam studi tentang distribusi berbagai elemen
di bagian alam semesta yang dirasakan, dicatat bahwa gas hidrogen adalah elemen
yang paling umum; Ini lebih dari 74% materi alam semesta yang terlihat,
diikuti oleh gas helium, yang merupakan sekitar 24% materi alam semesta yang
dapat diamati.
Dan bahwa kedua gas ini - yang mewakili elemen
paling ringan dan paling sederhana - bersama-sama membentuk lebih banyak dari
98% materi bagian yang diketemukan dari alam semesta. Sementara sisa
elemen-elemen yang kita kenal, yaitu lebih dari seratus elemen yang
tergabungkan, keberadaanya kurang dari 2% dari materi alam semesta yang
terlihat.
Pengamatan ini mengarah pada kesimpulan logis
bahwa inti gas hidrogen adalah blok / sekumpulan bahan yang mengkonstruksi
semua elemen yang kita kenal, yang diciptakan oleh fusi inti gas sederhana ini
satu sama lain di dalam bintang melalui proses yang dikenal sebagai: proses
fusi nuklir (عَمَلِيَّةُ الِانْدِمَاجِ
النَّوَوِيِّ), dan darinya sejumlah besar energi
dilepaskan, yang dikenal sebagai: Energi bintang-bintang (طَاقَةُ النُّجُومِ).
Dan proses fusi nuklir di dalam
bintang-bintang di langit yang lebih rendah terjadi secara berurutan (berantai)
dari elemen paling ringan ke yang tertinggi dari berat atom dan kompleksitas
dalam konstruksi sampai inti bintang berubah menjadi besi .
Bintang meledak dan sisa-sisanya tersebar di
langit untuk menangkap sejumlah bahan-bahan konstruksi utama , membuat
unsur-unsur yang lebih tinggi dalam berat atomnya mendarat di salah satu planet
atau bintang yang membutuhkan besi di hadapannya
Matahari kita sebagian besar terdiri dari gas
hidrogen yang inti-intinya melebur satu sama lain untuk membentuk gas helium,
dan energi yang luar biasa dari sepuluh juta derajat Celcius dilepaskan.
Proses Suhu di dalam matahari meningkat secara
bertahap, dan dengan peningkatannya, reaksi bergerak ke tahap berikutnya di
mana inti atom helium bergabung satu sama lain dalam serangkaian fusi berantai
hingga mencapai produksi atom karbon (12), kemudian oksigen (16) dan kemudian
neon (20) , dan seterusnya.
Pada bintang biasa seperti matahari kita, yang
suhu permukaannya diperkirakan sekitar enam ribu derajat Celcius, dan suhunya
secara bertahap meningkat ke arah pusat matahari hingga mencapai sekitar 15
juta derajat Celcius , dan para astrofisikawan memperkirakan bahwa itu terjadi dengan mengubah hampir setengah
jumlah hidrogen matahari menjadi helium ; maka suhu pada inti matahari itu akan
mencapai 100 juta derajat Celcius, yang akan mendorong inti berbagai atom
helium untuk melebur dalam tahap selanjutnya dari proses fusi nuklir, membentuk
unsur-unsur yang lebih tinggi dalam berat atom seperti karbon dan dilepaskan
sebagai energi yang lebih tinggi.
Para ilmuwan memperkirakan bahwa ketika suhu
inti matahari mencapai enam ratus juta derajat Celcius ; karbon akan berubah
menjadi natrium, kemudian menjadi magnesium, dan kemudian menjadi neon.
Kemudian proses fusi nuklir berikut menghasilkan unsur-unsur aluminium,
silikon, belerang, fosfor, klorin, argon, kalium, dan kalsium, secara
berturut-turut, dengan kenaikan suhu yang stabil, hingga mencapai dua ribu juta
derajat Celcius sehingga inti bintang berubah menjadi titanium, vanadium,
kromium, mangan, dan kelompok besi (besi, kobalt dan nikel).
Dan karena sintesis / pembentukan unsur-unsur
ini memerlukan suhu yang sangat tinggi, sementara yang tersedia hanya dalam
tahapan-tahapan khusus dalam kehidupan bintang-bintang raksasa yang dikenal
sebagai: raksasa-raksasa besar (الْعَمَالِيقُ
الْعِظَامُ), yang merupakan tahapan-tahapan pancaran
yang sangat intens; maka pembentukan unsur-unsur tsb tidak akan terjadi secara
sempurna pada setiap bintang di langit, tetapi dalam tahapan-tahapan kehidupan
khusus dari tahapan-tahapan “Bintang-Bintang raksasa” yang ketika meledak
dikenal dengan istilah “tahapan supernova (الْمُسْتَعَرَاتُ
الْعُظْمَى / penyebar luasan secara besar-besaran)”.
Dan ketika inti bintang berubah menjadi besi,
maka ia akan menghabiskan energi bintang, bukan menambahkan lebih banyak energi
malah sebaliknya ; Ini karena inti atom besi adalah inti unsur yang paling
kohesif, dan di sini bintang meledak dalam bentuk yang disebut : supernova
jenis pertama atau kedua, menurut massa / blok awal bintang.
Dan pecahan bintang yang meledak tersebar di
langit untuk memasuki kisaran gravitasi benda langit yang membutuhkan besi ini
, seperti halnya meteorit besi mencapai bumi kita dengan jutaan ton setiap
tahun.
Dan karena persentase dari besi di
matahari kita tidak melebihi 0 . 0037%, jauh lebih rendah
dibandingkan dengan proporsi dari besi pada masing-masing
dari Bumi, Merkurius, Venus dan Mars, dan di meteorit besi yang
sampai pada kita dari hamparan alam semesta, dan karena suhu inti
matahari belum mencapai tingkat yang memungkinkannya untuk menghasilkan
produksi silikon atau magnesium, apalago besi ; maka dengan jelas untuk
menyimpulkan bahwa baik matahari, bumi, dan planet-planet tata surya , yang
mengandung persentase besi yang berbeda, semuanya itu telah memperoleh besi
dari sumber di luar tata surya kita di bentangan alam semesta.
Oleh karena itu, ketika bumi kita terpisah
dari matahari, itu tidak lain hanyalah tumpukan abu yang terdiri dari
unsur-unsur ringan, kemudian tumpukan ini dilempari dengan meteorit besi yang
diluncurkan dari luar tata surya, lalu ia menetap di intinya berkat
kepadatannya yang tinggi dan kecepatan super kosmiknya ; maka meleleh atau
mencair karena panas nya yang diakibatkan penempatan di bumi, dan melelehkan
pula tumpukan abu dan membaginya menjadi tujuh bagian bumi :
Inti padat berupa bola besar besi dan nikel,
di mana proporsi besi mencapai 90%, dan nikel hingga 9%.
Dan beberapa elemen-elemen ringan seperti
sebagai : belerang, fosfor, dan karbon hingga 1%.
Diikuti oleh inti cair dengan komposisi yang
hampir sama secara kimiawi, dan ini merupakan inti Bumi : padat dan cair
bersama-sama membentuk sekitar 31% dari total massa Bumi.
Dan diikuti oleh inti bumi hingga mantel /
selendang luar Bumi ( Mante ) , terdiri dari tiga sabuk :
(bawah, tengah, atas).
Kemudian Mante; bebatuan bumi
( Litosfer ), yaitu terdiri dari dua sabuk : kulit
bumi ( Crust ) dan di bawah kerak bumi
( Subcrust ).
Dan semakin menurun rasio besi dari inti Bumi
ke bagian luar Bumi dengan terus menerus hingga ia mencapai 6,5 % di
dalam kulit Bumi.
Dari sini, itu diyakini bahwa besi
yang ada di dalam bumi, yang merupakan 35 . 9% dari massa
nya , tidak boleh tidak bahwa itu mungkin berada dalam sekian jumlah
bintang-bintang Suvernova ( yang tersebar luas ) seperti raksasa-raksasa besar
( الْعَمَالِيقُ الْعِظَامُ ), yang meledak dalam bentuk penyebar luasan secara
besar-besaran , maka berserakanlah serpihan-serpihannya di hamparan alam
semesta, dan turun ke bumi dalam bentuk hujan meteorit besi, dan dengan
demikian terbukti secara ilmiah bahwa semua besi bumi diturunkan dari langit,
bukan hanya ini, bahkan besi di seluruh tata surya kita juga diturunkan dari
langit, sebuah fakta hakiki yang tidak dapat dipahami oleh para ilmuwan sampai
akhir tahun 50’an abad ke 20 .
[ Refernsi . “مِنْ
آيَاتِ الْإِعْجَازِ الْعِلْمِيِّ: الْأَرْضُ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ“ Oleh DR. Zaghloul Al-Najjaar, hal.123-127] .
===
2). KESESUAIAN ANTARA FAKTA ILMIYAH DAN APA
YANG DI ISYARATKAN AYAT AL-QUR’AN:
DR. Zaghloul Al-Najjaar dalam artikelnya
“مِنْ آيَاتِ الْإِعْجَازِ
الْعِلْمِيِّ: الْأَرْضُ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ“ hal.
123-127 meyebutkan :
Bahwa ada beberapa orang yang mengingkari akan
adanya mukjizat ilmiah dalam ayat :
﴿لَقَدْ
أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ
وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ ۖ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ
بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ
وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ ۚ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ﴾
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul
Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama
mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan
keadilan. Dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan
berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan
supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya
padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha
Perkasa”. (QS. Al-Hadiid : 25 ).
Dan orang yang mengingkari ayat mukjizat ini
berkata :
يَدَّعِي الْإِعْجَازِيُّونَ أَنَّ الْقُرْآنَ
يَقُولُ: إِنَّ الْحَدِيدَ أُنْزِلَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ، وَيَقُولُونَ:
إِنَّ الْحَدِيدَ لَمْ يَتَكَوَّنْ فِي الْمَجْمُوعَةِ الشَّمْسِيَّةِ، بَلْ جَاءَ
إِلَيْهَا مِنَ الْخَارِجِ؛ لِأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ بِهَا مَا يَكْفِي مِنْ طَاقَةٍ
لِظُهُورِ عُنْصُرِ الْحَدِيدِ.
“ Para I’jaz ( Orang-orang yang meng
klaim adanya mukjizat dalam ayat tsb ) menyatakan :
Sesunnguhnya Al Qur'an mengatakan : Besi
diturunkan dari langit ke bumi, dan mereka berkata: Besi tidak terbentuk dalam
pembentukan tata surya, tetapi datang kepadanya dari luar, karena tatasurya
tidak memiliki energi yang cukup untuk munculnya unsur besi “.
Lalu pengingkar mukjizat ini bertanya-tanya :
كَيْفَ لَا يَكُونُ الْحَدِيدُ مِنَ الْعَنَاصِرِ
الْمُكَوِّنَةِ لِكَوْكَبِ الْأَرْضِ، وَهُوَ مِنْ أَكْثَرِ الْعَنَاصِرِ انْتِشَارًا
بِهَا، وَيُشَكِّلُ حَوَالَيْ ٣٥٪ مِنْ مَجْمُوعِ كُتْلَتِهَا؟ كَمَا أَنَّ اللُّبَّ
الدَّاخِلِيَّ لِلْأَرْضِ يَحْتَوِي عَلَى الْحَدِيدِ، فَكَيْفَ يَسْتَوِي هَذَا مَعَ
عَدَمِ ظُهُورِهِ فِيهَا إِلَّا عَنْ طَرِيقِ هُبُوطِهِ بِالنِّيَازِكِ؟
Bagaimana mungkin besi itu bukan salah satu
elemen yang membentuk planet bumi ini, padahal itu adalah salah satu elemen
yang paling mayoritas di dalamnya, dan membentuk sekitar 35% dari total
massanya? Sama halnya bahwa inti dalam bumi mengandung besi, maka
bagaimana mungkin ini bisa sama dengan tidak munculnya besi di dalamnya kecuali
turunnya itu melalui meteorit?
Menanggapi hal itu, kami katakan:
لَيْسَ بِغَرِيبٍ أَنْ يَذْكُرَ الطَّاعِنُ
كَلَامًا كَهَذَا؛ فَمِنَ الْوَاضِحِ أَنَّهُ لَمْ يَطَّلِعْ عَلَى كَثِيرٍ مِنَ الْحَقَائِقِ
الْعِلْمِيَّةِ الَّتِي أَثْبَتَهَا الْعُلَمَاءُ حَدِيثًا بِشَأْنِ تَكَوُّنِ عُنْصُرِ
الْحَدِيدِ، فَإِلَى أَوَاخِرِ السِّتِّينِيَّاتِ مِنَ الْقَرْنِ الْعِشْرِينَ لَمْ
يَكُنْ أَحَدٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ يَتَصَوَّرُ ـ وَلَوْ مِنْ قَبِيلِ التَّخَيُّلِ ـ
أَنَّ هَذَا الْقَدْرَ الْهَائِلَ مِنَ الْحَدِيدِ قَدْ أُنْزِلَ إِلَى الْأَرْضِ مِنَ
السَّمَاءِ إِنْزَالًا حَقِيقِيًّا، كَيْفَ أُنْزِلَ؟ وَكَيْفَ تَسَنَّى لَهُ اخْتِرَاقُ
الْغِلَافِ الصَّخْرِيِّ لِلْأَرْضِ بِهَذِهِ الْكَمِّيَّاتِ الْمُذْهِلَةِ؟ وَكَيْفَ
أَمْكَنَهُ الِاسْتِمْرَارُ فِي التَّحَرُّكِ بِدَاخِلِ الْأَرْضِ حَتَّى وَصَلَ إِلَى
لُبِّهَا؟ وَكَيْفَ شَكَّلَ كُلًّا مِنْ لُبِّ الْأَرْضِ الصُّلْبِ وَلُبِّهَا السَّائِلِ
عَلَى هَيْئَةِ كُرَةٍ ضَخْمَةٍ مِنَ الْحَدِيدِ وَالنِّيكِلِ، يُحِيطُ بِهَا نِطَاقٌ
مُنْصَهِرٌ مِنَ التَّرْكِيبِ نَفْسِهِ؟ ثُمَّ كَيْفَ أَخَذَتْ نِسْبَتُهُ فِي التَّنَاقُصِ
بِاسْتِمْرَارٍ فِي اتِّجَاهِ قِشْرَةِ الْأَرْضِ الصُّلْبَةِ؟
وَلَكِنْ فِي أَوَاخِرِ الْقَرْنِ الْعِشْرِينَ
ثَبَتَ لِعُلَمَاءِ الْفَلَكِ وَالْفِيزْيَاءِ الْفَلَكِيَّةِ أَنَّ الْحَدِيدَ لَا
يَتَكَوَّنُ فِي الْجُزْءِ الْمُدْرَكِ مِنَ الْكَوْنِ إِلَّا فِي مَرَاحِلَ مُحَدَّدَةٍ
مِنْ حَيَاةِ النُّجُومُ الْعِمْلَاقَةُ ـ كَمَا ذَكَرْنَا آنِفًا ـ الَّتِي تُسَمَّى
بِالْعَمَالِيقِ الْعِظَامِ، وَالَّتِي بَعْدَ أَنْ يَتَحَوَّلَ لُبُّهَا بِالْكَامِلِ
إِلَى حَدِيدٍ تَنْفَجِرُ عَلَى هَيْئَةِ الْمُسْتَعَرَاتُ الْعَظَامُ، وَبِانْفِجَارِهَا
تَتَنَاثَرُ مُكَوِّنَاتُهَا بِمَا فِيهَا الْحَدِيدُ مِنْ صَفْحَةِ السَّمَاءِ، فَيَدْخُلُ
هَذَا الْحَدِيدُ ـ بِتَقْدِيرٍ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى ـ فِي مَجَالِ جَاذِبِيَّةِ
أَجْرَامٍ سَمَاوِيَّةٍ تَحْتَاجُ إِلَيْهِ، مِثْلَ أَرْضِنَا الْبِدَائِيَّةِ الَّتِي
وَصَلَهَا الْحَدِيدُ الْكَوْنِيُّ وَهِيَ كُومَةٌ مِنَ الرَّمَادِ، فَانْدَفَعَ إِلَى
قَلْبِ تِلْكَ الْكُومَةِ بِحُكْمِ كَثَافَتِهِ الْعَالِيَةِ وَسُرْعَتِهِ الْكَوْنِيَّةِ
الْمُنْدَفِعِ بِهَا، فَانْصَهَرَ بِحَرَارَةِ الِاسْتِقْرَارِ فِي قَلْبِ الْأَرْضِ
الْبِدَائِيَّةِ وَصَهَرَهَا، وَمَيَّزَهَا إِلَى سَبْعِ أَرَضِينَ.
Bukan hal yang diherankan jika si pengingkar
menyebutkan kata-kata seperti itu ; maka yang jelas bahwa dia tidak
melihat banyak fakta ilmiah yang baru-baru ini dibuktikan oleh para ilmuwan
tentang pembentukan unsur besi. Sampai akhir tahun 60’an abad ke 20, tidak ada
ilmuwan yang bisa membayangkan - meskipun hanya sebatas khayalan atau imajinasi
- bahwa sejumlah besar besi telah diturunkan ke bumi dari langit , benar-benar
diturunkan sesuai fakta.
Lalu bagaimana mungkin dturunkan ?
Dan bagaimana dia bisa menembus lapisan
bebatuan (litosfer) Bumi dalam jumlah yang luar biasa?
Dan bagaimana ia bisa terus bergerak di dalam
bumi sampai dia mencapai intinya? Bagaimana inti padat dan inti cair Bumi
terbentuk menjadi bola besi dan nikel yang besar, dikelilingi oleh sabuk cair
dengan komposisi yang sama?
Lalu bagaimana persentasenya terus menurun
menuju kerak bumi yang keras?
Namun pada akhir abad kedua puluh, terbukti
bagi para astronom dan astrofisikawan bahwa besi tidak terbentuk di bagian alam
semesta yang dirasakan kecuali dalam tahap-tahap tertentu kehidupan
bintang-bintang raksasa (النُّجُومُ
الْعِمْلَاقَةُ) - seperti yang kami sebutkan di atas -
yang disebut raksasa-raksasa besar (الْعَمَالِيقُ
الْعِظَامُ), yang setelah benar-benar inti nya
berubah menjadi besi, meledak dalam bentuk supernova (الْمُسْتَعَرَاتُ
الْعِظَامُ /penyebar luasan secara besar-besaran) .
Dan dengan ledakannya itu, maka
komponen-komponennya, termasuk besi, berhamburan dari permukaan langit,
sehingga besi ini masuk - dengan kadar yang Allah tetapkan - di medan gravitasi
benda langit yang membutuhkannya, seperti pada permulaan pembentukan bumi kita,
yang kemudian sampai kepadanya besi kosmik, yang saat itu bumi merupakan
tumpukan abu, lalu terdorong olehnya menuju pada inti tumpukan itu ; karena
kepadatannya yang tinggi dan kecepatan kosmiknya , maka besi itu jadi meleleh
karena panas yang ditimbulkan saat besi itu menetap di inti permulaan
penciptaan bumi dan melelehkan pula tumpukan abu, lalu membedakan diri elemen-elemennya menjadi tujuh bumi .
[ Ref : “مِنْ
آيَاتِ الْإِعْجَازِ الْعِلْمِيِّ: الْأَرْضُ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ“ Oleh DR. Zaghloul Al-Najjaar, hal.121-122]
====
3). TAHAPAN-TAHAPAN PROSES PERUBAHAN INTI
BINTANG MENJADI BESI :
Para ilmuwan mengatakan :
إِنَّ الْأَرْضَ تَشَكَّلَتْ قَبْلَ أَرْبَعَةِ
بِلَايِينِ وَنِصْفِ بِلْيُونِ عَامٍ، وَكَانَتِ النِّيَازِكُ وَالْمُذَنَّبَاتُ تَقْصِفُهَا
بِشِدَّةٍ وَعُنْفٍ، بِحَيْثُ كَانَتِ الْحَرَارَةُ الْمُنْبَعِثَةُ مِنْ هَذَا الْقَصْفِ
ـ فَائِقِ السُّرْعَةِ ـ عَظِيمَةً لِدَرَجَةٍ كَافِيَةٍ لِإِذَابَةِ الْكَوْكَبِ بِأَكْمَلِهِ،
ثُمَّ بَدَأَتِ الْأَرْضُ تَبْرُدُ بَعْدَ ذَلِكَ وَاسْتَمَرَّتْ تَبْرُدُ إِلَى الْيَوْمِ،
وَأَخَذَتِ الْمَوَادُّ الْأَكْثَرُ كَثَافَةً مِثْلُ الْحَدِيدِ ـ وَالْقَادِمَةُ
مِنْ تِلْكَ النِّيَازِكِ ـ طَرِيقَهَا إِلَى قَلْبِ الْأَرْضِ وَمَرْكَزِهَا، بَيْنَمَا
صَعِدَتِ السِّيلِيكَاتُ الْأَخَفُّ وَزْنًا، وَكَذَلِكَ مُرَكَّبَاتُ الْأُكْسُجِينِ
الْأُخْرَى وَالْمَاءُ الْقَادِمُ مِنَ الْمُذَنَّبَاتِ إِلَى قُرْبِ السَّطْحِ.
“Bahwa Bumi terbentuk empat setengah miliar
tahun yang lalu, dan meteorit serta komet membombardirnya dengan sangat keras
sehingga panas yang dipancarkan oleh pemboman berkecepatan tinggi ini cukup
besar untuk melelehkan seluruh planet . Kemudian bumi mulai mendingin setelah
itu dan terus mendingin sampai hari ini, dan bahan-bahan yang lebih padat
seperti besi dari meteorit ini menuju ke inti dan pusat Bumi, sedangkan silikat
yang lebih ringan itu naik, dan begitu pula senyawa oksigen lainnya dan air
dari komet, naik ke dekat permukaan bumi “.
[ Referensi : “وَأَنْزَلْنَا
الْحَدِيدَ” (QS. Al- Hadid: 25), oleh Abdul
Majiid Al-Zindaani, penelitian yang dipublikasikan di website : الْهَيْئَةُ الْعَالَمِيَّةُ
لِلْإِعْجَازِ الْعِلْمِيِّ فِي الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ www.nooran.org
Profesor " Armstrong"
, salah satu ilmuwan terbesar perwakilan badan antariksa NASA Amerika ,
dia mengukuhkan kebenarannya ketika ditanya tentang bagaimana proses adanya
besi ? :
«لَقَدْ أَجْرَيْنَا أَبْحَاثًا كَثِيرَةً عَلَى
مَعَادِنِ الْأَرْضِ، وَلَكِنَّ الْمَعْدِنَ الْوَحِيدَ الَّذِي يُحَيِّرُ الْعُلَمَاءَ
هُوَ الْحَدِيدُ، فَذَرَّاتُ الْحَدِيدِ ذَاتُ صِفَاتٍ مُمَيَّزَةٍ، وَلِكَيْ تَتَّحِدَ
الْإِلِكْتُرُونَاتُ وَالنِّيتْرُونَاتُ فِي ذَرَّةِ الْحَدِيدِ، فَهِيَ مُحْتَاجَةٌ
إِلَى طَاقَةٍ هَائِلَةٍ تَبْلُغُ أَرْبَعَةَ أَضْعَافِ الطَّاقَةِ الْمَوْجُودَةِ
فِي مَجْمُوعَتِنَا الشَّمْسِيَّةِ! وَلِذَلِكَ فَلَا يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ الْحَدِيدُ
قَدْ تَكَوَّنَ عَلَى الْأَرْضِ، وَلَا بُدَّ أَنَّهُ عُنْصُرٌ غَرِيبٌ وَفَدَ إِلَى
الْأَرْضِ وَلَمْ يَتَكَوَّنْ بِهَا».
"Kami telah melakukan banyak penelitian
tentang logam-logam bumi, akan tetapi satu - satunya logam yang
membingungkan para ilmuwan adalah besi .
Tetapi satu-satunya logam yang membingungkan
para ilmuwan adalah besi, atom besi memiliki sifat khusus, dan agar elektron
dan neutron dapat bersatu dalam sebuah atom besi, dibutuhkan energi yang sangat
besar yaitu empat kali lipat energi di tata surya kita!
Oleh karena itu, adanya besi tidak mungkin
berasal dari Bumi, dan itu pasti unsur asing yang datang ke Bumi dan tidak
terbentuk bersamaan dengannya” .
[Referensi : “مِنْ
رَوَائِعِ الْإِعْجَازِ الْعِلْمِيِّ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ” oleh DR. ‘Aathif El-Mulaiji, Kairo, edisi ke-4, 2004 M,
hlm.94, 95] .
The Encyclopedia Britannica
menyebutkan :
إِنَّ أَصْلَ تَكَوُّنِ الْأَرْضِ عَنْ
طَرِيقِ النَّمُوِّ التَّرَاكُمِيِّ لِلْكُوَيْكِبَاتِ هِيَ فَرْضِيَّةٌ مُوَثَّقَةٌ،
وَالنِّيَازِكُ هِيَ الْأَمْثِلَةُ الْمُحْتَمَلَةُ لِلْكُوَيْكِبَاتِ الَّتِي عَاشَتْ
فِي مَرْحَلَةٍ مَا قَبْلَ التَّكَوُّنِ مِنَ النِّظَامِ الشَّمْسِيِّ، وَهَكَذَا يَظْهَرُ
أَنَّ الْأَرْضَ قَدْ تَشَكَّلَتْ بِتَرَاكُمِ الْأَجْسَامِ الصَّلْبَةِ مَعَ التَّرْكِيبِ
الْمُتَوَسِّطِ لِلنِّيَازِكِ الْحَجَرِيَّةِ.
"Asal usul pembentukan Bumi oleh
pertumbuhan kumulatif asteroid adalah hipotesis yang terdokumentasi, dan
meteorit adalah contoh-contoh yang mungkin dari asteroid yang hidup pada fase
pra-planet dari tata surya, dan dengan demikian tampak bahwa Bumi dibentuk oleh
akumulasi benda padat dengan komposisi pertengahan meteorit batu.
[ Referensi : “مَوْسُوعَةُ
الْإِعْجَازِ الْعِلْمِيِّ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ وَالسُّنَّةِ الْمُطَهَّرَةِ” oleh Yusuf al-Haajj Ahmad
hal. 227 cet. ke2 thn 2003 , مكتبة
ابن حجر Damaskus ]
----
GAMBAR YANG MEMBUKTIKAN BAHWA BESI TURUN DARI LANGIT :
Tertulis:
هَذِهِ صُورَةٌ عَرَضَهَا مَوْقِعُ نَاسَا
لِلْفَضَاءِ بِتَارِيخِ 4 مَارِسَ 2007. وَقَالَ الْعُلَمَاءُ:
إِنَّهَا صُورَةٌ لِمُذَنَّبٍ يَسْبَحُ
فِي الْكَوْنِ، وَيَبْلُغُ طُولُهُ أَكْثَرَ مِنْ 30 مَلْيُونَ كِيلُو مِتْرٍ، وَمِنَ
الْمُحْتَمَلِ أَنْ يَصْطَدِمَ بِأَيِّ كَوْكَبٍ يُصَادِفُهُ، وَلَدَى تَحْلِيلِ هَذَا
الْمُذَنَّبِ تَبَيَّنَ أَنَّ ذَيْلَهُ عِبَارَةٌ عَنْ مُرَكَّبَاتِ حَدِيدٍ،
أَمَّا النِّيَازِكُ الَّتِي سَقَطَتْ
عَلَى الْأَرْضِ مُنْذُ بِلَايِينَ السِّنِينَ وَالْمَحْمُولَةُ بِالْحَدِيدِ، فَقَدْ
أَغْنَتِ الْأَرْضَ بِهَذَا الْعُنْصُرِ؛ وَلِذَلِكَ عِنْدَمَا تَحَدَّثَ الْقُرْآنُ
عَنِ الْحَدِيدِ أَكَّدَ أَنَّهُ نَزَلَ مِنَ السَّمَاءِ: ﴿وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ
فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ﴾ [الْحَدِيدِ: ٢٥]،
وَهَذَا يَتَطَابَقُ مَعَ الْعَدِيدِ
مِنَ الدِّرَاسَاتِ الَّتِي تُؤَكِّدُ نُزُولَ الْحَدِيدِ وَاسْتِقْرَارَهُ فِي بَاطِنِ
الْأَرْضِ.
Ini adalah gambar yang disajikan oleh situs
luar angkasa NASA pada tanggal 4 Maret 2007 , dan para ilmuwan berkata:
Ini adalah gambar komet yang BERENANG di alam
semesta, dengan panjang lebih dari 30 juta kilometer, dan kemungkinan akan
bertabrakan dengan apa pun planet yang ditemuinya, dan ketika menganalisis
komet ini, ditemukan bahwa ekornya adalah susunan senyawa-senyawa besi. Ia
jatuh ke bumi miliaran tahun yang lalu dan sarat dengan besi. Ia memperkaya
bumi dengan unsur ini; Oleh karena itu, ketika Al-Qur'an berbicara tentang
besi, ditegaskan bahwa itu turun dari langit :
﴿وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ
شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ﴾
“Dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat
kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka
mempergunakan besi itu)”. (QS. Al-Hadiid : 25 ).
Dan ini sesuai dengan banyak penelitian yang
mengkonfirmasi penurunan besi dan stabilitasnya di lapisan tanah bawah bumi.
[Referensi : “هَذَا
خَلْقُ اللَّهِ: انْفِجَارٌ رَائِعٌ لِلنُّجُومِ”, oleh
Abdud-Daa’im Al-Kahiil, penelitian yang dipublikasikan di situs web:
www.kaheel7.com
(Engineer Abdul-Daem
Al-Kaheel www.kaheel7.com ).]
Terlepas dari adanya kritikan-kritikan dari
para pengkritik , ayat ini akan tetap menjadi salah satu dari ayat-ayat
mukjizat ilmiah yang membuktikan kemurnian akan kenabian Nabi Muhammad ﷺ .
Siapa yang mengajarinya fakta-fakta ini pada
masa empat belas abad sebelum para ilmuwan menemukannya?
Allah lah yang mensifati Nabi ﷺ dengan
mengatakan :
﴿وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ . إِنْ هُوَ
إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ﴾
Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran)
menurut kemauan hawa nafsunya . Ucapannya
itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. An-Najm : 3-4).
****
KEDUA :
MAKNA “الإنْزَالُ” DALAM AYAT SURAT AL-HADIID ADALAH “TURUN” HAKIKI , BUKAN
BERMAKNA “PENCIPTAAN”.
Kata “الإنْزَالُ” dalam ayat surat al-Hadiid adalah bermakna hakiki , yaitu
“menurunkan”, bukan bermakna “الخَلْق” yakni “penciptaan” saja .
Dalam sebuah Artikel yang disarikan dari situs
“الْهَيْئَةُ الْعَالَمِيَّةُ
لِلْإِعْجَازِ الْعِلْمِيِّ فِي الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ”
Tautan artikel: http://iswy.co/e16u2b , di sebutkan :
«لَجَأَ الْمُفَسِّرُونَ عِنْدَ تَفْسِيرِ قَوْلِهِ
تَعَالَى: ﴿وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ﴾ (الْحَدِيد: 25) إِلَى
أَنَّ الْإِنْزَالَ هُنَا بِمَعْنَى: الْخَلْقِ وَالْإِيجَادِ وَالتَّقْدِيرِ وَالتَّسْخِيرِ،
وَمِنْ هُنَا يَلْتَقِطُ الْمُشَكِّكُونَ طَرَفَ الْخَيْطِ مُسْتَنِدِينَ إِلَى أَقْوَالِ
الْمُفَسِّرِينَ مِنْ نَاحِيَةٍ، وَإِلَى قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ
الْأَنْعَامِ ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ﴾ (الزُّمَر: 6) مِنْ نَاحِيَةٍ أُخْرَى، قَائِلِينَ:
إِنَّ "أَنْزَلَ" هُنَا تَعْنِي خَلَقَ».
Para Ahli Tafsir dalam menafsirkan firman
Allah Ta’aala :
﴿وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ
شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ﴾
“Dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat
kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan
besi itu)”. (QS. Al-Hadiid : 25 ).
Mereka mengalihkan makna “الإنْزَالُ” kepada
makna :
«الْخَلْقُ وَالْإِيجَادُ وَالتَّقْدِيرُ
وَالتَّسْخِيرُ»
“Penciptaan,
mengadakan , menentukan dan mengendalikan”
Maka dari sini lah para penebar keragu-raguan
menangkap skeptis ujung benang dengan menyandarkannya kepada
pernyataan-pernyataan para ahli Tafsir di satu sisi , dan juga pada firman
Allah Ta’aala :
﴿وَاَنْزَلَ لَكُمْ مِّنَ الْاَنْعَامِ
ثَمٰنِيَةَ اَزْوَاجٍ ۗ﴾
“Dan Dia menurunkan delapan pasang hewan
ternak untuk kalian “. ( QS. Az-Zumaar : 6 )
Di sisi lain. Lalu mereka mengatakan: “
Sesungguhnya kata “الإنْزَالُ” di sini berarti penciptaan”.
Ibnu Katsir berkata
:
قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَأَنْزَلَ لَكُمْ
مِنَ الْأَنْعَامِ ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ﴾ [الزُّمَر: 6]؛ أَيْ: وَخَلَقَ لَكُمْ مِنْ
ظُهُورِ الْأَنْعَامِ ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ، وَهِيَ الْمَذْكُورَةُ فِي سُورَةِ الْأَنْعَامِ
ثَمَانِيَةُ أَزْوَاجٍ؛ مِنَ الضَّأْنِ اثْنَيْنِ، وَمِنَ الْمَعْزِ اثْنَيْنِ، وَمِنَ
الْإِبِلِ اثْنَيْنِ، وَمِنَ الْبَقَرِ اثْنَيْنِ.
“ Firman-Nya : “Dan Dia menurunkan
untuk kalian dari hewan ternak delapan pasang ” (Al-Zumar: 6) ,
yakni : Dia menciptakan untuk kalian dari
punggung-punggung hewan ternak delapan pasang, dan hewan-hewan itu
disebutkan dalam Surat Al-An'aam :
﴿ثَمٰنِيَةَ اَزْوَاجٍۚ مِنَ الضَّأْنِ
اثْنَيْنِ وَمِنَ الْمَعْزِ اثْنَيْنِۗ﴾
Ada delapan hewan ternak yang berpasangan
(empat pasang); sepasang domba dan sepasang kambing. ( QS. Al-An’aam : 143 ).
﴿وَمِنَ الْاِبِلِ اثْنَيْنِ وَمِنَ
الْبَقَرِ اثْنَيْنِۗ﴾
Dan dari unta sepasang dan dari sapi sepasang
( QS. Al-An’aam : 144 ). [ Tafsir Ibnu Katsir 12/113 . Cet. pertama thn 2000 M
, Muassasah Qurthubah , Kairo ].
===
KRITIKAN PENENTANG DAN JAWABAN-NYA
Di
sini para pengkritik mengajukan pertanyaan:
Apakah ternak juga turun dari langit seperti
besi turun, sebagaimana yang di klaim oleh para pakar ayat-ayat mukjizat ?!
Dan mereka tidak cukup dengan itu, tetapi
mereka menyandarkannya pada ayat-ayat lain untuk mendukung pendirian mereka,
termasuk firman Allah SWT :
﴿يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا
عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُّوَارِيْ سَوْءٰتِكُمْ وَرِيْشًاۗ﴾
“ Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami
telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi aurat kalian dan untuk
perhiasan bagi kalian ” (Al-A’raf: 26).
Dari ayat ini pertanyaan yang sama yang dia
tanyakan sebelumnya muncul pula di benak para pengkritik :
Apakah
pakaian itu turun pada kita dari langit juga?
JAWABAN-NYA :
Untuk menanggapi syubhat ini, Syeikh Qisthoos
Ibrahim Al-Nuaimi telah menjawabnya dengan menyatakan :
أَوَّلًا: أَنْ نَسُرَّدَ بَعْضًا مِنَ
الْآيَاتِ مُقْتَطَعَةً مِنْ سِيَاقِهَا؛ جَرْيًا عَلَى طَرِيقَةِ أُولَئِكَ الَّذِينَ
يُلْقُونَ بِشُبَهِهِمْ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا، أَوْ أَنَّهُمْ
جَاءُوا بِأُمُورٍ لَمْ يَسْبِقْهُمْ إِلَيْهَا أَحَدٌ، فَعَلَى طَرِيقَتِهِمْ فِي
فَهْمِ كِتَابِ اللَّهِ، فَالْوَيْلُ كُلُّ الْوَيْلِ لِمَنْ صَلَّى، فَاللَّهُ تَعَالَى
يَقُولُ: ﴿فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ﴾ [الْمَاعُون: 4]، وَكَذَلِكَ عَلَى الدُّعَاةِ
أَنْ يُبَلِّغُوا أَقْوَامَهُمْ بِتَرْكِ الصَّلَاةِ؛ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ﴾ [النِّسَاء: 43].
وَهَكَذَا... فَالْأَصْلُ أَنْ يُؤْخَذَ
الْكَلَامُ فِي سِيَاقِهِ لِيَتَّضِحَ مَعْنَاهُ، أَمَّا اقْتِطَاعُ الْكَلَامِ مِنْ
سِيَاقِهِ فَإِنَّهُ يُخِلُّ بِمَعْنَاهُ غَالِبًا.
وَتَرْتِيبًا عَلَى مَا سَبَقَ نَقُولُ:
إِنَّ مَا اسْتَشْهَدَ بِهِ مِنْ أَقْوَالِ
أَئِمَّةِ الْمُفَسِّرِينَ مِنْ قَوْلِهِمْ: إِنَّ مَعْنَى الْإِنْزَالِ فِي آيَةِ
الْحَدِيدِ الْخَلْقُ، فَهُوَ اجْتِهَادٌ مِنْ عُلَمَاءَ مُجْتَهِدِينَ، إِنْ أَصَابُوا
فَلَهُمْ أَجْرَانِ، وَإِنْ أَخْطَؤُوا فَلَهُمْ أَجْرٌ، فَهُمْ مَأْجُورُونَ عَلَى
كُلِّ حَالٍ، وَلَكِنْ هَذَا لَا يَعْنِي أَنَّهُمْ مَعْصُومُونَ، وَلَا أَنَّ مَا
يَقُولُونَهُ حُجَّةٌ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ أَوْ عَلَى خَلْقِهِ، إِنَّمَا يَتَّضِحُ
الْإِعْجَازُ الْعِلْمِيُّ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ عَنْ طَرِيقِ مُوَافَقَةِ الْحَقَائِقِ
الْعِلْمِيَّةِ الثَّابِتَةِ حَدِيثًا ـ سَوَاءٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ أَوْ غَيْرِهِمْ
ـ لِمَا جَاءَ فِي كِتَابِ اللَّهِ أَوْ فِي سُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، فَتَكُونُ هَذِهِ الْمُوَافَقَةُ حُجَّةً دَامِغَةً عَلَى أَنَّ الْقُرْآنَ
مِنْ عِنْدِ عَلِيمٍ خَبِيرٍ، خَالِقٍ لِهَذَا الْكَوْنِ، لَا مِنْ عِنْدِ بَشَرٍ يُخْطِئُ
وَيُصِيبُ.
وَمِنْ هُنَا يَتَّضِحُ مَعْنَى قَوْلِهِ
عَزَّ وَجَلَّ: ﴿سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ
لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ﴾
[فُصِّلَت: 53]، فَهَذِهِ الْآيَةُ تَنُصُّ عَلَى أَنَّ اللَّهَ سَيَجْعَلُ فِي هَذَا
الْقُرْآنِ مِنَ الْآيَاتِ وَالْأَدِلَّةِ مَا بِهَا تَقُومُ الْحُجَّةُ عَلَى الْخَلْقِ
إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ وَلَيْسَ لِزَمَنٍ مَحْدُودٍ أَوْ عَصْرٍ مِنَ الْعُصُورِ،
فَمِنْ أَيْنَ تُرِيدُ أَنْ يَعْلَمَ الْمُفَسِّرُ الَّذِي عَاشَ قَبْلَ ثَمَانِ مِئَةِ
سَنَةٍ بِهَذِهِ الدَّقَائِقِ الْكَوْنِيَّةِ، الَّتِي مَا عَرَفَهَا أَحَدٌ قَبْلَهُ
وَلَا بَعْدَهُ إِلَّا بَعْدَ أَنْ تَرَاكَمَتِ الْجُهُودُ وَاخْتُرِعَتْ وَسَائِلُ
الْكَشْفِ وَالْمُرَاقَبَةِ!
Pertama-tama
kita harus merunut
sebagian ayat-ayat yang diambil dari runutan konteksnya; sesuai dengan cara
mereka dalam melempar syubhat-syubhatnya dan mereka pikir bahwa apa yang
mereka lakukan itu sebaik-baiknya perbuatan , atau mereka datang dengan membawa
hal-hal yang belum pernah dilakukan oleh orang lain sebelum mereka, dengan
demikian cara mereka dalam memahami kitab Allah itu , sama seperti mengatakan :
Maka kecelakaanlah dengan segala kecelakaan bagi orang sholat ; karena Allah
Ta’ala berfirman :
﴿فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ﴾
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang
shalat”. ( QS. Al-Maa’uun : 4 ).
Dan selain itu mereka juga mewajibkan para dai
untuk memberitahukan pada kaum-kaumnya agar mereka meninggalkan shalat, karena
Allah SWT berfirman :
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا
الصَّلَاةَ﴾
“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah
kalian mendekati shalat ” (An-Nisa: 43) , dan seterusnya...
Prinsip dasarnya adalah bahwa kata-kata itu
harus diambil dalam konteksnya sehingga maknanya menjadi jelas, tetapi memotong
kata-kata di luar konteks pada umumnya sering mendistorsi maknanya.
Dalam urutan di atas , kami katakan :
Apa yang dikutip dari pendapat para imam ahli tafsir dari perkataan mereka :
Arti “الإنْزَالُ” pada ayat surat al-Hadiid adalah “penciptaan” , maka itu adalah
hasil ijtihad para ulama mujtahidiin , jika ijtihad mereka tepat dan benar ,
maka baginya dua pahala, tetapi jika salah, maka bagi mereka satu pahala. Apapun hasilnya mereka semuanya tetap diberi
pahala , akan tapi ini tidak berarti mereka terjaga dari kesalahan , dan tidak
pula semua yang mereka katakan adalah hujjah terhadap Kitab Allah atau terhadap
makhluk-Nya .
Mukjizat ilmiah dalam Al-Qur'an akan menjadi
jelas dengan cara penyesuaian fakta-fakta ilmiah yang baru diketemukan - baik
oleh seorang Muslim atau lainnya - dengan apa yang dinyatakan dalam Kitab Allah
atau dalam Sunnah Nabi-Nya ﷺ. Maka kesesuaian ini menjadih hujjah yang tak dapat dibantah
bahwa Al-Qur'an berasal dari Allah Yang Maha Tahu , Yang Maha Pandai , Sang
Pencipta alam semesta ini, bukan dari manusia yang terkadang salah dan
terkadang benar .
Dari sini , menjadi jelas makna firman
Allah Yang Mahakuasa :
﴿سَنُرِيهِمۡ ءَايَٰتِنَا فِي ٱلۡأٓفَاقِ
وَفِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّۗ أَوَلَمۡ يَكۡفِ
بِرَبِّكَ أَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴾
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka
tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru cakrawala dan pada diri mereka
sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tidak kah
cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? “ . (QS.
Fush-shilat : 53).
Ayat ini menyatakan bahwa Allah akan
menjadikan ayat-ayat Al-Qur'an ini dan dalil-dalilnya yang dengannya hujjah
bisa ditegakkan pada makhluk, sampai datangnya Hari Kiamat dan bukan untuk
waktu atau zaman yang terbatas, maka dari mana anda menginginkan bahwa seorang
ahli tafsir yang hidup 800 tahun yang
bisa mengetahui tentang alam semesta yang sangat pelik dan rumit yang belum
diketahui oleh siapa pun sebelum atau sesudahnya kecuali setelah adanya
upaya-upaya yang terkumpulkan dan alat-alat deteksi dan pengamatan
ditemukan ! ( Selesai )
[Referensi : «الْإِعْجَازُ
فِي سُورَةِ الْحَدِيدِ», karya Qisthoos Ibrahim
Al-Nuaimi, artikel yang dimuat di website: [www.laghouat.net](http://www.laghouat.net) Dan kutip pula dalam Web:
[http://bayanelislam.net](http://bayanelislam.net) › Suspi... «نَفْيُ الإِعْجَازِ الْعِلْمِيِّ فِي
قَوْلِهِ تَعَالَى : وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ» ].
Dan Syeikh Abdul Majiid Al-Zindaani menyatakan
:
وَلَيْسَ مَعْنَى هَذَا أَنَّ الْمُفَسِّرِينَ
كُلَّهُمْ فَسَّرُوا الْإِنْزَالَ بِالْخَلْقِ، وَلَكِنَّ مِنْهُمْ مَنْ فَسَّرَ اللَّفْظَ
عَلَى ظَاهِرِهِ، فَنَحْنُ إِذَا بَحَثْنَا أَقْوَالَ الْمُفَسِّرِينَ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ،
نَجِدُهُمْ مُنْقَسِمِينَ إِلَى فَرِيقَيْنِ؛
الأَوَّلُ: فَسَّرَ اللَّفْظَ عَلَى ظَاهِرِهِ،
فَقَالَ: ﴿وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ﴾ [الْحَدِيد: 25]، بِمَعْنَى: أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ
الْحَدِيدَ مِنَ السَّمَاءِ كَمَا أَنْزَلَ آدَمَ مِنَ السَّمَاءِ، وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ
عَبَّاسٍ وَعِكْرِمَةَ، وَإِلَيْهِ ذَهَبَ الطَّبَرِيُّ وَالْقُرْطُبِيُّ وَالْوَاحِدِيُّ.
وَالثَّانِي: اضْطُرَّ إِلَى تَأْوِيلِ
اللَّفْظِ عَنْ ظَاهِرِهِ؛ لِاسْتِبْعَادِ إِمْكَانِيَّةِ تَصَوُّرِ نُزُولِ الْحَدِيدِ
إِلَى الْأَرْضِ مِنَ السَّمَاءِ، وَكَمَا يُشَاهِدُونَ فِي أَزْمِنَتِهِمْ وَبِيئَاتِهِمْ
مِنِ اسْتِخْرَاجِ الْحَدِيدِ مِنْ بَاطِنِ الْأَرْضِ، فَقَالَ: ﴿وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ﴾
[الْحَدِيد: 25]، بِمَعْنَى: أَنْشَأْنَاهُ وَجَعَلْنَاهُ، وَهُوَ قَوْلُ الْحَسَنِ،
وَإِلَيْهِ ذَهَبَ ابْنُ كَثِيرٍ وَالثَّعَالِبِيُّ وَالشَّوْكَانِيُّ وَكَثِيرٌ مِنَ
الْمُفَسِّرِينَ.
Ini tidak berarti bahwa semua ahli tafsir
menafsirkan kata “الإنْزَالُ” dengan makan penciptaan, melainkan ada sebagian dari mereka
yang menafsirkan kata tsb dengan makna yang sebenarnya.
Jika kita meneliti perkataan para ahli tafsir
tentang masalah ini, kita menemukan mereka terbagi menjadi dua kelompok :
Yang pertama :
Menafsirkan kata pada makna sebenarnya , Allah SWT berfirman :
﴿وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ
شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ﴾
“Dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat
kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia”. (QS. Al-Hadiid : 25 ).
Yakni : Allah
menurunkan besi dari langit , seperti halnya Allah menurunkan Adam dari surga.
Ini adalah pendapat Ibnu Abbas dan ‘Ikrimah, dan ini adalah madzhab Imam
at-Thobari , al-Qurthuubi dan
al-Waahidi.
Yang kedua :
Terpaksa / darurat untuk menafsirkan lafadz “الإنْزَالُ” bukan makna dzohirnya, untuk menjauhkan kemungkinan
menggambarkan turunnya besi ke bumi dari surga, dan seperti halnya mereka
menyaksikan sendiri pada masa mereka dan di lingkungannya adanya mengeluarkan
(ekstraksi) besi dari dalam bumi , maka Allah SWT berfirman :
﴿وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ﴾
“Dan Kami turunkan besi”. (QS. Al-Hadiid
: 25 ).
Yakni : Kami
telah menciptakan dan menjadikan, adalah pendapat al-Hasan, dan ini adalah
Madzhab Ibnu Kastsir, al-Tsa'labi, al-Shaukaani, dan banyak dari kalangan para
ahli tafsir.
[ Referensi : “وَأَنْزَلْنَا
الْحَدِيدَ” (QS. Al- Hadid: 25), oleh Abdul
Majiid Al-Zindaani, penelitian yang dipublikasikan di website : الْهَيْئَةُ الْعَالَمِيَّةُ
لِلْإِعْجَازِ الْعِلْمِيِّ فِي الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ www.nooran.org
Dan Syeikh Qisthoos Ibrahim Al-Nuaimi
mengatakan :
إِذَا أَخَذْنَا كَلِمَةَ (أَنْزَلْنَا)
يَجِبُ أَنْ نَحْكُمَ عَلَى مَعْنَاهَا مِنْ سِيَاقِ الْآيَةِ الَّتِي وَرَدَتْ فِيهَا
وَلَا نُقَارِنَهَا بِآيَةٍ أُخْرَى وَرَدَتْ فِيهَا الْكَلِمَةُ نَفْسُهَا، فَسِيَاقُ
الْآيَةِ الْأُخْرَى قَدْ يَكُونُ مُخْتَلِفًا فَتَخْتَلِفُ مَعَهُ كَلِمَةُ (أَنْزَلْنَا).
وَهَذَا هُوَ الْخَطَأُ الَّذِي وَقَعَ
فِيهِ أَصْحَابُ الشُّبْهَةِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا
بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ
بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ﴾ [الْحَدِيد: 25]، فَمِنْ أَيْنَ جَاءَتِ الْكُتُبُ
السَّمَاوِيَّةُ؟ أَلَمْ تَنْزِلْ مِنَ السَّمَاءِ عَلَى أَنْبِيَاءِ اللَّهِ إِلَى
الْأَرْضِ؟ أَلَمْ يَنْزِلِ الزَّبُورُ وَأَلْوَاحُ التَّوْرَاةِ عَلَى دَاوُدَ وَمُوسَى
إِلَى الْأَرْضِ؟ إِذًا كَلِمَةُ (وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمْ) تَعْنِي أَنَّهَا نَزَلَتْ
مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ؛ وَمِنْ ثَمَّ فَإِنَّ سِيَاقَ الْآيَةِ يَتَّجِهُ
إِلَى بَيَانِ بَعْضِ مَا أَنْزَلَهُ اللَّهُ عَلَى عِبَادِهِ مِنَ السَّمَاءِ، وَجَاءَتْ
(وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمْ) مَعْطُوفَةً عَلَى مَا قَبْلَهَا؛ لِتُبَيِّنَ اسْتِمْرَارِيَّةَ
الْآيَةِ فِي عَرْضِ صُورَةٍ أُخْرَى مِنْ صُوَرِ الْإِنْزَالِ مِنَ السَّمَاءِ عَلَى
الْأَرْضِ بَعْدَ إِنْزَالِ الْكِتَابِ وَالْمِيزَانِ، إِذًا "وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ"
مَعْنَاهُ هُبُوطُهُ مِنَ السَّمَاءِ.
أَمَّا سُورَةُ الزُّمَرِ فَالْآيَةُ
الْكَرِيمَةُ تَتَحَدَّثُ عَنْ خَلْقِ الْإِنْسَانِ، ثُمَّ جَاءَ ذِكْرُ الْأَنْعَامِ:
﴿خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَأَنْزَلَ لَكُمْ
مِنَ الْأَنْعَامِ ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ
خَلْقًا مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلَاثٍ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ
الْمُلْكُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ﴾ [الزُّمَر: 6]، إِذًا سِيَاقُ
الْآيَةِ يَتَحَدَّثُ عَنِ الْخَلْقِ، لِذَلِكَ فَإِنَّ (أَنْزَلْنَا) هُنَا تَعْنِي
الْخَلْقَ؛ لِأَنَّنَا ـ كَمَا قُلْنَا ـ لَا نَأْخُذُ مَعْنَى كَلِمَةٍ لَهَا عِدَّةُ
دَلَالَاتٍ مِنْ آيَاتٍ مُخْتَلِفَةٍ، وَلَكِنْ نَأْخُذُ مَعْنَاهَا مِنْ سِيَاقِ الْآيَةِ
الَّتِي ذُكِرَتْ فِيهَا، فَمَعْنَى كَلِمَةِ (أَنْزَلْنَا) فِي سُورَةِ الْحَدِيدِ
هُوَ الْهُبُوطُ مِنَ السَّمَاءِ، مَهْمَا كَانَ مَعْنَى كَلِمَةِ (أَنْزَلْنَا) فِي
سُورَةِ الزُّمَرِ، سَوَاءٌ كَانَتِ الْخَلْقَ أَوِ الْهُبُوطَ.
Jika kita mengambil kata (أَنْزَلْنَا / kami
menurunkan) kita wajib menghukumi terhadap maknanya sesuai konteks ayat yang
tertera di dalamnya , dan kita tidak membandingkannya dengan ayat lain yang
terdapat didalamnya kalimat yang sama ; karena kontek ayat lain mungkin berbeda
; maka berbeda pula bersamanya makna kalimat (أَنْزَلْنَا).
Ini adalah kesalahan yang terjadi pada para
pemilik syubhat, Allah SWT berfirman :
﴿لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا
بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ
النَّاسُ بِالْقِسْطِ ۖ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ﴾
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul
Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama
mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan
keadilan. Dan Kami turunkan besi “. (QS. Al-Hadiid : 25 ).
Dari mana datangnya kitab-kitab samawi
? Bukankah kitab-kitab itu diturunkan dari langit kepada para nabi Allah
ke bumi? Bukankah Zabur dan lauh-lauh Taurat diturunkan kepada Daud dan
Musa ke bumi?
Maka firman Allah : ( وَأَنْزَلْنَا
مَعَهُمُ / Dan Kami turunkan bersama mereka)
berarti turun dari langit ke bumi; Oleh karena itu, konteks ayat tersebut
mengarah pada penjelasan sebagian dari apa yang Allah turunkan kepada
hamba-hamba-Nya dari langit, dan kata ( وَأَنْزَلْنَا
مَعَهُمُ / Dan Kami turunkan bersama mereka) di
athaf kan (sejalan) dengan apa yang telah datang sebelumnya; dalam rangka
untuk menunjukkan kesinambungan ayat dalam penyajian gambaran yang lain dari
gambaran-gambaran yang turunnya dari langit ke bumi setelah diturunkannya al-Kitab
dan al-Miizan ( timbangan ), maka kalimat
“وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ / Dan Kami turunkan
besi” berarti turunnya besi dari langit.
Adapun dalam Surat az-Zumar maka ayat yamg
mulia itu di awala dengan berbicara tentang penciptaan manusia, dan kemudian datang menyebutkan tentang hewan-hewan ternak :
﴿خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ
جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ الْأَنْعَامِ ثَمَانِيَةَ
أَزْوَاجٍ ۚ يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ
فِي ظُلُمَاتٍ ثَلَاثٍ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ ۖ لَا
إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُصْرَفُونَ﴾
Dia menciptakan kamu dari seorang diri
kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kalian
delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak.
Dia menjadikan kalian dalam perut ibu-ibu
kalian , tahapan penciptaan demi tahapan dalam tiga kegelapan . Yang
(melakukan) demikian itu adalah Allah, Tuhan kalian, Tuhan Yang mempunyai
kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia; maka bagaimana kalian bisa dipalingkan?
(QS. Az-Zumar : 6 )
Jika konteks ayat berbicara tentang
penciptaan, maka kalimat (وَأَنْزَلَ / dan Dia menurunkan) di sini berarti penciptaan (الخَلْق) ,
karena - seperti yang telah kami katakan - kami tidak mengambil arti kata yang
memiliki beberapa konotasi dari ayat yang berbeda, tetapi kami mengambil
maknanya dari konteks ayat yang disebutkan di dalamnya.
Maka arti kata (أَنْزَلْنَا / Kami turunkan) dalam Surat Al-Hadid adalah yang turun dari
langit, apa pun arti dari kata (أَنْزَلْنَا /
Kami turunkan) dalam Surat Al-Zumar, apakah itu penciptaan atau turun .
[ Referensi : “الْإِعْجَازُ فِي سُورَةِ الْحَدِيدِ”, karya Qisthoos Ibrahim Al-Nuaimi, artikel yang dimuat di
website: www.laghouat.net ].
Dan Dr. Muhammad Dawdah berkata :
إِنَّ ظَاهِرَةَ تَبَايُنِ اللَّفْظِ
تَبَعًا لِلسِّيَاقِ مِنَ الْخَصَائِصِ الْأَسَاسِيَّةِ فِي لُغَاتِ التَّخَاطُبِ،
وَهِيَ أَجْلَى مَا تَكُونُ فِي لُغَةِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَسَمَّاهَا اللُّغَوِيُّونَ
(الْوُجُوه)، وَالدَّلَالَاتُ الْمُعْجَمِيَّةُ لِلَّفْظِ نَفْسِهِ لَا يَتَحَدَّدُ
إِحْدَاهُمَا إِلَّا مِنْ خِلَالِ السِّيَاقِ، وَالدَّلَالَةُ الْحِسِّيَّةُ فِي (أَنْزَلْنَا)
لَا تُسْتَبْعَدُ إِلَّا بِقَرَائِن صَارِفَة وَلَا تَنْفِي الدَّلَالَةَ
الْمَعْنَوِيَّةَ،
أَمَّا فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَأَنْزَلْنَا
الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ﴾ [الْحَدِيد: 25]، فَيَسْتَقِيمُ
حَمْلُ لَفْظِ (الْإِنْزَالِ) عَلَى الْأَصْلِ، وَهُوَ الدَّلَالَةُ الْحِسِّيَّةُ،
بِاعْتِبَارِ تَعَلُّقِ الْمَقَامِ هُنَا بِخَلْقِ الْأَرْضِ، لِمَجِيءِ بَيَانِ إِنْزَالِ
الْحَدِيدِ، وَهُوَ مِنْ أَثْقَلِ مُكَوِّنَاتِ الْأَرْضِ، فِي مُقَابِلِ بَيَانِ إِخْرَاجِ
الْمَوَادِّ الْأَخَفِّ مِنَ الْأَرْضِ نَحْوَ السَّطْحِ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَالْأَرْضَ
بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا (30) أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا (31) وَالْجِبَالَ
أَرْسَاهَا (32)﴾ [النَّازِعَات].
وَهَذَا مَا يَتَّفِقُ تَمَامًا مَعَ
الْمَعْرِفَةِ الْحَدِيثَةِ مِنْ خُرُوجِ كُلِّ مَا أَدَّى فِي النِّهَايَةِ إِلَى
وُجُودِ مَظَاهِرِ الْحَيَاةِ مِنْ نَبَاتٍ وَحَيَوَانٍ، الْمُعَبَّرِ عَنْهَا بِاللَّفْظِ
الْجَامِعِ (مَرْعَاهَا)، بَعْدَ التَّهْيِئَةِ بِتَكَثُّفِ بُخَارِ الْمَاءِ وَانْقِشَاعِ
دُخَانِ الْبَرَاكِينِ، فِي مُقَابِلِ هُبُوطِ أَثْقَلِ الْمَوَادِّ مِنْ مِثْلِ الْحَدِيدِ
نَحْوَ لُبِّ الْأَرْضِ، الَّذِي يَتَكَوَّنُ مُعْظَمُهُ بِالْفِعْلِ مِنْ حَدِيدٍ.
Fenomenan perbedaan makna kata iyu tergantung
pada konteks karakteristik dasar dalam bahasa komunikasi, dan itu yang
paling jelas apa yang ada dalam bahasa Al-quran, dan menyebutnya
ahli bahasa “الْوُجُوه / arah-arahnya”.
Dan signifikansi secara kamus bahasa (الدَّلَالَاتُ الْمُعْجَمِيَّةُ / leksikal semantik) dari istilah itu sendiri tidak ditentukan
oleh salah satu dari keduanya kecuali melalui konteks dan
signifikansi indera dalam makna kata “kami turunkan” tidaklah dijauhkan kecuali
dengan qarinah-qarinah yang menggiring pada makna yang lain (قَرَائِنُ صَارِفَةٌ) dan tidak meniadakan signifikansi maknawi (الدَّلَالَة الْمَعْنَوِيَّة).
Adapun dalam firman Allah Ta’aala :
﴿وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ
شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ﴾
“Dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat
kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia”. (QS. Al-Hadiid : 25 ).
maka benarlah dan searah membawa kata (الإنْزَالُ) pada
makna aslinya, yang merupakan indikasi indrawi, mengingat keterikatan posisi
pembicaraan di sini dengan penciptaan bumi, untuk kedatangannya penjelasan
turunnya besi, yang mana ia adalah salah satu komponen terberat di bumi,
sebagai tandingan penjelasan tentang mengeluarkan / menaikkan elemen-elemen
yang ringan dari dalam bumi ke arah permukaannya , seperti dalam Firman-Nya :
﴿وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا (30)
أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا (31) وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا (32) مَتَاعًا
لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ (33)﴾
“Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia
mengeluarkan darinya mata airnya, dan tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung
dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenangan kalian dan untuk
binatang-binatang ternak kalian”. (QS. An-Naazi’aat : 30-33).
Dan ini sepenuhnya konsisten dan teapat dengan
pengetahuan modern dari keluarnya segala sesuatu yang akhirnya mengarah pada
keberadaan manifestasi kehidupan dari tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan, yang
dinyatakan dalam istilah kolektif “وَمَرْعَاهَا” (dan mengeluarkan tumbuh-tumbuhannya), setelah persiapan
dengan kondensasi uap air dan penghapusan asap dari gunung berapi, berbeda
dengan penurunan material terberat seperti besi menuju inti bumi yang sebagian
besar sesuai realita terdiri dari besi .
[Referensi : «شُبْهَةٌ
حَوْلَ قَوْلِهِ تَعَالَى: (وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ الْأَنْعَامِ) (الزمر: 6)», Dr. Muhammad Dawdah, penelitian yang dipublikasikan di
website: The International Commission for Scientific Miracles in the Qur’an and
Sunnah [www.nooran.org](http://www.nooran.org) .]
Dan lagi pula , sesunnguhnya
pada asalnya adalah membawa makna
ungkapan dalam Alquran itu pada makna dzohirnya , sampai muncul sebuah qorinah
yang membolehkan membawanya pada makna perumpamaan (ضَرْبُ
الْمَثَلِ) .
Dan perumpamaan dalam Al-quran itu banyak, dan
itu cara yang lebih mengena untuk menjelaskan sesuatu yang dikehendaki dengan
kondisi yang serupa, sebagaimana yang dinyatakan dengan jelas oleh Firman-Nya SWT :
﴿وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ
ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ﴾
“Dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan
bagi manusia, dan Allah Mahamengetahui segala sesuatu". (QS. An-Nuur
: 35).
Dan Firman-Nya SWT :
﴿وَتِلۡكَ الۡاَمۡثَالُ نَضۡرِبُهَا
لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُوۡنَ﴾
“Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat
untuk manusia agar mereka berpikir”. (QS. Al-Hasyer : 21 )
Dan Firman-Nya SWT :
﴿وَيَضْرِبُ
اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ﴾
“Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu
untuk manusia supaya mereka selalu ingat” (QS. Ibrahim : 25 ).
Dan dalam Firman-Nya SWT :
﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ
بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينً﴾
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada
kalian bukti kebenaran dari Tuhan kalian. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan
telah Kami turunkan kepada kalian cahaya yang terang benderang (Al Quran)”. ( QS.
An-Nisaa’ : 174 ).
Makna ungkapan yang Asli :
﴿وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينً﴾
“Dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya
yang terang benderang (Al Quran)”. ( QS. An-Nisaa’ : 174 )
adalah perpindahan sinar matahari ke arah Bumi
, tetapi konteksnya berkaitan dengan menegakkan burhan / bukti dalam bidang agama melalui qarinah ungkapan :
﴿يَا
أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ﴾
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada
kalian bukti kebenaran dari Tuhan kalian”. (QS. An-Nisaa’ : 174 ).
Oleh karena itu para mufassir tidak
berbeda pendapat dalam pentakwilan kata (النُّوْرُ /cahaya) serta memalingkannya dari makna aslinya , serta
penjelasan bahwa yang dimaksud makna an-Nuur di sini adalah Alquran.
Dan seperti itulah , kita melihat bahwa
gambaran itu menangkap konotasi dan melepaskan tali kekang agar kwalitas ungkapan
terbanjiri dari segala penjuru , sehingga ungkapan tsb mencapai peringkat
tertinggi dalam penjelasannya .
Maka kata kerja (الإنْزَالُ) yang tersebut di sini; berfaidah pada makna “ perpindahan
dari atas ke bawah, seperti dalam firman Allah Yang Mahakuasa :
﴿وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً﴾
“Dan Dia menurunkan air dari
langit ” (QS. Al-Baqarah: 22).
Dan adapun firman- Nya:
﴿وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ﴾
“Dan Kami turunkan besi”. (QS. Al-Hadiid : 25
).
Maka maknanya mungkin dibawakan pada makna “
turun ke inti bumi “ karena ketiadaan sesuatu yang mengalihkan makna lafadz tsb
dari makna yang aslinya . Dan tidak ada argumen bagi mereka yang mengatakan
bahwa sebagian besar inti bumi adalah besi, karena kesaksian realitas sesuai
dengan ayat yang jelas / eksplisit.
Qorinah-qorinah (alibi) yang bisa
mengalihkannya dari makna yang sebenarnya dapat mencegah makna (الإنْزَالُ) pada
makna yang dhohir / sebenarnya , seolah-olah yang digambarkan itu adalah
hal-hal yang bersifat maknawi , seperti dalam firman Allah Yang Maha Kuasa
:
﴿هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي
قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ﴾
“ Dia-lah yang menurunkan ketenangan ke
dalam hati orang-orang yang beriman ” (QS. Al-Fath : 4).
Dan Qorinahnya (alibinya) bahwa ketenangan
adalah kondisi perasaan dan bukan berbentuk materi, maka dari itu ada
keterangan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa dia mengalihkan makna “النُّزُوْل”
pada makna (الجَعْلُ/menjadikan), maka firman Allah Ta’ala : “Dia
menurunkan ketenangan” (QS.
Al-Fath: 4), artinya: Dia menjadikan ketenangan”.
Dalam gambaran misi pengutusan para Nabi
‘alaihimus salaam dalam dalam firman Allah swt di katakan :
﴿كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ
اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ
بِالْحَقِّ﴾
Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah
timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi
peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar /
haq ( (Baqarah: 213)
Kata berbarengan (المَعِيَّةُ) dalam ayat tentang turunnya kitab bersama mereka , itu
tidak menunjukkan pada makna berbarengan turunnya kitab dengan para Nabi
dari langit .
Dan sesungguhnya kata kerja “البَعْث /
mengutus” di sini mengalihkan makna (الإنْزَالُ) ke makna “ التَّصْوِيْرُ / penggambaran” itu hanya untuk memuliakan mereka dan
penjelasan akan kesatuan Risalah untuk penyatuan sumber Kitab . Dan yang
semisalnya adalah frman Allah SWT :
﴿فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِهٖ وَعَزَّرُوْهُ
وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ مَعَهٗٓ ۙاُولٰۤىِٕكَ
هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ࣖ﴾
“Adapun orang-orang yang beriman kepadanya,
memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan
kepadanya (Al-Qur'an), mereka itulah orang-orang beruntung”. (QS. Al-A’raf:
157)
Adapun Firman Allah:
﴿يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا
عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ
خَيْرٌ﴾
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah
menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutup aurat kalian dan pakaian indah
untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik”. (QS. Al-A’raf : 26
).
Maka itu tidak berfaidah pada makna yang semisal , bahwa apa yang kita pakai
itu turun dari langit ; karena sumbernya sudah maklum seperti wol dari
hewan dan kapas dari tumbuh - tumbuhan, maka para mufassir telah
berijtihad dengan membelokkan makna “kami telah menurunkan” dari makna turun.
Imam al-Syaukaani dalam tafsir nya berkata :
عَبَّرَ عَزَّ وَجَلَّ بِالْإِنْزَالِ
عَنِ الْخَلْقِ؛ أَيْ: خَلَقْنَا لَكُمْ لِبَاسًا
Allah Azza wa Jalla mengungkapkan dengan kata
“الإنْزَالُ”
tentang penciptaan (الخَلْق), yaitu: Kami telah menciptakan pakaian untuk kalian. [ Baca “فَتْحُ الْقَدِيرِ” (1/470) ].
Al-Jash-shas dlam tafsirnya berkata:
وَإِنَّمَا قَالَ أَنْزَلْنَا لِأَنَّ
اللِّبَاسَ يَكُونُ مِنْ نَبَاتِ الْأَرْضِ أَوْ مِنْ جُلُودِ الْحَيَوَانَاتِ وَأَصْوَافِهَا،
وَقِوَامُ جَمِيعِهَا بِالْمَطَرِ النَّازِلِ مِنَ السَّمَاءِ.
“Dan adapun Allah SWT berfirman : “Kami
menurunkan” ; karena pakaian itu terbuat dari tumbuh-tumbuhan di bumi atau
dari kulit dan bulu binatang, dan konsistensi semuanya itu adalah dengan
turunnya hujan dari langit”. [Baca : “أَحْكَامُ
الْقُرْآنِ ” (3/39)]
Akhirnya, di sana tidak ada yang menghalangi makna “الإنْزَالُ” dalam firman Allah SWT:
﴿يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ
لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا﴾
“ Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah
menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutup aurat kalian dan pakaian indah
untuk perhiasan..(QS. Al-A’raf : 26 ).
Adalah makna turun yang hakiki , bukan
bermakna “الخَلْق / penciptaan ” , karena huruf al-jaar yang menempel dengan dhomir “عَلَيْكُمْ” menunjukkan bahwa makna “الإنْزَالُ / menurunkan ” dalam ayat ini adalah hakiki , karena Allah SWT
menciptakannya kemudian menurunkannya.
Dan begitu juga tidak ada yang mencegah bahwa
hewan-hewan ternak pada asalnya diturunkan setelah penciptaanya yang awal. Maka
hewan-hewan tsb diciptakan kemudian diturunkan, sama halnya seperti Adam , Hawa
dan Iblis , mereka diciptakan kemudian mereka diturunkan.
Dan lihatlah firman Allah Ta’ala
:
﴿وَقَالُوا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ مَلَكٌ
ۖ وَلَوْ أَنْزَلْنَا مَلَكًا لَقُضِيَ الْأَمْرُ ثُمَّ لَا يُنْظَرُونَ﴾
Dan mereka berkata: "Mengapa tidak diturunkan
kepadanya (Muhammad) malaikat?" dan kalau Kami turunkan (kepadanya)
malaikat, tentulah selesai urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh
(sedikitpun). (QS. Al-An’aam : 8 ).
Maka apakah si penentang mengklaim bahwa kata
“التَّنْزِيْلُ” di sini
berarti penciptaan (الخَلْق)?
Tidak, karena ini bertentangan dengan konteks
ayat tersebut, karena malaikat turun dari langit dalam keadaan telah tercipta ,
Sama seperti turunnya hujan Roti kepada bani Israel tidak menafikan baginya
pembuatannya oleh manusia, seperti yang datang keterangan dalam Taurat, Tuhan
berkata kepada Musa :
إِنِّي أُمْطِرُ لَكُمْ خُبْزًا مِنَ
السَّمَاءِ، فَيَخْرُجُ الشَّعْبُ، وَيَلْتَقِطُونَ حَاجَةَ الْيَوْمِ بِيَوْمِهَا
(سَفَرُ الْخُرُوجِ 16: 4)
“Aku akan menurunkan hujan roti untuk kalian
dari langit, dan orang-orang akan keluar, dan mereka akan mengumpulkan
kebutuhan sehari pada harinya” ( Keluaran 16:4) .
[Referensi : “شُبْهَةُ
إِنْكَارِ نُزُولِ الْحَدِيدِ مِنَ السَّمَاءِ فِي الْقُرْآنِ” oleh Walid Al-Muslim, artikel yang dimuat di
website: www.almeshkat.net ] .
Oleh karena itu, maka kata “النُّزُوْلُ” dalam
ayat surat al-Hadiid adalah turun yang hakiki dan tidak berarti “penciptaan”
saja .
Kita wajib menghukumi terhadap makna kalimat “أَنْزَلْنَا” sesuai
konteks ayat yang tertera di dalamnya , dan kita tidak membandingkannya dengan
ayat lain yang terdapat didalamnya kalimat yang sama ; karena kontek ayat lain
mungkin berbeda ; maka berbeda pula bersamanya makna kalimat (أَنْزَلْنَا) , dan
ini adalah kesalahan yang dibuat oleh si pengkritik .
****
KETIGA : SISI MUKJIZAT ILMIYAH :
Manusia tidak dapat mengetahui fakta hakiki
bahwa besi diturunkan dari langit ke bumi sampai ia memiliki sarana-sarana
ilmiah yang memungkinkannya mengetahui apa yang terjadi dan apa yang terjadi di
kedalaman bintang-bintang yang jauh untuk membentuk unsur besi.
Dan setelah dia mampu mengubah beberapa elemen
ringan menjadi elemen berat dan menghitung apa yang dibutuhkannya dari energi
tinggi, dan ketidakmampuannya untuk membentuk bahan besi dari bahan yang lebih
ringan dari itu; Ini membutuhkan energi yang setara dengan empat kali
energi tata surya,
Seperti halnya bahwa mengeluarkan (ekstraksi)
besi dari tambang-tambangnya di dalam perut bumi oleh manusia membuat mereka
tidak menyangka bahwa besi telah diturunkan dari langit ke bumi, dan membuat
mereka percaya bahwa itu diciptakan dengan sisa unsur-unsur bumi .
Oleh karena itu ilmu eksperimental kosong dari
referensi apapun untuk fakta ini sebelum kuartal terakhir abad ke 20. Dan
begitu pula banyak para ahli tafsir yang terpaksa menafsirkan lafadz
Qur’ani : “dan kami telah menurunkan besi” ( QS.
Al-Hadid : 25) dengan makna yang tidak dapat ditanggung oleh lafadz tsb,
termasuk para ahli tafsir kontemporer yang hidup di abad ke 20 .
Maka Siapakah yang memberi tahu Muhammad ﷺ tentang
hakikat kebenaran ini yang belum diketahui oleh umat manusia sampai seperempat
terakhir abad ke 20 ?!
Referensi :
1). Web: http://bayanelislam.net › Suspi... “نَفْيُ
الْإِعْجَازِ الْعِلْمِيِّ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: "وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ” ].
2). Website: www.alkalema.us .
0 Komentar