PERINTAH
MEMPELAJARI ILMU PENGETAHUAN TENTANG PROSES PENCIPTAAN MANUSIA
---
Sambungan dari artikel
PERINTAH MEMPELAJARI ILMU PENGETAHUAN SELAIN ILMU AGAMA :
Di
Tulis oleh Abu Haitsam Fakhri
KAJIAN
NIDA AL-ISLAM
---
DAFTAR ISI:
- PENDAHULUAN
- PEMBAHASAN PERTAMA : UNSUR-UNSUR MATERIAL PENCIPTAAN MANUSIA PERTAMA :
- PEMBAHASAN KEDUA : TAHAPAN PENCIPTAAN MANUSIA PERTAMA ( Adam ‘alaihis salam ):
- PEMBAHASAN KE TIGA: PROSES DAN TAHAPAN PENCIPTAAN MANUSIA DALAM RAHIM IBUNYA .
- TUDUHAN DAN JAWABANNYA :
- PEMBAHASAN KE EMPAT: MASA PERTUMBUHAN JANIN MANUSIA DALAM RAHIM :
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
===((*))===
PENDAHULUAN
Surat Al-‘Alaq yang pertama diturunkan kepada
Rasulullah ﷺ,
menerangkan bahwa manusia diciptakan dari ‘Alaq (segumpal darah).
Urgensi dari hal tersebut adalah mengajari
manusia tentang ilmu yang belum mereka ketahui pada saat itu.
Perintah membaca yang diikuti dengan informasi
pengetahuan tersebut mengindikasikan bahwa manusia harus mempelajari tentang
dirinya sendiri dan bagaimana ia diciptakan.
﴿اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ
عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ
الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ﴾
Artinya : Bacalah -wahai Rasul- apa yang
diwahyukan Allah kepadamu, dimulai dengan membaca nama Rabbmu yang telah
menciptakan seluruh makhluk. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan
perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (
QS. Al-‘Alaq : 1-5 ).
Dan dalam surat ath-Thooriq , Allah SWT dengan
tegas memerintahkan para hambanya utk mempelajari dan memperhatikan proses
penciptaan diri mereka :
Allah Ta’ala
berfirman :
﴿فَلْيَنظُرِ ٱلْإِنسَٰنُ مِمَّ خُلِقَ.
خُلِقَ مِن مَّآءٍ دَافِقٍ. يَخْرُجُ مِنۢ بَيْنِ ٱلصُّلْبِ وَٱلتَّرَآئِبِ﴾
Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa
dia diciptakan. Dia diciptakan dari air (mani) yang terpancar. yang
keluar dari antara tulang punggung (sulbi) dan tulang dada . (QS. Ath-Thooriq :
5 – 7).
Tafsir nya :
(Maka hendaklah manusia memperhatikan)
dengan perhatian yang dibarengi dengan mempelajarinya (dari apakah dia
diciptakan?) artinya berasal dari apakah dia tercipta? (Dia diciptakan dari air
yang terpancar) yakni yang dipancarkan oleh laki-laki ke dalam rahim wanita.
(Yang keluar dari antara tulang sulbi) laki-laki (dan tulang dada) perempuan. (
QS. Ath-Thooriq : 5 – 7 ).
Proses pembuahan terkait lahirnya anak manusia
sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an. Jauh sebelum teknologi atau ilmu pengetahuan
saat ini , yang bisa mengungkap terkait proses fertilisasi , namun Al-Qur’an
jauh sebelumnya sudah menyebutkan tahapan proses tersebut.
Al-Qur’an yang diturunkan 1.400 tahun lalu
banyak mengungkap informasi yang baru saat ini berhasil ditemukan oleh ilmuwan
melalui penelitian. Fenomena atau fakta saat ini yang kemudian sesuai dengan Al-Qur’an,
menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah dan bahwa kitab suci umat Islam ini
benar yang datangnya dari Sang Maha Pencipta.
Dan Allah SWT mengingatkan kepada umat Manusia
bahwa masing-masing mereka ini sebelum di ciptakan adalah makhluk yang tidak
dikenal dan tidak pernah disebut namanya di muka bumi ini . Allah SWT berfirman
:
﴿هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ
الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا. إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ
نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا. إِنَّا
هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا﴾
“ Bukankah telah datang atas manusia satu
waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat
disebut?”
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia
dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah
dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.
Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan
yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir”.( QS. Al-Insaan : 1-3 )
Diantara ayat-ayat al-Quran yang membicarakan
proses kejadian manusia adalah sebagai berikut :
===***===
PEMBAHASAN
PERTAMA :
UNSUR-UNSUR
MATERIAL PENCIPTAAN MANUSIA PERTAMA :
---
UNSUR KE 1 : AIR .
Allah SWT berfirman :
﴿وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ
بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا﴾
Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari
air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah ( perbesanan
) dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa. ( QS-al-Furqan :54 )
Tafsirnya :
Dan Allah menciptakan Adam dari air yang
dicampur dengan tanah, dan menciptakan keturunannya dari air mani laki-laki dan
air mani perempuan; dan menjadikan dalam keturunan ini terdapat orangtua, anak,
saudara, dan perbesanan dengan kerabat pasangan. Tuhanmu memiliki kekuasaan
yang besar untuk menciptakan makhluk sesuai dengan kehendak-Nya.
(Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz
Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz,
professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah )
Adapun makna (الصِّهْرِ) adalah hubungan antara suami dan keluarga istrinya yang
terbentuk dari pernikahan serta hubungan antara istri dan keluarga suaminya,
dan juga hubungan antara keluarga suami dan keluarga istri. Kerabat istri
disebut dengan (الْأَخْتَانُ), sedangkan kerabat suami disebut dengan (الْأَحْمَاءُ), dan
keduanya termasuk dari perbesanan.
( Baca : Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir /
Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam
Madinah)
----
UNSUR KE 2 : DEBU / TANAH
Debu / Tanah adalah unsur material kedua dari
penciptaan bapak manusia, Adam - ‘alaihis salam . Allah SWT berfirman :
﴿إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ
كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ﴾
Sesungguhnya semisal (penciptaan) Isa di sisi
AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari debu ,
kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka
jadilah dia. ( QS. Ali Imran : 59 )
Debu atau Tanah adalah unsur terpenting dari
unsur-unsur pembentukan setiap manusia setelah Adam ‘alaihis salam , karena dari debu itu tumbuhnya
tumbuh-tumbuhan, dan dari tumbuh-tumbuhan keluarnya makanan, dan dari makanan
itu terciptanya darah, dan dari darah terciptanya sperma, dan dari sperma
terbentuknya janin .
Allah SWT berfirman :
﴿وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ
مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ جَعَلَكُمْ أَزْوَاجًا وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أنثى وَلَا تَضَعُ
إِلَّا بِعِلْمِهِ وَمَا يُعَمَّرُ مِنْ مُعَمَّرٍ وَلَا يُنْقَصُ مِنْ عُمُرِهِ
إِلَّا فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ﴾
Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian
dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan
perempuan). Tidak ada seorang perempuan pun yang mengandung dan melahirkan,
melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan tidak dipanjangkan umur seseorang dan
tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh).
Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. (QS. Fatir: 11)
Dan Allah SWT berfirman pula :
﴿ يَا
أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا
خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ
مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ
مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا
أَشُدَّكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ
الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا ... ﴾
“Hai manusia, jika kalian dalam keraguan
tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah
menjadikan kalian dari DEBU / TANAH, kemudian dari setetes MANI, kemudian dari
SEGUMPAL DARAH, kemudian dari SEGUMPAL DAGING yang sempurna kejadiannya dan
yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kalian dan Kami tetapkan dalam
rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan.
Kemudian Kami keluarkan kalian sebagai bayi.
Kemudian (dengan berangsur- angsur) kalian sampailah kepada kedewasaan.
Dan di antara kalian ada yang diwafatkan dan
(adapula) di antara kalian yang dipanjangkan umurnya sampai masa pikun, supaya
dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya ....” (
QS. Al-Hajj : 5 ).
Dan ada hasil penelitian lain oleh para ulama
tentang penciptaan manusia dari Debu / Tanah, yaitu yang menyatakan :
«وَهُوَ أَنَّهُ خَلَقَ أَبَاهُمْ آدَمَ مِنْهَا،
ثُمَّ خَلَقَ مِنْهُ زَوْجَهُ، ثُمَّ خَلَقَهُمْ مِنْهَا عَنْ طَرِيقِ التَّنَاسُلِ،
فَلَمَّا كَانَ أَصْلُهُمُ الْأَوَّلُ مِنْ تُرَابٍ، أُطْلِقَ عَلَيْهِمْ أَنَّهُ خَلَقَهُمْ
مِنْ تُرَابٍ؛ لِأَنَّ الْفُرُوعَ تَبَعُ الْأَصْلِ، وَقَدْ تَوَصَّلَ الْعِلْمُ الْحَدِيثُ
إِلَى أَنَّ كُلَّ الْعَنَاصِرِ الْمُكَوِّنَةِ لِلْإِنْسَانِ هِيَ عَنَاصِرُ التُّرَابِ».
“ Bahwa Dia SWT menciptakan ayah mereka Adam
dari debu, kemudian Dia menciptakan istrinya Hawa dari Adam , kemudian Dia
menciptakan anak cucunya dari Hawa melalui proses reproduksi (التَّنَاسُل) .
Ketika asal pertama mereka adalah dari debu,
maka Allah SWT memutlakkan mereka bahwa Dia menciptakan mereka dari debu;
Karena cabang-cabang itu mengikuti asal-usulnya, dan ilmu pengetahuan modern
juga telah menyimpulkan bahwa semua unsur yang membentuk manusia adalah
unsur-unsur Debu , ( maka ketika mereka mati akan kembali menjadi debu Pen. ).
===***===
PEMBAHASAN
KEDUA :
TAHAPAN
PENCIPTAAN MANUSIA PERTAMA ( Adam ‘alaihis salam ):
----
TAHAPAN KE 1 : TANAH LIAT / LUMPUR :
Tanah liat atau Lumpur ini merupakan hasil
pencampuran unsur-unsur air dan debu, seperti yang telah kami jelaskan di atas,
oleh karena itu tanah liat adalah senyawa yang membentuk tubuh manusia.
Allah SWT berfirman :
﴿ذَلِكَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ
الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ * الَّذِي
أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الإنسان مِنْ طِينٍ * ثُمَّ
جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ * ثُمَّ
سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ
وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ﴾
“Yang demikian itu ialah Tuhan Yang mengetahui
yang ghaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.
Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan
sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.
Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari
saripati air yang hina
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke
dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran,
penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur “ . ( QS. As-Sajdah
: 6 – 9 ).
Dan dalam surat al-Mukminun Allah SWT
berfirman :
﴿وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ
مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍ ۚ
ثُمَّ جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِيْ
قَرَارٍ مَّكِيْنٍ ۖ
ثُمَّ خَلَقْنَا ٱلنُّطْفَةَ
عَلَقَةً فَخَلَقْنَا ٱلْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا ٱلْمُضْغَةَ عِظَٰمًا
فَكَسَوْنَا ٱلْعِظَٰمَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَٰهُ خَلْقًا ءَاخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ
ٱللَّهُ أَحْسَنُ ٱلْخَٰلِقِينَ﴾
Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia
dari saripati (berasal) dari tanah liat .
Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang
disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)
Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal
darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal
daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus
dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain.
Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling
Baik. ( QS. Al-Mu’minuun : 12 – 14)
Dan Allah SWT menggambarkan tentang lumpur /
tanah liat ini sebagai tanah liat yang lengket ; Yakni : perekat yang lengket
dan kohesif yang menyatu . Allah SWT berfirman :
﴿فَاسْتَفْتِهِمْ أَهُمْ أَشَدُّ خَلْقًا
أَمْ مَنْ خَلَقْنَا إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِنْ طِينٍ لَازِبٍ﴾
Maka tanyakanlah kepada mereka (musyrik
Mekah): "Apakah mereka yang lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang telah
Kami ciptakan itu?" Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah
liat yang lengket . ( QS. Ash-Shooffaat : 11 )
Dalam Tafsir al-Jalalain di katakan :
(Maka tanyakanlah kepada mereka) kepada
orang-orang kafir Mekah, kalimat ayat ini mengandung makna Taqrir atau Taubikh,
yakni mengandung nada menetapkan atau celaan,
("Apakah mereka yang lebih kukuh
kejadiannya ataukah yang telah Kami ciptakan itu?")
yakni para malaikat, langit, bumi dan semua
apa yang ada di antara keduanya.
Didatangkannya lafal Man ( مَنْ )
mengandung pengertian memprioritaskan makhluk yang berakal.
(Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka)
yakni : asal mereka, yaitu Nabi Adam.
(Dan tanah liat yang lengket ) : tanah yang
melekat di tangan bilamana dipegang. Maksudnya, kejadian mereka adalah dari sesuatu
yang lemah, karena itu janganlah mereka bersikap takabur dan sombong, yakni
mengingkari Nabi saw. dan Al-Qur’an, yang hal ini dengan mudah dapat
mengakibatkan mereka terjerumus ke dalam jurang kebinasaan.
Perlu disebutkan di sini bahwa alasan perbedaan
manusia dalam sifat, bentuk, dan akhlaknya adalah karena material dari mana
Allah SWT menciptakan Adam; di mana Allah SWT mengumpulkan debu-debunya dari
seluruh permukaan bumi .
Dari Abu Musa Al Asy'ari radhiyallahu ‘anhu ia
berkata; Rasulullah ﷺ bersabda:
﴿إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ خَلَقَ
آدَمَ مِنْ قَبْضَةٍ قَبَضَهَا مِنْ جَمِيعِ الْأَرْضِ فَجَاءَ بَنُو آدَمَ عَلَى
قَدْرِ الْأَرْضِ جَعَلَ مِنْهُمْ الْأَحْمَرَ وَالْأَبْيَضَ وَالْأَسْوَدَ
وَبَيْنَ ذَلِكَ وَالسَّهْلَ وَالْحَزْنَ وَبَيْنَ ذَلِكَ وَالْخَبِيثَ وَالطَّيِّبَ
وَبَيْنَ ذَلِكَ﴾
" Sesungguhnya Allah 'azza wajalla
menciptakan Adam dari segenggam (tanah) yang Dia genggam dari seluruh bumi.
Maka anak keturunan Adam sesuai dengan tanah, ada yang berkulit putih, merah,
hitam atau berkulit antara warna-warna itu. Kemudian ada yang bersifat mudah,
sedih dan antara dua sifat itu. Dan ada juga yang buruk, baik, dan ada yang
sifatnya campuran diantara kedua hal itu."
( HR. Abu Daud no. 4067 , 4693 , Nasaa’i
no. 2879 dan Imam Ahmad no. 18813 . Ini adalah lafadz Imam Ahmad )
Abu Isa berkata ; “ Hadis ini hasan shahih “.
Dan hadits ini di Shahihkan oleh Syeikh
al-Baani dalm shahih Sunan Abi Daud .
----
TAHAPAN KE 2 :
LUMPUR HITAM YANG DI BERI BENTUK ( حَمَأٍ
مَسْنُونٍ ) :
Allah SWT membiarkan tanah liat / lumpur ini
setelah mencampurkan kedua unsurnya hingga berubah menjadi lumpur hitam yang
berbentuk ( حَمَأٍ مَسْنُونٍ ).
Allah SWT berfirman :
﴿وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنسان مِنْ صَلْصَالٍ
مِنْ حَمَأٍ مَسْنُونٍ﴾
“ Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan
manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk “. ( QS.
Al-Hijr : 26 )
Arti Hama’ ( حَمَأٌ ) adalah lumpur hitam yang berubah-ubah , seperti yang
dikatakan para mufassir.
Sedangkan makna Masnuun (مَسْنُونٍ) ada
perbedaan pendapat di antara para mufassir.
Ada yang mengatakan :
«الْمُصَوَّرُ مِنْ سُنَّةِ الْوَجْهِ وَهِيَ
صُورَتُهُ»
Yang terbentuk
Sunnah wajahnya, dan itu adalah gambarnya
Dan ada yang mengatakan :
«الْمَسْنُونُ الْمَصْبُوبُ الْمُفْرَغُ؛ أَيْ:
أُفْرِغَتْ صُورَةُ الْإِنْسَانِ كَمَا تُفْرَغُ الصُّوَرُ مِنَ الْجَوْهَرِ فِي أَمْثِلَتِهَا».
“Al-masnuun” adalah yang dibentuk yang
khusus ; Yaitu: mengkhususkan bentuk manusia sebagaimana mengkhususkan
gambar-ganbar dari esensi yang menyerupainya .
Dan ada yang mengatakan :
«فِي رِوَايَةٍ لِابْنِ عَبَّاسٍ وَمُجَاهِدٍ
وَالضَّحَّاكِ: إِنَّهُ الْمُنْتِنُ»
Dalam riwayat Ibnu Abbas, Mujahid dan
Al-Dahhak: Dialah yang bau bangkai busuk
Asy-Syanqiithii mentarjih pendapat pertama
dengan dalil :
﴿وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ
صَلْصَالٍ مِنْ حَمَأٍ مَسْنُونٍ﴾
“ Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan
manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk “. ( QS.
Al-Hijr : 26 )
Lalu Asy-Syanqiithii berkata :
«أَيْ بَعْدَ أَنْ مَزَجَ الْخَالِقُ - تَبَارَكَ
وَتَعَالَى - عُنْصُرَيِ التُّرَابِ وَالْمَاءِ صَارَ الْمَزِيجُ طِينًا لَازِبًا لَاصِقًا،
ثُمَّ بَعْدَ ذٰلِكَ صَارَ هٰذَا الطِّيْن حَمَأً أَسْوَدَ مَسْنُونًا مُصَوَّرًا».
Artinya, setelah Sang Pencipta Tabaaroka wa Ta’ala
mencampurkan dua unsur debu dan air, campuran tersebut menjadi lumpur yang
hitam yang dibentuk rupanya .
(Baca: “أَضْوَاءُ
الْبَيَانِ”، “تَفْسِيرُ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ”dan “فَتْحُ الْقَدِيرِ dalam tafsir surat Al-Hijr ayat 26)
----
TAHAPAN KE 3 : MENJADI TANAH LIAT YANG MULAI MENGERING
(صَلْصَالٍ)
Yaitu Seperti tanah liat yang bisa di bentuk
untuk bikin tembikar :
Setelah tanah liat itu menjadi lumpur hitam
yang berbentuk dalam bentuk Adam, lalu tanah tersebut berubah menjadi tanah
liat mengering seperti tembikar .
Allah SWT berfirman :
﴿خَلَقَ الإنسان مِنْ صَلْصَالٍ
كَالْفَخَّارِ﴾
“ Dia menciptakan manusia dari tanah kering
seperti tembikar “ (QS. Ar-Rahman: 14)
Makna : ( الصَّلْصَالُ ) adalah
«الطِّيْن الْيَابِسُ الَّذِي لَهُ صَلْصَلَةٌ؛
أَيْ يُصَوِّتُ مِنْ يُبْسِهِ إِذَا ضَرَبَهُ شَيْءٌ، مَا دَامَ لَمْ تَمَسَّهُ النَّارُ،
فَإِذَا مَسَّتْهُ النَّارُ فَهُوَ حِينَئِذٍ فَخَّارٌ، وَهٰذَا قَوْلُ أَكْثَرِ الْمُفَسِّرِينَ».
“ Tanah liat kering yang memiliki suara
shalshalah ; Artinya, karena keringnya tanah liat tersebut bisa mengeluarkan
suara jika ada sesuatu yang membenturnya , selama tanah liat itu belum dibakar
dengan api. Lalu jika sudah dibakar dengan api , maka saat itu tanah liat tersebut
berubah menjadi tembikar. Ini adalah pendapat mayoritas para ahli tafsir “.
Tanah liat yang kering ( الصَّلْصَالُ ) ini
mirip dengan tembikar / gerabah, hanya saja bukan tembikar / gerabah. Karena
Allah tidak memasukkan Adam ke dalam api , agar dia menjadi tembikar / gerabah
.
Adapun jangka waktu antara fase tanah liat ( الطِّيْن ),
lumpur hitam berbertuk (الْحَمَإِ
الْمَسْنُونِ), dan tanah liat kering ( الصَّلْصَالُ ) ,
Allah SWT tidak menentukannya dalam Al-Qur'an .
Demikian pula tidak ada hadits Nabi yang
shahih yang dapat dijadikan dalil, dan salah satu hadits yang menggambarkan
tahapan / fase ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Huraira radhiyallahu
'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda :
«إنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ مِن تُرابٍ،
ثُمَّ جَعَلَهُ طِينًا، ثُمَّ تَرَكَهُ حَتّى إذا كانَ حَمَأً مَسْنُونًا،
خَلَقَهُ وصَوَّرَهُ، ثُمَّ تَرَكَهُ حَتّى إذا كانَ صَلْصالًا كالفَخّارِ،
وجَعَلَ إبْلِيسُ يَمُرُّ بِهِ فَيَقُولُ: لَقَدْ خُلِقْتَ لِأمْرٍ عَظِيمٍ. ثُمَّ
نَفَخَ اللَّهُ فِيهِ مِن رُوحِهِ، فَكانَ أوَّلَ شَيْءٍ جَرى فِيهِ الرَّوْحُ
بَصَرُهُ وخَياشِيمُهُ، فَعَطَسَ فَلَقّاهُ اللَّهُ حَمْدَ رَبِّهِ، فَقالَ
الرَّبُّ: يَرْحَمُكَ رَبُّكَ ...... »
Allah menciptakan Adam dari debu, kemudian
menjadikannya tanah liat, dan kemudian membiarkannya sehingga ketika telah
berubah menjadi lumpur hitam yang bisa dibentuk , maka Allah menciptakan nya
dan menggambarnya , dan kemudian membiarkannya lagi sehingga ketika sudah
menjadi tanah liat yang mengering seperti tembikar , tiba-tiba iblis melewatinya . Dan Iblis
berkata: “ Sungguh kamu diciptakan untuk hal yang besar “.
Kemudian Allah meniupkan ruhnya ke dalam
dirinya, dan hal pertama yang dilalui oleh ruh itu adalah mata dan hidungnya,
maka dia bersin , lalu Allah mengajarkannya untuk memuji Rabb nya . Lalu Rabb
berfirman : “يَرْحَمُكَ
رَبُّكَ” semoga Rabb mu merahmati mu . ......dst
(Diriwayatkan oleh al-Bazzaar, an-Nasaa’i di “الْيَوْمُ وَاللَّيْلَةُ”, Ibnu Saad, Abu
Ya’la, Ibn Mardawayh, dan al-Bayhaqi dalam “أَسْمَاءُ
وَصِفَاتُ” dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Lihat Tafsir “الدُّرُّ الْمَنْثُورُ” (1/258) karya Imam Sayuthi ketika menafsiri surat Al-Baqarah
ayat 30)
----
TAHAPAN KE 4 : PENIUPAN RUH
Setelah Allah SWT membentuk gambar calon
manusia pertama, kemudian setelah itu ia menjadi tanah liat yang mengering
seperti tembikar , lalu Allah SWT meniupkan ruh pada nya.
Allah SWT berfirman :
﴿إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي
خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ * فَإِذَا
سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ﴾
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada
para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah liat
".
Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya
dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka mereka tersungkur sujud
kepadanya". ( QS. Shaad : 71 – 72 )
Allah Azza wa Jalla menyandarkan kata Ruh
kepada dzat diri-Nya sendiri, tujuannya untuk mensyiarkan bahwa Ruh ini tidak
dimiliki oleh siapa pun kecuali Dia Azza wa Jalla .
Dan adapun seperti apa ruh itu dan bagaimana
cara meniupkannya, maka itu hanya Allah yang tahu dan tidak ada cara bagi siapa
pun untuk bisa mengetahuinya.
Allah SWT berfirman :
﴿وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ
الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا﴾
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh.
Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi
pengetahuan melainkan sedikit". ( QS. Al-Isra : 85 ) .
( Baca : “الوَسِيْط” (12/81 )
Allah SWT memerintahkan para malaikat-Nya
sebelum penciptaan Adam bahwa mereka harus bersujud kepada makhluk ini setelah
Ruh telah memasuki tubuhnya. Allah SWT berfirman :
﴿إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي
خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ * فَإِذَا
سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ﴾
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada
para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah liat
".
Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya
dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka mereka tersungkur sujud
kepadanya". ( QS. Shaad : 71 – 72 )
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Yang
Mahakuasa ketika Dia meniupkan ruh ke dalam jasad Adam, maka para malaikat
harus segera bersujud kepadanya; karena huruf Fa / فاء memberi makna harus
langsung setelah kejadian ( لِلتَّعْقِيْبِ ) bukan membolehkan berlambat-lambatan ( لا لِلتَّرَاخِيْ ) . ( Baca : “التَّفْسِيرُ
التَّرْبَوِيُّ” (3/145 ) .
Penulis kitab Tafsir adz-Dzilaal berkata
:
«مَا كَانَ لِهٰذَا الْكَائِنِ الصَّغِيرِ الْحَجْمِ،
الْمَحْدُودِ الْقُوَّةِ، الْقَصِيرِ الْأَجَلِ، الْمَحْدُودِ الْمَعْرِفَةِ، مَا كَانَ
لَهُ أَنْ يَنَالَ شَيْئًا مِنْ هٰذِهِ الْكَرَامَةِ لَوْلَا تِلْكَ اللَّطِيفَةُ الرَّبَّانِيَّةُ
الْكَرِيمَةُ (النَّفْخَةُ الْعُلْوِيَّةُ الَّتِي جَعَلَتْ مِنْهُ إِنْسَانًا) وَإِلَّا
فَمَنْ هُوَ؟ إِنَّهُ ذٰلِكَ الْخَلْقُ الصَّغِيرُ الضَّئِيلُ الْهَزِيلُ الَّذِي يَحْيَا
عَلَى هٰذَا الْكَوْكَبِ الْأَرْضِيِّ مَعَ مَلَايِينِ الْأَنْوَاعِ وَالْأَجْنَاسِ
مِنَ الْأَحْيَاءِ، وَمَا الْكَوْكَبُ الْأَرْضِيُّ إِلَّا تَابِعٌ صَغِيرٌ مِنْ تَوَابِعِ
أَحَدِ النُّجُومِ، وَمِنْ هٰذِهِ النُّجُومِ مَلَايِينُ الْمَلَايِينِ فِي ذٰلِكَ
الْفَضَاءِ الَّذِي لَا يَدْرِي إِلَّا اللهُ مَدَاهُ... فَمَاذَا يَبْلُغُ هٰذَا الْإِنْسَانُ
لِتَسْجُدَ لَهُ مَلَائِكَةُ الرَّحْمٰنِ إِلَّا بِهٰذَا السِّرِّ اللَّطِيفِ الْعَظِيمِ؟!
إِنَّهُ بِهٰذَا السِّرِّ كَرِيمٌ كَرِيمٌ، فَإِذَا تَخَلَّى عَنْهُ أَوِ اعْتَصَمَ
مِنْهُ ارْتَدَّ إِلَى أَصْلِهِ الزَّهِيدِ مِنْ طِينٍ».
“ Makhluk yang kecil ini ( yakni Adam ‘alaihis
salam ) , yang terbatas kekuatannya, berumur pendek, terbatas pengetahuannya,
tidak akan mendapatkan apa pun dari martabat mulia ini , kalau bukan karena
Rahmat Ilahi yang murah hati itu ( sebuah tiupan ruh dari Yang Maha Tinggi yang
membuatnya menjadi manusia ).
Jika bukan karena itu , lalu siapa dia ( Adam
) itu ? Dia adalah makhluk kecil, mungil, kurus yang hidup di planet bumi ini
dengan jutaan spesies dan jenis kehidupan .
Dan Planet bumi ini tidak lain adalah planet
pengikut kecil dari salah satu planet-planet pengikut bintang-bintang . Dan di
antara bintang-bintang ini terdapat pula jutaan juta-juta planet-planet di
ruang angkasa yang mana luas dan ujungnya hanya Allah SWT yang tahu.
Bagaimana mungkin orang ini ( Adam ‘alaihis
salam ) dapat menjangkau para malaikat nya Ar-Rahmaan untuk bersujud kepadanya
kecuali dengan rahasia yang besar dan yang lembut ini?!
Sesungguhnya dalam rahasia ini terdapat
kemulian-kemulian dari Allah SWT . Maka Jika ia meninggalkan-Nya atau
menghindari-Nya, maka ia akan kembali ke asalnya yang kecil , yaitu dari tanah
liat “.( Baca : “التَّفْسِيرُ
التَّرْبَوِيُّ” 3/145 ) .
===***===
PEMBAHASAN
KE TIGA:
PROSES
DAN TAHAPAN PENCIPTAAN MANUSIA DALAM RAHIM IBUNYA .
Cukup banyak ayat-ayat al-Qur’an yang
menyatakan tentang proses dan tahapan-tahapan penciptaan manusia dalam rahim
ibunya , akan tetapi sangat sedikit sekali umat Islam yang mendalami dan
mempelajarinya .
Sebagaimana Al-Qur'an berbicara tentang
tahapan-tahapan penciptaan manusia pertama yaitu Nabi Adam AS, maka al-Qur’an
juga berbicara tentang proses dan tahapan-tahapan penciptaan keturunan manusia
pertama tersebut. Dan berikut ini ayat-ayat yang mengacu pada tahapan-tahapan tersebut.
Di antaranya: dalam (Surat al-Hajj: ayat 5), (surat al-Mukminun : 12-14), (surat Faathir : 11) , (surat Ghoofir:
67), (surat al-Insaan: 2), (surat
an-Nahl: 4), (surat al-Kahfi: 37) , (surat az-Zumar: 6) , (surat Yaasin: 77), (surat an-Najm:
46), (surat al-Qiyamah: 37), (surat ‘Abasa: 19) dan lainnya .
Disini
penulis akan menyebutkan beberapa ayat saja :
KE 1 : Firman Allah SWT :
﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي
رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ
ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ
لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى
ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ
يُتَوَفَّى وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ
مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا .... ﴾
“Hai manusia, jika kalian dalam keraguan
tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah
menjadikan kalian dari DEBU / TANAH, kemudian dari setetes MANI, kemudian dari
SEGUMPAL DARAH, kemudian dari SEGUMPAL DAGING yang sempurna kejadiannya dan
yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kalian dan Kami tetapkan dalam
rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan.
Kemudian Kami keluarkan kalian sebagai bayi.
Kemudian (dengan berangsur- angsur) kalian sampailah kepada kedewasaan.
Dan di antara kalian ada yang diwafatkan dan
(adapula) di antara kalian yang dipanjangkan umurnya sampai masa pikun, supaya
dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya ....” (
QS. Al-Hajj : 5 ).
KE 2 : Firman Allah SWT :
﴿وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنسان مِنْ سُلَالَةٍ
مِنْ طِينٍ * ثُمَّ
جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ * ثُمَّ
خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا المُضْغَة
عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ
فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ﴾
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan
manusia dari suatu SARIPATI dari TANAH .
Kemudian Kami jadikan saripati itu AIR MANI
(yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
Kemudian air mani itu Kami jadikan SEGUMPAL
DARAH, lalu segumpal darah itu Kami jadikan SEGUMPAL DAGING .
Dan segumpal daging itu Kami jadikan TULANG
BELULANG.
Lalu tulang belulang itu KAMI BUNGKUS DENGAN
DAGING.
Kemudian Kami jadikan dia MAKHLUK (berbentuk)
LAIN.
Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling
Baik. ( QS. Al-Mukminun : 12 – 14 ).
KE 3 : Firman Allah SWT :
﴿ إِنَّا
خَلَقْنَا الإنسان مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا
بَصِيرًا ﴾
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia
dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah
dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. ( QS.
Al-Insaan : 2 ) .
===
Setelah kita pelajari dari ayat-ayat diatas ,
maka kita dapati bahwa tahanpan-tahapan Janin dalam rahim ibunya adalah sbb :
----
PERTAMA :
TAHAPAN NUTHFAH AMSYAAJ / نُطْفَةٍ
أَمْشَاجٍ (setetes mani yang bercampur)
Tahapan ini terjadi setelah selesainya
penciptaan laki-laki pertama ( Adam ‘alaihis salam ) dan perempuan pertama
manusia ( Hawa ‘alaihis salam ) dan air mani dicampur dari air laki-laki dan
air perempuan . Yaitu setelah bersenggama, air pria bercampur dengan air
wanita, lalu kedua air itu menjadi NUTHFAH.
Salah satu keajaiban kekuasaan Allah - Maha
Suci Dia - adalah bahwa jumlah sperma yang dikeluarkan oleh buah zakar mencapai
antara dua ratus hingga tiga ratus dalam satu kali semprot . Sedangkan wanita
hanya menyemprotkan satu telur dengan mahkota bercahaya di atasnya, dan hanya satu
sperma yang mencapai sel telur wanita dari sejumlah besar sperma pria tersebut.
Dan begitu sperma pria itu menyatu dengan sel
telur wanita meskipun belum sempurna , namun sel telur yang telah dibuahi itu
segera mulai membelah menjadi dua sel, empat sel, lalu delapan . Dan yang
demikian itu , tanpa peningkatan ukuran sel-sel ini dari ukuran sel telur yang
telah dibuahi, dan proses pembelahan ini terjadi dan sel telur sedang dalam
perjalanan menuju rahim.
Kemudian datanglah tahap kedua; yaitu ‘ALAQAH.
----
TAHAPAN
KE 2 :
‘ALAQAH (SEGUMPAL DARAH)
Kata " ’Alaqah" disebutkan dalam
Al-Qur'an dalam lima ayat : ayat ke 5 surat al-Hajj , ayat ke 67 surat Ghofir ,
ayat ke 14 surat al-Mukminun dan ayat 38 surat al-Qiyaamah .
Makna ‘Alaqah :
«هِيَ الْقِطْعَةُ مِنَ الْعَلَقِ وَهُوَ الدَّمُ
الْجَامِدُ»
“Ini
adalah bagian dari ‘Alaq, yaitu darah menggumpal”.
Setelah sel telur yang dibuahi mencapai rahim,
dan setelah membelah, ia menjadi massa sel-sel kecil yang disebut timus ( التُّوْتَة ) .
Dimana menyerupai buah, kemudian menempel pada dinding rahim, dan terus melekat
selama dua puluh empat jam, dan al-‘alaqah ini dibedakan menjadi dua lapisan ;
yaitu :
1]. Lapisan luar "penyedot makanan dan
yang mengalirkan nutrisi",
2]. Dan lapisan dalam, dari situlah Allah
menciptakan janin.
Allah Azza wa Jalla menamai Surat pertama yang
diturunkan dalam Al Qur'an dengan nama tahapan ini yaitu al-‘Alaq, agar dengan
ini Allah – Yang Maha Suci Dia - mengingatkan kita pada saat-saat di mana
manusia itu hanyalah segumpal darah yang menempel di dinding rahim, dan dari situlah
sebabnya ia memperoleh kehangatan, makanan, dan tempat tinggal yang
menenangkan.
Allah SWT berfirman :
﴿ اقْرَأْ
بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ * خَلَقَ
الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ ﴾
“ Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang
menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah “ ( QS. Al-‘Alaq
: 1-2 )
----
TAHAPAN
KE 3 :
MUDLGHOH / مُضْغَةٌ ( segumpal daging kecil )
Kata al-mudlghoh disebutkan dalam Al-Qur'an
tiga kali, dua kali dalam Surat al-Muminun: ayat 14, dan sekali dalam Surat
al-Hajj : ayat 5.
Dan makna mudlghooh (المُضْغَة) adalah :
«الْقِطْعَةُ الصَّغِيرَةُ مِنَ اللَّحْمِ بِقَدْرِ
مَا يُمْضَغُ»
“ Sepotong kecil daging seukuran yang dikunyah
dalam mulut “.
Setelah melewati proses gumpalan darah yang
menempel , maka tahapan mudlghooh /المُضْغَة (segumpal daging) dimulai pada minggu ketiga, dan pada masa ini
terdapat dua tahapan , seperti yang Allah SWT firmankan :
﴿فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ
مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ
مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ ۚ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَىٰ
أَجَلٍ مُسَمًّى﴾
“ Maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah
menjadikan kalian dari debu / tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari
segumpal darah, kemudian dari segumpal daging YANG SEMPURNA pembentukannya dan
YANG TIDAK SEMPURNA, agar Kami jelaskan kepada kalian dan Kami tetapkan dalam
rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan”. ( QS.
Al-Hajj : 5 ).
Tahapan pertama : tidak sempurna
pembentukannya ( غَيْرُ
مُخَلَّقَةٍ )
Fase ini berlangsung dari minggu ketiga sampai
minggu keempat, dan tidak ada diferensiasi/ pemisahan untuk organ atau sistem
apapun.
Tahapan kedua : telah sempurna
pembentukannya ( مُخَلَّقَةٌ )
Setelah akhir minggu keempat, kehamilan
mengalami serangkaian perubahan halus dan mengejutkan, di mana pada masa itu
sel-sel ini tumbuh dan berkembang, sehingga bentuk manusia tersebut berada
dalam bentuk struktur tubuh yang terbaik , seperti yang Allah SWT firman kan :
﴿لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ
تَقْوِيمٍ﴾
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia
dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (QS. At-Tiin: 4)
Tahapan
ini akan berakhir sekitar akhir bulan ketiga.
Al-Qur'an memperhitungkan perbedaan tahapan
masa dan perbedaan tahapan pembentukan janin antara setiap tahap perubahan
penciptaannya.
Jarak antara Nuthfah (menyatunya sperma dengan
sel telur) dan ‘Alaqah (gumpalan darah) adalah jarak yang sangat jauh dalam
keseimbangan proses penciptaan janin, meski dalam hitungan waktu tidaklah jauh,
oleh karena itu muncullah ungkapan pergeseran dari bentuk Nuthfah ke bentuk
‘Alaqah, dipisahkan antara keduanya dengan kata “KEMUDIAN / ثُمَّ”. Allah
SWT berfirman :
﴿ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً
فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا المُضْغَة عِظَامًا فَكَسَوْنَا
الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ﴾
KEMUDIAN air mani itu Kami jadikan segumpal
darah, MAKA segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, MAKA segumpal
daging itu Kami jadikan tulang belulang, MAKA tulang belulang itu Kami bungkus
dengan daging. KEMUDIAN Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. ( QS.
Al-Mukminun : 14 ).
Kata “KEMUDIAN air mani itu Kami jadikan
segumpal darah” , Jarak antara mani dan ‘Alaqah sangat jauh, baik itu Nuthfah
laki-laki (sperma) atau Nuthfah perempuan (sel telur), atau keduanya (Nuthfah
amsyaaj / nuthfah laki dan perempuan bercampur ).
Dan yang berada di saluran rahim maka akan
mencapai pada “قَرَارٍ
مَكِينٍ / tempat yang kokoh (yakni : pusat Rahim)
lalu menetap di dalamnya ; akan tetapi perubahan dari Nuthfah (gumpalan darah
\) ke Mudlghoh ( gumpalan daging ) begitu cepat dan jaraknya dekat.
Perubahan dari Nuthfah ( gumpalan darah ) ke
Mudlghoh ( gumpalan daging ) tanpa ada jeda waktu atau perbedaan bentuk yang
signifikan, dan oleh sebab itu ungkapannya dengan huruf Fa ( فاء ) yang
menunjukan prosesnya itu nyambung tidak ada jeda. Allah SWT berfirman :
﴿فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً﴾
“MAKA segumpal darah itu Kami jadikan segumpal
daging” ( QS. Al-Mukminun : 14 ).
Dan begitu juga jeda antara Mudlghoh (
gumpalan daging ) dan ‘Idzoom ( tulang belulang ). Allah SWT berfirman :
﴿فَخَلَقْنَا المُضْغَة عِظَامًا فَكَسَوْنَا
الْعِظَامَ لَحْمًا﴾
“ MAKA segumpal daging itu Kami jadikan tulang
belulang, MAKA tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging “. ( QS.
Al-Mukminun : 14 ).
Kemudian setelah itu kecepatannya mulai
melambat, dan telah tiba saatnya sang pemisah waktu dan proses penciptaan itu
datang , yaitu Ruh. Allah SWT berfirman :
﴿ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ
اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ﴾
“ Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang
(berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik “. ( QS.
Al-Mukminun : 14 ).
( RFERENSI : Baca “عِلْمُ
أَطْوَارِ الْإِنْسَانِ” hal. 100 )
Ibnu Katsir ketika menafsiri firman Allah :
﴿ ثُمَّ
أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ﴾
“Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang
(berbentuk) lain”. ( QS. Al-Mukminun : 14 )
Beliau berkata :
“ Yaitu kemudian Kami tiupkan ke dalam
tubuhnya roh, hingga ia dapat bergerak hidup dan menjadi makhluk lain yang
mempunyai pendengaran, penglihatan, perasaan, gerak, dan getaran”.
Lalu Ibnu Katsir meriwayatkan dengan
sanadnya dari Ali ibnu Abu Talib r.a. yang mengatakan:
“Bahwa apabila nutfah (di dalam rahim) telah
menjalani masa empat bulan, Allah memerintahkan malaikat untuk meniupkan roh ke
dalam janin yang berada di dalam tiga kegelapan (tiga lapis pelindungnya).
Yang demikian itulah makna yang dimaksud oleh
firman-Nya : “Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain”. (QS. Al-Mu’minun
[23]: 14)
Yakni Kami tiupkan roh ke dalamnya”.
Kemudian Ibnu Katsir berkata :
“Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas
sehubungan dengan makna firman-Nya:
“ Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain “.(QS. Al-Mu’minun :
14)
Yaitu Kami pindahkan dari suatu keadaan kepada
keadaan yang lain hingga terlahirlah ia dalam rupa bayi. Lalu ia tumbuh menjadi
anak-anak, kemudian mencapai usia balig, lalu menjadi dewasa, dan selanjutnya
memasuki usia tua, kemudian usia pikun “.
Kesimpulan Ibnu Katsir :
“Pada garis besarnya tidak ada pertentangan di
antara pendapat-pendapat tersebut, karena sesungguhnya sejak ditiupkan roh ke
dalam tubuh si janin, maka dimulailah perubahan-perubahan itu dari suatu
keadaan kepada keadaan yang lain.
Wallahu a’lam “.
( Baca : Tafsir Ibnu Katsir , di Surat
al-Mukminun ayat 12 -14 )
----
TAHAPAN
KE 4 :
KERANGKA TULANG ( العِظَامُ )
Pada tahapan ini, potongan daging berubah
menjadi kerangka tulang . Allah SWT berfirman :
﴿ فَخَلَقْنَا
المُضْغَة عِظَامًا ﴾
“ DAN segumpal daging itu Kami jadikan tulang
belulang “. ( QS. Al-Mukminun : 14 ).
---
TAHAPAN
KE 5 :
Pembungkusan tulang dengan daging . ( كِسَاءُ
العِظَامِ بِاللَّحْمِ )
Allah SWT berfirman :
﴿ فَخَلَقْنَا
المُضْغَة عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ﴾
“ DAN segumpal daging itu Kami jadikan tulang
belulang, MAKA tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging “. ( QS.
Al-Mukminun : 14 ).
Ayat ini menunjukkan bahwa kerangka tulang
dibentuk terlebih dahulu, kemudian daging dan otot-otot dililitkan seolah-olah
dibalut, dan gambaran yang sangat teliti ini menunjukkan keagungan dan
keakuratan Al-Qur’an.
[Referensi : Tafsir “الكشاف” (5/178 )]
===****===
TUDUHAN DAN JAWABANNYA :
Ada orang yang mengklaim dan menuduh bahwa
Al-Qur'an membuat kesalahan dengan mengatakan bahwa penciptaan kerangka tulang
lebih didahulukan daripada penciptaan daging ?
Substansi pengklaiman dan tuduhan :
Para penentang menuduh kesalahan Al-Qur'an
dalam mengatakan bahwa penciptaan tulang lebih didahulukan daripada daging
dalam Firmannya :
﴿ فَخَلَقْنَا
المُضْغَة عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ﴾
“ DAN segumpal daging itu Kami jadikan tulang
belulang, MAKA tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging “. ( QS.
Al-Mukminun : 14 ).
Mereka dengan mengatakan :
Ilmu pengetahuan modern telah membuktikan
bahwa tulang dan daging ada kemungkinan tercipta bersama-sama secara paralel
dan bukan tulang sebelum daging.
Begitu juga apa yang disebutkan dalam
Al-Qur'an bertentangan dengan apa yang dikatakan dalam hadits :
إذَا مَرَّ بالنُّطْفَةِ ثِنْتَانِ
وَأَرْبَعُونَ لَيْلَةً، بَعَثَ اللَّهُ إلَيْهَا مَلَكًا، فَصَوَّرَهَا وَخَلَقَ
سَمْعَهَا وَبَصَرَهَا وَجِلْدَهَا وَلَحْمَهَا وَعِظَامَهَا ...
“Ketika nuthfah telah berusia empat puluh dua
malam, maka Allah akan mengutus satu malaikat mendatangi nuthfah tersebut.
Kemudian Allah akan membentuk tubuhnya, menciptakan pendengarannya,
penglihatannya, kulitnya, dagingnya, dan juga tulangnya”. (HR. Muslim No. 2645
)
Dan Ini ada tambahan fakta :
Bahwa hadits di atas tidak membawa sesuatu
yang baru dalam hal ini. Akan tetap kitab Taurat sudah menyebutkan
tahapan-tahapan itu – yakni : yang disebutkan dalam hadits - dalam Kitab /
Safar Ayub, yang ditulis lebih dari 2000 tahun sebelum masehi .
JAWABANNYA :
Ilmu pengetahuan modern telah membuktikan
keabsahan apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an tentang didahulukannya penciptaan
tulang lalu daging, dan ahli embriologi paling terkenal seperti Dr. Keith Moore
bersaksi tentang hal ini , dia penulis buku paling terkenal tentang embriologi
“The Developing human” , Dia mengatakan dalam bukunya apa yang menegaskan
keautentikan dan kebenaran Al-Qur'an :
“During the seventh week‚ the skeleton
begins to spread throughout the body and the bones take their familiar shapes.
At the end of the seventh week and during the eighth week the muscles take
their positions around the bone forms “.
Artinya : “Selama minggu ketujuh‚ kerangka
tulang belulang mulai menyebar ke seluruh tubuh dan tulang-tulang mengambil
bentuk yang sudah dikenal. Pada akhir minggu ketujuh dan selama minggu
kedelapan, otot-otot mengambil posisi di sekitar bentuk-bentuk tulang “.
Dan Tidak ada kontradiksi antara hadits mulia:
"Jika empat puluh dua malam berlalu setelah pembuahan ..." dengan
Al-Qur'an Mulia tentang masalah urutan tahapan penciptaan.
Kata-kata dalam hadits tersebut tidak
menunjukkan berurutan dalam penyebutan tahapan-tahapan penciptaan; Itu karena
huruf waw / الواو ( yakni
: DAN ) kata sambung yang ada dalam hadits, itu dalam bahasa arab bermakna
untuk kemutlakan pluralitas dan berbagi , dan tidak menunjukkan berurutan ,
berbeda dengan kata Tsumma / ثُمِّ ( Yakni : Kemudian ) . Coba kita perhatikan pula firman Allah
SWT yang berkaitan dengan dua tahapan pada masa “Mudlghoh / gumpulan daging “ :
﴿ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ
مُخَلَّقَةٍ﴾
“Kemudian dari SEGUMPAL DAGING yang sempurna
kejadiannya DAN yang tidak sempurna”. ( QS. Al-Hajj : 5 )
Huruf “DAN” dalam ayat ini tidak menunjukkan
berurutan ; karena dalam realita urutannya adalah sebaliknya , yaitu : Segumpal
daging yang tidak sempurna KEMUDIAN segumpal daging yang sempurna.
Dalam surat al-Baqarah ayat 259 , Allah SWT
menceritakan tentang proses pembungkusan tulang dengan daging ketika
membangkitkan kembali ‘Uzair dan keledai nya setelah diwafatkan selama 100 tahun
dan telah berubah menjadi tulang belulang . Allah SWT berfirman :
﴿أَوۡ كَٱلَّذِي مَرَّ عَلَىٰ قَرۡيَةٖ
وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّىٰ يُحۡيِۦ هَٰذِهِ ٱللَّهُ بَعۡدَ
مَوۡتِهَاۖ فَأَمَاتَهُ ٱللَّهُ مِاْئَةَ عَامٖ ثُمَّ بَعَثَهُۥۖ قَالَ كَمۡ
لَبِثۡتَۖ قَالَ لَبِثۡتُ يَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٖۖ قَالَ بَل لَّبِثۡتَ
مِاْئَةَ عَامٖ فَٱنظُرۡ إِلَىٰ طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمۡ يَتَسَنَّهۡۖ وَٱنظُرۡ
إِلَىٰ حِمَارِكَ وَلِنَجۡعَلَكَ ءَايَةٗ لِّلنَّاسِۖ وَٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡعِظَامِ
كَيۡفَ نُنشِزُهَا ثُمَّ نَكۡسُوهَا لَحۡمٗاۚ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥ قَالَ
أَعۡلَمُ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ﴾
Artinya: “Atau apakah (kamu tidak
memperhatikan) orang yang melintasi suatu negeri yang (temboknya) telah roboh
menutupi atapnya. Dia berkata :
‘Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri
ini setelah hancur?’
Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun,
kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya : ‘Berapa lama kamu tinggal di
sini?’
Ia menjawab: ‘Saya telah tinggal di sini
sehari atau setengah hari.’
Allah berfirman: ‘Sebenarnya kamu telah
tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu
yang belum lagi berubah; dan lihatlah kepada keledaimu telah menjadi tulang
belulang . Kami akan menjadikanmu tanda kekuasaan Kami bagi manusia .
Dan lihatlah kepada tulang belulang keledai
itu, bagaimana kami menyusunnya kembali, kemudian Kami MEMBUNGKUSNYA kembali
dengan DAGING .’
Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana
Allah menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata: ‘Saya yakin babwa Allah
Mahakuasa atas segala sesuatu.’” (QS. Al-Baqarah : 259).
Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata :
Para ulama masih berbeda pendapat mengenai
siapakah dimaksud dengan orang tersebut.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari All bin Abi
Thalib, ia berkata, “Ia adalah Uzair.” Pendapat ini juga diriwayatkan Ibnu
Jarir dan Ibnu Hatim, dari Ibnu Abbas, Al-Hasan, Qatadah, As-Suddi, dan
Sulaiman bin Buraidah. Pendapat inilah yang masyhur. Sedangkan negeri yang
dimaksudkan adalah sudah sangat masyhur, yaitu Baitul Maqdis. Ia melintasi
negeri setelah dihancurkan dan dibunuh penduduknya oleh raja Bukhtanshar.
( Lihat : Tafsir Ibnu Katsir , Surah
Al-Baqarah Ayat 259 )
Maka dengaan demikian tuduhan dan pengklaiman
kontradiksi ditolak .
Juga, pengaturan dalam teks kitab Taurat :
" يَدَاكَ كَوَّنَتَانِي وَصَنَعَتَانِي
كُلِّي جَمِيعًا..."
“Kedua Tangan-Mu membentuk ku dan menciptakan
ku , secara kesuluruhan , semuanya …”
adalah urutan yang salah, meskipun
penampilannya menunjukkan ada kemiripan dengan urutan yang disebutkan dalam
hadits yang mulia.
Hal ini karena huruf fa / ف dalam
teks kitab Taurat menunjukkan makna berurutan dan beruntun .
Perkara yang menuntaskan masalah ini , dan
menegaskan kepada kita akan adanya kesalahan tuduhan dan pengklaiman mereka ,
adalah : bahwa itu bertabrakan dengan apa yang telah ditetapkan oleh para ilmuwan
modern.
===***===
PEMBAHASAN
KE EMPAT:
MASA
PERTUMBUHAN JANIN MANUSIA DALAM RAHIM :
Allah SWT berfirman :
﴿وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ
إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ
وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ
أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي
أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ
وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ
الْمُسْلِمِينَ﴾
“Kami perintahkan kepada manusia supaya
berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah
payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).
Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga
puluh bulan .
Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya
sampai empat puluh tahun ia berdoa :
"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk
mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu
bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai;
berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku.
Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk
orang-orang yang berserah diri". (QS. Al-Ahqaaf: 15).
Dan Allah SWT berfirman :
﴿وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ
حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ
لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ﴾
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat
baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan
lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah
kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. ( QS.
Luqman : 14 ) .
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,
dia berkata: ‘Rasulullah ﷺ telah bercerita kepada kami, dan beliau
adalah orang yang benar lagi dibenarkan:
«إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِيْ
بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمَاً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ
ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ المَلَكُ
فَيَنفُخُ فِيْهِ الرٌّوْحَ ، وَيَؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ
وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ»
”Sesungguhnya salah seorang dari kalian
dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk
nuthfah (mani).
Kemudian menjadi ‘alaqah (gumpalan darah)
selama itu juga.
Kemudian menjadi mudghah (gumpalan daging)
selama itu juga.
Kemudian diutus seorang malaikat, lalu dia
meniupkan ruh kepadanya, dan dia (malaikat tersebut) diperintahkan untuk
menulis 4 kalimat (perkara): tentang rezekinya, amalannya, ajalnya dan (apakah)
dia termasuk orang yang sengsara atau bahagia.
[HR. Bukhari dan Muslim].
====
KUTIPAN
:
(
Berikut ini kutipan dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun VI/1423H/2003 M )
Jika ditinjau dari perkembangan ilmu
kedokteran sekarang , nampak jelas hadits diatas akan dibenarkan oleh para ahli
medis , sebab hasilnya tidaklah jauh berbeda dengan penemuan-penemuan mereka.
Telah dinyatakan juga bahwa pada tahap
kehamilan antara 8 pekan hingga 10 pekan ( ± antara 56-70 hari) pembuluh darah
janin mulai nampak berbentuk.
Melalui alat-alat modern seperti alat perekam
jantung bayi (elektrokardiografi/EKG untuk bayi) dan ultrasonografi (USG) bisa
diketahui sedini mungkin, apakah jantung bayi sudah berdetak atau belum.
Umumnya detak jantung bayi bisa diketahui dan dicatat pada pekan ke 12 (sekitar
84 hari). Namun dengan alat sederhana, baru terdengar pada kehamilan 20 pekan
(sekitar 140 hari).
Bisa dibuktikan bahwa pada sekitar kehamilan
10 pekan (kira-kira 70 hari) sudah mulai terbentuk sistem jantung dan pembuluh
darah.
Sejak memasuki usia kehamilan 8 pekan (sekitar
56 hari) mulai nampak bentuk hidung, telinga, dan jari-jari dengan kepala
membungkuk ke dada.
Kemudian setelah usia 12 pekan (84 hari)
telinga nampak lebih jelas, akan tetapi mata masih melekat. Leher sudah mulai
terbentuk, alat kelamin sudah terbentuk tetapi belum begitu nampak. Nanti
setelah usia 16 pekan (112 hari) maka alat kelamin luar terbentuk, sehingga
dapat dikenali dan kulit janin berwarna merah tipis sekali.
Pada umumnya plasenta atau ari-ari sudah
terbentuk lengkap pada usia 16 pekan.
Ketika kehamilan menginjak usia 24 pekan (168
hari), maka kelopak mata sudah terpisah. Ditandai dengan adanya alis dan bulu
mata.
Dengan demikian apa yang disabdakan oleh
Rasulullah ﷺ dalam hadits diatas , itu memang benar adanya.
Ilmu pengetahuan medis baru bisa
membuktikannya pada abad sekarang ini. Padahal ayat-ayat al-Quran yang
berkenaan dengan hal tersebut sudah turun pada puluhan abad lalu.
Dan bisa di buktikan bahwa Allah SWT telah
menciptakan manusia dari segumpal darah (alaqah) 40 hari, setelah terbentuknya
air mani. Hal ini bisa diketahui oleh para ahli medis, bahwa pada sekitar usia
56-70 hari pembuluh darah janin mulai terbentuk. Setelah itu biasanya ada
gerakan-gerakan. Gerakan inilah yang mungkin terdeteksi oleh alat-alat
kedokteran modern sebagai denyut jantung janin. Akan tetapi berdasarkan dhohir
hadits Nabi ﷺ , bahwa ruh itu akan ditiupkan pada janin saat berusia lebih dari 120
hari. Wallahu a’lam.
(Sampai di sini kutipan dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun VI/ 1423 H / 2003 M)
===
Ibnu al-Qoyyim rahimahullah berkata :
«الْجَنِينُ قَبْلَ نَفْخِ الرُّوحِ هَلْ كَانَ
فِيهِ حَرَكَةٌ وَإِحْسَاسٌ أَمْ لَا؟ قِيلَ: كَانَ فِيهِ حَرَكَةُ النُّمُوِّ وَالِاغْتِذَاءِ
كَالنَّبَاتِ، وَلَمْ تَكُنْ حَرَكَةُ نُمُوِّهِ وَاغْتِذَائِهِ بِالْإِرَادَةِ، فَلَمَّا
نُفِخَتْ فِيهِ الرُّوحُ انْضَمَّتْ حَرَكَةُ حَسِّيَّتِهِ وَإِرَادَتِهِ إِلَى حَرَكَةِ
نُمُوِّهِ وَاغْتِذَائِهِ»
" Janin sebelum Ruh ditiupkan Apakah
sudah ada gerakan dan indra atau belum ?
Ada yang mengatakan : bahwa itu adalah gerak
pertumbuhan dan penyerapan nutrisi seperti gerak perkembangan tumbuh-tumbuhan .
Dan gerak pertumbuhan janin dan penyerapan
nutrisi nya itu bukan karena adanya kemauan dari dirinya.
Ketika ruh telah ditiupkan padanya ; maka
terpadulah antara gerakan indranya dan kemauan dari dirinya dengan gerak
pertumbuhan dan penyerapan nutrisi” .
[Baca : “التِّبْيَانُ
فِي أَقْسَامِ الْقُرْآنِ” hal. 218 karya Ibnu Al-Qayyim, ditahqiq oleh: Thoha Yusuff Syahiin,
Cet. دَارُ الطِّبَاعَةِ الْمُحَمَّدِيَّةِ
الْأَزْهَرِيَّةِ, Kairo, Cet ke 1, 1388 H / 1968 M.]
Imam Al-Nawawi berkata :
«نَفْخُ الرُّوحِ لَا يَكُونُ إِلَّا بَعْدَ تَمَامِ
صُورَتِهِ»
“ Ruh tidak ditiupkan kecuali setelah
bentuknya sempurna”
[Baca : Syarah Sahih Muslim (9/3764) karya
Al-Nawawi, ditahqiq oleh : ‘Aadil Abdul Mawjuud dan Ali Mu’awwad, Cet. مكتبة نزار مصطفى الباز , Makkah Al-Mukarramah, ke 2, 1422 H / 2001 M ] .
Hal ini ditegaskan pula oleh ilmu
pengetahuan modern ; dimana dr. Abdel-Gawad El-Sawy berkata :
Masalah ini, seperti yang telah kami katakan,
tidak diperinci oleh ilmu pengetahuan modern, tetapi dijelaskan secara rinci
oleh nash-nash syar’i .
Sepengetahuan saya, tidak ada nash yang jelas
dan shahih kecuali hadits “جَمْعُ الخَلْقِ / proses pertumbuhan janin” yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari,
Muslim dan lain-lain dari hadits Abdullah bin Mas’ud, beliau bersabda:
«إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِيْ
بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمَاً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ
ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ المَلَكُ
فَيَنفُخُ فِيْهِ الرٌّوْحَ ، وَيَؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ
وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ».
”Sesungguhnya salah seorang dari kalian
dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk
nuthfah (mani).
Kemudian menjadi ‘alaqah (gumpalan darah)
selama itu juga.
Kemudian menjadi mudghah (gumpalan daging)
selama itu juga.
Kemudian diutus seorang malaikat, lalu dia
meniupkan ruh kepadanya, dan dia (malaikat tersebut) diperintahkan untuk
menulis 4 kalimat (perkara): tentang rezekinya, amalannya, ajalnya dan (apakah)
dia termasuk orang yang sengsara atau bahagia”.
Para Cendekiawan Muslim telah sepakat bahwa
janin akan dihembuskan ruh ke dalamnya setelah tahapan Mudlghoh (segumpal
daging) sempurna , berdasarkan sabda Nabi ﷺ yang begitu jelas .
Dan Karena telah terbukti bahwa masa usia
Mudlghoh (segumpal daging) jatuh pada empat puluh hari pertama, berdasarkan
nash riwayat Imam Muslim dalam hadits “جَمْعُ
الخَلْقِ”, dan juga hadits Hudzaifah bin Usaid ,
yaitu :
«إذَا مَرَّ بالنُّطْفَةِ ثِنْتَانِ
وَأَرْبَعُونَ لَيْلَةً، بَعَثَ اللَّهُ إلَيْهَا مَلَكًا، فَصَوَّرَهَا وَخَلَقَ
سَمْعَهَا وَبَصَرَهَا وَجِلْدَهَا وَلَحْمَهَا وَعِظَامَهَا»
“Ketika nuthfah telah berusia EMPAT PULUH DUA
MALAM, maka Allah akan mengutus satu malaikat mendatangi nuthfah tersebut.
Kemudian Allah akan membentuk tubuhnya, menciptakan pendengarannya,
penglihatannya, kulitnya, dagingnya, dan juga tulangnya”. (HR. Muslim No. 2645
)
Dan fakta-fakta embriologi modern sesuai
dengan deskripsi Syar’i tentang tahapan-tahapan janin .
Jika demikian maka Ruh itu akan ditiupkan
setelah lewat empat puluh hari pertama dari usia janin, bukan sebelum itu,
tetapi kapan tepatnya itu terjadi? Apakah setelah dua bulan lagi, atau
tiga, atau empat, atau kurang, atau lebih?
Saya kira tidak akan ada orang yang dapat
menentukan waktu peniupan ruh dengan pasti dan yakin pada hari tertentu setelah
empat puluh hari pertama!
Dimana sejauh yang saya tahu tidak ada nash
yang shahih dalam hal itu . Akan tetapi seseorang mungkin bisa berusaha
untuk menentukan perkiraan tanggal, berdasarkan firman Allah Ta’ala :
﴿ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ﴾
“ Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan
ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya . ( QS. As-Sajdah : 9 ).
Dimana dapat dipahami bahwa ruh yang ditiupkan
pada janin setelah sempurna, dan dengan adanya penyempurnaan janin itu datang
setelah penciptaan langsung , berdasarkan firman-Nya :
﴿ٱلَّذِى خَلَقَكَ فَسَوَّىٰكَ فَعَدَلَكَ﴾
“Yang telah menciptakan kamu lalu
menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang”. ( QS.
Al-Infithaar : 7 )
Maka mungkin dapat dikatakan - berdasarkan ini
- : bahwa Ruh ditiupkan pada janin setelah tahapan penciptaan, yaitu setelah
minggu kedelapan dari usianya, yang merupakan tahapan munculnya karakter
makhluk lain ( yakni ruh ) .
Dan itu merupakan kesimpulan sebagian besar
para ahli tafsir yang mengatakan :
Bahwa tahapan munculnya makhluk lain, yaitu
tahapan janin di mana pada saat itu ruh ditiupkan, yang tidak akan terjadi
kecuali setelah tahapan tulang dan pembungkusannya dengan daging, sebagaimana
dinyatakan dalam ayat yang mulia.
Hal ini diperkuat dengan huruf ( ثُمَّ /
kemudian ), yang menunjukkan makna tidak langsung (التراخي) dalam terjadinya suatu pekerjaan ketika disebutkan bersama
peniupan ruh dalam hadits “جَمْعُ الخَلْقِ” :
﴿ثُمَّ يُنْفَخُ فِيْهِ الرُّوْحُ﴾
(Kemudian ruh ditiupkan ke dalamnya ) -
seperti dalam riwayat Bukhari
Atau
﴿ثُمَّ يُرْسَلُ المَلَكُ فَيَنْفُخُ
فِيْهِ الرُّوْحَ﴾
( Kemudian malaikat diutus lalu meniupkan
ruh ke dalamnya ). - seperti dalam Muslim.
Dan karena minggu kedelapan tidaklah berakhir
kecuali semua organ utama telah tercipta, dan tahapan mudlghoh ( gumpalan
daging ) berakhir pada empat puluh hari pertama dari usia janin, dan bentuknya
sebagai manusia sudah bisa dibedakan , dan penciptaan
manusia telah disempurnakan selama periode ini atau sebentar lagi ;
maka ruh dapat ditiupkan ke dalam janin setelah berakhirnya proses penciptaan
pada minggu kesembilan atau kesepuluh, atau setelah jaringan organ kelamin
sudah dibedakan pada minggu kedua belas atau sesudahnya! Wallahu alam.
Namun apakah ada tanda-tanda bahwa janin telah
ditiupkan ruh ke dalamnya?
Ya, mungkin tidur nya janin itu bisa
menjadi pertanda bahwa ruh telah ditiupkan di dalamnya, di qiyaskan ( di
analogikan ) dengan orang yang tidur yang menikmati kehidupan meskipun
sebagian Ruh telah ditahan untuk sementara waktu . Dan itu
berdasrkan firman Allah Ta’ala :
﴿اَللّٰهُ يَتَوَفَّى الْاَنْفُسَ حِيْنَ
مَوْتِهَا وَالَّتِيْ لَمْ تَمُتْ فِيْ مَنَامِهَا ۚ فَيُمْسِكُ الَّتِيْ قَضٰى
عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْاُخْرٰىٓ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّىۗ اِنَّ فِيْ
ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ﴾
“Allah mewafatkan jiwa-jiwa (manusia) pada
saat kematiannya dan jiwa-jiwa yang belum mati ketika mereka tidur; maka Dia
tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan
kembali nyawa yang lain ( yang belum tiba waktu kematiannya ) sampai waktu yang
ditentukan.
Sungguh, pada yang demikian itu terdapat
tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir”. (QS. Az-Zumar : 42 )
Seperti halnya mungkin juga gerakan yang dikehendaki
janin bisa menjadi bukti kehadiran ruhnya .
Ibnu al-Qayyim menyebutkan hal ini dalam
uraiannya tentang janin sebelum dan sesudah ruh dihembuskan. Dia berkata:
كَانَتْ فِيهِ حَرَكَةُ النُّمُوِّ وَالِاغْتِذَاءِ
كَالنَّبَاتِ، وَلَمْ تَكُنْ حَرَكَةُ نُمُوِّهِ وَاغْتِذَائِهِ بِالْإِرَادَةِ، فَلَمَّا
نُفِخَتْ فِيهِ الرُّوحُ انْضَمَّتْ حَرَكَةُ حَسِّيَّتِهِ وَإِرَادَتِهِ إِلَى حَرَكَةِ
نُمُوِّهِ وَاغْتِذَائِهِ.
Gerakan pertumbuhan janin dan penyerapan
nutrisi seperti gerakan perkembangan tumbuh-tumbuhan . Dan gerak pertumbuhan
janin dan penyerapan nutrisi nya itu bukan karena adanya kemauan dari dirinya .
Ketika ruh telah ditiupkan padanya ; maka
terpadulah antara gerakan indranya dan kemauan dari dirinya dengan gerak
pertumbuhan dan penyerapan nutrisi” .
Perangkat modern telah terbukti dapat melihat
pergerakan tubuh janin sejak dini ; Di mana ia bisa diambil gambarnya pada
minggu kedelapan, atau ketika kantung kehamilan mencapai 3 cm, atau panjang
janin sekitar15 mm.
Seperti halnya Anda juga bisa melihat gerakan
janin yang mengekspresikan vitalitas janin, seperti: gerakan pernapasan, gerakan
anggota tubuh bagian atas, detak jantung, gerakan lensa mata, menelan, dan
gerakan usus-usus kecil .
Seperti halnya Ia juga memantau
gerakan-gerakan yang mengekspresikan aktivitas janin, seperti: menelan, gerakan
tangan ke mulut, mengunyah, gerakan lidah, gerakan tangan ke muka, dan mengisap
jari.
Gerakan-gerakan ini terlihat pada minggu
keenam belas ; yakni, sebelum seratus dua puluh hari .
Gerakan-gerakan ini merupakan refleksi tidak
langsung dari keadaan sistem saraf pusat. Semakin banyak gerakan ini hadir dan
seimbang ; maka keadaan sistem saraf semakin aktif dan sehat.
Dan demikianlah, para ahli embriologi dengan
menggunakan perangkat yang teliti ini telah membuktikan fakta-fakta ini, yang
mengkonfirmasi secara keseluruhan bahwa tahapan pertama janin dari Nuthfah,
‘Alaqah, dan Mudlghoh , semua itu terjadi dalam empat puluh hari pertama.
Dan di masing-masing dari itu semua penciptaan
organ-organ janin dan jaringannya digabungkan dalam bentuk permulaannya (
bentuk dasar ) selama empat puluh hari pertama dari usianya.
Adapun gerakan janin yang atas kemauan nya
sendiri serta awal berfungsinya organ-organ utama janin maka itu terjadi pada
empat puluh hari kedua dari usianya .
Dengan demikian, kemungkinan ruh ditiupkan ke
dalam janin itu ada pada setiap saat / kapan saja setelah empat puluh hari
pertama , mumgkin pada akhir minggu ketujuh, kedelapan, atau kesembilan, atau
bahkan empat bulan kemudian.
Meskipun yang Rajih (lebih shahih) dari
nash-nash hadits menyatakan bahwa ruh ditiupkan setelah minggu kedelapan
setelah inseminasi ( pembuahan ) , karena nash-nash yang jelas dan shahih
menunjukkan hal tersebut , dan karena tidak ada satu pun hadits shahih atau
hasan yang menyatakan bahwa ruh itu tidak ditiupkan ke dalam janin kecuali
setelah empat bulan.
Dan sebagian bukti yang menguatkan hal itu
adalah fakta-fakta ilmiah yang mapan dalam ilmu embriologi.
Dan yang paling penting adalah bisa melihat
berbagai tahapan janin dari awal pembentukannya dan penyempurnaan penciptaan
dan pembentukannya, dan pemenuhan fungsi sebagian besar jaringan-jaringan
organnya , dan pemantauan gerakan dzat dirinya dan aktivitas-aktivitas fisiknya
sebelum empat bulan dengan pasti.
Larangan aborsi setelah empat puluh hari dari
usia janin itu didasarkan pada ini ; Karena aborsi diharamkan menurut
mayoritas fuqaha setelah ruh dihembuskan, dan ruh dihembuskan setelah tahapan
Mudlghoh ( segumpal daging ) , sementara tahapan Mudlghoh (segumpal daging)
dimulainya , sempurnanya dan berakhirnya dalam empat puluh hari pertama.
Dengan demikian, kemungkinan besar dikatakan
bahwa aborsi diharamkan setelah empat puluh hari pertama dari mulai pembuahan
sel telur, dan menjadi النُّطْفَةُ
الْأَمْشَاجُ (mani yang bercampur). Dan pengharaman
aborsi semakin kuat setelah tahapan penciptaan ; yakni, setelah delapan
minggu, dan lebih dahsyat lagi diharamkannya setelah bulan ketiga atau keempat
. Wallaahu alam .
Larangan aborsi setelah empat puluh hari dari
usia janin itu didasarkan pada ini ; Karena aborsi diharamkan menurut
mayoritas fuqaha setelah ruh dihembuskan, dan ruh dihembuskan setelah tahapan
Mudlghoh ( segumpal daging ) , sementara tahapan Mudlghoh (segumpal daging)
dimulainya , sempurnanya dan berakhirnya dalam empat puluh hari pertama.
Dengan demikian, kemungkinan besar dikatakan
bahwa aborsi diharamkan setelah empat puluh hari pertama dari mulai pembuahan
sel telur, dan menjadi النُّطْفَةُ
الْأَمْشَاجُ (mani yang bercampur). Dan pengharaman
aborsi semakin kuat setelah tahapan penciptaan ; yakni, setelah delapan
minggu, dan lebih dahsayt lagi diharamkannya setelah bulan ketiga atau keempat
. Wallaahu alam
[Baca : " أَطْوَارُ
الْجَنِينِ وَنَفْخُ الرُّوحِ" oleh Dr. Abdul-Jawad
Al-Shoowii, sebuah artikel berbahasa Arab di situs: (الْهَيْئَةُ
الْعِلْمِيَّةُ لِلْإِعْجَازِ الْعِلْمِيِّ فِي الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ)].
Hal ini ditegaskan pula oleh
DR. Abdud-Daaim Al-Kuhail ketika berkata:
«إِنَّ هُنَاكَ تَغَيُّرَاتٍ جَذْرِيَّةً تَحْدُثُ
بَعْدَ مُرُورِ الِاثْنَيْنِ وَالْأَرْبَعِينَ يَوْمًا الْأُولَى، وَفِي الْيَوْمِ
الثَّالِثِ وَالْأَرْبَعِينَ يَبْدَأُ الدِّمَاغُ بِإِطْلَاقِ الْمَوْجَاتِ، وَيَبْدَأُ
الطِّفْلُ فِي التَّفَاعُلِ مَعَ مُحِيطِهِ، وَيَبْدَأُ بِالْإِحْسَاسِ وَالشُّعُورِ،
إِنَّهُ يَعْنِي أَنَّ الرُّوحَ قَدْ بَدَأَتْ تُمَارِسُ نَشَاطَهَا فِي جَسَدِ الْجَنِينِ،
وَيَعْنِي - أَيْضًا - أَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَدْ
سَبَقَ عُلَمَاءَ الْغَرْبِ إِلَى الْحَدِيثِ عَنْ هٰذِهِ الْقَضِيَّةِ الدَّقِيقَةِ.
وَلِهٰذَا اسْتَدَلَّ فُقَهَاؤُنَا أَنَّهُ
لَا يَجُوزُ إِجْهَاضُ الْجَنِينِ بَعْدَ مُضِيِّ ثِنْتَيْنِ وَأَرْبَعِينَ لَيْلَةً
مِنْ بِدَايَةِ الْحَمْلِ، وَيُمْكِنُ فِعْلُ هٰذَا الْأَمْرِ إِذَا كَانَتْ هُنَاكَ
ضَرُورَةٌ تَدْعُو لِذٰلِكَ. وَهٰذِهِ إِشَارَةٌ نَبَوِيَّةٌ رَائِعَةٌ إِلَى أَنَّ
الرُّوحَ تُنْفَخُ فِي الْجَنِينِ عِنْدَ هٰذَا الْعُمُرِ. وَقَدْ تَمَّ قِيَاسُ الْمَوْجَاتِ
الَّتِي يُطْلِقُهَا الدِّمَاغُ عِنْدَ هٰذَا الْعُمُرِ - أَيْ: ثِنْتَانِ وَأَرْبَعُونَ
لَيْلَةً - وَكَذٰلِكَ تَمَّ تَسْجِيلُ ضَرَبَاتِ الْقَلْبِ، وَكَأَنَّ هُنَالِكَ عَلَاقَةً
بَيْنَ الرُّوحِ وَبَيْنَ عَمَلِ الدِّمَاغِ وَالْقَلْبِ».
Sungguh di sana ada perubahan-perubahan
radikal yang terjadi setelah empat puluh dua hari pertama berlalu, dan pada
hari keempat puluh tiga otak mulai memancarkan gelombang, dan anak mulai
berinteraksi dengan sekitarnya, dan mulai sensitif dan bisa merasakan, artinya
ruh sudah mulai melakukan aktivitasnya di dalam tubuh janin.
Ini juga berarti bahwa Nabi ﷺ telah mendahului para sarjana Barat dalam membicarakan hal yang sangat
mendalam ini.
Itulah sebabnya para ulama ahli fiqih kami
telah menyimpulkan :
Bahwa tidak boleh menggugurkan kandungan
setelah melewati empat puluh dua malam sejak awal kehamilan, namun ini boleh
dilakukan jika ada darurat untuk itu.
Dan ini adalah tanda kenabian yang luar biasa
bahwa ruh ditiupkan ke dalam janin pada usia ini.
Gelombang yang dipancarkan oleh otak diukur
pada usia ini - yaitu: empat puluh dua malam - dan detak jantung juga sudah
bisa direkam dengan sempurna , seolah-olah ada hubungan antara ruh dengan kerja
otak dan hati
[Baca : «الْإِعْجَازُ
فِي قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا مَرَّ بِالنُّطْفَةِ
ثِنْتَانِ وَأَرْبَعُونَ لَيْلَةً...»
Keajaiban sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam: Jika Nuthfah melewati empat puluh dua malam…” oleh Dr. Abdul-Daem
Al-Kaheel, www.kaheel.com] .
Di dalam kandungan, sebenarnya bayi pun
bernapas. Bedanya, pertukaran antara karbondioksida dan oksigen terjadi pada
Tali Pusar yang terhubung dengan tubuh ibu. Ini karena paru-paru bayi masih
belum berfungsi secara sempurna.
Ibulah yang membantu janin untuk bernapas
dalam kandungan. Saat ibu bernapas, darah yang telah mengikat oksigen akan
dialirkan melalui tali pusar hingga mencapai jantung janin. Kemudian jantung
bayi memompa darah tersebut untuk dialirkan ke seluruh tubuh.
Dan Janin juga menghirup sedikit air ketuban.
Meski menghirup, gerakannya lebih seperti
menelan.
Aktivitas ini membantu perkembangan paru-paru.
Menjelang usia 32 minggu kehamilan, janin akan mulai mempraktikkan gerakan
bernapas yang merupakan perpaduan antara menelan dan kontraksi paru-paru
Menurut Madline Plus , bayi bernapas dengan
sempurna untuk pertama kalinya dalam 10 detik pertama sejak dilahirkan.
Tangisan bayi saat lahir membantu mengeringkan paru-paru dari cairan ketuban
dan memancing untuk bernapas.
Perlu Anda ketahui bahwa fungsi oksigen dalam
tubuh bayi di dalam kandungan sama pentingnya dengan setelah ia dilahirkan.
Bernapas adalah proses pertukaran antara
karbon dioksida dengan oksigen. Saat menarik napas, Anda menghirup oksigen dari
udara, kemudian mengeluarkan karbondioksida saat menghembuskannya.
===***===
KEEMPAT : ILMU PENGETAHUN TENTANG PERGERAKAN
ANGIN , AWAN DAN HUJAN .
BERSAMBUNG ....
0 Komentar