HUKUM
OBAT OBATAN YANG MENGANDUNG LEMAK DAN GELATIN BABI
Di
Susun Oleh Abu Haitsam Fakhry
KAJIAN
NIDA AL-ISLAM
DAFTAR ISI:
- PERTAMA: HUKUM OBAT OBATAN YANG MENGANDUNG LEMAK BABI
- KEDUA : HUKUM OBAT-OBATAN YANG MENGANDUNG GELATIN.
***
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
===***===
PERTAMA:HUKUM
OBAT OBATAN YANG MENGANDUNG LEMAK BABI
FATWA SYEIKH IBNU UTSAIMIN
Tentang
: Hukum Menggunakan Obat Yang Mengandung Lemak Babi
حُكْمُ اسْتِخْدَامِ الْأَدْوِيَةِ الَّتِي
تَحْتَوِي عَلَى شُحُومِ الْخِنْزِيرِ
PERTANYAAN :
Di awal pertemuan ini, kami menyambut Yang
Mulia Syekh Muhammad bin Saleh Al-'Utsaimiin, sebagaimana kami menyambut
saudara-saudara :
Ini ada seorang anak perempuan dari Ruwais
yang salalu nampak sedih - sebenarnya dia ini memiliki masalah yang panjang,
dan kami dapat meringkasnya dengan singkat – :
Dia menuturkan : Bahwa ibunya pernah menggunakan
obat-obatan yang dioleskan di kepalanya [yakni kepala anak perempuan nya], yang
menyebabkan hilangnya sebagian besar rambut kepalanya .
Dia menyatakan : Bahwa dirinya merasa malu
dengan keadaan seperti itu - atau sesuatu seperti itu - ketika dia duduk dengan
wanita lain. Dan dia teringat bahwa ada seseorang yang memiliki kondisi serupa
dengannya – yaitu kehilangan sebagian besar rambutnya - lalu dia menggunakan obat
perawatan, dan dengan obat tsb kepalanya jadi sembuh dan rambutnya tumbuh lebat
dan subur.
Dia merasa tertarik dan berkeinginan untuk menggunakan
pengobatan dengan obat itu, akan tetapi orang yang sudah sembuh itu menjelaskan
bahwa obat tersebut - setelah dia sembuh dan dia bertanya temannya yang
mengerti bahasa Inggris - mengandung lemak babi dan sebagian dari darahnya.
Dan dia ingin
tahu apakah boleh dia menggunakan obat ini? Dia juga malu menggunakan WIG ; Karena dia melihat bahwa itu diharamkan bagi wanita muslimah.
Dan dia berharap mendapat manfaat dari
kebaikan engkau , Syeikh !.
SYEIKH IBNU UTSAIMIN MENJAWAB :
الْحَمْدُ لِلَّهِ، هَذَا السُّؤَالُ
يَتَضَمَّنُ فِي الْحَقِيقَةِ فَقْرَتَيْنِ:
الْأُولَى: اسْتِعْمَالُ الْبَارُوكَةِ
بِمِثْلِ هَذِهِ الْحَالِ الَّتِي وَصَفْتَهَا، حَيْثُ تَسَاقَطَ شَعْرُهَا عَلَى وَجْهٍ
لَا يُرْجَى مَعَهُ أَنْ يَعُودَ.
عَلَى هَذِهِ الْفِقْرَةِ نَقُولُ: إِنَّ
الْبَارُوكَةَ فِي مِثْلِ هَذِهِ الْحَالِ لَا بَأْسَ بِهَا؛ لِأَنَّهَا فِي الْحَقِيقَةِ
لَيْسَتْ لِإِضَافَةِ تَجْمِيلٍ، وَلَكِنَّهَا لِإِزَالَةِ عَيْبٍ، وَعَلَى هَذَا فَلَا
تَكُونُ مِنْ بَابِ الْوَصْلِ الَّذِي لَعَنَ النَّبِيُّ ﷺ فَاعِلَهُ: «لَعَنَ الْوَاصِلَةَ
وَالْمُسْتَوْصِلَةَ».
وَالْوَاصِلَةُ هِيَ الَّتِي تَصِلُ شَعْرَهَا
بِشَيْءٍ، لَكِنْ هَذِهِ الْمَرْأَةَ فِي الْحَقِيقَةِ لَا تُشْبِهُ الْوَاصِلَةَ؛
لِأَنَّهَا لَا تُرِيدُ أَنْ تُضِيفَ تَجْمِيلًا، أَوْ زِيَادَةً إِلَى شَعْرِهَا الَّذِي
خَلَقَهُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَهَا، وَإِنَّمَا تُرِيدُ أَنْ تُزِيلَ عَيْبًا
حَدَثَ، وَهَذَا لَا بَأْسَ بِهِ؛ لِأَنَّهُ مِنْ بَابِ إِزَالَةِ الْعَيْبِ لَا إِضَافَةِ
التَّجْمِيلِ، وَبَيْنَ الْمَسْأَلَتَيْنِ فَرْقٌ.
وَأَمَّا بِالنِّسْبَةِ لِاسْتِعْمَالِ
هَذَا الدَّوَاءِ الَّذِي فِيهِ شَحْمُ الْخِنْزِيرِ، فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ فِيهِ شَحْمًا
لِلْخِنْزِيرِ فَهَذَا لَا بَأْسَ بِهِ عِنْدَ الْحَاجَةِ؛ لِأَنَّ الْمُحَرَّمَ مِنَ
الْخِنْزِيرِ إِنَّمَا هُوَ أَكْلُهُ، ﴿إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ
وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ﴾ [الْبَقَرَةِ: 173].
وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى آمِرًا رَسُولَهُ
ﷺ: ﴿قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ
إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ﴾ [الْأَنْعَامِ:
145].
وَثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ:
«إِنَّمَا حُرِّمَ مِنَ الْمَيْتَةِ أَكْلُهَا».
وَأَنَّهُ أَذِنَ فِي الِانْتِفَاعِ بِجِلْدِهَا
بَعْدَ الدِّبَاغِ، وَثَبَتَ عَنْهُ أَيْضًا أَنَّهُ قَالَ ﷺ: «إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ
عَلَيَّ الْخَمْرَ وَالْمَيْتَةَ وَالْخِنْزِيرَ وَالْأَصْنَامَ».
فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ
شُحُومَ الْمَيْتَةِ، فَإِنَّهُ تُطْلَى بِهَا السُّفُنُ، وَتُدْهَنُ بِهَا الْجُلُودُ،
وَيُسْتَصْبَحُ بِهَا النَّاسُ؟
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «لَا، إِنَّمَا
هُوَ حَرَامٌ»، يَعْنِي الْبَيْعَ؛ لِأَنَّهُ هُوَ مَوْضِعُ الْحَدِيثِ.
وَالصَّحَابَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ
أَوْرَدُوا هَذَا لَا لِأَجْلِ أَنْ يَعْرِفُوا حُكْمَ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ، وَلَكِنْ
لِأَجْلِ أَنْ يَكُونَ مُبَرِّرًا لِلْبَيْعِ. قَالُوا: هَذِهِ الْمَنَافِعُ الَّتِي
يَنْتَفِعُ بِهَا النَّاسُ مِنْ شُحُومِ الْمَيْتَةِ، أَلَا تُبَرِّرُ بَيْعَهَا؟
قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لَا، هُوَ حَرَامٌ».
وَعَلَى هَذَا، فَإِذَا اسْتَعْمَلَتْهُ
فَإِنَّهَا تَغْسِلُهُ عِنْدَ الصَّلَاةِ - يَعْنِي شَحْمَ الْخِنْزِيرِ - هَذَا إِذَا
ثَبَتَ أَنَّهُ نَجِسٌ.
Terjemahnya :
Alhamdulillah, pertanyaan ini sebenarnya
mencakup dua paragraf:
Paragraf
pertama :
Adalah menggunakan wig dengan kondisi seperti
yang dia jelaskan, dimana rambutnya rontok sedemikian rupa sehingga tidak bisa diharapkan
akan kembali.
Mengenai paragraf ini, kami katakan: Tidak ada
lah mengapa dengan menggunakan wig dalam kondisi seperti itu. Karena pada
kenyataannya itu bukan untuk menambah kecantikan, tetapi untuk menghilangkan
cacat, dan oleh karena itu, maka itu tidak termasuk dalam katagori al-Washal [hair
extension], yang dilaknat Nabi ﷺ bagi yang melakukannya :
لَعَنَ اللَّهُ الْوَاصِلَةَ
وَالْمُسْتَوْصِلَةَ
"Allah
melaknat orang yang menyambung rambutnya dan yang minta disambung
rambutnya." [HR. Bukhori no. 5478]
Al-Waashilah adalah orang yang menghubungkan
rambutnya dengan sesuatu, tetapi wanita ini tidak terlalu mirip dengan al-waashilah
; Karena dia tidak bermaksud mempercantik atau menambah rambutnya yang telah
diciptakan Allah Ta'ala untuknya, melainkan ingin menghilangkan cacat yang
telah terjadi, dan ini tidak apa-apa. Karena ini adalah masalah menghilangkan
cacat, bukan menambah kecantikan. Dan ada perbedaan diantara kedua masalah
tersebut.
Paragraf
kedua :
Adapun penggunaan obat yang mengandung lemak
babi , jika terbukti mengandung lemak babi, maka tidak mengapa jika ada hajat
dan keperluan. Karena babi itu yang diharamkan adalah jika untuk dimakan .
﴿إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ
وَالدَّمَ وَلَحْمَ الخنزير﴾
“Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu
bangkai, darah, daging babi" [QS. Al-Baqarah : 173].
Dan Allah SWT memerintahkan Rasulullah ﷺ dengan berfirman :
﴿قُلْ لا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ
مُحَرَّماً عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَماً
مَسْفُوحاً أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ﴾
“Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh
dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang
hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir
atau daging babi". [QS. Al-An'aam : 125].
Dan telah ada ketetapan bahwa Nabi ﷺ
bersabda:
« إِنَّمَا حَرُمَ مِنَ المَيْتَة أَكْلُهَا »
"Yang
diharamkan dari bangkai hanyalah memakannya." [HR. Muslim no. 543]
Dan bahwa beliau mengizinkan penggunaan
kulitnya setelah penyamakan, dan juga telah ada keketapan darinya bahwa beliau ﷺ bersabda :
«إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ،
وَالْمَيْتَةِ، وَالْخِنْزِيرِ، وَالْأَصْنَامِ».
فَقِيلَ: «يَا رَسُولَ اللَّهِ! أَرَأَيْتَ
شُحُومَ الْمَيْتَةِ، فَإِنَّهُ تُطْلَى بِهَا السُّفُنُ، وَتُدْهَنُ بِهَا الْجُلُودُ،
وَيَسْتَصْبِحُ بِهَا النَّاسُ؟»
فَقَالَ: «لَا، إِنَّمَا هُوَ حَرَامٌ».
"Sesungguhnya Allah melarang jual-beli
minuman keras, bangkai, babi dan berhala."
Ada orang bertanya: Wahai Rasulullah,
bagaimana pendapat baginda tentang lemak bangkai karena ia digunakan untuk
mengecat perahu, meminyaki kulit dan orang-orang menggunakannya untuk
menyalakan lampu?.
Beliau bersabda: "Tidak, ia tetap haram."
[Muttafaqun alaihi].
Yakni : haram menjualnya ; Karena masalah
penjualan ini merupakan pokok hadits, maka para sahabat radhiyallahu ‘anhu
menyebutkan hal-hal tersebut bukan untuk mengetahui hukumnya, tetapi untuk
dijadikan alasan jual beli , mereka berkata :
"Ini adalah manfaat-manfaat yang orang-orang
mendapat manfaat dari lemak bangkai , tidakkah dengan semua ini membolehkan
mereka untuk menjualnya?".
Nabi ﷺ menjawab : " Tidak , ia adalah haram
".
Berdasarkan hal ini, jika dia menggunakannya, maka
dia harus mencucinya - artinya: lemak babi - saat hendak sholat jika terbukti bahwa itu adalah najis.
TANGGAPAN PENANYA :
أَحْسَنْتُمْ، إِذًا نَقُولُ لِلَّتِي
رَمَزَتْ إِلَى نَفْسِهَا بِالْبِنْتِ الْحَزِينَةِ: إِنَّهَا إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى
الْبِنْتُ السَّعِيدَةُ مِنَ الرُّوَيْسِ؛ لِأَنَّهَا تَسْعَدُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
بِسَمَاحَةِ الْإِسْلَامِ وَيُسْرِهِ، وَأَنَّ لَهَا أَنْ تَسْتَعْمِلَ الْبَارُوكَةَ؛
لِأَنَّهَا لَيْسَتْ مِنَ الَّتِي تُرِيدُ أَنْ تُزَوِّدَ شَعْرَهَا، وَلَهَا أَنْ
تَسْتَعْمِلَهُ فِي الْعِلَاجِ، وَإِنَّمَا تَغْسِلُهُ عِنْدَ الصَّلَاةِ.
Anda telah memberikan jawaban yang bagus , maka
akan kami katakan kepada anak perempuan yang nampak pada dirinya sebagai anak yang
selalu sedih :
Insya Allah, dia akan berubah menjadi anak gadis
bahagia dari Ruwais; Karena dia menjadi senang, insya Allah, dengan adanya toleransi
hukum dan kemudahan Islam, dan dia bisa menggunakan rambut palsu. Karena dia
bukan termasuk orang yang berkinginan menyambung rambutnya, dan dia
menggunakannya hanya untuk pengobatan, tetapi dia harus mencucinya saat hendak sholat.
[ SUMBER : "فَتَاوَى نُورٍ عَلَى الدَّرْبِ" oleh Ibnu Utsaimin , nomor pita (3) Klasifikasi Hukum Fiqih : kedokteran dan pengobatan / Penyakit organ tubuh ].
====
FATWA AL-AZHAR INTERNATIONAL CENTER FOR ELECTRONIC FATWA
مَرْكَزُ
الْأَزْهَرِ الْعَالَمِيُّ لِلْفَتْوَى الْإِلِكْتِرُونِيَّةِ
PERTANYAAN:
Sebuah
pertanyaan diterima oleh Al-Azhar International Center for Electronic fatwa ,
yang isinya mengatakan:
"Apakah
boleh berobat dengan lemak babi atau dengan obat yang terbuat dari lemak
babi?"
JAWABAN :
Sheikh al-Amiir
Abdul-'Aal, salah satu ulama Al-Azhar Asy-Syarif, menjawab, dengan mengatakan :
إِذَا كَانَ
دُهْنُ الْخِنْزِيرِ أُضِيفَتْ إِلَيْهِ مَوَادُّ كِيمْيَائِيَّةٌ وَتَحَوَّلَ إِلَى
نَوْعٍ مِنَ الدَّوَاءِ، فَإِنَّهُ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ يَجُوزُ اسْتِخْدَامُ هَذَا
الدَّوَاءِ؛ لِأَنَّ هَذَا الدُّهْنَ فَقَدَ خَصَائِصَهُ بِاخْتِلَاطِهِ بِالْمَوَادِّ
الْكِيمْيَائِيَّةِ.
Jika lemak
babi ditambahkan bahan kimia dan berubah menjadi sejenis obat, maka dalam hal
ini diperbolehkan menggunakan obat ini ; karena lemak ini sudah kehilangan ciri-ciri
khasnya bila bercampur dengan bahan kimia.
Dan al-Amir
menambahkan:
أَمَّا إِذَا
كَانَ دُهْنُ الْخِنْزِيرِ هَذَا لَمْ تُضَفْ إِلَيْهِ مَوَادُّ كِيمْيَائِيَّةٌ، وَلَا
يُوجَدُ دَوَاءٌ لِلشِّفَاءِ غَيْرُ ذَلِكَ، فَيَجُوزُ اسْتِخْدَامُهُ تَطْبِيقًا لِلْقَاعِدَةِ
الْفِقْهِيَّةِ: «الضَّرُورَاتُ تُبِيحُ الْمَحْظُورَاتِ».
Tetapi jika
lemak babi ini belum ditambahkan ke bahan kimia dan tidak ada obat untuk
penyembuhan selain itu, maka diperbolehkan untuk menggunakannya berdasarkan
Qaidah Fiqih yang mengatakan :
«الضَّرُورَاتُ
تُبِيحُ الْمَحْظُورَاتِ»
“Darurat bisa menghalalkan mahdzurat [ yang dilarang] .”
Ia
melanjutkan:
حَتَّى وَلَوْ
كَانَ يُوجَدُ عِلَاجٌ بَدِيلٌ غَيْرُ دُهْنِ الْخِنْزِيرِ، وَلَكِنَّهُ غَيْرُ مُتَوَافِرٍ
بِالْأَسْوَاقِ نِهَائِيًّا، فَيَجُوزُ أَيْضًا اسْتِخْدَامُ دُهْنِ الْخِنْزِيرِ فِي
التَّدَاوِي.
Kalaupun
ada pengobatan alternatif selain lemak babi, tetapi sama sekali tidak tersedia
di pasaran, penggunaan lemak babi juga diperbolehkan untuk pengobatan.
===
HUKUM MINUM OBAT YANG TERBUAT DARI LEMAK BABI :
Sementara
itu, DR. Ahmad Mamduh, Sekretaris Fatwa di Dar Al Iftaa - MESIR , mengatakan :
إِنَّهُ يَجُوزُ
لِلْمَرِيضِ تَنَاوُلُ الدَّوَاءِ الْمُصَنَّعِ مِنْ دُهْنِ خِنْزِيرٍ؛ لِأَنَّهُ لَمْ
يَعُدْ دُهْنَ خِنْزِيرٍ مِنَ الْأَسَاسِ، بَلْ تَحَوَّلَ إِلَى مَادَّةٍ كِيمْيَائِيَّةٍ
أُخْرَى بَعْدَ إِضَافَةِ بَعْضِ الْعَنَاصِرِ إِلَيْهِ، فَهُوَ قَدْ طَهُرَ بِالِاسْتِحَالَةِ.
Sesubgguhnya
pasien diperbolehkan minum obat yang terbuat dari lemak babi, karena bukan lagi
terhitung sebagai lemak babi dari aslinya , akan tetapi sudah diubah menjadi
zat kimia lain setelah menambahkan beberapa unsur ke dalamnya, sehingga merubahnya
menjadi suci dengan transformasi [al-Istihaalah / perubahan senyawa ].
Dan
Sekretaris Fatwa menambahkan saat menjawab pertanyaan para pemirsa TV dalam
siaran langsung acara Shofhah Dar Al-Iftaa, mengatakan:
«خَصَائِصُ الشَّيْءِ
عِنْدَ التَّحَوُّلِ تَطْهُرُ عِنْدَ انْدِمَاجِهَا مَعَ عَنَاصِرَ أُخْرَى، فَمَثَلًا
الْمَاسُ وَهُوَ مَعْدِنٌ نَفِيسٌ هُوَ فِي الْأَصْلِ فَحْمٌ، وَكَذَلِكَ الْبِتْرُولُ
عِبَارَةٌ عَنْ حَيَوَانَاتٍ مَيِّتَةٍ مُتَحَلِّلَةٍ مُنْذُ آلَافِ السِّنِينَ».
“Sifat-sifat
benda setelah transformasi menjadi suci ketika menyatu dengan unsur-unsur lain,
misalnya berlian, yang adalah logam mulia yang asalnya batu bara, demikian pula
minyak bumi adalah bangkai-bangkai hewan yang telah membusuk selama ribuan tahun.”
حكم استخدام دهن
الخنزير في العلاج | الأزهر يوضح - صدى البلد
https://www.elbalad.news
› ... ]
===***===
KEDUA :
HUKUM
OBAT-OBATAN YANG MENGANDUNG GELATIN
حُكْمُ الْأَدْوِيَةِ
الْمُشْتَمِلَةِ عَلَى الْجِلَاتِينِ
Dalam artikel yang berjudul " حُكْمُ
الْأَدْوِيَةِ الْمُشْتَمِلَةِ عَلَى الْجِلَاتِينِ[ Hukum
Obat-Obatan Yang Mengandung Gelatin] yang dipublikasikan oleh
Fiqh.Islamonline.Net disebutkan :
مَعَاجِينُ الْأَسْنَانِ، وَمُرَطِّبَاتُ
الشِّفَاهِ، وَالْأَدْوِيَةُ لَا بَأْسَ بِاسْتِخْدَامِهَا حَتَّى وَلَوْ دَخَلَ فِي
تَرْكِيبِهَا بَعْضُ مُكَوِّنَاتِ الْكُحُولِ أَوْ مُخَلَّفَاتُ الْخِنْزِيرِ، أَوْ
مُخَلَّفَاتُ وَدُهُونُ مَا يُذْبَحُ عَلَى غَيْرِ الطَّرِيقَةِ الْإِسْلَامِيَّةِ،
وَالسَّبَبُ فِي ذَلِكَ أَنَّ هَذِهِ الْمَوَادَّ لَا تَدْخُلُ فِي هَذِهِ الْمُسْتَحْضَرَاتِ
إِلَّا بَعْدَ اسْتِحَالَتِهَا، أَيْ تَغَيُّرِهَا مِنْ مَادَّتِهَا النَّجِسَةِ إِلَى
مَوَادَّ أُخْرَى طَاهِرَةٍ.
عَلَى أَنَّ عَدَدًا مِنَ الْمُحَقِّقِينَ
رَأَى أَنَّ الْكُحُولَ لَيْسَ نَجِسًا، وَلَكِنَّهُ حَرَامٌ إِذَا اتُّخِذَ لِلشُّرْبِ،
وَيُغْنِينَا عَنْ هَذَا قَضِيَّةُ الِاسْتِحَالَةِ هَذِهِ. وَلَكِنْ لَا بُدَّ مِنَ
التَّأَكُّدِ مِنْ أَنَّ الْمَوَادَّ النَّجِسَةَ تَتِمُّ اسْتِحَالَتُهَا إِلَى مَوَادَّ
أُخْرَى غَيْرِ الْأُولَى، وَهَذَا يُسْأَلُ فِيهِ أَهْلُ الِاخْتِصَاصِ.
Tidak apa-apa menggunakan pasta gigi, lipbalm
dan obat-obatan, meskipun mengandung bahan alkohol atau jeroan babi, atau jeroan
dan lemak dari daging yang disembelih dengan cara selain syariat.
Ada sebagian peneliti berpendapat bahwa al-Kohol
itu tidak najis, tetapi diharamkan jika diminum, dan untuk yang ini kita tidak
perlu masalah al-Istihaalah [transformasi ini].
Namun kita harus memastikan bahwa bahan yang najis
tersebut berubah menjadi bahan selain yang pertama, dan inilah yang ditanyakan
oleh para spesialis.
===
FATWA DR. YUSUF AL-QARADHAWI
Dr. Yusuf Al-Qaradhawi mengatakan :
هُنَاكَ شَيْءٌ يَغْفُلُ عَنْهُ الْكَثِيرُونَ،
وَهِيَ قَضِيَّةُ الِاسْتِحَالَةِ. نَقُولُ: إِذَا اسْتَحَالَتِ النَّجَاسَةُ طَهُرَتْ،
يَعْنِي مُمْكِنٌ أَنْ يَكُونَ الشَّيْءُ أَصْلُهُ خِنْزِيرًا ثُمَّ اسْتَحَالَ فَأَصْبَحَ
مَادَّةً أُخْرَى، أَصْلُهُ خِنْزِيرٌ وَلَكِنْ أُخِذَ مِنْهُ وَتَحَوَّلَ إِلَى شَيْءٍ
آخَرَ وَصَارَ صَابُونًا.
الْفُقَهَاءُ قَالُوا مَثَلًا: الْأَشْيَاءُ
مِثْلُ الرَّوْثِ وَنَحْوِ ذَلِكَ حِينَمَا تُؤْخَذُ وَتَدْخُلُ النَّارَ وَتَحْتَرِقُ،
فَرَمَادُهَا حَلَالٌ؛ لِأَنَّهُ صَارَ شَيْئًا آخَرَ.
قَالُوا: لَوْ دَخَلَ كَلْبٌ فِي مَمْلَحَةٍ
وَمَاتَ فِي الْمَمْلَحَةِ وَأَكَلَهُ الْمِلْحُ، وَإِذَا بَحَثْتَ عَنْهُ فَلَنْ تَجِدَهُ،
أَصْبَحَ الْكَلْبُ مِلْحًا، فَمُمْكِنٌ أَنْ تَسْتَعْمِلَهُ فِي الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ
وَكُلِّ شَيْءٍ؛ لِأَنَّ الْعَيْنَ تَحَوَّلَتْ.
الْحُكْمُ يَدُورُ مَعَ عِلَّتِهِ وُجُودًا
وَعَدَمًا، فَالْعِلَّةُ لَمْ تَعُدْ مَوْجُودَةً.
Ada sesuatu yang diabaikan oleh banyak orang,
dan itu adalah masalah transformasi. Kami mengatakan bahwa kenajisan itu jika
berubah menjadi senyawa lain, itu menjadi suci.
Maksudnya, mungkin benda itu awalnya babi dan
kemudian berubah menjadi zat lain. Asal muasalnya adalah babi, tetapi diambil
darinya dan diubah menjadi sesuatu yang lain , dan menjadi sabun.
Para fuqohaa mengatakan : Misalnya,
barang-barang seperti kotoran hewan dan sejenisnya, ketika diambil dan
dimasukkan ke dalam api dan dibakar, maka abunya halal [suci] karena telah
menjadi sesuatu yang lain.
Mereka mengatakan : Jika seekor anjing
memasuki ladang garam dan mati di ladang garam dan garam menyerapnya, dan jika
Anda mencarinya Anda tidak akan menemukannya, anjing itu telah menjadi garam, maka
Anda boleh menggunakannya untuk makan, minum dan segalanya. selain itu, karena objeknya
telah berubah, sementara hukum itu berkisar pada illatnya [penyebabnya], ada
atau tidaknya. Dan illatnya [penyebabnya] sudah tidak ada lagi.
وَلِذَلِكَ إِذَا لَحْمُ الْخِنْزِيرِ
أَوْ عِظَامُ الْخِنْزِيرِ تَحَوَّلَتْ، وَأَنَا سَمِعْتُ مِنْ أَخِينَا الدُّكْتُورِ
مُحَمَّدِ الْهُوَارِيِّ، وَهُوَ مِنَ الدَّكَاتِرَةِ الْعِلْمِيِّينَ الَّذِينَ يَعِيشُونَ
فِي أَلْمَانِيَا مُنْذُ سِنِينَ طَوِيلَةٍ، وَلَهُ بَحْثٌ جَيِّدٌ فِي هَذِهِ الْقَضَايَا،
قَالَ لَكَ: مُعْظَمُ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ مُمْكِنٌ أَنْ تُؤْخَذَ وَيُعْمَلَ مِنْهَا
مَعْجُونُ أَسْنَانٍ، وَيُعْمَلَ مِنْهَا صَابُونٌ، وَيُعْمَلَ مِنْهَا جِلٌّ، هُوَ
أَصْلُهُ خِنْزِيرٌ، إِنَّمَا صَارَ مُرَكَّبًا كِيمْيَائِيًّا جَدِيدًا، فَأَخَذَ
حُكْمًا آخَرَ.
Dan oleh karena itu jika daging babi atau
tulang babi diubah, dan saya mendengar dari saudara kita Dr. Muhammad al-Hawaari,
yang merupakan salah satu dokter ilmiah yang telah tinggal di Jerman selama
bertahun-tahun dan memiliki pembahasan dan penelitian yang bagus tentang masalah-masalah
ini, dia memberi tahu Anda :
Sebagian besar dari ini semua dapat diambil
dan dibuat menjadi pasta gigi darinya. Dan dibuat sabun darinya dan dibuat
jeli, yang berasal dari babi, tetapi setelah menjadi bahan kimia senyawa baru, lalu
hukum nya berubah menjadi hukum yang lain.
Dan DR. Yusuf al-Qaradhawi mengatakan dalam kesempatan
lain:
وَمِنْ أَهَمِّ الْمُطَهِّرَاتِ الَّتِي
قَدْ يَجْهَلُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الِاسْتِحَالَةُ، أَيْ اسْتِحَالَةُ النَّجَاسَةِ
إِلَى شَيْءٍ آخَرَ، بِمَعْنَى أَنْ يَتَغَيَّرَ الشَّيْءُ النَّجِسُ تَغَيُّرًا كِيمْيَائِيًّا،
وَهَذَا أَمْرٌ مُهِمٌّ جِدًّا فِي عَصْرِنَا.
وَأَذْكُرُ أَنِّي عِنْدَمَا بَدَأْتُ
زِيَارَتِي لِبِلَادِ الْغَرْبِ، وَلِأَمْرِيكَا خَاصَّةً فِي أَوَائِلِ السَّبْعِينِيَّاتِ
مِنَ الْقَرْنِ الْعِشْرِينَ، وَجَدْتُ بَعْضَ الْإِخْوَةِ مِنَ الْعِلْمِيِّينَ قَدْ
وَضَعُوا قَوَائِمَ بِالْأَشْيَاءِ الْمُحَرَّمَةِ؛ لِأَنَّهَا مَصْنُوعَةٌ مِنَ الْخِنْزِيرِ،
وَمِنْهَا أَنْوَاعٌ مِنَ الصَّابُونِ، وَمَعْجُونِ الْأَسْنَانِ، وَالْجِلِّ وَغَيْرِهَا.
وَقَدْ سَأَلْتُ بَعْضَ الْإِخْوَةِ الْخُبَرَاءِ
بِهَذِهِ الْمَوَادِّ: هَلْ هَذِهِ الْأَشْيَاءُ بَقِيَتْ عَلَى أَصْلِهَا أَوْ تَغَيَّرَتْ
تَغَيُّرًا كِيمْيَائِيًّا؟
فَأَجَابُونِي بِأَنَّهَا تَغَيَّرَتْ
تَغَيُّرًا كِيمْيَائِيًّا، أَيْ اسْتَحَالَتْ مِنْ مُرَكَّبٍ إِلَى مُرَكَّبٍ آخَرَ.
فَقُلْتُ لَهُمْ: إِنَّ الِاسْتِحَالَةَ ـ فِي الْقَوْلِ الرَّاجِحِ ـ تُطَهِّرُ الشَّيْءَ
النَّجِسَ، وَتُحِلُّ الشَّيْءَ الْحَرَامَ؛ لِأَنَّهُ أَصْبَحَ شَيْئًا آخَرَ بِخَصَائِصَ
أُخْرَى، وَهَذَا مَا ذَكَرَهُ كَثِيرٌ مِنَ الْفُقَهَاءِ الْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ.
حَتَّى قَالُوا: لَوْ أَنَّ كَلْبًا أَوْ
خِنْزِيرًا دَخَلَ مَلَّاحَةً، وَمَاتَ فِيهَا، فَأَكَلَهُ الْمِلْحُ، وَلَمْ يَعُدْ
لِلْكَلْبِ وَلَا لِلْخِنْزِيرِ أَثَرٌ، فَإِنَّ هَذَا الْمِلْحَ يَجُوزُ الِانْتِفَاعُ
بِهِ؛ لِأَنَّهُ لَمْ يَعُدْ كَلْبًا وَلَا خِنْزِيرًا، وَإِنَّمَا أَصْبَحَ مِلْحًا،
وَلَا عِبْرَةَ بِأَصْلِهِ؛ لِأَنَّنَا نَحْكُمُ عَلَى الشَّيْءِ بِوَصْفِهِ الْحَالِيِّ
وَلَيْسَ بِأَصْلِهِ.
فَالْخَمْرُ أَصْلُهَا عِنَبٌ، فَلَمَّا
تَخَمَّرَ وَتَحَوَّلَ إِلَى مَادَّةٍ مُسْكِرَةٍ صَارَ خَمْرًا مُحَرَّمَةً، فَإِذَا
صَارَتِ الْخَمْرُ خَلًّا صَارَتْ حَلَالًا، وَهَكَذَا.
جَاءَ فِي «الْبَحْرِ الرَّائِقِ» مِنْ
كُتُبِ الْحَنَفِيَّةِ: «مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي يَكُونُ بِهَا التَّطْهِيرُ: انْقِلَابُ
الْعَيْنِ». وَمَضَى إِلَى أَنْ قَالَ: «وَإِنْ كَانَ فِي غَيْرِهِ ـ أَيْ الْخَمْرِ
ـ كَالْخِنْزِيرِ وَالْمَيْتَةِ تَقَعُ فِي الْمَمْلَحَةِ فَتَصِيرُ مِلْحًا: يُؤْكَلُ».
وَيَذْكُرُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ مَا مُفَادُهُ
أَنَّ الْخَمْرَ إِذَا انْقَلَبَتْ بِنَفْسِهَا حَلَّتْ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ،
فَغَيْرُهَا مِنَ النَّجَاسَاتِ أَوْلَى أَنْ تَطْهُرَ بِالِانْقِلَابِ.
فَإِذَا قُدِّرَ أَنَّ قَطْرَةَ خَمْرٍ
وَقَعَتْ فِي خَلِّ مُسْلِمٍ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ فَاسْتَحَالَتْ، كَانَتْ أَوْلَى
بِالطَّهَارَةِ.
وَقَالَ: «إِنَّ جَمِيعَ النَّجَاسَاتِ
نَجَسَتْ بِالِاسْتِحَالَةِ، فَإِنَّ الْإِنْسَانَ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَشْرَبُ
الشَّرَابَ وَهِيَ طَاهِرَةٌ، ثُمَّ تَسْتَحِيلُ دَمًا وَبَوْلًا وَغَائِطًا فَتَنْجُسُ.
وَكَذَلِكَ الْحَيَوَانُ يَكُونُ طَاهِرًا، فَإِذَا مَاتَ احْتُبِسَتْ فِيهِ الْفَضَلَاتُ،
وَصَارَ حَالُهُ بَعْدَ الْمَوْتِ خِلَافَ حَالِهِ فِي الْحَيَاةِ فَيَنْجُسُ. وَلِهَذَا
يَطْهُرُ الْجِلْدُ بَعْدَ الدِّبَاغِ عِنْدَ الْجُمْهُورِ، وَقِيلَ: إِنَّ الدِّبَاغَ
كَالْحَيَاةِ أَوْ إِنَّهُ كَالذَّكَاةِ، فَإِنَّ فِي ذَلِكَ قَوْلَيْنِ مَشْهُورَيْنِ
لِلْعُلَمَاءِ، وَالسُّنَّةُ تَدُلُّ عَلَى أَنَّ الدِّبَاغَ كَالذَّكَاةِ أَيْ الذَّبْحِ».
Salah satu pensucian yang terpenting yang
mungkin tidak disadari oleh banyak orang adalah: al-Istihaalah [perubahan
senyawa] , yaitu pengubahan najis menjadi sesuatu yang lain, yang artinya najis
berubah secara kimiawi, dan ini adalah hal yang sangat penting di zaman kita.
Dan saya ingat bahwa ketika saya memulai
kunjungan saya ke negara-negara Barat dan Amerika, terutama di awal tahun tujuh
puluhan abad kedua puluh, saya menemukan beberapa ikhwan dari kalangan para
peneliti ilmiah, yang telah menyusun daftar hal-hal yang diharamkan, karena bahan-bahan
terbuat dari babi, antara lain jenis sabun, pasta gigi, (jelly) dan lain-lain.
Dan saya bertanya kepada beberapa ikhwan yang
ahli dalam bahan-bahan tersebut: Apakah bahan-bahan ini tetap sama atau sudah
berubah secara kimiawi?
Mereka memberikan jawaban pada saya : bahwa
itu berubah secara kimiawi, yaitu berubah dari satu senyawa ke senyawa lainnya.
Maka saya katakan kepada mereka : "
Sesungguhnya al-Istihalah [perubahan senyawa] - menurut pendapat yang rajih [paling
benar] - mensucikan yang najis, dan menghalalkan yang haram, karena telah
menjadi sesuatu yang lain dengan ciri-ciri lain.
Dan inilah yang disebutkan oleh banyak ulama ahli
Fiqih Madzhab Hanafi dan Madzhab Maliki, hingga mereka berkata : Jika seekor
anjing atau babi memasuki ladang garam dan mati di dalamnya, lalu garam itu meresapnya,
dan tidak ada lagi jejak anjing atau babi, maka garam ini boleh digunakan,
karena anjing atau babi tersebut sudah tidak ada lagi., melainkan telah menjadi
garam, dan sudah tidak perlu lagi mempertimbangkan asal muasalnya, karena kita
menilai benda itu dari deskripsinya saat ini, bukan dari asal muasalnya, sama
seperti khamr [miras] berasal dari buah anggur, maka ketika berubah menjadi
khamr [miras]dan berubah menjadi zat yang memabukkan ; maka jadilah khamr yang diharamkan,
krmudian jika khamr [miras] berubah menjadi cuka maka menjadi halal, dan
seterusnya.
Telah ada keterangan dalam kitab (Al-Bahr
Al-Ra'iq), salah satu kitab Madzhab Hanafi:
مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي يَكُونُ بِهَا
التَّطْهِيرُ: انْقِلَابُ الْعَيْنِ. وَمَضَى إِلَى أَنْ قَالَ: وَإِنْ كَانَ فِي غَيْرِهِ
ـ أَيْ الْخَمْرِ ـ كَالْخِنْزِيرِ وَالْمَيْتَةِ تَقَعُ فِي الْمَمْلَحَةِ فَتَصِيرُ
مِلْحًا: يُؤْكَلُ.
"Di antara hal-hal
yang mensucikan adalah : perubahan objek ". Dan dia melanjutkan dengan
mengatakan: "Dan jika di dalamnya ada sesuatu yang lain - yaitu selain
khamr [miras] - seperti babi, dan bangkai hewan itu jatuh ke ladang garam dan
menjadi garam: maka itu boleh dimakan".
Ibnu Taimiyyah menyebutkan apa yang dimaksud
dengan khamr jika berubah dengan sendirinya menjadi cuka makan menjadi halal
menurut kesepakatan kaum muslimin, maka najis lainnya yang lebih utama menjadi
suci dengan cara perubahan senyawa.
Jika ditakdirkan setetes anggur jatuh ke dalam
cuka seorang Muslim tanpa pilihannya, lalu ia berubah senyawa [transformasi],
maka itu lebih pantas dianggap suci, dan dia Ibnu Taimiyah berkata:
إِنَّ جَمِيعَ النَّجَاسَاتِ نَجَسَتْ
بِالِاسْتِحَالَةِ، فَإِنَّ الْإِنْسَانَ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَشْرَبُ الشَّرَابَ،
وَهِيَ طَاهِرَةٌ، ثُمَّ تَسْتَحِيلُ دَمًا وَبَوْلًا وَغَائِطًا فَتَنْجُسُ، وَكَذَلِكَ
الْحَيَوَانُ يَكُونُ طَاهِرًا، فَإِذَا مَاتَ احْتُبِسَتْ فِيهِ الْفَضَلَاتُ، وَصَارَ
حَالُهُ بَعْدَ الْمَوْتِ خِلَافَ حَالِهِ فِي الْحَيَاةِ فَيَنْجُسُ، وَلِهَذَا يَطْهُرُ
الْجِلْدُ بَعْدَ الدِّبَاغِ عِنْدَ الْجُمْهُورِ، وَقِيلَ: إِنَّ الدِّبَاغَ كَالْحَيَاةِ
أَوْ إِنَّهُ كَالذَّكَاةِ، فَإِنَّ فِي ذَلِكَ قَوْلَيْنِ مَشْهُورَيْنِ لِلْعُلَمَاءِ،
وَالسُّنَّةُ تَدُلُّ عَلَى أَنَّ الدِّبَاغَ كَالذَّكَاةِ، أَيْ الذَّبْحِ.
Semua kotoran najis bisanya menjadi najis karena
melalui proses al-istihaalah [transformasi], awalnya adalah seseorang makan
makanan dan minuman minuman, dan itu suci, kemudian berubah menjadi darah,
urin, dan kotoran tinja , dan kemudian menjadi najis.
Demikian juga hewan , itu awalnya suci, jika ia
mati, maka kotorannya tetap tertahan di dalamnya, dan kondisinya setelah mati
menjadi berbeda dari kondisinya ketika masih hidup, sehingga menjadi najis.
Inilah mengapa kulit bangkai hewan bisa disucikan dengan penyamakan menurut
mayoritas para ulama , dan dikatakan : Penyamakan itu seperti hidup . Atau
seperti penyembelihan syar'i, karena ada dua perkataan ulama yang terkenal, dan
sunnah menunjukkan bahwa penyamakan itu seperti menyembelih, yaitu adz-Dzabh
".
====
FATWA SYEIKH FAISHAL MAWLAWI :
Sheikh Faisal Mawlawi, Wakil Ketua Dewan Eropa
untuk Fatwa dan Riset mengatakan:
حَرَّمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَكْلَ
الْخِنْزِيرِ، وَقَرَّرَ أَنَّهُ رِجْسٌ، وَهُوَ مَا جَعَلَ الْعُلَمَاءَ يَعْتَقِدُونَ
بِنَجَاسَتِهِ نَجَاسَةً مُغَلَّظَةً، وَبِالتَّالِي لَمْ يُجِيزُوا الِانْتِفَاعَ
بِهِ؛ بِسَبَبِ هَذِهِ النَّجَاسَةِ.
وَمِنَ الْمَعْرُوفِ أَيْضًا أَنَّ الْخَمْرَ
نَجِسَةٌ عِنْدَ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ، لَكِنَّهَا إِذَا انْقَلَبَتْ خَلًّا أَصْبَحَتْ
حَلَالًا وَجَازَ الِانْتِفَاعُ بِهَا، وَلَمْ تَعُدْ نَجِسَةً. وَقِيَاسًا عَلَى ذَلِكَ،
فَإِنَّ الْجِلَاتِينَ الْمُسْتَخْرَجَ مِنَ الْخِنْزِيرِ قَدْ تَحَوَّلَ إِلَى شَيْءٍ
آخَرَ غَيْرِ الْخِنْزِيرِ، بِالِاسْمِ وَبِالصِّفَاتِ؛ لِذَلِكَ لَا يَصِحُّ أَنْ
يُطْلَقَ عَلَيْهِ حُكْمُ التَّحْرِيمِ أَوِ النَّجَاسَةِ، فَكِلَاهُمَا زَالَ بِمُقْتَضَى
عَمَلِيَّةِ التَّحَوُّلِ الْكِيمْيَائِيِّ.
Allah Azza wa Jalla mengharamka makan daging babi,
dan menetapkan bahwa itu adalah kekejian [رِجْسٌ], yang membuat para ulama meyakini bahwa itu adalah najis mugholladzoh,
dan karena itu mereka tidak membolehkan untuk memanfaatkannya ; dengan sebab karena
kenajisan ini.
Juga yang sudah maklum bahwa khamr itu najis
menurut mayoritas ahli hukum, tetapi jika berubah menjadi cuka, maka menjadi
halal dan boleh dimanfaatkan, dan tidak najis lagi. Dengan analogi terhadap
ini, maka Gelatin yang diekstraksi dari babi telah berubah menjadi sesuatu
selain babi, dengan nama lain dan sifat-sifat yang berbeda . Oleh karena itu,
tidak tepat penerapan padanya hukum haram atau najis , yang mana keduanya telah
hilang setelah melalui proses transformasi kimiawi.
حُكْمُ الْأَدْوِيَةِ
الْمُشْتَمِلَةِ عَلَى الْجِلَاتِينِ - فقه المسلم - إسلام أون لاين
https://fiqh.islamonline.net
›
FATWA DR. ABDUL AZIZ FARAJ :
Adapun Dr.
Abdel Aziz Faraj, seorang profesor dalam Ilmu Fiqih Perbandingan di Fakultas
Syariah dan Hukum di Universitas Al-Azhar, maka beliau berpendapat :
جَوَازُ اسْتِخْدَامِ
الْجِلَاتِينِ الْمُسْتَخْرَجِ مِنْ عِظَامِ الْخِنْزِيرِ كَدَوَاءٍ يُمْكِنُ لِلْمُسْلِمِ
تَنَاوُلُهُ لِعَدَمِ وُجُودِ بَدِيلٍ لَهُ.
"Bahwa
penggunaan gelatin yang diekstrak dari tulang babi diperbolehkan sebagai obat
yang dapat diminum oleh seorang Muslim karena ada tidak ada alternatif untuk
itu ".
Beliau berkata :
إِنَّ الْفُقَهَاءَ
وَالْمُسْلِمِينَ قَالُوا بِجَوَازِ اسْتِخْدَامِ بَعْضِ أَعْضَاءِ الْخِنْزِيرِ كَخُيُوطٍ
لِلْجِرَاحَةِ، وَهَذَا مِنْ بَابِ الْمَصْلَحَةِ الَّتِي اقْتَضَتْهَا حَالَةُ الضَّرُورَةِ،
بِمَعْنَى أَنَّهُ إِذَا وُجِدَتْ خُيُوطٌ جِرَاحِيَّةٌ مُسْتَخْلَصَةٌ مِنْ غَيْرِ
الْخِنْزِيرِ فَلَا يَجُوزُ اسْتِخْدَامُ الْخُيُوطِ الْمُسْتَخْلَصَةِ مِنَ الْخِنْزِيرِ؛
لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى حَرَّمَ لُحُومَ وَشُحُومَ الْخِنْزِيرِ بِنَصِّ الْقُرْآنِ
الْكَرِيمِ وَحَدِيثِ النَّبِيِّ ﷺ، فَعِنْدَمَا رَأَى النَّبِيُّ ﷺ بَعْضَ أَصْحَابِهِ
يُقَدِّمُونَ شُحُومَ الْخِنْزِيرِ فِي طِلَاءِ السُّفُنِ حَرَّمَهَا.
"
Bahwa para ahli fikih dan kaum muslimin mengatakan bahwa diperbolehkan
menggunakan sebagian dari babi sebagai benang jahitan untuk operasi, dan ini masuk
dalam katagori / bab mashlahat yang diharuskan oleh keadaan darurat , artinya :
jika ada benang jahitan operasi pengganti yang diambil dari selain dari babi,
maka tidak boleh menggunakan jahitan yang diambil dari babi, karena Allah SWT
telah melarang daging babi dan lemak nya dalam nash Al-Qur'an dan hadits Nabi
SAW, ketika Nabi ﷺ melihat sebagian para sahabatnya
menggunakan lemak babi untuk memoles perahu-perahunya , beliau ﷺ melarangnya".
[SUMBER :
فَتْوَى الْمُنَظَّمَةِ
الْإِسْلَامِيَّةِ لِلْعُلُومِ الطِّبِّيَّةِ فِي الْكُوَيْتِ حَوْلَ جِلَاتِينِ الْخِنْزِيرِ
تُثِيرُ جَدَلًا خِلَافِيًّا فِي مِصْرَ.
Oleh Muhammad Khalil : Kairo].
0 Komentar