HUKUM MANFAAT YANG DIAMBIL OLEH PEMBERI
PINJAMAN DANA KEPADA PETANI
Di susun oleh Abu Haitsam Fakhry
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
---
DAFTAR ISI :
- PERTAMA : FATWA DARUL IFTA – KING DOM OF JORDAN
- KEDUA : FATWA ISLAM.WEB NO. Nomor fatwa: 107514
- KETIGA : FATWA MAJELIS ULAMA SURIAH [المَجْلِسُ الإسْلامِي السُّوْرِيُ
- SOLUSI PEMBIAYAAN PARA PETANI DENGAN CARA AKAD JUAL BELI SALAM
PERTAMA : FATWA DARUL IFTA – KING DOM OF JORDAN
حَكَم إِقْرَاض
المَزَارِعِين بِشَرْطِ تَسْوِيق إِنْتَاجِهِمْ
Hukum memberikan pinjaman kepada petani dengan syarat memasarkan hasil produksi mereka.
Nomor Fatwa:
3701
Tanggal:
08-05-2022
Kategori: Riba
dan Pinjaman
Jenis Fatwa:
Penelitian
Mufti: Komite
Fatwa
----
PERTANYAAN :
نَرْجُو بَيَان الْحُكْم الشَّرْعِيّ فِي قِيَام شَرِكَات
التَّسْوِيق الزِّرَاعِيّ بِمُنَح الْمَزَارِعِين قُرُوضًا حَسَنَةً، وَلَكِنَّهَا
مَشْرُوطَة بِأَنْ تَقُوم هَذِهِ الشَّرِكَات بِتَسْوِيق إِنْتَاج الْمَزَارِعِ فِي
السُّوق، عِلْمًا بِأَنَّهَا تَتَقَاضَى نِسْبَةً مِنْ الرِّبْح تَصِل إِلَى 6%؟
Mohon jelaskan
hukum syariah tentang perusahaan pemasaran pertanian yang memberikan pinjaman
yang baik kepada petani, tetapi dengan syarat bahwa perusahaan-perusahaan ini
memasarkan produksi pertanian di pasar, dengan persentase keuntungan hingga 6%?
JAWABAN :
الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا
رَسُولِ اللَّهِ
إِشْتَرَاطُ شَرِكَةِ التَّسْوِيق الزِّرَاعِيِّ عَلَى الْمُقْتَرِضِين
بِأَنْ تَسْوِقَ لَهُمْ إِنْتَاجَهُمْ لَا شَكَّ أَنَّهُ يَعُودُ بِالْفَائِدَةِ عَلَيْهَا،
وَهِيَ هُنَا الْمُقَرِّض، وَالْأَصْلُ الْمَقَرَّرُ شَرْعًا أَنَّ الْمُقَرِّض لَا
يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَنْتَفِعَ بِسَبَبِ قَرْضِهِ أَيْ مَنْفَعَةٍ مَادِيَّةٍ؛ وَقَدْ
قَرَّرَ الْفُقَهَاءُ الْقَاعِدَةَ الشَّرْعِيَّةِ الَّتِي تَقُولُ: (إِنَّ كُلَّ قَرْضٍ
جَرَّ نَفَعًا فَهُوَ رِبًا)؛ قَالَ الْإِمَامُ الرَّمْلِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ:
"وَمِنْهُ [أَيْ مِنْ أَنْوَاعِ الرِّبَا] رِبَا الْقَرْضِ، بِأَنْ يُشْتَرَطَ
فِيهِ مَا فِيهِ نَفَعٌ لِلْمُقَرِّضِ" [نِهَايَةُ الْمُحْتَاجِ 3/ 424].
وَعَلَيْهِ؛ فَلَا يَجُوزُ لِشَرِكَةِ التَّسْوِيقِ أَنْ
تَقُومَ بِإِقْرَاضِ الْمَزَارِعِينَ، وَتَشْتَرِطُ عَلَيْهِمْ تَسْوِيقَ إِنْتَاجِهِمْ
مُقَابَلَ عُمُولَةٍ وَلَوْ كَانَ الْقَرْضُ قَرْضًا حَسَنًا؛ لِأَنَّ ذَلِكَ مِنَ
الرِّبَا، فَقَدْ ثَبَتَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ:
(لَعَنَ آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ)
رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ.
Segala puji
bagi Allah, salam dan salawat atas Rasulullah.
Ketika
perusahaan pemasaran pertanian menetapkan baginya pemasaran hasil pertanian
sebagai imbalan untuk memberikan pinjaman kepada petani [peminjam], tidak
diragukan lagi ini menghasilkan keuntungan bagi perusahaan-perusahaan ini ,
Sebagai Pemberi Pinjaman.
Sementara
dasar hakum yang telah ditetapkan secara syar'i adalah bahwa pemberi pinjaman
tidak diperbolehkan untuk memperoleh manfaat materi apa pun sebagai akibat dari
pinjamannya.
Para fuqaha
telah menetapkan kaidah hukum syariah yang berbunyi:
(إِنَّ كُلَّ قَرْضٍ جَرَّ نَفَعًا
فَهُوَ رِبًا)
"Setiap
pinjaman yang menarik manfaat, itu adalah riba."
Al-Imam ar-Ramli
berkata:
"وَمِنْهُ [أَيْ مِنْ أَنْوَاعِ
الرِّبَا] رِبَا الْقَرْضِ، بِأَنْ يُشْتَرَطَ فِيهِ مَا فِيهِ نَفَعٌ لِلْمُقَرِّضِ"
"Salah
satu bentuk riba adalah riba pinjaman, dengan mensyaratkan manfaat bagi pemberi
pinjaman" (Nihayat al-Muhtaj 3/424).
Oleh karena
itu, tidak diperbolehkan bagi perusahaan pemasaran untuk memberikan pinjaman
kepada petani dan mensyaratkan mereka memasarkan hasil produksi mereka dengan
imbalan komisi, meskipun pinjaman itu adalah pinjaman yang baik. Hal ini karena
itu termasuk dalam riba. Telah terbukti shahih dari hadits Nabi ﷺ :
(لَعَنَ آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ
وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ)
Bahwa beliau ﷺ melaknat pemakan riba, pemberi riba, penulis riba, dan saksi riba, serta beliau bersabda: "Mereka semua sama." (Muslim).
Dan Allah
Ta'ala yang lebih mengetahui.
KEDUA : FATWA ISLAM.WEB . Nomor fatwa: 107514
"Hukum memberi pinjaman kepada petani dengan
syarat menjualkan hasil panen mereka sebagai imbalan."
حَكَمَ إِقْرَاضُ الْمُزَارِعِينَ وَبَيْعُ
مَحَاصِيلِهِمْ مُقَابَلَ أُجْرَةٍ.
---
PERTANYAAN :
تَاجِرٌ
يَقُومُ بِإِقْرَاضِ الْمُزَارِعِينَ قَرْضًا حَسَنًا لِزَرَاعَةِ الْمَحَاصِيلِ وَأَقُومُ
بَعْدَهَا بِبَيْعِ الْمَحَاصِيلِ لِحِسَابِهِمْ وَآخُذُ أُجُوبَةَ التَّوْزِيعِ كَأَيِّ
تَاجِرٍ فِي السُّوقِ بِنِسْبَةٍ مُحَدَّدَةٍ وَمُعَلَّنَةٍ لِجَمِيعِ التُّجَّارِ
بِدُونِ زِيَادَةٍ، بَعْدَ ذَلِكَ أَسْتَرِدُ الْقَرْضَ وَأُعْطِي الْبَاقِي لَهُمْ
وَهُوَ يَشْمَلُ أَرْبَاحَهُمْ وَمَا صَرَفُوهُ عَلَى الزَّرَاعَةِ، (عِلْمًا بِأَنِّي
آخُذُ نَفْسَ أُجُوبَةِ التَّسْوِيقِ مِنَ الْمُزَارِعِينَ الْآخَرِينَ الَّذِينَ لَمْ
أَقْرَضْهُمْ)، عِلْمًا بِأَنَّ هَذَا الْقَرْضَ يُسَاهِمُ فِي زِيَادَةِ مَا أَوْزَعْهُ،
وَيَسَهُلُ عَلَى الْمُزَارِعِينَ الْكَثِيرَ مِنَ الْعُنُاءِ وَيَجْنُبُهُمُ الِاقْتِرَاضَ
مِنَ الْغَيْرِ سَوَاءَ بِرِبًا أَوْ بِدُونِ، قَالَ لِيَ أَحَدُ النَّاسِ أَنَّ أَيَّ
قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَتَهُ فَهُوَ رِبًا مُحَرَّمٌ؟
Seorang
pedagang memberikan pinjaman tanpa bunga [qardh hasan] kepada petani untuk
bercocok tanam . Dan setelah itu saya menjualkan hasil panen untuk mereka dan
mengambil biaya distribusi [uang cape] sama seperti pedagang lain di pasar
dengan persentase yang telah ditentukan . Dan itu diumumkan kepada semua
pedagang , tanpa ada tambahan [bunga]. Setelah itu saya menarik kembali
pinjamannya dan memberikan sisanya kepada mereka, termasuk keuntungan mereka
dan apa yang mereka belanjakan untuk pertanian.
(Perlu
diketahui bahwa saya juga mengambil biaya pemasaran yang sama dari petani lain
yang tidak saya beri pinjaman).
Dengan
memperhatikan bahwa pinjaman ini berkontribusi pada peningkatan yang saya
sebarkan, dan memudahkan banyak kesulitan bagi para petani dan menghindarkan
mereka dari meminjam dari orang lain, baik dengan riba atau tanpa riba.
Seseorang
mengatakan kepada saya : bahwa setiap pinjaman yang menghasilkan manfaat adalah
riba yang haram?
JAWABAN :
الْحَمْدُ
لِلَّهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ،
أَمَّا بَعْدُ:
فَإِنَّ
الْقَرْضَ مِنْ عُقُودِ الْإِرْفَاقِ وَالْمُكَارَمَةِ لَا مِنْ عُقُودِ الْمُعَاوَضَةِ
وَالْمُكَاسَبَةِ؛ وَلِذَا لَا يَجُوزُ فِيهِ اشْتِرَاطُ مَنْفَعَةٍ تَعُودُ عَلَى
الْمُقَرِّضِ، كَأَنْ يَشْتَرِطَ عَلَى الْمُقْتَرِضِ أَنْ يَشْتَرِيَ مِنْهُ أَوْ
يَوَكِّلَهُ عَلَى عَمَلٍ أَوْ يَسْتَأْجِرَهُ فِي عَمَلٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ، فَكُلُّ
ذَلِكَ غَيْرُ جَائِزٍ اشْتِرَاطُهُ فِي عَقْدِ الْقَرْضِ.
جَاءَ
فِي الْمُصَنَّفِ عَنْ عَطَاءِ قَالَ: "كَانُوا يَكْرَهُونَ كُلَّ قَرْضٍ جَرَّ
مَنْفَعَةً". انتَهَى.
وَجَاءَ
فِي الْمُغْنِيِّ: "وَإِنْ شَرَطَ فِي الْقَرْضِ أَنْ يُؤَجَّرَهُ دَارَهُ أَوْ
يَبِيعَهُ شَيْئًا أَوْ أَنْ يَقْرَضَ الْمُقْتَرِضُ مَرَّةً أُخْرَى لَمْ يَجُزْ...
انتَهَى.
وَمِنْ
هَذَا تَعَلَّمْ أَنَّ السَّائِلَ -التَّاجِرَ- إِذَا لَمْ يَكُنْ يُشْتَرَطُ عَلَى
الْمُزَارِعِينَ فِي عَقْدِ الْقَرْضِ أَنْ يَقُومَ هُوَ بِبَيْعِ مَحَاصِيلِهِمْ أَنَّهُ
لَا بَأْسَ بِقِيَامِهِ بِذَلِكَ، أَمَّا مَعَ وُجُودِ الشَّرْطِ الصَّرِيحِ أَوْ الْعَرَفِيِّ
فَلَا.
وَاللَّهُ
أَعْلَمُ.
Segala puji
bagi Allah, salam dan keberkahan tercurah kepada Rasulullah dan keluarganya.
Pinjaman
termasuk dalam perjanjian yang terkait dengan kebaikan dan kemurahan hati,
bukan perjanjian pertukaran atau keuntungan. Oleh karena itu, tidak diizinkan
untuk mengharuskan manfaat yang menguntungkan bagi pemberi pinjaman, seperti
mengharuskan peminjam untuk membeli dari pemberi pinjaman, atau memberikan
pekerjaan kepadanya, atau menyewanya untuk melakukan pekerjaan, dan sejenisnya.
Semua itu tidak diizinkan untuk dijadikan syarat dalam perjanjian pinjaman.
Dalam kitab
Al-Musannaf dikatakan dari Atho, dia berkata:
"كَانُوا يَكْرَهُونَ كُلَّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً"
"Mereka membenci setiap pinjaman yang
menghasilkan manfaat."
Dalam
Al-Mughni dikatakan:
"وَإِنْ شَرَطَ فِي الْقَرْضِ أَنْ يُؤَجَّرَهُ دَارَهُ أَوْ يَبِيعَهُ
شَيْئًا أَوْ أَنْ يَقْرَضَ الْمُقْتَرِضُ مَرَّةً أُخْرَى لَمْ يَجُزْ... انتَهَى
"Jika
ada syarat dalam pinjaman bahwa rumahnya disewakan atau dia menjual sesuatu
atau dia memberikan pinjaman kepada peminjam lagi, itu tidak diperbolehkan."
Dari hal ini,
dapat dipahami bahwa penanya (pedagang) jika tidak mengharuskan petani dalam
perjanjian pinjaman untuk menjual hasil panen mereka, maka tidak masalah jika
dia melakukannya. Namun, jika ada syarat yang jelas atau tradisi, maka tidak diperbolehkan.
Allah lebih
mengetahui.
RINGKASAN FATWA :
لَا يَجُوزُ لِلْمُقَرِّضِ أَنْ يَشْتَرِطَ عَلَى الْمُقْتَرِضِ أَنْ يَسْتَأْجِرَهُ فِي بَيْعِ مَحْصُولِهِ لِدُخُولِ ذَلِكَ فِي قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا.
Tidak diperbolehkan bagi pemberi pinjaman untuk mengharuskan kepada peminjam untuk menyewa atau menjual produk mereka kepadanya sebagai bagian dari pinjaman yang menghasilkan manfaat
KETIGA : FATWA MAJELIS ULAMA SURIAH [المَجْلِسُ الإسْلامِي السُّوْرِيُ]
بسمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Hukum hutang dana pertanian
حُكْم الدُّيُونِ الزِّرَاعِيَّة
Nomor Fatwa: 45
Tanggal Fatwa: Jumat, 13 Jumadil Awal 1443 H,
yang bertepatan dengan 17 Desember/Januari 2021 M.
----
Pertanyaan:
هناكَ
مُنَظَّمَةٌ تُعْطِي الفَلاحِينَ عَلَى كُلِّ هِكْتَارٍ مُخَصَّصٍ لِلزَّرَاعَةِ
٢٥٠ كغَ قَمْحٍ مَعَ عَدَّةِ أَكْيَاسِ سَمَادٍ وَثَمَنِ مَحْرُوقَاتٍ وَحَصَادَةٍ،
وَتَشْتَرِطُ عَلَى الْمُسْتَفِيدِينَ أَنْ يُعِيدُوا عِنْدَ الْحَصَادِ ٥٠٠ كغَ قَمْحٍ
تَأْخُذُهُ الْمُنَظَّمَةُ لِلْأَفْرَانِ؛ لِيَسْتَفِيدَ النَّاسُ مِنْهُ فِي الْخُبْزِ؛
عِلْمًا أَنَّ كَثِيرًا مِنَ الْمَزَارِعِينَ سَتَكُونُ لَهُمْ فُرْصَةٌ لِلْعَمَلِ
وَهُمْ بِحَاجَةٍ لَهَا؛ فَمَا حُكْمُ هَذِهِ الْمُعَامَلَةِ؟
Di sana Ada
sebuah organisasi yang memberikan kepada petani setiap hektar lahan pertanian
250 kilogram gandum, bersama dengan beberapa kantong pupuk dan biaya bahan
bakar serta mesin panen. Mereka mengharuskan para petani yang menerima jasa
tersebut untuk mengembalikan 500 kilogram gandum saat panen, yang akan diambil
oleh organisasi untuk digunakan dalam pembuatan roti.
Dan telah
dimaklumi bahwa banyak para petani yang akan memiliki kesempatan untuk bekerja di
sana dan mereka sendiri sangat membutuhkannya. Apa hukum dari transaksi ini?
Jawaban:
الجواب: الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا
بَعْدُ: فَإِنَّ إِقْرَاضَ الْمَزَارِعِينَ مَعَ اشْتِرَاطِ أَخْذِ أَكْثَرِ مِمَّا
دَفَعَ لَهُمْ مُحَرَّمٌ لَا يَجُوزُ، وَهُوَ مِنَ الرِّبَا، وَيَنْبَغِي تَصْحِيحُ
الْمُعَامَلَةِ، كَمَا سَيَأْتِي بَيَانُهُ:
أَوَّلًا: الْقَرْضُ مِنْ أَفْضَلِ الْقُرُبَاتِ وَأَجَلِهَا؛
لِمَا فِيهِ مِنْ إِعَانَةِ لِلْمُسْلِمِينَ وَالتَّخَفُّفِ عَنْهُمْ، وَتَفْرِيجِ
كُرَبِهِمْ، وَخَاصَّةً إِذَا كَانَ ذَلِكَ فِي أَوْقَاتِ الشِّدَّةِ وَالْحَاجَةِ،
فَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا؛
نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ
عَلَى مُعْسِرٍ؛ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ
مُسْلِمًا؛ سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ
مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ» [رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي «صَحِيحِهِ»]، فَجَزَى
اللَّهُ كُلَّ مَنْ يَسَّرَ عَلَى النَّاسِ وَخَفَّفَ عَنِ الْمُحْتَاجِينَ خَيْرًا
وَبَارَكَ بِجُهُودِهِمْ.
ثَانِيًا: مِمَّا يُشْتَرَطُ لِصِحَّةِ الْقَرْضِ؛ أَنْ يَكُونَ
الْوَفَاءُ مُسَاوِيًا لِقِيمَةِ الْقَرْضِ دُونَ زِيَادَةٍ، وَقَدِ اتَّفَقَ أَهْلُ
الْعِلْمِ عَلَى تَحْرِيمِ اشْتِرَاطِ الزِّيَادَةِ فِي وَفَاءِ الْقَرْضِ، وَأَنَّ
هَذِهِ الزِّيَادَةَ رِبًا، سَوَاءً كَانَتِ الزِّيَادَةُ فِي الصِّفَةِ أَوْ الْمُقَدَّارِ،
وَنَقَلَ الْإِجْمَاعَ عَلَى هَذَا كَثِيرًا مِنَ الْعُلَمَاءِ؛ قَالَ ابْنُ عَبْدِ
الْبَرِّ فِي «التَّمْهِيدِ»: (أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ نَقْلًا عَنْ نَبِيِّهِمْ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ اشْتِرَاطَ الزِّيَادَةِ فِي السَّلَفِ رِبًا)، وَنَقَلَ
ابْنُ قُدَامَةَ فِي «الْمُغْنِي» قَوْلَ ابْنِ الْمُنْذَرِ: (أَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ
الْمُسْلِفَ إِذَا اشْتَرَطَ عَلَى الْمُسْتَلِفِ زِيَادَةً أَوْ هَدِيَّةً، فَأَسْلَفَ
عَلَى ذَلِكَ؛ أَنْ أَخَذَ الزِّيَادَةَ عَلَى ذَلِكَ رِبًا).
كَمَا أَنَّ الْقَرْضَ الَّذِي يَعُودُ بِمَنْفَعَةٍ عَلَى
الْمُقْرِضِ مُحَرَّمٌ سَوَاءً أَكَانَ النَّفْعُ لِلْمُقْرِضِ أَمْ لِغَيْرِهِ؛ قَالَ
الْحَطَّابُ فِي «مَوَاهِبِ الْجَلِيلِ»: (السَّلَفُ إِذَا جَرَّ مَنْفَعَةً لِغَيْرِ
الْمُقْتَرِضِ؛ فَإِنَّهُ لَا يَجُوزُ، سَوَاءَ جَرَّ نَفَعًا لِلْمُقْرِضِ أَوْ غَيْرِهِ).
وَعَلَيْهِ؛ فَإِنَّ اشْتِرَاطَ هَذِهِ الْمُنَظَّمَةِ إِرْجَاعَ
500 كِيلُو مِنَ الْقَمْحِ، مُقَابِلَ إِقْرَاضِ 250 كِيلُو مِنَ الْقَمْحِ، وَبَعْضِ
السَّمَادِ وَالْمَحْرُوقَاتِ لَا يَجُوزُ، لِأَنَّهُ لَيْسَ مُسَاوِيًا لَهُ فِي الْمُقَدَّارِ،
وَلَا الثَّمَنِ، وَهُوَ مِنَ الرِّبَا.
ثَالِثًا: حَتَّى تَكُونَ الْمُعَامَلَةُ صَحِيحَةً سَلِيمَةً
فَيُمْكِنُ أَنْ تُجْرَى بِإِحْدَى الطُّرُقِ الْتَالِيَةِ:
الطَّرِيقَةُ الْأُولَى: أَنْ يُرَدَّ الْبِذَارُ الْمُقْتَرَضُ
كَمَا هُوَ (250 كِيلُو)، وَثَمَنُ السَّمَادِ وَالْوَقُودِ، ثُمَّ تَكُونُ الْمُنَظَّمَةُ
كَسَائِرِ الْمُشْتَرِينَ، تَشْتَرِي مَا تَحْتَاجُهُ مِنَ الْقَمْحِ، وَيَجُوزُ أَنْ
يَكُونَ سَدَادُ ثَمَنِ السَّمَادِ وَالْوَقُودِ بِمَا يُقَابِلُهُ مِنَ الْقَمْحِ؛
بِشَرْطِ ضَبْطِ ثَمَنِ هَذِهِ الْمَوَادِّ الْمُقَدَّمَةِ، وَيَكُونُ حِسَابُ مَا
يُقَابِلُهُ بِثَمَنِ الْقَمْحِ يَوْمَ السَّدَادِ.
الطَّرِيقَةُ الثَانِيَةُ: أَنْ يُرَدَّ الْبِذَارُ الْمُقْتَرَضُ
كَمَا هُوَ (250 كِيلُو)، وَيَكُونُ لِلْمُنَظَّمَةِ حَقُّ شِرَاءِ (250 كِيلُو) مُؤَجَّلًا
مُقَابِلَ مَا تَقْدِمُهُ مِنْ سَمَادٍ وَوَقُودٍ، بِشَرْطِ ضَبْطِ سِعْرِ هَذِهِ الْمَوَادِ
الْمُقَدَّمَةِ وَثَمَنِ الْقَمْحِ؛ بِحَيْثُ لَا يَكُونُ هُنَاكَ زِيَادَةٌ عَلَى
مَا تَقْدِمُهُ الْمُنَظَّمَةُ، وَلَا ظُلْمٌ لِلْمُزَارِعِينَ فِي اسْتِيفَاءِ أَكْثَرَ
مِمَّا دَفَعَ لَهُمْ.
الطَّرِيقَةُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يُجْعَلَ الْاتِفَاقُ عَلَى
قِسْمَيْنِ: قِسْمٌ يَكُونُ بِإِقْرَاضِ (250) كِيلُو بِذَارٍ، تُرَدُّ بِمِثْلِهَا،
وَقِسْمٌ آخَرُ عَبَارَةٌ عَنْ مَبْلَغٍ مَالِيٍّ يُقَدَّمُ لِلْمُزَارِعِينَ بِمَا
يَغْطِي أُجُورَ الْحَصَادَةِ، وَثَمَنِ الْمَحْرُوقَاتِ وَالسَّمَادِ، وَيَكُونُ سَلَمًا
مُقَابِلَ (250) كِيلُو أُخْرَى مُؤَجَّلَةٍ.
وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ
الْعَالَمِينَ.
ARTINYA : Segala
puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam, salam dan keberkahan semoga
terlimpah kepada Nabi kita Muhammad dan keluarganya serta seluruh sahabatnya.
Adapun selanjutnya:
Memberikan
pinjaman kepada petani dengan mengharuskan pengembalian lebih dari yang
diberikan kepada mereka merupakan perbuatan terlarang dan termasuk dalam riba.
Oleh karena itu, transaksi ini perlu diperbaiki, seperti yang akan dijelaskan
berikut:
Pertama : memberikan pinjaman termasuk di
antara amalan kebaikan yang paling utama dan agung, karena ia merupakan bentuk
bantuan kepada kaum muslimin, membantu mereka, meringankan kesulitan mereka,
terutama saat situasi sulit dan mereka sangat membutuhkan bantuan.
Dari Abu
Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً
مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا؛ نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ،
وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ؛ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ،
وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا؛ سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاللَّهُ
فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ»
"Barangsiapa
melepaskan kesusahan seorang mukmin, maka Allah akan melepaskan satu kesusahan
darinya di dunia ini dan di akhirat. Barangsiapa yang mempermudah orang yang
kesulitan, maka Allah akan mempermudah urusannya di dunia dan di akhirat.
Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di
dunia dan di akhirat. Allah senantiasa memberikan pertolongan kepada hamba-Nya
selama ia memberikan pertolongan kepada saudaranya" (HR. Muslim dalam
"Shahihnya").
Semoga Allah
membalas semua orang yang memudahkan dan meringankan beban orang lain dengan
kebaikan dan memberkahi usaha mereka.
Kedua : untuk memastikan keabsahan pinjaman,
pembayaran harus sesuai dengan nilai pinjaman tanpa ada penambahan. Para ulama
sepakat bahwa mengharuskan penambahan dalam pembayaran pinjaman merupakan riba,
baik penambahan dalam bentuk kualitas atau jumlahnya. Hal ini telah disepakati
oleh banyak ulama.
Ibnu Abdul
Barr dalam kitab "At-Tamhid" mengatakan :
(أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ نَقْلًا
عَنْ نَبِيِّهِمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ اشْتِرَاطَ الزِّيَادَةِ
فِي السَّلَفِ رِبًا)
"Kaum
muslimin sepakat secara Ijma' dengan mengutip sabda Nabi mereka bahwa syarat penambahan
dalam pembayaran pinjaman adalah riba."
Ibnu Qudamah
dalam kitab "Al-Mughni" mengutip perkataan Ibnu Mundhir :
(أَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ الْمُسْلِفَ
إِذَا اشْتَرَطَ عَلَى الْمُسْتَلِفِ زِيَادَةً أَوْ هَدِيَّةً، فَأَسْلَفَ عَلَى ذَلِكَ؛
أَنْ أَخَذَ الزِّيَادَةَ عَلَى ذَلِكَ رِبًا).
"Mereka
(para ulama) sepakat secara Ijma' bahwa jika pemberi pinjaman mensyaratkan kepada
penerima pinjaman berupa penambahan atau pemberian hadiah, lalu transaksi itu
berjalan diatas persyaratan tersebut, maka tambahan itu adalah riba."
Sama seperti halnya
pinjaman yang menghasilkan manfaat bagi pemberi pinjaman, baik manfaatnya untuk
pemberi pinjaman itu sendiri maupun orang lain, sebagaimana yang disebutkan
oleh al-Hathab dalam kitab "Mawahib al-Jalil":
(السَّلَفُ إِذَا جَرَّ مَنْفَعَةً
لِغَيْرِ الْمُقْتَرِضِ؛ فَإِنَّهُ لَا يَجُوزُ، سَوَاءَ جَرَّ نَفَعًا لِلْمُقْرِضِ
أَوْ غَيْرِهِ).
'Jika
pinjaman tersebut menghasilkan manfaat bagi pihak selain peminjam, maka itu
tidak diperbolehkan, baik manfaat tersebut untuk pemberi pinjaman sendiri atau
orang lain.'
Oleh karena
itu, persyaratan organisasi ini untuk mengembalikan 500 kilogram gandum sebagai
ganti pinjaman 250 kilogram gandum serta sejumlah pupuk dan bahan bakar hukumnya
tidaklah diperbolehkan, karena tidak setara dalam jumlah maupun harga, dan
termasuk dalam kategori riba.
Ketiga : Agar transaksi ini sah dan benar,
dapat dilakukan melalui salah satu dari metode berikut:
Metode
pertama:
Mengembalikan benih yang dipinjam sebagaimana adanya (250 kilogram), dan
organisasi ini seperti pembeli lainnya, membeli gandum sesuai dengan
kebutuhannya. Adapun pembayaran pupuk dan bahan bakar dapat dilakukan dengan
gandum yang setara nilainya, dengan syarat menetapkan harga bahan-bahan yang
disediakan ini, dan menghitung nilai gandum yang setara dengan harga pada saat
pembayaran."
Metode
kedua: Mengembalikan
benih yang dipinjam sebagaimana adanya (250 kilogram), dan organisasi ini
berhak untuk membeli (250 kilogram) gandum secara tangguh dengan apa yang
mereka berikan berupa pupuk dan bahan bakar, dengan syarat menetapkan harga
bahan-bahan yang disediakan ini dan harga gandum, sehingga tidak ada penambahan
dari apa yang diberikan oleh organisasi ini, dan tidak ada penindasan terhadap
petani dalam pengumpulan lebih dari yang telah mereka bayarkan.
Metode
ketiga: Membuat
kesepakatan dalam dua bagian: Bagian pertama adalah dengan memberikan pinjaman
benih (250 kilogram) yang harus dikembalikan, dan bagian lain berupa jumlah
uang yang diberikan kepada petani untuk menutup biaya pemanenan, harga bahan
bakar, dan pupuk, dan itu dilakukan sebagai ganti (250 kilogram) gandum lainnya
yang ditangguhkan.
Allah Ta'ala
lebih mengetahui, segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Fatwa ini telah ditandatangani oleh anggota-anggota Majelis para Ulama yang terhormat sbb:
1- Syekh Ahmad
Hamadain al-Ahmad
2- Syekh Ahmad
Hawwa
3- Syekh Ahmad
Zaher Salim
4- Syekh Osama
al-Rifa'i
5- Syekh Ayman
Haroush
6- Syekh
Tajuddin Tajji
7- Syekh Abdul
Alim Abdullah
8- Syekh Abdul
Aziz al-Khatib
9- Syekh Abdul
Majid al-Bayanuni
10- Syekh Ali
Naif Shihoud
11- Syekh Imad
al-Din Khayti
12- Syekh
Ammar al-Issa
13- Syekh
Faysal al-Salah
14- Syekh
Muhammad Jamil Mustafa
15- Syekh
Muhammad al-Zahili
16- Syekh
Muhammad Mu'adh al-Khan
17- Syekh
Mufaq al-Umar"
===***===
SOLUSI PEMBIAYAAN PARA PETANI DENGAN CARA AKAD JUAL BELI SALAM
Definisi jual beli Salam (السَّلَمَ) dalam istilah adalah
:
أَنْ يُسَلِّمَ
الْمُشْتَرِي رَأْسَ الْمَالِ لِلْبَائِعِ فِي مَجْلِسِ الْعَقْدِ قَبْلَ أَنْ
يَسْتَلِمَ السِّلْعَةَ الَّتِي اشْتَرَاهَا مِنْهُ عَلَى أَنْ يُعْطِيَهَا
إِيَّاهَا الْبَائِعُ بَعْدَ تَحْدِيدِ أَوْصَافِهَا فِي أَجَلٍ وَوَقْتٍ
مَعْلُومٍ.
Bahwa pembeli menyerahkan modal
kepada penjual dalam majelis akad sebelum menerima barang yang dibelinya,
dengan syarat penjual menyerahkan barang tersebut di kemudian hari setelah
ditentukan sifat-sifatnya dalam waktu tertentu yang jelas.
Penjual tidak boleh mengambil dari
pembeli selain apa yang telah disepakati dalam majelis akad, dan pembeli tidak
boleh melakukan tindakan terhadap barang tersebut sebelum menerimanya.
Disebutkan juga dalam definisi
istilahnya bahwa akad salam adalah:
بَيْعُ سِلْعَةٍ آجِلَةٍ مَوْصُوفَةٍ
فِي الذِّمَّةِ بِثَمَنٍ مُقَدَّمٍ
Di antara bentuk-bentuk kontemporer Jual beli Salam adalah sbb:
Akad salam untuk membiayai berbagai kegiatan
pertanian dan industri, dengan ketentuan bahwa hasil panen atau produksi
diserahkan kepada pihak pemberi pembiayaan pada waktu yang telah ditentukan,
baik berasal dari produksi mereka sendiri maupun melalui pembelian dari pihak
lain.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam
keputusan Majma’ al-Fiqh nomor 85 (2/9) tentang salam dan penerapan
kontemporernya, yang diselenggarakan pada sidang konferensi ke-9 di Abu Dhabi,
Uni Emirat Arab, pada tanggal 1–6 Dzulqa’dah 1415 H, bertepatan dengan 1/4/1995
M, sebagai berikut:
(يَصْلُحُ عَقْدُ السَّلَمِ لِتَمْوِيلِ عَمَلِيَّاتٍ
زِرَاعِيَّةٍ مُخْتَلِفَةٍ، حَيْثُ يَتَعَامَلُ الْمَصْرِفُ الْإِسْلَامِيُّ مَعَ الْمُزَارِعِينَ
الَّذِينَ يُتَوَقَّعُ أَنْ تُوجَدَ لَدَيْهِمُ السِّلْعَةُ فِي الْمَوْسِمِ مِنْ مَحَاصِيلِهِمْ،
أَوْ مَحَاصِيلِ غَيْرِهِمُ الَّتِي يُمْكِنُ أَنْ يَشْتَرُوهَا وَيُسَلِّمُوهَا إِذَا
أَخْفَقُوا فِي التَّسْلِيمِ مِنْ مَحَاصِيلِهِمْ، فَيُقَدِّمُ لَهُمْ بِهَذَا التَّمْوِيلِ
نَفْعًا بَالِغًا، وَيَدْفَعُ عَنْهُمْ مَشَقَّةَ الْعَجْزِ الْمَالِيِّ عَنْ تَحْقِيقِ
إِنْتَاجِهِمْ.
ب- يُمْكِنُ اسْتِخْدَامُ
عَقْدِ السَّلَمِ فِي تَمْوِيلِ النَّشَاطِ الزِّرَاعِيِّ وَالصِّنَاعِيِّ، وَلَا سِيَّمَا
تَمْوِيلِ الْمَرَاحِلِ السَّابِقَةِ لِإِنْتَاجِ وَتَصْدِيرِ السِّلَعِ وَالْمُنْتَجَاتِ
الرَّائِجَةِ، وَذَلِكَ بِشِرَائِهَا سَلَمًا وَإِعَادَةِ تَسْوِيقِهَا بِأَسْعَارٍ
مُجْزِيَةٍ.
ج- يُمْكِنُ تَطْبِيقُ
عَقْدِ السَّلَمِ فِي تَمْوِيلِ الْحِرَفِيِّينَ وَصِغَارِ الْمُنْتِجِينَ الزِّرَاعِيِّينَ
وَالصِّنَاعِيِّينَ، عَنْ طَرِيقِ إِمْدَادِهِمْ بِمُسْتَلْزَمَاتِ الْإِنْتَاجِ فِي
صُورَةِ مُعِدَّاتٍ وَآلَاتٍ أَوْ مُوَادَّ أَوَّلِيَّةٍ، كَرَأْسِ مَالِ سَلَمٍ، مُقَابِلَ
الْحُصُولِ عَلَى بَعْضِ مُنْتَجَاتِهِمْ وَإِعَادَةِ تَسْوِيقِهَا)
“Akad salam dapat digunakan untuk membiayai berbagai kegiatan
pertanian, di mana bank Islam bertransaksi dengan para petani yang diperkirakan
akan memiliki komoditas pada musimnya, baik dari hasil panen mereka sendiri
maupun dari hasil panen orang lain yang dapat mereka beli dan serahkan apabila
mereka gagal menyerahkan dari hasil panen mereka sendiri. Dengan demikian,
pembiayaan ini memberikan manfaat besar bagi mereka dan menghilangkan kesulitan
akibat ketidakmampuan finansial dalam mewujudkan produksi mereka.
b. Akad salam dapat digunakan dalam
pembiayaan sektor pertanian dan industri, khususnya untuk membiayai tahap-tahap
sebelum produksi dan ekspor barang serta produk yang laris, dengan cara
membelinya melalui akad salam dan kemudian memasarkannya kembali dengan harga yang
menguntungkan.
c. Akad salam dapat diterapkan untuk membiayai para pengrajin dan produsen kecil di bidang pertanian dan industri, dengan cara menyediakan kebutuhan produksi kepada mereka dalam bentuk peralatan, mesin, atau bahan baku sebagai modal salam, dengan imbalan memperoleh sebagian dari produk mereka untuk kemudian dipasarkan kembali.” (Majalah Majma’ al-Fiqh 9/492, 493).
0 Komentar