BENARKAH DI SUNNAHKAN BACA
“Robbanaa laa tuzig quluubanaa ba‘da idz hadaytanaa”
SETELAH BACA AL-FATIHAH DI RAKAAT KE 3 SHALAT MAGHRIB?
===
Di
Tulis Oleh Kang Oji
KAJIAN
NIDA AL-ISLAM
----
DAFTAR ISI :
- PENDAHULUAN
- STUDI ATSAR ABU BAKAR BACA “ROBANA LA TUZIG QULUBANA” SETELAH FATIHAH PADA RAKA’AT KETIGA SHOLAT MAGHRIB
- FIQIH ATSAR:
- PEMAHAMAN AL-IMAM ASY-SYAFI’I DAN LAINNYA:
- PEMAHAMAN MAKHUL DAN LAINNYA:
- PEMAHAMAN IBNU QUDDAMAH AL-HANBALI DAN LAINNYA:
- TARJIH :
PENDAHULUAN
Ada salah seorang da’i kontemporer -hafidzohullah- yang sangat saya kagumi akan keilmuannya dan keteguhannya dalam berpegang kepada as-Sunnah. Beliau ini dalam kajian-kajiannya sering menyampaikan ilmu-ilmu agama yang langka, yang saya pribadi baru mengetahuinya dari beliau ini, diantaranya adalah materi kajian berikut ini:
SUNNAH
YANG HILANG SAAT SHOLAT MAGHRIB
Yaitu
Membaca :
﴿رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ
هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ﴾
Setelah
Baca al-Fatihah Pada Rakaat Ke 3 dalam Shalat Maghrib
Beliau berdalil
dengan amalan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, bukan dari sunnah Nabi ﷺ.
---
Dalam artikel ini,
saya sebagai penulis akan mencoba mengkajinya dan membandingkannya dengan
pemahaman para ulama lainnya, terutama pemahaman para ulama salaf dahulu.
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
===***===
STUDI
ATSAR ABU BAKAR BACA “ROBANA LA TUZIG QULUBANA”
SETELAH AL-FATIHAH PADA RAKA’AT
KETIGA SHOLAT MAGHRIB
Al-Imam Malik dalam
al-Muwattho (riwayat Abu Mush’ab 1/84 no.218) meriwayatkan :
Dari Abu Ubaid,
maula (bekas budak) Sulaiman bin Abdul Malik, bahwa Ubadah bin Nusayy telah
mengabarkannya, bahwa ia mendengar Qais bin al-Harits berkata: telah
mengabarkan kepadaku Abu Abdullah ash-Shunaabihi :
أَنَّهُ: قَدِمْ الْمَدِينَةَ فِي خِلَافَةِ
أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رضي الله عنه ، فَصَلَّى وَرَاءَ أبي بكر الْمَغْرِبَ
، فَقَرَأَ أبو بكر فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأَُولَيَيْنِ بِأُمِّ الْقُرْآنِ،
وَسُورَةٍ: سُورَةٍ مِنْ قِصَارِ الْمُفَصَّلِ، ثُمَّ قَامَ فِي الركعة الثَّالِثَةِ،
فَدَنَوْتُ مِنْهُ حَتَّى إِنَّ ثِيَابِي لَتَكَادُ تَمَسَّ ثِيَابَهُ، فَسَمِعْتُهُ
قَرَأَ بِأُمِّ الْقُرْآنِ وَهَذِهِ الآيَةِ: ﴿رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ
إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ﴾
[آل عمران: 8].
“Bahwa ia datang ke
Madinah pada masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Ia pun
melaksanakan sholat Magrib di belakang Abu Bakar. Abu Bakar membaca pada dua raka’at
pertama Ummul Quran (Surah al-Fatihah) dan sebuah surah dari surah-surah pendek
al-Mufashshal.
Kemudian ia berdiri
pada raka’at ketiga. Aku pun mendekat kepadanya hingga hampir-hampir pakaianku
menyentuh pakaiannya. Lalu aku mendengarnya membaca Ummul Quran dan ayat ini:
“Rabbanaa
laa tuzig quluubanaa ba‘da idz hadaytanaa wa hab lanaa min ladunka rahmatan
innaka antal wahhaab”
Artinya: “Wahai
Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri kami
petunjuk, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya
Engkau Maha Pemberi.” (Ali Imran: 8). [SELESAI]
TAKHRIJ ATSAR:
Diriwayatkan pula
oleh al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra 3/461 no. 2517 dengan lafadz yang sama.
Lalu al-Baihaqi berkata:
زَادَ أَبُو سَعِيدٍ فِي رِوَايَتِهِ
" قَالَ الشَّافِعِيُّ وَقَالَ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ: لَمَّا سَمِعَ عُمَرُ
بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ بِهَذَا، عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
قَالَ: «إِنْ كُنْتُ لَعَلَى غَيْرِ هَذَا حَتَّى سَمِعْتُ بِهَذَا فَأَخَذْتُ بِهِ»
Abu Sa’id
menambahkan dalam riwayatnya: “Asy-Syafi’i berkata, dan Sufyan bin ‘Uyainah
berkata: ketika Umar bin ‘Abdul ‘Aziz mendengar hal ini dari Abu Bakr
ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: sungguh sebelumnya aku berada di
atas amalan yang berbeda dari ini, hingga aku mendengar hal ini, maka aku pun
berpegang dengannya.”
Riwayat ini juga
diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam al-Ma‘rifah (744), oleh asy-Syafi’i 7/207
dan 228. Melalui jalur Imam Malik, diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq (2698), oleh
al-Bukhari dalam at-Tarikh al-Kabir 3/258 dan 5/321, oleh Abu Dawud sebagaimana
disebutkan dalam Tuhfah al-Asyraf 5/298 (6607), oleh al-Mustaghfiri dalam
Fadha’il al-Qur’an 2/755 nomor 1144, dan oleh ath-Thahawi dalam Musykil
al-Atsar (4634).
Diriwayatkan pula
oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonnaf 1/326 no. 3727 dengan sanad sbb: Telah
menceritakan kepada kami Abdullah bin Mubarak dan Waki’, dari Ibnu ‘Aun, dari
Raja’ bin Haiwah, dari Mahmud bin ar-Rabi’, dari ash-Shunabihi, ia berkata:
«صَلَّيْتُ مَعَ أَبِي بَكْرٍ الْمَغْرِبَ فَدَنَوْتُ
مِنْهُ حَتَّى مَسَّتْ ثِيَابِي ثِيَابَهُ، أَوْ يَدِي ثِيَابَهُ -شَكَّ ابْنُ
مُبَارَكٍ- فَقَرَأَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّالِثَةِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ»، وَقَالَ:
﴿رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا﴾ [آل عمران: 8] »
Aku sholat Magrib
bersama Abu Bakar. Aku mendekat kepadanya hingga pakaianku hampir menyentuh pakaiannya,
atau tanganku menyentuh pakaiannya. Ibnu Mubarak ragu. Lalu ia membaca pada raka’at
ketiga dengan membaca Fatihatul Kitab, dan ia mengucapkan doa: “Wahai Rabb
kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberi kami
petunjuk” (Ali ‘Imran: 8). [Selesai]
Riwayat yang datang
dari Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu ini adalah tentang membaca ayat
ini pada raka’at ketiga sholat magrib, bukan pada seluruh sholat.
===
STATUS SANAD ATSAR:
Sanad atsar ini
dinilai lemah dan amburadul oleh Ibnu at-Turkmani. Dia berkata dalam al-Jauhar
an-Naqi 2/63–64:
سَنَدُ هَذَا الأَثَرِ مُضْطَرِبٌ، أَخْرَجَهُ
الطَّحَاوِيُّ مِنْ جِهَةِ عُبَادَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الصُّنَابِحِيِّ،
فَلَمْ يَذْكُرْ بَيْنَهُمَا أَحَدًا، وَجَعَلَهُ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ.
“Sanad atsar ini
mudhtharib (kacau/ labil). Ath-Thahawi meriwayatkannya dari jalur ‘Ubadah dari
Abu ‘Abdurrahman ash-Shunabihi, namun ia tidak menyebutkan seorang pun di
antara keduanya, lalu dia menjadikannya Abu ‘Abdurrahman.” [Selesai]
Namun an-Nawawi men-sahihkan-nya
dalam al-Majmu’ 3/383.
FIQIH
ATSAR:
Riwayat yang datang
dari Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu ini adalah tentang membaca ayat
ini pada raka’at ketiga sholat magrib, bukan pada seluruh sholat.
Abu Ubaid
berkata:
وَأَخْبَرَنِي عُبَادَةُ أَنَّهُ كَانَ
عِنْدَ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ فِي خِلَافَتِهِ، فَقَالَ عُمَرُ لِقَيْسٍ: كَيْفَ
أَخْبَرْتَنِي عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ؟ فَحَدَّثَهُ فَقَالَ عُمَرُ: «مَا تَرَكْنَاهَا
مُنْذُ سَمِعَنْاهَا، وَإِنْ كُنْتُ قَبْلَ ذَلِكَ لَعَلَى غَيْرِ ذَلِكَ»، فَقَالَ
رَجُلٌ: وَعَلَى أَيِّ شَيْءٍ كَانَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ قَبْلَ ذَلِكَ؟ قَالَ:
«كُنْتُ أَقْرَأُ ﴿قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ﴾»
Ubadah mengabarkan
kepadaku bahwa ia pernah berada di sisi Umar bin Abdul Aziz pada masa
kekhalifahannya. Lalu Umar berkata kepada Qais, “Bagaimana engkau menyampaikan
kepadaku dari Abu Abdillah?” Maka Qais pun menceritakannya kepadanya.
Umar lalu berkata,
“Kami tidak pernah meninggalkannya sejak kami mendengarnya, meskipun sebelumnya
aku berada di atas amalan yang lain.”
Lalu seorang lelaki
bertanya, “Di atas amalan apakah Amirul Mukminin sebelumnya?”
Ia menjawab, “Aku
biasa membaca Qul huwallahu ahad.”
Disebutkan oleh
Ath-Thahawi dalam Musykil al-Atsar nomor 4634, dan oleh Abdur Razzaq dalam
Mushannaf-nya nomor 2698.
===
PEMAHAMAN AL-IMAM ASY-SYAFI’I DAN LAINNYA:
Al-Imam Asy-Syafi’i
berhujah dengan atsar Abu Bakar ini dan dengan perbuatan Umar bin ‘Abdul ‘Aziz,
ia berpendapat disunnahkan-nya membaca surat pada dua raka’at terakhir pada
seluruh sholat.
Al-Rabi‘ bin
Sulaiman menanyakannya tentang hal ini kepadanya:
سَأَلْتُ الشَّافِعِيَّ: أَيَقْرَأُ
أَحَدٌ خَلْفَ أُمِّ الْقُرْآنِ فِي الرَّكْعَةِ الْأَخِيرَةِ مِنْ شَيْءٍ؟
فَقَالَ: أُحِبُّ ذَلِكَ، وَلَيْسَ بِوَاجِبٍ عَلَيْهِ، فَقُلْتُ: وَمَا الْحُجَّةُ
فِيهِ؟ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ
Aku bertanya kepada
al-Syafi‘i, “Apakah seseorang membaca sesuatu setelah Ummul Qur’an pada raka’at
terakhir?”
Al-Syafi‘i
menjawab, “Aku menyukai hal itu dan tidak wajib baginya.”
Al-Rabi‘ bertanya
lagi, “Apa hujahnya?”
Maka al-Syafi‘i
menyebutkan Hadits tersebut”.
[Hal ini disebutkan
oleh al-Baihaqi dalam Ma’rifat as-Sunan wal Atsar 2/394 no. 3186].
===
PEMAHAMAN MAKHUL DAN PARA ULAMA MADZHAB MALIKI:
Ahli fikih Syam,
Makhul, menolak pendalilan Imam Syafi’i di atas.
Muhammad bin Rasyid
berkata:
سَمِعْتُ رَجُلًا يُحَدِّثُ بِهِ مَكْحُولًا،
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا بَكْرٍ قَرَأَهَا فِي
الرَّكْعَةِ الثَّالِثَةِ، فَقَالَ لَهُ مَكْحُولٌ: «إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ مِنْ
أَبِي بَكْرٍ قِرَاءَةٌ إِنَّمَا كَانَ دُعَاءٌ مِنْهُ»
Aku mendengar
seorang lelaki menceritakan hal itu kepada Makhul, dari Sahl bin Sa‘d
as-Sa‘idi, bahwa ia mendengar Abu Bakar membaca ayat tersebut pada raka’at
ketiga. Maka Makhul berkata kepadanya: “Itu bukanlah bacaan al-Quran dari Abu
Bakar, melainkan itu hanyalah doa darinya.”
[Atsar ini diriwayatkan
oleh ‘Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya 2/110 no. 2699.
Demikian pula atsar
ini diriwayatkan darinya oleh ath-Thahawi dengan redaksi yang sama persis
seperti yang disebutkan, dan ia meriwayatkannya dalam kitab Musykil al-Atsar.
Pendapat ini juga
dipegang oleh Ibrahim an-Nakha’i, Sufyan ats-Tsauri, dan ulama lainnya.
Ibnu Abdil Barr dari madzhab Maliki berkata dalam kitab Al-Istidzkar 1/429:
"وأمّا قَوْلُ أبِي بَكْرٍ فِي الرَّكْعَةِ
الثّالِثَةِ مِنَ المَغْرِبِ ﴿رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنا﴾ الآيَةَ. فَإنَّما هُوَ
ضَرْبٌ مِنَ القُنُوتِ والدُّعاءِ؛ لِما كانَ فِيهِ مِن أمْرِ أهْلِ الرِّدَّةِ، والقُنُوتُ
جائِزٌ فِي المَغْرِبِ عِنْدَ جَماعَةٍ مِن أهْلِ العِلْمِ، وفِي كُلِّ صَلاةٍ أيْضًا"
.اهـ.
Adapun bacaan Abu
Bakar pada raka’at ketiga sholat Magrib berupa doa “Wahai Rabb kami, jangan
Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberi kami petunjuk”, maka hal itu
termasuk salah satu bentuk qunut dan doa, karena pada masa itu terdapat urusan
serius terkait kaum murtad. Qunut diperbolehkan dalam sholat Magrib menurut
sekelompok ulama, bahkan juga diperbolehkan dalam setiap sholat. [Selesai].
Demikian pula yang dikatakan oleh al-Imam al-Qurthubi al-Maliki dalam Tafsir-nya 4/20.
Al-Baji dari madzhab Maliki berkata
dalam kitab Al-Muntaqa Syarh Al-Muwaththa’ 1/147:
«وَقَوْلُهُ فَقَرَأَ بِأُمِّ الْقُرْآنِ وَبِهَذِهِ
الْآيَةِ ﴿رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا﴾ [آل عمران: 8] يَحْتَمِلُ
أَنْ يَكُونَ أَبُو بَكْرٍ دَعَا بِهَذِهِ فِي آخِرِ الرَّكْعَةِ عَلَى مَعْنَى
الدُّعَاءِ لِمَعْنَى تَذْكِرَةٍ أَوْ خُشُوعٍ حَضَرَهُ لَا عَلَى مَعْنَى أَنَّهُ
قَرَنَ قِرَاءَتَهُ تِلْكَ بِقِرَاءَةِ أُمِّ الْقُرْآنِ عَلَى حَسَبِ مَا تُقْرَنُ
بِهَا قِرَاءَةُ السُّورَةِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ»
Ucapannya bahwa Abu
Bakar membaca Al-Fatihah dan doa “Wahai Rabb kami, jangan Engkau palingkan
hati kami setelah Engkau memberi kami petunjuk”, memungkinkan maknanya
bahwa Abu Bakar berdoa dengan doa tersebut pada akhir raka’at, karena ada suatu
makna yang terlintas dalam ingatannya atau kekhusyukan yang hadir dalam
hatinya.
Bukan bermakna
bahwa beliau menggabungkan bacaan doa tersebut dengan Al-Fatihah sebagaimana
digabungkannya bacaan surat al-Qur'an dengan Al-Fatihah pada dua raka’at pertama. [Selesai].
===
PEMAHAMAN IBNU QUDAMAH DARI MADZHAB HANBALI DAN LAINNYA:
Sebagian ulama lainnya
lagi menolak adanya bacaan lain selain al-Fatihah dalam raka’at ketiga dan
keempat.
Mereka berdalil
dengan Hadits yang disepakati oleh al-Bukhari (759) dan Muslim (451) dari Abu
Qatadah radhiyallahu ‘anhu yang menegaskan bahwa Rasulullah ﷺ membaca
pada dua raka’at terakhir hanya dengan al-Fatihah saja.
Berikut ini lafadz
hadits riwayat Muslim: Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
«كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُصَلِّي بِنَا فَيَقْرَأُ
فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
وَسُورَتَيْنِ وَيُسْمِعُنَا الْآيَةَ أَحْيَانًا وَكَانَ يُطَوِّلُ الرَّكْعَةَ الْأُولَى
مِنَ الظُّهْرِ وَيُقَصِّرُ الثَّانِيَةَ وَكَذَلِكَ فِي الصُّبْحِ»
“Rasulullah ﷺ sholat
bersama kami, lalu beliau membaca pada sholat Dzuhur dan asar pada dua raka’at
pertama dengan al-Fatihah dan dua surat, dan terkadang beliau memperdengarkan
kepada kami satu ayat.
Beliau memanjangkan
raka’at pertama sholat Dzuhur dan memendekkan raka’at kedua, dan demikian pula
pada sholat subuh”.
Dalam lafadz al-Bukhari
disebutkan:
«كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ
الأُولَيَيْنِ مِنْ صَلَاةِ الظُّهْرِ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ، وَسُورَتَيْنِ يُطَوِّلُ
فِي الأُولَى، وَيُقَصِّرُ فِي الثَّانِيَةِ وَيُسْمِعُ الآيَةَ أَحْيَانًا، وَكَانَ
يَقْرَأُ فِي العَصْرِ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ، وَكَانَ يُطَوِّلُ فِي
الأُولَى، وَكَانَ يُطَوِّلُ فِي الرَّكْعَةِ الأُولَى مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ، وَيُقَصِّرُ
فِي الثَّانِيَةِ»
“Nabi ﷺ membaca
pada dua raka’at pertama sholat Dzuhur dengan al-Fatihah dan dua surat,
memanjangkan pada raka’at pertama dan memendekkan pada raka’at kedua, serta
terkadang memperdengarkan satu ayat.
Beliau ﷺ membaca pada sholat ‘Ashar dengan al-Fatihah dan dua surat, dan beliau
memanjangkan raka’at pertama. Beliau juga memanjangkan raka’at pertama sholat
subuh dan memendekkan raka’at kedua”. [Selesai]
Ibnu Qudamah al-Hanbali
dalam kitab Al-Mughni 1/412-413 (Cet. Maktabah Cairo) menyebutkan madzhab
Hanbali, dengan mengatakan:
"لَا تُسَنُّ زِيَادَةُ الْقِرَاءَةِ
عَلَى أُمِّ الْكِتَابِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ غَيْرِ الْأُولَيَيْنِ. قَالَ ابْنُ سِيرِينَ:
لَا أَعْلَمُهُمْ يَخْتَلِفُونَ فِي أَنَّهُ يُقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ
بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَةٍ، وَفِي الْأُخْرَيَيْنِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ.
وَرُوِيَ ذَلِكَ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ، وَأَبِي الدَّرْدَاءِ، وَجَابِرٍ، وَأَبِي هُرَيْرَةَ،
وَعَائِشَةَ، رَوَاهُ إِسْمَاعِيلُ بْنُ سَعِيدٍ الشَّالَنْجِيُّ عَنْهُمْ بِإِسْنَادِهِ،
إِلَّا حَدِيثَ جَابِرٍ فَرَوَاهُ أَحْمَدُ، وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ وَأَبِي حَنِيفَةَ.
وَاخْتَلَفَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ؛ فَمَرَّةً
قَالَ كَذَلِكَ، وَمَرَّةً قَالَ: يُقْرَأُ بِسُورَةٍ مَعَ الْفَاتِحَةِ فِي كُلِّ
رَكْعَةٍ، وَرُوِيَ ذَلِكَ عَنْ ابْنِ عُمَرَ. لِمَا رَوَى الصُّنَابِحِيُّ قَالَ:
صَلَّيْتُ خَلْفَ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ الْمَغْرِبَ، فَدَنَوْتُ مِنْهُ حَتَّى
إِنَّ ثِيَابِي تَكَادُ تَمَسُّ ثِيَابَهُ، فَقَرَأَ فِي الرَّكْعَةِ الْأَخِيرَةِ
بِأُمِّ الْكِتَابِ، وَهَذِهِ الْآيَةِ ﴿رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا﴾ [آلِ عِمْرَانَ:
٨]".
“Tidak disunnahkan menambah
bacaan selain Ummul Kitab (Al-Fatihah) pada dua raka’at selain raka’at pertama.
Ibnu Sirin berkata:
Aku tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di kalangan mereka bahwa pada
dua raka’at pertama dibaca Al-Fatihah dan satu surat, sedangkan pada dua raka’at
terakhir dibaca Al-Fatihah saja.
Pendapat ini
diriwayatkan dari Ibnu Mas‘ud, Abu Darda’, Jabir, Abu Hurairah, dan Aisyah.
Riwayat ini
dibawakan oleh Ismail bin Sa‘id Asy-Syalanji dari mereka dengan sanadnya,
kecuali Hadits Jabir yang diriwayatkan oleh Ahmad.
Ini juga merupakan
pendapat Malik dan Abu Hanifah.
Pendapat
Asy-Syafi‘i berbeda-beda. Pada suatu waktu beliau
berpendapat sama seperti itu, dan pada waktu lain beliau berpendapat bahwa
dibaca pula satu surat bersama Al-Fatihah pada setiap raka’at.
Pendapat ini juga
diriwayatkan dari Ibnu Umar.
Hal ini berdasarkan
riwayat Ash-Shunabihi yang berkata: Aku sholat Magrib di belakang Abu Bakar
Ash-Shiddiq. Aku mendekat kepadanya hingga hampir-hampir pakaianku menyentuh
pakaiannya, lalu beliau membaca pada raka’at terakhir Ummul Kitab dan ayat ini:
﴿رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا﴾
“Wahai
Rabb kami, jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberi kami
petunjuk” (Ali ‘Imran: 8).
Lalu Ibnu
Qudamah menyebutkan dalil madzhab Hanbali: :
"وَلَنَا: حَدِيثُ أَبِي قَتَادَةَ «أَنَّ
النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ بِأُمِّ
الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ، وَفِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُخْرَيَيْنِ بِأُمِّ الْكِتَابِ،
وَيُسْمِعُنَا الْآيَةَ أَحْيَانًا» وَكَتَبَ عُمَرُ إِلَى شُرَيْحٍ: أَنْ اقْرَأْ
فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ بِأُمِّ الْكِتَابِ وَسُورَةٍ، وَفِي الْأُخْرَيَيْنِ
بِأُمِّ الْكِتَابِ.
وَمَا فَعَلَهُ الصِّدِّيقُ رَحِمَهُ
اللَّهُ إِنَّمَا قَصَدَ بِهِ الدُّعَاءَ، لَا الْقِرَاءَةَ؛ لِيَكُونَ مُوَافِقًا
لِفِعْلِ النَّبِيِّ ﷺ، وَبَقِيَّةِ أَصْحَابِهِ، وَلَوْ قُدِّرَ أَنَّهُ قَصَدَ بِذَلِكَ
الْقِرَاءَةَ، فَلَيْسَ بِمُوجِبٍ تَرْكَ حَدِيثِ النَّبِيِّ ﷺ وَفِعْلِهِ، ثُمَّ قَدْ
ذَكَرْنَا مَذْهَبَ عُمَرَ وَغَيْرِهِ مِنَ الصَّحَابَةِ بِخِلَافِ هَذَا.
فَأَمَّا إِنْ دَعَا إِنْسَانٌ فِي الرَّكْعَةِ
الْآخِرَةِ بِآيَةٍ مِنَ الْقُرْآنِ مِثْلَ مَا فَعَلَ الصِّدِّيقُ، فَقَدْ رُوِيَ
عَنْ أَحْمَدَ أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ ذَلِكَ؟ فَقَالَ: إِنْ شَاءَ قَالَهُ، وَلَا نَدْرِي
أَكَانَ ذَلِكَ قِرَاءَةً مِنْ أَبِي بَكْرٍ، أَوْ دُعَاءً؟ فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى
أَنَّهُ لَا بَأْسَ بِذَلِكَ؛ لِأَنَّهُ دُعَاءٌ فِي الصَّلَاةِ، فَلَمْ يُكْرَهْ،
كَالدُّعَاءِ فِي التَّشَهُّدِ". اهـ.
Dalil kami adalah: Hadits Abu Qatadah:
“Sesungguhnya
Nabi ﷺ membaca
pada sholat Dzuhur pada dua raka’at pertama dengan Ummul Kitab dan dua surat,
dan pada dua raka’at terakhir dengan Ummul Kitab, dan terkadang beliau
memperdengarkan kepada kami satu ayat.”
Umar juga menulis
surat kepada Syuraih: “Hendaklah engkau membaca pada dua raka’at pertama
Ummul Kitab dan satu surat, dan pada dua raka’at terakhir Ummul Kitab”.
Adapun perbuatan
Ash-Shiddiq rahimahullah, yang beliau maksudkan hanyalah doa, bukan bacaan,
agar sesuai dengan perbuatan Nabi ﷺ dan para sahabat beliau yang lainnya. Seandainya pun
diasumsikan bahwa beliau bermaksud membacanya sebagai bacaan surat, maka hal
itu berarti tidak mewajibkan untuk meninggalkan Hadits Nabi ﷺ dan
perbuatan beliau.
Selain itu, telah
disebutkan pendapat Umar dan selainnya dari kalangan sahabat yang menyelisihi
hal tersebut.
Adapun jika
seseorang berdoa pada raka’at terakhir dengan satu ayat Al-Qur’an sebagaimana
yang dilakukan oleh Ash-Shiddiq, maka telah diriwayatkan dari Ahmad bahwa
beliau ditanya tentang hal itu?.
Beliau menjawab: Jika
ia mau, silakan mengucapkannya. Dan kami tidak mengetahui apakah itu merupakan
bacaan dari Abu Bakar atau doa.
Ini menunjukkan
bahwa hal tersebut tidak mengapa, karena itu adalah doa dalam sholat, sehingga
tidak dimakruhkan, sebagaimana doa dalam tasyahud. [Selesai].
Berdoa dengan ayat
ini tidak termasuk qunut nazilah, karena di dalamnya tidak terdapat doa untuk
mengangkat suatu musibah tertentu. An-Nawawi berkata dalam Minhaj Ath-Thalibin:
Disyariatkan qunut pada seluruh sholat wajib ketika terjadi musibah. Selesai.
Asy-Syarwani, ulama
madzhab Syafi’i dari kalangan muta’akhkhirin, berkata dalam Hasyiyah Tuhfatul
Muhtaj 2/68:
(لِلنَّازِلَةِ) أَيْ لِرَفْعِهَا
Yang dimaksud dengan
“karena musibah” yaitu untuk mengangkat musibah tersebut. [Selesai].
===
Ringkasnya Masalah ini memiliki beberapa pendapat di kalangan para ulama.
[1] Pendapat yang nampak lebih mendekati kebenaran adalah bahwa Nabi ﷺ
terkadang membaca bacaan tambahan pada dua raka’at terakhir. Maka perbuatan Abu
Bakar dipahami dalam konteks ini. Ini termasuk salah satu dalil yang digunakan
oleh Asy-Syafi‘i rahimahullah ta‘ala.
[2] Sebagian ulama menafsirkan atsar ini bahwa yang dilakukan Abu Bakar
termasuk dalam kategori doa dan qunut, bukan dalam kategori bacaan Al-Qur’an.
[3] Sementara sebagian ulama lainnya menjadikannya sebagai dalil
disyariatkannya menambah bacaan selain Al-Fatihah pada raka’at selain dua raka’at
pertama.
[4] Sebagian yang lain menolak adanya bacaan lain selain al-Fatihah dalam
raka’at ketiga dan keempat.
===***===
TARJIH :
Dalam masalah ini,
pendapat Imam asy-Syafi‘i adalah yang lebih kuat berdasarkan dalil-dalil lain,
seperti riwayat yang dibawakan oleh Muslim no. 156 –(452) dan selainnya dari
Abu Sa‘id al-Khudri. Ia berkata:
«كُنَّا نَحْزِرُ قِيَامَ رَسُولِ اللهِ
ﷺ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ فَحَزَرْنَا قِيَامَهُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ
مِنَ الظُّهْرِ قَدْرَ قِرَاءَةِ الم تَنْزِيلُ السَّجْدَةِ وَحَزَرْنَا قِيَامَهُ
فِي الْأُخْرَيَيْنِ قَدْرَ النِّصْفِ مِنْ ذَلِكَ، وَحَزَرْنَا قِيَامَهُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ
الْأُولَيَيْنِ مِنَ الْعَصْرِ عَلَى قَدْرِ قِيَامِهِ فِي الْأُخْرَيَيْنِ مِنَ الظُّهْرِ
وَفِي الْأُخْرَيَيْنِ مِنَ الْعَصْرِ عَلَى النِّصْفِ مِنْ ذَلِكَ»
Kami memperkirakan
lamanya berdiri Rasulullah ﷺ dalam salat Zuhur dan Asar. Kami memperkirakan bahwa lamanya
berdiri beliau pada dua raka’at pertama salat Zuhur seukuran bacaan surat Alif
Lam Mim Tanzil as-Sajdah, dan kami memperkirakan lamanya berdiri beliau pada
dua raka’at terakhir seukuran setengah dari itu.
Kami juga memperkirakan
lamanya berdiri beliau pada dua raka’at pertama salat Asar seukuran lamanya
berdiri beliau pada dua raka’at terakhir salat Zuhur, dan pada dua raka’at
terakhir salat Asar seukuran setengah dari itu”. [Selesai]
Lafadz lain dari Imam
Muslim no. 157 -(452) dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu:
«أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَقْرَأُ فِي صَلَاةِ
الظُّهْرِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ قَدْرَ ثَلَاثِينَ
آيَةً، وَفِي الْأُخْرَيَيْنِ قَدْرَ خَمْسَ عَشْرَةَ آيَةً».
-أَوْ
قَالَ: «نِصْفَ ذَلِكَ - وَفِي الْعَصْرِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ فِي كُلِّ
رَكْعَةٍ قَدْرَ قِرَاءَةِ خَمْسَ عَشْرَةَ آيَةً وَفِي الْأُخْرَيَيْنِ قَدْرَ نِصْفِ
ذَلِكَ».
“Bahwa Nabi ﷺ biasa
membaca dalam sholat Dzuhur pada dua raka’at pertama, pada setiap raka’at
kira-kira sepanjang tiga puluh ayat, dan pada dua raka’at terakhir kira-kira
lima belas ayat”. Atau dia berkata setengah dari itu.
Dan dalam sholat Ashar,
pada dua raka’at pertama, pada setiap raka’at kira-kira sepanjang bacaan lima
belas ayat, dan pada dua raka’at terakhir kira-kira setengah dari itu”. [Selesai]
Hal ini jelas
menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ menambah bacaan al-Qur’an selain Al-Fatihah pada dua raka’at
terakhir.
Syekh al-Albani
rahimahullah berkata:
وَفِي الْحَدِيثِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ
الزِّيَادَةَ عَلَى الْفَاتِحَةِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأَخِيرَتَيْنِ سُنَّةٌ، وَعَلَيْهِ
جَمْعٌ مِنَ الصَّحَابَةِ، مِنْهُمْ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ،
وَهُوَ قَوْلُ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ سَوَاءً كَانَ ذَلِكَ فِي الظُّهْرِ أَوْ غَيْرِهَا،
وَأُخِذَ بِهِ مِنْ عُلَمَائِنَا الْمُتَأَخِّرِينَ أَبُو الْحَسَنَاتِ اللَّكْنَوِيُّ
…
“Dalam Hadits ini
terdapat dalil bahwa menambah bacaan selain al-Fatihah pada dua raka’at
terakhir adalah sunnah.
Pendapat ini dianut
oleh sejumlah sahabat, di antaranya Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.
Ini juga merupakan
pendapat Imam asy-Syafi‘i, baik itu pada sholat Dzuhur maupun selainnya.
Pendapat ini juga diambil oleh sebagian ulama kami dari kalangan
muta’akhkhirin, yaitu Abu al-Hasanat al-Laknawi …”. (Selesai). [Dinukil dari
kitab Shifat ash-Shalah, hal. 113].
Dan Syekh Ibnu
‘Utsaimin ditanya:
“Apabila seorang
makmum dalam sholat sirriyyah (salat yang bacaannya pelan) telah selesai
membaca al-Fatihah dan surat, sementara imam belum rukuk, apakah ia diam?”
Beliau menjawab:
لَا يَسْكُتُ الْمَأْمُومُ إِذَا فَرَغَ
مِنْ قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ وَسُورَةٍ قَبْلَ أَنْ يَرْكَعَ الْإِمَامُ، بَلْ يَقْرَأُ
حَتَّى يَرْكَعَ الْإِمَامُ، حَتَّى لَوْ كَانَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ بَعْدَ
التَّشَهُّدِ الْأَوَّلِ وَانْتَهَى مِنَ الْفَاتِحَةِ وَلَمْ يَرْكَعِ الْإِمَامُ
فَإِنَّهُ يَقْرَأُ سُورَةً أُخْرَى حَتَّى يَرْكَعَ الْإِمَامُ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ
فِي الصَّلَاةِ سُكُوتٌ إِلَّا فِي حَالِ اسْتِمَاعِ الْمَأْمُومِ لِقِرَاءَةِ إِمَامِهِ.
انْتَهَى.
“Makmum tidak boleh
diam apabila telah selesai membaca al-Fatihah dan surat sebelum imam rukuk.
Akan tetapi ia terus membaca sampai imam rukuk.
Bahkan meskipun
itu pada dua raka’at setelah tasyahud awal, dan ia
telah selesai membaca al-Fatihah sementara imam belum rukuk, maka ia membaca
surat yang lain sampai imam rukuk. Karena dalam sholat tidak ada waktu diam,
kecuali ketika makmum sedang mendengarkan bacaan imamnya.” (Selesai). [Dinukil
dari Majmu‘ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin, 15/108].
0 Komentar