Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

BAL’AM BIN BA’URA DAN KEMUSTAJABAN DO’A-NYA. DIA MUSUH NABI MUSA & BANI ISRAIL.

 BAL’AM BIN BA’URA DAN KEMUSTAJABAN DO’A-NYA. DIA MUSUH NABI MUSA DAN BANI ISRAIL

----

Di Susun Oleh Kang Oji

KAJIAN NIDA AL-ISLAM

 ---

----

DAFTAR ISI:

  • AYAT: 175-177 DARI SURAT AL-A’RAF. TERKAIT KISAH BAL'AM BIN BA'URA
  • SYARAH DAN TAFSIR AYAT-AYAT DIATAS:
  • NAMA SOSOK YANG DIMAKSUD DALAM AYAT
  • KEMUSTAJABAN DOA BAL’AM BIN BA’URA
  • BAL’AM MENGETAHUI ISMULLAH AL-A’DZOM
  • BAL’AM DAN KAUMNYA ADALAH MUSUH NABI MUSA DAN BANI ISRAIL
  • JALANNYA PEPERANGAN ANTARA BAL’AM DAN KAUMNYA MELAWAN NABI MUSA DAN BANI ISRAIL
  • PERBUATAN BAL'AM SEPERTI ANJING YANG MENJULURKAN LIDAH-NYA
  • MANUSIA TERBURUK ADALAH YANG MENDUSTAKAN AYAT-AYAT ALLAH. MAKA DIA SEPERTI ANJING.

 ****

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

===***===

AYAT 175-177 DARI SURAT AL-A’RAF, TERKAIT KISAH BAL'AM BIN BA'URA

﴿وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ (175)

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (176)

سَاءَ مَثَلا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ (177)﴾

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu meng­halaunya diulurkannya lidahnya, dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga).

Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim. [QS. Al-A'raf, ayat 175-177]

***===***===***

SYARAH DAN TAFSIR AYAT-AYAT DIATAS:

===***===

NAMA SOSOK YANG DIMAKSUD DALAM AYAT

Abdur Razzaq telah meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas'ud (radhiyallahu ‘anhu) sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al­Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu. (Al-A’raf: 175), hingga akhir ayat, dia berkata:

«‌هُوَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ، يُقَالُ لَهُ: بَلْعَمُ بْنُ بَاعُورَاءَ».

Dia adalah seorang lelaki dari kalangan Bani Israil, dikenal dengan nama panggilan :

“BAL'AM BIN BA'URA”.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Syu'bah dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang, dari Mansur, dengan sanad yang sama. [Lihat Tafsir ath-Thabari 6/119 dan Tafsir Bin Katsir 3/457]

Sa'id bin Abu Arubah mengatakan dari Qatadah, dari Bin Abbas : Bahwa lelaki tersebut bernama “Saifi bin ar-Rahib”.

Qatadah mengatakan, Ka'b pernah menceritakan :

كَانَ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ الْبَلْقَاءِ وَكَانَ يَعْلَمُ الِاسْمَ الْأَكْبَرَ وَكَانَ مُقِيمًا بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ مَعَ الْجَبَّارِينَ

“Bahwa dia adalah seorang telaki dari kalangan penduduk Al-Balqa, mengetahui tentang Ismul Akbar, dan tinggal di Baitul Maqdis dengan orang-orang yang angkara murka”.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Bin Abbas (radhiyallahu ‘anhuma) :

«‌هُوَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ يُقَالُ لَهُ بَلْعَمُ آتَاهُ اللَّهُ آيَاتِهِ فَتَرَكَهَا»

“ Bahwa dia adalah seorang lelaki dari kalangan penduduk negeri Yaman, dikenal dengan nama Bal'am; ia dianugerahi pengetahuan tentang isi Al-Kitab, tetapi ia meninggalkannya”.

Malik bin Dinar mengatakan :

«‌كَانَ مِنْ عُلَمَاءِ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَكَانَ مُجَابَ الدَّعْوَةِ يُقَدِّمُونَهُ فِي الشَّدَائِدِ بَعَثَهُ نبي الله موسى عليه السلام إِلَى مَلِكِ مَدْيَنَ يَدْعُوهُ إِلَى اللَّهِ فَأَقْطَعُهُ وَأَعْطَاهُ فَتَبِعَ دِينَهُ وَتَرَكَ دِينَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ»

“Bahwa orang itu adalah salah seorang ulama Bani Israil, terkenal sebagai orang yang mustajab doanya; mereka datang kepadanya di saat-saat kesulitan. Kemudian Nabi Musa ‘alaihis salam mengutusnya ke raja negeri Madyan untuk menyerukan agar menyembah Allah. Tetapi Raja Madyan memberinya sebagian dari wilayah kekuasa­annya dan memberinya banyak hadiah. Akhirnya ia mengikuti agama raja dan meninggalkan agama Nabi Musa ‘alaihis salam.

Sufyan bin Uyaynah telah meriwayatkan dari Husain, dari Imran binl Haris, dari Bin Abbas, bahwa orang tersebut adalah Bal'am bin Ba'ura.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid dan Ikrimah.

Bin Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Haris, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Mugirah, dari Mujahid, dari Bin Abbas yang mengatakan :

«‌هُوَ بِلْعَامُ وَقَالَتْ ثَقِيفٌ: هُوَ أُمَيَّةُ بْنُ أَبِي الصَّلْتِ»

“ Bahwa orang tersebut bernama Bal'am. Sedangkan menurut Saqif, dia adalah Umayyah bin Abu Shilt”. [Tafsir Bin Katsir 3/457 cet. Dar al-Kutub al-Ilmiyah]

Syu'bah telah meriwayatkan dari Ya'la bin Ata, dari Nafi’ bin Asim, dari Abdullah bin Amr sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami beri­kan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab). (Al-A'raf: 175), hingga akhir ayat:

«‌هُوَ صَاحِبُكُمْ أُمَيَّةُ بْنُ أَبِي الصَّلْتِ»

“Bahwa dia adalah teman kalian sendiri, yaitu Umayyah bin Abu Shilt”. [Tafsir Ath-Thabari 6/120]

Al-Hafidz Bin Katsir dalam Tafsirnya 3/457 berkata:

وَقَدْ رُوِيَ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ عَنْهُ، وَهُوَ صَحِيحٌ إِلَيْهِ، وَكَأَنَّهُ إِنَّمَا أَرَادَ أَنَّ أُمَيَّةَ بْنَ أَبِي الصَّلْتِ يُشْبِهُهُ، فَإِنَّهُ كَانَ قَدِ اتَّصَلَ إِلَيْهِ عِلْمٌ كَثِيرٌ مِنْ عِلْمِ الشَّرَائِعِ الْمُتَقَدِّمَةِ، وَلَكِنَّهُ لَمْ يَنْتَفِعْ بِعِلْمِهِ، فَإِنَّهُ أَدْرَكَ زَمَانَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَبَلَغَتْهُ أَعْلَامُهُ وَآيَاتُهُ وَمُعْجِزَاتُهُ، وَظَهَرَتْ لِكُلِّ مَنْ لَهُ بَصِيرَةٌ، وَمَعَ هَذَا اجْتَمَعَ بِهِ وَلَمْ يَتَّبِعْهُ، وَصَارَ إِلَى مُوَالَاةِ الْمُشْرِكِينَ وَمُنَاصَرَتِهِمْ وَامْتِدَاحِهِمْ، وَرَثَى أَهْلَ بَدْرٍ مِنَ الْمُشْرِكِينَ بِمَرْثَاةٍ بَلِيغَةٍ، قَبَّحَهُ اللَّهُ. وَقَدْ جَاءَ فِي بَعْضِ الْأَحَادِيثِ أَنَّهُ مِمَّنْ آمَنَ لِسَانُهُ وَلَمْ يُؤْمِنْ قَلْبُهُ، فَإِنَّ لَهُ أَشْعَارًا رَبَّانِيَّةً وَحِكَمًا وَفَصَاحَةً، وَلَكِنَّهُ لَمْ يَشْرَحِ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ.

Hal ini telah diriwayatkan melalui berbagai jalur dari Abdullah bin Amr, dan predikat sanadnya sahih sampai kepadanya. Seakan-akan ia hanya bermaksud bahwa Umayyah bin Abus Shilt mirip dengan orang yang disebutkan dalam ayat ini, karena sesungguhnya ia telah banyak menerima ilmu syariat-syariat terdahulu, tetapi tidak dimanfaatkannya.

Dia sempat menjumpai masa Nabi dan telah sampai kepadanya tanda-tanda, alamat-alamat, dan mukjizat-mukjizatnya, sehingga tampak jelas bagi semua orang yang mempunyai pandangan mata hati. Tetapi sekalipun menjumpainya, namun ia tidak juga mau mengikuti agamanya, bahkan dia berpihak dengan orang-orang musyrik dan membantu serta memuji mereka. Bahkan dia mengungkapkan rasa (bela sungkawa dalam bentuk syair)nya atas kematian kaum musyrik yang gugur dalam Perang Badar, hal ini ia ungkapkan dengan bahasa yang berparamasastra; semoga Allah melaknatnya.

Di dalam sebagian hadits disebutkan bahwa dia termasuk orang yang lisannya beriman, tetapi hatinya tidak beriman alias munafik; karena sesungguhnya dia mempunyai banyak syair yang mengandung makna ketuhanan, kata-kata bijak, dan fasih, tetapi Allah; tidak melapangkan dadanya untuk masuk Islam”. [Selesai]

===***===

KEMUSTAJABAN DOA BAL’AM BIN BA’URA

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayah­ku, telah menceritakan kepada kami Bin Abu Namir, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Sa'id Al-A'war, dari Ikrimah, dari Bin Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al­Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu (Al-A'raf: 175)”, dia berkata:

«هُوَ رَجُلٌ أُعْطِيَ ثَلَاثَ دَعَوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُ فِيهِنَّ، وَكَانَتْ لَهُ امْرَأَةٌ لَهُ مِنْهَا وَلَدٌ، فَقَالَتْ: اجْعَلْ لِي مِنْهَا وَاحِدَةً. قَالَ: فَلَكِ وَاحِدَةٌ، فَمَا الَّذِي تُرِيدِينَ؟ قَالَتْ: ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي أَجْمَلَ امْرَأَةٍ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ. فَدَعَا اللَّهَ، فَجَعَلَهَا أَجْمَلَ امْرَأَةٍ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ. فَلَمَّا عَلِمَتْ أَنَّهُ لَيْسَ فِيهِمْ مِثْلُهَا رَغِبَتْ عَنْهُ، وَأَرَادَتْ شَيْئًا آخَرَ، فَدَعَا اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَهَا كَلْبَةً، فَصَارَتْ كَلْبَةً، فَذَهَبَتْ دَعْوَتَانِ. فَجَاءَ بَنُوهَا فَقَالُوا: لَيْسَ بِنَا عَلَى هَذَا قَرَارٌ، قَدْ صَارَتْ أُمُّنَا كَلْبَةً يُعَيِّرُنَا النَّاسُ بِهَا، فَادْعُ اللَّهَ أَنْ يَرُدَّهَا إِلَى الْحَالِ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهَا. فَدَعَا اللَّهَ فَعَادَتْ كَمَا كَانَتْ، وَذَهَبَتِ الدَّعَوَاتُ الثَّلَاثُ، وَتُسَمَّى الْبَسُوسُ»

“Bahwa dia adalah seorang lelaki yang dianugerahi tiga doa mustajab, dan ia mempunyai seorang istri yang memberinya seorang anak laki-laki. Lalu istrinya berkata, "Berikanlah sebuah doa darinya untukku."

Ia menjawab, "Saya berikan satu doa kepadamu, apakah yang kamu kehendaki?"

Si istri menjawab, "Berdoalah kepada Allah semoga Dia menjadikan diriku wanita yang tercantik di kalangan Bani Israil."

Maka lelaki itu berdoa kepada Allah, lalu Allah menjadikan istrinya seorang wanita yang tercantik di kalangan kaum Bani Israil. Setelah si istri mengetahui bahwa dirinyalah yang paling cantik di kalangan mereka tanpa tandingan, maka ia membenci suaminya dan menghendaki hal yang lain.

Akhirnya si lelaki berdoa kepada Allah agar menjadikan istrinya seekor anjing betina, akhirnya jadilah istrinya seekor anjing betina.

Dua doanya telah hilang. Kemudian datanglah anak-anaknya, lalu mereka mengatakan, "Kami tidak dapat hidup tenang lagi, karena ibu kami telah menjadi anjing betina sehingga menjadi cercaan orang-orang. Maka doakanlah kepada Allah semoga Dia mengembalikan ibu kami seperti sediakala."

Maka lelaki itu berdoa kepada Allah, lalu kembalilah ujud istrinya seperti keadaan semula. Dengan demikian, ketiga doa yang mustajab itu telah lenyap darinya, kemudian wanita itu diberi nama Al Basus”.  

Bin Katsir berkata : “Atsar ini gharib”.

[Lihat: Tafsir Bin Katsir 3/457. Lihat pula: Ad-Durr Al-Mantsur 3/266].

Adapun asar yang termasyhur yang melatarbelakangi turunnya ayat yang mulia ini hanyalah menceritakan perihal seorang lelaki di masa dahulu, yaitu di zaman kaum Bani Israil, seperti yang telah disebutkan oleh Bin Mas'ud dan lain-lainnya dari kalangan ulama Salaf.

****

BAL’AM MENGETAHUI ISMULLAH AL-A’DZOM
(Nama Allah Yang Paling Agung)

Ibnu Asakir mengatakan:

«وَهُوَ الَّذِي كَانَ يَعْرِفُ اسْمَ اللَّهِ الْأَعْظَمَ، فَانْسَلَخَ مِنْ دِينِهِ، لَهُ ذِكْرٌ فِي الْقُرْآنِ، ثُمَّ أَوْرَدَ مِنْ قِصَّتِهِ نَحْوًا مِمَّا ذَكَرْنَاهُ هَاهُنَا، أَوْرَدَهُ عَنْ وَهْبٍ وَغَيْرِهِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ».

bahwa dialah orang yang mengetahui Ismul A’dzom, lalu ia murtad dari agamanya; kisahnya disebutkan di dalam Al-Qur'an. Kemudian sebagian dari kisahnya adalah seperti yang telah disebutkan di atas, bersumberkan dari Wahb dan lain-lainnya. [Lihat Tafsir Bin Katsir 3/460]

Ali bin Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas:

«هُوَ رَجُلٌ مِنْ مَدِينَةِ الْجَبَّارِينَ يُقَالُ لَهُ بَلْعَامُ وَكَانَ يَعْلَمُ اسْمَ اللَّهِ الْأَكْبَرَ»

“Bahwa dia adalah seorang lelaki dari kota orang-orang yang gagah perkasa, dikenal dengan nama Bal'am. Dia mengetahui Asma Allah Yang Mahabesar”.

Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam dan lain-lainnya dari kalangan ulama Salaf mengatakan:

«كان مُجَابَ الدَّعْوَةِ وَلَا يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ»

Bahwa doa lelaki tersebut mustajab; tidak sekali-kali ia memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Allah mem­berikan kepadanya apa yang dimintanya itu.

Pendapat yang sangat jauh dari kebenaran - bahkan sangat keliru - ialah yang mengatakan bahwa lelaki itu telah diberi kenabian, lalu ia melepaskan kenabiannya itu. Demikianlah menurut riwayat Bin Jarir, dari sebagian di antara mereka (ulama), tetapi tidak sahih.

[Lihat: Tafsir Bin Katsir 3/457. Lihat pula: Ad-Durr Al-Mantsur 3/266].

===***===

BAL’AM DAN KAUMNYA ADALAH MUSUH NABI MUSA DAN BANI ISRAIL

Ali bin Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas:

«لَمَّا نَزَلَ مُوسَى بِهِمْ يَعْنِي بِالْجَبَّارِينَ وَمَنْ مَعَهُ أَتَاهُ - يَعْنِي بَلْعَمَ - أَتَاهُ بَنُو عَمِّهِ وَقَوْمُهُ، فَقَالُوا: إِنَّ مُوسَى رَجُلٌ حَدِيدٌ، وَمَعَهُ جُنُودٌ كَثِيرَةٌ، وَإِنَّهُ إِنْ يَظْهَرْ عَلَيْنَا يُهْلِكْنَا، فَادْعُ اللَّهَ أَنْ يَرُدَّ عَنَّا مُوسَى وَمَنْ مَعَهُ، قَالَ: إِنِّي إِنْ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يَرُدَّ مُوسَى وَمَنْ مَعَهُ ذَهَبَتْ دُنْيَايَ وَآخِرَتِي، فَلَمْ يَزَالُوا بِهِ حَتَّى دَعَا عَلَيْهِمْ، فَسَلَخَهُ اللَّهُ مَا كَانَ عَلَيْهِ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ﴾ الْآيَةُ».

“Bahwa ketika Nabi Musa dan orang-orang yang bersamanya turun istirahat di tempat mereka (yakni negeri orang-orang yang gagah perkasa), maka Bal'am (yang bertempat tinggal di negeri itu) kedatangan anak-anak pamannya dan kaumnya.

Lalu mereka berkata : "Sesungguhnya Musa adalah seorang lelaki yang sangat perkasa dan mempunyai bala tentara yang banyak. Sesungguhnya dia jika menang atas kita, niscaya dia akan membinasakan kita. Maka berdoalah kepada Allah, semoga Dia mengusir Musa dan bala tentaranya dari kita”.

Bal'am menjawab, "Sesungguhnya jika aku berdoa kepada Allah memohon agar Musa dan orang-orang yang bersamanya dikembalikan, niscaya akan lenyaplah dunia dan akhiratku."

Mereka terus mendesaknya hingga akhirnya Bal'am mau berdoa. Maka Allah melucuti apa yang ada pada dirinya. Yang demikian itu disebutkan oleh firman-Nya:

“Kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai ia tergoda). (Al-A'raf: 175), hingga akhir ayat. [Lihat Tafsir Ath-Thobari 6/122].

As-Saddi mengatakan bahwa setelah selesai masa empat puluh tahun, seperti apa yang disebutkan di dalam firman Nya : maka sesungguhnya negeri ini diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun (QS. Al-Maidah: 26); Maka Allah mengutus Yusya' bin Nun sebagai seorang nabi, lalu Yusya' menyeru kaum Bani Israil (untuk menyembah Allah) dan memberitahukan kepada mereka bahwa dirinya adalah seorang nabi, dan Allah telah memerintahkannya agar memerangi orang-orang yang gagah perkasa. Lalu mereka berbaiat kepadanya dan mempercayainya .

Kemudian ada seorang lelaki dari kalangan Bani Israil yang dikenal dengan nama Bal'am berangkat dan menemui orang-orang yang gagah perkasa. Dia adalah orang yang mengetahui tentang Ismul A’dzom yang rahasia (apabila dibaca, maka semua permintaannya dikabulkan seketika). Tetapi ia kafir dan berkata kepada orang-orang yang gagah perkasa :

"Janganlah kalian takut kepada Bani Israil. Karena sesungguh­nya jika kalian berangkat untuk memerangi mereka, maka saya akan mendoakan untuk kehancuran mereka, dan akhirnya mereka pasti hancur."

Bal'am hidup di kalangan mereka dengan mendapatkan semua perkara duniawi yang dikehendakinya, hanya saja dia tidak dapat berhubungan dengan wanita karena wanita orang-orang yang gagah perkasa itu terlalu besar baginya. Maka Bal'am hanya dapat menggauli keledainya.

Kisah inilah yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya: kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu (Al-A'raf: I75).

[Lihat: Tafsir Ath-Thobari 6/122 dan Tafsir Bin Katsir 3/458]

Firman Allah Swt.:

﴿فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ﴾

Lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda)”. (Al-A'raf: 175)

Artinya, setan telah menguasai dirinya dan urusannya; sehingga apabila setan menganjurkan sesuatu kepadanya, maka ia langsung mengerjakan dan menaatinya. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan :

﴿فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ﴾

makajadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. (Al-A'raf: 175)

Ia termasuk orang-orang yang binasa, bingung, dan sesat.

Sehubungan dengan makna ayat ini terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hafidz

Abu Ya'la Al-Mausuli di dalam kitab Musnad-nya. Disebutkan bahwa: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Marzuq, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakar, dari As-Shilt bin Bahram, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan, telah menceritakan kepada kami Jundub Al-Jabali di masjid ini; Huzaifah binl Yaman (radhiyallahu ‘anhu) pernah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah telah bersabda:

«أَنَّ مِمَّا أَتَخَوَّفُ عَلَيْكُمْ رَجُلٌ قَرَأَ الْقُرْآنَ، حَتَّى إِذَا رُؤِيَتْ بَهْجَتُهُ عَلَيْهِ، وَكَانَ رِدْءًا لِلْإِسْلَامِ، اعْتَرَاهُ إِلَى مَا شَاءَ اللَّهُ، انْسَلَخَ مِنْهُ، وَنَبَذَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ، وَسَعَى عَلَى جَارِهِ بِالسَّيْفِ، وَرَمَاهُ بِالشِّرْكِ».

قَالَ: قُلْتُ: "يَا نَبِيَّ اللَّهِ، أَيُّهُمَا أَوْلَى بِالشِّرْكِ: الْمَرْمِيُّ أَوِ الرَّامِي؟". قَالَ: «بَلِ الرَّامِي».

Sesungguhnya di antara hal yang saya takutkan terhadap kalian ialah seorang lelaki yang pandai membaca Al-Qur’an, hingga manakala keindahan Al-Qur’an telah dapat diresapinya dan Islam adalah sikap dan perbuatannya, lalu ia tertimpa sesuatu yang dikehendaki oleh Allah, maka ia melepaskan diri dari Al-Qur’an. Dan Al-Qur'an ia lemparkan di belakang punggungnya (tidak diamalkannya), lalu ia menyerang tetangganya dengan senjata dan menuduhnya telah musyrik.

Huzaifah binl Yaman bertanya, "Wahai Nabi Allah, manakah di antara keduanya yang lebih musyrik, orang yang dituduhnya ataukah si penuduhnya?"

Rasulullah menjawab, "Tidak, bahkan si penuduhlah (yang lebih utama untuk dikatakan musyrik)."

[Abu Ya'la Al-Mausuli dalam Musnad-nya (Tafsir Bin Katsir 3/509) dan Al-Bazzar dalam Musnadnya no. (175)].

Predikat hadits :

Al-Haitsami berkata dalam Al-Majma' (1/188): “Sanadnya hasan”.

Dan Bin Katsir berkata: “Sanad hadis ini berpredikat jayyid”. (Tafsir Bin Katsir 3/509)

====

Firman Allah Swt.:


﴿وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ﴾

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah. (Al-A'raf: 176)

Sedangkan firman Allah Swt.:

﴿وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا﴾

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu. (Al-A'raf: 176)

Maksudnya, niscaya Kami mengangkatnya dari pencemaran kekotoran duniawi dengan ayat-ayat yang telah Kami berikan kepadanya.

﴿وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ﴾

Tetapi dia cenderung kepada dunia”. (Al-A'raf: 176)

Yakni cenderung kepada perhiasan kehidupan dunia dan kegemerlapannya. Dia lebih menyukai kelezatan, kenikmatan, dan bujuk rayunya. Dia teperdaya oleh kesenangan duniawi sebagaimana teperdaya orang-orang yang tidak mempunyai pandangan hati dan akal.

Abu Rahawaih telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: “tetapi dia cenderung kepada dunia” (Al-A'raf: 176):

تَرَاءَى لَهُ الشَّيْطَانُ عَلَى عُلْوَةٍ مِنْ قَنْطَرَةِ بَانْيَاسَ، فَسَجَدَتِ الْحِمَارَةُ لِلَّهِ، وَسَجَدَ بَلْعَامُ لِلشَّيْطَانِ، وَكَذَا قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ وَغَيْرُ وَاحِدٍ.

“Bahwa setan menampakkan dirinya kepada dia di atas ketinggian sebuah jembatan di Banias, lalu keledai yang dinaikinya bersujud kepada Allah, tetapi dia sendiri (yakni Bal'am) sujud kepada setan itu. Hal yang sama telah dikatakan oleh Abdur Rahman bin Jubair bin Mafir dan ulama lainnya yang bukan hanya seorang”. [Tafsir Bin Katsir 3/459]

Dan Imam Abu Ja‘far bin Jarir ath-Thobari rahimahullah dalam Tafsir-nya 6/123-124 berkata:

“Di antara kisah orang ini adalah apa yang telah diceritakan kepada kami oleh Muhammad bin ‘Abdil A‘la, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Mu‘tamir dari ayahnya, bahwa ia ditanya tentang ayat ini: ‘Dan bacakanlah kepada mereka kisah orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami’ (Al-A'raf: 175), lalu ia menceritakan dari Sayyar.”

«أَنَّهُ كَانَ رَجُلًا يُقَالُ له بلعام وَكَانَ مُجَابَ الدَّعْوَةِ، قَالَ: وَإِنَّ مُوسَى أَقْبَلَ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ يُرِيدُ الْأَرْضَ الَّتِي فِيهَا بَلْعَامُ أَوْ قَالَ: الشَّامَ قَالَ: فَرُعِبَ النَّاسُ منه رعبا شديدا فَأَتَوْا بَلْعَامَ فَقَالُوا: ادْعُ اللَّهَ عَلَى هَذَا الرجل وجيشه، قال حتى أؤامر ربي أو حتى أؤامر، قال فآمر فِي الدُّعَاءِ عَلَيْهِمْ فَقِيلَ لَهُ لَا تَدْعُ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادِي وَفِيهِمْ نَبِيُّهُمْ.

قَالَ: فَقَالَ لِقَوْمِهِ إِنِّي قَدْ آمَرْتُ رَبِّي فِي الدُّعَاءِ عَلَيْهِمْ وَإِنِّي قَدْ نُهِيتُ فَأَهْدَوْا لَهُ هَدِيَّةً فَقَبِلَهَا ثُمَّ رَاجَعُوهُ فَقَالُوا: ادْعُ عَلَيْهِمْ فَقَالَ: حتى أؤامر ربي فأمر فلم يأمره بشيء فقال: قد وأمرت فلم يأمرني بشيء فَقَالُوا: لَوْ كَرِهَ رَبُّكَ أَنْ تَدْعُوَ عَلَيْهِمْ لَنَهَاكَ كَمَا نَهَاكَ الْمَرَّةَ الْأُولَى، قَالَ: فَأَخَذَ يَدْعُو عَلَيْهِمْ فَإِذَا دَعَا عَلَيْهِمْ جَرَى عَلَى لِسَانِهِ الدُّعَاءُ عَلَى قَوْمِهِ، وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ أَنْ يَفْتَحَ لِقَوْمِهِ دَعَا أَنْ يَفْتَحَ لموسى وجيشه أو نحوا من ذلك إن شاء الله، قال: فقالوا مَا نَرَاكَ تَدْعُو إِلَّا عَلَيْنَا، قَالَ: مَا يَجْرِي عَلَى لِسَانِي إِلَّا هَكَذَا وَلَوْ دَعَوْتُ عليه أيضا ما استجيب لي ولكن سَأَدُلُّكُمْ عَلَى أَمْرٍ عَسَى أَنْ يَكُونَ فِيهِ هَلَاكُهُمْ، إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ الزِّنَا وَإِنَّهُمْ إِنْ وقعوا في الزنا هَلَكُوا وَرَجَوْتُ أَنْ يُهْلِكَهُمُ اللَّهُ فَأَخْرِجُوا النِّسَاءَ تستقبلهم فَإِنَّهُمْ قَوْمٌ مُسَافِرُونَ فَعَسَى أَنْ يَزْنُوا فَيَهْلَكُوا.

قال: ففعلوا فأخرجوا النساء تستقبلهم قَالَ وَكَانَ لِلْمَلِكِ ابْنَةٌ فَذَكَرَ مِنْ عِظَمِهَا ما الله أعلم به فقال: فَقَالَ أَبُوهَا أَوْ بَلْعَامُ لَا تُمَكِّنِي نَفْسَكِ إِلَّا مِنْ مُوسَى، قَالَ: وَوَقَعُوا فِي الزِّنَا قال: فأتاها رأس سبط من أسباط بني إسرائيل فَأَرَادَهَا عَلَى نَفْسِهِ، فَقَالَتْ: مَا أَنَا بِمُمَكِّنَةِ نفسي إلا من موسى فقال إن منزلتي كذا وكذا وإن في حالي كذا وكذا فَأَرْسَلَتْ إِلَى أَبِيهَا تَسْتَأْمِرُهُ قَالَ فَقَالَ لَهَا: مكنيه قَالَ وَيَأْتِيهِمَا رَجُلٌ مِنْ بَنِي هَارُونَ وَمَعَهُ الرُّمْحُ فَيَطْعَنُهُمَا. قَالَ: وَأَيَّدَهُ اللَّهُ بِقُوَّةٍ فَانْتَظَمَهُمَا جَمِيعًا وَرَفَعَهُمَا عَلَى رُمْحِهِ فَرَآهُمَا النَّاسُ- أَوْ كَمَا حَدَّثَ- قَالَ: وَسَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الطَّاعُونَ فَمَاتَ مِنْهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا»

“Bahwa dahulu kala ada seorang lelaki yang dikenal dengan nama Bal'am. Bal'am adalah orang yang doanya dikabulkan. Kemudian Nabi Musa berangkat dengan pasukan kaum Bani Israil menuju negeri tempat Bal'am berada, atau negeri Syam. Lalu penduduk negeri tersebut merasa sangat takut dan gentar terhadap Musa ‘alaihis salam.

Maka mereka mendatangi Bal'am dan mengatakan kepadanya, "Doakanlah kepada Allah untuk kehancuran lelaki ini (yakni Nabi Musa ‘alaihis salam) dan bala tentaranya."

Bal'am menjawab, "Tunggulah sampai aku meminta saran dari Tuhanku, atau aku diberi izin oleh-Nya."

Bal'am meminta saran dari Tuhannya dalam doanya yang memohon untuk kehancuran Musa dan pasukannya. Maka dijawab, "Janganlah kamu mendoakan buat kehancuran mereka, karena sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Ku, dan di antara mereka terdapat nabi mereka."

Maka Bal'am melapor kepada kaumnya, "Sesungguhnya aku telah meminta saran kepada Tuhanku dalam doaku yang memohon untuk kehancuran mereka, tetapi aku dilarang melakukannya.

Maka mereka memberikan suatu hadiah kepada Bal'am dan Bal'am menerimanya. Kemudian mereka kembali kepada Bal'am dan mengata­kan kepadanya, "Doakanlah untuk kehancuran mereka,"

Bal'am menjawab, 'Tunggulah, aku akan meminta saran kepada Tuhanku."

Lalu Bal’am meminta saran Kepada Nya, ternyata Dia tidak memerintahkan sesuatu pun kepadanya. Maka Bal'am berkata (kepada kaumnya), "Sesungguhnya aku telah meminta saran kepada Tuhanku, tetapi Dia tidak memerintahkan sesuatu pun kepadaku."

Kaumnya berkata, "Sekiranya Tuhanmu tidak suka engkau mendoa­kan untuk kehancuran mereka, niscaya Dia akan melarangmu pula sebagaimana Dia melarangmu pada pertama kalinya.”

Bal'am terpaksa berdoa untuk kebinasaan mereka. Tetapi apabila ia mendoakan untuk kehancuran mereka (Musa dan pasukannya), maka yang terucapkan oleh lisannya justru mendoakan untuk kehancuran kaumnya.

Dan apabila ia mendoakan untuk kemenangan kaumnya, justru lisannya mendoakan untuk kemenangan Musa dan pasukannya atau hal yang semacam itu, seperti apa yang dikehendaki oleh Allah.

Maka kaumnya berkata, "Kami tidak melihatmu berdoa melainkan hanya untuk kehancuran kami."

Bal'am menjawab, "Tiada yang terucap­kan oleh lisanku melainkan hanya itu. Sekiranya aku tetap mendoakan untuk kehancurannya, niscaya aku tidak diperkenankan. Tetapi aku akan menunjukkan kepada kalian suatu perkara yang mudah-mudahan dapat menghancurkan mereka. Sesungguhnya Allah murka terhadap perbuatan zina, dan sesungguhnya jika mereka terjerumus ke dalam perbuatan zina, niscaya mereka akan binasa; dan aku berharap semoga Allah membinasakan mereka melalui jalan ini."

Bal'am melanjutkan ucapannya, "Karena itu, keluarkanlah kaum wanita kalian untuk menyambut mereka. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang sedang musafir, mudah-mudahan saja mereka mau berzina sehingga binasalah mereka."

Kemudian mereka melakukan hal itu dan mengeluarkan kaum wanita mereka menyambut pasukan Nabi Musa (radhiyallahu ‘anhu) Tersebutlah bahwa raja mereka mempunyai seorang anak perempuan, perawi menyebutkan perihal kebesaran tubuhnya yang kenyataannya hanya Allah yang mengetahuinya.

Lalu ayahnya atau Bal'am berpesan kepadanya, "Janganlah engkau serahkan dirimu selain kepada Musa."

Akhirnya pasukan Bani Israil terjerumus ke dalam perbuatan zina. Kemudian datanglah kepada wanita tadi seorang pemimpin dari salah satu kabilah Bani Israil yang menginginkan dirinya.

Maka wanita itu berkata, "Saya tidak mau menyerahkan diri saya selain kepada Musa." Pemimpin suatu Kabilah menjawab “Sesungguhnya kedudukanmu adalah anu dan anu, dan keadaanku anu dan anu."

Akhirnya si wanita mengirim utusan kepada ayahnya meminta saran darinya. Maka ayahnya berkata kepadanya, "Serahkanlah dirimu kepadanya."

Lalu pemimpin kabilah itu menzinainya. Ketika mereka berdua sedang berzina, datanglah seorang lelaki dari Bani Harun seraya membawa tombak, lalu menusuk keduanya. Allah memberinya kekuatan yang dahsyat sehingga keduanya menjadi satu tersatekan oleh tombaknya, kemudian ia mengangkat keduanya dengan tombaknya itu, sehingga semua orang melihatnya. Maka Allah menimpakan penyakit tho’un kepada mereka, sehingga matilah tujuh puluh ribu orang dari kalangan pasukan Bani Israil. [Selesai]

Abul Mu'tamir mengatakan, Sayyar telah menceritakan kepadanya:

«أَنَّ بَلْعَامًا رَكِبَ حَمَّارَةً لَهُ حَتَّى أَتَى الْعُلُولَى، أَوْ قَالَ: طَرِيقًا مِنَ الْعُلُولَى، جَعَلَ يَضْرِبُهَا وَلَا تَتَقَدَّمُ، وَقَامَتْ عَلَيْهِ، فَقَالَتْ: عَلَامَ تَضْرِبُنِي؟ أَمَا تَرَى هَذَا الَّذِي بَيْنَ يَدَيْكَ؟ فَإِذَا الشَّيْطَانُ بَيْنَ يَدَيْهِ، قَالَ: فَنَزَلَ وَسَجَدَ لَهُ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا - إِلَى قَوْلِهِ - لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ﴾».

“Bahwa Bal'am mengendarai keledainya hingga sampai di suatu tempat yang dikenal dengan nama Al-Ma'luli atau suatu jalan yang menuju Al-Ma'luli. Lalu Bal'am memukuli keledainya, tetapi keledainya itu tidak mau maju, bahkan hanya berdiri saja di tempat. Lalu keledai itu berkata kepadanya, "Mengapa engkau terus memukuliku? Tidakkah engkau melihat apa yang ada di hadapanmu ini?"

Tiba-tiba setan menampakkan diri di hadapan Bal'am. Lalu Bal'am turun dan bersujud kepada setan itu. Inilah yang disebutkan oleh firman Allah Swt.: Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al­Kitab) kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu. (Al-A'raf: 175) sampai dengan firman-Nya: agar mereka berpikir. (Al-A'raf: 176)

Lalu Abul Mu’tamir berkata : Demikianlah yang diceritakan oleh Sayyar kepadaku, tetapi aku tidak tahu barangkali di dalamnya kemasukan sesuatu dari kisah lainnya.

Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata:

Menurut kami dia adalah Bal'am. Menurut suatu pendapat yaitu Bal'am Bin Ba'ura, menurut pendapat lainnya Bin Ibr, dan menurut pendapat yang lainnya dia adalah Bin Ba'ur bin Syahtum bin Qusytum bin Maab bin Lut bin Haran, sedangkan menurut pendapat yang lainnya lagi adalah Bin Haran bin Azar. Dia tinggal di suatu kampung yang berada di wilayah Al-Balqa. [Lihat Tafsir Bin Katsir 3/460]

===***===

JALANNYA PEPERANGAN ANTARA BAL’AM DAN KAUMNYA
MELAWAN NABI MUSA DAN BANI ISRAIL

Muhammad bin lshaq bin Yasar telah meriwayatkan dari Salim Abun Nadr; ia pernah menceritakan:

«أَنَّ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ لَمَّا نَزَلَ فِي أَرْضِ بَنِي كَنْعَانَ مِنْ أَرْضِ الشَّامِ، أَتَى قَوْمُ بَلْعَامَ إِلَيْهِ فَقَالُوا لَهُ: هَذَا مُوسَى بْنُ عِمْرَانَ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ قَدْ جَاءَ يُخْرِجُنَا مِنْ بِلَادِنَا وَيَقْتُلُنَا وَيُحِلُّهَا بَنِي إِسْرَائِيلَ، وَإِنَّا قَوْمُكَ وَلَيْسَ لَنَا مَنْزِلٌ وَأَنْتَ رَجُلٌ مُجَابُ الدَّعْوَةِ فَاخْرُجْ فَادْعُ اللَّهَ عَلَيْهِمْ،

قَالَ: وَيَلْكُمُ نَبِيُّ اللَّهِ مَعَهُ الْمَلَائِكَةُ وَالْمُؤْمِنُونَ كَيْفَ أَذْهَبُ أَدْعُو عَلَيْهِمْ وَأَنَا أَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا أَعْلَمُ؟

قَالُوا لَهُ: مَا لَنَا مِنْ مَنْزِلٍ فَلَمْ يَزَالُوا بِهِ يُرَقِّقُونَهُ وَيَتَضَرَّعُونَ إِلَيْهِ حَتَّى فَتَنُوهُ فَافْتُتِنَ فَرَكِبَ حَمَارَةً لَهُ مُتَوَجِّهًا إِلَى الْجَبَلِ الَّذِي يُطْلِعُهُ عَلَى عَسْكَرِ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَهُوَ جَبَلُ حُسْبَانَ.

فَلَمَّا سَارَ عَلَيْهَا غَيْرَ كَثِيرٍ رَبَضَتْ بِهِ فَنَزَلَ عَنْهَا فَضَرَبَهَا حَتَّى إذا أزلقها قَامَتْ فَرَكِبَهَا، فَلَمْ تَسْرِ بِهِ كَثِيرًا حَتَّى ربضت به فضربها حتى إذا أزلقها أذن لَهَا فَكَلَّمَتْهُ حُجَّةً عَلَيْهِ فَقَالَتْ: وَيْحَكَ يَا بَلْعَمُ أَيْنَ تَذْهَبُ؟ أَمَا تَرَى الْمَلَائِكَةَ أَمَامِي تردني عن وجهي هذا؟ تذهب إِلَى نَبِيِّ اللَّهِ وَالْمُؤْمِنِينَ لِتَدْعُوَ عَلَيْهِمْ، فَلَمْ يَنْزِعْ عَنْهَا يَضْرِبُهَا فَخَلَّى اللَّهُ سَبِيلَهَا حِينَ فَعَلَ بِهَا ذَلِكَ، فَانْطَلَقَتْ بِهِ حَتَّى إِذَا أَشْرَفَتْ بِهِ عَلَى رَأْسِ حُسْبَانَ عَلَى عَسْكَرِ مُوسَى وَبَنِي إِسْرَائِيلَ جَعَلَ يَدْعُو عَلَيْهِمْ وَلَا يَدْعُو عَلَيْهِمْ بَشَرٍّ إِلَّا صَرَفَ اللَّهُ لِسَانَهُ إِلَى قَوْمِهِ وَلَا يَدْعُو لِقَوْمِهِ بِخَيْرٍ إِلَّا صَرَفَ لِسَانَهُ إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ، فَقَالَ لَهُ قَوْمُهُ: أَتَدْرِي يَا بَلْعَمُ مَا تَصْنَعُ؟ إِنَّمَا تَدْعُو لَهُمْ وَتَدْعُو عَلَيْنَا قال فهذا مالا أَمْلِكُ، هَذَا شَيْءٌ قَدْ غَلَبَ اللَّهُ عَلَيْهِ.

قَالَ: وَانْدَلَعَ لِسَانُهُ فَوَقَعَ عَلَى صَدْرِهِ فَقَالَ لَهُمْ: قَدْ ذَهَبَتْ مِنِّي الْآنَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةُ وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا الْمَكْرُ وَالْحِيلَةُ فَسَأَمْكُرُ لَكُمْ وَأَحْتَالُ، جَمِّلُوا النِّسَاءَ وَأَعْطُوهُنَّ السِّلَعَ ثُمَّ أَرْسِلُوهُنَّ إِلَى الْعَسْكَرِ يَبِعْنَهَا فِيهِ وَمُرُوهُنَّ فَلَا تَمْنَعُ امْرَأَةٌ نَفْسَهَا مِنْ رَجُلٍ أَرَادَهَا فَإِنَّهُمْ إِنْ زَنَى رَجُلٌ مِنْهُمْ وَاحِدٌ كُفِيتُمُوهُمْ، فَفَعَلُوا فَلَمَّا دخلت النِّسَاءُ الْعَسْكَرَ مَرَّتِ امْرَأَةٌ مِنَ الْكَنْعَانِيِّينَ اسْمُهَا كَسْبَى- ابْنَةُ صُورَ رَأْسِ أُمَّتِهِ- بِرَجُلٍ مِنْ عُظَمَاءِ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَهُوَ زَمْرَى بْنُ شَلُومَ رأس سبط شمعون بن يعقوب بن إسحاق بن إبراهيم عليه السلام.

فلما رآها أعجبته، فقام فأخذ بيدها وأتى بها موسى وقال: إِنِّي أَظُنُّكَ سَتَقُولُ هَذَا حَرَامٌ عَلَيْكَ؟ قَالَ: أَجَلْ هِيَ حَرَامٌ عَلَيْكَ لَا تَقْرَبْهَا، قَالَ فو الله لا أطيعك في هذا فدخل بِهَا قُبَّتَهُ فَوَقَعَ عَلَيْهَا وَأَرْسَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الطَّاعُونَ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ، وَكَانَ فِنْحَاصُ بْنُ الْعَيْزَارِ بْنِ هَارُونَ صَاحِبَ أَمْرِ مُوسَى وَكَانَ غَائِبًا حِينَ صَنَعَ زَمْرَى بْنُ شَلُومَ ما صنع، فجاء والطاعون يجوس فيهم فَأُخْبِرَ الْخَبَرَ فَأَخَذَ حَرْبَتَهُ وَكَانَتْ مِنْ حَدِيدٍ كُلُّهَا.

ثُمَّ دَخَلَ الْقُبَّةَ وَهُمَا مُتَضَاجِعَانِ فَانْتَظَمَهُمَا بِحَرْبَتِهِ ثُمَّ خَرَجَ بِهِمَا رَافِعَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ وَالْحَرْبَةُ قَدْ أَخَذَهَا بِذِرَاعِهِ وَاعْتَمَدَ بِمِرْفَقِهِ عَلَى خَاصِرَتِهِ وَأَسْنَدَ الْحَرْبَةَ إِلَى لَحْيَيْهِ وَكَانَ بَكْرَ الْعَيْزَارِ، وَجَعَلَ يَقُولُ اللَّهُمَّ هَكَذَا نَفْعَلُ بِمَنْ يَعْصِيكَ وَرُفِعَ الطَّاعُونُ، فَحُسِبَ مَنْ هَلَكَ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الطَّاعُونِ فِيمَا بَيْنُ أَنْ أَصَابَ زَمْرَى الْمَرْأَةَ إِلَى أَنْ قَتَلَهُ فِنْحَاصُ، فَوَجَدُوهُ قَدْ هَلَكَ مِنْهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا وَالْمُقَلِّلُ لَهُمْ يَقُولُ عِشْرُونَ أَلْفًا فِي سَاعَةٍ مِنَ النَّهَارِ، فَمِنْ هُنَالِكَ تُعْطِي بَنُو إِسْرَائِيلَ وَلَدَ فنحاص من كل ذبيحة ذبحوها الرقبة والذراع واللحى والبكر من كل أموالهم وأنفسها لِأَنَّهُ كَانَ بَكْرَ أَبِيهِ الْعَيْزَارِ، فَفِي بَلْعَامَ بْنِ بَاعُورَاءَ أَنْزَلَ اللَّهُ {وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْناهُ آياتِنا فَانْسَلَخَ مِنْها- إِلَى قَوْلِهِ- لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ﴾»

“Bahwa Musa ‘alaihis salam ketika turun di negeri Kan'an—bagian dari wilayah Syam—maka kaum Bal'am datang menghadap kepada Bal'am dan mereka berkata kepadanya:

"Musa bin Imran telah datang bersama dengan pasukan Bani Israil. Dia datang untuk mengusir kita dari negeri kita dan akan membunuh kita, lalu membiarkan tanah ini dikuasai oleh Bani Israil. Dan sesungguhnya kami adalah kaummu yang dalam waktu yang dekat tidak akan mempunyai tempat tinggal lagi, sedangkan engkau adalah seorang lelaki yang doanya diperkenankan Tuhan. Maka keluarlah engkau dan berdoalah untuk kehancuran mereka."

Bal'am menjawab, "Celakalah kalian! Nabi Allah ditemani oleh para malaikat dan orang-orang mukmin, maka mana mungkin saya pergi mendoakan untuk kehancuran mereka, sedangkan saya mengetahui Allah tidak akan menyukai hal itu?"

Mereka berkata kepada Bal'am, "Kami tidak akan memiliki tempat tinggal lagi."

Mereka terus-menerus meminta dengan memohon belas kasihan dan berendah diri kepada Bal'am untuk membujuknya.

Akhirnya Bal'am terbujuk. Lalu Bal'am menaiki keledai kendaraannya menuju ke arah sebuah bukit sehingga ia dapat melihat perkemahan pasukan kaum Bani Israil, yaitu Bukit Hasban. Setelah berjalan tidak begitu jauh, keledainya mogok, tidak mau jalan. Maka Bal'am turun dari keledainya dan memukulinya hingga keledainya mau bangkit dan berjalan, lalu Bal'am menaikinya. Tetapi setelah berjalan tidak jauh, keledainya itu mogok lagi, dan Bal'am memukulinya kembali, lalu menjewer telinganya.

Maka secara aneh keledainya dapat berbicara -memprotes tindakannya- seraya berkata:

"Celakalah kamu. hai Bal’am, ke manakah kamu akan pergi. Tidakkah engkau melihat para malaikat berada di hadapanku menghalang-halangi jalanku? Apakah engkau akan pergi untuk mendoakan buat kehancuran Nabi Allah dan kaum mukminin?"

Bal'am tidak menggubris protesnya dan terus memukulinya, maka Allah memberikan jalan kepada keledai itu setelah Bal'am memukuli­nya. Lalu keledai itu berjalan membawa Bal'am hingga sampailah di atas puncak Bukit Hasban, di atas perkemahan pasukan Nabi Musa dan kaum Bani Israil.

Setelah ia sampai di tempat itu, maka ia berdoa untuk kehancuran mereka. Namun tidak sekali-kali Bal'am mendoakan keburukan untuk Musa dan pasukannya, melainkan Allah memalingkan lisannya hingga berbalik mendoakan keburukan bagi kaumnya. Dan tidak sekali-kali Bal'am mendoakan kebaikan buat kaumnya, melainkan Allah memalingkan lisannya hingga mendoakan kebaikan buat Bani Israil.

Maka kaumnya berkata kepadanya:

"Tahukah engkau, hai Bal'am, apakah yang telah kamu lakukan? Sesungguhnya yang kamu doakan hanyalah untuk kemenangan mereka dan kekalahan kami."

Bal'am menjawab, "Ini adalah suatu hal yang tidak saya kuasai, hal ini merupa­kan sesuatu yang telah ditakdirkan oleh Allah."

Maka ketika itu lidah Bal'am menjulur keluar (dari mulutnya dan terjulur seperti lidah anjing.) sampai sebatas dadanya, lalu ia berkata kepada kaumnya:

"Kini telah lenyaplah dariku dunia dan akhiratku, dan sekarang tiada jalan lain bagiku kecuali harus melancarkan tipu muslihat dan kilah yang jahat. Maka aku akan melancarkan tipu muslihat buat kepentingan kalian.

Sekarang percantiklah wanita-wanita kalian dan berikanlah kepada mereka berbagai macam barang dagangan. Setelah itu lepaskanlah mereka pergi menuju tempat perkemahan pasukan Bani Israil untuk melakukan jual beli di tempat mereka, dan perintahkanlah kepada kaum wanita kalian agar jangan sekali-kali ada seorang wanita yang menolak bila dirinya diajak berbuat mesum dengan lelaki dari kalangan mereka.

Karena sesungguhnya jika ada seseorang dari mereka berbuat zina, maka kalian akan dapat mengalahkan mereka."

Lalu kaum Bal'am pun melakukan apa yang telah diperintahkan. Ketika para wanita itu memasuki perkemahan pasukan Bani Israil, maka seorang wanita dari Kan'an (kaum Bal'am) yang dikenal dengan nama Kusbati, anak perempuan pemimpin kaumnya bersua dengan seorang lelaki dari kalangan pembesar kaum Bani Israil. Lelaki tersebut bernama Zumri bin Syalum, pemimpin kabilah Syam'un bin Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim.

Ketika Zumri melihat Kusbati, ia terpesona oleh kecantikannya. Lalu ia bangkit dan memegang tangan Kusbati, kemudian membawanya menghadap kepada Nabi Musa.

Zumri berkata, "Sesungguhnya aku menduga engkau akan mengatakan bahwa ini diharamkan atas dirimu, janganlah kamu mendekatinya."

Musa ‘alaihis salam berkata, "Dia haram bagimu!"

Zumri menjawab, "Demi Allah, saya tidak mau tunduk kepada perintahmu dalam hal ini."

Lalu Zumri membawa Kusbati masuk ke dalam kemahnya dan menyetubuhinya. Maka Allah Swt. mengirimkan penyakit tho'un kepada kaum Bani Israil di perkemahan mereka.

Pada saat Zumri bin Syalum melakukan perbuatan mesum itu Fanhas bin al-‘Aizar bin Harun —pengawal pribadi Musa— sedang tidak ada di tempat. Penyakit tho’un datang melanda mereka, dan tersiarlah berita itu.

Lalu Fanhas mengambil tombaknya yang seluruhnya terbuat dari besi, kemudian ia memasuki kemah Zumri yang saat itu sedang berbuat zina, lalu Fanhas menusuk keduanya dengan tombaknya. Ia keluar seraya mengangkat keduanya setinggi-tingginya dengan tombaknya.

Tombaknya itu ia jepitkan ke lengannya dengan bertumpu ke bagian pinggangnya, sedangkan batangnya ia sandarkan ke janggutnya. Dia (Fanhas) adalah anak pertama Al-Aizar.

Kemudian ia berdoa:

"Ya Allah, demikianlah pembalasan yang kami lakukan terhadap orang yang berbuat durhaka kepada Engkau."

Maka ketika itu juga penyakit tho’un lenyap.

Lalu dihitunglah orang-orang Bani Israil yang mati karena penyakit tho’un sejak Zumri berbuat zina dengan wanita itu hingga Fanhas membunuhnya, ternyata seluruhnya berjumlah tujuh puluh ribu orang.

Sedangkan menurut perhitungan orang yang meminimkan jumlahnya dari kalangan mereka, dua puluh ribu jiwa telah melayang dalam jarak waktu satu jam di siang hari.

Sejak saat itulah kaum Bani Israil memberikan kepada anak-anak Fanhas dari setiap korban yang mereka sembelih, yaitu bagian leher, kaki depan, dan janggut korbannya, serta anak yang pertama dari ternak mereka dan yang paling disayangi, karena Fanhas adalah anak pertama dari ayahnya yang bernama Al-Aizura.

Sehubungan dengan Bal'am bin Ba'ura ini, kisahnya disebutkan oleh Allah Swt.:

Dan bacakanlah kepada mereka kisah orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu. ( Al-A' raf: 175)

Sampai dengan firman-Nya: agar mereka berpikir. (Al-A'raf: 176)

[Lihat atsar tersebut dalam Tafsir Ath-Thabari 6/124–125].

===***===

PERBUATAN BAL'AM SEPERTI ANJING YANG MENJULURKAN LIDAH-NYA 

Adapun firman Allah Swt.:

﴿فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ﴾

“Maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya, dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga)“. (Al-A'raf: 176)

Maka Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai maknanya.

Menurut nash Ibnu Ishaq, dari Salim, dari Abun Nadr:

Lidah Bal'am terjulur sampai dadanya. Lalu dia diserupakan dengan anjing yang selalu menjulurkan lidahnya dalam kedua keadaan tersebut, yakni jika dihardik menjulurkan lidahnya, dan jika dibiarkan tetap menjulurkan lidahnya.

Menurut pendapat lain:

Makna yang dimaksud ialah 'Bal'am menjadi seperti anjing dalam hal kesesatannya dan keberlangsungannya di dalam kesesatan serta tidak adanya kemauan memanfaatkan doanya untuk keimanan.

Perihalnya diumpamakan dengan anjing yang selalu menjulurkan lidahnya dalam kedua keadaan tersebut, jika dihardik menjulurkan lidahnya, dan jika dibiarkan tetap menjulurkan lidahnya tanpa ada perubahan. Demikian pula keadaan Bal'am, dia tidak memanfaatkan pelajaran dan doanya buat keimanan; perihalnya sama dengan orang yang tidak memiliki keimanan.

Sama halnya dengan pengertian Yang terkandung di dalam Firman-Nya :

﴿سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ﴾

“Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman”. (Al Baqarah: 6, Yasin: 10)

﴿اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ﴾

“Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka”. (At-Taubah: 80)
dan ayat-ayat lainnya yang semakna.

Menurut pendapat lainnya, makna yang dimaksud ialah: 'Qolbu orang kafir dan orang munafik serta orang yang sesat kosong dari hidayah, hatinya penuh dengan penyakit yang tak terobatkan’. Kemudian pengertian ini diungkapkan ke dalam ungkapan itu.

Hal yang semisal telah dinukil dari Al-Hasan Al-Basri dan lain-lainnya.

[Baca : Tafsir Ibnu Katsir 3/461-462].

===

Firman Allah Swt.:

﴿فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ﴾

Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah agar mereka berpikir”. (Al-A'raf: 176)

Allah Swt. berfirman kepada Nabi-Nya, yaitu Nabi Muhammad :

Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah agar mereka (Al-A'raf: 176)

Yakni agar Bani Israil mengetahui kisah Bal'am dan apa yang telah menimpanyanya yaitu disesatkan oleh Allah dan dijauhkan dari rahmat-Nya, karena dia telah salah menggunakan nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepadanya, nikmat itu ialah Ismul A’dzom yang diajarkan Allah kepadanya.

Ismul A’dzom adalah suatu doa yang apabila dipanjatkan untuk memohon sesuatu, niscaya dikabulkan dengan seketika.

Ternyata Bal'am menggunakan doa mustajab ini untuk selain ketaatan kepada Tuhannya, bahkan menggunakannya untuk memohon kehancuran bagi bala tentara- Tuhan Yang Maha Pemurah, yaitu orang-orang yang beriman, pengikut hamba dan rasul-Nya di masa itu, yakni Nabi Musa bin Imran (‘alaihis salam) yang dijuluki sebagai Kalimullah (orang yang pernah diajak berbicara secara langsung oleh Allah).

Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

﴿لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ﴾

Agar mereka berpikir”. (Al-A'raf: 176)

Maksudnya, mereka harus bersikap waspada supaya jangan terjerumus ke dalam perbuatan yang semisal, karena sesungguhnya Allah telah memberikan ilmu kepada kaum Bani Israil (di masa Nabi ) dan membedakan mereka di atas selain mereka dari kalangan orang-orang Arab.

Allah telah menjadikan mereka memiliki pengetahuan tentang sifat Nabi Muhammad melalui kitab yang ada di tangan mereka; mereka mengenalnya sebagaimana mereka mengenal anak-anaknya sendiri.

Mereka adalah orang-orang yang paling berhak dan paling utama untuk mengikuti Nabi , membantu, dan menolongnya, seperti yang telah diberitakan kepada mereka oleh nabi-nabi mereka yang memerintahkan kepada mereka untuk mengikutinya.

Karena itulah orang-orang yang menentang dari kalangan mereka (Bani Israil) terhadap apa yang ada di dalam kitab mereka, lalu menyembunyikannya, sehingga hamba-hamba Allah yang lain tidak mengetahuinya, maka Allah menimpakan kepada mereka kehinaan di dunia yang terus berlangsung sampai kehinaan di akhirat.

[Baca : Tafsir Ibnu Katsir 3/462]

====

MANUSIA TERBURUK ADALAH YANG MENDUSTAKAN AYAT-AYAT ALLAH.

Firman Allah Swt.:

﴿سَاءَ مَثَلا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا﴾

Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami”. Al- A'raf: 177) .

Allah Swt. berfirman bahwa seburuk-buruknya perumpamaan adalah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Dengan kata lain, seburuk-buruk perumpamaan adalah perumpamaan mereka yang diserupakan dengan anjing, karena anjing tidak ada yang dikejarnya selain mencari makanan dan menyalurkan nafsu syahwat.

Barang siapa yang menyimpang dari jalur ilmu dan jalan petunjuk, lalu mengejar kemauan hawa nafsu dan berahinya, maka keadaannya mirip dengan anjing; dan seburuk-buruk perumpamaan ialah yang diserupakan dengan anjing.

Karena itulah di dalam sebuah hadits sahih disebutkan bahwa Nabi telah bersabda:

«لَيْسَ لَنَا مَثَلُ السَّوْءِ، الْعَائِدُ فِي هِبَتِهِ كَالْكَلْبِ يَعُودُ فِي قَيْئِهِ»

Tiada pada kami suatu perumpamaan yang lebih buruk daripada perumpamaan seseorang yang menarik kembali hibahnya, perumpamaannya sama dengan anjing, yang memakan kembali muntahnya”.

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Al-Hibah bab 30, dan Muslim dalam Kitab Al-Hibat hadits nomor 5 dan 6, serta Abu Dawud dalam Kitab Al-Buyu’ bab 81, An-Nasa’i dalam Kitab Al-Hibah bab 3 dan 4, Ibnu Majah dalam Kitab Ash-Shadaqat bab 1, dan Ahmad dalam Al-Musnad 1/40, 54, 217, 237, 289, 349, 350, 2/27, 175, 208].

[Lihat pula : Tafsir Ibnu Katsir 3/462]

********===***********

Firman Allah Swt.:

﴿وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ﴾

dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim. (Al-A'raf: 177)

Maksudnya:

Allah tidak menganiaya mereka, tetapi mereka sendirilah yang menganiaya dirinya sendiri karena berpaling dari mengikuti jalan hidayah dan taat kepada Tuhan, lalu cenderung kepada keduniawian yang fana dan mengejar kelezatan serta kemauan hawa nafsu.

[Lihat pula : Tafsir Ibnu Katsir 3/462]

Posting Komentar

0 Komentar