HUKUM JUAL BELI MUWA’ADAH atau MUROBAHAH LIL AMIR BI ASY-SYIRO
بَيْعِ الْمُوَاعَدَةِ (الْوَعْدِ بِالشِّرَاءِ) وَبَيْعِ الْمُرَابَحَةِ
لِلْآمِرِ بِالشِّرَاءِ
Hukum jual beli muwa’adah (saling
janji untuk akad jual beli) atau murabahah bagi pemesan pembelian
barang (yang berjanji)
untuk membelinya
---
Di Tulis Oleh Kang Oji
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
DAFTAR ISI:
- DEFINISI JUAL BELI MUWA’ADAH
- HUKUM JUAL BELI MUWA’ADAH atau MUROBAHAH LIL AMIR BI ASY-SYIRO
- PEMBAHASAN PERTAMA : DEFINISI JUAL BELI MUROBAHAH LIL AMIR BI ASY-SYIRO
- PEMBAHASAN KEDUA: AL-MUWA’ADAH YANG TIDAK MENGIKAT
- PEMBAHASAN KE TIGA: AL-MUWA’ADAH YANG MENGIKAT.
- DALIL-DALIL:
- KEPUTUSAN MAJMA’ AL-FIQH AL-ISLAMI Tentang muwa’adah dan kesepakatan terselubung dalam akad.
- TANYA JAWAB DALAM FATWA ISLAM WEB tentang Syarat muwa’adah antara dua pihak dalam jual beli.
- KONSEKWENSI AKAD AL-MUWA’ADAH YANG MENGIKAT
- PERBEDAAN ANTARA JANJI DAN SALING BERJANJI
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
===****===
DEFINISI JUAL BELI MUWA’ADAH
Definisi muwa’adah / الْمُوَاعَدَةِ (secara bahasa
dan istilah)
Secara bahasa: berasal dari kata “الْوَعْدِ” (janji), yaitu bentuk saling berjanji yang berarti komitmen
dari masing-masing pihak terhadap pihak lain untuk melakukan suatu kebaikan di
masa depan.
Secara istilah:
اتِّفَاقٌ بَيْنَ طَرَفَيْنِ عَلَى إِجْرَاءِ عَقْدٍ فِي الْمُسْتَقْبَلِ، بِحَيْثُ
يَلْتَزِمُ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا بِإِتْمَامِ الْبَيْعِ لَاحِقًا، دُونَ أَنْ
يَتِمَّ الْبَيْعُ فِي وَقْتِ الِاتِّفَاقِ (وَقْتِ الْوَعْدِ).
“Kesepakatan antara dua pihak untuk melakukan akad di masa
depan, di mana salah satu atau keduanya berkomitmen untuk menyempurnakan jual
beli nanti setelah pesanan barang tiba, tanpa terjadinya jual beli pada saat kesepakatan (waktu janji)”.
Bentuk-bentuk jual beli muwa’adah
Muwa’adah dalam jual beli terbagi
menjadi dua bentuk utama:
Pertama: muwa’adah yang tidak mengikat (الْمُوَاعَدَةُ غَيْرُ الْمُلْزِمَةِ) :
Yakni : dua pihak saling berjanji untuk menjual suatu
barang di kemudian hari, dengan tetap adanya pilihan bagi masing-masing untuk
melanjutkan atau tidak saat waktu yang ditentukan tiba.
Kedua: muwa’adah yang mengikat (الْمُوَاعَدَةُ الْمُلْزِمَةُ) :
Yakni: dua pihak sepakat untuk melakukan jual beli di masa
depan sehingga janji tersebut menjadi mengikat bagi keduanya, yang
menjadikannya seperti akad yang sebenarnya (dan ini menyerupai “menjual sesuatu
yang belum dimiliki” jika penjual belum memiliki barang saat janji dibuat).
ISTILAH LAIN:
Istilah Jual Beli al-Muwa’adah terkenal pula dengan
istilah “الْمُرَابَحَةُ لِلْآمِرِ بِالشِّرَاءِ” (murabahah bagi pihak yang mengajukan
pembelian).
Akad muwa’adah ini tampak secara luas dalam transaksi
perbankan modern, di mana nasabah (pihak yang mengajukan pembelian) meminta
bank (pihak yang diperintahkan) untuk membeli suatu barang tertentu, lalu ia
berjanji untuk membelinya setelah bank memilikinya.
----
PERBEDAAN ANTARA AL-MUWADA’AH DAN
AL-MUROBAHAH
الْفَرْقُ بَيْنَ الْمُوَادَعَةِ وَالْمُرَابَحَةِ
Terdapat perbedaan yang halus dalam konteks fikih dan
perbankan Islam antara “jual beli murabahah” dan “jual beli muwa‘adah” (atau
yang dikenal dengan “murabahah untuk pemesan pembelian”), meskipun keduanya
sering berkumpul dalam satu transaksi, di mana muwa‘adah dianggap sebagai tahap
pendahuluan sebelum akad murabahah. [Islam Web]
Berikut penjelasan perbedaannya:
1]. Jual beli murabahah (akad yang sebenarnya):
Definisi: yaitu menjual suatu barang dengan harga pokok
yang dibeli oleh penjual ditambah keuntungan yang diketahui (margin laba) yang
disepakati antara penjual dan pembeli.
Waktu: dilakukan setelah penjual (misalnya bank) telah
memiliki barang tersebut dan barang itu sudah menjadi tanggungannya (yakni ia
bertanggung jawab atas kerusakannya).
Rukun: sempurna dengan adanya dua pihak (penjual dan
pembeli), barang, harga, dan keuntungan. [Islam Web].
2]. Jual beli muwa‘adah (murabahah untuk pemesan
pembelian):
Definisi: yaitu kesepakatan sebelumnya (janji) antara dua
pihak, di mana salah satunya (nasabah) meminta pihak lain (bank) untuk membeli
barang tertentu, dan ia berjanji akan membelinya darinya setelah bank
memilikinya, dengan tambahan keuntungan.
Waktu: dilakukan sebelum bank membeli barang tersebut,
sehingga merupakan tahap pendahuluan.
Hukumnya: dibolehkan secara syar‘i dengan syarat muwa‘adah
tersebut “tidak mengikat”, atau ada pilihan bagi kedua pihak. Adapun jika
“janji yang mengikat” (yang mewajibkan nasabah membeli dan bank menjual), maka
hal ini diperselisihkan dalam fikih, dan banyak lembaga fikih membolehkannya
jika telah terjadi kepemilikan dan serah terima. [Islam Web]
Perbedaan mendasar:
Muwa‘adah adalah “janji untuk jual beli” sebelum barang
dimiliki.
Murabahah adalah “akad jual beli yang sebenarnya” setelah
barang dimiliki. [Islam Web]
Oleh karena itu, tidak dibolehkan secara syar‘i bagi bank
untuk menjual barang kepada nasabah hanya berdasarkan “janji” semata sebelum
bank benar-benar membeli barang tersebut dari pemasok asal dan memilikinya. [Al-Maktabah
Asy-Syamilah]
===
KAITAN ANTARA MUWA’ADAH dan MUROBAHAH
LIL AMIR BI ASY-SYIRO
ارْتِبَاطٌ وَثِيقٌ بَيْنَ بَيْعِ الْمُوَاعَدَةِ (الْوَعْدِ
بِالشِّرَاءِ) وَبَيْعِ الْمُرَابَحَةِ لِلْآمِرِ بِالشِّرَاءِ
Terdapat keterkaitan yang erat antara jual beli muwa’adah
(janji untuk membeli) dan jual beli murabahah untuk pemesan pembelian dalam
praktik perbankan kontemporer, di mana “muwa’adah” (janji yang mengikat atau
tidak mengikat) merupakan tahap awal yang menjadi dasar bagi terbentuknya
transaksi murabahah secara sempurna. [Al-Maktabah Asy-Syamilah]
Hubungan atau kesamaan makna di
antara keduanya dapat dijelaskan sebagai berikut:
Muwa’adah sebagai dasar
murabahah:
Muwa’adah adalah ketika nasabah berjanji kepada bank untuk
membeli suatu barang tertentu setelah bank membelinya, dan janji ini merupakan
rukun dasar dalam akad murabahah untuk pemesan pembelian.
Jual beli murabahah untuk pemesan
pembelian:
Yaitu akad murabahah (menjual barang dengan harga pokok
ditambah keuntungan yang diketahui) yang dilakukan setelah bank membeli barang
berdasarkan permintaan nasabah (muwa’adah), dan disyaratkan untuk keabsahannya
bahwa bank harus memiliki dan menguasai barang tersebut sebelum menjualnya
kepada nasabah.
Perbedaan dalam praktik: muwa’adah adalah “janji” (sebelum
kepemilikan), sedangkan murabahah untuk pemesan pembelian adalah “akad final”
(setelah kepemilikan) yang dibangun di atas janji tersebut. [Majma’ Al-Fiqh
Al-Islami Internasional]
Kesimpulan:
Keduanya tidak berbeda dalam makna mendasar sebagai
mekanisme pembiayaan, melainkan merupakan tahapan yang saling terhubung: janji
untuk membeli (muwa’adah), kemudian kepemilikan bank terhadap barang tersebut.
HUKUM JUAL BELI MUWA’ADAH
atau
MUROBAHAH
LIL AMIR BI ASY-SYIRO
حُكْمُ بَيْعِ الْمُوَاعَدَةِ أَوْ بَيْعُ الْمُرَابَحَةِ لِلْآمِرِ
(لِلْوَاعِدِ) بِالشِّرَاءِ
Hukum jual beli muwa’adah (saling
janji untuk akad jual beli) atau jual beli murabahah bagi pihak yang nyuruh belikan
barang (yang berjanji) untuk membelinya
****
PEMBAHASAN PERTAMA :
DEFINISI JUAL BELI MUROBAHAH LIL
AMIR BI ASY-SYIRO
تَعْرِيفُ بَيْعِ الْمُرَابَحَةِ لِلْآمِرِ (لِلْوَاعِدِ) بِالشِّرَاءِ
Definisi jual beli murabahah bagi
pihak yang memerintahkan pembelian (yang berjanji) untuk membelinya
Makna jual beli murabahah bagi pihak yang memerintahkan pembelian
(yang berjanji) untuk membelinya:
هُوَ أَنْ يَتَّفِقَ الْعَمِيلُ وَالْمَصْرِفُ عَلَى أَنْ يَقُومَ الْعَمِيلُ
بِشِرَاءِ الْبِضَاعَةِ بِرِبْحٍ مَعْلُومٍ وَبِالتَّقْسِيطِ بَعْدَ شِرَاءِ الْمَصْرِفِ
لَهَا، أَوْ أَنْ يَعِدَ الْعَمِيلُ الْمَصْرِفَ بِشِرَائِهَا بِرِبْحٍ مَعْلُومٍ مُجَرَّدَ
وَعْدٍ
“Yaitu adanya kesepakatan antara nasabah dan bank bahwa
nasabah akan membeli barang tersebut dengan keuntungan yang diketahui dan
secara cicilan setelah bank membelinya, atau nasabah berjanji kepada bank untuk
membelinya dengan keuntungan yang diketahui, yang hanya sebatas janji semata”.
[Lihat: Penelitian: “jual beli murabahah sebagaimana
dipraktikkan oleh bank-bank Islam” karya Muhammad al-Asyqar, dipublikasikan
dalam ((bahasan fikih tentang isu-isu ekonomi kontemporer)) karya Muhammad
al-Asyqar dan lainnya (1/71), serta penelitian terkait topik murabahah bagi
pihak yang memerintahkan pembelian yang dipublikasikan dalam ((Majalah Majma’
al-Fiqh al-Islami)) (edisi kelima).]
****
PEMBAHASAN KEDUA:
AKAD AL-MUWA’ADAH YANG TIDAK MENGIKAT.
بَيْعُ الْمُوَاعَدَةِ أَوْ بَيْعُ الْمُرَابَحَةِ لِلْآمِرِ
(لِلْوَاعِدِ) بِالشِّرَاءِ إِذَا كَانَ الْوَعْدُ غَيْرَ مُلْزِمٍ
Jual beli muwa’adah (murabahah
bagi pihak yang memerintahkan pembelian yang berjanji untuk membelinya) apabila
janji tersebut tidak mengikat kedua belah pihak.
Dibolehkan akad jual beli muwa’adah (murabahah bagi pihak
yang memerintahkan (yang berjanji) untuk membelinya) apabila janji tersebut
tidak mengikat, ini merupakan mazhab hanafiyah dan syafi’iyah, serta pilihan
ibnu al-qayyim, dan juga dikatakan oleh sebagian salaf, serta ditegaskan oleh
majma’ fiqih islami dan al-lajnah ad-da’imah, dan difatwakan oleh ibnu baz; hal
itu karena pihak yang diminta untuk membeli barang tersebut menjualnya kepada
pemesan setelah ia membelinya dan telah menerimanya
Contohnya seperti seseorang berkata kepada pedagang atau
bank:
“Belilah barang dengan spesifikasi tertentu, dan aku janji
akan membelinya darimu serta memberimu keuntungan sekian !!!”, tanpa
menyerahkan harga dan tanpa membayar uang muka, dan janji untuk membeli
tersebut tidak mengikat
Hal itu karena pihak yang diminta membeli barang hanya
menjualnya kepada pemesan setelah ia membelinya dan menerimanya
Maka jual beli muwa’adah ini diperbolehkan dengan syarat
masing-masing pihak atau salah satunya memiliki hak pilihan (الخِيَارُ); jika misalnya kamu mendatangkan biji wijen setelah dua bulan,
maka lakukan akad jual beli saat itu, dan tidak ada kewajiban bagimu jika kamu
tidak mendatangkannya, atau kamu mendatangkannya tetapi pihak lain menolak
membelinya, karena yang terjadi di antara kalian hanyalah janji, bukan akad,
dan tidak sah adanya pengikatan dalam muwa’adah karena pengikatan tersebut
menyerupai akad jual beli itu sendiri.
Gambaran yang disebutkan di sini bukanlah jual beli, dan
agar muwa’adah menjadi mengikat, maka penjual harus telah memiliki barang
tersebut, agar tidak terjadi pelanggaran terhadap larangan nabi ﷺ tentang menjual sesuatu yang tidak dimiliki.
Dengan makna ini datang keputusan majelis majma’ fiqih
yang diadakan di kuwait tahun 1409 h dengan nomor 302
Untuk Sumber referensi mazhab Hanafiyah: maka lihatlah ((al-mabsuth))
karya as-sarakhsi (30/204), dan lihat juga ((al-makhārij fi al-hiyal)) karya muhammad bin al-hasan (hlm. 40, 133)
Adapum untuk sumber referensi mazhab Syafi’iyah: maka lihat
((al-umm)) karya asy-syafi’i (3/39)
Ibnu al-Qoyyim berkata:
(المثالُ المُوفِّي المائةَ: رجُلٌ قال لغيرِه: "اشْتَرِ هذه
الدَّارَ -أو هذه السِّلعةَ- مِن فُلانٍ بكذا وكذا، وأنا أُرْبِحُك فيها كذا
وكذا"، فخاف إنِ اشْتَراها أنْ يَبدُوَ للآمِرِ فلا يُريدَها، ولا يَتمكَّنَ
مِن الرَّدِّ؛ فالحِيلةُ أنْ يَشترِيَها على أنَّه بالخِيارِ ثَلاثةَ أيَّامٍ أو
أكثَرَ، ثمَّ يقولَ للآمِرِ: قدِ اشْتَريتُها بما ذكَرْتَ؛ فإنْ أخَذَها منه،
وإلَّا تَمكَّنَ مِن رَدِّها على البائعِ بالخيارِ، فإنْ لم يَشتَرِها الآمِرُ
إلَّا بالخِيارِ، فالحِيلةُ أنْ يَشترِطَ له خِيارًا، أو نَقَصَ مِن مُدَّةِ
الخِيارِ الَّتي اشْتَرَطها هو على البائعِ؛ لِيتَّسِعَ له زمَنُ الرَّدِّ إنْ
رُدَّت عليه)
“Contoh yang sangat jelas: seseorang berkata kepada orang
lain, “belilah rumah ini atau barang ini dari si fulan dengan harga sekian,
dan aku akan memberimu keuntungan sekian.” lalu ia khawatir jika ia
membelinya ternyata pihak yang memerintahkan berubah pikiran sehingga tidak
menginginkannya dan ia tidak mampu mengembalikannya. Maka solusinya adalah ia
membelinya dengan syarat memiliki hak khiyar selama tiga hari atau lebih,
kemudian ia berkata kepada pihak yang memerintahkan: ‘aku telah membelinya
sesuai yang kamu sebutkan’, jika ia mengambilnya maka selesai, jika tidak
maka ia dapat mengembalikannya kepada penjual dengan hak khiyar.
Jika pihak yang memerintahkan tidak mau membeli kecuali
dengan syarat khiyar, maka solusinya adalah ia menetapkan khiyar untuknya atau
mengurangi masa khiyar yang ia syaratkan kepada penjual agar waktu pengembalian
menjadi lebih luas jika barang itu dikembalikan kepadanya ((I’lam al-Muwaqqi’in))
(5/430)
Ibnu al-Mundzir berkata:
(اختَلفوا في الرَّجلِ يقولُ للرَّجلِ: اشْتَرِ سِلعةَ كذا وكذا؛ حتَّى
أُرْبِحَك فيها كذا وكذا. فكَرِهَ ذلك قَومٌ، ونهَوْا عنه؛ كَرِه ذلك ابنُ عُمرَ، وابنُ
المسيِّبِ، وابنُ سِيرِينَ، والحسَنُ، والنَّخَعيُّ، وقَتادةُ، وعُبَيدُ اللهِ بنُ
الحسَنِ، وأحمَدُ، وإسحاقُ. وكان القاسمُ بنُ محمَّدٍ وحُمَيدٌ الطَّويلُ لا يَرَيانِ
بذلك بأسًا. وكان الشَّافعيُّ يُجِيزُ هذا البيعَ، إذا كان العقْدُ صحيحًا لا شَرْطَ
فيه)
Mereka berbeda pendapat tentang seseorang yang berkata
kepada orang lain: belilah barang tertentu agar aku memberimu keuntungan
sekian. Sebagian membencinya dan melarangnya, seperti ibnu umar, ibnu
al-musayyib, ibnu sirin, al-hasan, an-nakha’i, qatadah, ubaidullah bin
al-hasan, ahmad, dan ishaq. Sedangkan al-qasim bin muhammad dan huma’id ath-thawil
tidak memandang hal itu bermasalah. Asy-syafi’i membolehkan jual beli ini
apabila akadnya sah tanpa syarat ((al-isyrāf)) (6/134)
Dalam keputusan majma’ fiqih islami nomor (2, 3) tentang
menepati janji dan murabahah bagi pihak yang memerintahkan pembelian
disebutkan:
إِنَّ مَجْلِسَ مَجْمَعِ الْفِقْهِ الْإِسْلَامِيِّ الْمُنْعَقِدَ فِي دَوْرَةِ
مُؤْتَمَرِهِ الْخَامِسِ بِالْكُوَيْتِ مِنْ 1 إِلَى 6 جُمَادَى الْأُولَى 1409 ه
/ 10 إِلَى 15 كَانُونَ الْأَوَّلِ (دِيسِمْبَر) 1988 م، بَعْدَ اطِّلَاعِهِ عَلَى
الْبُحُوثِ الْمُقَدَّمَةِ مِنَ الْأَعْضَاءِ وَالْخُبَرَاءِ فِي مَوْضُوعَيِ (الْوَفَاءِ
بِالْوَعْدِ وَالْمُرَابَحَةِ لِلْآمِرِ بِالشِّرَاءِ)، وَاسْتِمَاعِهِ لِلْمُنَاقَشَاتِ
الَّتِي دَارَتْ حَوْلَهُمَا؛ قَرَّرَ:
أَوَّلًا: أَنَّ بَيْعَ الْمُرَابَحَةِ لِلْآمِرِ بِالشِّرَاءِ إِذَا وَقَعَ عَلَى
سِلْعَةٍ بَعْدَ دُخُولِهَا فِي مِلْكِ الْمَأْمُورِ، وَحُصُولِ الْقَبْضِ الْمَطْلُوبِ
شَرْعًا؛ هُوَ بَيْعٌ جَائِزٌ طَالَمَا كَانَتْ تَقَعُ عَلَى الْمَأْمُورِ مَسْؤُولِيَّةُ
التَّلَفِ قَبْلَ التَّسْلِيمِ، وَتَبِعَةُ الرَّدِّ بِالْعَيْبِ الْخَفِيِّ وَنَحْوِهِ
مِنْ مُوجِبَاتِ الرَّدِّ بَعْدَ التَّسْلِيمِ، وَتَوَافَرَتْ شُرُوطُ الْبَيْعِ وَانْتَفَتْ
مَوَانِعُهُ.
Sesungguhnya majelis majma’ fiqih islami dalam konferensi
kelima di kuwait pada 1–6 jumada al-ula 1409 h / 10–15 desember 1988 m, setelah
menelaah penelitian yang diajukan oleh para anggota dan pakar mengenai dua
topik (menepati janji dan murabahah bagi pihak yang memerintahkan pembelian)
serta mendengarkan diskusi yang berlangsung, memutuskan:
Pertama, bahwa jual beli murabahah bagi pihak yang
memerintahkan pembelian apabila dilakukan atas suatu barang setelah masuk dalam
kepemilikan pihak yang diperintahkan (dipesan) dan telah terjadi penerimaan
yang disyaratkan secara syariat; maka itu adalah jual beli yang dibolehkan
selama tanggung jawab kerusakan sebelum penyerahan berada pada pihak yang
diperintahkan, serta tanggungan pengembalian karena cacat tersembunyi dan
sejenisnya setelah penyerahan, serta terpenuhi syarat-syarat jual beli dan
tidak ada penghalangnya ((Majalah Majma’ al-Fiqh al-Islami Internasional - Konferensi
Kelima)) (2/1599)
Dalam Fatwa al-Lajnah ad-Da’imah disebutkan:
(إذا طلَبَ إنسانٌ مِن آخَرَ أنْ يَشترِيَ سيَّارةً -مثلًا-
مُعيَّنةً، أو مَوصوفةً بوَصفٍ يَضبِطُها، ووَعَدَه أنْ يَشترِيَها منه،
فاشْتَراها مَن طُلِبَت منه وقَبَضَها؛ جاز لمَن طَلَبَها أنْ يَشترِيَها منه
بعْدَ ذلك نقْدًا، أو أقْساطًا مُؤجَّلةً برِبحٍ مَعلومٍ، وليْس هذا مِن بَيْعِ
الإنسانِ ما ليْس عِندَه؛ لأنَّ مَن طُلِبَت منه السِّلعةُ إنَّما باعَها على
طالِبِها بعْدَ أنِ اشْتَراها وقَبَضها، وليْس له أنْ يَبيعَها على صَديقِه
-مثلًا- قبْلَ أنْ يَشترِيَها، أو بعْدَ شِرائِه إيَّاها وقبْلَ قَبْضِها)
Jika seseorang meminta orang lain untuk membeli sebuah
mobil tertentu atau yang memiliki spesifikasi jelas, lalu ia berjanji akan
membelinya darinya, kemudian orang yang diminta itu membelinya dan telah
menerimanya, maka boleh bagi orang yang meminta tersebut untuk membelinya
setelah itu secara tunai atau cicilan dengan keuntungan yang diketahui, dan ini
bukan termasuk menjual sesuatu yang tidak dimiliki, karena orang yang diminta
hanya menjualnya kepada pemesan setelah ia membelinya dan menerimanya, dan
tidak boleh baginya menjualnya kepada orang lain sebelum ia membelinya atau
setelah membelinya tetapi sebelum menerimanya ((Fatwa al-Lajnah ad-Da’imah))
(13/153)
Fatwa Syaikh Bin Baz: beliau ditanya tentang hukum janji
untuk membeli dan apakah termasuk riba, maka beliau menjawab:
(الْوَعْدُ بِالشِّرَاءِ لَيْسَ شِرَاءً، وَلَكِنَّهُ وَعْدٌ بِذَلِكَ،
فَإِذَا أَرَادَ إِنْسَانٌ شِرَاءَ حَاجَةٍ، وَطَلَبَ مِنْ أَخِيهِ أَنْ يَشْتَرِيَهَا
ثُمَّ يَبِيعَهَا عَلَيْهِ؛ فَلَا حَرَجَ فِي ذَلِكَ إِذَا تَمَّ الشِّرَاءُ وَحَصَلَ
الْقَبْضُ، ثُمَّ بَاعَهَا بَعْدَ ذَلِكَ عَلَى الرَّاغِبِ فِي شِرَائِهَا؛ لِمَا جَاءَ
فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ
قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، يَأْتِينِي الرَّجُلُ يُرِيدُ السِّلْعَةَ، وَلَيْسَ عِنْدِي،
أَفَأَبِيعُهَا عَلَيْهِ، ثُمَّ أَذْهَبُ فَأَشْتَرِيهَا؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ»، فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى
أَنَّهُ إِذَا بَاعَهَا عَلَى أَخِيهِ بَعْدَمَا مَلَكَهَا وَصَارَتْ عِنْدَهُ؛ فَإِنَّهُ
لَا حَرَجَ فِي ذَلِكَ).
Janji untuk membeli bukanlah pembelian, tetapi hanya
janji. Jika seseorang ingin membeli suatu barang dan meminta saudaranya untuk
membelinya lalu menjualnya kepadanya, maka tidak mengapa selama pembelian telah
dilakukan dan barang telah diterima, kemudian setelah itu dijual kepada orang
yang menginginkannya.
Hal ini berdasarkan hadits shahih dari hakim bin hizam
radhiyallahu 'anhu bahwa ia berkata: wahai rasulullah ﷺ, seseorang datang kepadaku ingin membeli barang yang tidak ada
padaku, bolehkah aku menjualnya kepadanya lalu aku pergi membelinya? Maka nabi ﷺ bersabda: “Janganlah engkau menjual sesuatu yang tidak ada
padamu.”
Ini menunjukkan bahwa jika ia menjualnya kepada saudaranya
setelah ia memilikinya dan barang itu telah berada padanya, maka tidak mengapa
((majmu’ fatawa ibnu baz)) (19/68)
****
PEMBAHASAN KE TIGA:
AKAD AL-MUWA’ADAH YANG MENGIKAT.
بَيْعُ الْمُوَاعَدَةِ أَوِ الْمُرَابَحَةِ لِلْآمِرِ (لِلْوَاعِدِ)
بِالشِّرَاءِ إِذَا كَانَ الْوَعْدُ مُلْزِمًا لِلطَّرَفَيْنِ
Jual beli al-Muwa’adah (Jual beli
murabahah bagi pihak yang memerintahkan (yang berjanji) untuk membeli) apabila
janji tersebut mengikat kedua belah pihak
Tidak boleh jual beli murabahah bagi pihak yang
memerintahkan (yang berjanji) untuk membeli apabila janji tersebut mengikat
kedua belah pihak, seperti seseorang berkata kepada pedagang atau bank: belilah
suatu barang dengan spesifikasi tertentu, dan aku akan membelinya darimu serta
memberimu keuntungan sekian, tanpa menyerahkan harga, dan janji untuk membeli
tersebut mengikat kedua belah pihak
Demikianlah keputusan majma’ fiqih islami, dan juga
difatwakan oleh al-Lajnah ad-Da’imah serta syeikh Bin Baz, dan ini yang ditunjukkan
oleh pendapat Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah
Dan demikian pula keputusan majma’ fiqih islami, keputusan
nomor (2, 3) tentang menepati janji dan murabahah bagi pihak yang memerintahkan
pembelian:
(إنَّ مَجلِسَ مَجمَعِ الفِقهِ الإسلاميِّ المنعقِدَ في دَورةِ مُؤتمرِه
الخامسِ بالكُويتِ من 1 إلى 6 جُمادى الأولى 1409 ه / 10 إلى 15 كانون الأوَّل
(دِيسمبر) 1988 م. بعْدَ اطِّلاعِه على البُحوثِ المقدَّمةِ مِن الأعضاءِ
والخُبراءِ في مَوضوعَي (الوفاءِ بالوعْدِ والمُرابَحةِ للآمِرِ بالشِّراءِ)،
واستماعِه للمُناقَشاتِ الَّتي دارتْ حَوْلَهما؛ قرَّر: ثالثًا: المواعَدةُ (وهي
الَّتي تَصدُرُ مِن الطَّرَفينِ) تَجوزُ في بَيْعِ المُرابَحةِ بشَرطِ الخِيارِ
للمُتواعدَينِ: كِلَيْهما أو أحدِهما، فإذا لم يكُنْ هناك خِيارٌ فإنَّها لا
تَجوزُ؛ لأنَّ المواعَدةَ الملْزِمةَ في بَيْعِ المُرابَحةِ تُشبِهُ البيْعَ
نفْسَه؛ حيث يُشتَرَطُ عندئذٍ أنْ يكونَ البائعُ مالكًا للمَبيعِ؛ حتَّى لا تكونَ
هناك مُخالَفةٌ لنَهيِ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم عن بَيْعِ الإنسانِ ما
ليْس عِندَه)
Sesungguhnya majelis majma’ fiqih islami yang
diselenggarakan dalam konferensi kelima di kuwait pada 1–6 jumada al-ula 1409 h
/ 10–15 desember 1988 m, setelah menelaah penelitian yang diajukan oleh para
anggota dan pakar mengenai dua topik (menepati janji dan murabahah bagi pihak
yang memerintahkan pembelian) serta mendengarkan diskusi yang berlangsung di
sekitarnya, memutuskan: ketiga, muwa’adah (yaitu yang berasal dari kedua belah
pihak) boleh dalam jual beli murabahah dengan syarat adanya hak khiyar bagi
kedua pihak yang berjanji, baik keduanya atau salah satunya. Jika tidak ada hak
khiyar, maka tidak boleh, karena muwa’adah yang mengikat dalam jual beli
murabahah menyerupai akad jual beli itu sendiri; sehingga pada saat itu
disyaratkan bahwa penjual harus memiliki barang yang dijual, agar tidak terjadi
pelanggaran terhadap larangan nabi ﷺ tentang menjual
sesuatu yang tidak dimiliki ((majalah majma’ al-fiqh al-islami)) (edisi kelima)
Dan difatwakan pula oleh al-Lajnah ad-Da’imah, dalam
fatwanya disebutkan:
(إذا باع إنسانٌ سيَّارةً لآخَرَ قبْلَ أنْ يَتملَّكَها
ويَحُوزَها، لم يَصِحَّ البَيْعُ، سَواءٌ باعَها عليه نقْدًا أمْ لأجَلٍ، وسواءٌ
كان الرِّبحُ نِسبةً مِن ثمَنِ شِراءِ البائعِ كالثُّلثِ، أمْ قدْرًا مُعيَّنًا،
وسواءٌ دفَعَ دُفْعةً مِن الثَّمنِ أمْ لم يَدفَعْ شَيئًا؛ لأنَّه باعَها قبْلَ
قبْضِها، بلْ قبْلَ تَملُّكِها، وأمَّا إذا اتَّفَقَ معه على أنْ يَبيعَها عليه
بعْدَ أنْ يَمتلِكَها ويَحُوزَها، فيَجوزُ؛ لأنَّه وَعدٌ بالشِّراءِ لا عقْدُ
شِراءٍ، ولهما أنْ يَتعاقَدَا بعْدَ ذلك وَفاءً بالوعْدِ، ويجوزُ أنْ يَبيعَها على
غيْرِه، كما يَجوزُ للآخَرِ أنْ يَشترِيَ غيْرَ هذه السَّيَّارةِ)
“Jika seseorang menjual sebuah mobil kepada orang lain
sebelum ia memilikinya dan menguasainya, maka jual beli tersebut tidak sah,
baik dijual secara tunai maupun dengan tempo, baik keuntungan berupa persentase
dari harga beli seperti sepertiga, maupun jumlah tertentu, baik telah dibayar
sebagian harga maupun tidak; karena ia menjualnya sebelum menerima barang
tersebut bahkan sebelum memilikinya.
Adapun jika ia bersepakat untuk menjualnya setelah ia
memilikinya dan menguasainya, maka hal itu boleh, karena itu adalah janji untuk
membeli (وَعدٌ بالشِّراءِ), bukan akad jual beli, dan keduanya boleh melakukan akad
setelah itu sebagai bentuk menepati janji, dan boleh pula menjualnya kepada
selainnya, sebagaimana pihak lain juga boleh membeli selain mobil tersebut
((fatwa al-lajnah ad-da’imah)) (13/237)
Dan Syeikh bin Baz, beliau ditanya tentang hukum janji
untuk membeli dan apakah termasuk riba, maka beliau menjawab:
(الوعدُ بالشِّراءِ ليْس شِراءً، ولكنَّه وعْدٌ بذلك، فإذا أراد
إنسانٌ شِراءَ حاجةٍ، وطَلَب مِن أخيهِ أنْ يَشترِيَها ثمَّ يَبيعَها عليه؛ فلا
حَرَجَ في ذلك إذا تَمَّ الشِّراءُ وحَصَل القبْضُ، ثمَّ باعَها بعْدَ ذلك على
الرَّاغبِ في شِرائِها؛ لِما جاء في الحديثِ الصَّحيحِ عن حَكيمِ بنِ حِزامٍ رَضِي
اللهُ عنه أنَّه قال: يا رَسولَ اللهِ، يَأتِيني الرَّجلُ يُريدُ السِّلعةَ، وليْس
عندي، أفَأبِيعُها عليه، ثمَّ أذهَبُ فأشْتَرِيها؟ فقال النَّبيُّ صلَّى اللهُ
عليه وسلَّم: «لا تَبِعْ ما ليْس عِندَك»، فدلَّ ذلك على أنَّه إذا باعَها على
أخيهِ بعْدَما مَلَكَها وصارتْ عِندَه؛ فإنَّه لا حَرَجَ في ذلك. وفي هذا المعنى
قَولُ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم في الحديثِ الصَّحيحِ، مِن حَديثِ عبْدِ
اللهِ بنِ عَمرِو بنِ العاصِ رَضِي اللهُ عنهما: «لا يَحِلُّ سَلَفٌ، ولا بَيعٌ،
ولا بَيْعُ ما ليْس عندك»، وثبَتَ مِن حَديثِ زَيدِ بنِ ثابتٍ رَضِي اللهُ عنه
قال: «نَهى رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أنْ تُباعَ السِّلعُ حيث
تُبْتاعُ حتَّى يَحُوزَها التُّجَّارُ إلى رِحالِهم». وبما ذكَرْنا مِن الأحاديثِ
يُعلَمُ أنَّ الإنسانَ إذا وَجَد سِلْعةً عندَ زيْدٍ أو عَمرٍو: سيَّارةً، أو
حُبوبًا، أو مَلابِسَ، أو أوانيَ، أو غيْرَ ذلك؛ فإنَّه لا حرَجَ أنْ يَشترِيَها
ويَحُوزَها في مِلكِه، إذا كان البائعُ قدْ أنْهى إجراءاتِ شِرائِها وحازَها في
مِلكِه، لكنْ لا يَبيعُها المشْتري الثَّاني حتَّى يَنقُلَها إلى مَحلٍّ آخَرَ:
إلى بَيتِه، أو إلى السُّوقِ، ويُخرِجَها مِن مَحلِّ البائعِ إلى مَحلٍّ آخَرَ،
ثمَّ يَبيعَها بعْدَ ذلك إذا شاء؛ عمَلًا بالأحاديثِ المذكورةِ، وبما أخْرَجَه
البُخاريُّ في صَحيحِه عن ابنِ عُمرَ رَضِي اللهُ عنهما قال: «كنَّا نُضْرَبُ على
عَهدِ رَسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم على بَيْعِ الطَّعامِ في مَحلِّه؛
حتَّى نَنقُلَه إلى رِحالِنا»، وفي لَفظٍ: «حتَّى نَنقُلَه مِن أعْلى السُّوقِ إلى
أسْفَلِه، ومِن أسْفَلِه إلى أعلاهُ)
“Janji untuk membeli (الوعدُ بالشِّراءِ) bukanlah
pembelian, tetapi hanya janji. Jika seseorang ingin membeli suatu barang dan
meminta saudaranya untuk membelinya lalu menjualnya kepadanya, maka tidak
mengapa selama pembelian telah dilakukan dan barang telah diterima, kemudian
setelah itu dijual kepada orang yang menginginkannya.
Hal ini berdasarkan hadits shahih dari hakim bin hizam
radhiyallahu 'anhu bahwa ia berkata: wahai rasulullah ﷺ, seseorang datang kepadaku ingin membeli barang yang tidak ada
padaku, bolehkah aku menjualnya kepadanya lalu aku pergi membelinya? maka nabi ﷺ bersabda:
“Janganlah engkau menjual sesuatu
yang tidak ada padamu”.
Ini menunjukkan bahwa jika ia menjualnya kepada saudaranya
setelah ia memilikinya dan barang itu telah berada padanya, maka tidak mengapa.
Dalam makna ini juga terdapat sabda nabi ﷺ dalam hadits shahih dari abdullah bin amr bin al-‘ash
radhiyallahu 'anhuma:
“Tidak halal pinjaman dan jual
beli, serta tidak boleh menjual sesuatu yang tidak ada padamu”.
Dan terdapat riwayat shahih dari zaid bin tsabit
radhiyallahu 'anhu bahwa ia berkata:
“Rasulullah ﷺ melarang agar barang-barang dijual di tempat dibelinya sampai
para pedagang memindahkannya ke tempat mereka”.
Dari hadits-hadits ini diketahui bahwa seseorang apabila
menemukan barang pada zaid atau amr, seperti mobil, biji-bijian, pakaian,
peralatan, dan selainnya, maka tidak mengapa ia membelinya dan menguasainya
dalam kepemilikannya apabila penjual telah menyelesaikan proses pembelian dan
menguasainya.
Namun pembeli kedua tidak boleh menjualnya sampai ia
memindahkannya ke tempat lain, seperti ke rumahnya atau ke pasar, dan
mengeluarkannya dari tempat penjual ke tempat lain, kemudian setelah itu ia
boleh menjualnya jika ia mau, berdasarkan hadits-hadits tersebut dan
berdasarkan riwayat yang dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya dari ibnu
umar radhiyallahu 'anhuma yang berkata:
“Kami dahulu dipukul pada masa
rasulullah ﷺ karena menjual makanan di tempatnya sampai
kami memindahkannya ke tempat kami”.
Dan dalam lafaz lain:
“Sampai kami memindahkannya dari
bagian atas pasar ke bawahnya, dan dari bawahnya ke atasnya”
((Majmu’ Fatawa Bin Baz)) (19/68)
Dan madzhab al-Hanafiyah menunjukkan sependapat dengan ini
[Lihat ((al-Mabsuth)) karya as-sarakhsi (30/204)]
Begitu pula Madzhab al-Malikiyah, namun menurut al-Malikiyah:
tidak boleh secara mutlak meskipun dengan janji tersebut yang tidak mengikat.
((BacaL at-Taaj wa al-Iklil)) karya al-Mawaaq (4/406), ((Mawahib al-Jalil))
karya al-Haththab (6/296)
Dan Madzhab asy-Syafi’iyah, sebagaimana yang dipahami dari
perkataan Imam asy-Syafi’i, [lihat ((al-Umm)) karya asy-Syafi’i (3/39)]
Dan juga yang di fahami dari pendapat Madzab al-Hanabilah,
karena mereka berpendapat tidak bolehnya menjual sesuatu yang tidak dimiliki,
dan karena mengikat janji untuk membeli sebelum penjual memiliki barang
termasuk dalam larangan menjual sesuatu yang tidak dimiliki. ((Baca: Kasysyaf
al-Qina’)) karya al-Bahuti (3/157), ((Syarh Muntaha al-Iradat)) karya al-Bahuti
(2/10)
====
DALIL-DALIL
----
Dalil Pertama: dari sunnah
Dari Hakim bin Hizam radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، يَأْتِينِي الرَّجُلُ يَسْأَلُنِي البَيْعَ لَيْسَ
عِنْدِي، أَبِيعُهُ مِنْهُ ثُمَّ أَبْتَاعُهُ لَهُ مِنَ السُّوقِ؟، فَقَالَ: «لَا
تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ»
Aku berkata: wahai Rasulullah ﷺ, seseorang datang kepadaku meminta agar aku menjual kepadanya
sesuatu yang tidak ada padaku, lalu aku menjualnya dari pasar?
Maka beliau ﷺ bersabda: “janganlah
engkau menjual sesuatu yang tidak ada padamu”
[Diriwayatkan oleh Abu Dawud (3503), At-Tirmidzi (1232),
An-Nasa’i (4613), Ibnu Majah (2187), dan Ahmad (15311) dan lafaz ini miliknya.
Dishahihkan oleh Ibnu Al-‘Arabi dalam ((‘Aridhah
Al-Ahwadzi)) (3/193), An-Nawawi dalam ((Al-Majmu’)) (9/259), Ibnu Daqiq Al-‘Id
dalam ((Al-Iqtirah)) (99), Ibnu Al-Mulaqqin dalam ((Al-Badr Al-Munir)) (6/448),
Ibnu Baz dalam ((Majmu’ Al-Fatawa)) (19/119), dan Al-Albani dalam ((Shahih
Sunan Ibnu Majah)) (2187), dan Ibnu Al-Qayyim dalam ((Zad Al-Ma’ad)) (5/716)
serta Ibnu Hajar dalam ((Tahdzib At-Tahdzib)) (11/424) mengatakan: “Terjaga (مَحفوظٌ)”.
Sisi pendalilan:
Bahwa muwa’adah yang mengikat dalam jual beli
murabahah, itu menyerupai akad jual beli itu sendiri; karena pada saat itu
disyaratkan bahwa penjual harus memiliki barang yang dijual, padahal ia tidak
memilikinya, sehingga termasuk dalam menjual sesuatu yang tidak dimiliki
[((Majalah Majma’ Al-Fiqh Al-Islami)) (edisi kelima), dan lihat: ((Al-Umm))
karya Asy-Syafi’i (3/39)]
---
Dalil Kedua: Logika
Karena hal itu mengandung unsur gharar; sebab jika ia
menjual sesuatu yang tertentu padahal belum dimilikinya, lalu ia pergi untuk
membelinya atau menyerahkannya, maka hal itu berada di antara kemungkinan
terjadi atau tidak terjadi, sehingga menjadi gharar yang menyerupai perjudian,
maka hal itu dilarang
[lihat: ((Zad Al-Ma’ad)) karya Ibnu Al-Qayyim (5/716)
dengan penyesuaian]
KEPUTUSAN MAJMA’ AL-FIQH AL-ISLAMI
Keputusan nomor: 157 (17/6)
Tentang muwa’adah dan kesepakatan
terselubung dalam akad
Sesungguhnya Majelis Majma’ Al-Fiqh Al-Islami
Internasional yang berada di bawah Organisasi Konferensi Islam, yang
diselenggarakan pada sidang ke-17 di Amman (Kerajaan Hasyimiyah Yordania) dari
28 Jumada Al-Ula hingga 2 Jumada Al-Akhirah 1427 H, bertepatan dengan 24–28
Juni 2006 M,
Setelah menelaah penelitian yang masuk ke majelis terkait
topik muwa’adah dan kesepakatan terselubung dalam akad, serta menelaah
keputusan nomor 40-41 (5/2 dan 5/3), dan setelah mendengarkan diskusi yang
berlangsung di sekitarnya,
Memutuskan sebagai berikut:
أَوَّلًا: الْأَصْلُ فِي الْمُوَاعَدَةِ مِنَ الطَّرَفَيْنِ أَنَّهَا مُلْزِمَةٌ
دِيَانَةً، وَلَيْسَتْ مُلْزِمَةً قَضَاءً.
ثَانِيًا: الْمُوَاعَدَةُ مِنَ الطَّرَفَيْنِ عَلَى عَقْدٍ تَحَايُلًا عَلَى الرِّبَا،
مِثْلَ الْمُوَاطَأَةِ عَلَى الْعِينَةِ أَوِ الْمُوَاعَدَةِ عَلَى بَيْعٍ وَسَلَفٍ
مَمْنُوعَةٌ شَرْعًا.
ثَالِثًا: فِي الْحَالَاتِ الَّتِي لَا يُمْكِنُ فِيهَا إِنْجَازُ عَقْدِ الْبَيْعِ
لِعَدَمِ وُجُودِ الْمَبِيعِ فِي مِلْكِ الْبَائِعِ مَعَ وُجُودِ حَاجَةٍ عَامَّةٍ
لِإِلْزَامِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الطَّرَفَيْنِ بِإِنْجَازِ عَقْدٍ فِي الْمُسْتَقْبَلِ
بِحُكْمِ الْقَانُونِ أَوْ غَيْرِهِ، أَوْ بِحُكْمِ الْأَعْرَافِ التِّجَارِيَّةِ الدَّوْلِيَّةِ،
كَمَا فِي فَتْحِ الِاعْتِمَادِ الْمُسْتَنْدِيِّ لِاسْتِيرَادِ الْبِضَاعَاتِ، فَإِنَّهُ
يَجُوزُ أَنْ تُجْعَلَ الْمُوَاعَدَةُ مُلْزِمَةً لِلْطَّرَفَيْنِ إِمَّا بِتَقْنِينٍ
مِنَ الْحُكُومَةِ، وَإِمَّا بِاتِّفَاقِ الطَّرَفَيْنِ عَلَى نَصٍّ فِي الِاتِّفَاقِيَّةِ
يَجْعَلُ الْمُوَاعَدَةَ مُلْزِمَةً لِلْطَّرَفَيْنِ.
رَابِعًا: إِنَّ الْمُوَاعَدَةَ الْمُلْزِمَةَ فِي الْحَالَةِ الْمَذْكُورَةِ
فِي الْبَنْدِ ثَالِثًا لَا تَأْخُذُ حُكْمَ الْبَيْعِ الْمُضَافِ إِلَى الْمُسْتَقْبَلِ،
فَلَا يَنْتَقِلُ بِهَا مِلْكُ الْمَبِيعِ إِلَى الْمُشْتَرِي، وَلَا يَصِيرُ الثَّمَنُ
دَيْنًا عَلَيْهِ، وَلَا يَنْعَقِدُ الْبَيْعُ إِلَّا فِي الْمَوْعِدِ الْمُتَّفَقِ
عَلَيْهِ بِإِيجَابٍ وَقَبُولٍ.
خَامِسًا: إِذَا تَخَلَّفَ أَحَدُ طَرَفَيِ الْمُوَاعَدَةِ، فِي الْحَالَاتِ الْمَذْكُورَةِ
فِي الْبَنْدِ ثَالِثًا، عَمَّا وَعَدَ بِهِ، فَإِنَّهُ يُجْبَرُ قَضَاءً عَلَى إِنْجَازِ
الْعَقْدِ، أَوْ تَحَمُّلِ الضَّرَرِ الْفِعْلِيِّ الْحَقِيقِيِّ الَّذِي لَحِقَ الطَّرَفَ
الْآخَرَ بِسَبَبِ تَخَلُّفِهِ عَنْ وَعْدِهِ (دُونَ الْفُرْصَةِ الضَّائِعَةِ).
Pertama: hukum asal muwa’adah dari kedua
pihak adalah mengikat secara agama, namun tidak mengikat secara hukum
(peradilan).
Kedua: muwa’adah dari kedua pihak atas
suatu akad sebagai bentuk rekayasa untuk menghalalkan riba, seperti kesepakatan
terselubung pada bai’ ‘inah atau muwa’adah atas jual beli dan pinjaman, adalah
terlarang secara syariat.
Ketiga: dalam kondisi yang tidak
memungkinkan dilaksanakannya akad jual beli karena barang belum dimiliki oleh
penjual, namun terdapat kebutuhan umum untuk mengikat kedua pihak agar
melaksanakan akad di masa depan berdasarkan hukum atau selainnya, atau
berdasarkan kebiasaan perdagangan internasional, seperti dalam pembukaan letter
of credit untuk impor barang, maka diperbolehkan menjadikan muwa’adah mengikat
bagi kedua pihak, baik melalui regulasi pemerintah maupun melalui kesepakatan
kedua pihak dengan mencantumkan klausul dalam perjanjian yang menjadikan
muwa’adah mengikat bagi keduanya.
Keempat: muwa’adah yang mengikat dalam
kondisi yang disebutkan pada poin ketiga tidak dihukumi sebagai jual beli yang
ditangguhkan ke masa depan, sehingga kepemilikan barang tidak berpindah kepada
pembeli, harga tidak menjadi utang atasnya, dan akad jual beli tidak terjadi
kecuali pada waktu yang telah disepakati dengan ijab dan qabul.
Kelima: apabila salah satu pihak dalam
muwa’adah, pada kondisi yang disebutkan pada poin ketiga, tidak menepati
janjinya, maka ia dapat dipaksa secara hukum untuk melaksanakan akad, atau
menanggung kerugian nyata yang benar-benar dialami oleh pihak lain akibat
pelanggaran janjinya (bukan kerugian peluang yang hilang).
TANYA JAWAB DALAM FATWA ISLAM WEB
Islam Web nomor 354142
Syarat muwa’adah antara dua pihak
dalam jual beli
Pertanyaan:
Saya bekerja sebagai pegawai di salah satu instansi
pemerintah. Setelah selesai bekerja dan pada hari libur, saya bekerja dalam
perdagangan alat-alat medis dengan cara sebagai berikut:
“Saya berhubungan dengan beberapa importir alat kesehatan,
kemudian saya mendatangi para dokter di rumah sakit, pusat kesehatan, dan
klinik-klinik swasta, lalu saya menawarkan alat medis yang mereka butuhkan
dalam pekerjaan mereka.
Jika ada salah satu dari mereka yang meminta kepada saya
sebuah alat tertentu, saya pergi kepada salah satu importir alat tersebut, lalu
saya membelinya darinya dengan harga perdagangan yang lebih rendah dari harga
alat jika dijual kepada dokter, karena mereka tahu bahwa saya adalah pedagang,
kemudian saya menjualnya kepada dokter tersebut”.
Apakah dalam bentuk seperti ini terdapat keharaman?
Jawaban:
الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ، أَمَّا بَعْدُ:
فَإِنْ كَانَ الْحَالُ كَمَا ذَكَرْتَ مِنْ كَوْنِكَ تَبِيعُ السِّلْعَةَ بَعْدَ
أَنْ تَمْتَلِكَهَا بِالشِّرَاءِ، وَمَا يَحْصُلُ قَبْلَ ذَلِكَ مُجَرَّدُ مُوَاعَدَةٍ
بَيْنَكَ وَبَيْنَ الطَّبِيبِ، وَلَيْسَتْ بَيْعًا، فَهَذَا جَائِزٌ لَا إِشْكَالَ
فِيهِ.
فَقَدْ جَاءَ فِي قَرَارِ الْمَجْمَعِ الْفِقْهِيِّ: الْمُوَاعَدَةُ ـ وَهِيَ
الَّتِي تَصْدُرُ مِنَ الطَّرَفَيْنِ ـ تَجُوزُ فِي بَيْعِ الْمُرَابَحَةِ، بِشَرْطِ
الْخِيَارِ لِلْمُتَوَاعِدَيْنِ، كِلَيْهِمَا أَوْ أَحَدِهِمَا، فَإِذَا لَمْ يَكُنْ
هُنَاكَ خِيَارٌ، فَإِنَّهَا لَا تَجُوزُ؛ لِأَنَّ الْمُوَاعَدَةَ الْمُلْزِمَةَ فِي
بَيْعِ الْمُرَابَحَةِ تُشْبِهُ الْبَيْعَ نَفْسَهُ، حَيْثُ يُشْتَرَطُ عِنْدَئِذٍ
أَنْ يَكُونَ الْبَائِعُ مَالِكًا لِلْمَبِيعِ، حَتَّى لَا تَكُونَ هُنَاكَ مُخَالَفَةٌ؛
لِنَهْيِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْإِنْسَانِ مَا
لَيْسَ عِنْدَهُ. اهـ.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam atas
Rasulullah, beserta keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du:
Jika keadaan seperti yang Anda sebutkan, yaitu Anda
menjual barang setelah Anda memilikinya dengan cara membelinya terlebih dahulu,
dan apa yang terjadi sebelumnya hanyalah muwa’adah (janji kesepakatan) antara
Anda dan dokter, bukan akad jual beli, maka hal ini diperbolehkan dan tidak ada
masalah.
Sebagaimana telah disebutkan dalam keputusan majma’ fiqih:
“Muwa’adah, yaitu yang berasal dari kedua belah pihak,
diperbolehkan dalam jual beli murabahah, dengan syarat adanya hak pilihan
(khiyar) bagi kedua pihak yang berjanji, atau salah satunya. Jika tidak ada hak
pilihan, maka tidak diperbolehkan; karena muwa’adah yang mengikat dalam jual beli
murabahah menyerupai jual beli itu sendiri, di mana pada saat itu disyaratkan
bahwa penjual harus memiliki barang yang dijual, agar tidak terjadi pelanggaran
terhadap larangan Nabi ﷺ tentang menjual sesuatu yang tidak
dimiliki seseorang”. [selesai]
Wallahu a’lam.
===***===
KONSEKWENSI AKAD AL-MUWA’ADAH YANG MENGIKAT
Fatwa Islam Web nomor 260590
الْوَعْدُ الْمُلْزِمُ بِالشِّرَاءِ هَلْ يَجِبُ الْوَفَاءُ بِهِ
Janji yang mengikat untuk
membeli, apakah wajib dipenuhi?
Pertanyaan:
Apa hukum akad yang mengikat untuk membeli jika jual beli
telah terjadi? Apakah jual belinya sah atau batal? Jika diketahui bahwa pihak
yang memerintahkan pembelian menyetujui klausul ini, dan ia terikat untuk
membeli.
Jawaban:
الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ، أَمَّا بَعْدُ:
فَقَوْلُكَ مَا حُكْمُ الْعَقْدِ الْمُلْزِمِ بِالشِّرَاءِ؟ إِنْ كُنْتَ تَقْصِدُ
بِهِ الْوَعْدَ، فَالرَّاجِحُ أَنَّ الْوَعْدَ الَّذِي يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ دُخُولُ
الْمَوْعُودِ فِي كُلْفَةٍ يَلْزَمُ الْوَفَاءُ بِهِ إِلَّا لِعُذْرٍ. وَهَذَا مَذْهَبُ
الْمَالِكِيَّةِ وَجَمَاعَةٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ، فَعِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ يَلْزَمُ
الْوَاعِدُ بِوَعْدِهِ قَضَاءً إِنْ أَدْخَلَ الْمَوْعُودَ فِي وَرْطَةٍ، أَوْ كَانَ
وَعْدُهُ مَقْرُونًا بِذِكْرِ السَّبَبِ.
وَقَدْ جَاءَ فِي قَرَارِ مَجْمَعِ الْفِقْهِ الْإِسْلَامِيِّ: "الْوَعْدُ:
وَهُوَ الَّذِي يَصْدُرُ مِنَ الْآمِرِ أَوِ الْمَأْمُورِ عَلَى وَجْهِ الِانْفِرَادِ
يَكُونُ مُلْزِمًا لِلْوَاعِدِ دِيَانَةً إِلَّا لِعُذْرٍ، وَهُوَ مُلْزِمٌ قَضَاءً
إِذَا كَانَ مُعَلَّقًا عَلَى سَبَبٍ، وَدَخَلَ الْمَوْعُودُ فِي كُلْفَةٍ نَتِيجَةَ
الْوَعْدِ، وَيَتَحَدَّدُ أَثَرُ الْإِلْزَامِ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ إِمَّا بِتَنْفِيذِ
الْوَعْدِ، وَإِمَّا بِالتَّعْوِيضِ عَنِ الضَّرَرِ الْوَاقِعِ فِعْلًا بِسَبَبِ عَدَمِ
الْوَفَاءِ بِالْوَعْدِ بِلَا عُذْرٍ". انْتَهَى.
وَعَلَى هَذَا فَكَوْنُ الْوَعْدِ مِنَ الْآمِرِ بِالشِّرَاءِ مُلْزِمًا لَهُ
دِيَانَةً أَوْ قَضَاءً لَا يُؤَثِّرُ فِي صِحَّةِ الْمُعَامَلَةِ، فَتَكُونُ صَحِيحَةً
لَوْ تَمَّتْ. وَيَتَحَدَّدُ أَثَرُ الْإِلْزَامِ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ إِمَّا بِتَنْفِيذِ
الْوَعْدِ، وَإِمَّا بِالتَّعْوِيضِ عَنِ الضَّرَرِ الْوَاقِعِ فِعْلًا بِسَبَبِ عَدَمِ
الْوَفَاءِ بِالْوَعْدِ بِلَا عُذْرٍ، كَمَا سَبَقَ فِي قَرَارِ مَجْمَعِ الْفِقْهِ.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam atas
Rasulullah, beserta keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du:
Adapun perkataan Anda tentang hukum akad yang mengikat
untuk membeli, jika yang Anda maksud adalah janji, maka pendapat yang lebih
kuat adalah bahwa janji yang menyebabkan pihak yang dijanjikan masuk ke dalam
beban biaya wajib dipenuhi kecuali ada uzur. Ini adalah mazhab malikiyah dan
sekelompok ulama. Menurut malikiyah, pihak yang berjanji wajib memenuhi
janjinya secara hukum apabila ia telah menjerumuskan pihak yang dijanjikan ke
dalam kesulitan, atau apabila janjinya dikaitkan dengan suatu sebab.
Dan telah disebutkan dalam keputusan majma’ fiqih islami:
“Janji, yaitu yang berasal dari pihak yang
memerintahkan atau yang diperintahkan secara sendiri-sendiri, bersifat mengikat
bagi pihak yang berjanji secara agama kecuali ada uzur, dan mengikat secara
hukum apabila dikaitkan dengan suatu sebab serta pihak yang dijanjikan telah
masuk dalam beban biaya sebagai akibat dari janji tersebut. Dampak keterikatan
dalam kondisi ini ditentukan dengan salah satu dari dua hal: melaksanakan
janji, atau memberikan ganti rugi atas kerugian nyata yang benar-benar terjadi
akibat tidak dipenuhinya janji tanpa uzur”. (Selesai).
Berdasarkan hal ini, keberadaan janji dari pihak yang
memerintahkan pembelian yang mengikat secara agama atau hukum tidak
mempengaruhi keabsahan transaksi, sehingga transaksi tersebut tetap sah apabila
telah terlaksana. Dampak keterikatan dalam kondisi ini ditentukan dengan salah
satu dari dua hal: melaksanakan janji, atau memberikan ganti rugi atas kerugian
nyata yang benar-benar terjadi akibat tidak dipenuhinya janji tanpa uzur,
sebagaimana telah disebutkan dalam keputusan majma’ fiqih. Wallahu a’lam.
===***===
PERBEDAAN ANTARA JANJI DAN SALING BERJANJI
Fatwa Islam Web nomor 142181
شَرْطُ جَوَازِ الْمُوَاعَدَةِ فِي بَيْعِ الْمُرَابَحَةِ
Syarat bolehnya muwa’adah dalam
jual beli murabahah
Pertanyaan:
مِنْ شُرُوطِ الْمُرَابَحَةِ لِلْآمِرِ بِالشِّرَاءِ أَنْ تَكُونَ الْمُوَاعَدَةُ
بِالْخِيَارِ بَيْنَ الْمُتَوَاعِدَيْنِ ـ كِلَاهُمَا أَوْ أَحَدُهُمَا ـ وَيَكُونُ
الْوَعْدُ، وَهُوَ الَّذِي يَصْدُرُ مِنَ الْآمِرِ أَوِ الْمَأْمُورِ عَلَى وَجْهِ
الِانْفِرَادِ، مُلْزِمًا قَضَاءً إِذَا كَانَ مُعَلَّقًا عَلَى سَبَبٍ وَدَخَلَ الْمَوْعُودُ
فِي كُلْفَةٍ نَتِيجَةَ الْوَعْدِ.
فَمَا الْفَرْقُ بَيْنَ الْمُوَاعَدَةِ وَالْوَعْدِ فِي الْمُرَابَحَةِ لِلْآمِرِ
بِالشِّرَاءِ؟ وَكَيْفَ الْجَمْعُ بَيْنَ الْخِيَارِ فِي الْمُوَاعَدَةِ وَالْإِلْزَامِ
فِي الْوَعْدِ؟
Di antara syarat murabahah untuk pemesan pembelian adalah
bahwa muwa’adah bersifat dengan adanya hak pilihan (khiyar) bagi kedua pihak
yang berjanji, baik keduanya atau salah satunya.
Sedangkan janji, yaitu yang berasal dari pihak pemesan
atau yang diperintahkan secara sendiri-sendiri, bersifat mengikat secara hukum
apabila dikaitkan dengan suatu sebab dan pihak yang dijanjikan telah masuk
dalam beban biaya sebagai akibat dari janji tersebut.
Lalu apa perbedaan antara muwa’adah dan janji dalam
murabahah untuk pemesan pembelian?
Dan bagaimana menggabungkan antara adanya khiyar dalam
muwa’adah dan sifat mengikat dalam janji?
Jawaban:
الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ، أَمَّا بَعْدُ:
فَالْفَرْقُ بَيْنَ الْوَعْدِ وَالْمُوَاعَدَةِ فِي الْمُرَابَحَةِ لِلْآمِرِ
بِالشِّرَاءِ: أَنَّ الْوَعْدَ هُوَ الَّذِي يَصْدُرُ مِنَ الْآمِرِ أَوِ الْمَأْمُورِ
عَلَى وَجْهِ الِانْفِرَادِ.
وَأَمَّا الْمُوَاعَدَةُ: فَهِيَ الَّتِي تَصْدُرُ مِنَ الطَّرَفَيْنِ كِلَيْهِمَا
مَعًا بِأَنْ يَعِدَ الْبَنْكُ الْعَمِيلَ أَنْ يَبِيعَ لَهُ السِّلْعَةَ، وَيَعِدَ
الْعَمِيلُ الْبَنْكَ أَنْ يَشْتَرِيَهَا مِنْهُ، وَلِذَلِكَ جَاءَ فِي قَرَارِ مَجْلِسِ
مَجْمَعِ الْفِقْهِ الْإِسْلَامِيِّ جَوَازُ الْمُوَاعَدَةِ فِي بَيْعِ الْمُرَابَحَةِ
بِشَرْطِ الْخِيَارِ لِأَحَدِ الْمُتَوَاعِدَيْنِ عَلَى الْأَقَلِّ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ
هُنَاكَ خِيَارٌ لَمْ تَجُزْ؛ لِأَنَّ الْمُوَاعَدَةَ الْمُلْزِمَةَ لِلطَّرَفَيْنِ
جَمِيعًا تُشْبِهُ الْبَيْعَ نَفْسَهُ، وَمَعْلُومٌ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ بَيْعُ الْإِنْسَانِ
مَا لَيْسَ عِنْدَهُ.
وَأَمَّا الْإِلْزَامُ الْقَضَائِيُّ فِي الْوَعْدِ: فَلَيْسَ مِنْ هَذَا الْبَابِ،
إِذْ نَتِيجَتُهُ أَنْ يُقَالَ لِلْوَاعِدِ: إِمَّا أَنْ تُنَفِّذَ الْوَعْدَ إِنْ
شِئْتَ، أَوْ تَدْفَعَ تَعْوِيضًا عَنِ الضَّرَرِ الْفِعْلِيِّ بِسَبَبِ عَدَمِ الْوَفَاءِ
بِلَا عُذْرٍ.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam atas
Rasulullah, beserta keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du:
Perbedaan antara wa’ad (janji) dan muwa’adah (saling janji)
dalam murabahah untuk pemesan pembelian adalah:
Bahwa wa’ad (janji) adalah yang berasal dari pihak
pemesan atau yang diperintahkan secara sendiri-sendiri.
Adapun muwa’adah (saling janji) adalah yang berasal dari
kedua belah pihak secara bersamaan, yaitu bank menjanjikan kepada nasabah untuk
menjual barang kepadanya dan nasabah menjanjikan kepada bank untuk membelinya
darinya. Oleh karena itu, dalam keputusan Majelis Majma’ Al-Fiqh Al-Islami
disebutkan bolehnya muwa’adah dalam jual beli murabahah dengan syarat adanya
khiyar bagi salah satu dari dua pihak yang berjanji setidaknya. Jika tidak ada
khiyar, maka tidak diperbolehkan, karena muwa’adah yang mengikat kedua belah
pihak menyerupai jual beli itu sendiri, dan telah diketahui bahwa tidak boleh
seseorang menjual sesuatu yang tidak dimilikinya.
Adapun keterikatan secara hukum dalam wa’ad (janji), maka
itu bukan termasuk dalam bab ini, karena konsekuensinya adalah dikatakan kepada
pihak yang berjanji: boleh jadi engkau melaksanakan janji jika engkau mau, atau
engkau membayar ganti rugi atas kerugian nyata akibat tidak menepati janji
tanpa udzur.
Wallahu a’lam.
0 Komentar