Manhaj HAJER & TAHDZIR Dalam YAHUDI Serta FAKTOR Yang Melatar Belakanginya
---
Di Tulis Oleh Abu Haitsam
Fakhri
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
DAFTAR ISI:
- Pendahuluan:
- Manhaj hajar dan tahdzir dalam Yahudi
- Orang Yahudi melarang untuk memberi salam kepada non Yahudi
- Orang Yahudi melarang duduk-duduk bersama dengan selain Yahudi
- Faktor yang melatar belakangi manhaj hajar dan tahdzir dalam Yahudi
- Faktor pertama: sombong dan merasa suci
- Klaim Yahudi sebagai bangsa pilihan dan mesias
- Sebab Yahudi mengklaim sebagai bangsa pilihan
- Faktor kedua: Yahudi senantiasa memandang rendah dan hina bangsa lain
- Orang Yahudi senantiasa berusaha memperbudak bangsa lain dan menganggapnya sebagai hewan
- Orang Yahudi gemar memberi gelar buruk terhadap orang lain:
- Sifat-sifat celaan terhadap goyim dalam kitab Talmud
- Sikap busuk Yahudi terhadap goyim:
- Penutup::
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
===***===
PENDAHULUAN
Allah SWT berfirman:
﴿وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ
لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ
أَنبِيَاءَ وَجَعَلَكُم مُّلُوكًا وَآتَاكُم مَّا لَمْ يُؤْتِ أَحَدًا مِّنَ الْعَالَمِينَ﴾
Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya:
"Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi nabi
diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya
kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara
umat-umat yang lain". [QS. Al-Maidah: 20]
Dan firman Allah SWT:
﴿يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ
اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى
الْعَالَمِينَ﴾
Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah
Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan
kamu atas segala umat. [Baqarah: 47]
Al-Qurthubi rahimahullah ta'ala berkata:
يُرِيدُ عَلَى عَالَمِي زَمَانِهِمْ،
وَأَهْلُ كُلِّ زَمَانٍ عَالَمٌ. وَقِيلَ: عَلَى كُلِّ الْعَالَمِينَ بِمَا جَعَلَ
فِيهِمْ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ، وَهَذَا خَاصَّةٌ لَهُمْ وَلَيْسَتْ لِغَيْرِهِمْ. اهـ
“Maksudnya adalah atas seluruh manusia pada zaman
mereka, karena setiap zaman memiliki ‘alam (manusia)-nya. Ada juga yang
mengatakan: atas seluruh manusia, karena pada mereka dijadikan para nabi, dan
ini merupakan kekhususan bagi mereka yang tidak dimiliki oleh selain mereka.”
(al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an 1/376)
Abu Ja’far ath-Thabari rahimahullah ta'ala menambahkan
penjelasan dalam tafsirnya, beliau berkata:
وَيَعْنِي بِقَوْلِهِ: ﴿ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ
عَلَى الْعَالَمِينَ ﴾: أَنِّي فَضَّلْتُ أَسْلَافَكُمْ، فَنَسَبَ نِعَمَهُ عَلَى آبَائِهِمْ
وَأَسْلَافِهِمْ إِلَى أَنَّهَا نِعَمٌ مِنْهُ عَلَيْهِمْ، إِذْ كَانَتْ مَآثِرُ الْآبَاءِ
مَآثِرَ لِلْأَبْنَاءِ، وَالنِّعَمُ عِنْدَ الْآبَاءِ نِعَمًا عِنْدَ الْأَبْنَاءِ،
لِكَوْنِ الْأَبْنَاءِ مِنَ الْآبَاءِ، وَأَخْرَجَ جَلَّ ذِكْرُهُ قَوْلَهُ: ﴿ وَأَنِّي
فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ ﴾ مَخْرَجَ الْعُمُومِ، وَهُوَ يُرِيدُ بِهِ خُصُوصًا؛
لِأَنَّ الْمَعْنَى: وَإِنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى عَالَمٍ مَنْ كُنْتُمْ بَيْنَ ظَهْرَيْهِ
وَفِي زَمَانِهِ. اهـ
“Yang dimaksud dengan firman-Nya: ‘Dan bahwa Aku telah
melebihkan kalian atas seluruh manusia’, yaitu Aku telah melebihkan para
leluhur kalian. Maka Allah menisbatkan nikmat-Nya kepada nenek moyang mereka
sebagai nikmat bagi mereka, karena kemuliaan para ayah adalah kemuliaan bagi
anak-anak, dan nikmat yang ada pada ayah adalah nikmat bagi anak-anak, karena
anak-anak berasal dari ayah mereka. Dan Allah Jalla Dzikruhu menyebutkan
firman-Nya ‘Dan bahwa Aku telah melebihkan kalian atas seluruh manusia’ dalam
bentuk umum, padahal yang dimaksud adalah khusus; karena maknanya: Aku telah
melebihkan kalian atas manusia yang hidup bersama kalian dan pada zaman
kalian.” (Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an 1/23/867)
Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah ta'ala dalam tafsir beliau
terhadap bagian ayat: “Dan bahwa Aku telah melebihkan kalian atas seluruh
manusia”, menyebutkan faedah yang sangat berharga, beliau berkata:
"فَالْحَاصِلُ
أَنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا شَكَّ أَفْضَلُ الْعَالَمِينَ حِينَ مَا كَانُوا عِبَادَ
اللَّهِ الصَّالِحِينَ؛ أَمَّا حِينَ ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ، وَاللَّعْنَةُ،
وَالصَّغَارُ فَإِنَّهُمْ لَيْسُوا أَفْضَلَ الْعَالَمِينَ؛ بَلْ مِنْهُمُ الْقِرَدَةُ،
وَالْخَنَازِيرُ؛ وَهُمْ أَذَلُّ عِبَادِ اللَّهِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ
الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ
وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ﴾ [آلِ عِمْرَانَ: 112]، وَقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿لَا
يُقَاتِلُونَكُمْ جَمِيعًا إِلَّا فِي قُرًى مُحَصَّنَةٍ أَوْ مِنْ وَرَاءِ جُدُرٍ
بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى ذَلِكَ
بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ﴾ [الْحَشْرِ: 14]..
وَيَدُلُّ لِذَلِكَ -أَيْ أَنَّ الْمُرَادَ
بِقَوْلِهِ تَعَالَى-: ﴿فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ﴾ أَيْ فِي وَقْتِكُمْ، أَوْ
فِيمَنْ سَبَقَكُمْ: قَوْلُهُ تَعَالَى فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ﷺ:
﴿كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ
عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ
خَيْرًا لَهُمْ﴾ [آلِ عِمْرَانَ: 110]؛ فَقَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ
أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ﴾ صَرِيحٌ فِي تَفْضِيلِهِمْ عَلَى النَّاسِ؛ وَلِهَذَا قَالَ
تَعَالَى: ﴿وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ﴾؛ وَقَدْ ثَبَتَ
عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّنَا نُوفِي سَبْعِينَ أُمَّةً، نَحْنُ أَكْرَمُهَا، وَأَفْضَلُهَا
عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.. وَهَذَا أَمْرٌ لَا شَكَّ فِيهِ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ."
اهـ
“Kesimpulannya, Bani
Israil tidak diragukan lagi adalah sebaik-baik manusia pada saat mereka menjadi
hamba-hamba Allah yang saleh. Namun ketika mereka ditimpa kehinaan, laknat, dan
kerendahan, maka mereka bukan lagi sebaik-baik manusia; bahkan di antara mereka
ada yang menjadi kera dan babi, dan mereka adalah hamba Allah yang paling hina.
Hal ini berdasarkan firman Allah: ‘Ditimpakan kepada
mereka kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali dengan tali dari Allah dan
tali dari manusia, dan mereka kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah’ (Ali
‘Imran: 112).
Dan firman-Nya: ‘Mereka tidak akan memerangi kalian
secara bersama-sama kecuali di dalam kampung-kampung yang berbenteng atau dari
balik tembok. Permusuhan di antara mereka sangat keras. Kalian mengira mereka
bersatu, padahal hati mereka terpecah belah. Yang demikian itu karena mereka
adalah kaum yang tidak berakal’ (al-Hasyr: 14).
Hal ini juga menunjukkan bahwa yang dimaksud firman
Allah: ‘Aku telah melebihkan kalian atas seluruh manusia’ adalah pada waktu
mereka, atau atas orang-orang sebelum mereka. Hal ini diperkuat oleh firman
Allah tentang umat ini, yaitu umat Muhammad ﷺ: ‘Kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia,
kalian menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman
kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentu itu lebih baik bagi mereka’
(Ali ‘Imran: 110).
Maka firman-Nya: ‘Kalian adalah sebaik-baik umat yang
dilahirkan untuk manusia’ secara jelas menunjukkan keutamaan mereka atas
manusia. Oleh karena itu Allah berfirman: ‘Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentu
itu lebih baik bagi mereka.’
Dan telah ada ketetapan dari Nabi ﷺ bahwa kita menyempurnakan tujuh puluh
umat, kita adalah yang paling mulia dan paling utama di sisi Allah Azza wa
Jalla. Ini adalah perkara yang tidak diragukan lagi. Segala puji bagi Allah.”
(Tafsir Ibnu ‘Utsaimin 3/119)
MANHAJ HAJER DAN TAHDZIR DALAM YAHUDI
Berdasarkan khurafat-khurafat yang diyakini oleh orang
Yahudi, mereka telah menjadikan hamba-hamba Allah menjadi dua golongan:
Pertama : golongan yang
sangat istimewa yaitu Yahudi sebagai anak-anak Tuhan dan kekasih-kekasih-Nya.
Kedua: golongan yang
sangat hina yaitu selain Yahudi dari seluruh manusia, yang disebut dengan sebutan
ghoyim (غُوَيِيمْ) atau “Ojim
(أُوجِيمْ)”
Sungguh disayangkan bahwa khurafat-khurafat ini mereka
jadikan dalil dengan teks-teks suci yang dinisbatkan secara dusta dan bohong
kepada Allah dan para rasul-Nya.
Dari situlah mereka membangun sistem kehidupan,
ibadah, dan muamalah mereka dengan orang lain, serta menjadikannya sebagai
alasan untuk menghalalkan segala sesuatu terhadap “goyim (non Yahudi)”:
darah mereka, kehormatan mereka, harta mereka, martabat mereka, dan seluruh
bentuk perlakuan terhadap mereka.
Orang Yahudi telah mengalami banyak penindasan dan mendapatkan
kebencian dari bangsa-bangsa lain karena sebab dari diri mereka sendiri. Namun
demikian, mereka juga mempraktikkan kebencian terhadap bangsa-bangsa lain sejak
awal, sehingga hati mereka dipenuhi dengan kedengkian, perasaan lebih unggul,
dan kesombongan atas mereka.
----
Orang Yahudi Melarang Untuk Memberi
Salam Kepada Non Yahudi
Disebutkan dalam kitab Talmud:
“Ruh orang Yahudi memiliki
keistimewaan karena merupakan bagian dari Tuhan, sedangkan benih non-Yahudi
seperti benih hewan.
Neraka adalah tempat bagi
orang kafir, bagian mereka di dalamnya adalah tangisan dan rasa sakit.
Kaum Muslimin akan kekal di
dalamnya karena mereka hanya mencuci tangan dan kaki, dan orang
Nasrani juga akan kekal di dalamnya karena mereka tidak berkhitan.
Orang Yahudi adalah golongan
terbaik dari manusia, sedangkan selain mereka adalah anjing, bahkan
anjing lebih baik dari mereka.
Tidak boleh bagi orang Yahudi merasa
kasihan kepada mereka atau memberi salam kecuali karena takut bahaya,
dan salam tersebut hanyalah kemunafikan yang dibolehkan terhadap orang kafir di
luar agama Yahudi”.
----
Orang Yahudi melarang duduk-duduk
bersama dengan selain Yahudi.
Orang Yahudi di Rusia Tsar dahulu menolak makan
bersama orang Kristen Rusia dan memandang mereka dengan sikap merendahkan.
Seorang rabi bernama Meir Kahane berkata: “Kami
adalah bangsa pilihan, bangsa khusus, bangsa yang unggul. Kami diciptakan jauh
dari segala hal yang hina. Kami adalah bangsa yang harus hidup terpisah dari
orang lain dan dengan cara yang berbeda agar terhindar dari percampuran dengan
peradaban yang tidak suci.”
Seorang rabi lain, Ishaq Gnorj, dalam sebuah
persidangan tahun 1985 setelah terjadinya gejolak di Nablus, berkata: “Bangsa
Israel harus bangkit dan menyatakan kepada semua orang bahwa orang Yahudi tidak
sama dengan non-Yahudi, jauh dari itu. Setiap pengadilan yang didasarkan pada
persamaan antara Yahudi dan bangsa lain adalah gambaran keadilan yang palsu.”
Manhaj hajr (pengucilan/ pengasingan) dan Tahdzir (peringatan)
dalam konteks Yahudi mencakup dimensi historis dan arkeologis.
Batu-batu peringatan kuno, seperti yang dipamerkan di
Museum Israel, menunjukkan adanya larangan bagi non-Yahudi untuk memasuki area
tertentu di dalam Bait Suci.
Sementara itu, manhaj hajer mereka secara historis
berkaitan dengan pengusiran orang-orang Yahudi dari tanah mereka, khususnya
setelah penindasan Romawi terhadap pemberontakan Bar Kokhba, sebagaimana
disebutkan dalam sejarah Yahudi di Wikipedia.
FAKTOR YANG MELATAR
BELAKANGI
MANHAJ HAJER DAN TAHDZIR DALAM YAHUDI
****
FAKTOR PERTAMA: SOMBONG DAN MERASA
SUCI
Mereka berkata: “Kami adalah
putra-putra Allah dan kekasih-Nya”.
Orang-orang Yahudi senantiasa meyakini dan mengklaim
bahwa mereka adalah putra-putra Allah dan para kekasih-Nya. Sebagaimana yang
dijelaskan dalam firman Allah SWT:
﴿وَقَالَتِ
الْيَهُودُ وَالنَّصَارَىٰ نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ﴾
Orang-orang Yahudi dan
Nasrani mengatakan: "Kami ini adalah anak-anak Allah dan
kekasih-kekasih-Nya". [QS. Al-Maidah: 18]
Ayat lengkapnya:
﴿وَقَالَتِ الْيَهُودُ
وَالنَّصَارَىٰ نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ ۚ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُم
بِذُنُوبِكُم ۖ بَلْ أَنتُم بَشَرٌ مِّمَّنْ خَلَقَ ۚ يَغْفِرُ لِمَن يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ
مَن يَشَاءُ ۚ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ وَإِلَيْهِ
الْمَصِيرُ﴾
Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami
ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya". Katakanlah:
"Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?" (Kamu bukanlah
anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia(biasa)
diantara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang
dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan
Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala
sesuatu). [QS. Al-Maidah: 18]
====
KLAIM YAHUDI SEBAGAI BANGSA PILIHAN DAN MESIAS
Dr. Herbert Louis, seorang Yahudi dan profesor bahasa
Ibrani di Universitas Oxford, mengatakan bahwa agama Yahudi berdiri di atas dua
dasar: keesaan Tuhan dan keterpilihan Israel. Sebelumnya telah dibahas tentang
konsep keesaan dalam Yahudi, dan sekarang akan dibahas dasar yang kedua.
Diriwayatkan bahwa Yahweh telah membuat janji kepada
Ibrahim untuk mengutamakan bangsa Yahudi atas seluruh bangsa (Wells: *The
Outline of History*, Vol. II, hlm. 291). Dalam Taurat terdapat teks-teks
berikut:
* “Akulah Tuhan Allahmu yang telah memisahkan kamu
dari bangsa-bangsa; kamu akan menjadi kudus bagi-Ku, karena Aku Tuhan adalah
kudus, dan Aku telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa supaya kamu menjadi
milik-Ku.” (Imamat 20: 24–26).
* “Sesungguhnya engkau, hai Israel, adalah umat yang
kudus bagi Tuhan Allahmu. Engkaulah yang dipilih Tuhan Allahmu untuk menjadi
umat kesayangan-Nya dari segala bangsa di muka bumi. Bukan karena jumlahmu
lebih banyak dari bangsa lain Tuhan mengasihi dan memilihmu, dan bukan pula
karena kamu lebih sedikit, tetapi karena kasih Tuhan kepadamu dan karena Ia
memegang sumpah yang telah diikrarkan kepada nenek moyangmu.” (Ulangan 7: 6–8).
Kitab Talmud dan *Protokol Para Tetua Zion*—yang akan
dibahas kemudian—berlebihan dalam menjelaskan keunggulan dan keterpilihan
bangsa Yahudi. Disebutkan bahwa perbedaan antara manusia dan hewan seperti
perbedaan antara Yahudi dan manusia lainnya. Mereka juga menetapkan bahwa hanya
orang Yahudi yang memiliki kehidupan abadi, dan ruh mereka berasal dari ruh
Tuhan, tidak seperti bangsa lainnya.
===
SEBAB YAHUDI MENGKLAIM SEBAGAI BANGSA PILIHAN
Ada ungkapan-ungkapan khusus yang digunakan oleh orang
Yahudi untuk menjelaskan sumber keterpilihan ini, yang terkesan mengundang ejekan.
Peneliti Arthur Hertzberg menyatakan bahwa di Sinai, ketika Tuhan menampakkan
diri kepada Musa dan Bani Israel, terjadi semacam “pernikahan” antara Tuhan dan
Israel, dan dibuatlah “akad pernikahan” antara keduanya dengan langit dan bumi
sebagai saksi.
Berikut kutipannya:
“Terdapat sejumlah contoh dalam literatur Yahudi
tentang adanya kontrak pernikahan antara Tuhan dan Israel dengan langit dan
bumi sebagai saksi.” (*Judaism*, ed. Arthur Hertzberg, hlm. 119).
Orang Yahudi memandang bahwa keistimewaan yang mereka
peroleh sekaligus merupakan tanggung jawab. Kegagalan mereka menjalankan
tanggung jawab itu dengan jujur dan amanah menjadikan mereka sasaran
penderitaan. Karena itu, mereka menafsirkan musibah yang menimpa mereka sebagai
hukuman atas kelalaian tersebut. Para pemikir mereka juga menambahkan—sebagai
pembelaan atas penderitaan mereka—bahwa orang Yahudi bukanlah yang paling
banyak dosa atau paling jauh dari kebenaran, tetapi mereka menerima cobaan
lebih banyak karena keterpilihan mereka menuntut ketaatan yang lebih tinggi;
ketika mereka durhaka, hukuman mereka menjadi lebih berat (ibid., hlm. 13).
Dalam pembahasan sebelumnya tentang sifat rasial dalam
agama Yahudi telah dijelaskan bahwa Zionisme dan Nazisme sama-sama mengklaim
keunggulan mereka atas manusia lainnya. Ditambahkan di sini bahwa Nazisme
didasarkan pada anggapan bahwa bangsa Jerman adalah ras unggul dan murni.
Karena prinsip ini juga ada dalam keyakinan Yahudi, maka terjadi benturan besar
antara keduanya, sebab masing-masing mengklaim dirinya paling unggul.
Dari konsep keterpilihan ini lahir pula keyakinan lain
dalam agama Yahudi, yaitu keyakinan tentang Mesias yang dinantikan. Orang
Yahudi mendapati bahwa mereka tidak menjadi manusia terbaik seperti yang mereka
klaim, juga tidak mencapai kedudukan yang mereka harapkan, bahkan sering
menjadi sasaran musibah. Karena itu, para pemikir mereka pada masa-masa akhir
mengarahkan harapan kepada seorang penyelamat yang akan mengangkat mereka dari
keadaan tersebut dan menempatkan mereka pada kedudukan yang diinginkan.
Penyelamat ini disebut “Mesias yang dinantikan”, yang digambarkan sebagai
utusan langit dan pemimpin yang akan membawa bangsa pilihan mencapai kekuasaan
dan kemuliaan (*The Jews*, James Hosmer, hlm. 85).
Dari deskripsi yang diberikan oleh Guignebert, tampak
bahwa Mesias yang dinantikan bukan manusia biasa, melainkan manusia langit
(*heavenly person*), makhluk luar biasa yang diciptakan Tuhan sebelum zaman,
dan tetap berada di langit hingga tiba saat pengutusannya. Ketika diutus, Tuhan
memberinya kekuatan. Ia menyandang gelar “Anak Manusia”, artinya ia akan tampil
dalam bentuk manusia (*The Jewish World in the Time of Jesus*, hlm. 140),
meskipun hakikatnya menggabungkan sifat ketuhanan dan kemanusiaan (ibid., hlm.
141).
Sebagai catatan, disebutkan bahwa kaum Nasrani
kemudian mengambil seluruh gambaran ini dan menisbatkannya kepada Isa putra
Maryam.
Kata *al-Masīḥ* (Mesias) berarti
“yang diurapi (dengan minyak keberkahan)”, karena mereka dahulu mengurapi para
raja, nabi, pendeta, dan patriark dengan minyak tersebut. Pada awalnya, mereka
memandang Mesias sebagai seorang raja penakluk yang berjaya dari keturunan
Daud, yang mereka sebut sebagai “anak Tuhan”. Mereka meyakini bahwa ia akan
datang untuk mengembalikan kejayaan Israel, mengumpulkan orang-orang Yahudi
yang tercerai-berai di Palestina, dan menegakkan hukum Taurat. Namun, terkadang
mereka juga menggunakan istilah “Mesias” untuk siapa saja yang menghukum
musuh-musuh mereka, meskipun bukan dari keturunan Daud, sebagaimana Nabi Yesaya
menyebut Koresy dengan sebutan itu.
Ketika penantian mereka terhadap Mesias penakluk yang
berjaya semakin panjang dan ia tidak kunjung datang, terkadang mereka
membayangkan bahwa Mesias akan datang sebagai seorang pembaharu sosial yang
adil dan lembut (*Judaism*, ed. Arthur Hertzberg, hlm. 215–218).
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, gagasan
tentang Mesias muncul dalam pemikiran Yahudi pada masa yang relatif akhir.
Kajian terhadap Kitab Suci menunjukkan bahwa gagasan ini tidak muncul kecuali
setelah runtuhnya negara mereka dan pembuangan mereka ke Babilonia, kemudian
berada di bawah kekuasaan Persia (lihat Kitab Daniel). Waktu kemunculan ini
mendorong banyak peneliti untuk berpendapat bahwa ide tentang penyelamat ini
dipinjam dari ajaran Zoroastrianisme yang dianut oleh bangsa Persia (al-‘Aqqād, *Allah*, hlm. 117).
Guignebert menjelaskan hubungan antara pemikiran
Persia dan Yahudi dalam masalah Mesias. Ia mengatakan bahwa pemikiran Persia
menggambarkan kemenangan kebaikan atas kejahatan dalam perjuangan panjang
antara keduanya. Apa yang disebut bangsa Persia sebagai “kebaikan” itulah
yang oleh orang Yahudi disebut “Mesias”. Ia juga menambahkan bahwa gagasan
tentang adanya raja ideal yang memerintah seluruh dunia merupakan ide yang umum
di kalangan bangsa-bangsa Semitik, dan ini mengandaikan adanya dunia ideal,
yang oleh orang Yahudi—dan kemudian oleh orang Kristen—disebut “Kerajaan Tuhan”
(*The Jewish World in the Time of Jesus*, hlm. 141).
Guignebert juga menelusuri gagasan Mesias dalam Yahudi
hingga masa sebelum periode Persia. Ia melihat bahwa istilah yang digunakan
bersama konsep Mesias adalah *Expectation* (harapan/penantian), yang menurutnya
menunjukkan bahwa Mesias telah dikenal sebelumnya, dan penantiannya hanyalah
harapan akan kembalinya. Ia menyebutkan bahwa sebagian peneliti telah
menantikan Mesias sejak zaman Musa, bahkan ada penyair yang menggambarkan Daud
sebagai Mesias yang dinantikan. Hal ini dijadikannya sebagai bukti bahwa
gagasan Mesias telah ada sebelum pembuangan ke Babilonia (ibid., hlm. 139).
Tidak mustahil bahwa istilah *Messiah (Masīyā = al-Masīḥ)* merupakan simbol bagi sosok penyelamat yang selalu
diserukan oleh orang Yahudi setiap kali mereka ditimpa bencana—dan memang
bencana itu sering menimpa mereka (*The Jewish World in the Time of Jesus*,
hlm. 139).
Sebagian peneliti juga berpendapat bahwa gagasan
tentang “Mahdi yang dinantikan” dalam kalangan Syiah dipinjam dari konsep
Mesias yang dinantikan dalam Yahudi (*A History of the Jewish People*, Margolis
and Marx, hlm. 258).
Menurut Wells, gagasan Mesias dalam Yahudi merupakan
perkembangan alami dari gagasan-gagasan sebelumnya, yaitu keyakinan bahwa
manusia tidak semuanya berasal dari keturunan Ibrahim, melainkan terdiri dari
berbagai bangsa dan suku; bahwa bangsa Yahudi adalah yang paling unggul di
antara mereka; dan bahwa Tuhan mereka, Yahweh, adalah yang paling agung dan
paling kuat di antara tuhan-tuhan suku. Dari ketiga gagasan ini lahirlah konsep
Mesias sebagai penyelamat, dengan harapan ia akan mewujudkan janji-janji Yahweh
yang telah lama tertunda (*The Outline of History*, Vol. II, hlm. 292).
Orang-orang Yahudi bahkan berlebihan dalam
menggambarkan sosok Mesias yang mereka nantikan. Mereka menyebutkan bahwa pada
masanya, manusia tidak hanya hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan, tetapi
seluruh makhluk juga ikut merasakannya: serigala akan hidup damai bersama
domba, dan anak sapi akan bermain dengan singa.
Berikut kami kutip beberapa bagian dari Kitab Yesaya
yang berbicara tentang Mesias yang dinantikan:
* “Sesungguhnya seorang perawan akan mengandung dan
melahirkan seorang anak laki-laki.” (Yesaya 7:15).
* “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang
putra telah diberikan untuk kita; dan pemerintahan ada di atas bahunya. Namanya
disebut Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Untuk
memperbesar pemerintahannya, ia akan duduk di atas takhta Daud dan atas
kerajaannya, untuk menegakkannya dan mengokohkannya dengan keadilan dan
kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan Tuhan semesta alam
akan melakukan hal ini.” (Yesaya 9:6–7).
* “Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan
suatu cabang akan tumbuh dari akarnya. Roh Tuhan akan ada padanya: roh hikmat
dan pengertian, roh nasihat dan kekuatan, roh pengetahuan dan takut akan Tuhan.
Ia tidak akan menghakimi berdasarkan apa yang dilihat matanya atau memutuskan
berdasarkan apa yang didengar telinganya, tetapi dengan keadilan ia akan
menghakimi orang miskin dan dengan kejujuran memutuskan perkara orang-orang
yang tertindas di bumi.” (Yesaya 11:1–5).
* “Serigala akan tinggal bersama domba, macan tutul
akan berbaring bersama kambing, anak lembu dan singa muda akan bersama-sama,
dan seorang anak kecil akan menggembalakannya. Sapi dan beruang akan makan
bersama, anak-anaknya akan berbaring bersama, dan singa akan makan jerami
seperti lembu. Bayi akan bermain di sarang ular, dan anak yang disapih akan
mengulurkan tangannya ke liang ular berbisa. Mereka tidak akan berbuat jahat
atau merusak di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab bumi akan penuh dengan
pengetahuan tentang Tuhan seperti air menutupi laut. Pada hari itu, akar Isai
akan berdiri sebagai panji bagi bangsa-bangsa; bangsa-bangsa akan mencarinya,
dan tempat kediamannya akan menjadi mulia.” (Yesaya 11:6–10).
* “Pada hari itu Tuhan akan kembali mengulurkan
tangan-Nya untuk kedua kalinya guna memperoleh sisa umat-Nya yang masih tinggal
dari Asyur, Mesir, Hamat, dan pulau-pulau laut; Dia akan mengangkat panji bagi
bangsa-bangsa, mengumpulkan orang-orang Israel yang terbuang, dan menghimpun
orang-orang Yehuda yang tercerai-berai dari keempat penjuru bumi.” (Yesaya
11:11).
Nabi Yeremia dan Amos juga mengulang makna-makna yang
sama seperti yang disampaikan oleh Yesaya, dan pembaca kitab mereka akan
menemukan gagasan-gagasan tersebut tersebar di berbagai bagian.
Opini umum Yahudi pun telah siap menerima Mesias ini,
dan harapan akan kedatangannya selalu diperbarui setiap kali mereka ditimpa
bencana dan cobaan. Ketika Isa putra Maryam muncul dan menyatakan bahwa dialah
Mesias yang dinantikan oleh orang Yahudi, mayoritas dari mereka menolak klaim
tersebut, menentang dakwah Isa, menangkapnya, dan menjatuhkan hukuman mati
kepadanya (lihat kitab *al-Masīḥiyyah* karya Ahmad
Syalabi).
Dalam kitab Talmud dikatakan tentangnya bahwa Yesus
orang Nazaret berada di kedalaman neraka, di antara ter dan api, dan bahwa
ibunya mengandungnya melalui jalan dosa.
Telah berlalu masa yang panjang tanpa datangnya Mesias
yang dinantikan oleh orang-orang Yahudi. Sebagian dari mereka memanfaatkan
keadaan penantian ini, lalu masing-masing mengaku sebagai Mesias. Sejarah
mencatat dari waktu ke waktu munculnya para Mesias palsu, terutama di negeri
Persia, di mana tersebar pula keyakinan tentang Mahdi yang dinantikan di
kalangan Syiah, sehingga membangkitkan semangat untuk menantikan munculnya Mesias.
Di kota Shirīn, pada abad
kedelapan Masehi, muncul seorang Yahudi yang mengaku sebagai Mesias yang
dinantikan dan berjanji akan mewujudkan mukjizat dengan mengembalikan Palestina
(A History of the Jewish People, Margolis and Marx, hlm. 259).
Pada abad yang sama, muncul pula seorang Persia lain
di kota Isfahan bernama Abu Isa, yang mengaku sebagai Mesias. Ia mengatakan
bahwa kembalinya Palestina tidak akan terwujud kecuali dengan ujung-ujung
tombak. Ia mempersiapkan pasukan yang terdiri dari sepuluh ribu tentara Yahudi.
Ia memanfaatkan masa kekacauan yang dialami dunia Islam ketika runtuhnya Daulah
Umayyah dan berdirinya Daulah Abbasiyah. Gerakan Abu Isa sempat bertahan karena
Abu al-‘Abbas as-Saffah sibuk dengan berbagai persoalan di awal pemerintahan Abbasiyah.
Namun, ketika kekuasaan berada di tangan Khalifah al-Mansur, ia melancarkan
serangan keras terhadap pasukan Yahudi, mengalahkannya, dan Abu Isa melarikan
diri ke arah utara sambil menyatakan bahwa ia akan bertemu dengan salah satu
pemimpin Yahudi yang bersembunyi untuk bekerja sama dalam mengembalikan
Palestina (ibid., hlm. 259).
Pada abad ketujuh belas, di Salonika muncul seorang
Yahudi bernama Sabbetai Zevi. Ia memiliki pengetahuan luas tentang budaya
Yahudi, sehingga akrab dengan berbagai pandangan mereka tentang Mesias yang
dinantikan. Ia menyaksikan penderitaan orang Yahudi dalam Perang Tiga Puluh
Tahun di Eropa, yang berlangsung sejak masa kecil hingga masa mudanya, di mana
orang Yahudi menjadi korban utama. Hal ini mendorongnya untuk mengumumkan
dirinya sebagai Mesias yang dinantikan. Ia pun memperbanyak ibadah, berpuasa,
dan berkeliling ke berbagai negeri untuk mengajak orang mengikuti dirinya serta
mengumumkan dekatnya kemunculan Mesias yang diberkahi.
Ketika tahun 1666 tiba, Zevi mengumumkan risalah
pertamanya kepada orang-orang Yahudi. Ia memilih hari yang biasanya mereka
jalani dengan puasa dan kesedihan karena berkaitan dengan kenangan pahit. Dalam
risalah itu ia berkata:
“Dari putra Tuhan,
Sabbetai Zevi, sang Mesias, penyelamat bangsa Israel, kepada seluruh anak-anak
Israel… salam… karena kalian telah ditakdirkan untuk menyaksikan hari agung dan
terpenuhinya janji Tuhan kepada anak-anak-Nya, maka kalian harus mengubah
kesedihan kalian menjadi kegembiraan dan puasa kalian menjadi sukacita. Kalian
tidak akan menangis lagi mulai sekarang. Bersukacitalah, bernyanyilah, dan
jadikan hari yang dahulu dihabiskan dalam kesedihan dan penderitaan sebagai
hari raya, karena aku telah muncul…”.
Dan Zifi mengumumkan bahwa ia akan merebut kembali
Palestina untuk orang-orang Yahudi, serta mengembalikan kejayaan Zion yang
dahulu pernah diwujudkan oleh Daud dan Sulaiman. Hosmer telah menyebutkan
kepada kita rincian yang cukup teliti tentang Sabtai Zifi dan gerakannya, maka
kita akan menukil sebagian paragraf darinya yang menggambarkan gerakan
berbahaya ini serta akhirnya. Hosmer berkata: Sabtai Zifi lahir pada tahun 1626
M, ia adalah anak seorang pedagang Yahudi yang bekerja sebagai manajer cabang
dari sebuah perusahaan dagang besar Inggris. Sabtai adalah seorang yang
menarik, berakhlak tenang, dan sangat bersemangat dalam menjalankan kewajiban
agama serta tradisi Yahudi, sehingga menarik perhatian banyak orang. Ketika ia
mencapai usia dua puluh lima tahun, ia mengumumkan bahwa dirinya adalah
al-Masih yang dinantikan (The Jews, James Hosmer, hlm. 216–218).
Dengan cepat, banyak kelompok manusia mempercayainya,
dan ia pun memiliki para pengikut yang semakin bertambah dari hari ke hari.
Sabtai mulai berpindah-pindah antara Yunani, Suriah, dan Mesir. Sebagian pengikutnya
yang fanatik mendahuluinya ke tempat-tempat yang ia tuju untuk mempersiapkan
suasana bagi kedatangannya dan mengumpulkan massa untuk menyambutnya.
Di Kairo, terdapat seorang gadis Yahudi Polandia yang
sangat cantik, yang melarikan diri secara ajaib dari pembantaian Cossack.
Ketika Sabtai bertemu dengannya, ia terpikat oleh kecantikannya, lalu
menikahinya, dan mengumumkan bahwa sejak dahulu telah ditakdirkan gadis itu
menjadi pasangan hidupnya. Sabtai kemudian dengan penuh semangat berpindah ke
sana kemari melanjutkan dakwahnya. Para rabbi tidak mampu menghentikan
gerakannya yang terus menyebar di kalangan Yahudi di berbagai tempat, hingga ia
memiliki pengikut di Amsterdam, Hamburg, dan London, selain para pengikutnya di
wilayah Timur. Kepercayaan terhadapnya mencapai tingkat yang sangat besar,
sampai-sampai sebagian pengikutnya menjual harta benda mereka, mengumpulkan
kekayaan, dan bersiap-siap kembali dari perantauan menuju Palestina mengikuti
Sabtai.
Di Persia, para pekerja Yahudi berhenti menaati tuan-tuan
mereka dan menolak melanjutkan pekerjaan mengolah tanah. Orang-orang Yahudi di
berbagai tempat seakan-akan diliputi semacam kegilaan, dan mereka menjadi hamba
dari harapan yang diperbarui oleh dakwah Zifi.
Zifi pun mabuk oleh kemenangan yang diraihnya, lalu
mulai melakukan perubahan-perubahan kecil dalam tradisi dan sistem Yahudi. Ia
mengubah waktu puasa dan jadwal hari raya sebagaimana disebutkan dalam
risalahnya yang telah disebutkan sebelumnya. Kegembiraan itu membawanya hingga
membayangkan dirinya sebagai penguasa dengan kekuasaan menyeluruh. Ia mulai
membagikan mahkota kepada saudara-saudara dan sahabat dekatnya, setelah
menetapkan masing-masing dari mereka sebagai raja atas wilayah-wilayah yang ia
yakini akan berada di bawah kekuasaannya, sementara ia sendiri menyandang gelar
“Raja segala raja”.
Dalam perjalanannya, Zifi sampai ke Konstantinopel,
ibu kota Khilafah Utsmaniyah. Dapat diperhatikan bahwa khalifah Muslim
sebelumnya tidak mengganggunya, tampaknya karena tidak ingin menghadapi gelombang
semangat dan kegemparan yang mengiringi nama Sabtai pada awal kemunculannya.
Sikap ini justru mendorong Sabtai untuk memasuki ibu kota khilafah. Di sana,
khalifah akhirnya menangkapnya, mengikatnya dengan ketat, dan memenjarakannya
di benteng Dardanella. Untuk beberapa waktu, khalifah hanya melakukan hal itu,
sementara Sabtai mendapatkan perlakuan baik dan penghormatan.
Banyak orang Yahudi datang ke Konstantinopel untuk
melihat nasib pemimpin mereka. Namun, salah seorang rabbi Yahudi dari Polandia
mengumumkan bahwa Sabtai adalah seorang pendusta, dan bahwa gerakannya
mengancam keamanan dan ketenteraman.
Sultan Muhammad IV memanfaatkan perselisihan ini, lalu
menghadirkan Sabtai di hadapannya dalam sebuah pertemuan besar. Ia telah
menyiapkan beberapa prajurit terampil untuk membunuhnya. Kemudian sultan
tersebut menyatakan kesiapannya untuk masuk agama Yahudi jika Sabtai, yang
mengaku sebagai anak Tuhan dan al-Masih penyelamat, mampu mencegah peluru
ditembakkan.
Pada saat yang sama, khalifah memberi kesempatan
kepada Sabtai untuk mengakui bahwa dirinya pendusta dan masuk Islam jika ia
tahu bahwa ia tidak mampu menghentikan peluru. Dengan cepat, Sabtai memilih
masuk Islam dan menamai dirinya Muhammad Afandi. Dengan demikian berakhirlah
gejolak yang ditimbulkan oleh orang yang mengaku-ngaku ini. Hingga kini,
orang-orang Yahudi masih menantikan kedatangan al-Masih (A History of the
Jewish People, Margolis dan Marx, hlm. 704).
****
FAKTOR KEDUA:
YAHUDI SENANTIASA MEMANDANG RENDAH
& HINA BANGSA LAIN
“Ojim (أُوجِيمْ)” (atau Goyim (غُوَيِيمْ)/Aghyar – Goyim /Goy) dalam Talmud dan tradisi Yahudi adalah
sebuah kata Ibrani yang berarti “bangsa-bangsa” atau “umat-umat”, dan digunakan
untuk merujuk kepada selain Yahudi (non-Yahudi).
Bentuk jamaknya adalah “Goyim (غُوَيِيمْ)” dan bentuk tunggalnya “Goy (غُوَيٌّ)”, dan dalam konteks Talmud sering kali
mengandung makna yang membedakan antara Yahudi dan selainnya dalam aspek hukum
agama dan sosial.
Asal makna kata “Goyim (غُوَيِيمْ)” dalam bahasa-bahasa Semit, termasuk
Ibrani, digunakan untuk menunjukkan hewan-hewan yang berkumpul dalam satu
kawanan, atau burung, serangga, dan makhluk kecil yang bergerak dalam kelompok.
Kemudian maknanya berkembang menjadi sekumpulan
manusia yang bercampur, lalu kepada golongan yang rendah dan buruk di antara
mereka.
Dari sinilah, sejak dahulu, rasisme Yahudi
mengkhususkan istilah ini untuk seluruh manusia non-Yahudi. Lalu para pendeta
Yahudi memperluas maknanya dengan menambahkan arti kotor secara fisik dan
spiritual serta kekafiran, hingga kata “Goy” menjadi sebuah celaan menurut
mereka.
Maka orang Yahudi meyakini bahwa hanya merekalah
satu-satunya bangsa yang dianggap oleh Allah, dan bahwa seluruh bangsa lain,
sejak zaman Adam hingga selamanya, adalah bangsa yang sama sekali tidak
memiliki nilai di sisi-Nya. Bahkan mereka dipandang sebagai bangsa yang remeh,
rendah, tidak memiliki keutamaan apa pun, dan tidak layak disifati kecuali
dengan berbagai keburukan.
Karena itu, mereka yang non Yahudi tidak pernah
disamakan dengan Yahudi, melainkan diciptakan hanya untuk melayani dan memenuhi
kepentingan mereka. Oleh sebab itu, mereka menyebutnya dengan istilah “Goyim (غُوَيِيمْ)” atau “Aghyar” sebagai bentuk merendahkan
dan menghina.
===
Orang Yahudi senantiasa
berusaha memperbudak bangsa lain
dan menganggapnya sebagai hewan.
Di antara doa Ishaq kepada anaknya Ya’qub, dengan
pensucian keduanya dari apa yang mereka nisbatkan, setelah Ya’qub bersama
ibunya menipunya sebagaimana yang mereka klaim, dan mengambil keberkahan yang
sebelumnya dijanjikan untuk saudaranya ‘Isu:
“Hendaklah bangsa-bangsa lain
menjadi hamba bagimu, dan suku-suku lain bersujud kepadamu” (Kitab Kejadian,
pasal 27).
Jelas bahwa dalam teks ini terdapat dukungan terhadap
perbudakan orang Yahudi atas goyim (غُوَيِيمْ).
Disebutkan dalam Kitab Yesaya (61:5–6): “Orang-orang
asing akan berdiri dan menggembalakan ternakmu, anak-anak orang asing akan
menjadi petani dan tukang kebunmu. Adapun kalian akan disebut imam Tuhan,
kalian akan memakan kekayaan bangsa-bangsa, dan atas kemuliaan mereka kalian
berkuasa.”
Diriwayatkan: Bahwa Israel bertanya kepada Tuhannya:
mengapa Engkau menciptakan makhluk selain umat pilihan-Mu? Maka dijawab: agar
kalian menunggangi punggung mereka, menghisap darah mereka, membakar tanaman
mereka, mengotori yang bersih dari mereka, dan meruntuhkan yang mereka bangun.
Disebutkan pula dalam kitab Talmud:
“Ruh orang Yahudi memiliki
keistimewaan karena merupakan bagian dari Tuhan, sedangkan benih non-Yahudi
seperti benih hewan.
Neraka adalah tempat bagi
orang kafir, bagian mereka di dalamnya adalah tangisan dan rasa sakit.
Kaum Muslimin akan kekal di
dalamnya karena mereka hanya mencuci tangan dan kaki, dan orang Nasrani juga
akan kekal di dalamnya karena mereka tidak berkhitan.
Orang Yahudi adalah golongan
terbaik dari manusia, sedangkan selain mereka adalah anjing, bahkan
anjing lebih baik dari mereka.
Tidak boleh bagi orang Yahudi
merasa kasihan kepada mereka atau memberi salam kecuali karena takut bahaya,
dan salam tersebut hanyalah kemunafikan yang dibolehkan terhadap orang kafir di
luar agama Yahudi.
Seluruh dunia adalah milik
orang Yahudi. Seorang Yahudi tidak boleh mencuri dari sesama Yahudi, sedangkan
harta dan kehormatan non-Yahudi halal baginya.
Tidak boleh seorang Yahudi
memberi pinjaman kepada non-Yahudi tanpa riba.
Dan diharamkan bagi seorang
Yahudi menyelamatkan non-Yahudi dari kebinasaan atau mengeluarkannya dari
lubang tempat ia jatuh, dan berbagai perkara kotor lainnya”. [Selesai]
Tinggalkanlah seluruh teks yang terdapat dalam
kitab-kitab mereka, karena tidak diragukan bahwa itu adalah buatan mereka
sendiri dan kedustaan atas Allah dan para rasul-Nya, namun hal itu telah
memikat mereka sehingga mereka mempercayainya dan mengamalkannya. Cukuplah bagi
pembaca satu teks yang jelas dan benar dari Al-Qur’an yang memuat kaidah mereka
dalam bermuamalah dengan bangsa lain. Mereka berkata sebagaimana dalam
Al-Qur’an:
﴿لَيْسَ عَلَيْنَا
فِي الْأُمِّيِّينَ سَبِيلٌ﴾
“Tidak ada dosa atas kami terhadap orang-orang
ummi” (Ali ‘Imran: 75).
Yakni; tidak ada kehormatan sama sekali menurut mereka
bagi orang selain Yahudi. Maka nyawa, harta, dan kehormatan mereka halal bagi
mereka, dan mereka tidak merasa memiliki tanggung jawab atas apa yang mereka
lakukan terhadap mereka.
Ayat lengkapnya sbb:
﴿۞ وَمِنْ أَهْلِ
الْكِتَابِ مَنْ إِن تَأْمَنْهُ بِقِنطَارٍ يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ وَمِنْهُم مَّنْ إِن
تَأْمَنْهُ بِدِينَارٍ لَّا يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ إِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَائِمًا
ۗ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَيْسَ عَلَيْنَا فِي الْأُمِّيِّينَ سَبِيلٌ وَيَقُولُونَ
عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ﴾
“Di antara Ahli kitab ada orang yang jika kamu
mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di
antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar,
tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya.
Yang demikian itu lantaran
mereka mengatakan: "tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi.
Mereka berkata dusta
terhadap Allah, padahal mereka mengetahui”. [Al Imran: 75]
Bahkan disebutkan dalam kitab Talmud dan Midrash : “Bahwa
siapa saja dari goyim (غُوَيِيمْ) yang
mempelajari Taurat harus dibunuh, karena mereka hanya diwajibkan menjalankan
tujuh wasiat saja dari sepuluh wasiat yang diperuntukkan bagi mereka.
Jika seorang dari goyim (غُوَيِيمْ) mengambil waktu istirahat dalam satu hari
dalam sepekan, meskipun bukan hari Sabtu, maka ia harus dibunuh”.
Dalam kitab Talmud juga disebutkan:
“Bahwa diharamkan bagi wanita Yahudi menyusui anak
tetangganya yang non-Yahudi, meskipun anak itu terancam mati karena kelaparan”.
Sebagai penutup dari pernyataan-pernyataan yang
dinisbatkan kepada orang Yahudi terhadap “goyim (غُوَيِيمْ)”, terdapat doa harian yang diucapkan
setiap Yahudi:
“Aku bersyukur kepada-Mu
karena Engkau tidak menjadikanku seorang non-Yahudi” dan doa ini ditujukan
kepada Allah SWT.
===
ORANG YAHUDI GEMAR MEMBERI GELAR BURUK TERHADAP ORANG LAIN:
Umat Kristen diberi gelar “Arel”
(Tidak Disunat).
Umat Islam diberi gelar “Hamzr”
(Anak Zina)
Dalam kegemaran orang-orang Yahudi merendahkan bangsa
lain, muncul pula sejumlah istilah celaan lain, yang paling terkenal di
antaranya adalah “Arel”, yang berarti orang yang tidak disunat atau
tidak disucikan, tetap dalam keadaan alami yang primitif, dan dalam kondisi itu
dianggap kotor sekaligus kafir.
Ada juga istilah “Hamzir” yang berarti “anak
zina”, yang digunakan sebagai julukan bagi penduduk Palestina dari Asdod, dan
juga digunakan untuk menyebut setiap bangsa yang hina dan bercampur nasabnya
dalam banyak bagian teks keagamaan mereka.
Akhirnya, pola pikir Yahudi yang diliputi fanatisme
rasial mengkhususkan penggunaan dua istilah celaan ini.
Kata “Arel” ditujukan kepada orang-orang
Nasrani karena khitan tidak umum di kalangan mereka.
Sedangkan kata “Hamzir”,
yang berarti anak haram, diarahkan kepada kaum Muslimin, karena menurut
anggapan mereka, kaum Muslimin berasal dari keturunan Ibrahim melalui Hajar
yang mereka anggap sebagai wanita asing dan budak. Maka setiap orang yang
bernasab atau beragama mengikuti Muhammad ﷺ—yang merupakan keturunan Ibrahim—dianggap dalam
pemikiran rasial Yahudi sebagai anak haram (Hamzir).
===
SIFAT-SIFAT CELAAN TERHADAP GOYIM DALAM KITAB TALMUD
Disebutkan bahwa tujuh puluh pendeta Yahudi berkumpul
dan menulis sebuah kitab yang disebut Talmud, yang menurut klaim mereka berisi
ajaran-ajaran lisan yang diturunkan oleh Allah kepada Musa. Musa kemudian
menyampaikannya secara rahasia kepada para pendeta tersebut dari generasi ke
generasi. Jika seseorang membuka kitab Talmud ini, menurut narasi tersebut, ia
akan menemukan hal-hal yang sangat buruk.
Kitab Talmud—yang merupakan salah satu kitab utama
dalam pemikiran Yahudi—menyebutkan berbagai sifat bagi non Yahudi alias “Goyim
(غُوَيِيمْ)” dengan
rincian dan keluasan:
[1] Sifat Celaan Terhadap Goyim ke 1:
“Bahwa mereka semua selain Yahudi adalah orang-orang
kafir penyembah berhala yang tidak diterima ibadah dan amalnya oleh Allah”.
[2] Sifat Celaan Terhadap Goyim ke 2:
“Mereka dianggap najis sejak asal penciptaannya,
karena tidak berasal dari esensi ketuhanan, melainkan diciptakan dari unsur
setan”.
[3] Sifat Celaan Terhadap Goyim ke 3:
“Mereka juga dianggap sebagai hewan dalam bentuk
manusia, dan bentuk tersebut hanya diberikan untuk memuliakan orang Yahudi,
agar mereka merasa nyaman dengan rupa pelayan mereka, yang pada dasarnya tidak
diciptakan kecuali untuk tugas tersebut.
===
SIKAP BUSUK YAHUDI TERHADAP GOYIM:
Dan di antara kutipan lainnya yang disebutkan dalam
Talmud adalah sbb:
Sikap ke 1: “Jika seorang
Yahudi ingin melakukan keburukan terhadap goyim, maka hendaklah ia pergi ke
negeri yang tidak mengenalnya untuk melakukan keburukan tersebut.”
Sikap ke 2: “Meskipun
non-Yahudi menyerupai Yahudi dalam bentuk manusia, perbandingan antara mereka
seperti perbandingan manusia dengan kera.”
Sikap ke 3: “Hubungan antara
non-Yahudi seperti hubungan antar hewan, tidak ada perbedaan.”
Sikap ke 4: “Perempuan hamil
non-Yahudi tidak berbeda dengan hewan betina yang sedang hamil.”
Sikap ke 5: “Ketika engkau
membunuh non-Yahudi, maka itu adalah persembahan bagi Tuhan.”
Sikap ke 6: “Jika engkau
menemukan barang hilang milik non-Yahudi, maka tidak wajib mengembalikannya.”
Sikap ke 7: “Jika seorang
Yahudi membunuh non-Yahudi, maka tidak ada hukuman atasnya.”
Sikap ke 8 : “Apa yang dicuri
oleh Yahudi dari non-Yahudi boleh ia miliki.”
Sikap ke 9: “Semua anak-anak
non-Yahudi adalah seperti hewan.”
Dan masih banyak lagi selain itu yang tidak cukup
waktu untuk disebutkan.
Dikutip dari riwayat “Al-Qadimun”.
===***===
PENUTUP
Tidak diragukan lagi—wahai para pembaca—bahwa apa yang
telah disebutkan pada baris-baris sebelumnya berupa ucapan dan perbuatan orang-orang
Yahudi telah sangat mengusik kita semua; di dalamnya terdapat permusuhan,
kesombongan, serta kedustaan dan kebohongan dari orang-orang Yahudi yang jumlahnya
kurang dari satu per seribu dari total penduduk bumi, terhadap seluruh bangsa
lain yang mereka sebut “goyim (غُوَيِيمْ)”.
Namun janganlah kita khawatir, karena risalah langit
terakhir yang dibawa oleh penutup para nabi, Muhammad ﷺ, menyatakan hal yang berbeda dan
menetapkan kebenaran yang adil dan jujur.
Dalam Al-Qur’an disebutkan:
﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ
إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ﴾
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian
dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami menjadikan kalian
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya
yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Al-Hujurat: 13).
Tinggalkanlah kebohongan-kebohongan dan omong kosong
Yahudi yang tidak masuk akal itu, yang sebenarnya juga diingkari dan diremehkan
oleh sebagian kecil dari mereka yang bersikap adil—meskipun jumlahnya
sedikit—karena mereka tidaklah sama semuanya.
REFERENSI:
[1] Al-Yahudiyyah karya Ahmad Syalabi hal. 208 dan
sesudahnya:
[2] Al-Yahūd wa al-Ghuwayīm - Iḥtiqār al-Yahūd al-Umam al-Ukhrā – oleh Robithoh Ulama
Suriah - Artikel ini pertama kali
dipublikasikan pada tahun 2009, kemudian diperbarui tata letaknya dan
dipublikasikan kembali pada tanggal 31/12/2018.
0 Komentar