Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

DAHSYATNYA KEUTAMAAN SHOLAT SHUBUH BERJEMAAH DI MESJID. DAN ANCAMAN BAGI YANG MENINGGALKANNYA

DAHSYATNYA KEUTAMAAN SHOLAT SHUBUH BERJEMAAH DI MESJID. 
DAN ANCAMAN BAGI YANG MENINGGALKANNYA

 -----

Di Susun Oleh Abu Haitsam Fakhri

KAJIAN NIDA AL-ISLAM

 ----

----

DAFTAR ISI:

  • KEUTAMAAN SHOLAT SUBUH DI MASJID DALAM CAHAYA AL-QUR'AN DAN SUNNAH
  • DIANTARA KEUTAMAAN-KEUTAMAAN SHALAT SHUBUH BERJEMAAH DI MESJID
  • ANCAMAN DAN PERINGATAN BAGI YANG MENINGALKAN SHOLAT SHUBUH BERJEMAAH.
  • LANGKAH-LANGKAH YANG DITEMPUH AGAR TIDAK LUPUT SHOLAT SHUBUH BERJEMAAH DI MASJID.

 ****

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 ===***===

KEUTAMAAN SHOLAT SUBUH DI MASJID DALAM CAHAYA AL-QUR'AN DAN SUNNAH

Allah Azza wa Jalla telah memerintahkan kepada kita untuk senantiasa menjaga sholat-sholat fardhu tepat pada waktunya. 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

﴿حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ﴾

“Peliharalah semua sholat dan sholat wustha (sholat yang pertengahan), dan berdirilah karena Allah dengan khusyuk”. (QS. Al-Baqarah: 238)

Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

﴿إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا﴾

“Sesungguhnya sholat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. (QS. An-Nisa': 103)

Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata,

سَأَلْتُ النَّبِيَّ ﷺ: ‌أَيُّ ‌العَمَلِ ‌أَحَبُّ ‌إِلَى ‌اللَّهِ؟ قَالَ: «الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا»، قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «ثُمَّ بِرُّ الوَالِدَيْنِ» قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ» قَالَ: حَدَّثَنِي بِهِنَّ، وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي

Aku bertanya kepada Nabi , "Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah?" Beliau menjawab, "Sholat pada waktunya." Aku bertanya, "Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab, "Kemudian berbakti kepada kedua orang tua." Aku bertanya lagi, "Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab, "Jihad di jalan Allah." Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata, "Beliau menyampaikan hal-hal tersebut kepadaku. Seandainya aku meminta tambahan, niscaya beliau akan menambahkannya kepadaku."

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 527 dan Muslim no. 137- (85).

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha:  

أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ سُئِلَ ‌أَيُّ ‌الْعَمَلِ ‌أَحَبُّ ‌إِلَى ‌اللهِ؟ قَالَ: «أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ»

Bahwa Rasulullah ditanya, "Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah?" Beliau menjawab, "Amalan yang paling kontinu dikerjakan, meskipun sedikit." [HR. Muslim no. 782]

Apabila seseorang memperhatikan masjid-masjid kaum muslimin pada masa sekarang, ia akan mendapati adanya kelalaian dalam menunaikan sholat secara umum, dan sholat Subuh secara khusus. Bahkan, terdapat kelalaian terhadap sholat yang paling utama di sisi Allah Ta'ala, yaitu sholat Subuh pada hari Jumat secara berjamaah.

Dari Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi bersabda:

«إِنَّ أَفْضَلَ الصَّلَوَاتِ ‌صَلَاةُ ‌الصُّبْحِ ‌يَوْمَ ‌الْجُمُعَةِ ‌فِي ‌جَمَاعَةٍ، وَمَا أَحْسَبُ شَهِدَهَا مِنْكُمْ إِلَّا مَغْفُورًا لَهُ»

"Sesungguhnya sholat yang paling utama adalah sholat Subuh pada hari Jumat yang dikerjakan secara berjamaah. Dan aku tidak mengira ada seorang pun di antara kalian yang menghadirinya melainkan ia telah diampuni dosanya."

[(HR. Al-Bazzar dalam al-Musnad 4/106 no. 1279, Abu Nuaim di dalam Hilyatu Al-Auliya’ 7/207, Al-Baihaqi di dalam Syu’ab A-Imaan no. 2783 (Cet. Ar-Rusyd) dan Ibnu al-Khorroth dalam al-Ahkam al-Wustho 2/114].

Disahihkan Syekh Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1119). Akan tetapi ad-Daruquthni berkata:

رَفَعَهُ عَمْرُو بْنُ عَلِيِّ بْنِ خَالِدٍ عَنْ شُعْبَةَ وَرَفَعَهُ غُنْدَرٌ وَغَيْرُهُ عَنْ شُعْبَةَ وَقَالَ هُشَيْمٌ عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ مَوْقُوفًا وَهُوَ الصَّحِيحُ

Ad-Daraquthni berkata, "Hadits ini dimarfu'kan oleh 'Amr bin 'Ali bin Khalid dari Syu'bah. Gundar dan selainnya juga memarfu'kannya dari Syu'bah. Sedangkan Husyaim meriwayatkannya dari Ya'la bin 'Atha' secara mauquf, dan inilah yang benar."

[Lihat: Ilal ad-Daruquthni 13/228 no. 3127 dan al-Ilal al-Muatanhiyah oleh Ibnu al-Jawzi 1/462 no. 785]

Sholat Subuh juga merupakan sholat yang paling panjang bacaannya. Abu Barzah al-Aslami radhiyallahu 'anhu berkata:

«كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ ‌يَقْرَأُ ‌فِي ‌الْفَجْرِ ‌مَا ‌بَيْنَ ‌السِّتِّينَ ‌إِلَى ‌الْمِائَةِ ‌آيَةً.»

"Rasulullah membaca dalam sholat Subuh antara enam puluh hingga seratus ayat."

[Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim no. 461].

Sungguh telah datang dalil-dalil dalam Al-Qur'an dan Sunnah yang menyebutkan keutamaan menunaikan sholat Subuh pada waktunya secara berjamaah bersama kaum muslimin di masjid-masjid, serta ancaman keras bagi orang yang tidak menunaikannya di masjid bersama kaum muslimin.

Di antara dalil tersebut adalah bahwa Allah bersumpah dengan waktu fajar dan membuka sebuah surah dalam Kitab-Nya dengan menyebutnya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

﴿ وَالْفَجْرِ ﴾

“Demi fajar”.(QS. Al-Fajr: 1)

Syekh As-Sa'di rahimahullah ta'ala dalam Tafsirnya hal. 923 berkata:

فَأَقْسَمَ تَعَالَى بِالْفَجْرِ، الَّذِي هُوَ آخِرُ اللَّيْلِ وَمُقَدِّمَةُ النَّهَارِ، لِمَا فِي إِدْبَارِ اللَّيْلِ وَإِقْبَالِ النَّهَارِ مِنَ الْآيَاتِ الدَّالَّةِ عَلَى كَمَالِ قُدْرَةِ اللهِ تَعَالَى، وَأَنَّهُ وَحْدَهُ الْمُدَبِّرُ لِجَمِيعِ الْأُمُورِ، الَّذِي لَا تَنْبَغِي الْعِبَادَةُ إِلَّا لَهُ، وَيَقَعُ فِي الْفَجْرِ صَلَاةٌ فَاضِلَةٌ مُعَظَّمَةٌ.

"Allah bersumpah dengan waktu fajar, yaitu akhir malam dan permulaan siang, karena pada berlalunya malam dan datangnya siang terdapat tanda-tanda yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah Ta'ala, dan bahwa hanya Dia semata yang mengatur seluruh urusan, yang tidak layak ibadah ditujukan kecuali kepada-Nya. Pada waktu fajar terdapat pula suatu sholat yang agung dan memiliki keutamaan yang besar." (Selesai).

Dan Allah SWT berfirman :

﴿أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا﴾

"Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)". [Al Isra: 78]

===***===

DIANTARA KEUTAMAAN-KEUTAMAAN SHALAT SHUBUH BERJEMAAH DI MESJID

===

PERTAMA:

Menjaga sholat Subuh di masjid merupakan sebab masuk surga. Rasulullah bersabda:

«مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ»

“Barang siapa yang melaksanakan dua sholat yang dingin (al-bardain), ia akan masuk surga.” Hadits ini disepakati keshahihannya (muttafaq ‘alaih, al-Bukhori no. 574 dan Muslim no. 635).

Al-bardain adalah sholat Asar dan sholat Subuh.

===

KE DUA:

Orang yang menjaga sholat Subuh dan Asar di masjid tidak akan masuk neraka. Rasulullah bersabda:

«لَنْ يَلِجَ النَّارَ أَحَدٌ صَلَّى قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا» يَعْنِي الْفَجْرَ وَالْعَصْرَ.

Tidak akan masuk neraka seseorang yang sholat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya,” yaitu sholat Subuh dan Asar. [Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim no. 213 –(634).

===

KE TIGA:

Allah membanggakan orang-orang yang senantiasa sholat Subuh berjemaah kepada para malaikat.

Rasulullah bersabda:

«يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَارِ، وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الْعَصْرِ وَصَلَاةِ الْفَجْرِ، ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ، فَيَسْأَلُهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ: كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فَيَقُولُونَ: تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ، وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ»

“Para malaikat silih berganti datang kepada kalian pada malam dan siang hari, dan mereka berkumpul pada sholat Asar dan sholat Subuh

Kemudian naiklah para malaikat yang bermalam bersama kalian, lalu Allah bertanya kepada mereka—padahal Dia lebih mengetahui tentang mereka—‘Bagaimana kalian meninggalkan para hamba-Ku?’ 

Mereka menjawab, ‘Kami meninggalkan mereka dalam keadaan mereka sedang sholat, dan kami datang kepada mereka dalam keadaan mereka sedang sholat.’”

[Hadits ini muttafaq ‘alaih al-Bukhori no. 7486 dan Muslim no. 632].

Rasulullah juga bersabda:

«عَجِبَ رَبُّنَا مِنْ رَجُلَيْنِ: رَجُلٍ ثَارَ عَنْ وِطَائِهِ وَلِحَافِهِ مِنْ بَيْنَ حِبِّهِ وَأَهْلِهِ إِلَى صَلَاتِهِ، فَيَقُولُ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا لِمَلَائِكَتِهِ: انْظُرُوا إِلَى عَبْدِي، ثَارَ عَنْ فِرَاشِهِ وَوِطَائِهِ مِنْ بَيْنَ حِبِّهِ وَأَهْلِهِ إِلَى صَلَاتِهِ رَغْبَةً فِيمَا عِنْدِي، وَشَفَقَةً مِمَّا عِنْدِي، وَرَجُلٍ غَزَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ، فَانْهَزَمَ أَصْحَابُهُ، وَعَلِمَ مَا عَلَيْهِ فِي الِانْهِزَامِ، وَمَا لَهُ فِي الرُّجُوعِ، فَرَجَعَ حَتَّى هُرِيقَ دَمُهُ، فَيَقُولُ اللَّهُ لِمَلَائِكَتِهِ: انْظُرُوا إِلَى عَبْدِي، رَجَعَ رَجَاءً فِيمَا عِنْدِي، وَشَفَقًا مِمَّا عِنْدِي حَتَّى هُرِيقَ دَمُهُ»

“Rabb kami kagum kepada dua orang:

Seorang laki-laki yang bangkit dari tempat tidur dan selimutnya, dari tengah kecintaan dan keluarganya menuju sholatnya. Maka Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi berfirman kepada para malaikat-Nya: ‘Lihatlah hamba-Ku, ia bangkit dari tempat tidur dan selimutnya, dari tengah kecintaan dan keluarganya menuju sholatnya karena berharap apa yang ada di sisi-Ku dan merasa takut terhadap apa yang ada di sisi-Ku.’

Dan seorang laki-laki yang berperang di jalan Allah, lalu pasukannya kalah, namun ia mengetahui apa yang ada padanya jika mundur dan apa yang ada baginya jika kembali. Maka ia pun kembali hingga darahnya tertumpah. 

Lalu Allah berfirman kepada para malaikat-Nya: ‘Lihatlah hamba-Ku, ia kembali karena berharap apa yang ada di sisi-Ku dan takut terhadap apa yang ada di sisi-Ku hingga darahnya tertumpah.’”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (al-Ihsan 6/298 no. 2558), ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir no. 10383, al-Hakim 2/123 no. 2531 dan al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra 9/276 no. 18524.

Di shahihkan oleh al-Hakim dan Syu’aib al-Arna’uth dalam Tahqiq al-Ihsan 6/298 dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud no. 2287.

===

KEEMPAT:

Malaikat malam dan malaikat siang berkumpul dan saling berjumpa pada saat sholat Subuh.

Rasulullah bersabda:

«يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَارِ، وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ وَصَلَاةِ الْعَصْرِ، ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ، فَيَسْأَلُهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ: كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فَيَقُولُونَ: تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ، وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ»

Para malaikat silih berganti datang kepada kalian pada malam hari dan para malaikat pada siang hari, dan mereka berkumpul pada sholat Subuh dan sholat Asar.

Kemudian naiklah para malaikat yang bermalam bersama kalian, lalu Allah bertanya kepada mereka—padahal Dia lebih mengetahui tentang mereka—: “Bagaimana kalian meninggalkan hamba-Ku?”

Mereka menjawab: “Kami meninggalkan mereka dalam keadaan mereka sedang sholat, dan kami mendatangi mereka dalam keadaan mereka sedang sholat.”

[HR. Bukhori no. 555 dan Muslim no. 632].

Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu berkata:

«تَفْضُلُ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ وَحْدَهُ بِخَمْسٍ وَعِشْرِينَ جُزْءًا، وَتَجْتَمِعُ مَلَائِكَةُ اللَّيْلِ وَمَلَائِكَةُ النَّهَارِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ، ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ: فَاقْرَؤُوا إِنْ شِئْتُمْ: ﴿ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا ﴾ [الإِسْرَاءِ: 78]».

قَالَ شُعَيْبٌ: وَحَدَّثَنِي نَافِعٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، قَالَ: «تَفْضُلُهَا بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً».

Sholat berjamaah lebih utama daripada sholat salah seorang di antara kalian yang dilakukan sendirian dengan dua puluh lima bagian, dan malaikat malam serta malaikat siang berkumpul pada sholat Subuh. Kemudian Abu Hurairah berkata: “Bacalah jika kalian mau: ‘Sesungguhnya bacaan Al-Qur’an pada waktu fajar (Shubuh) itu disaksikan’ (QS. Al-Isra: 78).”

Syuaib berkata: Nafi’ menceritakan kepadaku dari Abdullah bin Umar, ia berkata: “Sholat berjemaah itu lebih utama dengan dua puluh tujuh derajat.”

[Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 648 dan Muslim no. 649].

===

KE LIMA:

Orang yang melaksanakan sholat Subuh di masjid berada dalam jaminan Allah. Maka celakalah orang yang mengganggunya dengan keburukan.

Rasulullah bersabda:

«مَنْ ‌صَلَّى ‌الصُّبْحَ ‌فِي ‌جَمَاعَةٍ ‌فَهُوَ ‌فِي ‌ذِمَّةِ ‌اللَّهِ فَلا يَطْلُبَنَّكَ اللَّهُ بِذِمَّتِهِ مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّهُ مَنْ أَخْفَرَ اللَّهَ فِي ذِمَّتِهِ كَبَّهُ اللَّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي النَّارِ».

“Barang siapa melaksanakan shalat Subuh secara berjamaah, maka ia berada dalam jaminan perlindungan Allah. Karena itu, jangan sampai Allah menuntut kalian karena melanggar jaminan-Nya sedikit pun. Sesungguhnya siapa saja yang merusak jaminan perlindungan Allah, maka Allah akan melemparkannya ke dalam neraka dalam keadaan tersungkur di atas wajahnya.”

[Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim no. 657, Ahmad no. 18814 dan Abu Na’im dalam al-Musnad al-Mustakhraj ‘Ala Shahih Muslim 2/252 no. 1467].

Lafadz Imam Muslim sbb:

«مَنْ صَلَّى صَلَاةَ الصُّبْحِ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ، فَلَا يَطْلُبَنَّكُمُ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ، فَإِنَّهُ مَنْ يَطْلُبْهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ يُدْرِكْهُ، ثُمَّ يَكُبَّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ»

“Barang siapa yang melaksanakan sholat Subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah. Maka janganlah sekali-kali Allah menuntut kalian dari jaminan-Nya dalam sesuatu pun, karena barang siapa yang Allah menuntutnya dari jaminan-Nya dalam sesuatu, niscaya Allah akan mendapatkannya, kemudian Dia akan menelungkupkannya ke dalam neraka Jahannam.”

[Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim no. 657].

===

KE ENAM:

Bagi para pelaku sholat Subuh di masjid terdapat cahaya yang sempurna pada hari kiamat.

Rasulullah bersabda:

«بَشِّرِ الْمَشَّائِينَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan dalam kegelapan menuju masjid (untuk sholat Shubuh berjemaah) dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat.”

[Diriwayatkan oleh Abu Dawud (561), At-Tirmidzi (223), Al-Baihaqi (5041), dan Al-Bazzar (4448) dengan lafaznya. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud].

==

KE TUJUH:

Orang yang melaksanakan sholat Subuh berjamaah seakan-akan ia telah melaksanakan sholat sepanjang malam.

Rasulullah bersabda:

«وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ»

“Barang siapa yang melaksanakan sholat Subuh secara berjamaah, maka seakan-akan ia telah melaksanakan sholat sepanjang malam.”

[Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim no. 656].

===

KE DELAPAN:

Sholat sunnah Fajar lebih baik daripada dunia dan seisinya, hingga sebagian ulama berpendapat akan wajibnya.

Rasulullah bersabda:

«رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا»

“Dua rakaat sholat Fajar (Shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.”

[Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim no. 725].

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha ia berkata:

«لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ ﷺ عَلَى شَيْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ»

“Nabi tidak pernah lebih menjaga suatu amalan sunnah melebihi dua rakaat Fajar.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1169 dan Muslim no. 94- (724), dan lafaznya milik Al-Bukhari.

Beliau tidak pernah meninggalkan sholat Shubuh berjemaah, baik ketika di rumah maupun dalam perjalanan, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori no. 1981 dan Muslim no. 721.

===

KE SEMBILAN:

Seandainya orang yang meninggalkan sholat Subuh di masjid mengetahui pahala yang terlewat darinya, niscaya ia akan mendatanginya meskipun dengan merangkak di atas tangan dan perutnya.

Rasulullah bersabda:

«وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا»

Seandainya mereka mengetahui apa yang ada pada sholat Isya dan Subuh, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak.”

[Hadits ini muttafaq ‘alaih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (2689) dan Muslim (437)].

===***===

ANCAMAN DAN PERINGATAN BAGI YANG MENINGALKAN SHOLAT SHUBUH BERJEMAAH. 

Wahai saudaraku Muslim, telah datang ancaman dan peringatan keras bagi yang meninggalkan sholat Subuh berjamaah di masjid kaum muslimin.

---

PERTAMA:

Kencing setan di telinga orang yang tidak bangun untuk sholat Subuh.

Dari Abdullah radhiyallahu 'anhu ia berkata:

«ذُكِرَ عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ رَجُلٌ نَامَ لَيْلَهُ حَتَّى أَصْبَحَ، قَالَ: ذَاكَ رَجُلٌ بَالَ الشَّيْطَانُ فِي أُذُنَيْهِ، أَوْ قَالَ: فِي أُذُنِهِ»

“Disebutkan di hadapan Nabi seorang laki-laki yang tidur sepanjang malam hingga pagi. Beliau bersabda: ‘Itulah seorang laki-laki yang setan telah kencing di kedua telinganya,’ atau beliau bersabda: ‘di telinganya.’”

[Hadits ini muttafaq ‘alaih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (3270) dan Muslim (774)].

---

KE DUA:

Bermalas-malasan dari sholat Subuh di masjid termasuk tanda-tanda orang munafik.

Rasulullah bersabda:

«إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا، وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ، ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ، ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ»

“Sesungguhnya sholat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah sholat Isya dan sholat Subuh. Seandainya mereka mengetahui apa yang ada pada keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak. Sungguh aku hampir saja memerintahkan sholat ditegakkan, kemudian aku memerintahkan seseorang untuk mengimami manusia, lalu aku pergi bersama beberapa orang membawa ikatan kayu bakar kepada suatu kaum yang tidak menghadiri sholat, lalu aku bakar rumah-rumah mereka dengan api.”

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (657) dan Muslim (651)].

Dari Ubay bin Ka‘b radhiyallahu 'anhu ia berkata:

«صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَوْمًا صَلَاةَ الصُّبْحِ فَقَالَ: أَشَهِدَ فُلَانٌ الصَّلَاةَ؟ قَالُوا: لَا، قَالَ: فَفُلَانٌ؟ قَالُوا: لَا، قَالَ: إِنَّ هَاتَيْنِ الصَّلَاتَيْنِ مِنْ أَثْقَلِ الصَّلَاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا»

“Rasulullah suatu hari melaksanakan sholat Subuh, lalu beliau bersabda: ‘Apakah si fulan menghadiri sholat?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ 

Beliau bersabda: ‘Bagaimana dengan si fulan?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ 

Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya dua sholat ini adalah sholat yang paling berat bagi orang-orang munafik. Seandainya mereka mengetahui apa yang ada pada keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak.’”

[Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubro 1/444 no. 919. Dan dihasankan oleh Al-Albani, sebagaimana dikutip oleh Shuhaib Abdul Jabbar dalam al-Jami’ as-Shohih 4/69].

Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma ia berkata:

«كُنَّا إِذَا فَقَدْنَا الرَّجُلَ فِي الْفَجْرِ وَالْعِشَاءِ أَسَأْنَا بِهِ الظَّنَّ»

“Kami apabila kehilangan seseorang pada sholat Subuh dan Isya, kami berprasangka buruk kepadanya.”

[Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani (12/271, no. 13085), Ibnu Khuzaimah (1485), Ibnu Hibban (2099), dan Al-Hakim (764) dengan lafaznya.

Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Mawarid no. 364.

Al-Haitsami dalam al-Majma’ 2/43 berkata: “Para perawi Ath-Thabrani adalah para perawi yang terpercaya”.

---

KE TIGA:

Orang yang meninggalkan sholat Subuh di masjid terhalang dari melihat wajah Allah pada hari kiamat.

Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu ia berkata:

كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ، فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةً يَعْنِي الْبَدْرَ، فَقَالَ: «إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لَا تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا».

ثُمَّ قَرَأَ - أَيْ جَرِيرٌ -: ﴿وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ﴾ [ق: 39]، قَالَ إِسْمَاعِيلُ: «افْعَلُوا لَا تَفُوتَنَّكُمْ»

“Kami berada di sisi Nabi , lalu beliau melihat ke bulan pada malam purnama, kemudian bersabda:

‘Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini, kalian tidak akan kesulitan dalam melihat-Nya. Maka jika kalian mampu untuk tidak dikalahkan dalam sholat sebelum terbit matahari (sholat Shubuh) dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah.’

Kemudian Jarir membaca: ‘Dan bertasbihlah dengan memuji Rabbmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya’ (QS. Qaf: 39).

Ismail berkata: ‘Lakukanlah, jangan sampai kalian melewatkannya.’”

Diriwayatkan oleh Bukhori (554), Muslim (633), Abu Dawud (4729), dan Ibnu Majah (177), semuanya dengan lafaz yang mirip.

---

KE EMPAT:

Orang yang tertidur dari sholat Subuh akan dipukul kepalanya di dalam kuburnya hingga hari kiamat.

Rasulullah bersabda:

«إِنَّهُ أَتَانِي اللَّيْلَةَ آتِيَانِ، وَإِنَّهُمَا ابْتَعَثَانِي، وَإِنَّهُمَا قَالَا لِي: انْطَلِقْ، وَإِنِّي انْطَلَقْتُ مَعَهُمَا، وَإِنَّا أَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُضْطَجِعٍ، وَإِذَا آخَرُ قَائِمٌ عَلَيْهِ بِصَخْرَةٍ، وَإِذَا هُوَ يَهْوِي بِالصَّخْرَةِ لِرَأْسِهِ فَيَثْلَغُ رَأْسَهُ، فَيَتَدَهْدَهُ الْحَجَرُ هَا هُنَا، فَيَتْبَعُ الْحَجَرَ فَيَأْخُذُهُ، فَلَا يَرْجِعُ إِلَيْهِ حَتَّى يَصِحَّ رَأْسُهُ كَمَا كَانَ، ثُمَّ يَعُودُ عَلَيْهِ فَيَفْعَلُ بِهِ مِثْلَ مَا فَعَلَ الْمَرَّةَ الْأُولَى»

قَالَ: قُلْتُ لَهُمَا: سُبْحَانَ اللَّهِ مَا هَذَانِ؟

“Sesungguhnya telah datang kepadaku pada malam itu dua orang yang diutus kepadaku, dan keduanya berkata kepadaku: ‘Berangkatlah.’

Maka aku pun berangkat bersama keduanya. Lalu kami mendatangi seorang laki-laki yang sedang berbaring, dan ada seorang lain yang berdiri di atasnya membawa batu.

Tiba-tiba ia melemparkan batu itu ke kepalanya hingga menghancurkan kepalanya. Batu itu menggelinding ke sana kemari, lalu orang itu mengejarnya dan mengambilnya, kemudian ia kembali lagi, dan kepalanya telah kembali seperti semula. Lalu ia mengulangi perbuatannya seperti sebelumnya.”

Aku berkata kepada mereka: “Maha Suci Allah, siapakah ini?”

Kemudian beliau menjelaskan orang yang diazab tersebut di akhir hadits:

«أَمَّا الرَّجُلُ الْأَوَّلُ الَّذِي أَتَيْتَ عَلَيْهِ يُثْلَغُ رَأْسُهُ بِالْحَجَرِ، فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَأْخُذُ الْقُرْآنَ فَيَرْفُضُهُ وَيَنَامُ عَنِ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ»

“Adapun laki-laki pertama yang engkau datangi, yang kepalanya dihancurkan dengan batu, maka ia adalah orang yang mengambil Al-Qur’an lalu meninggalkannya, dan ia juga tidur dari sholat wajib.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 7047 dan Muslim no. 2275.

===***===

LANGKAH-LANGKAH YANG DITEMPUH AGAR TIDAK LUPUT SHOLAT SHUBUH BERJEMAAH DI MASJID

Ada beberapa langkah yang jika diikuti dapat membuat seseorang terbiasa dan istiqamah dalam melaksanakan sholat Subuh berjamaah, di antaranya:

KE [1]:

Membiasakan tidur lebih awal.

Dari Abu Barzah radhiyallahu 'anhu:

«كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا»

“Bahwa Rasulullah membenci tidur sebelum sholat Isya dan benci berbincang-bincang setelahnya”.

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (568) dan At-Tirmidzi (168), keduanya dengan lafaznya, serta Muslim (647) dengan tambahan di awal dan akhirnya].

Dan dari Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:

«مَا نَامَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَلَا سَمَرَ بَعْدَهَا»

“Rasulullah tidak pernah tidur sebelum sholat Isya dan tidak pernah berbincang-bincang setelahnya.”

[Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (702) dan Ahmad (26280). Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah no. 582].

KE [2]:

Tidur dalam keadaan suci, menjaga bacaan zikir sebelum tidur, dan tidur sesuai sunnah seperti tidur miring ke sisi kanan.

KE [3]:

Kejujuran niat dan tekad ketika akan tidur untuk bangun melaksanakan sholat Subuh. Adapun orang yang tidur sambil berharap jam alarmnya tidak berbunyi, dan berharap tidak ada orang yang membangunkannya, maka ia tidak akan berhasil bangun untuk sholat Subuh dalam keadaan seperti itu, karena hatinya rusak dan niatnya buruk.

KE [4]:

Berzikir kepada Allah ketika bangun tidur secara langsung. Sebagian orang mungkin terbangun di awal, kemudian kembali tidur lagi. Namun jika ia segera berzikir saat pertama kali bangun, maka terlepaslah satu ikatan setan. Hal itu menjadi pendorong baginya untuk bangun. Jika ia berwudu, maka tekadnya menjadi sempurna dan setan menjauh. Jika ia sholat, maka ia akan mengalahkan setannya, timbangan amalnya menjadi berat, dan ia menjadi bersemangat serta baik jiwanya.

Rasulullah bersabda:

«‌يَعْقِدُ ‌الشَّيْطَانُ ‌عَلَى ‌قَافِيَةِ ‌رَأْسِ ‌أَحَدِكُمْ ‌إِذَا ‌هُوَ ‌نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ، فَارْقُدْ فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ، انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ»

“Setan mengikat tengkuk kepala salah seorang di antara kalian ketika ia tidur dengan tiga ikatan. Setiap ikatan dipukul sambil berkata: ‘Engkau masih memiliki malam yang panjang, maka tidurlah.’ Jika ia bangun lalu berzikir kepada Allah, maka terlepaslah satu ikatan. Jika ia berwudu, terlepaslah satu ikatan lagi. Jika ia sholat, maka seluruh ikatannya terlepas, sehingga ia menjadi bersemangat dan baik jiwanya. Jika tidak, maka ia akan bangun dalam keadaan buruk jiwa dan malas.”

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1142) dan Muslim (776)].

KE [5]:

Meminta bantuan untuk bangun sholat kepada keluarga dan tetangga serta saling berwasiat dalam hal itu. Misalnya seseorang berwasiat kepada istrinya agar membangunkannya untuk sholat Subuh, dan menegaskan hal itu kepadanya. Anak-anak juga meminta bantuan ayahnya untuk bangun.

Allah berfirman:

﴿وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى﴾

“Dan perintahkanlah keluargamu untuk sholat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu, dan kesudahan yang baik adalah bagi ketakwaan”. (QS. Thaha: 132).

KE [6]:

Doa, yaitu engkau memohon kepada Allah agar diberi taufik untuk bisa bangun dan melaksanakan sholat Subuh berjamaah, karena doa adalah sebab terbesar dan paling agung untuk keberhasilan.

KE [7]:

Menggunakan sarana pengingat, seperti jam alarm, dan meletakkannya di tempat yang jauh dari tempat tidur agar terdengar dan membuatmu terbangun.

KE [8]:

Memercikkan air ke wajah orang yang tidur.

Rasulullah bersabda:

«‌رَحِمَ ‌اللَّهُ ‌رَجُلًا ‌قَامَ ‌مِنَ ‌اللَّيْلِ ‌فَصَلَّى ‌وَأَيْقَظَ ‌امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ، فَإِنْ أَبَتْ رَشَّ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ، رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَصَلَّى، فَإِنْ أَبَى رَشَّتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ»

“Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun di malam hari lalu sholat dan membangunkan istrinya. Jika ia menolak, ia memercikkan air ke wajahnya. Dan semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun di malam hari lalu sholat dan membangunkan suaminya. Jika ia menolak, ia memercikkan air ke wajahnya.”

[Diriwayatkan oleh Abu Dawud (1308) dan ini adalah lafaznya, An-Nasa’i (1610), Ibnu Majah (1336), dan Ahmad (7404). Dinyatakan sahih oleh An-Nawawi dalam Riaydhush Sholihin no. 402 dan al-Albani dalam Shohih Abu Daud no. 1450].

KE [9]:

Semangat ketika bangun tidur, yaitu segera bangkit sejak pertama kali tanpa menunda-nunda bangun dari tempat tidur secara bertahap seperti yang dilakukan sebagian orang, di mana orang yang membangunkannya harus berulang kali mendatanginya, dan setiap kali ia bangun ia kembali lagi ke tempat tidur setelah orang itu pergi.

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha tentang sifat bangunnya Nabi untuk sholat malam:

«كَانَ يَنَامُ أَوَّلَ اللَّيْلِ، وَيُحْيِي آخِرَهُ، ثُمَّ إِنْ كَانَتْ لَهُ حَاجَةٌ إِلَى أَهْلِهِ قَضَى حَاجَتَهُ، ثُمَّ يَنَامُ، ‌فَإِذَا ‌كَانَ ‌عِنْدَ ‌النِّدَاءِ ‌الْأَوَّلِ - ‌قَالَتْ - وَثَبَ - وَلَا وَاللهِ مَا قَالَتْ قَامَ - فَأَفَاضَ عَلَيْهِ الْمَاءَ - وَلَا وَاللهِ مَا قَالَتِ اغْتَسَلَ، وَأَنَا أَعْلَمُ مَا تُرِيدُ - وَإِنْ لَمْ يَكُنْ جُنُبًا تَوَضَّأَ وُضُوءَ الرَّجُلِ لِلصَّلَاةِ، ثُمَّ صَلَّى الرَّكْعَتَيْنِ»

“Beliau tidur pada awal malam dan menghidupkan (dengan ibadah) pada akhir malam. Kemudian jika beliau memiliki kebutuhan kepada keluarganya, beliau menunaikan kebutuhannya, lalu beliau tidur.

Jika telah datang panggilan pertama, Aisyah berkata: beliau bangkit [Al-Aswad bin Yazid berkata: demi Allah, ia tidak mengatakan beliau berdiri]

Lalu beliau menuangkan air kepadanya [Al-Aswad bin Yazid berkata: demi Allah, ia tidak mengatakan beliau mandi, dan aku lebih mengetahui apa yang ia maksud]

Dan jika beliau tidak dalam keadaan junub, beliau berwudhu seperti wudhu untuk sholat, kemudian beliau sholat dua rakaat.”

[Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim no. 129- (739).

An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim 6/22 berkata:

قَوْلُهُ وَثَبَ أَيْ قَامَ بِسُرْعَةٍ ‌فَفِيهِ ‌الِاهْتِمَامُ ‌بِالْعِبَادَةِ ‌وَالْإِقْبَالُ ‌عَلَيْهَا بِنَشَاطٍ

“Kata ‘bangkit’ berarti berdiri dengan cepat, di dalamnya terdapat semangat dalam beribadah dan kesungguhan dalam melakukannya.”

KE [10]:

Memanfaatkan tidur siang (qailulah), yaitu tidur pada tengah hari, serta tidak tidur setelah Asar. Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ ﴾

“Dan ketika kalian melepaskan pakaian kalian pada waktu tengah hari” (QS. An-Nur: 58).

Rasulullah bersabda:

«قِيلُوا فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَا تَقِيلُ»

“Berkailulah kalian, karena setan tidak berqailulah.”

[Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Al-Majruhin (2/96), Abu Nu‘aim dalam Ath-Thibb An-Nabawi (151) dan ini adalah lafaz keduanya, serta Ath-Thabrani dalam Al-Mu‘jam Al-Awsath (28) dengan sedikit perbedaan lafaz.

Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 4431].

Dari Khawwat bin Jubair radhiyallahu 'anhu, seorang peserta Perang Badar, ia berkata:

«نَوْمُ أَوَّلِ النَّهَارِ خُرْقٌ، وَأَوْسَطُهُ خُلُقٌ، وَآخِرُهُ حُمْقٌ»

“Tidur di awal siang adalah kelalaian, di pertengahannya adalah akhlak (yang baik), dan di akhirnya adalah kebodohan.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan disahihkan oleh Ibnu Hajar.

Dari Sahl radhiyallahu 'anhu ia berkata:

«مَا كُنَّا نَقِيلُ وَلَا نَتَغَدَّى إِلَّا بَعْدَ الْجُمُعَةِ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ»

“Kami tidak pernah tidur siang (qailulah) dan tidak makan siang kecuali setelah sholat Jumat pada masa Rasulullah .”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, dan lafaznya milik Muslim.

KE [11]:

Meninggalkan perbuatan dosa.

Rasulullah bersabda:

«تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا، فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ، حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ: عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ، مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ»

“Fitnah-fitnah ditampakkan kepada hati seperti anyaman tikar satu demi satu. Hati mana saja yang menerimanya, maka ditorehkan padanya titik hitam. Dan hati yang menolaknya, ditorehkan padanya titik putih. Hingga menjadi dua jenis hati: hati yang putih seperti batu yang bersih, tidak akan membahayakannya fitnah selama langit dan bumi masih ada; dan hati yang lain hitam pekat seperti bejana terbalik, tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran kecuali yang sesuai dengan hawa nafsunya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim no. 231- (144).

Dan Abu Sulaiman Ad-Darani berkata:

(لَا تَفُوتُ أَحَدًا صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ إِلَّا بِذَنْبٍ)

“Tidaklah seseorang tertinggal sholat berjamaah kecuali karena suatu dosa.”

KE [12]:

Ikhlas kepada Allah Ta‘ala, dan ia adalah pemimpin sebab-sebab serta pembeda antara mukmin dan munafik.

Allah berfirman:

﴿فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ * إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ﴾

“Maka demi kemuliaan-Mu, aku pasti akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka” (QS. Sad: 82–83).

Jika ikhlas telah ada, maka hati akan menyala dan terbangun meskipun ia baru saja tidur beberapa menit sebelum Subuh.

Ya Rabb kami, jadikanlah kami dan keturunan kami orang-orang yang menegakkan sholat. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.

Semoga Allah melimpahkan salawat dan salam kepada Nabi kami Muhammad, keluarga beliau, dan para sahabatnya.  


Posting Komentar

0 Komentar