Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

DALIL-DALIL SYAR’I YANG MENETAPKAN SIFAT ALLAH MAHA DEKAT.

DALIL-DALIL SYAR'I YANG MENETAPKAN SIFAT ALLAH MAHA DEKAT.

----

Di Tulis Oleh Kang Fakhry

KAJIAN NIDA AL-ISLAM

 ----

------

DAFTAR ISI:

  • PENDAHULUAN
  • HUKUM MENETAPKAN SIFAT ALLAH MAHA DEKAT
  • DALIL-DALIL SYAR'I TENTANG PENETAPAN SIFAT ALLAH MAHA DEKAT
  • ALLAH DAN RASUL-NYA MENGATAKAN BAHWA ALLAH DEKAT:
  • ALLAH MAHA TINGGI, NAMUN DIA MAHA BESAR MAKA DIA MAHA DEKAT.
  • ALLAH MAHA BESAR, ALAM SEMESTA DALAM GENGGAMANNYA
  • DIMANAPUN KALIAN BERADA, ALLAH DEKAT BERSAMA KALIAN
  • ALLAH MELIPUTI SELURUH MAKHLUKNYA, TAPI TIDAK DILIPUTI MAKHLUKNYA
  • PERKATAAN PARA ULAMA YANG MENETAPKAN SIFAT ALLAH  “MAHA DEKAT”
  • [1] SA’ID BIN AL-MUSAYYIB (WAFAT 94 H)
  • [2] PERKATAAN IMAM IBNU JARIR ATH-THOBARI (WAFAT 310 H)
  • [3] PERKATAAN SYEIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH
  • [4] PERKATAAN IBNU AL-QOYYIM AL-JAWZIYAH
  • [5] PERKATAAN SYEIKH ABDURRAHMAN AS-SA’DI
  • [6] PERKATAAN SYEIKH AL-‘UTSAIMIN
  • [7] PERKATAAN SYEIKH SHOLEH FAUZAN AL-FAUZAN
  • [8] PERKATAAN SYEIKH MUHAMMAD KHOLIL HARAAS
  • [9] PERKATAAN SYEIKH SHOLEH BIN ABDUL AZIZ AALU ASY-ASYEIKH

BERSAMBUNG .....

****

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

===***===

PENDAHULUAN

Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya. 

Dia Maha Tinggi, lagi Maha Besar dan Dia juga Maha Dekat. 

Dia Maha Tinggi dalam kemaha-dekatan-Nya, dan Maha Dekat dalam kemaha-tinggian-Nya.

Allah SWT berfirman:

﴿عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِ﴾

“Dia yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi”. [QS. Ar-Raad: 9]

Dan Allah SWT berfirman:

﴿وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ﴾

“Bumi semuanya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya”. [QS. Az-Zumar: 67]

Dan Allah SWT berfirman:

﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ﴾

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat”. [QS. Al-Baqarah: 186]

Abdullah bin Syabib berkata:

صَلَّيْتُ إِلَى جَنْبِ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، فَلَمَّا جَلَسْتُ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ رَفَعْتُ صَوْتِي بِالدُّعَاءِ فَانْتَهَرَنِي، فَلَمَّا انْصَرَفْتُ، قُلْتُ لَهُ: مَا كَرِهْتَ مِنِّي؟، قَالَ: «‌ظَنَنْتُ ‌أَنَّ ‌اللَّهَ ‌لَيْسَ ‌بِقَرِيبٍ ‌مِنْكَ»

Aku pernah salat di samping Sa'id bin Al-Musayyib (wafat 94 H). Ketika aku duduk pada rakaat kedua, aku mengeraskan suaraku saat berdoa, lalu beliau menegurku. 

Setelah salat selesai, aku bertanya kepadanya, "Apa yang engkau tidak sukai dari perbuatanku?"

Beliau menjawab, "Apakah engkau mengira bahwa Allah tidak dekat denganmu?"

[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonnaf 6/85 no. 29668]

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam al-‘Aqidah al-Wasithiyyah berkata:

يَدْخُلُ فِي الْإِيمَانِ بِاللَّهِ: أَنَّهُ قَرِيبٌ مِنْ خَلْقِهِ.

وَقَدْ دَخَلَ فِي ذَلِكَ: الْإِيمَانُ بِأَنَّهُ قَرِيبٌ مِنْ خَلْقِهِ، مُجِيبٌ، كَمَا جَمَعَ بَيْنَ ذَلِكَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ﴾.

وَقَوْلُهُ ﷺ لِلصَّحَابَةِ لَمَّا رَفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالذِّكْرِ: «أَيُّهَا النَّاسُ، ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ؛ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا، إِنَّ الَّذِي تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ».

وَمَا ذُكِرَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِنْ قُرْبِهِ وَمَعِيَّتِهِ لَا يُنَافِي مَا ذُكِرَ مِنْ عُلُوِّهِ وَفَوْقِيَّتِهِ، فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي جَمِيعِ نُعُوتِهِ، وَهُوَ عَلِيٌّ فِي دُنُوِّهِ، قَرِيبٌ فِي عُلُوِّهِ.

“Termasuk bagian dari keimanan kepada Allah adalah meyakini bahwa Dia Mahadekat dengan makhluk-Nya.

Dan termasuk dalam hal itu adalah beriman bahwa Allah dekat dengan makhluk-Nya dan Maha Mengabulkan doa, sebagaimana Allah menggabungkan antara kedekatan dan pengabulan doa dalam firman-Nya:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Demikian pula sabda Nabi kepada para sahabat ketika mereka mengeraskan suara dalam berzikir:

“Wahai manusia, rendahkanlah suara kalian. Sesungguhnya kalian tidak sedang berdoa kepada Dzat yang tuli dan tidak pula kepada Dzat yang jauh. Sesungguhnya Dzat yang kalian seru itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada leher tunggangannya.

Apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah tentang kedekatan (الْقُرْبُ) dan kebersamaan (المَعِيَّةُ) Allah tidaklah bertentangan dengan apa yang telah disebutkan tentang ketinggian (العُلُوُّ) dan keberadaan-Nya di atas seluruh makhluk (الفَوْقِيَّةُ). 

Sebab, Dia Subhanahu wa Ta'ala tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya. Dia Maha Tinggi dalam kemaha-dekatan-Nya, dan Dia Maha Dekat dalam kemaha-tinggian-Nya”.

[Al-‘Aqidah al-Wasithiyyah hal. 85 no. 163-166. Tahqiq Abu Mahammad Asyrraf Cet. Adhwa as-Salaf – Riyadh. Lihat pula: Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 3/143]

Syeikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Syarah Al-'Aqidah Al-Wasithiyyah 2/89 berkata :

وَمَا ذَهَبَ إِلَيْهِ شَيْخُ الْإِسْلَامِ فَهُوَ عِنْدِي أَقْرَبُ ... وَقَوْلُهُ: «نُعُوتِهِ». أَيْ: صِفَاتِهِ. فَهُوَ عَلِيٌّ مَعَ أَنَّهُ دَانٍ، وَقَرِيبٌ مَعَ أَنَّهُ عَالٍ، وَلَا تَنَاقُضَ فِي ذَلِكَ

"Adapun pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, menurut saya itulah yang lebih kuat. ....

Dan perkataan beliau (Ibnu Taimiyah): "(نُعُوتِهِ)", maksudnya adalah sifat-sifat-Nya. Allah Mahatinggi meskipun Dia Mahadekat. Dan Dia Mahadekat meskipun Dia Mahatinggi. Tidak ada pertentangan antara keduanya”.

Syaikh Ṣhāli bin 'Abdul 'Azīz Ālu Asy-Syaikh berkata:

دَخَلَ فِي أَرْكَانِ الإِيمَانِ الإِيمَانُ بِهَذِهِ الصِّفَةِ، وَأَنَّهُ جَلَّ وَعَلَا «قَرِيبٌ مِنْ خَلْقِهِ مُجِيبٌ» سُبْحَانَهُ.

Termasuk rukun iman adalah beriman kepada sifat ini, yaitu bahwa Allah Jalla wa 'Alā Maha Dekat dengan makhluk-Nya dan Maha Mengabulkan doa mereka, Maha Suci Allah”. [Kutipan Selesai]

===

DIMANAPUN KALIAN BERADA, ALLAH BERSAMA KALIAN

Allah SWT berfirman:

﴿وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ﴾

Dan Dia bersama kamu di mana pun kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu lakukan”. [QS. Al-Hadid : 4]

Rasulullah bersabda:

«إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ إِيمَانِ الْمَرْءِ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى مَعَهُ حَيْثُ كَانَ».

"Sesungguhnya termasuk keimanan seseorang yang paling utama adalah ia mengetahui bahwa Allah Ta'ala bersamanya di mana pun ia berada." [Sanadnya Hasan. Lihat takhrijnya di artikel ini]

Ibnu al-Qoyyim berkata:

وَالَّذِي يُسَهِّلُ عَلَيْكَ فَهْمَ هَذَا: مَعْرِفَةُ عَظَمَةِ الرَّبِّ وَإِحَاطَتِهِ بِخَلْقِهِ وَأَنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ فِي يَدِهِ كَخَرْدَلَةٍ فِي يَدِ الْعَبْدِ، وَأَنَّهُ سُبْحَانَهُ يَقْبِضُ السَّمَاوَاتِ بِيَدِهِ وَالْأَرْضَ بِيَدِهِ الْأُخْرَى ثُمَّ يَهُزُّهُنَّ، فَكَيْفَ يَسْتَحِيلُ فِي حَقِّ مَنْ هَذَا بَعْضُ عَظَمَتِهِ. أَنْ يَكُونَ فَوْقَ عَرْشِهِ وَيَقْرُبُ مِنْ خَلْقِهِ كَيْفَ شَاءَ وَهُوَ عَلَى الْعَرْشِ.

“Yang akan memudahkanmu memahami hal ini ialah mengenal keagungan Rabb, keluasan kekuasaan-Nya yang meliputi seluruh makhluk, serta bahwa tujuh langit di tangan-Nya hanyalah seperti sebutir biji sawi di tangan seorang hamba.

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menggenggam langit-langit dengan satu tangan-Nya dan bumi dengan tangan-Nya yang lain, kemudian mengguncangkannya.

Maka bagaimana mungkin dianggap mustahil bagi Zat yang demikian agung untuk berada di atas ‘Arsy-Nya, namun pada saat yang sama Dia dekat dengan makhluk-Nya sesuai dengan kehendak-Nya, sementara Dia tetap berada di atas ‘Arsy?”

[Lihat: Mukhtaar Ash-hawā’iq Al-Mursalah, hlm. 483]

Dalam kitab Syarh Al-'Aqidah Al-Wasithiyyah, Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan berkata:

فَلَا يُقَالُ: إِذَا كَانَ فَوْقَ خَلْقِهِ فَكَيْفَ يَكُونُ مَعَهُمْ؛ لِأَنَّ هَذَا السُّؤَالَ نَاشِئٌ عَنْ تَصَوُّرٍ خَاطِئٍ، هُوَ قِيَاسُهُ سُبْحَانَهُ بِخَلْقِهِ، وَهَذَا قِيَاسٌ بَاطِلٌ؛ لِأَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾.

فَالْقُرْبُ وَالْعُلُوُّ يَجْتَمِعَانِ فِي حَقِّهِ؛ لِعَظَمَتِهِ وَكِبْرِيَائِهِ وَإِحَاطَتِهِ، وَأَنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ فِي يَدِهِ كَخَرْدَلَةٍ فِي يَدِ الْعَبْدِ، فَكَيْفَ يَسْتَحِيلُ فِي حَقِّ مَنْ هَذَا بَعْضُ عَظَمَتِهِ أَنْ يَكُونَ فَوْقَ عَرْشِهِ وَيَقْرُبَ مِنْ خَلْقِهِ كَيْفَ يَشَاءُ، وَهُوَ عَلَى الْعَرْشِ؟

Maka dari itu tidak boleh dikatakan: 'Jika Allah berada di atas seluruh makhluk-Nya, bagaimana mungkin Dia juga bersama mereka?'

Pertanyaan seperti ini muncul dari anggapan yang keliru, yaitu menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Qiyas seperti ini adalah qiyas yang batil, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

'Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.'

Maka sifat dekat (الْقُرْبُ) dan sifat tinggi (العُلُوُّ) berhimpun pada diri Allah karena keagungan, kebesaran, dan keluasan kekuasaan-Nya. Langit yang tujuh saja berada dalam genggaman-Nya bagaikan sebutir biji sawi di tangan seorang hamba”. [Kutipan Selesai]

===***===

HUKUM MENETAPKAN SIFAT ALLAH MAHA DEKAT

Syaikh Ṣhāli bin 'Abdul 'Azīz Ālu Asy-Syaikh dalam Syar Al-'Aqīdah Al-Wāsiṭhiyyah, berkata:

وُجُوبُ الإِيمَانِ بِقُرْبِ اللَّهِ مِنْ خَلْقِهِ، وَأَنَّ ذَلِكَ لَا يُنَافِي عُلُوَّهُ وَفَوْقِيَّتَهُ.

فَالَّذِينَ جَعَلُوا الْمُنَافَاةَ بَيْنَ قُرْبِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَمَعِيَّتِهِ، وَبَيْنَ عُلُوِّهِ، عُلُوِّ الذَّاتِ، وَاسْتِوَائِهِ عَلَى عَرْشِهِ، هُمْ مُشَبِّهَةٌ؛ لِأَنَّهُمْ مَا نَفَوْا ذَلِكَ، وَلَا جَعَلُوا هَذَا يُعَارِضُ ذَاكَ وَهَذَا يُنَافِي ذَاكَ، إِلَّا مِنْ جِهَةِ أَنَّهُمْ مَثَّلُوا وَشَبَّهُوا، فَجَعَلُوا اللَّهَ فِي صِفَاتِهِ مُمَثَّلًا بِخَلْقِهِ، مُشَبَّهًا بِهِمْ، وَلَمَّا جَعَلُوهُ كَذَلِكَ لَزِمَ التَّنَاقُضُ، وَلَزِمَ التَّنَافِي بَيْنَ صِفَاتِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا.

وَقَالَ (شَيْخُ الإسْلاَمِ ابنُ تَيْمِيَّة) : «وَقَدْ دَخَلَ فِي ذَلِكَ الإِيمَانُ بِأَنَّهُ قَرِيبٌ مِنْ خَلْقِهِ مُجِيبٌ».

وَقَوْلُهُ: «وَقَدْ دَخَلَ فِي ذَلِكَ» يَعْنِي: فِي الإِيمَانِ بِاللَّهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَبِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ.

دَخَلَ فِي أَرْكَانِ الإِيمَانِ الإِيمَانُ بِهَذِهِ الصِّفَةِ، وَأَنَّهُ جَلَّ وَعَلَا «قَرِيبٌ مِنْ خَلْقِهِ مُجِيبٌ» سُبْحَانَهُ.

"Wajib Beriman Bahwa Allah Dekat dengan Makhluk-Nya, dan Hal Itu Tidak Bertentangan dengan Ketinggian dan Keberadaan-Nya di Atas

Oleh karena itu, orang-orang yang menganggap adanya pertentangan antara kedekatan dan (المَعِيَّةُ) Allah dengan ketinggian Zat-Nya serta istiwa-Nya di atas 'Arsy, pada hakikatnya telah melakukan tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk). Mereka tidak menolak sifat-sifat tersebut atau menganggap salah satunya bertentangan dengan yang lain kecuali karena mereka terlebih dahulu menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Mereka menjadikan sifat-sifat Allah serupa dengan sifat-sifat makhluk. Ketika mereka melakukan penyamaan seperti itu, barulah menurut mereka timbul kontradiksi dan pertentangan di antara sifat-sifat Allah Jalla wa 'Alā.

Beliau (Syeikhul Islam Ibnu Taimiyau) rahimahullah berkata: "Dan termasuk dalam hal itu ialah beriman bahwa Allah Maha Dekat dengan makhluk-Nya dan Maha Mengabulkan."

Ungkapan beliau "termasuk dalam hal itu" maksudnya adalah termasuk dalam keimanan kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta takdir yang baik maupun yang buruk.

Artinya, termasuk rukun iman adalah beriman kepada sifat ini, yaitu bahwa Allah Jalla wa 'Alā Maha Dekat dengan makhluk-Nya dan Maha Mengabulkan doa mereka”. [Kutipan Selesai]

Dan Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam kitab At-Tanbīhāt Al-Lahīfah hal. 77 menyebutkan kewajiban beriman bahwa Allah dekat dengan makhluk-Nya, dan bahwa kedekatan tersebut tidak bertentangan dengan ketinggian-Nya (العُلُوُّ) dan keberadaan-Nya di atas seluruh makhluk (الفَوْقِيَّةُ). Beliau menuliskan sebuah pembahasan dengan judul:

«فَصْلٌ: فِي الْإِيمَانِ بِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَرِيبٌ»

"Pasal: tentang Keimanan bahwa Allah Ta'ala Maha Dekat."

Kemudian beliau menukil perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang telah saya sebutkan diatas.

Dengan demikian, maka kita wajib menetapkan bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala segala sifat yang telah Dia tetapkan bagi diri-Nya sendiri, dan segala sifat yang telah ditetapkan oleh Rasul-Nya untuk-Nya, namun dengan syarat-syarat penetapan sbb:

[*] tanpa melakukan تَحْرِيفٌ (penyelewengan makna),

[*] tanpa تَعْطِيلٌ (meniadakan sifat),

[*] tanpa تَكْيِيفٌ (menanyakan bagaimana hakikatnya),

[*] dan tanpa tamtsil (menyerupakan-Nya dengan makhluk).

Termasuk dalam hal ini adalah menetapkan sifat "dekat" (الْقُرْبِ) bagi Allah Jalla wa 'Ala sebagai kedekatan yang bersifat khusus, bahwa Dia benar-benar dekat dengan hamba-hamba-Nya, sekaligus tetap menetapkan pula sifat ketinggian-Nya (الْفَوْقِيَّةُ) dan bahwa Dia beristiwa di atas 'Arsy-Nya.

Sifat "dekat" (الْقُرْبِ) merupakan salah satu sifat Allah. Seluruh Ahlus Sunnah wal Jamaah sepakat untuk meyakini dan menetapkannya, sebagaimana hal itu tampak jelas dalam penjelasan para ulama mereka.

Nash-nash yang menetapkan asal sifat ini beserta konsekuensi-konsekuensinya sangat banyak. Semuanya menjelaskan kedekatan Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan hamba-hamba-Nya serta pertolongan-Nya kepada para wali-Nya.

Akan tetapi, tidak setiap penyebutan "kedekatan" dalam nash-nash tersebut bermakna kedekatan Allah secara hakiki. Adakalanya yang dimaksud adalah kedekatan Allah dengan Dzat-Nya sendiri, dan adakalanya yang dimaksud adalah selain itu, seperti kedekatan para malaikat-Nya, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama Ahlus Sunnah ketika menerangkan sebagian nash tersebut.

[IslamWeb fatwa no. 203248/ Al-Adillah Asy-Syar'iyyah 'ala Itsbat Shifah Al-Qurb.. Adillat Al-Qur'an Al-Karim].

===***===

DALIL-DALIL SYAR'I TENTANG PENETAPAN 
SIFAT ALLAH "MAHA DEKAT" (القَرِيبٌ):

Diantara dalil-dalil Al-Qur'an yang dijadikan landasan oleh para ulama salaf dalam menetapkan sifat Maha Dekat (الْقُرْبِ) adalah sbb.

Terdapat beberapa ayat Al-Qur'an dan hadits Nabi yang secara jelas menunjukkan penetapan sifat "dekat" (al-qurb) bagi Allah Jalla wa 'Ala secara hakiki, sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya.

Di antaranya adalah sebagai berikut:

***

ALLAH DAN RASUL-NYA MENGATAKAN BAHWA ALLAH DEKAT:

Diantaranya adalah sbb:

===

DALIL PERTAMA:

Allah SWT berfirman :

﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ﴾

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. [QS. Al-Baqarah: 186].

Diriwayatkan mengenai sebab turunnya ayat ini dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata:

قَالَ يَهُودُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ: يَا مُحَمَّدُ! كَيْفَ يَسْمَعُ رَبُّنَا دُعَاءَنَا، وَأَنْتَ تَزْعُمُ أَنَّ بَيْنَنَا وَبَيْنَ السَّمَاءِ مَسِيرَةَ خَمْسِمِائَةِ عَامٍ، وَإِنَّ غِلَظَ كُلِّ سَمَاءٍ مِثْلُ ذَلِكَ؟ فَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ.

"Orang-orang Yahudi Madinah berkata, 'Wahai Muhammad, bagaimana Tuhan kami dapat mendengar doa kami, sedangkan engkau menganggap bahwa antara kami dan langit berjarak perjalanan lima ratus tahun, dan ketebalan setiap langit juga seperti itu?' Maka turunlah ayat ini."

Status Hukum Keshahihan Hadits:

Di dalam sanadnya terdapat Al-Kalbi, yang dituduh sebagai pendusta.

Takhrij:

Riwayat ini disebutkan oleh Al-Baghawi dalam kitab "Ma'alim At-Tanzil" (1/255), dan oleh Ibnul Jauzi dalam kitab "Zad Al-Masir" (1/189).

Lihat pula "Tanwir Al-Miqbas" karya Al-Fairuzabadi (hlm. 20).

As-Suyuthi berkata:

وَأَوْهَى طُرُقِهِ -أَيْ: طُرُقِ التَّفْسِيرِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ- طَرِيقُ الْكَلْبِيِّ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، فَإِذَا انْضَمَّ إِلَى ذَلِكَ رِوَايَةُ مُحَمَّدِ بْنِ مَرْوَانَ السُّدِّيِّ الصَّغِيرِ، فَهِيَ سِلْسِلَةُ الْكَذِبِ، وَكَثِيرًا مَا يُخْرِجُ مِنْهَا الثَّعْلَبِيُّ وَالْوَاحِدِيُّ.

"Jalur yang paling lemah di antara jalur-jalur tafsir dari Ibnu Abbas adalah jalur Al-Kalbi dari Abu Shalih dari Ibnu Abbas. Apabila ditambah lagi dengan riwayat Muhammad bin Marwan As-Suddi Ash-Shaghir, maka itulah rangkaian kedustaan (silsilah al-kadzib). Ats-Tsa'labi dan Al-Wahidi sering kali meriwayatkan tafsir melalui jalur tersebut." (Al-Itqan, 2/1232).

Atsar ini juga disebutkan oleh Al-Farra' dalam kitab "Ma'ani Al-Qur'an" (1/114) tanpa menisbatkannya kepada siapa pun, dengan redaksi:

(قَالَ الْمُشْرِكُونَ …)

"Orang-orang musyrik berkata ...."

Adh-Dhahhak berkata:

سَأَلَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالُوا: أَقَرِيبٌ رَبُّنَا فَنُنَاجِيهِ، أَمْ بَعِيدٌ فَنُنَادِيهِ؟ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى هَذِهِ الْآيَةَ.

"Sebagian sahabat bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Apakah Tuhan kita dekat sehingga kami dapat bermunajat kepada-Nya, ataukah Dia jauh sehingga kami harus memanggil-Nya dengan suara keras?' Maka Allah Ta'ala menurunkan ayat ini."

Status Keshahihan sanad hadits:

Riwayat ini disebutkan oleh Al-Wahidi dalam kitab "Al-Wasith" (1/283) dan Al-Baghawi dalam "Ma'alim At-Tanzil" (1/205).

Ath-Thabari meriwayatkannya dalam "Jami' Al-Bayan" (2/158), Ibnu Abi Hatim dalam "Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim" (1/315, no. 1667), Abu Asy-Syaikh dalam "Al-'Azhamah" (2/535, no. 188), Ibnu Hibban dalam "Ats-Tsiqat" (8/436), Abu Sa'id An-Naqqasy dalam "Fawa'id Al-'Iraqiyyin" (hlm. 31, no. 17), Ad-Daraquthni dalam "Al-Mu'talif wa Al-Mukhtalif" (3/1435), serta Al-Khathib dalam "Talkhish Al-Mutasyabih" (1/462). Semuanya melalui jalur Jarir, dari 'Abdah As-Sijistani, dari Ash-Shalb bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya. Ia berkata:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهِ، بِمِثْلِ حَدِيثِ الضَّحَّاكِ.

"Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam..." lalu disebutkan sebuah riwayat yang maknanya sama seperti Hadits yang diriwayatkan oleh Adh-Dhahhak.

Sanad riwayat ini dhaif.

Mengenai Ash-Shalb bin Hakim, Al-Khathib, Ibnu Makula, dan Ibnu Hajar berkata:

قِيلَ: هُوَ أَخُو بَهْزِ بْنِ حَكِيمٍ، وَلَا يَصِحُّ.

"Dikatakan bahwa ia adalah saudara Bahz bin Hakim, namun pendapat ini tidak sahih."

Ibnu Hajar dalam "Lisan Al-Mizan" menyebutnya dengan nama Ash-Shalt bin Hakim, lalu berkata:

لَيْسَ لِلصَّلْتِ، وَلَا لِأَبِيهِ، وَلَا لِجَدِّهِ ذِكْرٌ فِي كُتُبِ الرُّوَاةِ.

"Tidak ada penyebutan tentang Ash-Shalt, ayahnya, maupun kakeknya dalam kitab-kitab para perawi."

Syaikh Ahmad Syakir berkata:

مَجْهُولٌ هُوَ وَأَبُوهُ وَجَدُّهُ... وَهَذَا الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ جِدًّا، مُنْهَارُ الْإِسْنَادِ بِكُلِّ حَالٍ.

"Ia adalah seorang perawi yang majhul (tidak dikenal), demikian pula ayahnya dan kakeknya. ... Hadits ini sangat dhaif, bahkan sanadnya runtuh sama sekali."

Lihat:

[*] "Talkhish Al-Mutasyabih" karya Al-Khathib (1/462).

[*] "Al-Ikmal" karya Ibnu Makula (5/196).

[*] "Tabshir Al-Musytabih" karya Ibnu Nashiruddin (3/839).

[*] "Lisan Al-Mizan" karya Ibnu Hajar (3/195).

[*] "Hasyiyah Tafsir Ath-Thabari" karya Ahmad Syakir (3/481).

As-Suyuthi juga menisbatkan riwayat yang semakna dari Hadits Ubay bin Ka'b kepada Sufyan bin 'Uyainah dalam kitab tafsirnya, serta kepada Abdullah putra Imam Ahmad dalam tambahan (zawa'id)-nya atas kitab "Az-Zuhd", melalui jalur Sufyan dari Ubay.

[Lihat "Ad-Durr Al-Mantsur" (1/352)].

====

DALIL KE DUA:

Dan Allah SWT berfirman :

﴿وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ﴾

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”. [QS. Qaaf: 16]

===

DALIL KE TIGA:

Dan Allah SWT berfirman :

﴿وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ وَلَٰكِن لَّا تُبْصِرُونَ﴾

“Dan Kami lebih dekat kepadanya [nyawa di kerongkongan saat sekarat] dari pada kalian. Tetapi kalian tidak melihat”. [QS. Al-Waqi’ah: 85]

===

DALIL KE EMPAT:

Firman Allah Ta'ala:

﴿فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ﴾

"Mohonlah ampun kepada-Nya kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Mahadekat lagi Maha Mengabulkan (doa)." (QS. Hud: 61).

Ayat ini merupakan seruan Nabi Hud 'alaihissalam kepada kaumnya agar mereka bertobat, sekaligus memberi kabar gembira bahwa tobat mereka akan diterima. Beliau menjadikan kedekatan Allah dengan hamba-hamba-Nya sebagai alasan untuk itu.

Dalam ayat ini tampak jelas adanya kaitan antara kedekatan Allah dengan dikabulkannya doa orang yang berdoa. Karena kedekatan-Nya, Allah tidak menolak permohonan seorang hamba ketika ia memohon kepada-Nya.

===

DALIL KE LIMA:

Firman Allah Ta'ala:

﴿قُلْ إِنْ ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَى نَفْسِي وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ﴾

"Katakanlah, 'Jika aku tersesat, maka sesungguhnya aku tersesat atas (kerugian) diriku sendiri. Dan jika aku mendapat petunjuk, maka itu disebabkan oleh wahyu yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat.'" (QS. Saba': 50).

Ath-Thabari menjelaskan ayat ini dengan mengatakan:

"إِنَّ رَبِّي سَمِيعٌ لِمَا أَقُولُ لَكُمْ، حَافِظٌ لَهُ، وَهُوَ الْمُجَازِي لِي عَلَى صِدْقِي فِي ذَلِكَ، وَذَلِكَ مِنِّي غَيْرُ بَعِيدٍ، فَيَتَعَذَّرُ عَلَيْهِ سَمَاعُ مَا أَقُولُ لَكُمْ، وَمَا تَقُولُونَ، وَمَا يَقُولُهُ غَيْرُنَا، وَلَكِنَّهُ قَرِيبٌ مِنْ كُلِّ مُتَكَلِّمٍ، يَسْمَعُ كُلَّ مَا يَنْطِقُ بِهِ، أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ".

"Sesungguhnya Tuhanku Maha Mendengar apa yang aku katakan kepada kalian, menjaganya, dan Dia akan membalas kejujuranku dalam hal itu. Dia tidak jauh dariku sehingga mustahil bagi-Nya untuk mendengar apa yang aku katakan kepada kalian, apa yang kalian katakan, dan apa yang dikatakan oleh selain kita. Akan tetapi, Dia dekat dengan setiap orang yang berbicara. Dia mendengar setiap ucapan yang diucapkannya. Dia lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."

===

DALIL KE ENAM:

Firman Allah Ta’ala:

﴿وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ﴾

“Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah dekat kepada orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Al-A’raf: 56).

Pada ayat ini, kita melihat bahwa sifat “dekat (الْقُرْبِ)” dinisbatkan kepada rahmat, bukan kepada Allah. Namun demikian, kata ﴿قَرِيبٌ﴾ (dekat) tidak menggunakan huruf ta’ (menjadi “قَرِيبَةٌ”), meskipun kata “rahmat” berbentuk mu’annats.

Lalu bagaimana ayat ini dapat dijadikan dalil tentang dekatnya Allah Ta’ala?

Ibnul Qayyim menjawab:

".. فَفِي حَذْفِ التَّاءِ هَهُنَا تَنْبِيهٌ عَلَى هَذِهِ الْفَائِدَةِ الْعَظِيمَةِ الْجَلِيلَةِ، وَأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ، وَذَلِكَ يَسْتَلْزِمُ الْقُرْبَيْنِ: قُرْبَهُ وَقُرْبَ رَحْمَتِهِ، وَلَوْ قَالَ: (إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبَةٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ)، لَمْ يَدُلَّ عَلَى قُرْبِهِ تَعَالَى مِنْهُمْ؛ لِأَنَّ قُرْبَهُ تَعَالَى أَخَصُّ مِنْ قُرْبِ رَحْمَتِهِ، وَالْأَعَمُّ لَا يَسْتَلْزِمُ الْأَخَصَّ بِخِلَافِ قُرْبِهِ".

“Dihilangkannya huruf ta’ di sini merupakan isyarat kepada faedah yang sangat agung, yaitu bahwa Allah Ta’ala dekat dengan orang-orang yang berbuat ihsan. Hal ini mengandung dua macam kedekatan sekaligus: kedekatan Allah dan kedekatan rahmat-Nya. Seandainya Allah berfirman, ‘Sesungguhnya rahmat Allah dekat (قَرِيبَةٌ) kepada orang-orang yang berbuat ihsan,’ maka ayat itu tidak akan menunjukkan kedekatan Allah dengan mereka, karena kedekatan Allah lebih khusus daripada kedekatan rahmat-Nya. Sesuatu yang bersifat umum tidak mengharuskan adanya sesuatu yang lebih khusus, berbeda halnya dengan kedekatan Allah.”

Demikianlah dalil-dalil terpenting dari Al-Qur’an yang berkaitan dengan penetapan sifat dekat (الْقُرْبِ) bagi Allah. Adapun dalil-dalil dari Sunnah Nabi akan dibahas pada kesempatan berikutnya.

====

DALIL KE TUJUH:

Hadits Abu Musa Al-Asy’ari:

أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ لَمَّا سَمِعَ أَصْحَابَهُ رَفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالتَّكْبِيرِ، قَالَ ﷺ: «أَرْبِعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا، إِنَّمَا تَدْعُونَ سَمِيعًا بَصِيرًا، إِنَّ الَّذِي تَدْعُونَ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ».

Sesungguhnya ketika Nabi mendengar para sahabat mengeraskan suara mereka saat bertakbir, beliau bersabda:

"Pelankanlah suara kalian. Sesungguhnya kalian tidak sedang berdoa kepada Dzat yang tuli dan tidak pula kepada Dzat yang jauh. Sesungguhnya kalian berdoa kepada Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Sesungguhnya Dzat yang kalian seru itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada leher tunggangannya."

Lafadz riwayat lain dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu :

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي غَزَاةٍ، فَجَعَلْنَا لَا نَصْعَدُ شَرَفًا، وَلَا نَعْلُو شَرَفًا، وَلَا نَهْبِطُ فِي وَادٍ، إِلَّا رَفَعْنَا أَصْوَاتَنَا بِالتَّكْبِيرِ.

قَالَ: فَدَنَا مِنَّا رَسُولُ اللهِ ﷺ فَقَالَ: «أَيُّهَا النَّاسُ، ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ؛ فَإِنَّكُمْ مَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا، إِنَّمَا تَدْعُونَ سَمِيعًا بَصِيرًا، إِنَّ الَّذِي تَدْعُونَ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ.

يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ قَيْسٍ، أَلَا أُعَلِّمُكَ كَلِمَةً مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ؟ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ».

“Kami pernah bersama Rasulullah dalam suatu peperangan. Maka setiap kali kami naik tempat yang tinggi, atau menaiki suatu ketinggian, atau turun ke lembah, kami mengeraskan suara dengan takbir.

Rasulullah pun mendekati kami dan bersabda:

“Wahai manusia, tenangkanlah diri kalian (pelankan suara kalian)! Sesungguhnya kalian tidak sedang menyeru Dzat yang tuli atau yang gaib. Sesungguhnya kalian menyeru Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Sesungguhnya Dzat yang kalian seru itu lebih dekat kepada salah seorang dari kalian daripada leher hewan kendaraannya.

Wahai Abdullah bin Qais, maukah aku ajarkan kepadamu sebuah kalimat dari perbendaharaan surga?

La aula wa lā quwwata illā billāh (Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).’”

[HR. Ahmad dalam al-Musnad 32/374 no. 19599]

Syu’aib al-Arna’uth beserta para pentahqiq al-Musnad berkata :

"إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ. خَالِدُ الحَذَّاءُ: هُوَ ابْنُ مِهْرَانَ، وَأَبُو عُثْمَانَ النَّهْدِيُّ: هُوَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنَ مَلٍّ. وَأَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي "الأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ" (٣٨٩) مِنْ طَرِيقِ الإِمَامِ أَحْمَدَ، بِهٰذَا الإِسْنَادِ".

“Sanadnya sahih sesuai dengan syarat Al-Bukhari dan Muslim. Khalid Al-Hadzdza’: adalah Ibnu Mehran, dan Abu Utsman An-Nahdi: adalah Abdurrahman bin Mal. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam kitab *Al-Asma’ wa Ash-Shifat* (hal. 389) melalui jalur Imam Ahmad dengan sanad ini”.

Hadits ini diriwayatkan secara lengkap dan ringkas oleh Muslim (2704) (46), An-Nasa’i dalam *As-Sunan Al-Kubra* (7680), Ath-Thabarani dalam *Ad-Du‘a* (1671), Al-Lalikai (683) (684), serta Al-Baihaqi dalam *Al-Asma’ wa Ash-Shifat* (70) dan *Ad-Da‘awat* (266) melalui jalur ‘Abdul Wahhab, dengan sanad tersebut.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari (6610), An-Nasa’i dalam *Al-Kubra* (7681), Abu ‘Awanah (sebagaimana dalam *Ithaf Al-Maharah* 10/41), Abu Nu‘aim dalam *Al-Hilyah* 8/186, dan Al-Baihaqi dalam *Al-Asma’ wa Ash-Shifat* (928) dan *Syu‘ab Al-Iman* (662) dari dua jalur melalui Khalid Al-Hadzdza’, dengan sanad tersebut.

Abu Nu‘aim berkata:

هٰذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Ini adalah Hadits sahih yang disepakati (kesahihannya).”

Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallah ‘anhu, ia berkata:

لَمَّا غَزَا رَسولُ اللَّهِ ﷺ خَيْبَرَ -أوْ قالَ: لَمَّا تَوَجَّهَ رَسولُ اللَّهِ ﷺ أشْرَفَ النَّاسُ علَى وادٍ، فَرَفَعُوا أصْوَاتَهُمْ بالتَّكْبِيرِ: اللَّهُ أكْبَرُ اللَّهُ أكْبَرُ، لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، فَقالَ رَسولُ اللَّهِ ﷺ: ارْبَعُوا علَى أنْفُسِكُمْ؛ إنَّكُمْ لا تَدْعُونَ أصَمَّ ولَا غَائِبًا؛ إنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا وهو معكُمْ.

وأَنَا خَلْفَ دَابَّةِ رَسولِ اللَّهِ ﷺ، فَسَمِعَنِي وأَنَا أقُولُ: لا حَوْلَ ولَا قُوَّةَ إلَّا باللَّهِ، فَقالَ لِي: يا عَبْدَ اللَّهِ بنَ قَيْسٍ. قُلتُ: لَبَّيْكَ يا رَسولَ اللَّهِ، قالَ: ألَا أدُلُّكَ علَى كَلِمَةٍ مِن كَنْزٍ مِن كُنُوزِ الجَنَّةِ؟ قُلتُ: بَلَى يا رَسولَ اللَّهِ، فَدَاكَ أبِي وأُمِّي، قالَ: لا حَوْلَ ولَا قُوَّةَ إلَّا باللَّهِ.

Ketika Rasulullah berangkat ke perang Khaibar – atau dia berkata: ketika Rasulullah sedang dalam perjalanan – orang-orang melihat ke arah sebuah lembah, lalu mereka mengeraskan suara mereka dengan takbir: “Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha illallah”.

Maka Rasulullah bersabda: “Tenangkanlah diri kalian, karena sesungguhnya kalian tidak sedang menyeru Dzat yang tuli atau gaib. Sesungguhnya kalian sedang menyeru Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat, dan Dia bersama kalian”.

Aku (Abu Musa) berada di belakang tunggangan Rasulullah , lalu beliau mendengarku saat aku mengucapkan: “la hawla wa la quwwata illa billah”.

Maka beliau berkata kepadaku: “Wahai Abdullah bin Qais”.

Aku menjawab: labbaik ya Rasulullah.

Beliau bersabda: “Maukah aku tunjukkan kepadamu sebuah kalimat dari perbendaharaan surga?”.

Aku menjawab: tentu, wahai Rasulullah, semoga ayah dan ibuku menjadi tebusan bagimu.

Beliau bersabda: “la hawla wa la quwwata illa billah”.

[HR. Bukhori no. 4205 dan Muslim no. 2704]

Namun Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim 17/26 menjelaskan :

«ارْبَعُوا»: مَعْنَاهُ ارْفُقُوا بِأَنْفُسِكُمْ، وَاخْفِضُوا أَصْوَاتَكُمْ، فَإِنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ إِنَّمَا يَفْعَلُهُ الْإِنْسَانُ لِبُعْدِ مَنْ يُخَاطِبُهُ لِيُسْمِعَهُ، وَأَنْتُمْ تَدْعُونَ اللهَ تَعَالَى، وَلَيْسَ هُوَ بِأَصَمَّ وَلَا غَائِبٍ، بَلْ هُوَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ، وَهُوَ مَعَكُمْ بِالْعِلْمِ وَالْإِحَاطَةِ، فَفِيهِ النَّدْبُ إِلَى خَفْضِ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ إِذَا لَمْ تَدْعُ حَاجَةٌ إِلَى رَفْعِهِ، فَإِنَّهُ إِذَا خَفَضَهُ كَانَ أَبْلَغَ فِي تَوْقِيرِهِ وَتَعْظِيمِهِ، فَإِنْ دَعَتْ حَاجَةٌ إِلَى الرَّفْعِ رَفَعَ، كَمَا جَاءَتْ بِهِ أَحَادِيثُ. وَقَوْلُهُ ﷺ فِي هَذِهِ الرِّوَايَةِ الْأُخْرَى: الَّذِي تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَةِ أَحَدِكُمْ، هُوَ بِمَعْنَى مَا سَبَقَ، وَحَاصِلُهُ أَنَّهُ مَجَازٌ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ﴾، وَالْمُرَادُ تَحْقِيقُ سَمَاعِ الدُّعَاءِ".

"'Irba’uu (ارْبَعُوْا) : maknanya adalah: bersikaplah lemah lembut terhadap diri kalian, dan rendahkanlah suara kalian, karena meninggikan suara biasanya dilakukan seseorang ketika berbicara dengan orang yang jauh agar bisa mendengarnya. Sedangkan kalian sedang berdoa kepada Allah Ta‘ala, dan Dia bukanlah Dzat yang tuli dan bukan pula yang gaib, bahkan Dia Maha Mendengar dan Maha Dekat, dan Dia bersama kalian dengan ilmu dan pengawasan-Nya.

Hadits ini menunjukkan anjuran untuk merendahkan suara dalam berzikir jika tidak ada kebutuhan untuk meninggikannya. Karena jika direndahkan, itu lebih menunjukkan pengagungan dan pemuliaan terhadap-Nya. Namun jika ada kebutuhan untuk mengeraskan suara, maka boleh dikeraskan, sebagaimana telah datang dalam beberapa Hadits.

Adapun sabda Rasulullah dalam riwayat lain: 'Dan sesungguhnya Dzat yang kalian seru lebih dekat kepada salah seorang dari kalian daripada leher hewan kendaraannya', itu memiliki makna seperti sebelumnya, dan kesimpulannya adalah bahwa itu merupakan ungkapan majaz, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

"Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya" (Qaf: 16),

Yang dimaksud adalah penegasan bahwa Allah mendengar doa. [SELESAI]

===

DALIL KE DELAPAN:

Hati para anak cucu Adam berada diantara dua jari dari jari-jari ar-Rahman. Sebagaimana dalam hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah bersabda :

«إنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِن أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ، كَقَلْبٍ وَاحِدٍ، يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ، ثُمَّ قالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا علَى طَاعَتِكَ».

“Sesungguhnya hati seluruh anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman, seperti satu hati, Dia membolak-balikannya ke arah mana saja yang Dia kehendaki. Kemudian Rasulullah bersabda: "Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, arahkanlah hati kami kepada ketaatan kepada-Mu." [HR. Muslim no. 2654]

****

ALLAH MAHA TINGGI, NAMUN DIA MAHA BESAR MAKA DIA MAHA DEKAT.

Allah SWT berfirman:

﴿عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِ﴾

“Dia yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi”. [QS. Ar-Raad: 9]

Dan Allah SWT berfirman:

﴿وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ﴾

“Bumi semuanya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya”. [QS. Az-Zumar: 67]

Dan Allah SWT berfirman:

﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ﴾

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat”. [QS. Al-Baqarah: 186]].

Makna Allah Maha Besar [اللَّهُ أكْبَر]:

اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَكْبَرُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ فِي هَذَا الْوُجُودِ، وَأَعْظَمُ وَأَجَلُّ وَأَعَزُّ وَأَعْلَى مِنْ كُلِّ مَا يَخْطُرُ بِالْبَالِ أَوْ يَتَصَوَّرُهُ الْخَيَالُ.

“Allah SWT lebih besar dari segala sesuatu di alam ini, dan lebih agung, lebih mulia, lebih berharga, dan lebih tinggi dari segala yang terlintas dalam benak atau dibayangkan oleh khayalan”.

عِبَارَةُ «اللّٰهُ أَكْبَرْ»، لِلدَّلَالَةِ عَلَى أَنَّ اللَّهَ أَعْظَمُ وَأَكْبَرُ مِنْ أَيِّ شَيْءٍ فِي الْكَوْنِ.

“Ungkapan "Allah Akbar" menunjukkan bahwa Allah lebih agung dan lebih besar dari segala sesuatu di alam semesta”.

Wajib meyakini bahwa Allah 'Azza wa Jalla lebih besar daripada segala sesuatu. Hal ini ditunjukkan oleh riwayat yang dibawakan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Mushannaf-nya 6/23 no. 29177 secara mauquf dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata:

إِذَا ‌أَتَيْتَ ‌سُلْطَانًا ‌مَهِيبًا ‌تَخَافُ ‌أَنْ ‌يَسْطُوَ ‌عَلَيْكَ، فَقُلْ: «اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَعَزُّ مِنْ خَلْقِهِ جَمِيعًا، اللَّهُ أَعَزُّ مِمَّا أَخَافُ وَأَحْذَرُ، أَعُوذُ بِاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ أَنْ يَقَعْنَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ، مِنْ شَرِّ عَبْدِكَ فُلَانٍ وَجُنُودِهِ وَأَتْبَاعِهِ وَأَشْيَاعِهِ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ، اللَّهُمَّ كُنْ لِي جَارًا مِنْ شَرِّهِمْ، جَلَّ ثَنَاؤُكَ وَعَزَّ جَارُكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ» ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

"Apabila engkau mendatangi seorang penguasa yang berwibawa dan engkau khawatir ia akan berbuat sewenang-wenang terhadapmu, maka ucapkanlah:

"Allah Mahabesar. Allah lebih perkasa daripada seluruh makhluk-Nya. Allah lebih mulia dan lebih kuat daripada segala sesuatu yang aku takutkan dan aku waspadai. Aku berlindung kepada Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang menahan tujuh langit agar tidak jatuh ke bumi kecuali dengan izin-Nya, dari kejahatan si fulan, hamba-Mu, beserta bala tentaranya, para pengikutnya, dan kelompoknya dari kalangan jin dan manusia. Ya Allah, jadilah Engkau pelindungku dari kejahatan mereka. Mahatinggi pujian-Mu, Mahamulia perlindungan-Mu, Mahaberkah nama-Mu, dan tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau."

Dibaca sebanyak tiga kali. [Selesai]

[Diriwayatkan pula oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 709, Ibnu Abi Syaibah no. 29177, Abu Nu'aim Al-Ashbahani dalam Hilyat Al-Auliya' 1/322, dan Ath-Thabarani no. 10599.]

Al-Haitsami dalam Majma' Az-Zawa'id 10/137 berkata:

رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ، وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيحِ.

"Riwayat ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani, dan para perawinya adalah para perawi kitab Shahih."

Syaikh Al-Ghunaiman juga menjelaskan dalam Syarh Al-'Aqidah Al-Wasithiyyah 4/13:

يَجِبُ أَنْ يَعْلَمَ الْعَبْدُ أَنَّ اللَّهَ أَكْبَرُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، وَالسَّمَاوَاتُ عَلَى سَعَتِهَا يَقْبِضُهَا رَبُّنَا جَلَّ وَعَلَا بِيَدِهِ، وَيَطْوِيهَا بِيَمِينِهِ، وَتَكُونُ حَقِيرَةً صَغِيرَةً لَيْسَتْ شَيْئًا بِالنِّسْبَةِ إِلَيْهِ، فَكَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ شَيْئًا مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ يَكُونُ أَكْبَرَ مِنْهُ تَعَالَى وَتَقَدَّسَ؟! وَلِهَذَا شُرِعَ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَقُولَ: اللَّهُ أَكْبَرُ عِنْدَمَا يَرَى شَيْئًا عَظِيمًا، أَوْ إِذَا ارْتَفَعَ عَلَى مُرْتَفَعٍ، أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ؛ لِأَنَّ اللَّهَ أَكْبَرُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ. اهـ.

"Seorang hamba wajib mengetahui bahwa Allah lebih besar daripada segala sesuatu. Langit-langit yang demikian luas, semuanya digenggam oleh Rabb kita Jalla wa 'Ala dengan tangan-Nya dan dilipat dengan tangan kanan-Nya. Langit-langit itu menjadi sangat kecil dan tidak berarti sedikit pun dibandingkan dengan-Nya. Maka bagaimana mungkin dapat dibayangkan bahwa ada sesuatu dari makhluk yang lebih besar daripada Allah Yang Mahatinggi dan Mahasuci?

Oleh karena itu, disyariatkan bagi seseorang untuk mengucapkan, 'Allahu Akbar,' ketika melihat sesuatu yang besar, atau ketika naik ke tempat yang tinggi, atau dalam keadaan lainnya, karena Allah lebih besar daripada segala sesuatu." [Selesai]

Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan dalam Syarh Al-'Aqidah Al-Wasithiyyah 1/359:

وَقَوْلُهُ: ﴿وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا﴾، يَعْنِي: كَبِّرِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ تَكْبِيرًا، بِلِسَانِكَ وَجَنَانِكَ. اعْتَقِدْ فِي قَلْبِكَ أَنَّ اللَّهَ أَكْبَرُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، وَأَنَّ لَهُ الْكِبْرِيَاءَ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَكَذَلِكَ بِلِسَانِكَ تُكَبِّرُهُ، تَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ! وَكَانَ مِنْ هَدْيِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابِهِ أَنَّهُمْ يُكَبِّرُونَ كُلَّمَا عَلَوْا نَشَزًا، أَيْ: مُرْتَفَعًا، وَهَذَا فِي السَّفَرِ؛ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا عَلَا فِي مَكَانِهِ، قَدْ يَشْعُرُ فِي قَلْبِهِ أَنَّهُ مُسْتَعْلٍ عَلَى غَيْرِهِ، فَيَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، مِنْ أَجْلِ أَنْ يُخَفِّفَ تِلْكَ الْعُلُوَّ الَّذِي شَعَرَ بِهِ حِينَ عَلَا وَارْتَفَعَ. وَكَانُوا إِذَا هَبَطُوا، قَالُوا: سُبْحَانَ اللَّهِ؛ لِأَنَّ النُّزُولَ سُفُولٌ، فَيَقُولُ: سُبْحَانَ اللَّهِ، أَيْ: أُنَزِّهُهُ عَنِ السُّفُولِ الَّذِي أَنَا الْآنَ فِيهِ. وَقَوْلُهُ: ﴿تَكْبِيرًا﴾ هَذَا مَصْدَرٌ مُؤَكَّدٌ، يُرَادُ بِهِ التَّعْظِيمُ، أَيْ: كَبِّرْهُ تَكْبِيرًا عَظِيمًا. اهـ.

"Firman Allah, 'Dan maha besarkanlah Dia dengan pemaha besaran yang sebesar-besarnya' (وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا), maksudnya adalah maha besarkanlah Allah 'Azza wa Jalla dengan sebenar-benarnya; baik dengan lisan maupun dengan hati. Yakini dalam hatimu bahwa Allah lebih besar daripada segala sesuatu, dan bahwa hanya Dia yang memiliki kebesaran di langit dan di bumi. Demikian pula dengan lisanmu, hendaklah engkau memaha besarkan-Nya dengan mengucapkan, 'Allahu Akbar!'

Termasuk petunjuk Nabi dan para sahabatnya adalah mereka bertakbir setiap kali menaiki tempat yang tinggi ketika bepergian. Hal ini karena seseorang yang berada di tempat tinggi terkadang merasakan dalam dirinya semacam perasaan lebih tinggi daripada yang lain. Oleh sebab itu ia mengucapkan, 'Allahu Akbar,' agar perasaan tinggi tersebut menjadi hilang, karena Allah-lah Yang Mahabesar.

Sebaliknya, apabila mereka menuruni suatu tempat, mereka mengucapkan, 'Subhanallah,' karena turun merupakan keadaan yang rendah. Maka ia berkata, 'Subhanallah,' yakni aku menyucikan Allah dari segala sifat rendah sebagaimana keadaan yang sedang aku alami sekarang.

Firman-Nya, 'takbiran' (تَكْبِيرًا), merupakan mashdar yang berfungsi sebagai penegasan, yang menunjukkan makna pemaha besaran yang sangat besar." [Selesai]

Abu Dzar Al-Ghafari radhiyallahu 'anhu meriwayatkan: bahwa Nabi bersabda :

«مَا السَّمَاوَاتُ السَّبعُ فِي الْكُرْسِيِّ إِلَّا كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْضِ فَلَاةٍ، وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ كَفَضْلِ تِلْكَ الْفَلَاةِ عَلَى تِلْكَ الْحَلْقَةِ».

“Perumpamaan langit yang tujuh dibandingkan dengan Kursi seperti cincin yang dilemparkan di padang sahara yang luas. 

Dan kelebihan (keunggulan) ‘Arsy atas Kursi seperti kelebihan (keunggulan) padang sahara yang luas itu atas cincin tersebut.” 

[HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Kitaabul ‘Arsy no. 58 , Ibnu Hibban n0. 361 , al-Baihaqi dalam al-Asmaa wa ash-Shifaat no. 861 dan Abu Naim dalam ((Hilyat Al-Awliya’) (1/167) secara panjang lebar dari Sahabat Abu Dzarr al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu .

Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari 13/411 berkata:

وَلَهُ شَاهِدٌ عَنْ مُجَاهِدٍ أَخْرَجَهُ سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ فِي التَّفْسِيرِ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ عَنْهُ.

"Hadits ini memiliki syahid (penguat) dari Mujahid yang diriwayatkan oleh Sa'id bin Manshur dalam kitab Tafsir-nya dengan sanad yang sahih sampai kepada Mujahid."

Dishahihkan oleh Ibnu al-Qoyyim dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (I/223 no. 109) dan التَّعْلِيقُ عَلَى الطَّحَاوِيَّةِ  no. 36.

Al-Albani berkata:

وَجُمْلَةُ الْقَوْلِ أَنَّ الْحَدِيثَ بِهَذِهِ الطُّرُقِ صَحِيحٌ. اهـ.

"Kesimpulannya, Hadits ini dengan seluruh jalurnya adalah sahih."

Dan yang sudah maklum adanya adalah :

أَنَّ الرَّقْمَ سَبْعَةَ عِنْدَ الْعَرَبِ يُفِيدُ الْكَثْرَةَ وَلَا يَتَحَدَّدُ فَقَطْ بِالسَّبْعَةِ عَدَدًا.

Bahwa : "ANGKA TUJUH di kalangan orang Arab menunjukkan banyak melimpah dan tidak terbatas pada tujuh angka saja" . [ Lihat : مُقَارَنَةٌ بَيْنَ الْوَصْفِ النَّبَوِيِّ وَتَصَوُّرِ عُلَمَاءِ الْفَضَاءِ لِلْكَوْنِ. oleh : Prof. DR. Mohammad Farsyoukh].

Ahlus Sunnah menetapkan bahwa ketinggian Allah Ta’ala di atas Arsy dan seluruh makhluk-Nya berarti bahwa Dia Subhanahu wa Ta’ala benar-benar berada di atas seluruh makhluk, di atas langit, di atas surga, dan di atas Arsy. Dan bahwa Dia Subhanahu wa Ta’ala tidak dilingkupi oleh makhluk apa pun, tidak membutuhkan sesuatu pun dari makhluk-Nya, bahkan Dialah Pencipta dan Pemelihara mereka.

Adapun nash-nash yang menyebutkan bahwa Allah “di langit”, maka maksudnya adalah bahwa Dia Subhanahu Maha Tinggi di atas makhluk-Nya, bukan berarti bahwa langit mencakup-Nya atau meliputi-Nya. Karena yang dimaksud dengan "langit" dalam konteks ini adalah makna ketinggian, bukan langit yang diciptakan. Atau dapat pula dikatakan bahwa huruf *fi* (di dalam) dalam ayat itu bermakna “ala” (di atas), yakni: “di atas langit.”

Permisalan : ketika seseorang menunjuk arah ketinggian dengan jarinya ke atas atau ke langit saat, maka itu pada hakikatnya makna tinggi itu adalah menjauh terpisah dari bumi. Karena bumi itu bulat, bukan datar.

Jadi ketika seseorang mengatakan Allah diatas sambil menunjukkan jarinya ke atas, maka maksudnya adalah bahwa Allah SWT terpisah dari alam semesta alias terpisah dari seluruh makhluknya, yakni ; tidak menyatu dengan-nya. Sementara makhluk Allah yang terbesar adalah ‘Arasy.

Ada seorang pastur kristen di Menado yang masuk Islam, dia menulis sebuah karya tulis. Dia menulis di cover bukunya sebuah ungkapan seperti ini :

“Belum pernah ada seorang tukang kayu pengrajin bikin meja dan kursi bisa berubah menjadi meja dan kursi atau menyatu dengan salah satunya. Begitu juga dengan Allah Sang Pencipta Manusia, tidaklah mungkin berubah menjadi Yesus atau menyatu dengan-nya”.   

Tidaklah mengapa membayangkan Kursi dan 'Arsy, karena keduanya merupakan makhluk Allah Ta'ala yang memang disyariatkan untuk dipikirkan sebagai bagian dari perenungan terhadap kebesaran ciptaan-Nya.

Dalam kitab “Dalil Al-Falihin li Thuruq Riyadh Ash-Shalihin” 2/293 disebutkan pada pembahasan tentang tafakur:

بَابٌ فِي التَّفَكُّرِ، أَيْ: إِجَالَةِ الْفِكْرِ فِي عَظِيمِ مَخْلُوقَاتِ اللَّهِ تَعَالَى كَالْعَرْشِ وَالْكُرْسِيِّ وَالسَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، فَفِي الْحَدِيثِ: مَا السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي الْعَرْشِ إِلَّا كَحَلْقَةٍ أُلْقِيَتْ فِي فَلَاةٍ مِنَ الْأَرْضِ. اهـ.

"Bab tentang tafakur, yaitu mengarahkan pikiran untuk merenungkan kebesaran makhluk-makhluk Allah Ta'ala seperti 'Arsy, Kursi, langit, dan bumi. Dalam sebuah Hadits disebutkan:

'Langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya dibandingkan dengan 'Arsy hanyalah seperti sebuah cincin yang dilemparkan ke sebuah padang pasir yang luas.'" [Selesai]

****

ALLAH MAHA BESAR, ALAM SEMESTA DALAM GENGGAMANNYA

Kelalk seluruh gugusan galaxy, bintang dan planet dalam genggaman Allah SWT. Langit-langit dilipat dengan tangan kanan-Nya.

Berikut ini sebagian dalilnya:

Dalil ke 1:

Allah SWT berfirman :

﴿وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ﴾

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan”. [QS. Az-Zumar: 67]

Yang dimaksud BUMI di sini adalah seluruh benda-benda padat dilangit : gugusan galaksi, planet, bintang, matahari dan bulan. 

Al-Imam al-Qurthuby dalam Tafsirnya 15/278 mengatakan :

وَالْمُرَادُ بِالْأَرْضِ الْأَرَضُونَ السَّبْعُ، يَشْهَدُ لِذَلِكَ شَاهِدَانِ قَوْلُهُ:" وَالْأَرْضُ جَمِيعاً" ‌وَلِأَنَّ ‌الْمَوْضِعَ ‌مَوْضِعَ ‌تَفْخِيمٍ ‌وَهُوَ ‌مُقْتَضٍ ‌لِلْمُبَالَغَةِ

Yang dimaksud dengan “bumi” adalah tujuh lapis bumi. Hal itu didukung oleh dua dalil: pertama, firman-Nya: “dan bumi seluruhnya”; dan karena konteks ayat tersebut adalah dalam rangka pengagungan, yang menuntut adanya penekanan yang kuat.

Dan yang sudah maklum adanya adalah :

أَنَّ الرَّقْمَ سَبْعَةَ عِنْدَ الْعَرَبِ يُفِيدُ الْكَثْرَةَ وَلَا يَتَحَدَّدُ فَقَطْ بِالسَّبْعَةِ عَدَدًا.

Bahwa : "ANGKA TUJUH di kalangan orang Arab menunjukkan banyak melimpah dan tidak terbatas pada tujuh angka saja" . [ Lihat : مُقَارَنَةٌ بَيْنَ الْوَصْفِ النَّبَوِيِّ وَتَصَوُّرِ عُلَمَاءِ الْفَضَاءِ لِلْكَوْنِ. oleh : Prof. DR. Mohammad Farsyoukh].

Dalil ke 2:

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah bersabda:

«يَطْوِي اللهُ عَزَّ وَجَلَّ السَّمَاوَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، ‌ثُمَّ ‌يَأْخُذُهُنَّ ‌بِيَدِهِ ‌الْيُمْنَى، ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ الْجَبَّارُونَ؟ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ. ثُمَّ يَطْوِي الْأَرَضِينَ بِشِمَالِهِ، ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ الْجَبَّارُونَ؟ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ؟»

“Allah ‘Azza wa Jalla melipat langit-langit pada hari kiamat, kemudian menggenggamnya dengan tangan kanan-Nya, lalu berfirman: ‘Akulah Raja, di mana orang-orang yang sombong? Di mana orang-orang yang angkuh?’

Kemudian Dia melipat planet-planet dengan tangan kiri-Nya, lalu berfirman: ‘Akulah Raja, di mana orang-orang yang sombong? Di mana orang-orang yang angkuh?’”

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (7412) dan Muslim (2788)].

Dalil ke 3:

Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah bersabda :

«يَقْبِضُ اللَّهُ الأرْضَ يَومَ القِيامَةِ، ويَطْوِي السَّماءَ بيَمِينِهِ، ثُمَّ يقولُ: أنا المَلِكُ أيْنَ مُلُوكُ الأرْضِ».

Allah menggenggam bumi pada hari kiamat, dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya, lalu berfirman: “Akulah Raja. Di mana para raja bumi?”

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (7382) dan Muslim (2787)].

Dalil ke 4:

Dan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu :

جَاءَ حَبْرٌ مِنَ الْيَهُودِ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَقَالَ: إِنَّهُ إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ جَعَلَ اللهُ السَّمَاوَاتِ عَلَى أُصْبُعٍ، وَالْأَرْضِينَ عَلَى أُصْبُعٍ، وَالْجِبَالَ وَالشَّجَرَ عَلَى أُصْبُعٍ، وَالْمَاءَ وَالثَّرَى عَلَى أُصْبُعٍ، وَالْخَلَائِقَ كُلَّهَا عَلَى أُصْبُعٍ، ثُمَّ يَهُزُّهُنَّ، ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَنَا الْمَلِكُ.

قَالَ: فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ، تَعَجُّبًا لَهُ، وَتَصْدِيقًا لَهُ، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: ﴿وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ﴾

Seorang rahib Yahudi datang kepada Rasulullah lalu berkata:

“Sesungguhnya apabila hari kiamat terjadi, Allah akan meletakkan langit-langit di atas satu jari, planet-planet di atas satu jari, gunung-gunung dan pepohonan di atas satu jari, air dan tanah liat di atas satu jari, dan seluruh makhluk di atas satu jari, lalu Dia mengguncangnya semuanya, kemudian berfirman: ‘Akulah Raja, Akulah Raja.’”

Rasulullah pun tertawa hingga tampak gigi gerahamnya, karena takjub kepadanya dan membenarkannya. Lalu Rasulullah membaca:

﴿وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ﴾

("Mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit-langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan.") [QS. Az-Zumar: 67].

[Di kutip dari kitab at-Tauhid karya Ibnu Khuzaimah 1/184. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (7451) dan Muslim (2786) dengan sedikit perbedaan redaksi].

Dalil ke 6:

Hati para anak cucu Adam berada diantara dua jari dari jari-jari ar-Rahman. Sebagaimana dalam hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah bersabda :

«إنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِن أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ، كَقَلْبٍ وَاحِدٍ، يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ، ثُمَّ قالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا علَى طَاعَتِكَ».

“Sesungguhnya hati seluruh anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman, seperti satu hati, Dia membolak-balikannya ke arah mana saja yang Dia kehendaki. Kemudian Rasulullah bersabda: "Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, arahkanlah hati kami kepada ketaatan kepada-Mu." [HR. Muslim no. 2654]

****

DIMANAPUN KALIAN BERADA, ALLAH DEKAT BERSAMA KALIAN

Allah SWT berfirman:

﴿هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ﴾

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari bumi, dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke langit; dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu lakukan. [QS. Al-Hadid : 4]

Dari Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda,

«إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ إِيمَانِ الْمَرْءِ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى مَعَهُ حَيْثُ كَانَ».

"Sesungguhnya termasuk keimanan seseorang yang paling utama adalah ia mengetahui bahwa Allah Ta'ala bersamanya di mana pun ia berada."

Takhrij:

Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam Hilyat Al-Auliya' (6/124), Al-Baihaqi dalam Al-Asma' wa Ash-Shifat no. 907, ad-Dawlabi dalam al-Kuna wal Asmaa 2/874 no. 1533, al-Laalaka’i dalam Syarah Ushul al-I’tiqod no. 1686 dan al-Kalabadzi dalam Bahrul Fawa’id hal. 261.

Sanadnya di nilai Hasan oleh adh-Dhiyaa’ al-A’dzomi dalam al-Jami’ al-Kamil 1/341 dan oleh Syeikh Sa’uud bin Abdul ‘Aziz Kholaf dalam Tahqiq kitab al-Intishor 3/751.

Namun didhaifkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Adh-Dha'ifah no. 2589.

Al-Haitsami berkata dalam Majma' Az-Zawa'id (1/60) no. 204:

رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ وَالْكَبِيرِ، وَقَالَ: ‌تَفَرَّدَ ‌بِهِ ‌عُثْمَانُ ‌بْنُ ‌كَثِيرٍ. ‌قُلْتُ: ‌"وَلَمْ ‌أَرَ ‌مَنْ ‌ذَكَرَهُ بِثِقَةٍ وَلَا جَرْحٍ"

"Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Awsath dan Al-Kabir. Beliau berkata, 'Hadis ini hanya diriwayatkan secara menyendiri oleh Utsman bin Katsir.'"

Aku (Al-Haitsami) berkata, "Aku tidak mendapati seorang pun yang menyebutkannya sebagai perawi yang tsiqah (tepercaya), dan aku juga tidak mendapati seorang pun yang memberikan penilaian jarh (kritik terhadapnya)."

Syeikh Sa’uud bin Abdul ‘Aziz Kholaf dalam Tahqiq kitab al-Intishor 3/751 berkata:

وَأَخْرَجَهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ، وَقَالَ: لَمْ يَرْوِهِ عَنْ عُرْوَةَ إِلَّا مُحَمَّدُ بْنُ مُهَاجِرٍ، تَفَرَّدَ بِهِ عُثْمَانُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ كَثِيرٍ. (مُعْجَمُ الطَّبَرَانِيِّ الْأَوْسَطُ، وَرَقَةُ ٤٢٩/أ، ج ٢، مُصَوَّرٌ فِي مَكْتَبَةِ الشَّيْخِ حَمَّادٍ الْأَنْصَارِيِّ).

وَالْحَدِيثُ رُوَاتُهُ ثِقَاتٌ، وَإِسْنَادُهُ جَيِّدٌ، إِلَّا أَنَّ عُرْوَةَ بْنَ رُوَيْمٍ يُرْسِلُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ غَنْمٍ. (انْظُرْ: التَّهْذِيبُ ٧/١٧٩).

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam Al-Awsath.

Beliau berkata: "Tidak ada yang meriwayatkannya dari 'Urwah selain Muhammad bin Muhajir, dan yang meriwayatkannya secara menyendiri dari Muhammad bin Muhajir adalah Utsman bin Sa'id bin Katsir."

(Lihat: Al-Mu'jam Al-Awsath karya Ath-Thabarani, lembar 429/A, jilid 2 (salinan foto yang tersimpan di Perpustakaan Syaikh Hammad Al-Anshari).

Para perawi hadis ini adalah orang-orang yang tsiqah (tepercaya), dan sanadnya berstatus jayyid (baik), hanya saja 'Urwah bin Ruwaim meriwayatkan secara mursal dari Abdurrahman bin Ghanm. (Lihat: At-Tahdzib, 7/179).

Imam As-Suyuthi berkata dalam Ad-Durr Al-Mantsur (8/49):

أَخْرَجَ ابْنُ مَرْدَوَيْهِ، وَالْبَيْهَقِيُّ، عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ.

"Diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dan Al-Baihaqi dari Ubadah bin Ash-Shamit."

Lihat juga: Kitab Al-Mushannaf fi Al-Ahadits wa Al-Atsar karya Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah, terbitan Ad-Dar As-Salafiyyah, India, tahqiq Mukhtar Ahmad An-Nadawi, cetakan pertama, 1400 H/1980 M, 12/195 dan 15/165.

Dan Lihat pula: Kanz Al-'Ummal no. 1339 dan ‘Uyun ar-Rosail 2/537.

Ibnu al-Qoyyim berkata:

وَالَّذِي يُسَهِّلُ عَلَيْكَ فَهْمَ هَذَا: مَعْرِفَةُ عَظَمَةِ الرَّبِّ وَإِحَاطَتِهِ بِخَلْقِهِ وَأَنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ فِي يَدِهِ كَخَرْدَلَةٍ فِي يَدِ الْعَبْدِ، وَأَنَّهُ سُبْحَانَهُ يَقْبِضُ السَّمَاوَاتِ بِيَدِهِ وَالْأَرْضَ بِيَدِهِ الْأُخْرَى ثُمَّ يَهُزُّهُنَّ، فَكَيْفَ يَسْتَحِيلُ فِي حَقِّ مَنْ هَذَا بَعْضُ عَظَمَتِهِ. أَنْ يَكُونَ فَوْقَ عَرْشِهِ وَيَقْرُبُ مِنْ خَلْقِهِ كَيْفَ شَاءَ وَهُوَ عَلَى الْعَرْشِ.

“Yang akan memudahkanmu memahami hal ini ialah mengenal keagungan Rabb, keluasan kekuasaan-Nya yang meliputi seluruh makhluk, serta bahwa tujuh langit di tangan-Nya hanyalah seperti sebutir biji sawi di tangan seorang hamba.

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menggenggam langit-langit dengan satu tangan-Nya dan bumi dengan tangan-Nya yang lain, kemudian mengguncangkannya.

Maka bagaimana mungkin dianggap mustahil bagi Zat yang demikian agung untuk berada di atas ‘Arsy-Nya, namun pada saat yang sama Dia dekat dengan makhluk-Nya sesuai dengan kehendak-Nya, sementara Dia tetap berada di atas ‘Arsy?”

[Lihat: Mukhtaar Ash-hawā’iq Al-Mursalah, hlm. 483]

Dalam kitab Syarh Al-'Aqidah Al-Wasithiyyah, Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan berkata:

فَلَا يُقَالُ: إِذَا كَانَ فَوْقَ خَلْقِهِ فَكَيْفَ يَكُونُ مَعَهُمْ؛ لِأَنَّ هَذَا السُّؤَالَ نَاشِئٌ عَنْ تَصَوُّرٍ خَاطِئٍ، هُوَ قِيَاسُهُ سُبْحَانَهُ بِخَلْقِهِ، وَهَذَا قِيَاسٌ بَاطِلٌ؛ لِأَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾.

فَالْقُرْبُ وَالْعُلُوُّ يَجْتَمِعَانِ فِي حَقِّهِ؛ لِعَظَمَتِهِ وَكِبْرِيَائِهِ وَإِحَاطَتِهِ، وَأَنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ فِي يَدِهِ كَخَرْدَلَةٍ فِي يَدِ الْعَبْدِ، فَكَيْفَ يَسْتَحِيلُ فِي حَقِّ مَنْ هَذَا بَعْضُ عَظَمَتِهِ أَنْ يَكُونَ فَوْقَ عَرْشِهِ وَيَقْرُبَ مِنْ خَلْقِهِ كَيْفَ يَشَاءُ، وَهُوَ عَلَى الْعَرْشِ؟

Maka dari itu tidak boleh dikatakan: 'Jika Allah berada di atas seluruh makhluk-Nya, bagaimana mungkin Dia juga bersama mereka?'

Pertanyaan seperti ini muncul dari anggapan yang keliru, yaitu menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Qiyas seperti ini adalah qiyas yang batil, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

'Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.'

Maka sifat dekat (الْقُرْبُ) dan sifat tinggi (العُلُوُّ) berhimpun pada diri Allah karena keagungan, kebesaran, dan keluasan kekuasaan-Nya. Langit yang tujuh saja berada dalam genggaman-Nya bagaikan sebutir biji sawi di tangan seorang hamba”. [Kutipan Selesai]

====

ALLAH MELIPUTI SELURUH MAKHLUKNYA, TAPI TIDAK DILIPUTI MAKHLUKNYA

Al-Imam Abu Ja’far ath-Thohawi dalam Matan al-‘Aqidah ath-Thohawiyah hal. 56 no. 51 berkata:

«وَأَنَّهُ تَعَالَى مُحِيطٌ بِكُلِّ شَيْءٍ وَفَوْقَهُ، وَقَدْ أَعْجَزَ عَنِ الْإِحَاطَةِ خَلْقَهُ».

"Sesungguhnya Allah Ta’ala meliputi segala sesuatu, sementara Dia berada di atas segala sesuatu. Dan Dia telah menjadikan seluruh makhluk tidak mampu meliputi-Nya."

[Lihat pula : Ijtima’ al-Juyusy al-Islamiyah karya Ibnu al-Qoyyim 2/223].

Syeikh Muhammad al-Munajjid menjelaskan :  

أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يُحِيطُ بِهِ شَيْءٌ مِنْ خَلْقِهِ، وَلَا تَحْوِيهِ مَخْلُوقَاتُهُ، وَهُوَ سُبْحَانَهُ غَنِيٌّ عَنْهَا، فَقَدْ تَنَزَّهَ عَنِ الْحَاجَةِ إِلَيْهَا، وَتَعَالَى أَنْ يُحِيطَ بِهِ الْمَخْلُوقُ الْمُحْدَثُ النَّاقِصُ.

Bahwa Allah Azza wa Jalla tidak dilingkupi oleh apa pun dari makhluk-Nya, dan tidak ada satu makhluk pun yang dapat membatasi-Nya.

Dia Maha Kaya dari segala sesuatu, Maha Suci dari ketergantungan terhadap selain-Nya, dan Maha Tinggi untuk dilingkupi oleh makhluk yang baru lagi serba kurang”. [Selesai]

Hakikat ini mencerminkan kesempurnaan dan keagungan Allah. Allah 'Azza wa Jalla meliputi seluruh makhluk-Nya dengan liputan ilmu, kekuasaan, dan penguasaan-Nya, sehingga tidak ada sesuatu pun yang keluar dari kerajaan-Nya. Sebaliknya, akal manusia yang terbatas mustahil mampu meliputi hakikat Dzat dan sifat-sifat-Nya.

Hal ini sebagaimana firman Allah Ta'ala:

﴿اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَاتٍ وَمِنَ الأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا﴾

"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan (menciptakan pula) bumi sebanyak itu. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan bahwa Allah benar-benar meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya." (QS. At-Talaq: 12)

Dan firman Allah Ta'ala:

﴿ وَاللَّهُ مِن وَرَائِهِم مُّحِيطٌ﴾

"Padahal Allah meliputi mereka dari belakang mereka." (QS. Al-Buruj: 20)

Dan firman-Nya:

﴿وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا﴾

"Sedangkan mereka tidak dapat meliputi-Nya dengan ilmu." (QS. Thaha: 110)

Dan firman-Nya:

﴿يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا﴾

“Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak dapat meliputi-Nya dengan ilmu.” (Thaha: 110)

Dan firman-Nya :

﴿يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ﴾

“Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak dapat meliputi apapun dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. [QS. Al-Baqarah: 255]

Allah berfirman:

﴿لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ﴾

“Pandangan tidak dapat menjangkau-Nya, dan Dia-lah yang menjangkau pandangan, dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 103)

Abu Dzar Al-Ghafari radhiyallahu 'anhu meriwayatkan: bahwa Nabi bersabda :

«مَا السَّمَاوَاتُ السَّبعُ فِي الْكُرْسِيِّ إِلَّا كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْضِ فَلَاةٍ، وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ كَفَضْلِ تِلْكَ الْفَلَاةِ عَلَى تِلْكَ الْحَلْقَةِ».

“Perumpamaan langit yang tujuh dibandingkan dengan Kursi seperti cincin yang dilemparkan di padang sahara yang luas. 

Dan kelebihan (keunggulan) ‘Arsy atas Kursi seperti kelebihan (keunggulan) padang sahara yang luas itu atas cincin tersebut.” 

[HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Kitaabul ‘Arsy no. 58 , Ibnu Hibban n0. 361 , al-Baihaqi dalam al-Asmaa wa ash-Shifaat no. 861 dan Abu Naim dalam ((Hilyat Al-Awliya’) (1/167) secara panjang lebar dari Sahabat Abu Dzarr al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu .

Dishahihkan oleh Ibnu al-Qoyyim dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (I/223 no. 109) dan التَّعْلِيقُ عَلَى الطَّحَاوِيَّةِ no. 36.

Dan yang sudah maklum adanya adalah :

أَنَّ الرَّقْمَ سَبْعَةَ عِنْدَ الْعَرَبِ يُفِيدُ الْكَثْرَةَ وَلَا يَتَحَدَّدُ فَقَطْ بِالسَّبْعَةِ عَدَدًا.

Bahwa : "ANGKA TUJUH di kalangan orang Arab menunjukkan banyak melimpah dan tidak terbatas pada tujuh angka saja" . [ Lihat : مُقَارَنَةٌ بَيْنَ الْوَصْفِ النَّبَوِيِّ وَتَصَوُّرِ عُلَمَاءِ الْفَضَاءِ لِلْكَوْنِ. oleh : Prof. DR. Mohammad Farsyoukh].

Ahlus Sunnah menetapkan bahwa ketinggian Allah Ta’ala di atas Arsy dan seluruh makhluk-Nya berarti bahwa Dia Subhanahu wa Ta’ala benar-benar berada di atas seluruh makhluk, di atas langit, di atas surga, dan di atas Arsy. Dan bahwa Dia Subhanahu wa Ta’ala tidak dilingkupi oleh makhluk apa pun, tidak membutuhkan sesuatu pun dari makhluk-Nya, bahkan Dialah Pencipta dan Pemelihara mereka.

Adapun nash-nash yang menyebutkan bahwa Allah “di langit”, maka maksudnya adalah bahwa Dia Subhanahu Maha Tinggi di atas makhluk-Nya, bukan berarti bahwa langit mencakup-Nya atau meliputi-Nya. Karena yang dimaksud dengan "langit" dalam konteks ini adalah makna ketinggian, bukan langit yang diciptakan. Atau dapat pula dikatakan bahwa huruf *fi* (di dalam) dalam ayat itu bermakna “ala” (di atas), yakni: “di atas langit.”

Permisalan : ketika seseorang menunjuk arah ketinggian dengan jarinya ke atas atau ke langit saat, maka itu pada hakikatnya makna tinggi itu adalah menjauh terpisah dari bumi. Karena bumi itu bulat, bukan datar.

Jadi ketika seseorang mengatakan Allah diatas sambil menunjukkan jarinya ke atas, maka maksudnya adalah bahwa Allah SWT terpisah dari alam semesta alias terpisah dari seluruh makhluknya, yakni ; tidak menyatu dengan-nya. Sementara makhluk Allah yang terbesar adalah ‘Arasy.

Ada seorang pastur kristen di Menado yang masuk Islam, dia menulis sebuah karya tulis. Dia menulis di cover bukunya sebuah ungkapan seperti ini :

“Belum pernah ada seorang tukang kayu pengrajin bikin meja dan kursi bisa berubah menjadi meja dan kursi atau menyatu dengan salah satunya. Begitu juga dengan Allah Sang Pencipta Manusia, tidaklah mungkin berubah menjadi Yesus atau menyatu dengan-nya”.  

Syeikh Kholid Muslih berkata dalam Syarah al-‘Aqidah ath-Thohawiyah 12/6:

قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ: (مُحِيطٌ بِكُلِّ شَيْءٍ وَفَوْقَهُ) هَذَا بَيَانٌ أَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مُحِيطٌ بِكُلِّ شَيْءٍ؛ لِعَظَمَتِهِ وَسَعَتِهِ وَكِبَرِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، فَهُوَ الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِي، وَهُوَ الَّذِي أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ، كَمَا قَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: ﴿اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا﴾ [الطَّلَاقِ: ١٢]، فَأَحَاطَ بِخَلْقِهِ عِلْمًا، وَأَحَاطَ بِخَلْقِهِ قُدْرَةً سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، فَهُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ، وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ، الْأَوَّلُ: الَّذِي لَيْسَ قَبْلَهُ شَيْءٌ، وَالْآخِرُ: الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ شَيْءٌ، وَالظَّاهِرُ: الَّذِي لَيْسَ فَوْقَهُ شَيْءٌ، وَالْبَاطِنُ: الَّذِي لَيْسَ دُونَهُ شَيْءٌ، وَبِهَذَا ثَبَتَ لَهُ جَلَّ وَعَلَا الْإِحَاطَةُ الزَّمَانِيَّةُ، وَالْإِحَاطَةُ الْمَكَانِيَّةُ، سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ.

فَاللَّهُ جَلَّ وَعَلَا مُحِيطٌ بِكُلِّ شَيْءٍ، وَفَوْقَهُ، أَيْ: وَهُوَ عَلَيْهِ مُسْتَعْلٍ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَلَا شَكَّ أَنَّهُ هُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ؛ وَلِذَلِكَ خُتِمَتْ أَعْظَمُ آيَةٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ بِهَذَيْنِ الْوَصْفَيْنِ: بِإِثْبَاتِ صِفَةِ الْعُلُوِّ وَالْعَظَمَةِ، فَعُلُوُّ اللَّهِ ثَابِتٌ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، وَفَوْقِيَّةُ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ثَابِتَةٌ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، وَالْعُلُوُّ الثَّابِتُ لَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هُوَ: عُلُوُّ الذَّاتِ، وَعُلُوُّ الْقَدْرِ، وَعُلُوُّ الْقَهْرِ.

كُلُّ هَذِهِ الْمَعَانِي الثَّلَاثَةُ ثَابِتَةٌ لِلرَّبِّ جَلَّ وَعَلَا، وَأَهْلُ التَّحْرِيفِ وَالِانْحِرَافِ لَمْ يُثْبِتُوا عُلُوَّ الذَّاتِ، بَلْ قَالُوا فِي كُلِّ مَا جَاءَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِنْ إِثْبَاتِ الْعُلُوِّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: إِنَّهُ عُلُوُّ الْقَدْرِ، أَوْ عُلُوُّ الْقَهْرِ، وَهَذَا ثَابِتٌ لِلرَّبِّ جَلَّ وَعَلَا، وَلَكِنْ لَا نُعَطِّلُ الْمَعْنَى الثَّالِثَ، وَهُوَ صِفَةُ كَمَالٍ لِلرَّبِّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ: (وَقَدْ أَعْجَزَ عَنِ الْإِحَاطَةِ خَلْقَهُ) أَعْجَزَ عَنِ الْإِحَاطَةِ خَلْقَهُ، فَخَلْقُهُ مَهْمَا بَلَغَ قَدْرُهُمْ وَقُدْرَاتُهُمْ لَا يَتَمَكَّنُونَ مِنَ الْإِحَاطَةِ بِالرَّبِّ جَلَّ وَعَلَا، لَا الْمَلَائِكَةُ وَلَا غَيْرُهُمْ، كُلُّهُمْ لَا يَتَمَكَّنُونَ مِنَ الْإِحَاطَةِ بِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ، فَهُوَ الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِي، وَهُوَ الْمُحِيطُ بِكُلِّ شَيْءٍ، قَالَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا: ﴿وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ﴾ [الْبَقَرَةِ: ٢٥٥].

وَهَذَا فِيهِ شَيْءٌ مِمَّا اتَّصَفَ بِهِ، وَهُوَ الْعِلْمُ، لَا يَتَمَكَّنُونَ مِنَ الْإِحَاطَةِ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ، وَقَالَ جَلَّ وَعَلَا: ﴿وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا﴾ [طَه: ١١٠]، أَيْ: لَا يَتَمَكَّنُونَ مِنَ الْإِحَاطَةِ بِعِلْمِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، فَنَفَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الْإِحَاطَةَ بِشَيْءٍ مِنْ صِفَاتِهِ، وَالْإِحَاطَةَ بِهِ جَلَّ وَعَلَا، وَأَيْضًا: نَفَى الْإِحَاطَةَ الْحِسِّيَّةَ، وَذَلِكَ بِإِدْرَاكِ الْبَصَرِ، فَقَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: ﴿لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ﴾ [الْأَنْعَامِ: ١٠٣]، لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ، فَنَفَى اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا أَنْ تُدْرِكَهُ الْأَبْصَارُ؛ وَذَلِكَ لِعِظَمِهِ وَكَمَالِهِ، فَخَلْقُهُ لَا يَتَمَكَّنُونَ مِنَ الْإِحَاطَةِ بِهِ.

وَعَلَى هَذَا يُحْمَلُ مَا جَاءَ فِي الْأَثَرِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي تَفْسِيرِ الْآيَةِ، قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: (لَوْ أَنَّ الْخَلْقَ كُلَّهُمْ -الْمَلَائِكَةَ، وَالْإِنْسَ، وَالْجِنَّ، وَالشَّيَاطِينَ- صَفُّوا صَفًّا وَاحِدًا مُنْذُ خَلَقَهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى آخِرِهِمْ، مَا أَحَاطُوا بِاللَّهِ جَلَّ وَعَلَا)، مَعَ تَعَدُّدِهِمْ، وَاخْتِلَافِ قُدْرَاتِهِمْ، وَكَثْرَتِهِمْ؛ لَا يُحِيطُونَ بِالرَّبِّ جَلَّ وَعَلَا، وَقَدْ وَرَدَ هَذَا الْأَثَرُ مَرْفُوعًا، إِلَّا أَنَّهُ لَا يَصِحُّ مَرْفُوعًا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ.

وَالْمُرَادُ: أَنَّ الْخَلْقَ عَاجِزُونَ عَنْ أَنْ يُحِيطُوا بِالرَّبِّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ، فَالْوَاجِبُ عَلَيْهِمْ أَنْ يُقَدِّرُوا اللَّهَ جَلَّ وَعَلَا عَنْ تَوَهُّمِ الْإِحَاطَةِ بِهِ، أَوِ الْعِلْمِ بِحَقَائِقِ مَا أَخْبَرَ بِهِ عَنْ نَفْسِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

Beliau (Ath-Thohawi) rahimahullah berkata: "Dia meliputi segala sesuatu dan berada di atasnya."

Ini merupakan penjelasan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala meliputi segala sesuatu, karena keagungan, keluasan, dan kebesaran-Nya. Dia adalah Al-Kabir (Yang Mahabesar) dan Al-Muta'al (Yang Mahatinggi), Dialah yang meliputi segala sesuatu, sebagaimana firman-Nya:

"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan bumi seperti itu pula. Perintah-Nya berlaku di antara keduanya agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan bahwa Allah benar-benar meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya." (QS. Ath-Thalaq: 12)

Allah meliputi seluruh makhluk-Nya dengan ilmu-Nya, dan meliputi mereka dengan kekuasaan-Nya. Dia adalah Al-Awwal (Yang Pertama), Al-Akhir (Yang Terakhir), Azh-Zhahir (Yang Mahatinggi), dan Al-Bathin (Yang Maha Dekat).

Al-Awwal adalah Dzat yang tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya.

Al-Akhir adalah Dzat yang tidak ada sesuatu pun sesudah-Nya.

Adz-Dzohir adalah Dzat yang tidak ada sesuatu pun di atas-Nya.

Al-Bathin adalah Dzat yang tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat daripada-Nya.

Dengan demikian, tetaplah bagi Allah Jalla wa 'Ala sifat meliputi segala sesuatu dari sisi waktu maupun tempat. Mahasuci dan Mahaterpuji Dia.

Allah Jalla wa 'Ala meliputi segala sesuatu, dan Dia berada di atas semuanya, yakni Dia Mahatinggi dan bersemayam di atas seluruh makhluk-Nya. Tidak diragukan lagi bahwa Dia adalah Al-'Ali (Yang Mahatinggi) lagi Al-'Azhim (Yang Mahaagung). Oleh sebab itu, ayat yang paling agung dalam Kitabullah ditutup dengan dua sifat tersebut, yaitu penetapan sifat ketinggian dan keagungan. Ketinggian Allah meliputi segala sesuatu, demikian pula keberadaan Allah di atas seluruh makhluk telah tetap.

Ketinggian Allah yang telah ada ketetapan bagi-Nya mencakup tiga makna:

[1]. Ketinggian Dzat-Nya.

[2]. Ketinggian kedudukan dan kemuliaan-Nya.

[3]. Ketinggian kekuasaan dan penaklukan-Nya.

Ketiga makna tersebut semuanya benar-benar tetap bagi Rabb Jalla wa 'Ala.

Adapun orang-orang yang melakukan penyimpangan dan penyelewengan dalam masalah sifat-sifat Allah, mereka tidak menetapkan ketinggian Dzat Allah. Mereka mengatakan bahwa seluruh dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah yang menetapkan sifat ketinggian bagi Allah hanyalah bermakna ketinggian kedudukan atau ketinggian kekuasaan. Memang kedua makna itu benar bagi Allah Jalla wa 'Ala, namun kita tidak boleh meniadakan makna yang ketiga, yaitu ketinggian Dzat-Nya, karena itulah salah satu sifat kesempurnaan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Beliau (Ath-Thohawi) rahimahullah berkata: "Dan Dia telah menjadikan makhluk-Nya tidak mampu meliputi-Nya."

Artinya, seluruh makhluk, betapapun tinggi kedudukan dan besarnya kemampuan mereka, tidak akan pernah mampu meliputi Allah Jalla wa 'Ala. Baik para malaikat maupun selain mereka, semuanya tidak sanggup meliputi-Nya. Dia adalah Al-Kabir Al-Muta'al, dan Dia meliputi segala sesuatu.

Allah Jalla wa 'Ala berfirman:

﴿وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ﴾

"Dan mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki." (QS. Al-Baqarah: 255)

Ayat ini berbicara tentang salah satu sifat Allah, yaitu ilmu-Nya. Makhluk tidak mampu meliputi sedikit pun dari ilmu tersebut kecuali apa yang Allah kehendaki.

Allah juga berfirman:

﴿وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا﴾

"Sedangkan mereka tidak dapat meliputi-Nya dengan ilmu." (QS. Thaha: 110)

Artinya, mereka tidak akan mampu meliputi ilmu Allah. Dengan demikian, Allah menafikan kemampuan makhluk untuk meliputi sedikit pun dari sifat-sifat-Nya, bahkan menafikan kemampuan mereka untuk meliputi Dzat-Nya.

Demikian pula Allah menafikan kemampuan penglihatan makhluk untuk mencakup-Nya secara sempurna, sebagaimana firman-Nya:

﴿لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ﴾

"Penglihatan tidak dapat mencapai-Nya, tetapi Dia mencapai segala penglihatan. Dan Dialah Yang Mahahalus lagi Mahateliti." (QS. Al-An'am: 103)

Allah menafikan bahwa penglihatan dapat meliputi-Nya, karena keagungan dan kesempurnaan-Nya. Oleh sebab itu, seluruh makhluk tidak akan pernah mampu meliputi-Nya.

Berdasarkan pemahaman inilah dipahami atsar dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu ketika menafsirkan ayat tersebut. Beliau berkata:

(لَوْ أَنَّ الْخَلْقَ كُلَّهُمْ -الْمَلَائِكَةَ، وَالْإِنْسَ، وَالْجِنَّ، وَالشَّيَاطِينَ- صَفُّوا صَفًّا وَاحِدًا مُنْذُ خَلَقَهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى آخِرِهِمْ، مَا أَحَاطُوا بِاللَّهِ جَلَّ وَعَلَا)

"Seandainya seluruh makhluk, baik para malaikat, manusia, jin, maupun setan, berbaris dalam satu saf sejak Allah menciptakan mereka hingga generasi terakhir mereka, niscaya mereka tidak akan mampu meliputi Allah Jalla wa 'Ala."

Meskipun jumlah mereka sangat banyak, kemampuan mereka berbeda-beda, dan kekuatan mereka beragam, tetap saja mereka tidak akan mampu meliputi Allah Jalla wa 'Ala.

Atsar ini juga pernah diriwayatkan secara marfu' kepada Nabi , namun riwayat marfu' tersebut tidak sahih.

Inti dari pembahasan ini adalah bahwa seluruh makhluk tidak mampu meliputi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Oleh karena itu, kewajiban mereka adalah mengagungkan Allah dengan tidak membayangkan bahwa mereka dapat meliputi-Nya, atau mengetahui hakikat sebenarnya dari apa yang Allah kabarkan tentang Diri-Nya sendiri.

[Selesai. Kutipan dari Syarah al-Aqidah ath-Thohawiyah karya Syeikh Kholid Mushlih 12/6]

====***====

PERKATAAN PARA ULAMA YANG MENETAPKAN 
SIFAT ALLAH  “MAHA DEKAT” (AL-QORIIB)

Di antara nama-nama Allah Yang Maha Sempurna adalah Al-Qarib (Yang Maha Dekat).

Para ulama memiliki sejumlah penjelasan mengenai makna nama ini beserta beberapa faedah yang berkaitan dengannya. Semoga Allah Yang Mahamulia menjadikan tulisan ini bermanfaat bagi semua.

Diantaranya adalah sbb:

[1]
SA’ID BIN AL-MUSAYYIB (WAFAT 94 H)

Abdullah bin Syabib berkata:

صَلَّيْتُ إِلَى جَنْبِ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، فَلَمَّا جَلَسْتُ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ رَفَعْتُ صَوْتِي بِالدُّعَاءِ فَانْتَهَرَنِي، فَلَمَّا انْصَرَفْتُ، قُلْتُ لَهُ: مَا كَرِهْتَ مِنِّي؟، قَالَ: «‌ظَنَنْتُ ‌أَنَّ ‌اللَّهَ ‌لَيْسَ ‌بِقَرِيبٍ ‌مِنْكَ»

Aku pernah salat di samping Sa'id bin Al-Musayyib (wafat 94 H). Ketika aku duduk pada rakaat kedua, aku mengeraskan suaraku saat berdoa, lalu beliau menegurku. Setelah salat selesai, aku bertanya kepadanya, "Apa yang engkau tidak sukai dari perbuatanku?"

Beliau menjawab, "Apakah engkau mengira bahwa Allah tidak dekat denganmu?"

[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonnaf 6/85 no. 29668, dia berkata: telah bercerita kepada kami Yayha bin Sa’id, dari Abdullah bin Syabib: ....

Lihat pula: ad-Durrul Mantsur karya as-Suyuthi 1/474]

[2]
PERKATAAN IMAM IBNU JARIR ATH-THOBARI (WAFAT 310 H)

Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah berkata:

وَقَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ﴾ [سَبَأ: ٥٠]، يَقُولُ: إِنَّ رَبِّي سَمِيعٌ لِمَا أَقُولُ لَكُمْ، حَافِظٌ لَهُ، وَهُوَ الْمُجَازِي لِي عَلَى صِدْقِي فِي ذَلِكَ، وَذَلِكَ مِنِّي غَيْرُ بَعِيدٍ، فَيَتَعَذَّرُ عَلَيْهِ سَمَاعُ مَا أَقُولُ لَكُمْ، وَمَا تَقُولُونَ، وَمَا يَقُولُهُ غَيْرُنَا، وَلَكِنَّهُ قَرِيبٌ مِنْ كُلِّ مُتَكَلِّمٍ، يَسْمَعُ كُلَّ مَا يَنْطِقُ بِهِ، أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ.

Firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat." (QS. Saba': 50)

Lalu Ath-Thabari menjelaskan tentang ayat ini:

"Sesungguhnya Rabbku Maha Mendengar apa yang aku katakan kepada kalian, menjaganya, dan Dia akan memberikan balasan kepadaku atas kebenaranku dalam hal itu. Keadaanku ini tidaklah jauh dari-Nya, sehingga tidak mungkin pendengaran-Nya terhalang dari apa yang aku ucapkan kepada kalian, apa yang kalian ucapkan, maupun apa yang diucapkan oleh selain kita. Akan tetapi, Dia dekat dengan setiap orang yang berbicara. Dia mendengar setiap perkataan yang diucapkannya. Bahkan, Dia lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."

[Lihat: Tafsir ath-Thobari 19/308. Tahqiq at-Turki, Cet. Dar Hajr]

[3]
PERKATAAN SYEIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH

Menurut Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah : Beriman bahwa Allah Mahadekat tidak bertentangan dengan ketinggian dan keberadaan-Nya di atas seluruh makhluk.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

يَدْخُلُ فِي الْإِيمَانِ بِاللَّهِ: أَنَّهُ قَرِيبٌ مِنْ خَلْقِهِ.

وَقَدْ ‌دَخَلَ ‌فِي ‌ذَلِكَ: ‌الْإِيمَانُ ‌بِأَنَّهُ ‌قَرِيبٌ ‌مِنْ ‌خَلْقِهِ مُجِيبٌ كَمَا جَمَعَ بَيْنَ ذَلِكَ فِي قَوْلِهِ: {وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إذَا دَعَانِ} الْآيَةَ وَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلصَّحَابَةِ لَمَّا رَفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالذِّكْرِ: {أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ؛ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا؛ إنَّ الَّذِي تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ} 

وَمَا ذَكَرَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ - مِنْ قُرْبِهِ وَمَعِيَّتِه - لَا يُنَافِي مَا ذَكَرَ مِنْ عُلُوِّهِ وَفَوْقِيَّتِهِ فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي جَمِيعِ نُعُوتِهِ وَهُوَ عَلِيٌّ فِي دُنُوِّهِ قَرِيبٌ فِي عُلُوِّهِ

Termasuk bagian dari keimanan kepada Allah adalah meyakini bahwa Dia dekat dengan makhluk-Nya.

Dan termasuk dalam hal itu adalah beriman bahwa Allah dekat dengan makhluk-Nya dan Maha Mengabulkan doa, sebagaimana Allah menggabungkan antara kedekatan dan pengabulan doa dalam firman-Nya:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Demikian pula sabda Nabi kepada para sahabat ketika mereka mengeraskan suara dalam berzikir:

“Wahai manusia, rendahkanlah suara kalian. Sesungguhnya kalian tidak sedang berdoa kepada Dzat yang tuli dan tidak pula kepada Dzat yang jauh. Sesungguhnya Dzat yang kalian seru itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada leher tunggangannya.

Apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah tentang kedekatan (الْقُرْبُ) dan kebersamaan (المَعِيَّةُ) Allah tidaklah bertentangan dengan apa yang telah disebutkan tentang ketinggian (العُلُوُّ) dan keberadaan-Nya di atas seluruh makhluk (الفَوْقِيَّةُ). Sebab, Dia Subhanahu wa Ta'ala tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya. Dia Mahatinggi dalam kedekatan-Nya, dan Maha Dekat dalam ketinggian-Nya”.

[Lihat: Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 3/143 dan al-‘Aqidah al-Wasithiyyah hal. 85 no. 163-166. Tahqiq Abu Mahammad Asyrraf Cet. Adhwa as-Salaf – Raiyadh]

[4] 
PERKATAAN IBNU AL-QOYYIM AL-JAWZIYAH

Ibnul Qayyim dalam kitab Ash-Shawā’iq Al-Mursalah berkata :

قَالَ أَعْلَمُ الْخَلْقِ: «وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ» " وَهُوَ سُبْحَانَهُ قَرِيبٌ فِي عُلُوِّهِ عَالٍ فِي قُرْبِهِ، كَمَا فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ:

«كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا بِالتَّكْبِيرِ فَقَالَ " أَيُّهَا النَّاسُ أَرْبِعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا، إِنَّ الَّذِي تَدْعُونَهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ، أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ»

فَأَخْبَرَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ أَعْلَمُ الْخَلْقِ بِهِ أَنَّهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ، وَأَخْبَرَ أَنَّهُ فَوْقَ سَمَاوَاتِهِ عَلَى عَرْشِهِ مُطَّلِعٌ عَلَى خَلْقِهِ يَرَى أَعْمَالَهُمْ وَيَعْلَمُ مَا فِي بُطُونِهِمْ، وَهَذَا حَقٌّ لَا يُنَاقِضُ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ.

“Makhluk yang paling mengetahui (tentang Allah) bersabda: ‘Engkau adalah Adz-Dzāhir, maka tidak ada sesuatu pun di atas-Mu.

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā tetap Mahadekat dalam ketinggian-Nya, dan Mahatinggi dalam kedekatan-Nya.

Ini sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih dari Abu Musa Al-Asy‘ari radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: ‘Kami pernah bersama Rasulullah dalam suatu perjalanan. Lalu kami mengeraskan suara ketika bertakbir. Maka beliau bersabda:

“Wahai manusia, rendahkanlah suara kalian. Sesungguhnya kalian tidak sedang berdoa kepada Tuhan yang tuli dan tidak pula kepada Tuhan yang jauh. Sesungguhnya Zat yang kalian seru Maha Mendengar lagi Maha Dekat, bahkan Dia lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada leher tunggangannya.”

Maka Nabi , yang merupakan makhluk paling mengetahui tentang Allah, mengabarkan bahwa Allah lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada leher tunggangannya.

Beliau juga mengabarkan bahwa Allah berada di atas langit-langit-Nya, di atas ‘Arsy-Nya, senantiasa mengawasi makhluk-Nya, melihat amal-amal mereka, dan mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Kedua perkara ini adalah benar dan tidak saling bertentangan.”

Lalu Ibnu al-Qoyyim berkata:

وَالَّذِي يُسَهِّلُ عَلَيْكَ فَهْمَ هَذَا: مَعْرِفَةُ عَظَمَةِ الرَّبِّ وَإِحَاطَتِهِ بِخَلْقِهِ وَأَنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ فِي يَدِهِ كَخَرْدَلَةٍ فِي يَدِ الْعَبْدِ، وَأَنَّهُ سُبْحَانَهُ يَقْبِضُ السَّمَاوَاتِ بِيَدِهِ وَالْأَرْضَ بِيَدِهِ الْأُخْرَى ثُمَّ يَهُزُّهُنَّ، فَكَيْفَ يَسْتَحِيلُ فِي حَقِّ مَنْ هَذَا بَعْضُ عَظَمَتِهِ. أَنْ يَكُونَ فَوْقَ عَرْشِهِ وَيَقْرُبُ مِنْ خَلْقِهِ كَيْفَ شَاءَ وَهُوَ عَلَى الْعَرْشِ.

“Yang akan memudahkanmu memahami hal ini ialah mengenal keagungan Rabb, keluasan kekuasaan-Nya yang meliputi seluruh makhluk, serta bahwa tujuh langit di tangan-Nya hanyalah seperti sebutir biji sawi di tangan seorang hamba.

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menggenggam langit-langit dengan satu tangan-Nya dan bumi dengan tangan-Nya yang lain, kemudian mengguncangkannya.

Maka bagaimana mungkin dianggap mustahil bagi Zat yang demikian agung untuk berada di atas ‘Arsy-Nya, namun pada saat yang sama Dia dekat dengan makhluk-Nya sesuai dengan kehendak-Nya, sementara Dia tetap berada di atas ‘Arsy?

Ibnu al-Qoyyim kemudian berkata:

وَبِهَذَا يَزُولُ الْإِشْكَالُ عَنِ الْحَدِيثِ الَّذِي رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ مِنْ حَدِيثِ الْحَسَنِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ:

«بَيْنَمَا نَبِيُّ اللَّهِ ﷺ جَالِسٌ فِي أَصْحَابِهِ، إِذْ أَتَى عَلَيْهِمْ سَحَابٌ، فَقَالَ نَبِيُّ اللَّهِ ﷺ: "هَلْ تَدْرُونَ مَا هَذَا؟".

قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.

قَالَ: "هَذَا الْعَنَانُ، هَذِهِ رَوَايَا الْأَرْضِ، يَسُوقُهَا اللَّهُ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْكُرُونَهُ وَلَا يَدْعُونَهُ." ثُمَّ قَالَ: "هَلْ تَدْرُونَ مَا فَوْقَكُمْ؟"

قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.

قَالَ: "فَإِنَّهَا الرَّفِيعُ، سَقْفٌ مَحْفُوظٌ، وَمَوْجٌ مَكْفُوفٌ." ثُمَّ قَالَ: "هَلْ تَدْرُونَ كَمْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهَا؟"

قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.

قَالَ: "بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهَا خَمْسُمِائَةِ سَنَةٍ." ثُمَّ قَالَ: "هَلْ تَدْرُونَ مَا فَوْقَ ذَلِكَ؟"

قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.

قَالَ: "فَإِنَّ فَوْقَ ذَلِكَ سَمَاءَيْنِ، مَا بَيْنَهُمَا مَسِيرَةُ خَمْسِمِائَةِ سَنَةٍ." حَتَّى عَدَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ، مَا بَيْنَ كُلِّ سَمَاءَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ. ثُمَّ قَالَ: "هَلْ تَدْرُونَ مَا فَوْقَ ذَلِكَ؟"

قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.

قَالَ: "فَإِنَّ فَوْقَ ذَلِكَ الْعَرْشَ، بَيْنَهُ وَبَيْنَ السَّمَاءِ السَّابِعَةِ بُعْدُ مَا بَيْنَ السَّمَاءَيْنِ." ثُمَّ قَالَ: "هَلْ تَدْرُونَ مَا الَّذِي تَحْتَكُمْ؟"

قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.

قَالَ: "فَإِنَّهَا الْأَرْضُ." ثُمَّ قَالَ: "هَلْ تَدْرُونَ مَا تَحْتَ ذَلِكَ؟"

قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.

قَالَ: "فَإِنَّهَا الْأَرْضُ الْأُخْرَى، بَيْنَهُمَا مَسِيرَةُ خَمْسِمِائَةِ سَنَةٍ." حَتَّى عَدَّ سَبْعَ أَرَضِينَ، بَيْنَ كُلِّ أَرْضَيْنِ مَسِيرَةُ خَمْسِمِائَةِ سَنَةٍ. ثُمَّ قَالَ: "وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّكُمْ دُلِّيتُمْ بِحَبْلٍ إِلَى الْأَرْضِ السُّفْلَى، لَهَبَطْتُمْ عَلَى اللَّهِ."

ثُمَّ قَرَأَ: ﴿هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ﴾ [الحديد: ٣].

قَالَ التِّرْمِذِيُّ: «هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ، وَيُرْوَى عَنْ أَيُّوبَ، وَيُونُسَ بْنِ عُبَيْدٍ، وَعَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ، قَالُوا: لَمْ يَسْمَعِ الْحَسَنُ مِنْ أَبِي هُرَيْرَةَ.

وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ هَذَا الْحَدِيثَ، وَقَالُوا: إِنَّمَا يَهْبِطُ عَلَى عِلْمِ اللَّهِ وَقُدْرَتِهِ وَسُلْطَانِهِ، وَعِلْمُ اللَّهِ وَقُدْرَتُهُ وَسُلْطَانُهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَهُوَ عَلَى الْعَرْشِ كَمَا وُصِفَ فِي كِتَابِهِ.» هَذَا آخِرُ كَلَامِهِ.

“Dengan penjelasan ini hilanglah kerancuan terhadap hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Al-Hasan, dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, bahwa dia berkata:

‘Ketika Nabi sedang duduk bersama para sahabatnya, datanglah awan menaungi mereka. Maka Nabi bersabda: “Tahukah kalian apakah ini?

Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’

Beliau bersabda: ‘Ini adalah awan. Inilah pembawa air bagi bumi yang Allah arahkan kepada suatu kaum yang tidak bersyukur kepada-Nya dan tidak berdoa kepada-Nya.’

Kemudian beliau bersabda: ‘Tahukah kalian apa yang ada di atas kalian?

Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’

Beliau bersabda: ‘Itulah langit, atap yang tinggi lagi terpelihara, dan gelombang yang tertahan.’

Kemudian beliau bersabda: ‘ Tahukah kalian berapa jarak antara kalian dengan langit itu?

Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’

Beliau bersabda: ‘ Jarak antara kalian dan langit itu adalah perjalanan lima ratus tahun.’

Lalu beliau bersabda: ‘Tahukah kalian apa yang berada di atasnya?

Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’

Beliau bersabda: ‘Di atasnya terdapat langit yang lain, dengan jarak antara keduanya perjalanan lima ratus tahun.’

Beliau terus menghitung hingga tujuh langit, dan jarak antara setiap dua langit sama seperti jarak antara langit dan bumi.

Kemudian beliau bersabda: ‘Tahukah kalian apa yang berada di atas itu?

Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’

Beliau bersabda: ’Di atas semuanya terdapat ‘Arsy. Jarak antara ‘Arsy dan langit ketujuh sama seperti jarak antara dua langit.’

Kemudian beliau bersabda: ‘Tahukah kalian apa yang berada di bawah kalian?’

Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’

Beliau bersabda: ‘Itulah bumi.

Lalu beliau bersabda: ‘Tahukah kalian apa yang berada di bawah bumi itu?

Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’

Beliau bersabda: ‘Di bawahnya terdapat bumi yang lain. Jarak antara keduanya adalah perjalanan lima ratus tahun.

Beliau terus menyebutkan hingga tujuh lapis bumi, dan jarak antara setiap dua bumi adalah perjalanan lima ratus tahun.

Kemudian beliau bersabda: ‘Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seandainya kalian menurunkan seutas tali hingga ke bumi yang paling bawah, niscaya kalian akan sampai kepada Allah.’

Kemudian beliau membaca firman Allah:

‘Dialah Yang Maha Awal, Maha Akhir, Maha Tinggi, dan Maha Dekat, serta Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.’ (QS. Al-adīd: 3).”

At-Tirmidzi berkata: “Hadis ini gharib dari jalur ini. Diriwayatkan pula dari Ayyub, Yunus bin ‘Ubaid, dan ‘Ali bin Zaid bahwa mereka mengatakan: Al-Hasan tidak pernah mendengar hadis ini langsung dari Abu Hurairah.”

Sebagian ulama menafsirkan hadis ini dengan mengatakan: “Yang dimaksud ‘sampai kepada Allah’ adalah sampai kepada ilmu Allah, kekuasaan-Nya, dan kerajaan-Nya. Ilmu Allah, kekuasaan-Nya, dan kerajaan-Nya meliputi setiap tempat, sedangkan Allah tetap berada di atas ‘Arsy sebagaimana Dia sifatkan diri-Nya dalam Kitab-Nya.” [Sampai di sinilah ucapan At-Tirmidzi].

Ibnul Qayyim kemudian berkata:

وَقَدِ اخْتَلَفَ النَّاسُ فِي هَذَا الْحَدِيثِ فِي سَنَدِهِ وَمَعْنَاهُ، فَطَائِفَةٌ قَبِلَتْهُ لِأَنَّ إِسْنَادَهُ ثَابِتٌ إِلَى الْحَسَنِ

“Manusia berbeda pendapat mengenai hadis ini, baik dari sisi sanad maupun maknanya. Sebagian ulama menerimanya karena sanadnya sahih sampai kepada Al-Hasan.”

[Lihat: Mukhtaar Ash-awā’iq Al-Mursalah, hlm. 482–484.]

[5]
PERKATAAN SYEIKH ABDURRAHMAN AS-SA’DI

Dalam kitab At-Tanbīhāt Al-Laṭīfah halaman 77, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menyebutkan kewajiban beriman bahwa Allah dekat dengan makhluk-Nya, dan bahwa hal itu tidak bertentangan dengan ketinggian (العُلُوُّ) dan keberadaan-Nya di atas seluruh makhluk (الفَوْقِيَّةُ). Beliau menulis sebuah pembahasan dengan judul:

[فَصْلٌ فِي الْإِيمَانِ بِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَرِيبٌ]

"Fasal tentang Keimanan bahwa Allah Ta'ala Maha Dekat."

Kemudian beliau meyebutkan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berikut ini:

وَقَدْ دَخَلَ فِي ذَلِكَ الْإِيمَانُ بِأَنَّهُ قَرِيبٌ مُجِيبٌ، كَمَا جَمَعَ بَيْنَ ذَلِكَ فِي قَوْلِهِ: ﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ﴾ [سُورَةُ الْبَقَرَةِ: الْآيَةُ ١٨٦].

وَقَوْلُهُ ﷺ: «إِنَّ الَّذِي تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ».

وَمَا ذُكِرَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِنْ قُرْبِهِ وَمَعِيَّتِهِ لَا يُنَافِي مَا ذُكِرَ مِنْ عُلُوِّهِ وَفَوْقِيَّتِهِ، فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي جَمِيعِ نُعُوتِهِ، وَهُوَ عَلِيٌّ فِي دُنُوِّهِ، قَرِيبٌ فِي عُلُوِّهِ.

"Termasuk dalam keimanan kepada Allah adalah meyakini bahwa Dia Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan doa, sebagaimana Allah menggabungkan kedua sifat tersebut dalam firman-Nya:

'Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.' (QS. Al-Baqarah: 186)

Demikian pula sabda Nabi :

'Sesungguhnya Dzat yang kalian seru itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada leher tunggangannya.'

Apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah tentang kedekatan (الْقُرْبُ) dan kebersamaan (المَعِيَّةُ) Allah tidaklah bertentangan dengan apa yang telah disebutkan tentang ketinggian (العُلُوُّ) dan keberadaan-Nya di atas seluruh makhluk (الفَوْقِيَّةُ). Sebab, Dia Subhanahu wa Ta'ala tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya. Dia Mahatinggi dalam kedekatan-Nya dan Maha Dekat dalam ketinggian-Nya."

Lalu Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan perkataan Ibnu Taimiyah diatas dengan penjelasan sbb :

خَصَّصَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللَّهُ هَذَا الْبَحْثَ بِهَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ؛ وَذَلِكَ لِشِدَّةِ الْحَاجَةِ إِلَى الْإِيمَانِ بِقُرْبِهِ وَإِجَابَتِهِ، لِيَكُونَ الْعَبْدُ مُرَاقِبًا لِلَّهِ إِذَا آمَنَ بِقُرْبِهِ إِيمَانًا تَامًّا، وَكَانَ مُنِيبًا إِلَيْهِ عَلَى الدَّوَامِ إِذَا آمَنَ بِإِجَابَتِهِ لِلسَّائِلِينَ وَإِثَابَتِهِ لِلْمُطِيعِينَ.

ثُمَّ ذَكَرَ رَحِمَهُ اللَّهُ الْجَمْعَ بَيْنَ الْإِيمَانِ بِعُلُوِّ اللَّهِ وَقُرْبِهِ وَمَعِيَّتِهِ؛ لِئَلَّا يَظُنَّ الظَّانُّ أَنَّ ذَلِكَ مِثْلُ صِفَاتِ الْمَخْلُوقِينَ، وَأَنَّهُ إِذَا قِيلَ: إِنَّهُ عَلِيٌّ فَوْقَ خَلْقِهِ، كَيْفَ يَكُونُ مَعَهُمْ وَقَرِيبًا مِنْهُمْ؟

فَأَجَابَ بِمَا تَضَمَّنَهُ هَذَا الْأَصْلُ الثَّابِتُ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَإِجْمَاعِ الْأُمَّةِ، وَهُوَ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي جَمِيعِ نُعُوتِهِ، وَمِنْ نُعُوتِهِ اللَّازِمَةِ الْعُلُوُّ الْمُطْلَقُ، وَالْقُرْبُ الْعَامُّ وَالْخَاصُّ، وَأَنَّ الْقُرْبَ وَالْعُلُوَّ فِي حَقِّهِ يَجْتَمِعَانِ لِعَظَمَتِهِ وَكِبْرِيَائِهِ وَإِحَاطَتِهِ مِنْ كُلِّ وَجْهٍ، فَهُوَ الْعَلِيُّ فِي دُنُوِّهِ، الْقَرِيبُ فِي عُلُوِّهِ.

وَهَذَا الْأَصْلُ يَنْفَعُكَ فِي كُلِّ مَا وَرَدَ عَلَيْكَ مِنْ صِفَاتِ اللَّهِ الثَّابِتَةِ، فَأَثْبِتْهَا وَلَا تَتَوَقَّفْ، فَإِنَّ الَّذِي أَثْبَتَهَا هُوَ اللَّهُ الَّذِي هُوَ أَعْلَمُ بِنَفْسِهِ، وَرَسُولُهُ ﷺ الَّذِي هُوَ أَعْلَمُ الْخَلْقِ، وَأَوْرَعُهُمْ، وَأَنْصَحُهُمْ لِلْمَخْلُوقِينَ.

فَإِنْ خَطَرَ بِبَالِكَ تَمْثِيلٌ أَوْ تَشْبِيهٌ، فَتَفَطَّنْ لِقَوْلِهِ: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾.

وَكَذَلِكَ أَيْضًا، فَإِنَّ الْكَلَامَ عَلَى الصِّفَاتِ مِثْلُ الْكَلَامِ عَلَى الذَّاتِ، فَكَمَا أَنَّهُ لَا نَظِيرَ لَهُ وَلَا مَثِيلَ لَهُ فِي ذَاتِهِ، فَكَذَلِكَ لَا مَثِيلَ لَهُ وَلَا نَظِيرَ لَهُ فِي صِفَاتِهِ.

Penulis kitab (al-‘Aqiadah al-Wasithiyyah, Ibnu Taimiyah) rahimahullah mengkhususkan pembahasan ini pada dua perkara tersebut karena besarnya kebutuhan untuk mengimani kedekatan Allah dan pengabulan doa-Nya.

Dengan demikian, seorang hamba akan senantiasa merasa diawasi oleh Allah apabila ia beriman secara sempurna bahwa Allah dekat dengannya. Ia juga akan terus kembali kepada Allah apabila ia beriman bahwa Allah mengabulkan doa orang-orang yang memohon kepada-Nya serta memberikan pahala kepada orang-orang yang taat.

Selanjutnya, beliau menjelaskan cara menggabungkan antara keimanan terhadap ketinggian Allah dengan kedekatan dan kebersamaan-Nya, agar tidak muncul anggapan bahwa sifat-sifat tersebut sama seperti sifat-sifat makhluk. Sebab mungkin ada yang bertanya, "Jika Allah Mahatinggi di atas seluruh makhluk-Nya, bagaimana mungkin Dia juga bersama mereka dan dekat dengan mereka?"

Beliau menjawab dengan kaidah yang telah ditetapkan dalam Al-Qur'an, As-Sunnah, dan menjadi ijma’ umat, yaitu bahwa Allah Ta'ala tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam seluruh sifat-Nya. Di antara sifat-Nya yang tetap adalah ketinggian yang mutlak/ absolut (الْعُلُوُّ الْمُطْلَقُ), serta kedekatan yang bersifat umum (الْقُرْبُ الْعَامُّ) dan khusus (الْخَاصُّ).

Kedekatan dan ketinggian pada hak Allah dapat berkumpul sekaligus karena keagungan, kebesaran, dan keluasan penguasaan-Nya dari segala sisi. Maka Dia Mahatinggi dalam kedekatan-Nya dan Maha Dekat dalam ketinggian-Nya.

Kaidah ini sangat bermanfaat bagimu dalam memahami seluruh sifat Allah yang sahih penetapannya. Tetapkanlah semua sifat tersebut dan jangan ragu, karena yang menetapkannya adalah Allah, Dzat yang paling mengetahui tentang diri-Nya sendiri, serta Rasul-Nya , makhluk yang paling mengetahui tentang Allah, paling bertakwa, dan paling tulus dalam memberi nasihat kepada umat.

Apabila terlintas dalam benakmu anggapan yang menyerupakan Allah dengan makhluk atau membayangkan-Nya seperti makhluk, maka ingatlah firman Allah:

﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya."

Demikian pula, pembahasan tentang sifat-sifat Allah sama seperti pembahasan tentang zat-Nya. Sebagaimana tidak ada sesuatu pun yang sebanding atau menyerupai zat-Nya, demikian pula tidak ada sesuatu pun yang sebanding atau menyerupai sifat-sifat-Nya. [KUTIPAN SELESAI]

[6]
PERKATAAN SYEIKH AL-‘UTSAIMIN

Dalam Syarah Al-'Aqidah Al-Wasithiyyah 2/89, Syekh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah membawakan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sebagai berikut:

«فَصْلٌ: وَقَدْ دَخَلَ فِي ذَلِكَ الْإِيمَانُ بِأَنَّهُ قَرِيبٌ مِنْ خَلْقِهِ مُجِيبٌ».

قَوْلُهُ: «كَمَا جَمَعَ بَيْنَ ذَلِكَ فِي قَوْلِهِ: ﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ﴾ [الْبَقَرَةِ: 186]، وَقَوْلِهِ ﷺ: "إِنَّ الَّذِي تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ".»

«وَمَا ذُكِرَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِنْ قُرْبِهِ وَمَعِيَّتِهِ لَا يُنَافِي مَا ذُكِرَ مِنْ عُلُوِّهِ وَفَوْقِيَّتِهِ؛ فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي جَمِيعِ نُعُوتِهِ، وَهُوَ عَلِيٌّ فِي دُنُوِّهِ، قَرِيبٌ فِي عُلُوِّهِ».

"Pasal: Termasuk dalam hal itu adalah beriman bahwa Allah dekat dengan makhluk-Nya lagi Maha Mengabulkan."

Beliau (Ibnu Taimiyah) berkata: "Sebagaimana Allah menggabungkan antara keduanya dalam firman-Nya: 'Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.' (QS. Al-Baqarah: 186),

Dan sabda Nabi : 'Sesungguhnya Zat yang kalian seru itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada leher tunggangannya.'

Apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah tentang kedekatan (الْقُرْبُ) dan kebersamaan (المَعِيَّةُ)-Nya tidak bertentangan dengan apa yang disebutkan tentang ketinggian (العُلُوُّ) dan keberadaan-Nya di atas (الفَوْقِيَّةُ). Sebab, Dia Mahasuci, tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya. Dia Mahatinggi dalam kedekatan-Nya dan Maha Dekat dalam ketinggian-Nya."

Kemudian Syekh Ibnu 'Utsaimin menjelaskan perkataan tersebut sebagai berikut:

فَصْلٌ فِي قُرْبِ اللَّهِ تَعَالَى وَإِجَابَتِهِ، وَأَنَّ ذَلِكَ لَا يُنَافِي عُلُوَّهُ وَفَوْقِيَّتَهُ.

قَوْلُهُ: «وَقَدْ دَخَلَ فِي ذَلِكَ»؛ يَعْنِي: فِيمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ.

«الْإِيمَانُ بِأَنَّهُ قَرِيبٌ مِنْ خَلْقِهِ مُجِيبٌ»؛ الْإِيمَانُ بِأَنَّهُ قَرِيبٌ فِي نَفْسِهِ، وَمُجِيبٌ؛ يَعْنِي: لِعِبَادِهِ.

وَدَلِيلُ ذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ﴾ [الْبَقَرَةِ: 186].

فِي هَذِهِ الْآيَةِ سِتَّةُ ضَمَائِرَ تَعُودُ عَلَى اللَّهِ، وَعَلَى هَذَا؛ فَيَكُونُ الْقُرْبُ قُرْبَهُ عَزَّ وَجَلَّ، وَلَكِنْ نَقُولُ فِي «قَرِيبٌ» كَمَا قُلْنَا فِي الْمَعِيَّةِ؛ إِنَّهُ لَا يَسْتَلْزِمُ أَنْ يَكُونَ فِي الْمَكَانِ الَّذِي فِيهِ الْإِنْسَانُ.

وَإِذَا كَانَ الرَّسُولُ ﷺ يَقُولُ: «إِنَّهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ»، فَلَا يَلْزَمُ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ نَفْسُهُ فِي الْأَرْضِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ.

وَإِذَا كَانَ قَوْلُ الرَّسُولِ ﷺ: «فَإِنَّ اللَّهَ قِبَلَ وَجْهِ الْمُصَلِّي»، فَلَا يَسْتَلْزِمُ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجِدَارِ، إِنْ كَانَ يُصَلِّي إِلَى الْجِدَارِ، وَلَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْأَرْضِ، إِنْ كَانَ يَنْظُرُ إِلَى الْأَرْضِ.

فَكَذَلِكَ لَا يَلْزَمُ مِنْ قُرْبِهِ أَنْ يَكُونَ فِي الْأَرْضِ؛ لِأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي جَمِيعِ صِفَاتِهِ، وَهُوَ مُحِيطٌ بِكُلِّ شَيْءٍ.

وَاعْلَمْ أَنَّ مِنَ الْعُلَمَاءِ مَنْ قَسَّمَ قُرْبَ اللَّهِ تَعَالَى إِلَى قِسْمَيْنِ؛ كَالْمَعِيَّةِ، وَقَالَ: الْقُرْبُ الَّذِي مُقْتَضَاهُ الْإِحَاطَةُ قُرْبٌ عَامٌّ، وَالْقُرْبُ الَّذِي مُقْتَضَاهُ الْإِجَابَةُ وَالْإِثَابَةُ قُرْبٌ خَاصٌّ.

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ: إِنَّ الْقُرْبَ خَاصٌّ فَقَطْ؛ مُقْتَضٍ لِإِجَابَةِ الدَّاعِي وَإِثَابَةِ الْعَابِدِ، وَلَا يَنْقَسِمُ.

وَيَسْتَدِلُّ هَؤُلَاءِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ﴾ [الْبَقَرَةِ: 186]، وَبِقَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ: «أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ»، وَأَنَّهُ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ تَعَالَى قَرِيبًا مِنَ الْفَجَرَةِ الْكَفَرَةِ.

وَهَذَا اخْتِيَارُ شَيْخِ الْإِسْلَامِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ، وَتِلْمِيذِهِ ابْنِ الْقَيِّمِ، رَحِمَهُمَا اللَّهُ تَعَالَى.

Pasal: tentang Kedekatan Allah Ta'ala dan Pengabulan-Nya, serta bahwa hal itu tidak bertentangan dengan ketinggian dan keberadaan-Nya di atas.

Perkataan beliau (Ibnu Taimiya): "Dan termasuk dalam hal itu (beriman kepada Allah)."

Maksudnya, termasuk dalam apa yang Allah sifatkan bagi diri-Nya sendiri adalah:

"Beriman bahwa Dia maha dekat dengan makhluk-Nya lagi Maha Mengabulkan."

Yaitu beriman bahwa Allah benar-benar maha dekat, dan Maha Mengabulkan doa hamba-hamba-Nya.

Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala:

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah: 186)

Dalam ayat ini terdapat enam dhamir (kata ganti) yang semuanya kembali kepada Allah. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan "dekat" adalah kedekatan Allah 'Azza wa Jalla sendiri. Namun, tentang kata "dekat" ini kita katakan sebagaimana yang telah kita katakan mengenai (المَعِيَّةُ) (kebersamaan), yaitu bahwa kedekatan tersebut tidak mengharuskan Allah berada di tempat yang ditempati manusia.

Ketika Rasulullah bersabda:"Sesungguhnya Dia lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada leher tunggangannya," tidak berarti Allah 'Azza wa Jalla berada di bumi, di antara orang tersebut dengan leher tunggangannya.

Demikian pula ketika Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya Allah berada di hadapan wajah orang yang sedang shalat," maka hal itu tidak mengharuskan bahwa Allah berada di antara orang yang shalat dengan dinding apabila ia shalat menghadap dinding, atau berada di antara dirinya dengan tanah apabila ia memandang ke arah tanah.

Demikian pula, kedekatan Allah tidak mengharuskan bahwa Dia berada di bumi, karena Allah tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya, dan Dia meliputi segala sesuatu.

Ketahuilah bahwa di antara para ulama ada yang membagi kedekatan Allah Ta'ala menjadi dua macam, sebagaimana pembagian terhadap (المَعِيَّةُ). Mereka mengatakan:

[*] Kedekatan umum, yaitu kedekatan yang konsekuensinya adalah meliputi segala sesuatu.

[*] Kedekatan khusus, yaitu kedekatan yang konsekuensinya adalah mengabulkan doa dan memberikan pahala.

Sementara itu, ada pula ulama yang berpendapat bahwa kedekatan Allah hanya bersifat khusus, yaitu kedekatan yang mengandung makna mengabulkan doa orang yang berdoa dan memberi pahala kepada orang yang beribadah, sehingga tidak terbagi menjadi dua.

Mereka berdalil dengan firman Allah Ta'ala:

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah: 186),

Dan dengan sabda Nabi : "Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang sujud."

Mereka juga berpendapat bahwa tidak mungkin Allah Ta'ala dikatakan dekat dengan orang-orang kafir yang durhaka.

Inilah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan murid beliau, Ibnul Qayyim rahimahumallah.

Lalu Syeikh Ibnu Utsaimin melanjutkan penejelasannya :

[*] وَلَكِنْ أُورِدَ عَلَى هَذَا الْقَوْلِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ﴾ [ق: 16].

فَالْمُرَادُ بِـ «الْإِنْسَانِ»: كُلُّ إِنْسَانٍ، وَلِهَذَا قَالَ فِي آخِرِ الْآيَةِ: ﴿لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ...﴾ إِلَى أَنْ قَالَ: ﴿أَلْقِيَا فِي جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيدٍ﴾ [ق: 22-24]. فَهُوَ شَامِلٌ.

[*] وَأُورِدَ عَلَيْهِ أَيْضًا قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿فَلَوْلَا إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ ۝ وَأَنْتُمْ حِينَئِذٍ تَنْظُرُونَ ۝ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَكِنْ لَا تُبْصِرُونَ﴾ [الْوَاقِعَةِ: 83-85].

ثُمَّ قَسَّمَ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ بَلَغَتْ أَرْوَاحُهُمُ الْحُلْقُومَ إِلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ، وَمِنْهُمُ الْكَافِرُ.

[*] وَأُجِيبَ عَنْ ذَلِكَ بِأَنَّ قَوْلَهُ تَعَالَى: ﴿وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ﴾ [ق: 16] يَعْنِي: بِمَلَائِكَتِنَا.

وَاسْتُدِلَّ لِذَلِكَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ﴾ [ق: 17].

فَإِنَّ «إِذْ» ظَرْفٌ مُتَعَلِّقٌ بِقَوْلِهِ: «أَقْرَبُ»، أَيْ: وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ حِينَ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ، وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِقُرْبِهِ تَعَالَى: قُرْبُ مَلَائِكَتِهِ.

وَكَذَلِكَ قَوْلُهُ فِي الْمُحْتَضِرِ: ﴿وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ﴾، فَالْمُرَادُ: قُرْبُ الْمَلَائِكَةِ. وَلِهَذَا قَالَ: ﴿وَلَكِنْ لَا تُبْصِرُونَ﴾ [الْوَاقِعَةِ: 85].

وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ هَذَا الْقَرِيبَ مَوْجُودٌ عِنْدَنَا، لَكِنْ لَا نُبْصِرُهُ، وَهَذَا يَمْتَنِعُ غَايَةَ الِامْتِنَاعِ أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ بِهِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ؛ لِأَنَّ اللَّهَ فِي السَّمَاءِ.

وَمَا ذَهَبَ إِلَيْهِ شَيْخُ الْإِسْلَامِ فَهُوَ عِنْدِي أَقْرَبُ، وَلَكِنَّهُ لَيْسَ فِي الْقُرْبِ بِذَاكَ.

قَوْلُهُ: «كَمَا جَمَعَ بَيْنَ ذَلِكَ». الْمُشَارُ إِلَيْهِ: قُرْبُ الْإِجَابَةِ.

وَقَوْلُهُ: «نُعُوتِهِ». أَيْ: صِفَاتِهِ.

فَهُوَ عَلِيٌّ مَعَ أَنَّهُ دَانٍ، وَقَرِيبٌ مَعَ أَنَّهُ عَالٍ، وَلَا تَنَاقُضَ فِي ذَلِكَ، وَقَدْ سَبَقَ بَيَانُ ذَلِكَ قَرِيبًا فِي الْكَلَامِ عَلَى الْمَعِيَّةِ.

KRITIKAN:

[*] Akan tetapi, terhadap pendapat ini diajukan firman Allah Ta'ala:

"Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (QS. Qaf: 16)

Yang dimaksud dengan "manusia" dalam ayat ini adalah setiap manusia. Hal ini ditegaskan oleh kelanjutan ayat-ayat tersebut hingga firman-Nya:

"Sungguh, engkau dahulu berada dalam kelalaian terhadap hal ini, lalu Kami singkapkan penutup yang menutupi penglihatanmu, maka pada hari ini penglihatanmu menjadi sangat tajam..."

sampai firman-Nya:

"Lemparkanlah ke dalam Jahannam setiap orang yang sangat kafir lagi sangat membangkang." (QS. Qaf: 22–24)

Dengan demikian, ayat tersebut mencakup seluruh manusia.

[*] Demikian pula diajukan firman Allah Ta'ala:

"Maka mengapa ketika nyawa telah sampai di kerongkongan, sedangkan kamu pada waktu itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat." (QS. Al-Waqi'ah: 83–85)

Kemudian Allah membagi orang-orang yang telah sampai ruhnya di kerongkongan menjadi tiga golongan, dan di antara mereka terdapat orang kafir.

[*] JAWABAN ATAS KRITIKAN:

Jawaban atas hal itu adalah bahwa firman Allah: "Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya" maksudnya adalah: dengan para malaikat Kami.

Hal ini dikuatkan oleh firman-Nya: "Ketika dua malaikat pencatat menerima dan mencatat..." (QS. Qaf: 17)

Karena kata "ketika" (إِذْ) merupakan keterangan waktu yang berkaitan dengan firman-Nya "lebih dekat", sehingga maknanya adalah:

"Kami lebih dekat kepadanya ketika dua malaikat pencatat itu menerima (amal-amalnya)."

Ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan kedekatan tersebut adalah kedekatan para malaikat Allah.

Demikian pula firman-Nya tentang orang yang sedang menghadapi sakaratul maut:

"Dan Kami lebih dekat kepadanya..."  yang dimaksud adalah kedekatan para malaikat.

Oleh karena itu Allah berfirman:

"Tetapi kamu tidak melihat." (QS. Al-Waqi'ah: 85)

Hal ini menunjukkan bahwa yang dekat itu benar-benar berada di sekitar kita, tetapi kita tidak dapat melihatnya. Karena itu, sangat mustahil jika yang dimaksud dengan "yang dekat" dalam ayat tersebut adalah Allah 'Azza wa Jalla, sebab Allah berada di atas langit.

Adapun pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, menurut saya itulah yang lebih kuat, namun pembahasan ayat-ayat tersebut bukanlah mengenai sifat kedekatan (الْقُرْبُ) Allah secara langsung.

Perkataan beliau (Ibnu Taimiyah): "Sebagaimana Allah menggabungkan antara keduanya..."

Yang dimaksud dengan "keduanya" adalah kedekatan yang berkaitan dengan pengabulan doa.

Perkataan beliau (Ibnu Taimiyah): "Sifat-sifat-Nya (نُعُوتِهِ)."

Maksudnya adalah sifat-sifat-Nya. Allah Mahatinggi meskipun Dia dekat, dan Dia Maha Dekat meskipun Dia Mahatinggi. Tidak ada pertentangan antara keduanya. Penjelasan mengenai hal ini telah dijelaskan sebelumnya ketika membahas sifat (المَعِيَّةُ) (kebersamaan Allah). [SELESAI]

[7]
PERKATAAN SYEIKH SHOLEH FAUZAN AL-FAUZAN

Dalam kitab Syarh Al-'Aqidah Al-Wasithiyyah, Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan mengutip perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:

قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ: وَقَدْ دَخَلَ فِي ذَلِكَ الْإِيمَانُ بِأَنَّهُ قَرِيبٌ مُجِيبٌ؛ كَمَا جَمَعَ بَيْنَ ذَلِكَ فِي قَوْلِهِ: ﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ...﴾ الْآيَةُ، وَقَوْلِهِ ﷺ: «إِنَّ الَّذِي تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ».

وَمَا ذُكِرَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِنْ قُرْبِهِ وَمَعِيَّتِهِ لَا يُنَافِي مَا ذُكِرَ مِنْ عُلُوِّهِ وَفَوْقِيَّتِهِ؛ فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي جَمِيعِ نُعُوتِهِ، وَهُوَ عَلِيٌّ فِي دُنُوِّهِ، قَرِيبٌ فِي عُلُوِّهِ.

Beliau rahimahullah berkata: "Termasuk dalam keimanan kepada Allah adalah beriman bahwa Dia Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan doa, sebagaimana Allah menggabungkan kedua sifat tersebut dalam firman-Nya:

'Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku Maha Dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku…' (QS. Al-Baqarah: 186),

dan juga dalam sabda Nabi :

'Sesungguhnya Dzat yang kalian seru itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada leher tunggangannya.'

Apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah mengenai ke-mahadekatan (الْقُرْبُ) dan kebersamaan (المَعِيَّةُ) Allah tidak bertentangan dengan apa yang disebutkan mengenai ketinggian (العُلُوُّ) dan keberadaan-Nya di atas (fauqiyyah). Sebab, Mahasuci Allah, tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam seluruh sifat-Nya. Dia Mahatinggi dalam kedekatan-Nya dan Maha Dekat dalam ketinggian-Nya."

Kemudian Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan perkataan tersebut sebagai berikut:

لَمَّا قَرَّرَ الْمُصَنِّفُ وُجُوبَ الْإِيمَانِ بِعُلُوِّ اللَّهِ سُبْحَانَهُ عَلَى خَلْقِهِ، وَاسْتِوَائِهِ عَلَى عَرْشِهِ، نَبَّهَ فِي هَذَا الْفَصْلِ إِلَى أَنَّهُ يَجِبُ مَعَ ذَلِكَ الْإِيمَانُ بِأَنَّهُ قَرِيبٌ مِنْ خَلْقِهِ.

وَقَوْلُهُ: (وَقَدْ دَخَلَ فِي ذَلِكَ) أَيْ: فِي الْإِيمَانِ بِاللَّهِ، (الْإِيمَانُ بِأَنَّهُ قَرِيبٌ) أَيْ: مِنْ خَلْقِهِ، (مُجِيبٌ) لِدُعَائِهِمْ، (كَمَا جَمَعَ بَيْنَ ذَلِكَ) أَيْ: بَيْنَ الْقُرْبِ وَالْإِجَابَةِ فِي قَوْلِهِ: ﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي﴾.

وَرَدَ فِي سَبَبِ نُزُولِ هَذِهِ الْآيَةِ أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَقَرِيبٌ رَبُّنَا فَنُنَاجِيهِ، أَمْ بَعِيدٌ فَنُنَادِيهِ؟ فَسَكَتَ النَّبِيُّ ﷺ، فَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ: ﴿فَإِنِّي قَرِيبٌ﴾ مِنَ الدَّاعِي، ﴿أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ﴾.

وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى الْإِرْشَادِ إِلَى الْمُنَاجَاةِ فِي الدُّعَاءِ بِدُونِ رَفْعِ صَوْتٍ، كَمَا فِي قَوْلِهِ ﷺ: «إِنَّ الَّذِي تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ»، سَبَقَ شَرْحُهُ.

وَفِي هَذِهِ الْآيَةِ وَهَذَا الْحَدِيثِ دَلَالَةٌ عَلَى قُرْبِ اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدَّاعِي بِإِجَابَتِهِ، وَهَذَا الْقُرْبُ لَا يُنَاقِضُ عُلُوَّهُ؛ وَلِهَذَا قَالَ الْمُصَنِّفُ: (وَمَا ذُكِرَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِنْ قُرْبِهِ وَمَعِيَّتِهِ لَا يُنَافِي مَا ذُكِرَ مِنْ عُلُوِّهِ وَفَوْقِيَّتِهِ)، لِأَنَّ الْكُلَّ حَقٌّ، وَالْحَقُّ لَا يَتَنَاقَضُ؛ وَلِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾ فِي جَمِيعِ نُعُوتِهِ، أَيْ: صِفَاتِهِ.

فَلَا يُقَالُ: إِذَا كَانَ فَوْقَ خَلْقِهِ فَكَيْفَ يَكُونُ مَعَهُمْ؛ لِأَنَّ هَذَا السُّؤَالَ نَاشِئٌ عَنْ تَصَوُّرٍ خَاطِئٍ، هُوَ قِيَاسُهُ سُبْحَانَهُ بِخَلْقِهِ، وَهَذَا قِيَاسٌ بَاطِلٌ؛ لِأَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾.

فَالْقُرْبُ وَالْعُلُوُّ يَجْتَمِعَانِ فِي حَقِّهِ؛ لِعَظَمَتِهِ وَكِبْرِيَائِهِ وَإِحَاطَتِهِ، وَأَنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ فِي يَدِهِ كَخَرْدَلَةٍ فِي يَدِ الْعَبْدِ، فَكَيْفَ يَسْتَحِيلُ فِي حَقِّ مَنْ هَذَا بَعْضُ عَظَمَتِهِ أَنْ يَكُونَ فَوْقَ عَرْشِهِ وَيَقْرُبَ مِنْ خَلْقِهِ كَيْفَ يَشَاءُ، وَهُوَ عَلَى الْعَرْشِ؟

(وَهُوَ عَلِيٌّ فِي دُنُوِّهِ، قَرِيبٌ فِي عُلُوِّهِ) سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، كَمَا دَلَّتْ عَلَى ذَلِكَ نُصُوصُ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، وَأَجْمَعَ عَلَيْهِ عُلَمَاءُ الْمِلَّةِ، وَهُوَ مِنْ خَصَائِصِهِ سُبْحَانَهُ.

(عَلِيٌّ فِي دُنُوِّهِ) أَيْ: فِي حَالِ قُرْبِهِ مِنْ خَلْقِهِ.

(قَرِيبٌ فِي عُلُوِّهِ) أَيْ: قَرِيبٌ مِنْ خَلْقِهِ فِي حَالِ عُلُوِّهِ عَلَى عَرْشِهِ.

"Setelah penulis (Ibnu Taimiyah) menetapkan wajibnya beriman kepada ketinggian Allah Subhanahu wa Ta'ala di atas seluruh makhluk-Nya dan istiwa' Allah di atas Arsy-Nya, pada pembahasan ini beliau mengingatkan bahwa bersamaan dengan itu juga wajib beriman bahwa Allah Maha dekat dengan makhluk-Nya.

Ucapan beliau (Ibnu Taimiyah), 'Dan termasuk dalam hal itu...' maksudnya: termasuk dalam keimanan kepada Allah adalah beriman bahwa Allah Maha dekat dengan makhluk-Nya, dan bahwa Dia Maha Mengabulkan doa mereka.

Perkataan beliau (Ibnu Taimiyah), 'Sebagaimana Allah menggabungkan kedua hal tersebut,' yakni antara sifat dekat dan mengabulkan doa, dalam firman-Nya:

'Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku...'

Disebutkan dalam sebab turunnya ayat ini bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Nabi lalu berkata: 'Wahai Rasulullah, apakah Rabb kami dekat sehingga kami bermunajat kepada-Nya, ataukah jauh sehingga kami harus memanggil-Nya dengan suara keras?'

Nabi pun terdiam, lalu turunlah ayat ini:

'Maka sesungguhnya Aku Maha Dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.'

Ayat ini menunjukkan tuntunan agar seseorang bermunajat kepada Allah ketika berdoa tanpa mengeraskan suara, sebagaimana sabda Nabi :

'Sesungguhnya Dzat yang kalian seru itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada leher tunggangannya.'

Penjelasan hadis ini telah disebutkan sebelumnya.

Dalam ayat dan hadis tersebut terdapat dalil bahwa Allah Ta'ala Maha dekat dengan orang yang berdoa melalui pengabulan doa-Nya. Kedekatan ini tidak bertentangan dengan ketinggian Allah. Oleh karena itu penulis (Ibnu Taimiyah) berkata:

'Apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah tentang kedekatan dan kebersamaan Allah tidak bertentangan dengan apa yang disebutkan tentang ketinggian dan keberadaan-Nya di atas.'

Karena semuanya adalah kebenaran, sedangkan kebenaran tidak mungkin saling bertentangan.

Selain itu, Allah Ta'ala 'tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam seluruh sifat-Nya,' yakni dalam semua sifat-Nya. Oleh sebab itu tidak boleh dikatakan:

'Jika Allah berada di atas seluruh makhluk-Nya, bagaimana mungkin Dia juga bersama mereka?'

Pertanyaan seperti ini muncul dari anggapan yang keliru, yaitu menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Qiyas seperti ini adalah qiyas yang batil, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

'Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.'

Maka sifat dekat (الْقُرْبُ) dan sifat tinggi (العُلُوُّ) berhimpun pada diri Allah karena keagungan, kebesaran, dan keluasan kekuasaan-Nya. Langit yang tujuh saja berada dalam genggaman-Nya bagaikan sebutir biji sawi di tangan seorang hamba.

Bagaimana mungkin dianggap mustahil bagi Dzat yang demikian agung untuk berada di atas Arsy-Nya, namun pada saat yang sama dekat dengan makhluk-Nya sesuai dengan kehendak-Nya, sementara Dia tetap berada di atas Arsy?

Karena itu beliau (Ibnu Taimiyah) berkata: 'Dia Mahatinggi dalam kedekatan-Nya dan Maha Dekat dalam ketinggian-Nya.'

Mahasuci dan Mahatinggi Allah. Hal ini telah ditunjukkan oleh nash-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah, serta telah menjadi ijmak para ulama umat ini. Ini termasuk kekhususan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Makna 'Mahatinggi dalam kedekatan-Nya' ialah bahwa ketika Allah Mahadekat dengan makhluk-Nya, Dia tetap Mahatinggi.

Sedangkan makna 'Maha Dekat dalam ketinggian-Nya' ialah bahwa ketika Allah berada di atas Arsy-Nya dalam ketinggian-Nya, Dia tetap Mahadekat dengan makhluk-Nya." [SELESAI]

[9]
PERKATAAN SYEIKH MUHAMMAD KHOLIL HARAAS

Dalam kitab Syarh Al-'Aqidah Al-Wasithiyyah karya Syaikh Muhammad Khalil Harras, beliau mengutip perkataan Ibnu Taimiyah:

(فَصْلٌ: وَقَدْ دَخَلَ فِي ذَلِكَ الْإِيمَانُ بِأَنَّهُ قَرِيبٌ [مِنْ خَلْقِهِ] مُجِيبٌ؛ كَمَا جَمَعَ بَيْنَ ذَلِكَ فِي قَوْلِهِ: ﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ...﴾ الْآيَةَ، وَقَوْلِهِ ﷺ: «إِنَّ الَّذِي تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ».

وَمَا ذُكِرَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِنْ قُرْبِهِ وَمَعِيَّتِهِ لَا يُنَافِي مَا ذُكِرَ مِنْ عُلُوِّهِ وَفَوْقِيَّتِهِ؛ فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي جَمِيعِ نُعُوتِهِ، وَهُوَ عَلِيٌّ فِي دُنُوِّهِ، قَرِيبٌ فِي عُلُوِّهِ).

"Bab: Termasuk dalam keimanan kepada Allah adalah beriman bahwa Dia maha dekat dengan makhluk-Nya lagi Maha Mengabulkan doa, sebagaimana Allah menggabungkan kedua sifat tersebut dalam firman-Nya:

'Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku Maha Dekat…' (QS. Al-Baqarah: 186).

Demikian pula sabda Nabi : 'Sesungguhnya Dzat yang kalian seru itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada leher tunggangannya.'

Apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah tentang kedekatan (الْقُرْبُ) dan kebersamaan (المَعِيَّةُ) Allah tidak bertentangan dengan apa yang disebutkan tentang ketinggian (العُلُوُّ) dan keberadaan-Nya di atas (fauqiyyah). Sebab, Mahasuci Allah, tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam seluruh sifat-Nya. Dia Mahatinggi dalam kedekatan-Nya dan Maha Dekat dalam ketinggian-Nya."

Kemudian Syaikh Muhammad Khalil Harras menjelaskan perkataan Ibnu Taimiyah tersebut:

(٦٠) قَوْلُهُ: (وَقَدْ دَخَلَ فِي ذَلِكَ الْإِيمَانُ...) إِلَخ.

يَجِبُ الْإِيمَانُ بِمَا وَصَفَ اللَّهُ بِهِ نَفْسَهُ مِنْ أَنَّهُ قَرِيبٌ مُجِيبٌ، فَهُوَ سُبْحَانَهُ قَرِيبٌ مِمَّنْ يَدْعُوهُ وَيُنَاجِيهِ، يَسْمَعُ دُعَاءَهُ وَنَجْوَاهُ، وَيُجِيبُ دُعَاءَهُ مَتَى شَاءَ وَكَيْفَ شَاءَ، فَهُوَ تَعَالَى قَرِيبٌ قُرْبَ الْعِلْمِ وَالْإِحَاطَةِ؛ كَمَا قَالَ تَعَالَى:

﴿وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ﴾.

وَبِهَذَا يَتَبَيَّنُ أَنَّهُ لَا مُنَافَاةَ أَصْلًا بَيْنَ مَا ذُكِرَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِنْ قُرْبِهِ تَعَالَى وَمَعِيَّتِهِ، وَبَيْنَ مَا فِيهِمَا مِنْ عُلُوِّهِ تَعَالَى وَفَوْقِيَّتِهِ.

فَهَذِهِ كُلُّهَا نُعُوتٌ لَهُ عَلَى مَا يَلِيقُ بِهِ سُبْحَانَهُ، لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي شَيْءٍ مِنْهَا.

"(60) Perkataan beliau: 'Termasuk dalam hal itu adalah beriman…' dan seterusnya.

Wajib beriman kepada apa yang Allah sifatkan bagi diri-Nya, yaitu bahwa Dia Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan doa. Allah Subhanahu wa Ta'ala dekat dengan orang yang berdoa dan bermunajat kepada-Nya. Dia mendengar doa dan bisikan munajatnya, serta mengabulkan doanya kapan saja dan dengan cara yang Dia kehendaki.

Allah Ta'ala dekat dengan kedekatan ilmu dan liputan-Nya, sebagaimana firman-Nya:

'Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.' (QS. Qaf: 16).

Dengan penjelasan ini menjadi jelas bahwa sama sekali tidak ada pertentangan antara apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah tentang kedekatan (الْقُرْبُ) dan kebersamaan (المَعِيَّةُ) Allah, dengan apa yang disebutkan di dalam keduanya tentang ketinggian (العُلُوُّ) dan keberadaan Allah di atas (fauqiyyah).

Semua itu merupakan sifat-sifat Allah yang sesuai dengan keagungan-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam satu pun dari sifat-sifat tersebut." [SELESAI]

[9]
PERKATAAN SYEIKH SHOLEH BIN ABDUL AZIZ AALU ASY-ASYEIKH

Dalam Syar Al-'Aqīdah Al-Wāsiṭhiyyah, Syaikh Ṣhāli bin 'Abdul 'Azīz Ālu Asy-Syaikh berkata:

وُجُوبُ الإِيمَانِ بِقُرْبِ اللَّهِ مِنْ خَلْقِهِ، وَأَنَّ ذَلِكَ لَا يُنَافِي عُلُوَّهُ وَفَوْقِيَّتَهُ.

فَهَذَا الْكَلَامُ الَّذِي سَمِعْتَ فِي هَذَا الْفَصْلِ هُوَ كَالتَّفْصِيلِ لِمَا ذُكِرَ مِنْ قَبْلُ، وَذَلِكَ أَنَّ الإِيمَانَ بِعُلُوِّ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا، وَأَنَّهُ عَالٍ عَلَى خَلْقِهِ بِذَاتِهِ، وَأَنَّهُ مُسْتَوٍ عَلَى عَرْشِهِ، قَدْ عُورِضَ بِقُرْبِهِ جَلَّ وَعَلَا الَّذِي وَرَدَ فِي النُّصُوصِ، وَبِبُطُونِهِ جَلَّ وَعَلَا، وَبِمَعِيَّتِهِ جَلَّ وَعَلَا لِخَلْقِهِ.

فَذَكَرَ فِي الْفَصْلِ الَّذِي مَضَى مَا يَتَّصِلُ بِالْمَعِيَّةِ، وَأَنَّ مَعِيَّةَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَا تُنَافِي عُلُوَّهُ، فَهُوَ عَالٍ جَلَّ وَعَلَا عَلَى خَلْقِهِ بِذَاتِهِ، مَعَ أَنَّهُ مَعَهُمْ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي كُلِّ حَالٍ: الْمَعِيَّةُ الْعَامَّةُ، وَمَعَ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ الْمَعِيَّةُ الْخَاصَّةُ.

وَهَذَا الْفَصْلُ فِيهِ ذِكْرٌ لِصِفَةِ الْقُرْبِ لِلَّهِ جَلَّ وَعَلَا.

وَقَالَ: «وَقَدْ دَخَلَ فِي ذَلِكَ الإِيمَانُ بِأَنَّهُ قَرِيبٌ مِنْ خَلْقِهِ مُجِيبٌ».

وَقَوْلُهُ: «وَقَدْ دَخَلَ فِي ذَلِكَ» يَعْنِي: فِي الإِيمَانِ بِاللَّهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَبِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ.

دَخَلَ فِي أَرْكَانِ الإِيمَانِ الإِيمَانُ بِهَذِهِ الصِّفَةِ، وَأَنَّهُ جَلَّ وَعَلَا «قَرِيبٌ مِنْ خَلْقِهِ مُجِيبٌ» سُبْحَانَهُ.

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ، فَإِنَّ مَا دَخَلَ فِي الإِيمَانِ بِنَصِّ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ لَا يُنَاقِضُ مَا دَخَلَ فِيهِ بِنَصِّ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ؛ لِأَنَّ الْحَقَّ لَا يُنَاقِضُ الْحَقَّ، وَإِنَّمَا يُنَاقِضُ الْحَقَّ الْبَاطِلُ، وَأَنَّ مَا كَانَ مَوْرِدُهُ وَاحِدًا، وَهُوَ الدَّلِيلُ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، فَإِنَّ الْجَمِيعَ حَقٌّ، وَالْحَقُّ يُؤَيِّدُ الْحَقَّ، وَلَا يُعَارِضُهُ وَلَا يُنَاقِضُهُ، بَلِ الْكُلُّ حَقٌّ، وَخَارِجٌ مَخْرَجًا وَاحِدًا فِي الدَّلَالَةِ عَلَى مَا يَجِبُ اعْتِقَادُهُ.

وَمِمَّا جَاءَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِنَ الْحَقِّ أَنَّ اللَّهَ جَلَّ وَعَلَا عَالٍ عَلَى عَرْشِهِ، مُسْتَوٍ عَلَيْهِ، وَأَنَّهُ عَالٍ عَلَى خَلْقِهِ بِذَاتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

وَأَتَى أَيْضًا فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ أَنَّ اللَّهَ جَلَّ وَعَلَا قَرِيبٌ، قَالَ سُبْحَانَهُ: ﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ...﴾، وَقَالَ جَلَّ وَعَلَا: ﴿هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ﴾، وَقَالَ جَلَّ وَعَلَا: ﴿وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ﴾، وَنَحْوُ ذَلِكَ مِنَ الْآيَاتِ الَّتِي فِيهَا أَنَّ اللَّهَ جَلَّ جَلَالُهُ قَرِيبٌ مِنْ عِبَادِهِ، وَأَنَّهُ عَالٍ عَلَى عَرْشِهِ سُبْحَانَهُ.

فَهَذَا الْكُلُّ، هَذِهِ الطَّائِفَةُ مِنَ الْآيَاتِ، وَالطَّائِفَةُ الْأُخْرَى الَّتِي فِيهَا إِثْبَاتُ صِفَةِ الْعُلُوِّ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، كُلُّهَا تُوَافِقُ بَعْضُهَا بَعْضًا، وَلِهَذَا قَالَ شَيْخُ الإِسْلَامِ: «وَمَا ذُكِرَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِنْ قُرْبِهِ وَمَعِيَّتِهِ لَا يُنَافِي مَا ذُكِرَ مِنْ عُلُوِّهِ وَفَوْقِيَّتِهِ»؛ لِأَنَّ الْكُلَّ جَاءَ مِنَ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا، وَإِنَّمَا قَدْ يَتَصَوَّرُ بَعْضُ الْخَلْقِ، لِمَا فِي أَذْهَانِهِمْ مِنَ التَّصَوُّرَاتِ السَّقِيمَةِ، أَنَّ هَذَا يُنَاقِضُ هَذَا، وَهَذَا بَاطِلٌ.

وَسَبَبُ هَذَا التَّصَوُّرِ أَنَّهُمْ جَعَلُوا الرَّبَّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي نُعُوتِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَحْوَالِهِ أَنَّهُ جَلَّ وَعَلَا مُمَثَّلٌ بِخَلْقِهِ، وَلَمَّا لَمْ يَكُنْ مُمْكِنًا فِيمَا شَاهَدُوهُ مِنَ الْخَلْقِ أَنْ يَكُونَ الْمَخْلُوقُ قَرِيبًا عَالِيًا فِي نَفْسِ الْوَقْتِ، قَالُوا: اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا لَا يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ قَرِيبًا وَعَالِيًا فِي نَفْسِ الْوَقْتِ، وَاللَّهُ جَلَّ جَلَالُهُ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ.

فَالَّذِينَ جَعَلُوا الْمُنَافَاةَ بَيْنَ قُرْبِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَمَعِيَّتِهِ، وَبَيْنَ عُلُوِّهِ، عُلُوِّ الذَّاتِ، وَاسْتِوَائِهِ عَلَى عَرْشِهِ، هُمْ مُشَبِّهَةٌ؛ لِأَنَّهُمْ مَا نَفَوْا ذَلِكَ، وَلَا جَعَلُوا هَذَا يُعَارِضُ ذَاكَ وَهَذَا يُنَافِي ذَاكَ، إِلَّا مِنْ جِهَةِ أَنَّهُمْ مَثَّلُوا وَشَبَّهُوا، فَجَعَلُوا اللَّهَ فِي صِفَاتِهِ مُمَثَّلًا بِخَلْقِهِ، مُشَبَّهًا بِهِمْ، وَلَمَّا جَعَلُوهُ كَذَلِكَ لَزِمَ التَّنَاقُضُ، وَلَزِمَ التَّنَافِي بَيْنَ صِفَاتِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا.

Wajib Beriman Bahwa Allah Dekat dengan Makhluk-Nya, dan Hal Itu Tidak Bertentangan dengan Ketinggian dan Keberadaan-Nya di Atas

Penjelasan yang telah Anda dengar pada pembahasan ini merupakan perincian dari apa yang telah disebutkan sebelumnya. Hal itu karena keimanan bahwa Allah Jalla wa 'Alā Mahatinggi di atas seluruh makhluk-Nya dengan Zat-Nya, dan bahwa Dia beristiwa di atas 'Arsy-Nya, sering dipertentangkan dengan sifat kemaha kedekatan-Nya yang disebutkan dalam berbagai nash, juga dengan sifat Al-Bāṭhin serta (المَعِيَّةُ) (kebersamaan)-Nya bersama makhluk.

Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan mengenai sifat (المَعِيَّةُ), yaitu bahwa (المَعِيَّةُ) Allah Tabāraka wa Ta'ālā sama sekali tidak bertentangan dengan ketinggian-Nya. Allah Mahatinggi di atas seluruh makhluk-Nya dengan Zat-Nya, namun pada saat yang sama Dia bersama mereka dengan (المَعِيَّةُ) umum, dan bersama hamba-hamba-Nya yang beriman dengan (المَعِيَّةُ) khusus.

Adapun pembahasan ini berkaitan dengan penetapan sifat Al-Qurb (Kemaha dekatan) bagi Allah Jalla wa 'Alā.

Beliau (Ibnu Taimiyau) berkata: "Dan termasuk dalam hal itu ialah beriman bahwa Allah Maha dekat dengan makhluk-Nya dan Maha Mengabulkan."

Ungkapan "termasuk dalam hal itu" maksudnya adalah termasuk dalam keimanan kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta takdir yang baik maupun yang buruk.

Artinya, termasuk rukun iman adalah beriman kepada sifat ini, yaitu bahwa Allah Jalla wa 'Alā dekat dengan makhluk-Nya dan Maha Mengabulkan doa mereka.

Jika demikian, maka apa yang termasuk bagian dari iman berdasarkan nash Al-Qur'an dan As-Sunnah tidak mungkin bertentangan dengan apa yang juga ditetapkan berdasarkan nash Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sebab, kebenaran tidak akan bertentangan dengan kebenaran. Yang bertentangan dengan kebenaran hanyalah kebatilan. Selama sumbernya satu, yaitu dalil dari Al-Qur'an dan As-Sunnah, maka semuanya adalah benar. Kebenaran saling menguatkan, bukan saling menolak ataupun saling bertentangan. Semuanya benar dan berasal dari satu sumber yang sama dalam menunjukkan apa yang wajib diyakini.

Di antara kebenaran yang terdapat dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah ialah bahwa Allah Jalla wa 'Alā Mahatinggi di atas 'Arsy-Nya, beristiwa di atasnya, dan Mahatinggi di atas seluruh makhluk-Nya dengan Zat-Nya.

Di sisi lain, Al-Qur'an dan As-Sunnah juga menetapkan bahwa Allah itu dekat. Allah Subḥānahu wa Ta'ālā berfirman:

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat..." (QS. Al-Baqarah: 186).

Allah juga berfirman: "Dialah Yang Maha Awal, Maha Akhir, Maha Zhahir, dan Maha Batin."

Dan Dia juga berfirman: "Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."

Demikian pula ayat-ayat lainnya yang menunjukkan bahwa Allah Jalla Jalāluhu dekat dengan hamba-hamba-Nya, sekaligus Mahatinggi di atas 'Arsy-Nya.

Seluruh kelompok ayat ini, bersama kelompok ayat yang menetapkan sifat ketinggian bagi Allah Tabāraka wa Ta'ālā, saling membenarkan satu sama lain.

Oleh karena itu, Syaikhul Islam berkata:

"Apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah tentang kedekatan dan (المَعِيَّةُ)-Nya tidak bertentangan dengan apa yang disebutkan tentang ketinggian dan keberadaan-Nya di atas."

Sebab semuanya berasal dari Allah Jalla wa 'Alā. Hanya saja, sebagian manusia membayangkan adanya pertentangan karena gambaran-gambaran yang keliru yang ada dalam benak mereka. Mereka mengira bahwa sifat-sifat tersebut saling bertentangan, padahal anggapan itu batil.

Penyebab munculnya anggapan tersebut adalah karena mereka menyamakan Allah Tabāraka wa Ta'ālā dalam sifat-sifat, keadaan, dan karakteristik-Nya dengan makhluk-Nya. Ketika mereka melihat bahwa dalam makhluk tidak mungkin satu makhluk sekaligus berada dekat dan berada tinggi pada waktu yang sama, mereka pun berkata bahwa Allah juga tidak mungkin sekaligus dekat dan Mahatinggi.

Padahal Allah Jalla Jalāluhu tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.

Oleh karena itu, orang-orang yang menganggap adanya pertentangan antara kedekatan dan (المَعِيَّةُ) Allah dengan ketinggian Zat-Nya serta istiwa-Nya di atas 'Arsy, pada hakikatnya telah melakukan tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk). Mereka tidak menolak sifat-sifat tersebut atau menganggap salah satunya bertentangan dengan yang lain kecuali karena mereka terlebih dahulu menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Mereka menjadikan sifat-sifat Allah serupa dengan sifat-sifat makhluk. Ketika mereka melakukan penyamaan seperti itu, barulah menurut mereka timbul kontradiksi dan pertentangan di antara sifat-sifat Allah Jalla wa 'Alā.

Lalu Syeikh Sholeh Aalu asy-Syeikh melanjutkan penjelasan-nya:

وَهَذَا الْفَصْلُ مَعْقُودٌ لِبَيَانِ عُلُوِّ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَاسْتِوَائِهِ عَلَى عَرْشِهِ، وَأَنَّ ذَلِكَ لَا يُنَافِي قُرْبَهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى.

قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ: «وَمَا ذُكِرَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِنْ قُرْبِهِ وَمَعِيَّتِهِ لَا يُنَافِي مَا ذُكِرَ مِنْ عُلُوِّهِ وَفَوْقِيَّتِهِ».

مَا ذُكِرَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِنْ قُرْبِهِ وَمَعِيَّتِهِ لَا يُنَافِي مَا ذُكِرَ مِنْ عُلُوِّهِ وَفَوْقِيَّتِهِ؛ لِأَنَّ الْجَمِيعَ حَقٌّ، وَالْحَقُّ كَمَا ذَكَرْتُ لَكَ لَا يُنَاقِضُ حَقًّا أَبَدًا، بَلْ يَكُونُ مَعَهُ، وَيَسِيرُ مَعَهُ، وَيَدُلُّ عَلَيْهِ، وَيُبَيِّنُهُ، وَيَكُونُ أَحَدُهُمَا دَالًّا عَلَى الْآخَرِ، وَالْآخَرُ دَالًّا عَلَى الْأَوَّلِ، وَهَكَذَا.

قَالَ: «فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ»، هَذَا تَعْلِيلٌ.

«فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي جَمِيعِ نُعُوتِهِ، وَهُوَ عَلِيٌّ فِي دُنُوِّهِ، قَرِيبٌ فِي عُلُوِّهِ».

هُوَ سُبْحَانَهُ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي جَمِيعِ نُعُوتِهِ، لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ سُبْحَانَهُ فِي عُلُوِّهِ، عُلُوِّ الذَّاتِ، وَلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي اسْتِوَائِهِ عَلَى عَرْشِهِ، وَلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي قُرْبِهِ، وَلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي مَعِيَّتِهِ الْخَاصَّةِ، وَلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي مَعِيَّتِهِ الْعَامَّةِ، وَلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي إِحَاطَتِهِ، وَلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي قَهْرِهِ، وَلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي جَبَرُوتِهِ، وَلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي جَمَالِهِ، وَلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي جَلَالِهِ، تَبَارَكَ رَبُّنَا وَتَقَدَّسَ، لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ الْبَتَّةَ.

وَذَلِكَ أَنَّ الْعَبْدَ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَتَصَوَّرَ شَيْئًا إِلَّا كَانَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا بِخِلَافِهِ؛ لِأَنَّ عَقْلَ الْإِنْسَانِ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَطْرَأَ عَلَيْهِ شَيْءٌ إِلَّا وَقَدْ صَارَ لِهَذَا مُقَدِّمَةٌ، وَهِيَ أَنَّهُ:

• قَدْ رَأَى مَثِيلًا لِمَا طَرَأَ عَلَى ذِهْنِهِ.

• أَوْ يَكُونُ رَأَى شَبِيهًا لَهُ.

• أَوْ يَكُونُ رَأَى مَا يَقِيسُهُ عَلَيْهِ.

وَإِلَّا فَلَا يُمْكِنُ أَنْ يَتَصَوَّرَ شَيْئًا.

﴿وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ﴾.

فَهَذِهِ وَسَائِلُ الْإِدْرَاكِ: السَّمْعُ، وَالْأَبْصَارُ، وَالْأَفْئِدَةُ، حَتَّى يَحْصُلَ الْقِيَاسُ، وَحَتَّى تَحْصُلَ الْمَعْرِفَةُ، وَالْمَعْرِفَةُ إِنَّمَا تَحْصُلُ بِالْوَسَائِلِ.

وَالْعَبْدُ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَتَصَوَّرَ شَيْئًا حَتَّى يَكُونَ ذَلِكَ الشَّيْءُ قَدْ رَآهُ.

إِذَا قُلْتُ لَكَ: كِتَابٌ، تَتَصَوَّرُ الْكِتَابَ؛ لِأَنَّكَ قَدْ رَأَيْتَهُ أَوْ رَأَيْتَ مَثِيلَهُ. كِتَابٌ تَتَصَوَّرُ كَيْفِيَّتَهُ، لَكِنْ أَيُّ كِتَابٍ؟ هَلْ هُوَ كَبِيرٌ أَمْ صَغِيرٌ؟ لَكِنْ يَقُومُ فِي ذِهْنِكَ تَصَوُّرُ مَعْنَى وَدَلَالَةِ هَذِهِ الْكَلِمَةِ. أَوْ تَصَوُّرٌ لِشَبِيهِهَا، لِمَا يُشْبِهُهَا مِنْ بَعْضِ الصِّفَاتِ. أَوْ تَصَوُّرٌ لِمَا يُقَاسُ عَلَى مَا ذُكِرَ.

فَتَقُولُ: الْإِنْسَانُ، فَإِذَا قِيلَ لَكَ: الْإِنْسَانُ فِي الْعُلُوِّ، يَعْنِي إِذَا عَلَا فَإِنَّهُ يَخِفُّ وَيَطِيرُ فِي السَّمَاءِ، فَإِنَّكَ مَا تَتَصَوَّرُ هَذِهِ الْعِبَارَةَ إِلَّا بِتَصَوُّرِكَ لِلْإِنْسَانِ وَمَا يُقَاسُ عَلَيْهِ، وَتَصَوُّرِكَ لِطَيَرَانِهِ، وَهُوَ إِنْسَانٌ، وَمِنْ صِفَةِ الْإِنْسَانِ أَنَّهُ يَمْشِي، لَيْسَ مِنْ صِفَتِهِ أَنْ يَطِيرَ، لَكِنْ إِنْسَانٌ يَطِيرُ لَا تَتَصَوَّرُهُ، يَسْبَحُ فِي الْهَوَاءِ لَا تَتَصَوَّرُهُ؛ لِأَنَّكَ هُنَا إِذَا أُلْقِيَ إِنْسَانٌ مِنْ فَوْقُ، فَإِنَّهُ لَا بُدَّ أَنْ يَنْزِلَ إِلَى السُّفْلِ، لَكِنْ تَتَصَوَّرُ ذَلِكَ؛ لِأَنَّ الْمُقَدِّمَاتِ مَوْجُودَةٌ، السِّبَاحَةُ تَعْرِفُ مَعْنَاهَا، وَالسُّقُوطُ تَعْرِفُ مَعْنَاهُ، وَالْإِنْسَانُ بِحَرَكَتِهِ تَعْرِفُ مَعْنَاهُ، فَيُمْكِنُ أَنْ تَقِيسَ الْحَالَ الْمَجْهُولَةَ عَلَى هَذِهِ الْحَالِ الْمَعْلُومَةِ.

وَاللَّهُ جَلَّ وَعَلَا لَمْ يُرَ، وَلَمْ يُرَ مِثَالُهُ، وَلَمْ يُرَ شَبِيهٌ لَهُ، وَلَمْ يُرَ مَا يُقَاسُ عَلَيْهِ، فَلِهَذَا لَا يُمْكِنُ أَنْ يَخْطُرَ فِي الْبَالِ شَيْءٌ يَكُونُ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا شَبِيهًا لِمَا طَرَأَ فِي الْبَالِ.

وَلِهَذَا يَكُونُ إِثْبَاتُ الصِّفَاتِ إِثْبَاتَ مَعْنًى، لَا إِثْبَاتَ كَيْفِيَّةِ اتِّصَافٍ.

فَإِنَّنَا لَا نَقُولُ: يَتَّصِفُ بِالْيَدِ، وَهَذِهِ الْيَدُ مُتَّصِلَةٌ مَثَلًا بِالْجِسْمِ، أَوْ نَقُولُ: مُتَّصِفٌ بِالْعَيْنَيْنِ، وَهَاتَانِ الْعَيْنَانِ فِي وَجْهِهِ عَلَى صِفَةِ كَذَا؛ هَذَا غَيْرُ مَقُولٍ، وَإِنَّمَا نُثْبِتُ الصِّفَةَ، وَلَا نُثْبِتُ الْكَيْفِيَّةَ، وَالْكَيْفِيَّةُ مُفَوَّضَةٌ إِلَى اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا: ﴿وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ﴾.

وَلِهَذَا فَمَنْ جَعَلَ مُنَافَاةً بَيْنَ قُرْبِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَبَيْنَ عُلُوِّهِ وَفَوْقِيَّتِهِ، فَإِنَّهُ يَكُونُ مُبْطِلًا.

لِمَاذَا؟

لِأَنَّهُ لَمْ يَتَصَوَّرِ الْمُنَافَاةَ حَتَّى قَامَ فِي قَلْبِهِ وَعَقْلِهِ التَّشْبِيهُ، فَلَمَّا قَامَ التَّمْثِيلُ وَالتَّشْبِيهُ قَالَ: لَا يُمْكِنُ أَنْ تَجْتَمِعَ هَذِهِ وَهَذِهِ.

لِمَاذَا؟

لِأَنَّ ذِهْنَهُ شَبَّهَ أَوْ مَثَّلَ، ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ سَعَى فِي نَفْيِ مَا عَقَدَهُ الذِّهْنُ مُشَبِّهًا وَمُمَثِّلًا.

أَمَّا الْمُسَلِّمُ لِنُصُوصِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، فَإِنَّهُ يُثْبِتُ الصِّفَاتِ إِثْبَاتَ مَعْنًى، لَا إِثْبَاتَ كَيْفِيَّةٍ.

وَمِمَّا يَدُلُّكَ عَلَى بُطْلَانِ هَذَا التَّشْبِيهِ وَالتَّمْثِيلِ، وَبُطْلَانِ مَنِ ادَّعَى الْمُنَافَاةَ بَيْنَ الْقُرْبِ وَالْمَعِيَّةِ، وَبَيْنَ الْعُلُوِّ وَالْفَوْقِيَّةِ، إِذَا تَصَوَّرْتَ أَنَّ اللَّهَ جَلَّ وَعَلَا مِنْ عَظَمَتِهِ وَجَلَالِهِ وَسَعَتِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَإِحَاطَتِهِ، أَنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ فِي كَفِّ الرَّحْمَنِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى كَخَرْدَلَةٍ فِي كَفِّ أَحَدِكُمْ، تَأْخُذُ حَبَّةَ خَرْدَلٍ فَتَضِيعُ فِي رَاحَتِكَ، اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ فِي كَفِّ الرَّحْمَنِ كَخَرْدَلَةٍ فِي كَفِّ أَحَدِكُمْ، فَكَيْفَ بِالْأَرْضِ الَّتِي هِيَ صَغِيرَةٌ جِدًّا بِالنِّسْبَةِ لِلسَّمَاوَاتِ السَّبْعِ.

وَلِهَذَا يُقَرِّبُ لَكَ ذَلِكَ فَهْمَ أَنَّ اتِّصَافَ اللَّهِ بِالصِّفَةِ لَا يُعْلَمُ كَيْفِيَّتُهُ إِلَّا هُوَ، وَإِنَّمَا عَلَيْنَا التَّسْلِيمُ.

فَمَنْ جَعَلَ بَعْضَ النُّصُوصِ مُنَاقِضَةً لِبَعْضٍ، وَبَعْضَ النُّصُوصِ لَا تَتَّفِقُ مَعَ بَعْضٍ آخَرَ حَتَّى يُعْمِلَ فِيهَا عَقْلَهُ، يَكُونُ قَدْ أُتِيَ مِنْ جَهْلِهِ، وَمِنْ تَشْبِيهِهِ وَتَمْثِيلِهِ وَضَلَالِهِ؛ لِأَنَّهُ جَعَلَ اتِّصَافَ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا بِصِفَاتِهِ كَاتِّصَافِ الْمَخْلُوقِ بِصِفَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ أُصُولِ الضَّلَالِ الَّتِي بِهَا ضَلَّ كَثِيرٌ مِنَ الْخَلْقِ.

Bab ini disusun untuk menjelaskan ketinggian Allah Jalla wa 'Alā dan istiwa-Nya di atas Arsy-Nya, serta bahwa hal itu tidak bertentangan dengan kedekatan-Nya Tabāraka wa Ta'ālā.

Beliau (Ibnu Taimiyah) rahimahullah berkata:

"Dan apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah tentang kedekatan (الْقُرْبُ) dan kebersamaan (المَعِيَّةُ) Allah tidak bertentangan dengan apa yang disebutkan tentang ketinggian (العُلُوُّ) dan keberadaan-Nya di atas (الفَوْقِيَّةُ)."

Apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah mengenai kedekatan dan kebersamaan Allah tidaklah bertentangan dengan apa yang disebutkan mengenai ketinggian dan keberadaan-Nya di atas. Sebab, semuanya adalah kebenaran, dan kebenaran, sebagaimana telah saya jelaskan kepadamu, tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran yang lain. Bahkan, masing-masing saling menguatkan, saling mendukung, saling menjelaskan, dan yang satu menjadi dalil bagi yang lainnya, demikian seterusnya.

Beliau (Ibnu Taimiyah) berkata:

"Sebab Dia Subhanahu wa Ta'ala tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya. Dia Mahatinggi dalam kedekatan-Nya dan Mahadekat dalam ketinggian-Nya."

Dia Subhanahu wa Ta'ala tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya.

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam ketinggian dzat-Nya.

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam istiwa-Nya di atas Arsy.

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam kedekatan-Nya.

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam (المَعِيَّةُ) khusus-Nya.

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam (المَعِيَّةُ) umum-Nya.

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam keluasan ilmu dan cakupan-Nya.

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam kekuasaan-Nya.

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam keperkasaan-Nya.

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam keindahan-Nya.

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam keagungan-Nya.

Mahasuci dan Mahaberkah Rabb kita. Sama sekali tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.

Hal itu karena seorang hamba tidak mungkin membayangkan sesuatu kecuali Allah Jalla wa 'Alā pasti berbeda darinya. Sebab, akal manusia tidak mungkin membayangkan sesuatu kecuali telah didahului oleh salah satu dari tiga hal berikut:

1]. Ia pernah melihat sesuatu yang serupa dengannya.

2]. Atau pernah melihat sesuatu yang mirip dengannya.

3]. Atau pernah melihat sesuatu yang dapat dijadikan sebagai pembanding (qiyas).

Jika tidak demikian, maka ia tidak mungkin dapat membayangkannya.

Allah Ta'ala berfirman:

"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, lalu Dia memberikan kepadamu pendengaran, penglihatan, dan hati."

Pendengaran, penglihatan, dan hati itulah sarana untuk memperoleh pengetahuan dan membuat perbandingan, sehingga lahirlah pemahaman. Pengetahuan hanya dapat diperoleh melalui sarana-sarana tersebut.

Seorang hamba tidak mungkin membayangkan sesuatu sampai ia pernah melihatnya.

Jika saya mengatakan kepadamu, "sebuah buku", maka engkau langsung dapat membayangkan buku itu karena engkau pernah melihatnya atau melihat sesuatu yang serupa dengannya. Engkau dapat membayangkan hakikat umum sebuah buku, meskipun belum tentu mengetahui apakah ukurannya besar atau kecil. Namun, makna dan gambaran umum dari kata "buku" telah hadir dalam benakmu.

Atau engkau membayangkannya melalui sesuatu yang mirip dengannya dalam sebagian sifat.

Atau melalui sesuatu yang diqiyaskan kepadanya.

Misalnya dikatakan, "seorang manusia terbang di udara." Gambaran itu tidak mungkin muncul kecuali setelah engkau membayangkan manusia dan membandingkannya dengan sesuatu yang dapat terbang. Padahal sifat manusia adalah berjalan, bukan terbang. Manusia yang terbang sebenarnya tidak pernah engkau saksikan, demikian pula manusia yang berenang di udara tidak pernah engkau lihat. Sebab, jika seseorang dilempar dari tempat tinggi, pasti ia akan jatuh ke bawah.

Namun, engkau masih dapat membayangkannya karena unsur-unsur pembentuk gambaran itu telah ada dalam pikiranmu. Engkau memahami makna berenang, memahami makna jatuh, dan memahami gerakan manusia. Dengan demikian, engkau mengqiyaskan sesuatu yang belum diketahui kepada sesuatu yang telah diketahui.

Adapun Allah Jalla wa 'Alā, Dia tidak pernah dilihat.

Tidak pernah pula dilihat sesuatu yang semisal dengan-Nya.

Tidak pernah dilihat sesuatu yang menyerupai-Nya.

Tidak ada pula sesuatu yang dapat dijadikan ukuran untuk membandingkan-Nya.

Karena itu, tidak mungkin terlintas dalam benak seseorang suatu gambaran tentang Allah, lalu Allah itu serupa dengan gambaran yang muncul dalam benaknya.

Oleh sebab itu, penetapan sifat-sifat Allah adalah penetapan makna, bukan penetapan bagaimana hakikat sifat tersebut.

Kita menetapkan bahwa Allah memiliki tangan, tetapi kita tidak mengatakan bagaimana bentuk tangan itu, misalnya tersambung dengan lengan atau seperti ini dan itu.

Kita menetapkan bahwa Allah memiliki dua mata, tetapi kita tidak mengatakan bahwa kedua mata itu berada pada wajah dengan bentuk tertentu.

Semua itu tidak boleh dikatakan.

Yang kita tetapkan hanyalah sifatnya, sedangkan bagaimana hakikat sifat tersebut kita tidak menetapkannya. Kaifiyahnya diserahkan kepada Allah Jalla wa 'Alā.

Sebagaimana firman-Nya:

"Dan tidak ada yang mengetahui takwilnya selain Allah."

Karena itu, siapa saja yang menganggap adanya pertentangan antara kedekatan Allah dengan ketinggian dan keberadaan-Nya di atas, maka ia telah keliru.

Mengapa?

Karena ia tidak mungkin membayangkan adanya pertentangan tersebut sampai terlebih dahulu timbul dalam hati dan pikirannya anggapan bahwa Allah serupa dengan makhluk.

Ketika tasybih dan tamtsil itu telah tertanam dalam pikirannya, barulah ia berkata, "Mustahil kedua sifat ini berkumpul."

Mengapa?

Karena sejak awal pikirannya telah menyerupakan Allah dengan makhluk, kemudian setelah itu ia berusaha menolak sesuatu yang dibangun oleh pikirannya sendiri yang penuh dengan penyerupaan tersebut.

Adapun orang yang tunduk kepada nash-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah, maka ia menetapkan sifat-sifat Allah dengan menetapkan maknanya, bukan menetapkan bagaimana hakikatnya.

Di antara hal yang menunjukkan batilnya penyerupaan dan perumpamaan ini, serta batilnya anggapan bahwa terdapat pertentangan antara kedekatan dan (المَعِيَّةُ) dengan ketinggian dan keberadaan Allah di atas, adalah apabila engkau merenungkan betapa agungnya Allah, betapa mulianya Dia, betapa luas kerajaan-Nya, dan betapa sempurna cakupan kekuasaan-Nya.

Sesungguhnya tujuh langit di telapak tangan Ar-Rahman Tabāraka wa Ta'ālā hanyalah seperti sebutir biji sawi di telapak tangan salah seorang dari kalian. Bayangkan engkau memegang sebutir biji sawi di telapak tanganmu; betapa kecilnya hingga hampir tidak tampak. Demikianlah perumpamaan tujuh langit di dalam genggaman Ar-Rahman.

Lalu bagaimana dengan bumi yang ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan tujuh langit?

Perenungan seperti ini akan memudahkanmu memahami bahwa hakikat bagaimana Allah bersifat hanya diketahui oleh Allah sendiri, sedangkan kewajiban kita hanyalah menerima dan tunduk.

Maka, siapa yang menganggap sebagian nash bertentangan dengan sebagian lainnya, atau menganggap sebagian nash tidak sesuai dengan nash yang lain sehingga ia menjadikan akalnya sebagai hakim atas semuanya, maka sesungguhnya ia telah terjerumus karena kebodohannya, karena penyerupaannya terhadap Allah dengan makhluk, dan karena kesesatannya. Sebab, ia telah menjadikan cara Allah memiliki sifat sama seperti cara makhluk memiliki sifat. Inilah salah satu pokok kesesatan yang menyebabkan banyak manusia tersesat.

Kemudian Syeikh Sholeh Aalu asy-Syeikh melanjutkan penjelasan-nya:

قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ: «فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي جَمِيعِ نُعُوتِهِ».

وَقَدْ قَدَّمْنَا لَكُمْ أَنَّ قَوْلَهُ: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾، كَمَا قَالَ جَلَّ وَعَلَا: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾، أَنَّ هَذِهِ فِيهَا تَأْكِيدُ نَفْيِ الْمُمَاثَلَةِ؛ لِأَنَّ الْكَافَ هُنَا فِي قَوْلِهِ: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾ هَذِهِ صِلَةٌ عَلَى الصَّحِيحِ، صِلَةٌ جَاءَتْ لِتَوْكِيدِ الْكَلَامِ، يَعْنِي: زَائِدَةٌ لَفْظًا، مُؤَكِّدَةٌ مَعْنًى، زَائِدَةٌ لَفْظًا يَعْنِي إِعْرَابًا... ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، أَوْ أَكْثَرَ، فَقَالَ: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾؛ يَعْنِي: لَيْسَ مِثْلُهُ شَيْءٌ، لَيْسَ مِثْلُهُ شَيْءٌ، لَيْسَ مِثْلُهُ شَيْءٌ، فَكَأَنَّهُ كَرَّرَ الْكَلَامَ تَأْكِيدًا مِرَارًا، أَفَادَنَا ذَلِكَ مَجِيءُ الْكَافِ.

وَقَالَ آخَرُونَ: إِنَّ الْكَافَ هُنَا اسْمٌ وَلَيْسَتْ حَرْفًا، وَتَكُونُ بِمَعْنَى «مِثْل»، وَذَلِكَ كَقَوْلِهِ جَلَّ وَعَلَا: ﴿ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً﴾، قَالَ: ﴿أَوْ أَشَدُّ﴾، وَجَعَلَ «أَشَدُّ» مَرْفُوعَةً، وَهِيَ مَعْطُوفَةٌ عَلَى الْكَافِ، قَالَ: ﴿فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً﴾ مِنَ الْحِجَارَةِ، فَصَارَتِ الْكَافُ هُنَا اسْمًا بِمَعْنَى «مِثْل».

وَمِنْهُ أَيْضًا قَوْلُ الشَّاعِرِ:

لَوْ كَانَ فِي قَلْبِي كَقَدْرِ قُلَامَةٍ *** حُبًّا لِغَيْرِكَ مَا أَتَتْكَ رَسَائِلِي

قَالَ: «لَوْ كَانَ فِي قَلْبِي كَقَدْرِ قُلَامَةٍ»، لَا بُدَّ أَنْ تَكُونَ الْكَافُ اسْمًا؛ لِأَنَّهُ إِنْ لَمْ تَكُنْ اسْمًا فَلَا يَكُونُ ثَمَّ خَبَرٌ لِـ«كَانَ»، لِأَنَّهُ تَكُونُ كِلْتَا الْكَلِمَتَيْنِ شِبْهَ جُمْلَةٍ: «لَوْ كَانَ فِي قَلْبِي كَقَدْرِ قُلَامَةٍ»، فَلَا بُدَّ أَنْ تَكُونَ الْكَافُ اسْمًا أَوْ صِلَةً حَتَّى يَسْتَقِيمَ الْكَلَامُ.

الْمَقْصُودُ مِنْ ذَلِكَ أَنَّ قَوْلَهُ: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾ فِيهَا إِثْبَاتُ نَفْيِ الْمِثْلِيَّةِ.

قَالَ: «فِي جَمِيعِ نُعُوتِهِ، وَهُوَ عَلِيٌّ فِي دُنُوِّهِ، قَرِيبٌ فِي عُلُوِّهِ».

«فِي جَمِيعِ نُعُوتِهِ»: النُّعُوتُ عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ هِيَ الصِّفَاتُ، فَيُقَالُ: صِفَاتُ الرَّحْمَنِ وَنُعُوتُ الرَّحْمَنِ.

وَمِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ مَنْ يُفَرِّقُ بَيْنَ الصِّفَاتِ وَالنُّعُوتِ، فَيَجْعَلُ الصِّفَاتِ مِمَّا يَتَعَلَّقُ بِالذَّاتِ، وَيَجْعَلُ النُّعُوتَ مِمَّا يَتَعَلَّقُ بِالْأَفْعَالِ، وَالْأَمْرُ فِيهِ وَاسِعٌ.

وَطَرِيقَةُ شَيْخِ الْإِسْلَامِ وَتِلْمِيذِهِ ابْنِ الْقَيِّمِ أَنَّ النُّعُوتَ وَالصِّفَاتِ مُتَقَارِبَانِ مِنْ جِهَةِ الدَّلَالَةِ، فَهِيَ غَيْرُ مُخْتَصَّةٍ بِالْأَفْعَالِ، بَلْ هِيَ نُعُوتُ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا، وَصِفَاتُهُ الذَّاتِيَّةُ وَالْفِعْلِيَّةُ، وَغَيْرُهَا، كُلُّهَا الْبَابُ وَاحِدٌ.

قَوْلُهُ هُنَا: «فِي جَمِيعِ نُعُوتِهِ»؛ هَذَا فِيهِ التَّنْبِيهُ عَلَى أَنَّهُ لَا يُفَرَّقُ فِي نَفْيِ الْمِثْلِيَّةِ بَيْنَ بَعْضِ الصِّفَاتِ وَبَعْضٍ، وَهَذَا مَعْلُومٌ مِنْ طَرِيقَةِ أَهْلِ السُّنَّةِ.

وَطَائِفَةٌ مِنَ الْمُبْتَدِعَةِ يَجْعَلُونَ عَدَمَ الْمُمَاثَلَةِ فِي النُّعُوتِ مُتَعَلِّقًا بِبَعْضِ الصِّفَاتِ دُونَ بَعْضٍ.

فَمَا كَانَ مِنْ جِهَةِ الْأَفْعَالِ قَالُوا: يُقَاسُ عَلَى الْخَلْقِ، وَمَا كَانَ مِنْ جِهَةِ الذَّاتِ فَلَا يُقَاسُ عَلَى الْخَلْقِ.

وَهَذَا بَاطِلٌ؛ فَإِنَّ الْبَابَ بَابٌ وَاحِدٌ فِي جَمِيعِ نُعُوتِهِ سُبْحَانَهُ، لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ، سَوَاءٌ فِي الْأَفْعَالِ أَوْ فِي الصِّفَاتِ، صِفَاتِ الذَّاتِ أَوْ صِفَاتِ الْفِعْلِ، الصِّفَاتِ الذَّاتِيَّةِ أَوِ الِاخْتِيَارِيَّةِ، الْبَابُ جَمِيعًا بَابٌ وَاحِدٌ، لَيْسَ كَمِثْلِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا شَيْءٌ فِي جَمِيعِ النُّعُوتِ، نُعُوتِ الْجَمَالِ، وَنُعُوتِ الْجَلَالِ، وَنُعُوتِ الْكِبْرِيَاءِ، وَنُعُوتِ الرُّبُوبِيَّةِ، وَنُعُوتِ الْأُلُوهِيَّةِ، كُلُّ ذَلِكَ هُوَ جَلَّ وَعَلَا مُتَفَرِّدٌ فِيهِ، لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ.

قَالَ: «وَهُوَ عَلِيٌّ فِي دُنُوِّهِ، قَرِيبٌ فِي عُلُوِّهِ».

هَذِهِ مِنْ كَلِمَاتِ السَّلَفِ الْمَشْهُورَةِ: أَنَّهُ جَلَّ وَعَلَا «عَلِيٌّ فِي دُنُوِّهِ»، وَعُلُوُّهُ جَلَّ وَعَلَا الْمَقْصُودُ هُنَا «عُلُوُّ الذَّاتِ» فِي دُنُوِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، الَّذِي جَاءَ فِي بَعْضِ الْأَحَادِيثِ: «كَدُنُوِّهِ مِنْ أَهْلِ عَرَفَةَ»، فِي الْمَشْهَدِ يَدْنُو الرَّحْمَنُ جَلَّ وَعَلَا مِنْهُمْ، ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ.

وَهُوَ جَلَّ وَعَلَا «قَرِيبٌ فِي عُلُوِّهِ»، يَعْنِي أَنَّهُ سُبْحَانَهُ يَدْنُو وَيَقْرُبُ مِنْ عِبَادِهِ كَيْفَ شَاءَ، وَهُوَ عَلَى عَرْشِهِ مُسْتَوٍ عَلَيْهِ، عَالٍ عَلَى خَلْقِهِ بِذَاتِهِ، تَبَارَكَ وَتَعَالَى.

فَعُلُوُّ الرَّحْمَنِ عُلُوُّ الذَّاتِ، وَالْقَهْرِ، وَالْقَدْرِ، وَفَوْقِيَّةُ الرَّحْمَنِ فَوْقِيَّةُ الذَّاتِ، وَالْقَدْرِ، وَالْقَهْرِ، أَوِ الْعُلُوُّ وَالْفَوْقِيَّةُ الرَّاجِعَةُ إِلَى الذَّاتِ وَالرَّاجِعَةُ إِلَى الصِّفَاتِ، كُلُّ ذَلِكَ لَا يُنَافِي دُنُوَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، وَلَا يُنَافِي قُرْبَهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، بَلْ هُوَ جَلَّ وَعَلَا عَلِيٌّ فِي دُنُوِّهِ، قَرِيبٌ فِي عُلُوِّهِ، ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾، تَبَارَكَ رَبُّنَا وَتَقَدَّسَ وَتَعَاظَمَ.

نَقِفُ عِنْدَ هَذَا، وَهَذَا الدَّرْسُ هُوَ آخِرُ الدُّرُوسِ فِي هَذَا الْفَصْلِ".

Beliau (Ibnu Taimiyah) rahimahullah berkata:

"Sesungguhnya Allah Mahasuci, tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya."

Sebelumnya telah kami jelaskan bahwa firman Allah yang artinya, "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat," mengandung penegasan yang sangat kuat tentang penafian adanya sesuatu yang menyerupai Allah.

Sebab, huruf "kaf" pada frasa "seperti-Nya" menurut pendapat yang lebih kuat hanyalah huruf tambahan yang berfungsi untuk memperkuat makna kalimat. Maksud "tambahan" di sini adalah tambahan dari sisi lafaz dan susunan bahasa, bukan tambahan yang sia-sia.

Seakan-akan Allah mengulang makna tersebut berkali-kali:

"Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya."

"Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya."

"Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya."

Bahkan seolah-olah makna itu diulang lebih dari tiga kali sebagai bentuk penegasan. Penguatan makna tersebut dipahami dari penggunaan huruf "kaf" dalam ayat itu.

Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa huruf "kaf" pada ayat tersebut merupakan kata benda, bukan huruf, dan bermakna "seperti".

Mereka berdalil dengan firman Allah yang artinya:

"Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi."

Pada ayat tersebut Allah berfirman bahwa hati mereka menjadi seperti batu atau bahkan lebih keras. Kata "lebih keras" dibaca dalam bentuk marfu' dan dihubungkan dengan kata yang diawali huruf "kaf". Karena itu mereka memahami bahwa "kaf" di sini berfungsi sebagai kata benda yang bermakna "seperti".

Mereka juga berdalil dengan perkataan seorang penyair:

"Seandainya di dalam hatiku terdapat cinta kepada selainmu walaupun hanya sebesar potongan kuku, niscaya surat-suratku tidak akan pernah sampai kepadamu."

Menurut mereka, pada bait tersebut huruf "kaf" harus dipahami sebagai kata benda. Sebab jika bukan demikian, maka susunan kalimatnya tidak akan sempurna secara tata bahasa. Oleh karena itu, huruf tersebut harus dipahami sebagai kata benda atau sebagai tambahan yang menguatkan makna agar susunan kalimat menjadi benar.

Inti dari seluruh pembahasan itu adalah bahwa firman Allah yang artinya, "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya," mengandung penegasan yang sangat kuat bahwa sama sekali tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Allah.

Beliau (Ibnu Taimiyah) rahimahullah kemudian berkata:

"Dalam seluruh sifat-sifat-Nya. Dia Mahatinggi ketika dekat, dan Mahadekat ketika tinggi."

Yang dimaksud dengan "na'at" menurut mayoritas ulama adalah "sifat-sifat". Oleh karena itu dikenal istilah "sifat-sifat Allah" dan "na'at-na'at Allah".

Sebagian ulama membedakan antara istilah sifat dan na'at. Menurut mereka, sifat berkaitan dengan Dzat Allah, sedangkan na'at berkaitan dengan perbuatan-perbuatan-Nya. Namun masalah ini cukup luas.

Metode yang ditempuh oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan murid beliau Ibnul Qayyim adalah bahwa istilah sifat dan na'at memiliki makna yang hampir sama. Keduanya tidak hanya mencakup sifat-sifat perbuatan, tetapi juga seluruh sifat Allah, baik sifat-sifat dzatiyyah maupun sifat-sifat fi'liyyah. Semuanya berada dalam satu pembahasan.

Ucapan beliau (Ibnu Taimiyah) rahimahullah : "Dalam seluruh sifat-sifat-Nya." mengandung penegasan bahwa penafian adanya keserupaan berlaku pada seluruh sifat Allah tanpa membedakan satu sifat dengan sifat lainnya. Inilah manhaj Ahlus Sunnah.

Sebagian kelompok ahli bid'ah beranggapan bahwa tidak adanya keserupaan hanya berlaku pada sebagian sifat saja.

Menurut mereka, sifat-sifat yang berkaitan dengan perbuatan dapat dibandingkan dengan sifat makhluk, sedangkan sifat-sifat yang berkaitan dengan Dzat Allah tidak boleh dibandingkan.

Pendapat ini adalah pendapat yang batil.

Sebab seluruh pembahasan tentang sifat Allah merupakan satu kesatuan. Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Allah, baik dalam sifat-sifat perbuatan maupun sifat-sifat dzat, baik sifat dzatiyyah maupun sifat ikhtiyariyyah. Seluruhnya berada dalam satu kaidah yang sama, yaitu tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Allah dalam seluruh sifat-Nya.

Baik sifat-sifat keindahan-Nya, sifat-sifat keagungan-Nya, sifat-sifat kebesaran-Nya, sifat-sifat rububiyyah-Nya, maupun sifat-sifat uluhiyyah-Nya, semuanya merupakan kekhususan Allah semata. Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.

Beliau (Ibnu Taimiyah) rahimahullah kemudian berkata:

"Dia Mahatinggi ketika dekat, dan Mahadekat ketika tinggi."

Ungkapan ini termasuk perkataan para ulama salaf yang sangat masyhur.

Yang dimaksud dengan "Mahatinggi ketika dekat" adalah bahwa Allah memiliki sifat Mahatinggi dengan Dzat-Nya, meskipun Dia mendekat kepada makhluk-Nya. Kedekatan tersebut sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadis, seperti ketika Allah mendekat kepada jamaah yang sedang wukuf di Arafah, kemudian Allah membanggakan mereka di hadapan para malaikat.

Sedangkan yang dimaksud dengan "Mahadekat ketika tinggi" ialah bahwa Allah mendekat kepada hamba-hamba-Nya sesuai dengan kehendak-Nya, sementara Dia tetap berada di atas Arsy-Nya, beristiwa di atasnya, dan Mahatinggi di atas seluruh makhluk-Nya dengan Dzat-Nya.

Ketinggian Allah meliputi ketinggian Dzat, ketinggian kekuasaan, dan ketinggian kedudukan.

Demikian pula keberadaan Allah di atas meliputi keberadaan di atas dengan Dzat-Nya, di atas dalam kekuasaan-Nya, dan di atas dalam kedudukan-Nya.

Baik ketinggian maupun keberadaan-Nya di atas, baik yang berkaitan dengan Dzat maupun dengan sifat-sifat-Nya, sama sekali tidak bertentangan dengan kedekatan Allah kepada makhluk-Nya.

Sebaliknya, Allah Mahatinggi ketika dekat dan Mahadekat ketika tinggi.

Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Mahaberkah, Mahasuci, Mahatinggi, dan Mahaagung Rabb kita.

Sampai di sinilah pembahasan kita. Kajian ini merupakan pelajaran terakhir pada bab ini”. [KUTIPAN SELESAI]

****

KESIMPULANNYA:

Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya. Dia Mahatinggi dalam kedekatan-Nya, dan Maha Dekat dalam ketinggian-Nya.

BERSAMBUNG ...

 


Posting Komentar

0 Komentar