DALIL-DALIL SYAR'I YANG MENETAPKAN SIFAT ALLAH MAHA DEKAT.
----
Di
Tulis Oleh Kang Fakhry
KAJIAN NIDA
AL-ISLAM
----
DAFTAR ISI:
- PENDAHULUAN
- HUKUM MENETAPKAN SIFAT ALLAH MAHA DEKAT
- DALIL-DALIL SYAR'I TENTANG PENETAPAN SIFAT ALLAH MAHA DEKAT
- ALLAH DAN RASUL-NYA MENGATAKAN BAHWA ALLAH DEKAT:
- ALLAH MAHA TINGGI, NAMUN DIA MAHA BESAR MAKA DIA MAHA DEKAT.
- ALLAH MAHA BESAR, ALAM SEMESTA DALAM GENGGAMANNYA
- DIMANAPUN KALIAN BERADA, ALLAH DEKAT BERSAMA KALIAN
- ALLAH MELIPUTI SELURUH MAKHLUKNYA, TAPI TIDAK DILIPUTI MAKHLUKNYA
- PERKATAAN PARA ULAMA YANG MENETAPKAN SIFAT ALLAH “MAHA DEKAT”
- [1] SA’ID BIN AL-MUSAYYIB (WAFAT 94 H)
- [2] PERKATAAN IMAM IBNU JARIR ATH-THOBARI (WAFAT 310 H)
- [3] PERKATAAN SYEIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH
- [4] PERKATAAN IBNU AL-QOYYIM AL-JAWZIYAH
- [5] PERKATAAN SYEIKH ABDURRAHMAN AS-SA’DI
- [6] PERKATAAN SYEIKH AL-‘UTSAIMIN
- [7] PERKATAAN SYEIKH SHOLEH FAUZAN AL-FAUZAN
- [8] PERKATAAN SYEIKH MUHAMMAD KHOLIL HARAAS
- [9] PERKATAAN SYEIKH SHOLEH BIN ABDUL AZIZ AALU ASY-ASYEIKH
BERSAMBUNG
.....
****
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
===***===
PENDAHULUAN
Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya.
Dia Maha Tinggi, lagi Maha Besar dan Dia juga Maha Dekat.
Dia Maha Tinggi dalam kemaha-dekatan-Nya, dan Maha Dekat dalam kemaha-tinggian-Nya.
Allah SWT berfirman:
﴿عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ
الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِ﴾
“Dia yang mengetahui semua yang ghaib dan
yang nampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi”. [QS.
Ar-Raad: 9]
Dan Allah SWT berfirman:
﴿وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ﴾
“Bumi semuanya dalam genggaman-Nya pada hari
kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya”. [QS. Az-Zumar: 67]
Dan Allah SWT berfirman:
﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي
قَرِيبٌ﴾
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu
tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat”. [QS. Al-Baqarah:
186]
Abdullah bin Syabib berkata:
صَلَّيْتُ إِلَى جَنْبِ سَعِيدِ بْنِ
الْمُسَيِّبِ، فَلَمَّا جَلَسْتُ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ رَفَعْتُ صَوْتِي
بِالدُّعَاءِ فَانْتَهَرَنِي، فَلَمَّا انْصَرَفْتُ، قُلْتُ لَهُ: مَا كَرِهْتَ
مِنِّي؟، قَالَ: «ظَنَنْتُ أَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِقَرِيبٍ مِنْكَ»
Aku pernah salat di samping Sa'id bin Al-Musayyib (wafat 94 H). Ketika aku duduk pada rakaat kedua, aku mengeraskan suaraku saat berdoa, lalu beliau menegurku.
Setelah salat selesai, aku bertanya
kepadanya, "Apa yang engkau tidak sukai dari perbuatanku?"
Beliau menjawab, "Apakah engkau mengira
bahwa Allah tidak dekat denganmu?"
[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam
al-Mushonnaf 6/85 no. 29668]
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam al-‘Aqidah
al-Wasithiyyah berkata:
يَدْخُلُ فِي الْإِيمَانِ بِاللَّهِ:
أَنَّهُ قَرِيبٌ مِنْ خَلْقِهِ.
وَقَدْ دَخَلَ فِي ذَلِكَ:
الْإِيمَانُ بِأَنَّهُ قَرِيبٌ مِنْ خَلْقِهِ، مُجِيبٌ، كَمَا جَمَعَ بَيْنَ
ذَلِكَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي
قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ﴾.
وَقَوْلُهُ ﷺ لِلصَّحَابَةِ لَمَّا
رَفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالذِّكْرِ: «أَيُّهَا النَّاسُ، ارْبَعُوا عَلَى
أَنْفُسِكُمْ؛ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا، إِنَّ الَّذِي
تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ».
وَمَا ذُكِرَ فِي الْكِتَابِ
وَالسُّنَّةِ مِنْ قُرْبِهِ وَمَعِيَّتِهِ لَا يُنَافِي مَا ذُكِرَ مِنْ عُلُوِّهِ
وَفَوْقِيَّتِهِ، فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي جَمِيعِ
نُعُوتِهِ، وَهُوَ عَلِيٌّ فِي دُنُوِّهِ، قَرِيبٌ فِي عُلُوِّهِ.
“Termasuk
bagian dari keimanan kepada Allah adalah meyakini bahwa Dia Mahadekat dengan
makhluk-Nya.
Dan termasuk dalam hal itu adalah beriman
bahwa Allah dekat dengan makhluk-Nya dan Maha Mengabulkan doa, sebagaimana
Allah menggabungkan antara kedekatan dan pengabulan doa dalam firman-Nya:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya
kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang
yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”
Demikian pula sabda Nabi ﷺ kepada
para sahabat ketika mereka mengeraskan suara dalam berzikir:
“Wahai manusia, rendahkanlah suara kalian. Sesungguhnya kalian tidak sedang berdoa kepada Dzat yang tuli dan tidak pula kepada Dzat yang jauh. Sesungguhnya Dzat yang kalian seru itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada leher tunggangannya.”
Apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah tentang kedekatan (الْقُرْبُ) dan kebersamaan (المَعِيَّةُ) Allah tidaklah bertentangan dengan apa yang telah disebutkan tentang ketinggian (العُلُوُّ) dan keberadaan-Nya di atas seluruh makhluk (الفَوْقِيَّةُ).
Sebab, Dia Subhanahu wa Ta'ala tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya
dalam seluruh sifat-sifat-Nya. Dia Maha Tinggi dalam kemaha-dekatan-Nya, dan Dia Maha
Dekat dalam kemaha-tinggian-Nya”.
[Al-‘Aqidah al-Wasithiyyah hal. 85 no. 163-166. Tahqiq Abu Mahammad Asyrraf Cet.
Adhwa as-Salaf – Riyadh. Lihat pula: Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 3/143]
Syeikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Syarah Al-'Aqidah
Al-Wasithiyyah 2/89 berkata :
وَمَا ذَهَبَ إِلَيْهِ شَيْخُ الْإِسْلَامِ
فَهُوَ عِنْدِي أَقْرَبُ ... وَقَوْلُهُ: «نُعُوتِهِ». أَيْ: صِفَاتِهِ. فَهُوَ عَلِيٌّ مَعَ أَنَّهُ دَانٍ، وَقَرِيبٌ
مَعَ أَنَّهُ عَالٍ، وَلَا تَنَاقُضَ فِي ذَلِكَ
"Adapun pendapat yang dipilih oleh Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah, menurut saya itulah yang lebih kuat. ....
Dan perkataan beliau (Ibnu Taimiyah): "(نُعُوتِهِ)",
maksudnya adalah sifat-sifat-Nya. Allah Mahatinggi meskipun Dia Mahadekat. Dan
Dia Mahadekat meskipun Dia Mahatinggi. Tidak ada pertentangan antara keduanya”.
Syaikh Ṣhāliḥ bin 'Abdul 'Azīz Ālu Asy-Syaikh berkata:
دَخَلَ فِي أَرْكَانِ الإِيمَانِ الإِيمَانُ
بِهَذِهِ الصِّفَةِ، وَأَنَّهُ جَلَّ وَعَلَا «قَرِيبٌ مِنْ خَلْقِهِ مُجِيبٌ» سُبْحَانَهُ.
Termasuk rukun iman adalah beriman kepada sifat ini, yaitu bahwa Allah Jalla wa 'Alā Maha Dekat dengan makhluk-Nya dan Maha Mengabulkan doa mereka, Maha Suci Allah”. [Kutipan Selesai]
===
DIMANAPUN
KALIAN BERADA, ALLAH BERSAMA KALIAN
Allah SWT berfirman:
﴿وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَاللَّهُ
بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ﴾
“Dan Dia bersama kamu di mana pun kamu
berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu lakukan”. [QS. Al-Hadid : 4]
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ إِيمَانِ الْمَرْءِ أَنْ
يَعْلَمَ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى مَعَهُ حَيْثُ كَانَ».
"Sesungguhnya termasuk keimanan seseorang
yang paling utama adalah ia mengetahui bahwa Allah Ta'ala bersamanya di mana
pun ia berada." [Sanadnya Hasan. Lihat takhrijnya di artikel ini]
Ibnu al-Qoyyim berkata:
وَالَّذِي يُسَهِّلُ عَلَيْكَ فَهْمَ
هَذَا: مَعْرِفَةُ عَظَمَةِ الرَّبِّ وَإِحَاطَتِهِ بِخَلْقِهِ وَأَنَّ السَّمَاوَاتِ
السَّبْعَ فِي يَدِهِ كَخَرْدَلَةٍ فِي يَدِ الْعَبْدِ، وَأَنَّهُ سُبْحَانَهُ يَقْبِضُ
السَّمَاوَاتِ بِيَدِهِ وَالْأَرْضَ بِيَدِهِ الْأُخْرَى ثُمَّ يَهُزُّهُنَّ، فَكَيْفَ
يَسْتَحِيلُ فِي حَقِّ مَنْ هَذَا بَعْضُ عَظَمَتِهِ. أَنْ يَكُونَ فَوْقَ عَرْشِهِ
وَيَقْرُبُ مِنْ خَلْقِهِ كَيْفَ شَاءَ وَهُوَ عَلَى الْعَرْشِ.
“Yang akan memudahkanmu memahami hal ini ialah
mengenal keagungan Rabb, keluasan kekuasaan-Nya yang meliputi seluruh makhluk,
serta bahwa tujuh langit di tangan-Nya hanyalah seperti sebutir biji sawi di
tangan seorang hamba.
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menggenggam langit-langit dengan satu tangan-Nya dan bumi dengan
tangan-Nya yang lain, kemudian mengguncangkannya.
Maka bagaimana mungkin dianggap mustahil bagi
Zat yang demikian agung untuk berada di atas ‘Arsy-Nya, namun pada saat yang
sama Dia dekat dengan makhluk-Nya sesuai dengan kehendak-Nya, sementara Dia
tetap berada di atas ‘Arsy?”
[Lihat: Mukhtaṣar Ash-Ṣhawā’iq Al-Mursalah, hlm. 483]
Dalam kitab Syarh Al-'Aqidah Al-Wasithiyyah,
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan berkata:
فَلَا يُقَالُ: إِذَا كَانَ فَوْقَ خَلْقِهِ
فَكَيْفَ يَكُونُ مَعَهُمْ؛ لِأَنَّ هَذَا السُّؤَالَ نَاشِئٌ عَنْ تَصَوُّرٍ خَاطِئٍ،
هُوَ قِيَاسُهُ سُبْحَانَهُ بِخَلْقِهِ، وَهَذَا قِيَاسٌ بَاطِلٌ؛ لِأَنَّ اللَّهَ
سُبْحَانَهُ: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾.
فَالْقُرْبُ وَالْعُلُوُّ يَجْتَمِعَانِ
فِي حَقِّهِ؛ لِعَظَمَتِهِ وَكِبْرِيَائِهِ وَإِحَاطَتِهِ، وَأَنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ
فِي يَدِهِ كَخَرْدَلَةٍ فِي يَدِ الْعَبْدِ، فَكَيْفَ يَسْتَحِيلُ فِي حَقِّ مَنْ
هَذَا بَعْضُ عَظَمَتِهِ أَنْ يَكُونَ فَوْقَ عَرْشِهِ وَيَقْرُبَ مِنْ خَلْقِهِ كَيْفَ
يَشَاءُ، وَهُوَ عَلَى الْعَرْشِ؟
Maka dari itu tidak boleh dikatakan: 'Jika Allah berada di atas seluruh makhluk-Nya, bagaimana mungkin Dia
juga bersama mereka?'
Pertanyaan seperti ini muncul dari anggapan yang keliru, yaitu menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Qiyas seperti ini adalah qiyas yang batil, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
'Tidak
ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.'
Maka sifat dekat (الْقُرْبُ) dan sifat tinggi (العُلُوُّ) berhimpun pada diri Allah karena keagungan, kebesaran, dan
keluasan kekuasaan-Nya. Langit yang tujuh saja berada dalam genggaman-Nya
bagaikan sebutir biji sawi di tangan seorang hamba”. [Kutipan Selesai]
===***===
HUKUM MENETAPKAN SIFAT ALLAH MAHA DEKAT
Syaikh Ṣhāliḥ bin 'Abdul 'Azīz Ālu Asy-Syaikh dalam Syarḥ Al-'Aqīdah Al-Wāsiṭhiyyah, berkata:
وُجُوبُ الإِيمَانِ بِقُرْبِ اللَّهِ
مِنْ خَلْقِهِ، وَأَنَّ ذَلِكَ لَا يُنَافِي عُلُوَّهُ وَفَوْقِيَّتَهُ.
فَالَّذِينَ جَعَلُوا الْمُنَافَاةَ بَيْنَ
قُرْبِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَمَعِيَّتِهِ، وَبَيْنَ عُلُوِّهِ، عُلُوِّ الذَّاتِ،
وَاسْتِوَائِهِ عَلَى عَرْشِهِ، هُمْ مُشَبِّهَةٌ؛ لِأَنَّهُمْ مَا نَفَوْا ذَلِكَ،
وَلَا جَعَلُوا هَذَا يُعَارِضُ ذَاكَ وَهَذَا يُنَافِي ذَاكَ، إِلَّا مِنْ جِهَةِ
أَنَّهُمْ مَثَّلُوا وَشَبَّهُوا، فَجَعَلُوا اللَّهَ فِي صِفَاتِهِ مُمَثَّلًا بِخَلْقِهِ،
مُشَبَّهًا بِهِمْ، وَلَمَّا جَعَلُوهُ كَذَلِكَ لَزِمَ التَّنَاقُضُ، وَلَزِمَ التَّنَافِي
بَيْنَ صِفَاتِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا.
وَقَالَ (شَيْخُ الإسْلاَمِ ابنُ تَيْمِيَّة)
: «وَقَدْ دَخَلَ فِي ذَلِكَ الإِيمَانُ بِأَنَّهُ قَرِيبٌ مِنْ خَلْقِهِ مُجِيبٌ».
وَقَوْلُهُ: «وَقَدْ دَخَلَ فِي ذَلِكَ»
يَعْنِي: فِي الإِيمَانِ بِاللَّهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ
الْآخِرِ، وَبِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ.
دَخَلَ فِي أَرْكَانِ الإِيمَانِ الإِيمَانُ
بِهَذِهِ الصِّفَةِ، وَأَنَّهُ جَلَّ وَعَلَا «قَرِيبٌ مِنْ خَلْقِهِ مُجِيبٌ» سُبْحَانَهُ.
"Wajib Beriman Bahwa Allah Dekat dengan Makhluk-Nya,
dan Hal Itu Tidak Bertentangan dengan Ketinggian dan Keberadaan-Nya di Atas
Oleh karena itu, orang-orang yang menganggap
adanya pertentangan antara kedekatan dan (المَعِيَّةُ) Allah dengan ketinggian Zat-Nya serta istiwa-Nya di atas
'Arsy, pada hakikatnya telah melakukan tasybih (menyerupakan Allah dengan
makhluk). Mereka tidak menolak sifat-sifat tersebut atau menganggap salah
satunya bertentangan dengan yang lain kecuali karena mereka terlebih dahulu
menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Mereka menjadikan sifat-sifat Allah serupa
dengan sifat-sifat makhluk. Ketika mereka melakukan penyamaan seperti itu,
barulah menurut mereka timbul kontradiksi dan pertentangan di antara
sifat-sifat Allah Jalla wa 'Alā.
Beliau (Syeikhul Islam Ibnu Taimiyau) rahimahullah
berkata: "Dan termasuk dalam hal itu ialah beriman bahwa Allah Maha Dekat
dengan makhluk-Nya dan Maha Mengabulkan."
Ungkapan beliau "termasuk dalam hal
itu" maksudnya adalah termasuk dalam keimanan kepada Allah, para
malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta takdir yang
baik maupun yang buruk.
Artinya, termasuk rukun iman adalah
beriman kepada sifat ini, yaitu bahwa Allah Jalla wa 'Alā Maha Dekat dengan makhluk-Nya dan Maha Mengabulkan doa mereka”. [Kutipan
Selesai]
Dan Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam kitab At-Tanbīhāt Al-Laṭhīfah hal. 77 menyebutkan kewajiban beriman bahwa Allah dekat dengan makhluk-Nya, dan bahwa kedekatan tersebut tidak bertentangan dengan ketinggian-Nya (العُلُوُّ) dan keberadaan-Nya di atas seluruh makhluk (الفَوْقِيَّةُ). Beliau menuliskan sebuah pembahasan dengan judul:
«فَصْلٌ: فِي الْإِيمَانِ بِأَنَّ اللَّهَ
تَعَالَى قَرِيبٌ»
"Pasal:
tentang Keimanan bahwa Allah Ta'ala Maha Dekat."
Kemudian beliau menukil perkataan Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah yang telah saya sebutkan diatas.
Dengan demikian, maka kita wajib menetapkan
bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala segala sifat yang telah Dia tetapkan bagi
diri-Nya sendiri, dan segala sifat yang telah ditetapkan oleh Rasul-Nya ﷺ
untuk-Nya, namun dengan syarat-syarat penetapan sbb:
[*] tanpa melakukan تَحْرِيفٌ (penyelewengan makna),
[*] tanpa تَعْطِيلٌ (meniadakan sifat),
[*] tanpa تَكْيِيفٌ (menanyakan bagaimana hakikatnya),
[*] dan tanpa tamtsil (menyerupakan-Nya dengan
makhluk).
Termasuk dalam hal ini adalah menetapkan sifat
"dekat" (الْقُرْبِ) bagi Allah Jalla wa 'Ala sebagai kedekatan yang bersifat
khusus, bahwa Dia benar-benar dekat dengan hamba-hamba-Nya, sekaligus tetap
menetapkan pula sifat ketinggian-Nya (الْفَوْقِيَّةُ) dan bahwa Dia beristiwa di atas 'Arsy-Nya.
Sifat "dekat" (الْقُرْبِ)
merupakan salah satu sifat Allah. Seluruh Ahlus Sunnah wal Jamaah sepakat untuk
meyakini dan menetapkannya, sebagaimana hal itu tampak jelas dalam penjelasan
para ulama mereka.
Nash-nash yang menetapkan asal sifat ini
beserta konsekuensi-konsekuensinya sangat banyak. Semuanya menjelaskan
kedekatan Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan hamba-hamba-Nya serta
pertolongan-Nya kepada para wali-Nya.
Akan tetapi, tidak setiap penyebutan
"kedekatan" dalam nash-nash tersebut bermakna kedekatan Allah secara
hakiki. Adakalanya yang dimaksud adalah kedekatan Allah dengan Dzat-Nya
sendiri, dan adakalanya yang dimaksud adalah selain itu, seperti kedekatan para
malaikat-Nya, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama Ahlus Sunnah ketika
menerangkan sebagian nash tersebut.
[IslamWeb fatwa no. 203248/ Al-Adillah
Asy-Syar'iyyah 'ala Itsbat Shifah Al-Qurb.. Adillat Al-Qur'an Al-Karim].
===***===
DALIL-DALIL
SYAR'I TENTANG PENETAPAN
SIFAT ALLAH "MAHA DEKAT" (القَرِيبٌ):
Diantara dalil-dalil Al-Qur'an yang dijadikan
landasan oleh para ulama salaf dalam menetapkan sifat Maha Dekat (الْقُرْبِ) adalah
sbb.
Terdapat beberapa ayat Al-Qur'an dan hadits
Nabi ﷺ yang
secara jelas menunjukkan penetapan sifat "dekat" (al-qurb) bagi Allah
Jalla wa 'Ala secara hakiki, sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya.
Di antaranya adalah sebagai berikut:
***
ALLAH DAN RASUL-NYA MENGATAKAN BAHWA ALLAH DEKAT:
Diantaranya adalah sbb:
===
DALIL
PERTAMA:
Allah SWT berfirman :
﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي
قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا
لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ﴾
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu
tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku
mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka
hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman
kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. [QS. Al-Baqarah: 186].
Diriwayatkan mengenai sebab turunnya ayat ini
dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata:
قَالَ يَهُودُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ:
يَا مُحَمَّدُ! كَيْفَ يَسْمَعُ رَبُّنَا دُعَاءَنَا، وَأَنْتَ تَزْعُمُ أَنَّ
بَيْنَنَا وَبَيْنَ السَّمَاءِ مَسِيرَةَ خَمْسِمِائَةِ عَامٍ، وَإِنَّ غِلَظَ
كُلِّ سَمَاءٍ مِثْلُ ذَلِكَ؟ فَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ.
"Orang-orang Yahudi Madinah berkata,
'Wahai Muhammad, bagaimana Tuhan kami dapat mendengar doa kami, sedangkan
engkau menganggap bahwa antara kami dan langit berjarak perjalanan lima ratus
tahun, dan ketebalan setiap langit juga seperti itu?' Maka turunlah ayat ini."
Status Hukum Keshahihan Hadits:
Di dalam sanadnya terdapat Al-Kalbi, yang
dituduh sebagai pendusta.
Takhrij:
Riwayat ini disebutkan oleh Al-Baghawi dalam
kitab "Ma'alim At-Tanzil" (1/255), dan oleh Ibnul Jauzi dalam kitab
"Zad Al-Masir" (1/189).
Lihat pula "Tanwir Al-Miqbas" karya
Al-Fairuzabadi (hlm. 20).
As-Suyuthi berkata:
وَأَوْهَى طُرُقِهِ -أَيْ: طُرُقِ
التَّفْسِيرِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ- طَرِيقُ الْكَلْبِيِّ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنِ
ابْنِ عَبَّاسٍ، فَإِذَا انْضَمَّ إِلَى ذَلِكَ رِوَايَةُ مُحَمَّدِ بْنِ مَرْوَانَ
السُّدِّيِّ الصَّغِيرِ، فَهِيَ سِلْسِلَةُ الْكَذِبِ، وَكَثِيرًا مَا يُخْرِجُ
مِنْهَا الثَّعْلَبِيُّ وَالْوَاحِدِيُّ.
"Jalur yang paling lemah di antara
jalur-jalur tafsir dari Ibnu Abbas adalah jalur Al-Kalbi dari Abu Shalih dari
Ibnu Abbas. Apabila ditambah lagi dengan riwayat Muhammad bin Marwan As-Suddi
Ash-Shaghir, maka itulah rangkaian kedustaan (silsilah al-kadzib). Ats-Tsa'labi
dan Al-Wahidi sering kali meriwayatkan tafsir melalui jalur tersebut."
(Al-Itqan, 2/1232).
Atsar ini juga disebutkan oleh Al-Farra' dalam
kitab "Ma'ani Al-Qur'an" (1/114) tanpa menisbatkannya kepada siapa
pun, dengan redaksi:
(قَالَ الْمُشْرِكُونَ …)
"Orang-orang musyrik berkata ...."
Adh-Dhahhak berkata:
سَأَلَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالُوا: أَقَرِيبٌ رَبُّنَا
فَنُنَاجِيهِ، أَمْ بَعِيدٌ فَنُنَادِيهِ؟ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى هَذِهِ
الْآيَةَ.
"Sebagian sahabat bertanya kepada Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Apakah Tuhan kita dekat sehingga kami dapat
bermunajat kepada-Nya, ataukah Dia jauh sehingga kami harus memanggil-Nya
dengan suara keras?' Maka Allah Ta'ala menurunkan ayat ini."
Status Keshahihan sanad hadits:
Riwayat ini disebutkan oleh Al-Wahidi dalam
kitab "Al-Wasith" (1/283) dan Al-Baghawi dalam "Ma'alim At-Tanzil"
(1/205).
Ath-Thabari meriwayatkannya dalam "Jami'
Al-Bayan" (2/158), Ibnu Abi Hatim dalam "Tafsir Al-Qur'an
Al-'Azhim" (1/315, no. 1667), Abu Asy-Syaikh dalam "Al-'Azhamah"
(2/535, no. 188), Ibnu Hibban dalam "Ats-Tsiqat" (8/436), Abu Sa'id
An-Naqqasy dalam "Fawa'id Al-'Iraqiyyin" (hlm. 31, no. 17),
Ad-Daraquthni dalam "Al-Mu'talif wa Al-Mukhtalif" (3/1435), serta
Al-Khathib dalam "Talkhish Al-Mutasyabih" (1/462). Semuanya melalui
jalur Jarir, dari 'Abdah As-Sijistani, dari Ash-Shalb bin Hakim, dari ayahnya,
dari kakeknya. Ia berkata:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهِ، بِمِثْلِ حَدِيثِ الضَّحَّاكِ.
"Seorang laki-laki datang kepada Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam..." lalu disebutkan sebuah riwayat yang
maknanya sama seperti Hadits yang diriwayatkan oleh Adh-Dhahhak.
Sanad riwayat ini dhaif.
Mengenai Ash-Shalb bin Hakim, Al-Khathib, Ibnu
Makula, dan Ibnu Hajar berkata:
قِيلَ: هُوَ أَخُو بَهْزِ بْنِ
حَكِيمٍ، وَلَا يَصِحُّ.
"Dikatakan bahwa ia adalah saudara Bahz bin
Hakim, namun pendapat ini tidak sahih."
Ibnu Hajar dalam "Lisan Al-Mizan"
menyebutnya dengan nama Ash-Shalt bin Hakim, lalu berkata:
لَيْسَ لِلصَّلْتِ، وَلَا لِأَبِيهِ،
وَلَا لِجَدِّهِ ذِكْرٌ فِي كُتُبِ الرُّوَاةِ.
"Tidak ada penyebutan tentang Ash-Shalt,
ayahnya, maupun kakeknya dalam kitab-kitab para perawi."
Syaikh Ahmad Syakir berkata:
مَجْهُولٌ هُوَ وَأَبُوهُ
وَجَدُّهُ... وَهَذَا الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ جِدًّا، مُنْهَارُ الْإِسْنَادِ بِكُلِّ
حَالٍ.
"Ia adalah seorang perawi yang majhul
(tidak dikenal), demikian pula ayahnya dan kakeknya. ... Hadits ini sangat
dhaif, bahkan sanadnya runtuh sama sekali."
Lihat:
[*] "Talkhish Al-Mutasyabih" karya
Al-Khathib (1/462).
[*] "Al-Ikmal" karya Ibnu Makula
(5/196).
[*] "Tabshir Al-Musytabih" karya
Ibnu Nashiruddin (3/839).
[*] "Lisan Al-Mizan" karya Ibnu
Hajar (3/195).
[*] "Hasyiyah Tafsir Ath-Thabari"
karya Ahmad Syakir (3/481).
As-Suyuthi juga menisbatkan riwayat yang
semakna dari Hadits Ubay bin Ka'b kepada Sufyan bin 'Uyainah dalam kitab
tafsirnya, serta kepada Abdullah putra Imam Ahmad dalam tambahan (zawa'id)-nya
atas kitab "Az-Zuhd", melalui jalur Sufyan dari Ubay.
[Lihat "Ad-Durr Al-Mantsur"
(1/352)].
====
DALIL
KE DUA:
Dan Allah SWT berfirman :
﴿وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ
وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ
حَبْلِ الْوَرِيدِ﴾
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan
manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih
dekat kepadanya daripada urat lehernya”. [QS. Qaaf: 16]
===
DALIL
KE TIGA:
Dan Allah SWT berfirman :
﴿وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ
وَلَٰكِن لَّا تُبْصِرُونَ﴾
“Dan Kami lebih dekat kepadanya [nyawa
di kerongkongan saat sekarat] dari pada kalian. Tetapi kalian tidak melihat”.
[QS. Al-Waqi’ah: 85]
===
DALIL
KE EMPAT:
Firman Allah Ta'ala:
﴿فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ
إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ﴾
"Mohonlah ampun kepada-Nya kemudian
bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Mahadekat lagi Maha Mengabulkan
(doa)." (QS. Hud: 61).
Ayat ini merupakan seruan Nabi Hud
'alaihissalam kepada kaumnya agar mereka bertobat, sekaligus memberi kabar
gembira bahwa tobat mereka akan diterima. Beliau menjadikan kedekatan Allah
dengan hamba-hamba-Nya sebagai alasan untuk itu.
Dalam ayat ini tampak jelas adanya kaitan
antara kedekatan Allah dengan dikabulkannya doa orang yang berdoa. Karena
kedekatan-Nya, Allah tidak menolak permohonan seorang hamba ketika ia memohon
kepada-Nya.
===
DALIL
KE LIMA:
Firman Allah Ta'ala:
﴿قُلْ إِنْ ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ
عَلَى نَفْسِي وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي إِنَّهُ سَمِيعٌ
قَرِيبٌ﴾
"Katakanlah, 'Jika aku tersesat, maka
sesungguhnya aku tersesat atas (kerugian) diriku sendiri. Dan jika aku mendapat
petunjuk, maka itu disebabkan oleh wahyu yang diwahyukan Tuhanku kepadaku.
Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat.'" (QS. Saba': 50).
Ath-Thabari menjelaskan ayat ini dengan
mengatakan:
"إِنَّ رَبِّي سَمِيعٌ لِمَا أَقُولُ
لَكُمْ، حَافِظٌ لَهُ، وَهُوَ الْمُجَازِي لِي عَلَى صِدْقِي فِي ذَلِكَ، وَذَلِكَ
مِنِّي غَيْرُ بَعِيدٍ، فَيَتَعَذَّرُ عَلَيْهِ سَمَاعُ مَا أَقُولُ لَكُمْ، وَمَا
تَقُولُونَ، وَمَا يَقُولُهُ غَيْرُنَا، وَلَكِنَّهُ قَرِيبٌ مِنْ كُلِّ
مُتَكَلِّمٍ، يَسْمَعُ كُلَّ مَا يَنْطِقُ بِهِ، أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ
الْوَرِيدِ".
"Sesungguhnya Tuhanku Maha Mendengar apa
yang aku katakan kepada kalian, menjaganya, dan Dia akan membalas kejujuranku
dalam hal itu. Dia tidak jauh dariku sehingga mustahil bagi-Nya untuk mendengar
apa yang aku katakan kepada kalian, apa yang kalian katakan, dan apa yang
dikatakan oleh selain kita. Akan tetapi, Dia dekat dengan setiap orang yang
berbicara. Dia mendengar setiap ucapan yang diucapkannya. Dia lebih dekat
kepadanya daripada urat lehernya."
===
DALIL
KE ENAM:
Firman Allah Ta’ala:
﴿وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ
رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ﴾
“Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut
dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah dekat kepada orang-orang yang
berbuat ihsan.” (QS. Al-A’raf: 56).
Pada ayat ini, kita melihat bahwa sifat “dekat
(الْقُرْبِ)”
dinisbatkan kepada rahmat, bukan kepada Allah. Namun demikian, kata ﴿قَرِيبٌ﴾ (dekat) tidak menggunakan
huruf ta’ (menjadi “قَرِيبَةٌ”), meskipun kata “rahmat” berbentuk mu’annats.
Lalu bagaimana ayat ini dapat dijadikan
dalil tentang dekatnya Allah Ta’ala?
Ibnul Qayyim menjawab:
".. فَفِي حَذْفِ التَّاءِ هَهُنَا
تَنْبِيهٌ عَلَى هَذِهِ الْفَائِدَةِ الْعَظِيمَةِ الْجَلِيلَةِ، وَأَنَّ اللَّهَ
تَعَالَى قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ، وَذَلِكَ يَسْتَلْزِمُ الْقُرْبَيْنِ:
قُرْبَهُ وَقُرْبَ رَحْمَتِهِ، وَلَوْ قَالَ: (إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبَةٌ
مِنَ الْمُحْسِنِينَ)، لَمْ يَدُلَّ عَلَى قُرْبِهِ تَعَالَى مِنْهُمْ؛ لِأَنَّ
قُرْبَهُ تَعَالَى أَخَصُّ مِنْ قُرْبِ رَحْمَتِهِ، وَالْأَعَمُّ لَا يَسْتَلْزِمُ
الْأَخَصَّ بِخِلَافِ قُرْبِهِ".
“Dihilangkannya huruf ta’ di sini merupakan
isyarat kepada faedah yang sangat agung, yaitu bahwa Allah Ta’ala dekat dengan
orang-orang yang berbuat ihsan. Hal ini mengandung dua macam kedekatan
sekaligus: kedekatan Allah dan kedekatan rahmat-Nya. Seandainya Allah berfirman,
‘Sesungguhnya rahmat Allah dekat (قَرِيبَةٌ) kepada orang-orang yang berbuat ihsan,’
maka ayat itu tidak akan menunjukkan kedekatan Allah dengan mereka, karena
kedekatan Allah lebih khusus daripada kedekatan rahmat-Nya. Sesuatu yang
bersifat umum tidak mengharuskan adanya sesuatu yang lebih khusus, berbeda
halnya dengan kedekatan Allah.”
Demikianlah dalil-dalil terpenting dari
Al-Qur’an yang berkaitan dengan penetapan sifat dekat (الْقُرْبِ) bagi Allah. Adapun dalil-dalil dari Sunnah Nabi akan dibahas
pada kesempatan berikutnya.
====
DALIL
KE TUJUH:
Hadits Abu Musa Al-Asy’ari:
أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ لَمَّا سَمِعَ
أَصْحَابَهُ رَفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالتَّكْبِيرِ، قَالَ ﷺ: «أَرْبِعُوا عَلَى
أَنْفُسِكُمْ، فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا، إِنَّمَا تَدْعُونَ
سَمِيعًا بَصِيرًا، إِنَّ الَّذِي تَدْعُونَ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ
عُنُقِ رَاحِلَتِهِ».
Sesungguhnya ketika Nabi ﷺ
mendengar para sahabat mengeraskan suara mereka saat bertakbir, beliau ﷺ
bersabda:
"Pelankanlah suara kalian. Sesungguhnya
kalian tidak sedang berdoa kepada Dzat yang tuli dan tidak pula kepada Dzat
yang jauh. Sesungguhnya kalian berdoa kepada Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha
Melihat. Sesungguhnya Dzat yang kalian seru itu lebih dekat kepada salah
seorang di antara kalian daripada leher tunggangannya."
Lafadz riwayat lain dari Abu Musa
al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu :
كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي غَزَاةٍ،
فَجَعَلْنَا لَا نَصْعَدُ شَرَفًا، وَلَا نَعْلُو شَرَفًا، وَلَا نَهْبِطُ فِي
وَادٍ، إِلَّا رَفَعْنَا أَصْوَاتَنَا بِالتَّكْبِيرِ.
قَالَ: فَدَنَا مِنَّا رَسُولُ اللهِ
ﷺ فَقَالَ: «أَيُّهَا النَّاسُ، ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ؛ فَإِنَّكُمْ مَا
تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا، إِنَّمَا تَدْعُونَ سَمِيعًا بَصِيرًا، إِنَّ
الَّذِي تَدْعُونَ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ.
يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ قَيْسٍ، أَلَا
أُعَلِّمُكَ كَلِمَةً مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ؟ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ».
“Kami pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam
suatu peperangan. Maka setiap kali kami naik tempat yang tinggi, atau menaiki
suatu ketinggian, atau turun ke lembah, kami mengeraskan suara dengan takbir.
Rasulullah ﷺ pun mendekati kami dan bersabda:
“Wahai manusia, tenangkanlah diri kalian
(pelankan suara kalian)! Sesungguhnya kalian tidak sedang menyeru Dzat yang
tuli atau yang gaib. Sesungguhnya kalian menyeru Dzat Yang Maha Mendengar lagi
Maha Melihat. Sesungguhnya Dzat yang kalian seru itu lebih dekat kepada
salah seorang dari kalian daripada leher hewan kendaraannya.
Wahai Abdullah bin Qais, maukah aku ajarkan
kepadamu sebuah kalimat dari perbendaharaan surga?
La ḥaula wa lā quwwata illā billāh (Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).’”
[HR. Ahmad dalam al-Musnad 32/374 no. 19599]
Syu’aib al-Arna’uth beserta para pentahqiq
al-Musnad berkata :
"إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ
الشَّيْخَيْنِ. خَالِدُ الحَذَّاءُ: هُوَ ابْنُ مِهْرَانَ، وَأَبُو عُثْمَانَ
النَّهْدِيُّ: هُوَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنَ مَلٍّ. وَأَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ
فِي "الأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ" (٣٨٩) مِنْ طَرِيقِ الإِمَامِ أَحْمَدَ،
بِهٰذَا الإِسْنَادِ".
“Sanadnya sahih sesuai dengan syarat
Al-Bukhari dan Muslim. Khalid Al-Hadzdza’: adalah Ibnu Mehran, dan Abu Utsman An-Nahdi:
adalah Abdurrahman bin Mal. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam
kitab *Al-Asma’ wa Ash-Shifat* (hal. 389) melalui jalur Imam Ahmad dengan sanad
ini”.
Hadits ini diriwayatkan secara lengkap dan
ringkas oleh Muslim (2704) (46), An-Nasa’i dalam *As-Sunan Al-Kubra* (7680),
Ath-Thabarani dalam *Ad-Du‘a* (1671), Al-Lalikai (683) (684), serta Al-Baihaqi
dalam *Al-Asma’ wa Ash-Shifat* (70) dan *Ad-Da‘awat* (266) melalui jalur ‘Abdul
Wahhab, dengan sanad tersebut.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari
(6610), An-Nasa’i dalam *Al-Kubra* (7681), Abu ‘Awanah (sebagaimana dalam
*Ithaf Al-Maharah* 10/41), Abu Nu‘aim dalam *Al-Hilyah* 8/186, dan Al-Baihaqi
dalam *Al-Asma’ wa Ash-Shifat* (928) dan *Syu‘ab Al-Iman* (662) dari dua jalur
melalui Khalid Al-Hadzdza’, dengan sanad tersebut.
Abu Nu‘aim berkata:
هٰذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ مُتَّفَقٌ
عَلَيْهِ
“Ini adalah Hadits sahih yang disepakati
(kesahihannya).”
Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallah ‘anhu, ia
berkata:
لَمَّا غَزَا رَسولُ اللَّهِ ﷺ
خَيْبَرَ -أوْ قالَ: لَمَّا تَوَجَّهَ رَسولُ اللَّهِ ﷺ أشْرَفَ النَّاسُ علَى
وادٍ، فَرَفَعُوا أصْوَاتَهُمْ بالتَّكْبِيرِ: اللَّهُ أكْبَرُ اللَّهُ أكْبَرُ،
لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، فَقالَ رَسولُ اللَّهِ ﷺ: ارْبَعُوا علَى أنْفُسِكُمْ؛
إنَّكُمْ لا تَدْعُونَ أصَمَّ ولَا غَائِبًا؛ إنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا
قَرِيبًا وهو معكُمْ.
وأَنَا خَلْفَ دَابَّةِ رَسولِ
اللَّهِ ﷺ، فَسَمِعَنِي وأَنَا أقُولُ: لا حَوْلَ ولَا قُوَّةَ إلَّا باللَّهِ،
فَقالَ لِي: يا عَبْدَ اللَّهِ بنَ قَيْسٍ. قُلتُ: لَبَّيْكَ يا رَسولَ اللَّهِ،
قالَ: ألَا أدُلُّكَ علَى كَلِمَةٍ مِن كَنْزٍ مِن كُنُوزِ الجَنَّةِ؟ قُلتُ:
بَلَى يا رَسولَ اللَّهِ، فَدَاكَ أبِي وأُمِّي، قالَ: لا حَوْلَ ولَا قُوَّةَ
إلَّا باللَّهِ.
Ketika Rasulullah ﷺ berangkat ke perang Khaibar – atau dia berkata:
ketika Rasulullah ﷺ sedang dalam perjalanan – orang-orang melihat ke arah sebuah
lembah, lalu mereka mengeraskan suara mereka dengan takbir: “Allahu akbar,
Allahu akbar, la ilaha illallah”.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Tenangkanlah diri kalian, karena sesungguhnya
kalian tidak sedang menyeru Dzat yang tuli atau gaib. Sesungguhnya kalian
sedang menyeru Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat, dan Dia bersama kalian”.
Aku (Abu Musa) berada di belakang tunggangan
Rasulullah ﷺ, lalu beliau mendengarku saat aku mengucapkan: “la hawla wa la quwwata
illa billah”.
Maka beliau berkata kepadaku: “Wahai
Abdullah bin Qais”.
Aku menjawab: labbaik ya Rasulullah.
Beliau bersabda: “Maukah aku tunjukkan
kepadamu sebuah kalimat dari perbendaharaan surga?”.
Aku menjawab: tentu, wahai Rasulullah, semoga
ayah dan ibuku menjadi tebusan bagimu.
Beliau ﷺ bersabda: “la hawla wa la quwwata illa billah”.
[HR. Bukhori no. 4205 dan Muslim no. 2704]
Namun Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim
17/26 menjelaskan :
«ارْبَعُوا»: مَعْنَاهُ ارْفُقُوا
بِأَنْفُسِكُمْ، وَاخْفِضُوا أَصْوَاتَكُمْ، فَإِنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ إِنَّمَا
يَفْعَلُهُ الْإِنْسَانُ لِبُعْدِ مَنْ يُخَاطِبُهُ لِيُسْمِعَهُ، وَأَنْتُمْ
تَدْعُونَ اللهَ تَعَالَى، وَلَيْسَ هُوَ بِأَصَمَّ وَلَا غَائِبٍ، بَلْ هُوَ
سَمِيعٌ قَرِيبٌ، وَهُوَ مَعَكُمْ بِالْعِلْمِ وَالْإِحَاطَةِ، فَفِيهِ النَّدْبُ
إِلَى خَفْضِ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ إِذَا لَمْ تَدْعُ حَاجَةٌ إِلَى رَفْعِهِ،
فَإِنَّهُ إِذَا خَفَضَهُ كَانَ أَبْلَغَ فِي تَوْقِيرِهِ وَتَعْظِيمِهِ، فَإِنْ
دَعَتْ حَاجَةٌ إِلَى الرَّفْعِ رَفَعَ، كَمَا جَاءَتْ بِهِ أَحَادِيثُ.
وَقَوْلُهُ ﷺ فِي هَذِهِ الرِّوَايَةِ الْأُخْرَى: الَّذِي تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ
إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَةِ أَحَدِكُمْ، هُوَ بِمَعْنَى مَا سَبَقَ،
وَحَاصِلُهُ أَنَّهُ مَجَازٌ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ
حَبْلِ الْوَرِيدِ﴾، وَالْمُرَادُ تَحْقِيقُ سَمَاعِ الدُّعَاءِ".
"'Irba’uu (ارْبَعُوْا) : maknanya adalah: bersikaplah lemah lembut terhadap diri
kalian, dan rendahkanlah suara kalian, karena meninggikan suara biasanya
dilakukan seseorang ketika berbicara dengan orang yang jauh agar bisa
mendengarnya. Sedangkan kalian sedang berdoa kepada Allah Ta‘ala, dan Dia
bukanlah Dzat yang tuli dan bukan pula yang gaib, bahkan Dia Maha Mendengar dan
Maha Dekat, dan Dia bersama kalian dengan ilmu dan pengawasan-Nya.
Hadits ini menunjukkan anjuran untuk
merendahkan suara dalam berzikir jika tidak ada kebutuhan untuk meninggikannya.
Karena jika direndahkan, itu lebih menunjukkan pengagungan dan pemuliaan
terhadap-Nya. Namun jika ada kebutuhan untuk mengeraskan suara, maka boleh
dikeraskan, sebagaimana telah datang dalam beberapa Hadits.
Adapun sabda Rasulullah ﷺ dalam
riwayat lain: 'Dan sesungguhnya Dzat yang kalian seru lebih dekat
kepada salah seorang dari kalian daripada leher hewan kendaraannya', itu
memiliki makna seperti sebelumnya, dan kesimpulannya adalah bahwa itu merupakan
ungkapan majaz, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
"Dan Kami lebih dekat kepadanya
daripada urat lehernya" (Qaf: 16),
Yang dimaksud adalah penegasan bahwa Allah
mendengar doa. [SELESAI]
===
DALIL
KE DELAPAN:
Hati para anak cucu Adam berada diantara dua
jari dari jari-jari ar-Rahman. Sebagaimana dalam hadits Abdullah bin ‘Amr
radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda :
«إنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بيْنَ
إِصْبَعَيْنِ مِن أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ، كَقَلْبٍ وَاحِدٍ، يُصَرِّفُهُ حَيْثُ
يَشَاءُ، ثُمَّ قالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوبِ صَرِّفْ
قُلُوبَنَا علَى طَاعَتِكَ».
“Sesungguhnya hati seluruh anak Adam berada di
antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman, seperti satu hati, Dia
membolak-balikannya ke arah mana saja yang Dia kehendaki. Kemudian Rasulullah ﷺ
bersabda: "Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, arahkanlah hati
kami kepada ketaatan kepada-Mu." [HR. Muslim no. 2654]
****
ALLAH MAHA TINGGI, NAMUN DIA MAHA BESAR MAKA DIA MAHA DEKAT.
Allah SWT berfirman:
﴿عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ
الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِ﴾
“Dia yang mengetahui semua yang ghaib dan
yang nampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi”. [QS.
Ar-Raad: 9]
Dan Allah SWT berfirman:
﴿وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ﴾
“Bumi semuanya dalam genggaman-Nya pada hari
kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya”. [QS. Az-Zumar: 67]
Dan Allah SWT berfirman:
﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي
قَرِيبٌ﴾
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu
tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat”. [QS. Al-Baqarah:
186]].
Makna Allah Maha Besar [اللَّهُ أكْبَر]:
اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
أَكْبَرُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ فِي هَذَا الْوُجُودِ، وَأَعْظَمُ وَأَجَلُّ وَأَعَزُّ
وَأَعْلَى مِنْ كُلِّ مَا يَخْطُرُ بِالْبَالِ أَوْ يَتَصَوَّرُهُ الْخَيَالُ.
“Allah SWT lebih besar dari segala
sesuatu di alam ini, dan lebih agung, lebih mulia, lebih berharga, dan lebih
tinggi dari segala yang terlintas dalam benak atau dibayangkan oleh khayalan”.
عِبَارَةُ «اللّٰهُ أَكْبَرْ»،
لِلدَّلَالَةِ عَلَى أَنَّ اللَّهَ أَعْظَمُ وَأَكْبَرُ مِنْ أَيِّ شَيْءٍ فِي
الْكَوْنِ.
“Ungkapan "Allah Akbar" menunjukkan
bahwa Allah lebih agung dan lebih besar dari segala sesuatu di alam semesta”.
Wajib meyakini bahwa Allah 'Azza wa Jalla
lebih besar daripada segala sesuatu. Hal ini ditunjukkan oleh riwayat yang
dibawakan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Mushannaf-nya 6/23 no. 29177 secara
mauquf dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata:
إِذَا أَتَيْتَ سُلْطَانًا مَهِيبًا
تَخَافُ أَنْ يَسْطُوَ عَلَيْكَ، فَقُلْ: «اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَعَزُّ
مِنْ خَلْقِهِ جَمِيعًا، اللَّهُ أَعَزُّ مِمَّا أَخَافُ وَأَحْذَرُ، أَعُوذُ
بِاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ
أَنْ يَقَعْنَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ، مِنْ شَرِّ عَبْدِكَ فُلَانٍ
وَجُنُودِهِ وَأَتْبَاعِهِ وَأَشْيَاعِهِ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ، اللَّهُمَّ
كُنْ لِي جَارًا مِنْ شَرِّهِمْ، جَلَّ ثَنَاؤُكَ وَعَزَّ جَارُكَ وَتَبَارَكَ
اسْمُكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ» ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
"Apabila engkau mendatangi seorang
penguasa yang berwibawa dan engkau khawatir ia akan berbuat sewenang-wenang
terhadapmu, maka ucapkanlah:
"Allah Mahabesar. Allah lebih perkasa
daripada seluruh makhluk-Nya. Allah lebih mulia dan lebih kuat daripada segala
sesuatu yang aku takutkan dan aku waspadai. Aku berlindung kepada Allah yang
tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang menahan tujuh langit
agar tidak jatuh ke bumi kecuali dengan izin-Nya, dari kejahatan si fulan,
hamba-Mu, beserta bala tentaranya, para pengikutnya, dan kelompoknya dari
kalangan jin dan manusia. Ya Allah, jadilah Engkau pelindungku dari kejahatan
mereka. Mahatinggi pujian-Mu, Mahamulia perlindungan-Mu, Mahaberkah nama-Mu,
dan tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau."
Dibaca sebanyak tiga kali. [Selesai]
[Diriwayatkan pula oleh Al-Bukhari dalam
Al-Adab Al-Mufrad no. 709, Ibnu Abi Syaibah no. 29177, Abu Nu'aim Al-Ashbahani
dalam Hilyat Al-Auliya' 1/322, dan Ath-Thabarani no. 10599.]
Al-Haitsami dalam Majma' Az-Zawa'id 10/137
berkata:
رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ،
وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيحِ.
"Riwayat ini diriwayatkan oleh
Ath-Thabarani, dan para perawinya adalah para perawi kitab Shahih."
Syaikh Al-Ghunaiman juga menjelaskan dalam
Syarh Al-'Aqidah Al-Wasithiyyah 4/13:
يَجِبُ أَنْ يَعْلَمَ الْعَبْدُ
أَنَّ اللَّهَ أَكْبَرُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، وَالسَّمَاوَاتُ عَلَى سَعَتِهَا
يَقْبِضُهَا رَبُّنَا جَلَّ وَعَلَا بِيَدِهِ، وَيَطْوِيهَا بِيَمِينِهِ، وَتَكُونُ
حَقِيرَةً صَغِيرَةً لَيْسَتْ شَيْئًا بِالنِّسْبَةِ إِلَيْهِ، فَكَيْفَ
يُتَصَوَّرُ أَنْ شَيْئًا مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ يَكُونُ أَكْبَرَ مِنْهُ تَعَالَى
وَتَقَدَّسَ؟! وَلِهَذَا شُرِعَ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَقُولَ: اللَّهُ أَكْبَرُ
عِنْدَمَا يَرَى شَيْئًا عَظِيمًا، أَوْ إِذَا ارْتَفَعَ عَلَى مُرْتَفَعٍ، أَوْ
غَيْرِ ذَلِكَ؛ لِأَنَّ اللَّهَ أَكْبَرُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ. اهـ.
"Seorang hamba wajib mengetahui bahwa
Allah lebih besar daripada segala sesuatu. Langit-langit yang demikian luas,
semuanya digenggam oleh Rabb kita Jalla wa 'Ala dengan tangan-Nya dan dilipat
dengan tangan kanan-Nya. Langit-langit itu menjadi sangat kecil dan tidak
berarti sedikit pun dibandingkan dengan-Nya. Maka bagaimana mungkin dapat
dibayangkan bahwa ada sesuatu dari makhluk yang lebih besar daripada Allah Yang
Mahatinggi dan Mahasuci?
Oleh karena itu, disyariatkan bagi seseorang
untuk mengucapkan, 'Allahu Akbar,' ketika melihat sesuatu yang besar, atau
ketika naik ke tempat yang tinggi, atau dalam keadaan lainnya, karena Allah
lebih besar daripada segala sesuatu." [Selesai]
Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan dalam Syarh
Al-'Aqidah Al-Wasithiyyah 1/359:
وَقَوْلُهُ: ﴿وَكَبِّرْهُ
تَكْبِيرًا﴾، يَعْنِي: كَبِّرِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ تَكْبِيرًا، بِلِسَانِكَ
وَجَنَانِكَ. اعْتَقِدْ فِي قَلْبِكَ أَنَّ اللَّهَ أَكْبَرُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ،
وَأَنَّ لَهُ الْكِبْرِيَاءَ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَكَذَلِكَ
بِلِسَانِكَ تُكَبِّرُهُ، تَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ! وَكَانَ مِنْ هَدْيِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابِهِ أَنَّهُمْ يُكَبِّرُونَ
كُلَّمَا عَلَوْا نَشَزًا، أَيْ: مُرْتَفَعًا، وَهَذَا فِي السَّفَرِ؛ لِأَنَّ
الْإِنْسَانَ إِذَا عَلَا فِي مَكَانِهِ، قَدْ يَشْعُرُ فِي قَلْبِهِ أَنَّهُ
مُسْتَعْلٍ عَلَى غَيْرِهِ، فَيَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، مِنْ أَجْلِ أَنْ
يُخَفِّفَ تِلْكَ الْعُلُوَّ الَّذِي شَعَرَ بِهِ حِينَ عَلَا وَارْتَفَعَ.
وَكَانُوا إِذَا هَبَطُوا، قَالُوا: سُبْحَانَ اللَّهِ؛ لِأَنَّ النُّزُولَ
سُفُولٌ، فَيَقُولُ: سُبْحَانَ اللَّهِ، أَيْ: أُنَزِّهُهُ عَنِ السُّفُولِ
الَّذِي أَنَا الْآنَ فِيهِ. وَقَوْلُهُ: ﴿تَكْبِيرًا﴾ هَذَا مَصْدَرٌ مُؤَكَّدٌ،
يُرَادُ بِهِ التَّعْظِيمُ، أَيْ: كَبِّرْهُ تَكْبِيرًا عَظِيمًا. اهـ.
"Firman Allah, 'Dan maha besarkanlah Dia
dengan pemaha besaran yang sebesar-besarnya' (وَكَبِّرْهُ
تَكْبِيرًا), maksudnya adalah maha besarkanlah Allah
'Azza wa Jalla dengan sebenar-benarnya; baik dengan lisan maupun dengan hati.
Yakini dalam hatimu bahwa Allah lebih besar daripada segala sesuatu, dan bahwa
hanya Dia yang memiliki kebesaran di langit dan di bumi. Demikian pula dengan
lisanmu, hendaklah engkau memaha besarkan-Nya dengan mengucapkan, 'Allahu
Akbar!'
Termasuk petunjuk Nabi ﷺ dan
para sahabatnya adalah mereka bertakbir setiap kali menaiki tempat yang tinggi
ketika bepergian. Hal ini karena seseorang yang berada di tempat tinggi
terkadang merasakan dalam dirinya semacam perasaan lebih tinggi daripada yang
lain. Oleh sebab itu ia mengucapkan, 'Allahu Akbar,' agar perasaan tinggi
tersebut menjadi hilang, karena Allah-lah Yang Mahabesar.
Sebaliknya, apabila mereka menuruni suatu
tempat, mereka mengucapkan, 'Subhanallah,' karena turun merupakan keadaan yang
rendah. Maka ia berkata, 'Subhanallah,' yakni aku menyucikan Allah dari segala
sifat rendah sebagaimana keadaan yang sedang aku alami sekarang.
Firman-Nya, 'takbiran' (تَكْبِيرًا),
merupakan mashdar yang berfungsi sebagai penegasan, yang menunjukkan makna
pemaha besaran yang sangat besar." [Selesai]
Abu Dzar Al-Ghafari radhiyallahu 'anhu
meriwayatkan: bahwa Nabi ﷺ bersabda :
«مَا السَّمَاوَاتُ السَّبعُ فِي
الْكُرْسِيِّ إِلَّا كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْضِ فَلَاةٍ، وَفَضْلُ الْعَرْشِ
عَلَى الْكُرْسِيِّ كَفَضْلِ تِلْكَ الْفَلَاةِ عَلَى تِلْكَ الْحَلْقَةِ».
“Perumpamaan langit yang
tujuh dibandingkan dengan Kursi seperti cincin yang
dilemparkan di padang sahara yang luas.
Dan kelebihan (keunggulan) ‘Arsy atas
Kursi seperti kelebihan (keunggulan) padang sahara yang luas itu atas
cincin tersebut.”
[HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Kitaabul ‘Arsy no.
58 , Ibnu Hibban n0. 361 , al-Baihaqi dalam al-Asmaa wa ash-Shifaat no. 861 dan
Abu Naim dalam ((Hilyat Al-Awliya’) (1/167) secara panjang lebar dari Sahabat
Abu Dzarr al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu .
Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari 13/411 berkata:
وَلَهُ شَاهِدٌ عَنْ مُجَاهِدٍ
أَخْرَجَهُ سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ فِي التَّفْسِيرِ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ عَنْهُ.
"Hadits ini memiliki syahid (penguat)
dari Mujahid yang diriwayatkan oleh Sa'id bin Manshur dalam kitab Tafsir-nya
dengan sanad yang sahih sampai kepada Mujahid."
Dishahihkan oleh
Ibnu al-Qoyyim dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam
Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (I/223 no. 109) dan التَّعْلِيقُ عَلَى
الطَّحَاوِيَّةِ no. 36.
Al-Albani berkata:
وَجُمْلَةُ الْقَوْلِ أَنَّ
الْحَدِيثَ بِهَذِهِ الطُّرُقِ صَحِيحٌ. اهـ.
"Kesimpulannya, Hadits ini dengan seluruh
jalurnya adalah sahih."
Dan yang sudah maklum adanya adalah :
أَنَّ الرَّقْمَ سَبْعَةَ عِنْدَ
الْعَرَبِ يُفِيدُ الْكَثْرَةَ وَلَا يَتَحَدَّدُ فَقَطْ بِالسَّبْعَةِ عَدَدًا.
Bahwa : "ANGKA TUJUH di kalangan orang
Arab menunjukkan banyak melimpah dan tidak terbatas pada tujuh angka saja"
. [ Lihat : مُقَارَنَةٌ
بَيْنَ الْوَصْفِ النَّبَوِيِّ وَتَصَوُّرِ عُلَمَاءِ الْفَضَاءِ لِلْكَوْنِ. oleh : Prof. DR. Mohammad Farsyoukh].
Ahlus Sunnah menetapkan bahwa ketinggian Allah
Ta’ala di atas Arsy dan seluruh makhluk-Nya berarti bahwa Dia Subhanahu wa
Ta’ala benar-benar berada di atas seluruh makhluk, di atas langit, di atas
surga, dan di atas Arsy. Dan bahwa Dia Subhanahu wa Ta’ala tidak dilingkupi
oleh makhluk apa pun, tidak membutuhkan sesuatu pun dari makhluk-Nya, bahkan
Dialah Pencipta dan Pemelihara mereka.
Adapun nash-nash yang menyebutkan bahwa Allah
“di langit”, maka maksudnya adalah bahwa Dia Subhanahu Maha Tinggi di atas
makhluk-Nya, bukan berarti bahwa langit mencakup-Nya atau meliputi-Nya. Karena
yang dimaksud dengan "langit" dalam konteks ini adalah makna ketinggian,
bukan langit yang diciptakan. Atau dapat pula dikatakan bahwa huruf *fi* (di
dalam) dalam ayat itu bermakna “ala” (di atas), yakni: “di atas langit.”
Permisalan : ketika seseorang menunjuk arah
ketinggian dengan jarinya ke atas atau ke langit saat, maka itu pada hakikatnya
makna tinggi itu adalah menjauh terpisah dari bumi. Karena bumi itu bulat,
bukan datar.
Jadi ketika seseorang mengatakan Allah diatas
sambil menunjukkan jarinya ke atas, maka maksudnya adalah bahwa Allah SWT
terpisah dari alam semesta alias terpisah dari seluruh makhluknya, yakni ;
tidak menyatu dengan-nya. Sementara makhluk Allah yang terbesar adalah ‘Arasy.
Ada seorang pastur kristen di Menado yang
masuk Islam, dia menulis sebuah karya tulis. Dia menulis di cover bukunya
sebuah ungkapan seperti ini :
“Belum pernah ada seorang tukang kayu
pengrajin bikin meja dan kursi bisa berubah menjadi meja dan kursi atau menyatu
dengan salah satunya. Begitu juga dengan Allah Sang Pencipta Manusia, tidaklah
mungkin berubah menjadi Yesus atau menyatu dengan-nya”.
Tidaklah mengapa membayangkan Kursi dan 'Arsy,
karena keduanya merupakan makhluk Allah Ta'ala yang memang disyariatkan untuk
dipikirkan sebagai bagian dari perenungan terhadap kebesaran ciptaan-Nya.
Dalam kitab “Dalil Al-Falihin li Thuruq
Riyadh Ash-Shalihin” 2/293 disebutkan pada pembahasan tentang tafakur:
بَابٌ فِي التَّفَكُّرِ، أَيْ:
إِجَالَةِ الْفِكْرِ فِي عَظِيمِ مَخْلُوقَاتِ اللَّهِ تَعَالَى كَالْعَرْشِ
وَالْكُرْسِيِّ وَالسَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، فَفِي الْحَدِيثِ: مَا السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ
وَمَا بَيْنَهُمَا فِي الْعَرْشِ إِلَّا كَحَلْقَةٍ أُلْقِيَتْ فِي فَلَاةٍ مِنَ
الْأَرْضِ. اهـ.
"Bab tentang tafakur, yaitu mengarahkan
pikiran untuk merenungkan kebesaran makhluk-makhluk Allah Ta'ala seperti 'Arsy,
Kursi, langit, dan bumi. Dalam sebuah Hadits disebutkan:
'Langit, bumi, dan apa yang ada di antara
keduanya dibandingkan dengan 'Arsy hanyalah seperti sebuah cincin yang
dilemparkan ke sebuah padang pasir yang luas.'" [Selesai]
****
ALLAH MAHA BESAR, ALAM SEMESTA DALAM GENGGAMANNYA
Kelalk seluruh gugusan galaxy, bintang dan
planet dalam genggaman Allah SWT. Langit-langit dilipat dengan tangan
kanan-Nya.
Berikut ini sebagian dalilnya:
Dalil ke 1:
Allah SWT berfirman :
﴿وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ
وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ
مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ﴾
“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan
pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada
hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan
Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan”. [QS. Az-Zumar: 67]
Yang dimaksud BUMI di sini adalah seluruh
benda-benda padat dilangit : gugusan galaksi, planet, bintang, matahari dan
bulan.
Al-Imam al-Qurthuby dalam Tafsirnya 15/278
mengatakan :
وَالْمُرَادُ بِالْأَرْضِ
الْأَرَضُونَ السَّبْعُ، يَشْهَدُ لِذَلِكَ شَاهِدَانِ قَوْلُهُ:"
وَالْأَرْضُ جَمِيعاً" وَلِأَنَّ الْمَوْضِعَ مَوْضِعَ تَفْخِيمٍ وَهُوَ
مُقْتَضٍ لِلْمُبَالَغَةِ
Yang dimaksud dengan “bumi” adalah tujuh lapis
bumi. Hal itu didukung oleh dua dalil: pertama, firman-Nya: “dan bumi
seluruhnya”; dan karena konteks ayat tersebut adalah dalam rangka pengagungan,
yang menuntut adanya penekanan yang kuat.
Dan yang sudah maklum adanya adalah :
أَنَّ الرَّقْمَ سَبْعَةَ عِنْدَ
الْعَرَبِ يُفِيدُ الْكَثْرَةَ وَلَا يَتَحَدَّدُ فَقَطْ بِالسَّبْعَةِ عَدَدًا.
Bahwa : "ANGKA TUJUH di kalangan orang
Arab menunjukkan banyak melimpah dan tidak terbatas pada tujuh angka saja"
. [ Lihat : مُقَارَنَةٌ
بَيْنَ الْوَصْفِ النَّبَوِيِّ وَتَصَوُّرِ عُلَمَاءِ الْفَضَاءِ لِلْكَوْنِ. oleh : Prof. DR. Mohammad Farsyoukh].
Dalil ke 2:
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma,
ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«يَطْوِي اللهُ عَزَّ وَجَلَّ السَّمَاوَاتِ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ، ثُمَّ يَأْخُذُهُنَّ بِيَدِهِ الْيُمْنَى، ثُمَّ
يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ الْجَبَّارُونَ؟ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ.
ثُمَّ يَطْوِي الْأَرَضِينَ بِشِمَالِهِ، ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ
الْجَبَّارُونَ؟ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ؟»
“Allah ‘Azza wa Jalla melipat langit-langit
pada hari kiamat, kemudian menggenggamnya dengan tangan kanan-Nya, lalu
berfirman: ‘Akulah Raja, di mana orang-orang yang sombong? Di mana orang-orang
yang angkuh?’
Kemudian Dia melipat planet-planet dengan
tangan kiri-Nya, lalu berfirman: ‘Akulah Raja, di mana orang-orang yang
sombong? Di mana orang-orang yang angkuh?’”
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (7412) dan
Muslim (2788)].
Dalil ke 3:
Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
bahwa Rasulullah ﷺ bersabda :
«يَقْبِضُ اللَّهُ الأرْضَ يَومَ القِيامَةِ،
ويَطْوِي السَّماءَ بيَمِينِهِ، ثُمَّ يقولُ: أنا المَلِكُ أيْنَ مُلُوكُ
الأرْضِ».
Allah menggenggam bumi pada hari kiamat, dan
melipat langit dengan tangan kanan-Nya, lalu berfirman: “Akulah Raja. Di mana
para raja bumi?”
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (7382) dan
Muslim (2787)].
Dalil ke 4:
Dan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu
‘anhu :
جَاءَ حَبْرٌ مِنَ الْيَهُودِ إِلَى
رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَقَالَ: إِنَّهُ إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ جَعَلَ اللهُ
السَّمَاوَاتِ عَلَى أُصْبُعٍ، وَالْأَرْضِينَ عَلَى أُصْبُعٍ، وَالْجِبَالَ
وَالشَّجَرَ عَلَى أُصْبُعٍ، وَالْمَاءَ وَالثَّرَى عَلَى أُصْبُعٍ،
وَالْخَلَائِقَ كُلَّهَا عَلَى أُصْبُعٍ، ثُمَّ يَهُزُّهُنَّ، ثُمَّ يَقُولُ:
أَنَا الْمَلِكُ، أَنَا الْمَلِكُ.
قَالَ: فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ
اللهِ ﷺ ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ، تَعَجُّبًا لَهُ، وَتَصْدِيقًا لَهُ،
ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: ﴿وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ
جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ﴾
Seorang rahib Yahudi datang
kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata:
“Sesungguhnya apabila hari kiamat terjadi,
Allah akan meletakkan langit-langit di atas satu jari, planet-planet di atas
satu jari, gunung-gunung dan pepohonan di atas satu jari, air dan tanah liat di
atas satu jari, dan seluruh makhluk di atas satu jari, lalu Dia mengguncangnya
semuanya, kemudian berfirman: ‘Akulah Raja, Akulah Raja.’”
Rasulullah ﷺ pun tertawa hingga tampak gigi gerahamnya, karena takjub
kepadanya dan membenarkannya. Lalu Rasulullah ﷺ membaca:
﴿وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ
وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ
مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ﴾
("Mereka tidak mengagungkan Allah
sebagaimana mestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari
kiamat dan langit-langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan
Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan.") [QS. Az-Zumar: 67].
[Di kutip dari kitab at-Tauhid karya Ibnu
Khuzaimah 1/184. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (7451) dan Muslim (2786) dengan
sedikit perbedaan redaksi].
Dalil ke 6:
Hati para anak cucu Adam berada diantara dua
jari dari jari-jari ar-Rahman. Sebagaimana dalam hadits Abdullah bin ‘Amr
radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda :
«إنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بيْنَ
إِصْبَعَيْنِ مِن أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ، كَقَلْبٍ وَاحِدٍ، يُصَرِّفُهُ حَيْثُ
يَشَاءُ، ثُمَّ قالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوبِ صَرِّفْ
قُلُوبَنَا علَى طَاعَتِكَ».
“Sesungguhnya hati seluruh anak Adam berada di
antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman, seperti satu hati, Dia membolak-balikannya
ke arah mana saja yang Dia kehendaki. Kemudian Rasulullah ﷺ
bersabda: "Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, arahkanlah hati
kami kepada ketaatan kepada-Mu." [HR. Muslim no. 2654]
****
DIMANAPUN KALIAN BERADA, ALLAH DEKAT BERSAMA KALIAN
Allah SWT berfirman:
﴿هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ
فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ
وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ
مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ﴾
Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam
enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy. Dia mengetahui apa yang masuk
ke dalam bumi dan apa yang keluar dari bumi, dan apa yang turun dari langit dan
apa yang naik ke langit; dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.
Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu lakukan. [QS. Al-Hadid : 4]
Dari Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu 'anhu,
ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda,
«إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ إِيمَانِ الْمَرْءِ أَنْ
يَعْلَمَ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى مَعَهُ حَيْثُ كَانَ».
"Sesungguhnya termasuk keimanan seseorang
yang paling utama adalah ia mengetahui bahwa Allah Ta'ala bersamanya di mana
pun ia berada."
Takhrij:
Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam Hilyat
Al-Auliya' (6/124), Al-Baihaqi dalam Al-Asma' wa Ash-Shifat no. 907, ad-Dawlabi
dalam al-Kuna wal Asmaa 2/874 no. 1533, al-Laalaka’i dalam Syarah Ushul
al-I’tiqod no. 1686 dan al-Kalabadzi dalam Bahrul Fawa’id hal. 261.
Sanadnya di nilai Hasan oleh adh-Dhiyaa’ al-A’dzomi dalam al-Jami’ al-Kamil 1/341 dan oleh
Syeikh Sa’uud bin Abdul ‘Aziz Kholaf dalam Tahqiq kitab al-Intishor 3/751.
Namun didhaifkan oleh Al-Albani dalam
As-Silsilah Adh-Dha'ifah no. 2589.
Al-Haitsami berkata dalam Majma' Az-Zawa'id
(1/60) no. 204:
رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ
وَالْكَبِيرِ، وَقَالَ: تَفَرَّدَ بِهِ عُثْمَانُ بْنُ كَثِيرٍ. قُلْتُ: "وَلَمْ
أَرَ مَنْ ذَكَرَهُ بِثِقَةٍ وَلَا جَرْحٍ"
"Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam
Al-Awsath dan Al-Kabir. Beliau berkata, 'Hadis ini hanya diriwayatkan secara
menyendiri oleh Utsman bin Katsir.'"
Aku (Al-Haitsami) berkata, "Aku tidak
mendapati seorang pun yang menyebutkannya sebagai perawi yang tsiqah
(tepercaya), dan aku juga tidak mendapati seorang pun yang memberikan penilaian
jarh (kritik terhadapnya)."
Syeikh Sa’uud bin Abdul ‘Aziz Kholaf dalam
Tahqiq kitab al-Intishor 3/751 berkata:
وَأَخْرَجَهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ،
وَقَالَ: لَمْ يَرْوِهِ عَنْ عُرْوَةَ إِلَّا مُحَمَّدُ بْنُ مُهَاجِرٍ، تَفَرَّدَ
بِهِ عُثْمَانُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ كَثِيرٍ. (مُعْجَمُ الطَّبَرَانِيِّ الْأَوْسَطُ،
وَرَقَةُ ٤٢٩/أ، ج ٢، مُصَوَّرٌ فِي مَكْتَبَةِ الشَّيْخِ حَمَّادٍ الْأَنْصَارِيِّ).
وَالْحَدِيثُ رُوَاتُهُ ثِقَاتٌ، وَإِسْنَادُهُ
جَيِّدٌ، إِلَّا أَنَّ عُرْوَةَ بْنَ رُوَيْمٍ يُرْسِلُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ
غَنْمٍ. (انْظُرْ: التَّهْذِيبُ ٧/١٧٩).
Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath-Thabarani
dalam Al-Mu'jam Al-Awsath.
Beliau berkata: "Tidak ada yang
meriwayatkannya dari 'Urwah selain Muhammad bin Muhajir, dan yang
meriwayatkannya secara menyendiri dari Muhammad bin Muhajir adalah Utsman bin
Sa'id bin Katsir."
(Lihat: Al-Mu'jam Al-Awsath karya
Ath-Thabarani, lembar 429/A, jilid 2 (salinan foto yang tersimpan di
Perpustakaan Syaikh Hammad Al-Anshari).
Para perawi hadis ini adalah orang-orang yang
tsiqah (tepercaya), dan sanadnya berstatus jayyid (baik), hanya saja 'Urwah bin
Ruwaim meriwayatkan secara mursal dari Abdurrahman bin Ghanm. (Lihat:
At-Tahdzib, 7/179).
Imam As-Suyuthi berkata dalam Ad-Durr Al-Mantsur
(8/49):
أَخْرَجَ ابْنُ مَرْدَوَيْهِ، وَالْبَيْهَقِيُّ،
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ.
"Diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dan
Al-Baihaqi dari Ubadah bin Ash-Shamit."
Lihat juga: Kitab Al-Mushannaf fi Al-Ahadits
wa Al-Atsar karya Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah, terbitan Ad-Dar As-Salafiyyah,
India, tahqiq Mukhtar Ahmad An-Nadawi, cetakan pertama, 1400 H/1980 M, 12/195
dan 15/165.
Dan Lihat pula: Kanz Al-'Ummal no. 1339 dan
‘Uyun ar-Rosail 2/537.
Ibnu al-Qoyyim berkata:
وَالَّذِي يُسَهِّلُ عَلَيْكَ فَهْمَ
هَذَا: مَعْرِفَةُ عَظَمَةِ الرَّبِّ وَإِحَاطَتِهِ بِخَلْقِهِ وَأَنَّ السَّمَاوَاتِ
السَّبْعَ فِي يَدِهِ كَخَرْدَلَةٍ فِي يَدِ الْعَبْدِ، وَأَنَّهُ سُبْحَانَهُ يَقْبِضُ
السَّمَاوَاتِ بِيَدِهِ وَالْأَرْضَ بِيَدِهِ الْأُخْرَى ثُمَّ يَهُزُّهُنَّ، فَكَيْفَ
يَسْتَحِيلُ فِي حَقِّ مَنْ هَذَا بَعْضُ عَظَمَتِهِ. أَنْ يَكُونَ فَوْقَ عَرْشِهِ
وَيَقْرُبُ مِنْ خَلْقِهِ كَيْفَ شَاءَ وَهُوَ عَلَى الْعَرْشِ.
“Yang akan memudahkanmu memahami hal ini ialah
mengenal keagungan Rabb, keluasan kekuasaan-Nya yang meliputi seluruh makhluk,
serta bahwa tujuh langit di tangan-Nya hanyalah seperti sebutir biji sawi di
tangan seorang hamba.
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menggenggam langit-langit dengan satu tangan-Nya dan bumi dengan
tangan-Nya yang lain, kemudian mengguncangkannya.
Maka bagaimana mungkin dianggap mustahil bagi
Zat yang demikian agung untuk berada di atas ‘Arsy-Nya, namun pada saat yang
sama Dia dekat dengan makhluk-Nya sesuai dengan kehendak-Nya, sementara Dia
tetap berada di atas ‘Arsy?”
[Lihat: Mukhtaṣar Ash-Ṣhawā’iq Al-Mursalah, hlm. 483]
Dalam kitab Syarh Al-'Aqidah Al-Wasithiyyah,
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan berkata:
فَلَا يُقَالُ: إِذَا كَانَ فَوْقَ خَلْقِهِ
فَكَيْفَ يَكُونُ مَعَهُمْ؛ لِأَنَّ هَذَا السُّؤَالَ نَاشِئٌ عَنْ تَصَوُّرٍ خَاطِئٍ،
هُوَ قِيَاسُهُ سُبْحَانَهُ بِخَلْقِهِ، وَهَذَا قِيَاسٌ بَاطِلٌ؛ لِأَنَّ اللَّهَ
سُبْحَانَهُ: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾.
فَالْقُرْبُ وَالْعُلُوُّ يَجْتَمِعَانِ
فِي حَقِّهِ؛ لِعَظَمَتِهِ وَكِبْرِيَائِهِ وَإِحَاطَتِهِ، وَأَنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ
فِي يَدِهِ كَخَرْدَلَةٍ فِي يَدِ الْعَبْدِ، فَكَيْفَ يَسْتَحِيلُ فِي حَقِّ مَنْ
هَذَا بَعْضُ عَظَمَتِهِ أَنْ يَكُونَ فَوْقَ عَرْشِهِ وَيَقْرُبَ مِنْ خَلْقِهِ كَيْفَ
يَشَاءُ، وَهُوَ عَلَى الْعَرْشِ؟
Maka dari itu tidak boleh dikatakan: 'Jika Allah berada di atas seluruh makhluk-Nya, bagaimana mungkin Dia
juga bersama mereka?'
Pertanyaan seperti ini muncul dari anggapan
yang keliru, yaitu menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Qiyas seperti ini
adalah qiyas yang batil, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
'Tidak
ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.'
Maka sifat dekat (الْقُرْبُ) dan sifat tinggi (العُلُوُّ) berhimpun pada diri Allah karena keagungan, kebesaran, dan
keluasan kekuasaan-Nya. Langit yang tujuh saja berada dalam genggaman-Nya
bagaikan sebutir biji sawi di tangan seorang hamba”. [Kutipan Selesai]
====
ALLAH MELIPUTI SELURUH MAKHLUKNYA, TAPI TIDAK DILIPUTI MAKHLUKNYA
Al-Imam Abu Ja’far ath-Thohawi dalam Matan
al-‘Aqidah ath-Thohawiyah hal. 56 no. 51 berkata:
«وَأَنَّهُ تَعَالَى مُحِيطٌ بِكُلِّ شَيْءٍ
وَفَوْقَهُ، وَقَدْ أَعْجَزَ عَنِ الْإِحَاطَةِ خَلْقَهُ».
"Sesungguhnya Allah Ta’ala meliputi
segala sesuatu, sementara Dia berada di atas segala sesuatu. Dan Dia telah
menjadikan seluruh makhluk tidak mampu meliputi-Nya."
[Lihat pula : Ijtima’ al-Juyusy al-Islamiyah
karya Ibnu al-Qoyyim 2/223].
Syeikh Muhammad al-Munajjid menjelaskan
:
أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا
يُحِيطُ بِهِ شَيْءٌ مِنْ خَلْقِهِ، وَلَا تَحْوِيهِ مَخْلُوقَاتُهُ، وَهُوَ سُبْحَانَهُ
غَنِيٌّ عَنْهَا، فَقَدْ تَنَزَّهَ عَنِ الْحَاجَةِ إِلَيْهَا، وَتَعَالَى أَنْ
يُحِيطَ بِهِ الْمَخْلُوقُ الْمُحْدَثُ النَّاقِصُ.
Bahwa Allah Azza wa Jalla tidak dilingkupi
oleh apa pun dari makhluk-Nya, dan tidak ada satu makhluk pun yang dapat membatasi-Nya.
Dia Maha Kaya dari segala sesuatu, Maha Suci
dari ketergantungan terhadap selain-Nya, dan Maha Tinggi untuk dilingkupi oleh
makhluk yang baru lagi serba kurang”. [Selesai]
Hakikat ini mencerminkan kesempurnaan dan
keagungan Allah. Allah 'Azza wa Jalla meliputi seluruh makhluk-Nya dengan
liputan ilmu, kekuasaan, dan penguasaan-Nya, sehingga tidak ada sesuatu pun
yang keluar dari kerajaan-Nya. Sebaliknya, akal manusia yang terbatas mustahil
mampu meliputi hakikat Dzat dan sifat-sifat-Nya.
Hal ini sebagaimana firman Allah Ta'ala:
﴿اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَاتٍ
وَمِنَ الأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ
اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ
عِلْمًا﴾
"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit
dan (menciptakan pula) bumi sebanyak itu. Perintah Allah berlaku padanya, agar
kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan bahwa Allah
benar-benar meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya." (QS. At-Talaq: 12)
Dan firman Allah Ta'ala:
﴿ وَاللَّهُ مِن وَرَائِهِم مُّحِيطٌ﴾
"Padahal Allah meliputi mereka dari
belakang mereka." (QS. Al-Buruj: 20)
Dan firman-Nya:
﴿وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا﴾
"Sedangkan mereka tidak dapat
meliputi-Nya dengan ilmu." (QS. Thaha: 110)
Dan firman-Nya:
﴿يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا
خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا﴾
“Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan
apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak dapat meliputi-Nya dengan ilmu.”
(Thaha: 110)
Dan firman-Nya :
﴿يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا
خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ
وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ
وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ﴾
“Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan
mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak dapat meliputi apapun dari ilmu
Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi.
Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi
Maha Besar”. [QS. Al-Baqarah: 255]
Allah berfirman:
﴿لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ
يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ﴾
“Pandangan tidak dapat menjangkau-Nya, dan
Dia-lah yang menjangkau pandangan, dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-An’am: 103)
Abu Dzar Al-Ghafari radhiyallahu 'anhu
meriwayatkan: bahwa Nabi ﷺ bersabda :
«مَا السَّمَاوَاتُ السَّبعُ فِي
الْكُرْسِيِّ إِلَّا كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْضِ فَلَاةٍ، وَفَضْلُ الْعَرْشِ
عَلَى الْكُرْسِيِّ كَفَضْلِ تِلْكَ الْفَلَاةِ عَلَى تِلْكَ الْحَلْقَةِ».
“Perumpamaan langit yang
tujuh dibandingkan dengan Kursi seperti cincin yang
dilemparkan di padang sahara yang luas.
Dan kelebihan (keunggulan) ‘Arsy atas
Kursi seperti kelebihan (keunggulan) padang sahara yang luas itu atas
cincin tersebut.”
[HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Kitaabul ‘Arsy no.
58 , Ibnu Hibban n0. 361 , al-Baihaqi dalam al-Asmaa wa ash-Shifaat no. 861 dan
Abu Naim dalam ((Hilyat Al-Awliya’) (1/167) secara panjang lebar dari Sahabat
Abu Dzarr al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu .
Dishahihkan oleh
Ibnu al-Qoyyim dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam
Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (I/223 no. 109) dan التَّعْلِيقُ عَلَى
الطَّحَاوِيَّةِ no. 36.
Dan yang sudah maklum adanya adalah :
أَنَّ الرَّقْمَ سَبْعَةَ عِنْدَ
الْعَرَبِ يُفِيدُ الْكَثْرَةَ وَلَا يَتَحَدَّدُ فَقَطْ بِالسَّبْعَةِ عَدَدًا.
Bahwa : "ANGKA TUJUH di kalangan orang
Arab menunjukkan banyak melimpah dan tidak terbatas pada tujuh angka saja"
. [ Lihat : مُقَارَنَةٌ
بَيْنَ الْوَصْفِ النَّبَوِيِّ وَتَصَوُّرِ عُلَمَاءِ الْفَضَاءِ لِلْكَوْنِ. oleh : Prof. DR. Mohammad Farsyoukh].
Ahlus Sunnah menetapkan bahwa ketinggian Allah
Ta’ala di atas Arsy dan seluruh makhluk-Nya berarti bahwa Dia Subhanahu wa
Ta’ala benar-benar berada di atas seluruh makhluk, di atas langit, di atas
surga, dan di atas Arsy. Dan bahwa Dia Subhanahu wa Ta’ala tidak dilingkupi
oleh makhluk apa pun, tidak membutuhkan sesuatu pun dari makhluk-Nya, bahkan
Dialah Pencipta dan Pemelihara mereka.
Adapun nash-nash yang menyebutkan bahwa Allah
“di langit”, maka maksudnya adalah bahwa Dia Subhanahu Maha Tinggi di atas
makhluk-Nya, bukan berarti bahwa langit mencakup-Nya atau meliputi-Nya. Karena
yang dimaksud dengan "langit" dalam konteks ini adalah makna
ketinggian, bukan langit yang diciptakan. Atau dapat pula dikatakan bahwa huruf
*fi* (di dalam) dalam ayat itu bermakna “ala” (di atas), yakni: “di atas
langit.”
Permisalan : ketika seseorang menunjuk arah
ketinggian dengan jarinya ke atas atau ke langit saat, maka itu pada hakikatnya
makna tinggi itu adalah menjauh terpisah dari bumi. Karena bumi itu bulat,
bukan datar.
Jadi ketika seseorang mengatakan Allah diatas
sambil menunjukkan jarinya ke atas, maka maksudnya adalah bahwa Allah SWT
terpisah dari alam semesta alias terpisah dari seluruh makhluknya, yakni ;
tidak menyatu dengan-nya. Sementara makhluk Allah yang terbesar adalah ‘Arasy.
Ada seorang pastur kristen di Menado yang
masuk Islam, dia menulis sebuah karya tulis. Dia menulis di cover bukunya
sebuah ungkapan seperti ini :
“Belum pernah ada seorang tukang kayu
pengrajin bikin meja dan kursi bisa berubah menjadi meja dan kursi atau menyatu
dengan salah satunya. Begitu juga dengan Allah Sang Pencipta Manusia, tidaklah
mungkin berubah menjadi Yesus atau menyatu dengan-nya”.
Syeikh Kholid Muslih berkata dalam Syarah
al-‘Aqidah ath-Thohawiyah 12/6:
قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ: (مُحِيطٌ بِكُلِّ
شَيْءٍ وَفَوْقَهُ) هَذَا بَيَانٌ أَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مُحِيطٌ
بِكُلِّ شَيْءٍ؛ لِعَظَمَتِهِ وَسَعَتِهِ وَكِبَرِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى،
فَهُوَ الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِي، وَهُوَ الَّذِي أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ، كَمَا
قَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: ﴿اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ
الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ
اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ
عِلْمًا﴾ [الطَّلَاقِ: ١٢]، فَأَحَاطَ بِخَلْقِهِ عِلْمًا، وَأَحَاطَ بِخَلْقِهِ
قُدْرَةً سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، فَهُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ، وَالظَّاهِرُ
وَالْبَاطِنُ، الْأَوَّلُ: الَّذِي لَيْسَ قَبْلَهُ شَيْءٌ، وَالْآخِرُ: الَّذِي
لَيْسَ بَعْدَهُ شَيْءٌ، وَالظَّاهِرُ: الَّذِي لَيْسَ فَوْقَهُ شَيْءٌ،
وَالْبَاطِنُ: الَّذِي لَيْسَ دُونَهُ شَيْءٌ، وَبِهَذَا ثَبَتَ لَهُ جَلَّ
وَعَلَا الْإِحَاطَةُ الزَّمَانِيَّةُ، وَالْإِحَاطَةُ الْمَكَانِيَّةُ،
سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ.
فَاللَّهُ جَلَّ وَعَلَا مُحِيطٌ
بِكُلِّ شَيْءٍ، وَفَوْقَهُ، أَيْ: وَهُوَ عَلَيْهِ مُسْتَعْلٍ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَلَا شَكَّ أَنَّهُ هُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ؛ وَلِذَلِكَ خُتِمَتْ أَعْظَمُ آيَةٍ فِي كِتَابِ
اللَّهِ بِهَذَيْنِ الْوَصْفَيْنِ: بِإِثْبَاتِ صِفَةِ الْعُلُوِّ وَالْعَظَمَةِ،
فَعُلُوُّ اللَّهِ ثَابِتٌ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، وَفَوْقِيَّةُ اللَّهِ سُبْحَانَهُ
وَتَعَالَى ثَابِتَةٌ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، وَالْعُلُوُّ الثَّابِتُ لَهُ
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هُوَ: عُلُوُّ الذَّاتِ، وَعُلُوُّ الْقَدْرِ، وَعُلُوُّ
الْقَهْرِ.
كُلُّ هَذِهِ الْمَعَانِي
الثَّلَاثَةُ ثَابِتَةٌ لِلرَّبِّ جَلَّ وَعَلَا، وَأَهْلُ التَّحْرِيفِ
وَالِانْحِرَافِ لَمْ يُثْبِتُوا عُلُوَّ الذَّاتِ، بَلْ قَالُوا فِي كُلِّ مَا
جَاءَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِنْ إِثْبَاتِ الْعُلُوِّ لِلَّهِ عَزَّ
وَجَلَّ: إِنَّهُ عُلُوُّ الْقَدْرِ، أَوْ عُلُوُّ الْقَهْرِ، وَهَذَا ثَابِتٌ
لِلرَّبِّ جَلَّ وَعَلَا، وَلَكِنْ لَا نُعَطِّلُ الْمَعْنَى الثَّالِثَ، وَهُوَ
صِفَةُ كَمَالٍ لِلرَّبِّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ: (وَقَدْ
أَعْجَزَ عَنِ الْإِحَاطَةِ خَلْقَهُ) أَعْجَزَ عَنِ الْإِحَاطَةِ خَلْقَهُ،
فَخَلْقُهُ مَهْمَا بَلَغَ قَدْرُهُمْ وَقُدْرَاتُهُمْ لَا يَتَمَكَّنُونَ مِنَ
الْإِحَاطَةِ بِالرَّبِّ جَلَّ وَعَلَا، لَا الْمَلَائِكَةُ وَلَا غَيْرُهُمْ،
كُلُّهُمْ لَا يَتَمَكَّنُونَ مِنَ الْإِحَاطَةِ بِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ، فَهُوَ
الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِي، وَهُوَ الْمُحِيطُ بِكُلِّ شَيْءٍ، قَالَ اللَّهُ جَلَّ
وَعَلَا: ﴿وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ﴾
[الْبَقَرَةِ: ٢٥٥].
وَهَذَا فِيهِ شَيْءٌ مِمَّا
اتَّصَفَ بِهِ، وَهُوَ الْعِلْمُ، لَا يَتَمَكَّنُونَ مِنَ الْإِحَاطَةِ بِشَيْءٍ
مِنْ ذَلِكَ، وَقَالَ جَلَّ وَعَلَا: ﴿وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا﴾ [طَه: ١١٠]،
أَيْ: لَا يَتَمَكَّنُونَ مِنَ الْإِحَاطَةِ بِعِلْمِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى،
فَنَفَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الْإِحَاطَةَ بِشَيْءٍ مِنْ صِفَاتِهِ، وَالْإِحَاطَةَ
بِهِ جَلَّ وَعَلَا، وَأَيْضًا: نَفَى الْإِحَاطَةَ الْحِسِّيَّةَ، وَذَلِكَ
بِإِدْرَاكِ الْبَصَرِ، فَقَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: ﴿لَا تُدْرِكُهُ
الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ﴾
[الْأَنْعَامِ: ١٠٣]، لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ
سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ، فَنَفَى اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا أَنْ تُدْرِكَهُ
الْأَبْصَارُ؛ وَذَلِكَ لِعِظَمِهِ وَكَمَالِهِ، فَخَلْقُهُ لَا يَتَمَكَّنُونَ
مِنَ الْإِحَاطَةِ بِهِ.
وَعَلَى هَذَا يُحْمَلُ مَا جَاءَ فِي
الْأَثَرِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي تَفْسِيرِ
الْآيَةِ، قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: (لَوْ أَنَّ الْخَلْقَ كُلَّهُمْ
-الْمَلَائِكَةَ، وَالْإِنْسَ، وَالْجِنَّ، وَالشَّيَاطِينَ- صَفُّوا صَفًّا
وَاحِدًا مُنْذُ خَلَقَهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى آخِرِهِمْ، مَا أَحَاطُوا
بِاللَّهِ جَلَّ وَعَلَا)، مَعَ تَعَدُّدِهِمْ، وَاخْتِلَافِ قُدْرَاتِهِمْ،
وَكَثْرَتِهِمْ؛ لَا يُحِيطُونَ بِالرَّبِّ جَلَّ وَعَلَا، وَقَدْ وَرَدَ هَذَا
الْأَثَرُ مَرْفُوعًا، إِلَّا أَنَّهُ لَا يَصِحُّ مَرْفُوعًا عَنِ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ.
وَالْمُرَادُ: أَنَّ الْخَلْقَ
عَاجِزُونَ عَنْ أَنْ يُحِيطُوا بِالرَّبِّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَإِذَا كَانَ
كَذَلِكَ، فَالْوَاجِبُ عَلَيْهِمْ أَنْ يُقَدِّرُوا اللَّهَ جَلَّ وَعَلَا عَنْ
تَوَهُّمِ الْإِحَاطَةِ بِهِ، أَوِ الْعِلْمِ بِحَقَائِقِ مَا أَخْبَرَ بِهِ عَنْ
نَفْسِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
Beliau (Ath-Thohawi) rahimahullah berkata: "Dia
meliputi segala sesuatu dan berada di atasnya."
Ini merupakan penjelasan bahwa Allah Subhanahu
wa Ta'ala meliputi segala sesuatu, karena keagungan, keluasan, dan
kebesaran-Nya. Dia adalah Al-Kabir (Yang Mahabesar) dan Al-Muta'al (Yang
Mahatinggi), Dialah yang meliputi segala sesuatu, sebagaimana firman-Nya:
"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit
dan bumi seperti itu pula. Perintah-Nya berlaku di antara keduanya agar kamu
mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan bahwa Allah
benar-benar meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya." (QS. Ath-Thalaq: 12)
Allah meliputi seluruh makhluk-Nya dengan
ilmu-Nya, dan meliputi mereka dengan kekuasaan-Nya. Dia adalah Al-Awwal (Yang
Pertama), Al-Akhir (Yang Terakhir), Azh-Zhahir (Yang Mahatinggi), dan Al-Bathin
(Yang Maha Dekat).
Al-Awwal adalah Dzat yang tidak ada sesuatu
pun sebelum-Nya.
Al-Akhir adalah Dzat yang tidak ada sesuatu
pun sesudah-Nya.
Adz-Dzohir adalah Dzat yang tidak ada sesuatu
pun di atas-Nya.
Al-Bathin adalah Dzat yang tidak ada
sesuatu pun yang lebih dekat daripada-Nya.
Dengan demikian, tetaplah bagi Allah Jalla wa
'Ala sifat meliputi segala sesuatu dari sisi waktu maupun tempat. Mahasuci dan
Mahaterpuji Dia.
Allah Jalla wa 'Ala meliputi segala sesuatu,
dan Dia berada di atas semuanya, yakni Dia Mahatinggi dan bersemayam di atas
seluruh makhluk-Nya. Tidak diragukan lagi bahwa Dia adalah Al-'Ali (Yang
Mahatinggi) lagi Al-'Azhim (Yang Mahaagung). Oleh sebab itu, ayat yang paling
agung dalam Kitabullah ditutup dengan dua sifat tersebut, yaitu penetapan sifat
ketinggian dan keagungan. Ketinggian Allah meliputi segala sesuatu, demikian
pula keberadaan Allah di atas seluruh makhluk telah tetap.
Ketinggian Allah yang telah ada ketetapan
bagi-Nya mencakup tiga makna:
[1]. Ketinggian Dzat-Nya.
[2]. Ketinggian kedudukan dan kemuliaan-Nya.
[3]. Ketinggian kekuasaan dan penaklukan-Nya.
Ketiga makna tersebut semuanya benar-benar
tetap bagi Rabb Jalla wa 'Ala.
Adapun orang-orang yang melakukan penyimpangan
dan penyelewengan dalam masalah sifat-sifat Allah, mereka tidak menetapkan
ketinggian Dzat Allah. Mereka mengatakan bahwa seluruh dalil Al-Qur'an dan
As-Sunnah yang menetapkan sifat ketinggian bagi Allah hanyalah bermakna
ketinggian kedudukan atau ketinggian kekuasaan. Memang kedua makna itu benar
bagi Allah Jalla wa 'Ala, namun kita tidak boleh meniadakan makna yang ketiga,
yaitu ketinggian Dzat-Nya, karena itulah salah satu sifat kesempurnaan Allah
Subhanahu wa Ta'ala.
Beliau (Ath-Thohawi) rahimahullah berkata: "Dan
Dia telah menjadikan makhluk-Nya tidak mampu meliputi-Nya."
Artinya, seluruh makhluk, betapapun tinggi
kedudukan dan besarnya kemampuan mereka, tidak akan pernah mampu meliputi Allah
Jalla wa 'Ala. Baik para malaikat maupun selain mereka, semuanya tidak sanggup
meliputi-Nya. Dia adalah Al-Kabir Al-Muta'al, dan Dia meliputi segala sesuatu.
Allah Jalla wa 'Ala berfirman:
﴿وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ
إِلَّا بِمَا شَاءَ﴾
"Dan mereka tidak mengetahui sesuatu
pun dari ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki." (QS. Al-Baqarah: 255)
Ayat ini berbicara tentang salah satu sifat
Allah, yaitu ilmu-Nya. Makhluk tidak mampu meliputi sedikit pun dari ilmu
tersebut kecuali apa yang Allah kehendaki.
Allah juga berfirman:
﴿وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا﴾
"Sedangkan mereka tidak dapat
meliputi-Nya dengan ilmu." (QS. Thaha: 110)
Artinya, mereka tidak akan mampu meliputi ilmu
Allah. Dengan demikian, Allah menafikan kemampuan makhluk untuk meliputi
sedikit pun dari sifat-sifat-Nya, bahkan menafikan kemampuan mereka untuk
meliputi Dzat-Nya.
Demikian pula Allah menafikan kemampuan
penglihatan makhluk untuk mencakup-Nya secara sempurna, sebagaimana firman-Nya:
﴿لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ
يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ﴾
"Penglihatan tidak dapat mencapai-Nya,
tetapi Dia mencapai segala penglihatan. Dan Dialah Yang Mahahalus lagi
Mahateliti." (QS. Al-An'am: 103)
Allah menafikan bahwa penglihatan dapat
meliputi-Nya, karena keagungan dan kesempurnaan-Nya. Oleh sebab itu, seluruh
makhluk tidak akan pernah mampu meliputi-Nya.
Berdasarkan pemahaman inilah dipahami atsar
dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu ketika menafsirkan ayat tersebut.
Beliau berkata:
(لَوْ أَنَّ الْخَلْقَ كُلَّهُمْ
-الْمَلَائِكَةَ، وَالْإِنْسَ، وَالْجِنَّ، وَالشَّيَاطِينَ- صَفُّوا صَفًّا
وَاحِدًا مُنْذُ خَلَقَهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى آخِرِهِمْ، مَا أَحَاطُوا
بِاللَّهِ جَلَّ وَعَلَا)
"Seandainya seluruh makhluk, baik para
malaikat, manusia, jin, maupun setan, berbaris dalam satu saf sejak Allah
menciptakan mereka hingga generasi terakhir mereka, niscaya mereka tidak akan
mampu meliputi Allah Jalla wa 'Ala."
Meskipun jumlah mereka sangat banyak,
kemampuan mereka berbeda-beda, dan kekuatan mereka beragam, tetap saja mereka
tidak akan mampu meliputi Allah Jalla wa 'Ala.
Atsar ini juga pernah diriwayatkan secara
marfu' kepada Nabi ﷺ, namun riwayat marfu' tersebut tidak sahih.
Inti dari pembahasan ini adalah bahwa seluruh
makhluk tidak mampu meliputi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Oleh karena itu,
kewajiban mereka adalah mengagungkan Allah dengan tidak membayangkan bahwa
mereka dapat meliputi-Nya, atau mengetahui hakikat sebenarnya dari apa yang
Allah kabarkan tentang Diri-Nya sendiri.
====***====
PERKATAAN
PARA ULAMA YANG MENETAPKAN
SIFAT ALLAH “MAHA
DEKAT” (AL-QORIIB)
Di antara nama-nama Allah Yang Maha Sempurna
adalah Al-Qarib (Yang Maha Dekat).
Para ulama memiliki sejumlah penjelasan
mengenai makna nama ini beserta beberapa faedah yang berkaitan dengannya. Semoga
Allah Yang Mahamulia menjadikan tulisan ini bermanfaat bagi semua.
Diantaranya adalah sbb:
[1]
SA’ID
BIN AL-MUSAYYIB (WAFAT 94 H)
Abdullah bin Syabib berkata:
صَلَّيْتُ إِلَى جَنْبِ سَعِيدِ بْنِ
الْمُسَيِّبِ، فَلَمَّا جَلَسْتُ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ رَفَعْتُ صَوْتِي
بِالدُّعَاءِ فَانْتَهَرَنِي، فَلَمَّا انْصَرَفْتُ، قُلْتُ لَهُ: مَا كَرِهْتَ
مِنِّي؟، قَالَ: «ظَنَنْتُ أَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِقَرِيبٍ مِنْكَ»
Aku pernah salat di samping Sa'id bin
Al-Musayyib (wafat 94 H). Ketika aku duduk pada rakaat kedua, aku mengeraskan
suaraku saat berdoa, lalu beliau menegurku. Setelah salat selesai, aku bertanya
kepadanya, "Apa yang engkau tidak sukai dari perbuatanku?"
Beliau menjawab, "Apakah engkau mengira
bahwa Allah tidak dekat denganmu?"
[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam
al-Mushonnaf 6/85 no. 29668, dia berkata: telah bercerita kepada kami Yayha bin
Sa’id, dari Abdullah bin Syabib: ....
Lihat pula: ad-Durrul Mantsur karya as-Suyuthi
1/474]
[2]
PERKATAAN
IMAM IBNU JARIR ATH-THOBARI (WAFAT 310 H)
Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah
berkata:
وَقَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّهُ
سَمِيعٌ قَرِيبٌ﴾ [سَبَأ: ٥٠]، يَقُولُ: إِنَّ رَبِّي سَمِيعٌ لِمَا أَقُولُ
لَكُمْ، حَافِظٌ لَهُ، وَهُوَ الْمُجَازِي لِي عَلَى صِدْقِي فِي ذَلِكَ، وَذَلِكَ
مِنِّي غَيْرُ بَعِيدٍ، فَيَتَعَذَّرُ عَلَيْهِ سَمَاعُ مَا أَقُولُ لَكُمْ، وَمَا
تَقُولُونَ، وَمَا يَقُولُهُ غَيْرُنَا، وَلَكِنَّهُ قَرِيبٌ مِنْ كُلِّ
مُتَكَلِّمٍ، يَسْمَعُ كُلَّ مَا يَنْطِقُ بِهِ، أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ
الْوَرِيدِ.
Firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya Dia
Maha Mendengar lagi Maha Dekat." (QS. Saba': 50)
Lalu Ath-Thabari menjelaskan tentang ayat ini:
"Sesungguhnya Rabbku Maha Mendengar apa
yang aku katakan kepada kalian, menjaganya, dan Dia akan memberikan balasan
kepadaku atas kebenaranku dalam hal itu. Keadaanku ini tidaklah jauh dari-Nya,
sehingga tidak mungkin pendengaran-Nya terhalang dari apa yang aku ucapkan
kepada kalian, apa yang kalian ucapkan, maupun apa yang diucapkan oleh selain
kita. Akan tetapi, Dia dekat dengan setiap orang yang berbicara. Dia mendengar
setiap perkataan yang diucapkannya. Bahkan, Dia lebih dekat kepadanya daripada
urat lehernya."
[Lihat: Tafsir ath-Thobari 19/308. Tahqiq
at-Turki, Cet. Dar Hajr]
[3]
PERKATAAN
SYEIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH
Menurut Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah : Beriman
bahwa Allah Mahadekat tidak bertentangan dengan ketinggian dan keberadaan-Nya
di atas seluruh makhluk.
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
يَدْخُلُ فِي الْإِيمَانِ بِاللَّهِ:
أَنَّهُ قَرِيبٌ مِنْ خَلْقِهِ.
وَقَدْ دَخَلَ فِي ذَلِكَ: الْإِيمَانُ بِأَنَّهُ قَرِيبٌ مِنْ خَلْقِهِ مُجِيبٌ كَمَا جَمَعَ بَيْنَ ذَلِكَ فِي قَوْلِهِ: {وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إذَا دَعَانِ} الْآيَةَ وَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلصَّحَابَةِ لَمَّا رَفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالذِّكْرِ: {أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ؛ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا؛ إنَّ الَّذِي تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ}
وَمَا ذَكَرَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ - مِنْ قُرْبِهِ وَمَعِيَّتِه - لَا
يُنَافِي مَا ذَكَرَ مِنْ عُلُوِّهِ وَفَوْقِيَّتِهِ فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ لَيْسَ
كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي جَمِيعِ نُعُوتِهِ وَهُوَ عَلِيٌّ فِي دُنُوِّهِ قَرِيبٌ
فِي عُلُوِّهِ
Termasuk
bagian dari keimanan kepada Allah adalah meyakini bahwa Dia dekat dengan
makhluk-Nya.
Dan termasuk dalam hal itu adalah beriman
bahwa Allah dekat dengan makhluk-Nya dan Maha Mengabulkan doa, sebagaimana
Allah menggabungkan antara kedekatan dan pengabulan doa dalam firman-Nya:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya
kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang
yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS.
Al-Baqarah: 186)
Demikian pula sabda Nabi ﷺ kepada
para sahabat ketika mereka mengeraskan suara dalam berzikir:
“Wahai manusia, rendahkanlah suara kalian. Sesungguhnya kalian tidak sedang berdoa kepada Dzat yang tuli dan tidak pula kepada Dzat yang jauh. Sesungguhnya Dzat yang kalian seru itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada leher tunggangannya.”
Apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan
As-Sunnah tentang kedekatan (الْقُرْبُ) dan kebersamaan (المَعِيَّةُ) Allah tidaklah bertentangan dengan apa yang telah disebutkan
tentang ketinggian (العُلُوُّ) dan keberadaan-Nya di atas seluruh makhluk (الفَوْقِيَّةُ).
Sebab, Dia Subhanahu wa Ta'ala tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya
dalam seluruh sifat-sifat-Nya. Dia Mahatinggi dalam kedekatan-Nya, dan Maha
Dekat dalam ketinggian-Nya”.
[Lihat: Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 3/143 dan
al-‘Aqidah al-Wasithiyyah hal. 85 no. 163-166. Tahqiq Abu Mahammad Asyrraf Cet. Adhwa as-Salaf –
Raiyadh]
[4]
PERKATAAN
IBNU AL-QOYYIM AL-JAWZIYAH
Ibnul Qayyim dalam kitab Ash-Shawā’iq Al-Mursalah berkata :
قَالَ أَعْلَمُ الْخَلْقِ: «وَأَنْتَ
الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ» " وَهُوَ سُبْحَانَهُ قَرِيبٌ فِي عُلُوِّهِ
عَالٍ فِي قُرْبِهِ، كَمَا فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ
قَالَ:
«كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا بِالتَّكْبِيرِ فَقَالَ
" أَيُّهَا النَّاسُ أَرْبِعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ
أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا، إِنَّ الَّذِي تَدْعُونَهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ، أَقْرَبُ إِلَى
أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ»
فَأَخْبَرَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَهُوَ أَعْلَمُ الْخَلْقِ بِهِ أَنَّهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ،
وَأَخْبَرَ أَنَّهُ فَوْقَ سَمَاوَاتِهِ عَلَى عَرْشِهِ مُطَّلِعٌ عَلَى خَلْقِهِ يَرَى
أَعْمَالَهُمْ وَيَعْلَمُ مَا فِي بُطُونِهِمْ، وَهَذَا حَقٌّ لَا يُنَاقِضُ أَحَدُهُمَا
الْآخَرَ.
“Makhluk yang paling mengetahui (tentang
Allah) bersabda: ‘Engkau adalah Adz-Dzāhir, maka tidak ada sesuatu pun di atas-Mu.’
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā tetap Mahadekat dalam ketinggian-Nya, dan Mahatinggi dalam
kedekatan-Nya.
Ini sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih
dari Abu Musa Al-Asy‘ari radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: ‘Kami
pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam suatu perjalanan. Lalu kami mengeraskan suara ketika
bertakbir. Maka beliau ﷺ bersabda:
“Wahai manusia, rendahkanlah suara kalian.
Sesungguhnya kalian tidak sedang berdoa kepada Tuhan yang tuli dan tidak pula
kepada Tuhan yang jauh. Sesungguhnya Zat yang kalian seru Maha Mendengar lagi
Maha Dekat, bahkan Dia lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian
daripada leher tunggangannya.”
Maka Nabi ﷺ, yang merupakan makhluk paling mengetahui tentang Allah,
mengabarkan bahwa Allah lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian
daripada leher tunggangannya.
Beliau ﷺ juga mengabarkan bahwa Allah berada di atas langit-langit-Nya,
di atas ‘Arsy-Nya, senantiasa mengawasi makhluk-Nya, melihat amal-amal mereka,
dan mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Kedua perkara ini
adalah benar dan tidak saling bertentangan.”
Lalu Ibnu al-Qoyyim berkata:
وَالَّذِي يُسَهِّلُ عَلَيْكَ فَهْمَ
هَذَا: مَعْرِفَةُ عَظَمَةِ الرَّبِّ وَإِحَاطَتِهِ بِخَلْقِهِ وَأَنَّ السَّمَاوَاتِ
السَّبْعَ فِي يَدِهِ كَخَرْدَلَةٍ فِي يَدِ الْعَبْدِ، وَأَنَّهُ سُبْحَانَهُ يَقْبِضُ
السَّمَاوَاتِ بِيَدِهِ وَالْأَرْضَ بِيَدِهِ الْأُخْرَى ثُمَّ يَهُزُّهُنَّ، فَكَيْفَ
يَسْتَحِيلُ فِي حَقِّ مَنْ هَذَا بَعْضُ عَظَمَتِهِ. أَنْ يَكُونَ فَوْقَ عَرْشِهِ
وَيَقْرُبُ مِنْ خَلْقِهِ كَيْفَ شَاءَ وَهُوَ عَلَى الْعَرْشِ.
“Yang akan memudahkanmu memahami hal ini ialah
mengenal keagungan Rabb, keluasan kekuasaan-Nya yang meliputi seluruh makhluk,
serta bahwa tujuh langit di tangan-Nya hanyalah seperti sebutir biji sawi di
tangan seorang hamba.
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menggenggam langit-langit dengan satu tangan-Nya dan bumi dengan
tangan-Nya yang lain, kemudian mengguncangkannya.
Maka bagaimana mungkin dianggap mustahil bagi
Zat yang demikian agung untuk berada di atas ‘Arsy-Nya, namun pada saat yang
sama Dia dekat dengan makhluk-Nya sesuai dengan kehendak-Nya, sementara Dia
tetap berada di atas ‘Arsy?”
Ibnu al-Qoyyim kemudian berkata:
وَبِهَذَا يَزُولُ الْإِشْكَالُ عَنِ
الْحَدِيثِ الَّذِي رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ مِنْ حَدِيثِ الْحَسَنِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ،
قَالَ:
«بَيْنَمَا نَبِيُّ اللَّهِ ﷺ جَالِسٌ فِي أَصْحَابِهِ،
إِذْ أَتَى عَلَيْهِمْ سَحَابٌ، فَقَالَ نَبِيُّ اللَّهِ ﷺ: "هَلْ تَدْرُونَ مَا
هَذَا؟".
قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.
قَالَ: "هَذَا الْعَنَانُ، هَذِهِ
رَوَايَا الْأَرْضِ، يَسُوقُهَا اللَّهُ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْكُرُونَهُ وَلَا يَدْعُونَهُ."
ثُمَّ قَالَ: "هَلْ تَدْرُونَ مَا فَوْقَكُمْ؟"
قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.
قَالَ: "فَإِنَّهَا الرَّفِيعُ،
سَقْفٌ مَحْفُوظٌ، وَمَوْجٌ مَكْفُوفٌ." ثُمَّ قَالَ: "هَلْ تَدْرُونَ كَمْ
بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهَا؟"
قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.
قَالَ: "بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهَا
خَمْسُمِائَةِ سَنَةٍ." ثُمَّ قَالَ: "هَلْ تَدْرُونَ مَا فَوْقَ ذَلِكَ؟"
قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.
قَالَ: "فَإِنَّ فَوْقَ ذَلِكَ سَمَاءَيْنِ،
مَا بَيْنَهُمَا مَسِيرَةُ خَمْسِمِائَةِ سَنَةٍ." حَتَّى عَدَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ،
مَا بَيْنَ كُلِّ سَمَاءَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ. ثُمَّ قَالَ:
"هَلْ تَدْرُونَ مَا فَوْقَ ذَلِكَ؟"
قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.
قَالَ: "فَإِنَّ فَوْقَ ذَلِكَ الْعَرْشَ،
بَيْنَهُ وَبَيْنَ السَّمَاءِ السَّابِعَةِ بُعْدُ مَا بَيْنَ السَّمَاءَيْنِ."
ثُمَّ قَالَ: "هَلْ تَدْرُونَ مَا الَّذِي تَحْتَكُمْ؟"
قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.
قَالَ: "فَإِنَّهَا الْأَرْضُ."
ثُمَّ قَالَ: "هَلْ تَدْرُونَ مَا تَحْتَ ذَلِكَ؟"
قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.
قَالَ: "فَإِنَّهَا الْأَرْضُ الْأُخْرَى،
بَيْنَهُمَا مَسِيرَةُ خَمْسِمِائَةِ سَنَةٍ." حَتَّى عَدَّ سَبْعَ أَرَضِينَ،
بَيْنَ كُلِّ أَرْضَيْنِ مَسِيرَةُ خَمْسِمِائَةِ سَنَةٍ. ثُمَّ قَالَ: "وَالَّذِي
نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّكُمْ دُلِّيتُمْ بِحَبْلٍ إِلَى الْأَرْضِ السُّفْلَى،
لَهَبَطْتُمْ عَلَى اللَّهِ."
ثُمَّ قَرَأَ: ﴿هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ
وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ﴾ [الحديد: ٣].
قَالَ التِّرْمِذِيُّ:
«هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ، وَيُرْوَى عَنْ أَيُّوبَ، وَيُونُسَ
بْنِ عُبَيْدٍ، وَعَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ، قَالُوا: لَمْ يَسْمَعِ الْحَسَنُ مِنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ.
وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ هَذَا
الْحَدِيثَ، وَقَالُوا: إِنَّمَا يَهْبِطُ عَلَى عِلْمِ اللَّهِ وَقُدْرَتِهِ وَسُلْطَانِهِ،
وَعِلْمُ اللَّهِ وَقُدْرَتُهُ وَسُلْطَانُهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَهُوَ عَلَى الْعَرْشِ
كَمَا وُصِفَ فِي كِتَابِهِ.» هَذَا آخِرُ كَلَامِهِ.
“Dengan penjelasan ini hilanglah kerancuan terhadap
hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Al-Hasan, dari Abu Hurairah
radhiyallāhu ‘anhu, bahwa dia berkata:
‘Ketika Nabi ﷺ sedang duduk bersama para sahabatnya, datanglah awan menaungi
mereka. Maka Nabi ﷺ bersabda: “Tahukah kalian apakah ini?”
Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih
mengetahui.’
Beliau ﷺ bersabda: ‘Ini adalah awan. Inilah pembawa air bagi bumi
yang Allah arahkan kepada suatu kaum yang tidak bersyukur kepada-Nya dan tidak
berdoa kepada-Nya.’
Kemudian beliau bersabda: ‘Tahukah kalian
apa yang ada di atas kalian?’
Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih
mengetahui.’
Beliau bersabda: ‘Itulah langit, atap yang
tinggi lagi terpelihara, dan gelombang yang tertahan.’
Kemudian beliau ﷺ bersabda: ‘ Tahukah kalian berapa jarak antara kalian dengan
langit itu?’
Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih
mengetahui.’
Beliau ﷺ bersabda: ‘ Jarak antara kalian dan langit itu adalah
perjalanan lima ratus tahun.’
Lalu beliau ﷺ bersabda: ‘Tahukah kalian apa yang berada di atasnya?’
Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih
mengetahui.’
Beliau ﷺ bersabda: ‘Di atasnya terdapat langit yang lain, dengan
jarak antara keduanya perjalanan lima ratus tahun.’
Beliau terus menghitung hingga tujuh langit,
dan jarak antara setiap dua langit sama seperti jarak antara langit dan bumi.
Kemudian beliau ﷺ bersabda: ‘Tahukah kalian apa yang berada di atas itu?’
Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih
mengetahui.’
Beliau ﷺ bersabda: ’Di atas semuanya terdapat ‘Arsy. Jarak antara
‘Arsy dan langit ketujuh sama seperti jarak antara dua langit.’
Kemudian beliau bersabda: ‘Tahukah kalian
apa yang berada di bawah kalian?’
Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih
mengetahui.’
Beliau bersabda: ‘Itulah bumi.’
Lalu beliau ﷺ bersabda: ‘Tahukah kalian apa yang berada di bawah bumi itu?’
Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih
mengetahui.’
Beliau ﷺ bersabda: ‘Di bawahnya terdapat bumi yang lain. Jarak antara
keduanya adalah perjalanan lima ratus tahun.’
Beliau ﷺ terus menyebutkan hingga tujuh lapis bumi, dan jarak antara
setiap dua bumi adalah perjalanan lima ratus tahun.
Kemudian beliau ﷺ bersabda: ‘Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya,
seandainya kalian menurunkan seutas tali hingga ke bumi yang paling bawah, niscaya
kalian akan sampai kepada Allah.’
Kemudian beliau membaca firman Allah:
‘Dialah Yang Maha Awal, Maha Akhir, Maha
Tinggi, dan Maha Dekat, serta Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.’ (QS. Al-Ḥadīd: 3).”
At-Tirmidzi berkata: “Hadis ini gharib dari
jalur ini. Diriwayatkan pula dari Ayyub, Yunus bin ‘Ubaid, dan ‘Ali bin Zaid
bahwa mereka mengatakan: Al-Hasan tidak pernah mendengar hadis ini langsung
dari Abu Hurairah.”
Sebagian ulama menafsirkan hadis ini dengan
mengatakan: “Yang dimaksud ‘sampai kepada Allah’ adalah sampai kepada ilmu
Allah, kekuasaan-Nya, dan kerajaan-Nya. Ilmu Allah, kekuasaan-Nya, dan
kerajaan-Nya meliputi setiap tempat, sedangkan Allah tetap berada di atas ‘Arsy
sebagaimana Dia sifatkan diri-Nya dalam Kitab-Nya.” [Sampai di sinilah ucapan
At-Tirmidzi].
Ibnul Qayyim kemudian berkata:
وَقَدِ اخْتَلَفَ النَّاسُ فِي هَذَا
الْحَدِيثِ فِي سَنَدِهِ وَمَعْنَاهُ، فَطَائِفَةٌ قَبِلَتْهُ لِأَنَّ إِسْنَادَهُ
ثَابِتٌ إِلَى الْحَسَنِ
“Manusia berbeda pendapat mengenai hadis ini,
baik dari sisi sanad maupun maknanya. Sebagian ulama menerimanya karena
sanadnya sahih sampai kepada Al-Hasan.”
[Lihat: Mukhtaṣar Ash-Ṣawā’iq Al-Mursalah, hlm. 482–484.]
[5]
PERKATAAN
SYEIKH ABDURRAHMAN AS-SA’DI
Dalam kitab At-Tanbīhāt Al-Laṭīfah
halaman 77, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menyebutkan kewajiban
beriman bahwa Allah dekat dengan makhluk-Nya, dan bahwa hal itu tidak
bertentangan dengan ketinggian (العُلُوُّ) dan keberadaan-Nya di atas seluruh makhluk (الفَوْقِيَّةُ).
Beliau menulis sebuah pembahasan dengan judul:
[فَصْلٌ فِي الْإِيمَانِ بِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى
قَرِيبٌ]
"Fasal
tentang Keimanan bahwa Allah Ta'ala Maha Dekat."
Kemudian beliau meyebutkan perkataan Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah berikut ini:
وَقَدْ دَخَلَ فِي ذَلِكَ الْإِيمَانُ
بِأَنَّهُ قَرِيبٌ مُجِيبٌ، كَمَا جَمَعَ بَيْنَ ذَلِكَ فِي قَوْلِهِ: ﴿وَإِذَا سَأَلَكَ
عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ﴾ [سُورَةُ الْبَقَرَةِ: الْآيَةُ ١٨٦].
وَقَوْلُهُ ﷺ: «إِنَّ الَّذِي تَدْعُونَهُ
أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ».
وَمَا ذُكِرَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ
مِنْ قُرْبِهِ وَمَعِيَّتِهِ لَا يُنَافِي مَا ذُكِرَ مِنْ عُلُوِّهِ وَفَوْقِيَّتِهِ،
فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي جَمِيعِ نُعُوتِهِ، وَهُوَ عَلِيٌّ
فِي دُنُوِّهِ، قَرِيبٌ فِي عُلُوِّهِ.
"Termasuk dalam keimanan kepada Allah
adalah meyakini bahwa Dia Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan doa, sebagaimana
Allah menggabungkan kedua sifat tersebut dalam firman-Nya:
'Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu
tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.' (QS. Al-Baqarah: 186)
Demikian pula sabda Nabi ﷺ:
'Sesungguhnya Dzat yang kalian seru itu lebih
dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada leher tunggangannya.'
Apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan
As-Sunnah tentang kedekatan (الْقُرْبُ) dan kebersamaan (المَعِيَّةُ) Allah tidaklah bertentangan dengan apa yang telah disebutkan
tentang ketinggian (العُلُوُّ) dan keberadaan-Nya di atas seluruh makhluk (الفَوْقِيَّةُ).
Sebab, Dia Subhanahu wa Ta'ala tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya
dalam seluruh sifat-sifat-Nya. Dia Mahatinggi dalam kedekatan-Nya dan Maha
Dekat dalam ketinggian-Nya."
Lalu Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di
menjelaskan perkataan Ibnu Taimiyah diatas dengan penjelasan sbb :
خَصَّصَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللَّهُ
هَذَا الْبَحْثَ بِهَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ؛ وَذَلِكَ لِشِدَّةِ الْحَاجَةِ إِلَى الْإِيمَانِ
بِقُرْبِهِ وَإِجَابَتِهِ، لِيَكُونَ الْعَبْدُ مُرَاقِبًا لِلَّهِ إِذَا آمَنَ بِقُرْبِهِ
إِيمَانًا تَامًّا، وَكَانَ مُنِيبًا إِلَيْهِ عَلَى الدَّوَامِ إِذَا آمَنَ بِإِجَابَتِهِ
لِلسَّائِلِينَ وَإِثَابَتِهِ لِلْمُطِيعِينَ.
ثُمَّ ذَكَرَ رَحِمَهُ اللَّهُ الْجَمْعَ
بَيْنَ الْإِيمَانِ بِعُلُوِّ اللَّهِ وَقُرْبِهِ وَمَعِيَّتِهِ؛ لِئَلَّا يَظُنَّ
الظَّانُّ أَنَّ ذَلِكَ مِثْلُ صِفَاتِ الْمَخْلُوقِينَ، وَأَنَّهُ إِذَا قِيلَ: إِنَّهُ
عَلِيٌّ فَوْقَ خَلْقِهِ، كَيْفَ يَكُونُ مَعَهُمْ وَقَرِيبًا مِنْهُمْ؟
فَأَجَابَ بِمَا تَضَمَّنَهُ هَذَا الْأَصْلُ
الثَّابِتُ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَإِجْمَاعِ الْأُمَّةِ، وَهُوَ أَنَّ اللَّهَ
تَعَالَى لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي جَمِيعِ نُعُوتِهِ، وَمِنْ نُعُوتِهِ اللَّازِمَةِ
الْعُلُوُّ الْمُطْلَقُ، وَالْقُرْبُ الْعَامُّ وَالْخَاصُّ، وَأَنَّ الْقُرْبَ وَالْعُلُوَّ
فِي حَقِّهِ يَجْتَمِعَانِ لِعَظَمَتِهِ وَكِبْرِيَائِهِ وَإِحَاطَتِهِ مِنْ كُلِّ
وَجْهٍ، فَهُوَ الْعَلِيُّ فِي دُنُوِّهِ، الْقَرِيبُ فِي عُلُوِّهِ.
وَهَذَا الْأَصْلُ يَنْفَعُكَ فِي كُلِّ
مَا وَرَدَ عَلَيْكَ مِنْ صِفَاتِ اللَّهِ الثَّابِتَةِ، فَأَثْبِتْهَا وَلَا تَتَوَقَّفْ،
فَإِنَّ الَّذِي أَثْبَتَهَا هُوَ اللَّهُ الَّذِي هُوَ أَعْلَمُ بِنَفْسِهِ، وَرَسُولُهُ
ﷺ الَّذِي هُوَ أَعْلَمُ الْخَلْقِ، وَأَوْرَعُهُمْ، وَأَنْصَحُهُمْ لِلْمَخْلُوقِينَ.
فَإِنْ خَطَرَ بِبَالِكَ تَمْثِيلٌ أَوْ
تَشْبِيهٌ، فَتَفَطَّنْ لِقَوْلِهِ: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾.
وَكَذَلِكَ أَيْضًا، فَإِنَّ الْكَلَامَ
عَلَى الصِّفَاتِ مِثْلُ الْكَلَامِ عَلَى الذَّاتِ، فَكَمَا أَنَّهُ لَا نَظِيرَ لَهُ
وَلَا مَثِيلَ لَهُ فِي ذَاتِهِ، فَكَذَلِكَ لَا مَثِيلَ لَهُ وَلَا نَظِيرَ لَهُ فِي
صِفَاتِهِ.
Penulis kitab (al-‘Aqiadah al-Wasithiyyah,
Ibnu Taimiyah) rahimahullah mengkhususkan pembahasan ini pada dua perkara
tersebut karena besarnya kebutuhan untuk mengimani kedekatan Allah dan
pengabulan doa-Nya.
Dengan demikian, seorang hamba akan senantiasa
merasa diawasi oleh Allah apabila ia beriman secara sempurna bahwa Allah dekat
dengannya. Ia juga akan terus kembali kepada Allah apabila ia beriman bahwa
Allah mengabulkan doa orang-orang yang memohon kepada-Nya serta memberikan
pahala kepada orang-orang yang taat.
Selanjutnya, beliau menjelaskan cara
menggabungkan antara keimanan terhadap ketinggian Allah dengan kedekatan dan
kebersamaan-Nya, agar tidak muncul anggapan bahwa sifat-sifat tersebut sama
seperti sifat-sifat makhluk. Sebab mungkin ada yang bertanya, "Jika Allah
Mahatinggi di atas seluruh makhluk-Nya, bagaimana mungkin Dia juga bersama
mereka dan dekat dengan mereka?"
Beliau menjawab dengan kaidah yang telah
ditetapkan dalam Al-Qur'an, As-Sunnah, dan menjadi ijma’ umat, yaitu bahwa
Allah Ta'ala tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam seluruh
sifat-Nya. Di antara sifat-Nya yang tetap adalah ketinggian yang mutlak/
absolut (الْعُلُوُّ الْمُطْلَقُ), serta kedekatan yang bersifat umum (الْقُرْبُ
الْعَامُّ) dan khusus (الْخَاصُّ).
Kedekatan dan ketinggian pada hak Allah dapat
berkumpul sekaligus karena keagungan, kebesaran, dan keluasan penguasaan-Nya
dari segala sisi. Maka Dia Mahatinggi dalam kedekatan-Nya dan Maha Dekat dalam
ketinggian-Nya.
Kaidah ini sangat bermanfaat bagimu dalam
memahami seluruh sifat Allah yang sahih penetapannya. Tetapkanlah semua sifat
tersebut dan jangan ragu, karena yang menetapkannya adalah Allah, Dzat yang
paling mengetahui tentang diri-Nya sendiri, serta Rasul-Nya ﷺ,
makhluk yang paling mengetahui tentang Allah, paling bertakwa, dan paling tulus
dalam memberi nasihat kepada umat.
Apabila terlintas dalam benakmu anggapan yang
menyerupakan Allah dengan makhluk atau membayangkan-Nya seperti makhluk, maka
ingatlah firman Allah:
﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾
"Tidak
ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya."
Demikian pula, pembahasan tentang sifat-sifat
Allah sama seperti pembahasan tentang zat-Nya. Sebagaimana tidak ada sesuatu
pun yang sebanding atau menyerupai zat-Nya, demikian pula tidak ada sesuatu pun
yang sebanding atau menyerupai sifat-sifat-Nya. [KUTIPAN SELESAI]
[6]
PERKATAAN
SYEIKH AL-‘UTSAIMIN
Dalam Syarah Al-'Aqidah Al-Wasithiyyah 2/89,
Syekh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah membawakan perkataan
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sebagai berikut:
«فَصْلٌ: وَقَدْ دَخَلَ فِي ذَلِكَ الْإِيمَانُ
بِأَنَّهُ قَرِيبٌ مِنْ خَلْقِهِ مُجِيبٌ».
قَوْلُهُ: «كَمَا جَمَعَ بَيْنَ ذَلِكَ
فِي قَوْلِهِ: ﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ
الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ﴾ [الْبَقَرَةِ: 186]، وَقَوْلِهِ ﷺ: "إِنَّ الَّذِي تَدْعُونَهُ
أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ".»
«وَمَا ذُكِرَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِنْ
قُرْبِهِ وَمَعِيَّتِهِ لَا يُنَافِي مَا ذُكِرَ مِنْ عُلُوِّهِ وَفَوْقِيَّتِهِ؛ فَإِنَّهُ
سُبْحَانَهُ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي جَمِيعِ نُعُوتِهِ، وَهُوَ عَلِيٌّ فِي دُنُوِّهِ،
قَرِيبٌ فِي عُلُوِّهِ».
"Pasal: Termasuk dalam hal itu adalah
beriman bahwa Allah dekat dengan makhluk-Nya lagi Maha Mengabulkan."
Beliau (Ibnu Taimiyah) berkata:
"Sebagaimana Allah menggabungkan antara keduanya dalam firman-Nya: 'Dan
apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku
dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa
kepada-Ku.' (QS. Al-Baqarah: 186),
Dan sabda Nabi ﷺ: 'Sesungguhnya Zat yang kalian seru itu lebih dekat kepada
salah seorang di antara kalian daripada leher tunggangannya.'
Apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan
As-Sunnah tentang kedekatan (الْقُرْبُ) dan kebersamaan (المَعِيَّةُ)-Nya tidak bertentangan dengan apa yang disebutkan tentang
ketinggian (العُلُوُّ) dan
keberadaan-Nya di atas (الفَوْقِيَّةُ). Sebab, Dia Mahasuci, tidak ada sesuatu pun yang serupa
dengan-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya. Dia Mahatinggi dalam kedekatan-Nya
dan Maha Dekat dalam ketinggian-Nya."
Kemudian Syekh Ibnu 'Utsaimin menjelaskan
perkataan tersebut sebagai berikut:
فَصْلٌ فِي قُرْبِ اللَّهِ تَعَالَى وَإِجَابَتِهِ،
وَأَنَّ ذَلِكَ لَا يُنَافِي عُلُوَّهُ وَفَوْقِيَّتَهُ.
قَوْلُهُ: «وَقَدْ دَخَلَ فِي ذَلِكَ»؛
يَعْنِي: فِيمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ.
«الْإِيمَانُ بِأَنَّهُ قَرِيبٌ مِنْ خَلْقِهِ
مُجِيبٌ»؛ الْإِيمَانُ بِأَنَّهُ قَرِيبٌ فِي نَفْسِهِ، وَمُجِيبٌ؛ يَعْنِي: لِعِبَادِهِ.
وَدَلِيلُ ذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى:
﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا
دَعَانِ﴾ [الْبَقَرَةِ: 186].
فِي هَذِهِ الْآيَةِ سِتَّةُ ضَمَائِرَ
تَعُودُ عَلَى اللَّهِ، وَعَلَى هَذَا؛ فَيَكُونُ الْقُرْبُ قُرْبَهُ عَزَّ وَجَلَّ،
وَلَكِنْ نَقُولُ فِي «قَرِيبٌ» كَمَا قُلْنَا فِي الْمَعِيَّةِ؛ إِنَّهُ لَا يَسْتَلْزِمُ
أَنْ يَكُونَ فِي الْمَكَانِ الَّذِي فِيهِ الْإِنْسَانُ.
وَإِذَا كَانَ الرَّسُولُ ﷺ يَقُولُ:
«إِنَّهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ»، فَلَا يَلْزَمُ أَنْ
يَكُونَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ نَفْسُهُ فِي الْأَرْضِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ.
وَإِذَا كَانَ قَوْلُ الرَّسُولِ ﷺ:
«فَإِنَّ اللَّهَ قِبَلَ وَجْهِ الْمُصَلِّي»، فَلَا يَسْتَلْزِمُ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ
بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجِدَارِ، إِنْ كَانَ يُصَلِّي إِلَى الْجِدَارِ، وَلَا بَيْنَهُ
وَبَيْنَ الْأَرْضِ، إِنْ كَانَ يَنْظُرُ إِلَى الْأَرْضِ.
فَكَذَلِكَ لَا يَلْزَمُ مِنْ قُرْبِهِ
أَنْ يَكُونَ فِي الْأَرْضِ؛ لِأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي جَمِيعِ
صِفَاتِهِ، وَهُوَ مُحِيطٌ بِكُلِّ شَيْءٍ.
وَاعْلَمْ أَنَّ مِنَ الْعُلَمَاءِ مَنْ
قَسَّمَ قُرْبَ اللَّهِ تَعَالَى إِلَى قِسْمَيْنِ؛ كَالْمَعِيَّةِ، وَقَالَ: الْقُرْبُ
الَّذِي مُقْتَضَاهُ الْإِحَاطَةُ قُرْبٌ عَامٌّ، وَالْقُرْبُ الَّذِي مُقْتَضَاهُ
الْإِجَابَةُ وَالْإِثَابَةُ قُرْبٌ خَاصٌّ.
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ: إِنَّ الْقُرْبَ
خَاصٌّ فَقَطْ؛ مُقْتَضٍ لِإِجَابَةِ الدَّاعِي وَإِثَابَةِ الْعَابِدِ، وَلَا يَنْقَسِمُ.
وَيَسْتَدِلُّ هَؤُلَاءِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى:
﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا
دَعَانِ﴾ [الْبَقَرَةِ: 186]، وَبِقَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ: «أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ
مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ»، وَأَنَّهُ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ تَعَالَى
قَرِيبًا مِنَ الْفَجَرَةِ الْكَفَرَةِ.
وَهَذَا اخْتِيَارُ شَيْخِ الْإِسْلَامِ
ابْنِ تَيْمِيَّةَ، وَتِلْمِيذِهِ ابْنِ الْقَيِّمِ، رَحِمَهُمَا اللَّهُ تَعَالَى.
Pasal: tentang Kedekatan Allah Ta'ala dan
Pengabulan-Nya, serta bahwa hal itu tidak bertentangan dengan ketinggian dan
keberadaan-Nya di atas.
Perkataan beliau (Ibnu Taimiya): "Dan
termasuk dalam hal itu (beriman kepada Allah)."
Maksudnya, termasuk dalam apa yang Allah
sifatkan bagi diri-Nya sendiri adalah:
"Beriman bahwa Dia maha dekat dengan
makhluk-Nya lagi Maha Mengabulkan."
Yaitu beriman bahwa Allah benar-benar maha
dekat, dan Maha Mengabulkan doa hamba-hamba-Nya.
Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala:
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya
kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan
orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku."
(QS. Al-Baqarah: 186)
Dalam ayat ini terdapat enam dhamir (kata
ganti) yang semuanya kembali kepada Allah. Oleh karena itu, yang dimaksud
dengan "dekat" adalah kedekatan Allah 'Azza wa Jalla sendiri. Namun,
tentang kata "dekat" ini kita katakan sebagaimana yang telah kita
katakan mengenai (المَعِيَّةُ) (kebersamaan), yaitu bahwa kedekatan tersebut tidak
mengharuskan Allah berada di tempat yang ditempati manusia.
Ketika Rasulullah ﷺ bersabda:"Sesungguhnya Dia lebih dekat kepada salah
seorang di antara kalian daripada leher tunggangannya," tidak
berarti Allah 'Azza wa Jalla berada di bumi, di antara orang tersebut
dengan leher tunggangannya.
Demikian pula ketika Rasulullah ﷺ
bersabda: "Sesungguhnya Allah berada di hadapan wajah orang yang sedang
shalat," maka hal itu tidak mengharuskan bahwa Allah berada di
antara orang yang shalat dengan dinding apabila ia shalat menghadap dinding,
atau berada di antara dirinya dengan tanah apabila ia memandang ke arah tanah.
Demikian pula, kedekatan Allah tidak
mengharuskan bahwa Dia berada di bumi, karena Allah tidak ada sesuatu pun yang
serupa dengan-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya, dan Dia meliputi segala
sesuatu.
Ketahuilah bahwa di antara para ulama ada yang
membagi kedekatan Allah Ta'ala menjadi dua macam, sebagaimana pembagian
terhadap (المَعِيَّةُ).
Mereka mengatakan:
[*] Kedekatan umum, yaitu kedekatan yang
konsekuensinya adalah meliputi segala sesuatu.
[*] Kedekatan khusus, yaitu kedekatan yang
konsekuensinya adalah mengabulkan doa dan memberikan pahala.
Sementara itu, ada pula ulama yang berpendapat
bahwa kedekatan Allah hanya bersifat khusus, yaitu kedekatan yang mengandung
makna mengabulkan doa orang yang berdoa dan memberi pahala kepada orang yang
beribadah, sehingga tidak terbagi menjadi dua.
Mereka berdalil dengan firman Allah Ta'ala:
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya
kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan
orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku."
(QS. Al-Baqarah: 186),
Dan dengan sabda Nabi ﷺ: "Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan
Rabbnya adalah ketika ia sedang sujud."
Mereka juga berpendapat bahwa tidak mungkin
Allah Ta'ala dikatakan dekat dengan orang-orang kafir yang durhaka.
Inilah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah dan murid beliau, Ibnul Qayyim rahimahumallah.
Lalu Syeikh Ibnu Utsaimin melanjutkan
penejelasannya :
[*] وَلَكِنْ أُورِدَ عَلَى هَذَا الْقَوْلِ
قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ
نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ﴾ [ق: 16].
فَالْمُرَادُ بِـ «الْإِنْسَانِ»: كُلُّ
إِنْسَانٍ، وَلِهَذَا قَالَ فِي آخِرِ الْآيَةِ: ﴿لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ
هَذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ...﴾ إِلَى أَنْ قَالَ:
﴿أَلْقِيَا فِي جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيدٍ﴾ [ق: 22-24]. فَهُوَ شَامِلٌ.
[*] وَأُورِدَ عَلَيْهِ أَيْضًا قَوْلُهُ تَعَالَى:
﴿فَلَوْلَا إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ وَأَنْتُمْ حِينَئِذٍ تَنْظُرُونَ وَنَحْنُ
أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَكِنْ لَا تُبْصِرُونَ﴾ [الْوَاقِعَةِ: 83-85].
ثُمَّ قَسَّمَ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ بَلَغَتْ
أَرْوَاحُهُمُ الْحُلْقُومَ إِلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ، وَمِنْهُمُ الْكَافِرُ.
[*] وَأُجِيبَ عَنْ ذَلِكَ بِأَنَّ قَوْلَهُ تَعَالَى:
﴿وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ﴾ [ق: 16] يَعْنِي: بِمَلَائِكَتِنَا.
وَاسْتُدِلَّ لِذَلِكَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى:
﴿إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ﴾ [ق: 17].
فَإِنَّ «إِذْ» ظَرْفٌ مُتَعَلِّقٌ بِقَوْلِهِ:
«أَقْرَبُ»، أَيْ: وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ حِينَ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ،
وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِقُرْبِهِ تَعَالَى: قُرْبُ مَلَائِكَتِهِ.
وَكَذَلِكَ قَوْلُهُ فِي الْمُحْتَضِرِ:
﴿وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ﴾، فَالْمُرَادُ: قُرْبُ الْمَلَائِكَةِ. وَلِهَذَا قَالَ:
﴿وَلَكِنْ لَا تُبْصِرُونَ﴾ [الْوَاقِعَةِ: 85].
وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ هَذَا الْقَرِيبَ
مَوْجُودٌ عِنْدَنَا، لَكِنْ لَا نُبْصِرُهُ، وَهَذَا يَمْتَنِعُ غَايَةَ الِامْتِنَاعِ
أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ بِهِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ؛ لِأَنَّ اللَّهَ فِي السَّمَاءِ.
وَمَا ذَهَبَ إِلَيْهِ شَيْخُ الْإِسْلَامِ
فَهُوَ عِنْدِي أَقْرَبُ، وَلَكِنَّهُ لَيْسَ فِي الْقُرْبِ بِذَاكَ.
قَوْلُهُ: «كَمَا جَمَعَ بَيْنَ ذَلِكَ».
الْمُشَارُ إِلَيْهِ: قُرْبُ الْإِجَابَةِ.
وَقَوْلُهُ: «نُعُوتِهِ». أَيْ: صِفَاتِهِ.
فَهُوَ عَلِيٌّ مَعَ أَنَّهُ دَانٍ، وَقَرِيبٌ
مَعَ أَنَّهُ عَالٍ، وَلَا تَنَاقُضَ فِي ذَلِكَ، وَقَدْ سَبَقَ بَيَانُ ذَلِكَ قَرِيبًا
فِي الْكَلَامِ عَلَى الْمَعِيَّةِ.
KRITIKAN:
[*] Akan tetapi, terhadap pendapat ini
diajukan firman Allah Ta'ala:
"Dan sungguh Kami telah menciptakan
manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih
dekat kepadanya daripada urat lehernya." (QS.
Qaf: 16)
Yang dimaksud dengan "manusia" dalam
ayat ini adalah setiap manusia. Hal ini ditegaskan oleh kelanjutan ayat-ayat
tersebut hingga firman-Nya:
"Sungguh, engkau dahulu berada dalam
kelalaian terhadap hal ini, lalu Kami singkapkan penutup yang menutupi
penglihatanmu, maka pada hari ini penglihatanmu menjadi sangat tajam..."
sampai firman-Nya:
"Lemparkanlah ke dalam Jahannam setiap
orang yang sangat kafir lagi sangat membangkang."
(QS. Qaf: 22–24)
Dengan demikian, ayat tersebut mencakup
seluruh manusia.
[*] Demikian pula diajukan firman Allah
Ta'ala:
"Maka mengapa ketika nyawa telah
sampai di kerongkongan, sedangkan kamu pada waktu itu melihat, dan Kami lebih
dekat kepadanya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat." (QS. Al-Waqi'ah: 83–85)
Kemudian Allah membagi orang-orang yang telah
sampai ruhnya di kerongkongan menjadi tiga golongan, dan di antara mereka
terdapat orang kafir.
[*] JAWABAN ATAS KRITIKAN:
Jawaban atas hal itu adalah bahwa firman
Allah: "Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya"
maksudnya adalah: dengan para malaikat Kami.
Hal ini dikuatkan oleh firman-Nya: "Ketika
dua malaikat pencatat menerima dan mencatat..." (QS. Qaf: 17)
Karena kata "ketika" (إِذْ)
merupakan keterangan waktu yang berkaitan dengan firman-Nya "lebih
dekat", sehingga maknanya adalah:
"Kami lebih dekat kepadanya ketika dua
malaikat pencatat itu menerima (amal-amalnya)."
Ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan
kedekatan tersebut adalah kedekatan para malaikat Allah.
Demikian pula firman-Nya tentang orang yang
sedang menghadapi sakaratul maut:
"Dan Kami lebih dekat
kepadanya..."
yang dimaksud adalah kedekatan para malaikat.
Oleh karena itu Allah berfirman:
"Tetapi
kamu tidak melihat." (QS. Al-Waqi'ah: 85)
Hal ini menunjukkan bahwa yang dekat itu
benar-benar berada di sekitar kita, tetapi kita tidak dapat melihatnya. Karena
itu, sangat mustahil jika yang dimaksud dengan "yang dekat" dalam
ayat tersebut adalah Allah 'Azza wa Jalla, sebab Allah berada di atas langit.
Adapun pendapat yang dipilih oleh Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah, menurut saya itulah yang lebih kuat, namun pembahasan
ayat-ayat tersebut bukanlah mengenai sifat kedekatan (الْقُرْبُ) Allah secara langsung.
Perkataan beliau (Ibnu Taimiyah): "Sebagaimana
Allah menggabungkan antara keduanya..."
Yang dimaksud dengan "keduanya"
adalah kedekatan yang berkaitan dengan pengabulan doa.
Perkataan beliau (Ibnu Taimiyah):
"Sifat-sifat-Nya (نُعُوتِهِ)."
Maksudnya adalah sifat-sifat-Nya. Allah
Mahatinggi meskipun Dia dekat, dan Dia Maha Dekat meskipun Dia Mahatinggi.
Tidak ada pertentangan antara keduanya. Penjelasan mengenai hal ini telah
dijelaskan sebelumnya ketika membahas sifat (المَعِيَّةُ) (kebersamaan Allah). [SELESAI]
[7]
PERKATAAN
SYEIKH SHOLEH FAUZAN AL-FAUZAN
Dalam kitab Syarh Al-'Aqidah Al-Wasithiyyah,
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan mengutip perkataan Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah:
قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ: وَقَدْ دَخَلَ
فِي ذَلِكَ الْإِيمَانُ بِأَنَّهُ قَرِيبٌ مُجِيبٌ؛ كَمَا جَمَعَ بَيْنَ ذَلِكَ فِي
قَوْلِهِ: ﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ
إِذَا دَعَانِ...﴾ الْآيَةُ، وَقَوْلِهِ ﷺ: «إِنَّ الَّذِي تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إِلَى
أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ».
وَمَا ذُكِرَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ
مِنْ قُرْبِهِ وَمَعِيَّتِهِ لَا يُنَافِي مَا ذُكِرَ مِنْ عُلُوِّهِ وَفَوْقِيَّتِهِ؛
فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي جَمِيعِ نُعُوتِهِ، وَهُوَ عَلِيٌّ
فِي دُنُوِّهِ، قَرِيبٌ فِي عُلُوِّهِ.
Beliau rahimahullah berkata: "Termasuk
dalam keimanan kepada Allah adalah beriman bahwa Dia Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan
doa, sebagaimana Allah menggabungkan kedua sifat tersebut dalam firman-Nya:
'Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya
kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku Maha Dekat. Aku mengabulkan doa
orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku…' (QS.
Al-Baqarah: 186),
dan juga dalam sabda Nabi ﷺ:
'Sesungguhnya Dzat yang kalian seru itu
lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada leher
tunggangannya.'
Apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan
As-Sunnah mengenai ke-mahadekatan (الْقُرْبُ) dan kebersamaan (المَعِيَّةُ) Allah tidak bertentangan dengan apa yang disebutkan mengenai
ketinggian (العُلُوُّ) dan
keberadaan-Nya di atas (fauqiyyah). Sebab, Mahasuci Allah, tidak ada sesuatu
pun yang serupa dengan-Nya dalam seluruh sifat-Nya. Dia Mahatinggi dalam kedekatan-Nya
dan Maha Dekat dalam ketinggian-Nya."
Kemudian Syaikh Shalih Al-Fauzan
menjelaskan perkataan tersebut sebagai berikut:
لَمَّا قَرَّرَ الْمُصَنِّفُ وُجُوبَ
الْإِيمَانِ بِعُلُوِّ اللَّهِ سُبْحَانَهُ عَلَى خَلْقِهِ، وَاسْتِوَائِهِ عَلَى عَرْشِهِ،
نَبَّهَ فِي هَذَا الْفَصْلِ إِلَى أَنَّهُ يَجِبُ مَعَ ذَلِكَ الْإِيمَانُ بِأَنَّهُ
قَرِيبٌ مِنْ خَلْقِهِ.
وَقَوْلُهُ: (وَقَدْ دَخَلَ فِي ذَلِكَ)
أَيْ: فِي الْإِيمَانِ بِاللَّهِ، (الْإِيمَانُ بِأَنَّهُ قَرِيبٌ) أَيْ: مِنْ خَلْقِهِ،
(مُجِيبٌ) لِدُعَائِهِمْ، (كَمَا جَمَعَ بَيْنَ ذَلِكَ) أَيْ: بَيْنَ الْقُرْبِ وَالْإِجَابَةِ
فِي قَوْلِهِ: ﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي﴾.
وَرَدَ فِي سَبَبِ نُزُولِ هَذِهِ الْآيَةِ
أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَقَرِيبٌ رَبُّنَا
فَنُنَاجِيهِ، أَمْ بَعِيدٌ فَنُنَادِيهِ؟ فَسَكَتَ النَّبِيُّ ﷺ، فَنَزَلَتْ هَذِهِ
الْآيَةُ: ﴿فَإِنِّي قَرِيبٌ﴾ مِنَ الدَّاعِي، ﴿أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ﴾.
وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى الْإِرْشَادِ إِلَى
الْمُنَاجَاةِ فِي الدُّعَاءِ بِدُونِ رَفْعِ صَوْتٍ، كَمَا فِي قَوْلِهِ ﷺ: «إِنَّ
الَّذِي تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ»، سَبَقَ شَرْحُهُ.
وَفِي هَذِهِ الْآيَةِ وَهَذَا الْحَدِيثِ
دَلَالَةٌ عَلَى قُرْبِ اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدَّاعِي بِإِجَابَتِهِ، وَهَذَا الْقُرْبُ
لَا يُنَاقِضُ عُلُوَّهُ؛ وَلِهَذَا قَالَ الْمُصَنِّفُ: (وَمَا ذُكِرَ فِي الْكِتَابِ
وَالسُّنَّةِ مِنْ قُرْبِهِ وَمَعِيَّتِهِ لَا يُنَافِي مَا ذُكِرَ مِنْ عُلُوِّهِ
وَفَوْقِيَّتِهِ)، لِأَنَّ الْكُلَّ حَقٌّ، وَالْحَقُّ لَا يَتَنَاقَضُ؛ وَلِأَنَّ
اللَّهَ تَعَالَى: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾ فِي جَمِيعِ نُعُوتِهِ، أَيْ: صِفَاتِهِ.
فَلَا يُقَالُ: إِذَا كَانَ فَوْقَ خَلْقِهِ
فَكَيْفَ يَكُونُ مَعَهُمْ؛ لِأَنَّ هَذَا السُّؤَالَ نَاشِئٌ عَنْ تَصَوُّرٍ خَاطِئٍ،
هُوَ قِيَاسُهُ سُبْحَانَهُ بِخَلْقِهِ، وَهَذَا قِيَاسٌ بَاطِلٌ؛ لِأَنَّ اللَّهَ
سُبْحَانَهُ: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾.
فَالْقُرْبُ وَالْعُلُوُّ يَجْتَمِعَانِ
فِي حَقِّهِ؛ لِعَظَمَتِهِ وَكِبْرِيَائِهِ وَإِحَاطَتِهِ، وَأَنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ
فِي يَدِهِ كَخَرْدَلَةٍ فِي يَدِ الْعَبْدِ، فَكَيْفَ يَسْتَحِيلُ فِي حَقِّ مَنْ
هَذَا بَعْضُ عَظَمَتِهِ أَنْ يَكُونَ فَوْقَ عَرْشِهِ وَيَقْرُبَ مِنْ خَلْقِهِ كَيْفَ
يَشَاءُ، وَهُوَ عَلَى الْعَرْشِ؟
(وَهُوَ عَلِيٌّ فِي دُنُوِّهِ، قَرِيبٌ فِي عُلُوِّهِ)
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، كَمَا دَلَّتْ عَلَى ذَلِكَ نُصُوصُ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ،
وَأَجْمَعَ عَلَيْهِ عُلَمَاءُ الْمِلَّةِ، وَهُوَ مِنْ خَصَائِصِهِ سُبْحَانَهُ.
(عَلِيٌّ فِي دُنُوِّهِ) أَيْ: فِي حَالِ قُرْبِهِ
مِنْ خَلْقِهِ.
(قَرِيبٌ فِي عُلُوِّهِ) أَيْ: قَرِيبٌ مِنْ خَلْقِهِ
فِي حَالِ عُلُوِّهِ عَلَى عَرْشِهِ.
"Setelah penulis (Ibnu Taimiyah)
menetapkan wajibnya beriman kepada ketinggian Allah Subhanahu wa Ta'ala di atas
seluruh makhluk-Nya dan istiwa' Allah di atas Arsy-Nya, pada pembahasan ini
beliau mengingatkan bahwa bersamaan dengan itu juga wajib beriman bahwa Allah Maha
dekat dengan makhluk-Nya.
Ucapan beliau (Ibnu Taimiyah), 'Dan
termasuk dalam hal itu...' maksudnya: termasuk dalam keimanan kepada Allah
adalah beriman bahwa Allah Maha dekat dengan makhluk-Nya, dan bahwa Dia Maha
Mengabulkan doa mereka.
Perkataan beliau (Ibnu Taimiyah), 'Sebagaimana
Allah menggabungkan kedua hal tersebut,' yakni antara sifat dekat dan
mengabulkan doa, dalam firman-Nya:
'Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya
kepadamu tentang Aku...'
Disebutkan dalam sebab turunnya ayat ini bahwa
ada seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata: 'Wahai Rasulullah, apakah Rabb kami dekat sehingga
kami bermunajat kepada-Nya, ataukah jauh sehingga kami harus memanggil-Nya
dengan suara keras?'
Nabi ﷺ pun terdiam, lalu turunlah ayat ini:
'Maka sesungguhnya Aku Maha Dekat. Aku
mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.'
Ayat ini menunjukkan tuntunan agar seseorang
bermunajat kepada Allah ketika berdoa tanpa mengeraskan suara, sebagaimana
sabda Nabi ﷺ:
'Sesungguhnya Dzat yang kalian seru itu
lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada leher tunggangannya.'
Penjelasan hadis ini telah disebutkan
sebelumnya.
Dalam ayat dan hadis tersebut terdapat dalil
bahwa Allah Ta'ala Maha dekat dengan orang yang berdoa melalui pengabulan
doa-Nya. Kedekatan ini tidak bertentangan dengan ketinggian Allah. Oleh karena
itu penulis (Ibnu Taimiyah) berkata:
'Apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan
As-Sunnah tentang kedekatan dan kebersamaan Allah tidak bertentangan dengan apa
yang disebutkan tentang ketinggian dan keberadaan-Nya di atas.'
Karena semuanya adalah kebenaran, sedangkan
kebenaran tidak mungkin saling bertentangan.
Selain itu, Allah Ta'ala 'tidak ada sesuatu
pun yang serupa dengan-Nya dalam seluruh sifat-Nya,' yakni dalam semua
sifat-Nya. Oleh sebab itu tidak boleh dikatakan:
'Jika Allah berada di atas seluruh makhluk-Nya,
bagaimana mungkin Dia juga bersama mereka?'
Pertanyaan seperti ini muncul dari anggapan
yang keliru, yaitu menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Qiyas seperti ini
adalah qiyas yang batil, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
'Tidak
ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.'
Maka sifat dekat (الْقُرْبُ) dan sifat tinggi (العُلُوُّ) berhimpun pada diri Allah karena keagungan, kebesaran, dan
keluasan kekuasaan-Nya. Langit yang tujuh saja berada dalam genggaman-Nya
bagaikan sebutir biji sawi di tangan seorang hamba.
Bagaimana mungkin dianggap mustahil bagi Dzat
yang demikian agung untuk berada di atas Arsy-Nya, namun pada saat yang sama
dekat dengan makhluk-Nya sesuai dengan kehendak-Nya, sementara Dia tetap berada
di atas Arsy?
Karena itu beliau (Ibnu Taimiyah) berkata:
'Dia Mahatinggi dalam kedekatan-Nya dan Maha Dekat dalam ketinggian-Nya.'
Mahasuci dan Mahatinggi Allah. Hal ini telah
ditunjukkan oleh nash-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah, serta telah menjadi ijmak
para ulama umat ini. Ini termasuk kekhususan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Makna 'Mahatinggi dalam kedekatan-Nya' ialah
bahwa ketika Allah Mahadekat dengan makhluk-Nya, Dia tetap Mahatinggi.
Sedangkan makna 'Maha Dekat dalam
ketinggian-Nya' ialah bahwa ketika Allah berada di atas Arsy-Nya dalam ketinggian-Nya,
Dia tetap Mahadekat dengan makhluk-Nya." [SELESAI]
[9]
PERKATAAN
SYEIKH MUHAMMAD KHOLIL HARAAS
Dalam kitab Syarh Al-'Aqidah Al-Wasithiyyah
karya Syaikh Muhammad Khalil Harras, beliau mengutip perkataan Ibnu Taimiyah:
(فَصْلٌ: وَقَدْ دَخَلَ فِي ذَلِكَ الْإِيمَانُ
بِأَنَّهُ قَرِيبٌ [مِنْ خَلْقِهِ] مُجِيبٌ؛ كَمَا جَمَعَ بَيْنَ ذَلِكَ فِي قَوْلِهِ:
﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ...﴾ الْآيَةَ، وَقَوْلِهِ ﷺ:
«إِنَّ الَّذِي تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ».
وَمَا ذُكِرَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ
مِنْ قُرْبِهِ وَمَعِيَّتِهِ لَا يُنَافِي مَا ذُكِرَ مِنْ عُلُوِّهِ وَفَوْقِيَّتِهِ؛
فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي جَمِيعِ نُعُوتِهِ، وَهُوَ عَلِيٌّ
فِي دُنُوِّهِ، قَرِيبٌ فِي عُلُوِّهِ).
"Bab: Termasuk dalam keimanan kepada
Allah adalah beriman bahwa Dia maha dekat dengan makhluk-Nya lagi Maha
Mengabulkan doa, sebagaimana Allah menggabungkan kedua sifat tersebut dalam
firman-Nya:
'Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu
tentang Aku, maka sesungguhnya Aku Maha Dekat…' (QS. Al-Baqarah: 186).
Demikian pula sabda Nabi ﷺ:
'Sesungguhnya Dzat yang kalian seru itu lebih dekat kepada salah seorang di
antara kalian daripada leher tunggangannya.'
Apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan
As-Sunnah tentang kedekatan (الْقُرْبُ) dan kebersamaan (المَعِيَّةُ) Allah tidak bertentangan dengan apa yang disebutkan tentang
ketinggian (العُلُوُّ) dan
keberadaan-Nya di atas (fauqiyyah). Sebab, Mahasuci Allah, tidak ada sesuatu
pun yang serupa dengan-Nya dalam seluruh sifat-Nya. Dia Mahatinggi dalam
kedekatan-Nya dan Maha Dekat dalam ketinggian-Nya."
Kemudian Syaikh Muhammad Khalil Harras
menjelaskan perkataan Ibnu Taimiyah tersebut:
(٦٠) قَوْلُهُ: (وَقَدْ دَخَلَ فِي ذَلِكَ الْإِيمَانُ...)
إِلَخ.
يَجِبُ الْإِيمَانُ بِمَا وَصَفَ اللَّهُ
بِهِ نَفْسَهُ مِنْ أَنَّهُ قَرِيبٌ مُجِيبٌ، فَهُوَ سُبْحَانَهُ قَرِيبٌ مِمَّنْ يَدْعُوهُ
وَيُنَاجِيهِ، يَسْمَعُ دُعَاءَهُ وَنَجْوَاهُ، وَيُجِيبُ دُعَاءَهُ مَتَى شَاءَ وَكَيْفَ
شَاءَ، فَهُوَ تَعَالَى قَرِيبٌ قُرْبَ الْعِلْمِ وَالْإِحَاطَةِ؛ كَمَا قَالَ تَعَالَى:
﴿وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ
مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ﴾.
وَبِهَذَا يَتَبَيَّنُ أَنَّهُ لَا مُنَافَاةَ
أَصْلًا بَيْنَ مَا ذُكِرَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِنْ قُرْبِهِ تَعَالَى وَمَعِيَّتِهِ،
وَبَيْنَ مَا فِيهِمَا مِنْ عُلُوِّهِ تَعَالَى وَفَوْقِيَّتِهِ.
فَهَذِهِ كُلُّهَا نُعُوتٌ لَهُ عَلَى
مَا يَلِيقُ بِهِ سُبْحَانَهُ، لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي شَيْءٍ مِنْهَا.
"(60) Perkataan beliau: 'Termasuk dalam
hal itu adalah beriman…' dan seterusnya.
Wajib beriman kepada apa yang Allah sifatkan
bagi diri-Nya, yaitu bahwa Dia Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan doa. Allah
Subhanahu wa Ta'ala dekat dengan orang yang berdoa dan bermunajat kepada-Nya.
Dia mendengar doa dan bisikan munajatnya, serta mengabulkan doanya kapan saja
dan dengan cara yang Dia kehendaki.
Allah Ta'ala dekat dengan kedekatan ilmu dan
liputan-Nya, sebagaimana firman-Nya:
'Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan
Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat
kepadanya daripada urat lehernya.' (QS. Qaf: 16).
Dengan penjelasan ini menjadi jelas bahwa sama
sekali tidak ada pertentangan antara apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan
As-Sunnah tentang kedekatan (الْقُرْبُ) dan kebersamaan (المَعِيَّةُ) Allah, dengan apa yang disebutkan di dalam keduanya tentang
ketinggian (العُلُوُّ) dan
keberadaan Allah di atas (fauqiyyah).
Semua itu merupakan sifat-sifat Allah yang
sesuai dengan keagungan-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam
satu pun dari sifat-sifat tersebut." [SELESAI]
[9]
PERKATAAN
SYEIKH SHOLEH BIN ABDUL AZIZ AALU ASY-ASYEIKH
Dalam Syarḥ Al-'Aqīdah Al-Wāsiṭhiyyah, Syaikh Ṣhāliḥ bin 'Abdul 'Azīz Ālu Asy-Syaikh berkata:
وُجُوبُ الإِيمَانِ بِقُرْبِ اللَّهِ
مِنْ خَلْقِهِ، وَأَنَّ ذَلِكَ لَا يُنَافِي عُلُوَّهُ وَفَوْقِيَّتَهُ.
فَهَذَا الْكَلَامُ الَّذِي سَمِعْتَ
فِي هَذَا الْفَصْلِ هُوَ كَالتَّفْصِيلِ لِمَا ذُكِرَ مِنْ قَبْلُ، وَذَلِكَ أَنَّ
الإِيمَانَ بِعُلُوِّ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا، وَأَنَّهُ عَالٍ عَلَى خَلْقِهِ بِذَاتِهِ،
وَأَنَّهُ مُسْتَوٍ عَلَى عَرْشِهِ، قَدْ عُورِضَ بِقُرْبِهِ جَلَّ وَعَلَا الَّذِي
وَرَدَ فِي النُّصُوصِ، وَبِبُطُونِهِ جَلَّ وَعَلَا، وَبِمَعِيَّتِهِ جَلَّ وَعَلَا
لِخَلْقِهِ.
فَذَكَرَ فِي الْفَصْلِ الَّذِي مَضَى
مَا يَتَّصِلُ بِالْمَعِيَّةِ، وَأَنَّ مَعِيَّةَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَا
تُنَافِي عُلُوَّهُ، فَهُوَ عَالٍ جَلَّ وَعَلَا عَلَى خَلْقِهِ بِذَاتِهِ، مَعَ أَنَّهُ
مَعَهُمْ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي كُلِّ حَالٍ: الْمَعِيَّةُ الْعَامَّةُ، وَمَعَ
عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ الْمَعِيَّةُ الْخَاصَّةُ.
وَهَذَا الْفَصْلُ فِيهِ ذِكْرٌ لِصِفَةِ
الْقُرْبِ لِلَّهِ جَلَّ وَعَلَا.
وَقَالَ: «وَقَدْ دَخَلَ فِي ذَلِكَ الإِيمَانُ
بِأَنَّهُ قَرِيبٌ مِنْ خَلْقِهِ مُجِيبٌ».
وَقَوْلُهُ: «وَقَدْ دَخَلَ فِي ذَلِكَ»
يَعْنِي: فِي الإِيمَانِ بِاللَّهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ
الْآخِرِ، وَبِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ.
دَخَلَ فِي أَرْكَانِ الإِيمَانِ الإِيمَانُ
بِهَذِهِ الصِّفَةِ، وَأَنَّهُ جَلَّ وَعَلَا «قَرِيبٌ مِنْ خَلْقِهِ مُجِيبٌ» سُبْحَانَهُ.
وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ، فَإِنَّ مَا
دَخَلَ فِي الإِيمَانِ بِنَصِّ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ لَا يُنَاقِضُ مَا دَخَلَ فِيهِ
بِنَصِّ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ؛ لِأَنَّ الْحَقَّ لَا يُنَاقِضُ الْحَقَّ، وَإِنَّمَا
يُنَاقِضُ الْحَقَّ الْبَاطِلُ، وَأَنَّ مَا كَانَ مَوْرِدُهُ وَاحِدًا، وَهُوَ الدَّلِيلُ
مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، فَإِنَّ الْجَمِيعَ حَقٌّ، وَالْحَقُّ يُؤَيِّدُ الْحَقَّ،
وَلَا يُعَارِضُهُ وَلَا يُنَاقِضُهُ، بَلِ الْكُلُّ حَقٌّ، وَخَارِجٌ مَخْرَجًا وَاحِدًا
فِي الدَّلَالَةِ عَلَى مَا يَجِبُ اعْتِقَادُهُ.
وَمِمَّا جَاءَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ
مِنَ الْحَقِّ أَنَّ اللَّهَ جَلَّ وَعَلَا عَالٍ عَلَى عَرْشِهِ، مُسْتَوٍ عَلَيْهِ،
وَأَنَّهُ عَالٍ عَلَى خَلْقِهِ بِذَاتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
وَأَتَى أَيْضًا فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ
أَنَّ اللَّهَ جَلَّ وَعَلَا قَرِيبٌ، قَالَ سُبْحَانَهُ: ﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي
عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ...﴾، وَقَالَ جَلَّ وَعَلَا: ﴿هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ
وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ﴾، وَقَالَ جَلَّ وَعَلَا: ﴿وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ
حَبْلِ الْوَرِيدِ﴾، وَنَحْوُ ذَلِكَ مِنَ الْآيَاتِ الَّتِي فِيهَا أَنَّ اللَّهَ
جَلَّ جَلَالُهُ قَرِيبٌ مِنْ عِبَادِهِ، وَأَنَّهُ عَالٍ عَلَى عَرْشِهِ سُبْحَانَهُ.
فَهَذَا الْكُلُّ، هَذِهِ الطَّائِفَةُ
مِنَ الْآيَاتِ، وَالطَّائِفَةُ الْأُخْرَى الَّتِي فِيهَا إِثْبَاتُ صِفَةِ الْعُلُوِّ
لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، كُلُّهَا تُوَافِقُ بَعْضُهَا بَعْضًا، وَلِهَذَا قَالَ
شَيْخُ الإِسْلَامِ: «وَمَا ذُكِرَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِنْ قُرْبِهِ وَمَعِيَّتِهِ
لَا يُنَافِي مَا ذُكِرَ مِنْ عُلُوِّهِ وَفَوْقِيَّتِهِ»؛ لِأَنَّ الْكُلَّ جَاءَ
مِنَ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا، وَإِنَّمَا قَدْ يَتَصَوَّرُ بَعْضُ الْخَلْقِ، لِمَا
فِي أَذْهَانِهِمْ مِنَ التَّصَوُّرَاتِ السَّقِيمَةِ، أَنَّ هَذَا يُنَاقِضُ هَذَا،
وَهَذَا بَاطِلٌ.
وَسَبَبُ هَذَا التَّصَوُّرِ أَنَّهُمْ
جَعَلُوا الرَّبَّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي نُعُوتِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَحْوَالِهِ أَنَّهُ
جَلَّ وَعَلَا مُمَثَّلٌ بِخَلْقِهِ، وَلَمَّا لَمْ يَكُنْ مُمْكِنًا فِيمَا شَاهَدُوهُ
مِنَ الْخَلْقِ أَنْ يَكُونَ الْمَخْلُوقُ قَرِيبًا عَالِيًا فِي نَفْسِ الْوَقْتِ،
قَالُوا: اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا لَا يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ قَرِيبًا وَعَالِيًا فِي
نَفْسِ الْوَقْتِ، وَاللَّهُ جَلَّ جَلَالُهُ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ.
فَالَّذِينَ جَعَلُوا الْمُنَافَاةَ بَيْنَ
قُرْبِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَمَعِيَّتِهِ، وَبَيْنَ عُلُوِّهِ، عُلُوِّ الذَّاتِ،
وَاسْتِوَائِهِ عَلَى عَرْشِهِ، هُمْ مُشَبِّهَةٌ؛ لِأَنَّهُمْ مَا نَفَوْا ذَلِكَ،
وَلَا جَعَلُوا هَذَا يُعَارِضُ ذَاكَ وَهَذَا يُنَافِي ذَاكَ، إِلَّا مِنْ جِهَةِ
أَنَّهُمْ مَثَّلُوا وَشَبَّهُوا، فَجَعَلُوا اللَّهَ فِي صِفَاتِهِ مُمَثَّلًا بِخَلْقِهِ،
مُشَبَّهًا بِهِمْ، وَلَمَّا جَعَلُوهُ كَذَلِكَ لَزِمَ التَّنَاقُضُ، وَلَزِمَ التَّنَافِي
بَيْنَ صِفَاتِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا.
Wajib Beriman Bahwa Allah Dekat dengan Makhluk-Nya,
dan Hal Itu Tidak Bertentangan dengan Ketinggian dan Keberadaan-Nya di Atas
Penjelasan yang telah Anda dengar pada
pembahasan ini merupakan perincian dari apa yang telah disebutkan sebelumnya.
Hal itu karena keimanan bahwa Allah Jalla wa 'Alā Mahatinggi di atas seluruh makhluk-Nya dengan Zat-Nya, dan bahwa Dia
beristiwa di atas 'Arsy-Nya, sering dipertentangkan dengan sifat kemaha
kedekatan-Nya yang disebutkan dalam berbagai nash, juga dengan sifat Al-Bāṭhin serta (المَعِيَّةُ) (kebersamaan)-Nya bersama makhluk.
Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan
mengenai sifat (المَعِيَّةُ), yaitu bahwa (المَعِيَّةُ) Allah Tabāraka wa Ta'ālā sama sekali tidak bertentangan dengan
ketinggian-Nya. Allah Mahatinggi di atas seluruh makhluk-Nya dengan Zat-Nya,
namun pada saat yang sama Dia bersama mereka dengan (المَعِيَّةُ) umum, dan bersama hamba-hamba-Nya yang beriman dengan (المَعِيَّةُ)
khusus.
Adapun pembahasan ini berkaitan dengan
penetapan sifat Al-Qurb (Kemaha dekatan) bagi Allah Jalla wa 'Alā.
Beliau (Ibnu Taimiyau) berkata: "Dan
termasuk dalam hal itu ialah beriman bahwa Allah Maha dekat dengan makhluk-Nya
dan Maha Mengabulkan."
Ungkapan "termasuk dalam hal itu"
maksudnya adalah termasuk dalam keimanan kepada Allah, para malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta takdir yang baik maupun
yang buruk.
Artinya, termasuk rukun iman adalah beriman
kepada sifat ini, yaitu bahwa Allah Jalla wa 'Alā dekat dengan makhluk-Nya dan Maha Mengabulkan doa mereka.
Jika demikian, maka apa yang termasuk bagian
dari iman berdasarkan nash Al-Qur'an dan As-Sunnah tidak mungkin bertentangan
dengan apa yang juga ditetapkan berdasarkan nash Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Sebab, kebenaran tidak akan bertentangan dengan kebenaran. Yang bertentangan
dengan kebenaran hanyalah kebatilan. Selama sumbernya satu, yaitu dalil dari
Al-Qur'an dan As-Sunnah, maka semuanya adalah benar. Kebenaran saling
menguatkan, bukan saling menolak ataupun saling bertentangan. Semuanya benar
dan berasal dari satu sumber yang sama dalam menunjukkan apa yang wajib diyakini.
Di antara kebenaran yang terdapat dalam
Al-Qur'an dan As-Sunnah ialah bahwa Allah Jalla wa 'Alā Mahatinggi di atas 'Arsy-Nya, beristiwa di atasnya, dan Mahatinggi di
atas seluruh makhluk-Nya dengan Zat-Nya.
Di sisi lain, Al-Qur'an dan As-Sunnah juga
menetapkan bahwa Allah itu dekat. Allah Subḥānahu wa Ta'ālā berfirman:
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya
kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat..."
(QS. Al-Baqarah: 186).
Allah juga berfirman: "Dialah Yang
Maha Awal, Maha Akhir, Maha Zhahir, dan Maha Batin."
Dan Dia juga berfirman: "Dan Kami
lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."
Demikian pula ayat-ayat lainnya yang
menunjukkan bahwa Allah Jalla Jalāluhu dekat dengan
hamba-hamba-Nya, sekaligus Mahatinggi di atas 'Arsy-Nya.
Seluruh kelompok ayat ini, bersama kelompok
ayat yang menetapkan sifat ketinggian bagi Allah Tabāraka wa Ta'ālā, saling membenarkan satu sama lain.
Oleh karena itu, Syaikhul Islam berkata:
"Apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an
dan As-Sunnah tentang kedekatan dan (المَعِيَّةُ)-Nya tidak bertentangan dengan apa yang disebutkan tentang
ketinggian dan keberadaan-Nya di atas."
Sebab semuanya berasal dari Allah Jalla wa 'Alā. Hanya saja, sebagian manusia membayangkan adanya pertentangan karena
gambaran-gambaran yang keliru yang ada dalam benak mereka. Mereka mengira bahwa
sifat-sifat tersebut saling bertentangan, padahal anggapan itu batil.
Penyebab munculnya anggapan tersebut adalah
karena mereka menyamakan Allah Tabāraka wa Ta'ālā dalam sifat-sifat, keadaan, dan karakteristik-Nya
dengan makhluk-Nya. Ketika mereka melihat bahwa dalam makhluk tidak mungkin
satu makhluk sekaligus berada dekat dan berada tinggi pada waktu yang sama,
mereka pun berkata bahwa Allah juga tidak mungkin sekaligus dekat dan
Mahatinggi.
Padahal Allah Jalla Jalāluhu tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.
Oleh karena itu, orang-orang yang menganggap
adanya pertentangan antara kedekatan dan (المَعِيَّةُ) Allah dengan ketinggian Zat-Nya serta istiwa-Nya di atas
'Arsy, pada hakikatnya telah melakukan tasybih (menyerupakan Allah dengan
makhluk). Mereka tidak menolak sifat-sifat tersebut atau menganggap salah
satunya bertentangan dengan yang lain kecuali karena mereka terlebih dahulu
menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Mereka menjadikan sifat-sifat Allah serupa
dengan sifat-sifat makhluk. Ketika mereka melakukan penyamaan seperti itu,
barulah menurut mereka timbul kontradiksi dan pertentangan di antara
sifat-sifat Allah Jalla wa 'Alā.
Lalu Syeikh Sholeh Aalu asy-Syeikh
melanjutkan penjelasan-nya:
وَهَذَا الْفَصْلُ مَعْقُودٌ لِبَيَانِ
عُلُوِّ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَاسْتِوَائِهِ عَلَى عَرْشِهِ، وَأَنَّ ذَلِكَ لَا
يُنَافِي قُرْبَهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى.
قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ: «وَمَا ذُكِرَ
فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِنْ قُرْبِهِ وَمَعِيَّتِهِ لَا يُنَافِي مَا ذُكِرَ
مِنْ عُلُوِّهِ وَفَوْقِيَّتِهِ».
مَا ذُكِرَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ
مِنْ قُرْبِهِ وَمَعِيَّتِهِ لَا يُنَافِي مَا ذُكِرَ مِنْ عُلُوِّهِ وَفَوْقِيَّتِهِ؛
لِأَنَّ الْجَمِيعَ حَقٌّ، وَالْحَقُّ كَمَا ذَكَرْتُ لَكَ لَا يُنَاقِضُ حَقًّا أَبَدًا،
بَلْ يَكُونُ مَعَهُ، وَيَسِيرُ مَعَهُ، وَيَدُلُّ عَلَيْهِ، وَيُبَيِّنُهُ، وَيَكُونُ
أَحَدُهُمَا دَالًّا عَلَى الْآخَرِ، وَالْآخَرُ دَالًّا عَلَى الْأَوَّلِ، وَهَكَذَا.
قَالَ: «فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ»، هَذَا
تَعْلِيلٌ.
«فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
فِي جَمِيعِ نُعُوتِهِ، وَهُوَ عَلِيٌّ فِي دُنُوِّهِ، قَرِيبٌ فِي عُلُوِّهِ».
هُوَ سُبْحَانَهُ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
فِي جَمِيعِ نُعُوتِهِ، لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ سُبْحَانَهُ فِي عُلُوِّهِ، عُلُوِّ
الذَّاتِ، وَلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي اسْتِوَائِهِ عَلَى عَرْشِهِ، وَلَيْسَ كَمِثْلِهِ
شَيْءٌ فِي قُرْبِهِ، وَلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي مَعِيَّتِهِ الْخَاصَّةِ، وَلَيْسَ
كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي مَعِيَّتِهِ الْعَامَّةِ، وَلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي إِحَاطَتِهِ،
وَلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي قَهْرِهِ، وَلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي جَبَرُوتِهِ،
وَلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي جَمَالِهِ، وَلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي جَلَالِهِ،
تَبَارَكَ رَبُّنَا وَتَقَدَّسَ، لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ الْبَتَّةَ.
وَذَلِكَ أَنَّ الْعَبْدَ لَا يُمْكِنُ
أَنْ يَتَصَوَّرَ شَيْئًا إِلَّا كَانَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا بِخِلَافِهِ؛ لِأَنَّ
عَقْلَ الْإِنْسَانِ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَطْرَأَ عَلَيْهِ شَيْءٌ إِلَّا وَقَدْ صَارَ
لِهَذَا مُقَدِّمَةٌ، وَهِيَ أَنَّهُ:
• قَدْ رَأَى مَثِيلًا لِمَا طَرَأَ عَلَى ذِهْنِهِ.
• أَوْ يَكُونُ رَأَى شَبِيهًا لَهُ.
• أَوْ يَكُونُ رَأَى مَا يَقِيسُهُ عَلَيْهِ.
وَإِلَّا فَلَا يُمْكِنُ أَنْ يَتَصَوَّرَ
شَيْئًا.
﴿وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ
لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ﴾.
فَهَذِهِ وَسَائِلُ الْإِدْرَاكِ: السَّمْعُ،
وَالْأَبْصَارُ، وَالْأَفْئِدَةُ، حَتَّى يَحْصُلَ الْقِيَاسُ، وَحَتَّى تَحْصُلَ الْمَعْرِفَةُ،
وَالْمَعْرِفَةُ إِنَّمَا تَحْصُلُ بِالْوَسَائِلِ.
وَالْعَبْدُ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَتَصَوَّرَ
شَيْئًا حَتَّى يَكُونَ ذَلِكَ الشَّيْءُ قَدْ رَآهُ.
إِذَا قُلْتُ لَكَ: كِتَابٌ، تَتَصَوَّرُ
الْكِتَابَ؛ لِأَنَّكَ قَدْ رَأَيْتَهُ أَوْ رَأَيْتَ مَثِيلَهُ. كِتَابٌ تَتَصَوَّرُ
كَيْفِيَّتَهُ، لَكِنْ أَيُّ كِتَابٍ؟ هَلْ هُوَ كَبِيرٌ أَمْ صَغِيرٌ؟ لَكِنْ يَقُومُ
فِي ذِهْنِكَ تَصَوُّرُ مَعْنَى وَدَلَالَةِ هَذِهِ الْكَلِمَةِ. أَوْ تَصَوُّرٌ لِشَبِيهِهَا،
لِمَا يُشْبِهُهَا مِنْ بَعْضِ الصِّفَاتِ. أَوْ تَصَوُّرٌ لِمَا يُقَاسُ عَلَى مَا
ذُكِرَ.
فَتَقُولُ: الْإِنْسَانُ، فَإِذَا قِيلَ
لَكَ: الْإِنْسَانُ فِي الْعُلُوِّ، يَعْنِي إِذَا عَلَا فَإِنَّهُ يَخِفُّ وَيَطِيرُ
فِي السَّمَاءِ، فَإِنَّكَ مَا تَتَصَوَّرُ هَذِهِ الْعِبَارَةَ إِلَّا بِتَصَوُّرِكَ
لِلْإِنْسَانِ وَمَا يُقَاسُ عَلَيْهِ، وَتَصَوُّرِكَ لِطَيَرَانِهِ، وَهُوَ إِنْسَانٌ،
وَمِنْ صِفَةِ الْإِنْسَانِ أَنَّهُ يَمْشِي، لَيْسَ مِنْ صِفَتِهِ أَنْ يَطِيرَ، لَكِنْ
إِنْسَانٌ يَطِيرُ لَا تَتَصَوَّرُهُ، يَسْبَحُ فِي الْهَوَاءِ لَا تَتَصَوَّرُهُ؛
لِأَنَّكَ هُنَا إِذَا أُلْقِيَ إِنْسَانٌ مِنْ فَوْقُ، فَإِنَّهُ لَا بُدَّ أَنْ يَنْزِلَ
إِلَى السُّفْلِ، لَكِنْ تَتَصَوَّرُ ذَلِكَ؛ لِأَنَّ الْمُقَدِّمَاتِ مَوْجُودَةٌ،
السِّبَاحَةُ تَعْرِفُ مَعْنَاهَا، وَالسُّقُوطُ تَعْرِفُ مَعْنَاهُ، وَالْإِنْسَانُ
بِحَرَكَتِهِ تَعْرِفُ مَعْنَاهُ، فَيُمْكِنُ أَنْ تَقِيسَ الْحَالَ الْمَجْهُولَةَ
عَلَى هَذِهِ الْحَالِ الْمَعْلُومَةِ.
وَاللَّهُ جَلَّ وَعَلَا لَمْ يُرَ، وَلَمْ
يُرَ مِثَالُهُ، وَلَمْ يُرَ شَبِيهٌ لَهُ، وَلَمْ يُرَ مَا يُقَاسُ عَلَيْهِ، فَلِهَذَا
لَا يُمْكِنُ أَنْ يَخْطُرَ فِي الْبَالِ شَيْءٌ يَكُونُ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا شَبِيهًا
لِمَا طَرَأَ فِي الْبَالِ.
وَلِهَذَا يَكُونُ إِثْبَاتُ الصِّفَاتِ
إِثْبَاتَ مَعْنًى، لَا إِثْبَاتَ كَيْفِيَّةِ اتِّصَافٍ.
فَإِنَّنَا لَا نَقُولُ: يَتَّصِفُ بِالْيَدِ،
وَهَذِهِ الْيَدُ مُتَّصِلَةٌ مَثَلًا بِالْجِسْمِ، أَوْ نَقُولُ: مُتَّصِفٌ بِالْعَيْنَيْنِ،
وَهَاتَانِ الْعَيْنَانِ فِي وَجْهِهِ عَلَى صِفَةِ كَذَا؛ هَذَا غَيْرُ مَقُولٍ، وَإِنَّمَا
نُثْبِتُ الصِّفَةَ، وَلَا نُثْبِتُ الْكَيْفِيَّةَ، وَالْكَيْفِيَّةُ مُفَوَّضَةٌ
إِلَى اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا: ﴿وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ﴾.
وَلِهَذَا فَمَنْ جَعَلَ مُنَافَاةً بَيْنَ
قُرْبِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَبَيْنَ عُلُوِّهِ وَفَوْقِيَّتِهِ، فَإِنَّهُ يَكُونُ
مُبْطِلًا.
لِمَاذَا؟
لِأَنَّهُ لَمْ يَتَصَوَّرِ الْمُنَافَاةَ
حَتَّى قَامَ فِي قَلْبِهِ وَعَقْلِهِ التَّشْبِيهُ، فَلَمَّا قَامَ التَّمْثِيلُ وَالتَّشْبِيهُ
قَالَ: لَا يُمْكِنُ أَنْ تَجْتَمِعَ هَذِهِ وَهَذِهِ.
لِمَاذَا؟
لِأَنَّ ذِهْنَهُ شَبَّهَ أَوْ مَثَّلَ،
ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ سَعَى فِي نَفْيِ مَا عَقَدَهُ الذِّهْنُ مُشَبِّهًا وَمُمَثِّلًا.
أَمَّا الْمُسَلِّمُ لِنُصُوصِ الْكِتَابِ
وَالسُّنَّةِ، فَإِنَّهُ يُثْبِتُ الصِّفَاتِ إِثْبَاتَ مَعْنًى، لَا إِثْبَاتَ كَيْفِيَّةٍ.
وَمِمَّا يَدُلُّكَ عَلَى بُطْلَانِ هَذَا
التَّشْبِيهِ وَالتَّمْثِيلِ، وَبُطْلَانِ مَنِ ادَّعَى الْمُنَافَاةَ بَيْنَ الْقُرْبِ
وَالْمَعِيَّةِ، وَبَيْنَ الْعُلُوِّ وَالْفَوْقِيَّةِ، إِذَا تَصَوَّرْتَ أَنَّ اللَّهَ
جَلَّ وَعَلَا مِنْ عَظَمَتِهِ وَجَلَالِهِ وَسَعَتِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَإِحَاطَتِهِ،
أَنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ فِي كَفِّ الرَّحْمَنِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى كَخَرْدَلَةٍ
فِي كَفِّ أَحَدِكُمْ، تَأْخُذُ حَبَّةَ خَرْدَلٍ فَتَضِيعُ فِي رَاحَتِكَ، اللَّهُ
تَبَارَكَ وَتَعَالَى السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ فِي كَفِّ الرَّحْمَنِ كَخَرْدَلَةٍ
فِي كَفِّ أَحَدِكُمْ، فَكَيْفَ بِالْأَرْضِ الَّتِي هِيَ صَغِيرَةٌ جِدًّا بِالنِّسْبَةِ
لِلسَّمَاوَاتِ السَّبْعِ.
وَلِهَذَا يُقَرِّبُ لَكَ ذَلِكَ فَهْمَ
أَنَّ اتِّصَافَ اللَّهِ بِالصِّفَةِ لَا يُعْلَمُ كَيْفِيَّتُهُ إِلَّا هُوَ، وَإِنَّمَا
عَلَيْنَا التَّسْلِيمُ.
فَمَنْ جَعَلَ بَعْضَ النُّصُوصِ مُنَاقِضَةً
لِبَعْضٍ، وَبَعْضَ النُّصُوصِ لَا تَتَّفِقُ مَعَ بَعْضٍ آخَرَ حَتَّى يُعْمِلَ فِيهَا
عَقْلَهُ، يَكُونُ قَدْ أُتِيَ مِنْ جَهْلِهِ، وَمِنْ تَشْبِيهِهِ وَتَمْثِيلِهِ وَضَلَالِهِ؛
لِأَنَّهُ جَعَلَ اتِّصَافَ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا بِصِفَاتِهِ كَاتِّصَافِ الْمَخْلُوقِ
بِصِفَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ أُصُولِ الضَّلَالِ الَّتِي بِهَا ضَلَّ كَثِيرٌ مِنَ الْخَلْقِ.
Bab ini disusun untuk menjelaskan ketinggian
Allah Jalla wa 'Alā dan istiwa-Nya di atas
Arsy-Nya, serta bahwa hal itu tidak bertentangan dengan kedekatan-Nya Tabāraka wa Ta'ālā.
Beliau (Ibnu Taimiyah) rahimahullah berkata:
"Dan apa yang disebutkan dalam
Al-Qur'an dan As-Sunnah tentang kedekatan (الْقُرْبُ) dan kebersamaan (المَعِيَّةُ) Allah tidak bertentangan dengan apa yang disebutkan tentang
ketinggian (العُلُوُّ) dan keberadaan-Nya di atas (الفَوْقِيَّةُ)."
Apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan
As-Sunnah mengenai kedekatan dan kebersamaan Allah tidaklah bertentangan dengan
apa yang disebutkan mengenai ketinggian dan keberadaan-Nya di atas. Sebab,
semuanya adalah kebenaran, dan kebenaran, sebagaimana telah saya jelaskan
kepadamu, tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran yang lain. Bahkan,
masing-masing saling menguatkan, saling mendukung, saling menjelaskan, dan yang
satu menjadi dalil bagi yang lainnya, demikian seterusnya.
Beliau (Ibnu Taimiyah) berkata:
"Sebab Dia Subhanahu wa Ta'ala tidak
ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya. Dia
Mahatinggi dalam kedekatan-Nya dan Mahadekat dalam ketinggian-Nya."
Dia Subhanahu wa Ta'ala tidak ada sesuatu pun
yang serupa dengan-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya.
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya
dalam ketinggian dzat-Nya.
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya
dalam istiwa-Nya di atas Arsy.
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya
dalam kedekatan-Nya.
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya
dalam (المَعِيَّةُ)
khusus-Nya.
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya
dalam (المَعِيَّةُ)
umum-Nya.
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya
dalam keluasan ilmu dan cakupan-Nya.
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya
dalam kekuasaan-Nya.
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya
dalam keperkasaan-Nya.
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya
dalam keindahan-Nya.
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya
dalam keagungan-Nya.
Mahasuci dan Mahaberkah Rabb kita. Sama sekali
tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.
Hal itu karena seorang hamba tidak mungkin
membayangkan sesuatu kecuali Allah Jalla wa 'Alā pasti berbeda darinya. Sebab, akal manusia tidak mungkin membayangkan
sesuatu kecuali telah didahului oleh salah satu dari tiga hal berikut:
1]. Ia pernah melihat sesuatu yang serupa
dengannya.
2]. Atau pernah melihat sesuatu yang mirip
dengannya.
3]. Atau pernah melihat sesuatu yang dapat
dijadikan sebagai pembanding (qiyas).
Jika tidak demikian, maka ia tidak mungkin
dapat membayangkannya.
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari
perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, lalu Dia memberikan kepadamu
pendengaran, penglihatan, dan hati."
Pendengaran, penglihatan, dan hati itulah
sarana untuk memperoleh pengetahuan dan membuat perbandingan, sehingga lahirlah
pemahaman. Pengetahuan hanya dapat diperoleh melalui sarana-sarana tersebut.
Seorang hamba tidak mungkin membayangkan
sesuatu sampai ia pernah melihatnya.
Jika saya mengatakan kepadamu, "sebuah
buku", maka engkau langsung dapat membayangkan buku itu karena engkau
pernah melihatnya atau melihat sesuatu yang serupa dengannya. Engkau dapat membayangkan
hakikat umum sebuah buku, meskipun belum tentu mengetahui apakah ukurannya
besar atau kecil. Namun, makna dan gambaran umum dari kata "buku"
telah hadir dalam benakmu.
Atau engkau membayangkannya melalui sesuatu
yang mirip dengannya dalam sebagian sifat.
Atau melalui sesuatu yang diqiyaskan
kepadanya.
Misalnya dikatakan, "seorang manusia
terbang di udara." Gambaran itu tidak mungkin muncul kecuali setelah
engkau membayangkan manusia dan membandingkannya dengan sesuatu yang dapat
terbang. Padahal sifat manusia adalah berjalan, bukan terbang. Manusia yang
terbang sebenarnya tidak pernah engkau saksikan, demikian pula manusia yang
berenang di udara tidak pernah engkau lihat. Sebab, jika seseorang dilempar
dari tempat tinggi, pasti ia akan jatuh ke bawah.
Namun, engkau masih dapat membayangkannya
karena unsur-unsur pembentuk gambaran itu telah ada dalam pikiranmu. Engkau
memahami makna berenang, memahami makna jatuh, dan memahami gerakan manusia.
Dengan demikian, engkau mengqiyaskan sesuatu yang belum diketahui kepada
sesuatu yang telah diketahui.
Adapun Allah Jalla wa 'Alā, Dia tidak pernah dilihat.
Tidak pernah pula dilihat sesuatu yang semisal
dengan-Nya.
Tidak pernah dilihat sesuatu yang
menyerupai-Nya.
Tidak ada pula sesuatu yang dapat dijadikan
ukuran untuk membandingkan-Nya.
Karena itu, tidak mungkin terlintas dalam
benak seseorang suatu gambaran tentang Allah, lalu Allah itu serupa dengan
gambaran yang muncul dalam benaknya.
Oleh sebab itu, penetapan sifat-sifat Allah
adalah penetapan makna, bukan penetapan bagaimana hakikat sifat tersebut.
Kita menetapkan bahwa Allah memiliki tangan,
tetapi kita tidak mengatakan bagaimana bentuk tangan itu, misalnya tersambung
dengan lengan atau seperti ini dan itu.
Kita menetapkan bahwa Allah memiliki dua mata,
tetapi kita tidak mengatakan bahwa kedua mata itu berada pada wajah dengan
bentuk tertentu.
Semua itu tidak boleh dikatakan.
Yang kita tetapkan hanyalah sifatnya,
sedangkan bagaimana hakikat sifat tersebut kita tidak menetapkannya.
Kaifiyahnya diserahkan kepada Allah Jalla wa 'Alā.
Sebagaimana firman-Nya:
"Dan
tidak ada yang mengetahui takwilnya selain Allah."
Karena itu, siapa saja yang menganggap adanya
pertentangan antara kedekatan Allah dengan ketinggian dan keberadaan-Nya di
atas, maka ia telah keliru.
Mengapa?
Karena ia tidak mungkin membayangkan adanya
pertentangan tersebut sampai terlebih dahulu timbul dalam hati dan pikirannya
anggapan bahwa Allah serupa dengan makhluk.
Ketika tasybih dan tamtsil itu telah tertanam
dalam pikirannya, barulah ia berkata, "Mustahil kedua sifat ini
berkumpul."
Mengapa?
Karena sejak awal pikirannya telah
menyerupakan Allah dengan makhluk, kemudian setelah itu ia berusaha menolak
sesuatu yang dibangun oleh pikirannya sendiri yang penuh dengan penyerupaan
tersebut.
Adapun orang yang tunduk kepada nash-nash
Al-Qur'an dan As-Sunnah, maka ia menetapkan sifat-sifat Allah dengan menetapkan
maknanya, bukan menetapkan bagaimana hakikatnya.
Di antara hal yang menunjukkan batilnya penyerupaan
dan perumpamaan ini, serta batilnya anggapan bahwa terdapat pertentangan antara
kedekatan dan (المَعِيَّةُ) dengan ketinggian dan keberadaan Allah di atas, adalah apabila
engkau merenungkan betapa agungnya Allah, betapa mulianya Dia, betapa luas kerajaan-Nya,
dan betapa sempurna cakupan kekuasaan-Nya.
Sesungguhnya tujuh langit di telapak tangan
Ar-Rahman Tabāraka wa Ta'ālā hanyalah seperti sebutir biji sawi di telapak
tangan salah seorang dari kalian. Bayangkan engkau memegang sebutir biji sawi
di telapak tanganmu; betapa kecilnya hingga hampir tidak tampak. Demikianlah
perumpamaan tujuh langit di dalam genggaman Ar-Rahman.
Lalu bagaimana dengan bumi yang ukurannya
jauh lebih kecil dibandingkan tujuh langit?
Perenungan seperti ini akan memudahkanmu
memahami bahwa hakikat bagaimana Allah bersifat hanya diketahui oleh Allah
sendiri, sedangkan kewajiban kita hanyalah menerima dan tunduk.
Maka, siapa yang menganggap sebagian nash
bertentangan dengan sebagian lainnya, atau menganggap sebagian nash tidak
sesuai dengan nash yang lain sehingga ia menjadikan akalnya sebagai hakim atas
semuanya, maka sesungguhnya ia telah terjerumus karena kebodohannya, karena
penyerupaannya terhadap Allah dengan makhluk, dan karena kesesatannya. Sebab,
ia telah menjadikan cara Allah memiliki sifat sama seperti cara makhluk
memiliki sifat. Inilah salah satu pokok kesesatan yang menyebabkan banyak
manusia tersesat.
Kemudian Syeikh Sholeh Aalu asy-Syeikh
melanjutkan penjelasan-nya:
قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ: «فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي جَمِيعِ نُعُوتِهِ».
وَقَدْ قَدَّمْنَا لَكُمْ أَنَّ قَوْلَهُ:
﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾، كَمَا قَالَ جَلَّ وَعَلَا: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾، أَنَّ هَذِهِ فِيهَا تَأْكِيدُ نَفْيِ الْمُمَاثَلَةِ؛
لِأَنَّ الْكَافَ هُنَا فِي قَوْلِهِ: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾ هَذِهِ صِلَةٌ عَلَى
الصَّحِيحِ، صِلَةٌ جَاءَتْ لِتَوْكِيدِ الْكَلَامِ، يَعْنِي: زَائِدَةٌ لَفْظًا، مُؤَكِّدَةٌ
مَعْنًى، زَائِدَةٌ لَفْظًا يَعْنِي إِعْرَابًا... ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، أَوْ أَكْثَرَ،
فَقَالَ: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾؛ يَعْنِي: لَيْسَ مِثْلُهُ شَيْءٌ، لَيْسَ مِثْلُهُ
شَيْءٌ، لَيْسَ مِثْلُهُ شَيْءٌ، فَكَأَنَّهُ كَرَّرَ الْكَلَامَ تَأْكِيدًا مِرَارًا،
أَفَادَنَا ذَلِكَ مَجِيءُ الْكَافِ.
وَقَالَ آخَرُونَ: إِنَّ الْكَافَ هُنَا
اسْمٌ وَلَيْسَتْ حَرْفًا، وَتَكُونُ بِمَعْنَى «مِثْل»، وَذَلِكَ كَقَوْلِهِ جَلَّ
وَعَلَا: ﴿ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ
أَشَدُّ قَسْوَةً﴾، قَالَ: ﴿أَوْ أَشَدُّ﴾، وَجَعَلَ «أَشَدُّ» مَرْفُوعَةً، وَهِيَ
مَعْطُوفَةٌ عَلَى الْكَافِ، قَالَ: ﴿فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً﴾
مِنَ الْحِجَارَةِ، فَصَارَتِ الْكَافُ هُنَا اسْمًا بِمَعْنَى «مِثْل».
وَمِنْهُ أَيْضًا قَوْلُ الشَّاعِرِ:
لَوْ كَانَ فِي قَلْبِي كَقَدْرِ قُلَامَةٍ
*** حُبًّا لِغَيْرِكَ مَا أَتَتْكَ رَسَائِلِي
قَالَ: «لَوْ كَانَ فِي قَلْبِي كَقَدْرِ
قُلَامَةٍ»، لَا بُدَّ أَنْ تَكُونَ الْكَافُ اسْمًا؛ لِأَنَّهُ إِنْ لَمْ تَكُنْ اسْمًا
فَلَا يَكُونُ ثَمَّ خَبَرٌ لِـ«كَانَ»، لِأَنَّهُ تَكُونُ كِلْتَا الْكَلِمَتَيْنِ
شِبْهَ جُمْلَةٍ: «لَوْ كَانَ فِي قَلْبِي كَقَدْرِ قُلَامَةٍ»، فَلَا بُدَّ أَنْ تَكُونَ
الْكَافُ اسْمًا أَوْ صِلَةً حَتَّى يَسْتَقِيمَ الْكَلَامُ.
الْمَقْصُودُ مِنْ ذَلِكَ أَنَّ قَوْلَهُ:
﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾ فِيهَا إِثْبَاتُ نَفْيِ الْمِثْلِيَّةِ.
قَالَ: «فِي جَمِيعِ نُعُوتِهِ، وَهُوَ
عَلِيٌّ فِي دُنُوِّهِ، قَرِيبٌ فِي عُلُوِّهِ».
«فِي جَمِيعِ نُعُوتِهِ»: النُّعُوتُ عِنْدَ أَكْثَرِ
أَهْلِ الْعِلْمِ هِيَ الصِّفَاتُ، فَيُقَالُ: صِفَاتُ الرَّحْمَنِ وَنُعُوتُ الرَّحْمَنِ.
وَمِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ مَنْ يُفَرِّقُ
بَيْنَ الصِّفَاتِ وَالنُّعُوتِ، فَيَجْعَلُ الصِّفَاتِ مِمَّا يَتَعَلَّقُ بِالذَّاتِ،
وَيَجْعَلُ النُّعُوتَ مِمَّا يَتَعَلَّقُ بِالْأَفْعَالِ، وَالْأَمْرُ فِيهِ وَاسِعٌ.
وَطَرِيقَةُ شَيْخِ الْإِسْلَامِ وَتِلْمِيذِهِ
ابْنِ الْقَيِّمِ أَنَّ النُّعُوتَ وَالصِّفَاتِ مُتَقَارِبَانِ مِنْ جِهَةِ الدَّلَالَةِ،
فَهِيَ غَيْرُ مُخْتَصَّةٍ بِالْأَفْعَالِ، بَلْ هِيَ نُعُوتُ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا،
وَصِفَاتُهُ الذَّاتِيَّةُ وَالْفِعْلِيَّةُ، وَغَيْرُهَا، كُلُّهَا الْبَابُ وَاحِدٌ.
قَوْلُهُ هُنَا: «فِي جَمِيعِ نُعُوتِهِ»؛
هَذَا فِيهِ التَّنْبِيهُ عَلَى أَنَّهُ لَا يُفَرَّقُ فِي نَفْيِ الْمِثْلِيَّةِ بَيْنَ
بَعْضِ الصِّفَاتِ وَبَعْضٍ، وَهَذَا مَعْلُومٌ مِنْ طَرِيقَةِ أَهْلِ السُّنَّةِ.
وَطَائِفَةٌ مِنَ الْمُبْتَدِعَةِ يَجْعَلُونَ
عَدَمَ الْمُمَاثَلَةِ فِي النُّعُوتِ مُتَعَلِّقًا بِبَعْضِ الصِّفَاتِ دُونَ بَعْضٍ.
فَمَا كَانَ مِنْ جِهَةِ الْأَفْعَالِ
قَالُوا: يُقَاسُ عَلَى الْخَلْقِ، وَمَا كَانَ مِنْ جِهَةِ الذَّاتِ فَلَا يُقَاسُ
عَلَى الْخَلْقِ.
وَهَذَا بَاطِلٌ؛ فَإِنَّ الْبَابَ بَابٌ
وَاحِدٌ فِي جَمِيعِ نُعُوتِهِ سُبْحَانَهُ، لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ، سَوَاءٌ فِي
الْأَفْعَالِ أَوْ فِي الصِّفَاتِ، صِفَاتِ الذَّاتِ أَوْ صِفَاتِ الْفِعْلِ، الصِّفَاتِ
الذَّاتِيَّةِ أَوِ الِاخْتِيَارِيَّةِ، الْبَابُ جَمِيعًا بَابٌ وَاحِدٌ، لَيْسَ كَمِثْلِ
اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا شَيْءٌ فِي جَمِيعِ النُّعُوتِ، نُعُوتِ الْجَمَالِ، وَنُعُوتِ
الْجَلَالِ، وَنُعُوتِ الْكِبْرِيَاءِ، وَنُعُوتِ الرُّبُوبِيَّةِ، وَنُعُوتِ الْأُلُوهِيَّةِ،
كُلُّ ذَلِكَ هُوَ جَلَّ وَعَلَا مُتَفَرِّدٌ فِيهِ، لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ.
قَالَ: «وَهُوَ عَلِيٌّ فِي دُنُوِّهِ،
قَرِيبٌ فِي عُلُوِّهِ».
هَذِهِ مِنْ كَلِمَاتِ السَّلَفِ الْمَشْهُورَةِ:
أَنَّهُ جَلَّ وَعَلَا «عَلِيٌّ فِي دُنُوِّهِ»، وَعُلُوُّهُ جَلَّ وَعَلَا الْمَقْصُودُ
هُنَا «عُلُوُّ الذَّاتِ» فِي دُنُوِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، الَّذِي جَاءَ فِي بَعْضِ
الْأَحَادِيثِ: «كَدُنُوِّهِ مِنْ أَهْلِ عَرَفَةَ»، فِي الْمَشْهَدِ يَدْنُو الرَّحْمَنُ
جَلَّ وَعَلَا مِنْهُمْ، ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ.
وَهُوَ جَلَّ وَعَلَا «قَرِيبٌ فِي عُلُوِّهِ»،
يَعْنِي أَنَّهُ سُبْحَانَهُ يَدْنُو وَيَقْرُبُ مِنْ عِبَادِهِ كَيْفَ شَاءَ، وَهُوَ
عَلَى عَرْشِهِ مُسْتَوٍ عَلَيْهِ، عَالٍ عَلَى خَلْقِهِ بِذَاتِهِ، تَبَارَكَ وَتَعَالَى.
فَعُلُوُّ الرَّحْمَنِ عُلُوُّ الذَّاتِ،
وَالْقَهْرِ، وَالْقَدْرِ، وَفَوْقِيَّةُ الرَّحْمَنِ فَوْقِيَّةُ الذَّاتِ، وَالْقَدْرِ،
وَالْقَهْرِ، أَوِ الْعُلُوُّ وَالْفَوْقِيَّةُ الرَّاجِعَةُ إِلَى الذَّاتِ وَالرَّاجِعَةُ
إِلَى الصِّفَاتِ، كُلُّ ذَلِكَ لَا يُنَافِي دُنُوَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، وَلَا
يُنَافِي قُرْبَهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، بَلْ هُوَ جَلَّ وَعَلَا عَلِيٌّ فِي دُنُوِّهِ،
قَرِيبٌ فِي عُلُوِّهِ، ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾،
تَبَارَكَ رَبُّنَا وَتَقَدَّسَ وَتَعَاظَمَ.
نَقِفُ عِنْدَ هَذَا، وَهَذَا الدَّرْسُ
هُوَ آخِرُ الدُّرُوسِ فِي هَذَا الْفَصْلِ".
Beliau (Ibnu Taimiyah) rahimahullah
berkata:
"Sesungguhnya Allah Mahasuci, tidak
ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya."
Sebelumnya telah kami jelaskan bahwa firman
Allah yang artinya, "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia
Maha Mendengar lagi Maha Melihat," mengandung penegasan yang sangat kuat
tentang penafian adanya sesuatu yang menyerupai Allah.
Sebab, huruf "kaf" pada frasa
"seperti-Nya" menurut pendapat yang lebih kuat hanyalah huruf
tambahan yang berfungsi untuk memperkuat makna kalimat. Maksud "tambahan"
di sini adalah tambahan dari sisi lafaz dan susunan bahasa, bukan tambahan yang
sia-sia.
Seakan-akan Allah mengulang makna tersebut
berkali-kali:
"Tidak ada sesuatu pun yang
menyerupai-Nya."
"Tidak ada sesuatu pun yang
menyerupai-Nya."
"Tidak ada sesuatu pun yang
menyerupai-Nya."
Bahkan seolah-olah makna itu diulang lebih
dari tiga kali sebagai bentuk penegasan. Penguatan makna tersebut dipahami dari
penggunaan huruf "kaf" dalam ayat itu.
Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa
huruf "kaf" pada ayat tersebut merupakan kata benda, bukan huruf, dan
bermakna "seperti".
Mereka berdalil dengan firman Allah yang
artinya:
"Kemudian setelah itu hati kalian
menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi."
Pada ayat tersebut Allah berfirman bahwa hati
mereka menjadi seperti batu atau bahkan lebih keras. Kata "lebih
keras" dibaca dalam bentuk marfu' dan dihubungkan dengan kata yang diawali
huruf "kaf". Karena itu mereka memahami bahwa "kaf" di sini
berfungsi sebagai kata benda yang bermakna "seperti".
Mereka juga berdalil dengan perkataan seorang
penyair:
"Seandainya
di dalam hatiku terdapat cinta kepada selainmu walaupun hanya sebesar potongan
kuku, niscaya surat-suratku tidak akan pernah sampai kepadamu."
Menurut mereka, pada bait tersebut huruf
"kaf" harus dipahami sebagai kata benda. Sebab jika bukan demikian,
maka susunan kalimatnya tidak akan sempurna secara tata bahasa. Oleh karena
itu, huruf tersebut harus dipahami sebagai kata benda atau sebagai tambahan
yang menguatkan makna agar susunan kalimat menjadi benar.
Inti dari seluruh pembahasan itu adalah bahwa
firman Allah yang artinya, "Tidak ada sesuatu pun yang serupa
dengan-Nya," mengandung penegasan yang sangat kuat bahwa sama sekali tidak
ada sesuatu pun yang menyerupai Allah.
Beliau (Ibnu Taimiyah) rahimahullah kemudian
berkata:
"Dalam seluruh sifat-sifat-Nya. Dia
Mahatinggi ketika dekat, dan Mahadekat ketika tinggi."
Yang dimaksud dengan "na'at" menurut
mayoritas ulama adalah "sifat-sifat". Oleh karena itu dikenal istilah
"sifat-sifat Allah" dan "na'at-na'at Allah".
Sebagian ulama membedakan antara istilah sifat
dan na'at. Menurut mereka, sifat berkaitan dengan Dzat Allah, sedangkan na'at
berkaitan dengan perbuatan-perbuatan-Nya. Namun masalah ini cukup luas.
Metode yang ditempuh oleh Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah dan murid beliau Ibnul Qayyim adalah bahwa istilah sifat dan na'at
memiliki makna yang hampir sama. Keduanya tidak hanya mencakup sifat-sifat
perbuatan, tetapi juga seluruh sifat Allah, baik sifat-sifat dzatiyyah maupun
sifat-sifat fi'liyyah. Semuanya berada dalam satu pembahasan.
Ucapan beliau (Ibnu Taimiyah)
rahimahullah : "Dalam seluruh sifat-sifat-Nya." mengandung
penegasan bahwa penafian adanya keserupaan berlaku pada seluruh sifat Allah
tanpa membedakan satu sifat dengan sifat lainnya. Inilah manhaj Ahlus Sunnah.
Sebagian kelompok ahli bid'ah
beranggapan bahwa tidak adanya keserupaan hanya berlaku pada sebagian sifat
saja.
Menurut mereka, sifat-sifat yang berkaitan
dengan perbuatan dapat dibandingkan dengan sifat makhluk, sedangkan sifat-sifat
yang berkaitan dengan Dzat Allah tidak boleh dibandingkan.
Pendapat ini adalah pendapat yang batil.
Sebab seluruh pembahasan tentang sifat Allah
merupakan satu kesatuan. Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Allah, baik
dalam sifat-sifat perbuatan maupun sifat-sifat dzat, baik sifat dzatiyyah
maupun sifat ikhtiyariyyah. Seluruhnya berada dalam satu kaidah yang sama,
yaitu tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Allah dalam seluruh sifat-Nya.
Baik sifat-sifat keindahan-Nya, sifat-sifat
keagungan-Nya, sifat-sifat kebesaran-Nya, sifat-sifat rububiyyah-Nya, maupun
sifat-sifat uluhiyyah-Nya, semuanya merupakan kekhususan Allah semata. Tidak
ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.
Beliau (Ibnu Taimiyah) rahimahullah kemudian
berkata:
"Dia Mahatinggi ketika dekat, dan
Mahadekat ketika tinggi."
Ungkapan ini termasuk perkataan para ulama
salaf yang sangat masyhur.
Yang dimaksud dengan "Mahatinggi ketika
dekat" adalah bahwa Allah memiliki sifat Mahatinggi dengan Dzat-Nya,
meskipun Dia mendekat kepada makhluk-Nya. Kedekatan tersebut sebagaimana
disebutkan dalam beberapa hadis, seperti ketika Allah mendekat kepada jamaah
yang sedang wukuf di Arafah, kemudian Allah membanggakan mereka di hadapan para
malaikat.
Sedangkan yang dimaksud dengan "Mahadekat
ketika tinggi" ialah bahwa Allah mendekat kepada hamba-hamba-Nya sesuai
dengan kehendak-Nya, sementara Dia tetap berada di atas Arsy-Nya, beristiwa di
atasnya, dan Mahatinggi di atas seluruh makhluk-Nya dengan Dzat-Nya.
Ketinggian Allah meliputi ketinggian Dzat,
ketinggian kekuasaan, dan ketinggian kedudukan.
Demikian pula keberadaan Allah di atas
meliputi keberadaan di atas dengan Dzat-Nya, di atas dalam kekuasaan-Nya, dan
di atas dalam kedudukan-Nya.
Baik ketinggian maupun keberadaan-Nya di atas,
baik yang berkaitan dengan Dzat maupun dengan sifat-sifat-Nya, sama sekali
tidak bertentangan dengan kedekatan Allah kepada makhluk-Nya.
Sebaliknya, Allah Mahatinggi ketika dekat dan
Mahadekat ketika tinggi.
Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.
Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Mahaberkah, Mahasuci, Mahatinggi, dan
Mahaagung Rabb kita.
Sampai di sinilah pembahasan kita. Kajian ini
merupakan pelajaran terakhir pada bab ini”. [KUTIPAN SELESAI]
****
KESIMPULANNYA:
Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak ada sesuatu
pun yang serupa dengan-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya. Dia Mahatinggi dalam
kedekatan-Nya, dan Maha Dekat dalam ketinggian-Nya.
BERSAMBUNG ...
0 Komentar