DIANTARA MUKJIZAT-MUKJIZAT ILMIYAH DALAM SURAT YASIN
----
Di Susun Oleh Fakhry
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
DAFTAR ISI:
- PENDAHULUAN
- MUKJIZAT PERTAMA: TENTANG PERGANTIAN SIANG DAN MALAM, SERTA PEREDARAN MATAHARI, BUMI DAN BULAN.
- KRITIKAN TERHADAP AYAT 40 DAN JAWABAN-NYA
- MUKJIZAT KE DUA: TENTANG PROSES PENCIPTAAN MANUSIA
- MUKJIZAT KE TIGA : ALLAH MENJADIKAN API DARI POHON YANG HIJAU
- TANYA JAWAB DALAM SURAT YASIN NO 78-79 DAN 81
****
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
PENDAHULUAN
Sesungguhnya kita hidup di dalam kerajaan Allah. Sebuah alam semesta yang tersusun dengan sangat sempurna. Semakin kita merenunginya, semakin tampak kesempurnaan, keindahan, hikmah, dan ilmu di dalamnya. Sebagaimana Allah menyempurnakan kerajaan-Nya dan meneguhkan tanda-tanda kekuasaan-Nya pada ciptaan serta tatanan alam dengan kekuasaan dan ilmu-Nya, demikian pula Dia menyempurnakan ayat-ayat Kitab-Nya, menjadikannya sebagai petunjuk kepada tanda-tanda kekuasaan-Nya yang terdapat pada seluruh makhluk-Nya dengan kekuasaan dan ilmu-Nya.
Sebagaimana Allah menjelaskan bahwa Kitab ini merupakan ayat-ayat yang membimbing kita kepada-Nya, Dia juga menyebutkan bahwa di alam semesta ini terdapat tanda-tanda yang membuat kita mengenal-Nya dan menunjukkan jalan kepada-Nya. Sebagaimana Allah menciptakan alam semesta ini dengan keajaiban yang luar biasa sehingga Dia berhak menyandang nama "Pencipta Langit dan Bumi Yang Maha Mengagumkan", demikian pula Dia menurunkan Kitab-Nya dengan keindahan yang tidak seorang pun mampu mendatangkan sesuatu yang serupa dengannya. Allah berfirman:
﴿قُلْ لَوِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا﴾.
"Katakanlah, 'Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang semisal Al-Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan mampu membuat yang semisal dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.'"
Dalam tulisan ini kita akan mengulas sebagian ayat dalam Surah Yasin. Surah ini disebut oleh Rasulullah ﷺ sebagai jantung Al-Qur'an. Pertama-tama kita akan membahas empat ayat yang berada di tengah surah, yaitu ayat 37 sampai ayat 40, yang berbicara tentang tanda-tanda kekuasaan Allah pada malam, siang, matahari, dan bulan. Setelah itu kita akan membahas beberapa ayat pada akhir surah, yaitu ayat 77 sampai ayat 80, yang membantah perkataan orang-orang yang mengingkari kebangkitan melalui tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta yang menakjubkan ini.
===***===
MUKJIZAT PERTAMA:
TENTANG PERGANTIAN SIANG DAN MALAM
SERTA PEREDARAN MATAHARI, BUMI DAN BULAN.
[Ayat 37, 38, 39 & 40]
Mari kita mulai dengan ayat pertama dari 4 ayat tersebut. Allah Ta'ala berfirman:
﴿وَآيَةٌ لَهُمُ اللَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُمْ مُظْلِمُونَ وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ﴾
"Dan suatu tanda bagi mereka ialah malam; Kami tanggalkan siang darinya, maka seketika itu mereka berada dalam kegelapan. Dan matahari berjalan pada tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan bulan telah Kami tetapkan baginya beberapa fase hingga akhirnya kembali seperti pelepah kurma yang tua. Tidaklah mungkin matahari mengejar bulan, dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya." [QS. Yasin : 37-40]
Maha Benar Allah.
****
PERGANTIAN SIANG DAN MALAM
Ayat no. 37 menggambarkan dengan sangat jelas proses pergantian malam dan siang. Pada setiap saat, setengah permukaan bumi menerima sinar matahari, sedangkan setengah lainnya berada jauh dari cahaya matahari maupun bintang-bintang lainnya sehingga tenggelam dalam kegelapan yang meliputi seluruh alam semesta. Gambaran ini sesuai dengan kenyataan ilmiah yang baru dapat disaksikan para astronot dari luar angkasa.
Kemukjizatan ayat ini terletak pada penjelasannya bahwa kegelapan merupakan keadaan asal, sedangkan siang adalah keadaan yang datang kemudian. Oleh sebab itu, siang seakan-akan "ditanggalkan" dari bumi sehingga bumi kembali tenggelam dalam kegelapan alam semesta.
Dan semua orang tahu
bahwa ada siang dan malam, dan saat matahari terbenam, malam datang dan dunia
menjadi gelap, bukankah begitu?
Inilah yang diyakini
kebanyakan orang, akan tetapi realitas ilmiah berbeda, karena malam itu
tidaklah datang, melainkan yang benar adalah siang pergi, jadi malam
(kegelapan) itu adalah keadaan yang berlaku, dan terang adalah unsur asing yang
masuk.
Inilah yang terjadi
pada saat siang hari, karena cahaya matahari menghilangkan kegelapan. Dan pada
saat matahari terbenam, maka cahaya matahari pergi, sementara malam (kegelapan)
tetap ada. Inilah yang dikatakan oleh ayat mulia:
﴿وَآيَةٌ لَّهُمْ اللَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ
فَإِذَا هُم مُّظْلِمُونَ﴾
“Dan suatu tanda
(kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami kuliti siang dari
malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan". [QS.
Yaasiin: 37].
Gambar bola dunia saat
matahari terbenam dari Stasiun Luar Angkasa Internasional dari ketinggian 380
km. Di mana nampak siang terkelupas dari malam.
Arah cahaya yang
sebenarnya dan arah cahaya yang diperkirakan. Karena matahari berada di sebelah
kanan gambar, dan karena cahaya bergerak dalam garis lurus, maka yang
diperkirakan bentuk cahayanya akan seperti yang ditunjukkan di dalam lingkaran
pada gambar kiri yang gambar yang diperkirakan [الشَّكْلُ الْمُتَوَقَّعُ]". Namun yang sebenarnya terjadi pada
“gambar yang asli [الصُّورَةُ الْأَصْلِيَّةُ]” justru sebaliknya.
Akan Tapi bagaimana
tentang menguliti [ السَّلْخُ]?
Karena letak matahari
berada di sebelah kanan gambar, maka arah dan bentuk cahaya seharusnya seperti
yang ditunjukkan pada "gambar yang diperkirakan [الشَّكْلُ الْمُتَوَقَّعُ]", namun kenyataan menunjukkan
sebaliknya karena lapisan atas atmosfer bertindak sebagai cermin dan
memantulkan sinar matahari yang jatuh padanya (setelah matahari terbenam) dari
bagian bawah atmosfer menuju Bumi. Oleh karena itu, cahaya tetap menyala bahkan
setelah matahari terbenam hingga waktu shalat Isya.
Gambar menunjukkan
fenomena pantulan cahaya, bahwa sudut jatuhnya cahaya sama dengan sudut pantul
Inilah yang membuat
orang yang memandang dari pesawat atau stasiun luar angkasa bahwa ia nampak
terkuliti. Di sini keajaiban ilmiah terbukti dalam ayat ini:
Pertama: karena
fenomena ini tidak dapat dilihat dari permukaan bumi, dan Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam tidak memiliki pesawat terbang atau stasiun ruang
angkasa untuk mengamati fenomena ini dan membicarakannya.
Dan kedua, karena ayat
terkulitinya siang dari malam tampaknya tidak masuk akal pada pandangan
pertama, kecuali dengan mengetahui bahwa lapisan atas atmosfer memantulkan
cahaya.
﴿أَلَمْ
تَرَ إِلَىٰ رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ ٱلظِّلَّ وَلَوْ شَآءَ لَجَعَلَهُۥ سَاكِنًا
ثُمَّ جَعَلْنَا ٱلشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيلًا﴾
Artinya: Apakah kamu
tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan
memendekkan) bayang-bayang. Dan jika Dia menghendaki niscaya Dia menjadikan
tetap bayang-bayang itu. Kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas
bayang-bayang itu. [ QS. Al-Furqan: 45 ].
Dan itu
mengembalikannya ke permukaan bumi, dan ini adalah fenomena yang belum
disetujui oleh sains modern hingga tanggal penerbitan artikel tersebut tiba.
Anda belum yakin?
Siapa pun yang ingin membicarakan fenomena ini juga harus menyadari kebulatan Bumi dan fakta bahwa Bumi berputar mengelilingi dirinya sendiri.
PERGERAKAN BUMI
Ketika bumi berputar pada porosnya, bagian yang semula diterangi cahaya matahari perlahan-lahan menjauh sehingga setengah permukaan bumi berubah dari siang menjadi malam. Hingga kini para ilmuwan pun belum menemukan ungkapan ilmiah yang lebih tepat dan lebih mendalam untuk menggambarkan pergantian tersebut selain ungkapan Al-Qur'an:
﴿وَآيَةٌ لَهُمُ اللَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُمْ مُظْلِمُونَ﴾.
"Dan suatu tanda bagi mereka ialah malam; Kami tanggalkan siang darinya, maka seketika itu mereka berada dalam kegelapan." [QS. Yasin: 37]
Ayat ini juga mengarahkan kita kepada suatu kaidah ilmiah dalam menghitung satu hari penuh, yang menunjukkan hikmah dan kekuasaan Sang Pencipta. Kaidah itu adalah selang waktu yang tetap antara dua kali "penanggalan" siang, atau antara dua kali terbenamnya matahari. Selang waktu ini bersifat konstan, tidak berubah meskipun musim, bulan, maupun tahun silih berganti.
Selain itu, ayat ini juga mengisyaratkan fakta lain yang baru diketahui pada zaman modern, yaitu bahwa proses pergantian tersebut hanya mungkin terjadi apabila bumi berputar pada porosnya secara stabil terhadap matahari sehingga pada akhir siang ia masuk ke dalam kegelapan.
Bumi juga berputar dengan kecepatan yang tetap, tidak berubah meskipun telah berlalu tahun, abad, dan zaman.
Dengan demikian malam tidak pernah mendahului siang, sebagaimana dinyatakan dalam ayat berikutnya no. 40:
﴿وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۚ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ﴾
"Dan malam tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya." [QS. Yasin : 40]
Siapakah yang menjadikan seluruh benda langit tetap berada pada orbitnya? Siapakah yang menjaga kestabilan bumi, matahari, setiap planet, dan setiap bintang? Kita sedang berhadapan dengan kenyataan-kenyataan yang sangat teliti, yang menjadi bukti tentang ilmu, kekuasaan, dan keagungan Sang Pencipta.
Bagaimanakah mungkin selisih waktu yang tetap antara dua pergantian siang itu terus terjaga, sementara bumi memiliki gerakan yang sangat kompleks: berputar pada porosnya yang miring, mengelilingi matahari, bergerak bersama matahari, dan bersama seluruh tata surya melaju dengan kecepatan yang luar biasa di ruang angkasa yang sangat luas?
Semua fenomena kosmik ini tidak mungkin terjadi kecuali berdasarkan ketetapan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui, sebagaimana ditegaskan dalam ayat berikutnya melalui dua nama Allah yang mulia tersebut. Dia Mahaperkasa dalam kekuasaan-Nya dan Mahamengetahui dalam ilmu-Nya.
Perputaran bumi pada porosnya yang berlangsung secara pasti, serta pergantian malam dan siang yang terus terjadi tanpa percepatan maupun keterlambatan dengan ketelitian yang luar biasa, telah menjadi dasar bagi manusia dalam mendefinisikan waktu. Manusia kemudian membagi waktu yang diperlukan bumi untuk berputar sekali pada porosnya menjadi dua puluh empat jam. Dengan demikian mereka mampu mengatur kehidupan dan aktivitas mereka.
Apakah keteraturan seperti ini mungkin terjadi dengan sendirinya?
Jika kita renungkan ayat ini dan memperhatikan bagaimana manusia meluncurkan benda kecil yang mereka sebut satelit buatan, yang beratnya bahkan tidak lebih besar daripada batu kecil, lalu mengorbit mengelilingi bumi hanya dalam waktu tertentu, mereka harus melengkapinya dengan berbagai peralatan untuk memasok energi, mengendalikan geraknya, menjaga orbitnya, serta terus-menerus mengoreksi penyimpangannya. Namun dalam banyak keadaan mereka tetap tidak mampu mempertahankan orbit satelit tersebut lebih dari beberapa bulan.
Bandingkanlah satelit kecil itu dengan bumi yang sangat besar, bentuknya tidak bulat sempurna, dan diameternya mencapai sekitar 12.742 kilometer. Siapakah yang telah menjaga bumi beserta seluruh planet dalam tata surya tetap berada pada orbitnya selama jutaan bahkan miliaran tahun tanpa ada satu pun yang menyimpang dari lintasannya?
Dialah benar-benar Sang Pencipta Yang Mahaperkasa lagi Mahamengetahui.
Al-Qur'an menghadirkan bukti-bukti ini dari Allah, Dzat yang mengetahui segala rahasia langit dan bumi. Dia mengarahkan perhatian kita kepada berbagai hakikat dan rahasia tersebut melalui ungkapan-ungkapan yang paling tepat dan paling indah, sebagaimana tampak dalam ayat-ayat ini, agar kita mengenal keagungan dan kemuliaan-Nya. Ketika merenungkannya, kita menyadari keagungan Dzat yang mengucapkannya dan yang menciptakan seluruh alam ini. Kita pun menyadari ketidakmampuan kita untuk menghasilkan sesuatu yang serupa, baik dalam penciptaan, perbuatan, maupun perkataan, sehingga akhirnya kita mendapatkan petunjuk menuju-Nya dan mengakui keesaan-Nya.
PERGERAKAN MATAHARI
Kemudian datang ayat berikutnya [no. 38] dengan memaparkan kemukjizatan tentang pergerakan matahari dan bagaimana Allah menjadikannya terus bergerak hingga mencapai tempat ketetapannya pada akhir perjalanan sesuai dengan ketentuan Penciptanya:
﴿ وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ﴾
“Dan matahari berjalan pada tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.” [QS. Yasin : 38]
Ayat ini menggambarkan bahwa Matahari “bergerak”, bukan diam, dan bahwa setelah perjalanannya Matahari akan mencapai suatu tempat menetap. Selanjutnya Allah berfirman:
﴿وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ﴾
"Dan bulan telah Kami tetapkan baginya beberapa fase hingga akhirnya kembali seperti pelepah kurma yang tua. Tidaklah mungkin matahari mengejar bulan, dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya." [QS. Yasin : 37-40]
Konteks yang serupa juga terdapat dalam Surah Al-Anbiya ayat 33:
﴿وَهُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ﴾
“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya”. [QS. Anbiya: 33]
Makna kata “falak (الفَلَكُ)” dalam bahasa Arab dan kitab-kitab tafsir adalah “lintasan yang berputar” atau “orbit”.
Sebagaimana diriwayatkan:
Ali menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Shalih menceritakan kepada kami, ia berkata: Mu'awiyah menceritakan kepadaku dari Ali, dari Ibnu Abbas:
قَوْلُهُ: ﴿وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ﴾ دَوَرَانًا، يَقُولُ: دَوَرَانًا يَسْبَحُونَ، يَقُولُ: يَجْرُونَ.
Mengenai firman Allah: ﴿وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ﴾ yakni “berputar”. Maksudnya, mereka berputar berenang dan bergerak pada lintasannya.
[Diriwayatkan oleh ath-Thabari dalam Tafsirnya 20/521 Cet. Dar at-Tarbiyah]
Dinilai hasan sanadnya oleh Hikmat bin Basyir bin Yasin dalam ash-Shohih al-Masbuur 4/185.
Dalam Kamus Lisan al-Arab karya Ibnu Mandzur 10/478 disebutkan bahwa “falak” (الفَلَكُ) berarti:
دَورَانُ السَّمَاءِ، وَهُوَ اسْمٌ للدوَران خَاصَّةً
“Perputaran langit dan secara khusus menunjukkan makna peredaran”.
Hal ini berarti bahwa Matahari bergerak pada suatu lintasan melingkar, demikian pula Bulan. Kita mengetahui bahwa Bulan mengelilingi Bumi dalam lintasan melingkar, dan peredaran inilah yang menyebabkan terjadinya bulan-bulan qamariyah (Hijriah). Lintasan (falak) Matahari berbeda dengan lintasan Bulan, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah:
﴿لَا ٱلشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَآ أَن تُدْرِكَ ٱلْقَمَرَ … وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ﴾
"Tidaklah mungkin bagi Matahari mengejar Bulan... dan masing-masing beredar pada garis edarnya."
Namun, "di manakah dan bagaimana Matahari bergerak serta beredar?"
Secara ilmiah, kini telah diketahui bahwa Matahari dan bintang-bintang yang kita lihat pada malam hari merupakan bagian dari sekitar "200–400 miliar bintang" yang bersama-sama membentuk apa yang disebut "galaksi", atau yang kita kenal sebagai "Galaksi Bima Sakti (Milky Way)". Galaksi ini tampak oleh kita sebagai pita cahaya di langit pada malam yang gelap, sebagaimana terlihat pada gambar berikutnya.
Pada abad yang lalu, para ilmuwan meyakini bahwa matahari adalah pusat alam semesta, bersifat tetap dalam ukuran, massa, dan posisinya, sementara segala sesuatu bergerak mengelilinginya. Mereka juga beranggapan bahwa materi bersifat kekal dan tidak akan habis, serta bahwa materi dan waktu memiliki siklus yang tidak berakhir.
Namun ayat ini, dengan redaksi yang sangat mengagumkan sejak lebih dari empat belas abad yang lalu, menjelaskan bahwa hukum yang berlaku atas seluruh alam semesta juga berlaku atas matahari, materi, bahkan waktu. Matahari bergerak, berpindah, dan melaju di alam semesta yang sangat luas ini. Saat ini ia bersinar terang, namun pada suatu saat nanti sinarnya akan padam dan akhirnya mencapai keadaan tetap. Matahari terus mengalami penyusutan ukuran dan massa hingga akhirnya menetap dan lenyap.
Ketika matahari bergerak, seluruh anggota tata surya yang terikat dengannya, yaitu planet-planet, turut bergerak bersamanya. Matahari berputar pada porosnya, sekaligus menyebabkan kita beredar mengelilinginya. Oleh karena itu, matahari benar-benar bergerak, sementara planet-planetnya bergerak mengelilinginya hingga pada saat gerak matahari berakhir, mereka pun akan berhenti bersamanya. Inilah yang menurut penulis telah ditegaskan oleh pengamatan ilmu pengetahuan modern.
Bumi yang kita tempati hanyalah salah satu planet dalam tata surya yang bergerak mengikuti perjalanan matahari sesuai dengan ketetapan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. Pada akhirnya, gerakan matahari akan berhenti.
Matahari adalah bola gas hidrogen yang suhu bagian intinya mencapai lebih dari lima belas juta derajat. Ketika saat itu tiba, menurut penulis, waktu bagi penghuni tata surya akan berhenti. Waktu tidak lagi berputar, dan materi tidak akan tetap sebagaimana anggapan kaum materialis, orang-orang kafir, dan ateis. Matahari memiliki batas waktu yang telah ditentukan, tempat ia akan berhenti atas perintah Penciptanya, dan ketika itu segala sesuatu akan berakhir. Menurut penulis, inilah yang ditegaskan oleh ilmu pengetahuan dan juga kandungan ayat tersebut.
Ayat ini menyatakan bahwa matahari suatu saat akan berhenti setelah perjalanan panjangnya. Para ilmuwan telah membuktikan bahwa matahari merupakan bola gas hidrogen, dengan suhu inti lebih dari lima belas juta derajat Celsius, tempat berlangsungnya reaksi fusi nuklir yang sangat kompleks. Pada akhirnya, reaksi-reaksi tersebut akan mengubah matahari dari bola yang menyala menjadi benda langit yang stabil.
Suhu inti matahari yang sangat tinggi memungkinkan dua atom hidrogen—unsur utama penyusun massa matahari—bergabung menjadi satu atom unsur lain yang massanya lebih kecil daripada gabungan kedua atom hidrogen tersebut. Selisih massa itulah yang berubah menjadi energi yang dipancarkan matahari kepada kita.
Manusia telah berusaha meniru reaksi fusi yang terjadi di matahari, tetapi belum mampu mengendalikannya di dalam reaktor nuklir. Penelitian di bidang ini justru melahirkan bom hidrogen yang menghasilkan energi luar biasa besar dengan daya ledak yang sangat merusak. Dengan demikian, manusia baru mampu memanfaatkannya untuk penghancuran, bukan untuk memakmurkan alam sebagaimana yang terjadi pada matahari atas kehendak Allah.
Agar dapat memancarkan panas sebesar itu, setiap detik matahari membakar sekitar enam ratus juta ton bahan bakar hidrogen. Pembakaran ini berlangsung terus-menerus, stabil, tanpa henti, sepanjang detik, hari, abad, hingga jutaan tahun. Dari proses tersebut, setiap detik dipancarkan energi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan bumi selama satu juta tahun. Akan tetapi, energi itu tersebar ke seluruh alam semesta sehingga bagian yang diterima bumi hanyalah porsi yang telah ditentukan baginya, tidak lebih dan tidak kurang, yang besarnya menurut penulis hanyalah sekitar satu per sepuluh miliar atau bahkan lebih kecil lagi.
Dengan demikian, matahari mengalami perubahan. Ia bermula dari gas hidrogen yang terus mengalami reaksi dan peleburan dalam jumlah sangat besar, kemudian akhirnya berubah menjadi bola gas helium yang bersifat lebih stabil. Ketika seluruh bahan bakarnya habis dan tidak lagi mampu melawan gaya gravitasi massanya sendiri, matahari akan menyusut akibat beratnya sendiri. Pada akhirnya, matahari akan menjadi katai putih atau lubang hitam sebagaimana yang telah terjadi pada jutaan bintang lain yang sebelumnya serupa dengan matahari kita.
Menurut perkiraan para ilmuwan yang dikutip penulis, proses ini akan berlangsung sekitar lima ratus miliar tahun, sedangkan usia matahari saat ini diperkirakan sekitar empat setengah miliar tahun.
Lalu muncul pertanyaan: siapakah yang menjaga matahari sehingga seluruh proses pergerakan dan reaksi yang terjadi di dalamnya tetap berlangsung secara stabil selama miliaran tahun, masa ketika bumi terbentuk dan kehidupan muncul di atasnya?
Seandainya suhu inti matahari turun satu juta derajat saja, maka laju pembakaran di dalamnya akan berkurang hingga setengahnya. Hal ini, menurut penulis, ditegaskan oleh ilmu pengetahuan modern. Akibatnya, energi yang sampai ke bumi akan berkurang sehingga bumi membeku. Sebaliknya, jika suhunya meningkat, laju pembakaran akan bertambah, energi yang diterima bumi menjadi terlalu besar, dan bumi pun akan terbakar.
Selain itu, matahari terus kehilangan jutaan ton massanya setiap detik akibat pembakaran tersebut. Timbul pertanyaan lain: apakah penyusutan massa ini tidak memengaruhi orbit planet-planet di sekelilingnya? Teori-teori ilmiah menyatakan bahwa orbit-orbit itu seharusnya berubah sehingga bumi semakin menjauh dari matahari. Jika itu benar-benar terjadi, kehidupan di bumi akan membeku. Akan tetapi, menurut penulis, hal itu tidak terjadi sepanjang jutaan tahun usia bumi.
Para ilmuwan pun, menurut penulis, masih menghadapi kesulitan dalam memahami rahasia matahari sehingga ia tetap mampu mempertahankan kestabilannya dan kestabilan seluruh planet yang mengelilinginya. Al-Qur'an kemudian menyatakan bahwa Allahlah yang menetapkan seluruh kestabilan tersebut melalui firman-Nya:
﴿ وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ﴾
“Dan matahari berjalan pada tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.” [QS. Yasin: 38]
Sungguh Dia Mahaperkasa dalam kekuasaan dan ketetapan-Nya, serta Maha Mengetahui yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Ilmu pengetahuan, menurut penulis, belum mampu mengungkap sepenuhnya rahasia kestabilan perjalanan matahari, baik dalam reaksi-reaksinya maupun dalam menjaga planet-planet yang bergerak mengelilinginya. Oleh karena itu, Kitab Allah menyatakan bahwa semuanya terjadi berdasarkan ketetapan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui:
﴿ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ﴾
“Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.”
Menurut penulis, semua itu merupakan ciptaan, pengaturan, dan ilmu Allah semata, dan ungkapan tersebut berasal dari-Nya semata.
PERGERAKAN BULAN:
Sebelum membahas tentang bulan, marilah terlebih dahulu kita membandingkannya dengan matahari.
Bulan adalah benda langit kecil yang Allah tundukkan untuk bumi. Jika kita ingin membayangkan jarak dan ukuran matahari serta bulan dibandingkan dengan bumi, misalnya kita membayangkan matahari sebagai sebuah bola berdiameter satu meter, maka bumi hanyalah sebuah bola kecil, atau dalam istilah sehari-hari seperti sebuah kelereng kecil yang diameternya kurang dari satu sentimeter. Kelereng kecil ini mengelilingi matahari pada orbit yang berjari-jari sekitar 120 meter dan menyelesaikan satu putaran penuh setiap 365,25 hari (satu tahun matahari).
Adapun bulan, dalam perbandingan tersebut, hanyalah seperti sebuah kerikil yang jauh lebih kecil, dengan diameter tidak lebih dari 4 milimeter. Bulan mengelilingi bumi pada orbit yang berjari-jari sekitar 30 sentimeter dan menyelesaikan satu putaran setiap 27,3 hari, yang menjadi dasar satu bulan sideris. Perbandingan ini hanya dimaksudkan untuk membantu membayangkan skala ukuran benda-benda langit tersebut.
Sesungguhnya diameter bumi sekitar 12.800 kilometer, diameter matahari sekitar 1.400.000 kilometer, sedangkan diameter bulan sekitar 3.476 kilometer. Dengan demikian, diameter bumi hanya sekitar empat kali diameter bulan, sementara massa bumi sekitar delapan puluh kali massa bulan.
Jika bumi tampak sebagai benda kecil yang mengelilingi matahari dengan keteraturan yang sempurna, maka bulan seakan-akan tidak hanya mengelilingi bumi, tetapi keduanya seolah berputar mengelilingi satu sama lain. Sebagaimana disebutkan dalam sebagian referensi Barat, keduanya tampak "menari" bersama; masing-masing berputar mengelilingi yang lain, sementara keduanya bersama-sama mengelilingi matahari.
Para ilmuwan juga mendapati bahwa bulan selalu menghadap bumi dengan sisi yang sama, seolah-olah senantiasa siap memenuhi kebutuhannya. Bagi pengamat yang melihat dari kejauhan, bulan tampak bergoyang lembut mengelilingi bumi dalam gerakannya yang terbatas, sebagaimana ranting-ranting bergoyang di sekitar batang pohon.
Bulan juga bergerak pada bidang orbit yang membentuk sudut sekitar 23,5 derajat terhadap bidang khatulistiwa bumi. Menurut penulis, sudut ini sama dengan kemiringan sumbu rotasi bumi terhadap bidang orbit bumi mengelilingi matahari. Kesesuaian kedua sudut tersebut menyebabkan adanya keselarasan antara bidang orbit bumi dan orbit bulan. Karena itu, luas permukaan bulan yang terkena sinar matahari, kemudian memantulkan cahaya tersebut ke bumi pada malam hari sehingga menentukan bentuk bulan dari hilal hingga purnama dan kembali lagi, hanya bergantung pada bagian cahaya matahari yang terhalang oleh bumi.
Karena kesesuaian kedua sudut itu, seluruh penduduk bumi melihat bentuk bulan yang sama pada waktu yang sama. Seandainya kedua sudut tersebut berbeda, meskipun hanya sebagian kecil dari satu derajat, menurut penulis, keseragaman bentuk bulan yang dilihat seluruh penduduk bumi tidak akan terjadi. Penduduk belahan utara mungkin akan melihat bulan purnama, sedangkan penduduk belahan selatan melihat bulan sabit. Ada hari-hari ketika bulan akan tampak penuh lebih lama, dan ada pula hari-hari ketika bulan tidak tampak sama sekali.
Satu bulan qamariyah berlangsung sekitar 29,5 hari, lebih panjang sekitar dua hari dibandingkan waktu yang diperlukan bulan untuk mengelilingi bumi sekali (27,3 hari), karena selama bulan bergerak mengelilingi bumi, bumi sendiri juga bergerak mengelilingi matahari.
Menurut penulis, semua itu menunjukkan adanya keteraturan yang sangat presisi dalam sudut-sudut dan gerakan benda-benda langit. Perhitungannya saja sangat rumit hingga membingungkan para ilmuwan terbesar, apalagi mengatur dan mengendalikan lintasan kedua benda langit yang masing-masing berdiameter ribuan kilometer tersebut. Orbit-orbit yang rumit namun sangat teratur itu menghasilkan keteraturan bulan-bulan qamariyah dan perubahan fase bulan yang berlangsung secara tetap tanpa berubah, sehingga dengannya pula tersusun keteraturan penanggalan dan kehidupan makhluk hidup di bumi.
Demikianlah Allah mengingatkan kita agar merenungkan hakikat-hakikat ini melalui apa yang Dia sebutkan dalam Kitab-Nya. Al-Qur'an, dengan ungkapan yang sederhana, mengisyaratkan bahwa seluruh hal yang telah disebutkan mengenai pergerakan bulan mengelilingi bumi, kebersamaannya dengan bumi dalam mengelilingi matahari, kecepatan bulan mengelilingi bumi, kecepatan bumi mengelilingi matahari, orbit bulan, orbit bumi, orbit keduanya mengelilingi matahari, bidang-bidang orbit, sudut-sudut, dimensi, jarak, tahun matahari, bulan qamariyah, hingga tahun qamariyah yang berbeda sebelas hari dari tahun matahari tanpa pernah bertambah atau berkurang, serta perubahan bentuk bulan yang bertahap—membesar, mengecil, dari hilal menjadi purnama lalu kembali menjadi hilal—yang semuanya berlangsung pada waktu-waktu tertentu dengan gerakan yang sangat teliti, telah diperhitungkan dengan perhitungan yang sangat akurat dan diatur dengan kemampuan yang sangat besar.
Semua itu, menurut penulis, bukanlah terjadi secara kebetulan atau semata-mata karena hukum alam. Sebab, apakah yang dimaksud dengan "alam" yang mampu menentukan kecepatan, ukuran, jarak, diameter, volume, sudut, lintasan, serta mempertahankan semuanya dengan ketelitian yang luar biasa selama berabad-abad dan berjuta-juta tahun?
Allah, Pencipta langit dan bumi, tidak membiarkan manusia kebingungan mencari jawabannya. Melalui ayat-ayat Al-Qur'an, Dia menyatakan dengan sangat mengagumkan bahwa Dialah Allah yang telah menetapkan seluruh dimensi, jarak, sudut, serta mengatur bulan dengan orbit-orbit dan lintasan-lintasannya.
Karena itu Allah berfirman:
﴿وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ﴾
"Dan bulan telah Kami takdirkan (tetapkan) baginya beberapa manzilah (tempat-tempat peredaran)."
Menurut penulis, ungkapan "Kami takdirkan (tetapkan)" menunjukkan bahwa seluruh pengaturan tersebut terjadi berdasarkan ketetapan Allah Yang Mahakuasa. Satu kata ﴿قَدَّرْنَاهُ﴾ “Kami telah mentakdirkannya (menetapkannya)” telah mencakup seluruh sistem gerakan yang Allah tetapkan bagi bulan.
Selanjutnya, kata ﴿مَنَازِلَ﴾ (tempat-tempat peredaran) dipahami sebagai isyarat kepada orbit-orbit bulan dan kedudukan-kedudukannya yang Allah tetapkan, sehingga dari berbagai posisinya itu bulan memantulkan cahaya matahari kepada bumi dan tampak bagi kita dalam bentuk-bentuk yang berbeda.
Menurut penulis, penggunaan kata ﴿مَنَازِلَ﴾ juga dapat dipahami sebagai koreksi terhadap ungkapan sebagian ilmuwan yang menggambarkan:
إِنَّهُ يُرَاقِصُ الْأَرْضَ
Sesungguhnya gerakan bulan sebagai "menari" bersama bumi.
Namun menurutnya adalah:
فَهُوَ لَا يُرَاقِصُهَا، وَلٰكِنِ التَّعْبِيرُ الْأَشْمَلُ وَالْأَجْمَلُ أَنَّهُ يُنَازِلُهَا..
“Bulan tidak "menari" bersama bumi, melainkan lebih tepat dikatakan "berhadapan" atau "beradu posisi" dengannya (yunāziluhā).
Dalam konsep dan kaidah "الْمُنَازَلَةُ" adalah :
أَنْ يُوَاجِهَهَا أَيْضًا بِوَجْهٍ ثَابِتٍ، وَلٰكِنَّهُ يَجِبُ أَنْ يَبْتَعِدَ عَنْهَا بُعْدًا كَافِيًا يُتِيحُ لَهُ تَسْدِيدَ وَصَدَّ ضَوْءِ الشَّمْسِ إِلَى الْأَرْضِ كُلَّمَا حَانَتْ لَهُ انْفِرَاجَةٌ فِي مَسَارِ الْأَرْضِ عَنِ الشَّمْسِ
“Dua pihak saling berhadapan dengan posisi tetap, namun tetap menjaga jarak yang memungkinkan masing-masing menjalankan perannya. Demikian pula bulan, yang senantiasa menghadap bumi dengan sisi yang sama, tetapi berada pada jarak yang memungkinkannya memantulkan cahaya matahari ke bumi setiap kali posisi bumi terhadap matahari memungkinkan”.
Adapun istilah "menari (الرَّقْصَ)" yang digunakan sebagian ilmuwan Barat, menurut penulis, memberi kesan seolah-olah keduanya menyatu, padahal kenyataannya tidak demikian. Sebaliknya, istilah "الْمُنَازَلَةُ" lebih sesuai bagi orang yang mengamati bahwa bulan selalu menyertai bumi dalam mengelilingi matahari, sekaligus mengelilingi bumi sendiri, kadang mendekat dan kadang menjauh selama peredarannya, namun tetap memperlihatkan sisi yang sama kepada bumi, seolah-olah ia selalu berhadapan dengannya tanpa pernah berpaling.
Kemudian penulis membahas perumpamaan Al-Qur'an mengenai gerakan bulan ketika berpindah dari sisi kanan bumi ke sisi kirinya dan sebaliknya dalam gerakan yang terbatas dibandingkan gerak keduanya mengelilingi matahari, serta dengan kecepatan yang lebih lambat daripada kecepatan bumi dan bulan bersama-sama mengelilingi matahari. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bulan tampak bergoyang lembut di sekitar bumi ketika keduanya bergerak bersama mengelilingi matahari, sekaligus bulan juga mengelilingi bumi.
Al-Qur'an kemudian menggunakan sebuah perumpamaan:
﴿عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ﴾
"...hingga kembalilah ia seperti tandan kurma yang tua (urjūn)."
Bangsa Arab menyebut tangkai tandan kurma dengan istilah ﴿الْعُرْجُونِ﴾. Ketika tangkai itu telah tua dan mengering karena lama terkena sinar matahari, ia menjadi lentur dan bergoyang mengikuti arah angin karena tidak lagi mampu mempertahankan kekakuannya.
Menurut penulis, perumpamaan ini membantu kita membayangkan gerakan bulan yang tampak bergerak ringan dari satu sisi bumi ke sisi lainnya, seperti gerakan tangkai kurma tua yang bergoyang di kedua sisi pohonnya. Dari gerakan yang teratur dan terus-menerus inilah, menurut penulis, muncul berbagai fase bulan yang kita saksikan.
Dengan demikian, kata ﴿مَنَازِلَ﴾ dipahami sebagai isyarat akan hikmah dan kekuasaan Allah, serta bahwa seluruh keteraturan yang kita saksikan, ketahui, dan pelajari tentang bulan terjadi semata-mata berdasarkan takdir-Nya (kadar ketetapan-Nya).
Gambar berikut menjelaskan kedudukan-kedudukan bulan dalam orbitnya mengelilingi bumi.
Mahasuci Allah. Firman-Nya:
﴿وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّىٰ عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ﴾
"Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah (tempat-tempat peredarannya)... hingga kembalilah ia seperti tandan kurma yang tua."
Kita melihat bahwa kata «قَدَّرْنَاهُ» (Kami telah menetapkannya dengan ukuran yang sempurna) datang dengan makna yang sangat agung untuk menghilangkan kebingungan kita. Sebab, Sang Pencipta-lah yang telah menetapkan bagi bulan sudut-sudutnya, kecepatan-kecepatannya, dimensi-dimensinya, jarak-jaraknya, bidang-bidang orbitnya, sehingga bulan berada dalam keadaan seperti sekarang: selalu menyertai bumi, atau beredar mengelilinginya, berpindah dari satu sisi ke sisi lainnya, hingga terbentuklah pola peredaran yang tetap sebagaimana tandan kurma tua yang bergoyang di kedua sisi pohonnya ketika telah mengering karena usia.
Betapa agung mukjizat ini, baik dalam penciptaan maupun dalam ungkapan firman-Nya. Ini merupakan pernyataan yang nyata dari Sang Pencipta bahwa Dialah yang mengatur dan "menetapkan takdir (kadar) bagi bulan tempat-tempat peredarannya" dengan takdir (kadar ketetapan) dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. Peredaran itu berlangsung dalam siklus yang tetap dan stabil, sehingga melahirkan bentuk-bentuk bulan yang terus berulang: dari hilal menjadi purnama, kemudian kembali menjadi hilal.
Sebagaimana telah disebutkan, hal ini juga ditunjukkan oleh kata «عَادَ» (kembali), yang mengandung makna kembali dan berulang, sekaligus menunjukkan kebiasaan, kesinambungan, dan kestabilan.
Betapa luar biasanya ketelitian ilmiah Al-Qur'an dalam memaparkan hakikat-hakikat ilmiah yang utuh dengan ungkapan yang paling sederhana dan perumpamaan yang paling tepat. Semua itu mengembalikan setiap fenomena di alam semesta kepada ketetapan Sang Pencipta, yang menurunkan Al-Qur'an kepada hamba-Nya dengan ilmu dan hikmah, menampakkan kebenaran, serta menghilangkan kebingungan mengenai gerak yang sangat kompleks antara bulan, bumi, dan matahari melalui ketetapan-Nya, baik dalam firman maupun dalam penciptaan-Nya.
Kemudian datang ayat yang keempat untuk kembali menegaskan, dengan kemukjizatan yang menyeluruh, bahwa gerak segala sesuatu di alam semesta ini benar-benar berlangsung dengan keteraturan yang sempurna dan sesuai ketetapan Allah, sebagaimana firman-Nya:
﴿لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۚ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ﴾
"Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan, dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya." [QS. Yasin: 40]
Demikianlah firman Allah menjelaskan ketetapan yang sempurna bagi segala sesuatu di sekitar kita pada orbit-orbitnya. Matahari memiliki orbitnya yang tetap, bulan memiliki orbitnya yang tetap. Walaupun bumi merupakan salah satu benda langit yang mengikuti matahari dan mengelilinginya, sementara ukuran dan massa matahari ribuan kali lebih besar daripada bumi, namun matahari tidak pernah menguasai bulan yang merupakan satelit kecil bumi. Matahari tidak menarik bulan sehingga bergabung dengannya, meskipun gaya gravitasinya jauh lebih besar daripada gaya gravitasi bumi. Tidak ada penjelasan yang lebih tepat bagi fenomena ini selain bahwa matahari dan bulan sama-sama tunduk kepada ketentuan Allah, berjalan, beredar, dan "bertasbih" sesuai aturan yang telah ditetapkan, pada orbit-orbit yang tetap dan tidak pernah menyimpang.
Bumi pun memiliki pergantian siang dan malam serta perputarannya pada porosnya sendiri. Perputaran ini tidak pernah berubah meskipun telah berlalu tahun demi tahun dan abad demi abad. Lama satu putaran adalah dua puluh empat jam. Tidak pernah terjadi dua malam atau dua siang berturut-turut, melainkan selalu malam diikuti siang, dan keduanya membentuk satu hari yang terdiri atas dua puluh empat jam dengan kestabilan yang sempurna, sesuatu yang akal manusia tidak mampu membayangkan sebab-sebabnya secara menyeluruh.
Demikian pula bumi bersama bulannya mengelilingi matahari satu putaran penuh setiap satu tahun, atau sekitar 365¼ hari. Lama peredaran ini tidak berubah sepanjang perjalanan abad dan zaman. Demikian pula matahari beserta seluruh tata suryanya, termasuk bumi dan planet-planet lainnya, mengelilingi pusat galaksi sekali setiap sekitar 200 juta tahun. Galaksi kita sendiri, yang berisi lebih dari lima miliar bintang dan tata surya hanyalah salah satu anggotanya, juga memiliki perputaran pada porosnya serta mengelilingi pusat alam semesta, yang hakikatnya hanya diketahui oleh Sang Pencipta.
Kini timbul pertanyaan: siapakah yang menjaga seluruh keteraturan dan kestabilan dalam peredaran matahari, bulan, pergantian siang dan malam, serta seluruh siklus lainnya?
Ilmu pengetahuan telah mendekatkan kita untuk dapat melihat lintasan matahari, bumi, dan bulan. Akan tetapi, justru pengamatan itu semakin membuat kita menyadari betapa sedikit pengetahuan kita tentang rahasia dari apa yang kita lihat dan pelajari. Semakin kuat pula keyakinan kita bahwa tidak ada penjelasan yang lebih layak selain bahwa seluruh peredaran setiap planet dan bintang itu merupakan salah satu bentuk tasbih kepada Sang Pencipta, sebagaimana firman Allah:
﴿وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ﴾
"Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kalian tidak memahami tasbih mereka." [QS. Al-Isra: 44]
Tasbih itu berlangsung terus-menerus dan tidak pernah berhenti pada seluruh makhluk di alam semesta ini. Sebagaimana firman-Nya:
﴿كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ﴾
"Masing-masing sungguh telah mengetahui cara shalat dan tasbihnya."
Dan firman-Nya lagi:
﴿وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ﴾
"Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kalian tidak memahami tasbih mereka."
Demikianlah firman-firman Allah hadir mengungkapkan, dengan kemukjizatan yang luar biasa, hal-hal yang tidak mampu dipahami manusia mengenai sebab-sebab berbagai fenomena di alam semesta ini. Kebingungan manusia pun sirna ketika yang berbicara adalah Sang Pencipta seluruh kemukjizatan tersebut, yang menurunkan kitab ini sebagai rahmat dari sisi-Nya untuk memberi petunjuk kepada kita serta mengeluarkan kita dari kebingungan dan kesesatan.
Apabila kita merenungkan lebih dalam kata «يَسْبَحُونَ» (mereka berenang/ beredar) dan makna yang terkandung di dalamnya, kita akan menemukan bahwa Al-Qur'an menggunakan kata yang sangat komprehensif untuk menggambarkan peredaran planet-planet, bintang-bintang, matahari, dan bulan secara teratur dalam orbit-orbit yang tetap. Semua itu tidak lain merupakan bentuk tasbih dan ketaatan yang wajib dijalankan oleh seluruh planet dan bintang kepada Sang Pencipta dan Pengatur perjalanan mereka.
Pertanyaannya sekarang adalah: setelah manusia mengetahui berbagai fakta tentang bumi, bulan, matahari, siang, malam, orbit, dan lintasan benda-benda langit, mampukah mereka mengungkapkan seluruh kemukjizatan dan makna dari fenomena-fenomena tersebut hanya dalam beberapa baris kalimat yang dapat dipahami oleh ilmuwan sesuai kedalaman ilmunya dan juga oleh orang awam sesuai kejernihan pemahamannya, sepanjang zaman tanpa henti, serta tetap benar tanpa dapat dibantah oleh perkembangan ilmu pengetahuan pada masa apa pun?
Ayat-ayat ini telah menjelaskan gerakan-gerakan dan orbit-orbit tempat bumi, matahari, dan bulan bergerak. Ayat-ayat tersebut juga memberikan perumpamaan-perumpamaan yang tidak mungkin dapat diungkapkan kecuali oleh Sang Pencipta yang menciptakan, menetapkan ukuran, dimensi, dan gerakan semuanya.
Semuanya beredar dengan kemukjizatan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui, sebagai bentuk tasbih kepada-Nya, ketaatan, kepatuhan, dan ketundukan terhadap perintah-Nya. Milik-Nya semata siang dan malam, segala gerakan dan diam, seluruh ketetapan dan seluruh akhir perjalanan.
Semuanya merupakan tanda-tanda dari Allah, yang memandang seluruh alam semesta yang Dia ciptakan dengan segala keluasan, keindahan, kemukjizatan, dan kreativitas-Nya. Kemudian Dia mengarahkan pandangan kita kepada sebagian tanda-tanda tersebut, yang seluruhnya menunjukkan keagungan dan kebesaran-Nya.
Tanda-tanda itu dapat disaksikan oleh manusia pada setiap zaman, dan mereka tidak akan mampu mengingkari Sang Penciptanya, betapapun tinggi ilmu pengetahuan dan kemampuan pengamatan yang mereka miliki.
Oleh karena itu, ayat tersebut diawali dengan firman Allah,
﴿وَآيَةٌ لَهُمْ﴾
"Dan suatu tanda bagi mereka...",
karena itu hanyalah salah satu dari sekian banyak tanda yang Allah perlihatkan agar kita mengenal Sang Pencipta melalui alam semesta yang Dia ciptakan dan Dia atur dengan kekuasaan serta ketetapan-Nya.
Namun, di alam semesta ini masih terdapat begitu banyak tanda-tanda lain yang wajib kita renungkan agar kita benar-benar layak menerima nikmat akal dan ilmu yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Cukuplah isyarat dari Sang Pencipta yang disampaikan dengan ketinggian makna dan kemukjizatan seperti ini sebagai bukti yang nyata.
****
KRITIKAN TERHADAP AYAT 40 DAN JAWABAN-NYA
Sebagiamana yang telah si sebutkan diatas, Allah SWT berfirman dalam surat Yasin ayat 40:
﴿وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ﴾
"Dan masing-masing berenang (bergerak) di dalam garis edarnya." (QS. Yasin: 40)
Dan dalam surat al-Anbiya Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā juga berfirman:
﴿وَهُوَ الَّذِى خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ فِى فَلَكٍ يَسْبَحُونَ﴾
"Dialah yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing beredar pada garis edarnya." (QS. Al-Anbiyā’: 33)
Kata يَسْبَحُونَ secara bahasa berarti berenang, meluncur, atau bergerak dengan lancar. Dalam konteks ayat ini, para penerjemah umumnya menerjemahkannya sebagai "beredar" atau "bergerak", karena menggambarkan gerakan benda-benda langit di dalam orbitnya.
Semakin dalam kita menyelami rahasia alam semesta, semakin kita menemukan ketepatan ungkapan-ungkapan Al-Qur'an, dan bahwa Al-Qur'an senantiasa menggunakan kata yang paling tepat. Marilah kita membaca uraian ini dan bertasbih kepada Allah, Pencipta alam semesta yang agung.
Pada awal abad ke-20 dimulailah era baru dalam perkembangan ilmu pengetahuan setelah ditemukannya struktur atom dan terungkapnya banyak rahasia tentang alam semesta tempat kita hidup. Sejak saat itu muncul berbagai kritik baru terhadap Al-Qur'an dari sebagian orientalis. Mereka mengklaim bahwa Al-Qur'an tidak akurat dari sisi ilmiah.
====
MUNCULNYA KRITIKAN
Salah satu kritik yang mereka kemukakan adalah bahwa Al-Qur'an dianggap keliru dalam menggambarkan pergerakan benda-benda langit ketika berfirman:
﴿وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ﴾
"Dan masing-masing berenang (bergerak) di dalam garis edarnya." (QS. Yasin: 40)
Mereka mengatakan bahwa kata "يَسْبَحُونَ" (bergerak/berenang) tidak tepat secara ilmiah, karena menurut mereka planet-planet dan bintang-bintang tidak "berenang", melainkan hanya beredar di ruang angkasa. Sedangkan berenang, menurut anggapan mereka, hanya dapat dilakukan di dalam suatu medium materi seperti air.
===
JAWABAN TERHADAP KRITIKAN
Saat memasuki awal abad ke-21, muncul sebuah temuan baru yang dikenal dengan istilah "Cosmic Building" (struktur atau bangunan kosmik).
Para ilmuwan menyadari bahwa alam semesta memiliki unit-unit penyusun yang teratur. Setiap kelompok galaksi membentuk sebuah "blok bangunan" (building block), dan dengan demikian seluruh alam semesta tersusun sebagai suatu bangunan yang sangat rapi dan kokoh.
Para ilmuwan telah mengetahui bahwa alam semesta dipenuhi oleh materi dan energi. Dengan demikian, tidak ada ruang hampa yang benar-benar kosong. Oleh karena itu, seluruh benda langit seperti bumi, planet-planet, dan benda-benda langit lainnya bergerak di dalam suatu medium yang dipenuhi materi dan energi yang tersebar di seluruh alam semesta, meskipun dengan kerapatan yang sangat rendah. Fakta ini baru disadari manusia dalam beberapa tahun terakhir.
Para ilmuwan juga menemukan bahwa apa yang selama ini mereka sebut sebagai "ruang angkasa yang hampa" pada hakikatnya tidak benar-benar ada, karena ruang hampa mutlak tidak terdapat di alam semesta. Setiap bagian alam semesta, sekecil apa pun, dipenuhi oleh energi dan materi secara bersamaan. Oleh sebab itu, menurut pandangan ini, planet-planet, bintang-bintang, dan galaksi-galaksi tidak bergerak di dalam ruang kosong, melainkan bergerak di dalam medium yang mengandung materi dan energi.
Karena itu, penggunaan kata "yasbaḥūn" (يَسْبَحُونَ) dalam Al-Qur'an dinilai sangat tepat dari sudut pandang ilmiah. Bahkan, penulis berpendapat bahwa jika para ilmuwan Barat diperkenalkan dengan kata tersebut, mereka akan menganggapnya lebih tepat daripada kata "berputar" yang menurutnya selama ini digunakan secara kurang tepat. Demikian pula jika mereka diperkenalkan dengan kata "bangunan" yang digunakan Al-Qur'an dalam firman Allah:
﴿وَالسَّمَاءَ بِنَاءً﴾
"Dan langit sebagai bangunan". (QS. Ghafir: 64)
Menurut penulis, istilah tersebut lebih sesuai untuk menggambarkan hakikat alam semesta, sedangkan istilah "ruang hampa" tidak menggambarkan hakikat tersebut.
Selanjutnya, penulis menyatakan bahwa penggunaan istilah "berputar" dalam banyak tulisan ilmiah tidak sepenuhnya tepat, karena gerakan matahari, bulan, bumi, bintang-bintang, planet-planet, galaksi-galaksi, debu kosmik, dan gas kosmik merupakan gerakan gabungan yang bersifat berosilasi (bergetar), menyerupai gerakan suatu benda yang terapung di permukaan air dan digerakkan oleh gelombang sehingga membentuk lintasan yang berkelok-kelok.
Sebagai contoh, bumi memang mengelilingi matahari, tetapi pada saat yang sama matahari juga bergerak mengelilingi pusat galaksi. Galaksi itu sendiri bergerak mengelilingi pusat gugusan galaksi. Akibat gabungan ketiga gerakan tersebut, lintasan bumi menjadi suatu gerakan berosilasi dan berkelok-kelok, seolah-olah sedang berenang mengikuti gelombang yang naik dan turun. Oleh karena itu, menurut penulis, Al-Qur'an tidak menggunakan kata "berputar", melainkan menggunakan kata "yasbaḥūn" (bergerak/berenang) karena dianggap lebih menggambarkan hakikat gerakan benda-benda langit tersebut.
Para astronaut berlatih berenang di dalam air sebelum melakukan "renang" di ruang angkasa. Gambar tersebut berasal dari situs Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA).
Para ilmuwan di Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menegaskan bahwa lingkungan ruang angkasa memiliki banyak kemiripan dengan lingkungan lautan. Oleh karena itu, mereka mengirim para astronaut untuk menjalani latihan berenang di bawah air selama tiga minggu sebelum mereka berangkat untuk "berenang" di ruang angkasa.
Dari sini, menurut penulis, Al-Qur'an menggunakan ungkapan yang sangat tepat dalam firman Allah:
﴿وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ﴾
"Dan masing-masing beredar pada garis edarnya."
Ayat ini, menurut penulis, menjadi bukti atas kebenaran Nabi Muhammad ﷺ, karena setiap kata yang beliau sampaikan merupakan wahyu dari Allah Ta'ala.
Untuk semakin menguatkan keyakinan terhadap hal tersebut, penulis mengajak melihat kesaksian para astronaut yang pernah keluar dari pengaruh gravitasi bumi. Apa yang mereka rasakan ketika berada di ruang angkasa?
Setiap orang yang pernah pergi ke ruang angkasa menegaskan bahwa mereka merasakan seolah-olah sedang mengapung di permukaan air. Oleh sebab itu, para ilmuwan di Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyatakan secara harfiah:
"Astronauts feel like they are floating when they are in space."
Artinya:"Para astronaut merasa seolah-olah mereka sedang mengapung ketika berada di ruang angkasa."
Ketika seseorang berada di ruang angkasa, ia merasakan seolah-olah sedang mengapung di permukaan air. Perasaan ini merupakan pengalaman yang nyata, bukan sekadar ilusi. Menurut penulis, hal itu karena manusia yang berada di luar bumi tidak berada dalam ruang hampa, melainkan di dalam suatu medium yang mengandung materi, meskipun dengan kerapatan yang sangat rendah. Oleh sebab itu, ungkapan "berenang di ruang angkasa" dianggap sebagai ungkapan yang tepat, dan Al-Qur'an telah menggunakannya dalam firman Allah:
﴿كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ﴾
"Dan masing-masing beredar pada garis edarnya."
Dari sini, menurut penulis, dapat dipahami mengapa Al-Qur'an menggunakan ungkapan yang begitu tepat. Allah Ta'ala berfirman:
﴿وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ﴾
"Dan Dialah yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing beredar pada garis edarnya." (QS. Al-Anbiya: 33)
Menurut penulis, semakin berkembang ilmu pengetahuan dan semakin banyak manusia mengenal fakta-fakta yang pasti tentang alam semesta, semakin tampak bahwa ungkapan-ungkapan Al-Qur'an adalah yang paling tepat dan paling akurat dari sudut pandang ilmiah. Hal ini, menurutnya, bertentangan dengan anggapan sebagian orang yang meragukan Al-Qur'an dan mengklaim bahwa Al-Qur'an saling bertentangan atau bahwa ungkapan-ungkapannya tidak akurat.
﴿سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ﴾
"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru alam dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar."
Referensi :
1- Walking in Space, www.nasa.gov
2- http://map.gsfc.nasa.gov/m_uni/uni_101firstobj.html
3- http://www.kva.se/KVA_ Root/files/newspics/DOC_ 2005217592_ 1296017045_ popcrafoord 05eng.asp
4- http://web.cecs.pdx.edu/~mmw/Free%20Float.JPG
===***===
MUKJIZAT KE DUA:
TENTANG PROSES PENCIPTAAN MANUSIA
Dan sekarang marilah kita berhenti sejenak pada ayat-ayat lain yang terdapat di bagian akhir surat yang mulia ini. Allah Ta'ala berfirman:
﴿أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ ۖ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ الَّذِي جَعَلَ لَكُمْ مِنَ الشَّجَرِ الْأَخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنْتُمْ مِنْهُ تُوقِدُونَ أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ ۚ بَلَىٰ وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ﴾.
“Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani, ternyata ia menjadi penentang yang nyata. Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami, tetapi ia melupakan asal kejadiannya. Ia berkata, ‘Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?’ Katakanlah, ‘Yang akan menghidupkannya ialah Zat yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk. Yaitu Zat yang menjadikan untukmu api dari pohon yang hijau, maka seketika itu kamu dapat menyalakan api darinya. Dan bukankah Zat yang menciptakan langit dan bumi mampu menciptakan kembali makhluk yang serupa dengan mereka? Tentu saja mampu. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.’” [QS. Yasin : 77, 78, 79, 80 & 81]
Ada orang-orang yang berani mengingkari adanya kebangkitan dengan berbagai alasan. Dalam ayat-ayat ini Allah membantah mereka dengan hujah dan logika. Dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat masuk akal kepada para pengingkar tersebut serta mengajak mereka merenungkan kenyataan-kenyataan yang dapat mereka saksikan pada setiap zaman.
Pertanyaan pertama yang diajukan adalah: Bukankah Zat yang mampu menciptakan tubuh manusia pada awalnya juga mampu mengembalikannya lagi setelah tulang-belulang itu hancur menjadi tanah? Ini adalah pertanyaan yang sangat logis dan berasal dari Allah Yang Mahabijaksana.
Sebagaimana para penentang itu ada pada masa Rasulullah ﷺ, demikian pula pada zaman sekarang kita melihat orang-orang yang mengingkari kebangkitan atas nama sekularisme dan ilmu pengetahuan. Akan tetapi, sebagai kaum muslimin kita meyakini bahwa kemajuan ilmu pengetahuan justru semakin memperjelas dan memperkuat bukti-bukti yang Allah minta agar kita renungkan dalam ayat-ayat ini.
Setelah mengajukan pertanyaan tersebut, Allah mengingatkan bahwa asal penciptaan manusia adalah dari setetes mani. Ilmu pengetahuan modern telah membuktikan bahwa awal pembentukan janin dalam rahim seorang ibu dimulai dengan pembuahan sel telur. Sel telur itu merupakan setengah sel yang membawa seluruh sifat genetik ibu. Sel telur tersebut dibuahi oleh sperma ayah, yang juga merupakan setengah sel dan membawa seluruh sifat genetik ayah. Dari proses pembuahan inilah terbentuk nutfah, yaitu sel pertama yang sempurna, yang mengandung sifat-sifat keturunan dari kedua orang tuanya untuk membentuk makhluk baru.
Semua itu kini dapat kita saksikan melalui mikroskop di laboratorium, bahkan ditampilkan dalam film-film ilmiah, kedokteran, dan pendidikan.
Namun, meskipun manusia mengaku telah berilmu dan memahami banyak hal, tetap saja kita tidak mengetahui siapakah yang mengajarkan kepada nutfah tersebut serta mengatur perubahan-perubahannya dari satu sel menjadi manusia yang sempurna melalui berbagai tahap perkembangan di dalam rahim ibu. Sang ibu sendiri tidak mengetahui proses-proses itu secara rinci dan tidak memiliki campur tangan dalam mengaturnya.
Bagaimana mungkin satu sel itu mampu berkembang biak menjadi miliaran sel yang seluruhnya memiliki kesesuaian dengan sel pertama dalam sifat, jenis, dan bentuknya, lalu tersusun menjadi jaringan, organ, dan berbagai sistem tubuh yang sangat rumit?
Bagaimana sel itu memperoleh makanan dan oksigen ketika berada dalam tiga lapis kegelapan di dalam rahim?
Siapakah yang merancang tahapan-tahapan perkembangan itu sehingga pada salah satu fase janin memiliki insang untuk memperoleh oksigen dari cairan tempat ia berenang di dalam rahim?
Bagaimana pula terbentuk sistem unik berupa tali pusar yang setiap saat menyalurkan seluruh kebutuhan makanan kepada janin dari satu tahap perkembangan ke tahap berikutnya?
Siapakah yang menanamkan rahasia kepada sekelompok sel sehingga berubah menjadi tulang, kepada kelompok lain menjadi otot, kepada kelompok lain menjadi darah, kulit, selaput, ataupun rambut? Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda, tugas yang tersusun rapi, dan tujuan yang jelas, meskipun semuanya memiliki kromosom dan gen yang menjadi ciri khas setiap manusia serta membedakannya dari manusia lain dan dari seluruh makhluk lainnya.
Siapakah yang mengatur seluruh proses pembentukan itu, mengajarkan fungsi-fungsi tersebut kepada setiap sel, menetapkan tugas-tugasnya, dan menentukan tujuan masing-masing?
Siapakah yang menjadikan keteraturan sebagai hukum umum dalam seluruh proses penciptaan ini, sementara hanya sedikit sekali penyimpangan yang terjadi, agar manusia dapat menyaksikan kekuasaan Allah dalam ciptaan-Nya dan memahami bahwa seluruh proses ini bukanlah sekadar proses yang berlangsung dengan sendirinya?
Gambar janin manusia pada bulan-bulan pertama kehidupannya.
Bukanlah suatu proses mekanis, melainkan segala sesuatu berlangsung dengan ukuran dan ketentuan yang telah ditetapkan. Kita melihat ada janin yang lahir dengan jantung menyatu, tubuh menyatu, atau kepala menyatu. Kita juga melihat ada janin yang pertumbuhannya tidak sempurna, ada yang lahir pada usia tujuh bulan, ada yang lahir pada usia sembilan bulan, ada yang meninggal di dalam rahim ibunya, dan ada pula yang ditetapkan baginya kehidupan yang panjang. Kita juga menyaksikan kekuasaan dan hikmah Allah ketika Dia menjadikan janin itu laki-laki atau perempuan pada salah satu tahap perkembangannya. Kemudian kita melihat keseimbangan jumlah laki-laki dan perempuan, khususnya pada manusia. Kita juga menyaksikan hikmah dan kekuasaan Allah dalam menganugerahkan pendengaran, penglihatan, dan akal selama tahap-tahap perkembangan tersebut, sehingga makhluk hidup yang sejak masih berupa nutfah telah diberi kehidupan oleh Allah, lalu tumbuh di dalam rahim ibunya sebagaimana makhluk mamalia lainnya, berubah menjadi manusia yang berakal, mampu memahami dan menyadari apa yang dilihat oleh matanya dan didengar oleh telinganya. Ia mampu membedakan suara, warna, huruf, kata-kata, gambar, dan bayangan, kemudian mampu membedakan antara kebaikan dan keburukan, antara cahaya dan kegelapan, dengan fitrah yang telah Allah tanamkan pada nutfah itu sejak awal penciptaannya serta sejak Dia menganugerahkan kehidupan dan kelangsungan hidup kepadanya.
Ya, kita telah melihat di laboratorium-laboratorium kita sel pertama atau nutfah yang Allah tempatkan di dalam rahim ibu. Kemudian nutfah itu tumbuh dengan kekuasaan Allah yang menganugerahkan kehidupan kepadanya, dengan hikmah-Nya yang Dia tanamkan di dalam nutfah tersebut sehingga ia melewati seluruh tahapan perkembangannya, dan dengan kehendak-Nya yang menjadikannya laki-laki, perempuan, atau bahkan tidak menjadi apa pun sama sekali, ataupun menjadi manusia yang sempurna, berakal, dan mampu.
Namun demikian, manusia itu justru datang pada zaman ilmu pengetahuan, ketika seharusnya ia semakin menyadari keterbatasan ilmunya, lalu dengan sombong menganggap bahwa asal-usulnya hanyalah tumbuh dari satu sel itu sendiri, padahal Allah-lah yang menghendaki sel tersebut hidup, tumbuh, dan menetapkan seluruh tahap perkembangannya. Setelah itu ia berkata, "Siapakah yang mampu menghidupkan kembali tulang-belulang yang telah hancur agar kembali menjadi manusia?" Bahkan ia membawa tulang-belulang itu kepada Rasulullah ﷺ sebagai bentuk tantangan.
Dengan sikap yang bodoh dan ucapan yang dangkal seperti itu, ia telah menjadi penentang Allah Subhanahu wa Ta'ala, padahal Allah sendiri telah menetapkan janji-Nya dan menjelaskannya dalam ayat-ayat Al-Qur'an yang berbahasa Arab yang jelas.
Betapa banyak sel yang terkandung dalam tulang-belulang itu! Jumlahnya mencapai miliaran sel, sedangkan penciptaan manusia sendiri bermula hanya dari satu nutfah atau satu sel saja di antara miliaran sel tersebut. Ilmu pengetahuan modern pun menyatakan bahwa dari satu sel saja dapat dilakukan kloning seekor hewan yang identik dengan hewan asalnya. Lalu bagaimana mungkin kita mengingkari kemampuan Sang Pencipta manusia itu sendiri? Bagaimana mungkin kita menolak kekuasaan-Nya?
Karena itulah datang jawaban Ilahi yang sangat tegas terhadap pertanyaan manusia yang ingkar dan tidak memahami kekuasaan Allah Azza wa Jalla:
﴿أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ ۖ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ﴾.
"Apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani, ternyata ia menjadi penentang yang nyata. Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami, tetapi ia melupakan asal kejadiannya. Ia berkata, 'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?' Katakanlah, 'Yang akan menghidupkannya ialah Zat yang menciptakannya pertama kali, dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.'" [QS. Yasin : 77, 78 & 79]
===***===
MUKJIZAT KE TIGA :
ALLAH MENJADIKAN API DARI POHON YANG HIJAU
Kemudian datang penjelasan yang berikutnya tentang kekuasaan Allah SWT:
﴿ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمْ مِنَ ٱلشَّجَرِ ٱلْأَخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنْتُمْ مِنْهُ تُوقِدُونَ﴾
"Yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari pohon yang hijau, maka seketika itu kamu menyalakan api darinya." [QS. Yasin: 80]
Bagaimana mungkin kita mengingkari kekuasaan Sang Pencipta yang mengatur urusan alam semesta ini dan mengelola segala kemakmurannya, sementara Dia pula yang mampu menghidupkan kembali tulang-belulang yang telah hancur?
Dalam ayat ini Allah mengisyaratkan kekuasaan-Nya yang dengannya Dia memakmurkan alam semesta dan memberikan kepada manusia serta hewan kemampuan untuk bergerak dan beraktivitas.
Siapa pun yang memperhatikan alam semesta ini dan kemampuan manusia untuk berusaha serta memakmurkannya akan mendapati bahwa semuanya bermula dari pohon yang hijau. Matahari memang memancarkan energinya, tetapi apakah manusia mampu menyerap energi itu secara langsung agar dapat bergerak dengannya?
Seluruh makhluk dari kerajaan hewan, termasuk manusia, tidak dapat hidup dan bergerak tanpa adanya sumber energi. Demikian pula kendaraan dan mesin-mesin tidak akan dapat beroperasi tanpa sumber tenaga.
Dari manakah energi yang digunakan manusia untuk bergerak itu berasal?
Lalu dengan energi itu hewan-hewan tunggangannya dan ternaknya bergerak, kemudian kendaraan dan mesin-mesinnya pun dapat beroperasi. Pernahkah kita bertanya dari mana energi tersebut datang?
Jawabannya terdapat dalam ungkapan yang sangat tepat pada ayat yang ada di hadapan kita. Energi itu berasal dari matahari yang telah disebutkan pada pertengahan surah ini. Lalu siapakah yang menyiapkan dan mengolah energi tersebut agar dapat dimanfaatkan oleh kita, sehingga ketika dibakar menjadi api, ia menghasilkan kehangatan dan energi bagi tubuh kita?
Energi yang sama juga menggerakkan tubuh hewan-hewan kita ketika dibakar, memasak makanan kita ketika dibakar, bahkan menggerakkan kendaraan-kendaraan kita setelah berubah di dalam perut bumi menjadi minyak bumi dan gas alam, lalu dibakar sebagai bahan bakar.
Semuanya berasal dari pohon yang hijau.
Perbandingan yang Allah gunakan dalam ayat mulia ini antara "api" dan "pohon yang hijau" merupakan perbandingan yang sangat menakjubkan. Perbandingan ini mencakup seluruh konsep ilmu energi. Melalui kehijauan daun-daunnya, tumbuhan menjalankan tugasnya menyimpan dan mempersiapkan energi tersebut dalam bentuk makanan yang lezat, sekaligus dalam bentuk yang dapat diserap oleh tubuh manusia maupun hewan.
Siapa saja yang mendalami bagaimana daun-daun hijau menyerap energi matahari melalui warna hijaunya, niscaya tidak akan mampu selain bersujud kepada Sang Pencipta yang telah menetapkan sistem luar biasa ini, lalu mengabarkannya kepada manusia dengan ungkapan yang paling agung dan kalimat yang paling tepat, dalam sebuah perbandingan yang sangat menakjubkan dan sempurna.
Para ilmuwan telah berusaha meniru apa yang terjadi di dalam daun hijau tersebut. Mereka menemukan bahwa di dalam satu lembar daun berlangsung lebih dari tiga ribu reaksi elektrofotokimia untuk menyerap foton-foton cahaya matahari, kemudian menyimpannya sebagai energi kimia di dalam senyawa karbohidrat melalui proses biologis yang dikenal sebagai fotosintesis (chlorophyll photosynthesis), yang dinamakan demikian karena bergantung pada daun yang berwarna hijau.
Seandainya para ilmuwan hendak melaksanakan proses tersebut di laboratorium, mereka memerlukan sebuah laboratorium yang besarnya sekitar sepuluh kali ukuran sebuah gedung kompleks perkantoran hanya untuk menghasilkan dan menyimpan energi yang dapat disimpan oleh selembar daun hijau dalam waktu satu hari. Bahkan, energi yang dibutuhkan untuk menyimpan energi tersebut akan setara dengan energi yang dikonsumsi oleh seluruh pompa raksasa di kawasan Toshka.
“Seandainya para ilmuwan ini mencoba melaksanakan reaksi tersebut di laboratorium-laboratorium yang mereka siapkan, maka mereka akan membutuhkan sebuah laboratorium yang ukurannya setara dengan sepuluh kali ukuran gedung kompleks itu agar dapat melakukan reaksi-reaksi tersebut, serta menghasilkan dan menyimpan energi yang dapat disimpan oleh selembar daun tumbuhan hijau dalam satu hari.
﴿سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الشَّجَرِ الْأَخْضَرِ نَارًا﴾
“Mahasuci Allah yang menciptakan api dari pohon yang hijau” [QS. Yasin: 80]
Namun demikian, untuk menyimpan energi tersebut mereka justru akan menghabiskan energi lain yang besarnya setara dengan energi pompa-pompa di kawasan Toshka secara keseluruhan.”
Dan firman-Nya: ﴿جَعَلَ لَكُمْ﴾ “Dia menjadikan untuk kalian api dari pohon yang hijau,” mengandung hakikat lain yang sangat penting. Tumbuhan hijau itu sendiri tidak memiliki kemampuan tersebut secara mandiri. Sebab, tanpa sinar matahari yang diserapnya, tanpa udara yang darinya ia mengambil gas karbon dioksida, serta tanpa kondisi atmosfer yang sesuai berupa tekanan, suhu, dan tingkat kelembapan tertentu, tumbuhan tidak akan mampu menyediakan energi bagi kita, yaitu energi yang ketika dilepaskan sebagai api menggerakkan roda kehidupan seluruh makhluk di muka bumi. Oleh karena itu, Al-Qur'an menggunakan kata “menjadikan untuk kalian” ﴿جَعَلَ لَكُمْ﴾, bukan kata “menciptakan” «خَلَقَ».
Barang siapa memperhatikan bagaimana energi dari tumbuhan hijau itu dilepaskan di dalam tubuh kita, niscaya ia akan mengetahui bahwa Allah telah menyiapkan di dalam sel-sel tubuh kemampuan untuk memperoleh kembali energi tersebut melalui sekitar tiga ribu reaksi kimia, yang merupakan kebalikan dari reaksi-reaksi yang berlangsung pada tumbuhan hijau.
===***===
TANYA JAWAB DALAM SURAT YASIN NO 78-79 DAN 81
Allah SWT berfirman:
﴿وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ ۖ قَالَ مَن يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ﴾
Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?" [QS. Yasin: 78]
﴿قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ﴾
Katakanlah: "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk”. [QS. Yasin: 79]
Dan Allah SWT berfirman :
﴿أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَن يَخْلُقَ مِثْلَهُم ۚ بَلَىٰ وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ﴾
“Dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui”. [QS. Yasin: 81]
PERTANYAAN:
Siapakah yang mengajarkan daun itu melakukan seluruh reaksi tersebut?
Dan siapakah yang mengajarkan sel-sel manusia dan hewan menjalankan reaksi-reaksi itu?
JAWABAN:
Jawabannya : adalah bahwa semakin banyak ilmu yang kita ketahui dan pelajari, semakin kita yakin bahwa sebenarnya kita semakin menyadari betapa sedikitnya pengetahuan kita tentang segala sesuatu, dan bahwa ada Sang Pencipta yang menjadikan semua itu.
Ilmu pengetahuan justru semakin mendekatkan kita kepada pengenalan akan kekuasaan Allah, serta memberikan dalil yang semakin kuat tentang kemahakuasaan dan kemuliaan-Nya. Dialah yang telah menundukkan seluruh alam semesta ini untuk kepentingan kita dengan ilmu dan kekuasaan-Nya.
Namun, setelah itu masih ada manusia yang dengan lancang bertanya:
﴿مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ﴾.
“Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?' [QS. Yasin : 78]
“Siapakah yang dapat menghidupkan kembali tulang-belulang yang telah hancur?”
Jawabannya adalah pertanyaan balik :
Apakah Dzat yang telah mengatur seluruh reaksi dan proses yang memungkinkan kita hidup serta memanfaatkan energi itu tidak mampu mengembalikan penciptaan manusia?
Inilah hujah kedua yang Allah kemukakan untuk membatalkan alasan-alasan orang-orang yang mengingkari kebangkitan, yaitu mereka yang tidak mau berpikir dan mengambil pelajaran.
Kemudian kita sampai pada dalil yang berikutnya lagi.
Dalam dalil ini Allah menyebutkan dengan sangat teliti dan tegas suatu bukti yang tidak mungkin diingkari:
﴿أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ﴾.
“Bukankah Dzat yang menciptakan langit dan bumi berkuasa untuk menciptakan yang serupa dengan mereka?”
Apabila kita membandingkan penciptaan langit dan bumi dengan penciptaan manusia, maka jelaslah bahwa perbandingan itu sepenuhnya berpihak kepada Pencipta langit dan bumi. Kita tidak perlu lagi mengulang perenungan terhadap firman Allah dalam Surah An-Nazi'at, karena di sana telah terdapat perbandingan yang cukup untuk membantah hujah orang-orang kafir.
Namun, ada satu kata dalam ayat ini yang patut mendapat perhatian, yaitu kata “yang serupa dengan mereka” ﴿مِثْلَهُمْ﴾. Jika Allah mampu menciptakan langit dan bumi dari ketiadaan, apakah Dia tidak mampu menciptakan yang serupa dengan manusia?
Dengan istilah masa kini, bukankah Dia mampu menciptakan salinan mereka?
Apakah Pencipta manusia dari setetes mani, dan Dzat yang menjadikan dari pohon yang hijau api, tidak mampu melakukan sesuatu yang bahkan telah Allah izinkan manusia untuk melakukannya sebagai bukti atas kekuasaan-Nya?
Bukankah Pencipta langit dan bumi mampu menciptakan kembali manusia yang serupa dengan mereka dari satu sel yang masih tersisa dari tulang-belulang mereka setelah menjadi hancur?
Menciptakan kembali sebagaimana manusia mampu menggandakan seekor domba dengan mengambil satu sel dari kulitnya?
Apakah Pencipta yang asli tidak mampu menciptakan kembali yang serupa dengannya? Maksudnya, "yang serupa dengan mereka ﴿مِثْلَهُمْ﴾".
Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban selain bahwa orang-orang yang mengingkarinya hanyalah orang-orang yang keras kepala dan nyata kesesatannya.
Akan tetapi, teknologi kloning yang Allah karuniakan kepada manusia, meskipun tampak sebagai hasil ilmu pengetahuan, pada hakikatnya justru menyingkap kekuasaan Sang Pencipta. Dalam proses kloning, manusia hanya mengambil satu sel utuh dari tubuh seekor hewan jantan atau betina, kemudian menempatkannya ke dalam sel telur betina di dalam rahim hewan betina tersebut. Padahal, tempat itulah yang secara alami menjadi lokasi terbentuknya zigot pertama, yaitu dari perpaduan setengah sel dari jantan dan setengah sel dari betina, sehingga terjadi pemilihan alami sifat-sifat yang diwariskan kepada janin.
Mereka kemudian mendapati bahwa sel telur betina yang ditempati sel tersebut telah dipersiapkan untuk "mengajari" sel yang dimasukkan itu cara membelah diri di dalam rahim sehingga terbentuk jaringan, otot, organ, dan seluruh sifat yang dikandung oleh sel tersebut. Dari sini mereka semakin yakin bahwa penciptaan makhluk yang serupa memang dimungkinkan, karena Allah telah menanamkan berbagai rahasia di dalam sel telur setiap hewan. Rahasia itu sama seperti rahasia yang Allah letakkan di dalam zigot pertama atau sel pertama makhluk tersebut, dan seperti rahasia yang Allah letakkan pada pohon yang hijau sehingga dapat menghasilkan api, sebagaimana telah dijelaskan dalam ayat-ayat sebelumnya.
Demikianlah firman Allah datang dengan jawaban yang tegas:
﴿بَلَىٰ... أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ؟ بَلَىٰ، وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ... إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ﴾.
“ Benar, .... Bukankah Dzat yang menciptakan langit dan bumi berkuasa menciptakan yang serupa dengan mereka? Tentu saja. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka jadilah ia.”
Mahabenar Allah Yang Mahaagung.
Adakah logika yang lebih agung, lebih indah, lebih sempurna ilmunya, lebih kuat, dan lebih memuaskan daripada logika Al-Qur'an untuk meyakinkan orang yang mengingkari kebangkitan serta mengingkari kekuasaan Allah bahwa Dia akan membangkitkan kita kembali dari tulang-belulang yang telah hancur?
Ayat-ayat ini memaparkan tiga kenyataan yang dapat kita saksikan dengan mata kepala sendiri, kita pahami dengan akal, dan kita terima dengan logika manusia. Oleh sebab itu, ayat pertama dimulai dengan firman-Nya:
﴿أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ...﴾
“Tidakkah manusia melihat...”
Lalu di pertengahannya Allah berfirman:
﴿أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ﴾.
“Bukankah Dzat yang menciptakan langit dan bumi berkuasa menciptakan yang serupa dengan mereka?”
Maka mungkinkah jawaban kita terhadap ayat yang mulia ini selain sebagaimana yang Allah nyatakan sendiri?
﴿بَلَىٰ وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ﴾
“Benar. Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.”
Ya, benar. Demi Rabb kita Yang Mahabenar. Kita telah melihat dan beriman bahwa Allah Mahakuasa menciptakan yang serupa dengan kita, serta menolong umat ini dengan izin-Nya, petunjuk-Nya, Kitab-Nya, dan ayat-ayat-Nya.
﴿فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ﴾
“Maka kepada perkataan apakah setelah Al-Qur'an ini mereka akan beriman?”
Ada satu catatan yang ingin saya tambahkan. Allah menghendaki agar kaum muslimin menjadikan perhitungan bulan dan tahun berdasarkan peredaran bulan, bukan berdasarkan peredaran matahari. Jika kita merenungkan orbit bulan, kita akan mendapati bahwa bulan merupakan satelit bumi dan senantiasa menyertainya.
Karena Allah telah menundukkan alam semesta ini untuk manusia, maka Dia menghendaki agar manusia menghitung tahun dengan sesuatu yang mengikuti bumi, yaitu tempat yang Allah tundukkan bagi manusia, sementara seluruh isi alam semesta pun Allah tundukkan untuk melayani mereka.
Kita juga mendapati bahwa ketika menghitung masa kehamilan manusia maupun hewan, perhitungan berdasarkan bulan qamariyah lebih tepat. Pemilihan sistem penanggalan ini menunjukkan hikmah Allah, yaitu agar bumi beserta penghuninya menjadi pusat yang diikuti oleh benda-benda langit yang berkaitan dengannya, bukan sekadar menjadi pengikut. Dan Allah lebih mengetahui.
REFERENSI:
[1]
الإِعْجَازُ الْعِلْمِيُّ فِي سُورَةِ يَسٍ
Prof. Dr. Salamah Abdul Hadi
Guru Besar Ilmu Manajemen Energi dan mantan Dekan Institut Tinggi Energi di Aswan
[2]
الإِعْجَازُ الْعِلْمِيُّ فِي سُورَةِ يس، تَفْسِيرُ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ
Oleh Husein Ahmad Kuttaab
[3]
السِّبَاحَةُ فِي الْفَضَاءِ
Abdul Dā'im Al-Kaḥīl
www.kaheel7.com/ar
[4] Walking in Space, www.nasa.gov
[5] http://map.gsfc.nasa.gov/m_uni/uni_101firstobj.html
[6] http://www.kva.se/KVA_Root/files/newspics/ DOC_2005217592 _1296017045 _popcrafoord05eng.asp
[4] http://web.cecs.pdx.edu/~mmw/Free%20Float.JPG
0 Komentar