Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

KISAH KELIRU: “ASMA NAIK JABAL TSUR MENGANTARKAN MAKANAN UNTUK NABI ﷺ DAN ABU BAKAR SAAT SEMBUNYI DI GOA TSUR ".

 KISAH KELIRU: 
“ASMA BOLAK BALIK NAIK JABAL TSUR MENGANTARKAN MAKANAN UNTUK NABI DAN ABU BAKAR SAAT SEMBUNYI DI GOA TSUR”.

 ====

Di Tulis oleh Kang Oji

KAJIAN NIDA AL-ISLAM

 

-----
Tulisan ini sengaja saya tulis untuk meluruskan ceramah seorang da'i kondang yang sudah lama tersebar di YouTube yang menyebutkan bahwa Asma tiap hari bolak balik ke Goa Jabal Tsur mengantarkan makanan untuk Nabi dan ayah nya saat sembunyi di sana.
Kisah ini terkesan tega terhadap anak perempuan, padahal di sana ada Abdullah bin Abu Bakar dan Amir bin Fuhairah, mantan budak Abu bakar.  
----

DAFTAR ISI:

  • PENDAHULUAN:
  • STUDI HADITS RIWAYAT IBNU ISHAQ: Bahwa Asma radhiyallahu ‘anha  mengantarkan Makanan ke Goa Jabal Tsur
  • HADITS RIWAYAT IBNU ISHAQ DIATAS MENYELISIHI HADITS SHAHIH RIWAYAT BUKHORI DAN LAINNYA.
  • SEKILAS KISAH MABIT DI GOA JABAL TSUR:
  • KISAH SARANG LABA-LABA
  • KISAH DUA BURUNG MERPATI
  • KISAH SINGKAT PERJALANAN HIJRAH HINGGA GOA JABAL TSUR
  • PARA SAHABAT LEBIH DAHULU PERGI HIJRAH KE MADINAH, SEMENTARA ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ MENANTI PERINTAH NABI .
  • LAMANYA PERSIAPAN HIJRAH
  • PERENCANAAN HIJRAH DAN STRATEGI YANG HARUS DITEMPUH
  • PERSIAPAN BEKAL MAKANAN DAN MINUMAN SERTA KENDARAAN BAGI RASULULLAH DAN ABU BAKAR
  • JALAN YANG DITEMPUH NABI DAN SAHABATNYA SAAT HIJRAH
  • NABI MEMERINTAHKAN ALI BIN ABI THALIB RADHIYALLAHU 'ANHU TIDUR DI TEMPAT TIDUR BELIAU
  • KAUM QURAISY MENGERAHKAN PARA PELACAK JEJAK UNTUK MENGIKUTI JEJAK NABI DAN SAHABATNYA
  • KEKHAWATIRAN ABU BAKAR RADHIYALLAHU 'ANHU TERHADAP KESELAMATAN NABI
  • MEMANTAU BERITA KAUM QURAISY OLEH ABDULLAH BIN ABI BAKAR ASH-SHIDDIQ DAN MENYAMPAIKANNYA KEPADA NABI
  • AMIR BIN FUHAIRAH MENGHILANGKAN JEJAK KAKI NABI DAN SAHABATNYA
  • MENGANGKAT ABDULLAH BIN ‘URAIQITH SEBAGAI PENUNJUK JALAN DALAM HIJRAH

 ****

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

===***===

PENDAHULUAN

Di antara kisah yang masyhur dalam sirah adalah bahwa Asma' binti Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhuma datang membawa makanan kepada Rasulullah dan ayahnya ketika keduanya berada di dalam Gua Tsur.

Ibnu Ishaq berkata:

" وَكَانَتْ أَسَمَاءُ بِنْتُ أَبِي بَكْرٍ تَأْتِيهِمَا ‌مِنْ ‌الطَّعَامِ ‌إذَا ‌أَمْسَتْ ‌بِمَا ‌يُصْلِحُهُمَا".

"Asma' binti Abu Bakar datang kepada mereka berdua pada waktu petang membawa makanan yang mencukupi keperluan mereka."

(Diriwayatkan tanpa sanad oleh Ibnu Hisyam dalam Sirah- nya 1/485, Ibnu Jarir ath-Thobari dalam Tarikh ath-Thabari 2/378, dan Abu al-Qosim as-Suhaiali dalam ar-Raudh al-Unuf 4/134).

Namun, riwayat Al-Bukhari menjelaskan: bahwa Asma' radhiyallahu 'anha hanya menyiapkan bekal makanan tersebut di rumah Abu Bakar sebelum keduanya berangkat menuju gua Jabal Tsur.

Asma' radhiyallahu 'anha berkata:

صَنَعْتُ سُفْرَةَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي بَيْتِ أَبِي بَكْرٍ، حِينَ أَرَادَ أَنْ يُهَاجِرَ إِلَى المَدِينَةِ، قَالَتْ: فَلَمْ نَجِدْ لِسُفْرَتِهِ، وَلَا لِسِقَائِهِ مَا نَرْبِطُهُمَا بِهِ، فَقُلْتُ لِأَبِي بَكْرٍ: «‌وَاللَّهِ ‌مَا ‌أَجِدُ ‌شَيْئًا ‌أَرْبِطُ ‌بِهِ ‌إِلَّا ‌نِطَاقِي»، قَالَ: فَشُقِّيهِ بِاثْنَيْنِ، فَارْبِطِيهِ: بِوَاحِدٍ السِّقَاءَ، وَبِالْآخَرِ السُّفْرَةَ، «فَفَعَلْتُ، فَلِذَلِكَ سُمِّيَتْ ذَاتَ النِّطَاقَيْنِ»

"Aku menyiapkan bekal perjalanan Rasulullah di rumah Abu Bakar ketika beliau hendak berhijrah ke Madinah.

Kami tidak menemukan sesuatu untuk mengikat bekal makanan dan tempat airnya. Lalu aku berkata kepada Abu Bakar, 'Demi Allah, aku tidak mendapatkan sesuatu untuk mengikatnya selain ikat pinggangku.'

Abu Bakar berkata, 'Belahlah menjadi dua, lalu ikatlah tempat air dengan salah satunya dan bekal makanan dengan yang lainnya.'

Maka aku pun melakukannya. Karena itulah aku diberi julukan “Dzatun Nithaqain” (pemilik dua ikat pinggang)." (HR. Al-Bukhari No. 2979).

Imam Al-Bukhari memberi judul bab untuk hadits ini:

«بَابُ حَمْلِ الزَّادِ فِي الْغَزْوِ».

"Bab Membawa Bekal dalam Peperangan."

Dalam riwayatnya mengenai peristiwa hijrah, Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:

فَجَهَّزْنَاهُمَا أَحَثَّ الجِهَازِ، وَصَنَعْنَا لَهُمَا سُفْرَةً فِي جِرَابٍ، ‌فَقَطَعَتْ ‌أَسْمَاءُ ‌بِنْتُ ‌أَبِي ‌بَكْرٍ ‌قِطْعَةً ‌مِنْ ‌نِطَاقِهَا، فَرَبَطَتْ بِهِ عَلَى فَمِ الجِرَابِ، فَبِذَلِكَ سُمِّيَتْ ذَاتَ النِّطَاقَيْنِ قَالَتْ: ثُمَّ لَحِقَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَأَبُو بَكْرٍ بِغَارٍ فِي جَبَلِ ثَوْرٍ، فَكَمَنَا فِيهِ ثَلَاثَ لَيَالٍ

"Kami menyiapkan segala keperluan mereka sebaik-baiknya, lalu kami membuatkan bekal makanan untuk mereka lalu memasukannya ke dalam sebuah kantong kulit. Kemudian Asma' binti Abu Bakar memotong sepotong ikat pinggangnya, lalu mengikat mulut kantong itu dengannya. Karena itulah ia diberi julukan Dzatun Nithaqain."

Aisyah melanjutkan, "Kemudian Rasulullah dan Abu Bakar pergi menuju sebuah gua di Gunung Tsur, lalu keduanya bersembunyi di sana selama tiga malam." (HR. Al-Bukhari No. 3905).

Adapun makanan Rasulullah dan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu selama berada di Gua Tsur dalam tiga hari tersebut, maka yang tampak adalah makanan itu berasal dari bekal yang telah dipersiapkan di rumah Abu Bakar radhiyallahu 'anhu, ditambah dengan apa yang dibawa oleh Amir bin Fuhairah radhiyallahu 'anhu.

Dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan:

"‌وَيَرْعَى ‌عَلَيْهِمَا ‌عَامِرُ ‌بْنُ ‌فُهَيْرَةَ، ‌مَوْلَى ‌أَبِي ‌بَكْرٍ ‌مِنْحَةً مِنْ غَنَمٍ، فَيُرِيحُهَا عَلَيْهِمَا حِينَ تَذْهَبُ سَاعَةٌ مِنَ العِشَاءِ، فَيَبِيتَانِ فِي رِسْلٍ، وَهُوَ لَبَنُ مِنْحَتِهِمَا وَرَضِيفِهِمَا، حَتَّى يَنْعِقَ بِهَا عَامِرُ بْنُ فُهَيْرَةَ بِغَلَسٍ، يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ تِلْكَ اللَّيَالِي الثَّلَاثِ"

"Amir bin Fuhairah, bekas budak Abu Bakar, menggembalakan sekawanan kambing milik Abu Bakar. Pada saat telah berlalu sebagian waktu malam setelah Isya, ia menggiring kambing-kambing itu kepada keduanya. Maka mereka bermalam dengan meminum susu kambing tersebut hingga Amir bin Fuhairah menggiringnya kembali pada waktu dini hari. Hal itu dilakukannya setiap malam selama tiga malam tersebut." (HR. Al-Bukhari No. 3905).

Dalam lafadz lain disebutkan:

"وَيَرْعَى ‌عَلَيْهِمَا ‌عَامِرُ ‌بْنُ ‌فُهَيْرَةَ ‌مَوْلَى ‌أَبِي ‌بَكْرٍ ‌مِنْحَةً مِنْ غَنَمٍ، فَيُرِيحُهَا عَلَيْهِمَا حِينَ تَذْهَبُ سَاعَةٌ مِنَ العِشَاءِ، فَيَبِيتَانِ فِي رِسْلِهِمَا حَتَّى يَنْعِقَ بِهَا عَامِرُ بْنُ فُهَيْرَةَ بِغَلَسٍ، يَفْعَلُ ذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ مِنْ تِلْكَ اللَّيَالِي الثَّلَاثِ

"Amir bin Fuhairah, bekas budak Abu Bakar, menggembalakan sekawanan kambing milik Abu Bakar. Ketika telah berlalu sebagian waktu malam setelah Isya, ia menggiring kambing-kambing itu kepada keduanya, sehingga mereka bermalam dengan memanfaatkan susu kambing tersebut sampai Amir bin Fuhairah kembali menggiringnya pada waktu dini hari. Ia melakukan hal itu setiap malam selama tiga malam tersebut." (HR. Al-Bukhari No. 5807).

===***=== 

STUDI HADITS RIWAYAT IBNU ISHAQ:
Bahwa Asma radhiyallahu ‘anha mengantarkan Makanan ke Goa Jabal Tsur

 ====

RIWAYAT PERTAMA :

Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam (wafat 213 H) berkata dalam Sirah Ibnu Hisyam (2/93–94):

فِي الْغَارِ: قَالَ ابْنُ إسْحَاقَ: "فَلَمَّا أَجْمَعَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الْخُرُوجَ، أَتَى أَبَا بَكْرِ بْنِ أَبِي قُحَافَةَ، فَخَرَجَا مِنْ خَوْخَةٍ لِأَبِي بَكْرٍ فِي ظَهْرِ بَيْتِهِ، ثم عمدا إلَى غَارٍ بِثَوْرٍ -جَبَلٍ بِأَسْفَلِ مَكَّةَ- فَدَخَلَاهُ، وَأَمَرَ أَبُو بَكْرٍ ابْنَهُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي بَكْرٍ أَنْ يتسمَّع لَهُمَا مَا يَقُولُ الناسُ فِيهِمَا نهارَه، ثُمَّ يَأْتِيهِمَا إذَا أَمْسَى بِمَا يَكُونُ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ مِنْ الْخَبَرِ وَأَمَرَ عامرَ بنَ فُهيرة مَوْلَاهُ أَنْ يَرْعَى غنمَهُ نهارَه، ثُمَّ يُرِيحُهَا عَلَيْهِمَا، يَأْتِيهِمَا إذَا أَمْسَى فِي الغارِ. ‌وَكَانَتْ ‌أسماءُ ‌بِنْتُ ‌أَبِي ‌بَكْرٍ ‌تَأْتِيهِمَا ‌مِنْ ‌الطَّعَامِ ‌إذَا ‌أَمْسَتْ ‌بِمَا ‌يُصْلِحُهُمَا".

Di dalam goa:

Ibnu Ishaq (wafat 151 H) berkata: "Ketika Rasulullah telah memantapkan tekad untuk berhijrah, beliau mendatangi Abu Bakar bin Abi Quhafah. Kemudian keduanya keluar melalui sebuah pintu kecil (khaukhah) yang berada di bagian belakang rumah Abu Bakar. Setelah itu mereka menuju Gua Tsur, yaitu sebuah gua di Gunung Tsur yang terletak di sebelah selatan Makkah, lalu keduanya masuk ke dalamnya.

Abu Bakar memerintahkan putranya, Abdullah bin Abu Bakar, agar pada siang hari mendengarkan pembicaraan orang-orang mengenai mereka berdua. Kemudian setiap malam ia datang menemui keduanya untuk menyampaikan segala berita yang terjadi pada hari itu.

Abu Bakar juga memerintahkan maulanya, Amir bin Fuhairah, agar pada siang hari menggembalakan kambing-kambingnya, lalu pada sore atau malam hari membawa kambing-kambing itu kepada keduanya di dalam gua.

Adapun Asma' binti Abu Bakar, setiap sore atau malam hari ia datang membawa makanan yang mencukupi kebutuhan mereka berdua."

(Lihat: Sirah Ibnu Hisyam 1/485, Tarikh ath-Thabari 2/378, ar-Raudh al-Unuf 4/134).

Lalu Ibnu Hisyam berkata:

وَحَدَّثَنِي بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ، أَنَّ الْحَسَنَ بْنَ أَبِي الْحَسَنِ الْبَصْرِيَّ قَالَ: انْتَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَأَبُو بَكْرٍ إِلَى الْغَارِ لَيْلًا، فَدَخَلَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَبْلَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَلَمَسَ الْغَارَ، لِيَنْظُرَ أَفِيهِ سَبُعٌ أَوْ حَيَّةٌ، يَقِي رَسُولَ اللَّهِ ﷺ بِنَفْسِهِ.

"Dan telah menceritakan kepadaku sebagian ahli ilmu, bahwa Al-Hasan bin Abul Hasan al-Bashri berkata:

'Rasulullah dan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu tiba di Gua Tsur pada malam hari. Lalu Abu Bakar radhiyallahu 'anhu masuk ke dalam gua lebih dahulu daripada Rasulullah . Ia meraba-raba bagian dalam gua untuk memastikan apakah di dalamnya terdapat binatang buas atau ular, sehingga ia dapat melindungi Rasulullah dengan dirinya sendiri.'"

Riwayat ini tidak bersanad:  

Ibnu Hisyam (warat 213 H) mengutip perkataan Ibnu Ishaq (wafat 151 H). Sementara Ibnu Ishaq sendiri menyebutkan kisah Asma tersebut secara mu’allaq / tanpa sanad.

Adapun apa yang diriwayatkan Ibnu Hisyam dari sebagian para ahli ilmu, maka itu di dalamnya tidak ada kisah Asma mengantarkan makanan.

Kisah ini disebutkan pula oleh Ibnu Jarir ath-Thobari (wafat 310 H) dalam Tarikhnya 2/378.

Ibnu Jarir berkata:

«وَلَمْ يَعْلَمْ -فِيمَا بَلَغَنِي- بِخُرُوجِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَحَدٌ حِينَ خَرَجَ إِلَّا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ، وَأَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ، وَآلُ أَبِي بَكْرٍ.

فَأَمَّا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ، فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ -فِيمَا بَلَغَنِي- أَخْبَرَهُ بِخُرُوجِهِ، وَأَمَرَهُ أَنْ يَتَخَلَّفَ بَعْدَهُ بِمَكَّةَ، حَتَّى يُؤَدِّيَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ الْوَدَائِعَ الَّتِي كَانَتْ عِنْدَهُ لِلنَّاسِ.

وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، وَلَيْسَ بِمَكَّةَ أَحَدٌ عِنْدَهُ شَيْءٌ يَخْشَى عَلَيْهِ إِلَّا وَضَعَهُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ؛ لِمَا يُعْرَفُ مِنْ صِدْقِهِ وَأَمَانَتِهِ.

فَلَمَّا أَجْمَعَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لِلْخُرُوجِ، أَتَى أَبَا بَكْرِ بْنَ أَبِي قُحَافَةَ، فَخَرَجَا مِنْ خَوْخَةٍ لِأَبِي بَكْرٍ فِي ظَهْرِ بَيْتِهِ، ثُمَّ عَمَدَا إِلَى غَارٍ بِثَوْرٍ، جَبَلٍ بِأَسْفَلِ مَكَّةَ، فَدَخَلَاهُ.

وَأَمَرَ أَبُو بَكْرٍ ابْنَهُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي بَكْرٍ أَنْ يَسْمَعَ لَهُمَا مَا يَقُولُ النَّاسُ فِيهِمَا نَهَارَهُ، ثُمَّ يَأْتِيَهُمَا إِذَا أَمْسَى بِمَا يَكُونُ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ مِنَ الْخَبَرِ.

وَأَمَرَ عَامِرَ بْنَ فُهَيْرَةَ، مَوْلَاهُ، أَنْ يَرْعَى غَنَمَهُ نَهَارَهُ، ثُمَّ يُرِيحَهَا عَلَيْهِمَا إِذَا أَمْسَى بِالْغَارِ.

وَكَانَتْ أَسْمَاءُ بِنْتُ أَبِي بَكْرٍ تَأْتِيهِمَا مِنَ الطَّعَامِ إِذَا أَمْسَتْ بِمَا يُصْلِحُهُمَا».

"Menurut berita yang telah sampai kepadaku-Tidak seorang pun mengetahui keluarnya Rasulullah ketika beliau berangkat kecuali Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan keluarga Abu Bakar.

Adapun Ali bin Abi Thalib -menurut berita yang telah sampai kepadaku-, maka Rasulullah  telah memberitahunya tentang keberangkatan beliau, serta memerintahkannya agar tetap tinggal di Makkah setelah beliau berangkat, hingga ia menunaikan amanat-amanat milik orang-orang yang dititipkan kepada Rasulullah .

Sebab, tidak ada seorang pun di Makkah yang memiliki barang berharga yang dikhawatirkan kehilangannya, melainkan ia menitipkannya kepada Rasulullah , karena beliau dikenal sebagai seorang yang sangat jujur dan terpercaya.

Ketika Rasulullah telah bertekad untuk berangkat, beliau mendatangi Abu Bakar bin Abi Quhafah. Keduanya kemudian keluar melalui sebuah pintu kecil di bagian belakang rumah Abu Bakar, lalu menuju Gua Tsur, yaitu sebuah gua di Gunung Tsur yang terletak di sebelah bawah Makkah, kemudian keduanya memasukinya.

Abu Bakar memerintahkan putranya, Abdullah bin Abi Bakar, agar pada siang hari berbaur dengan masyarakat untuk mendengarkan apa yang mereka perbincangkan tentang Rasulullah dan Abu Bakar. Kemudian pada waktu malam ia datang menemui keduanya untuk menyampaikan semua berita yang terjadi pada hari itu.

Abu Bakar juga memerintahkan bekas budaknya, Amir bin Fuhairah, agar menggembalakan kambing-kambingnya pada siang hari, lalu pada waktu petang menggiring kambing-kambing itu ke gua tempat keduanya berada.

Sementara itu, Asma binti Abu Bakar setiap malam datang membawa makanan yang diperlukan oleh keduanya."

STATUS SANAD HADITS: Muhammad bin Thohir al-Barzanji dalam Shohih wa Dho’if Tarikh ath-Thobari 2/65 berkata: “Sanadnya Lemah (إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ)”.

====

RIWAYAT KEDUA:

Ibnu Hisyam berkata:

قَالَ ابْنُ إِسْحَاقَ: فَأَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي الْغَارِ ثَلَاثًا، وَمَعَهُ أَبُو بَكْرٍ، وَجَعَلَتْ قُرَيْشٌ فِيهِ، حِينَ فَقَدُوهُ، مِائَةَ نَاقَةٍ لِمَنْ يَرُدُّهُ عَلَيْهِمْ.

وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ يَكُونُ فِي قُرَيْشٍ نَهَارَهُ مَعَهُمْ، يَسْمَعُ مَا يَأْتَمِرُونَ بِهِ، وَمَا يَقُولُونَ فِي شَأْنِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَأَبِي بَكْرٍ، ثُمَّ يَأْتِيهِمَا إِذَا أَمْسَى، فَيُخْبِرُهُمَا الْخَبَرَ.

وَكَانَ عَامِرُ بْنُ فُهَيْرَةَ، مَوْلَى أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَرْعَى فِي رُعْيَانِ أَهْلِ مَكَّةَ، فَإِذَا أَمْسَى أَرَاحَ عَلَيْهِمَا غَنَمَ أَبِي بَكْرٍ، فَاحْتَلَبَا وَذَبَحَا، فَإِذَا غَدَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ مِنْ عِنْدِهِمَا إِلَى مَكَّةَ، اتَّبَعَ عَامِرُ بْنُ فُهَيْرَةَ أَثَرَهُ بِالْغَنَمِ حَتَّى يُعَفِّيَ عَلَيْهِ.

حَتَّى إِذَا مَضَتِ الثَّلَاثُ، وَسَكَنَ عَنْهُمَا النَّاسُ، أَتَاهُمَا صَاحِبُهُمَا الَّذِي اسْتَأْجَرَاهُ بِبَعِيرَيْهِمَا وَبَعِيرٍ لَهُ، وَأَتَتْهُمَا أَسْمَاءُ بِنْتُ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا بِسُفْرَتِهِمَا، وَنَسِيَتْ أَنْ تَجْعَلَ لَهَا عِصَامًا، فَلَمَّا ارْتَحَلَا ذَهَبَتْ لِتُعَلِّقَ السُّفْرَةَ، فَإِذَا لَيْسَ لَهَا عِصَامٌ، فَحَلَّتْ نِطَاقَهَا، فَجَعَلَتْهُ عِصَامًا، ثُمَّ عَلَّقَتْهَا بِهِ.

سَبَبُ تَسْمِيَةِ أَسْمَاءَ بِذَاتِ النِّطَاقِ: فَكَانَ يُقَالُ لِأَسْمَاءِ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ: ذَاتُ النِّطَاقِ، لِذَلِكَ.

Ibnu Ishaq berkata:

"Rasulullah tinggal di dalam Gua Tsur selama tiga malam bersama Abu Bakar radhiyallahu 'anhu. Ketika Quraisy kehilangan jejak beliau, mereka menetapkan hadiah sebesar seratus ekor unta bagi siapa saja yang dapat mengembalikan beliau kepada mereka.

Pada siang hari, Abdullah bin Abu Bakar berada di tengah-tengah kaum Quraisy bersama mereka. Ia mendengarkan apa yang mereka musyawarahkan dan apa yang mereka bicarakan mengenai Rasulullah dan Abu Bakar. Kemudian, ketika malam tiba, ia mendatangi keduanya dan menyampaikan seluruh berita yang didengarnya.

Sementara itu, Amir bin Fuhairah, maula (bekas budak) Abu Bakar radhiyallahu 'anhu, menggembalakan kambing di antara para penggembala penduduk Makkah. Ketika sore hari tiba, ia membawa pulang kambing-kambing milik Abu Bakar kepada keduanya. Lalu keduanya memerah susu kambing itu dan menyembelih sebagian darinya. Setelah Abdullah bin Abu Bakar berangkat pada pagi hari meninggalkan keduanya menuju Makkah, Amir bin Fuhairah mengikuti bekas jejak langkah Abdullah dengan menggiring kambing-kambingnya agar jejak tersebut tertutup dan terhapus.

Setelah tiga malam berlalu dan keadaan telah kembali tenang sehingga orang-orang tidak lagi melakukan pencarian secara intensif, datanglah penunjuk jalan yang telah mereka sewa dengan membawa dua ekor unta milik keduanya serta seekor unta miliknya sendiri.

Asma' binti Abu Bakar radhiyallahu 'anha juga datang membawa bekal perjalanan mereka. Namun ia lupa menyiapkan tali pengikat untuk bekal tersebut.

Ketika keduanya (Nabi dan Abu Bakar) hendak berangkat dan ia ingin menggantungkan bekal itu, ternyata tidak ada tali pengikat. Maka ia melepaskan ikat pinggangnya, lalu menjadikannya sebagai tali pengikat, kemudian mengikat dan menggantungkan bekal itu dengannya.

SEBAB ASMA' DIJULUKI "DZATUN NITHAQ"

Karena peristiwa itulah Asma' binti Abu Bakar dijuluki "Dzatun Nithaq" (Wanita Pemilik Ikat Pinggang).

Ibnu Hisyam berkata:

وَسَمِعْتُ غَيْرَ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ يَقُولُ: ذَاتُ النِّطَاقَيْنِ، وَتَفْسِيرُهُ: أَنَّهَا لَمَّا أَرَادَتْ أَنْ تُعَلِّقَ السُّفْرَةَ، شَقَّتْ نِطَاقَهَا بِاثْنَيْنِ، فَعَلَّقَتِ السُّفْرَةَ بِوَاحِدٍ، وَانْتَطَقَتْ بِالْآخَرِ.

"Aku mendengar lebih dari satu orang ahli ilmu mengatakan bahwa julukannya adalah 'Dzatun Nithaqain' (Wanita Pemilik Dua Ikat Pinggang).

Penjelasannya adalah bahwa ketika Asma' hendak mengikat bekal perjalanan itu, ia membelah ikat pinggangnya menjadi dua bagian. Satu bagian digunakan untuk mengikat bekal perjalanan, sedangkan bagian yang lain tetap dipakainya sebagai ikat pinggang."

STATUS HADITS :

Hadits ini diriwayatkan secara mu’allaq tanpa sanad.

KESIMPULAN  DUA RIWAYAT DIATAS :

Dua riwayat hadits di atas tidak ada yang shahih.

===***=== 

HADITS RIWAYAT IBNU ISHAQ DIATAS 
MENYELISIHI HADITS SHAHIH RIWAYAT BUKHORI DAN LAIN-NYA

Hadits tersebut bertentangan dengan hadits Asma' binti Abu Bakar yang shahih dalam Shahih Al-Bukhari.

Dalam hadits tersebut, Asma' menegaskan bahwa ia menyiapkan bekal makanan di rumah Abu Bakar ketika Rasulullah hendak berhijrah, sebelum beliau memasuki Gua Tsur.

Lalu ketika ia tidak menemukan sesuatu untuk mengikat kantong bekal, maka ia membelah ikat pinggangnya menjadi dua, oleh sebab itu ia dijuluki Dzatun Nithaqain (pemilik dua ikat pinggang).

Syekh Muhammad bin Abdullah Al-'Aushan berkata dalam kitabnya “Ma Sya'a wa Lam Yatsbut fi As-Sirah An-Nabawiyyah” (hlm. 78):

وَمِمَّا اشْتَهَرَ فِي السِّيرَةِ أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا- كَانَتْ تَأْتِي بِالطَّعَامِ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَأَبِيهَا عِنْدَمَا كَانَا فِي الْغَارِ.

قَالَ ابْنُ إِسْحَاقَ: «وَكَانَتْ أَسْمَاءُ بِنْتُ أَبِي بَكْرٍ تَأْتِيهِمَا مِنَ الطَّعَامِ إِذَا أَمْسَتْ بِمَا يُصْلِحُهُمَا».

لَكِنَّ رِوَايَةَ الْبُخَارِيِّ بَيَّنَتْ أَنَّ أَسْمَاءَ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا- صَنَعَتْ لَهُمَا الطَّعَامَ فِي بَيْتِ أَبِي بَكْرٍ، وَقَبْلَ الْخُرُوجِ لِلْغَارِ.

قَالَتْ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا-: «صَنَعْتُ سُفْرَةَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي بَيْتِ أَبِي بَكْرٍ حِينَ أَرَادَ أَنْ يُهَاجِرَ إِلَى الْمَدِينَةِ».

قَالَتْ: «فَلَمْ تَجِدْ لِسُفْرَتِهِ وَلَا لِسِقَائِهِ مَا نَرْبِطُهُمَا بِهِ، فَقُلْتُ لِأَبِي بَكْرٍ: وَاللَّهِ مَا أَجِدُ شَيْئًا أَرْبِطُ بِهِ إِلَّا نِطَاقِي.

قَالَ: فَشُقِّيهِ بِاثْنَيْنِ، فَارْبِطِيهِ بِوَاحِدٍ السِّقَاءَ، وَبِالْآخَرِ السُّفْرَةَ.

فَفَعَلْتُ، فَلِذَلِكَ سُمِّيَتْ ذَاتَ النِّطَاقَيْنِ».

وَبَوَّبَ لَهُ الْإِمَامُ الْبُخَارِيُّ بِقَوْلِهِ: «بَابُ حَمْلِ الزَّادِ فِي الْغَزْوِ».

وَفِي رِوَايَتِهَا لِحَدِيثِ الْهِجْرَةِ قَالَتْ عَائِشَةُ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا-: «فَجَهَّزْنَاهُمَا أَحَثَّ الْجِهَازِ، وَصَنَعْنَا لَهُمَا سُفْرَةً فِي جِرَابٍ، فَقَطَعَتْ أَسْمَاءُ بِنْتُ أَبِي بَكْرٍ قِطْعَةً مِنْ نِطَاقِهَا، فَرَبَطَتْ بِهِ عَلَى فَمِ الْجِرَابِ، فَبِذَلِكَ سُمِّيَتْ ذَاتَ النِّطَاقَيْنِ.

قَالَتْ: ثُمَّ لَحِقَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَأَبُو بَكْرٍ بِغَارٍ فِي جَبَلِ ثَوْرٍ...».

أَمَّا طَعَامُهُمَا (رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَأَبِي بَكْرٍ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ-) فِي غَارِ ثَوْرٍ، فِي الْأَيَّامِ الثَّلَاثَةِ الَّتِي مَكَثَاهَا فِي الْغَارِ، فَالظَّاهِرُ أَنَّهُ مِنْ تِلْكَ السُّفْرَةِ الَّتِي أُعِدَّتْ فِي بَيْتِ أَبِي بَكْرٍ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ-، وَمَا كَانَ يَأْتِيهِمَا بِهِ عَامِرُ بْنُ فُهَيْرَةَ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ-.

فَفِي رِوَايَةِ الْبُخَارِيِّ الْآنِفَةِ الذِّكْرِ: «... وَيَرْعَى عَلَيْهِمَا عَامِرُ بْنُ فُهَيْرَةَ، مَوْلَى أَبِي بَكْرٍ، مِنْحَةً مِنْ غَنَمٍ، فَيُرِيحُهَا عَلَيْهِمَا حِينَ تَذْهَبُ سَاعَةٌ مِنَ الْعِشَاءِ، فَيَبِيتَانِ فِي رِسْلٍ - وَهُوَ لَبَنُ مِنْحَتِهِمَا...».

“Di antara kisah yang masyhur dalam sirah adalah bahwa Asma' binti Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anha biasa membawakan makanan kepada Rasulullah dan ayahnya ketika keduanya berada di dalam Gua Tsur.

Ibnu Ishaq berkata: "Dan Asma' binti Abu Bakar biasa datang kepada keduanya pada waktu petang dengan membawa makanan yang mencukupi kebutuhan mereka."

Akan tetapi, riwayat dalam Shahih Al-Bukhari menjelaskan bahwa Asma' radhiyallahu 'anha menyiapkan bekal makanan tersebut di rumah Abu Bakar sebelum keduanya berangkat menuju gua.

Beliau (Asma) radhiyallahu 'anha berkata:

"Aku menyiapkan bekal perjalanan Rasulullah di rumah Abu Bakar ketika beliau hendak berangkat hijrah ke Madinah."

Beliau (Asma) radhiyallahu 'anha melanjutkan:

"Kami tidak menemukan sesuatu untuk mengikat tempat makanan maupun tempat airnya. Lalu aku berkata kepada Abu Bakar, 'Demi Allah, aku tidak menemukan sesuatu untuk mengikatnya selain ikat pinggangku.'

Abu Bakar berkata, 'Belahlah menjadi dua, lalu ikatlah tempat air dengan salah satunya dan tempat makanan dengan yang lainnya.'

Maka aku pun melakukannya. Karena itulah aku diberi julukan Dzatun Nithaqain (Pemilik Dua Ikat Pinggang)." [HR. Al-Bukhari No. 2979]

Imam Al-Bukhari memberikan judul bab untuk hadits tersebut dengan:

"Bab Membawa Bekal dalam Peperangan."

Dalam riwayatnya tentang peristiwa hijrah, Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu 'anha berkata:

"Kami menyiapkan segala keperluan keduanya dengan sebaik-baiknya, lalu kami membuat bekal makanan dalam sebuah kantong. Kemudian Asma' binti Abu Bakar memotong sepotong dari ikat pinggangnya, lalu mengikat mulut kantong itu dengannya. Karena itulah ia diberi julukan Dzatun Nithaqain."

Beliau (Aisyah) radhiyallahu 'anha melanjutkan:

"Kemudian Rasulullah dan Abu Bakar berangkat menuju sebuah gua di Gunung Tsur....". [HR. Bukhori no. 5807]

Adapun makanan Rasulullah dan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu selama tiga hari mereka tinggal di Gua Tsur, maka yang tampak adalah bahwa makanan tersebut berasal dari bekal yang telah disiapkan di rumah Abu Bakar radhiyallahu 'anhu, ditambah dengan apa yang dibawakan oleh Amir bin Fuhairah radhiyallahu 'anhu.

Dalam riwayat Al-Bukhari yang telah disebutkan sebelumnya disebutkan:

"...Dan Amir bin Fuhairah, mantan budak Abu Bakar, menggembalakan kambing-kambing milik Abu Bakar. Ketika telah berlalu sebagian waktu setelah salat Isya, ia menggiring kambing-kambing itu kepada keduanya. Maka keduanya bermalam dengan memperoleh susu segar dari kambing-kambing tersebut...." (HR. Bukhori no. 3905). [Kutipan Selesai].

Lalu Siapa yang mengantarkan makanan?

Riwayat-riwayat sahih yang menjadi pegangan dalam pembahasan sirah menjelaskan bahwa yang bertugas mengantarkan makanan dan minuman kepada Nabi dan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu selama mereka berada di dalam Gua Tsur adalah:

1]. Abdullah bin Abu Bakar radhiyallahu 'anhu, yang bertugas membawa berita dari Makkah sekaligus mengantarkan makanan.

2]. Amir bin Fuhairah radhiyallahu 'anhu, maula (bekas budak) Abu Bakar, yang menggembalakan kambing dan memberikan susu kambingnya kepada Nabi dan Abu Bakar.

 ===***===

SEKILAS KISAH MABIT DI GOA JABAL TSUR

Yakni: bermalamnya Rasulullah dan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu di Gua Tsur

Disebutkan tentang bermalamnya Nabi dan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu di dalam gua dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah . Berikut penjelasannya:

Pertama: Dari Al-Qur'an

Kisah bermalam di dalam gua disebutkan dalam Kitab Allah. Allah Ta'ala berfirman:

﴿إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى ۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ﴾

"Jika kalian tidak menolongnya (Muhammad), maka sungguh Allah telah menolongnya, yaitu ketika orang-orang kafir mengusirnya, sedang dia adalah salah seorang dari dua orang, ketika keduanya berada di dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya, 'Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.' Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepadanya, menguatkannya dengan bala tentara yang tidak kalian lihat, dan Allah menjadikan kalimat orang-orang kafir itu rendah, sedangkan kalimat Allah itulah yang paling tinggi. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (QS. At-Taubah: 40)

Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa kaum musyrikin telah bersekongkol untuk membunuh Nabi , dan bahwa beliau bersama Abu Bakar bermalam di dalam gua.

Kedua: Dari as-Sunnah

Adapun riwayat-riwayat yang sahih dari Sunnah Nabi tentang kisah bermalam di dalam gua adalah sebagai berikut:

[1]. Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, istri Nabi , beliau berkata:

«... ثُمَّ لَحِقَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَأَبُو بَكْرٍ بِغَارٍ فِي جَبَلِ ثَوْرٍ، فَكَمَنَا فِيهِ ثَلَاثَ لَيَالٍ، يَبِيتُ عِنْدَهُمَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ، وَهُوَ غُلَامٌ شَابٌّ ثَقِفٌ لَقِنٌ (أَيْ: حَاذِقٌ سَرِيعُ الْفَهْمِ)، فَيُدْلِجُ مِنْ عِنْدِهِمَا بِسَحَرٍ (أَيْ: يَخْرُجُ مِنْ عِنْدِهِمَا آخِرَ اللَّيْلِ)، فَيُصْبِحُ مَعَ قُرَيْشٍ بِمَكَّةَ كَبَائِتٍ، فَلَا يَسْمَعُ أَمْرًا يُكْتَادَانِ بِهِ إِلَّا وَعَاهُ، حَتَّى يَأْتِيَهُمَا بِخَبَرِ ذَلِكَ حِينَ يَخْتَلِطُ الظَّلَامُ...».

"... Kemudian Rasulullah dan Abu Bakar menuju sebuah gua di Gunung Tsur, lalu keduanya bersembunyi di dalamnya selama tiga malam. Abdullah bin Abi Bakar, seorang pemuda yang cerdas dan cepat memahami sesuatu, bermalam bersama mereka. Menjelang akhir malam ia keluar meninggalkan mereka, lalu pada pagi harinya ia sudah berada bersama orang-orang Quraisy di Makkah seolah-olah ia bermalam di sana. Setiap kali ia mendengar rencana yang disusun untuk mencelakakan keduanya, ia menghafalnya, kemudian datang kepada mereka membawa berita tersebut ketika malam mulai gelap..." (Hadits ini masih panjang).

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 3905 dalam kisah yang panjang, dengan judul bab:

«هِجْرَةُ النَّبِيِّ ﷺ وَأَصْحَابِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ»

"Hijrahnya Nabi dan para sahabatnya ke Madinah."

[2]. Dari Abu Bakar radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

«قُلْتُ لِلنَّبِيِّ ﷺ وَأَنَا فِي الْغَارِ: لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ نَظَرَ تَحْتَ قَدَمَيْهِ لَأَبْصَرَنَا. فَقَالَ: مَا ظَنُّكَ يَا أَبَا بَكْرٍ بِاثْنَيْنِ اللَّهُ ثَالِثُهُمَا».

"Aku berkata kepada Nabi ketika kami berada di dalam gua, 'Seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah kedua telapak kakinya, niscaya dia akan melihat kita.'

Beliau bersabda, 'Wahai Abu Bakar, bagaimana pendapatmu tentang dua orang yang Allah menjadi Penolong keduanya?'

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 3653.

===

KISAH SARANG LABA-LABA

Adapun kisah laba-laba yang membuat sarang di mulut gua, maka Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya no. 3241, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, tentang firman Allah Ta'ala:

﴿وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ﴾

"Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir memikirkan tipu daya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu..." (QS. Al-Anfal: 30).

Ibnu Abbas berkata:

تَشَاوَرَتْ قُرَيْشٌ لَيْلَةً بِمَكَّةَ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: إِذَا أَصْبَحَ فَأَثْبِتُوهُ بِالْوَثَاقِ، يُرِيدُونَ النَّبِيَّ ﷺ. وَقَالَ بَعْضُهُمْ: بَلِ اقْتُلُوهُ. وَقَالَ بَعْضُهُمْ: بَلْ أَخْرِجُوهُ. فَأَطْلَعَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ نَبِيَّهُ ﷺ عَلَى ذَلِكَ، فَبَاتَ عَلِيٌّ عَلَى فِرَاشِ النَّبِيِّ ﷺ تِلْكَ اللَّيْلَةَ، وَخَرَجَ النَّبِيُّ ﷺ حَتَّى لَحِقَ بِالْغَارِ، وَبَاتَ الْمُشْرِكُونَ يَحْرُسُونَ عَلِيًّا، يَحْسَبُونَهُ النَّبِيَّ ﷺ، فَلَمَّا أَصْبَحُوا ثَارُوا إِلَيْهِ، فَلَمَّا رَأَوْا عَلِيًّا رَدَّ اللَّهُ مَكْرَهُمْ، فَقَالُوا: أَيْنَ صَاحِبُكَ هَذَا؟ قَالَ: لَا أَدْرِي. فَاقْتَصُّوا أَثَرَهُ، فَلَمَّا بَلَغُوا الْجَبَلَ خُلِّطَ عَلَيْهِمْ، فَصَعِدُوا فِي الْجَبَلِ، فَمَرُّوا بِالْغَارِ، فَرَأَوْا عَلَى بَابِهِ نَسْجَ الْعَنْكَبُوتِ، فَقَالُوا: لَوْ دَخَلَ هَاهُنَا لَمْ يَكُنْ نَسْجُ الْعَنْكَبُوتِ عَلَى بَابِهِ. فَمَكَثَ فِيهِ ثَلَاثَ لَيَالٍ.

"Pada suatu malam di Makkah, kaum Quraisy bermusyawarah. Sebagian mereka berkata, 'Apabila pagi tiba, ikatlah dia dengan kuat.' Yang mereka maksud adalah Nabi .

Sebagian yang lain berkata, 'Bunuh saja dia.' Dan sebagian lagi berkata, 'Usirlah dia.'

Lalu Allah 'Azza wa Jalla memberitahukan hal itu kepada Nabi-Nya . Maka pada malam itu Ali tidur di tempat tidur Nabi , sedangkan Nabi keluar hingga tiba di gua.

Kaum musyrikin bermalam menjaga Ali karena mereka mengira bahwa dia adalah Nabi . Ketika pagi tiba, mereka segera menyerbunya. Namun setelah mereka melihat bahwa yang ada adalah Ali, Allah menggagalkan tipu daya mereka.

Mereka bertanya, 'Di mana sahabatmu itu?'

Ali menjawab, 'Aku tidak tahu.'

Lalu mereka mengikuti jejak beliau. Ketika mereka sampai di gunung, jejak itu menjadi samar bagi mereka. Mereka pun naik ke gunung hingga melewati gua. Mereka melihat di pintu gua terdapat sarang laba-laba.

Mereka berkata, 'Seandainya dia masuk ke dalam gua ini, tentu tidak akan ada sarang laba-laba di pintunya.'

Maka beliau tinggal di dalam gua itu selama tiga malam”. [Selesai]

Adapun kisah laba-laba yang membuat sarang di mulut gua, maka telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad, namun para ulama berbeda pendapat mengenai hadits tersebut.

Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari dan Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah (3/222) menilai sanadnya hasan.

Sementara itu, Al-Albani melemahkannya dalam As-Silsilah adh-Dha'ifah.

Ahmad Syakir dalam tahqiq Musnad Ahmad (no. 3251) berkata:

فِي إِسْنَادِهِ نَظَرٌ

"Dalam sanadnya terdapat hal yang perlu diteliti."

Para pentahqiq Musnad Ahmad (no. 3251) juga menyatakan, "Sanadnya dha'if." Wallahu a'lam.

 ===

KISAH DUA BURUNG MERPATI

Adapun kisah dua burung merpati, maka Ibnu Katsir menyebutkannya dalam Al-Bidayah wan Nihayah (3/223) dan berkata bahwa riwayat tersebut diriwayatkan oleh Ibnu 'Asakir, kemudian beliau mengatakan:

هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ جِدًّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ. اهـ.

"Ini adalah hadits yang sangat gharib melalui jalur ini."

Para pentahqiq Musnad Ahmad pada tempat yang telah disebutkan sebelumnya juga melemahkan riwayat tersebut.

Al-Albani berkata dalam As-Silsilah adh-Dha'ifah (3/339):

وَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا يَصِحُّ حَدِيثٌ فِي عَنْكَبُوتِ الْغَارِ وَالْحَمَامَتَيْنِ، عَلَى كَثْرَةِ مَا يُذْكَرُ ذَلِكَ فِي بَعْضِ الْكُتُبِ وَالْمُحَاضَرَاتِ الَّتِي تُلْقَى بِمُنَاسَبَةِ هِجْرَتِهِ ﷺ إِلَى الْمَدِينَةِ، فَكُنْ مِنْ ذَلِكَ عَلَى عِلْمٍ. اهـ.

"Ketahuilah bahwa tidak ada satu pun hadits yang sahih mengenai laba-laba di gua maupun dua burung merpati, meskipun kisah itu banyak disebutkan dalam sebagian kitab dan ceramah-ceramah yang disampaikan pada kesempatan memperingati hijrah Nabi ke Madinah. Maka ketahuilah hal tersebut."

Adapun kisah para malaikat yang melindungi Nabi dan Abu Bakar, maka telah diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir (24/106–108) dari hadits Asma' binti Abu Bakar.

Hadits tersebut panjang, dan di dalamnya terdapat lafadz sbb:

(فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ لِرَجُلٍ يَرَاهُ مُوَاجِهَ الْغَارِ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّهُ لَيَرَانَا، فَقَالَ: كَلَّا، إِنَّ مَلَائِكَةً تَسْتُرُنَا بِأَجْنِحَتِهَا... الْحَدِيثُ).

Maka Abu Bakar berkata kepada seseorang yang berada menghadap ke arah gua:

 "Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia melihat kita."

Beliau bersabda: "Tidak. Sesungguhnya malaikat sedang melindungi kita dengan kedua sayapnya."

Namun, dalam sanad hadits tersebut terdapat Ya'qub bin Humaid bin Kasib Al-Madani, yang diperselisihkan oleh para ulama. Lihat Tahdzibul Kamal karya Al-Mizzi (32/318–323).

Ibnu Ma'in, Abu Hatim, dan An-Nasa'i menilainya lemah, sedangkan Abu Zur'ah Ar-Razi menyatakan bahwa riwayatnya sangat lemah.

Abu Dawud As-Sijistani berkata:

رَأَيْنَا فِي مُسْنَدِهِ أَحَادِيثَ أَنْكَرْنَاهَا، فَطَالَبْنَاهُ بِالْأُصُولِ، فَدَافَعَنَا، ثُمَّ أَخْرَجَهَا بَعْدُ، فَوَجَدْنَا الْأَحَادِيثَ فِي الْأُصُولِ مُغَيَّرَةً بِخَطٍّ طَرِيٍّ، كَانَتْ مَرَاسِيلَ، فَأَسْنَدَهَا وَزَادَ فِيهَا.

"Kami melihat dalam Musnad-nya beberapa hadits yang kami anggap mungkar. Lalu kami meminta agar ia menunjukkan naskah asalnya, tetapi ia mengelak. Setelah itu ia mengeluarkannya, dan kami dapati hadits-hadits tersebut dalam naskah aslinya telah diubah dengan tulisan yang masih baru; semula berupa hadits mursal, kemudian ia menyambungkannya (menjadikannya musnad) dan menambahkan beberapa bagian."

Ibnu 'Adi berkata:

لَا بَأْسَ بِهِ وَبِرِوَايَاتِهِ، وَهُوَ كَثِيرُ الْحَدِيثِ، كَثِيرُ الْغَرَائِبِ.

"Tidak mengapa meriwayatkan darinya dan riwayat-riwayatnya. Ia banyak meriwayatkan hadits, namun juga banyak membawa riwayat-riwayat yang gharib."

Adz-Dzahabi berkata:

كَانَ مِنْ عُلَمَاءِ الْحَدِيثِ، لَكِنَّهُ لَهُ مَنَاكِيرُ وَغَرَائِبُ.

"Ia termasuk ulama hadits, tetapi memiliki sejumlah riwayat mungkar dan gharib."

Ibnu Hibban menilainya tsiqah. Sedangkan Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata tentangnya:

صَدُوقٌ لَهُ أَوْهَامٌ

"Ia seorang yang jujur (shaduq), namun memiliki beberapa kekeliruan."

Al-Albani rahimahullah pada dasarnya cenderung menghasankan hadits-hadits Ya'qub ini, tetapi beliau berhenti (tidak memastikan) dalam menghasankan hadits tersebut.

Beliau berkata dalam As-Silsilah adh-Dha'ifah (3/263):

الْمُتَقَرِّرُ فِي يَعْقُوبَ هَذَا أَنَّهُ حَسَنُ الْحَدِيثِ... فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي الْإِسْنَادِ عِلَّةٌ أُخْرَى فَهُوَ حَسَنٌ...

"Pendapat yang telah mapan mengenai Ya'qub ini adalah bahwa haditsnya hasan... Maka apabila dalam sanad ini tidak terdapat cacat lain, hadits tersebut adalah hasan..."

Kemudian beliau berkata:

وَشَيْخُ الطَّبَرَانِيِّ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرٍو الْخَلَّالُ الْمَكِّيُّ لَمْ أَقِفْ لَهُ عَلَى تَرْجَمَةٍ، وَقَدْ أَخْرَجَ لَهُ فِي «الْمُعْجَمِ الْأَوْسَطِ» نَحْوَ سِتَّةَ عَشَرَ حَدِيثًا، مِمَّا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ مِنْ شُيُوخِهِ الْمَشْهُورِينَ، فَإِنْ عُرِفَ أَوْ تُوبِعَ فَالْحَدِيثُ حَسَنٌ. اهـ.

"Akan tetapi, guru Ath-Thabarani yang bernama Ahmad bin 'Amr Al-Khallal Al-Makki, aku belum menemukan biografinya. Meskipun Ath-Thabarani meriwayatkan darinya sekitar enam belas hadits dalam Al-Mu'jam Al-Awsath, yang menunjukkan bahwa ia termasuk guru-gurunya yang terkenal. Apabila ia diketahui keadaannya atau ada riwayat lain yang menguatkannya, maka hadits tersebut menjadi hasan."

Wallahu a’lam

 ===***====

KISAH SINGKAT PERJALANAN HIJRAH HINGGA GOA JABAL TSUR

Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha sebuah hadits yang panjang, di dalamnya disebutkan:

«فَقالَ النَّبِيُّ ﷺ لِلْمُسْلِمِينَ: إِنِّي أُرِيتُ دَارَ هِجْرَتِكُمْ ذَاتَ نَخْلٍ بَيْنَ لَابَتَيْنِ، وَهُمَا الْحَرَّتَانِ؛ فَهَاجَرَ مَنْ هَاجَرَ قِبَلَ الْمَدِينَةِ، وَرَجَعَ عَامَّةُ مَنْ كَانَ هَاجَرَ بِأَرْضِ الْحَبَشَةِ إِلَى الْمَدِينَةِ، وَتَجَهَّزَ أَبُو بَكْرٍ قِبَلَ الْمَدِينَةِ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «عَلَى رِسْلِكَ، فَإِنِّي أَرْجُو أَنْ يُؤْذَنَ لِي». فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: وَهَلْ تَرْجُو ذَلِكَ بِأَبِي أَنْتَ؟ قَالَ: «نَعَمْ». فَحَبَسَ أَبُو بَكْرٍ نَفْسَهُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ لِيَصْحَبَهُ، وَعَلَفَ رَاحِلَتَيْنِ كَانَتَا عِنْدَهُ وَرَقَ السَّمُرِ، وَهُوَ الْخَبْطُ، أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ».

قَالَ ابْنُ شِهَابٍ: قَالَ عُرْوَةُ: قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: «فَبَيْنَمَا نَحْنُ يَوْمًا جُلُوسٌ فِي بَيْتِ أَبِي بَكْرٍ، فِي نَحْرِ الظَّهِيرَةِ، قَالَ قَائِلٌ لِأَبِي بَكْرٍ: هَذَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مُتَقَنِّعًا فِي سَاعَةٍ لَمْ يَكُنْ يَأْتِينَا فِيهَا. فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: فِدًى لَهُ أَبِي وَأُمِّي، وَاللَّهِ مَا جَاءَ بِهِ فِي هَذِهِ السَّاعَةِ إِلَّا أَمْرٌ.

قَالَتْ: فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، فَاسْتَأْذَنَ، فَأُذِنَ لَهُ، فَدَخَلَ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ لِأَبِي بَكْرٍ: «أَخْرِجْ مَنْ عِنْدَكَ».

فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنَّمَا هُمْ أَهْلُكَ، بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ.

قَالَ: «فَإِنِّي قَدْ أُذِنَ لِي فِي الْخُرُوجِ».

فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: الصُّحْبَةُ بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟!

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «نَعَمْ».

قَالَ أَبُو بَكْرٍ: فَخُذْ بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَى رَاحِلَتَيَّ هَاتَيْنِ.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «بِالثَّمَنِ؟».

قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: فَجَهَّزْنَاهُمَا أَحَثَّ الْجِهَازِ، وَصَنَعْنَا لَهُمَا سُفْرَةً فِي جِرَابٍ، فَقَطَعَتْ أَسْمَاءُ بِنْتُ أَبِي بَكْرٍ قِطْعَةً مِنْ نِطَاقِهَا، فَرَبَطَتْ بِهِ عَلَى فَمِ الْجِرَابِ، فَبِذَلِكَ سُمِّيَتْ: «ذَاتَ النِّطَاقَيْنِ».

قَالَتْ: ثُمَّ لَحِقَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَأَبُو بَكْرٍ بِغَارٍ فِي جَبَلِ ثَوْرٍ، فَكَمَنَا فِيهِ ثَلَاثَ لَيَالٍ، يَبِيتُ عِنْدَهُمَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ، وَهُوَ غُلَامٌ شَابٌّ ثَقِفٌ لَقِنٌ، فَيُدْلِجُ مِنْ عِنْدِهِمَا بِسَحَرٍ، فَيُصْبِحُ مَعَ قُرَيْشٍ بِمَكَّةَ كَبَائِتٍ، فَلَا يَسْمَعُ أَمْرًا يُكْتَادَانِ بِهِ إِلَّا وَعَاهُ، حَتَّى يَأْتِيَهُمَا بِخَبَرِ ذَلِكَ حِينَ يَخْتَلِطُ الظَّلَامُ.

وَيَرْعَى عَلَيْهِمَا عَامِرُ بْنُ فُهَيْرَةَ، مَوْلَى أَبِي بَكْرٍ، مِنْحَةً مِنْ غَنَمٍ، فَيُرِيحُهَا عَلَيْهِمَا، حَتَّى تَذْهَبَ سَاعَةٌ مِنَ الْعِشَاءِ، فَيَبِيتَانِ فِي رِسْلٍ، وَهُوَ لَبَنُ مِنْحَتِهِمَا وَرَضِيفِهِمَا، حَتَّى يَنْعِقَ بِهِمَا عَامِرُ بْنُ فُهَيْرَةَ بِغَلَسٍ، يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ تِلْكَ اللَّيَالِي الثَّلَاثِ.

وَاسْتَأْجَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، وَأَبُو بَكْرٍ، رَجُلًا مِنْ بَنِي الدِّيلِ، وَهُوَ مِنْ بَنِي عَبْدِ عَدِيٍّ، هَادِيًا خِرِّيتًا - وَالْخِرِّيتُ: الْمَاهِرُ بِالْهِدَايَةِ - قَدْ غَمَسَ حِلْفًا فِي آلِ الْعَاصِ بْنِ وَائِلٍ السَّهْمِيِّ، وَهُوَ عَلَى دِينِ كُفَّارِ قُرَيْشٍ، فَأَمِنَاهُ، فَدَفَعَا إِلَيْهِ رَاحِلَتَيْهِمَا، وَوَاعَدَاهُ غَارَ ثَوْرٍ، بَعْدَ ثَلَاثِ لَيَالٍ بِرَاحِلَتَيْهِمَا صُبْحَ ثَلَاثٍ.

وَانْطَلَقَ مَعَهُمَا عَامِرُ بْنُ فُهَيْرَةَ وَالدَّلِيلُ، فَأَخَذَ بِهِمْ طَرِيقَ السَّوَاحِلِ. [رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ: ٣٩٠٥].

"Nabi bersabda kepada kaum Muslimin: 'Sesungguhnya telah diperlihatkan kepadaku negeri tempat hijrah kalian, yaitu sebuah negeri yang memiliki pohon-pohon kurma, terletak di antara dua tanah berbatu hitam (dua harrah).' Maka orang-orang yang hendak berhijrah pun berhijrah menuju Madinah, dan kebanyakan orang yang sebelumnya berhijrah ke negeri Habasyah kembali menuju Madinah.

Abu Bakar pun mulai bersiap untuk berhijrah ke Madinah. Namun Rasulullah bersabda kepadanya, 'Tunggulah, karena aku berharap akan diizinkan (oleh Allah) untuk berhijrah.'

Abu Bakar berkata, 'Apakah engkau benar-benar berharap demikian? Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu.'

Beliau menjawab, 'Ya.'

Maka Abu Bakar menahan dirinya untuk tetap bersama Rasulullah agar dapat menemani beliau dalam hijrah. Ia juga memberi makan dua ekor untanya dengan daun pohon samur (daun yang dipukul hingga gugur), yaitu khabth, selama empat bulan."

Ibnu Syihab berkata, Urwah berkata, Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:

"Pada suatu hari kami sedang duduk di rumah Abu Bakar pada waktu tengah hari yang sangat terik. Tiba-tiba seseorang berkata kepada Abu Bakar, 'Ini Rasulullah datang dengan menutupi wajahnya, pada waktu yang biasanya beliau tidak pernah datang kepada kita.'

Abu Bakar berkata, 'Demi ayah dan ibuku sebagai tebusannya, tidaklah beliau datang pada waktu seperti ini kecuali karena suatu urusan penting.'

Kemudian Rasulullah datang, meminta izin untuk masuk, lalu beliau diizinkan masuk.

Beliau bersabda kepada Abu Bakar, 'Keluarkanlah orang-orang yang ada di sisimu.'

Abu Bakar menjawab, 'Mereka hanyalah keluargamu sendiri, demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu wahai Rasulullah.'

Beliau bersabda, 'Sesungguhnya aku telah diizinkan untuk keluar (berhijrah).'

Abu Bakar berkata, 'Apakah aku akan menjadi teman perjalananmu, demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu wahai Rasulullah?'

Rasulullah menjawab, 'Ya.'

Abu Bakar berkata, 'Kalau begitu ambillah salah satu dari dua ekor untaku ini, demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu.'

Rasulullah bersabda, 'Dengan membayar harganya.'"

Aisyah radhiyallahu 'anha melanjutkan:

"Kami pun segera menyiapkan segala perlengkapan secepat mungkin. Kami membuat bekal makanan untuk keduanya dalam sebuah kantong kulit. Asma binti Abu Bakar merobek kain ikat pinggangnya menjadi dua bagian, lalu mengikat mulut kantong itu dengan salah satunya. Karena itulah ia diberi julukan 'Dzatun Nithaqain' (pemilik dua ikat pinggang)."

Aisyah berkata:

"Kemudian Rasulullah dan Abu Bakar sampai di sebuah gua di Gunung Tsur. Keduanya bersembunyi di sana selama tiga malam.

Abdullah bin Abu Bakar, seorang pemuda yang cerdas dan cepat memahami, bermalam bersama keduanya. Menjelang akhir malam ia berangkat meninggalkan mereka sehingga pada pagi harinya ia telah berada di tengah-tengah kaum Quraisy di Makkah seolah-olah semalam ia berada bersama mereka. Tidak ada satu pun rencana yang mereka susun untuk mencelakai Rasulullah dan Abu Bakar melainkan ia menghafalnya, kemudian ia menyampaikan berita itu kepada keduanya ketika malam mulai gelap.

Sementara itu Amir bin Fuhairah, budak Abu Bakar, menggembalakan kambing-kambing milik Abu Bakar. Pada waktu malam setelah berlalu sebagian waktu Isya, ia menggiring kambing-kambing itu ke tempat mereka sehingga keduanya dapat meminum susu kambing tersebut, sampai menjelang subuh Amir kembali menggiringnya. Ia melakukan hal itu setiap malam selama tiga malam tersebut.

Rasulullah dan Abu Bakar juga menyewa seorang laki-laki dari Bani Ad-Dil, dari keturunan Bani Abdul Adi, sebagai penunjuk jalan yang sangat ahli. Saat itu ia masih memeluk agama orang-orang kafir Quraisy, namun keduanya mempercayainya. Mereka menyerahkan dua ekor unta kepadanya dan berjanji bertemu di Gua Tsur setelah tiga malam, pada pagi hari ketiga.

Amir bin Fuhairah dan penunjuk jalan itu kemudian berangkat bersama mereka melalui jalur pesisir." (HR. Al-Bukhari No. 3905)

Ibnu Syihab berkata: "Abdurrahman bin Malik Al-Mudlaji, keponakan Suraqah bin Malik bin Ju'syum, mengabarkan kepadaku bahwa ayahnya mendengar Suraqah bin Ju'syum berkata:

«جَاءَنَا رُسُلُ كُفَّارِ قُرَيْشٍ يَجْعَلُونَ فِي رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَأَبِي بَكْرٍ دِيَةَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مَنْ قَتَلَهُ، أَوْ أَسَرَهُ.

فَبَيْنَمَا أَنَا جَالِسٌ فِي مَجْلِسٍ مِنْ مَجَالِسِ قَوْمِي بَنِي مُدْلِجٍ، أَقْبَلَ رَجُلٌ مِنْهُمْ، حَتَّى قَامَ عَلَيْنَا وَنَحْنُ جُلُوسٌ، فَقَالَ: يَا سُرَاقَةُ، إِنِّي قَدْ رَأَيْتُ آنِفًا أَسْوِدَةً بِالسَّاحِلِ - أَشْخَاصًا - أَرَاهَا مُحَمَّدًا وَأَصْحَابَهُ.

قَالَ سُرَاقَةُ: فَعَرَفْتُ أَنَّهُمْ هُمْ، فَقُلْتُ لَهُ: إِنَّهُمْ لَيْسُوا بِهِمْ، وَلَكِنَّكَ رَأَيْتَ فُلَانًا وَفُلَانًا، انْطَلَقُوا بِأَعْيُنِنَا.

ثُمَّ لَبِثْتُ فِي الْمَجْلِسِ سَاعَةً، ثُمَّ قُمْتُ فَدَخَلْتُ، فَأَمَرْتُ جَارِيَتِي أَنْ تُخْرِجَ بِفَرَسِي، وَهِيَ مِنْ وَرَاءِ أَكَمَةٍ، فَتَحْبِسَهَا عَلَيَّ، وَأَخَذْتُ رُمْحِي، فَخَرَجْتُ بِهِ مِنْ ظَهْرِ الْبَيْتِ، فَحَطَطْتُ بِزُجِّهِ الْأَرْضَ، وَخَفَضْتُ عَالِيَهُ، حَتَّى أَتَيْتُ فَرَسِي، فَرَكِبْتُهَا، فَرَفَعْتُهَا تُقَرِّبُ بِي، حَتَّى دَنَوْتُ مِنْهُمْ، فَعَثَرَتْ بِي فَرَسِي، فَخَرَرْتُ عَنْهَا.

فَقُمْتُ، فَأَهْوَيْتُ يَدِي إِلَى كِنَانَتِي، فَاسْتَخْرَجْتُ مِنْهَا الْأَزْلَامَ، فَاسْتَقْسَمْتُ بِهَا: أَأَضُرُّهُمْ أَمْ لَا؟ فَخَرَجَ الَّذِي أَكْرَهُ - أَيْ: لَا يَمْضِي وَيَرْجِعُ - فَرَكِبْتُ فَرَسِي، وَعَصَيْتُ الْأَزْلَامَ، تُقَرِّبُ بِي، حَتَّى إِذَا سَمِعْتُ قِرَاءَةَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَهُوَ لَا يَلْتَفِتُ، وَأَبُو بَكْرٍ يُكْثِرُ الِالْتِفَاتَ، سَاخَتْ يَدَا فَرَسِي فِي الْأَرْضِ، حَتَّى بَلَغَتَا الرُّكْبَتَيْنِ، فَخَرَرْتُ عَنْهَا، ثُمَّ زَجَرْتُهَا فَنَهَضَتْ، فَلَمْ تَكَدْ تُخْرِجُ يَدَيْهَا، فَلَمَّا اسْتَوَتْ قَائِمَةً، إِذَا لِأَثَرِ يَدَيْهَا عُثَانٌ سَاطِعٌ فِي السَّمَاءِ مِثْلُ الدُّخَانِ.

فَاسْتَقْسَمْتُ بِالْأَزْلَامِ، فَخَرَجَ الَّذِي أَكْرَهُ، فَنَادَيْتُهُمْ بِالْأَمَانِ، فَوَقَفُوا، فَرَكِبْتُ فَرَسِي حَتَّى جِئْتُهُمْ، وَوَقَعَ فِي نَفْسِي، حِينَ لَقِيتُ مَا لَقِيتُ مِنَ الْحَبْسِ عَنْهُمْ، أَنْ سَيَظْهَرَ أَمْرُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ.

فَقُلْتُ لَهُ: إِنَّ قَوْمَكَ قَدْ جَعَلُوا فِيكَ الدِّيَةَ، وَأَخْبَرْتُهُمْ أَخْبَارَ مَا يُرِيدُ النَّاسُ بِهِمْ، وَعَرَضْتُ عَلَيْهِمُ الزَّادَ وَالْمَتَاعَ، فَلَمْ يَرْزَآنِي - لَمْ يَأْخُذَا مِنِّي شَيْئًا - وَلَمْ يَسْأَلَانِي إِلَّا أَنْ قَالَ: «أَخْفِ عَنَّا».

فَسَأَلْتُهُ أَنْ يَكْتُبَ لِي كِتَابَ أَمَانٍ، فَأَمَرَ عَامِرَ بْنَ فُهَيْرَةَ، فَكَتَبَ فِي رُقْعَةٍ مِنْ أَدِيمٍ، ثُمَّ مَضَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ». [رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ: ٣٩٠٦].

'Utusan-utusan kaum Quraisy datang kepada kami dengan menawarkan hadiah bagi siapa saja yang dapat membunuh atau menangkap Rasulullah dan Abu Bakar.

Ketika aku sedang duduk di majelis Bani Mudlij, datanglah seorang laki-laki dan berkata, "Wahai Suraqah, tadi aku melihat beberapa sosok manusia di tepi pantai. Menurutku mereka adalah Muhammad dan para sahabatnya."

Aku langsung mengetahui bahwa merekalah yang dimaksud. Namun aku berkata kepadanya, "Bukan, itu hanya si fulan dan si fulan yang tadi berangkat."

Aku tetap duduk sejenak, kemudian masuk ke rumah. Aku memerintahkan budak perempuanku agar mengeluarkan kudaku dan menahannya di balik sebuah bukit kecil. Aku mengambil tombakku dan keluar dari belakang rumah sambil menyeret ujung tombak itu di tanah agar tidak terlihat. Setelah sampai di kudaku aku menungganginya dan memacunya hingga hampir menyusul mereka.

Tiba-tiba kudaku tersandung sehingga aku terjatuh. Aku bangkit lalu mengambil anak panah undian dari tabungnya dan melakukan pengundian, apakah aku akan dapat mencelakakan mereka atau tidak. Hasilnya keluar sesuatu yang tidak kusukai (yakni pertanda agar tidak melanjutkan), tetapi aku tetap menaiki kudaku dan terus mengejar mereka.

Ketika aku telah mendengar bacaan Al-Qur'an Rasulullah —sementara beliau tidak menoleh sedikit pun, sedangkan Abu Bakar sering menoleh ke belakang—tiba-tiba kedua kaki depan kudaku terperosok ke dalam tanah hingga mencapai lututnya. Aku pun terjatuh lagi.

Aku menghardiknya hingga ia bangkit, namun dengan susah payah ia mengangkat kedua kakinya. Ketika akhirnya ia berdiri tegak, tampak dari bekas kedua kakinya debu yang membubung ke langit seperti asap.

Aku kembali melakukan undian dengan anak panah itu, dan hasilnya tetap seperti yang tidak kusukai. Maka aku memanggil mereka dan meminta jaminan keamanan. Mereka pun berhenti.

Saat itulah aku yakin, setelah mengalami semua yang kualami berupa terhalangnya aku untuk menangkap mereka, bahwa urusan Rasulullah pasti akan menang.

Aku berkata kepada beliau, "Sesungguhnya kaummu telah menetapkan hadiah bagi siapa saja yang berhasil menangkapmu." Lalu aku memberitahukan kepada beliau segala rencana yang sedang disusun oleh orang-orang Quraisy.

Aku juga menawarkan bekal makanan dan perbekalan kepada mereka, namun mereka tidak mengambil sedikit pun dariku dan tidak meminta apa pun kepadaku selain berkata, "Rahasiakanlah keberadaan kami."

Lalu aku meminta agar beliau menuliskan surat jaminan keamanan untukku. Maka beliau memerintahkan Amir bin Fuhairah menuliskannya pada selembar kulit. Setelah itu Rasulullah melanjutkan perjalanan." (HR. Al-Bukhari No. 3906)

Dalam riwayat dari Al-Bara' radhiyallahu 'anhu disebutkan, ia berkata:

اشْتَرَى أَبُو بَكْرٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - مِنْ عَازِبٍ رَحْلًا بِثَلَاثَةَ عَشَرَ دِرْهَمًا، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ لِعَازِبٍ: مُرِ الْبَرَاءَ، فَلْيَحْمِلْ إِلَيَّ رَحْلِي. فَقَالَ عَازِبٌ: لَا، حَتَّى تُحَدِّثَنَا كَيْفَ صَنَعْتَ أَنْتَ وَرَسُولُ اللَّهِ ﷺ حِينَ خَرَجْتُمَا مِنْ مَكَّةَ وَالْمُشْرِكُونَ يَطْلُبُونَكُمْ؟

قَالَ أَبُو بَكْرٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -:

«ارْتَحَلْنَا مِنْ مَكَّةَ، فَأَحْيَيْنَا - أَوْ سَرَيْنَا - لَيْلَتَنَا وَيَوْمَنَا حَتَّى أَظْهَرْنَا، وَقَامَ قَائِمُ الظَّهِيرَةِ، فَرَمَيْتُ بِبَصَرِي: هَلْ أَرَى مِنْ ظِلٍّ فَآوِيَ إِلَيْهِ؟ فَإِذَا صَخْرَةٌ أَتَيْتُهَا، فَنَظَرْتُ بَقِيَّةَ ظِلٍّ لَهَا، فَسَوَّيْتُهُ، ثُمَّ فَرَشْتُ لِلنَّبِيِّ ﷺ فِيهِ، ثُمَّ قُلْتُ لَهُ: اضْطَجِعْ يَا نَبِيَّ اللَّهِ. فَاضْطَجَعَ النَّبِيُّ ﷺ، ثُمَّ انْطَلَقْتُ أَنْظُرُ مَا حَوْلِي، هَلْ أَرَى مِنَ الطَّلَبِ أَحَدًا؟

فَإِذَا أَنَا بِرَاعِي غَنَمٍ يَسُوقُ غَنَمَهُ إِلَى الصَّخْرَةِ، يُرِيدُ مِنْهَا الَّذِي أَرَدْنَا، فَسَأَلْتُهُ، فَقُلْتُ لَهُ: لِمَنْ أَنْتَ يَا غُلَامُ؟ قَالَ: لِرَجُلٍ مِنْ قُرَيْشٍ، سَمَّاهُ فَعَرَفْتُهُ، فَقُلْتُ: هَلْ فِي غَنَمِكَ مِنْ لَبَنٍ؟ قَالَ: نَعَمْ. قُلْتُ: فَهَلْ أَنْتَ حَالِبٌ لَبَنًا؟ قَالَ: نَعَمْ. فَأَمَرْتُهُ، فَاعْتَقَلَ شَاةً مِنْ غَنَمِهِ، ثُمَّ أَمَرْتُهُ أَنْ يَنْفُضَ ضَرْعَهَا مِنَ الْغُبَارِ، ثُمَّ أَمَرْتُهُ أَنْ يَنْفُضَ كَفَّيْهِ، فَقَالَ: هَكَذَا، ضَرَبَ إِحْدَى كَفَّيْهِ بِالْأُخْرَى، فَحَلَبَ لَنَا كُثْبَةً مِنْ لَبَنٍ، وَقَدْ جَعَلْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ إِدَاوَةً عَلَى فَمِهَا خِرْقَةٌ، فَصَبَبْتُ عَلَى اللَّبَنِ حَتَّى بَرَدَ أَسْفَلُهُ.

فَانْطَلَقْتُ بِهِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَوَافَقْتُهُ قَدِ اسْتَيْقَظَ، فَقُلْتُ: اشْرَبْ يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَشَرِبَ حَتَّى رَضِيتُ، ثُمَّ قُلْتُ: قَدْ آنَ الرَّحِيلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «بَلَى».

فَارْتَحَلْنَا، وَالْقَوْمُ يَطْلُبُونَنَا، فَلَمْ يُدْرِكْنَا أَحَدٌ مِنْهُمْ، غَيْرُ سُرَاقَةَ بْنِ مَالِكِ بْنِ جُعْشُمٍ، عَلَى فَرَسٍ لَهُ، فَقُلْتُ: هَذَا الطَّلَبُ قَدْ لَحِقَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: «لَا تَحْزَنْ، إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا». [رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ: ٣٦٥٢].

"Abu Bakar radhiyallahu 'anhu membeli sebuah pelana dari 'Azib seharga tiga belas dirham. Lalu Abu Bakar berkata kepada 'Azib, 'Perintahkan Al-Bara' agar membawa pelanaku kepadaku.' Maka 'Azib berkata, 'Tidak, sebelum engkau menceritakan kepada kami bagaimana engkau dan Rasulullah keluar dari Makkah sementara kaum musyrikin mencari-cari kalian.'

Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berkata:

'Kami berangkat dari Makkah. Kami terus berjalan sepanjang malam dan siang hingga tiba waktu tengah hari. Ketika matahari telah sangat terik, aku memandang ke sekeliling, barangkali ada tempat teduh yang dapat kami singgahi. Ternyata aku melihat sebuah batu besar. Aku mendatanginya dan melihat masih ada sedikit bayangan di sisinya. Aku meratakannya, kemudian menghamparkan tempat untuk Nabi di sana. Setelah itu aku berkata kepada beliau, "Berbaringlah wahai Nabi Allah." Maka Nabi pun berbaring.

Kemudian aku pergi melihat-lihat ke sekeliling, apakah ada orang yang sedang mengejar kami. Ternyata aku melihat seorang penggembala kambing menggiring kambing-kambingnya menuju batu besar itu untuk berteduh, sebagaimana yang kami lakukan.

Aku bertanya kepadanya, "Milik siapa engkau, wahai anak muda?" Ia menjawab, "Milik seorang laki-laki Quraisy," lalu ia menyebutkan namanya sehingga aku mengenalnya.

Aku bertanya, "Apakah kambingmu memiliki susu?" Ia menjawab, "Ya."

Aku berkata, "Apakah engkau mau memerahkannya?"

Ia menjawab, "Ya."

Lalu aku memintanya menangkap seekor kambing. Kemudian aku menyuruhnya membersihkan ambingnya dari debu, lalu menyuruhnya membersihkan kedua telapak tangannya. Ia melakukannya dengan menepukkan salah satu telapak tangannya ke telapak tangan yang lain. Setelah itu ia memerah untuk kami semangkuk susu.

Aku telah menyiapkan sebuah wadah air milik Rasulullah yang mulutnya ditutup dengan sehelai kain. Lalu aku menuangkan air ke atas susu itu hingga bagian bawah wadah menjadi dingin.

Kemudian aku membawa susu itu kepada Rasulullah . Aku mendapati beliau telah bangun. Aku berkata, "Minumlah wahai Rasulullah." Maka beliau pun minum hingga aku merasa puas.

Kemudian aku berkata, "Wahai Rasulullah, sudah tiba waktunya kita berangkat?"

Beliau menjawab, "Ya."

Maka kami pun melanjutkan perjalanan, sementara orang-orang terus mencari kami. Tidak seorang pun berhasil menyusul kami selain Suraqah bin Malik bin Ju'syum yang datang mengendarai kudanya.

Aku berkata, "Wahai Rasulullah, orang yang mengejar kita telah menyusul."

Beliau bersabda, "Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." (HR. Al-Bukhari no. 3652).

Lanjut :

ثُمَّ حَصَلَ بَعْدَ ذَلِكَ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ الْتَقَى بِالزُّبَيْرِ بِالطَّرِيقِ: «فَكَسَا النَّبِيَّ - عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ - وَأَبَا بَكْرٍ ثِيَابَ بَيَاضٍ».

حَتَّى يَنْطَبِقَ الْوَصْفُ الْمَوْجُودُ عِنْدَ الْيَهُودِ فِي التَّوْرَاةِ، كَيْفَ سَيَدْخُلُ النَّبِيُّ - عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ - الْمَدِينَةَ مَعَ الصِّدِّيقِ؟

«وَسَمِعَ الْمُسْلِمُونَ بِالْمَدِينَةِ مَخْرَجَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ مِنْ مَكَّةَ، فَكَانُوا يَغْدُونَ كُلَّ غَدَاةٍ إِلَى الْحَرَّةِ، فَيَنْتَظِرُونَهُ، حَتَّى يَرُدَّهُمْ حَرُّ الظَّهِيرَةِ، فَانْقَلَبُوا يَوْمًا بَعْدَمَا أَطَالُوا انْتِظَارَهُمْ، رَجَعُوا إِلَى بُيُوتِهِمْ، فَأَوْفَى رَجُلٌ مِنَ الْيَهُودِ عَلَى أُطُمٍ مِنْ آطَامِهِمْ» عَلَى حِصْنِ قَلْعَةٍ لِلْيَهُودِ، أَشْرَفَ عَلَيْهَا الْيَهُودِيُّ، بَعْدَمَا انْصَرَفَ الْمُسْلِمُونَ الَّذِينَ كَانُوا يَنْتَظِرُونَهُ.

«عَلَى أُطُمٍ مِنْ آطَامِهِمْ، لِأَمْرٍ يَنْظُرُ إِلَيْهِ، فَبَصُرَ بِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَأَصْحَابِهِ مُبَيَّضِينَ، يَزُولُ بِهِمُ السَّرَابُ، فَلَمْ يَمْلِكِ الْيَهُودِيُّ أَنْ قَالَ بِأَعْلَى صَوْتِهِ: يَا مَعَاشِرَ الْعَرَبِ، هَذَا جَدُّكُمُ الَّذِي تَنْتَظِرُونَ - أَيْ: حَظُّكُمُ الَّذِي تَنْتَظِرُونَ -، فَثَارَ الْمُسْلِمُونَ إِلَى السِّلَاحِ، فَتَلَقَّوْا رَسُولَ اللَّهِ ﷺ بِظَهْرِ الْحَرَّةِ». [رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ: ٣٩٠٦].

Kemudian setelah itu, Nabi bertemu dengan Az-Zubair di tengah perjalanan. Maka Az-Zubair memberikan pakaian berwarna putih kepada Nabi dan Abu Bakar.

Hal ini sesuai dengan sifat yang terdapat dalam Taurat mengenai bagaimana Nabi akan memasuki Madinah bersama sahabatnya yang paling dekat (Ash-Shiddiq).

"Kaum muslimin di Madinah telah mendengar bahwa Rasulullah telah berangkat dari Makkah. Maka setiap pagi mereka keluar menuju Harrah untuk menunggu kedatangan beliau hingga panas matahari tengah hari memaksa mereka pulang. Pada suatu hari, setelah lama menunggu, mereka kembali ke rumah masing-masing.

Tiba-tiba seorang Yahudi naik ke atas sebuah benteng milik mereka untuk suatu keperluan. Dari sana ia melihat Rasulullah dan para sahabatnya mengenakan pakaian putih, sementara fatamorgana tampak bergerak di sekitar mereka.

Orang Yahudi itu tidak dapat menahan dirinya lalu berseru dengan suara lantang:

'Wahai orang-orang Arab! Inilah keberuntungan yang kalian nanti-nantikan!'

Maka kaum muslimin segera mengambil senjata mereka dan menyambut Rasulullah di pinggiran Harrah." (HR. Al-Bukhari no. 3906).

Lanjut:

فَالْيَهُودِيُّ عَرَفَهُ بِصِفَاتِهِ الْمَكْتُوبَةِ عِنْدَهُمْ فِي كِتَابِهِمْ، فَلَمْ يَمْلِكْ نَفْسَهُ أَنْ صَاحَ مِنْ هَوْلِ الْمُفَاجَأَةِ، وَالتَّطَابُقِ بَيْنَ الْوَاقِعِ وَالْوَصْفِ الْمَكْتُوبِ، وَإِلَّا فَإِنَّ الْيَهُودِيَّ لَا يَدُلُّ عَلَى الْخَيْرِ، وَلَكِنْ مِنْ هَوْلِ الْمُفَاجَأَةِ لَمْ يَمْلِكْ نَفْسَهُ أَنْ صَاحَ: «يَا مَعْشَرَ الْعَرَبِ، هَذَا جَدُّكُمْ» أَيْ: حَظُّكُمْ، هَذَا شَأْنُكُمْ، هَذَا شَرَفُكُمْ، «هَذَا جَدُّكُمُ الَّذِي تَنْتَظِرُونَ».

Orang Yahudi itu mengenali Rasulullah dari sifat-sifat beliau yang telah tertulis dalam kitab mereka. Ia tidak mampu menahan dirinya karena begitu terkejut melihat kesesuaian antara kenyataan yang ada dengan gambaran yang tertulis dalam kitab mereka. Padahal pada asalnya orang Yahudi tidak akan menunjukkan jalan kepada suatu kebaikan. Namun karena besarnya rasa terkejut itu, tanpa sadar ia berseru,

"Wahai orang-orang Arab, inilah keberuntungan kalian!"

Maksudnya, inilah nasib baik kalian, inilah kemuliaan kalian, inilah kehormatan yang telah kalian tunggu-tunggu”. [Selesai]

[Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari rahimahullah dari Al-Bara' radhiyallahu 'anhu (no. 3906), dan juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Aisyah radhiyallahu 'anha dalam kisah hijrah Nabi yang lengkap (no. 3905)].

 ****

PARA SAHABAT LEBIH DAHULU PERGI HIJRAH KE MADINAH
SEMENTARA ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ MENANTI PERINTAH NABI

Di dalam kisah tersebut dijelaskan bahwa Nabi telah menerima wahyu mengenai tempat hijrah, lalu beliau memberitahukannya kepada para sahabat. Setelah itu, para sahabat mulai berhijrah sedikit demi sedikit menuju Madinah. Allah Ta'ala menghendaki agar Ash-Shiddiq (Abu Bakar) menjadi pendamping Nabi dalam hijrahnya dan menyertai beliau. Oleh karena itu, Nabi berharap agar beliau diberi izin untuk berhijrah sehingga keduanya dapat berangkat bersama. Dan memang demikianlah yang akhirnya terjadi.

Abu Bakar telah menahan diri untuk tidak berhijrah lebih dahulu, dengan harapan Nabi akan diizinkan berhijrah sehingga ia dapat menemani beliau. Ia juga telah menyiapkan dua ekor unta yang diberinya makan daun pohon samur, yaitu daun pohon talh (sejenis akasia). Daun-daunnya dijatuhkan dengan memukul ranting-rantingnya menggunakan tongkat, lalu digunakan sebagai pakan unta.

===

LAMANYA PERSIAPAN HIJRAH

Berapa lama masa persiapan yang dilakukan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu untuk menyiapkan kedua unta tersebut?

Selama empat bulan. Itulah masa yang berlangsung antara dimulainya hijrah para sahabat dengan hijrahnya Rasulullah . Beliau telah memberitahukan kepada mereka tentang hijrah, kemudian empat bulan setelah itu barulah beliau berhijrah. Nabi datang ke rumah Abu Bakar pada saat terik matahari tepat di tengah hari.

====

PERENCANAAN HIJRAH DAN STRATEGI YANG HARUS DITEMPUH

Di dalam kisah ini tampak bahwa perencanaan hijrah dilakukan dengan sangat matang.

Di dalamnya juga terlihat bahwa Nabi berada pada puncak keteladanan dalam mengambil sebab-sebab yang dibenarkan. Sejak awal, beliau memilih waktu yang tepat untuk mendatangi Abu Bakar ash-Shiddiq. Beliau datang pada saat cuaca sangat panas di tengah hari, yaitu waktu qailulah (istirahat siang), ketika kebanyakan orang sedang tidur. Keluarga Abu Bakar pun merasa heran.

Mereka berkata,

«هَذَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مُتَقَنِّعًا!».

"Ini Rasulullah datang dengan wajah dan kepala tertutup!"

Hal itu merupakan salah satu upaya untuk merahasiakan urusan tersebut.

Selain itu, beliau datang dengan menutupi kepala beliau, pada waktu yang sangat jarang ada orang berjalan di jalanan.

Maka Abu Bakar pun memahami bahwa Nabi datang membawa urusan yang sangat penting.

Langkah ketiga, beliau bersabda:

«أَخْرِجْ مَنْ عِنْدَكَ»

"Keluarkanlah orang-orang yang ada di sisimu."

Sebab kaum wanita dan anak-anak terkadang dapat membicarakan sesuatu. Betapa banyak orang yang tertimpa musibah karena rahasia mereka tersebar melalui wanita dan anak-anak! Mereka sering kali dianggap tidak mengetahui apa-apa sehingga seseorang berbicara tentang rahasianya di hadapan mereka, kemudian rahasia itu menyebar melalui seorang anak atau seorang wanita.

Oleh karena itu, dalam rangka mengambil sebab-sebab yang diperlukan untuk menjaga kerahasiaan perkara besar yang ingin beliau sembunyikan, Nabi bersabda,

«أَخْرِجْ مَنْ عِنْدَكَ»

"Keluarkanlah orang-orang yang ada di sisimu."

 ====

SEBAGIAN KEUTAMAAN ABU BAKAR RADHIYALLAHU 'ANHU

Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu mengetahui dengan baik bagaimana cara mendidik anak-anaknya.

Maka ketika Nabi bersabda,

«أَخْرِجْ مَنْ عِنْدَكَ»

 "Keluarkanlah orang-orang yang ada di sisimu," Abu Bakar menjawab:

«إِنَّمَا هُمْ أَهْلُكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ».

"Mereka hanyalah keluargamu, wahai Rasulullah."

Semua yang berada di rumah saat itu, yaitu Aisyah dan Asma, telah dididik langsung oleh Abu Bakar. Ia mengetahui siapa saja yang berada di rumahnya, mempercayai mereka, dan kenyataannya mereka memang sesuai dengan kepercayaan yang ia berikan, bahkan lebih dari itu.

Abu Bakar kemudian bertanya,

«الصُّحْبَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟» أَيْ: الصُّحْبَةُ وَالْمُصَاحَبَةُ.

"Apakah aku akan mendapatkan kehormatan menemani engkau dalam perjalanan itu, wahai Rasulullah?" (Maksudnya adalah menjadi teman seperjalanan beliau).

Rasulullah menjawab, «نَعَمْ»"Ya."

Dalam riwayat lain, Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:

«فَلَقَدْ رَأَيْتُ أَبَا بَكْرٍ يَبْكِي مِنَ الْفَرَحِ».

"Sungguh aku melihat Abu Bakar menangis karena kegembiraan." (Musnad Ishaq bin Rahuyah, 2/584).

Hal ini menunjukkan betapa tulusnya Abu Bakar radhiyallahu 'anhu. Sebab, dapat menemani Nabi dalam perjalanan hijrah merupakan suatu kemuliaan yang tidak ada bandingannya. Oleh karena itu, Abu Bakar menangis karena sangat gembira.

Tangisan seseorang bisa disebabkan oleh kesedihan, kegembiraan, keterkejutan, ataupun rasa sakit. Adapun tangisan Abu Bakar saat itu adalah tangisan karena kegembiraan.

Penolakan Nabi terhadap Unta yang Dihadiahkan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu Saat Hijrah

Karena kemurahan hati dan pengorbanannya di jalan Allah, Abu Bakar menawarkan salah satu untanya kepada Nabi . Namun beliau menolaknya.

Beliau bersabda:

«لَا أَرْكَبُ بَعِيرًا لَيْسَ هُوَ لِي».

"Aku tidak akan menaiki seekor unta yang bukan milikku."

Abu Bakar berkata, "Kalau begitu, unta ini menjadi milikmu."

Beliau menjawab:

«لَا، وَلَكِنْ بِالثَّمَنِ».

"Tidak, tetapi aku akan membelinya dengan harga standar."

Para ulama bertanya, mengapa Nabi tidak menerima hadiah dari sahabat dekatnya itu?

Mereka menjelaskan bahwa beliau ingin biaya hijrah tersebut berasal dari harta beliau sendiri, sehingga beliau memperoleh pahala menginfakkan hartanya untuk hijrah. Sebab hijrah merupakan perjalanan ketaatan yang sangat agung. Semakin banyak seseorang menginfakkan hartanya dalam perjalanan itu, semakin besar pula pahala yang diperolehnya.

Beliau menghendaki agar hijrahnya terlaksana sepenuhnya dengan menggunakan harta milik beliau sendiri.

Ada pula yang berpendapat bahwa unta yang dibeli Nabi dari Abu Bakar dengan membayar harganya itulah yang kemudian dikenal dengan nama Al-Qashwa'. Unta tersebut masih hidup beberapa waktu setelah wafatnya Nabi , kemudian mati pada masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu.

Dan ini juga merupakan teladan yang sangat berharga bagi para ulama yang ditokohkan agar tidak memperalat dan memanfaatan para muridnya atau orang-orang yang mentokohkannya untuk mengeruk keuntungan duniawi dari mereka demi kepentingan pribadi atau fasilitas ibadah untuk dirinya.  

 ====

PERSIAPAN BEKAL MAKANAN DAN MINUMAN SERTA KENDARAAN
UNTUK RASULULLAH DAN ABU BAKAR (R.A)

Aisyah dan Asma', dua gadis mukminah itu, menyiapkan dua ekor tunggangan Rasulullah dan sahabat beliau—yaitu ayah mereka, Abu Bakar—dengan sebaik-baik persiapan.

Mereka mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam perjalanan, serta membuat bekal perjalanan yang diletakkan di dalam sebuah kantong kulit (jirab).

Persiapan yang matang serta upaya mengambil berbagai sebab ini menunjukkan bahwa urusan hijrah telah direncanakan oleh Rasulullah dengan perencanaan yang sangat cermat.

Beliau mengambil berbagai langkah yang mengagumkan agar hijrah tersebut berhasil.

Hal ini dimaksudkan agar umat mengetahui bagaimana mengatur berbagai urusan mereka, serta tidak membiarkan satu celah pun yang dapat menyebabkan kegagalan.

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

«وَضَعْنَا لَهُمَا سُفْرَةً فِي جِرَابٍ» أيْ وِعَاءٌ لِلزَّادِ، يُوضَعُ فِيهِ الزَّادُ مِنَ الْمَاءِ وَالطَّعَامِ.

"Dan kami membuatkan bekal perjalanan untuk mereka berdua di dalam sebuah jirab," yaitu wadah untuk menyimpan perbekalan, seperti makanan dan air minum.

Disebutkan bahwa bekal tersebut adalah seekor kambing yang telah dimasak.

Setelah itu, mereka perlu mengikat perbekalan tersebut. Keduanya mencari sesuatu untuk mengikatnya, namun tidak menemukannya. Maka Asma' pun merobek ikat pinggangnya (النِّطَاقُ) menjadi dua bagian.

Nithoq adalah sabuk yang dikenakan perempuan di bagian pinggangnya. Asma' membelahnya menjadi dua; satu bagian digunakan untuk mengikat bekal perjalanan, sedangkan bagian lainnya tetap dipakainya. Karena perbuatan itulah Asma' kemudian mendapat julukan "Dzatun Nithoqain" «ذَاتِ النِّطَاقَيْنِ» (Perempuan yang Memiliki Dua Ikat Pinggang).

Dalam riwayat lain disebutkan:

«شَقَّتْ نِطَاقَهَا، فَأَوْكَأَتْ بِقِطْعَةٍ مِنْهُ الْجِرَابَ، وَشَدَّتْ فَمَ الْقِرْبَةِ بِالْبَاقِي، فَسُمِّيَتْ ذَاتَ النِّطَاقَيْنِ».

"Asma' membelah ikat pinggangnya menjadi dua, lalu dengan salah satu bagiannya ia mengikat mulut kantong bekal, sedangkan bagian lainnya digunakan untuk mengikat mulut kantong air. Karena itulah ia dijuluki Dzatun Nithaqain." (Fathul Bari, 6/236).

JALAN YANG DITEMPUH NABI DAN SAHABATNYA SAAT HIJRAH

Perencanaan hijrah dilakukan dengan sangat matang. Arah yang ditempuh adalah menuju sebuah gua di Gunung Tsur, yaitu ke arah yang berlawanan dengan arah yang diduga oleh orang-orang kafir sebagai tujuan keberangkatan beliau.

Disebutkan bahwa keluarnya Nabi dan Abu Bakar melalui sebuah pintu kecil (khaukhah) yang berada di bagian belakang rumah Abu Bakar.

Nabi berangkat pada hari Senin.

Keduanya menaiki kendaraan hingga tiba di gua Tsur, lalu bersembunyi di dalamnya.

 ===

NABI MEMERINTAHKAN ALI BIN ABI THALIB TIDUR DI TEMPAT TIDUR BELIAU

Sebagai bagian dari kesempurnaan rencana hijrah, Nabi memerintahkan Ali radhiyallahu 'anhu untuk tidur di tempat tidur beliau. Riwayat ini disebutkan oleh Imam Ahmad dari hadits Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma dengan sanad yang dinilai hasan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah Ta'ala:

﴿وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ﴾

"Dan (ingatlah) ketika orang-orang kafir memikirkan tipu daya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu, atau membunuhmu, atau mengusirmu..." (QS. Al-Anfal: 30).

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata:

تَشَاوَرَتْ قُرَيْشٌ لَيْلَةً بِمَكَّةَ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: إِذَا أَصْبَحَ فَأَثْبِتُوهُ بِالْوَثَاقِ - نُقَيِّدُهُ وَنَرْبِطُهُ وَنَسْجُنُهُ - يُرِيدُونَ النَّبِيَّ ﷺ.

وَقَالَ بَعْضُهُمْ: اقْتُلُوهُ.

وَقَالَ بَعْضُهُمْ: بَلْ أَخْرِجُوهُ.

فَأَطْلَعَ اللَّهُ نَبِيَّهُ عَلَى ذَلِكَ، فَبَاتَ عَلِيٌّ عَلَى فِرَاشِ النَّبِيِّ ﷺ تِلْكَ اللَّيْلَةَ، وَخَرَجَ النَّبِيُّ ﷺ حَتَّى لَحِقَ بِالْغَارِ، وَبَاتَ الْمُشْرِكُونَ يَحْرُسُونَ عَلِيًّا يَحْسَبُونَهُ النَّبِيَّ ﷺ، - يَعْنِي يَنْتَظِرُونَهُ حَتَّى يَقُومَ، فَيَفْعَلُونَ بِهِ مَا اتَّفَقُوا عَلَيْهِ -.

فَلَمَّا أَصْبَحُوا وَرَأَوْا عَلِيًّا، رَدَّ اللَّهُ مَكْرَهُمْ، وَقَالُوا: أَيْنَ صَاحِبُكَ هَذَا؟ قَالَ: لَا أَدْرِي.

فَاقْتَصُّوا أَثَرَهُ، فَلَمَّا بَلَغُوا الْجَبَلَ اخْتَلَطَ عَلَيْهِمْ، فَصَعِدُوا الْجَبَلَ، فَمَرُّوا بِالْغَارِ، فَرَأَوْا عَلَى بَابِهِ نَسْجَ الْعَنْكَبُوتِ، فَقَالُوا: لَوْ دَخَلَ هُنَا لَمْ يَكُنْ نَسْجُ الْعَنْكَبُوتِ عَلَى بَابِهِ، فَمَكَثَ فِيهِ -الْغَارِ- ثَلَاثَ لَيَالٍ.

"Pada suatu malam di Makkah, kaum Quraisy bermusyawarah. Sebagian mereka berkata, 'Besok pagi ikatlah dia dengan tali yang kuat'—yakni mengikat, menahan, dan memenjarakan Nabi .

Sebagian yang lain berkata, 'Bunuh saja dia.'

Sebagian lagi berkata, 'Usirlah dia.'

Lalu Allah memberitahukan rencana itu kepada Nabi-Nya. Maka pada malam itu Ali tidur di tempat tidur Nabi , sedangkan Nabi keluar hingga sampai ke gua.

Sementara itu, orang-orang musyrik berjaga mengawasi Ali karena mereka mengira dialah Nabi . Maksudnya, mereka menunggu hingga ia bangun agar dapat melaksanakan rencana yang telah mereka sepakati.

Ketika pagi tiba dan mereka melihat bahwa yang berada di tempat tidur adalah Ali, Allah menggagalkan tipu daya mereka. Mereka bertanya, 'Di mana temanmu itu?'

Ali menjawab, 'Aku tidak tahu.'

Lalu mereka mengikuti jejak beliau. Ketika sampai di gunung, jejak itu menjadi samar sehingga mereka naik ke atas gunung. Mereka melewati gua tersebut dan melihat di pintunya terdapat sarang laba-laba. Maka mereka berkata, 'Seandainya dia masuk ke dalam gua ini, tentu tidak akan ada sarang laba-laba di pintunya.'

Beliau pun tinggal di dalam gua itu selama tiga malam."

(HR. Ahmad no. 3251. Para pentahqiq Musnad Ahmad menyatakan: "Sanadnya dhaif." Hadits ini juga didhaifkan oleh Al-Albani dalam Misykat Al-Mashabih no. 5934.)

 ===

KAUM QURAISY MENGERAHKAN PARA PELACAK JEJAK
UNTUK MENGIKUTI JEJAK NABI DAN SAHABATNYA

Kaum Quraisy menyebar ke segala penjuru, yakni ke setiap arah, untuk mencari Nabi . Mereka juga mengirim beberapa para pelacak jejak (القَائِفُوْن) untuk mengikuti jejak beliau dan sahabatnya.

Qāfah (الْقَافَةُ) adalah para ahli pelacak jejak. Mereka ikut serta dalam pencarian tersebut. Salah seorang pelacak jejak bernama Kurz bin 'Alqamah melihat sarang laba-laba, lalu berkata:

هَاهُنَا انْقَطَعَ الْأَثَرُ.

"Di sinilah jejak itu terputus."

Nabi dan Abu Bakar pun bersembunyi di dalam gua selama tiga malam.

Hal ini merupakan salah satu bentuk ikhtiar dan usaha yang menjadi sebab keberhasilan serta tercapainya tujuan.

====

KEKHAWATIRAN ABU BAKAR RADHIYALLAHU 'ANHU
TERHADAP KESELAMATAN NABI

Rasa khawatir dan kecintaan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu kepada Nabi begitu besar. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari (7/237):

وَفِي «دَلَائِلِ النُّبُوَّةِ» لِلْبَيْهَقِيِّ، مِنْ مُرْسَلِ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ: أَنَّ أَبَا بَكْرٍ، لَيْلَةَ انْطَلَقَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ إِلَى الْغَارِ، كَانَ يَمْشِي بَيْنَ يَدَيْهِ سَاعَةً، وَمِنْ خَلْفِهِ سَاعَةً. فَسَأَلَهُ، فَقَالَ: «أَذْكُرُ الطَّلَبَ فَأَمْشِي خَلْفَكَ، وَأَذْكُرُ الرَّصَدَ فَأَمْشِي أَمَامَكَ». فَقَالَ: «لَوْ كَانَ شَيْءٌ، أَحْبَبْتَ أَنْ تُقْتَلَ دُونِي؟» قَالَ: «إِي وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ». فَلَمَّا انْتَهَيَا إِلَى الْغَارِ، قَالَ: «مَكَانَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، حَتَّى أَسْتَبْرِئَ لَكَ الْغَارَ». فَاسْتَبْرَأَهُ.

"Dalam Dala'il an-Nubuwwah karya Al-Baihaqi, dari riwayat mursal Muhammad bin Sirin, disebutkan:

'Pada malam ketika Abu Bakar berangkat bersama Rasulullah menuju gua, ia terkadang berjalan di depan beliau dan terkadang berjalan di belakang beliau.

Rasulullah lalu bertanya kepadanya. Abu Bakar menjawab, "Aku teringat orang-orang yang sedang mengejarmu, maka aku berjalan di belakangmu. Lalu aku teringat kemungkinan adanya orang-orang yang mengintai, maka aku berjalan di depanmu."

Beliau bersabda, "Seandainya terjadi sesuatu, apakah engkau lebih suka terbunuh daripada aku?"

Abu Bakar menjawab, "Benar, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran."

Ketika keduanya sampai di gua, Abu Bakar berkata, "Tetaplah di tempatmu, wahai Rasulullah, hingga aku memeriksa gua ini terlebih dahulu untukmu."

Lalu Abu Bakar memeriksa gua tersebut terlebih dahulu (untuk memastikan keamanannya)."

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu ingin memastikan bahwa di dalam gua tidak ada binatang ataupun sesuatu yang membahayakan. Setelah memeriksanya, ia merasa tenang bahwa gua itu merupakan tempat yang aman sehingga Nabi dapat berlindung di dalamnya.

MEMANTAU BERITA KAUM QURAISY 
OLEH ABDULLAH BIN ABI BAKAR ASH-SHIDDIQ DAN MENYAMPAIKANNYA KEPADA NABI

Rangkaian ikhtiar dan sebab-sebab yang ditempuh belum berakhir. Di antara bagian dari rencana itu adalah:

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ-، وَكَانَ شَابًّا ثَقِفًا لَقِنًا.

Bahwa Abdullah bin Abi Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, saat itu masih seorang pemuda yang cerdas dan cepat memahami.

Kata "ثَقِف" berarti cakap dan mahir, sedangkan "لَقِن" berarti cepat menangkap dan memahami sesuatu.

Pada siang hari ia berada bersama kaum Quraisy di Makkah. Ia mendengarkan seluruh berita, mengumpulkan informasi, dan menghafal semua yang didengarnya.

Makna ucapan:

«يُصْبِحُ مَعَ قُرَيْشٍ بِمَكَّةَ كَبَائِتٍ»

"Pada pagi hari ia berada bersama kaum Quraisy di Makkah seolah-olah ia bermalam bersama mereka," adalah karena ia telah kembali dari gua sebelum fajar, ketika hari masih gelap.

«ثُمَّ يَأْتِيهِمَا بَعْدَ ذَلِكَ بِالْأَخْبَارِ، لَا يَسْمَعُ خَبَرًا يُكْتَادَانِ بِهِ»

“Kemudian setelah itu ia mendatangi keduanya dengan membawa berbagai berita. Tidaklah ia mendengar suatu berita yang mengandung tipu daya terhadap keduanya,” yakni berupa makar atau rencana jahat. Setiap kali ia mendengar berita yang berisi makar terhadap Nabi dan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, niscaya ia segera menyampaikannya kepada keduanya secepat mungkin.

Dengan demikian, informasi terus mengalir secara berkala melalui perantara yang menyampaikan berita.

AMIR BIN FUHAIRAH MENGHILANGKAN JEJAK KAKI NABI DAN SAHABATNYA

Upaya dan sebab-sebab yang ditempuh juga belum berhenti. Ada seorang tokoh lain dalam kisah ini bernama Amir bin Fuhairah. Ia memiliki beberapa peran penting. Salah satunya adalah menghilangkan jejak kaki Nabi dan Abu Bakar.

Jejak kaki yang tertinggal sangat berbahaya, karena orang-orang Arab terkenal memiliki keahlian melacak jejak. Dengan mengikuti jejak kaki, mereka dapat mengetahui arah tujuan seseorang.

Karena itu, jejak kaki harus dihilangkan. Cara yang paling alami dan tidak mencurigakan untuk menghapus jejak tersebut adalah dengan menggiring sekawanan kambing melewati bekas jejak kaki sehingga jejak itu bercampur dan hilang. Itulah yang dilakukan oleh Amir bin Fuhairah.

Kambing-kambing itu juga memiliki manfaat lain, yaitu menyediakan susu bagi Nabi dan Abu Bakar. Dengan demikian, kambing-kambing tersebut sekaligus menghapus jejak kaki mereka dan menjadi sumber minuman bagi keduanya.

Susu segar selalu tersedia setiap hari dari kambing-kambing yang digunakan untuk menghilangkan jejak itu. Setiap malam Amir bin Fuhairah menggiring kambing-kambing tersebut kepada Nabi sehingga beliau dan Abu Bakar dapat memerah susunya. Keesokan paginya kambing-kambing itu kembali digembalakan bersama ternak milik masyarakat sehingga Amir bin Fuhairah tidak menimbulkan kecurigaan.

Pengaturan waktunya pun sangat tepat, baik ketika menggiring kambing menuju gua maupun ketika mengembalikannya. Bahkan waktu keluar-masuknya ternak itu diatur sedemikian rupa agar tidak menarik perhatian.

Selain susu segar, keduanya juga disediakan radhīf (الرَّضِيفُ), yaitu susu yang dipanaskan dengan batu yang telah dipanaskan oleh sinar matahari atau api sehingga susu itu mengental, menjadi lebih padat, dan tidak lagi encer. Dengan demikian tersedia makanan sekaligus minuman bagi keduanya.

Kemudian, ketika Amir bin Fuhairah mengeluarkan suara khas penggembala untuk menggiring kambing-kambingnya, ia membawa ternaknya bergabung dengan gembalaan milik masyarakat. Ia berangkat pada waktu yang tepat sehingga tidak menimbulkan kecurigaan. Amir bin Fuhairah berasal dari Bani ad-Dīil, salah satu cabang dari Bani 'Abd bin 'Adiy.

MENGANGKAT ABDULLAH BIN ‘URAIQITH SEBAGAI PENUNJUK JALAN DALAM HIJRAH

Persiapan belum berhenti sampai di situ. Masih ada seorang tokoh penting lain yang juga memiliki peran, yaitu Abdullah bin Uraiqith. Ia adalah seorang musyrik, tetapi dikenal sebagai orang yang amanah dan dapat dipercaya.

Mengapa Abdullah bin Uraiqith dipilih, padahal ia seorang musyrik?

Karena ia adalah seorang penunjuk jalan yang sangat mahir (هَادِيًا خِرِّيتًا), yakni ahli dalam mengenali jalan-jalan, rute-rute, dan jalur-jalur di padang pasir.

Makna “al-khirrith”:

الْخِرِّيتُ هُوَ: الْمَاهِرُ بِالْهِدَايَةِ، مِثْلُ خَرْتِ الْإِبْرَةِ، أَيْ: ثَقْبِ الْإِبْرَةِ؛ لِأَنَّهُ يَهْتَدِي لِأَخْرَاتِ الْمَفَازَةِ، وَهِيَ طُرُقُهَا الْخَفِيَّةُ.

Kata "al-khirrīt" berarti orang yang sangat ahli dalam menunjukkan jalan. Istilah ini diambil dari kata "khurt al-ibrah" (lubang jarum), karena ia mampu menemukan jalan-jalan kecil dan tersembunyi di padang pasir yang sulit diketahui orang lain.

Orang ini telah mengikat perjanjian (hilf) dengan suatu kaum. Pada masa jahiliah, orang-orang yang mengadakan persekutuan biasanya mencelupkan tangan mereka ke dalam darah, minyak wangi, atau cairan berwarna lainnya sebagai simbol pengukuhan perjanjian yang mereka buat.

Meskipun ia seorang musyrik, ia dikenal sebagai orang yang amanah dan terpercaya.

Mereka pun membuat janji dengan Abdullah bin Uraiqith agar datang membawa dua ekor unta pada pagi hari ketiga. Setelah keadaan benar-benar tenang dan pencarian mulai mereda, ia datang membawa kedua unta tersebut. Lalu Rasulullah dan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berangkat bersama Abdullah bin Uraiqith sebagai penunjuk jalan, serta Amir bin Fuhairah yang melayani dan membantu keduanya. Abu Bakar memboncengkan Amir sesekali, dan Amir pun bergantian menaiki tunggangan.

Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Allah mampu menjadikan Nabi dan Abu Bakar berjalan tepat di depan kaum Quraisy tanpa seorang pun dapat melihat mereka hingga tiba di Madinah. Akan tetapi, Allah Subhanahu wa Ta'ala ingin mengajarkan kepada umat ini melalui teladan Nabi tentang pentingnya mengambil sebab-sebab yang dibenarkan, serta bagaimana menyusun strategi untuk mengelabui orang-orang kafir dan musyrik.

Di antara strategi itu adalah: mengubah jalur yang diperkirakan merupakan bagian dari ikhtiar (mengambil sebab-sebab yang dibenarkan).

«فَأَخَذَ بِهِمَا طَرِيقَ السَّاحِلِ»

“Karena itu, si penunjuk jalan tersebut membawa keduanya menempuh jalan pesisir”.

Yaitu dari bagian bawah Makkah menuju pantai. Setelah itu, mereka berbelok kembali dan memasuki jalur yang mengarah ke Madinah.

Posting Komentar

0 Komentar